Anda di halaman 1dari 19

REVISI MAKALAH

“PENDEKATAN PSIKOLOGI DALAM STUDI ISLAM”


Makalah direvisi untuk memenuhi tugas ujian akhir semester mata kuliah :
Pendekatan dalam Pengkajian Islam
Dosen Pengampu : Dr. Karwadi, M.Ag

Disusun Oleh :
ABDUL KAHFI AMRULLOH
(17204011002)

KONSENTRASI PENDIDIKAN BAHASA ARAB


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA
2018
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dewasa ini, agama merupakan salah satu kajian yang sangat
menarik untuk dipelajari. Tentu kehadiran agama semakin dituntut agar
turut terlibat secara aktif dalam memecahkan berbagai masalah yang
dihadapi umat manusia. Agama tidak boleh hanya sekedar menjadi
lambang kesalehan atau berhenti sekadar disampaikan dalam ceramah atau
khutbah semata, melainkan secara konsepsional menunjukkan cara-cara
yang paling efektif dalam memecahkan masalah.
Dalam mempelajari agama, sangat memungkinkan menggunakan
berbagai sudut pandang dan beberapa pendekatan. Adapun yang dimaksud
dengan pendekatan di sini adalah cara pandang atau paradigma yang
terdapat dalam suatu bidang ilmu yang selanjutnya digunakan dalam
memahami agama. Dalam hubungan ini, Jalaluddin Rahmat mengatakan
bahwa agama dapat diteliti dengan menggunakan berbagai paradigma.
Seperti telah diketahui ada beberapa pendekatan yang dapat dilakukan
dalam memahami dan mempelajari agama. Salah satunya adalah melalui
pendekatan Psikologi.
Psikologi merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari masalah-
masalah kejiwaan manusia yang tercermin dalam prilaku yang nyata.
Layaknya disiplin ilmu yang lain, disiplin ilmu psikologi dapat dipakai
untuk mengkaji gejala keberagamaan masyarakat, termasuk di dalamnya
masyarakat muslim. Apa yang dikaji oleh studi Islam menggunakan
pendekatan psikologi adalah hubungan antara agama dengan jiwa manusia.
Bagian ilmu psikologi yang memfokuskan kajiannya pada jiwa manusia
dalam hubungannya dengan agama disebut dengan psikologi agama. Lebih
lanjut, psikologi agama dapat dikatakan sebagai hasil dari studi keagamaan
yang menggunakan pendekatan psikologis.
Pada pembahasan ini penulis akan mencoba membahas lebih lanjut
tentang kajian agama melalui pendekatan psikologis.
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah diatas, maka dapat dibuat rumusan masalah
sebagai berikut :

1. Bagaimanakah sejarah ilmu Psikologi ?

2. Bagaimanakah pengertian Psikologi Agama dan aliran-aliran dalam


ilmu psikologi ?

3. Bagaimanakah pendekatan Psikologi dalam Studi Islam beserta


aplikasinya?

C. Tujuan dan Kegunaan


1. Untuk mengetahui sejarah imu Psikologi
2. Untuk mengetaui pengertian Psikologi Agama dan aliran-aliran dalam
psikologi
3. Untuk mengetahui pendeketan psikologi dalam studi islam

BAB II
PEMBAHASAN
A. Sejarah Singkat Perkembangan Psikologi
Pada zaman sebelum Masehi, jiwa manusia sudah menjadi topik
pembahasan para filsuf. Ketika itu, psikologi memang sangat dipengaruhi
oleh cara-cara berpikir filsafat dan terpengaruh oleh filsafatnya sendiri.
Sebelum tahun 1879, jiwa dipelajari oleh para filsuf dan para ahli ilmu
fisiologi, sehingga psikologi dianggap sebagai bagian dari kedua ilmu
tersebut. Para ahli Filsafat Yunani kuno seperti Plato (427-347 SM),
Aristoteles (384-322 SM), dan Socrates (469-399 SM) telah memikirkan
hakikat jiwa dan gejalanya. Pada waktu itu belum ada pembuktian-
pembuktian empiris, melainkan segala teori dikemukakan berdasarkan
argumentasi logika belaka.
Psikologi benar-benar dikukuhkan sebagai ilmu yang berdiri
sendiri oleh Wilhelm Wundt (1832-1920) dengan didirikannya
Laboratorium Psikologi pertama di kota Leipzig, Jerman pada tahun
1879.1 Sebelumnya, bibit-bibit psikologi sosial mulai tumbuh, yaitu ketika
Lazarus & Steindhal pada tahun 1860 mempelajari bahasa, tradisi, dan
institusi masyarakat untuk menemukan "jiwa umat manusia" (human
mind) yang berbeda dari "jiwa individual".
Perkembangan Psikologi sampai hari ini menarik minat ilmuan
untuk mengkaji secara intensif tentang prilaku kejiwaan.
Perkembangannya pun cukup pesat dengan ditandai munculnya
penyelidikan dalam bidang prilaku manusia. Psikologi seterusnya menjadi
perhatian serius yang bukan saja di barat bahkan merambah ke penjuru
dunia lainnya. Pembahasannya pun meluas diantara pada psikologi sosial,
psikologi budaya, psikologi komunikasi, kesehatan mental, konseling,
bahkan psikologi agama turut mendominasi kajian kejiwaan.2

B. Psikologi Agama dan Aliran dalam Ilmu Psikologi


1
Abdul Aziz Ahyadi, Psikologi Agama Kepribadian Muslim Pancasila, (Bandung: Sinar
Baru, 1991), hlm. 17-18.
2
Khairunnas Rajab, Psikologi Agama, (Yogyakarta: Aswaja Pressindo, 2012), hlm. 2.
1. Pengertian Psikologi Agama
Psikologi agama terdiri dari dua kata, yaitu psikologi dan agama.
Sebelum membahas terkait Psikologi Agama, akan lebih baiknya
mengetahui terlebih dahulu pengertian Psikologi secara umum. Secara
etimologis, psikologi diambil dari bahasa Inggris psychology yang
berasal dari bahasa Yunani Psyche yang berarti jiwa (soul, mind) dan
logos yang berarti ilmu pengertahuan. Dengan demikian, Psikologi
berarti Ilmu yang mempelajari tentang jiwa.3
Menurut Abdul Aziz Ahyadi, objek utama Psikologi bukanlah jiwa
karena jiwa tidak dapat dipelajari secara ilmiah. Objek Psikologi
adalah tingkah laku manusia atau gejala kejiwaan.4 Menurut Robert H.
Thoules, psikologi sekarang dipergunakan secara umum untuk ilmu
tentang tingkah laku dan pengalaman manusia. Namun dari berbagai
pengertian yang dikemukakan oleh para ilmuan psikologi, secara
umum psikologi mencoba meneliti dan mempelajari sikap dan tingkah
laku manusia sebagai gambaran dari gejala-gejala kejiwaan yang
berada di belakangnya. Karena jiwa itu sendiri bersifat abstrak, maka
untuk mempelajari kehidupan kejiwaan manusia hanya mungkin
dilihat dari gejala yang tampak, yaitu pada sikap dan tingkah laku yang
ditampilkannya.5
Adapun definisi Psikologi Agama menurut Zakiah Daradjat, adalah
meneliti dan menalaah kehidupan beragama pada seseorang serta
mempelajari berapa besar pengaruh keyakinan agama itu dalam sikap,
tingkah laku, dan keadaan hidup pada umumnya. Disamping itu,
psikologi agama juga mempelajari pertumbuhan dan perkembangan
jiwa agama seseorang, serta faktor-faktor yang mempengaruhi
keyakinan tersebut.6

3
Abdul Rahman Saleh, Psikologi Suatu Pengantar dalam Perspektif Agama, (Jakarta:
Kencana, 2009), hlm. 1
4
Abdul Aziz Ahyadi, Psikologi Agama Kepribadian Muslim Pancasila........, hlm. 23-24.
5
Jalaluddin Rahmat, Psikologi Agama, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2010), hlm. 10-11.
6
Ramayulis, Psikologi Agama, (Jakarta, Kalam Mulia, 2002), hlm. 5.
Dalam kajian psikologi agama, persoalan agama tidak ditinjau dari
makna yang terkandung dalam pengertian yang bersifat definitif.
Pengertian agama dalam kajian dimaksud lebih umum, yaitu mengenai
proses kejiwaan terhadap terhadap agama serta pengaruhnya dalam
kehidupan pada umumnya. Melalui pengertian umum seperti itu,
paling tidak akan dapat diamati fungsi dan peranan keyakinan terhadap
sesuatu yang dianggap sebagai agama kepada sikap dan tingkah laku
lahir dan batin seseorang. Dengan kata lain, bagaimana pengaruh
keberagamaan terhadap proses dan kehidupan kejiwaan sehingga
terlihat dalam sikap dan tingkah laku lahir (sikap dan tindakan serta
cara bereaksi) serta sikap, dan tingkah laku batin (cara berfikir, merasa
atau sikap emosi).
Selanjutnya sebagai disiplin ilmu yang otonom, Psikologi Agama
mempunyai lapangan yang menjadi bidang penelitiannya. Psikologi
agama disini hanya meneliti bagaimana sikap batin seseorang terhadap
keyakinannya kepada Tuhan, hari kemudian, dan masalah ghaib
lainnya. Juga bagaimana keyakinan tersebut mempengaruhi
penghayatan batinnya, sehingga menimbulkan berbagai perasaan
seperti tenang, tenteram, pasrah dan sebagainya, yang mana semua itu
dapat dilihat dalam sikap dan tingkah lakunya. Untuk menjelaskan
lebih lanjut mengenai batas yang menjadi kajian penelitian psikologi
agama, maka digunakanlah dua istilah yaitu kesadaran bergama
(religious conciousness) dan pengalaman beragama (religious
experience).
Menurut Zakiah Darajat, kesadaran beragama (religious
conciousness) adalah aspek mental dari aktivitas agama. Aspek ini
merupakan bagian/segi agama yang hadir dalam pikiran dan dapat diuji
melalui instrospeksi. Sedangkan yang dimaksud dengan pengalaman
agama (religious experience) adalah unsur perasaan dalam kesadaran
agama, yaitu perasaan yang membawa kepada keyakinan yang
dihasilkan dalam tindakan (amaliyah) nyata.7
Seperti disebutkan sebelumnya bahwa disiplin ilmu psikologi dapat
dipergunakan untuk mendekati studi Islam. Pendekatan psikologis
adalah pendekatan yang menggunakan cara pandang ilmu psikologi.
Karena ilmu psikologi adalah ilmu yang mempelajari jiwa manusia,
maka pendekatan psikologi hanya mengkaji tentang jiwa manusia.
Ketika studi Islam didekati dengan pendekatan psikologis, maka yang
menjadi objek dalam kajian tersebut adalah jiwa manusia yang dilihat
dalam hubungannya dengan agama. Studi Islam yang didekati
pendekatan psikologis, selalu menggunakan teori-teori psikologi dan
menghubungkannya dengnan agama Islam.
2. Aliran dalam Ilmu Psiologi
a. Aliran Strukturalisme
Aliran ini dipelopori oleh Wilhelm Wundt. Penelitian utama
yang dilakukannya memusatkan pada upaya untuk menemukan
unsur-unsur dasar, atau struktur proses-proses mental. Misalnya,
mereka menggambarkan tiga demensi berbeda dari perasaan:
senang/tidak senang, tegang/santai, dan kegairahan/depresi.
Metode yang digunakan dalam mengkaji struktur mental adalah
intropeksi.8 Pada pertengahan abad ke-19, yaitu pada awal
berdirinya psikologi sebagai satu disiplin ilmu yang mandiri,
psikologi didominasi oleh gagasan serta usaha mempelajari
elemen-elemen dasar dari kehidupan mental orang dewasa normal,
melalui penelitian laboratorium dengan menggunakan metode
introspeksi.

b. Aliran Fungsionalisme

7
Ibid, hlm. 6-8.
8
Laura A. King, Psikologi Umum Sebuah Pandangan Apresiatif, terj. Brian Marwensdy,
(Jakarta: Salemba Humanika, 2013), hlm. 12.
Aliran psikologi ini merupakan reaksi terhadap
strukturalisme.tentang keadaan-keadaan mental. Jika para
strukturalis bertanya "Apa kesadaran itu", para fungsionalis
bertanya "Untuk apa kesadaran itu". Apa tujuan dan fungsinya?
Karena ingin mempelajari cara orang menggunakan pengalaman
mental untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungan sekitar,
mereka disebut fungsionalis. Aliran ini mempelajari apa yang
terjadi dalam suatu aktivitas psikologis, tujuan dan fungsi dari
suatu proses mental. Aliran ini bersifat praktis dan pragmatis.
Adapun tokohnya antara lain Willam James, John Dewey, James
MC Kenn Cattel, E.I Thorndike, dan R.S Woodworth. 9
c. Aliran Psikologi Gestalt
Aliran ini merupakan bentuk protes terhadap pandangan
elementaristis dan metdoe kerjanya yang menganalisis unsur-unsur
kejiwaan. Menurut aliran gestalt, yang utama bukanlah elemen
tetapi keseluruhan. Kesadaran jiwa manusia boleh dikatakan tidak
mungkin untuk dianalisis ke dalam elemen-elemen. Gejala
kejiwaan harus dipelajari sebagai suatu keseluruhan atau totalitas.
Pemuka aliran Gestalt, antara lain Max Wertheimer, Kurt Koffka,
dan Wolfgang Kohler.10
d. Aliran Psikoanalisis
Kemunculan aliran Psikoanalisis pada mulanya merupakan
usaha mencari sebab-sebab penyakit jiwa dan teknik
penyembuhannya oleh para psikiater. Menurut mereka sebab
penyakit kajiwaan ialah adanya konflik kejiwaan, yang terletak
didalam alam tak sadar (unconsciounsness). Bapak Psikoanalisis
ialah Sigmund Freud terkenal dengan teorinya yang mencakup
teori kepribadian, teknik analisis kepribadian dan metode terapi.
Teknik penyembuhan Psikoanalisis merupakan hasil

9
Abdul Aziz Ahyadi, Psikologi Agama Kepribadian Muslim Pancasila........, hlm. 20.
10
Ibid, hlm. 20-21.
pengembangan teknik magnetisme oleh F.A Mesmer dan
hipnotisme oleh J.M Charcot. Teori kepribadian Freud
mengutarakan bahwa jiwa terdiri atas tiga sistem yaitu id, ego, dan
super ego.11
e. Aliran Behaviorisme
Behaviorisme lahir sebagai reaksi terhadap introspeksionisme
(yang menganalisis jiwa manusia berdasarkan laporan-laporan
subjektif) dan juga psikoanalisis (yang berbicara tentang alam
bawah sadar yang tidak tampak). Aliran ini mengemukakan bahwa
objek Psikologi hanyalah prilaku yang kelihatan nyata dan bukan
mempelajari tingkah laku yang tidak nampak dari luar. Peletak
dasar aliran ini ialah Ivan Petrovich Pavlov dan William MC
Dougall yang mengemukakan teori instingnya. Belakangan, kaum
behavioris lebih dikenal dengan teori belajar, karena menurut
mereka, seluruh perilaku manusia, kecuali insting, adalah hasil
belajar. Belajar artinya perubahan perilaku organisme sebagai
pengaruh lingkungan.12
f. Aliran Kognitifistik
Menurut Psikologi Kognitif, Otak adalah tempat atau
mengandung sebuah pikiran yang memungkinkan proses-proses
mental untuk mengingat, mengambil keputusan, merencanakan,
menentukan tujuan, dan kreatif. Pikiran adalah sebuah sistem
pemecahan masalah aktif dan sadar. Dari itu, pendekatan ini
menekankan pada proses-proses mental yang terlibat bagaimana
kita mengetahui, mengarahkan perhatian, mempersepsikan,
mengingat, berpikir, dan memecahkan masalah. 13

g. Aliran Humanistik
11
Ibid, hlm. 21.
12
Ibid, hlm 22.
13
Laura A. King, Psikologi Umum Sebuah Pandangan Apresiatif......., hlm. 17.
Pelopor aliran ini adalah Abraham Maslow. Psikologi
Humanistik dewasa ini telah berhasil menempatkan diri secara
kokoh sebagai alternatif ketiga yang tegar menghadapi psikologi
objetivistik dan Freudianisme otodoks. Abraham Maslow
merumuskan kata “Eupsychian” yang berarti “suatu peradaban
yang dilahirkan oleh seribu orang yang teraktualisasikan dirinya di
sebuah pulau yang terlindungi dimana mereka tidak terusuik. Kata
“eupsychia” juga dapat diartikan secara lain. Ia berarti berkembang
kearah keseharan dan ke sejahteraan psikologi.
Tujuan psikologi humanistik adalah membantu manusia
memutuskan apa yang dikehendakinya dan membantu memenuhi
potensinya. Artinya, praktek humanistik dalam terapi, pendidikan
atau di tempat kerja, selalu dipusatkan untuk menciptakan kondisi-
kondisi agar manusia dapat menentukan pikiran dan mengikuti
tujuannya sendiri. Manusia dimotivasi oleh adanya keinginan
untuk berkembang dan memenuhi potensinya.
C. Pendekatan Psikologi dalam Studi Islam
Studi agama dari perspektif psikologis hampir sama tuanya
dengan Psikologi itu sendiri. Beberapa tokoh penggagas sekaligus peletak
pertama yang sangat berkontribusi terhadap Psikologi Agama diantaranya
Edwin Diller Starbuck dengan karyanya The Psychology of Religion, An
Empirical Study of Growth of Religions Counsciousness pada tahun 1899.
Juga William James berkebangsaan Amerika dengan karyanya The
Varieties of Religious Experience.14
Agama dan psikologi memiliki integrasi yang kuat, keduanya
melestarikan kejiwaan yang utuh dalam dimensi kerohanian. Persoalan
yang dihadapi psikologis manusia, agama kemudian menjadi terapi,
sehingga problem-problem terselesaikan. Orang yang beragama atau yang
meyakini ajaran agamanya mutlak benar maka prilakunya secara
psikologis terdeskripsi bahwa ia adalah pengamal agama yang baik.

14
Peter Connolly (ed.), Aneka Pendekatan Studi Agama, (Yogyakarta: Lkis, 2002), hlm. 195.
Sekalipun fenomenanya masih ada sebagian kecil personal yang
bertentangan antara amalan agama dengan perilaku sosialnya. Seperti
orang yang rajin beribadah akan tetapi masih terkadang membuat
masyarakat resah.15
Dari itu, secara garis besar psikologi juga banyak kaitannya
dengan agama. Menurut Jalaludin dalam bukunya Psikologi Agama,
Psikologi Agama merupakan cabang psikologi yang meneliti dan
mempelajari tingkah laku manusia dalam hubungannya dengan pengaruh
keyakinan terhadap agama yang dianutnya serta kaitannya dengan
perkembangan usia masing-masing. Menurut Prof Dr. Zakiyah Drajat,
menyatakan bahwa lapangan penelitian Psikologi Agama mencakup proses
beragama, perasaan, dan kesadaran beragama dengan pengaruh serta
akibat-akibat yang dirasakan sebagai hasil dari keyakinan (terhadap suatu
agama yang di anut).16 Dalam hal ini bisa dikaitkan dengan teori
humanistik bahwasanya manusia adalah makhluk yang positif, manusia
bisa memilih ingin menjadi seperti apa, dan tahu apa yang terbaik bagi
dirinya. Dalam hal ini manusia bisa memilih akan menjalankan agama
yang dianut seperti apa, mengikuti perasaan hati dan kesadaran atas apa
yang dia kerjakan.
Hasil kajian psikologi juga dapat dimanfaatkan dalam berbagai
lapangan kehidupan seperti kehidupan, bidang pendidikan, interaksi sosial,
perkembangan manusia dan lain sebagainya. Dalam bidang pendidikan di
sini diartikan sebagai upaya sadar yang dilakukan oleh mereka yang
memiliki tanggung jawab terhadap pembinaan, bimbingan, pengembangan
serta pengarahan potensi yang dimiliki anak agar mereka dapat berfungsi
dan berperan sebagai hakikat kejadiannya. Oleh sebab itu diharapkan
orang tua sebagai pendidik sekaligus modelling bagi anak, dapat
memberikan contoh yang baik, karena pada dasarnya anak belajar dari apa

15
Khairunnas Rajab, Agama Kebahagiaan, (Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2012), hlm.
Sampul belakang
16
Jalaludin, Psikologi Agama, (Jakarta: Rajawali Pers, 2012), hlm. 15-16.
yang dia lihat, apa yang dia model, hal ini kaitannya dengan psikologi
perilaku (behavior).
Adapun contoh dari studi Islam yang dapat didekati dengan
pendekatan psikologis dapat dilihat dalam ritual manusia dalam agama
yang diyakininya. diantaranya, tentang perasaan seorang ahli tasawuf
terhadap Allah, yang mana dia merasa Allah selalu hadir dalam hatinya
dan dia juga selalu membiasakan lisannya untuk berzikir kepada Allah
yang dilakukannya secara terus menerus dan secara sadar maka akan
melekatlah di dalam hatinya dan akan menimbulkan ketentraman jiwa.
Seorang muslim yang hatinya selalu merasa tenang, bahagia, suka
menolong orang lain, walaupun kehidupannya sangat sederhana. Tengah
malam ia bangun untuk mengabdi pada Allah dan waktu subuh sebelum
semua orang terbangun, dia telah duduk pula di tikar sholatnya, sebaliknya
ada orang muslim yang cukup kaya dan banyak hartanya, namun hatinya
penuh kegoncangan, tidak pernah merasa puas, di rumah tangganya selalu
bertengkar. Hal ini jelas menunjukkan seberapa besar pengaruh agama
dalam kehidupannya.
Begitu juga yang dapat dirasakan oleh orang biasa, seperti
perasaan lega, tenang, sehabis shalat dan setelah selesai membaca al-
Qur’an dan berdoa. Dan sikap seorang muslim ketika memasuki mesjid
akan menunjukkan sikap hormat, dari pada orang yang menganut
keyakinan lain. Sikap demikian juga akan dijumpai pada penganut agama
lain saat memasuki rumah ibadahnya masing-masing. Bagi setiap
penganut agama, rumah ibadah memberi pengalaman batin tersendiri yang
menimbulkan reaksi terhadap tingkah laku masing-masing sesuai dengan
keyakinan mereka. Seorang muslim mengucapkan salam ketika berjumpa
dengan muslim lainnya, hormat kepada orang tua, menutup aurat, rela
berkorban untuk kebenaran dan sebagainya adalah merupakan gejala-
gejala keagamaan yang dapat dijelaskan dengan pendekatan psikologi
agama.
Zaman sekarang ini banyak terjadi fenomena di masyarakat,
seperti adanya bunuh diri ,pergaulan bebas (free sex), pencurian,
pembunuhan tanpa perasaan bersalah (mutilasi), bahkan fenomena yang
bersampul agama Islam sekalipun, seperti kasus terorisme, bom bunuh diri
yang dilakukan oleh beberapa oknum yang mengatas namakan Islam, dan
lain sebagainya. Apa sebenarnya yang melatarbelakangi terjadinya
fenomena tersebut? Kasus ini bila didekati dengan pendekatan hukum,
hanya akan menghasilkan kesimpulan benar atau tidaknya aksi teror dalam
hukum Islam. Pendekatan ini tidak memberikan solusi bagi penyelesaian
masalah terorisme hingga akarnya. Pendekatan yang lebih sesuai adalah
pendekatan teologis, dengan membandingkan ideologi para teroris dengan
teologi Islam pada umumnya. Akan tetapi pendekatan ini juga tidak
sempurna dalam menjelaskan masalah, karena masalah teorisme tidak
murni masalah teologi, akan tetapi psikologi. Pendekatan-pendekatan lain
belum bisa menjelaskan mengapa para teroris berani untuk melakukan
bom bunuh diri.
Banyak gejala keberagamaan masyarakat Muslim tidak bisa
dijelaskan dengan pendekatan hukum, teologis atau pendekatan lainnya.
Hal ini tentu tidak dapat lagi sepenuhnya dikaji dengan pendekatan
teologis-normatif semata. Maka disinilah metode dan pendekatan lainnya
mengambil peran penting, termasuk psikologi, khususnya psikologi
agama.
Pendekatan psikologi agama mempunyai peranan penting dan
memberikan banyak sumbangan dalam studi Islam. Psikologi agama
berguna untuk mengetahui tingkat keagamaan yang dihayati, difahami,
dan diamalkan seseorang muslim. Seperti yang dapat kita ketahui tentang
pengaruh dari ibadah shalat, puasa, zakat, haji dan ibadah-ibadah lainnya
dalam kehidupan seseorang.
Selain itu, psikologi agama juga telah digunakan sebagai cara
pengobatan sakit jiwa usaha bimbingan dan penyuluhan nara pidana di
lembaga permasyarakatan banyak dilakukan dengan cara menggunakan
psikologi agama. Demikian pula dalam lapangan pendidikan, psikologi
agama dapat difungsikan pada pembinaan moral dan mental keagamaan
peserta didik, dan sebagainya. Hal itu dikarenakan psikologi agama dapat
digunakan sebagai alat pembina jiwa dan mental manusia.
Psikologi memandang LGBT
Baru-baru ini isu tentan LGBT mencuat di media baik di TV ,
media cetak lebih-lebih pada media online pasca penolakan MK terhadap
uji materi UU terkait LGBT dan perzinaan. Lima hakim MK menolak
pengajuan kalau perbuatan LGBT dan perzinaan dapat dipidanakan.
Penolakan ini menambah keprihatinan kaum muslimin yang
cinta agamanya, khususnya keluarga-keluarga muslim. Para hakim MK
yang menolak gugatan itu tentu berpikir dengan logika hukum yang
berlaku hari ini. Selain UU yang ada sudah dianggap memadai, LGBT dan
hubungan seksual diluar nikah dipandang sebagai tindakan pribadi yang
sah.
Terlepas dari penolakan tersebut, pada makalah ini penulis akan
mencoba memandang LGBT ini dari sudut pandang Psikologi. LGBT
merupakan perilaku abnormal yang dialami oleh sebagian manusia dalam
hal orientasi sexsual. Apabila dilihat dari aspej teologi islam, sudah jelas
bahwa fenomena ini jelas diharamkan dalam agama. Namun dari sudut
pandang psikologi ada perbedaan pendapat.
Pendapat pertama mengatakan, bahwasannya LGBT ini bukan
merupakan penyakit mental atau jiwa. Hal ini didukung oleh fakta ilmiah
dengan dikeluarkannya homoseksual dari DSM (Diagnostic and statistical
Manual of Mental Disordes), pada tahun 1973 oleh APA,s (American
Psychiatrick Association’s). DSM adalah daftar kelainan mental. Itu
berarti homoseksual dianggap bukan kelainan
Pendapat yang lain mengatakan bahwa penyebab terjadi
kelainan pada orientasi seksual seseorang dipengaruhi oleh pelakuan orang
tua terhadap anaknya dimasa kecil sehingga membuat menjadi traumatis
terhadapt orientasi sex tertentu.
Jika memandang ini semua, maka dalam psikologi agama jelas
bahwa perbuatan LGBT sangat menyimpang, ini merupakan dari dampak
lemahnya kadar iman seseorang yang tercermin dalam peribadatan sehari-
hari sehingga berdampak pada perbuatan menimpang LGBT tersebut.
Psikologi dalam Istinbath al Ahkam
Menurut hemat penulis, agama pasti sangat bijaksana dalam
membuat suatu hukum syariat. Yaitu dengan menlihat dari perbagai
prespetif keilmuan agar hukum yang diambil menjadi bijaksana.
Termasuk menggunakan kacamata psikologi dalam pengambian
hukum syar’i. Banyak contoh bahwa rasul adalah psikiater ulung. Dalam
meriwayatkan haditsnya, terkadang terdapat perbedaan konten hadits satu
dengan hadis yang lain padahal dalam tema yang sama. Misalnya, pada
masa awal islam rasul melarang umat manusia melakukan ziarah kubur,
sebagai psikiater ulung mungkin rasul beranggapan bahwa ketika pada
masa awal islam dan kadar keimanan mereka masih rendah diperbolehkan
ziarah kubur, maka mereka akan teringat akan penyembahan berhala,
dampaknya mereka menyembah kubur dan menyekutukan Allah. Namun
setelah umat dianggap cerdas dan faham ilmu agama, maka ziarah kubur
diperbolehkan.
Ranah psikologi yang digunakan rasululloh adalah neuron atau
otak. Secara fitrah, manusia akan susah melupakan hal-hal yang sudah
membudaya dalam pikirannya selama berabad-abda lamanya.
Contoh lain ketika rasul tidak melarang seketika, ketika ada
orang yang kencing di dalam masjid. Rasul faham betul ketika orang itu
dilarang seketika maka ia pasti akan marah, dan memberikan perlawanan.
Karena menghindarai marah yang masuk dalam kajian psikologi, maka
rasul melarang orang tersebut setelah ia menyelesaikan kencingnya.
Dengan demikian, dalam istinbat al ahkam psikologi juga sangat
berperan agar hukum syar’i menjadi lebih bijaksana. Wallahu a’lam
D. Hubungan Psikologi dengan Ilmu Lainnya
1. Psikologi dengan Sosiologi
Manusia sebagai makhluk sosial juga menjadi objek sosiologi.
Sosiologi sebagai ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan
manusia mempelajari manusia di alam masyarakatnya. Karena itu, baik
psikologi maupun sosiologi yang sama-sama membicarakan manusia,
tidaklah mengherankan kalau pada suatu waktu adanya titik-titik
pertemuan didalam meninjai manusia, misalnya soal tingkah laku.
Tinjauan sosiologi yang penting ialah hidup bermasyarakatnya,
sedangkan tinjauan psikologi, bahwa tingkah laku sebagai manifestasi
hidup kejiwaan yang didorong oleh moral tertentu hingga manusia itu
bertingkah laku atau berbuat. Karena adanya titik-titik persamaan ini,
maka timbullah cabang ilmu pengetahuan dan mempelajari tingkah
laku manusia dalam hubungannya dengan situasi-situasi sosial.
Menurut Gerungan, pertemuan antara psikologi dan sosiologi itulah
yang merupakan daerah psikologi sosial.17
2. Psikologi dengan Anthropologi
Menurut kamus Bahasa Indonesia, antropologi adalah ilmu yang
mempelajari tentang asal- usul manusia, kepercayaannya, bentuk fisik,
warna kulit, dan budayanya di masa silam. Karena eratnya hubungan
psikologi dan antropologi sehingga muncullah sub ilmu yang salah
satunya bernama anthropology in mental health, pada sub ilmu ini
sangat terlihat bahwa psikologi dan antropologi saling terkait, seperti
contoh bahwa penyakit jiwa tidak sepenuhnya dipengaruhi oleh
kelainan biologis namun juga oleh emosi atau mental yang tertekan
sehingga membuat orang tersebut mengalami penyakit jiwa, keadaan
jiwa manusia itu tergantung pada aspek- aspek social budaya. Disini
terlihat bahwa antara psikologi dan antropologi saling terkait.18

17
http://www.altundo.com/hubungan-psikologi-ilmu-ilmu-lain-2, diakses pada hari Jumat,
15 Desember 2017 pukul 10.23
18
https://www.kompasiana.com/chaerul/apa-hubungan-psikologi-dengan-ilmu-
lain_55003c8aa33311d07550fdd6, diakses pada hari Jumat, 15 Desember 2017 pukul 10.26
E. Kelebihan dan Kekurangan
1. Kelebihan
a. Tanggungjawab pendidik sangat tinggi sehingga menjadi kontrol
siswa dalam melakukan kegiatan belajar. (behavioristik)
b. Manusia memiliki kebebasan untuk memilih dan hanya ia sendiri
yang bertanggung jawab terhadap eksistensinya. (Kognitifistik)
c. Motivasi yang tidak disadari, ingatan-ingatan, ketakutan-ketakutan,
pertentangan-pertentangan batin, serta kekecewaan adalah aspek-
aspek yang penting dalam kepribadian. Dengan membawa gejala-
gejala tersebut kealam sadarnya sudah merupakan satu bentuk
terapi bagi penderita kelainan / gangguan kepribadian.
(Psikoanalisis)
d. Memandang manusia dari segi positifnya, bahwa manusia memiliki
potensi untuk berkembang dan kecenderungan alami seseorang
untuk mengaktualisasi diri. (Humanistik)
2. Kekurangan
a. Sangat rendahnya tanggung jawab siswa dalam melakukan proses
belajar karena hanya menunggu stimulus. (behavioristik)
b. Menggunakan metode introspeksi, sedangkan setiap individu
memiliki proses berfikir atau menalar yang berbeda-beda (tidak
obyektif). Contohnya : orang idiot. (Kognitifistik)
c. Sangat rendahnya tanggung jawab guru dalam melakukan proses
belajar. Sehingga siswa tidak maksimal dalam melakukan proses
belajar.(humanistik)
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Psikologi Agama merupakan cabang psikologi yang meneliti


dan mempelajari tingkah laku manusia dalam hubungannya dengan
pengaruh keyakinan terhadap agama yang dianutnya serta kaitannya
dengan perkembangan usia masing-masing. Lapangan penelitian Psikologi
Agama mencakup proses beragama, perasaan, dan kesadaran beragama
dengan pengaruh serta akibat-akibat yang dirasakan sebagai hasil dari
keyakinan (terhadap suatu agama yang dianut).

Pendekatan psikologi agama mempunyai peranan penting dan


memberikan banyak sumbangan dalam studi Islam. Psikologi agama
berguna untuk mengetahui tingkat keagamaan yang dihayati, difahami, dan
diamalkan seseorang muslim. Selain itu, psikologi agama juga telah
digunakan sebagai cara pengobatan sakit jiwa usaha bimbingan dan
penyuluhan nara pidana di lembaga permasyarakatan banyak dilakukan
dengan cara menggunakan psikologi agama. Hal itu dikarenakan psikologi
agama dapat digunakan sebagai alat pembina jiwa dan mental manusia.
DAFTAR PUSTAKA

Ahyadi, Abdul Aziz, 1991, Psikologi Agama Kepribadian Muslim Pancasila,


Bandung: Sinar Baru.
Connolly, Peter (ed.), 2002, Aneka Pendekatan Studi Agama, Yogyakarta: Lkis.
http://www.altundo.com/hubungan-psikologi-ilmu-ilmu-lain-2, diakses pada hari
Jumat, 15 Desember 2017 pukul 10.23
https://www.kompasiana.com/chaerul/apa-hubungan-psikologi-dengan-ilmu-
lain_55003c8aa33311d07550fdd6, diakses pada hari Jumat, 15 Desember
2017 pukul 10.26
Jalaludin, 2012, Psikologi Agama, Jakarta: Rajawali Pers.
King, Laura A., 2013, Psikologi Umum Sebuah Pandangan Apresiatif, terj. Brian
Marwensdy, Jakarta: Salemba Humanika.
Rahmat, Jalaluddin, 2010, Psikologi Agama, Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Rajab, Khairunnas, 2012, Psikologi Agama, Yogyakarta: Aswaja Pressindo.
Ramayulis, 2002, Psikologi Agama, Jakarta, Kalam Mulia.
Saleh, Abdul Rahman, 2009, Psikologi Suatu Pengantar dalam Perspektif Agama,
Jakarta: Kencana.