Anda di halaman 1dari 20

BAB 1

PENDAHULUAN

Diare akut adalah buang air besar pada bayi atau anak lebih dari 3 kali perhari,
disertai perubahan konsistensi tinja menjadi cair dengan atau tanpa lendir dan darah
yang berlangsung kurang dari satu minggu. Pada bayi yang minum ASI sering
frekuensi buang air besarnya lebih dari 3-4 kali perhari, keadaan ini tidak dapat
disebut diare, tetapi masih bersifat fisiologis atau normal. Selama berat badan bayi
meningkat normal, hal tersebut tidak tergolong diare, tetapi merupakan intoleransi
laktosa sementara akibat belum sempurnanya perkembangan saluran cerna. Untuk
bayi yang minum ASI secara ekslusif definisi diare yang praktis adalah meningkatnya
frekuensi buang air besar atau konsistensinya menjadi cair yang menurut ibunya
abnormal atau tidak seperti biasanya. Kadang-kadang pada seseorang anak buang air
besar kurang dari 3 kali perhari, tetapi konsistensinya cair, keadaan ini sudah dapat
disebut diare.1,2,3
Diare akut masih merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas anak
di negara berkembang. Terdapat banyak penyebab diare akut pada anak. Pada
sebagian besar kasus penyebabnya adalah infeksi akut intestin, yang disebabkan oleh
virus, bakteri, atau parasit, akan tetapi berbagai penyakit lain juga dapat
menyebabkan diare akut, termasuk sindroma malabsorpsi. Di Indonesia penyakit
merupakan salah satu penyebab kematian dan kesakitan tertinggi pada anak, terutama
di bawah usia 5 tahun. Sebagai gambaran 17% kematian anak di dunia disebabkan
oleh diare. Diare masih merupakan penyebab kematian bayi yang terbanyak 42%
dibanding pneumonia 24%, untuk golongan 1-4 tahun penyebab kematian karena
diare 25,2% dibanding pneumonia 15,5%.2,3,6

1
BAB II
LAPORAN KASUS

1. IDENTITAS PASIEN
1. Nama : An. M
2. Jenis kelamin : Perempuan
3. Lahir pada tanggal/umur : 14-12-2018
4. Berat waktu lahir : 2800 gram
5. Agama : Islam
6. Kebangsaan : Indonesia
7. Nama ibu : Ny.Muslima Umur : 32 tahun
8. Nama ayah : Tn. Thahir Umur : 44 tahun
9. Pekerjaan ayah : PNS DIII
10. Pekerjaan ibu : Ibu rumah tangga
11. Alamat : Jl. Buah pala
12. No. Telp : -
13. Masuk dengan diagnosa : Diare akut dengan dehidrasi ringan-sedang
14. Tanggal masuk rumah sakit : 27-01-2019
15. Masuk ke ruangan : Nuri Atas

2
Family Tree :

Ayah penderita Ibu penderita

Penderita

1. ANAMNESIS (diberikan oleh : Orang tua)


Keluhan Utama : BAB Cair
Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien anak perempuan An.M masuk rumah sakit dengan keluhan BAB cair
(+/-) 10 kali sejak tadi malam, ampas (+), darah (-) lendir (-), tinja berwarna kuning
(+), berbau asam (+), merah di sekitar anus (+) Ibunya mengatakan anak tampak
rewel dan tampak haus, ibunya juga mengatakan BAB cair muncul setiap habis
meminum susu botol
Muntah (-), demam (-), kejang (-), batuk (-), sesak napas (-), mimisan (-),
gusi berdarah (-), kejang (-) BAK lancar.

1. Anamnesis antenatal dan riwayat persalinan: Pasien lahir cukup bulan,


lahir secara caesar di Rumah Sakit dan ditolong oleh dokter dengan berat
badan lahir 2800 gram dan panjang badan 49 cm. Pasien merupakan anak ke 2
dari 2 bersaudara.

3
Penyakit yang sudah pernah di alami :
 Morbili : -
 Varicella : -
 Pertussis : -
 Diare : +
 Cacing : -
 Batuk / pilek : -
 Lain – lain : -

- Anamnesis makanan sejak bayi sampai sekarang :


Anak meminum ASI (air susu ibu) sejak lahir sampai usia sekarang (1 bulan
17 hari), sekarang anak juga diberikan susu formula

- Anamnesis kebiasaan, lingkungan dan sosial:


Anak tinggal diBuah pala. Lingkungan rumah merupakan lingkungan padat
penduduk. Status sosial ekonomi anak masuk dalam kategori tidak mampu.

- Riwayat Imunisasi Dasar :


BCG : 1 kali pemberian (1 Bulan)
POLIO : 1 kali pemberian (Lahir – 2 bulan – 4 bulan – 6 bulan)
DTP :-
CAMPAK :-
HEPATITIS : 1 kali pemberian (Lahir – 1 bulan – 6 bulan)

2. ANAMNESIS KELUARGA :
1. Ikhtisar keturunan :
Pasien merupakan anak ke 2 dari 2 bersaudara. Tidak ada penyakit turunan
pada keluarga pasien

4
2. Riwayat Keluarga :
Tidak ada keluarga yang menderita penyakit yang sama

3. Keadaan Sosial, Ekonomi kebiasaan dan lingkungan :


Anak tinggal di Jl. Buah pala, letak rumah berada di depan jalan raya, jarak
antar rumah berdekatan. Status sosial ekonomi anak masuk dalam kategori
menengah ka bawah. Pembiayaan perawatan di rumah sakit menggunakan
BPJS.

4. IKHTISAR PERJALANAN PENYAKIT :


Keluhan baru pertama kali dirasakan

5. PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan umum : Sakit Sedang

Kesadaran : Compos Mentis

Sianosis :-

Anemia :-

Ikterus :-

Kejang :-

Berat Badan : 4,6 kg

Panjang Badan : 49 cm

Status Gizi : Obesitas (WHO Z Score > +3)

Tanda Vital

Denyut nadi : 154 Kali/menit

5
Suhu : 37,3 C

Respirasi : 36 kali/menit

6. Kulit : Sianosis (-), ikterus (-), pucat (-), eritema (-),


turgor > 2 detik (lambat).
Kepala :
 Wajah : Simetris, edema periorbital (-)
 Bentuk : Normocephal, Fontanela belum menutup (-), ubun-
ubun cekung (-)
a. Rambut : Hitam, lurus, sulit dicabut
Mata
b. Konjungtiva : Anemis -/-
c. Sklera : Ikterik -/-
d. Pupil : Isokor, RCL+/+, RCTL+/+
e. Mulut : Bibir kering (+) Lidah Kotor (-)
Tonsil T1/T1, Faring hiperemis (-)
a. Hidung : Rhinore (-)
- Leher : Pembesaran kelenjar getah bening (-) Pembesaran
kelenjar tiroid (-)
- Thorax
Paru-paru
 Inspeksi : Simetris bilateral, retraksi (-), massa (-), sikatriks (-)
 Palpasi : Vokal fremitus (+) ka=ki, massa (-), nyeri tekan (-)
 Perkusi : Sonor (+) diseluruh lapang paru,
 Auskultasi : Bunyi vesikular (+), Ronkhi (-), Wheezing (-)
Jantung
 Inspeksi : Ictus Cordis tidak tampak
 Palpasi : Ictus Cordis teraba pada SIC V linea midclavicula

6
sinistra
 Perkusi : Batas atas jantung SIC II, batas kanan SIC V linea
parasternaldextra, batas kiri jantung SIC V linea axilla
anterior
 Auskultasi : Bunyi jantung I/II murni regular, murmur (-), gallop(-)
- Abdomen
 Inspeksi : Kesan cembung, massa (-), distensi (-), sikatriks (-)
 Auskultasi : Peristaltik (+) kesan menigkat.
 Perkusi : Timpani (+), asites (-)
 Palpasi : Nyeri Tekan region abdomen (-), organomegali (-)
 Genital : Tidak ditemukan kelainan
 Anggota gerak : Ekstremitas atas dan bawah akral hangat, edema (-),
Deformitas (-).
 Punggung : Skoliosis (-), Lordosis (-), Kyphosis (-)
 Otot-otot : Atrofi (-)
 Refleks : Refleks fisiologis hiperrefleks (+), patologis (-)

PEMERIKSAAN PENUNJANG (27 Januari 2019)


- Laboratorium
PARAMETER HASIL NILAI RUJUKAN

WBC 13.3 5,0-15,0 103/ mm3

RBC 3.5 3,80-6,50 106/µl

HGB 11.5 11,5-17 g/dl

HCT 32.6 37,0-54,0 %

PLT 570 150-500 103/µl

7
RESUME
Pasien anak perempuan An.M masuk rumah sakit dengan keluhan Pasien anak
perempuan An.M masuk rumah sakit dengan keluhan BAB cair (+/-) 10 kali sejak
tadi malam, ampas (+), darah (-) lendir (-), tinja berwarna kuning (+), berbau busuk
(+), Ibunya mengatakan anak tampak rewel dan tampak haus, inunya juga
mengatakan BAB cair muncul setiap habis meminum susu botol
Muntah (-), demam (-), kejang (-), batuk (-), sesak napas (-), mimisan (-),
gusi berdarah (-), kejang (-) BAK lancar.
Pada pemeriksaan fisik ditemukan tanda tanda vital, denyut nadi 154 Kali/menit,
Suhu 37,3o C, Respirasi 36 kali/menit, status gizi : Obesitas, bibir kering, pada kulit
didapatkan turgor kembali lambat, pemeriksaan jantung normal, pemeriksaan
abdomen di dapatkan peristaltik (+) kesan meningkat, pemeriksaan ekstremitas
bawah di dapatkan akral hangat (+), deformitas (-). Atrofi (-).

- Diagnosis kerja : Diare akut dengan dehidrasi ringan sedang

a. Terapi :
NON-MEDIKAMENTOSA
 Ganti susu dengan susu rendah laktosa

MEDIKAMENTOSA
 IVFD Kaen 3B 20 tpm
 L-bio 1x1 sachet
 Oralit 345 cc pada 3 jam pertama
 Zink 20 mg 1x1 tab
b. Anjuran :
1. Analisis Feses
2. Pemeriksaan elektrolit

8
FOLLOW UP

Perawatan Hari ke 1
Tanggal : 28 Januari 2019
Subjek (S) : BAB cair 10 kali, warna kekuningan, Lendir (-) ampas (+),
darah (-). Muntah (-) Batuk (+), Sesak napas (-). Panas (-).
Kejang (-) BAK Lancar
Objek (O) :
a. Tanda Vital
o Denyut Nadi : 1300 kali/menit
o Respirasi : 33 kali/menit
o Suhu : 37,20C
o Kesadaran : Compos mentis (GCS E4 M6 V5 = 15)
b. Kulit : Pucat (-), ikterik (-) turgor kembali lambat.
c. Kepala : konjungtiva hiperemis (-/-), sklera Ikterik (-/-)
mata cekung (-), bibir kering (+)
d. Leher : Pembesaran kelenjar limfe (-)
Pembesaran kelenjar tiroid (-)
e. Thorax
Paru-paru : Simetris bilateral, Vokal fremitus (+) kesan normal, Sonor (+)
Bunyi vesikular (+).
Jantung : Bunyi jantung I/II murni regular, bising jantung (-)
f. Abdomen : Bentuk datar, peristaltik (+) kesan meningkat, timpani (+),

Assesment (A): Diare Akut dengan Dehidrasi Ringan Sedang


Plan (P) :
NON-MEDIKAMENTOSA
 Ganti susu dengan susu rendah laktosa

9
MEDIKAMENTOSA
 IVFD Kaen 3B 20 tpm
 L-bio 1x1 sachet
 Oralit 345 cc pada 3 jam pertama
 Zink 20 mg 1x1 tab

Perawatan Hari ke 2
Tanggal : 29 Januari 2019
Subjek (S) : BAB cair (+) 5 kali (frekuensi berkurang), warna kekuningan,
Lendir (-), darah (-). Batuk berlendir (-), Muntah (-) Sesak
napas (-). Panas (-). Kejang (-) BAK Lancar
Objek (O) :
- Tanda Vital
o Denyut Nadi : 120 kali/menit
o Respirasi : 33 kali/menit
o Suhu : 37,3 0C
o Kesadaran : compos mentis (GCS E4 M6 V5 = 15)
- Kulit : Pucat (-), ikterik (-) turgor kembali cepat.
- Kepala : Konjungtiva hiperemis (-/-), sklera Ikterik (-/-)
mata cekung (-) bibir kering (-)
- Leher : Pembesaran kelenjar limfe (-)
Pembesaran kelenjar tiroid (-)
- Thorax
Paru-paru : Simetris bilateral, vokal fremitus (+) ka=ki, sonor (+),
Bunyi vasikular (+).
Jantung : Bunyi jantung I/II murni regular, bising jantung (-)
- Abdomen : Bentuk datar, peristaltik (+) kesan normal, timpani (+)

10
Assesment (A) : Diare Akut Tanpa Dehidrasi
Plan (P) :
NON-MEDIKAMENTOSA
 Ganti susu dengan susu rendah laktosa
MEDIKAMENTOSA
 IVFD Kaen 3B 20 tpm
 L-bio 1x1 sachet
 Oralit 345 cc pada 3 jam pertama
 Zink 20 mg 1x1 tab

Perawatan Hari ke 3
Tanggal : 30 Januari 2019
Subjek (S) : BAB (+) 3x ampas (-), warna kekuningan, Lendir (-),
darah (-). Batuk (-),Muntah (-) Sesak napas (-). Panas (-).
Kejang (-) BAK Lancar
Objek (O) :
a. Tanda Vital
o Denyut Nadi : 120 kali/menit
o Respirasi : 27 kali/menit
o Suhu : 37,2 0C
o Kesadaran : compos mentis (GCS E4 M6 V5 = 15)
b. Kulit : Pucat (-), ikterik (-) turgor kembali cepat.
c. Kepala : Konjungtiva hiperemis (-/-), sklera Ikterik (-/-)
mata cekung (-) bibir kering (-)
d. Leher : Pembesaran kelenjar limfe (-)
Pembesaran kelenjar tiroid (-)
e. Thorax
Paru-paru : Simetris bilateral, vokal fremitus (+) ka=ki, sonor (+),
Bunyi vasikular (+).

11
Jantung : Bunyi jantung I/II murni regular, bising jantung (-)
f. Abdomen : Bentuk datar, peristaltik (+) kesan normal, timpani (+)

Assesment (A) : Diare Akut tanpa dehidrasi + Gizi Kurang.


Plan (P) :
NON-MEDIKAMENTOSA
 Ganti susu dengan susu rendah laktosa
MEDIKAMENTOSA
 Aff Infus

PASIEN DIPULANGKAN

12
BAB III
DISKUSI KASUS

Diagnosis pada kasus ini Diare akut dengan dehidrasi ringan sedang berdasarkan
anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang.
Pasien anak perempuan An.M masuk rumah sakit dengan keluhan Pasien anak
perempuan An.M masuk rumah sakit dengan keluhan BAB cair (+/-) 10 kali sejak
tadi malam, ampas (+), darah (-) lendir (-), tinja berwarna kuning (+), berbau busuk
(+), Ibunya mengatakan anak tampak rewel dan tampak haus, inunya juga
mengatakan BAB cair muncul setiap habis meminum susu botol
Pada teori Faktor resiko terjadinya diare akut pada anak antara lain: tidak
memberikan ASI secara penuh untuk waktu 4-6 bulan pertama kehidupan bayi, tidak
memadainya penyediaan air bersih, pencemaran air oleh tinja, kebersihan lingkungan,
pribadi yang buruk, penyiapan dan penyimpanan makanan yang tidak higienis.
Mekanisme dasar yang dapat menyebabkan timbulnya diare pada anak adalah :
1. Gangguan osmotik
Akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan
tekanan osmotik dalam rongga usus meninggi sehingga terjadi pergeseran air dan
elektrolik ke dalam rongga usus.
2. Gangguan sekresi
Akibat rangsangan tertentu (misalnya toksin dari virus atau bakteri) pada dinding
usus akan terjadi peningkatan sekresi air dan elektrolik ke dalam rongga usus dan
selanjutnya timbul diare karena terdapat peningkatan isi rongga usus.
3. Gangguan motilitis usus
Hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus untuk
menyerap makanan sehingga timbul diare. Sebaliknya bila peristaltik usus menurun
akan mengakibatkan bakteri timbul berlebihan.

13
Penyebab diare dapat bermacam-macam, adapun penyebab diare pada anak dapat
dilihat pada bagan berikut.

Penyebab terbanyak diare akut pada anak-anak dinegara berkembang adalah


rotavirus, escherichia coli enterotoksigenik, shigella, vibrio cholera, sallmonella, dan
E. coli enteropatogenik. Setiap infeksi bakteri atau virus memiliki gambaran khas
masing-masing, meskipun pemeriksaan kultur merupakan pemeriksaan pasti untuk
mengetahui penyebab dari diare.

14
Tabel 01. dibawah ini merupakan karakteristik dari beberapa agen infeksius
penyebab diare.
Shigella Vibrio
Rotavirus Salmonella ETEC EIEC
disentri cholera
Mual &
Permulaan + - - + Jarang
muntah
Demam + + - + + -
Tenesmus
Kadang- Tenesmus
Sakit Tenesmus Kolik (+) kolik, Kolik
kadang kolik
pusing
Sangat
Volume Sedang Menurun Banyak Menurun Menurun
banyak
Sering Terus
Frekuensi >10x Sering Sering Sering
sekali menerus
Konsistensi Berair Berair Berair Kental Kental Lendir
Mukus Jarang + + + Sering Flacks
Kadang-
Darah - - + Sering -
kadang
Tidak Tidak
Bau - Telur busuk Tinja Anyir
spesifik berbau
Hijau Tidak Hijau Hijau Putih
Warna Hijau
kuning berwarna darah darah keruh
Leukosit +/- + - + + +

Pada kasus ini, kemungkinan diare akut yang terjadi akubat intoleransi laktosa.
Hal ini dengan mengamati anamnesis ibu pasien yaitu ketika pasien meminum susu
formula yang di berikan ibunya pasien langsung BAB cair, konsistensi cair, tidak
berlendir ataupun darah, warna feses kuning,

15
Penentuan derajat dehidrasi merupakan hal penting terkait penatalaksanaan yang
akan dilakukan. Derajat dehidrasi pada diare akut menurut WHO 2005
diklasifikasikan dalam 3 kondisi yakni diare akut tanpa dehidrasi, diare akut dengan
dehidrasi ringan sedang dan diare akut dengan dehidrasi berat. (2)

Dehidrasi Ringan-
Penilaian Tanpa Dehidrasi Sedang Dehidrasi Berat

(1 tanda * + 1 atau (1 tanda * + 1 atau


lebih tanda lain) lebih tanda lain)

Keadaan Baik,sadar *Gelisah,rewel *Lesu,lunglai atau


umum tidak sadar

Mata Normal Cekung Sangat cekung dan


kering
Air mata Ada Tidak ada Tidak ada

Mulut Basah Kering Sangat kering


dan
Lidah
Minum biasa *Haus,ingin minum *Malas minum atau
Rasa haus tidak haus banyak tidak bisa minum

Turgor Kembali cepat *Kembali Lambat *Kembali sangat


kulit lambat (>2 detik)
Hasil Tana dehidrasi Dehidrasi ringan/sedang Dehidrasi berat
pemeriks bila ada 2 tanda atau Bila ada 2 tanda
aan lebih tanda lain atau lebih tanda

16
lain
Terapi Rencana Terapi A Rencana Terapi B Rencana Terapi C

Pada pasien ini berdasarkan pemeriksaan fisik yang dilakukan di dapatkan


bising usus yang meningkat, dari penentuan derajat dehidrasi menurut WHO pada
kasus ini yaitu dehidrasi ringan – sedang. Anjuran pemeriksaan pada kasus ini salah
satunya ialah sebaiknya melakukan pemeriksaan serum elektrolit dan pemeriksaan
makroskopik tinja. Sebenarnya pemeriksaan serum elektrolit diindikasikan untuk
keadaan dehidrasi berat. Hal ini disebabkan karena pada kondisi dehidrasi berat
dipastikan terjadi komplikasi berupa ke tidak seimbangan elektrolit yang berdampak
terutama pada sistem saraf pusat berupa kejang, edema otak, kelemahan otot, ileus
paralitik, gangguan fungsi ginjal, dan aritmia jantung.
Departemen kesehatan menetapkan lima pilar penatalaksanaan diare bagi semua
kasus diare yang diderita anak balita baik dirawat dirumah maupun sedang dirawat
dirumah sakit, yaitu :
- Rehidrasi dengan menggunakan oralit
- Zink diberikan selama 10 hari berturut-turut
- ASI dan makanan tetap diteruskan
- Antibiotik selektif
- Edukasi/Nasihat kepada orang tua.

Terapi diare akut dengan dehidrasi ringan sedang adalah menggantikan jumlah
kebutuhan cairan yang diperlukan tubuh dan pada kasus ini menggunakan rencana
terapi B.

17
I. Rehidrasi
Berikan oralit sesuai yang dianjurkan selama periode 3 jam. Jumlah oralit yang
diperlukan = berat badan (dalam kg) x 75 ml. Pada kasus ini BB 9 kg x 75 ml yaitu
675 cc dibagi 3 adalah 225 cc / jam salam 3 jam.
Setelah 3 jam:
a. Ulangi penilaian dan klasifikasikan kembali derajat dehidrasi
b. Pilih rencana terapi yang sesuai untuk melanjutkan pengobatan.
c. Melanjutkan memberi makan pasien
Jika ibu memaksa pulang sebelum pengobatan selesai:
 Mengajarkan ibu cara menyiapkan cairan oralit di rumah.
 Mengajarkan ibu berapa banyak oralit yang harus diberikan di rumah
 Menjelaskan aturan perawatan diare di rumah:
• Beri cairan tambahan
• Lanjutkan pemberian tablet zink sampai 10 hari
• Lanjutkan pemberian makan, biarkan anak memilih makanan yang disukai.
Cara memberikan larutan oralit yaitu dengan meminumkan sedikit-sedikit tapi sering
dari cangkir/ mangkuk/ gelas. Jika anak muntah, tunggu 10 menit kemudian berikan
lagi lebih lambat serta lanjutkan pemberian makanan. Pasien pada kasus ini
mengalami muntah sehingga pemberiannya harus secara perlahan-lahan.

 Tablet zinc selama 10 hari dengan dosis :


1. Anak < 6 bulan = 10 mg (1/2 tablet) per hari
2. Anak > 6 bulan = 20 mg (1 tablet) per hari
Zink termasuk mikronutrien yang berperan dalam sistem kekebalan tubuh dan
merupakan mediator potensial pertahanan tubuh terhadap infeksi. Pemberian zink
dapat menurunkan frekuensi dan volume buang air besar sehingga dapat menurunkan
risiko terjadinya dehidrasi pada anak. Pada kasus ini anak berumur 6 bulan maka
pada terapi zink diberikan 10 mg (1/2 tablet) yang diberikan selama 10 hari.

18
 ASI atau Makanan diteruskan
ASI dan makanan tetap diteruskan sesuai umur anak dengan menu yang sama pada
waktu anak sehat untuk mencegah kehilangan berat badan serta pengganti nutrisi
yang hilang pada saat terjadi diare.

 Antibiotik sesuai indikasi


Antibiotik pada umumnya tidak diperlukan pada semua diare akut oleh karena
sebagian besar diare infeksi adalah rotavirus yang sifatnya self-limited dan tidak dapat
dibunuh dengan antibiotik. Hanya sebagian kecil (10-20 %) yang disebabkan oleh
bakteri patogen seperti Shigella, Salmonella, Enterotoxin E. Coli, Enteroinvasif E.
Coli dan sebagainya akan tetapi pada kasus tidak diberikan.
 Nasehat kepada orang tua
Nasehat yang dapat diberikan apabila penderita sudah pulang ke rumah atau untuk
penderita rawat jalan adalah segera datang kembali kerumah sakit jika timbul demam,
tinja berdarah, berulang, makan atau minum sedikit, sangat haus, diare semakin
sering, atau belum membaik dalam 3 hari. Selain itu ibu disarankan untuk selalu
menjaga kebersihan dan mencuci tangan dengan baik dan benar sebelum dan sesudah
memberi makan / minum anak.
Komplikasi yang dapat terjadi pada diare akut adalah gangguan elektrolit seperti:
hipernatremia, hiponatremia, hiperkalemia, hipokalemia, dan kejang. Prognosis diare
dapat ditentukan oleh derajat dehidrasi, sehingga penatalaksanaannya sesuai dengan
ketepatan cara pemberian rehidrasi. Apabila penanganan yang diberikan tepat dan
sesegera mungkin, maka dapat mencegah komplikasi dari diare tersebut.
Prognosis pada kasus ini dengan terapi cairan yang adekuat dan pemberian
terapi yang tepat sesuai tatalaksana diare memberikan prognosis yang baik.

19
DAFTAR PUSTAKA

1. Boyle, JT., Diare Kronis, In: Nelson, WE (Ed.): Nelson Ilmu Kesehatan Anak
Edisi 15 Volume 3, Jakarta: EGC, 2000: 1354-64.
2. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Buku Ajar Gastroenterologi-Hepatologi Edisi
pertama, Jakarta : Badan Penerbit IDAI, 2012.
3. Departemen Kesehatan RI. Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS).
Jakarta, 2008.
4. Makassar Pediatric Update. Klinis Praktis Tatalaksana Kasus Bayi dan Anak.
Makassar 2013.
5. Endang Poerwati. Determinan Lama Rawat Inap Pasien Balita dengan Diare.
Vol 27. No. 4. Jurnal Kedokteran Brawijaya: Jakarta Timur; 2013.
6. Hasan R. dkk., Buku Kuliah 1, Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia, Jakarta, 2005

20