Anda di halaman 1dari 36

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA LINGKUNGAN

“Pengenalan Alat Sampling Air dan Udara Serta Alat Laboratorium”

Dosen Pengampu : Tahta Muslim Karim, Msi

Oleh

Kelompok I

Bilal Adji Zaelani (11160960000064)

Fadhilah Restu Pratiwi (111609600000 )

Putri Anggaraeni P (111609600000 )

Sindia Permata Zahra (11160960000068)

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

PRODI KIMIA

UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

2018
A. DATA HASIL PENGAMATAN
1. Hasil Sound Level Meter

No Noise No Noise N Noise N Noise No Noise


o o
1 85.5 25 71.7 49 73.6 73 67.7 97 66.9
2 84.6 26 71.3 50 79.7 74 7.48 98 78.7
3 74.8 27 66.9 51 70.3 75 7.95 99 116.4
4 81.6 28 72.6 52 80.8 76 78.5 10 110.3
0
5 66.0 29 72.1 53 72.7 77 77.7 10 84.0
1
6 67,6 30 73.1 54 75.6 78 67.5 10 93.6
2
7 68.9 31 70.7 55 63.8 79 77.2 10 94.3
3
8 74.4 32 69.2 56 64.7 80 74.5 10 87.1
4
9 70.3 33 73.8 57 70.2 81 75.9 10 117.2
5
10 77.2 34 66.6 58 79.1 82 76.9 10 107.4
6
11 80.1 35 86.7 59 77.0 83 68.1 10 82.4
7
12 71.6 36 86.5 60 74.1 84 63.6 10 83.7
8
13 71.8 37 79.1 61 83.2 85 69.5 10 92.5
9
14 76.5 38 88.2 62 74.4 86 73.9 110 72.5
15 75.4 39 82.0 63 67.3 87 77.6 111 79.2
16 76.4 40 76.9 64 78.7 88 77.9 112 68.1
17 89.0 41 81.9 65 71.2 89 65.5 113 106.4
18 77.7 42 84.1 66 72.7 90 75.1 114 82.8
19 74.8 43 81.2 67 87.5 91 69.0 115 81.3
20 76.8 44 78.3 68 78.4 92 79.5 116 67.3
21 74.6 45 78.4 69 82.1 93 95.0 117 77.2
22 66.8 46 63.9 70 75.6 94 79.1 118 77.1
23 70.2 47 67.3 71 74.0 95 79.9 119 97.0
24 69.8 48 62.7 72 71.4 96 101.2 12 111.4
0

Nilai Rata-Rata = .............. dB

Nilai Maksimal =................. dB

Nilai Minimal = ................. dB

2. Nilai pH meter
a. pH 4 : 4,00
b. pH 7 :7,02
c. pH 10 :9,98
d. Sampel :7,25

3. Hasil Anemometer
a. Angka pada Pointer : 62
b. Lama Pengukuran : 15-20 menit
c. Nilai Kecepatan Angin: 69 m/s

4. Hasil WQC
a. pH : 2,80
b. Suhu : 24,70 ° C
c. TDS : 186 mg/L
d. Kekeruhan :0,00 NTU
e. DO : 9,89 mg/L
f. DHL :0,286 ms/cm
g. Salinitas : 0,01 %
h. Kedalaman :-

B. PEMBAHASAN
Pada praktikum kimia lingkungan kali ini adalah mengenai alat alat apa
saja yang digunakan dalam praktikum lingkungan baik dalam analisa kualitas
lingkungan dalam sampel air, udara maupun tanah. Alat-alat yang digunakan
dalam praktikum kali ini meliputi pH meter dan WQC (untuk kualitas air) dan
Anemometer serta Sound level meter (untuk kualitas udara)

1) Pengujian Kualitas Air


A. Pengujian Kualitas Air dengan WQC (Water Quality Checker)

Alat di atas adalah alat yang digunakan untuk menguji


kualitas air dengan menguji beberapa parameter antara lain pH, suhu,
TDS, Kekeruhan, DO, DHL, Salinitas, Kedalaman. Merk yang
digunakan adalah U-50 Multi-parameter Water Quality Checker
Horiba yang paling umum digunakan. Pengujian yang dilakukan
adalah pengujian skala laboratorium pendidikan sehingga untuk
parameter kedalaman air tidak dapat ditentukan. Untuk menetapkan
nilai DO (Dissolve Oxygen) selain menggunakan alat tersebut diatas
juga dapat digunakan alat Oxygen Meter yang khusus mengukur
parameter tersebut. Gambar untuk alat Oxygen Meter adalah sebagai
berikut:
Parameter pengujian diatas dapat dibahas sebagai berikut:

1. pH (Tingkat Keasaman Air)

Selain menggunakan WQC, penentuan pH meter air juga dapat


menggunakan alat pH meter yang akan dibahas selanjutnya dibawah
ini. pH merupakan suatu parameter penting untuk menentukan kadar
asam/basa dalam air. Penentuan pH merupakan tes yang paling
penting dan paling sering digunakan pada kimia air. pH digunakan
pada penentuan alkalinitas, CO2, serta dalam kesetimbangan asam
basa. Pada temperatur yang diberikan, intensitas asam atau karakter
dasar suatu larutan diindikasikan oleh pH dan aktivitas ion hidrogen.
Perubahan pH air dapat menyebabkan berubahnya bau, rasa, dan
warna. Pada proses pengolahan air seperti koagulasi, desinfeksi, dan
pelunakan air, nilai pH harus dijaga sampai rentang dimana organisme
partikulat terlibat. Asam dan basa pada dasarnya dibedakan dari
rasanya kemudian dari efek yang ditimbulkan pada indikator. Reaksi
netralisasi dari asam dan basa selalu menghasilkan air. Ion H + dan
OH- selalu berada pada keseimbangan kimiawi yang dinamis dengan
H2O berdasarkan reaksi

pH = 7 menunjukkan keadaan netral


0 < pH < 7 menunjukkan keadaan asam
7 < pH < 14 menunjukkan keadaan basa (alkalis)

Air minum sebaiknya netral, tidak asam/basa, untuk mencegah


terjadinya pelarutan logam berat dan korosi. Air adalah bahan pelarut
yang baik sekali, maka dibantu dengan pH yang tidak netral, dapat
melarutkan berbagai elemen kimia yang dilaluinya. Berdasarkan SNI
AMDK dan EC rules air yang baik ph-nya antara 6 sampai 8, air
mineral 6,5 sampai 8,5 dan air demineral 5,0 sampai 7,5. Pengukuran
pH penting untuk mengetahui keadaan larutan sehingga dapat diketahui
kecenderungan reaksi kimia yang terjadi serta pengendapan materi yang
menyangkut reaksi asam basa. Kandungan bahan-bahan kimia yang ada
di dalam air berpengaruh terhadap kesesuaian penggunaan air. Secara
umum karakteristik kimiawi air meliputi pH, alkalinitas, kation dan
anion terlarut dan kesadahan . pH menyatakan intensitas kemasaman
atau alkalinitas dari suatu cairan encer, dan mewakili konsentrasi
hidrogen ionnya. pH merupakan parameter penting dalam analisis
kualitas air karena pengaruhnya terhadap proses-proses biologis dan
kimia di dalamnya. Air yang diperuntukkan sebagai air minum
sebaiknya memiliki pH netral (+7) karena nilai pH berhubungan dengan
efektifitas klorinasi. pH pada prinsipnya dapat mengontrol
keseimbangan proporsi kandungan antara karbon dioksida, karbonat
dan bikarbonat (Chapman, 2000). Pada praktikum kali ini didapatkan
nilai pH air sebesar 2,8, hal ini dapat disimpulkan bahwa pH air terlalu
asam sehingga kualitas airnya tidak baik.

2. Suhu Air
Air yang baik harus memiliki temperatur yang sama dengan
temperatur udara (20-30ºC). Air yang sudah tercemar mempunyai
temperature di atas atau dibawah temperatur udara. Sampel air yang
digunakan mempunyai suhu 24,5°C. Hasil pengujian ini menunjukkan
bahwa air tersebut memenuhi syarat air baku air minum sesuai kriteria
mutu air kelas 1 berdasarkan peraturan pemerintah Nomor 82 tahun
2001 tentang pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air
(Effendi, H. 2003)

3. TDS (Total Disolve Solid)


TDS (Total Disolve Solid) adalah jumlah zat padat terlarut
merupakan indikator yang merupakan jumlah partikel atau zat tersebut
baik merupakan senyawa organik maupun senyawa non organik.
Partikel padat terlarut mengarah pada partikel dengan ukuran kurang
dari 1 nm yang satuannya dinyatakan dalam ppm yang menyatakan
banyak nya zat terlarut (mg) dalam 1 liter cairan. Zat terlarut dapat
berupa ,agnesium, karbonat, kalsium dan lain sebagainnya (Kusnaedi,
2010)
Menurut WHO (World Health Organization) kandungan mineral
dalam air tidak akan berpengaruh terhadap kesehatan selama air tidak
akan berpengaruh terhadap kesehatan. WHO menetapkan kadar TDS
sebagai berikut:

Kandungan TDS Penilaian TDS


Kurang dari 300 Bagus Sekali
300-600 Baik
600-900 Bisa diminum
900-1200 Buruk
1200-1400 Berbahaya
Pada praktikum kali ini didapatkan nilai TDS sebesar 186 mg/L
sehingga dinyatakan bahwa air tersebut memiliki sedikit kandungan zat
terlarutnya. Sehingga air tersebut tidak akan menimbulkan endapan
pada peralatan dapur dan tidak menimbulkan kesadahan pada proses
mencuci. Namun, rendahnya nilai TDS masih menjadi perdebatan
apakah baik untuk kesehatan ( air minum) atau pun tidak karena
mineral dalam air minum pula dibutuhkan oleh tubuh.

4. Kekeruhan
Kekeruhan air dapat mengurangi kualitas air karena air yang keruh
akan mempunyai warna yang tidak jernih dan apabila dienapkan akan
ada endapan di bawah wadah tersebut. Kekeruhan ditentukan dengan
satuan NTU (Nefelometrik Turbidity Unit ). Nilai kekeruhan dapat pula
ditentukan dengan alat turbidimeter. Nilai kekeruhan pada air ini adalah
0,00 NTU sehingga di nyatakan air sampel yang digunakan tidak keruh.
(Suriawiria, 2005)

5. DO (Dissolve Oxygen)
Oksigen terlarut ( DO ) adalah jumlah oksigen terlarut dalam air
yang berasal dari fotosintesa dan absorbsi atmosfer/udara. Oksigen
terlarut di suatu perairan sangat berperan dalam proses penyerapan
makanan oleh mahkluk hidup dalam air. Umtuk mengetahui kualitas air
dalam suatu perairan, dapat dilakukan dengan mengamati beberapa
parameter kimia seperti aksigen terlarut (DO). Semakin banyak jumlah
DO (dissolved oxygen ) maka kualitas air semakin baik.jika kadar
oksigen terlarut yang terlalu rendah akan menimbulkan bau yang tidak
sedap akibat degradasi anaerobik yang mungkin saja terjadi. Satuan DO
dinyatakan dalam persentase saturasi. Oksigen terlarut dibutuhkan oleh
semua jasad hidup untuk pernapasan, proses metabolisme atau
pertukaran zat yang kemudian menghasilkan energi untuk pertumbuhan
dan pembiakan. Disamping itu, oksigen juga dibutuhkan untuk oksidasi
bahan – bahan organik dan anorganik dalam proses aerobik. Sumber
utama oksigen dalam suatu perairan berasal dari suatu proses difusi dari
udara bebas dan hasil fotosintesis organisme yang hidup dalam perairan
tersebut (Suriawiria, 2005).
Kandungan oksigen terlarut (DO) minimum adalah 2 ppm dalam
keadaan normal dan tidak tercemar oleh senyawa beracun. Idealnya,
kandungan oksigen terlarut dan tidak boleh kurang dari 1,7 ppm selama
waktu 8 jam dengan sedikitnya pada tingkat kejenuhan sebesar 70 % .
KLH (Kementerian Lingkungan Hidup) menetapkan bahwa kandungan
oksigen terlarut adalah 5 ppm untuk kepentingan wisata bahari dan
biota laut (Siti Muniffah, 2013). Oksigen memegang peranan penting
sebagai indikator kualitas perairan, karena oksigen terlarut berperan
dalam proses oksidasi dan reduksi bahan organik dan anorganik. Selain
itu, oksigen juga menentukan biologik yang dilakukan oleh organisme
aerobik dan anaerobik. Dalam kondisi aerobik, peranan oksigen adalah
untuk mengoksidasi bahan organik dan anorganik dengan hasil akhirnya
adalah nutrien yang ada pada akhirnya dapat memberikan kesuburan
perairan. Dalam kondisi anaerobik oksigen yang dihasilkan akan
mereduksi senyawa – senyawa kimia menjadi lebih sederhana dalam
bentuk nutrien dan gas. Karena proses oksidasi dan reduksi inilah maka
peranan oksigen terlarut sangat penting untuk membantu mengurangi
beban pencemaran pada perairan secara alami maupun secara perlakuan
aerobik yang ditujukan untuk memurnikan air buangan industri dan
rumah tangga. Dalam praktikum kali ini, didapatkan nilai DO sebesar
9,89 ppm sehingga dapat dinyatakan kandungan DO nya tinggi berarrti
kandungan oksigennya juga banyak dan baik untuk kualitas air tersebut.

6. Salinitas.

Salinitas merupakan salah satu parameter dalam menentukan


kualitas air, baik air permukaan maupun air tanah. Salinitas merupakan
tingkat keasinan atau kadar garam terlarut yang terdapat dalam air
dalam gram per liter air laut. Menurut Siti Muniffah dkk (2013),
penggolongan atau klasifikasi tingkat keasinan air tanah untuk
parameter salinitas terbagi atas air tawar dengan nilai salinitas 40%.
Dalam Praktikum kali ini didapatkan nilai salinitas sebesar 0,01 %
sehingga disimpulkan air yang dianalisa tidak mengandung kadar
garam yang tinggi.
B. pH Meter
pH adalah derajat keasaman yang digunakan untuk menyatakan
tingkat keasaman atau kebasaan yang dimiliki oleh suatu larutan. Ia
didefinisikan sebagaikologaritma aktivitas ion hidrogen (H+) yang
terlarut. Koefisien aktivitas ion hidrogen tidak dapat diukur secara
eksperimental, sehingga nilainya didasarkan pada perhitungan teoritis.
Skala pH bukanlah skala absolut. Ia bersifat relatif terhadap
sekumpulan larutan standar yang pH-nya ditentukan berdasarkan
persetujuan internasional (wikipedia)

pH adalah tingakat keasaman atau kebasa-an suatu benda yang


diukur dengan menggunakan skala pH antara 0 hingga 14. Sifat asam
mempunyai pH antara 0 hingga 7 dan sifat basa mempunyai nilai pH 7
hingga 14. Sebagai contoh, jus jeruk dan air aki mempunyai pH antara
0 hingga 7, sedangkan air laut dan cairan pemutih mempunyai sifat
basa (yang juga di sebut sebagai alkaline) dengan nilai pH 7 – 14. Air
murni adalah netral atau mempunyai nilai pH 7. (Anonim 2012)
Asam menurut Arrhenius adalah senyawa yang menghasilkan ion
hidrogen ketika larut dalam pelarut air. Kekuatan asam ditentukan
oleh banyak-sedikitnya ion hidrogen yang dihasilkan. Semakin banyak
ion H+ yang dihasilkan, semakin kuat sifat asamnya. Basa Basa kalu
menurut Arrhenius ialah senyawa yang terlarut dalam air yang sudah
menghasilkan ion hidroksida (OH). Semakin banyaknya jumlah ion
OH yang dihasilkan, maka semakin kuat lah sifat basanya. Basa juga
dapat menetralisasikan asam (H+) dan menghasilkan air (H20).

Ph Meter adalah sebuah alat elektronik yang digunakan untuk


mengukur pH (kadar keasaman atau alkalinitas) ataupun basa dari
suatu larutan (meskipun probe khusus terkadang digunakan untuk
mengukur pH zat semi padat). PH meter yang biasa terdiri dari
pengukuran probe pH (elektroda gelas) yang terhubung ke pengukuran
pembacaan yang mengukur dan menampilkan pH yang terukur.
Prinsip kerja dari alat ini yaitu semakin banyak elektron pada sampel
maka akan semakin bernilai asam begitu pun sebaliknya, karena
batang pada pH meter berisi larutan elektrolit lemah. Alat ini ada yang
digital dan juga analog. pH meter banyak digunakan dalam analisis
kimia kuantitatif.
Probe pH mengukur pH seperti aktifitas ion-ion hidrogen yang
mengelilingi bohlam kaca berdinding tipis pada ujungnya. Probe ini
menghasilkan tegangan rendah (sekitar 0.06 volt per unit pH) yang
diukur dan ditampilkan sebagai pembacaan nilai pH. Rangkaian
pengukurannya tidak lebih dari sebuah voltmeter yang menampilkan
pengukuran dalam pH selain volt. Pengukuran Impedansi input harus
sangat tinggi karena adanya resistansi tinggi (sekitar 20 hingga 1000
MΩ) pada probe elektroda yang biasa digunakan dengan pH meter.
Rangkaian pH meter biasanya terdiri dari amplifier operasional yang
memiliki konfigurasi pembalik, dengan total gain tegangan kurang
lebih -17. Amplifier meng-konversi tegangan rendah yang dihasilkan
oleh probe (+0.059 volt/pH) dalam unit pH, yang mana kemudian
dibandingkan dengan tegangan referensi untuk memberikan hasil
pembacaan pada skala pH.
Untuk pengukuran yang sangat presisi dan tepat, pH meter harus
dikalibrasi setiap sebelum dan sesudah melakukan pengukuran. Untuk
penggunaan normal kalibrasi harus dilakukan setiap hari. Alasan
melakukan hal ini adalah probe kaca elektroda tidak diproduksi e.m.f.
dalam jangka waktu lama. Kalibrasi harus dilakukan setidaknya
dengan dua macam cairan standard buffer yang sesuai dengan rentang
nilai pH yang akan diukur. Untuk penggunaan umum buffer pH 4 dan
pH 10 diperbolehkan. pH meter memiliki pengontrol pertama
(kalibrasi) untuk mengatur pembacaan pengukuran agar sama dengan
nilai standard buffer pertama dan pengontrol kedua (slope) yang
digunakan menyetel pembacaan meter sama dengan nilai buffer
kedua. Pengontrol ketiga untuk men-set temperatur.

Dalam penggunaan pH meter ini, Tingkat keasaman/kebasaan dari


suatu zat, ditentukan berdasarkan keberadaan jumlah ion hidrogen dan
ion hodroksida dalam larutan. Yang dapat dinyatakan dengan
persamaan:
pH = - log [H+]
pOH = - log [OH-]
pH = 14 – pOH

Keuntungan dari penggunaan pH meter dalam menentukan tingkat keasaman


suatu senyawa adalah:
 Pemakaiannya bisa berulang-ulang

 Nilai pH terukur relatif cukup akurat


Instrumen yang digunakan dalam pHmeter dapat bersifat analog maupun
digital. Sebagaimana alat yang lain, untuk mendapatkan hasil pengukuran yang
baik, maka diperlukan perawatan dan kalibrasi pH meter. Pada penggunaan pH
meter, kalibrasi alat harus diperhatikan sebelum dilakukan pengukuran. Seperti
diketahui prinsip utama pH meter adalah pengukuran arsu listrik yang tercatat
pada sensor pH akibat suasana ionik di larutan. Stabilitas sensor harus selalu
dijaga dan caranya adalah dengan kalibrasi alat. Kalibrasi terhadap pHmeter
dilakukan dengan: Larutan buffer standar : pH = 4,01 ; 7,00 ; 10,01
(Anonim. 2012)
pH merupakan parameter penting untuk diukur dan dikendalikan. PH suatu
larutan menunjukkan bagaimana asam atau basa (alkali) itu. Istilah pH
menerjemahkan nilai-nilai dari konsentrasi ion hydrogen – Yang biasanya berkisar
antara sekitar 1 dan 10 x -14 gram-ekuivalen per liter – antara 0 and 14.

Pada skala pH larutan yang sangat asam memiliki nilai Ph rendah seperti sebagai
0, 1,
atau 2 (yang sesuai dengan konsentrasi besar ion hidrogen; 10 x 0, 10 x -1, or 10 x
-2 gram-equivalents per liter) memiliki nilai pH yang tinggi, seperti 12, 13, atau
14 yang sesuai untuk sejumlah kecil ion hidrogen (10 x -12, 10 x -13, atau 10 x
-14 gram-equivalent per liter). Sebuah solution netral seperti air memiliki pH
sekitar 7. Sebuah loop pengukuran pH terdiri dari tiga komponen, pH sensor, yang
mencakup pengukuran elektroda, elektroda referensi, dan sebuah sensor suhu,
sebuah Preamplifier; dan penganalisis. Sebuah loop pengukuran pH pada dasarnya
adalah sebuah baterai di mana positif terminal adalah pengukuran elektroda dan
terminal

negatif adalah elektroda referensi. Pengukuran elektroda, yang peka terhadap ion
hidrogen, mengembangkan potensial (tegangan) secara langsung berkaitan dengan
konsentrasi ion hidrogen dari solution. Referensi elektroda menyediakan
kestabilan potensial terhadap pengukuran elektroda sehingga dapat dibandingkan.
Ketika tenggelam dalam larutan, potensial elektroda referensi tidak
berubah dengan perubahan konsentrasi ion hidrogen. Output dari elektrode
mengukur perubahan dengan temperatur (meskipun proses tetap pada pH
konstan), sehingga sensor suhu diperlukan untuk mengoreksi perubahan output.
Hal ini dilakukan dalam perangkat lunak. Komponen Sensor pH biasanya
digabungkan menjadi satu perangkat disebut kombinasi pH elektroda. Pengukuran
elektroda biasanya menggunakan kaca dan sangat rapuh.

Perkembangan terbaru telah menggantikan kaca yang lebih tahan lama


yaitu dengan solid-state sensor. Preamplifier adalah perangkat pengkondisian
sinyal. Dibutuhkan impedansi tinggi pada elektroda pH sehingga sinyal dan
perubahan ke impedansi memungkinkan dapat dianlisis oleh penganalisis dan
dapat diterima dengan baik. Preamplifier juga memperkuat dan menstabilkan
sinyal, sehingga kurang rentan pada gangguan listrik. Menjaga sistem dan
berjalan. Sebuah sistem elektroda pH memerlukan pemeliharaan berkala untuk
dibersihkan dan dikalibrasi. Lamanya waktu antara pembersihan dan proses
kalibrasi tergantung pada kondisi dan keakuratan pengguna dan harapan stabilitas.
sifat-sifat listrik mengukur dan perubahan elektroda referensi. Pengkalibrasi nilai
pH larutan disebut buffer akan benar untuk beberapa perubahan ini. Pembersihan
sensor dan referensi juga akan membantu. Namun, seperti baterai memiliki
kehidupan yang terbatas, elektrode pH hidupnya juga terbatas. Bahkan dalam
konteks “ramah” lingkungan, pH elektroda harus diganti akhirnya.

Desain dan teori operasional elektroda pH yang sangat kompleks. Hal


penting untuk dipahami adalah bahwa kedua elektroda menghasilkan tegangan
berbanding lurus dengan pH larutan. Pada pH 7 (netral), maka elektroda akan
menghasilkan 0 volt di antara mereka. Pada pH rendah (asam) tegangan akan
dikembangkan satu polaritas, dan pada pH tinggi (kaustik) tegangan akan
dikembangkan polaritas yang berlawanan.
Desain seal elektroda pH adalah bahwa salah satu dari mereka (disebut
pengukuran elektroda) harus dibangun khusus menggunakan kaca untuk
menciptakan ion-selektif/penghalang dibutuhkan menyaring ion hydrogen dari
semua ion lainnya yang mengambang di dalam larutan. Gelas ini kimia doped
dengan lithium ion, yang membuatnya bereaksi elektrokimia dengan ion hidrogen.
Ini menimbulkan masalah besar jika niat kita adalah untuk mengukur tegangan
antara dua elektroda. Jalur rangkaian dari satu elektroda kontak, melalui kaca
penghalang, melalui solution, ke elektroda lain, dan kembali melalui kontak
elektroda lain, memiliki hambatan yang sangat tinggi.

Elektroda yang lain (disebut referensi elektroda) dibuat dari larutan kimia
netral (7) pH larutan penyangga (biasanya kalium klorida) diperbolehkan untuk
pertukaran ion dengan solution melalui pemisah berpori, membentuk resistensi
yang relatif rendah ke cairan. Pada awalnya, orang mungkin akan cenderung
untuk bertanya: mengapa bukan hanya mencelupkan logam kawat ke dalam
larutan untuk mendapatkan sambungan listrik ke cairan? Alasan ini tidak akan
bekerja adalah karena logam cenderung sangat reaktif di ionik solution dan dapat
menghasilkan tegangan yang signifikan di seluruh antarmuka dari logam-ke-
cairan. Penggunaan bahan kimia basah antarmuka dengan solution yang diukur
diperlukan untuk menghindari gangguan tegangan, yang tentu saja akan keliru
ditafsirkan oleh setiap alat pengukur sebagai pH. (Anonim 2010)

Sebelum abad 18, asam & basa dibedakan menurut rasanya (asam/basa).
Pada abad 18, menurut teori Archenius sudah dapat diketahui bahwa semua asam
mengandung gugus hidrogen H+ sehingga dapat didefinisikan bahwa asam adalah
zat yang jika didalam air dapat melepaskan ion H +. Sedangkan semua basa banyak
mengandung gugus hidroksil OH– dan dapat didefiniskan bahwa basa adalah
senyawa yang dalam air dapat menghasilkan ion OH –. Teori ionisasi asam
menganggap sebagai suatu molekul yang terdiri dari ion H+ dan sisa asam. Asam
dan basa suatu larutan dapat ditentukan dengan menggunakan skala untuk
menyatakan konsentrasi H+ suatu larutan, skala tersebut dikenal dengan istilah pH.
Prinsip pengukuran pH menunjukkan kadar asam atau basa didalam suatu larutan,
sehingga pH hanya menunjukkan aktifitas ion hidrogen H+ dan konsentrasinya.

Ion hidrogen merupakan faktor utama untuk mengetahui reaksi kimiawi


dan dalam ilmu ketekniklingkungan aktifitas ini perlu mendapat perhatian,
karena :

1. ion H+ selalu dalam kesetimbangan dinamis dengan air/H2O yang


membentuk suasana (asam/basa) untuk semua reaksi kimiawi yang
berkaitan dengan masalah pencemaran air

2. ion H+ tidak hanya berasal dari unsur H2O saja tetapi juga banyak berasal
dari unsur senyawa yang lain

3. Peranan ion hidrogen tidak ada artinya kalau pelarutnya bukan air

Lewat aspek kimiawi, suasana pH air juga sangat mempengaruhi beberapa


hal seperti kehidupan biologi dan mikrobiologi. Ion H + dan OH– selalu berada
dalam keseimbangan kimiawi yang dinamis dengan H2O. Dalam air murni,
konsentrasi (H+) sama dengan konsentrasi (OH–) yaitu sama dengan 10-7 dan
dianggap sebagai keadaan netral karena tidak ada pengaruh zat lain.

Indikator

Indikator asam basa sendiri merupakan pengukuran pH yang berupa zat-


zat warna berbeda dalam larutan asam dan basa. Misalnya kertas lakmus, akan
berwarna merah pada larutan bersifat asam (pH < 7) dan akan berwarna biru pada
larutan yang bersifat basa (pH > 7). Adapun indikator lain untuk penentuan derajat
keasaman (pH) ini, yaitu dengan indikator universal dimana akan lebih spesifik
diketahui tingkat derajat keasaman larutan dengan mencocokkan warna pada tabel
indikator setelah kertas indikator universal dicelupkan pada larutan yang akan
diuji tingkat derajat keasamannya.

Pengukuran pH dengan kertas lakmus dan indikator universal ini


merupakan penentuan pH dengan metode kalorimeter. Adapun metode lain yang
dapat digunakan yaitu metode potensiometer dengan menggunakan pH meter.
Untuk mengukur pH dengan metode potensiometer, pH meter terlebih dahulu
harus dikalibrasi dengan larutan buffer pH 4, pH 7, dan pH 10. Baru setelahnya
batang sensor pada pH meter dapat digunakan untuk mengukur derajat keasaman
larutan yang ingin diteliti.

Berikut ini prosedur kerja analisa pH dengan metode potensiometer dengan acuan
normatif dari ASTM D1293 – 95 tentang Standard Test Methods for pH of
Water yang juga menjadi referensi dari SNI 06-6989.11 tahun 2004 tentang Cara
Uji Derajat Keasaman (pH) dengan Menggunakan Alat pH meter yang
merupakan revisi dari SNI 06-2413 tahun 1991.

– Keasaman Air

Keasaman di tetapkan berdasarkan tinggi rendahnya konsentrasi ion


hidrogen dalam air. Air buangan yang mempunyai pH tinggi atau rendah
menjadikan air steril dan sebagai akibatnya membunuh mikroorganisme air yang
diperlukan untuk keperluan biota tertentu. Demikian juga makhluk-makhluk lain
tidak dapat hidup seperti ikan. Air yang mempunyai pH rendah membuat air
menjadi korosif terhadap bahan-bahan konstruksi besi yang kontak dengan air.
Limbah air dengan keasaman tinggi bersumber dari buangan yang mengandung
asam seperti air pembilas pada pabrik pembuatan kawat atau seng. Air limbah
pabrik ini sebelum dibuang keperairan pada umumnya dinetralisasi dahulu.
Buangan air bersifat alkalis (biasa) bersumber dari buangan mengandung bahan-
bahan organik seperti senyawa karbonat, bikarbonat dan hidroksida. Demikian
juga buangan asam ini berasal dari bahan-bahan kimia yang bersifat asam atau
adakalanya pada air yang bersifat alami.

– Kebasaan/Alkalinitas Air

Tinggi rendahnya alkalinitas air ditemukan air senyawa karbonat, garam-


garam hidroksida, kalsium, magnesium dan natrium dalam air. Tingginya
kandungan zat-zat tersebut mengakibatkan kesadahan dalam air. Semakin tinggi
kesadahan suatu air semakin sulit air berbuih. Penggunaan air untuk ketel selalu
diupayakan air yang mempunyai kesadahan rendah karena zat-zat tersebut dalam
konsentrasi tinggi menimbulkan terjadinya kerak pada Binding dalam ketel
maupun pipa-pipa pendingin. Kandungan magnesium, natrium dan kalium harus
diturunkan serendah-rendahnya agar kesadahan menjadi minim. Oleh sebab itu
untuk menurunkan kesadahan air dilakukan pelunakan air. Pengukuran alkalinitas
air adalah pengukuran kandungan ion Ca CO3 ion Mg bikarbonat dan lain-lain.

Derajat keasaman atau pH ini tidak hanya terdapat pada lingkungan


perairan, tetapi juga pada lingkungan padat seperti tanah. Oleh karena itu,
sebelum melakukan kegiatan pertanian, budidaya perikanan dan kegiatan lainnya
yang berhubungan langsung dengan tanah, terlebih dahulu harus diukur derajat
keasamannya apakah masih toleran bagi makhluk hidup yang akan dibudidayakan
tersebut. Tidak semua makhluk hidup dapat bertahan terhadap perubahan nilai pH,
baik karena pengaruh pencemaran atau keadaan alam. Untuk itu, alam telah
menyediakan mekanisme yang unik agar perubahan tidak terjadi secara drastis
atau terjadi dengan cara perlahan. pH sangat penting sebagai parameter kualitas
air karena derajat keasaman mengontrol tipe dan laju kecepatan reaksi beberapa
bahan yang terdapat dalam air.

Pengertian dari pH meter adalah alat elektronik yang digunakan untuk


mengukur pH (keasaman atau alkalinitas) dari cairan (meskipun probe khusus
terkadang digunakan untuk mengukur pH zat semi-padat). Pada prinsipnya,
pengukuran suatu pH didasarkan pada potensial elektro kimia yang terjadi antara
larutan yang terdapat didalam elektroda gelas (membrane gelas) yang telah
diketahui dengan larutan yang terdapat diluar elektroda gelas yang tidak diketahui.
Hal ini dikarenakan lapisan tipis dari gelembung kaca akan berinteraksi dengan
ion hydrogen yang ukurannya relative kecil dan aktif, elektroda gelas tersebut
akan mengukur potensial elektrokimia dari ion hydrogen atau diistilahkan dengan
potential of hydrogen. Elektroda dapat mudah rusak sehingga perlu penggunaan
yang benar dan hati-hati. Jika pH meter sedang tidak digunakan maka elektroda
harus dalam keadaan terendam dalam larutan berpH 4 (McQuarrie & John 1997).

Kini pH meter yang terdiri atas mikro prosesor yang diperlukan untuk koreksi
temperatur dan kalibrasi. Meskipun demikian, pH meter modern masih
mempunyai kekurangan, yaitu perubahan yang lambat, yang merupakan masalah
penting dalam menentukan skala yang valid (Haqiqi 2008). Penggunaan alat
maupun instrumen dalam melakukan pengukuran sebaiknya dilakukan kalibrasi
alat terlebih dahulu, salah satunya adalah pH meter. Menurut Tahir (2008),
kalibrasi alat harus diperhatikan sebelum dilakukan pengukuran pada pH meter.
Kalibrasi adalah memastikan kebenaran nilai-nilai yang ditunjukan oleh instrumen
ukur atau sistem pengukuran atau nilai-nilai yang diabadikan pada suatu bahan
ukur dengan cara membandingkan dengan nilai konvensional yang diwakili oleh
standar ukur yang memiliki kemampuan telusur ke standar Nasional atau
Internasional. Larutan yang biasa digunakan untuk kalibrasi pH meter adalah
larutan buffer.
Kalibrasi terhadap pHmeter dilakukan dengan larutan buffer standar dengan
ph 4.01,7, dan 10.01 dan dengan metode satu titik, dua titik, atau multi titik.
Metode satu titik, dilakukan dengan menggunakan buffer standar sekitar pH yang
akan diukur, ph 4,01 untuk sistem asam, buffer standar 7,00 untuk sistem netral,
dan buffer standar 10,01 untuk system basa. Metode dua titik dilakukan jika bahan
bersifat asam digunakan dua buffer standar berupa pH 4,01 dan 7,00. Jika bahan
bersifat basa, digunakan dua buffer standar berupa pH 7,00 dan 10,00. Selain
kalibrasi terhadap pH meter, juga terdapat kalibrasi temperatur berupa PT100
maupun thermocouple dapat menggunakan metode perbandingan maupun
simulasi (Sulaiman 2011).

Pengukuran dengan menggunakan pH meter dan pH universal menunjukkan


hasil yang berbeda, dikarenakan pH meter memiliki daya ukur yang lebih akurat
dan tepat dibandingkan dengan menggunakan pH universal. Hasil dari pH
universal yang berupa kisaran pH dalam bentuk warna sesaat setelah dicelupkan
ke dalam suatu larutan, warna yang terbentuk tersebut akan dicocokkan dengan
nilai pH yang yang terdapat pada warna universal. Sedangkan pH meter lebih
akurat dan presisi karena setelah elektroda dicelupkan pada larutan, nilai pH akan
ditransmisikan secara digital di layar dengan dua atau empat angka desimal. Alat
tersebut memiliki ketelitian yang baik karena memiliki sensitivitas 0.01 pH
(Matiin 2012).

Salah satu aplikasi dalam penggunaan pH meter yakni mengukur kadar


keasaman atau kebasaan suatu air tanah yang dikembangkan saat ini. Selain itu,
alat-alat instrumentasi yang digunakan pada pabrik pembuatan kertas atau pulp
adalah dengan menggunakan PH meter yang berfungsi untuk mendeteksi
keasaman dan kebasaan pada buburan kertas agar dapat menghasilkan kertas atau
pulp yang kualitas baik. Instrumen pH meter merupakan suatu peralatan yang
terdiri dari sensor sebagai pendeteksi keasaman dan kebasaan, di mana data yang
diperoleh dari pendeteksian oleh sensor tersebut akan ditampilkan ke transmiter,
selanjutnya transmiter mengirim data tersebut ke ruang DCS (Distribution Control
System), sehingga data tersebut dapat dibaca oleh operator pada ruang control
(Hartas 2008).

Prinsip kerja pH meter adalah didasarkan pada potensial elektro kimia yang
terjadi antara larutan yang terdapat di dalam elektroda gelas yang telah diketahui
dengan larutan yang terdapat di luar elektroda gelas yang tidak diketahui. Hal ini
dikarenakan lapisan tipis dari gelembung kaca akan berinteraksi dengan ion
hidrogen yang ukurannya relatif kecil dan aktif. Elektroda gelas tersebut akan
mengukur potensial elektrokimia dari ion hidrogen atau di istilahkan dengan
potential of hidrogen. Untuk melengkapi sirkuit elektrik dibutuhkan suatu
elektroda pembanding. Sebagai catatan, alat tersebut tidak mengukur arus tetapi
hanya mengukur tegangan.

Skema elektroda pH meter akan mengukur potensial listrik antara Merkuri


Klorid (HgCl) pada elektroda pembanding dan potassium chloride (KCl) yang
merupakan larutan didalam gelas elektroda serta petensial antara larutan dan
elektroda perak. Tetapi potensial antarasampel yang tidak diketahui dengan
elektroda gelas dapat berubah tergantung sampelnya. Oleh karena itu, perlu
dilakukan kalibrasi dengan menggunakan larutan yang equivalent yang lainnya
untuk menetapkan nilai pH. Elektroda pembanding calomel terdiri dari tabung
gelas yang berisi potassium kloride (KCl) yang merupakan elektrolit yang
berinteraksi dengan HgCl diujung larutan KCl. Tabung gelas ini mudah pecah
sehingga untuk menghubungkannya digunakan keramik berpori atau bahan
sejenisnya.
Elektroda semacam ini tidak mudah terkontaminasi oleh logam dan unsure
natrium.Elektroda gelas terdiri dari tabung kaca yang kokoh dan tersambung
dengan gelembung kacayang tipis. Di dalamnnya terdapat larutan KCl yang buffer
ph 7. Elektroda perak yang ujungnya merupakan perak kloride (AgCl2)
dihubungkan ke dalam larutan tersebut. Untuk meminimalisir pengaruh elektrik
yang tidak diinginkan, alat tersebut dilindungi oleh suatu lapisan kertas pelindung
yang biasanya terdapat di bagian dalam elektroda gelas. Pada kebanyakan pH
meter modern sudah dilengkapi dengan thermistor temperature, yakni suatu alat
untuk mengkoreksi pengaruh temperature. Antara elektroda pembanding dengan
elektroda gelas sudah disusun dalam satu kesatuan.

Cara kerja penggunaan pH meter :


1. Larutan yang akan diukur pHnya dimasukkan ke dalam beaker glass
secukupnya. Sebaiknya
dengan beaker glass supaya magnetic stic bar mempunyai jarak dengan elektroda
pH meter
sehingga tidak bersentuhan. (Usahakan agar volume larutan tidak terlalu sedikit
agar magnetic
stir bar yang akan digunakan tidak bersentuhan dengan ujung elektroda pH meter.)
2. Masukkan magnetic stir bar ke dalam beaker glass yang telah berisi larutan tadi.
3. Pada alat pH meter, masukkan probe temperatur ke dalam beaker glass yang
telah berisi
larutan tadi.
4. Letakkan beaker glass tersebut di atas otomatik stirrer dan hidupkan otomatik
stirrer dengan
kecepatan pelan tetapi cukup agar larutan yang akan diukur pHnya tersebut tetap
teraduk merata.
5. Semprotkan akuades ke arah bagian elektroda pH meter utuk membersihkan
KCl agar hasil
pengukuran pH larutan tidak terpengaruh oleh KCl.
6. Jepitlah bagian plastik dari pH meter menggunakan statif dan klem.
7. Posisikan bagian ujung elektroda dari pH meter terendam dalam larutan yang
berada dalam
beaker glass. (Hati-hati melakukannya agar elektroda pH meter tidak bersentuhan
dengan
dinding beaker glass maupun dengan magnetic stir bar karena elektroda pH meter
dapat pecah8. Hidupkan pH meter dengan menekan tombol ON, lalu lihat hasil
pengukuran di layar pH
meter. Tunggu sampai angka terakhir yang ditunjukkan di layar tidak berubah
lagi, setelah itu
baca hasilnya.

Derajat Keasaman dan Kebasaan (pH dan pOH)

Pada dasarnya derajat/tingkat keasaman suatu larutan (pH = potenz


Hydrogen) bergantung pada konsentrasi ion H+ dalam larutan. Semakin besar
konsentrasi ion H+ semakin asam larutan tersebut. Umumnya konsentrasi ion
H+ pada larutan sangat kecil, maka untuk menyederhanakan penulisan digunakan
konsep pH untuk menyatakan konsentrasi ion H+. Nilai pH sama dengan negatif
logaritma konsentrasi ion H+ dan secara matematika dinyatakan dengan
persamaan

pH = −log (H+)

Analog dengan pH, konsentrasi ion OH- juga dapat dinyatakan dengan cara yang
sama, yaitu pOH (potenz Hydroxide) dinyatakan dengan persamaan sebagai
berikut.

pOH = −log (OH-)

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, derajat keasaman suatu zat (pH)
ditunjukkan dengan skala 0 – 14 dengan ketentuan sebagai berikut.

■ Larutan dengan pH < 7 bersifat asam.


■ Larutan dengan pH = 7 bersifat netral.
■ Larutan dengan pH > 7 bersifat basa.

Jumlah harga pH dan pOH = 14. Misalnya, suatu larutan memiliki pOH = 5, maka
harga pH = 14 – 5 = 9. Harga pH untuk beberapa jenis zat yang dapat kita
temukan di lingkungan sehari-hari dinyatakan dalam tabel berikut ini.

Tabel pH Beberapa Jenis Zat

No. Harga Contoh Material


pH
1. 1 Larutan HCl 0,1 M
2. 6 Susu
3. 7 Air murni
4. 7,2 Darah
5. 14 Larutan NaOH 1 M

Cara Menentukan Derajat Keasaman Larutan

Derajat keasaman (pH) suatu larutan dapat ditentukan dengan menggunakan


indikator universal, indikator stik, larutan indikator dan pH meter. Berikut ini
penjelasan cara menentukan pH dengan menggunakan cara-cara tersebut.

1. Menentukan pH dengan Indikator Universal

Indikator universal merupakan campuran dari bermacam-macam indikator yang


dapat menunjukkan pH suatu larutan dari perubahan warnanya. Indikator
universal ada dua macam yaitu indikator berupa kertas dan larutan.

A. Indikator Universal Kertas

Kertas indikator universal memiliki empat buah garis yang berwarna, yaitu
kuning, hijau, jingga, dan jingga kecokelatan. Garis warna tersebut akan
mengalami perubahan warna jika kertas indikator universal dicelupkan ke dalam
suatu larutan yang memiliki sifat tertentu. Perubahan warna yang terjadi pada
garis warna kertas indikator universal dicocokkan dengan tabel berikut ini untuk
menentukan nilai pH suatu larutan.
Tabel Nilai pH Berdasarkan Perubahan Warna pada Kertas Indikator

Nilai Urutan Warna pada Garis Warna dari Bawah


Warna 1 Warna 2 Warna 3 Warna 4
pH
0 Ungu tua Kuning Jingga Jingga
1 Ungu Kuning Jingga Kecoklatan
2 Unggu muda Kuning Jingga Jingga
3 Cokelat Kuning Jingga Kecoklatan
4 Cokelat muda Kuning Jingga Jingga
5 Kuning Kuning Jingga Kecoklatan
6 Kuning Kehijauan Jingga Jingga
7 Kuning Hijau Jingga Kecoklatan
pucat
8 Kuning Hijau Jingga Jingga
9 Kuning Hijau tua Jingga Kecoklatan
10 Kuning Biru Jingga Jingga
11 Kuning Biru Kecoklatan Kecoklatan
12 Kuning Biru Cokelat muda Jingga
13 Kuning Biru Cokelat Kecoklatan
14 Kuning Biru Cokelat Jingga

Contoh:

Kertas indikator dicelupkan ke dalam suatu larutan sehingga garis warnanya


berubah menjadi (dari bawah) kuning, biru, jingga, jingga. Jika kita cocokkan
dengan tabel perubahan warna pada garis warna kertas indikator universal, maka
diperoleh nilai pH larutan tersebut adalah 10.

Dengan menggunakan kertas indikator universal kita dapat menentukan sifat dari
suatu larutan apakah bersifat asam, basa, atau netral. Derajat keasaman larutan
yang diperoleh dari hasil pengukuran mengindikasikan sifat larutan tersebut.
Contoh di atas menunjukkan bahwa larutan yang diuji bersifat basa karena
memiliki nilai pH lebih dari 7.

B. Indikator Universal Larutan

Jenis indikator universal larutan, jika dimasukkan dalam larutan yang bersifat
asam, basa atau garam yang memiliki pH berbeda-beda akan memberikan warna-
warna yang berbeda pula. Perhatikan tabel berikut ini.

Tabel Perubahan Warna Indikator Universal Larutan

Nilai Warna Indikator Universal


pH
≤3 Merah
4 Merah jingga
5 Jingga
6 Kuning
7 Hijau kekuningan
8 Biru kehijauan
9 Biru
≥ 10 Unggu
2. Menentukan pH dengan Indikator Kertas (Indikator Stick)

Indikator kertas berupa kertas serap dan tiap kotak kemasan indikator jenis
ini dilengkapi dengan peta warna. Penggunaannya sangat sederhana, sehelai
indikator dicelupkan ke dalam larutan yang akan diukur pH-nya. Kemudian
dibandingkan dengan peta warna yang tersedia.

3. Menentukan pH dengan Larutan Indikator

Salah satu contoh indikator universal jenis larutan adalah larutan metil
jingga (Metil Orange = MO). Pada pH kurang dari 6 larutan ini berwarna jingga,
sedangkan pada pH lebih dari 7 warnanya menjadi kuning seperti yang
ditunjukkan pada gambar berikut ini. Contoh indikator cair lainnya adalah
indikator fenolftalin (Phenolphtalein = pp). pH di bawah 8, fenolftalin tidak
berwarna, dan akan berwarna merah anggur apabila pH larutan di atas 10 seperti
yang diperlihatkan pada gambar di bawah ini. Berikut ini adalah daftar perubahan
warna beberpa jenis larutan indikator pada keadaan asam dan basa.

Tabel Perubahan Warna Larutan Indikator

Trayek Warna
Indikator
pH Basa asam
Timol biru 1,2 – 2,8 Kuning Merah
Metil jingga 3,1 – 4,4 Kuning Merah
Metil merah 4,4 – 6,2 Kuning Merah
Bromocresol biru 6,0 – 7,6 Merah Kuning
Fenoftalein 8,3 – 10,0 Kuning Merah tua
4. Menentukan pH dengan pH Meter

pH-meter adalah suatu alat untuk mengukur derajat keasaman (pH) dari suatu
larutan. Dengan menggunakan pH-meter, kita akan langsung mendapatkan nilai
pH dari suatu larutan tanpa harus melakukan analisis lagi. Jika elektroda pada pH-
meter kita celupkan ke dalam suatu larutan, maka kita akan mendapatkan nilai pH
larutan tersebut pada layar pH-me

Dengan menggunakan pH-meter juga kita dapat menentukan sifat dari suatu
zat atau larutan apakah bersifat asam, basa, atau garam. Nilai pH yang diperoleh
dari hasil pengukuran dapat digunakan untuk menentukan sifatnya

Uji derajat keasaman (pH) (SNI 06-6989.11:2004)


1. Prinsip
Metode pengukuran pH berdasarkan pengukuran aktifitas ion hidrogen secara
potensiometri/elektrometri dengan menggunakan pH meter.

B.2. Analisis pH
Derajat keasaman adalah ukuran untuk menentukan sifat asam dan basa.
Perubahan pH di suatu air sangat berpengaruh terhadap proses fisika, kimia,
maupun biologi dari organisme yang hidup di dalamnya. Derajat keasaman diduga
sangat berpengaruh terhadap daya racun bahan pencemaran dan kelarutan
beberapa gas, serta menentukan bentuk zat didalam air. Nilai pH air digunakan
untuk mengekpresikan kondisi keasaman (kosentrasi ion hidrogen) air limbah.
Skala pH berkisarantara 1-14. Kisaran nilai pH 1-7 termasuk kondisi asam, pH 7-
14 termasuk kondisi basa, dan pH 7 adalah kondisi netral (Azwir, 2006).
Hasil yang diperoleh dari analisis pH yaitu untuk sampel air sungai 1 yaitu
sebesar 6,88, untuk sampel air sungai 2 yaitu sebesar 6,84 dan untuk sampel air
limbah yaitu sebesar 7,78. Dari hasil analisis tersebut pada pengukuran pH semua
sampel baik air sungai maupun air limbah memenuhi syarat mutu yang
diperbolehkan.

2) Pengujian Kualitas Udara


a. Pengujian Kualitas Udara dengan SLM (Sound Level Meter)

Sound Level Meter merupakan alat ukur intensitas kebisingan


yang digunakan untuk mengukur intensitas kebisingan antara 30 – 130
dBA dan dari frekuensi antara 20 – 20000 Hz. Di rumah sakit, alat ini
digunakan untuk mengukur tingkat kebisingan suatu ruangan yang
mempunyai standart tertentu, peletakan genset maupun kompresor. Alat
ini didasarkan pada getaran yang terjadi, apabila ada objek atau benda
yang bergetar, maka akan menimbulkan terjadinya sebuah perubahan
pada tekanan udara yang kemudian akan ditangkap oleh sistem
peralatan, selanjutnya akan menunjukkan angka jumlah dari tingkat
kebisingan yang dinyatakan dengan nilai dB, dengan cara mengarahkan
microphone ke arah sumber suara yang di ukur dan amati angka yang
ada atau tertera pada layar Sound Level Meter (Putra, 2014).

Kebisingan suara merupakan suara yang didengar oleh seseorang


tetapi tidak dikehendaki. Proses terpapar kebisingan sampai ketelinga
ini melalui mekanisme pendengaran yaitu suara bising dikumpulkan
oleh daun telinga (auriculla) untuk disalurkan kelubang telinga
kemudian menuju membrane tympani. Kebisingan dapat menyebabkan
berbagai pengaruh antara lain kerusakan indera pendengaran yang dapat
menyebabkan penurunann daya dengar yang bersifat permanen atau
ketulian, peningkatan tekanan darah dan denyut jantung, resiko
serangan jantung dan gangguan pencernaan serta stress yang dapat
menyebabkan terjadinya kelelahan dini, kegelisahan dan depresi (Huda,
2016 : 19-21).

Decibel adalah satuan yang digunakan untuk menyatakan


kuantitas elektrik dari perubahan kuat-lemahnya amplitude gelombang
sinyal suara yang didengar oleh telinga manusia. Jangkauan kuantitas
yang ada pada ilmu akustik. Microphone adalah suatu jenis transduser
yang mengubah energy akustik (gelombang suara) menjadi sinyal
listrik. Mikropon merupakan salah satu alat untuk membantu
komunikasi manusia. Karena sangat peka dalam menerima getaran
suara, peletakan microphone memerlukan pengaturan yang khusus
(Tuwaidan, 2015 : 38 ).

Sound Level Meter saat ini memiliki standarisasi international


dengan standar EC 61672:2003. Ada beberapa faktor yang menjadi
pengaruh dalam pengukuran menggunakan sound level meter ini hal
tersebut membuat gelombang suara yang terukur bisa jadi tidak sama
dengan nilai intensitas gelombang suara sebenarnya.
a) Spesifikasi
Spesifikasi dari Sound Level Meter adalah sebagai berikut:

1. Pengukuran berkisar dari 26dB (A)


2. Catatan fungsi hingga 99 catatan
3. 6 rentang pengukuran yang disesuaikan
4. Dimensi 264 x 68 x 27 mm
5. Berat 260 g
b) Fungsi dan Aplikasi
Adapun fungsi dan aplikasi Sound Level Meter adalah sebagai
berikut.

1. Fungsi
Sound Level Meter digunakan untuk untuk mengukur
kebisingan antara 30-130 dB dalam satuan dBA dari
frekuensi antara 20-20.000Hz.
2. Aplikasi
Aplikasi Sound Level Meter biasanya dipakai dipabrik,
untuk menganalisi kebisingan peralatan dipabrik tersebut
misalnya pada pabrik pupuk, alat yang berpotensi
menimbulkan kebisingan seperti turbin, compressor,
condenser, pompa drum dan lain-lain.

b. Bahaya Kebisingan
Bahaya bising dihubungkan dengan beberapa faktor :
1. IntensitasIntensitas bunyi yang ditangkap oleh telinga
berbanding langsung denganlogaritma kuadrat tekanan akustik
yang dihasilkan getaran dalam rentangyang dapat didengar.
Jadi, tingkat tekanan bunyi diukur dengan skalalogaritma dalam
desibel (dB)
2. FrekuensiFrekuensi bunyi yang dapat didengar telinga manusia
terletak antara 16hingga 20.000 Hz. . Frekuensi bicara terdapat
dalm rentang 250-4.000 Hz.Bunyi frekuensi tinggi adalah yang
paling berbahaya
3. DurasiEfek bising yang merugikan sebanding dengan lamanya
paparan, dankelihatannya berhubungan dengan jumlah total
energi yang mencapaitelinga dalam. Jadi perlu untuk mengukur
semua elemen lingkunganakustik. Untuk tujuan ini digunakan
pengukur bising yang dapat merekamdan memadukan bunyi.
4. SifatMengacu pada distribusi energi bunyi terhadap waktu
(stabil, berfluktuasi,intermiten). Bising impulsif (satu atau lebih
lonjakan energi bunyi dengandurasi kurang 1 detik) sangat
berbahaya

c. Prinsip Kerja dan Cara Pemakaian

Pada umumnya SLM & Noise Dosimeter diarahkan ke sumber


suara, setinggi telinga, agar dapat menangkap kebisingan yang tercipta.
Untuk keperluan mengukur kebisingan di suatu ruangan kerja,
pencatatan dilaksanakan satu shift kerja penuh dengan beberapa kali
pencatatan dari SLM. Cara pemakainnya adalah sebagai berikut:

a. Persiapan alat
1) Pasang baterai pada tempatnya.
2) Tekan tombol power.
3) Cek garis tanda pada monitor untuk mengetahui baterai dalam
keadaan baik atau tidak.
4) Kalibrasi alat dengan kalibrator, sehingga alat pada monitor sesuai
dengan angka kalibrator.

b. Pengukuran
1) Pilih selektor pada posisi:
a) Fast : untuk jenis kebisingan kontinu
Bising dimana fluktuasi dari intensitasnya tidak lebih dari 6 dB
dan tidak putus-putus. Bising kontinu dibagi menjasi dua yaitu:
 Wide Spectrum merupakan bising dengan spectrum
frekuensi yang luas. Bising ini relatif tetap dalam batas
kurang dari 5 dB untuk periode 0.5 detik berturut-turut,
seperti suara kipas angin, suara mesin tenun.
 Narrow Spectrum merupakan bising yang relative tetap
akan tetapi hanya mempunyai fekuensi tertentu saja
(frekuensi 500, 1000, 4000) misalnyaa gergji sirkuler, katup
gas.
b) Slow : untuk jenis kebisingan impulsif / terputus-putus
Bising ini sering disebut juga intermitten noise, yaitu
bising yang berlangsung secara tidak terus terusan,
melainkan ada periode rekatif tenang misalnya lalu lintas,
kendaraan, kapal terbang, kereta api.
2) Pilih selektor range intensitas kebisingan.
3) Tentukan lokasi pengukuran.
4) Setiap lokasi pengukuran dilakukan pengamatan selama 1-2 menit
dengan kurang lebih 6 kali pembacaan. Hasil pengukuran adalah
angka yang ditunjukkan pada monitor.
5) Catat hasil pengukuran dan hitung rata-rata kebisingan (Lek)

Lek = 10 log 1/n (10 L1/10+10L2/10+10L3/10+....) dBA

Berdasarkan keputusan Menteri Tenaga Kerja No. KEP/51/MEN/1999


zona kebisingan dibedakan atas tiga bagian, yaitu:

a. Zona aman tanpa pelindung : < 85 dBA


b. Zona dengan pelindung ear plug : 85 - 95 dBA
c. Zona dengan pelindung ear muff : > 95 dBA
Daftar Pustaka

Chapman. D. Water quality assesment- A guide to use of biota, sediments


and water in environmental monitoring-second edition. : Cambridge University
Press : Inggris, 2000.
Effendi, H. Telaah Kualitas Air. Kanisius. Yogyakarta, 2003.

Kusnaedi. Mengelolah Air Kotor untuk Air Minum. Penebar Swadaya:


Jakarta, 2010.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2001 Tentang


Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air.

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 416 Tahun 1990


Tentang Syarat-syarat dan Pengawasan Kualitas Air.

Siti Munifah, dkk. Physical and Chemical Water Quality of Dug and Bore
Well in the Working Area of Public Health Center II Guntur Demak Regency.
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol. 12 No. 2 / Oktober 2013.

Suriawiria, U. Air dalam Kehidupan dan Lingkungan yang Sehat. Penerbit


PT. Alumni: Bandung, 2005.

Huda, Moch. Maftuchul, Intan Novita AP. 2016. Stress Masyarakat


terjadi akibat
suara bising mesin diesel penggilingan pakan ternak sapi : studi masyarakat
Pandontoyo Kediri. Nurseline Journal ISSN 2540-7937 Vol 1 No1

Tuwaidan, Yongly. 2015. Rancang bangun alat ukur decibel (dB) meter
berbasis
mikrokontroler arduino uno R3. E-journal Teknik Elektro dan Komputer ISSN
2301-8402
Rachmat Party. 2011. Analysis Kebisingan Terminal Penumpang / Bis
Banda Aceh.Aceh.http://rachmatstenggineering.blogspot.co.id/2011/02/analsis-
kebisinganterminal-penumpang.html?m=1/. (diakses pada 5 September 2015)