Anda di halaman 1dari 17

FATHUL IZAR

Karya: KH. Abdullah Fauzi Pasuruan

   

‫ اشرثان‬ٌٝ‫ٍح ا‬١‫ع‬ٚٚ ،َ‫ جؼً إٌىاح عثثا ٌثماء ٔغً األٔا‬ٞ‫ػض جاسٖ اٌز‬ٚ ٖ‫ جً لذس‬ٞ‫اٌحّذ هلل اٌز‬
‫فا‬ٌٛ‫ا‬ٚ ‫اٌصذق‬ٚ ‫ صاحة اٌؼض‬ٝ‫ذٔا دمحم اٌّصطف‬١‫ ع‬ٍٝ‫اٌغالَ ػ‬ٚ ‫اٌصالج‬ٚ ،َ‫ا‬ٛ‫األل‬ٚ ‫ب‬ٛ‫اٌشؼ‬
‫ أِا تؼذ‬،‫اٌصفا‬ٚ ٜ‫ذ‬ٌٙ‫َ ا‬ٛ‫صحثٗ اٌششف أج‬ٚ ٌٗ‫ آ‬ٍٝ‫ػ‬ٚ:

Kitab ini kecil dan ringkas, tapi tinggi kualitas dan besar manfaatnya.
Memuat beberapa faidah penting tentang pernikahan, meliputi
senggama, rahasia di balik waktu melakukannya, tatacaranya, serta
rahasia dan keunikan penciptaan seorang gadis. Saya menyusun dan
mengutip kitab ini dengan mengacu pada teks kitab karanga nulama
besar. Semoga Allah melimpahkan anugerah dengan mengaruniai
mereka keberuntungan dan keutamaan.

Saya beri judul kitab ini dengan nama “Fathul Izar”, mengupas rahasia di
balik waktu senggama serta rahasia di balik penciptaan seorang gadis.
Kemudian hanya kepada Allah-lah saya memohon, semoga
menjadikannya sebuah kitab yang bermanfaat bagi kami dan kaum
Muslimin. Semoga Allah menjadikannya pula sebagai bekal bagi kami
serta kedua orangtua kami di hari akhirat, dimana harta dan anak tak lagi
berguna kecuali yang datang menghadap Allah dengan hati yang bersih.
(QS. asy-Syu‟ara ayat 88-89).

BAB I: ARTI SEBUAH PERNIKAHAN


Ketahuilah, nikah itu suatu kesunnahan (perbuatan) yang disukai dan
pola hidup yang dianjurkan. Karena dengan nikah terjagalah populasi
keturunan dan lestarilah hubungan antar manusia. Allah Swt. dalam
firmanNya telah menganjurkan nikah:

         

"Maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi, dua, tiga, atau
empat." (QS. an-Nisa‟ ayat 3).

           

  

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Ia menciptakan untukmu


isteri-isteri dari jenismu sendiri supaya kamu cenderung dan merasa
tenteram kepadanya. Dan dijadikanNya di antaramu rasa kasih dan
sayang." (QS. ar-Rum ayat 21).

َّ ٌ‫ا‬ٚ ُُ‫ ِِ ْٕى‬َِٝ ‫ا‬٠َ‫ا اْأل‬ْٛ ‫أَ ْٔ ِى ُح‬َٚ


ْ َ‫ ُُ للاُ ِِ ْٓ ف‬ِٙ ِٕ‫ُ ْغ‬٠ ‫ا فُمَ َشا َء‬ْٛ ُْٔٛ ‫َ ُى‬٠ ْْ ِ‫إِ َِائِىُ ُْ إ‬َٚ ُْ ‫َْٓ ِِ ْٓ ِػثَا ِد ُو‬١‫صا ٌِ ِح‬
.ِٗ ٍِ ‫ع‬

"Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu dan orang-


orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki
dan hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin maka Allah
akan memampukan mereka dengan karuniaNya." (QS. an-Nur ayat 2).

Diantara bentuk 'kekayaan' yang dikaruniakan Allah kepada mereka


ialah, sebelum seorang laki-laki memasuki jalinan pernikahan dia hanya
memiliki dua tangan, dua kaki, dua mata dan sebagainya dari anggota
tubuhnya yang masing-masing hanya sepasang. Namun ketika ia telah
terajut dalam sebuah pernikahan, maka jadilah anggota-anggota tubuh
tersebut menjadi berlipat ganda dengan sebab mendapat tambahan dari
anggota tubuh isterinya.

Tahukah engkau bahwa ketika pengantin wanita bertanya kepada


pengantin pria: “Untuk siapakah tanganmu?” Maka pengantin pria
menjawab: “Untukmu." Dan ketika pengantin wanita bertanya
kepadanya: "Untuk siapakah hidungmu?” Maka dia menjawab:
"Untukmu." Begitupula ketika pengantin wanita bertanya kepadanya:
"Untuk siapa matamu?” Dengan penuh kasih sayang dia menjawab:
"Untukmu."

ِ‫ص ُٓ ٌِ ٍْفَ ْشج‬ َ َ‫جْ فَئَِّٔٗ أَغَط ٌِ ٍْث‬َّٚ َ‫رَض‬١َ ٌ‫ع ِِ ْٕ ُى ُُ ْاٌثَا َءجَ فَ ْا‬
َ ْ‫أَح‬َٚ ‫ص ِش‬ َ َ ‫ب َِ ِٓ ا ْعر‬
َ ‫طا‬ َّ ٌ‫ا َِ ْؼش ََش ا‬٠َ
ِ ‫شثَا‬

Nabi Saw. telah bersabda: “Wahai para pemuda, siapa diantara kalian
yang sudah mampu membiayai pernikahan, hendaklah kalian menikah.
Karena sesungguhnya nikah itu lebih mampu memejamkan pandangan
(dari kemaksiatan) dan lebih menjaga kehormatan."

Yang dikehendaki dengan kata “ba-ah” dalam hadits di atas adalah


nafkah lahir maupun batin. Nabi Saw. juga bersabda:

‫َا َِ ِح‬١‫ ََ ْاٌ ِم‬ْٛ َ٠ َُ َِ ُ ‫ ُِ َىاثِش ِت ُى ُُ اْأل‬ْٝ ِِّٔ‫دَ فَئ‬ُْٚ ‫د‬َٛ ٌ‫دَ ْا‬ْٛ ٌَُٛ ٌ‫ا ْا‬ْٛ ‫ ُج‬َّٚ َ‫ذَض‬

"Nikahilah olehmu wanita-wanita yang produktif (beranak) dan yang


banyak kasih sayangnya kepada suami. Karena sesungguhnya aku akan
berlomba-lomba dengan kalian memperbanyak umat di hari kiamat
kelak." Serta masih banyak lagi ayat dan hadits yang lain.
BAB II: SENGGAMA DAN RAHASIA-RAHASIANYA

Ketahuilah bahwa tujuan utama dari pernikahan adalah untuk mengabdi,


mendekatkan diri kepada Allah Swt., mengikuti sunnah Rasulullah Saw.,
dan menghasilkan keturunan. Karena melalui pernikahan kehidupan
alam ini akan lestari dan teratur. Dan dengan meninggalkannya berarti
sebuah kehancuran dan kemusnahan alam ini.

Hal yang maklum, takkan memanen tanpa menanam benih pada bumi,
kemudian mengolah dan merawatnya melalui teori dan teknik pertanian.
Dan juga perlu waktu beberapa lama hingga buahnya menjadi siap
panen. Begitupula takkan terwujud seorang anak dan keturunan tanpa
terlebih dulu memasukkan sperma suami di dalam indung telur isterinya.
Allah Swt. berfirman:

          

"Wanita-wanita kamu semua adalah ladang bagimu. Maka datangilah


ladangmu itu semaumu dan kerjakanlah olehmu (amal-amal yang baik)
untuk dirimu sendiri." (QS. al-Baqarah ayat 223).

Ayat ini turun ketika kaum Muslimin mengatakan bahwa mereka


menggauli isteri mereka dengan posisi berlutut, berdiri, terlentang, dari
arah depan dan dari arah belakang.

Menanggapi pernyataan kaum Muslimin tersebut kaum Yahudi


menyatakan: “Tidaklah melakukan hubungan semacam itu selain
menyerupai tindakan binatang, sedangkan kami mendatangi mereka
dengan satu macam posisi. Sungguh telah kami temukan ajaran dalam
Taurat bahwa setiap hubungan badan selain posisi isteri terlentang itu
kotor di hadapan Allah."

Lalu turunlah ayat di atas, Allah hendak membantah pernyataan kaum


Yahudi tersebut.

Jadi dalam kandungan ayat ini menunjukkan diperbolehkannya seorang


suami menyetubuhi isterinya dengan cara apapun dan posisi
bagaimanapun yang ia sukai. Baik dengan cara berdiri, duduk atau
terlentang. Dan dari arah manapun suami berkehendak, dari arah atas,
bawah, belakang ataupun dari arah depan. Dan boleh juga
menyetubuhinya pada waktu kapanpun suami menghendaki, siang
ataupun malam hari. Dengan catatan yang dimasuki adalah lubang
vagina.

a. Pengaruh waktu senggama:

1. Barangsiapa menyetubuhi isterinya pada malam Jum‟at, maka anak


yang terlahir akan hafal al-Quran.

2. Barangsiapa menyetubuhi isterinya pada malam Sabtu, maka anak


yang terlahir akan bodoh.

3. Barangsiapa menyetubuhi isterinya pada malam Ahad, maka anak


yang terlahir akan menjadi seorang pencuri atau penganiaya.

4. Barangsiapa yang menyetubuhi isterinya pada malam Senin, maka


anak yang terlahir akan menjadi fakir atau miskin atau ridha dengan
keputusan (takdir) dan ketetapan (qadha) Allah.

5. Barangsiapa menyetubuhi isterinya pada malam Selasa, maka anak


yang terlahir akan menjadi orang yang berbakti kepada orangtua.
6. Barangsiapa menyetubuhi isterinya pada malam Rabu, maka anak
yang terlahir akan cerdas, berpengetahuan dan banyak bersyukur.

7. Barangsiapa menyetubuhi isterinya pada malam Kamis, maka anak


yang terlahir akan menjadi orang yang berhati ikhlas.

8. Barangsiapa menyetubuhi isterinya pada malam Hari Raya, maka anak


yang terlahir akan mempunyai enam jari.

9. Barangsiapa menyetubuhi isterinya sambil bercakap-cakap, maka anak


yang terlahir akan bisu.

10. Barangsiapa menyetubuhi isterinya dalam kegelapan, maka anak


yang terlahir akan menjadi seorang penyihir.

11. Barangsiapa menyetubuhi isterinya dalam terangnya lampu, maka


anak yang terlahir akan berwajah tampan atau cantik.

12. Barangsiapa menyetubuhi isterinya sambil melihat auratnya (vagina),


maka anak yang terlahir akan buta mata atau buta hatinya.

13. Barangsiapa menyetubuhi isterinya di bawah pohon yang biasa


berbuah, maka anak yang terlahir akan terbunuh karena besi, tenggelam
atau keruntuhan pohon.

b. Senggama yang ideal:

Hendaknya bagi seorang suami memperhatikan 4 hal berikut:

1. Memegang kedua tangan isteri

2. Meraba dadanya

3. Mencium kedua pipinya

4. Membaca Basmalah saat hendak memasukkan penis ke dalam vagina.


َ َُِّٗ ُ ‫ْط فَ َىأََّٔ َّا َجا َِ َغ أ‬
‫ْٓ َِ َّشج‬١‫ع ْث ِؼ‬ ِ ١‫ َجرَُٗ ِػ ْٕذَ ْاٌ َح‬ْٚ َ‫َِ ْٓ َجا َِ َغ ص‬

Rasulullah Saw. bersabda: “Siapa yang menyetubuhi isterinya saat ia


menstruasi, maka seolah-olah ia menyetubuhi ibunya sendiri sebanyak
70 kali."

c. Nikmat dunia ada di wanita

Sebagian ulama dimintai komentar tentang seberapa banyak kenikmatan


dunia? Mereka menjawab: “Kenikmatan dunia itu sangat banyak hingga
tak terhitung jumlahnya. Allah Swt. berfirman:

ِ َ‫ا ِٔ ْؼ َّح‬ْٚ ‫ ِإ ْْ ذَؼُذ‬َٚ


ُ ْ‫للا لَ ذُح‬
‫َ٘ا‬ْٛ ‫ص‬

"Jika kamu hendak menghitung nikmat Allah maka kalian takkan


sanggup menghitunya."

Namun kenikmatan terhebat teringkas pada 3 macam kenikmatan; yakni


mencium wanita, menyentuhnya dan memasukkan penis ke dalam
vagina."

‫إِدْخَا ُي اٌزَّ وش‬َٚ ًْ١ِ‫ ذَ ْمث‬َٚ ‫ ٌَ ّْظ‬# ‫َا ثَالَز ذ ُ ْؼرَثَش‬١ْٔ ‫ِٔؼَ ُُ اٌذ‬َٚ

Seorang penyair bersyair dalam bahar Rajaz-nya: “Kenikmatan dunia


ada 3; yakni menyentuh, mencium dan memasukkan penis."
ْٚ ‫ تَاس ْع ذ ُ ُش‬ْٚ ‫اس‬
َ ‫ع َو‬ُْٛ ‫اِث‬ َ ْ‫َا ثَالَز ذُح‬٠ ََْْ ‫ِٔؼَ ُُ اٌذ‬َٚ
ْ ‫ْد َػ‬١ٌِ ْٛ ‫ْه ُو‬١َِ ‫ د‬# ‫ص ُش‬

Penyair lain mengungkapkan: “Kenikmatan dunia itu teringkas dalam 3


hal; menyentuh kulit, mencium dan tidur bersama (senggama)."

BAB III: TATACARA DAN ETIKA SENGGAMA

Imam as-Suyuthi dalam kitab ar-Rahmah berkata: “Ketahuilah bahwa


senggama tidak baik dilakukan kecuali bila seseorang telah bangkit
syahwatnya dan bila keberadaan sperma telah siap difungsikan. Maka
jika demikian, hendaknya sperma segera dikeluarkan layaknya
mengeluarkan semua kotoran atau air besar yang dapat menyebabkan
sakit perut. Karena menahan sperma saat birahi sedang memuncak dapat
menyebabkan bahaya yang besar. Adapun efek samping terlalu sering
melakukan senggama ialah dapat mempercepat penuaan, melemahkan
tenaga dan menyebabkan tumbuhnya uban."

a. Tatacara senggama

Antara lain; isteri tidur terlentang dan suami berada di atasnya. Posisi ini
merupakan cara yang paling baik dalam senggama. Selanjutnya suami
melakukan cumbuan ringan (foreplay) berupa mendekap, mencium, dan
lain sebagainya. Hingga saat sang isteri bangkit birahinya, masukanlah
dzakar suami dan menggesek-gesekkannya pada liang vagina.

Ketika suami mengalami klimaks (ejakulasi), janganlah terburu


mencabut dzakarnya, melainkan menahannya beberapa saat disertai
mendekap isteri dengan mesra. Setelah kondisi tubuh suami sudah
tenang, maka cabutlah dzakar dari vagina isteri dengan mendoyongkan
tubuhnya ke samping kanan. Menurut para ulama, demikian itu upaya
untuk memiliki anak laki-laki.

Selesai bersenggama hendaknya keduanya mengelap alat kelamin


masing-masing dengan dua buah kain, satu untuk suami dan yang lain
untuk isteri. Jangan sampai keduanya menggunakan satu kain karena hal
itu dapat memicu pertengkaran.

Bersenggama yang paling baik adalah senggama yang diiringi dengan


sifat agresif, kerelaan hati dan masih menyisakan syahwat. Sedangkan
senggama yang jelek adalah senggama yang diiringi dengan badan
gemetar, gelisah, anggota badan terasa mati, pingsan, dan istri merasa
kecewa terhadap suami walaupun ia mencintainya. Demikian inilah
keterangan yang sudah mencukupi terhadap tatacara senggama yang
paling benar.

b. Etika senggama

Ada beberapa etika senggama yang harus diperhatikan oleh suami.


Meliputi 3 macam sebelum/saat melakukannya dan 3 macam
sesudahnya.

1. Etika sebelum senggama:

a). Mendahului dengan bercumbu (foreplay) agar hati isteri tidak


tertekan dan mudah melampiaskan hasratnya. Sampai ketika nafasnya
naik turun serta tubuhnya menggeliat dan ia minta dekapan suaminya,
maka rapatkanlah tubuh (suami) ke tubuh isteri.
b). Menjaga etika saat hendak senggama. Maka janganlah menyutubuhi
isteri dengan posisi berlutut, karena hal demikian sangat
memberatkannya. Atau dengan posisi tidur miring karena dapat
menyebabkan sakit pinggang. Dan jangan memposisikan isteri berada di
atasnya, karena dapat mengakibatkan kencing batu. Akan tetapi posisi
senggama yang paling bagus adalah meletakkan isteri dalam posisi
terlentang dengan kepala lebih rendah daripada pantatnya. Dan pantatnya
diganjal dengan bantal serta kedua pahanya diangkat dan dibuka lebar-
lebar. Sementara suami mendatangi isteri dari atas dengan bertumpu
pada sikunya. Posisi inilah yang dipilih oleh para fuqaha dan para dokter.

c). Beretika saat hendak memasukkan dzakar. Yaitu dengan membaca


ta‟awudz dan basmalah. Disamping itu gosok-gosokkan penis di sekitar
vagina, meremas payudara dan hal lainnya yang dapat membangkitkan
syahwat isteri.

2. Etika saat senggama:

a). Senggama dilakukan secara pelan-pelan dan tidak tergesa-gesa


(ritmis).

b). Menahan keluarnya mani (ejakulasi) saat birahi bangkit, menunggu


sampai isteri mengalami inzal (orgasme). Yang demikian dapat
menciptakan rasa cinta di hati.

c). Tidak terburu-buru mencabut dzakar ketika ia merasa isteri akan


keluar mani, karena hal itu dapat melemahkan ketegangan dzakar. Juga
jangan melakukan „azl (mengeluarkan mani di luar vagina) karena hal itu
merugikan pihak isteri.

3. Etika setelah senggama:

a). Meminta isteri tidur miring ke arah kanan agar anak yang dilahirkan
kelak berjenis kelamin laki-laki, insya Allah. Bila isteri tidur miring ke
arah kiri maka anak yang dilahirkan kelak berjenis kelamin perempuan.
Hal ini berdasarkan hasil uji coba riset.
b). Suami membaca dzikir dalam hati sesuai yang diajarkan Nabi, yaitu:

ِ َّ ٌ‫ َخٍَكَ َِِٓ ْا‬ِٞ


َ َٔ ٍََُٗ‫اء تَشَشا فَ َجؼ‬
45 : ْ‫ْشا (اٌفشلا‬٠‫ َواَْ ُستهَ لَ ِذ‬َٚ ‫شا‬ْٙ ‫ص‬َٚ ‫غثا‬ ِ َّ ِ ‫)اَ ٌْ َح ّْذ‬
ْ ‫ُلِل اٌَّز‬

“Segala puji milik Allah yang telah menciptakan manusia dari air, untuk
kemudian menjadikannya keturunan dan mushaharah. Dan adalah
Tuhanmu itu Mahakuasa.” (QS. al-Furqan ayat 54).

c). Berwudhu ketika hendak tidur (dihukumi sunnah) dan membasuh


dzakar bila hendak mengulangi senggama.

Dikutip dari sumber yang dapat dipercaya bahwa, barangsiapa saat


menyetubuhi isterinya didahului dengan membaca basmalah, surat al-
Ikhlas, takbir, tahlil dan membaca:

َُّ ُٙ ٌٍَّ‫ ا‬ْٝ ِ‫ص ٍْث‬


َ ْٓ ِِ ‫ة َِج إِ ْْ وُ ْٕدَ لَذ َّْسخَ أَ ْْ ذ ُ ْخ ِش َج‬ َ ‫َّح‬٠َِ ‫ا رُ ّس‬َٙ ٍْ َ‫ َُّ اجْ ؼ‬ُٙ ٌٍَّ‫ ُِْ ا‬١‫ ِ ْاٌؼَ ِظ‬ٟ
َ ِّ١‫غ‬ ّ ٍِ َ‫تِغ ُِْ للاِ ْاٌؼ‬
ْٝ ِٕ َ ‫غاَْ َِا َسصَ ْلر‬ َ َْ َٟ ‫ش‬ّ ٌ‫ة ا‬ ِ ِّٕ‫ َج‬َٚ َْ‫طا‬ َ ١ْ ‫ش‬
َّ ٌ‫ ا‬ْٝ ِٕ ‫َج ِّٕ ْث‬

Kemudian suami menyuruh isterinya tidur miring ke arah kanan, maka


jika ditakdirkan mengandung isterinya akan melahirkan anak berjenis
kelamin laki-laki dengan izin Allah." Saya telah mengamalkan dzikir
serta teori ini, dan saya pun menemukan kebenarannya tanpa ada
keraguan. Dan hanya dari Allah-lah pertolongan itu. Demikian adalah
penggalan komentar Imam as-Suyuthi.

Sebagian ulama mengatakan: “Barangsiapa menyetubuhi isterinya lalu


ketika merasa akan keluar mani (ejakulasi) ia membaca dzikir:
ُ ١‫ اٌٍَّ ِط‬َٛ ُ٘ َٚ ‫اس‬
‫ ُْش‬١ِ‫ْف اٌْ َخث‬ َ ‫ص‬َ ‫ُذ ِْسنُ اْأل َ ْت‬٠ َٛ ُ٘ َٚ ‫اس‬
ُ ‫ص‬َ ‫ُذ ِْس ُوُٗ اْأل َ ْت‬٠ َ‫ل‬.

Maka jika ditakdirkan mengandung, isterinya akan melahirkan anak


yang mengungguli kedua orangtuanya dalam hal ilmu, sikap dan
amalnya, insya Allah.”

Penulis kitab Hasyiah al-Bujairami 'ala al-Khathib, tepatnya dalam


sebuah faidah, menyatakan: "Saya melihat tulisan Syaikh al-Azraqi yang
diriwayatkan dari Rasulullah Saw., di sana tertulis bahwa seseorang yang
menghendaki isterinya melahirkan anak laki-laki maka hendaknya ia
meletakkan tangannya pada perut isterinya di awal kehamilannya
sembari membaca doa:

‫ رَ َوشا‬ْٟ ٌِ ٍُْٗ َ‫ا ُِ َح َّّذا فَاجْ ؼ‬َٙ ِٕ‫ط‬ َ ُ ‫ أ‬ِِّٟٔ‫ َُّ إ‬ُٙ ٌٍَ‫ ُِْ ا‬١‫اٌش ِح‬
ْ َ‫ ت‬ْٟ ِ‫ َِا ف‬ْٟ ِّّ ‫ع‬ َّ ّٓ
ِ ْ‫اٌشح‬
َّ ِ‫تِ ْغ ُِ للا‬.

Maka kelak anak yang dilahirkan akan berjenis kelamin laki-laki. Insya
Allah mujarab.

BAB IV: DOA-DOA SENGGAMA

ُْ ‫األََ ْٔفُ ِغ ُى‬


ِ ْٛ ُِ ّ‫لَ ِذ‬َٚ

"Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu.” (QS. al-Baqarah ayat
223).
Maksud dari ayat ini adalah, "Carilah pahala yang tersediakan untuk
kamu semua sepertihalnya membaca basmalah dan berniat mendapatkan
anak ketika melakukan senggama." Diriwayatkan bahwa Rasulullah
Saw. bersabda:

َِ ْٛ ٠َ ٌَٝ‫ػ ِمثِ ِٗ ِإ‬ َ َٚ ‫ٌَ ِذ‬َٛ ٌ‫اط رٌَِهَ ْا‬


َ ‫ػذَ ِد‬ َ ‫ٌَذ فٍََُٗ َح‬َٚ ُٖ‫للا ِػ ْٕذَ ْاٌ ِج َّاعِ فَأَذَا‬
ِ َ‫غَٕاخ تِ َؼذَ ِد أ َ ْٔف‬ ِ ُِْ ‫َِ ْٓ لَا َي ِتغ‬
‫َا َِ ِح‬١‫ْاٌ ِم‬

“Siapa membaca basmalah ketika akan melakukan senggama kemudian


dari senggama itu dia dikaruniai seorang anak maka dia memperoleh
pahala sebanyak nafas anak tersebut dan keturunannya sampai hari
kiamat."

َ ٌِِٕ ُْ ‫اس ُو‬


:ُْ ِٙ ِ‫غائ‬ ُ َ١‫اس ُو ّْ ِخ‬
ُ َ١‫ِخ‬

Nabi Saw. juga bersabda: “Manusia yang paling baik diantara kalian
adalah yang paling baik terhadap isterinya.”

Dalam masalah ini para ulama memiliki urut-urutan yang mengagumkan,


yaitu:

1. Ketika suami akan menyetubuhi isteri hendaknya lebih dulu membaca


salam:

ّٓ
ِ ْ‫اٌشح‬ َ َ‫َا ت‬٠ ُْ ُ‫ى‬١ْ ٍَ‫غالَ َُ َػ‬
َّ ‫اب‬ َّ ٌَ‫ا‬

Lantas isteri menjawab:

ِْٓ ١ِِ َ ‫ِّذَ اْأل‬١‫ع‬ َّ ٌ‫ ُى ُُ ا‬١ْ ٍَ‫ َػ‬َٚ


َ ‫َا‬٠ َُ َ‫غال‬
2. Selanjutnya suami meraih kedua tangan isterinya seraya membaca:

‫ْدُ تِا هللِ َستَّا‬١‫ظ‬


ِ ‫َس‬

3. Kemudian ia meremas-remas kedua payudara isterinya seraya


membaca dalam hati:

َ ‫ أ ِي‬ٍَٝ‫ َػ‬َٚ ‫ّ ِذَٔا ُِ َح َّّذ‬١ِ ‫ع‬


‫ِّ ِذَٔا ُِ َح َّّذ‬١‫ع‬ َ َُّ ُٙ ٌٍَّ‫أ‬
َ ٍَٝ‫ص ًِّ َػ‬

4. Dilanjutkan mengecup kening isterinya seraya membaca dalam hati:

‫َشَا ُء‬٠ ْٓ َِ ٍَٝ‫ َس َػ‬ْٛ ٌٕ‫ذَ ا‬ِٙ ‫ش‬


َ ‫س‬ْٛ ُٔ ٍَٝ‫ ُس َػ‬ْٛ ُٔ ‫ْف اَهلل‬
ُ ١‫َاٌَ ِط‬٠

5. Setelah itu suami memiringkan kepalai steri ke kiri sambil mencium


dan meniup telinga sebelah kanan, dilanjutkan memiringkan kepala isteri
ke kanan sambil mencium dan meniup telinga yang sebelah kiri, seraya
membaca dalam hati:

َ َُ ‫ع ّْ ِؼ ِه للا‬
‫ْغ‬١ِّ ‫ع‬ َ ْٝ ‫ِف‬

6. Sesudah itu kecup kedua mata isteri mulai dari mata sebelah kanan
hingga mata sebelah kiri seraya membaca dalam hati:

‫ْٕا‬١ِ‫ َُّ إَِّٔا فَرَحْ َٕا ٌَهَ فَرْحا ُِث‬ُٙ ٌٍَّ‫ا‬

7. Selanjutnya suami mencium kedua pipi isteri dimulai pipi sebelah


kanan sampai pipi sebelah kiri seraya membaca dalam hati:

ُ‫َا اَهلل‬٠ ُُ ١ْ ‫َا َس ِح‬٠ ّٓ


ُ ْ‫َا َسح‬٠ ُُ ٠ْ ‫َا َو ِش‬٠

8. Kemudian mengecup hidungnya seraya membaca dalam hati:


ُْ١‫ َجَّٕحُ َٔ ِؼ‬َّٚ ْ‫ َحا‬٠ْ ‫ َس‬َٚ ‫ح‬ْٚ ‫فَ َش‬

9. Sesudah itu kecup pundak isteri seraya membaca dalam hati:

ِ‫ َُْ اْأل َ ِخ َشج‬١‫َا َس ِح‬٠ ‫َا‬١ْٔ ‫اسحْ َّٓ اٌذ‬


َ َ٠

10. Setelah itu kecup leher isteri seraya membaca dalam hati:

ِ ‫اْأل َ ْس‬َٚ ‫خ‬


‫ض‬ َّ ٌ‫ ُس ا‬ْٛ ُٔ ُ‫اَهلل‬
ِ ‫ا‬َٛ َّ ‫غ‬

11. Selanjutnya kecup dagu isteri seraya membaca dalam hati:

َّ ٌ‫اْ ِِ ْٓ ِػثَادِنَ ا‬
َْٓ١‫صا ٌِ ِح‬ ِ َّ ٠ْ ‫اإل‬
ِ ‫ة‬ ِ ١ْ ِ‫ ُس َحث‬ْٛ ُٔ

12. Kemudian kecup kedua telapak tangan isteri dimulai sebelah kanan
hingga yang sebelah kiri seraya membaca dalam hati:

َٜ‫ب ْاٌفُ َؤادُ َِا َسأ‬


َ َ‫َِا َوز‬

13. Berikutnya kecup bagian di antara kedua payudara isteri seraya


membaca dalam hati:

ْٟ ِّٕ ِِ ‫ْهَ َِ َحثَّح‬١ٍَ‫ْدُ َػ‬١َ‫أَ ٌْم‬َٚ

14. Dan kemudian kecup dada isteri bagian kiri tepat pada hatinya seraya
membaca dalam hati:

َُ ْٛ ١َ‫َا ل‬٠ ٟ‫َا َح‬٠


BAB V: RAHASIA DI BALIK PENCIPTAAN KEPERAWANAN

Para ahli firasat dan ilmuwan ahli kewanitaan mengataka bahwa:

* Bila mulut seorang perawan lebar, pertanda vaginanya juga lebar.

* Bila mulutnya kecil, pertanda vaginanya juga kecil.

Seorang penyair dalam bahar Thawil-nya menyatakan:

‫ا‬َٙ ‫ا ِشؼَاس ٌِفَ ْش ِج‬َٙ ِّ َ‫ َواَْ ٌِف‬َٚ ‫ا‬َٙ ‫ ُج‬ْٚ ‫د فُ ُش‬ َ ‫ظاقَ فَ ُُ ْاٌثِ ْى ِش‬
ْ َ‫ظال‬ َ ‫إِرَا‬

“Bila seorang perawan sempit mulutnya, maka sempit pula vaginanya.


Hal itu karena mulut seorang perawan menjadi pertanda dari bentuk dan
keadaan vaginanya.”

* Bila kedua bibir perawan tebal, pertanda kedua bibir vaginanya tebal.

* Bila kedua bibirnya tipis, pertanda kedua bibir vaginanya juga tipis.

* Bila bibir mulut bagian bawah tipis, pertanda vaginanya kecil.

* Bila mulut/lidahnya sangat merah, pertanda vaginanya kering.

* Bila mancung hidungnya, pertanda tidak begitu berhasrat untuk


senggama.

* Bila dagunya panjang, pertanda vaginanya menganga dan sedikit


bulunya.

* Bila alisnya tipis, pertanda posisi vaginanya agak ke dalam.

* Bila raut wajahnya lebar dan lehernya besar, pertanda pantatnya kecil
dan vaginanya besar serta sempit.
* Bila telapak kaki bagian luar serta badannya berlemak (gemuk),
pertanda besar vaginanya.

* Bila kedua betisnya tebal dan keras, pertanda birahinya besar dan tidak
sabaran untuk senggama.

* Bila matanya tampak bercelak dan lebar, pertanda sempit rahimnya.

* Bila pantatnya kecil serta bahunya besar, pertanda besar vaginanya.

Para ulama bijak bestari mengatakan: “Barangsiapa menjumpai 10


karakter pada diri seorang wanita, maka janganlah menikahinya. Yaitu;
1). Wanita yang sangat pendek tubuhnya. 2). Wanita yang berambut
pendek. 3). Wanita yang sangat tinggi postur tubuhnya. 4). Wanita yang
cerewet. 5). Wanita yang tidak produktif (mandul). 6). Wanita yang
bengis (judes). 7). Wanita yang berlebihan dan boros. 8). Wanita yang
bertangan panjang (Jawa: cluthak). 9). Wanita yang suka berhias ketika
keluar rumah. 10). Wanita janda sebab dicerai suaminya."

Sampailah kita di penghujung, dimana Allah telah memberikan


kemudahan kepada kami dalam menyusunnya. Segala puji dan
sanjungan tersembahkan atasNya dalam segala kondisi. Shalawat serta
salam yang teristimewa semoga tetap tercurahlimpahkan atas junjungan
kita Nabi Agung Muhammad Saw. Semoga tercurah puka kepada orang
yang mengikutinya, yakni para sahabat dan keluarganya. Semoga Allah
meratakan kemanfaatan kitab kecil ini pada kaum pria maupun wanita.
Aamin.

Akhirnya kami hanya bisa berpesan sebagaimana kata seorang penyair:


"Aku kan mengalami mati, namun tulisanku kan tetap. Kuberharap
kiranya orang yang membaca tulisanku ini mau mendoakanku.”
(Sya'roni As-Samfuriy, Mabes Jones Cikarang Utara Jum'at 09 Oktober
2015).