Anda di halaman 1dari 49

BAB 1

IMPLIKASI PERANCANGAN

1.1 Ikhtisar
Analisa tautan merupakan suatu kegiatan riset pra perancangan yang
memusat pada kondisi-kondisi yang ada, dekat dan potensial pada dan disekitar
sebuah tapak proyek. Analisa tersebut, sedikit banyak, merupakan suatu
penyelidikan atas seluruh tekanan, gaya, dan situasi serta perhubungan timbal
baliknya pada lahan dimana proyek kita akan didirikan.
Peran utama dari analisa tautan dalam perancangan adalah memberi kita
informasi mengenai tapak kita sebelum memulai konsep-konsep perancangan
sehingga pemikiran dini tentang bangunan dapat menggabungkan tanggapan-
tanggapan yang berarti terhadap kondisi-kondisi luaran.
Persoalan-persoalan tapak yang khas yang ditunjukan pada suatu analisa
tautan adalah lokasi tapak, ukuran, bentuk, kontur, pola-pola drainase, tata
wilayah dan garis sempadan, utilitas, ciri-ciri di atas tapak penting (bangunan,
pepohonan, dll), lalu lintas disekitarnya, pola-pola lingkungan, pemandangan
ke arah dan dari tapak serta iklim. Agar dapat merancang sebuah bangunan
yang berhasil yang tidak hanya memenuhi pertanggung jawab internalnya saja
(fungsi) tetapi juga berhubungan baik dengan lingkungan eksternalnya. Karena
bangunan kita akan berada untuk banyak tahun, analisa tautan kita haruslah
mencoba membahas kondisi-kondisi di masa depan yang potensional dan juga
kondisi-kondisi di masa depan yang potensial dan juga kondisi-kondisi yang
dapat kita amati pada tapak sekarang.
Tautan (context) dirumuskan dalam kamus sebagai “situasi”, latar belakang
atau lingkungan keseluruhan yang berkaitan dengan beberapa kejadian atau
produk. Asal dari kata tersebut berarti “menjalani bersama”.
Perancang memperhatikan kebutuhan untuk “menjalin” rancangan-
rancangan kita ke dalam struktur yang ada dari kondisi-kondisi, tekanan-
tekanan, masalah-masalah dan kesempatan-kesempatan tapak. Kita juga dapat
mengenali beberapa kondisi tapak tertentu yang ingin kita rubah, hilangkan,
tutup, sembunyikan, atau bentuk kembali dengan sengaja. “penjalinan” sebagai

1
suatu konsep yang diterapkan pada penempatan bangunan-bangunan di atas
tapak akan selalu meliputi beberapa perubahan pada keadaan yang ada. Apa
yang penting adalah bahwa kita membuat keputusan-keputusan ini secara hati-
hati dan penuh pertimbangan sehingga pengaruh-pengaruh dari bangunan kita
terhadap tapak bukanlah kebetulan. Apakah tengah mencoba untuk “seiring”
dengan tapak ataukah “berbeda”, pemikiran dini kita adalah sangat penting dari
segi penghasilan suatu proyek yang berhasil.

1.2 Tapak Sebagai Jaringan Aktif


Kita harus selalu ingat bahwa sebuah tapak tidak pernah tidak berdaya
tetapi merupakan sekumpulan jaringan yang sangat aktif yang terus berjalan
yang jalin-menjalin dalam perhubungan-perhubungan yang rumit.
Pola-pola bayangan bergerak melintasi tapak kita dalam suatu jalan tertentu.
Anak-anak mungkin menggunakan tapak kita sebagai suatu lintasan menuju
sekolah. Tapak kita mungkin dipergunakan sebagai sebuah lapangan bermain
tak resmi oleh anak-anak lingkungan. Terdapat suatu denyut lalu lintas yang
surut dan mengalir melalui dan di sekitar tapak selama berjalannya waktu.
Orang-orang mungkin melihat-lihat pada tapak kita dari rumah-rumah mereka
terhadap pemandangan-pemandangan di luar. Kontur tapaknya mungkin
mengalirkan air kesebuah tepi tapak dimana aliran tersebut tidak
membahayakan lingkungan. Pojok tapak tersebut, mungkin dapat
dipergunakan untuk sebuah perhentian bus. Inilah beberapa dari situasi-situasi
yang membuat tapak aktif. Pandangan kinetik atas tapak ini seharusnya
membuat kita peka terhadap pentingnya tugas menempatkan bangunan kita
dalam jaringan aktif ini. Namum nampaknya masuk akal untuk menganggap
bahwa jika kita akan mengintegrasikan rancangan kita dengan anggun ke
dalam jaringan ini tanpa merusak aspek-aspek positifnya, maka kita pertama-
tama harus membuat kita sendiri sadar akan wujud dari jaringan tersebut
melalui analisis tautan.

2
1.3. Segitiga Konsekuensi
Suatu “segitiga konsekuensi” merupakan suatu model yang berguna untuk
memahami jaringan dari sebab-akibat tautan dan bagaimana sebab-akibat
tersebut. Berhubungan kepada aspek-aspek dan persoalan-persoalan lain dari
proyek kita.
Segitiga konsekuensi memusatkan pada peniruan bangunan yang telah
selesai dan ditempati dan didasarkan pada suatu hipotesis bahwa bukanlah
rancangan atau bangunan itu sendiri yang menjadi tanggung jawab akhir kita
sebagai perancang tetapi peramalan dan kelahiran sekumpulan konsekuensi
atau akibat yang telah dianggap positif dan mungkin.
Terdapat tiga “aktor” di dalam segitiga konsekuensi : bangunan, pemakai an
tautan (context). Bangunan mencangkup seluruh perwujudan fisik dari
rancangan kita baik interior maupun eksterior seperti dinding, lantai, langit-
langit, struktur, peralatan mekanik, meubel, penerangan, warna pertamanan,
perkerasan, pintu-pintu, jendela-jendela, perangkat keras dan peralatan
tambahan lainnya. Pemakai meliputi semua orang yang memiliki bangunan
tersebut, memelihara bangunan tersebut, adalah klien, patron atau langganan di
dalam bangunan, mempergunakan bangunan tersebut, tinggal dekat bangunan
tersebut atau semata-mata lewat di depan bangunan tersebut. Tautan (context)
meliputi semua kondisi, situasi, pengaruh-pengaruh dan tekanan-tekanan yang
merupakan tapak yang telah ada sebelum pembangunan bangunan tersebut.
Elemen-elemen dari bangunan mempengaruhi tidak hanya satu terhadap
yang lainnya tetapi juga elemen-elemen pada tautan dan pemakai. Dari segi
dampak bangunan terhadap dirinya sendiri, sistem pengkondisian udara
menyebabkan perubahan-perubahan pada bahan dan prabot ruang dikarenakan
perbedaan suhu dan kelembapan. Kosekuensi-konsekuensi yang disebabkan
oleh bangunan terhadap pemakai dapat melibatkan pengaruh-pengaruh
lingkungan atas sikap, produktivitas, efisiensi, arti akan nilai dan
kesejahteraan, penggantian staf, tingkat penyerapan volume penjualan dan
aspek-aspek lain yang brsangkutan dengan perilaku manusia. Konsekuensi-
konsekuensi ini dapat meliputi perubahan pola-pola angin, kontur, dan pola-
pola drainase, penyerapan air hujan oleh permukaan, pepohonan yang ada,

3
pola-pola pembayangan, pantulan sinar matahari di luar jendela dan pantulan
suara di luar permukaan bangunan.
Masing-masing dari ke-tiga aktor bangunan, pemakaian dan tautan,
dimainkan pada dua yang lainnya. Masing-masing dari ketiganya
menyebabkan perubahan pada dua yang lainnya dan dirubah oleh dua yang
lainnya. Jaringan tersebut berada pada gerakan yang tetap sepanjang hidup
bangunan.
Penting bagi kita untuk tidak hanya mengetahui sesuatu tentang karakter-
karakter yang tersusun oleh bangunan, pemakai dan tautan tetapi juga tentang
bagaimana karakter-karakter itu saling mempengaruhi satu sama lain.
Setiap proyek bangunan melibatkan beberapa derajat pengubahan kembali
dikarenakan perubahan konteks yang tak terelakan di dan sekitar bangunan
kita. Adalah tidak mungkin untuk menempatkan bangunan kita pada tapaknya
tanpa merubah kondisi-kondisi yang ada. Kita harus menentukan apa yang
akan dipertahankan, diperkuat, ditekankan, dikurangi, digubah, dan
dihilangkan.
Penempatan bangunan kita ada tapak akan selalu mengakibatkan suatu
pengubahan kembali pada tapak. Sasaran kita harus selalu berupa : kita
mewariskan tapak yang keadaannya lebih baik ketimbang pada saat kita
mendapatkannya.

1.4 Berusaha Cermat


Kemenyeluruhan di dalam pengenalan, pengumpulan dan penyajian
informasi adalah sangat penting terhadap perancangan suatu proyek yang
tanggap terhadap situasi tapak yang belum kita sadari dan kita harus tidak
membiarkan perhubungan-perhubungan diantara bangunan-bangunan kita
dengan tautannya terjadi kebetulan karena ketidakcukupan atau kekeliruan
informasi. Kita melanjutkan dengan pemikiran rancangan sehingga jika kita
menghadapi apa-apa yang kita ketahui tentang tapak, meskipun itu bukan
gambaran yang lengkap, kita akan memenuhi pertanggungan jawab kita
sebagai perancang.

4
Penting untuk menyumbangkan kemampuan untuk melakukan analisis-
analisis kita dengan efisien sehingga kita dapat melakukan tugas
semenyeluruh mungkin di dalam kendala-kendala waktu dan keuangan kita.
Analisis tapak yang cermat dan perhatian terhadap detail selama
konseptualisasi tata guna tapak adalah sangat penting jika kita harus
menghindari situasi-situasi yang negatif dan memperoleh situasi-situasi yang
positif. Penting untuk tidak melakukan analisis “pada jarak jauh” tetapi benar-
benar mengunjungi tapak dan merasakannya.
Telusuri tapak baik berjalan kaki maupun berkendaraan untuk memperoleh
suatu pengertian akan faktor jarak-waktu diantara tapal-tapal batas tapak dan
untuk merasakn bagaimana kontur-kontur nya berubah. Penting untuk pertama
kali menilai dari fasilitas-fasilitas pada tapak seperti pepohonan. Kita harus
memiliki beberapa gagasan mengenal berapa lama suatu kejadian atau tekanan
tertentu berlangsung, kapan puncaknya, kapan mulainya, dan berakhirnya,
bagaimana hal itu berubah selama berjalannya waktu tahun, bulan, minggu
atau hari.
Analisis-analisis tautan secara teoritik tidak mempunyai akhir yaitu bahwa
tidak ada batas-batas perhentian logik yang memang menjadi sifatnya, kita
dapat melanjutkan untuk menganalisis tautan dari tautan dari luar persoalan-
persoalan yang dari segi arsitektur memiliki kaitan. Dengan memiliki semua
data sekaligus kita dapat melihat perhubungan-perhubungan antar data dan
mempergunakan ini sebagai suatu katalisator dalam perolehan konsep.
Keputusan-keputusan rancangan yang kurang cermat yang berdasarkan
pada data tapak yang tidak lengkap dapat mengakibatkan konsekuensi-
konsekuensi negatif bagi lingkungan dari proyek baik selama pembangunan
maupun setelah proyek tersebut selesai dan dipergunakan.
Pertimbangan-pertimbangan ini semuanya melibatkan keputusan-keputusan
atas bagian kita mengenal pentingnya dan ketertautan informasi baik dengan
pengujian kebenaran data atau dengan rancangan. Sasarannya adalah suatu
analisis tautan yang diselidik melalui seluruh tautan dari tautannya.
Kenyataannya adalah selalu sesuatu yang lebih ringkas dari itu.

5
Analisis buatan harus merekam informasi apa yang “keras” (tidak dapat
ditawar-tawar), dan apa yang “lunak”. Data lunak adalah data yang
berkenaan dengan kondisi-kondisi tapak yang dapat dirubah atau yang tidak
secara mutlak harus diarahkan atau ditanggapi dengan rancnagan. Data
keras adalah melibatkan hal-hal yang seperti perbatasan tapak, keterangan
hukum, daerah tapak dan lokasi utilitas-utilitas. Beberapa hal yang mungkin
kita golongkan sebagai data keras adalah sebenarnya dapat dirubah seperti
kontur, tata wilayah, garis sempadan, dan pepohonan. Sangat membantu
untuk menggolongkan informasi menurut “ketetapan” (firmness).
Umumnya kita harus menguasai hal yang terutama, yaitu data keras pada
keputusan-keputusan tapak dini, harus terdapat suatu pengertian akan
prioritas mengenai informasi yang kita kumpulkan dan rekam.
Terdapat beberapa sistematik alasan untuk melakukan analisis tautan kita
pada suatu tingkat yang:
1. Suatu kebiasaan yang lebih tersusun adalah kurang kena untuk
mengabaikan suatu fakta atau detail penting.
2. Suatu pendekatan sistematik lebih mudah memungkinkan untuk
menguasai kelebihan informasi pada situasi-situasi rumit.
3. Suatu pendekatan yang halus terhadap analisis membantu
perkembangan suatu pendekatan yang halus dimana ketika dan
masalah tautan kurang memiliki suatu kesempatan untuk
“melewati pecahan-pecahan” dan maka ditinggalkan di belakang
selama sintetis perancangan.
4. Faktor-faktor tautan yang lebih individual yang kita ungkapkan dan
catat dalam analisis tapak, semakin banyak petunjuk yang kita
sediakan bagi kita sendiri di dalam mencetuskan konsep-konsep
tanggapan tapak.

6
1.5 Jenis-Jenis Informasi
Jenis-jenis informasi yang dikumpulkan untuk analisis tautan pada dasarnya
melibatkan suatu penyelidikan akan kondisi-kondisi tapak yang ada dan yang
diperhitungkan. Fakta-fakta tentang tapak akan selalu meliputi baik data keras
maupun data lunak. Data keras biasanya berhubungan dengan faktor-faktor
tapak dari segi fisisk dan tidak mencakup penilaian tentang keberadaan atau
wujud faktor-faktor tersebut. Data keras yang khas dapat berupa : lokasi, tapak,
dimensi, kontur, ciri-ciri istimewa pada tapak dan iklim. Data lunak dapat
meliputi beberapa penilaian mengenai bagian kita di dalam melakukan analisis
tautan.
Pendapat-pendapat selalu terbuka terhadap penafsiran dalam perancangan
dan biasanya paling dapat dirundingkan ketika merancang bagi tapak dalam
skematik. Gambaran data yang disajikan berikut tidak memiliki arti khusus
dibalik urutannya selain dari pada fakta bahwa gambaran tersebut memisahkan
data tapak dari data iklim dan berlangsung dari persoalan-persoalan gambaran
umum ke gambaran-gambaran yang lebih rinci.
1. Lokasi, dapat mencangkup peta negara dan peta kota yang
menunjukan lokasi situs dalam kaitannya dengan kota secara
keseluruhan. Peta kota juga dapat menunjukan jarak dan waktu
perjalanan ke fungsi terkait dibagian lain kota.
2. Tautan Lingkungan, menggambarkan lingkungan sekitar tapak
yang langsung berbatasan yang mungkin sebanyak tiga atau empat
blok di luar perbatasan tapak. Peta dapat memperlihatkan tata guna
yang ada dan yang diproyeksikan, bangunan-bangunan, tata
wilayah dan kondisi-kondisi lain yang mungkin menimbulkan
suatu dampak pada proyek kita.
3. Ukuran dan Zoning, dokumen semua aspek dimensi dari situs
termasuk batas, lokasi dan menyajikan klasifikasi zonasi dengan
semua implikasi dimensi (kemunduran, pembatasan ketinggian,
parkor untuk kendaraan, penggunaan yang diijinkan, dll). Analisis
juga harus mendokumentasikan tren zonasi saat ini dan yang
diproyeksikan, rencana oleh departemen transportasi kota untuk

7
memperluas hak jalan dan tren lain yang mungkin mempengaruhi
proyek dimasa depan.
4. Undang-Undang, kategori ini menyajikan deskripsi tentang
properti, perjanjian, pelestarian, kepemilikan saat ini, yurisdiksi
pemerintah (kota atau negara) dan setiap proyeksi di masa depan
yang mungkin mengembalikan proyek (seperti fakta bahwa situs
tersebut berada didaerah pembangunan perkotaan di masa depan
atau di dalam batas ekspansi universitas akhirnya).
5. Keistimewaan Fisik Alamiah, termasuk kontur, pola drainase,
jenis tanah dan daya dukung, pohon, batu, pegunungan, puncak,
lembah, kolam, dan kolam.
6. Keistimewaan Buatan, mencatat kondisi-kondisi pada tapak
seperti bangunan, dinding, jalan, bahu jalan, pipa air kebakaran,
tiang listrik, dan pola-pola lapisan kebakaran. Ciri-ciri di luar tapak
dapat meliputi karakteristik-karakteristik dari pembangunan di
sekitarnya seperti skala, bentuk atap, pola-pola lapisan perkerasan,
bahan dan pola pertamanan, penyerapan dan ketegasan bentuk
dinding dan perlengkapan-perlengkapan tambahan serta detail-
detail.
7. Sirkulasi, menggambarkan seluruh pola-pola pergerakan
kendaraan dan pejalan kaki di atas dan disekitar tapak. Data
meliputi lamanya dan beban-beban puncak bagi lalu lintas
kendaraan lingkungan dan pergerakan pejalan kaki, perhentian bis,
tepi-tepi pencapaian tapak, pembangkit-pembangkit lalu-lintas,
pencapaian truk servis, dan lalu lintas yang terjadi sewaktu-waktu
(parade, jalur truk kebakaran, penyelenggaraan konser pada
auditorium yang berdekatan). Analisis lalu lintas harus meliputi
proyeksi masa depan sejauh yang dapat dibuat.
8. Utilitas, kategori ini berkenan dengan tipe, kapasitas dan lokasi
dari seluruh utilitas yang berada pada berdampingan dengan dan
dekat dengan tapak. Meliputi listrik, gas, saluran air kotor, air
bersih, dan telepon.

8
9. Panca indera, mendokumentasikan aspek visual, terdengar,
sentuhan dan penciuman dari situs. Masalah umum adalah
pandangan ke dan dari tapak dan kebisingan yang dihasilkan
disekitar tapak. Berguna untuk merekam tipe, lamanya, intensitas
dan kualitas dari persolan-persoalan panca indera yang berbeda-
beda di atas dan disekitar tapak.
10. Manusia dan Budaya, persoalan-persoalan disini dapat
melibatkan usia penduduk, pola-pola etnik, kepadatan, pola-pola
pekerjaan, nilai-nilai, pendapatan, dan struktur keluarga. Tiap
kegiatan yang terencana ataupun tidak resmi dalam lingkungan
seperti festival, parade, atau pekan raya kerajinan. Pola-pola
perusakan (vandalism) dan kejahatan, juga berharga bagi
perancang ketika tangan membuat konseptualisasi tata wilayah
tapak dan rancangan bangunan.
11. Iklim, menyajikan semua kondisi iklim yang menyertainya
sebagai curah hujan, salju, kelembapan, dan variasi suhu selama
bulan-bulan dalam setahun. Termasuk arah angin yang
berpengaruh, lintasan matahari dan sudut matahari vertikal
sebagaimana hal-hal itu berubah sepanjang tahun dan tornado,
gempa bumi. Berguna untuk mengetahui tidak hanya bagaimana
kondisi-kondisi iklim berubah-ubah sepanjang suatu tahun yang
serupa tetapi juga kondisi-kondisi kritik apa yang mungkin terjadi
(curah hujan harian maksimum, kecepatan angin puncak).

9
1.6 Implikasi-Implikasi bagi Perancangan
Analisis tersebut melibatkan pengetahuan akan apa yang harus kita lakukan
dengannya dari segi tapak sebelum kita menerapkannya pada tata wilayah
tapak. Seperti fungsi, citra atau kulit bangunan, itu adalah suatu cara lain
untuk memasuki masalahnya, untuk membuat keputusan-keputusan
konseptual pertama kita yang membentuk tautan buatan perancang bagi
keputusan-keputusan berikutnya.
Analisis tautan haruslah berupa suatu penyelidikan akan kondisi-kondisi
yang ada maupun yang diproyeksikan yang menganggap tidak ada bangunan
baru pada tapak sehingga ketika kita mulai merancang tapak tidak bingung apa
yang sebenarnya ada disana sekarang dengan apa yang kita inginkan ada
disana atau harapkan untuk meletakan disana.
Fungsi cenderung utnuk menempatkan ruang-ruang bangunan di dalam
suatu cara yang berorientasi ke dalam (introvert) yaitu bahwa ruang-ruang
tersebut terutama memandang kearah dalam satu sama lain sebagai penjelasan
dibalik kedudukan ruang-ruang tersebut pada skema.
Pada fungsi, daya tarik adalah diantara ruang demi ruang. Pada tautan, daya
tarik adalah diantara ruang-ruang dengan kondisi-kondisi tapak luaran.
Biasanya pada suatu masalah perancangan kedua (dan semua yang lain)
persoalan proyek ini menarik dan menekan ruag-ruang untuk menentukan
penempatan akhirnya di dalam rencana. Ruang-ruang tersebut berada dalam
suatu arti yang sangat nyata yang bersaing satu sama lain untuk menentukan
bentuk bangunan.
Fungsi-fungsi atau ruang-ruang di atas tapak sebagai tanggapan terhadap
tekanan-tekanan tautan dapat melibatkan yang mana saja dari ketiga
pendekatan ini :
1. Dimana fungsi dianggap suatu faktor penentu pemberi bentuk yang
lebih kritis daripada tautan, kita dapat menempatkan diagram
gelembung pada tapak dan membiarkan ruang-ruang untuk berpindah
dan beralih. Disini garis-garis penghubung antara ruang-ruang dalam
gelembung dibuat alastik sementara masih tetap dihubungkan dengan
gelembung-gelembung ruang sehingga ikatan-ikatan fungsional selalu

10
dijaga sambil menyelusuri suatu penempatan ruang yang tanggap dari
segi tautan.
2. Dimana hubungan dengan tautan dinilai lebih penting ketimbang
efisiensi fungsional internal, kita dapat mengambil tiap fungsi atau
ruang dan menempatkannya di dalam zona optimumnya pada tapak
secara bebas dari ruang-ruang lain. Apabila semua ruang tersebut telah
ditempatkan (termasuk ruang eksterior) maka dapat mulai memadatkan
ruang-ruang dan menjalinnya bersama dengan suatu sistem sirkulasi.
3. Pendekatan ketiga adalah sesuai dimana proyeknya teristimewa besar
dengan beberapa komponen tapak. Pada pendekatan ini prinsip-prinsip
dan tujuan-tujuannya adalah tidak berbeda dengan yang terdapat pada
dua pendekatan yang pertama. Skala komponen-komponen yang
tengah kita gubah pada tapak adalah lebih besar. Sekali bangunan kita
ditempatkan pada zona-zona di atas tapak, maka kita dapat
mempergunakan salah satu dari dua pendekatan yang pertama untuk
mengatur zona ruang-ruang bangunan sebagai tanggapan terhadap
tautannya.
Penting untuk diingat bahwa rancangan tapak dan bangunan serta ruang
dapat melibatkan persoalan-persoalan potongan maupun persoalan-persoalan
denah. Hubungan dari lantai ke kontur, ketinggian-ketinggian ruang-ruang
dalam hubungan dengan pemandangan, menjenjangkan ruang-ruang ke bawah
tepi bukit dan menumpuk ruang-ruang dalam hubungan dengan kontur dan
skala lingkungan adalah beberapa dari alasan-alasan potensial untuk
mempelajari tata wilayah. Dari potongan maupun dalam denah.
Analisis tautan bertindak sebagai suatu sakelar untuk mengingat kembali
bagian-bagian dari kosakata perancangan yang berlaku pada masalah-masalah
dan kesempatan-kesempatan tapak. Analisis tautan itu sendiri tidak akan
pernah menciptakan tanggapan-tanggapan rancangan. Terlalu sering keliru
meyakini bahwa hanya jika menganalisis cukup panjang, akan dituntun kearah
pemecahan. Ini tidak akan pernah terjadi.
Suatu analisis tautan yang cermat memberi keyakinan bahwa telah
mencatat semua kondisi-kondisi. Di dalam melakukan analisis tautan dan

11
mempertautkan persoalan-persoalan tapak melalui pembuatan diagram, kita
dapat mencetuskan citra-citra tanggapan rancangan untuk menangani tapak
tersebut.
Penjembatanan “celah” analisis sintetis harus menjadi suatu jalan dua arah.
Sebagai perancang kita harus terus-menerus bekerja untuk memperluas dan
memperdalam kosakata bentuk-bentuk dan konsep-konsep arsitektural yang
kita miliki sehingga ada sesuatu di sana untuk ditarik ketika kita “menjentikan
sakelar” melalui analisis.. tipe-tipe pemecahan konseptual ini merupakan
kosakata perancangan yang kita kumpulkan dari membaca, bepergian, proyek-
proyek yang lampau yang telah kita rancang dan mengunjungi bangunan-
bangunan. Analisis akan memberitahu kita bahwa kita memiliki sejumlah
besar pemandangan tetapi tidak apa yang harus dilakukan dengannya. Kita
harus menarik dari kosakata tanggapan-tanggapan rancangan kita untuk
konsep-konsep yang sesuai.

12
BAB 2
PEMBUATAN DIAGRAM INFORMASI TAPAK

2.1 Ikhtisar
Kita dapat menyatakan secara grafis informasi tapak kita dalam bentuk
gambar-gambar denah, potongan, tampak, perspektif, gambar-gambar
isometrik atau bentuk-bentuk penggambaran lain yang tersedia. Tipe-tipe dari
gambar-gambar yang kita pakai harus sesuai dengan tipe informasi yang
tengah kita rekam. Beberapa data lebih baik dinyatakan dalam denah,
beberapa dalam potongan, dan sebagian lagi dalam perspektif. Terdapat dua
komponen pada diagram informasi tapak. Pertama, kita harus memiliki suatu
gambar acuan dari tapak untuk memberikan suatu tautan bagi informasi tapak
khusus yang ingin kita rekam. Kedua, kita harus menggambarkan diagram
fakta tapak sendiri. Gambar acuan dapat berupa sebuah denah sederhana dari
batas-batas tapak dengan jalan-jalan yang membatasinya atau sebuah
potongan melalui tapak yang memperlihatkan hanya bidang permukaannya.
Terdapat dua bentuk yang agak berbeda yang dapat kita pakai mengenai
perekaman informasi tapak pada gambar-gambar acuan ini. Yang pertama
dapat kita sebut pendekatan gabungan atau terpadu dimana kita mencoba
untuk membuat diagram persoalan-persoalan tapak yang berbeda-beda
sebanyak yang kita mampu pada sebuah gambar acuan. Pada pendekatan ini
kita harus memastikan bahwa gambar tersebut, tidak menjadi keruh dan
membingungkan dan informasi tapak yang terpenting telah dinyatakan dengan
diagram-diagram yang paling kuat. Pendekatan kedua memisahkan tiga keping
informasi tapak pada suatu gambar acuan yang terpisah. Metode ini menilai
pernyataan dari tiap persoalan secara terpisah sehingga persoalan tersebut
dapat dipahami dengan lebih mudah. Menjaga kedua pendekatan ini tetap
murni dan tidak tercampur adalah tidak penting. Dimana hal itu sesuai dengan
situasi maka sangat mungkin untuk mempergunakan kedua metode tersebut
dalam analisis tautan yang sama.
Pada dasarnya, terdapat empat langkah untuk menggambarkan diagram tiap
fakta tapak. Kita harus merancang bentuk diagramatik awal, menyempurnakan

13
dan menyederhanakannya, menekankan dan menjelaskan artinya melalui
hirerarki dan penekanan grafis dan terakhir memperkenalkan catatan-catatan
dan pembubuhan tanda-tanda apa saja yang diperlukan.
Analisis tautan dapat diterapkan pada situasi-situasi dari tiap skala dan
relevan terhadap baik persoalan-persoalan proyek eksterior maupun interior
dari sebuah bangunan yang ada atau interior dari suatu ruang interior tunggal
yang ada.

2.2 Proses
2.2.1 Identifikasi Persoalan
Langkah pertama di dalam melakukan suatu analisis tautan adalah
mengenali persoalan-persoalan tersebut yang ingin kita analisis dan catat
secara diagramatik. Memilih dari antara kategori-kategori persoalan tapak
yang ada unuk membiarkan pilihan-pilihan kita untuk dipengaruhi oleh
sedikitnya dua buah masukan penting :
1. Kita harus memikirkan tentang wujud proyeknya, kebutuhan-
kebutuhannya, persyaratannya dan persoalan-persoalan kritisnya.
2. Analisis tapak harus jangan dilakukan pada “jarak jauh”. Kita
harus selalu melihat tapak pada tangan pertama, berjalan atau
berkendara sepanjang kontur dan batas-batasnya, melihat
pemandangan-pemandangan dan terhadap fasilitas-fasilitas tapak,
mendengarkan terhadap suara-suara dan secara pribadi meleburkan
dengan skala dan denyut lingkungan. Perjumpaan langsung
“dengan tangan siap sedia” dengan tapak dari suatu sudut pandang
pribadi dan panca indera ini memberi kita sekumpulan tapak yang
harus diarahkan daam analisis tautan kita.
Kedua teknik sebelumnya untuk memusatkan pada apa yang harus
dianalisis dapat mengambil manfaat dari sebuah daftar persoalan-persoalan
tautan yang potensial. Daftar ini akan membantu kita untuk tidak
melupakan tiap faktor tapak yang penting dan akan membantu kita untuk

14
mengenal secara lebih efisien persoalan-persoalan tapak yang harus
dimasukan dalam analisis kita,
Sebuah daftar persoalan-persoalan tapak yang potensional yang bersifat
purwa-rupa (proto-type) adalah sebagai berikut :
1. Lokasi
a. Lokasi dari kota di dalam negara termasuk
perhubungannya dengan jalan-jalan, kota-kota lain, dan
sebagainya.
b. Lokasi dari lingkungan tapak di dalam kota.
c. Lokasi tapak di dalam lingkungan.
d. Jarak-jarak dan waktu tempuh antara tapak dengan
lokasi dari fungsi-fungsi lain yang berhubungan di
dalam kota.
2. Tautan Lingkungan
a. Peta lingkungan yang menunjukan tata-wilayah lahan
yang ada dan yang diusulkan.
b. Tata guna bangunan yang ada atau yang diproyeksikan
di dalam lingkungan.
c. Usia atau kondisi dari bangunan-bangunan di
lingkungan.
d. Tata guna ruang-ruang eksterior yang ada atau di masa
depan di dalam lingkungan.
e. Tiap lalu lintas kendaraan atau pejalan kaki yang
menimbulkan fungsi-fungsi di dalam lingkungan.
f. Pola-pola pergerakan yang ada atau yang
diproyeksikan. Jalan-jalan besar dan kecil, rute- rute
kendaraan servis seperti truk sampah, rute dan
perhentian bus.
g. Perhubungan-perhubungan antara ruang padat-rongga.
h. Pola-pola penerangan jalan.
i. Pola-pola arsitektural seperti bentuk-bentuk atap,
perletakan pintu/jendela, bahan, warna, pertamanan,

15
porositas resmi, perhubungan dengan jalan, strategi
penyimpangan mobil, ketinggian bangunan, dan lain-
lain.
j. Klasifikasi lingkungan yang mungkin menempatkan
suatu restriksi khusus atau pertanggung jawab atas
karya rancangan kita seperti “distrik sejarah”.
k. Bangunan-bangunan yang berdekatan yang memiliki
nilai atau arti tertentu.
l. Citra atau situasi yang rapuh yang harus dilestarikan.
m. Pola-pola matahari dan pambayangan pada waktu-
waktu yang berbeda-beda dalam setahun.
n. Pola-pola kontur dan drainase utama
3. Ukuran dan Tata Wilayah
a. Dimensi dari batas-batas tapak kita.
b. Dimensi dari jalur utilitas umum jalan disekitar tapak.
c. Lokasi dan dimensi jalur penembusan.
d. Klasifikasi tata wilayah tapak yang sekarang.
e. Garis sempadan depan, belakang dan samping yang
diperlukan oleh klasifikasi tata wilayah.
f. Luas daerah yang dapat dibangun dibelakang garis
sempadan (juga harus mengurangkan jalur
penembusan).
g. Batasan ketinggian bangunan yang diperlukan oleh
klasifikasi tata wilayah.
h. Rumusan tata wilayah untuk menentukan parkir yang
diperlukan berdasarkan pada tipe bangunan yang akan
menempati tapak.
i. Banyaknya ruang parkir yang diperlukan jika kita tau
berapa luas bangunan.
j. Tiap konflik antara apa yang dimungkinkan oleh
klasifikasi tata wilayah yang sekarang dengan fungsi-
fungsi yang tengah kita rencanakan untuk tapak.

16
k. Klasifikasi tata wilayah dimana tapak mungkin perlu
dirubah untuk menampung semua fungsi-fungsi yang
direncanakan.
l. Tiap perubahan yang diproyeksikan yang akan merubah
karakteristik-karakteristik dimensional tapak seperti
pelebaran jalan atau pembelian atau perluasan lahan.
4. Peraturan
a. Keterangan yang sah atas lahan milik.
b. Kepadatan dan restriksi-restriksi (luas tapak yang boleh
dibangun), batasan ketinggian, peralatan servis dan
mekanik, restriksi pada elemen-elemen penutup atap,
karakter arsitektur, persyaratan-persyaratan
perancangan di dalam daerah-daerah histrorik, dan lain-
lain.
c. Nama pemilik lahan.
d. Nama apartemen atau perwakilan pemerintahan yang
memiliki hak-hak hukum atas lahan tersebut.
e. Tiap perubahan yang diproyeksikan atau potensial pada
yang mana saja dari kategori-kategori di atas.
5. Keistimewaan Fisik Alamiah
a. Kontur topografik (ciri-ciri : tempat-tempat tinggi dan
rendah, bukit dan lembah, dataran curam, dan daerah
datar.
b. Pola drainase pada tapak, termasuk arah drainase
permukaan (tegak lurus terhadap kontur), jalur besar
dan kecil dari pengumpulan air pada tapak.
c. Pola-pola drainase pada tapak, termasuk arah drainase
permukaan (tegak lurus terhadap kontur), jalur-jalur
besar dan kecil dari pengumpulan air pada tapak dari
lahan-lahan yang berdampingan dan dari tapak ke
lahan-lahan di sekitarnya dan tiap pola-pola yang

17
berhubungan dengan air lingkungan seperti sistem
‘viaduct’ atau saluran-saluran air hujan.
d. Keistimewaan-keistimewaan alamiah yang ada pada
tapak dan nilai-nilainya dari segi pelestarian dan
perkuatan lawan perubahan atau pemindahan.
e. Jenis tanah pada berbagai ketinggian permukaan yang
berbeda-beda di bawah permukaan dan daya dukung
tanahnya. Distribusi tipe tanah diseluruh daerah.
6. Keistimewaan-Keistimewaan Buatan
a. Ukuran, bentuk, ketinggian dan lokasi tiap bangunan
yang ada pada tapak.
b. Lokasi dan jenis dinding, dinding penahan, ramada atau
pagar.
c. Lokasi, ukuran dan karakter arena bermain eksterior,
lapangan, teras, plaza, drive, jalan kaki, atau area
layanan.
d. Dimana penting untuk desain, kita harus mencatat pola
paving permukaan buatan manusia
e. Ukuran lokasi potongan klub, tiang listrik, hidran
kebakaran, atau halte pemberhentian bus.
f. Fitur buatan manusia luar situs dapat mencangkup salah
satu dari item ukuran yang tercantum di atas dan atau
dapat melakukan analisis rinci dari karakter yang ada
akan menjadi faktor yang perlu dipertimbangkan dalam
menganalisis karakter arsitrektur sekitarnya termasuk
skala.
7. Sirkulasi
a. Pada trotoar slide, jalue dan pola pergerakan perjalan
kaki lainnya termasuk pengguna, tujuan jadwal
penggunaan dan volume penggunaan.

18
b. Pola pergerakan pejalan kaki offside menggunakan
karakteristik yang sama disebutkan untuk pergerakan di
lokasi.
c. Jika pola pergerakan pejalan kaki dianggap berharga
dan harus dipelihara atau diperkuat, analisis kami juga
harus mencangkup evaluasi tentang bagaimana pola
yang ada dapat ditingkatkan.
d. Dilokasi atau pola pergerakan kendaraan yang
berdekatan termasuk lalu lintas, asal dan jadwal tujuan,
volume lalu lintas dan beban puncak. Juga harus
termasuk lalu lintas yang terputus-putus seperti parade,
festival, konser, rute truk pemadam kebakaran, armada
layanan pelayaran.
e. Masalah perpindahan kendaraan di luar atau di
lingkungan sekitar seperti generator lalu lintas
(bangunan atau penggunaan yang merupakan tujuan
penting atau lalu lintas kendaraan bermotor) serta
karakteristik lalu lintas lainnya yang dijabarkan di
bawah pada lalu lintas lainnya situs didekat atau area
parkir terdekat yang digunakan untuk proyek.
f. Lokasi kemungkinan akses optimal ke situs kami untuk
setiap jenis lalu lintas pejalan kaki dan kendaraan yang
akan menggunakan gedung atau pemindahan baru
melalui tapak.
g. Waktu perjalanan untuk berjalan melintasi tapak atau
oleh tapak dimana kali ini mungkin penting bagi desain
(waktu yang dibutuhkan untuk berjalan di antara kelas
ke sekolah). Berguna untuk mencatat waktu yang
diperlukan untuk berkendara ke atau dari lokasi di kota
(dari tapak ke pusat kota, universitas, pusat
perbelanjaan, dll).

19
8. Utilitas
a. Lokasi, kapasitas dan bentuk konvensi (jenis pipa, dll).
Dari gas listrik, saluran pembuangan, telepon dan
utilitas air. Ini harus melibatkan kedalaman masing-
masing utilitas di bawah tanah dan dalam hal daya
apakah itu di atas atau di bawah lokasi tiang listrik.
b. Jika garis utilitas berhenti jauh dari batas tapak,
jaraknya dari tapak harus diberikan.
c. Jika ada banyak peluang untuk terhubung ke utilitas
yang berdekatan dengan tapak, maka harus mencatat
lokasi tersebut atau menyudutkan tapak yang
menawarkan peluang koneksi terbaik.
9. Panca Indera
a. Pandangan dari tapak termasuk posisi dimana
pandangan tidak diblokir, apakah positif atau negatif,
sudut dimana pandangan dapat ditemukan apakah
pandangan berubah dari waktu ke waktu dan
memungkinkan lihat kelanjutan untuk jangka panjang.
b. Pandangan ke tempat menarik di situs dari dalam area
terkait tapak. Termasuk apa pandangan itu, apakah
pandangan itu positif atau negatif, posisi pada site
dimana pandangan dimakan dan dimana ia diblokir,
sudut dimana pandangan dapat ditemukan dan apakah
objek tampilan berubah seiring waktu.
c. Batas tapak termasuk ke tapak dari daerah jalan,
berjalan, bangunan lain dan terlihat, sudut dimana ada
dramatis dimana ada beberapa titik tertentu dari tapak
dan tidak dapat diblokir oleh pengembangan.
d. Pemandangan-pemandanga melalui tapak dari posisi di
luar lahan. Apakah pmandangan tersebut positif atau
negatif, sudut mana pemandangan tersebut dapat
dijumpai.

20
e. Lokasi pembangkit, jadwal, dan intensitas tiap
kebiasaan yang berarti pada atau sekeliling tapak.
f. Lokasi, pembangkit, skedul dan intensitas tiap bau-
bauan yang berarti, asap atau pencemaran udara lain
pada atau sekeliling tapak.
10. Manusia dan Budaya
a. Dokumentasi atas tapak-tapak kultural, psikologik,
perilaku dan sosiologik lingkungan. Informasi yang
potensional meliputi kepadatan penduduk, usia, ukuran
keluarga, pola-pola etnik, pola-pola pekerjaan,
penghasilan, kecenderungan-kecenderungan rekreasi
dan kegiatan-kegiatan informasi atau kejadian-kejadian
tak resmi seperti festival, parade, atau pekan raya.
b. Pola-pola lingkungan negatif seperti vandalisme atau
kegiatan kejahatan lainnya.
c. Sikap-sikap lingkungan tentang proyek yaitu tentang
yang akan dirancang dan dibangun pada tapak kita.
d. Sikap-sikap lingkungan tentang apa yang positif dan
apa yang negatif di dalam lingkungan.
e. Kepermanan nisbi pada penghuni lingkungan.
f. Kecenderungan-kecenderungan lingkungan dari segi
seluruh faktor yang disebutkan di atas.
11. Iklim
a. Variasi suhu pada bulan-bulan sepanjang tahun meliputi
tinggi-tinggi dan rendah-rendah maksimum dan
perubahan suhu siang-malam rata-rata untuk hari-hari
tiap bulan.
b. Variasi kelembapan pada bulan-bulan sepanjang tahun
termasuk maksimum, minimum, dan rata-rata untuk tiap
bulan dan untuk suatu hari yang khas pada tiap bulan.
c. Variasi curah hujan pada bulan-bulan sepanjang tahun
dalam rinci.

21
d. Arah angin yang berpengaruh untuk bulan-bulan pada
tahun tersebut termasuk kecepatan dalam kaki per menit
atau mil per jam dan variasi-variasi yang dapat diduga
selama berjalannya siang dan malam.
e. Lintasan matahari pada titik balik matahari musim
panas dan musim dingin (titik tinggi dan titik rendah)
termasuk ketinggian dan azimuth pada saat-saat tertentu
dari suatu hari utnuk musim panas dan musim dingin
(terbit dan tenggelamnya matahari, posisi pada jam 9
pagi, siang dan jam 3 petang).
f. Data yang berkaitan dengan energy seperti hari-hari
intensitas sinar matahari atau menurut BTU (British
Thermal Unit) yang jatuh pada tapak kita.
g. Bencana-bencana alam yang potensial seperti gempa
bumi, angin topan. Meliputi pencatatan zona gempa
bumi dimana tapak terletak di dalamnya dan sejarah
bencana alam di dalam daerah tesebut.
Penting untuk menghindari menjadi sedemikian berkepentingan
mengenal “keabsahan” dari sistem klasifikasi sehingga kita kehilangan
pengelihatan akan makna dan pentingnya analisis tapak.
Fakta-fakta tapak digolongkan tidaklah sepenting bahwa fakta-fakta
tapak tersebut secara memadai dicakup disuatu tempat dalam analisis kita.
Kita harus secara mental tetap terikat dengan proses, memikirkan
implikasi-implikasi dari fakta sebagaimana kita menjumpainya,
menganalisis persoalan-persoalan dan sub-persoalan sampa kita dipuaskan
bahwa kita telah memperoleh “sampai ke dasarnya”.

22
2.2.2 Mengumpulkan data
Harus menggambarkan sumber-sumber data dan mengumpulkannya.
Sumber-sumber informasi dapat berbeda dari kota ke kota dari tapak ke
tapak. Penting untuk diingat bahwa untuk beberapa tipe data suatu sumber
yang tunggal sudah cukup. Ini adalah benar terutama untuk informasi
kuantitatif dan teknik.
Suatu gambaran untuk sumber-sumber informasi yang potensial adalah
sebagai berikut :
1. Lokasi
Peta-peta Negara dapat diperkecil dengan hanya jalan-jalan raya
utama serta kota-kota besar yang diperlihatkan. Hanya
membutuhkanuntuk menghubungkan tapak ke jalan-jalan raya
utama atau ciri lingkungan. Mungkin akan membantu apabila
membeli suatu foto udara atas tapak dan lingkungannya dari
sebuah perusahaan survei udara.
Pendokumentasian jarak-jarak dan waktu tempuh harus
dilakukan dengan benar-benar mengendarai sendiri atau dalam hal
sirkulasi pejalan kaki, dengan berjalan kaki melaluinya.
2. Tautan Lingkungan
Tata wilayah untuk tapak dan lingkungan dapat dipelajari pada
departemen-departemen perencanaan kota praja atau perusahaan-
perusahaan cetak biru setempat yang memiliki peta-peta tata
wilayah diarsipnya.
Kita harus langsung mengamati bangunan dan tata guna yang
ada sambil berbicara dengan para pengusaha dan penghuni daerah
tersebut, perwakilan-perwakilan perusahaan pembangunan dan
para perencana kotapraja mengenai tata guna yang diproyeksikan.
Ini meliputi pola-pola arsitektural, perhubungan padat rongga,
bangunan penting, situasi rawan, penerangan jalan, dan kondisi
dari bangunan-bangunan.
Pola-pola sinar matahari dan pembayangan pada waktu-waktu
yang berbeda-beda selama setahun melibatkan pendokumentasian

23
bangunan dan daerah-daerah pertamanan serta ketinggian-
ketinggian dan pola-pola pembayangan ada waktu-waktu yang
khas dalam sehari (jam 9, siang hari, jam 3 petang) di musim panas
dan musim dingin.
Azimuth matahari (sudut horizontal) dan ketinggian (sudut
vertikal) dapat dikumpulkan dari Architectural Graphic Standarts,
acuan standar lain atau biro cuaca setempat.
Rute-rute tertentu dari tipe kendaraan yang spesifik (sampah,
bis, truk kebakaran) harus dikumpulkan dari tiap perusahaan atau
perwakilan. Pola-pola drainase utama dapat ditambahkan dari Peta
Survei Geologik Pemerintah.
3. Ukuran dan Tata Wilayah
Ciri-ciri Fisik Ilmiah dan Ciri-Ciri Buatan dapat dikumpulkan
dan didokumentasikan oleh suatu pensurvei jika ingin memiliki
suatu survei topologik dilakukan pada tapak.
Dimensi-dimensi perbatasan tapak harus diukur secara langsung
untuk diuji kebenarannya tetapi dapat diperoleh dalam bentuk
terekam dari perusahaan-perusahaan asuransi batas lahan atau
kantor pajak pemerintah daerah.
Seluruh informasi tata wilayah termasuk klasifikasi, garis
sempadan, batasan ketinggian, luas tapak yang boleh dibangun,
tata guna yang diijinkan dan persyaratan, persyaratan parker
melibatkan pertama-pertama mengungkapkan klasifikasi tata
wilayah apa yang sekarang ada.
Jika terdapat suatu konflik, klien harus mengajukan baik suatu
varian kepada badan pertimbangan kotapraja atau memohon suara
klasifikasi tata wilayah yang berbeda yang mengizijnkan semua
tata guna yang telah direncanakan pada tapak. Biasanya, parkir dan
jalan tapak dapat bertempat pada daerah-daerah yang tidak boleh
dibangun dibelakang garis sempadan.

24
4. Perundang-Undangan
Kebanyakan informasi yang sah mengenai tapak meliputi uraian
hukum, perjanjian pengikatan dan restriksi-restriksi dan pemilik
lahan dapat diperoleh dari akta pada lahan yang bersangkutan.
Perubahan-perubahan yang diproyeksikan dalam informasi ini
memerlukan pembicaraan dengan klien, perwakilan-perwakilan
juridiksi yang sesuai, asosiasi-asosiasi lingkungan, pemilik
sebelumnya atau pihak manapun yang bertanggung jawab bagi
perjanjian-perjanjian dan restriksi-restriksi.
5. Keistimewaan-Keistimewaan Fisik Alamiah
Kebanyakan informasi dalam kategori ini memerlukan
pengamatan langsung pada tapak dan merekam datanya pada suatu
survei topografik yang memperlihatkan kontur-kontur tapak.
Dimana kita harus menentukan kontur, kita mengadakan survei
topografik sendiri.
Sekali menetapkan kecuraman keseluruhan dari tapak kemudian
kita memperkirakan angka kecuraman (interval kontur) antara titik-
titik tinggi dengan titik-titik rendah.
Ciri-ciri topografik utama seperti titik-titik tinggi dan rendah,
perbukitan, lembah-lembah, daerah-daerah curam dan datar
melibatkan pengamatan langsung dan perekaman informasi atas
peta kontur.
Pola-pola drainase akan selalu tegak lurus terhadap garis-garis
kontur tapak. Disamping itu, kita harus mencari kolektor-kolektor
drainase yang besar dan kecil pada lembah-lembah dari tapak.
Genangan-genangan yang permanen dari air yang bergerak atau
yang diam harus dicatat pada peta kontur.
Ciri-ciri keistimewaan alamiah di atas tapak yang ada meliputi
pepohonan, penutup permukaan tanah, batu-batuan, tekstur
permukaan tanah dan bukit-bukit semuanya memerlukan
pengamatan langsung dan pencatatan pada peta kontur.

25
Pendapat dan penilaian mengenai nilai dari ciri-ciri
keistimewaan tapak alamiah dapat dicatat dalam bentuk catatan-
catatan sekitar peta dimana ciri-ciri tersebut dicatat. Kondisi-
kondisi tapak memerlukan pengeboran tanah dan suatu laporan
tanah yang menggambarkan tipe tanah dan daya dukungnya.
6. Keistimewaan-Keistimewaan Buatan
Ciri-ciri istimewa pada tapak biasanya diliputi dalam survei
topografik yang dilakukan oleh insinyur. Seperti bangunan, pagar,
dinding tahan ramada, lapangan bermain, dan pelataran, serambi
dalam, plaza, jalan, daerah servis, bahu jalan, tiang listrik, saluran
kebakaran dan tempat perhentian bis.
Tata letak internal dari bangunan-bangunan yang ada adalah
penting dan paling baik jika dapat memperoleh sekumpulan
gambar-gambar kerja yang asli.
Pendokumentasian atas karakter-karakter arsitektural dari
bangunan-bangunan disekitar tapak dapat dilakukan dengan
membuat sketsa atau foto disertai dengan catatan-catatan yang
merekam pengamatan serta penilaian.
7. Sirkulasi
Pendokumentasian atas seluruh jalan, gang, jalan kecil, trotoar,
plaza, dan lain-lain mungkin akan dilakukan di bawah kategori
data tapak sebelumnya. “sirkulasi” terutama mengarahkan apa
yang terjadi pada sistem-sistem lintasan tersebut.
Kita menaruh perhatian pada siapa yang bergerak, mengapa
bergerak, kapan, dan berapa banyak, dimana lalu lintasnya berasal
dan dimana berakhir. Gagasan-gagasan mengenai cara-cara dimana
lalu lintas pejalan kaki yang ada dapat diperkuat atau dipermudah
mulai memasuki dunia perancangan tapak.
Lalu lintas kendaraan di atas tapak, berbatasan dengan atau
dilingkungan dapat diselidiki dengan pengamatan langsung,
proyeksi-proyeksi yang didasarkan pada magnet-magnet dan/atau

26
studi-studi sebelumnya yang dilakukan oleh perancangan kotapraja
atau transportasi (pola-pola beban jalan, dan lain-lain).
Parkir yang berbatasan atau berdekatan memerlukan
pengamatan langsung. Rute-rute transportasi umum yang
berhubungan dengan tapak dapat diperoleh dari peta-peta rute yang
disimpan di departemen transportasi umum.
Arah dan lintasan kedatangan dan keberangkatan dari para
pemakai bangunan (termasuk cara kedatangan dan kepergian)
kadang-kadang dapat diproyeksikan dengan mempelajari tipe
bangunan lokasi dari tapak dalam kaitan dengan sisa bagian kota
dan sistem jalan utama.
Lokasi-lokasi atau tepian-tepian yang spesifik pada tapak yang
memberikan perencanaan keadaan jalan keluar dari tapak bagi
kendaraan dan pejalan kaki yang paling aman dan memudahkan
dapat diproyeksikan dengan mempertimbangkan semua data
sirkulasi.
Waktu-waktu tempuh harus diselidiki dengan pengamatan
langsung. Kita harus berjalan di atas tapak dan merekam waktu
yang diperlukan untuk melintasinya. Kita harus berkendaraan dari
tapak menuju lokasi-lokasi yang berhubungan di dalam kota dan
mencatat waktu tempuhnya.
8. Utilitas
Pendokumentasian atas seluruh informasi utilitas dapat
dilakukan dengan mengunjungi departemen-departemen dan
perusahaan uitlitas yang bersangkutan. Kondisi-kondisi pada tapak
(jarak-jarak ke tapak dapat bangunan yang mungkin, hubungan
dengan kontur, daerah-daerah penyangga, kondisi tanah, dan lain-
lain).
9. Panca Indera
Semua informasi mengenai pemandangan pada dan disekitar
tapak memerlukan pengamatan langsung. Data kebiasaan dapat
dikumpulkan oleh pengalaman langsung pada tapak dengan

27
penggunaan peralatan pengukur dan dengan mempelajari data yang
berkaitan dengan kebisingan dalam kategori informasi yang lain
(lalu lintas, tata guna dilingkungan, dan lain-lain).
Bau-bauan, asap dan bahan yang menmbulkan pencemaran
lainnya memerlukan pengamatan langsung dan pengalaman pada
tapak. Arah angin yang berpengaruh, bagaimana angin tersebut
berubah-ubah pada hari tersebut, dari siang sampai malam, dan
lain-lain juga penting.
10. Manusia dan Budaya
Sejumlah besar data dapat diperoleh dari statistik sensus
mengenai lingkungan. Informasi ini biasanya tersedia melalui
perwakilan perencanaan kotapraja setempat. Faktor-faktor
lingkungan manusia dan budaya dengan perwakilan-perwakilan
dan perkumpulan lingkungan atau dengan badan-badan pelayanan
sosial dan rekreasi, jasa-jasa perdagangan kecil, keagamaan,
dan/atau pendidikan yang beroperasi di atau untuk penduduk
lingkungan.
Pertimbangan-pertimbangan manuisa dan budaya dapat meluas
di luar tapak yang berbatasan sampai ke proses-proses politik,
persoalan-persoalan skala kota yang menyangkut proyek tersebut
dan faktor-faktor yang serupa.
11. Iklim
Semua data iklim biasanya tersedia dari biro cuaca setempat.
Terdapat profil-profil cuaca untuk lokasi-lokasi yang berbeda-beda
yang dikeluarkan oleh angkatan bersenjata dan universitas.
Bermanfaat untuk mewawancarai orang-orang yang tepat tentang
kecenderungan cuaca dalam sebuah daerah.
Kesebelas analisis di atas tentang klasifikasi data harus meliputi proyeksi-
proyeksi masa depan sampai sejauh yang dapat dibuat.

28
2.3 Membuat Diagram
Umumnya berguna untuk menggambarkan diagram informasi tapak
sebagaimana kita mengumpulkannya. Apakah kita menyempurnakan bentuk-
bentuk diagramatik sampai ke suatu tingkat penyajian yang lebih baik
tergantung pada bagaimana diagram-diagram tersebut akan dipergunakan dan
untuk siapa kita akan memperlihatkannya.
2.3.1 Kerangka Diagramatik
Terdapat sekurang-kurangnya dua cara pendekatan pembuatan diagram
informasi tautan (contextual information). Satu yang melibatkan suatu
penggabungan diagram-diagram menjadi satu bentuk grafik campuran.
Yang lainnya memisahkan tiap fakta tautan pada suatu diagram terpisah.
Pendekatan campuran atau terpadu berusaha untuk menyatakan semua
data tapak pada sebuah gambar guna menekankan situasi total dan untuk
membuat kita peka terhadap perhubungan-perhubungan antara faktor-
faktor tautan.
Biasanya berskala relatif besar untuk menghindari kekacauan grafik.
Kesulitan yang mungkin pada gambar adalah bahwa gambar tersebut dapat
menjadi terlalu rumit dan membingungkan. Ini teristimewa benar untuk
tapak yang rumit.
Harus yakin untuk menjaga suatu kesan kejelasan dan hirerarki dalam
grafik untuk meyakinkan bahwa persoalan-persoalan tapak yang utama
diberi penekanan grafik yang utama pada diagram.
Pendekatan yang terpisah atau tersendiri mencatat informasi secara
terpisah pada gambar-gambar tapak acuan yang disediakan. Pendekatan
yang lebih “diperinci” membantu untuk menghindarkan pengabaian suatu
faktor tapak.
Tiap gambar memiliki gambar acuannya sendiri kita memiliki
fleksibilitas untuk menggeser acuan tersebut dari denah keperspektif
kepotongan atau tampak tergantung pada tipe informasi yang tengah
digambarkan.
Kesulitan yang mungkin pada teknik ini adalah bahwa suatu
pendekatan sedikit demi sedikit pada perekaman data secara grafik

29
mungkin membantu pengembangan suatu pendekatan sedikit demi sedikit
terhadap perancangan.
Hak itu lebih jelas melukiskan cara-cara yang berbeda-beda untuk
membuat diagram data tapak kita akan memakai pendekatan terpisah
untuk mendiskusikan beberapa teknik dari pembuatan diagram tautan.
Gambar-gambar terpisah ini menghendaki untuk memikirkan tentang
urutan-urutan logik dari informasi dan bagaimana sekeping informasi
tergantung pada informasi lainnya (drainase tergantung pada kontur, dll).
“Kemurnian” pada pemakaian pemakai pendekatan yang terpadu atau
terpisah tidaklah merupakan persoalan. Kita mungkin memisahkan data
secara diagramatik pada pendekatan terpadu dan menggabungkan data
tertentu pada sebuah gambar acuan tunggal pada pendekatan terpisah.

2.3.2 Gambar Acuan


Mendiagram persoalan-persoalan tapak mungkin terdapat dalam
beberapa bentuk dan pada beberapa skala. Gambar-gambar tersebut juga
mengandung beberapa jumah rincian tergantung pada informasi tautan
yang tengah diarahkan.
Gambar acuan dapat berupa denah, potongan, perspektif, isometrik atau
tampak. Berkaitan dengan tipe data yang tengah kita catat dan seberapa
baik untuk memandangnya sebagai suatu pengaruh tapak (pandangan atas,
pendangan perspektif, dan lain-lain).
Kita dapat mempergunakan beberapa atau seluruhnya gambar-gambar
ini dalam jalur analisis tautan. Tergantung pada seberapa jauh jangkauan
secara geografik pada suatu faktor tapak tertentu, gambar acuan kita akan
lebih besar atau lebih kecil diluar tapak kita yang sesungguhnya.
Sebagian besar data tampak berorientasi ke denah. Biasanya, suatu
gambar acuan yang khas pada denah akan meliputi perbatasan-perbatasan
tapak dan pola jalan yang langsung berbatasan dengan tapak. Kita harus
yakin untuk membuat gambar-gambar acuan sesederhana mungkin dengan
mengingat bahwa data yang harus dicatat padanya harus lebih menonjol
secara grafik dan lebih penting daripada informasi acuan.

30
Jika kita menggunakan garis untuk gambar acuan bobot garis tersebut
harus sangat ringan. Acuan harus selalu berada pada latar belakang secara
grafis dalam analisis tautan. Sekali kita telah membuat gambar acuan
adalah berguna untuk membuat reproduksinya guna menghindari
pembuatan yang berulang kali.

2.3.3 Bentuk-Bentuk Diagramatik


Bentuk-bentuk diagramatik yang diajarkan pada gambar-gambar acuan
mungkin menggambarkan hal-hal fisik, kualitas atau kondisi dari benda-
benda fisik, tindakan-tindakan atau kegiatan-kegiatan, pola-pola yang
tidak langsung terbukti, persoalan-persoalan sementara, prsoalan-persoalan
masalah manusia, dan lain-lain.
Harus dapat mencatat dan menyatakan gaya-gaya, tekanan-tekanan,
masalah-masalah, kesempatan-kesempatan dan tugas-tugas tapak baik
yang terlihat maupun yang tidak kelihatan.
Beberapa contoh bentuk diagramatik disajikan pada halaman-halaman
berikut dengan memakai tapak fisik. Contoh-contoh akan memperlihatkan
beberapa cara yang khas untuk menyajikan secara diagramatik informasi
tapak dan beberapa variasi dan alternatif. Kita harus ingat bahwa terdapat
banyak kemungkinan-kemungkinan grafik yang lain dan juga kesempatan
untuk menciptakan kombinasi-kombinasi dan sintesis dari contoh-contoh
pembuatan diagram ini.

2.3.4 Penyempurnaan dan Penyederhanaan


Jika kita tengah mengumpulkan dan membuat diagram informasi tapak
untuk kita sendiri, kita mungkin akan menghabiskan sangat sedikit waktu
untuk menyempurnakan sketsa-sketsa awal yang dibuat di tapak pada
gambar-gambar acuan.
Apabila pertama kali mempelajari diagram adalah suatu gagasan yang
baik untuk menyempurnakan dan menyederhanakan semua pekerjaan
sampai kita mengembangkan suatu bentuk yang disederhanakan di dalam
membuat sketsa-sketsa pengumpulan fakta awal kita.

31
Penyempurnaan melibatkan pembuatan bentuk-bentuk diagramatik
sekomunikatif mungkin sementara penyederhanaan bersangkutan dengan
proses pengurangan tiap informasi grafik yang tidak ada hubungannya dari
diagram-diagram tersebut.
Penyempurnaan diagramatik harus mengevaluasi dengan cermat tiap
karakteristik visual dari tiap elemen grafik dalam diagram untuk
menentukan jika itu dapat diperbaiki.
Penyempurnaan pada dasarnya adalah kearah penguatan pengalihan
makna antara apa yang dikatakan diagram secara visual dengan apa yang
dikatakan fakta tapak secara tautan (contextual).
Penyempurnaan juga dapat melibatkan pelangsingan grafik-grafik
semata-mata untuk kepentingan grafik-grafik yang lebih baik. Dalam hal
ini kita mencoba untuk menaikan kualitas dari citra-citra grafik untuk
meningkatkan kompetensi visual dari penyajian.
Penyederhanaan berkenan dengan aspek-aspek yang sama yang baru
dicatat dan merupakan suatu komponen integral dari penyempurnaan.
Apabila menyederhanakan sebuah diagram kita berkepentingan dalam
mengurangi tiap elemen, bentuk, motode atau perhubungan yang
mencampuradukkan pengalihan makna antara diagram dengan fakta tapak.
Grafik-grafik yang tak ada kaitannya ini tidak menunjang kepada
komunikasi dari fakta tapak dan sering menyampaikan pesan-pesan yang
tidak cermat yang salah arah.
Sasaran kita pada penyederhanaan adalah untuk mengurangi diagram
sampai ke informasi grafik minimum yang masih mengkomunikasikan
pesan. Pengurangan ini membantu untuk meyakinkan bahwa kita memiliki
suatu diagram yang lebih mungkin mengkomunikasikan informasi yang
diinginkan dan kurang mungkin untuk salah tafsirkan.

2.3.5 Penekanan dan Kejelasan Grafik


Setelah menyempurnakan dan menyederhanakan diagram-diagram kita
sehingga bentuk-bentuk grafiknya memperkuat dan berkesesuaian dengan
isi yang tengah kita nyatakan, kita siap untuk memperjelas diagram-

32
diagram melalui penekanan grafik. Biasanya, penekanan grafik melibatkan
pemastian bahwa hakekat dari apa yang tengah kita komunikasikan dengan
diagram memperoleh ekspresi yang paling kuat secara grafik.
Bahwa kita menginginkan gambar acuan untuk mundur ke latar
belakang secara grafik dan apapun yang telah kita buat diagramnya pada
acuan (persoalan tapak) harus menjadi aspek visual paling menonjol pada
diagram. Biasanya, ini dikerjakan melalui bobot garis dan nada warna.
Berguna ketika membaca serangkaian diagram-diagram tautan jika
terdapat suatu arti dari sistem atau pola dalam cara dimana penekanan
grafik telah dicapai.
Hakikat dari suatu tapak adalah selalu dinyatakan dalam nada untuk
masing-masing diagram, kita dapat memahami secara lebih efisien analisis
keseluruhan. Jika telah memilih menggunakan warna, harus memakai
warna yang sama untuk menandai hakikat dari semua diagram. Warna itu
harus tetap merupakan segi yang paling menonjol pada diagram. Kita
dapat memperkirakan ketegasan diagram-diagram sebanyak yang kita mau
sepanjang kekuatan nisbi pada hakikat diagram-diagram tersebut
mengatasi grafik-grafik. Sebaiknya kita tidak menciptakan kebingungan
dengan perubahan pemakaian warna tersebut disekitar dari makna ke
makna.
Hakekat dari pola adalah konsultasi dan sekali kita telah melatih mata
untuk memandang suatu warna atau nada warna untuk menandai hakekat
dari makna diagram, maka manjadi sangat membingungkan dan
mengganggu untuk menemui bahwa pola berubah secara sembarangan.
Berharga untuk memberi kode secara grafik faktor-faktor tapak yang
dirasakan penting atau yang mungkin memiliki implikasi-implikasi
penentu bentuk dalam perancangan. Dapat dilakukan dengan titik-titik,
bingkai-bingkai disekitar diagram-diagram penting atau alat-alat grafik
lainnya.

33
2.3.6 Judul, Label, dan Catatan
Karena kita tengah mencoba untuk mengkomunikasikan secara grafik
persoalan tautan tersebut, kita harus menjaga kata-kata yang tidak berguna
pada diagram sampai minimum. Perlu menuliskan catatan-catatan yang
cukup pada diagram untuk memastikan bahwa faktor-faktor tapak telah
dikomunikasikan dengan jelas. Terlebih kritis apabila diagram-diagramnya
bukan untuk kita sendiri tetapi untuk seseorang lain juga (perancang, klien
yang lain).
Apabila diagram tersebut hanya untuk kita sendiri pun tetap berharga
untuk menyusun pemikiran-pemikiran kita tentang kondisi-kondisi tapak
yang istimewa secara ringkas dan jelas. Penulisan catatan-catatan
membantu untuk memperjelas pengertian tentang persoalan-persoalan
tapak, menjamin bahwa mempertautkan persoalan-persoalan tersebut
secara batin dan sering mencetuskan serangkaian tanggapan rancangan
yang mungkin dalam pikiran kita yang dapat dicatat untuk penggunaan
kelak pada konseptualisasi. Catatan-catatan pada diagram harus
dihubungkan dengan grafik seistematik mungkin.
Diagram-diagram perlu diberi judul dan label. Judul dan label harus
diletakan secara konsisten dalam kaitan dengan diagram dan perhubungan
secara hierarki dengan judul-judul utama pada halaman atau papan
lembaran analisis keseluruhan. Sebuah judul mungkin berhubungan
dengan sebuah diagram tunggal, sebuah kelompok diagram dan dengan
analisis seluruhnya.
Ukuran huruf dan gaya merupakan pertimbangan penting dalam
menuliskan catatan label dan juul. Biasanya urutan kepentingan (dari yang
terbesar sampai yang terkecil) adalah dimulai dari judul ke label ke
catatan.

34
2.4 Mengorganisasikan Diagram-Diagram
Langkah berikutnya adalah meletakan diagram tersebut ke dalam beberapa
urutan yang berguna. Ini adalah suatu operasi yang bernilai bagi kita karena
memberi kesempatan untuk membentuk suatu pengertian akan hirerarki dan
ketergantungan antar persoalan-persoalan yang telah dikumpulkan dan catat.
Bukan saja bernilai tetapi diperintahkan bahwa kita menyusun diagram-
diagram untuk mengkomunikasikannya ke orang lain.
Tugas organisasional yang pertama adalah harus mempertegas cara-cara
dimana pengorganisasian dapat terjadi. Biasanya terdapat beberapa teknik di
dalam mengorganisasikan suatu susunan elemen dan ini adalah benar untuk
data tapak. Perangkat-perangkat organisasional yang khas yang dapat
dipergunakan pada peraturan informasi tautan adalah :
1. Kategori Subjek, kita telah memulai analisis dengan memakai
tabel-tabel informasi berupa Lokasi, Tautan Lingkungan,
Ukuran dan Tata Wilayah, Perundang-undangan,
Keistimewaan-keistimewaan Fisik Alamiah, Keistimewaan-
keistimewaan Fisik Buatan, Sirkulasi, dan Iklim. Kita perlu
memutuskan apakah table-tabel ini masih mewakili judul-judul
(headings) yang paling berarti dan cocok untuk informasi.
Perumusan kembali atas label-label informasi sering dapat
menjadi suatu sumber persepsi baru tentang persoalan-
persoalan tapak dan tentang bagaimana menanggapi dengan
baik kepada persoalan-persoalan tersebut dalam rancangan.
2. Kuantitatif-Kualitatif, seringkali sebagai perancang kita
menginginkan untuk memisahkan informasi tapak ke dalam
“data keras” dan “data lunak”. Hal-hal ini adalah “ketentuan-
ketentuan” pada proyek dari sudut pandang tapak dan tidak
terbuka terhadap interpretasi atau terkaan. Metode
pengorganisasian ini juga mengenali data lunak yang tidak
bersifat kuantitatif dan yang tersedia untuk interpretasi oleh
kita sebagai perancang. “keras” dan “lunak” dalam contoh ini
tidak memisahkan data menjadi fakta dan bukan fakta tetapi

35
agak kearah batas-batas perhatian yang diperintahkan oleh
perancang dalam konseptualisasi.
3. Umum-Khusus, pada pendekatan organisasi ini, kita mulai
dengan informasi tapak yang memberikan pengertian tentang
suatu tingkat pandangan dan berlanjut ke suatu penguraian
informasi tersebut pada suatu tingkat yang lebih terperinci.
Keuntungannya disini adalah bahwa tingkat yang lebih
terperinci diberikan suatu konteks informasi oleh tingkat yang
umum.
4. Kepentingan Nisbi, setelah menyelesaikan diagram kita dan
mengenal wujud dari proyek yang akan menunjangi tapak,
harus memiliki perasaan terhadap faktor-faktor tautan yang
menjadi pengaruh-pengaruh utama pada perancangan.
Persoalan perancangan seperti penempatan yang optimum atas
fungsi-fungsi pada tapak, organisasi bangunan internal sebagai
tanggapan terhadap faktor-faktor tapak, tingkat dan lokasi
kelemahan bangunan dalam kaitan dengan iklim dan energi,
bentuk, gambaran dan bahan sebagai tanggapan terhadap
bangunan-bangunan yang ada disekitarnya yang ada dan
seterusnya. Pengetahuan akan tapak dan peniruan dari
pengaruh-pengaruh yang potensial ini dapat mendorong kita
untuk mengorganisasikan data tautan dalam suatu cara
hirerarki.
5. Urutan Penggunaan, dasar pemikiran untuk pengaturan
diagram-diagram berhubungan dengan pemikiran sebelumnya.
Disini kita menduga suatu urutan dimana kita mungkin
membutuhkan data tersebut dalam perancangan. Ini tidak
pernah dapat dibentuk pada suatu basis diagram tersendiri
tetapi dapat dicoba pada suatu tingkat pengelompokan diagram.

36
6. Saling Ketergantungan, fakta-fakta tersendiri mengenai tapak
kita biasanya tergantung kepada satu sama lain dalam berbagai
cara. Pola-pola drainase tapak ditentukan oleh atau tergantung
kepada kontur tapak seperti pemandangan dari tapak apabila
tapak seperti pemandangan dari tapak apa bila tapak memiliki
tempat-tempat tinggi yang berarti. Pertama-tama menyelidiki
ketergantungan diantara berbagai karakteristik tapak dan
kemudian menyusunnya dari yang paling menentukan ke yang
paling ditentukan. Memperoleh suatu pengertian akan urutan
data tapak logik dengan selalu menyajikan informasi dalam
mana atau dari mana informasi lain muncul atau menemukan
keabsahannya.
Bermanfaat untuk secara cepat mencoba masing-masing dari pendekatan
organisasi ini guna melihat yang mana Nampak cocok dengan situasi proyek
kita. Kita dapat jumpai tumpang tindih dan keserupaan yang penting pada
pameran fakta-fakta tapak yang oleh berbagai ragam pendekatan perlihatkan
kepada kita. Dapat terbukti bermanfaat untuk memakai suatu pencampuran dari
teknik-teknik pengaturan ini.
Masing-masing dari cara mengorganisasikan informasi tapak memberi kita
berbagai sistem pembubuhan label yang berbeda-beda yang sebaliknya
mempengaruhinya. Sangat banyak mempengaruhi kita sendiri terhadap sikap-
sikap, dan kosakata-kosakata tertentu atas tanggapan-tanggapan rancangan
oleh cara kita mengorganisasikan informasi tapak.
Mungkin sulit untuk merasakan pengaruh dari label-label fakta atas
pemecahan-pemecahan perancangan tetapi hubungan ini secara terbatas hadir
pada tiap proyek. Tingkat pertama dari informasi terjadi tidak dari segi fakta-
fakta tapak individual tetapi dari segi pola-pola dan kepadatan informasi yang
terjadi sebagai suatu hasil dari sistem pembubuhan label yang kita pilih.
Formasi-formasi untuk mempaket dan mengirimkan diagram-diagram tapak
(dimana ini harus dilakukan) dapat berbentuk dari slide, buklat, gulungan
kertas, papan dan kartu-kartu tersendiri sampai model-model dan gambar
hidup. Kita harus menyelidiki situasi penyajian dari segi isi, pendengar,

37
maksud, lokasi dan saat kita untuk menentukan bentuk pengiriman yang paling
cocok untuk informasi tersebut. Metode yang paling umum untuk mempaket
diagram-diagram adalah pada sebuah papan atau lembaran atau kartu
berukuran (3 x 5 atau 6 x 8).

2.5 Menafsirkan Diagram-Diagram


Terdapat tiga tingkatan dimana interpretasi diagram dapat terjadi. Yang
pertama adalah pola keseluruhan dan kepadatan dari diagram sebagaimana
merasakannya sebagai suatu keseluruhan pada lembaran. Kedua adalah makna
potensial dari susunan-susunan diagram yang bersangkutan dengan suatu
kategori persoalan tertentu. Ketiga adalah penafsiran tiap diagram sendiri-
sendiri atau fakta tapak.
Penafsiran adalah kita membaca diagram-diagram dan membiarkannya
memberi kepada kita sesuatu tentang apa yang dapat kita duga ketika kita
benar-benar memulai pada konseptualisasi rancangan.
Dengan angka-angka diagram belaka kita telah menempatkan di bawah
berbagai label informasi (Lokasi Tautan Lingkungan, dan lain-lain) kita
cenderung untuk mempertimbangkan hal-hal yang paling berisi sebagai yang
paling penting. Kepadatan mungkin menggambarkan kedalaman keterlibatan
dalam persoalan-persoalan dan pengertian nisbi dari fakta-fakta tapak.
Pada tahap penafsiran kita harus siap siaga terhadap fakta bahwa beberapa
bidang informasi tapak hanya memiliki lebih banyak sub kepala meskipun
informasi tersebut mungkin tidak penting seperti pengaruh-pengaruh pada
bentuk. Dengan menggabungkan kembali persoalan-persoalan tapak secara
kreatif kita memberi kepada kita sendiri potensi untuk tanggapan-tanggapan
dan pemecahan-pemecahan yang kreatif terhadap kelompok-kelompok
tersebut.
Penafsiran tidak memberi kita pemecahan spesifik terhadap situasi tetapi
memberi suatu target berdasarkan situasi untuk berusaha keras dalam
pembuatan keputusan perancangan. Tingkat penafsiran yang paling umum
adalah tingkat dari fakta tapak individual dan susunan-susunan diagram dalam

38
suatu kategori persoalan (Iklim, Undang-undang, dan lain-lain). Inilah
beberapa contoh yang disajikan sebagai berikut :
1. Jika terdapat beberapa persoalan tapak yang merupakan suatu
tantangan dari segi ukuran, intensitas, nilai atau kualitas lainnya, kita
siagakan terhadap fakta tersebut di dalam menafsirkannya dan dapat
menduga kosakata-kosakata rancangan dan kelompok-kelompok
konseptual tersebut yang mungkin dibutuhkan guna menguasai
kondisi-kondisi tapak tersebut. Tapak-tapak lain mungkin memberikan
aspek-aspek tunggal atau majemuk, pengaruh-pengaruh yang sangat
positif atau negative, yang dapat memberi suatu tempat untuk memulai
pada pemikiran tentang penempatan fungsi-fungsi di atas tapak.
2. Ukuran tapak dalam kaitan dengan ruang-ruang fungsional yang akan
ditempatkan pada lahan memberitahu apakah kita tengah bekerja
dengan suatu bangunan yang ketat atau longgar terhadap situasi tapak.
Situasi-situasi ketat menyatakan secara tidak langsung penumpukan
fungsi-fungsi (bangunan parkir berlantai banyak) dan kebutuhan untuk
menyusun ruang tapak yang tersisa sampai keuntungan yang
maksimum. Dapat terjadi sedikit ruang tapak yang terbuang pada
contoh ini dan kebiasaan perancangan untuk menangani “situasi-situasi
ketat” akan teristimewa cocok.
3. Dimana terdapat suatu suasana lingkungan yang koheran yang patut
diindahkan (skala, bahan, pertamanan, kepadatan tataguna tapak,
penggunaan ruang terbuka, pola perletakan pintu/jendela, detail,
perlengkapan, dll). Kita harus memutuskan bentuk dengan
mengindahkan suasana lingkungan tersebut (kontras atau
berkesesuaian) dan memusatkan pada pendekatan-pendekatan
konseptual tersebut yang mungkin berhasil pada situasi tersebut.
4. Kadang-kadang kontur dan keistimewaan-keistimewaan permukaan
lainnya (pepohonan, batu-batuan, bangunan lain, dan lain-lain)
menentukan dimana fungsi-fungsi tertentu harus ditempatkan pada
tapak (lapangan bermain pada daerah yang terluas dan terdatar) parkir
pada ujung yang lebih rendah guna menghindari masalah-masalah

39
drainase dan memungkinkan kalandaian yang dibutuhkan untuk
menghubungkan bangunan dengan utilitas saluran pembuangan.
5. Jalan yang berbatasan dan pola lalu lintas kendaraan biasanya
menentukan dimana kita dapat memasukan kendaraan ke dalam lahan
dengan cara yang sebaik-baiknya. Penghindaran masuk-keluar ke dan
dari jalan-jalan utama, mempergunakan jalan-jalan kecil untuk suatu
pencapaian dan pengeluaran yang lebih aman, lambat dan penempatan
pintu masuk-keluar sejauh mungkin dari persimpangan-persimpangan
jalan. Untuk menghindari lapisan perkerasan tapak yang berlebihan
untuk jalan distributor, tempat masuk-keluar kendaraan biasanya
menentukan lokasi tempat parkir umumnya.
6. Jalan-jalan yag berbatasan dan fungsi-fungsi dilingkungan sekitar
dapat merupakan pengaruh-pengaruh negatif terhadap proyek dimana
ingin mempergunakan daerah-daerah parkir dan daerah non-manusia
lainnya sebagai zona-zona penyangga antara pengaruh-pengaruh
negatif dengan proyek.
7. Cuaca baik dapat menyarankan suatu bangunan terbuka, rawan,
keropos dan penengah mekanik yang minimal diantara kenyamanan
manusia dengan iklim. Jumlah curah hujan yang besar menganjurkan
suatu rancangan dari suatu jaringan penanggulangan air total guna
mengalirkan air secara sistematik dari atap dan tertampung atau di luar
tapak dengan kemungkinan kerusakan yang minimal terhadap kita dan
lahan sekitarnya.
8. Karena daerah tersebut tidak dapat dipergunakan untuk bangunan kita,
dimensi garis sempadan yang besar mungkin sering dipergunakan
untuk daerah-daerah kegiatan luar ruangan dan tempat parkir.
9. Batasan ketinggian bangunan dan restriksi-restriksi lain yang timbul
dari peraturan-peraturan dan perjanjian-perjanjian akan mengukuhkan
kendala-kendala pembentukan massa keseluruhan dan seringkali
membayangkan kosakata-kosakata bagi bangunan kita.

40
10. Demi kepentingan ekonomi, kita dapat menginginkan untuk
menempatkan bangunan dekat dengan tepi tapak dimana utilitas
tersedia untuk menghindar saluran utilitas di atas tapak yang mahal.
Vignet-vignet rancangan tapak ini kemudian dapat berfungsi untuk
membangkitkan konsep-konsep untuk mengatur semua kegiatan klien dan
ruang-ruang pada lahan. Baik vignet rancangan tapak individual maupun
konsep-konsep pengaturan tapak yang menyeluruh ditarik dari pengalaman
masa lampau kita sebagai perancang tapak yang kita pegang dari proyek ke
proyek. Semakin luas kosakata dan gagasan-gagasan bakal rancangan yang
harus ditarik untuk menanggapi sebagaimana mestinya terhadap kondisi-
kondisi tapak, semakin mungkin menghasilkan suatu rencana tapak dan
rancangan yang berhasil.

2.6 Bilakah Menggunakan Analisis Tautan


Jumlah waktu yang kita peruntukan untuk analisis adalah tentu saja
tergantung kepada waktu yang tersedia seperti ditentukan oleh anggaran
kantor dan tanggal-tanggal yang sebagaimana mestinya. Di bawah tekanan
waktu kita harus selalu memilih kecermatan pada penyajian jika sesuatu hal
harus dikorbankan.
Jika tengah melakukan analisis tautan bagi kita sendiri pengerjaan tersebut
dapat sangat tidak resmi dan tidak diperhalus. Jika tapaknya merupakan suatu
tapak yang sangat rumit, politis, sulit atau publik kita mungkin ingin
mendokumentasikan analisis.
Sangat berguna untuk menganalisis tapak tepat sebelum memulai
pembuatan konsep-konsep tata wilayah tapak. Maka kita dapat mengambil
keuntungan langsung dari peran proses analisis sebagai katalisator di dalam
memicu gagasan-gagasan perancangan.
Suatu ketertarikan yang luas dengan persoalan-persoalan tapak melalui
analisis tautan dapat merangsang gagasan-gagasan tentang penempatan secara
optimum elemen-elemen tapak yang utama (bangunan, tempat parker, dan
lain-lain) dan juga konsep-konsep untuk memindahkan ruang-ruang bangunan

41
individual ke posisi yang paling menguntungkannya pada tapak (penerima di
luar jalur servis, ruang tunggu di luar trotoar utama, dan lain-lain).

2.7 Bentuk-Bentuk Analisis Tautan Lainnya


Terdapat beberapa metode lain untuk melukiskan informasi yang dipelajari
melalui analisis tautan. Teknik analitik pada situasi ini tidaklah berubah dari
yang telah dbahas. Itu adalah metode penyajian atau pemakaian data yang
berbeda.
2.7.1 Potret
Disamping hasil foto yang menangkap suasana lingkungan yang
asensil pada dan disekitar tapak, potret dapat juga dipakai untuk
mencatat semua data faktual yang telah didiskusikan sebelumnya
pada bab ini.
Dapat dilakukan dengan mempergunakan pendekatan campuran
(sintesis informasi pada sebuah foto besar) atau pendekatan
terpisah (penggunaan beberapa foto yang lebih kecil pada mana
dicatat pokok-pokok informasi yang terpisah.
Foto-foto berfungsi sebagai acuan grafik, dan seperti demikian
harus secara grafis dikebawahkan pada diagram-diagram yang
dibuat di atasnya.
Dapat diselesaikan dengan memilih foto-foto tersebut sampai
suatu batas nilai abu-abu muda melalui pencetakan offset atau
dengan mempergunakan teknik-teknik diagramatik yang sangat
kuat dan menyolok pada foto-foto yang tak terawat. Dimana
pemandangan-pemandangan dari tapak adalah penting maka saring
berharga menyusun suatu roda pemandangan (view wheol) tiga
ratus enam puluh deraja dengan menempeli potongan-potongan
kecil foto-foto bersama sampai seluruh lingkaran pemandangan
lengkap. Kita boleh memotong-motong beberapa foto bersama
untuk merekam seluruh tampak berbagai suatu keseluruhan (serupa
dengan pendekatan yang dipakai untuk roda pemandangan).

42
2.7.2 Maket
Maket adalah teknik penyajian tiga dimensi yang biasanya
mempergunakan pendekatan campuran dari penumpukan semua
informasi tapk pada sebuah maket dasar acuan. Efektif dimana
terdapat situasi-situasi tiga dimensional penting pada atau di sekitar
tapak yang akan sulit digambarkan atau dipahami secara dua
dimensional.
Persoalan-persoalan seperti perbatasan tapak, garis sempadan,
kebisingan lalu lintas dan angin dapat dipotret secara diagramatik
langsung pada potongan-potongan bahan maket. Pepohonan, batu-
batuan, benda-benda buatan, bangunan-bangunan dan sudut
matahari semuanya dapat digambarkan pada bentuk maket. Maket
tersebut dapat dipergunakan sebagai suatu model dasar bagi
penyelidikan dan penyajian konsep tapak dan rancangan bangunan
kita.
Kita harus yakin untuk memotret maket tautan sebelum
memindahkan informasi diagramatik dan yakin telah membuat
maket tersebut menurut skala yang sebagaimana mestinya. Ini
adalah suatu cara yang sangat efektif untuk menggambarkan
mengapa rancangan bangunan demikian dan tanggapan yang layak
terhadap kondisi-kondisi tapak yang ada.

2.7.3 Gambar Hidup


Gambar hidup (movie) merupakan suatu teknik yang menarik
meskipun bagi kebanyakan orang bukan sesuatu yang mudah
dilakukan. Cocok untuk menyajikan aspek-aspek kinestetik pada
tapak.
Pergerakan ke, melalui, dari dan melewati tapak, panorama
pemandangan, pola-pola lalu lintas dan sudut matahari semuanya
cocok disajikan melalui gambar hidup.

43
Gambar hidup merupakan suatu cara yang sangat efektif untuk
menyajikan analisis tautan (kontekstual) untuk klien-klien atau
kelompok-kelompok yang besar.

2.7.4 Lembaran Transparan


Lembaran transparan memberi keuntungan pada pendekatan
kerangka campuran dengan pemisahan dan kejelasan dari
pendekatan diagram yang terpisah-pisah.

2.7.5 Analisis Ruang Interior


Kategori-kategori fakta utama yang kita pakai lebih dini untuk
mengorganisasikan data tapak individual adalah berguna meskipun
maknanya jelas berubah ketika memindahkan tapak ke dalam
ruang.
Analisis tautan (kontekstual) interior berkenaan dengan ruang,
bahan, dinding, struktur jendela, sirkulasi dan utilitas di dalam
sebuah bangunan yang ada.
Kategori-kategori informasi tapak yang terlihat memiliki makna
bagi suatu analisis interior dan tipe informasi yang mungkin
termasuk dalam tiap judul/kepala yang ada. Suatu ruang hipotetik
telah dipergunakan untuk melukiskan informasi tersebut. Ruang
tersebut harus diubah dari sebuah auditorium pengajaran menjadi
pertamanan kantor terbuka.
1. Lokasi
a. Lokasi bangunan di dalam kota atau lingkungan.
b. Posisi ruang di dalam bangunan.
c. Jarak dan waktu tempuh ke ruang-ruang yang
berhubungan di dalam bangunan.
2. Tautan lingkungan
a. Rencana ruang dalam berkaitan dengan ruang-
ruang lain yang berbatasan dan lingkungan

44
sekitar termasuk yang terdapat di atas dan di
bawah ruang.
b. Tata guna yang ada atau yang diproyeksikan
diruang-ruang dilingkungan.
c. Usia dan kondisi-kondisi ruang-ruang
dilingkungan.
d. Pola-pola atau karakteristik arsitektural yang
penting pada ruang-ruang lingkungan (skala,
bahan, warna, penerangan, pola perletakan
pintu/jendela).
e. Restriksi khusus pada perancangan ruang
dikarenakan restriksi rancangan interior
(bangunan historik, dan lain-lain).
f. Pola-pola penerangan sirkulasi.
3. Ukuran
a. Dimensi dari perbatasan ruang (pada denah dan
potongan).
b. Dimensi-dimensi pada tiap jalur penembusan
permanen (ayunan pintu, cara-cara sirkulasi
yang harus tetap dikarenakan pencapaian ke
ruang-ruang lain, dan lain-lain).
c. Luas dalam kaki persegi yang tersedia untuk
proyek dalam ruang tersebut setelah semua
ruang yang tak terpakai telah dikurangkan.
d. Tiap perubahan dimensi yang mungkin pada
ruang dikarenakan proyek-proyek yang lain dari
pada proyek kita sendiri.
4. Peraturan/Ketentuan
a. Pintu keluar, ventilasi, perlindungan kebakaran,
batas-batas penghunian, fasilitas kamar
kecil/WC, dan restriksi-restriksi lain yang

45
ditentukan oleh undang-undang atau peraturan-
peraturan.
b. Persyaratan-persyaratan untuk orang cacat.
5. Keistimewaan-Keistimewaan Fisik Penting dalam
Ruang
a. Anak tangga atau kelandaian pada lantai dan
langit-langit.
b. Kolom-kolom.
c. Saluran pembuangan di lantai.
d. Bahan-bahan yang ada (lantai, dinding, dan
langit-langit).
e. Penerangan (tipe, control dan penempatan).
f. Pintu-pintu ke dalam dan ke luar ruang.
g. Jendela dan jendela atap (skylight).
h. Pola-pola permukaan, geometri, poros
permukaan, dan lain-lain.
i. Perabotan atau perlengkapan yang harus tetap di
dalam ruang (tetap dan dapat dipindahkan).
j. Warna
6. Sirkulasi
a. Pola-pola pergerakan pejalan kaki besar dan
kecil dalam lingkungan dan berbatasan ruang
proyek (di dalam dan di luar).
b. Pola-pola pergerakan besar dan kecil dalam
ruang yang mungkin tetap.
c. Rute-rute menuju tangga kebakaran dan rute-
rute darurat.
d. Tipe-tipe lalu lintas yang memakai rute-rute
sirkulasi (tipe orang-orang, kereta, dan lain-lain).
e. Tempat-tempat masuk dan keluar pada ruang
menuju sirkulasi.

46
f. Skedul, intensitas, dan lamanya lalu lintas
lingkungan.
7. Teknis dan Utilitas
a. Lokasi dan kapasitas dari listrik, telepon, saluran
buangan, gas, dan air.
b. Rute-rute berbagai sistem utilitas dalam
bangunan dan dalam dan berbatasan dengan
ruang kita.
c. Dinding-dinding permanen dan dinding-dinding
yang dapat dipindahkan.
d. Kapasitas struktural dari lantai.
e. Rute-rute dari semua pekerjaan pipa dan lokasi
dari semua alat pengecek suplai dan
pengembalian.
f. Situasi utilitas di atas tiap langit-langit yang
diturunkan pada ruang.
g. Rute-rute sistem pemadam kebakaran dan
lokasi-lokasi keran. Alarm api, panas dan asap.
h. Kapasitas dari ventilasi dan sistem pemanasan
dan pendinginan untuk menyalurkan apa yang
diperlukan untuk penggunaan ruang baru.
8. Panca Indera
a. Pemandangan-pemandangan interior dan
eksterior dari ruang.
b. Pemandangan dari ruang-ruang lingkungan
melalui ruang.
c. Pemandangan-pemandangan ke dalam ruang
dari ruang-ruang yang berdampingan, sirkulasi
atau di luar bangunan.
d. Diperlukan kontrol visual keruang dari ruang
yang berdekatan atau dari ruang ke ruang yang
lain.

47
e. Sejauh mana berbagai pandangan masuk atau
keluar dari ruang adalah kewajiban aset
(pandangan buruk, masalah privasi, dll).
f. Lokasi, generator, jadwal, dan intensitas
kebisingan signifikan disekitar ruang (suara
interior atau eksterior).
g. Lokasi, generator, jadwal dan intensitas bau tak
sedap disekitar ruang luar atau sumber luar.
h. Kapasitas dari ventilasi dan sistem pemanasan
dan pendinginan untuk menyalurkan apa yang
diperlukan untuk penggunaan ruang baru.
9. Manusia
a. Aspek-aspek perilaku dan sosiologik yang ada
pada tata guna ruang lingkungan sekitar
termasuk sirkulasi.
b. Karakteristik-karakteristik dari pemakai utama
ruang-ruang lingkungan sekitar seperti
penduduk, kepadatan, skedul, usia, pola-pola
etnik dan pengharapan-pengharapan.
c. Kegiatan-kegiatan yang ada yang akan tetapi
pada ruang, atau pada ruang-ruang yang
berbatasan yang dapat bermanfaat atau merusak
terhadap fungsi-fungsi yang akan ditampung
dalam ruang atau yang mungkin kita tunjang
atau beresiko.
d. Masalah-masalah yang potensial dalam
bangunan seperti vandalisme dan kegiatan
kejahatan.
e. Postur dan kebijaksanaan pngelolaan dari
bangunan dengan mengindahkan pemakaian
energi, keamanan dan jam-jam pengoperasian.

48
10. Iklim
a. Penempatan-pemanas (thermostat) pada ruang
dalam berkaitan dengan zona-zona pemanasan
dan pendinginan.
b. Tingkat sejauh mana para penghuni ruang dapa
menyetel alat pemanasnya sendiri atau apakah
ini dilakukan untuk keseluruhan bangunan oleh
pengelola
c. Jika suhu diatur oleh pengelola, catatlah
pengaturan-pengaturan pemanasan dan
pendinginannya.
d. Variasi iklim tahunan untuk eksterior dari suhu,
curah hujan, curah salju, kelembapan, angin dan
lintasan matahari.
e. Luas penembusan sinar matahari langsung ke
dalam ruang melalui jendela-jendela dan jendela
atap.
Seperti pada analisis tautan (kontektual) atas suatu tapak
eksterior, daftar tersebut harus dianggap sebuah titik permulaan.
Tergantung kepada proyek khusus, beberapa dari persoalan tersebut
akan keluar sebagai yang tidak relevan dan lainnya, yang tidak
muncul disini akan ditambahkan.
Kita akan membutuhkan untuk memutuskan yang mana dari
persoalan-persoalan tersebut yang merupakan penentu bentuk yang
sangat penting terhadap rencana akhir dari ruang interior dan
pastikan untuk menganalisis persoalan-persoalan tersebut secara
mendalam.

49