Anda di halaman 1dari 12

Nursing news Pengaruh Terapi Pijat Refleksi

Volume 1,Nomor 1, 2016 Telapak Kaki Terhadap Perubahan


Tekanan Darah Pada Penderita
Hipertensi

Pengaruh Terapi Pijat Refleksi Telapak Kaki Terhadap Perubahan


Tekanan Darah Pada Penderita Hipertensi

Arianto Agus1), Dra. Swito Prastiwi2), Ani Sutriningsih3)


1)
Mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan
Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang
2)
Dosen Program Studi Ilmu Keperawatan Poltekkes Kemenkes Malang
3)
Dosen Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan
Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang
Email : ngahagus@gmail.com

ABSTRAK

Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang berkaitan dengan
penurunan angka harapan hidup penderita, peningkatan penyakit jantung dan
risiko terjadinya stroke. Banyak pengobatan non farmakologi yang telah
ditemukan untuk membantu menurunkan tekanan, seperti terapi pijat refleksi
telapak kaki yang dapat menurunkan tekanan darah. Tujuan penelitian ini untuk
mengetahui pengaruh pemberian terapi pijat refleksi telapak kaki terhadap
perubahan tekanan darah pada penderita hipertensi. Desain penelitian
mengunakan Quasi Experimental dengan pendekatan nonrandomized pretest and
posttest with control group design. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 34
responden, dibagi menjadi 2 kelompok yaitu 17 orang sebagai kelompok
eksperimen dan 17 orang sebagai kelompok kontrol. Metode analisa data dengan
paired t test untuk menilai tekanan darah sistolik pre-post test dan untuk menguji
tekanan darah diastolik mengunakan uji Wilcoxon. Hasil penelitian dengan uji
paired t test untuk tekanan darah sistolik dan uji Wilcoxon untuk tekanan darah
diastolik diperoleh nilai signifikansi 0,00 (sig<0,05). Artinya pijat refleksi telapak
kaki berpengaruh terhadap perubahan tekanan darah pada penderita hipertensi.
Terapi pijat refleksi telapak kaki dapat menurunkan tekanan darah dan sebaiknya
dilakukan di sore hari agar efektifitasnya dalam menurunkan tekanan darah lebih
maksimal. Diharapkan bagi peneliti selanjutnya memasukan variabel perancu
seperti pola makan, aktifitas, dan stress yang terjadi pada responden serta
melakukan homogenitas sampel agar hasil dari penelitian lebih baik.

Kata kunci : Hipertensi, Tekanan Darah, Terapi Pijat Refleksi Telapak Kaki.
Nursing News Influence Of Foot Reflexology
Volume 1, Number 1, 2016 Therapy Against Blood
Pressure In Patients Changes
In Patients With
Hypertension

Influence of Foot Reflexology Therapy Against Blood Pressure Changes In


Patients with Hypertension

ABSTRACT

Hypertension is one of non-communicable diseases associated with a decrease in


patient life expectancy, increasing the risk of heart disease and stroke. Many non-
pharmacological treatments that have been found to help reduce the pressure,
such as reflexology foot massage therapy that can lower blood pressure. The
purpose of this study to determine the effect of reflexology foot massage therapy
to changes in blood pressure in patients with hypertension. The study design using
Quasi-Experimental approaches nonrandomized pretest and posttest with control
group design. The sample in this study amounted to 34 respondents, divided into 2
groups: 17 people as an experimental group and 17 as control group. Methods of
data analysis by paired t test to assess the systolic blood pressure and pre-post
test to test the diastolic blood pressure using the Wilcoxon test. The results of the
study with paired t test for systolic blood pressure and Wilcoxon test for diastolic
blood pressure of 0.00 significance value (sig <0.05). This means that reflexology
foot massage effect on the change in blood pressure in patients with hypertension.
Reflexology foot massage therapy can lower blood pressure and should be done in
the afternoon so that its effectiveness in lowering blood pressure over the
maximum. Researchers are expected to enter than confounding variables such as
diet, activity, and stress that occur on respondents and conduct the homogeneity
of the samples to the results of research better.

Keywords: Hypertension, High Blood Pressure, Reflexology Foot Massage


Therapy

PENDAHULUAN penyakit jantung, stroke dan ginjal


(Sutanto, 2010; Suiraoka, 2012).
Penyakit hipertensi sebagai
salah satu penyakit tidak menular Berdasarkan penelitian WHO
saat ini menjadi masalah yang besar (2014) mengemukakan bahwa
dan serius, karena prevalensi penyakit kardiovaskuler merupakan
penyakit hipertensi yang tinggi dan pembunuh nomor 1 di dunia untuk
cenderung meningkat. Hipertensi usia diatas 45 tahun dan diperkirakan
sering kali tidak menunjukkan gejala 12 juta orang meninggal tiap
sehingga menjadi pembunuh diam- tahunnya. Secara global, hipertensi
diam (the silent killer of death) dan diperkirakan menyebabkan 7,5 juta
menjadi penyebab utama timbulnya kematian, sekitar 12,8% dari total
seluruh kematian. Tekanan darah 2013 (Depkes RI, 2013).
tinggi merupakan faktor risiko utama Berdasarkan Profil Kesehatan Jawa
pada penyakit jantung koroner dan Timur tahun 2010, selama tiga tahun
stroke iskemik serta hemoragik. berturut-turut (2008-2010) hipertensi
Tingkat tekanan darah telah terbukti selalu berada di urutan ketiga
positif dan terus berhubungan penyakit terbanyak di puskesmas
dengan risiko stroke dan penyakit sentinel di Jawa Timur. Berdasarkan
jantung koroner. Selain penyakit Hasil Riset Kesehatan Dasar tahun
jantung koroner dan stroke, 2013, kecenderungan prevalensi
komplikasi hipertensi termasuk gagal hipertensi berdasarkan wawancara
jantung, penyakit pembuluh darah pada usia ≥ 18 tahun menurut
perifer, gangguan ginjal, perdarahan provinsi di Indonesia tahun 2013,
retina dan gangguan penglihatan Jawa Timur berada pada urutan ke-6
(WHO, 2014). (Depkes RI, 2013). Dalam data 10
penyakit terbanyak di Kota Surabaya
Prevalensi keseluruhan menunjukkan bahwa terjadi
tekanan darah tinggi pada orang peningkatan pada kejadian hipertensi
dewasa berusia ≥25 tahun sekitar yaitu pada tahun 2011 dan 2012
40% pada tahun 2008. Prevalensi berada di peringkat ke-7 dengan
hipertensi tertinggi berada di Afrika masing-masing persentase sebesar
yaitu sebesar 46% pada pria dan 3,3% dan 3,06%. Pada tahun 2013
wanita (WHO,2014). Di Inggris, hipertensi berada pada peringkat ke-2
34% pria dan 30% wanita menderita yaitu sebesar 13,6% (Dinkes
hipertensi (diatas 140/90 mmHg) Surabaya, 2014).
atau sedang mendapatkan
pengobatan hipertensi. Prevalensi Morbiditas dan mortalitas
hipertensi di dunia hampir satu yang terjadi pada pasien hipertensi
miliar orang dan diperkirakan pada dapat dicegah dengan intervensi yang
tahun 2025, jumlahnya mencapai 1,6 mempertahankan tekanan darah di
miliar orang (Palmer dan William, bawah 140/90 mmHg. Intervesi yang
2007). dilakukan salah satunya
nonfarmakologis. Nonfarmakologis
Hasil dari Riskesdas (2013) yaitu intervensi dengan selain obat-
Prevalensi hipertensi di Indonesia obatan, dimana salah satunya yaitu
yang di dapat melalui pengukuran dengan teknik relaksasi.Teknik
pada umur ≥ 18 tahun sebesar relaksasi dapat mengurangi denyut
25,8%, tertinggi di Bangka Belitung jantung dan TPR dengan cara
(30,09%), diikuti Kalimantan Selatan menghambat respons stres saraf
(29,6%), dan Jawa Barat (29,4%). simpatis (Corwin, 2009).
Untuk prevalensi provinsi Sulawesi
Utara berada di posisi ke 7 dari 33 Teknik relaksasi memiliki
provinsi yang ada di Indonesia yaitu efek yang sama dengan obat
sebesar 27,1%. antihipertensi dalam menurunkan
tekanan darah. Prosesnya yaitu
Prevalensi hipertensi dimulai dengan membuat otot-otot
berdasarkan wawancara mengalami polos pembuluh darah arteri dan vena
peningkatan yaitu dari 7,6% pada menjadi rileks bersama dengan otot-
tahun 2007 menjadi 9,5% pada tahun otot lain dalam tubuh. Efek dari
relaksasi otot-otot dalam tubuh ini Berdasarkan penelitian yang
akan menyebabkan kadar dilakukan oleh Wahyuni (2014),
norepinefrin dalam darah menurun massage ekstremitas dengan aroma
(Mills, 2012). terapi lavender berpengaruh terhadap
Berkenaan dengan penurunan tekanan darah pada lansia
penatalaksanaan hipertensi di atas, dengan hipertensi. Hasil penelitian
terapi konservatif dengan terapi ini diperkuat oleh Nugroho (2012),
komplementer merupakan pilihan menunjukkan bahwa pijat refleksi
yang bisa dipertimbangkan untuk kaki lebih efektif dibanding
meminimalkan efek samping yang hipnoterapi dalam menurunkan
ditimbulkan dari terapi farmakologis. tekanan darah. Penelitian lain yang
Dalam Peraturan Menteri Kesehatan dilakukan oleh Rezki, Hasneli, dan
Republik Indonesia No. 1109 tahun Hasanah (2015) tentang pengaruh
2007 menyebutkan pengobatan terapi pijat refleksi kaki terhadap
komplementer adalah pengobatan tekanan darah pada penderita
meliputi promotif, preventif, kuratif, hipertensi primer yang dilakukan
dan rehabilitatif yang dilakukan oleh Pada kedua kelompok tekanan darah
tenaga kesehatan dengan keamanan sistolik dan diastolik dihitung dengan
dan efektifitas tinggi salah satu terapi menggunakan alat
kompelementer tersebut adalah sphygmomanometer digital.
terapi pijat refleksi. Penelitian dilakukan pada jam yang
sama, dimana peneliti telah
Pijat refleksi adalah suatu menentukan rentang waktu
praktik memijat titik-titik tertentu pengambilan data untuk setiap
pada tangan dan kaki. Manfaat pijat responden yaitu dari jam 15.00 –
refleksi untuk kesehatan sudah tidak 17.00 WIB menunjukan pijat refleksi
perlu diragukan lagi. Salah satu dapat menurunkan tekanan darah,
khasiatnya yang paling populer namun reponden masih dalam
adalah untuk mengurangi rasa sakit kategori hipertensi.
pada tubuh. Manfaat lainnya adalah
mencegah berbagai penyakit, Studi Pendahuluan dilakukan
meningkatkan daya tahan tubuh, pada tanggal 25 April 2016 di RT 06
membantu mengatasi stress, RW 07 Kelurahan Tlogomas melalui
meringankan gejala migrain, wawancara terhadap 7 orang
membantu penyembuhan penyakit penderita hipertensi. Hasil
kronis, dan mengurangi wawancara menunjukkan bahwa 5
ketergantungan terhadap obat obatan. orang penderita hipertensi belum
Teknik-teknik dasar yang sering mengetahui pijat refleksi dapat
dipakai dalam pijat refleksi menurunkan tekanan darah, dan
diantaranya: teknik merambatkan ibu sisanya pernah melakukan pijat
jari, memutar tangan dan kaki pada refleksi lalu kemudian
satu titik, serta teknik menekan dan berhenti.selanjutnya mereka
menahan. Rangsangan rangsangan mengatakan jika mereka merasakan
berupa tekanan pada tangan dan kaki pusing, sakit kepala, penglihatan
dapat memancarkan gelombang kabur dan seperti melayang-layang
gelombang relaksasi ke seluruh yang sering terjadi saat cuaca panas
tubuh (Wahyuni, 2014) dan saat mereka kelelahan yang
merupakan gejala hipertensi ringan
mereka lebih memilih untuk istirahat
seperti duduk, berbaring, minum air
putih dan tidur yang dapat
mengurangi gejala tersebut.

Tujuan dari penelitian ini untuk


mengetahui pengaruh Terapi Pijat
Refleksi Telapak Kaki Terhadap
Perubahan Tekanan Darah Pada
Penderita Hipertensi di RT 07 RW 06
Kelurahan Tlogomas Kecamatan
Lowokwaru Malang.

DESAIN PENELITIAN Gambar 4.1:Tekanan darah Sebelum


Terapi Pijat Refleksi
Desain penelitian Telapak Kaki
mengunakan Quasi Experimental
dengan pendekatan nonrandomized Berdasarkan grafik rata-rata
pretest and posttest with control tekanan darah penderita hipertensi
group design. Sampel dalam pada kelompok eksperimen sebelum
penelitian ini berjumlah 34 dilakukan pijat refleksi telapak kaki
responden, dibagi menjadi 2 untuk sesi pagi diperoleh tekanan
kelompok yaitu 17 orang sebagai darah sistolik sebesar 156,5 mmHg
kelompok eksperimen dan 17 orang dan diastolik sebesar 98,05 mmHg
sebagai kelompok kontrol yang sedangkan untuk sesi sore diperoleh
diambil dengan teknik purposive tekanan darah sistolik sebesar 151,5
sampling dimana pengambilan mmHg dan tekanan darah diastolik
sample penelitian sesuai dengan sebesar 93,3 mmHg.
kebutuhan penelitian. Teknik
pengumpulan data mengunakan alat Pada kelompok kontrol rata-rata
bantu pijat refleksi telapak kaki yang tekanan darah pengukuran awal
terbuat dari kayu. Metode analisa penderita hipertensi untuk sesi pagi
data yang digunakan yaitu uji paired diperoleh tekanan darah awal sistolik
t test untuk tekanan darah sistolik sebesar 150,85 mmHg dan tekanan
dan uji wilxocon untuk tekanan darah darah awal diastolik sebesar 95,94
diastolik dengan mengunakan SPSS mmHg sedangkan untuk sesi sore
23. diperoleh tekanan darah awal sistolik
sebesar 146,11 mmHg dan tekanan
HASIL DAN PEMBAHASAN darah diastolik awal sebesar 91,91
mmHg.
1. Tekanan Darah Sebelum
Terapi Pijat Refleksi Telapak 2. Tekanan Darah Setelah Terapi
Kaki Pijat Refleksi Telapak Kaki

Untuk mengetahui rata-rata Untuk mengetahui rata-rata


tekanan darah sebelum terapi pijat tekanan darah setelah terapi pijat
refleksi telapak kaki maka data refleksi telapak kaki pada kelompok
disajikan pada gambar berikut: eksperimen dan kontrol penderita
hipertensi maka data disajikan Dalam penelitian ini untuk
berikut menguji pengaruh terapi pijat refleksi
telapak kaki terhadap perubahan
tekanan darah sistolik dengan uji
paired t test didapatkan hasil pada
sesi pagi dan sore masing-masing
memiliki nilai p value = (0,00<0,050)
yang artinya “terapi pijat refleksi
telapak kaki berpengaruh terhadap
perubahan tekanan darah sistolik
pada penderita hipertensi”.
Sedangkan didapatkan nilai r value =
0.879 untuk sesi pagi dan r value =
0.913 untuk sesi sore yang artinya
sesi sore memiliki pengaruh yang
tinggi dibandingkan sesi pagi untuk
Gambar 4.2 : Tekanan darah Setelah terapi pijat refleksi telapak kaki
Terapi Pijat Refleksi terhadap perubahan tekanan darah.
Telapak Kaki
Selanjutnya untuk menguji
Berdasarkan grafik di atas pengaruh terapi pijat refleksi telapak
rata-rata tekanan darah penderita kaki terhadap perubahan tekanan
hipertensi pada kelompok darah diastolik didapatkan hasil uji
eksperimen setelah dilakukan pijat wilcoxon pada sesi pagi dan sore
refleksi telapak kaki untuk sesi pagi masing-masing memiliki nilai p
diperoleh tekanan darah sistolik value = (0,00<0.050) yang artinya
sebesar 151,9 mmHg dan diastolik “terapi pijat refleksi telapak kaki
sebesar 95,5 mmHg, sedangkan berpengaruh terhadap perubahan
untuk sesi sore diperoleh tekanan tekanan darah diastolik pada
darah sistolik sebesar 143,5 mmHg penderita hipertensi”.
dan tekanan darah diastolik sebesar
88,8 mmHg. Hasil uji Independent T Test
selisih rata-rata tekanan darah awal
Pada kelompok kontrol rata-rata dan akhir sistolik pada kelompok
tekanan darah pengukuran akhir eksperimen dan kontrol untuk sesi
penderita hipertensi untuk sesi pagi pagi menunjukkan nilai p value
diperoleh tekanan darah akhir 0,000, dan untuk sesi pagi selisih
sistolik sebesar 149,1 mmHg dan rata-rata tekanan darah sistolik awal
tekanan darah akhir diastolik sebesar dan akhir pada kelompok eksperimen
94,6 mmHg sedangkan untuk sesi dan kontrol menunjukkan p value
sore diperoleh tekanan darah akhir 0,007, berarti nilai p value < α (0,05),
sistolik sebesar 143,9 mmHg dan Artinya terdapat perbedaan bermakna
tekanan darah diastolik akhir sebesar tekanan darah sistolik antrara
90,3 mmHg. kelompok ekperimen dan kontrol.

3. Pengaruh Terapi Pijat Refleksi Hasil uji Mann-Whitney Test


Telapak Kaki selisih rata-rata tekanan darah awal
dan akhir diastolik pada kelompok
eksperimen dan kontrol untuk sesi kelompok kontrol (88,23%) termasuk
pagi dan sore menunjukkan nilai p dalam kategori lansia awal. Hal ini
value 0,000, berdasarkan data di atas sejalan dengan penelitian yang
berarti nilai p value < α (0,05) dilakukan oleh Anggraini, dkk (2009)
Artinya terdapat perbedaan juga mengemukakan hal yang sama
bermakna tekanan darah diastolik bahwa pada rentang umur >45 tahun
antrara kelompok ekperimen dan yaitu sebanyak 89,1%. Umur >45
kontrol. tahun lebih beresiko 17.726 kali
lebih besar menderita hipertensi
PEMBAHASAN dibandingkan umur <45 tahun (Irza,
2009).
1. Tekanan Darah Sebelum
Terapi Pijat Refleksi Telapak Berdasarkan angka
Kaki kejadianya faktor usia menjadi salah
satu penyebab seseorang terkena
Hasil penelitian didapatkan rata- hipertensi. Dapat diketahui bahwa
rata tekanan darah sistolik untuk sesi semangkin bertambahnya usia terjadi
pagi kelompok eksperimen 156,5 penurunan fungsi organ sehingga
mmHg dan kelompok kontrol 150,85 mempengahui fungsi saraf simpatik
mmHg sedangkan untuk sesi sore yang menahan natrium,
tekanan darah sistolik kelompok meningkatnya sekresi renin sehingga
eksperimen 151,5 mmHg dan meningkatkan produksi angiotensin
kelompok kontrol 146,11 mmHg. II dan aldosteron serta dapat
Selanjutnya rata-rata tekanan darah mempengahui tahapan pembuluh
diastolik untuk sesi pagi kelompok darah, termasuk gangguan pembuluh
eksperimen 98,05 mmHg dan darah kecil di ginjal (Muttaqin,
kelompok kontrol 95,94 mmHg 2009). Hipertensi juga dapat di
sedangkan untuk sesi sore tekanan pengaruhi oleh faktor jenis kelamin
darah diastolik kelompok yang mana dikatakan bahwa wanita
eksperimen 93,29 mmHg dan lebih rentan terkena hipertensi
kelompok kontrol 91,91 mmHg. dibanding laki laki.

Dari hal ini dapat diketahui Ditinjau dari jenis kelamin


bahwa sebelum melakukan terapi dalam penelitian ini didapatkan
pijat refleksi telapak kaki tekanan masing-masing sebagian besar
darah semua responden tergolong (52.9%) berjenis kelamin perempuan
dalam kategori hipertensi stadium 1 sedangkan setengahnya (47.1%)
baik kelompok eksperimen maupun berjenis kelamin laki-laki. Risiko
kelompok kontrol. Kondisi ini selain terjadinya hipertensi pada wanita
karna faktor pemilihan kriteria meningkat setelah perempuan berusia
responden yang dilakukan oleh lebih dari 45 tahun (masa
peneliti, dapat juga disebabkan menopause), hal ini dikaitkan dengan
karena faktor umur dari responden. pengaruh perubahan hormon
esterogen dan progesteron
Ditinjau dari segi usia responden, (Dalimartha, 2008)
didapatkan hampir seluruhnya Penyakit hipertensi cenderung
masing-masing pada kelompok lebih rendah pada jenis kelamin
eksperimen (76.47%) dan pada perempuan dibandingkan dengan
laki-laki. Namun demikian, Ditinjau dari pendidikan
perempuan yang mengalami masa dalam penelitian ini didapatkan pada
premenopause cenderung memiliki kelompok eksperimen hampir
tekanan darah lebih tinggi daripada setengahnya (35.29%) berpendidikan
laki-laki. Hal tersebut disebabkan dengan tingkatan SD / Sederajat
oleh hormon estrogen, yang dapat sedangkan pada kelompok kontrol
melindungi wanita dari penyakit hampirsetengahnya (41,18%)
kardiovaskuler. Hormon estrogen ini perpendidikan dengan tingkatan SMP
kadarnya akan semakin menurun / sederajat. Hal ini sejalan dengan
setelah menopause (Armilawati hasil Riskesdas (2007) yang
2007). Selain karna faktor umur dan menyatakan bahwa hipertensi
jenis kelamin, berat badan atau bisa cenderung tinggi pada pendidikan
dihitung dengan indek masa tubuh rendah dan menurun sesuai dengan
juga berperan penting dalam peningkatan pendidikan. Tingkat
pernyebab terjadinya hipertensi. pendidikan seseorang akan
mempengaruhi kemampuan
Berdasarkan klasifikasi seseorang dalam menerima informasi
responden sesuai dengan indek masa mengolahnya sebelum menjadi
tubuh sebagian besar (52,94%) perilaku yang baik maupun buruk
memiliki IMT yang tergolong dalam sehingga berdampak terhadap status
kategori obesitas ringan. Obesitas kesehatannya (Notoatmodjo, 2010).
diartikan sebagai suatu keadaan
dimana terjadi penimbunan lemak 2. Tekanan Darah Setelah Terapi
yang berlebihan di jaringan lemak Pijat Refleksi Telapak Kaki
tubuh dan dapat mengakibatkan
terjadinya beberapa penyakit. Hasil penelitian didapatkan
Obesitas merupakan ciri khas bahwa tekanan darah responden
penderita hipertensi. Walaupun hipertensi setelah diberi terapi pijat
belum diketahui secara pasti refleksi telapak kaki mengalami
hubungan antara hipertensi dan penurunan. Terdapat perbedaan rata-
obesitas, namun terbukti bahwa daya rata tekanan darah sistolik dan
pompa jantung dan sirkulasi volume diastolik pada kelompok eksperimen
darah penderita obesitas dengan sesudah intervensi. Pada sesi pagi
hipertensi lebih tinggi dari pada kelompok ekperimen terjadi
penderita hipertensi dengan berat penurunan tekanan darah sistolik
badan normal (Basha, 2004). yaitu dari 156.50 mmHg menjadi
151,91 dengan selisih sebesar 4,59
Pada penderita obesitas banyak mmHg selanjutnya untuk tekanan
diketahui terjadi resistensi insulin, darah diastoliknya juga mengalami
akibatnya terjadi produksi insulin penurunan dari 98.05 mmHg menjadi
berlebihan oleh sel beta pankreas 95.50 mmHg dengan dengan selisih
sehingga insulin di dalam darah 2,55 mmHg.
menjadi berlebihan. Hal ini akan
meningkatkan tekanan darah dengan Selanjutnya pada sesi sore terjadi
cara menahan pengeluaran natrium penurunan tekanan darah sistolik
oleh ginjal dan meningkatkan kadar yaitu dari 151.50 mmHg menjadi
plasma norepinephrin. (Kapojos, 143,50 dengan selisih sebesar 8
2001). mmHg dan untuk tekanan darah
diastoliknya juga mengalami Tekanan darah dapat bervariasi
penurunan dari 93,29 mmHg sampai 40 mmHg dalam 24 jam
menjadi 88,82 mmHg dengan (Majid, 2005).
dengan selisih 4,47 mmHg.
Perubahan tekanan darah yang 3. Pengaruh Terapi Pijat Refleksi
terjadi disebabkan karna faktor Telapak Kaki
pemberian terapi pijat refleksi
telapak kaki. Hasil analisa data menggunakan
uji paired t test untuk tekanan darah
Pijat sebagai tindakan yang sistolik dan uji Wilcoxon untuk
memberikan relaksasi dikarenakan tekanan darah diastolik pada sesi
sistem saraf simpatis mengalami pagi dan sore menunjukan masing-
penurunan aktivitas sehingga masing memiliki nilai p value = (0,00
mengakibatkan penurunan tekanan < 0,050) yang artinya “terapi pijat
darah serta pijat merupakan suatu refleksi telapak kaki berpengaruh
bentuk latihan pasif yang mampu terhadap perubahan tekanan darah
meningkatkan sirkulasi darah pada pada penderita hipertensi di RT 06
tubuh (Safitri, 2009). Rangsangan RW 07 Kelurahan Tlogomas
yang ditimbulkan terhadap reseptor Kecamatan Lowokwaru Malang”.
saraf juga mengakibatkan pembuluh Sedangkan didapatkan nilai r value =
darah melebar secara refleks 0.879 untuk sesi pagi dan r value =
sehingga melancarkan aliran darah 0.913 untuk sesi sore yang artinya
(Hadibroto, 2006). Dengan sesi sore memiliki pengaruh yang
rangsangan yang diberikan mampu tinggi dibandingkan sesi pagi untuk
memperlancar aliran darah dan terapi pijat refleksi telapak kaki
cairan tubuh. Hasilnya, sirkulasi terhadap perubahan tekanan darah.
penyaluran nutrisi dan oksigen ke
sel-sel tubuh menjadi lancar tanpa Hal ini sesuai dengan pernyataan
ada hambatan. Sirkulasi darah yang Price (1997) yakni Pijat secara luas
lancar akan memberikan efek relaksasi diakui sebagai tindakan yang
dan kesegaran pada seluruh anggota memberikan relaksasi yang dalam
tubuh sehingga tubuh mengalami dikarenakan sistem saraf simpatis
kondisi seimbang (Wijayakusuma, yang mengalami penurunan aktivitas
2006). sehingga mengakibatkan penurunan
tekanan darah serta pijat merupakan
Faktor lain yang suatu bentuk latihan pasif yang
mempengaruhi perubahan tekanan mampu meningkatkan sirkulasi darah
darah adalah variasi diurnal. Banyak pada tubuh (Safitri, 2009).
penelitian yang menyatakan bahwa
tekanan darah mencapai puncak Menurut Tarigan (2009),
tertinggi pada pagi hari (mid salah satu cara terbaik untuk
morning), puncak kedua pada sore menurunkan tekanan darah adalah
hari, menurun malam hari, paling dengan terapi pijat. Sejumlah studi
rendah pada waktu tidur sampai jam telah menunjukkan bahwa terapi pijat
tiga sampai jam empat pagi, yang dilakukan secara teratur bisa
kemudian tekanan darah naik menurunkan tekanan darah sistolik
perlahan sampai bangun pagi dimana dan diastolik, menurunkan kadar
tekanan darah naik secara cepat. hormon stress cortisol, menurunkan
sumber depresi dan kecemasan, perubahan tekanan darah pada
sehingga tekanan darah akan terus penderita hipertensi maka peneliti
turun dan fungsi tubuh semakin menarik kesimpulan sebagai berikut :
membaik.
1) Tekanan darah sebelum terapi
Hal ini sejalan dengan pijat refleksi telapak kaki
penelitian yang dilakukan Nugroho kelompok eksperimen pada
(2012) menunjukan bahwa pijat penderita hipertensi hampir
refleksi mampu menurunkan tekanan seluruhnya (94.11%) tergolong
darah sistolik sebesar 23,5 mmHg dalam kategori hipertensi stadium
dan diastolik sebesar 8,42 mmHg. 1 sedangkan sebagian kecil
Penelitian lain oleh Zunaidi, dkk (5,89%) tergolong dalam kategori
(2014) didapatkan hasil bahwa pijat hipertensi stadium 2.
refleksi mampu menurunkan tekanan
darah sistol sebesar 13,8 mmHg dan 2) Tekanan darah setelah terapi pijat
diastol 13,3 mmHg. Setelah refleksi telapak kaki kelompok
dilakukan terapi pijat refleksi kaki eksperimen pada penderita
didapatkan beberapa orang hipertensi seluruhnya (100%)
responden mengatakan badan lebih mengalami penurunan tekanan
ringan dan sakit kepala berkurang. darah tetapi masih tergolong
Pendapat ini didukung oleh dalam hipertensi stadium 1.
Wijayakusuma (2006) yang
menyatakan bahwa pijat refleksi kaki 3) Terdapat pengaruh terapi pijat
dapat memberikan rangsangan refleksi telapak kaki terhadap
relaksasi yang mampu memperlancar perubahan tekanan darah
aliran darah dan cairan tubuh pada kelompok eksperimen pada
bagian-bagian tubuh yang penderita hipertensi dengan value
berhubungan dengan titik syaraf kaki P = 0.00 < α 0.05 untuk sesi pagi
yang dipijat. Sirkulasi darah yang dan sore
lancar akan memberikan efek
relaksasi sehingga tubuh mengalami SARAN
kondisi seimbang.
1. Bagi Responden
Dengan adanya penurunan
tekanan darah yang bermakna baik Disarankan melakukan pijat
pada sesi pagi maupun pada sesi refleksi telapak kaki di sore hari
sore, maka dapat disimpulkan bahwa agar efektifitasnya dalam
pemberian terapi pijat refleksi menurunkan tekanan darah lebih
telapak kaki dapat menurunkan maksimal.
tekanan darah pada penderita
hipertensi 2. Bagi Pendidikan
KESIMPULAN
Diharapkan dapat memberikan
Berdasarkan hasil penelitian tambahan informasi pada institusi
yang telah dilakukan terhadap 34 pendidikan dalam rangka
responden dan pembahasan mengembangkan ilmu
mengenai pengaruh terapi pijat keperawatan penyakit dalam
refleksi telapak kaki terhadap terutama hipertensi dan bisa di
kembangkan untuk dikaji lebih Corwin, Elizabeth J. 2009.
jauh tentang pengaruh terapi pijat Patofisiologi: buku saku
refleksi telapak kaki terhadap Edisi 3. Jakarta: EGC.
perubahan tekanan darah dapat
dikembangkan tentang terapi non Dalimartha, S. et al, 2008. Care Your
farmakologi terutama terapi Self Hipertensi. Jakarta:
komplamenter untuk efektifitas Penebar Plus +
terapi pijat refleksi dalam
mengatasi hipertensi. Depkes RI. 2013. Riset Kesehatan
Dasar. Jakarta: Badan
Penelitian dan
pengembangan Kesehatan
3. Bagi Peneliti Selanjutnya Kementrian Kesehatan RI.

Diharapkan untuk memasukan Dinkes Kota Surabaya, 2014. Profil


variabel perancu seperti pola Kesehatan Kota Surabaya .
makan responden, aktifitas, dan Surabaya: Dinas Kesehatan
stress yang tidak dapat Kota Surabaya.
dikendalikan, selanjutnya peneliti
juga harus dapat membuat E J, Kapojos, S., 2001. Ilmu Penyakit
homogenitas sampel (jenis Dalam Jilid II. Penerbit FK
kelamin) agar hasil dari UI. Jakarta.
penelitian lebih baik.
Hadibroto, Yasmine. 2006. Seluk-
DAFTAR PUSTAKA Beluk Pengobatan Alternatif
dan Komplementer.
Anggraini,D.A,dkk. 2009.Faktor- Jakarta : PT Bhuana Ilmu
Faktor yang Berhubungan Populer
dengan Kejadian
Hipertensi. Kozier. 2010. Buku Ajar
Fundamental
Armilawati, et al, 2007, Hipertensi Keperawatan: Konsep,
dan faktor risikonya dalam Proses & Praktik. Jakarta:
kajian epidemiologi EGC.
Makassar: Bagian
Epidemiologi FKM Majid, A., 2005. Fisiologi
UNHAS. Kardiovaskular
.Edisi 2, Bagian Fisiologi
Balitbang Kemenkes RI. 2013. Fakultas Kedokteran
Riset KesehatanDasar Universitas Sumatera Utara,
RISKESDAS. Jakarta: Medan
Balitbang Kemenkes RI
Mills, Catherine J. A Comparision of
Basha, A, 2004. Hipertensi : Faktor Relaxation Techniques on
Resiko dan Penatalaksanaan Blood Pressure Reactivity
Hipertensi. Di kutip dari and Recovery Assessing The
http://www.mediscastro Moderating Effect of Anger
Coping Style. Dissertation.
Old Dominion University. Hipertensi.Yogyakarta:
2012. Diakses tanggal 7 Penerbit Andi
Maret
2016;http://search.proquest. Sutanto. 2010. Cekal Penyakit
com/docview/1139209468/1 Modern
3E83315C1A265CE1ED/1? Hipertensi,Stroke,Jantung,
accountid=133190 Kolesterol,danDiabetes.Yog
Muttaqin, Arif. (2009). Buku Ajar yakarta : C.V ANDI
Asuhan Keperawatan Klien OFFSET
dengan Gangguan sistem
Kardiovaskular dan Tarigan. 2009. Sehat denganTerapi
Hematodologi. Jakarta : Pijat.
Salemba Medik www.mediaindonesia.com

Notoatmodjo, S. 2010. Wahyuni, S. 2014. Pijat refleksi


Metodologi Penelitian untuk kesehatan. Jakarta
Kesehatan. Jakarta : Timur: Dunia Sehat.
Rineka Cipta
Wijayakusuma, H. 2006. Atasi
Nugroho, I. A., Asrin, & Sarwono. Asam Urat dan Reumatik
2012. Efektivitas pijat ala Hembing. Jakarta:
refleksi kaki dan Puspa Swara
hipnoterapi terhadap
penurunan Kesehatan
Keperawatan,Diperoleh Zunaidi, Nurhayati, Prihatin. 2014.
tanggal 13 April 2016 dari Pengaruh Pijat Refleksi
http://www.academia.edu/8 Terhadap Tekanan Darah
373947/Jstikesmuhgo-gdl- Pada Penderita Hipertensi Di
irmawand-1365-2-hal_57-3 Klinik Sehat Hasta
Therapetika Tugurejo
Palmer A and William, B. 2007. Semarang. Diakses
Simple Guide Tekanan http://download.portalgaruda
Darah Tinggi. Alih .org/article.php?
bahasa dr Elizabeth article=171573&val=426&ti
Yasmine. Editor Rina tle pada 12 juni 2016
Astikawati ,Amalia Safitri.
Jakarta : Erlangga; 2007

Safitri, Putri. 2009. Efektivitas


Massage Kaki dengan
Minyak Essensial
Lavender terhadap
Penurunan Tekanan
Darah. Medan: PSIK
Fkep USU.

Susilo, Y., Wulandari, A. 2011. Cara


Jitu Mengatasi