Anda di halaman 1dari 81

Universitas Sumatera Utara

Repositori Institusi USU http://repositori.usu.ac.id


Departemen Sastra Batak Skripsi Sarjana

2018

Kearifan Lokal pada Tradisi Maragat


Etnik Batak Toba di Desa Sitinjak
Kecamatan Onanrunggu Kabupaten Samosir

Sihombing, Iwan

http://repositori.usu.ac.id/handle/123456789/4019
Downloaded from Repositori Institusi USU, Univsersitas Sumatera Utara
KEARIFAN LOKAL PADA TRADISI MARAGAT

ETNIK BATAK TOBA DI DESA SITINJAK KECAMATAN

ONANRUNGGU KABUPATEN SAMOSIR

SKRIPSI

DISUSUN OLEH:

IWAN SIHOMBING

130703021

PROGRAM STUDI SASTRA BATAK

FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2018

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Tuhan yang Maha Esa, atas berkat rahmat

dan karunia-Nya yang senantiasa dilimpahkan kepada kita semua. Semoga kita

merasakan perlindungan dari Tuhan dimanapun kita berada. Atas rahmat Tuhan

yang Maha Kuasa, akhirnya penulis bisa menyelesaikan skripsi ini yang

berjudul “Kearifan Lokal Pada Tradisi Maragat Etnik Batak Toba Di Desa

Sitinjak Kecamatan Onanrunggu Kabupaten Samosir”.

Skripsi ini terdiri atas lima bab yaitu: bab I merupakan pendahuluan

yang mencakup latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian,

dan manfaat penelitian. Bab II merupakan kajian pustaka yang mencakup

kepustakaan yang relevan dan landasan teori. Bab III merupakan metodologi

penelitian yang mencakup metode dasar, lokasi penelitian, sumber data,

instrumen penelitian, metode pengumpulan data, dan metode analisis data. Bab

IV merupakan pembahasan dari performansi, manfaat dan kearifan lokal dari

tradisi maragat. Bab V merupakan kesimpulan dan saran.

Penulis menyadari skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan karena

minimnya ilmu yang dimiliki penulis, namun dengan bimbingan dan arahan

Bapak/Ibu dosen pembimbing selama pembuatan skripsi ini, maka skripsi ini

dapat diselesaikan sebagaimana mestinya.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


Untuk menyempurnakan skripsi ini, penulis mengharapkan kritik, saran

dan masukan untuk menjadikan skripsi ini lebih baik lagi. Atas bantuan

Bapak/Ibu, penulis ucapkan terimakasih.

Medan, Januari 2018

Penulis

Iwan Sihombing

NIM : 130703021

ii

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


HATA PATUJOLO

Mauliate hudok tu amanta pardenggan basa i, di siala asi dohot holong

na nasai tontong dilehon tu hita sude. Sai tong ma hita mangarasahon

pangaramotionna sian Tuhan i didia pe hita maringanan. Ala ni denggan basana

tu ahu panurat boi hupasidung manurat sripsion. Judul ni skripsi on ima

“Kearifan Lokal Pada Tradisi Maragat Etnik Batak Toba Di Desa Sitinjak

Kecamatan Onanrunggu Kabupaten Samosir”.

I bagasan skripsi on i bagi ma lima bindu, ima; bindu na parjolo ima

hata huhuasi, rumusan masalah, tujuan penelitian, dohot manfaat penelitian.

Bindu napaduahon ima kepustakaan na relevan dohot landasan teori. Bindu

patoluhon ima metode penelitian na i bagas ima metode dasar, inganan

penelitian, sumber data, angka na porlu hu penelitian, cara papunguhon data,

dohot cara manganalisis data. Bindu paopathon ima pembahasan sian

performansi, lapatan, dohot kearifan lokal sian tradisi maragat. Bindu

palimahon panimpuli dohot poda.

Marserep ni roha panurat srkipsi on tung mansai hurang denggan do pe

alani saotik parbinotoan na di antusi panurat. Alai, di siala pangurupion sian

damang dohot dainang na mangajari saleleng na mambahen skripsion, boi do

skripsi on sidung songon na somal.

iii

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


Asa lam tu denggan na skripsi on, panurat mangido tu hamu poda dohot

panguruion sian angka na manjaha skripsi on. Di siala pangurupion ni damang

dohot dainang hu pasahat mauliate godang.

Medan, Januari 2018


Panurat,

Iwan Sihombing

130703021

iv

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
UCAPAN TERIMAKASIH

Penulis tiada hentinya mengucapkan puji dan syukur dan terima kasih

kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan kesehatan dan karunia

untuk menyelesaikan penulisan skripsi ini. Terwujudnya penulisan skripsi ini

tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak, baik berupa bantuan tenaga, ide-ide,

maupun pemikiran. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penulis ingin

mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada:

1. Bapak Dr. Budi Agustono, M.S., Dekan Fakultas Ilmu Budaya

Universitas Sumatera Utara, Pembantu Dekan I, Pembantu Dekan II,

pembantu Dekan III, dan seluruh pegawai di jajaran Fakultas Ilmu

Budaya Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Drs. Warisman Sinaga, M.Hum., Ketua Program Studi Sastra

Batak Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera

3. Bapak Drs. Flansius Tampubolon, M.Hum, Sekretaris Program Studi

Sastra Batak Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara, dan

sekaligus sebagai Dosen pembimbing penulis yang telah banyak

memberikan bimbingan, motivasi, saran, dan meluangkan waktu serta

memberikan pikiran dan ide-ide kepada penulis sehingga skripsi ini

diselesaikan dengan baik.

vii

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


4. Seluruh Bapak dan Ibu dosen beserta staf Administrasi Program Studi

Sastra Batak Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara yang

telah memberikan pengetahuan kepada penulis

5. Teristimewa kepada (Alm) Ayahanda O. Sihombing dan Ibunda N. br.

Rumahorbo sebagai rasa hormat, kasih sayang, dan terima kasih yang

tak terhingga atas semua pengorbanan, nasehat, motivasi, materi dan

doa yang telah diberikan, baik itu melalui telepon, pesan, dan kadang

saya dibentak dalam arti memberikan semangat penuh untuk penulis

sehingga skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik.

6. Saudara-saudara penulis: Dewi Sartika br. Sihombing, Melati br.

Sihombing, Enria br. Sihombing, Endang Krisnawati br. Sihombing dan

Benny Sihombing sebagai rasa sayang dan terima kasih yang tak

terhingga atas semua motivasi, nasihat, materi dan doa yang telah

diberikan sehingga skripsi ini dapat diselaikan dengan baik.

7. Abangda Rolas Tivando Siagian, S.S terima kasih buat motivasi-

motivasi dan juga waktu untuk membimbing penulis.

8. Teman-teman seperjuangan stambuk 2013 Dedy Rovindo Capah, Jefri

Siahaan, Rikhardo Nadeak, Mycael Saragih, Abdi Siregar, Sukri

Hasibuan, Wendy Harahap, Immanuel Silaban, Dewasa Silalahi, Jamil

Berutu, Jonni Manik, Jonni Berutu, Dody Sibarani, Jhon Henry

viii

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


Sihotang, Teo Pilus Purba, Ellen Simamora, Sesil Sitompul, Darmila

Adriyani, Benedikta Simalango, Veronika Lumbangaol, Rizkyria

Sihotang, Dasa Banjarnahor, Stevani Silalahi , Sriwati Purba, Lina

Gismi Sihite terima kasih atas motivasi dan kebersamaan yang telah

diberikan.

9. Adik-adik junior stambuk 2014, 2015 dan 2016 terima kasih atas

motivasi-motivasinya.

10. Semua pihak yang telah membantu penyelesaian skripsi ini.

Medan, Januari 2018

Penulis,

Iwan Sihombing

NIM.130703021

ix

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN

KATA PENGANTAR ................................................................................. i


HATA PATUJOLO………………………………………… ....................... iii
ht pTjolo ................................................................................................ v

UCAPAN TERIMAKASIH ....................................................................... vii


DAFTAR ISI ............................................................................................... x

ABSTRAK................................................................................................... xiii
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................... 1
1.1. Latar Belakang Masalah ................................................................... 1
1.2. Rumusan Masalah ............................................................................ 4
1.3. Tujuan Penelitian ............................................................................. 5
1.4. Manfaat Peneltian ............................................................................ 5

BAB II TINJAUAN KEPUSTAKAAN ..................................................... 7

2.1 Kepustakaan Yang Relevan ............................................................... 7


2.2 Pengertian Tradisi Lisan .................................................................... 9
2.3 Konsep Performansi, Indeksikalitas, dan Partisipasi .......................... 13
2.4 Teori yang digunakan ........................................................................ 14

BAB III METODE PENELITIAN ............................................................ 16

3.1 Metode Dasar .................................................................................... 16


3.2 Lokasi Penelitian ............................................................................... 17
3.3 Instrumen Penelitian ......................................................................... 18
3.4 Metode Pengumpulan Data................................................................ 19

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


3.5 Metode Analisis Data ........................................................................ 20

BAB IV PEMBAHASAN. ........................................................................... 21

4.1 Performansi Tradisi Maragat Pada Siklus Mata Pencaharian di Desa


Sitinjak Kecamatan Onanrunggu Kabupaen Samosir..................... ..... 21
4.1.1 Peralatan yang Digunakan dalam Tradisi Maragat di Desa
Sitinjak Kecamatan Onanrunggu Kabupaten Samosir ............. 25
4.2.2 Tahap-tahapan dalam tradisi Maragat di Desa
Sitinjak Kecamatan Onanrunggu Kabupaen Samosir .............. 34
4.2 Manfaat dalam Tradisi Maragat di Desa Sitinjak Kecamatan
Onanrunggu Kabupaten Samosir ....................................................... 44
4.3 Kearifan Lokal yang terdapat dalam Tradisi Maragat di Desa Sitinjak
Kecamatan Onanrunggu Kabupaten Samosir........ ............................. 46
4.3.1 Pelestarian dan Kreativitas Budaya .......................................... 46
4.3.2 Kerja Keras .............................................................................. 47
4.3.3 Disiplin .................................................................................... 47
4.3.4 Pendidikan ............................................................................... 48
4.3.5 Kesehatan ................................................................................ 48
4.3.6 Pengelolaan Gender ................................................................. 49

4.3.7 Kesopansantunan ..................................................................... 49


4.3.8 Kejujuran ................................................................................. 49
4.3.9 Pikiran Positif .......................................................................... 50
4.3.10 Rasa Syukur............................................................................ 50
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ....................................................... 51

5.1 Kesimpulan......................................................................................... 51

xi

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


5.2 Saran..................................... ............................................................. 52
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................ 53
LAMPIRAN .......................................................................................... 54
Lampiran 1: Daftar Pertanyaan ........................................................... 54
Lampiran 2: Daftar Informan .............................................................. 56
Lampiran 3: Asal Usul Pohon Aren. .................................................... 57
Lampiran 4: Surat Izin Penelitian ........................................................ 62
Lampiran 5: Surat Keterangan Penelitian ........................................... 63

xii

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


ABSTRAK

Iwan Sihombing 2018. Judul Skripsi: Kearifan Lokal Pada Tradisi


Maragat Etnik Batak Toba Di Desa Sitinjak Kecamatan Onanrunggu
Kabupaten Samosir
Penelitian ini penulis membahas tentang Kearifan Lokal Pada Tradisi
Maragat Etnik Batak Toba Di Desa Sitinjak Kecamatan Onanrunggu
Kabupaten Samosir. Masalah dalam penelitian ini adalah performansi
(komponen, tahapan, simbol) dalam tradisi maragat, manfaat tradisi margat
dan kearifan lokal yang terdapat dalam tradisi maragat etnik Batak Toba di
Desa Sitinjak Kecamatan Onanrunggu Kabupaten Samosir. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui tahapan-tahapan tradisi maragat, manfaat tradisi
maragat, serta kearifan lokal yang terdapat dalam tradisi maragat.
Metode yang digunakan dalam menganalisis masalah penelitian ini
adalah metode kualitatif dengan teknik penelitian lapangan. Penelitian ini
menggunakan teori kearifan lokal. Adapun kearifan lokal yang terdapat pada
tradisi maragat di Di Desa Sitinjak Kecamatan Onanruggu Kabupaten Samosir
meliputi: pelestarian dan kreativitas, budaya, kerja keras, disiplin, pendidikan,
kesehatan, pengelolaan gender, kesopansantunan, kejujuran, pikiran positif,
rasa syukur

Kata Kunci: Tradisi Maragat

xiii

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Negara Indonesia adalah negara yang sangat kaya, kekayaan itu tidaklah

hanya terdapat dari alamnya saja tetapi, negara Indonesia juga memiliki kekayaan

lain yakni kekayaan akan tradisi. Arti tradisi merupakan satu kata yang tidak dapat

dipisahkan dari sebuah negara termasuk negara Indonesia yang merupakan negara

majemuk dengan multikultural terbesar di dunia.

Tradisi yang telah membudaya akan menjadi sumber dalam berakhlak dan

berbudi pekerti seseorang. Tradisi atau kebiasaan, dalam pengertian yang paling

sederhana adalah sesuatu yang telah dilakukan untuk sejak lama dan menjadi

bagian dari kehidupan suatu kelompok masyarakat, biasanya dari suatu negara,

kebudayaan, waktu, atau agama yang sama. Hal yang paling mendasar dari tradisi

adalah adanya informasi yang diteruskan dari generasi ke generasi baik tertulis

maupun lisan, karena tanpa adanya ini, suatu tradisi dapat punah.

Peran tradisi lisan merupakan sumber kearifan lokal sebagai peranan nilai

dan norma budaya dalam mengatasi persoalan sosial yang dialami masyarakat.

Peran itu sekaligus menyiratkan bahwa tradisi lisan berfungsi sebagai alat transfer

pengetahuan lokal, informasi lokal, nilai budaya, norma budaya dari satu generasi

ke generasi lain dengan media lisan dengan pola, formula dan struktur khusus

yang berbeda dari bahasa atau komunikasi sehari-hari.

Masyarakat Batak Toba yang berdomisili di Samosir masih banyak yang

mencari uang dari hasil pertanian. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


tumbuhan yang tumbuh secara alami di alam seperti pohon enau. Kabupaten

samosir ini merupakan daerah yang banyak ditumbuhi pohon enau. Salah satunya

di Desa Sitinjak Kecamatan Onanrunggu.

Pohon enau adalah salah satu hasil pertanian yang tumbuh secara liar dan

belum dibudidayakan. Masyarakat memanfaatkan pohon enau dengan cara

menyadap pohon enau tersebut untuk menghasilkan air nira yang kemudian diolah

untuk dijadikan gula aren dan tuak. Masyarakat Batak Toba yang tinggal di daerah

Samosir ini banyak yang bermata pencaharian sebagai penyadap pohon enau.

Kegiatan menyadap nira ini biasanya dilakukan pada pagi dan mengumpulkan

hasil yang disadap pada sore hari. Tradisi menyadap (maragat dalam bahasa

Batak Toba) merupakan tradisi yang harus di lestarikan oleh masyarakat, karena

tradisi ini merupakan warisan dari nenek moyang.

Tradisi maragat merupakan aktifitas menyadap pangkal mayang dari

pohon aren/enau yang dilakukan oleh anggota masyarakat untuk menghasilkan

air nira. Di Desa Sitinjak tradisi maragat masih dilakoni oleh anggota

masyarakatnya. Akan tetapi hanya sebagian masyarakat yang melakukan tradisi

ini dikarenakan tidak semua anggota masyarakat yang berhasil melakukan tradisi

maragat. Tradisi ini bukanlah sekedar aktifitas biasa melainkan mempunyai

keunikan yang berbeda, di mana pada saat maragat terdapat mantra dan nyayian

yang dilakukan oleh paragat (orang yang mengambil nira dari pohon enau).

Keberadaan penyadapan nira bagi masyarakat Batak ini dianggap penting,

karena nira tersebut kemudian diolah menjadi gula dantuak. Tuak merupakan

pelepas lelah sebagian orang setelah seharian bekerja. Kumpul-kumpul di lapo

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


tuak‘warung tuak’ sambil bernyanyi ria dengan sesama teman, sahabat atau

tetangganya merupakan kepuasan tersendiri bagi mereka. Selain itu tuak juga

digunakan dalam kegiatan adat. Dalam adat perkawinan dikenal dengan istilah

tuak tangkasan.Tuak tangkasan merupakan tuak yang diberikan untuk diminum

kepada parhata adat‘pembawa acara/protokol adat’. Sebelum memulai acara adat

seorang parhata terlebih dahulu disuguhkan tuak tangkasan.Tuak tangkasan

dalam arti yang sesungguhnya adalah tuak yang diperoleh dari hasil penyadapan

pertama kali dari sebuah pohon bagot‘pohon nira’.Tuak tangkasan yang seperti

ini jarang didapat, maka digantikan dengan tuak yang biasa untuk diberikan

kepada parhata adat.Tuak ini juga diyakini dapat memperlancar proses peredaran

darah dan juga diberikan kepada wanita yang baru melahirkan karena dapat

menghangatkan serta memperlancar proses keluarnya air susu ibu untuk menyusui

bayi.

Nira disamping sebagai minuman, juga merupakan bahan baku untuk

pembuatan gula dengan berbagai sebutan seperti gula aren atau gula merah atau

gula jawa. Untuk memproses tuak menjadi gula sangatlah sederhana. Secara

tradisional, nira hanya dimasak diatas kuali dengan kayu bakar selama beberapa

jam, lalu diaduk sampai mengental dan dituang kedalam cetakan yang biasanya

terbuat dari bongkol bambo (lempengan bambo yang tipis atau batok kelapa).

Belakangan ini nira sudah diproses secara modern menjadi kristal gula yang

disebut palm sugar atau brown sugar dan penjualannya tidak lagi di pasar-pasar

tradisional melainkan di super market dengan kemasan bermerek dagang untuk

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


olesan gula pada roti. Nira juga sebagai bahan mutlak untuk membuat cuka

makanan yang disebut Arenga Vinegar.

Tradisi maragat yang dilakukan oleh masyarakat Batak Toba, khususnya

pada saat ini sangat sering ditemui di daerah suku Batak lainnya. Hal inilah yang

membuat penulis untuk mendeskripsikan dan mengkaji tradisi maragat pada

masyarakat Batak Toba sebagai tugas akhir.

Penulis tinggal di daerah Batak Toba sehingga sering melihat dan

menyaksikan tradisi maragat. Selain itu, penulis juga asli suku Batak Toba. Akan

tetapi tradisi maragat ini jarang dilakukan oleh generasi muda, hal ini disebabkan

karena daerah Samosir pada saat ini sudah menjadi kunjungan wisata. Sehingga

generasi muda sebagai generasi penerus menjadi penjual souvenir. Hal tersebut

dapat mengakibatkan keberadaan tuak tangkasan lama kelamaan akan punah.

Sehingga daerah Samosir akan membelituak dari luar daerah seperti Tigadolok,

Balata dan lainnya. Hal inilah yang melatarbelakangi penulis untuk membuat

judul skripsi Kearifan Lokal pada Tradisi Maragat di Desa

SitinjakKecamatan OnanrungguKabupaten Samosir.

1.2 Rumusan Masalah

Perumusan masalah sangat penting bagi pembuatan skripsi ini, karena

dapatterarah sehingga hasilnya dapat dipahami dan dimengerti oleh pembaca.

Masalah merupakan suatu bentuk pertanyaan yang memerlukan penyelesaian atau

pemecahan. Bentuk perumusan adalah biasanya berupa kalimat pertanyaan yang

dapatmenarik atau mengubah perhatian pembaca.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


Adapun masalah yang akan dibahas adalah :

1. Apa saja performansi (komponen, tahapan,simbol) dalamtradisi maragat

di Desa Sitinjak Kecamatan Onanrunggu Kabupaten Samosir?

2. Apa manfaat dalam tradisi maragat di Desa SitinjakKecamatan

OnanrungguKabupaten Samosir?

3. Kearifan lokal apa yang terdapat pada tradisi maragat di Desa Sitinjak

Kecamatan Onanrunggu Kabupaten Samosir?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah yang telah dikemukakan diatas, maka tujuan

penelitian adalah sebagai berikut:

1. Mendeskripsikan performansi (komponen,tahapan,simbol) dalam tradisi

maragat di Desa Sitinjak Kecamatan Onanrunggu Kabupaten Samosir

2. Mendeskripsikan manfaat maragat di Desa SitinjakKecamatan

Onanrunggu Kabupaten Samosir

3. Medeskripsikan kearifan lokal pada tradisi maragat di Desa

SitinjakKecamatan Onanrunggu Kabupaten Samosir

1.4 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi semu pembaca khusunya buat

penulis sendiri. Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah :

1. Untuk peneliti sendiri untuk mengenal lebih dalam lagi mengenai

kearifan lokal pada tradisi maragat.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


2. Kepada masyarakat khususya pemuda sebagai pewaris budaya

supaya melestarikan kearifan lokal.

3. Dokumentasi tradisi dan pengolahan maragat pada Program Studi

SastraBatak FIB USU.

4. Menyukseskan program pelestarian sastra daerah sebagai bagian

darikebudayaan nasional.

5. Menjadi sumber informasi bagi mahasiswa Proram Studi Sastra

Batak FIB USU

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


BAB II

TINJAUAN KEPUSTAKAAN

2.1 Kepustakaan yang Relevan

Kajian pustaka dalam setiapskripsi sangat diperlukan dalam menyusun

karya ilmiah.

Menurut Pohan dalam Prastowo (2012:81) penyusunan kajian pustaka


memiliki tujuan untuk mengumpulkan data dan informasi ilmiah, berupa
teori-teori, metode, atau pendekatan yang pernah berkembang dan telah di
dokumentasikan dalam bentuk buku, jurnal, naskah, catatan, rekaman
sejarah, dokumen-dokumen, dan lain-lain yang terdapat di perpustakaan.
Kajian ini dilakukan dengan tujuan menghindarkan terjadinya pengukangan,
plagiat, termasuk suap plagiat.

Sumber : www.wawasan-edukasi.web.id/2016/12/pengertian-dan-
defenisi-kajian-pustaka.html?=1)

Sesuai dengan judul judul skripsi “Kearifan Lokal pada Tradisi Maragat di

Desa Sitinjak Kecamatan Onanrunggu Kabupaten Samosir”, buku-buku yang

digunakan penulis untuk pengkajian ini adalahbuku-buku tentang metode kearifan

lokal dan tradisi lisan. Buku ini digunakan untuk membantu penulis dalam

mengkaji dan menganalisis tentang tradisi maragat pada masyarakat Batak Ttoba.

1. Simamora, 2012, dalam skripsi mengangkat topik Ritual Maragat Bona

ni Bagot Pada Masyarakat Batak Toba: Suatu Tinjauan Foklor yang

menjelaskan bahwa ritual maragat bona ni bagot terkadung unsur-unsur

soaial-budaya masyarakat Desa Bukit Mangkirai yaitu tentang profesi

atau mata pencaharian, kepercayaan, bahasa, dan nilai-nilai pendidikan

yang terkandung. Ritual maragat bona ni bagot di Desa Bukit Mangkirai

merupakan tradisi yang penting dan telah dilaksanakn turun-temurun oleh

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


setiap paragat dan merupakan warisan nenek moyang masyarakat di desa

tersebut.

2. Sihombing, 2013, dalam skripsi mengangkat topik Analisis Pola Ritmis

Mambalbal Bagotpada Masyarakat Batak Toba di Desa Hutaimbaru

Kecamatan Tapian Nauli Kabupaten Tapanuli Tengahyang

menjelaskan bahwa Pohon enau adalah salah satu hasil pertanian yang

tumbuh secara liar dan belum dibudidayakan dan banyak tumbuh di daerah

Tapanuli Tengah. Masyarakat memanfaatkan pohon enau dengan cara

menyadap pohon enau tersebut untuk menghasilkan air nira yang

kemudian diolah untuk dijadikan tuak. Dalam proses penyadapan nira ini

terdapat beberapa proses untuk bisa menghasilkan air niranya. Salah

satunya proses untuk menghasilkan air niranya adalah dengan cara

memukul-mukul batang pohon enau tersebut yang disebut dengan

mambalbal bagot.

3. Nababan, 2015, dalam skripsi mengangkat topik Kearifan Lokal

TradisiBertani Padi Pada Masyarakat Batak Toba di Baktirajayang

menjelaskan bahwa kearifan lokal yang terdapat dalam tahapan menanam

padi pada masyarakat Batak toba di Baktiraja diantaranya yaitu kearifan

lokal bergotong royong, kearifan lokal kebersamaan musim tanam padi,

dan orang-orang sawah yang masih ada. Nilai-nilai budaya yang terdapat

dalam tahapan bertani ialah nilai kekeluargaan, tanggung jawab, saling

bekerja sama, tolong menolong dan saling menghargai.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


4. Siagian, 2017, dalam skripsi mengangkat topik Representasi Kearifan

Lokal Gotong – Royong (Marsirimpa) dalam Cerita Rakyat Batak

Toba yangmenjelaskan bahwa konsep yang sering muncul dalam kearifan

lokal adalah saling bekerja sama, saling menyapakati dan saling

mendukung. Di mana konsep ini awal terjadinya sebuah gotong-royong

untuk menyelesaikan sebuah permasalahan yang terjadi. Gotong-royong

yang terkandung dalam cerita rakyat Batak Toba berfungsi sebagai

jembatan untuk mencapai sebuah kedamaian dan kemakmuran bagi para

pelaku gotong-royong (marsirimpa) tersebut.

2. 2 Pengertian Tradisi Lisan

Tradisi berasal dari bahasa latin tradition (diteruskan) atau kebiasaan yang

telah dilakukan dengan cukup lama dan menjadi bagian dari kehidupan suatu

kelompok masyarakat, biasanya dari suatu negara, kebudayaan, waktu, atau

agama yang sama. Hal yang paling mendasar dari tradisi yaitu adanya informasi

yang diteruskan dari generasi ke generasi baik tertulis maupun lisan, karena tanpa

adanya ini suatu tradisi dapat punah.

Tradisi lisan merupakan salah satu jenis warisan kebudayaan masyarakat

setempat yang proses pewarisannya dilakukan secara lisan. Menurut

Bhudisantoso dalam skripsi Naomi Siahaan (2015:20) bahwa tradisi lisan

merupakan sumber kebudayaan seperti kemampuan bersikap dan keterampilan

sosial sesuai dengn nilai-nilai, norma-norma maupun kepercayaan yang berlaku

dalm lingkungan masyarakat pendukungnya.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


Selanjutntya Sibarani (2014:3) mengatakan bahwa tradisi lisan merupakan

kegiatan luhur masa lalu yang berkaitan dengan keadaan masa kini dan yang perlu

diwariskan pada masa mendatang untuk mempersiapkan masa depan generasi

mendatang. Dengan demikian, sebagai sebuah tradisi budaya harus berusaha

menggali, menjelaskan, dan menginterpretasi secara ilmiah warisan-warisan

budaya leluhur pada masa lalu.

Tradisi lisan adalah “segala wacana yang diucapkan atau disampaikan


secara turun-temurun meliputi yang lisan dan yang berraksara” dan
diartikan juga sebagai “sistem wacana yang bukan beraksara.” Tradisi lisan
tidak hanya di miliki oleh orang lisan saja. Implikasi kata “lisan” dalam
pasangan lisan tertulis berbeda dengan lisan beraksara. Lisan yang pertama
(oracy) mengandung maksud kebebasan bersuara; sedangkan lisan kedua
(orality) dalam maksud beraksara kebolehan bertutur secara
beraksara.(menurut Sweeney, 1980 dalam Sibarani 2014:8)

Kelisanan dalam masyarakat berakasara sering diartikan sebagai hasil dari

masyarakat yang terpelajar; sesuatu yang belum dituliskan; sesuatu yang dianggap

belum sempurna atau matang, dan sering dinilai dengan kriteria keberaksaraan.

Bila diberikan deskripsi tentang kelisanan dengan memakai ukuran dari hal-hal

yang berasal dari dunia keberaksaraan, masih ada hal-hal tertentu yang khas dari

kelisanan yang belum terungkap ada pula hal-hal yang diungkapkan, tetapi tidak

diwujudkan. Hal ini tidaklah berarti bahwa kelisanan sama sekali terlepas dari

dunia keberaksaraan atau sebaiknya, dunia keberaksaraan tidak berkaitan dengan

dunia kelisanan. Hubungan di antara tradisi lisan dan tradisi tulis khususnya

dalam dunia melayu didasari oleh anggapan bahwa dengan mengetahui interaksi

keduanya, bru dapat memahami masing-masing tradisi tersebut. Pada beberapa

tempat hubungan atau penulisan tradisi lisan ke dalam naskah tertulis,

10

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


sebagaimana telah dijelaskan pada hakikat keselisihan di atas, tertentu memiliki

latar belakang yang berbeda-beda dalam perjalanannya, naskah-naskah yang

berawal dari riwayat lisan menimbulkan banyak versi. Hal ini dipengaruhi oleh

selera penulis.

Ada tiga karakteristik tradisi. Pertama, tradisi itu merupakan kebiasaan

(lore) dan sekaligus proses (process) kegiatan yang dimiliki bersama suatu

komunitas. Pengertian ini mengimplikasikan bahwa tradisi itu memiliki makna

kontinuitas (keberlanjutan), materi, adat, dan ungkapan verbal sebagai milik

bersama yang diteruskan untuk dipraktikkan dalam kelompok masyarakat tertentu.

Kedua, tradisi itu merupakan sesuatu yang menciptakan dan mengukuhkan

identitas. Memilih tradisi memperkuat nilai dan keyakinan pembentukan

kelompok komunitas. Ketika terjadi proses kepemilikan tradisi, pada saat itulah

tradisi itu menciptakan dan mengukuhkan rasa identitas kelompok. Ketiga, tradisi

itu merupakan sesuatu yang dikenal dan diakui oleh kelompok itu sebagai

tradisinya.

Sisi lain menciptakan dan mengukuhkan identitas dengan cara berpartisipasi


dalam suatu tradisi adalah bahwa tradisi itu sendiri harus dikenal dan diakui
sebagai sesuatu yang bermakna oleh kelompok itu. Sepanjang kelompok
masyarakat mengklaim tradisi itu sebagai miliknya dan berpartisipasi dalam
tradisi itu, hal itu memperbolehkan mereka berbagi bersama atas nilai dan
keyakinan yang penting bagi mereka (Martha and Martine, 2005; Sibarani,
2014).

Nilai dan norma budaya tradisi lisan sebagai warisan masa lalu, bagaimana

nilai dan norma budaya itu dapat dilestarikan, direvitalisasi, dan direalisasikan

pada generasi masa kini, untuk mempersiapkan generasi masa depan yang damai

11

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


dan sejahtera. Disini dapat kita ketahui bahwa tradisi lisan memiliki bentuk dan

isi. Bentuk yang dimaksud terdiri atas:

a) Teks, merupakan unsur verbal baik berupa bahasa yang tersusun ketat
seperti bahasa sastra maupun bahasa naratif yang mengantarkan tradisi
lisan nonverbal seperti teks pengantar sebuah performansi.
b) Ko-teks, merupakan keseluruhan unsur yang mendampingi teks seperti
unsur paralinguistik, proksemik, kinesik, dan unsur material lainnya, yang
terdapat dalam tradisi lisan.
c) Konteks, merupakan kondisi yang berkenaan dengan budaya, sosial,
situasi, dan idiologi tradisi lisan.

Isi yang terdapat dalam tradisi lisan yakni nilai atau norma yang pada

umumnya menjelaskan tentang makna, maksud, peran, dan fungsi. Nilai atau

norma tradisi lisan yang dapat digunakan untuk membentuk kehidupan sosial

itu disebut dengan kearifan lokal. Dalam hal ini, isi dapat dipilah menjadi

beberapa pembentukannya. Pertama, isi adalah makna atau maksud dan fungsi

atau peran. Kedua, nilai atau norma yang dapat diinferensikan dari makna atau

maksud dan fungsi atau peran dengan adanya kenyakinan terhadap nilai atau

norma itu. Ketiga, kearifan lokal yang merupakan penggunaan nilai dan norma

budaya dalam menata kehidupan sosial secara arif.

Wujud dari tradisi lisan sendiri berupa: (1) tradisi berbahasa dan beraksara
lokal (2) tradisi kesusastraan lisan (3) tradisi pertunjukan dan permainan
rakyat (4) tradisi upacara adat dan ritual (5) tradisi teknologi (6) tradisi
pelambangan atau simbolisme (7) tradisi kesenian musik rakyat (8) tradisi
pertanian tradisional (9) tradisi kerajinan tangan (10) tradisi kuliner atau
masakan tradisional (11) tradisi pengobatan tradisional (12) tradisi
panorama dan kondisi lokal (Sibarani, 2014:49).
Jenis pengetahuan yang dapat digali dari tradisi lisan adalah (1) usage
(cara-cara penggunaan) (2) folkways (kebiasaan rakyat) (3) mores atau
ethics (moral dan etika) (4) norm (norma) (5) custom (adat-istiadat) (6)
skill (keterampilan) (7) competence (kompetensiatau pengetahuan) (8)
aesthetics (keindahan) (Sibarani, 2014:50-51).

12

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


2.3 Konsep Performansi, Indeksikalitas, dan Partisipasi

Dalam mengkaji bahasa, kebudayaan, dan aspek-aspek lain kehidupan


manusia, pusat perhatian antropolinguistik (Durranti, 1977) dalam jurnalnya
Sibarani (2015:3), ditekankan pada tiga topik penting, yakni performansi
(performance), indeksikalitas (indexicality), dan partisipasi (participation).
Melalui konsep performansi, bahasa dipahami dalam proses kegiatan,
tindakan, dan pertunjukan komunikatif, yang membutuhkan kreativitas.
Bahasa sebagai unsur lingual yang menyimpan sumber-sumber kultural
tidak dapat dipahami secara terpisah dari pertunjukan atau kegiatan
berbahasa tersebut.

Konsep indeksikalitas ini berasal dari pemikiran filosofi Amerika Charles

Sanders Pierce yang membedakan tanda atas tiga jenis yakni indeks (index),

symbol (symbol), dan ikon (icon). Indeks adalah tanda yang mengindikasikan

bahwa ada hubungan alamiah dan eksistensial antara yang menandai dan yang

ditandai.

Konsep indeks (indeksikalitas) diterapkan pada ekspresi linguistik seperti

pronominal demonstratif (demonstrative pronouns), pronominal diri

(personalpronouns), adverbia waktu (temporal expressions), dan adverbia tempat

(spatial expressions). Konsep partisipasi memandang bahasa sebagai aktivitas

sosial yang melibatkan pembicara dan pendengar sebagai pelaku sosial

(socialactors). Menurut konsep ini, kajian tentang aktivitas sosial lebih penting

dalamkajian teks itu sendiri

13

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


2. 4 Teori Yang Digunakan

Teori merupakan suatu prinsip dasar yang terwujud di dalam bentuk yang

berlaku secara umum dan akan mempermudah seseorang penulis dalam

memecahkan suatu masalah yang dihadapinya.

Berdasarkan judul penelitian ini, secara umum secara umum teori yang

digunakan untuk mendeskripsikan kearifan lokal pada tradisi maragat di Desa

Sitinjak, Kecamatan Onanrunggu, Kabupaten Samosir menggunakan satu teori

yaitu teori kearifan lokal.

Istilah kearifan lokal (local wisdom) terdiri atas dua kata, yakni kearifan

(wisdom) yang berarti kebijaksanaan, sedangkan kata lokal (local) ialah setempat.

Maka dari itu kearifan lokal dapat di defenisikan sebagai gagasan-gagasan dan

pengetahuan setempat yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik, dan

dilaksanakan oleh anggota masyarakatnya.

Kearifan lokal itu diperoleh dari tradisi budaya atau tradisi lisan karena

kearifan lokal merupakan kandungan tradisi lisan atau tradisi budaya yang secara

turun-temurun diwarisi dan dimanfaatkan untuk menata kehidupan sosial

masyarakat dalam segala bidang kehidupannya atau untuk mengatur tatanan

kehidupan komunitas.

Kearifan lokal yang bersumber dari nilai budaya itu dimanfaatkan untuk

menata kehidupan masyarakat.Tatanan kehidupan berkenaan dengan interaksi

manusia dengan Tuhan, manusia dengan alam, dan interaksinya daam masyarakat.

Perspektif kultural lebih menekankan pada konteks kearifan lokal sebagai

nilai yang diciptakan, dikembangkan, dan dipertahankan dari masyarakat sendiri

14

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


dan karena kemampuannya mampu bertahan dan menjadi pedoman hidup

masyarakat. Di dalam kearifan lokal tercakup berbagai mekanisme dan cara untuk

bersikap, berperilaku, dan bertindk dan dituangkan dalam suatu tata social. Pada

dasarnya, ada 5 (lima) dimensi kultural tentang kearifan lokal, yaitu pengetahuan

lokal, budaya lokal, keterampilan lokal, sumber daya lokal, dan proses sosial lokal

(Ife, 2002:101-102 dalam buku Sibarani:116).

Dalam penelitian terhadap budaya atau tradisi lisan terdapat berbagai nilai

dan norma budaya sebagai warisan leluhur yang menurut fungsinya dalam menata

kehidupan sosial masyarakatnya dapat diklasifikasikan sebagai kearifan lokal.

Kemungkinan kearifan lokal masih akan bertambah jika dilakukan penelitian pada

semua tradisi lisan di Indonesia dan dalam satu kearifan lokal tersebut mungkin

terdapat beberapa nilai budaya.

Jenis Kearifan Lokal

KEARIFAN LOKAL

KEDAMAIAN KESEJAHTERAAN

 Kesopansantunan  Kerja keras


 Kejujuran  Disiplin
 Kesetiakawanan sosial  Pendidikan
 Kerukunan &  Kesehatan
Penyelesaian konflik  Gotong royong
 Komitmen  Pengelolaan gender
 Pikiran positif  Pelestarian dan kreativitas
 Rasa syukur Budaya
 Peduli lingkungan

15

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


BAB III

METODE PENELITIAN

Metode penelitian merupakan cara yang ilmiah, karena saja memusatkan

perhatian pada kebenaran ilmiah (scientific truth), akan tetapi mempertimbangkan

cara-cara untuk memperoleh kebenaran ilmiah itu, cara itu adalah penelitian

ilmiah (scientific research) atau disebut dengan metoologi penelitian.

(BurhanBungin, 2001:9).

BurhanBungin (2008:6), mengatakan bahwa penelitian sebagai sistem

ilmu pengetahuan, memainkan peranan penting dalam bangunan ilmu

pengetahuan itu sendiri. Maksudnya penelitian menempatkan posisi yang paling

urgent dalam ilmu pengetahuan untuk mengembangkan ilmu pengetahaun dan

melindunginya dari kepunahan.

Dalam konteks penelitian, istilah fakta memiliki pengertian tidak sama

dengan kenyataan exact, dan sesuatu tersebut terbentuk dari kesadaran seseorang

seiring dengan pengalaman dan pemahaman seseorang terhadap yang

dipikirkannya. Sesuatu yang terbentuk dalam pikiran seseorang tersebut belum

tentu secara konkret dapat dilihat dan ditemukan dalam kenyataan yang

sebenarnya

3.1 Metode Dasar

Metode dasar yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah metode atau

pendekatan kualitatif. Menurut Bungin (2008:8) mengugkapkan penelitian

kualitaif merupakan penelitian yang digunakan untuk menyelidiki, menemukan,

16

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


menggambarkan, dan menjelaskan kualitas atau keistimewaan dari pengaruh

sosial yang tidak dapat dijelaskan, diukur atau digambarkan. Metode ini dilakukan

agar dapat mengumpulkan dan menyajikan data secara faktual dan akurat

mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat populasi daerahnya.

Dipilihnya pendekatan kualitatif dalam penelitian ini didasarkan pada dua

alasan. Pertama permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini mengenai tradisi

maragat pada masyarakat Batak Toba di Desa Sitinjak Kecamatan Onanrunggu

Kabupaten samosir membutuhkan sejumlah data lapangan yang sifatnya aktual

dan kontekstual. Kedua, pemilihan pendekatan ini di dasarkan pada keterkaitan

masalah yang dikaji dengan sejumlah data. Dari kedua alasan tersebut penulis

menyimpulkan bahwa dalam penelitian kualitatif ini sangat cocok digunakan.

3.2 Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian yang akan dilaksanakan penulis berada di Desa Sitinjak,

Kecamatan Onanrunggu, Kabupaten Samosir, Provinsi Sumatera Utara. Alasan

penulis memilih lokasi penelitian di daerah ini di karenakan di daerah tersebut

masih ada anggota masyarakat yang melakukan tradisi maragat dan pohon aren

juga masih banyak tumbuh di daerah tersebut.

Letak Geografis Secara Geografis Kabupaten Samosir terletak pada 20 24‘ -

20 25‘ Lintang Utara dan 980 21‘ - 990 55‘ BT. Secara Administratif Kabupaten

Samosir mempunyai 9 (Sembilan) Kecamatan yaitu Harian, Nainggolan,

Onanrunggu, Simanindo, Pangururan, Sianjur Mulamula, Sitiotio, Palipi dan

Ronggur Nihuta.

17

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


3.3 Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian merupakan sebuah alat yang digunakan untuk

mengumpulkan data atau informasi yang bermanfaat untuk menjawab

permasalahan penelitian. Alat bantu yang digunakan peneliti antara lain :

1. Alat rekam (tape recorder)

Penulis gunakan untuk mengumpulkan data, karena tidak semua data dapat

ditulis berupa catatan-catatan lapangan mengingat waktu penelitian yang

memakan waktu tidak sedikit.

2. Pulpen

Alat tulis digunakan untuk menulis atau mencatat data-data yang diproleh

dari lapangan.

3. Buku tulis

Catatan-catatan mengenai hal-hal yang diangap penting dalam proses

observasi sehingga dapat mempermudah penulis untuk mengingat dan

menemukan kembali data-data yang telah diproleh yang selanjutnya akan

dituangkan dalam penulisan skripsi.

4. Daftar pertanyaan ( kusioner )

Merupakan tehnik pengumpulan data yang dilakukan dengan memberikan

pertanyaan-pertanyaan kepada informan untuk memudahkan memperoleh

data-data yang akan dituangkan dalam penulisan skripsi.

18

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


3.4 Metode Pengumpulan Data

Metode pngumpulan data ialah sebuah cara penelitian dalam pengkajian

data baik dari tinjauan pustaka maupun penelitian lapangannya.

Adapun metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

a. Metode Observasi

Metode ini dilakukan untuk mengamati secara langsung daerah tempat

penelitian untuk mendapatkan informasi yang mampu memberikan informasi data

yang dibutuhkan, tehnik yang dipergunakan penulis adalah tehnik catat.

b. Metode Wawancara

Menurut Bungin 2001:133, metode wawancara adalah proses memperoleh

keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil

bertatap muka antara pewawancara dengan responden atau orang yang

diwawancarai. Metode ini dilakukan langsung mewawancarai informan

guna memperoleh informasi yang lebih lengkap tentang kearifan lokal

tradisi maragatdi Desa Sitinjak dengan menggunakan alat rekam (tape

recorder) tehnik rekam.

c. Metode Kepustakaan

Dalam penelitian ini juga akan diteliti data skunder, dengan demikian data

yang akan dijadikan dalam penelitian ini menggunakan metode kepustakaan.

Metode ini juga merupakan salah satu sumber data penelitian kualitatif yang

sudah lama digunakan karena sangat bermanfaat. Dalam metode ini penulis juga

mencari buku-buku pendukung yang berkaitan dengan masalah dalam penulisan

skripsi ini dengan mengunakan teknik catat

19

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


3.5 Metode Analisis Data

Metode analisis data adalah metode atau cara dalam mengolah data mentah

sehingga menjadi data akurat dan ilmiah. Pada dasarnya dalam menganalisis data

diperlukan imajinasi dan kreativitas sehingga diuji kemampuan peneliti dalam

menalar sesuatu.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian

kualitatif. Menganalisis data kualitatif, boleh dikatakan sebagai suatu kegiatan

yang berlangsung secara terus menerus, bukan hanya suatu saat setelah penelitian

usai. Dan pekerjaan ini merupakan proses yang berkelanjutan, bukan pekerjaan

sesaat.

Dalam metode analisis data ini, penulis menggunakan langkah-langkah

sebagai berikut :

1. Data yang diperoleh diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia.

2. Setelah data diterjemahkan kemudian diklasifikasikan sesuai dengan objek

penelitian.

3. Setelah diklasifikasikan, data-data dianalisis sesuai dengan kajian yang

ditetapkan.

4. Membuat kesimpulan

20

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


BAB IV

PEMBAHASAN

4.1 Performansi tradisimaragat pada siklus mata pencaharian di Desa

Sitinjak Kecamatan Onanrunggu Kabupaten Samosir

Pohon aren (Arenga Pinnata)mudah tumbuh di daerah tropis seperti di Desa

Sitinjak yang mencapai ketinggian sampai 800 m dan biasanya enau banyak

tumbuh di lereng-lereng atau tebing sungai. Masyarakat Sitinjak yang bekerja

sebagai penyadap enau, menyadap enau yang tumbuh liar tanpa merawat atau

membudidayakan enau, dengan kata lain mereka hanya mengambil hasilnya saja

tanpa memperhatikan keberadaan pohon enau.

Seiring berjalannya waktu, lama kelamaan pohon enau semakin berkurang

karena faktor usia yang tidak produktif lagi untuk menghasilkan nira. Mengetahui

hal tersebut penyadap enau mulai berpikir untuk membudidayakan enau dengan

cara menanam bibit enau di lahan yang baru, dengan tujuan untuk menambah

hasil sadapan dari enau karena sudah mata pencaharian pokok bagi sebagian

masyarakat.

Hal pertama yang mereka lakukan dalam proses budidaya pohon enau ini

adalah mempersiapkan lahan baru. Penyadap enau mengolah kebun mereka yang

ditumbuhi pohon dan tumbuhan lainnya dengan cara menebang dan

membersihkan lahan tersebut. Selain mengolah kebun, untuk memperluas lahan

21

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


baru sesekali mereka juga mengolah hutan yang sudah tidak terurus lagi dijadikan

lahan baru untuk penanaman bibit pohon enau.

Setelah lahan dipersiapkan, kemudian proses selanjutnya adalah menyiapkan

bibit pohon enau untuk ditanam dilahan baru terebut. Di desa Sitinjak sendiri,

bibit pohon enau biasanya diperoleh di sekitaran pohon enau yang sudah tua. Bibit

yang berasal dari biji pohon yang tumbuh menjadi kecambah baru di sekitaran

pohon, mereka mengambilnya untuk dipindahkan ke lahan baru tanpa ada

perawatan atau perlakuan khusus sebelumnya terhadap kecambah tersebut. Pohon

yang menjadi induk dari bibit tersebut juga mempunyai syarat khusus, diantaranya

pohon yang sudah berumur 15 tahun samapi 20 tahunyang tumbuh bagus dan

menghasilkan nira yang banyak, serta mempunyai usia produktif yang lama.

Setelah memenuhi syarat tersebut, barulah dianggap bahwa bibit enau tersebut

bagus dan layak ditanam dilahan yang baru untuk di budidayakan, karena tidak

jarang ada pohon enau yang menghasilkan nira sedikit dan kualitasnya tidak baik.

Bibit pohon yang diambil dari sekitaran pohon induk biasanya memiliki tinggi

kurang lebih setengah meter dan berusia sekitar empat bulan. Bibit pohon tersebut

diambil dengan cara mencangkul keliling batang bibit dari tanah, dan penyadap

enau mengusahakan agar keseluruhan akar ikut tercabut, karena apabila akar bibit

banyak yang patah, diyakini proses pertumbuhannya nanti kurang akan lambat

dan susah untuk berkembang.

Setelah bibit diperoleh, kemudian penyadap enau menanam bibit tersebut

kelahan yang dipersiapkan dengan cara melobangi tanah dilahan yang baru

22

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


dengan kedalaman sekitar setengah meter yang di isi dengan kompos

sebelumnya, dan jarak antara satu lobang dengan lobang lainnya berkisar antara

3 sampai 5 meter dan menanamkan bibit tersebut. Setelah bibit tertanam,

biasanya penyadap enau menutupi tanah sekitaran batang pohon dengan

potongan-potongan daun dan ranting pohon lainnya. Hal ini ditujukan untuk

menggemburkan tanah sekitaran pohon enau tersebut, karena dedaunan tersebut

nantinya akan membusuk dan menjadi kompos bagi tanaman pohon enau yang

baru.

Di lokasi penelitian, penulis juga menemukan cara lain untuk proses

pembibitan pohon enau. Sebagian besar penyadap enau memperoleh bibit enau

dengan hasil pembibitan yang dilakukan. Pembibitan pohon enau dilakukan

dengan cara mengambil biji pohon enau yang disebut alto yang bagus. Biji

tersebut ditanamkan ke plastik polibag yang di isi dengan kompos dan ditunggu

hingga biji tumbuh menjadi kecambah dan menjadi bibit baru serta siap

ditanamkan kelahan baru. Biji enau yang layak untuk menjadi bibit warnanya

coklat tua matang dan tidak busuk.Bibit pohon enau di dalam plastik polibag

selama 4 sampai 5 bulan.

Setelah bibit pohon ditanam dilahan yang baru, penyadap enau kemudian

merawat pohon tersebut. Merawat pohon enau bisa dikatakan tergolong mudah,

dikatakan mudah karena tidak perlu adanya perawatan khusus serta tidak

membutuhkan biaya yang besar. Penyadap enau tidak memupuk atau

memberikan pestisida disekitaran pohon enau yang baru. Hal ini dikarenakan

23

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


pohon enau tergolong jenis pohon yang kuat dan tahan akan ganguan-gangguan

lainnya serta pohon ini mudah tumbuh dengan keadaan tanah yang subur.

Kegiatan maragat merupakan salah satu profesi atau bentuk mata

pencaharian masyrakat Desa Sitinjak.Bagi sebgaian masyarakat maragat ialah

pekerjaan utama, tetapi sebagain dari masyarkat maragat hanyalah pekerjaan

sampingan untuk menmbah pendapatan mereka.Jika di lihat dari pengurusan

maragat tidak terlalu memakan banyak waktu karena menyadap hanya di

lakukan pada pagi dan sore hari. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Desa

Sitinjak tidak mengganggu pekerjaannya di kebun maupun di sawah.

Menurut penuturan Sitinjak kepada penulis, pohon aren mulai bisa di

sadap pada usia 5 tahun dan puncak produksi antara 10-20 tahun. Enau yang

subur bisa menghasilkan 15 sampai 20 liter nira aren tiap hari.Pohon yang tidak

produktif lagi akan ditebang dan di biarkan membusuk di kebun untuk di

jadikan pupuk.

Pohon aren di sadap dua kali sehari, pada pagi hari dari pukul06.00

sampai pukul 08.00 dan sore hari dari pukul 15.00 sampai pukul 18.00. Hal ini

bertujuan untuk menghasilkan nira yang banyak dan nira yang bagus, biasanya

nira diambil pada sore hari dan bisa juga pada pagi hari, tergantung orang yang

menyadap nira. Memanen pohon aren yang di sadap berlangsung 3 sampai 4

bulan setelah memotong pangkal arirang ‘pangkal dari tandan’.Hasil rata-rata

dari satu batang pohon enau sekitar 8 sampai 12 botol/hari dan pohon aren yang

bagusbisa menghasilkan sekitar 15 sampai 20/hari. Tetapi ada juga pohon enau

24

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


menghasilkan nira sampai 60 botol/hari, akan tetapi pohon aren yang seperti ini

sangat jarang di jumpai oleh penyadap.

Nira yang di produksi dari pohon aren akan di jual di pasaran dengan

harga yang bervariasi tergantung kualitas dari nira yang dijual. Di Kabupaten

Samosir, khusunya Desa Sitinjak harga nira yang dianggap paling berkualitas

berkisar Rp. 3.500 sampai 5000/botol. Biasanya nira dijual kepada

parlapo‘pemilik warung tuak”.

4.1.1 Peralatan yang Digunakan dalam tradisi Maragatdi DesaSitinjak

Kecamatan Onanrunggu kabupaten Samosir

Dalam prose maragat, paragat menggunakan beberapa alat untuk memudahkan

proses maragat yang akan dilakukan di kebun atau di hutan pohon aren. Adapun

alat-alat yang digunakan adalah sebagai berikut.

a. Kampak Siam

Gambar Kampak Siam

25

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


Kapak siam atau sering disebut kapak kecil mempunyai mata yang

terbuat dari besi sekitar sejengkal dan di pasangkan pemegang yang yang

terbuat dari kayu panjangnya sekitar 50 cm. Kapak ini mempunyai mata yang

tajam di bagian sisi depannya.Kapak digunakan untuk merapikan batang pohon

enau seperti memotong ijuk yang ada di sekitar enau, memotong

hodong‘cabang pohon enau’, dan juga membersihkan segala sesuatu yang

dapat mengganggu pohon enau tersebut. Kapak ini juga digunakan untuk

memotong bambu yang di jadikan sige‘tangga dari pohonbambu’pada pohon

enau.

b. Sige

Gambar Sige

26

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


Sige merupakan tangga untuk menaiki pohon enau.Sige terbuat dari

bambu yang kuat dan bambu yang mempunyai ranting yang beraturan seperti

bambu duri, tujuan dari ranting bambu ini bermanfaat untuk menahan paragat

ketika memanjat pohon aren.Biasanya panjang sige tergantung ketinggian dari

sebuah pohon enau. Apabila pohon enau tinggi maka paragatakan membuat

sige yang panjang dan juga sebaliknya.

c. Raut

Gambar Raut

Raut terbuat dari besi dan mempunyi pegangan dan memiliki sarung

sebagai tutupnya. Biasanya pisau yang digunakan paragat menyerupai parang

tetapi lebih tipis dan tajam. Rautini digunakan paragat untuk mengupas kulit

pangkal arirang dan mengurangi arirang untuk mengurangi beban pangkal

27

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


arirang serta memotong (manampul tangan-tangan) .Raut yang digunakan

paragat mempunyai tali yang di ikatkan di pinggang paragat.Alasan mereka

untuk melakukan hal seperti ini supaya tangan paragat bisa memegang sige.

d. Piso Paragat

Gambar Piso Paragat

Piso paragat terbuat dari besi yang bagus biasanya dengan

menggunakan besi dari per mobil. Bentuknya hampir sama dengan raut,

bedanyapiso paragat lebih kecil di bandingkan dengan raut. . Piso paragat

digunakan untuk mengiris pangkal mayangsetiap pagi dan sore. Piso paragat

harus di asah setiap kali mau mengiris pangkal mayang, tujuannya ialah untuk

28

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


memudahkan paragat mengiris pangkal arirang. Piso paragat ini juga

mempunya tali yang diikatkan di pinggang paragat

e. Balbal

Gambar Balbal

Balbal‘pemukul”terbuat dari kayuyang panjangnya 30 cm, kayu yang

dijadikan balbal tidak sembarangan kayu melainkan kayu pilihan.. Kayu

tersebut di bentuk oleh paragat seperti bulatan dan mempunyai pegangan

yang lebih kecil. Biasanya kayuyang digunakan paragat untuk memukul

pngkal mayang ialah kayu yanh tidak terlalu keras. Balbal ini befungsi untuk

mambalbal (memukul) pangkal mayang dengan perasaan dengan

29

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


menyanyikan nyayian kecil (suaru tidak kuat waktu menyanyikan lagu

tersebut).

f. Raru

Gambar Raru

Kayu raru tumbuh pada ketinggian ± 400 m di atas permukaan laut dan

berada dalam kawasan Hutan Lindung di Kecamatan Sarudik, Kabupaten

Tapanuli Tengah. Bagi paragat sendiri, raru adalah campuran untuk nira aren

yang bertujuan untuk meningkatkan citarasa tuak (menjadikan nira

mengandung alkohol). Raru ini akan di masaukkan ke tungkap dengan jumlah

secukupnya.

30

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


g. Tungkap

Gamabr Tungkap

Tungkap ialah alat untuk menampung air nira yang diteteskan pangkal

mayang. Tungkap atau tukkap yang digunakan paragatpada zaman dulu adalah

hudon tano‘periuk tanah’. Dikarenakan periuk tanah sudah langka ditemukan,

akhirnya paragat menjadikan bambu bolon yang panjangnya 2 sampai 3 ruas

sebagai alat untuk menampung air nira. Tetapi akhir-akhir ini paragat sudah

menggunakan ember atau jeregen, ini di karenakan keberadaan bambu bolon

sudah jarang tumbuh di daerah ini.Tungkap harus mempunyai tali untuk

diikatkan ke pangkal mayang dan harus memperhatikan arah tetesan nira,

supaya tetesan air nira tepat menetes ke dalam tungkaptersebut.

31

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


h. Goni

Gambar Goni

Goni yang digunakan adalah goni plastik. Goni ini berfungsi untuk

menutupi tungkap yang menampung air nira.Goni ini akan menutpi seluruh

bagian tungkap tanpa ada celah tujuannya ialah untuk menghindari lebah,

tupai, tikus, air hujan dan serangga supaya tidak masuk ke tungkap.Zaman

dahulu untuk menutupi tempat penampungan air nira ialah ijuk ‘rambut pohon

enau’, tetapi karena jaman sudah maju dan adanya modernisasi ijuk tersebut

tidak dipakai lagi sebagai alat menutupi penampungan nira.

32

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


i. Jaregen

Gambar Jaregen

Jaregen‘jeregen’ adalah tempat tuak yang ditumpahkan dari tungkap.

Apabilaparagat mengambil hasil sadapnnya, mereka akan membawa jaregen

sebagai tempat untuk membawatuak dari pohon enau.

Jeregen tersebut mempunyai tali dan diletakkan di pundak paragat dan harus

dipegang supaya tidak jatuh. Pada zaman dulu, paragat menggunakan bulu

bolon ‘bambu besar’ yang ukurannya2 samapi 3 ruas tempat menurunkan tuak.

Tetapi karena adanya modernisasi paragat sekarang tidak lagi memakai alat

tersebut, melainkan menggunakan ember.

33

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


4.1.2 Tahap-Tahapan dalam Tradisi Maragat di Desa Sitinjak Kecamatan

Onanrunggu Kabupaten Onanrunggu

Adapun tahapan dalam tradisi maragat di Desa Sitinjak, Kecamatan,

Onanrunngu, Kabupaten samosir ialah sebagai berikut:

A. Pajongjonghon Sige di Bona ni Bagot (Mendirikan Tangga di Pohon Enau)

Tahap yang pertama dalam tradisi maragat di Desa Sitinjak ialah

pajongjonghon sige di bona nibagot (mendirikan tangga di pohon enau.Tujuan

membuatsige ini adalah sebagai alat paragat memanjat pohon enau dengan mudah.

Biasanya tangga tersebut terbuat dari pohon bambu duri yang mempunyai ranting

beraturan. Paragat memilih pohon bambu duri sebagai sige karena bambu ini

merupakan salah satu pohon bambu yang kuat sehingga mampu

menahan/menopang tekanan dari paragat saat memanjat. Akan tetapi paragat

jarang mengikat sige ke batang pohon enau, hal ini bertujuan untuk menghindari

pencuri. Jadi hanya paragat saja yang tahu bagaimana keadaan dari sige tersebut.

Apabila ada yang berniat jahat untuk mengambil atau yang bermaksud berbuat

curang dengan pohon enau yang di sadap oleh seseorang biasanya jatuh setelah

menaiki sige tersebut.

B. Mamilit Tangan-tangan na Suman Diagat (Pemilihan Pangkal Mayang

yang Cocok Disadap)

Setelah selesai pembuatan tangga tahap selanjutnya yang dilakukan oleh paragt

ialah memilih pangkal mayang yang cocok atau layak untuk disadap.Biasanya

34

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


paragat memeriksa seluruh pohon enau yang ada di kebun dan di hutan.Dalam

tahap ini paragat memeriksa mayang yang dikeluarkan pohon enau.Apabila buah

mayang sudah besar biasanya berumur sekitar 3 bulan, inilah tandanya mayang

sudah bisa untuk disadap.

Gambar Paragat Memilih Pangkal Mayang

Pemilihan mayang ini sangatlah penting, karena tidak semua mayang

menghasilkan air nira yang memuaskan sehingga paragat perlu memilih dan

memeriksa mayang.Mayang yang bagus memiliki biji yang besar dan jumlahnya

banyak, selain itu umur pohon enau juga sangatlah berpengaruh terhadap

mayang.Pohon enau yang berumur15 sampai 20 tahun biasanya mengeluarkan

mayang yang lebih kecil dari sebelumnya dan air nira yang dihasilkan juga tidak

begitu banyak.

35

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


C. Paiashon Bona ni Borta (Membersihkan Batang Pohon Enau)

Pada tahap ini paragat akan membersihkan batang pohon enau setelah

mayang dari borta tersebut sudah ada. Mayang atau arirang ‘buah yang ada pada

tandan’ ini biasanya mulai keluar dari pohon enau setelah pohon tersebut paling

sedikit berumur 7 tahun baru dapat di deres untuk diambil niranya.Setelah arirang

tersebut keluar. Alat yang digunakan paragat untuk membersihkan batang pohon

enau ialah kapak siam, kapak siam ini digunakan untuk memotong ijuk dan

hodong ‘pelepah pohon enau’

Gambar Paragat Membersihkan Batang Pohon Enau

36

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


D. Mangkuliti Lakkat ni Tangan-tangan (Mengupas Kulit Pangkal Mayang)

Tangan-tangan ‘tandan pohon enau’ atau sering disebut dengan arirang ini

ialah bagian dari pohon enau yang keluar dari hodong ‘pelepahpohonenau’pohon

enau. Biasanya tangan-tangan inidikupas setelah buah arirang agak kuning.

Apabila buah arirang sudah mengering maka paragat sudah bisa mengupas kulit

yang ada di tangan-tangan tersebut dengan menggunakan raut atau piso ‘pisau’

Gambar Paragat Mengupas Kulit Pangkal mayang

Tetapi tidak semua kulit dari tangan-tangan di kupas, sekitar satu jengkal dari

batang pohon aren biasanya di biarkan oleh paragat.Tujuannya ialah untuk

menahan arirang supaya tidak patah, arirang ini juga bisa di kurangi untuk

mengurangi beban tangan-tangan.

37

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


E. Manghuturdohot Mambalbal (Mengayun dan Memukul)

Setelah buah arirang berumur kira-kira 3 sampai 4 bulan akan berwarna hitam

kecoklatan, dan disinilah selama sebulan paragat harus mengayun arirang ini dari

bawah pohon dengan menggunakan tali sesuai ketinggian pohon, tetapi ada juga

yang memanjat pohon untuk manghuturarirang. Mengayun ini dilakukan minimal

30 menit dalam satu hari.

GambarParagatManghuturArirang

Setelah selesai manghutur arirang, paragat juga harus naik ke pohon dan

harus memukul-mukul pangkal arirang tersebut sekitar 10 menit (mambalbal

bona ni bagot dalam bahasa Batak Toba ).Dalam tahap memukul ini, paragat

tidak hanya memukul-mukul pangkal mayang melainkan ikut juga memukul-

mukul batang pohon enau yang dekat pangkal mayang tersebut.

38

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


Gambar Paragat memukul pangkal Arirang

Adapun tujuan dari manghutur dan memukul arirang ini supaya kelak dapat

mengeluarkan air dengan lancar. Dimana air inilah yang nantinya akan menjadi

air nira.

Terdapat semacam ritual dalam proses penyadapan bagot ini. Seperti

menyanyikan sebuah lagu sebelum menyadap bagot. Hal ini dimaksudkan untuk

membujuk pohon bagot tersebut supaya mau mengeluarkan air nira. Jika seorang

paragat tersebut tidak bernyanyi sebelum maragat, maka airnya tidak akan

keluar. Seorang paragat juga harus pandai-pandai membujuk pohon bagot yang

akan diagati, karena menurut legenda masyarakat Batak bagot adalah jelmaan dari

seorang wanita yang yang harus dibujuk agar mau memberikan tetesan air

matanya yang disebut nira. Tangkai tandan bunga jantan yang akan diagati

biasanya digoyang-goyang serta diketuk-ketuk dengan sepotong kayu sambil

dinyanyi-nyanyikan syair rayuan yang berbunyi:

“O Boru Sorbajati siboru nauli, Boru na so ra jadi na uli diagati, unang

sai maila ho tangis da! Tangishon ma sude arsak ni rohami!”

39

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


Artinya “O Putri Sorbajati wanita yang cantik, wanita yang tidak jadi

cantik di deres, janganlah kau malu! Katakanlah semua keluh kesah yang ada

dalam hatimu!

Kata-kata pantun tersebut dinyanyikan berulang-ulang sampai dirasa

Siboru Sorbajati dianggap sudah termakan bujuk rajuan oleh paragat. Bila rayuan

itu memang diterima oleh Putri Sorbajati maka diyakini penyadapan akan

berlangsung lama berbulan-bulan dan menghasilkan tuak yang banyak dari satu

tandan. Namun pada penyadapan bagot yang terdapat di desa Sitinjak ini

nyanyian tersebut sudah jarang digunakan bahkan sudah tidak terdapat lagi

nyanyian tersebut. Dalam proses penyadapan ini, yang melakukan pekerjaan ini

adalah orang yang ahli dalammambalbalbagot ataupun orang yang sebelumnya

telah belajar yang disebut dengan paragat.

Pada tahap ini yang paling di utamakan ialah manghutur arirang, paragat

biasanya lebih lama manghutur daripada memukul pangkal arirang. Hal ini di

karenakan jika lama memukul pangkal arirang bisa saja arirang tersebut retak

sehingga tidak dapat lagi menghasilkan air nira karena pangkalnya akan kering.

Untuk menghindari kejadian seperti ini paragat harus memukul pangkal arirang

dengan perasaan.

Pada saat manghuturarirang, paragat membawa nitak ‘makanan

tradisional yang berupa kue yang terbuat dari tepung beras’ ke pohon enau, nitak

tersebut sebagian dimakan oleh paragat dan sebagian lagi di letakkan di batang

pohon dan bisa juga di oles ke pangkal arirang. Tujuan dari ritual ini ialah untuk

40

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


meminta izin kepada pohon enau tersebut supaya di kasih air nira yang

memuaskan dan nira yang bagus.

F. Manampul Tangan-Tangan (Memotong Pangkal Mayang)

Sebelum memotong pangkal mayang, biasanya paragat harus memakan

kesukaannya, misalnya: manuk na pinadar.Manuk na pinadar ini di makan di

bawah pohon enau. Tujuannya ialah ketika pangkal mayang sudah dipotong

paragat mengharapkan air nira menetes terus menerus dari tangan-tangan

‘pangkal mayang’ tersebut.

Setelah berumur 4 bulan arirang ini akan berubah warna menjadi

kekuning-kuningan dan mengeluarkan cairan seperti minyak, dan biasanya akan

di kerumuni oleh lebah. Ini di sebabkan karena buah tersebut telah mengeluarkan

aroma yang berbau air niradan mengandung rasa manis.

Gambar Tangan-tangan ‘pangkal mayang’ sudah layak di potong

41

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


Disinilah saatnya paragat mulai melaksanan pekerjaanya. Pertama sekali

paragatakan memotong setengah dari pangkal ataupun tandan buah arirang

tersebut. Setelah di potong dan di bilas dengan air, kemudian di iris tipis-tipis

serta di lumuri resep tertentu yang disebut dengan butong-butong (biasanya

tumbuhan yang berlendir seperti tanggiang ‘sejenis pakis’, suhat ‘keladi’).

G. Mangiris Mata ni Tangan-tangan (Mengiris Mata Pangkal Mayang

Mayang)

Setelaah beberapa saat memotong atau mengiris pangkal mayang tersebut

barulah terlihat air, namun masih berbentuk kental dan belum bisa langsung di

tampung. Paragat mengiris tangan-tangan selama 3 hari dan melumuri pangkal

yang di iris dengan butong-butong ‘tumbuhan yang mengandung seperti pakis

dan keladi ditumbuk merata’. Butong-butong tersebut diletakkan tepat pada

mayang yang di iris dan ditutupi dengan plastik kantongan serta di ikat dengan

bagus.Biasanya paragat akan menmpung air nira setelah tangan-tangan

meneteskan nira selama10 sampai 12 jam.

42

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


Gambar Paragat Mengiris Pangkal Mayang

Maksudnya ialah setelah tangan-tangan di iris pada pagi hari paragat

harus menjumpai tangan-tangan yang di agati ‘yang di iris’ pada sore hari masih

menetes. Apabila tangan-tangan tersebut masih menetes, paragat baru bisa

menampung air niranya dengan hudon tano. Akan tetapi saat sekarang paragat

tidak menggunakan hudon tano‘periuk tanah’lagi sebagai penampung nira,

melainkan sudah menggunakan ember. Paragat akan memasukkan airtuak

yangaslisebanyak 1 botol dan raru 2 potongdi dalam jeregen yang disebut dengan

istilah panomu. Panomu ini dipercayai untuk manomu (menjemput) air nira yang

menetes dari tangan-tangan tersebet.Panomu yang diberi paragat akan

mempengaruhi kualitas tuak yang keluar dari tangan-tangan.

43

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


4.2 Manfaat dalam Tradisi Maragat Di Desa Sitinjak Kecamatan

Onanrunggu Kabupaten Samosir

Manfaat tradisi maragat yang terdapat di Desa Sitinjak kecamatan

Onanrungggu Kabupaten Samosir ialah untuk meningkatkan kesejahteraan

masyarakat. Kesejahteraan yang dimaksud ialah karena tradisi maragat

bermanfaat sebagai sumber mata pencaharia bagi sebagian masyarakat, mereka

yang mempunyai kebun atau pekerjaan lain maragat hanyalah sebagai kerja

sampingan. Sebagian masyarakat memanfaatkan pohon enau untuk di deres yang

dapat menghasilkan uang. Menyadap atau menderes pohon enau bukanlah hal

yang mudah, paragat harus rajin dan sabar untuk menyadap pohon enau.

Menyadap pohon enau harus seorang yang mempunyai niat dan disiplin

waktu.Untuk menyadap pohon enau diperlukan beberapa tahapan yang harus di

kerjakan oleh paragat, mulai dari membersihkam pohon enau sampai

menghasilkan air nira membutuhkan waktu sekitar 3 samapi 4 bulan. Biasanya

paragat menyadap pohon aren 3 sampai 5 pohon bahkan lebih, apabila pohon aren

yang di sadap banyak maka penghasilan dari seorang paragat juga akan lebih

banyak.

Berdasarkan penuturan Parhusip kepada penulis bahwa paragat di Desa

Sitinjak rata-rata berpenghasilan Rp. 3.000.000 s/d Rp. 4.000.000/bulan,

pendapatan paragat ini dapat di buktikan dengan salah satu paragat yang ada di

Desa Sitinjak yaitu Bapak Lumbansiantar. Bapak ini memiliki 3 pohon enau

yang di sadap, setiap harinya bapak ini menderes/menyadap nira berkisar 8

samapi 12 botol/pohon enau. Jika bapak ini menyadap 3 pohon enau berarti

44

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


menghasilkan sekitar 30 sampi 36 botol/hari. Harga nira yang di peroleh bapak

Lumbansiantar ini Rp. 4.000/botol, misalkan amang Lumbansiantar memanen 30

botol/hari x Rp. 4.000 = Rp. 120.000 x 30 hari = Rp. 3.600.000.Maka bapak

Lumbansiantar memperoleh penghasilan dalam sebulan sekitar tiga juta enam

ratus ribu rupiah.

Sama halnya dengan penuturan Sitinjak apabila seorang paragat masih

anak sekolah (SMP, SMA), anak ini mampu menyekolahkan dirinya dari hasil

deresannya,bahkan masih bisa membantu orangtuanya untuk membutuhi

kehidupan sehari-hari.Jadi maragat merupakan pekerjaan yang menjanjikan

cukup banyak untuk menghasilkan uang.

Selain hasil sadapan yang berupa air niramaka paragatjuga dapat

memanfaatkan bagian-bagian dari pohon enau lainnya seperti daun yang dapat

digunakan sapu lidi, daun muda (pucuk) digunakan untuk hiasan Gereja pada saat

Natal, Ijuk (pembungkus batang yang menyerupai rambut) dapat dijadikan sebagai

sapu. Bahkan pada zaman dahulu ijuk ini sangatlah penting dalam pembuatan

rumah adat Batak yang dijadikan sebagai atapnya.Halto (biji mayang), di

masyarakat Indonesia ini dikenal sebagai kolang-kaling yang menjadi bahan

makanan dan manisan.Bona (batang), dalam hal ini batang yang dimaksud adalah

batang pohon enau yang sudah ditebang.Pohon batang enau di diamkan hingga

beberapa lama waktunya sampai menghasilkan ulat, dimana ulat ini dalam

masyarakat Batak disebut dengan hidu.Ulat ini akan diolah menjadi makanan

yang mengandung protein yang sangat tinggi. Sebagain paragat memanfaatkan

45

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


dangka (dahan pohon enau) menjadi sendok nasi dengan cara membentuknya

menyerupai sendok ini di dasari karena dahan enau sangatlah keras.

4.3 Kearifan Lokal yang Terdapat dalam Tradisi Maragat di Desa Sitinjak

Kecamatan Onanrunggu Kabupaten Samosir

Tradisi budaya masyarakat Batak mempunyai banyak potensi kearifan

lokal yang digunakan oleh masyarakat sebagai rambu-rambu atau pedoman dalam

menjalani kehidupannya.Kearifan lokal (local genius/local wisdom) merupakan

pengetahuan lokal yang tercipta dari hasil adaptasi suatu komunitas yang berasal

dari pengalaman hidup yang di komunikasikan dari generasi ke generasi.

Menurut Balitbangsos Depos RI (2005:5-15), kearifan lokal itu merupakan


kematangan masyarakat di tingkat komunitas lokal yang tercermin dalam
sikap, perilaku dan cara pandang maasyarakat yang kondusif di dalam
mengembangkan potensi dan sumber lokal (material ataupun nonmaterial)
yang dapat dijadikan sebagai kekuatan di dalam mewujudkan perubahan
kea rah yang lebih baik atau positif (Sibarani: 115)

Kearifan lokal yang masih terdapatdi Desa Sitnjak misalnya kearifan lokal

yang terdapat dalam tradisi maragat pada masyarakat Batak Toba di Desa

Sitinjak antara lain:

4.3.1 Pelestarian dan Kreativitas Budaya

Tradisi maragat merupakan salah satu tradisi yang harus dilestarikan oleh

masyarakat Batak Toba.Karena tradisi maragat dapat menghasilkan air nira yang

dapat dijadikan tuak setelah dipermentasikan.Tuak merupakan salah satu ciri khas

Batak dimana dalam upacara adatnya tuak merupakan minuman tradisional.Dalam

tradisi maragat dibutuhkan kreativitas dari seorang paragat yang bertujuan untuk

menghasilkan air nira yang banyak dan air nira yang berkualitas.

46

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


4.3.2 Kerja Keras

Seorang paragat di tuntut untuk bekerja keras alasannya ialah maragat

bukanlah pekerjaan yang mudah, melainkan pekerjaan yang membutuhkan tenaga

yang kuat. Dalam tradisi maragat, seorang paragat harus mampu memanjat

batang pohon aren walaupun dengan bantuan tangga yang terbuat dari bambu.

Saat memanjat dibutuhkan keseimbangan badan supaya paragat tersebut tidak

jatuh ketika naik dan turun dari tangga. Tidak hanya itu seorang paragat harus

membersihkan batang pohon aren misalnya memotong ijuk ‘rambut pohon aren’,

membersihkan pangkal mayang dan juga membersihkan ranting pohon yang

mengganggu pohon aren tersebut.

4.3.3 Disiplin

Kedisiplinan adalah salah satu kunci sukses bagi seorang

paragat.Kedisipilinan yang dimaksud dalam tradisi maragat ini ialah disiplin

waktu.Pohon aren di sadap dua kali sehari, pada pagi hari dari pukul 06.00

sampai pukul 08.00 dan sore hari dari pukul 15.00 sampai pukul 18.00. Hal ini

bertujuan untuk menghasilkan nira yang banyak dan nira yang bagus, Apabila

seorang paragat sesekali tidak tepat waktu menyadap pangkal mayang, maka

hal tersebut dapat mengakibatkan berkurangnya air nira yang dihasilkan

pangkal mayang tersebut dan bisa juga pangkal mayang tersebut mengering

dan tidak mengeluarkan air nira. Biasanya nira diambil pada sore hari dan bisa

juga pada pagi hari, tergantung orang yang menyadap nira. Memanen pohon

47

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


aren yang di sadap berlangsung 3 sampai 4 bulan setelah memotong pangkal

arirang ‘pangkal dari tandan’.

4.3.4 Pendidikan

Menyadap pohon aren tidak segampang yang kita bayangkan, banyak

orang menyadap aren namun tidak menghasilkan air nira, ada juga air niranya

tidak banyak.Hal ini dikarenakan pada saat mambalbal ‘memukul’dan manghutur

‘mengayun’ pangkal mayang tidak sesuai dengan sesungguhnya.Seorang paragat

harus mempelajari kunci sukses untuk menyadap aren.Misalnya saat manghutur

mayang biasanya putaran dari ayunan mayang tersebut sekitar 20 0-400 dan pada

saat mambalbal pangkal mayang tidak boleh terlaku kuat, supaya pangkal mayang

tidak pecah atau retak. Jika sudah pecah maka pangkal mayang akan kering dan

tidak dapat lagi menghasilkan air nira. Selain itu paragat juga mempelajari ritual

semacam nyayian yang dinyanyikan pada saat mengayun dan memukul pangkal

mayang.

4.3.5 Kesehatan

Tradisi maragat juga bermanfaat bagi masyarakat Sitinjak untuk

kesehatan. Dengan adanya tradisi maragat otomatis akan menghasilkan air nira

yang dapat dijadikan tuak. Masyarakat sitinjak biasanya minum tuak pada sore

atau malam hari, bisa saja minum di warung tuak dan ada juga yang membeli tuak

tetapi di minum di rumah sesndiri. Apabila minum tuak masyarakat Sitinjak

meyakini dapat memulihkan tenaga setelah pulang bekerja dari ladang dan

48

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


bermanfaat juga untuk mengurangi kadar gula bagi peminum tuak tersebut. Selain

itu, minum tuak juga sangat bagus untuk wanita yang baru melahirkan untuk

memperlancar Air Susu Ibu (ASI) .

4.3.6 Pengelolaan Gender

Di Desa Sitinjak tidak pernah dijumpai seorang paragat wanita, karena

maragat memang salah satu pekerjaan yang ekstrim dimana dibutuhkan fisik yang

kuat untuk memanjat pohon aren.Jadi sejak jaman dahulu seorang paragat yang

ada di Desa Sitinjak hanyalah laki-laki.

4.3.7 Kesopansantunan

Kesopansantunan merupakan salah satu hal yang penting dalam tradisi

maragat.Seorang paragat harus sopan ketika menyadap pohon aren, karena

masyarakat Batak Toba meyakini bahwa pohon aren adalah jelmaan dari seorang

wanita. Apabila seorang paragat tidak sopan pada saat menyadap bisa-bisa usaha

yang dilakukannya sia-sia, karena pohon aren tersebut tidak akan mengerluarkan

air nira seperti yang di inginkan paragat tersebut.

4.3.8 Kejujuran

Kejujuran adalah awal dari segalanya, kejujuran yang dimaksud dalam

tradisi maragat ialah tidak ada kebohongan yang dilakukan oleh

paragat.Misalnya hasil sadapan paragat satu hanya 5 botol, karena tidak puas

dengan hasil tersebut maka ditambahkannya air 2 botol.Setelah itu dia menjual

49

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


tuak tersebut yang aturannya 5 botol menjadi 7 botol.Hal tersebut dapat

mengakibatkan berkurangnya air nira yang dikeluarkan pangkal mayang

kedepannya. Selain itu jangan menanmbah bahan-bahan kimia ke dalam air tuak

misalnya memasukkan air ragi, anti nyamuk dan lapenda.

4.3.9 Pikiran Positif

Berfikir positif merupakan kunci utama dalam tradisi maragat, ketika

seorang paragat tidak curiga atau tidak meragukan pekerjaan yang dia kerjakan

maka hasil sadapannya akan memuaskan. Jangan memikirkan hal-hal yang tidak

baik misalnya apakah nanti banyak air niranya seperti milik orang lain. Selain itu

paragat tidak bisa memelihara rasa cemburu ‘late’ terhadap sesama paragat.

4.3.10 Rasa Syukur

Rasa syukur atau berterima kasih yang dimaksud dalam tradisi maragat

ialah seorang paragat harus mensyukuri hasil sadapannya walaupun hanya

sedikit. Jika di syukuri maka rezeki paragat untuk kedepannya akan semakin

bertambah. Selain itu seorang paragat harus menghargai hasil sadapan yang di

dapat, karena kebahagiaan tidak akan pernah datang kepada mereka yang tidak

menghargai apa yang telah di miliki.

50

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1Kesimpulan

Berdasarkan uraian tentang Kearifan Lokal pada Tradisi maragat yang

diperoleh melalui informan, bahwa tradisi maragat di Desa Sitinjak, Kecamatan

Onanrunggu, Kabupaten Samosir masih sangat dijaga dan juga di lestarikan baik

untuk melesstarikan minuman tradisional maupun menjadi mata pencaharian

pokok dan juga tambahan.

1. Performansi dalam tradisi maragat memiliki 6 tahapan yaitu: a) memilih

pohon enau yang cocok untuk disadap, b) mambahen sige (membuat

tangga/alat bantu memanjat pohon enau dari bambu), c) paiashon bona ni

borta (membersihkan batang pohon enau), d) mangkuliti tangan-tangan

(mengupas kulit pangkal mayang), e) mangayun dohot mambalbal tangan-

tangan (mengayun dan memukul pangkal mayang), f) manampul tangan-

tangan (memotong pangkal mayang), dan g) mangiris mata ni tangan-

tangan (mengiris mata pangkal mayang).

2. Manfaat tradisi maragat Maragat di Desa Sitinjak Kecamatan Onanrunggu

kabupaten Samosir ialah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

3. Keariafan lokal yang terdapat dalam tradisi maragat di Desa Sitinjak

Kecamatan Onanrunggu Kabupaten Samosirialah 1) Pelestarian dan

Kreativitas Budaya, 2) Kerja Keras, 3) Disiplin, 4) Pendidikan, 5)

Kesehatan, 6) Pengelolaan Gender, 7) Kesopansantunan, 8) Kejujuran, 9)

Pikiran Positif, 10) Rasa SyukuR

51

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


5.2 Saran

Masyarakat Batak sangatlah erat kaitannya dengan tradisi maragat,

dimana tradisi ini sudah sangat menjamur di kalangan masyarakat.

1. Adanya upaya pemerintah untuk melestarikan tradisi maragat seperti

pemberian modal atau lahan pertanian.

2. Adanya perhatian pemerintah untuk mengolah bahan baku yang dapat

di manfaatkan dari pohon enau.

3. Perlunya kegiatan mahasiswa yang berupa observasi lapanagan seperti

penelitian terhadap tradisi maragat.

4. Perlunya partisipasi mahasiswa ataupun kalangan muda untuk

menggali dan melestarikan budaya-budaya daerah termasuk tradisi

maragat.

52

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


DAFTAR PUSTAKA

Bungin, Burhan. 2008. Penelitian Kualitatif. Jakarta: Kencana Prenada


Media Group.
Endaswara, Suwardi.2003. Metodologi Penelitian Sastra. Jogjakarta:
Media Prisindo.
Maryaeni. 2005. Metode Penelitian Kebudayaan. Jakarta. PT Bumi Aksara
Bandung: Tarsito.
Nababan, Berliana.2015. .Kearifan Lokal Tradisi Bertani Padi pada Masyarakat
Batak Toba di baktiraja.Medan: Skripsi.
Siagian, Rolas. 2017. Representasi Kearifan Lokal Gotong-Royong (Marsirimpa)
dalam Cerita Rakyat Batak Toba. Medan: Skripsi.
Sibarani, Robert. 2012. Kearifan Lokal: Hakikat; Peran, dan Metode Tradisi
Lisan .Jakarta : Asosiasi Tradisi Lisan.
-------------------- 2014. Kearifan Lokal Gotong Royong Pada Upacara Adat Etnik
Batak Toba. Medan : Badan Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi
Provinsi Sumatera Utara.
Simamora, Janrewico. 2012. Ritual Maragat Bona ni Bagot pada Masyarakat
Batak Toba: Suatu Tinjauan Foklor.Medan:Skripsi
Sihombing, Nielson.2013. Analisis Pola Ritmis Mambalbal bagot Pada
Masyarakat Batak Toba di Desa Hutaimbaru Kecamatan Tapian Nauli
Kabupaten Tapanuli Tengah.Medan: Skripsi.
Sinaga, Warisman dkk.2015. Kearifan Lokal dalam Pelestarian Alam pada Cerita
Rakyat Sumatera Utara (Penelitian Kerjasama). Medan. USU Press.

1. http//www.Wawasan-edukasi.web.id/2016/12/pengertian-dan-defenisi-
kajian-pustaka.html?=1

53

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


LAMPIRAN

Lampiran 1

Daftar Pertanyaan

No

Pertanyaan Deskripsi Interpresentasi

jawaban

1 Tolong Bapak jelaskan bagaimna

perhatian paragat terhadap pohon enau

di Desa Sitinjak!

2 Apakah ada pelestarian tradisi maragat

dari pihak pemerintah di Desa Sitinjak?

3 Bagaimana pendapat masyarakat Desa

Sitinjak dengan adanya tradisi maragat?

4 Bagaimana tahap-tahapan dalam tradisi

maragat di Desa Sitinjak?

5 Apa-apa saja peralatan yang digunakan

dalam tradisi maragat di Desa Sitinjak?

6 Apakah ada ritual tradisi maragat di

Desa Sitinjak?

7 Apa manfaat tradisi maragat di Desa

Sitinjak?

8 Dalam tradisi maragat apakah ada

54

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


pengaruh kepada penduduk Desa

Sitinjak?

9 Berapa banyak penduduk Desa Sitinjak

yang melakukan tradisi maragat?

10 Berapa penghasilan yang di dapat oleh

seorang paragat?

11 Bagaimana keberadaan pohon enau di

Desa Sitinjak

12 Apa-apa saja resiko seorang paragat di

Desa Sitinjak?

13 Berapa banyak air nira yang yang

dihasilkan satu tangan-tangan di Desa

Sitinjka?

14 Apa-apa saja pantangan dalam tradisi

maragat di Desa Sitinjak?

15 Apakah ada wanita yang maragat di

Desa Sitinjak?

Lampiran 2

55

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


Daftar Informan

1. Nama : Kijun Sitinjak

Jenis Kelamin : Laki-laki

Usia : 76 tahun

Pekerjaan : Petani

2. Nama : Hotman Martinus Sitinjak

Jenis Kelamin : Laki-laki

Usia : 46 tahun

Pekerjaan : Petani,Paragat

3. Nama : Lorensius Parhusip

Jenis Kelamin : Laki-laki

Usia : 55 tahun

Pekerjaan : Petani, Paragat

4. Nama : Parasian Sitinjak

Jenis Kelamin : Laki-laki

Usia : 50 tahun

Pekerjaan : Petani

5. Nama : Parlindungan Lumbansiantar

Jenis Kelamin : Laki-laki

Umur : 52 tahun

Pekerjaan : Petani, Paragat

Lampiran 3

56

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


Hajajadi ni Hau Borta

Na jolo adong ma sada borua na margoar Siboru Sorbajati. Siboru

Sorbajati on i ma boru ni Batara Guru na ro sian banua ginjang, jala di patodo –

todo do siboru sorbajati on tu Raja Enda – Enda na adong di luat portibion. Alai

nasida dang hea dope marsitandaan, ala ni i mansai malungun ma rohani Siboru

Sorbajati pajumpang dohot na laho tonggane dolina i, asa pintor ditanda songon

dia do anak ni namboruna i, jadi mangido ma Siboru Sorbajati tu amongna .

Songonon ma i dok.

“Among naburju, nunga magodang ahu sonari tingki metmet dope ahu

nunga dipatodohon hamu tu Raja Enda – Enda. Alani i paborhat hamu ma ahu

asa hu tanda jo Raja Enda – Enda na lao tunggane doliki”. Ima didokSiboru

Sorbajati tu amang nai.

Laos dialusi among nai ma,

“Nauli ma pangidoanmi boruku! Alai andorang so laho, ingkon

paboanmu do parlakonmon tu hahangmu Datu Tantan Debata, asa denggan ho

dipaborhat na lahu manjumpangi Raja Enda – Enda”.

Dungi dipaboa Siboru Sorbajati ma parlangkaon na tu hahang nai jala

ditaruhon ma ibana tu huta ni tunggane doli na. Borhat ma siboru sorbajati.

Jempet ni turi – turianna, sahat ma ibana i alaman ni jabu ni Raja Enda – Enda.

Tingki Siboru Sorbajati naing tu bagas jabu ni si Raja Enda – Enda, dibereng

ibana ma pitu tangga ni jabu na mansai tajam gabe sundat ma tu bagas jabu i

siboru sorbajati. Dung i didok siRaja Enda – Enda ma sian jabu.

57

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


“ O inang na laho parnijabuku, buat ma pulunan ni obuk mi jala pulun ma

muse tu tangga i ,molo dang magotap do obutmi dung i nangkok ma ho”.

Diulahon siboru sorbajati ma na didok ni Raja Enda- Enda. Alai magotap

do obuk nai, umbaen i dang boi sahat tu bagas jabu i ibana.

Dung i mulak ma siboru sorbajati tu huta ni hahang Datu Tantan Debata

jala diturihon ma na masa i laos dipangido ibana ma simbora asa boi ibana

mandege tangga na tajomi. Dung i dilehon Datu Tantan Debata ma

pangidoannai. Marhite i gabe boi ma Siboru Sorbajati mandege tangga i las boi

ma ibana sahat tu bagas jabu ni siRaja Enda – Enda.

Mansai tarsonggot situtu ma siboru sorbajati mangida Raja Enda – Enda,

alani songon ilik do hape rupa ni si Raja Enda – Enda i, patna opat, marihur jala

simalolongna pe balga situtu tudos songon balga ni pangantukni ogung.

Mardalan pe martungarang do ibana jala dagingna nasa balga ni odap. Alani i

gabe marpingkir ma siboru sorbajati gabe adong ma panolsolion di ibana , gabe

didok ibana ma.

“ Tumagonan ma mate ahu molo ingkon marhasohotan dohot Raja Enda –

Enda”.

Dungi dipangidohon Siboru Sorbajati tu hahang na asa dibahen gondang

saborngin laho pamalum rohana. Dungi manortor i ma ibana sipata unduk tu

jolo, sipata jongjong huhut marulak – ulak hu pudi. Dung simpul manortor ibana,

mangakat ma ibana tu alaman ni jabu,gabe mogap ma ibana pitu hali sian

ganjang lesung si pitu. Dung simpul na masa i sai sungkun – sungkun ma rohani

amongna dohot hahang nai alai dang tardok nasida be. Mandapothon botari gabe

58

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


muba ma Siboru Sorbajati gabe hau borta, holi – holi nai gabe hauna, siubeon na

i gabe tunas na, pahaenna gabe uratna, obukna i gabe ijuk, simangido na gabe

bulung na, jari – jari nai gabe lili jala ilu nai ma na gabe impolana. Songoni ma

turi – turian hajajadi ni hau borta.

Sumber: Departemen Sastra Daerah, Medan 2015:95-96

Terjemahan dalam Bahasa Indonesia

Asal Usul Pohon Aren

Pada zaman dahulu adalah satu perempuan yang bernama Siboru

Sorbajati. Siboru Sorbajati ini ialah anak perempuan dari batara guru yang datang

dari langit yang di jodohkan kepada Raja Enda – Enda yang berada di bumi.

Tetapi mereka belum perna sama sekali berjumpa, karena itu hati siboru sorjabat

merasa sedih dikarenakan dia tidak perna bertemu dengan calon suaminya, siboru

sorjabati itu meminta kepada ayahnya agar ia dapat menjumpai calon suaminya

supaya calon suaminya itu juga mengenal dia .

Beginilah katanya,

“ Oh ayahku yang mura hati, sekarang aku sudahlah dewasa, mulai dari

kecil aku sudah ayah jodokan kepada Raja Enda – Enda. Karena itu izinkan lah

aku dan berangkatkan agar aku mengenali calon suamiku kata Siboru Sorbajati.

kepada ayahnya”.

Lalu ayahnya berkata,

59

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


“Baiklah anakku!Namun sebelun kau pergi, kau harus memberi tahu

kepada Datu Tantan Debata supayadiberangkatkan kau dengan baik untuk

menjumpai Raja Enda – Enda”.

Setelah itu Siboru Sorbajati.pergi memberitahukan kepada saudaranya itu

agar dia diantar ke kampung calon suaminya itu. Singkat cerita sesampai dia di

halaman rumahny Raja Enda – Enda, dia melihat tuju anak tangga rumah yang

sangat tajam sehinga siboru sorjabat tidak jadi masuk kedalam rumah.

“Oh wahai calon istriku, ambillah gulungan rambut mu itu dan

gulungkanlah ke anak tangga itu, kalau tidak putus naiklah kau .

Dilakukan Siboru Sorbajati. yang dikatakan Raja Enda – Enda. Tetapi

rambut yang digulung itu putus yang memmbuat dia tidak bisa masuk ke dalam

rumah.

Setelah itu pulanglah siboru sorjabati ke kampung saudaranya Datu tantan

Debata setelah itu diceritakan dialah semuanya, dan dia mintalah jimat agar dia

bisa menaiki tuju anak tangga yang tajam itu.Setelah itu Datu Tantan Debata

memberikan permintaannya itu, karena jimat itu boru sorbajati bisa memija tangga

itu lalu bisalah dia sampai di dalam rumah Raja Enda – Enda.

Betapa terkejutnya siboru sorbajati melihat Raja Enda – Enda seperti

kadal, yang meemiliki empat kaki, memiliki ekor, dan memiliki mata yang besar

seperti pemukul gong.Ia berjalan merangkap dan badannya besar sebesarnya

adop. Karenakan itu siboru sorjabati jadi ada rasa penyesalan dalam dirinya, jadi

ia berkatalah.

“ Lebih baik aku meninggal dari pada menika pada Raja Enda – Enda”.

60

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


Setelah itu siboru sorbajati meminta kepada saudaranya itu supaya

dipasang gondang satu malam yang bisa menembuhkan hatinya yang laki saakit.

Setelah itu menari dan menari, terkadang menunduk ke depan,terkadang tekap dan

menunduk kebelakang. Setelah selesai ia menari, setelah itu dia melompat ke

halaman rumah. Sehingga ia tenggelam tujuh kali dari panjang lesung situju

lubang. Setelah kejadian itu, bertanya – Tanyalah ayahnya dan saudaranya mereka

tidak bisa berkata apa pun. Menjelang sore hari berubahlah siboru sorbajati jadi

pohon aren, tulang–tulangnya jadi pohonnya, perutnya menjadi

tunasnya,pakainnya jadi uratnya, rambutnya itu menjadi pelepahnya, tanganya

menjadi daunnya, jari–jarinya jadi lidinya, airmatanya menjadi air nira. Begitulah

cerita terjadinya pohon aren.

Sumber:Departemen Sastra Daerah, Medan 2015:172-174

61

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


Lampiran 4

62

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


Lampiran 5

63

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA