Anda di halaman 1dari 10

APLIKASI ILMU KEBUMIAN PADA BIDANG TEKNIK LINGKUNGAN

Aplikasi Ilmu Kebumian Untuk Menganalisis Potensi Masalah Lingkungan

Kuliah Lapangan di Laboratorium Geospasial Pesisir Parangtritis dan Sekitarnya

Oleh Risqi Sasqia Putri/16513087/Kelas D

1. Tujuan
Kegiatan Kuliah Lapangan Ilmu Kebumian bertujuan untuk menambah pemahaman
mahasiswa Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Islam Indonesia
tentang Ilmu Kebumian dari ahli dan pakar dari bidang geosains, tidak hanya dari segi teori,
namun juga aplikasi nyata di lapangan melalui studi kasus yang relevan dengan bidang teknik
lingkungan seperti halnya industri pertambangan, keterkaitan jenis dan karakteristik batuan
dengan keberadaan air tanah, serta berbagai konsekuensi pemanfaatan sumberdaya alam di
bumi.

2. Peralatan Lapangan
No. GAMBAR NAMA ALAT PENJELASAN
Palu Geologi Palu pada gambar ini
1.
biasanya digunakan
untuk tipe batuan yang
keras atau padat
misalnya batuan beku
dan batuan metamorf.
Peta Peta pada gambar ini
2.
merupakan peta lokasi
tempat pengamatan
lapangan yaitu Gumuk
Pasir, Komplek Batu
Cepuri ParangKusumo,
PGSP, dan Bukit Watu
Lumbung.
Penggaris Penggaris pada gambar
3.
digunakan untuk
menyambungkan tiap
garis titik koordinat pada
peta.

Alat Tulis Pada gambar terdapat


4.
buku catatan dan pena.
Buku catatan ini
berfungsi untuk tempat
mencatat materi dan
hasil dari pengamatan di
lapangan. Sedangkan
pena berfungsi untuk alat
mencatat dan alat untuk
membuat garis titik
koordinat di peta.
Aplikasi Aplikasi yang digunakan
5.
Penentu adalah aplikasi GPS
Koordinat Essential yang digunakan
untuk menentukan titik
koordinat pada posisi kita
disuatu daerah.

Lup Lup pada gambar


6.
Batuan/Miner berfungsi untuk
al melakukan/melihat
secara rinci untuk setiap
batuan atau mineral.

Komparator Komparator
7.
Batuan/Miner batuan/mineral berfungsi
al untuk
menentukan/mendeskrip
sikan jenis-jenis
batuan/mineral. Pada
penelitian ini diperoleh
beberapa mineral yang
terdapat pada gumuk
pasir, yaitu kuarsa,
feldspar, horenblende,
dan kalsium.
Kamera Kamera berfungsi untuk
8.
mendokumentasi kondisi
geologi tertentu dalam
penelitian di lapangan.

HCl HCl digunakan untuk


9.
menguji batuan yang
mengandung kalsium
karbonat atau kalsit.

3. Diskripsi Lokasi Kuliah Lapangan


Pada penelitian ini terdapat empat titik lokasi pengamatan yang dikunjungi. Titik lokasi
pengamatan lapangan yang pertama yaitu Gumuk Pasir. Secara geografis, lokasi gumuk pasir ini
berada di 1,9 km dari Pantai Parangtritis, Kecamatan Kretek, Bantul, D.I.Yogyakarta. daerah
gumuk pasir yang dikunjungi masih aktif karena belum terjadinya vegetasi yang dimana vegetasi
itu adalah daerah yang memiliki tumbuhan pada gumuk pasir. Gumuk pasir ini juga belum
terdapat rumah penduduk disekitarnya. Titik lokasi pengamatan lapangan yang kedua yaitu
Komplek Cepuri Parangkusumo. Pada daerah Komplek Cepuri Parangkusumo ini terdapat batuan
beku. Selanjutnya titik lokasi pengamatan lapangan yang ketiga yaitu Museum PGSP
(Parangtritis Geomaritime Science Park). Pada museum ini meliputi tema gumuk pasir dan
peralatan pemetaan masa lalu, koleksi tentang gumuk pasir, tema kepesisiran dan teknologi
geospasial. Museum ini juga dapat melihat jenis-jenis mineral dan batuan serta terdapat lorong
yang terdapat banyak tentang gumuk pasir yang bisa digunakan sebagai tambahan pengetahuan
tentang gumuk pasir. Dan titik lokasi pengamatan lapangan yang keempat yaitu Bukit Watu
Lumbung. Pada bukit watu lumbung ini terdapat batuan gamping yang mengandung kalsit.
Kondisi hidrologis pada lokasi pengamatan yaitu tidak cukup baik, karena terdapat materi pasir
yang dapat dengan mudah meloloskan air sedangkan dibawah pasir terdapat air dangkal
sehingga permukaannya tidak bisa dimanfaatkan sebagai sumber air. Air yang berada di daerah
itu bersifat air tawar karena air tersebut berasal dari curah hujan. Lahan pada lokasi pengamatn
telah digunakan oleh warga sebagai lokasi tempat pariwisata yang perkembangannya cukup
pesat sehingga makin berkurangnya jumlah air di daerah tersebut karena daerah tersebut
merupakan daerah air dangkal. Serta karena aktivitas warga juga terjadi intrusi air laut di daerah
tersebut.

4. Hasil dan Pembahasan


4.1. Pengamatan Titik 1
Lokasi titik pengamatan pertama yaitu Gumuk Pasir. Gumuk pasir ini masuk ke zona
49m, titik koordinatnya yaitu x = 424732 mT dan y = 9113769 mU. Pada gumuk pasir ini
terdapat empat jenis mineral, yaitu kuarsa, feldspar, horenblende, dan kalsium. Pada jenis
mineral kuarsa memiliki karakteristik berbentuk seperti kaca dan mengandung SiO2 10%.
Kemudian pada jenis mineral feldspar memiliki karakteristik berwarna abu-abu sampai
coklat. Lalu pada jenis mineral horenblende memiliki karakteristik berwarna hitam atau biru
dongker (SiO4) mengandung Fe-Mg. Dan yang terakhir pada jenis mineral kalsium memiliki
karakteristik berwarna putih. kondisi morfologi gumuk pasir yaitu material gumuk pasir
berasal dari Gunung Merapi. Akibat adanya proses erosi dan sedimentasi, material kemudia
terbawa oleh aliran sungai yaitu Sungai Opak. Aliran sungai tersebut mengalirkan material
pasir ke pantai selatan. Komposisi pasir pada gumuk pasir sama dengan di Merapi. Lalu
kekuatan angin dan ombak jadi pengaruh terbesar pembentukan gumuk pasir. Angin dan
ombak dari laut membawa material-material pasir ke daratan pantai sehingga terbentuk
gumuk pasir. Pondasi pada gumuk pasir yaitu yang paling bawah terdapat batuan beku,
kemudian di atas batuan beku terdapat air tanah dangkal, dan yang paling atas adalah pasir.
Perkembangan gumuk pasir sekarang terhambat oleh adanya vegetasi, karena vegetasi ini
mempengaruhi laju kecepatan angin yang dimana angin ini merupakan salah satu faktor
terpenting dalam pembentukan gumuk pasir. Lalu pada gambar diatas terdapat air pada
tumbuhan di gumuk pasir. Air itu bersifat air tawar karena berasal dari air hujan. Di sekitar
gumuk pasir ini juga terdapat rumah warga dan tempat pariwisata. Para warga yang sering
mengambil sumber air dari gumuk pasir akhirnya akan terjadi krisis air, serta aktivitas warga
dalam membuang limbah rumah tangga dapat membuat pencemaran air tanah karena
sekitar gumuk pasir merupakan air tanah dangkal.
4.2. Pengamatan Titik 2

Lokasi titik pengamatan kedua yaitu Komplek Cepuri Parangkusumo. Lokasi ini berada di
titik koordinat x = 425632 mT dan y = 9113383 mU. Pada komplek cepuri ini terdapat sebuah
batuan yang muncul ke atas(daratan). Batuan tersebut bersifat batuan beku. Batuan ini
berasal dari letusan Gunung Api Purba Parangtritis. Gunung api purba meletus kemudian
meleleh ke samping, ada yang ke arah laut dan ada yang ke daratan. Jenis magmanya yaitu
basal. Ketika gunung api purba meletus, magmanya masuk ke laut kemudian membeku di
dasar laut sehingga terbentuknya batuan. Pada batuan ini terdapat tanah karena karena
sedimentasinya terjadi lebih dulu(lebih tua), karena tidak aktif, dan karena adanya ativitas
manusia. Terjadinya proses sedimentasi yaitu berasal dari air hujan, laut dan sungai yang
membentuk endapan.

4.3. Pengamatan Titik 3


Lokasi titik pengamatan yang ketiga yaitu PGSP atau Parangtritis Geomaritime Science
Park. Di PGSP ini terdapat sebuah Museum Kerucut yang berbentuk seperti gunung. Di
museum ini terdapat jenis-jenis batuan dan mineral, tema gumuk pasir dan peralatan
pemetaan masa lalu. Museum Kerucut juga menyajikan koleksi tentang gumuk pasir,
tema kepesisiran dan teknologi geospasial. Kemudian di museum ini ada sebuah lorong
yang dimana di dalam lorong tersebut menampilkan jenis dan bentuk gumuk pasir, serta
di dalam museum terdapat sebuah ruang komputer untuk memantau gumuk pasir. Lalu
di dalam museum terdapat sebuah ruang studio. Di dalam ruang studio itu menampilkan
presentasi tentang ilmu kebumian gumuk pasir, sejarah, fungsi, dan perkembangan
Gumuk Pasir, Pantai Parangtritis Dan Pantai Parang Kusumo.

4.4. Pengamatan Titik 4

Lokasi titik pengamatan yang keempat adalah Bukit Watu Lumbung. Lokasi ini berada di
titik koordinat x = 424975 mT dan y = 9116106 mU. Di Bukit Watu Lumbung ini terdapat
sebuah batuan yaitu batuan gamping. Batuan gamping merupakan batuan sedimen yang
utamanya tersusun oleh kalsium karbonat(CaCo3) dalam bentuk mineral kalsit. Kandungan
kalsium karbonat dari batu gamping memberikan sifat fisik yang sering digunakan untuk
mengidentifikasi batuan ini. Biasanya identifikasi batugamping dilakukan dengan
meneteskan asam klorida (HCl), jika bereaksi maka dapat dipastikan batuan tersebut adalah
batu gamping. Batuan sedimen gamping memiliki karakteristik rekahan-rekahan yang
memungkinkan terisi oleh air hujan dan dapat menjadi cadangan air dan batuan sedimen
gamping mudah roboh atau jatuh jika terkena goncangan. Kondisi tanah di Bukit Watu
Lumbung yaitu tanahnya tipis. Lahan di Bukit Watu Lumbung ini sendiri sudah ada beberapa
warga jadikan sebagai tempat pariwisata atau restoran dan menjadi tempat spot foto oleh
masyarakat, tetapi masih banyak pohon di bukit tersebut.

4.5. Jenis Mineral-Batuan dan Identifikasi Potensi Masalah Lingkungan

Pada setiap titik pengamatan terdapat beberapa jenis mineral dan batuan. Yang
pertama pada daerah gumuk pasir yang terdapat mineral horenblende yang mempunyai
kandungan Fe dan Mg. Kandungan Fe dan Mg ini sendiri dapat mempengaruhi kualitas air
tanahnya, jika banyaknya kandungan yang dimana Fe mengandung zat besi dan Mg
mengandung logam makro maka air tersebut tidak layak untuk dikonsumsi. Selanjutnya
pada daerah bukit watu lumbung yang terdapat batuan sedimen gamping yang memiliki
kandungan kalsit. Biasanya kalsit digunakan sebagai hasil penambangan. Pengolahan kalsit
biasanya bertujuan untuk memperoleh ukuran butir dan tingkat kadar CaCo3 yang telah
disesuaikan.

4.6. Jenis Batuan dan Potensi Airtanah


Pada setiap titik pengamatan terdapat beberapa jenis batuan. Salah satunya yaitu
daerah Bukit Watu Lumbung. Daerah ini memiliki batuan sedimen gamping. Batuan sedimen
gamping memiliki karakteristik rekahan-rekahan yang memungkinkan terisi oleh air hujan
dan dapat menjadi cadangan air.

4.7. Jenis Batuan dan Kebencanaan


Pada setiap titik pengamatan terdapat beberapa jenis batuan. Salah satunya yaitu
daerah Bukit Watu Lumbung. Daerah ini memiliki batuan sedimen gamping. Batuan sedimen
gamping memiliki karakteristik rekahan-rekahan yang kemungkinan dapat roboh atau jatuh
ketika terkena goncangan, misalnya gempabumi dll. Sehingga dapat merusak ekosistem
yang ada di bukit tersebut.
5. Kesimpulan
Dari hasil pengamatan ini dapat disimpulkan bahwa yang pertama pada gumuk pasir
terdapat empat jenis mineral, yaitu kuarsa, feldspar, horenblende, dan kalsium. Lalu gumuk
pasir ini terbentuk dari letusan gunung merapi yang dimana materialnya terbawa oleh aliran
sungai opak ke laut parangtritis lalu terbawa oleh angin dan ombak ke arah utaranya pantai
parangtritis. Selanjutnya yang kedua pada komplek cepuri parangkusumo terdapat sebuat
batuan beku yang muncul ke atas daratan. Batuan beku ini berasal dari letusan gunung api
purba parangtritis. Kemudian yang ketiga pada PGSP yang dimana banyak teori dan ilmu yang
banyak tentang gumuk pasir, mineral dan batuan. Dan yang keempat pada bukit watu lumbung
terdapat batuan sedimen yaitu batuan sedimen gamping. Batuan sedimen gamping ini tersusun
dari kalsium karbonat (CaCo3) dalam bentuk mineral kalsit dan mempunyai karakteristik
rekahan-rekahan. Daerah empat titik pengamatan ini mempunyai airtanah yang dangkal.

6. Lampiran
Sketsa yang dibuat pada titik pengamatan empat (Bukit Watu Lumbung).