Anda di halaman 1dari 12

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK PADA BAYI F DENGAN

GASTROENTERITIS AKUT DI RUANG TULIP


RSUD DR. TJITROWARDOJO PURWOREJO

Disusun Guna Memenuhi Tugas Individu Stase Keperawatan Anak

Disusun Oleh:

KOMANG SANTI TRISNA UTAMI


24.16.0942
KELOMPOK VA

PROGRAM PROFESI NERS ANGKATAN XVIII


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN SURYA GLOBAL
YOGYAKARTA
2016
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
SURYA GLOBAL GLOBAL YOGYAKARTA
STUDI PROFESI NERS ANGKATAN XVIII

HALAMAN PENGESAHAN

Telah Disahkan “Asuhan Keperawatan Anak Pada Bayi F Dengan Gastroenteritis Akut Di
Ruang Tulip Rsud Dr. Tjitrowardojo Purworejo” guna memenuhi tugas individu Stase
Keperawatan Anak Program Pendidikan Profesi Ners STIKES Surya Global Yogyakarta Tahun
2016.

Purworejo, November 2016

Mahasiswa

Komang Santi Trisna Utami, S.Kep

Mengetahui,

Pembimbing Akademik, Pembimbing Klinik,

(Fitri Dian Kurniati , S.Kep.,Ns) (Mahfudhoh, S.Kep,Ns)


LAPORAN PENDAHULUAN GASTROENTERITIS AKUT (DIARE)

A. Definisi Diare
Menurut WHO secara klinis diare didefinisikan sebagai bertambahnya defekasi (buang
air besar) lebih dari biasanya/lebih dari tiga kali sehari, disertai dengan perubahan konsisten tinja
(menjadi cair) dengan atau tanpa darah.

B. Klasifikasi Diare
Departemen Kesehatan RI (2000), mengklasifikasikan jenis diare menjadi empat
kelompok yaitu:
1. Diare akut: yaitu diare yang berlangsung kurang dari empat belas hari (umumnya
kurang dari tujuh hari)
2. Disentri; yaitu diare yang disertai darah dalam tinjanya,
3. Diare persisten; yaitu diare yang berlangsung lebih dari empat belas hari secara terus
- menerus,
4. Diare dengan masalah lain; anak yang menderita diare (diare akut dan persisten)
mungkin juga disertai penyakit lain seperti demam, gangguan gizi atau penyakit
lainnya

C. Etiologi Diare
a. Faktor Infeksi
1. Infeksi enteral: infeksi saluran pencernaan makanan yang meriupakan penyebab
utama diare pada anak. Meliputi infeksi enteral sebagai berikut:
 Infeksi virus: enterovirus (virus ECHO, coxsaxide, poliomyelitis), adeno-
virus, rotavirus, astrovirus.
 Infeksi parasit: cacing (ascaris, trichuris, oxyuris, strongyloides); protozoa
(entamoeba histolytica, giardia lamblia, tri chomonas nominis); jamur
(candida albicans).
2. Infeksi parenteral ialah inf eksi di luar alat pencernaan makanan seperti: otitis
media akut (OMA), transilitis/tonsilofaringitis, bronkopneumonia, ensefalitis dan
sebagainya. Keadaan ini terutama pada bayi dan anak berumur 2 tahun.
b. Faktor Malabsorbsi
1. Malabsorbsi karbohidrat:
 Disakarida (intoleransi laktosa, maltosa dan sukrosa)
 Monosakarida (intoleransi glukosa, fraktosa, galaktosa).Pada bayi dan anak
yang terpenting dan tersering (intoleransi laktosa).
2. Malabsorbsi lemak
3. Malabsorbsi protein
4. Faktor makanan (makanan basi, beracun, alergi, terhadap makanan)
5. Faktor psikologis (rasa takut dan cemas), jarang tapi dapat terjadi pada anak
yang lebih besar.
6. Faktor imunodefisiensi
7. Faktor obat-obatan, antibiotic
8. Faktor penyakit usus, colitis ulcerative, croho disease, enterocilitis.

D. Manifestasi klinis Diare


 Tanda :
 Cengeng
 Anus dan daerah sekitar lecet
 BB menurun
 Turgor berkurang
 Mata dan ubun-ubun besar dan menjadi cekung (pada bayi)
 Selaput lendir bibir dan mulut serta kulit tampak kering
 Nadi cupat dan kecil
 Denyut jantung jadi cepat
 TD menurun
 Kesadaran menurun
 Pucat, nafas cepat
 Buang air besar 4x/hari untuk bayi dan > 3x untuk anak-anak atau dewasa.
 Suhunya tinggi
 Gejala :
 Tidak nafsu makan
 Lemas
 Dehidrasi
 Gelisah
 Cengeng
 Oliguria
 Anuria
 Rasa haus

E. Patofisiologi Diare

Mekanisme dasar yang menyebabkan diare ialah yang pertama gangguan


osmotik, akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan
menyebabkan tekanan osmotik dalam rongga usus meninggi, sehingga terjadi pergeseran
air dan elektrolit kedalam rongga usus, isi rongga usus yang berlebihan ini akan
merangsang usus untuk mengeluarkannya sehingga timbul diare. Kedua akibat
rangsangan tertentu (misalnya toksin) pada dinding usus akan terjadi peningkatan sekali
air dan elektrolit ke dalam rongga usus dan selanjutnya diare timbul karena terdapat
peningkatan isi rongga usus. Ketiga gangguan motalitas usus, terjadinya hiperperistaltik
akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap makanan sehingga
timbul diare sebaliknya bila peristaltik usus menurun akan mengakibatkan bakteri timbul
berlebihan yang selanjutnya dapat menimbulkan diare pula. Selain itu diare juga dapat
terjadi, akibat masuknya mikroorganisme hidup ke dalam usus setelah berhasil melewati
rintangan asam lambung, mikroorganisme tersebut berkembang biak, kemudian
mengeluarkan toksin dan akibat toksin tersebut terjadi hipersekresi yang selanjutnya
akan menimbulkan diare.

F. Pathway Diare

Faktor Infeksi Faktor Faktor Faktor Psikologi


Malabsorbsi Makanan

Entry port Tek. Osmotik Toksik tak Ansietas


dalam usus dapat diserap
Pergeseran air dan
Hiperekskresi elektrolit ke
cairan & rongga usus Hiperperistalik
elektrolit

DIARE

Frek. BAB Distensi Abdomen


meningkat

Mual muntah
Kehilangan cairan &
elektrolit berlebih
Nafsu makan menurun

Dehidrasi
BB menurun

Kekurangan Ketidakseimbangan Nutrisi


Volume Cairan
Kurang dari Kebutuhan Tubuh
G. Pemeriksaan Diagnostik Diare
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik. :
1. Pemeriksaan tinja
a. Makroskopis dan mikroskopis
b. PH dan kadar gula dalam tinja
c. Bila perlu diadakan uji bakteri untuk mengetahui organisme penyebabnya,
dengan melakukan pembiakan terhadap contoh tinja.
2. Pemeriksaan laboratorium
3. Pemeriksaan darah dilakukan untuk mengetahui kadar elektrolit dan jumlah sel darah
putih.
4. Pemeriksaan gangguan keseimbangan asam basa dalam darah, bila memungkinkan
dengan menentukan PH keseimbangan analisa gas darah atau astrup.
5. Pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin untuk mengetahui faal ginjal.
6. Pemeriksaan elektrolit intubasi duodenum untuk mengetahui jasad renik atau parasit
secara kuantitatif,terutama dilakukan pada penderita diare kronik.

E. Komplikasi Diare
a. Dehidrasi (ringan, sedang, berat, hipotonik, isotonik atau hipertonik).
b. Renjatan hipovolemik.
c. Hipokalemia (dengan gejala mekorismus, hiptoni otot, lemah, bradikardi, perubahan
pada elektro kardiagram).
d. Hipoglikemia.
e. Introleransi laktosa sekunder, sebagai akibat defisiensi enzim laktase karena kerusakan
vili mukosa, usus halus
f. Kejang terutama pada dehidrasi hipertonik.
g. Malnutrisi energi, protein, karena selain diare dan muntah, penderita juga mengalami
kelaparan

Dari komplikasi Gastroentritis,tingkat dehidrasi dapat diklasifikasikan sebagai berikut :


 Dehidrasi ringan
Kehilangan cairan 2 – 5 % dari berat badan dengan gambaran klinik turgor kulit kurang
elastis, suara serak, penderita belum jatuh pada keadaan syok.
 Dehidrasi Sedang
Kehilangan cairan 5 – 8 % dari berat badan dengan gambaran klinik turgor kulit jelek,
suara serak, penderita jatuh pre syok, nadi cepat dan dalam.
 Dehidrasi Berat
Kehilangan cairan 8 - 10 % dari bedrat badan dengan gambaran klinik seperti tanda-
tanda dehidrasi sedang ditambah dengan kesadaran menurun, apatis sampai koma, otot-
otot kaku sampai sianosis.

F. Penatalaksanaan Medis Diare


1. Pemberian cairan
a. Belum ada dehidrasi
Per oral sebanyak anak mau minum (ad libitum) atau 1 gelas tiap defekasi
b. Dehidrasi ringan
1 jam pertama: 25-50 ml/kgBB per oral (intragastrik)
selanjutnya: 125 ml/kgBB per oral (intragastrik)
c. Dehidrasi sedang
1 jam pertama: 50-100 ml/kgBB per oral/intragastrik (sonde)
selanjutnya: 125 ml/kgBB/hari ad libitum.
d. Dehidrasi berat
Untuk anak umur 1 bulan – 2 tahun berat badan 3 – 10 kg.
 1 jam pertama : 12 ml/kgBB/jam = 3 tetes /kgBB/menit (set infus berukuran 1 ml
= 15 tetes) atau 13 tetes/kgBB/menit (1 set infus 1 ml = 20 tetes).
 7 jam berikut : 12 ml/kgBB/jam = 3 tetes/kgBB/menit (1 set infus = 15 tetes) atau
4 tetes/kgBB/menit (set infus 1 ml = 20 tetes).
 16 jam berikut: 125 ml/kgBB per oral atau intragastrik. Bila anak tidak mau
minum, teruskan DG aa intravena 2 tetes/kgBB/menit (set infus 1 ml = 15 tetes)
atau 3 tetes/kgBB/menit (set infus 1 ml = 20 tetes).
2. Pengobatan dietetik
o Untuk anak (1 tahun dan > 1 tahun dengan BAB<7 kg, jenis makanannya:
o Susu (ASI dan atau formula yang mengandung laktosa rendah dan asam lemak
tidak jenuh).
o Makanan ½ padat (bubur), makanan padat (nasi tim).
o Susu khusus sesuai dengan kelainannya misalnya tidak mengandung
laktosa/asam lemak berantai sedang atau jenuh.
3. Obat-obatan
a. Obat anti – sekresi
b. Obat spasmolitik
c. Antibiotik, diberikan jika jelas penyebabnya misal oleh bakteri.
Cairan per oral
o Pasien dehidrasi ringan dan sedang diberi cairan per oral yaitu NaCl dan
NaHCO3, KCl
dan glukosa.
o Pasien diare akut dan koleri umur 6 bulan diberi Natrium 90 mEq/L.
o Pasien umur 6 bulan de ngan dehidrasi ringan/sedang diberi Natrium 50-60
mEq/L.
o Pemberian formula tidak lengkap (mengandung garam dan gula), lengkap (oralit).
4. Cairan parenteral
o Pemberian RL sesuai dengan berat/ringannya penyakit dan juga sesuai umur dan
BBnya.

I. Asuhan Keperawatan Teori


1. Resiko terjadi gangguan sirkulasi darah
a. Bila dehidrasi masih ringan
 Beri minum sebanyak-banyaknya  1 gelas/pasien defekasi
 Cairan mengand ung elektrolit seperti oralit
 Jika anak muntah dapat diberikan melalui sonde
 Jika lewat oral tidak bisa makan dipasang infus RL sesuai persetujuan dokter.
b. Pada dehidrasi berat
Selama 4 jam pertama tetesan lebih cepat, jumlah cairan yang masuk tubuh dapat
dihitung dengan cara:
 Jumlah tetesan permenit dikalikan 60, dibagi 15/20 (sesuai set infus yang
dipakai
 Perhatikan tanda vital: denyut, nadi, pernapasan, suhu dan tekanan darah.
 Perhatikan frekuensi buang iar besar anak apakah masih sering, encer/sudah
berubah konsistensinya.
 Beri minuman teh/oralit 1-2 sendok setiap jam untuk mencegah bibir dan
selaput lendir kering.
 Jika rehidrasi telah terjadi, infus dihentikan, pasien diberi makan lunak.
2. Kebutuhan nutrisi
 Beri makanan mengandung cukup kalori, protein, mineral vitamin tetapi tidak
menimbulkan diare kembali.
 Beri ASI terus bagi bayi yang masih minum ASI.
 Bila bayi tidak minum ASI diberi susu yang cocok.
 Bagi anak di atas 1 tahun dan sudah makan biasa dianjurkan makan bubur
tanpa sayuran dan minum teh bagi hari masih diare, hari keesokannya jika
membaik boleh diberi wortel daging tidak berlemak.
3. Risiko terjadi komplikasi
Biasanya terjadi dehidrasi asidosis, dan komplikasi terjadi sebagai akibat tindakan
pengobatan sebagai berikut:
 Infeksi terjadi hematom, flebitis
 Kelebihan cairan terjadi sembab, mengkilap pada kelopak mata bayi, bengkak
seluruh wajah, jika berlanjut edema paru, sesak nafas bila edema sampai otak,
kejang, sehinga terutama untuk bayi tetesannya harus tepat.
 Kulit iritasi dan lecet pada anus dan sekitarnya, dapat dibersihkan dengan
kapas yang dibasahi minyak sayur, jangan sesekali beri bedak.
 Kejang-kejang karena hipoglikemia atau kelebihan cairan.
 Malnutrisi energi protein.
4. Gangguan rasa aman dan nyaman
 Karena sering buang air sehingga melelahkan dapat dirawat di atas eltor bed.
 Bagi pasien dilakukan biopsi usus perlu diberi penjelasan dan motivasi,
karena posisinya miring 2 – 3 jam.
5. Kurang pengetahuan orang tua mengenai penyakit
Beri penyuluhan, seperti penularan penyakit melalui 4 F (finger, feces, food, dan fly)
yaitu:
 Mencuci tangah
 Membiasakan defekasi di jamban
 Kebersihan lingkungan menghindari lalat
 Makanan selalu tertutup dan air minum yang di masak.
 Jangan lupa memberikan oralit, dan ini hanya untuk pencegahan.

 Diagnosa Keperawatan
1. Diare b/d inflamasi bakteri / proses infeksi.
2. Defisit volume cairan b/d kehilangan cairan aktif
3. Risiko kerusakan integritas kulit b/d lembab
4. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d penurunan intake
makanan.

 Intervensi Keperawatan

2 Defisit volume cairan b/d NOC: NIC :


kehilangan cairan aktif ≈ Fluid balance Fluid management - Mengetahui
Definisi : Penurunan cairan ≈ Hydration  Timbang jumlah
intravaskuler, interstisial, popok/pembalut jika kehilangan
≈ Nutritional Status :
dan/atau intrasellular. Ini diperlukan cairan pasien.
Food and Fluid Intake
mengarah ke dehidrasi,
Kriteria Hasil :  Pertahankan catatan - Mengetahui
kehilangan cairan dengan intake dan output keseimbangan
pengeluaran sodium ≈ Mempertahankan urine
yang akurat cairan tubuh.
Batasan Karakteristik : output sesuai dengan
usia dan BB, BJ urine  Monitor status
- Kelemahan hidrasi ( kelembaban - Mengevaluasi
- Haus normal, HT normal
membran mukosa, keadaan umum
- Penurunan turgor kulit/lidah ≈ Tekanan darah, nadi,
nadi adekuat, tekanan pasien.
- Membran mukosa/kulit suhu tubuh dalam batas darah ortostatik ), - Mencegah
kering normal jika diperlukan dehidrasi pasien
- Peningkatan denyut nadi, ≈ Tidak ada tanda tanda  Monitor vital sign
penurunan tekanan darah, dehidrasi, 
Elastisitas Kolaborasikan - Memberikan
penurunan volume/tekanan turgor kulit baik, pemberian cairan suplay cairan
nadi membran mukosa intravena IV tubuh.
- Pengisian vena menurun lembab, tidak ada rasa  Monitor status - Mengetahui
- Perubahan status mental haus yang berlebihan nutrisi secara dini
- Konsentrasi urine meningkat  Dorong masukan gangguan
- Temperatur tubuh meningkat oral elektrolit.
- Hematokrit meninggi  Berikan penggantian - Menjaga
- Kehilangan berat badan nesogatrik sesuai keseimbangan
seketika (kecuali pada third output cairan tubuh
spacing)  Dorong keluarga
untuk membantu - Mengoptimalkan
Faktor-faktor yang pasien makan masukan oral
berhubungan:  Tawarkan snack ( - Mengurangi
- Kehilangan volume cairan jus buah, buah segar kejenuhan pada
secara aktif ) pasien
- Kegagalan mekanisme  Atur kemungkinan
pengaturan tranfusi - Menjaga
keseimbangan
Hypovolemia cairan,
Management
 Monitor status
cairan termasuk - Menghitung
intake dan ourput masukan dan
cairan haluaran.
 Monitor tingkat Hb
dan hematokrit - Mengevaluai
 Monitor tanda vital hemokonsentrasi
 Monitor darah pasien.
responpasien - Mengathui
terhadap keadaan umum
penambahan cairan pasien.
 Monitor berat badan - Mengevaluasi
pengethuan
 Dorong pasien untuk
pasien
menambah intake
- Mengevaluasi
oral
kenaikan berat
badan
- Mensuplay
masukan oral.,
- Untuk
mengetahui dan
menjaga over
hidrasi.

3 Risiko kerusakan integritas NOC : Tissue Integrity : NIC : Pressure


kulit b/d ekskresi/BAB sering Skin and Mucous Management - Mengurangi
Definisi : Semua risiko Membranes  Anjurkan pasien untuk evaporasi
untuk kulit yang Kriteria Hasil : menggunakan
merupakan perubahan yang ≈ Integritas kulit yang pakaian yang longgar - Mencegah iritasi
bersifat merugikan kulit. baik bisa dipertahankan  Hindari kerutan padaa daerah lipatan.
Faktor resiko : (sensasi, elastisitas, tempat tidur - Mencegah iritasi
1. eksternal temperatur,  Jaga kebersihan kulit
hidrasi, kulit.
 factor mekanik pigmentasi) agar tetap bersih dan
 hipo/hipertermi ≈ Tidak ada luka/lesi pada kering - Mencegah
 imobilitas fisik kulit  Mobilisasi pasien (ubah dekubitus.
 substansi kimia posisi pasien) setiap
≈ Perfusi jaringan baik
 ekskresi atau sekresi dua jam sekali - Mencegah
≈ Menunjukkan  Monitor kulit akan
 radiasi pemahaman dalam komplikasi
 kelembaban proses perbaikan kulit adanya kemerahan secara dini.
 pelembab dan mencegah Oleskan lotion atau
 usia yang ekstrim terjadinya sedera minyak/baby oil pada - Mengetahui
2. internal berulang derah yang tertekan adanya iritasi
 pengobatan ≈ Mampu melindungi  Monitor aktivitas dan kulit.
 tulang yang menonjol kulit dan mobilisasi pasien
 kekebalan tubuh mempertahankan
 perubahan sensasi kelembaban kulit dan
 perubahanpigmentasi perawatan alami
 perubahan status metabolic
 perubahan sirkulasi
 perubahn turgor kulit
 perubahan status nutrisi
 psikogenik

4 Ketidakseimbangan nutrisi NOC : Nutrition


kurang dari kebutuhan tubuh ≈ Nutritional Status : Management
b/d penurunan intake
≈ 
Nutritional Status : food Kaji adanya alergi
makanan and Fluid Intake makanan
Definisi : Intake nutrisi tidak  Kolaborasi dengan ahli
≈ Nutritional Status :
cukup untuk keperluan gizi untuk
nutrient Intake
metabolisme tubuh. menentukan jumlah
Batasan karakteristik : ≈ Weight control kalori dan nutrisi
- Berat badan 20 % atau lebih Kriteria Hasil : yang dibutuhkan
di bawah ideal ≈ Adanya peningkatan pasien.
- Dilaporkan adanya intake berat badan  Yakinkan diet yang
sesuai
makanan yang kurang dari dengan tujuan dimakan
RDA (Recomended Daily ≈ Beratbadan ideal sesuai mengandung tinggi
Allowance) dengan tinggi badan serat untuk
- Membran mukosa dan ≈ Mampumengidentifikasi mencegah konstipasi
konjungtiva pucat kebutuhan nutrisi  Ajarkan pasien
- Kelemahan otot yang ≈ Tidk ada tanda tanda bagaimana membuat
digunakan untuk malnutrisi catatan makanan
menelan/mengunyah harian.
≈ Menunjukkan
- Luka, inflamasi pada rongga  Kaji kemampuan
mulut peningkatan fungsi pasien untuk
pengecapan dari
- Mudah merasa kenyang, mendapatkan nutrisi
sesaat setelah mengunyah menelan yang dibutuhkan
makanan ≈ Tidak terjadi penurunan
- Dilaporkan atau fakta adanya berat badan yang berarti
kekurangan makanan
- Dilaporkan adanya perubahan
sensasi rasa
- Perasaan ketidakmampuan
untuk mengunyah makanan
- Miskonsepsi
- Kehilangan BB dengan
makanan cukup
- Keengganan untuk makan
- Kram pada abdomen
- Tonus otot jelek
- Nyeri abdominal dengan atau
tanpa patologi
- Kurang berminat terhadap
makanan
- Pembuluh darah kapiler
mulai rapuh
- Diare dan atau steatorrhea
- Kehilangan rambut yang
cukup banyak (rontok)
- Suara usus hiperaktif
- Kurangnya informasi,
misinformasi

Faktor-faktor yang
berhubungan :
Ketidakmampuan pemasukan
atau mencerna makanan atau
mengabsorpsi zat-zat gizi
berhubungan dengan faktor
biologis, psikologis atau
ekonomi.

DAFTAR PUSTAKA

Suharyono, dkk. 1998. Gastroenterologi Anak Praktis. Jakarta: Gaya Baru.


Suntosa, Budi. 2005. Panduan Diagnosa Keperawatan Nanda. 2005-2006. Definisi dan
Klasifikasi. Yogyakarta: Prima Medika.
Ngastiyah. 2002. Perawatan Anak Sakit. Edisi 2. Jakarta: EGC.
Mansjoer, Arif, dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Edisi Ketiga Jilid I. Jakarta: Media
Aesculapius.