Anda di halaman 1dari 18

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan yang memiliki

wilayah teritorial luas, memiliki banyak gunung api aktif, terletak diantara

dua lempengan geologi besar yang selalu bergerak, memiliki dua musim

yaitu musim penghujan dan musim kemarau. Kondisi tersebut mempunyai

sisi positif yaitu membawa keuntungan seperti tanah yang subur, sumber

daya manusia melimpah, sumber daya air yang cukup dan kekayaan

budaya, tetapi di samping itu juga mempunyai sisi negatif yang membawa

kerugian seperti seringnya terjadi bencana gunung meletus, gempa bumi,

tanah longsor, banjir, kebakaran hutan, gelombang tsunami, serta banjir

rob (pasang).

Fenomena banjir rob terjadi hampir sepanjang tahun baik pada

musim kemarau maupun penghujan di sepanjang pesisir pantai. Hal ini

menunjukan terjadinya banjir rob tidak hanya dipengaruhi oleh tingkat

intensitas curah hujan tetapi lebih dipengaruhi kepada gaya gravitasi

bulan. Gaya gravitasi bulan inilah yang menyebabkan terjadinya pasang

surut air laut. Ketika bulan sedang purnama, maka saat itulah terjadi

pasang maksimal yang akan menyebabkan terjadinya banjir rob. Selain itu

juga karena pengaruh angin laut, angin yang dimaksud disini adalah angin

badai yang dapat menyebabkan air laut membanjiri daratan di sekitarnya.


2

Jakarta Utara merupakan bagian dari ibukota yang mengalami

perkembangan wilayah yang pesat setiap tahunnya. Perkembangan serta

pembangunan infrastruktur yang berbasis kota megapolitan menyebabkan

masyarakat berbondong-bondong untuk melakukan urbanisasi sehingga

terjadi kepadatan penduduk yang ekstrim diibukota yang ditandai dengan

meningkatnya pembangunan gedung-gedung bertingkat serta

meningkatnya aktivitas penduduk, yang mana secara tidak langsung hal

ini menyebabkan meningkatnya kebutuhan akan air bersih dan memicu

pengambilan air tanah secara besar-besaran.

Bencana banjir merupakan permasalahan umum terutama didaerah

padat penduduk pada kawasan perkotaan, daerah tepi pantai atau pesisir

dan daerah cekungan. Masalah banjir bukanlah masalah baru bagi Jakarta

Utara, tetapi merupakan masalah besar karena sudah terjadi sejak lama dan

pada beberapa tahun terakhir mulai merambah ke tengah kota. Hal tersebut

terjadi karena adanya faktor alam dan perilaku masyarakat terhadap alam

dan lingkungan.

B. Rumusan Masalah

Adapun rumusan makalah ini yaitu sebagai berikut:

1. Apa yang dimaksud dengan banjir?

2. Apa saja penyebab terjadinya banjir?

3. Apa saja dampak yang di timbulkan banjir?

4. Bagaimana cara penanggulangan banjir?

5. Bagaimana bencana banjir rob di Jakarta utara?


3

6. Bagaimana langkah-langkah mitigasi bencana banjir?

7. Bagaimana peran petugas kesehatan masyarakat dalam mengatasi

bencana?

C. Tujuan

Berdasarkan permasalahan diatas, maka tujuan dari penyusunan

makalah ini yaitu:

1. Mengetahui apa pengertian dari banjir;

2. Mengetahui apa saja penyebab terjadinya banjir;

3. Mengetahui dampak yang ditimbulkan oleh banjir;

4. Mengetahui bagaimana cara penanggulangan banjir;

5. Mengetahui bagaimana bencana banjir rob di Jakarta Utara;

6. Mengetahui langkah-langkah mitigasi banjir;

7. Mengetahui peran petugas kesehatan masyarakat dalam mengatasi

bencana;

D. Manfaat

Manfaat yang diperoleh dari penulisan makalah ini yaitu sebagai

berikut:

1. Membantu mahasiswa untuk mengetahui cara mitigasi bencana banjir;

2. Memaparkan peran penting mitigasi bencana terhadap rantai kehidupan

masyarakat;

3. Menjadi sarana pengetahuan tentang cara mitigasi bencana banjir bagi

mahasiswa.
4

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Banjir

Banjir merupakan peristiwa yang terjadi ketika terdapat suatu aliran

air yang berlebihan merendam daratan. Banjir adalah kondisi air yang

menenggelamkan atau mengenangi suatu area atau tempat yang luas.

Banjir juga dapat mengacu terendamnya daratan yang semula tidak

terendam air menjadi terendam akibat volume air yang bertambah seperti

sungai atau danau yang meluap, hujan yang terlalu lama, tidak adanya

saluran pembuangan sampah yang membuat air tertahan, tidak adanya

pohon penyerap air dan lain sebagainya.

Banjir adalah bencana akibat curah hujan yang tinggi dengan tidak

diimbangi dengan saluran pembuangan air yang memadai sehingga

merendam wilayah-wilayah yang tidak dikehendaki oleh orang-orang

yang ada di sana. Banjir bisa juga terjadi karena jebolnya sistem aliran air

yang ada sehingga daerah yang rendah terkena dampak kiriman banjir.

B. Penyebab Terjadinya Banjir

Penyebab terjadinya banjir antara lain sebagai berikut:

1. Tingginya curah hujan di hulu sungai;

2. Hutan di hulu sungai banyak di tebangi, padahal hutan berfungsi sebagai

unsur hidrolis (penyimpan air) dan orologis (pengatur air) di musim

kemarau;

3. Berubahnya fungsi hutan dari hutan lindung menjadi hutan produksi;


5

4. Beralihnya fungsi hulu sungai dari kawasan resapan air menjadi kawasan

pemukiman;

5. Beralinya fungsi hulu dan aliran sungai menjadi areal perkebunan dan

pertanian;

6. Menyempitnya aliarn sungai akibat pembanguna yang bertambah ke arah

bagian tengah sungai;

7. ungai yang semakin dangkal akibat kuatnya erosi yan di bawa oleh sungai

berupa material lumpur, pasir, kerikil, dan kayu hasil penebangan liar;

8. Masyarakat banyak yang membuang sampah di sungai sehingga air sungai

terhambat dan terhalang oleh sampah yang menumpuk di sungai.

C. Dampak Banjir

Adapun dampak yang ditimbulkan oleh banjir yaitu sebagai berikut:

1. Primer

Kerusakan fisik: Mampu merusak berbagai jenis struktur, termasuk

jembatan, mobil, bangunan, sistem selokan bawah tanah, jalan raya, dan

kanal.

2. Sekunder

a. Persediaan air: Kontaminasi air → Air minum bersih mulai langka;

b. Penyakit: Kondisi tidak higienis → Penyebaran penyakit bawaan air;

c. Pertanian dan persediaan makanan → Kelangkaan hasil tani

disebabkan oleh kegagalan panen;

d. Pepohonan → Spesies yang tidak sanggup akan mati karena tidak bisa

bernapas;
6

e. Transportasi → Jalur transportasi rusak, sulit mengirimkan bantuan

darurat kepada orang-orang yang membutuhkan.

3. Dampak tersier atau jangka panjang

Ekonomi: Kesulitan ekonomi karena kerusakan pemukiman yang

terjadi akibat banjir; dalam sector pariwisata, menurunnya minat

wiasatawan; biaya pembangunan kembali; kelangkaan makanan yang

mendorong kenaikan harga, dan lain-lain.

Dari berbagai dampak negatif yang ditimbulkan, ternyata banjir

(banjir air skala kecil) juga dapat membawa banyak keuntungan, seperti

mengisi kembali air tanah, menyuburkan serta memberikan nutrisi kepada

tanah. Air banjir menyediakan air yang cukup di kawasan kering dan semi-

kering yang curah hujannya tidak menentu sepanjang tahun. Air banjir

tawar memainkan.

peran penting dalam menyeimbangkan ekosistem di koridor sungai

dan merupakan faktor utama dalam penyeimbangan keragaman makhluk

hidup di dataran. Banjir menambahkan banyak nutrisi untuk danau dan

sungai yang semakin memajukan industri perikanan pada tahun-tahun

mendatang, selain itu juga karena kecocokan dataran banjir untuk

pengembangbiakan ikan (sedikit predasi dan banyak nutrisi)

D. Penanggulangan Banjir

Penyelenggaraan penanggulangan bencana terdiri atas tiga tahap

yang meliputi tahap pra bencana, tahap tanggap darurat dan tahap pasca

bencana.
7

Pelaksanaan kegiatan pada setiap tahap menganut prinsip-prinsip

sebagai berikut:

1. Tahap pra bencana

Dalam tahap pra bencana kegiatan mitigasi bencana dilakukan

secara konsisten dan berkelanjutan dalam bentuk penegakan

hukum/peraturan pemerintah pusat dan daerah dalam pembangunan fisik

di lapangan yang bertujuan untuk mengurangi dampak kerugian yang

terjadi bila ada bencana seperti dengan mematuhi rencana tata ruang dan

tata bangunan yang telah ditetapkan. Kesiapsiagaan dilakukan untuk

memastikan upaya yang cepat dan tepat yang perlu ditempuh dalam

menghadapi situasi darurat.

2. Tahap tanggap darurat

Dalam tahap tanggap darurat kegiatan mitigasi bencana, dukungan

yang diberikan dalam kegiatan evakuasi korban bencana adalah

penyediaan dan pengoperasian peralatan yang diperlukan untuk

mendukung dan memberikan akses bagi pelaksanaan kegiatan pencarian

dan evakuasi korban bencana beserta harta bendanya di lokasi dan keluar

dari lokasi bencana. Pelaksanaan kegiatan tanggap darurat utamanya

dilakukan untuk memulihkan kondisi dan fungsi prasarana dan sarana

yang rusak akibat bencana yang bersifat darurat/sementara namun harus

mampu mencapai tingkat pelayanan minimal yang dibutuhkan, dan

menyediakan berbagai sarana yang diperlukan bagi perawatan dan

penampungan sementara para pengungsi korban bencana.


8

3. Tahap paska bencana

Dalam tahap pasca bencana kegiatan mitigasi bencana, kegiatan

rehabilitasi da rekonstruksi yang dilaksanakan harus diupayakan untuk

melibatkan peran serta masyarakat. Bantuan dari pemerintah diutamakan

berupa stimulan yang diharapkan akan dapat mendorong tumbuhnya

keswadayaan masyarakat. Pekerjaan rehabilitasi dan rekonstruksi

diutamakan bagi prasarana dan sarana serta rumah bagi masyarakat yang

tidak mampu dengan pendekatan tridaya dalam pelaksanaannya

(permukiman).

E. Banjir Rob di Jakarta Utara

Pesisir Jakarta Utara merupakan teluk yang landai. Kelandaian dasar

laut ini lama-kelamaan membentuk endapan-endapan yang menghambat

aliran air sungai menuju laut. Arus pasang kemudian merambat di daerah

pantai yang landai dan membuat genangan di wilayah pesisir. Sehingga

pengaruh inilah yang membuat pesisir Jakarta Utara selalu terkena banjir

rob (pasang) setiap tahunnya.

Selain karena faktor tersebut, banjir rob dapat terjadi karena

perubahan tata guna lahan di pantai. Segala aktivitas manusia di daerah

dataran dilakukan untuk memenuhi kebutuhan serta kemakmuran.

Pembangunan infrastruktur terus dikembangkan baik infrastruktur

transportasi, permukiman, perumahan, komunikasi, sistem keairan dan

lain-lain.
9

Konsekuensi dari perkembangan infrastruktur adalah perubahan tata

guna lahan dari kondisi alam seperti hutan, tanaman bakau dan tanaman

lainnya menjadi kondisi buatan manusia untuk pemenuhan kebutuhan

hidupnya. Perubahan tata guna lahan lebih cenderung merubah saja tanpa

memperhitungkan dampaknya maka salah satu kerugian nyata adalah

kerugian banjir yang terus meningkat.

Kawasan pesisir utara Jakarta merupakan daerah yang rentan

terhadap perubahan garis pantai. Pengaruh perubahan tata guna lahan dan

fenomena kenaikan muka laut yang mengakibatkan perubahan garis

pantai. Akibat perubahan garis pantai ini sering terjadi bencana di wilayah

pesisir, yang salah satunya adalah kejadian banjir rob (pasang). Banjir rob

(pasang) terjadi pada saat kondisi pasang maksimum/tertinggi (High

Water Level) menggenangi daerah-daerah yang lebih rendah dari muka

laut rata-rata (mean sea level). Limpasan air laut dengan bantuan gaya

gravitasi akan mengalir menuju tempat-tempat rendah, kemudian akan

menggenangi daerah-daerah tersebut.

Jakarta Utara dengan penduduk sekitar 1,4 juta jiwa merupakan

bagian dari ibukota negara Indonesia yang letaknya sangat strategis

sebagai simpul transportasi regional. Sehingga Jakarta Utara mempunyai

kelengkapan sarana prasarana fisik yang dapat meningkatkan

pertumbuhan ekonomi. Hal tersebut mendorong pertumbuhan dan

perkembangan kota berjalan dengan cepat. Seiring dengan laju

pembangunan Jakarta Utara, Pertumbuhan dan perkembangan kota


10

menyebabkan perubahan pada kondisi fisik kota, yaitu perubahan guna

lahan. Hal itu tentu saja menimbulkan permasalahan tersendiri pada

Jakarta Utara. Semakin besar suatu kota maka semakin besar atau komplek

permasalahan yang ditimbulkan dan dihadapinya. Jakarta Utara dalam

beberapa tahun terakhir ini menghadapi permasalahan yang cukup sulit,

yaitu banjir.

Proses terjadinya banjir dikarenakan oleh faktor antroposentrik,

faktor alam dan faktor teknis. Faktor antroposentrik adalah aktivitas dan

perilaku manusia yang cenderung mengakibatkan luasan banjir semakin

meningkatnya. Beberapa faktor antroposentrik yang juga merupakan

faktor non teknis penyebab banjir pada Jakarta Utara, yaitu pembangunan

yang tidak berwawasan lingkungan, misalnya terjadinya perubahan tata

guna lahan pada daerah–daerah lindung seperti daerah perbukitan dan

daerah pegunungan sehingga menimbulkan problem peningkatan run–off

dan banjir kiriman. Sedangkan pembangunan ke arah pantai dengan

reklamasi menyebabkan luasan rawa menjadi berkurang sehingga

mengakibatkan luasan tampungan air sementara juga berkurang.

Perkembangan lahan terbangun suatu kota diakibatkan oleh jumlah

penduduk dan kegiatan-kegiatan kota seperti perumahan, perkantoran,

perdagangan, perindustrian dan lain-lain sehingga meningkatkan

kebutuhan terhadap air tanah. Kedua fenomena tersebut menimbulkan

kecenderungan perubahan daya dukung sumber daya air tanah, sedangkan

di pihak lain terjadi penurunan volume/debit pengisian kembali air tanah.


11

Selain itu pengambilan air tanah secara besar-besaran tanpa diimbangi

dengan pengisian kembali air tanah yang seimbang menyebabkan

penurunan muka air tanah. Penurunan muka air tanah akibat pemompaan

air tanah yang berlebihan tanpa memperhatikan kemampuan pengisian

kembali ini dapat menyebabkan amblesnya permukaan tanah dan intruisi

air laut (Asdak, 1995: 243,249). Terjadinya penurunan muka tanah ini

mengakibatkan permukaan air laut lebih tinggi dari permukaan tanah,

kejadian ini dikenal dengan banjir pasang air laut (rob).

Disamping itu perilaku dan aktivitas manusia yang menghasilkan

gas buang karbondioksida (CO2) yang bersumber dari pembakaran bahan

bakar fosil dan chloroflourocarbon (CFC) dari kulkas, sprayer kemasan

kaleng serta AC dapat mengakibatkan terjadinya penipisan pada lapisan

ozon, karena kedua gas buang itu mengeluarkan atom yang dapat merusak

molekul ozon di atmosfer. Sehingga terjadi fenomena perubahan iklim

yang ekstrim. Lapisan ozon merupakan pelindung bumi dari pengaruh

sinar matahari sehingga bila lapisan ini menipis maka akan terjadi

pemanasan global yang ditandai dengan meningkatnya intensitas cahaya

matahari sehingga terjadi peningkatan suhu di bumi yang menyebabkan

lapisan es di Kutub Utara dan di Antartika mencair. Akibatnya, permukaan

air laut global naik volumenya. naiknya permukaan air laut menyebabkan

sebagian pulau dan tempat rendah di permukaan bumi terendam (Suara

Merdeka, 2011).
12

F. Mitigasi Bencana Banjir

Mitigasi bencana merupakan serangkaian upaya untuk mengurangi

risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan

peningkatan. kemampuan menghadapi ancaman bencana sesuai dengan

Undang-undang No. 24 Tahun 2007 tentang penanggulangan bencana.

Pengelolaan bencana alam seperti banjir rob dapat dilakukan dengan

tindakan mitigasi. Tindakan mitigasi memiliki 2 sifat, yaitu mitigasi pasif

serta mitigasi aktif. Mitigasi pasif lebih cenderung bersifat non fisik,

contohnya kerangka hukum/perundangan, insentif-disinsentif, pendidikan

dan pelatihan, peningkatan kesadaran masyarakat, Rencana Tata Ruang,

pengembangan kelembagaan, dan lain-lain. Sedangkan mitigasi aktif,

merupakan suatu upaya yang sifatnya fisik, seperti pembuatan bangunan

waduk, tanggul, perkuatan struktur bangunan.

Mitigasi bencana banjir dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu

mitigasi sebelum, saat dan sesudah banjir.

1. Mitigasi sebelum terjadi banjir

Ada beberapa hal yang harus kita lakukan sebelum terjadinya

bencana banjir sebagai tahap kesiap-siagaan, diantaranya :

a. Melatih diri dan anggota keluarga hal-hal yang harus dilakukan

apabila terjadi bencana banjir;

b. Mendiskusikan dengan semua anggota keluarga tempat di mana

anggota keluarga akan berkumpul usai bencana terjadi;


13

c. Mempersiapkan tas siaga bencana yang berisi keperluan yang

dibutuhkan seperti: Makanan kering seperti biskuit, air minum, kotak

kecil berisi obat-obatan penting, lampu senter dan baterai cadangan,

Lilin dan korek api, kain sarung, satu pasang pakaian dan jas hujan,

surat berharga, fotokopi tanda pengenal yang dimasukkan kantong

plastik, serta nomor-nomor telepon penting.

Kegiatan yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko banjir:

1) Buat sumur resapan bila memungkinkan;

2) Tanam lebih banyak pohon besar;

3) Membentuk kelompok masyarakat pengendali banjir;

4) Membangun atau menetapkan lokasi dan jalur evakuasi bila terjadi

banjir;

5) Membangun sistem peringatan dini banjir;

6) Menjaga kebersihan saluran air dan limbah;

7) Memindahkan tempat hunian ke daerah bebas banjir atau tinggikan

bangunan rumah hingga batas ketinggian banjir jika memungkinkan;

8) Mendukung upaya pembuatan kanal atau saluran dan bangunan;

9) Pengendali banjir dan lokasi evakuasi;

10) Bekerjasama dengan masyarakat di luar daerah banjir untuk menjaga

daerah resapan air.

2. Mitigasi saat terjadi banjir

Saat terjadinya banjir ada beberapa hal yang perlu kita waspadai atau

perhatikan yaitu:
14

a. Jangan panik;

b. Pada saat terjadi bencana banjir, warga yang berada di daerah rawan

bencana banjir diminta memantau perkembangan cuaca, bila hujan

terus terjadi tidak henti-hentinya, diimbau waspada dan berhati- hati

untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan;

c. Pada saat dan setelah bencana terjadi, berbagai aktivitas kesehatan

harus dilakukan untuk mengatasi masalah kesehatan para korban serta

mencegah memburuknya derajat kesehatan masyarakat yang terkena

bencana. Pada tahapan tanggap darurat, energi yang cukup besar

biasanya dicurahkan untuk evakuasi korban;

d. Ketika melihat air datang, Jauhi secepat mungkin daerah banjir. segera

selamatkan diri dengan berlari secepat mungkin menuju tempat yang

tinggi;

e. Apabila kamu terjebak dalam rumah atau bangunan, raih benda yang

bisa mengapung sebisanya;

f. Dengarkan jika ada informasi darurat tentang banjir;

g. Hati-hati dengan listrik, matikan peralatan listrik atau sumber listrik;

h. Selamatkan barang-barang berharga dan dokumen penting sehingga

tidak rusak atau hilang terbawa banjir;

i. Pantau kondisi ketinggian air setiap saat sehingga bisa menjadi dasar

untuk tindakan selanjutnya;

j. Ikut mendirikan tenda pengungsian, pembuatan dapur umum;

k. Terlibat dalam pendistribusian bantuan;


15

l. Mengusulkan untuk mendirikan pos kesehatan.

3. Mitigasi sesudah terjadi banjir

Beberapa tindakan yang dapat dilakukan sesudah terjadi bencana

banjir antara lain:

a. Pemberian bantuan misalnya tempat perlindungan darurat bagi

mereka yang kehilangan tempat tinggalnya;

b. Membersihkan tempat tinggal dan lingkungan rumah;

c. Terlibat dalam perbaikan jamban dan saluran pembuangan air limbah

(SPAL);

d. Pemberian bantuan yang meliputi kesehatan lingkungan, dan

pemberantasan penyakit, pelayanan kesehatan serta distribusi logistik

kesehatan dan bahan makanan;

e. Menjaga agar sistem pembuangan limbah dan air kotor agar tetap

bekerja pada saat terjadi banjir;

f. Menjauhi kabel atau instalansi listrik lainnya;

g. Menghindari memasuki wilayah yang rusak kecuali dinyatakan aman

misal bangunan yang rusak atau pohon yang miring;

h. Memeriksa dan menolong diri sendiri kemudian menolong orang di

dekat kamu yang memerlukan bantuan;

i. Mencari anggota keluarga;

j. Jika keadaan sudah aman, masuk rumah dengan hati-hati, jangan

menyalakan listrik kecuali telah dinyatakan aman;

k. Membersihkan lumpur;
16

l. Periksa persediaan makanan dan air minum. Jangan minum air dari

sumur terbuka karena sudah terkontaminasi. Makanan yang telah

terkena air banjir harus dibuang karena tidak baik untuk kesehatan.

G. Peran Petugas Kesehatan Masyarakat Dalam Mengatasi Bencana

Adapun peran petugas kesehatan masyarakat dalam mengatasi

bencana yaitu sebagai berikut:

1. Memerhatikan gizi masyarakat yang terkena bencana;

2. Memerhatikan kualitas air;

3. Sanitasi harus diperhatikan ditempat lingkungan apakah ada kamar mandi

higienis atau tidak ditempat pengungsiannya;

4. Pencegahan KLB misal E.colli melebihi nilai ambang batas maka yang

terjadi adalah diare;


17

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Banjir adalah bencana akibat curah hujan yang tinggi dengan tidak

diimbangi dengan saluran pembuangan air yang memadai sehingga

merendam wilayah-wilayah yang tidak dikehendaki oleh orang-orang

yang ada di sana.

Proses terjadinya banjir dikarenakan oleh faktor antroposentrik,

faktor alam dan faktor teknis. Faktor antroposentrik adalah aktivitas dan

perilaku manusia yang cenderung mengakibatkan luasan banjir semakin

meningkatnya. Beberapa faktor antroposentrik yang juga merupakan

faktor non teknis penyebab banjir pada Jakarta Utara, yaitu pembangunan

yang tidak berwawasan lingkungan, misalnya terjadinya perubahan tata

guna lahan pada daerah–daerah lindung seperti daerah perbukitan dan

daerah pegunungan sehingga menimbulkan problem peningkatan run–off

dan banjir kiriman.

B. Saran

Sebaiknya seluruh warga membuat musyawarah dalam

penanganganan masalah banjir seperti tindakan kesiap siagaan warga

terhadap banjir datang, tindakan yang seharusnya dilakukan disetiap

rumah dalam mengatasi banjir datang, penyuluhan tentang kegiatan yang

dapat mengurangi resiko banjir, tindakan saat terjadi banjir dan setelah

banjir kepada seluruh warga jakarta.


18

DAFTAR PUSTAKA

Pedoman Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana. Prasarana sarana


ke-pu-an Kementerian Pekerjaan Umum

Rangga, C.K. dan Supriharjo, R.D. 2011. Mitigasi Bencana Banjir Rob di
Jakarta Utara. Jurnal Teknik Pomits. 2 (I): 25-30

Undang-undang No. 24 Tahun 2007 tentang penanggulangan bencana

Yusuf, Yasin. 2005. Anatomi Banjir Kota Pantai. Surakarta: Pustaka


Cakra Surakarta