Anda di halaman 1dari 7

IDENTITAS KELOMPOK REVIEW

Arinda eka muliani (K1A016006)


Vera Fitriana (K1A016052)
Intan ningtyas sariasih (K1A016024)
L. Mulyawan C. (K1A016030)
Ida Neni Apriani (K1A016022)

IDENTITAS JURNAL
Judul : Ekstraksi dan Identifikasi Senyawa Antimikroba Herba Meniran
(Phyllanthus niruri L.)
Penulis : Wibowo Mangunwardoyo1, Eni Cahyaningsih , Tepy Usia
Tempat Terbit : Universitas Indonesia
Nama Jurnal : Jurnal Ilmu Kefarmasian Indonesia
Waktu penerbitan : September 2009
Halaman : 57-63
Volume :7
Nomor :2

ABSTRAK

Pada bagian ini penulis hanya memaparkan tentang metode yang digunakan yakni
ekstraksi dan hasil dari penelitiannya yakni Tanaman Phyllanthus niruri L. diekstraksi
menggunakan etanol 96%, etilasetat dan n-heksana.Rendemen masing-masing 49,25% (untuk
ekstrak etanol), 4,18% (ekstrak etilasetat) dan 0,78% (ekstrak n-heksan). Identifikasi ekstrak
etanol dengan uji phytochemical menghasilkan alkaloid, flavonoid, saponin, dan tanin.
Pemurnian ekstrak etanol menggunakan lapisan tipis kromatografi (KLT) dengan n-heksana-
etilasetat (6: 4) diikuti dengan uji aktivitas penghambatan menggunakan TLC bioautografi
menunjukkan bahwa titik Rf 0,46 menghambat Staphylococcus aureus dan Rf 0,66 menghambat
Candida albicans, serta memuat kesimpulan bahwa analisis dengan spektrofotometer infra merah
menunjukkan bahwa ekstrak etanol memiliki kelompok fungsional hidroksil (-OH) dan karbonil
(C = O). Untuk kata kunci yang ditentukan, semuanya mampu mewakili pemusatan informasi
mengenai bioautografi, ekstraksi, spektrofotometer infra merah, Phyllanthus niruri L., lapisan
tipis dan kromatografi.

Kelemahannya : Tidak memaparkan tujuan dari dilakukannya penelitiannya dan hanya


menggunakan satu bahasa dalam menjelaskan isi abstraknya yakni hanya dalam bahasa inggris
saja.

PENDAHULUAN

Di dalam pendahuluan suatu jurnal umumnya membahas tentang tujuan dilakukannya


sebuah penelitian dan juga membahas objek yang akan diamati ataupun diteliti, seperti pada
penelitian ini yaitu tanaman herba meniran (Phyllanthus niruri L.). Tujuan dilakukannya
penelitian ini untuk mengidentifikasi golongan senyawa yang terkandung dalam ekstrak etanol
96% meniran yang mempunyai aktivitas antimikroba menggunakan metode kromatografi lapis
tipis, bioautografi KLT, dan spektrofotometri infra merah. Pada paragraf pertama, penulis
membahas secara umum dan singkat tentang HERBA meniran (Phyllanthus niruri L.)yang
merupakan suatu tanaman yang mempunyai banyak khasiat dan telah digunakan sebagai obat
tradisional. Khasiat tanaman tersebut diduga berasal dari kandungan berbagai senyawa kimia, di
antaranya alkaloid (sekurinin), flavonoid (kuersetin, kuersitrin, isokuersitrin, astragalin, nirurin,
niruside, rutin, leukodelfinidin, dan galokatekin), dan lignan (filantin dan hipofilantin). Pada
paragraf selanjutnya yaitu paragraf kedua dan ketiga, penulis membahas lebih lanjut tentang
senyawa kimia tersebut seperti flavonoid, tanin dan alkanoid. Selanjutnya sesuai dengan tujuan
penelitian yabg telah dipaparkan, penulis membahahas metode yang sering dan banyak
digunakan untuk memisahkan senyawa-senyawa di dalam herbal. Metode yang banyak
digunakan adalah kromatografi lapis tipis (KLT). Serta penulis juga menyertakan beberapa
contoh peneltian yang menggunakan metode KLT.

Kelebihan: pendahuluan yang telah dijabarkan oleh penulis tidak terlalu berbelit-belit dan sangat
mudah dipahami oleh pembaca. Isinya singkat, padat dan jelas serta susunan paragrafnya sudah
padu atau berhububgan antara paragraf satu dengan paragraf lainnya.

Kekurangan: penulis tidak mencantumkan informasi mengenai khasiat tanaman meniran in dapat
mengobati penyakit apa saja, sehingga terlihat jelas urgensi dari penggunaan sampel tanaman
meniran pada penelitian ini. Tidak terdapatnya sitasi, atau pemberian sumber yang jelas dari
setiap teori yang dipaparkan, namun digunakan catatan kaki, dimana kekurangan dari catatan
kaki ini mempersulit pembaca dalam mensikronisasi dengan data pada daftar pustaka.

BAHAN DAN METODE

Pada bagian ini penulis belum dapat memisahkan antara alat dan bahan yang digunakan,
dilihati dari judul subbab nya yakni bahan namun si penulis menuliskan juga alat-alat di
dalamnya seperti Penggiling (Heiko,TI-300), vacuum evaporator (Bunch), timbangan analitik
(Shimadzu), laminar air flow cabinet (Labconco), inkubator (Memmert), autoklaf (Hirayama),
hot plate (Thermoline), spektrofotometer IR (Shimadzu), vortex (Scientific), shaker water-bath
(Taiyo), mikropipet 1−10 μl dan pin silinder, serta bejana kromatografi lapis tipis (KLT).
Seharusnya penulis sedikit tidak menambahkan judul pada bagian ini yakni misalnya alat dan
bahan lalu kemudian bagian metodenya diberikan subbab yang berbeda lagi, sehingga terasa
lebih jelas pemisahan anatar subbab.
Metode yang digunakan pada penelitian ini antara lain metode ekstraksi, identifikasi kimia
ekstrak etanol, identifikasi alkaloid. identifikasi glikosida. identifikasi steroid/triterpenoid.
identifikasi antrakuinon.identifikasi flavonoid. identifikasi saponin, identifikasi tanin, identifikasi
kandungan kimia dengan kromatografi lapis tipis (KLT), pengujian antibakteri dengan metode
difusi agar, pengujian antikhamir dengan metode difusi agar Metoda difusi agar adalah suatu
prosedur yang bergantung pada difusi senyawa antimikrobial ke dalam agar. Senyawa
antimikrobial tersebut diserapkan pada kertas cakram yang berdiameter 6 mm. Kertas cakram
ditempatkan pada permukaan media yang telah diinokulasikan dengan bakteri patogen atau
jamur yang akan diuji. Setelah diinkubasi selama 24 jam pada temperatur 37oC, diamati diameter
daerah hambatan di sekitar kertas cakram. Daerah hambatan yang terbentuk sebagai daerah
bening disekitar kertas cakram menunjukkan mikroorganisme yang diuji telah dihambat oleh
senyawa yang berdifusi ke dalam kertas cakram (Amsterdam, 1992). Kerjanya dengan
mengamati daerah yang bening, yang mengindikasikan adanya hambatan pertumbuhan
mikroorganisme oleh antimikroba pada permukaan media agar (Jawetz et al., 2005), uji
bioautografi terhadap Staphylococcus aureus ATCC 25923 dan Candida albicans ATCC 10231
NCTC 3179 Bioautografi adalah suatu metode pendeteksian untuk mememukan suatu senyawa
antimikroba yang belum teridentifikasi dengan cara melokalisir aktivitas antimikroba tersebut
pada suatu kromatogram. Metode ini memanfaatkan pengerjaan Kromatografi Lapis Tipis (KLT)
(Akhyar, 2010 )., identifikasi hasil KLT menggunakan spektrofotometer infra merah.
Kerugiannya adalah metoda ini tidak dapat digunakan untuk menentukan KHM dan KBM
(Pratiwi, 2008). Urutan dari setiap metode yang ditempuh sudah benar, dilakukannya uji
kualitatif terlebih dahulu untuk dapat menentukan kadarnya secara kuantitatif, setelah diketahui
ada atau tidaknya keberadaan dari senyawa atau zat aktif yang dikehendaki mempermudah dalam
dalam pengambilan keputusan dan membuat suatu kesimpulan.Setelah uji kualitatif dari
identifikasi kimia ekstrak etanol, identifikasi alkaloid. identifikasi glikosida. identifikasi
steroid/triterpenoid. identifikasi antrakuinon.identifikasi flavonoid. identifikasi saponin,
identifikasi tanin, identifikasi kandungan kimia dengan kromatografi lapis tipis (KLT), barulah
dapat diuji kemampuan dari herba meniran tersebut dengan menggunakan uji potensi antibakteri,
dari sini metode kuantitatif dapat terlihat digunakan beberapa konsentrasi dari antibakteri untuk
menemukan potensinya terhadap bakteri yang dikehendaki.

PEMBAHASAN

Pada bagian pembahsanan, penulis membahas mengenai pokok bahasan penting diantaranya :

Ekstraksi meniran (Phyllanthus niruri L.) menggunakan 3 jenis pelarut. Dimana meniran
lebih banyak terekstrak ke dalam etanol 96% yaitu sekitar 49,25% ekstrak kasar dari pada
menggunakan pelarut etil asetat (4,18% ekstrak kasar ) dan pelarut n-hexan (0,78% ekstrak
kasar ). Pengujian senyawa senyawa dalam ekstrak etanol 96% mengandung senyawa golongan
alkaloid, flavonoid, tannin, dan saponin

Pada pembahasan ini, penulis mampu menjabarkan secara detail hasil dari setiap metode
yag dilakukannya dan disajikan dalam bentuk tabel, sehingga terlihat lebih mudah dipahami dan
efektif dalam sebuah penyajian, dari metode secara kualitatif diberikan keterangan positif dan
negatifya hasil dari yang diujikan seperti pada tabel yang dimana untuk menentukan
keakuratannya dilanjutkan dengan metode kromatografi lapis tipis.
Analisis kromatografi lapis tipis (KLT) dilakukan menggunakan lempeng silica gel GF 254 dan
lempeng alumunium gel dengan larutan pegembang campuran n-heksan-etil asetat. Hasil
menunjjukan KLT ekstrak etanol meniran lempeng GF 254 diperoleh 11 bercak dan lempeng
alumunium gel diperoleh 7 bercak . Pada analisis KLT ekstrak etanol meniran lempeng GF254
diperoleh 11 bercak dan dari aluminium GF254 diperoleh 7 bercak dengan nilai Rf disajikan
pada Tabel 2. Perbedaan bercak diduga karena kecilnya konsentrasi pada lempeng aluminium
sehingga bercak terlihat samar-samar, namun peningkatan konsentrasi ekstrak akan
menunjukkan hasil kromatogram dengan pemisahan yang tidak baik (tailing). Karena karutan
pengembang n-heksan-etil asetat adalah larutan yang bersifat semipolar, bercak yang terlihat
pada kromatogram KLT merupakan senyawa semipolar sampai nonpolar.
Uji aktifitas antimikroba dari hasil KLT ekstrak meniran dengan metode difusi agar
terhadap bakteri S. aureus dan khamir C. albicans tidak memberi daerah hambatan sedangkan uji
bioaktivitas hasil KLT ekstrak meniran secara bioautografi menghasilkan hambatan bakteri S.
aureus pada nilai Rf 0,46 dan penghambatan terhadap C. albicans pada nilai Rf 0,66. Sehingga
diduga ekstrak etanol 96% mengandung aktivitas antimikroba pada golongan alkaloid dan
tannin. Pengujian kerokan hasil KLT dengan pereaksi alkaloid, flavonoid, dan tanin
menunjukkan bahwa bercak dengan nilai Rf 0,46 dan Rf 0,66 diduga senyawa golongan alkaloid
dan tanin karena memberikan hasil positif dengan terbentuknya endapan jingga (pereaksi
Dragendorff) dan endapan putih (pereaksi Mayer), serta terbentuk warna hitam dengan pereaksi
FeCl3 dan endapan pada gelatin 10%). Senyawa golongan alkaloid dan tanin yang terdapat
dalam ekstrak meniran dan memberikan aktivitas penghambatan terhadap mikroba kemudian
dianalisis menggunakan spektrofotometer infra merah. Hasil analisis spektrofotometri IR
terhadap padatan yang diperoleh dari kerokan bercak ekstrak etanol 96% herba meniran dengan
nilai Rf 0,46 dan nilai Rf 0,66 disajikan pada Tabel 3. Dari data pada Tabel 3 tersebut dapat
dinyatakan bahwa fraksi dengan nilai Rf 0,46 mengandung senyawa yang mempunyai gugus
fungsional hidroksil (−OH) berdasarkan angka gelombang 3500 cm−1, gugus karboksil (C=O)
berdasarkan angka gelombang 1706,93 cm−1. Sementara itu,fraksi dengan nilai Rf 0,66
mengandung senyawa yang mempunyai gugus fungsional karboksil (C=O) berdasarkan angka
gelombang 1730,15 cm−1
Penghambatan terhadap mikroba kemudian dianalisis menggunakan spektrofotometer IR
terhadap korekan KLT. Hasilnya menunjukkan fraksi dengan nilai Rf 0,46 mengandung senyawa
yang mempunyai gugus fungsional hidroksil (-OH) berdasarkan angka gelombang 3500 cm-1
dan gugus karboksil (C=O) berdasarkan angka gelombang 1706,93 cm-1 sementara itu, untuk
fraksi dengan nilai Rf 0,66 mengandung senyawa yang mempunyai gugus karboksil (C=O)
berdasarkan panjang gelombang 1730,15 cm-1.

Kelebihan : Menggunakan bahasa yang komunikatif sehingga mudah dipahami, memiliki


kedetailan informasi yang mendalam atau rinci dan memiliki alasan yang kuat dalam mnarik
dugaan dari informasi yang didapatkan selama penelitian. Terdapatnya sajian data dalam bentuk
tabel yang semakin memudahkan pembaca untuk mengetahui isi dari apa yang ingin diuraikan
oleh penulis. Tabel tersebut mampu memberikan kejelasan informasi dari setiap hasil yang
diperoleh dari penelitiannya.

Kekurangan : Kualitas gambar yang di paparkan rendah, bisa dikatakan sedikit buram. Tidak
memiliki keterangan yang mendetail tentang hasil yang diperoleh sudah benar berdasarkan teori
yang ada, penulis hanya menjelaskan dari sisi informasi yang didapatkan saja, terbukti dari tidak
adanya penggunaan sitasi sebagai bentuk keselarasan antara hasil dengan landasar teoritis yang
digunakan.
KESIMPULAN

Adapula kesimpulan jurnal ini dari semua hasil yang didapatkan dan yang telah dibahas dapat
diketahui bahwa Herba meniran (Phyllanthus niruri L.) mengandung senyawa golongan alkaloid,
flavonoid, saponin, dan tanin.7Dari hasil analisis kromatografi lapis tipis (KLT) yang dilakukan
menggunakan lempeng silica gel GF 254 dan lempeng alumunium gel dengan larutan pegembang
campuran n-heksan-etil asetat, menunjjukan KLT ekstrak etanol meniran lempeng GF 254
diperoleh 11 bercak dan lempeng alumunium gel diperoleh 7 bercak. Hasil kromatografi lapis
tipis ekstrak etanol 96% menunjukkan aktivitas antimikroba terhadap Staphylococcus aureus
pada nilai Rf 0,46 dan terhadap Candida albicans pada Rf 0,66. Senyawa yang memiliki aktivitas
antimikroba tersebut adalah golongan alkaloid dan tanin. Sedangkan penghambatan terhadap
mikroba yang dianalisis menggunakan spektrofotometer IR terhadap korekan KLT
menunjukkan fraksi dengan nilai Rf 0,46 mengandung senyawa yang mempunyai gugus
fungsional hidroksil (-OH) dan karbonil (C=O); sementara Rf 0,66 memiliki gugus karbonil
(C=O).

Kelebihan: penulis menyimpulkan secara rinci dan jelas hasil-hasil yang telah didapatkan

Kekurangan: penulis tidak menjelaskan lebih lanjut mengenai nilai rf sehingga pembaca tidak
terlalu memahami isi kesimpulan yang dituliskan oleh penulis.

DAFTAR PUSTAKA

Penulis mampu menuliskan secara detail tentang sumber informasi yang digunakan, namun
masih terdapat sumber anonim yang belum jelas nilai kebenarannya dan penggunaan sumber
dengan jangka waktu yang sangat lama dari dilakukannya penelitian ini.