Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRAKTIKUM

PENGOLAHAN SINYAL DIGITAL


PERCOBAAN 7
“Operasi Konvolusi Sinyal Diskrit”

ZENA VILLA NAZILA


3.33.17.1.23
KELAS TK-2B

PROGRAM STUDI DIII TEKNIK TELEKOMUNIKASI


JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
POLITEKNIK NEGERI SEMARANG
2019
PERCOBAAN 7
OPERASI KONVOLUSI SINYAL DISKRIT

A. Hasil Data Praktikum

No. Program Hasil


1. L=input('Panjang
gelombang(>=10) :
');
P=input('Lebar
pulsa (lebih
kecil dari L):
');
for n=1:L
if n<=P
x(n)=1;
else
x(n)=0;
end
end
t=1:L;
subplot(3,1,1)
stem(t,x)

Panjang
gelombang(>=10) :
20
Lebar pulsa
(lebih kecil dari
L): 10
2. L=input('Panjang
gelombang(>=10) :
');
P=input('Lebar
pulsa (lebih
kecil dari L):
');
for n=1:L
if n<=P
x(n)=1;
else
x(n)=0;
end
end
t=1:L;
subplot(3,1,1)
stem(t,x)
for n=1:L
if n<=P
v(n)=1;
else
v(n)=0;
end
end
t=1:L;
subplot(3,1,2)
stem(t,v)

Panjang
gelombang(>=10) : 25

Lebar pulsa (lebih kecil


dari L): 13
3. L=input('Panjang
gelombang(>=10) : ');
P=input('Lebar pulsa
(lebih kecil dari L):
');
for n=1:L
if n<=P
x(n)=1;
else
x(n)=0;
end
end
t=1:L;
subplot(3,1,1)
stem(t,x)
for n=1:L
if n<=P
v(n)=1;
else
v(n)=0;
end
end
t=1:L;
subplot(3,1,2)
stem(t,v)
subplot(3,1,3)
stem(conv(x,v))

Panjang
gelombang(>=10) : 20

Lebar pulsa (lebih kecil


dari L): 10
4. L=input('Panjang
gelombang(>=10) : ');
P=input('Lebar pulsa
(lebih kecil dari L):
');
for n=1:L
if n<=P
x(n)=1;
else
x(n)=0;
end
end
t=1:L;
subplot(3,1,1)
stem(t,x)
for n=1:L
if n<=P
v(n)=1;
else
v(n)=0;
end
end
t=1:L;
subplot(3,1,2)
stem(t,v)
subplot(3,1,3)
stem(conv(x,v))

Panjang
gelombang(>=10) : 25

Lebar pulsa (lebih kecil


dari L): 5
5. L=input('Panjang
gelombang(>=10) : ');
P=input('Lebar pulsa
(lebih kecil dari L):
');
for n=1:L
if n<=P
x(n)=1;
else
x(n)=0;
end
end
t=1:L;
subplot(3,1,1)
stem(t,x)
for n=1:L
if n<=P
v(n)=1;
else
v(n)=0;
end
end
t=1:L;
subplot(3,1,2)
stem(t,v)
subplot(3,1,3)
stem(conv(x,v))

Panjang
gelombang(>=10) : 25

Lebar pulsa (lebih kecil


dari L): 10
6. L=input('Panjang
gelombang(>=10) : ');
P=input('Lebar pulsa
(lebih kecil dari L):
');
for n=1:L
if n<=P
x(n)=1;
else
x(n)=0;
end
end
t=1:L;
subplot(3,1,1)
stem(t,x)
for n=1:L
if n<=P
v(n)=1;
else
v(n)=0;
end
end
t=1:L;
subplot(3,1,2)
stem(t,v)
subplot(3,1,3)
stem(conv(x,v))

Panjang
gelombang(>=10) : 30

Lebar pulsa (lebih kecil


dari L): 10
7. >> %Pembangkitan
Sekuen Konstan
Pertama
L1=21;
for n=1:L1;
if (n>=2);
st1(n)=1;
else
st1(n)=0;
end
end
t1=[0:1:(L1-1)];
subplot(311)
stem(t1,st1)
title('Konvolusi
2 sinyal sekuen
konstan')
8. %Pembangkitan
Sekuen Konstan
Pertama
L1=21;
for n=1:L1;
if (n>=2);
st1(n)=1;
else
st1(n)=0;
end
end
t1=[0:1:(L1-1)];
subplot(311)
stem(t1,st1)
title('Konvolusi
2 sinyal sekuen
konstan')
%Pembangkitan
Sekuen Konstan
Kedua
L2=25;
for n=1:L2;
if (n>=2);
st2(n)=1;
else
st2(n)=0;
end
end
t2=[0:1:(L2-1)];
subplot(312)
stem(t2,st2)
xlabel('Jumlah
Sample')
9. %Pembangkitan Sekuen
Konstan Pertama
L1=21;
for n=1:L1;
if (n>=2);
st1(n)=1;
else
st1(n)=0;
end
end
t1=[0:1:(L1-1)];
subplot(311)
stem(t1,st1)
title('Konvolusi 2
sinyal sekuen konstan
- VILLA')
%Pembangkitan Sekuen
Konstan Kedua
L2=25;
for n=1:L2;
if (n>=2);
st2(n)=1;
else
st2(n)=0;
end
end
t2=[0:1:(L2-1)];
subplot(312)
stem(t2,st2)
xlabel('Jumlah
Sample')
subplot(313)
c=conv(st1,st2)
stem(c)

10. %Pembangkitan Sekuen


Konstan Pertama
L1=10;
for n=1:L1;
if (n>=2);
st1(n)=1;
else
st1(n)=0;
end
end
t1=[0:1:(L1-1)];
subplot(311)
stem(t1,st1)
title('Konvolusi 2
sinyal sekuen konstan
- VILLA')
%Pembangkitan Sekuen
Konstan Kedua
L2=8;
for n=1:L2;
if (n>=2);
st2(n)=1;
else
st2(n)=0;
end
end
t2=[0:1:(L2-1)];
subplot(312)
stem(t2,st2)
xlabel('Jumlah
Sample')
subplot(313)
c=conv(st1,st2)
stem(c)

11. %Pembangkitan Sekuen


Konstan Pertama
L1=15;
for n=1:L1;
if (n>=2);
st1(n)=1;
else
st1(n)=0;
end
end
t1=[0:1:(L1-1)];
subplot(311)
stem(t1,st1)
title('Konvolusi 2
sinyal sekuen konstan
- VILLA')
%Pembangkitan Sekuen
Konstan Kedua
L2=18;
for n=1:L2;
if (n>=2);
st2(n)=1;
else
st2(n)=0;
end
end
t2=[0:1:(L2-1)];
subplot(312)
stem(t2,st2)
xlabel('Jumlah
Sample')
subplot(313)
c=conv(st1,st2)
stem(c)

12. L=input('Banyaknya
titik sampel(>=20):
');
f1=input('Besarnya
frekuensi gel 1
adalah Hz: ');
f2=input('Besarnya
frekuensi gel 2
adalah Hz: ');
teta1=input('Besarnya
fase gel 1(dalam
radiant): ');
teta2=input('Besarnya
fase gel 2(dalam
radiant): ');
A1=input('Besarnya
amplitudo gel 1: ');
A2=input('Besarnya
amplitudo gel 2: ');
%Sinus pertama
t=1:L;
t=2*t/L;
y1=A1*sin(2*pi*f1*t +
teta1*pi);
subplot(3,1,1)
stem(y1)
%Sinus kedua
t=1:L;
t=2*t/L;
y2=A2*sin(2*pi*f2*t +
teta2*pi);
subplot(3,1,2)
stem(y2)

13. L=input('Banyaknya
titik sampel(>=20):
');
f1=input('Besarnya
frekuensi gel 1
adalah Hz: ');
f2=input('Besarnya
frekuensi gel 2
adalah Hz: ');
teta1=input('Besarnya
fase gel 1(dalam
radiant): ');
teta2=input('Besarnya
fase gel 2(dalam
radiant): ');
A1=input('Besarnya
amplitudo gel 1: ');
A2=input('Besarnya
amplitudo gel 2: ');
%Sinus pertama
t=1:L;
t=2*t/L;
y1=A1*sin(2*pi*f1*t +
teta1*pi);
subplot(3,1,1)
stem(y1)
%Sinus kedua
t=1:L;
t=2*t/L;
y2=A2*sin(2*pi*f2*t +
teta2*pi);
subplot(3,1,2)
stem(y2)
14. L=input('Banyaknya
titik sampel(>=20):
');
f1=input('Besarnya
frekuensi gel 1
adalah Hz: ');
f2=input('Besarnya
frekuensi gel 2
adalah Hz: ');
teta1=input('Besarnya
fase gel 1(dalam
radiant): ');
teta2=input('Besarnya
fase gel 2(dalam
radiant): ');
A1=input('Besarnya
amplitudo gel 1: ');
A2=input('Besarnya
amplitudo gel 2: ');
%Sinus pertama
t=1:L;
t=2*t/L;
y1=A1*sin(2*pi*f1*t +
teta1*pi);
subplot(3,1,1)
stem(y1)
%Sinus kedua
t=1:L;
t=2*t/L;
y2=A2*sin(2*pi*f2*t +
teta2*pi);
subplot(3,1,2)
stem(y2)
subplot(3,1,3)
stem(conv(y1,y2))

15. L=input('Banyaknya
titik sampel(>=20):
');
f1=input('Besarnya
frekuensi gel 1
adalah Hz: ');
f2=input('Besarnya
frekuensi gel 2
adalah Hz: ');
teta1=input('Besarnya
fase gel 1(dalam
radiant): ');
teta2=input('Besarnya
fase gel 2(dalam
radiant): ');
A1=input('Besarnya
amplitudo gel 1: ');
A2=input('Besarnya
amplitudo gel 2: ');
%Sinus pertama
t=1:L;
t=2*t/L;
y1=A1*sin(2*pi*f1*t +
teta1*pi);
subplot(3,1,1)
stem(y1)
%Sinus kedua
t=1:L;
t=2*t/L;
y2=A2*sin(2*pi*f2*t +
teta2*pi);
subplot(3,1,2)
stem(y2)
subplot(3,1,3)
stem(conv(y1,y2))

B. Analisis dan Pembahasan


Tujuan dari percobaan mengenai operasi konvolusi ini adalah mahasiswa dapat
memahami proses operasi konvolusi pada dua sinyal serta dapat membuat program
operasi konvolusi dan mengetahui pengaruhnya pada suatu sinyal. Dalam langkah
percobaan yang dilakukan pertama-tama mengamati mengenai konvolusi sinyal unit
diskrit unit step dimana pada bagian ini kita membangkitkan sebuah sinyal unit step
diskrit yang memiliki persamaan tertentu. Pada percobaan diinput mengenai panjang
gelombang dimana memiliki nilai ≥ 10 serta lebar pulsa yang nilainya lebih kecil dari
L. Setelah itu dideklarasikan fungsi subplot dan stem. Stem merupakan perintah untuk
menampilkan sinyal diskrit. Setelah program dijalankan di Matlab maka dihasilkan
tampilannya. Tampilan di Matlab memperlihatkan sinyal berupa sinyal diskrit
berbentuk kotak
(sinyal step) yang memiliki nilai yang diinput sebesar L=20 dan P=10.
Setelah itu dimasukkan pembangkit sekuen unit step kedua dengan
menambahkan sintaks. Lalu program tersebut dijalankan dan menghasilkan dua buah
sinyal yang sama dan satu sinyal yang berbeda. Sinyal pertama memiliki bentuk yang
sama seperti sinyal kedua. Lalu kedua sinyal tersebut dikonvolusi dengan perintah
stem(conv(x,v)) sehingga menghasilkan sinyal yang berbeda dengan sebelumnya
seperti berbentuk segitiga. Jika sinyal yang dikalikan berada di atas sumbu maka hasil
konvolusi juga di atas sumbu sedangkan jika sinyal yang dikalikan berada persis di
sumbu maka hasil konvolusinya juga berada persis di sumbu.
Apabila 2 sinyal tersebut di jumlahkan atau di konvolusikan, maka akan
menghasilkan 2 sinyal atau gabungan sinyal yang naik hingga puncak kemudian
menurun. Pengaruh konvolusi pada sinyal asli yaitu, mengerucut ke puncuk ketika
sinyal tersebut di konvolusikan, meningkatkan amplitudo dan bisa untuk menyaring
noise yang dibuat.

C. Kesimpulan
Kesimpulan dari percobaan kali ini yaitu :
1. Proses operasi konvolusi pada dua sinyal dilakukan dengan mengali, menjumlah, dan
menggeser ke kiri dan ke kanan (beberapa step).
2. Pengaruh konvolusi pada suatu sinyal adalah meningkatkan amplitudo dan bisa untuk
menyaring noise yang dibuat.