Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
KELUARGA DAN ANAK REMAJA
A. Pengertian Keluarga

Keluarga adalah sekumpulan orang yang dihubungkan oleh ikatan


perkawinan, adaptasi, dan kelahiran yang bertujuan untuk
menciptakan dan mempertahankan budaya yang umum,
meningkatkan perkembangan fisik, mental, dan emosional serta sosial
individu-individu yang ada didalmnya dilihat dari interaksi yang reguler
dan ditandai adanya ketergantungan dan hubungan untuk
menciptakan tujuan umum (Duval, 1972. Hal 4).

Keluarga adalah dari masyarakat yang terdiri dari kepala keluarga


dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal disuatu tempat
dibawah satu atap dan keadaan saling ketergantungan (Departemen
Kesehatan RI 1988, dalam Ali 1999, hal. 5).

Keluarga adalah dua atau lebih individu yang bergabung karena


hubungan darah perkawinan dan adopsi dalam satu rumah tangga
berinteraksi satu dengan yang lainnya dalam peran dan menciptakan
serta mempertahankan suatu budaya (Bailon dan Magloya 1989,
dalam Ali 1999, hal 5).

Tipe Keluarga
Keluarga yang memerlukan pelayanan kesehatan berasal dari
berbagai macam pola kehidupan. Sesuai dengan perkembangan
sosial maka tipe keluarga berkembang mengikuti. Agar dapat
mengupayakan peran serta keluarga dalam meningkatkan derajat
kesehatan maka perawat perlu mengetahui berbagai tipe keluarga
(Suprajitno, 2004).
Menurut (Friedman, 2009), adapun tipe keluarga sebagai berikut :
a. Tipe keluarga tradisional
1) Keluarga Inti (The nuclear family)
Keluarga yang terdiri dari suami istri dan anak (kandung
atau angkat).
2) Keluarga Dyad
Suatu rumah tangga yang terdiri dari suami istri tanpa anak.
3) Single Parent
Keluarga yang terdiri dari satu orang tua dengan anak
(kandung atau angkat). Kondisi ini dapat disebabkan oleh
perceraian atau kematian.
4) Single adult living alone
Suatu rumah tangga yang terdiri dari 1 orang dewasa hidup
sendiri.
5) The childless
Keluarga tanpa anak karena terlambat menikah, bisa
disebabkan karena mengejar karir atau pendidikan.
6) Keluarga Besar (The extended family)
Keluarga yang terdiri dari keluarga inti ditambah keluarga lain,
seperti paman, bibi, kakek, nenek dan lain-lain.
7) Commuter family
Kedua orang tua bekerja diluar kota, dan bisa berkumpul pada
hari minggu atau hari libur saja.
8) Multi generation
Beberapa generasi atau kelompok umum yang tinggal
bersama dalam 1 rumah.
9) Kin-network family
Beberapa keluarga yang tinggal bersama atau saling
berdekatan dan menggunakan barang-barang pelayanan
seperti dapur, sumur yang sama.
10) Blended family
Keluarga yang dibentuk dari janda atau duda dan
membesarkan anak dari perkawinan sebelumnya.

11) Keluarga usila


Keluarga terdiri dari suami dan istri yang ssudah usia lanjut,
sedangkan anak sudah memisahkan diri.
b. Tipe keluarga non tradisional
1) Keluarga Orang Tua Tunggal Tanpa Menikah (The unmerrid
teenage mother).
Keluarga yang terdiri dari 1 orang dewasa terutama ibu dan
anak dari hubungan tanpa nikah.
2) The step parents family
Keluarga dengan orang tua tiri.
3) Commune family
Keluarga yang terdiri dari lebih dari satu paangan monogami
yang menggunakan fasilitas secara bersama.
4) The nonmarrital hetero seksual cohabiting family
Keluarga yang hidup bersama berganti-ganti pasangan tanpa
nikah.
5) Keluarga Homoseksual (Gay and lesbian family)
Seorang yang mempunyai persamaan seks tinggal dalam 1
rumah sebagaimana pasangan suami istri.
6) Cohabitating couple
Orang dewasa yang hidup bersama diluar ikatan perkawinan
karena alasan tertentu.
7) Groupmarriage family
Beberapa orang dewasa yang telah merasa saling menikah
berbagi sesuatu termasuk seks dan membesarkan anak.
8) Group nertwork family
Beberapa keluarga inti yang dibatasi oleh norma dan aturan,
hidup berdekatan dan saling menggunakan barang yang sama
dan bertanggung jawab membesarkan anak.
9) Foster family
Keluaraga yang menerima anak yang tidak ada hubungan
saudara untuk waktu sementara.
10) Home less family
Keluarga yang terbentuk tanpa perlindungan yang permanen
karena keadaan ekonomi atau problem kesehatan mental.
11) Gang
Keluarga yang dekstruktif dari orang-orang muda yang mencari
ikatan emosional, berkembang dalam kekerasan dan kriminal.
C. Fungsi Keluarga
Menurut (Friedman, 2009), mengidentifikasi lima fungsi
dasar keluarga yaitu :
1. Fungsi afektif
Berhubungan erat dengan fungsi internal keluarga yang
merupakan basis kekuatan keluarga. Berguna untuk
pemenuhan kebutuhan psikososial. Keberhasilan
melaksanakan fungsi afektif tampak pada kebahagian dan
kegembiraan dari seluruh anggota keluarga. Tiap anggota
keluarga saling mempertahankan iklim yang positif. Hal
tersebut dipelajari dan dikembangan melalui interaksi dan
hubungan dalam kelurga. Dengan demikian kelurga yang
berhasil melaksanakan fungsi afektif, seluruh keluarga dapat
mengembangkan konsep diri yang positif. Komponen yang
perlu dipenuhi oleh keluarga dalam fungsi afektif adalah :
a. Saling mengasuh, cinta kasih, kehangatan, saling
menerima, saling mendukung antar anggota keluarga.
Setiap anggota yang mendapatkan kasih sayang dan
dukungan dari anggota yang lain maka kemampuan untuk
memberikan kasih sayang akan maningkat yang pada
akhirnya tercipta hubungan yang hangat dan saling
mendukung. Hubungan intim didalam keluarga merupakan
modal dasar memberi hubungan dengan orang lain diliat
keluarga atau masyarakat.
b. Saling menghargai bila anggota keluarga saling menghargai
dan mengakui keberadaan dan hak setiap anggota keluarga
serta selalu mempertahankan iklim yang positif maka
fungsi afektif akan tercapai.
c. Ikatan dan identifikasi, ikatan dimulai sejak pasangan
sepakat memulai hidup baru. Ikatan anggota keluarga
dikembangkan melalui proses identifikasi dan penyesuian
pada berbagai aspek kehidupan anggota keluarga. Orang
tua harus mengemban proses identifikasi yang positif
sehingga anak-anak dapat meniru perilaku yang positif
tersebut.
Fungsi afektif merupakan sumber energi yang
menentukan kabahagian keluarga keretakan keluarga.
Keretakan keluarga, kenakalan anak atau masalah
kelurga timbul karena fungsi afektif keluarga tidak
terpenuhi.
2. Fungsi sosialisasi
Individu, yang menghasilkan interaksi sosial dan belajar
berperan dalam lingkungan sosial. Sosialisasi dimulai sejak
lahir, keluarga merupakan tempat individu untuk belajar
bersosialisasi. Keberhasilan perkembangan individu dan
keluarga dicapai melalui interaksi atau hubungan antar anggota
keluarga yang diwujudkan dalam sosialisasi. Anggota keluarga
belajar disiplin, belajar norma-norma, budaya dan perilaku
melalui hubungan dan interaksi dengan keluaarga.
3. Fungsi reproduksi
Keluarga berfungsi untuk meneruskan keturunan dan
menambah sumber daya manusia.
4. Fungsi ekonomi
Keluarga memenuhi kebutuhan anggota keluarga yang seperti
kebutuhan makanan, tempat tinggal dan lain sebagainya.
5. Fungsi perawatan kesehatan
Keluarga juga berfungsi untuk melaksanakan praktek asuhan
kesehatan yaitu mencegah terjadinya gangguan kesehatan dan
merawat anggota keluarga yang sakit. Kemampuan keluarga
memberikan asuahan kesehatan mempengaruhi status
kesehatan keluarga. Kesanggupan kelurga melaksanakan
pemeliharaan kesehatan dapat dilihat dari tugas kesehatan
keluarga yang dilaksanakan.
Tugas kesehatan keluarga adalah sebagai berikut :
a) Mengenal masalah.
b) Membuat keputusan tindakan yang tepat.
c) Memberikan perawatan pada anggota keluarga yang sakit.
d) Mempertahankan atau menciptakan suasana rumah yang
sehat.
e) Mempertahankan hubungan dengan fasilitas kesehatan
masyarakat.
6. Dimensi dasar struktur keluarga
Menurut (Friedman, 2009), struktur keluarga terdiri atas:
a. Pola dan proses komunikasi
Pola interaksi keluarga yang berfungsi:
1) Bersifat terbuka dan jujur.
2) Selalu menyelesaikan konflik keluraga.
3) Berfikir positif.
4) Tidak mengulang-ulang isu dan pendapatnya sendiri.
Karakteristik komunikasi keluarga yang berfungsi:
a Karakteristik pengirim:
1) Yakin dalam mengemukakan pendapat.
2) Apa yang disampaikan jelas dan berkualitas.
3) Selalu minta maaf dan menerima umpan balik.
c. Karakteristik penerima :
1) Siap mendengar.
2) Memberikan umpan balik.
3) Melakukan validasi.
d. Struktur peran
Peran adalah serangkaian prilaku yang diharapkan
sesuai dengan posisi sosial yang diberikan. Yang
dimaksud dengan posisi atau status individu dalam
masyarakat misalnya sebagai suami atau istri atau anak.
e. Struktur kekuatan
Kekuatan merupakan kemampuan dalam (potensial atau
aktual) dari individu untuk mengendalikan atau
mempengaruhi untuk merubah prilaku seseorang kearah
positif. Tipe struktur kekuatan antara lain :
1) Legitimate power/authority
Hak untuk mengatur seperti orang tua pada anak.
2) Referent power
Seseorang yang ditiru.
3) Reword power
Pendapat ahli.
4) Coercive power
Dipaksakan sesuai keinginan.
5) Informational power
Pengaruh melalui persuasi.
6) Affectif power
Pengaruh melalui manipulasi cinta kasih.
f. Nilai –nilai dalam keluarga
Nilai merupakan suatu sistem, sikap dan kepercayaan
yang secara sadar atau tidak, memepersatukan
anggota keluarga dalam satu budaya. Nilai keluarga
juga merupakan suatu pedoman prilaku dan pedoman
bagi perkembangan norma dan peraturan. Norma
adalah pola perilaku yang baik, menurut masyrakat
bardasarkan sistem nilai dalam keluarga. Budaya
adalah kumpulan dari pola perilaku yang dapat
dipelajari, dibagi dan ditularkan dengan tujuan untuk
menyelesaikan masalah.
g. Peran Perawat Keluarga
Perawatan kesehatan keluarga adalah pelayanan
kesehatan yang ditujukan pada keluarga sebagai unti
pelayanan untuk mewujudkan keluarga sehat. Fungsi
perawat membantu keluarga untuk menyelesaikan
masalah kesehatan dengan cara meningkatkan
kesanggupan keluarga melakukan fungsi dan tugas
perawatan kesehatan keluarga (Suprajitno, 2004).
Peran perawat dalam melakukan perawatan kesehatan
keluarga adalah sebagai berikut (Suprajitno, 2004) :
a. Pendidik
Perawat perlu melakukan pendidikan kesehatan kepada
keluarga agar :
1) Keluarga dapat melakukan program asuhan kesehatan
secara mandiri.
2) Bertanggung jawab terhadap masalah kesehatan
keluarga
b. Koordinator
Koordinasi diperlukan pada perawatan agar pelayanan
komperhensif dapat dicapai. Koordianasi juga diperlukan
untuk mengatur program kegiatan atau terapi dari berbagai
disiplin ilmu agar tidak terjadi tumpang tindih dan
pengulangan.
c. Pelaksanaan
Perawat dapat memberikan perawatan langsung kepada
klien dan keluarga dengan menggunakan metode
keperawatan.
d. Pengawas kesehatan
Sebagai pengawas kesehatan harus melaksanakan hime
visit yang teratur untuk mengidentifikasi dan melakukan
pengkajian tentang kesehatan keluarga.
e. Konsultan
Perawat sebagai narasumber bagi keluarga dalam
mengatasi masalah kesehatan. Agar keluarga mau
meminta nasehat kepada perawat, hubungan perawat dan
klien harus terbina dengan baik , kemampuan perawat
dalam menyampaikan informasi yang disampaikan secara
terbuka dapat dipercaya.
f. Kolaborasi
Bekerja sama dengan pelayanan kesehatan seperti rumah
sakit dan anggota tim kesehatan lain untuk mencapai
kesehatan keluarga yang optimal.
g. Fasilisator
Membantu keluarga dalam menghadapi kendala seperti
masalah sosial ekonomi, sehingga perawat harus
mengetahui sistem pelayanan kesehatan seperti rujukan
dan penggunaan dana sehat.
h. Penemu kasus
Menemukan dan mengidentifikasi masalah secara dini di
masyrakat sehingga menghindari dari ledakan kasus atau
wabah.
i. Modifikasi lingkungan
Mampu memodifikasi lingkungan baik lingkungan rumah
maupun masyarakat agar tercipta lingkungan sehat.
Tingkat Pencegahan
Mengembangkan sebuah kerangka kerja, yang
disebut sebagai tingkat pencegahan, yang digunakan untuk
menjelaskan tujuan dari keperawatan keluarga. Tingkat
pencegahan tersebut mencakup seluruh spektrum kesehatan
dan penyakit, juga tujuan – tujuan yang sesuai untuk masing –
masing tingkat. Leavell dkk. (1965, dalam Friedman, 1998).
Ketiga tingkatan tersebut adalah adalah :
a. Pencegahan primer yang meliputi peningkatan kesehatan
ddan tindakan preventif khusus yang dirancang untuk
menjaga orang bebas dari penyakit dan cedera.
b. Pencegahan sekunder yang terdiri dari atas deteksi dini,
diagnosa, dan pengobatan.
c. Pencegahan tertier, yang mencakup tahap penyembuhan
dan rehabilitasi, dirancang untuk meminimalkan
ketidakmampuan klien dan memaksimalkan tingkat
fungsinya.
Ketiga tingkat pencegahan itu, merupakan tujuan dari
keperawatan keluarga. Tujuan – tujuan tersebut terdiri atas
peningkatan, pemeliharaan, pemulihan terhadap kesehatan (
Hanson, 1987 dalam Friedman, 1998). Peningkatan
kesehatan merupakan pokok terpenting dari keperawatan
keluarga. Akan tetapi, sudah tentu, pendeteksian secara dini,
diagnosa dan pengobatan merupakan tujuan penting pula.
Pencegahan tertier atau rehabilitasi dan pemulihan
kesehatan secara khusus menjadi tujuan yang penting bagi
keperawatan keluarga saat ini, mengingat perkembangan
keperawatan kesehatan dirumah dan pravelensi penyakit –
penyakit kronis, serta ketidakberdayaan dikalangan lanjut
usia yang populasinya semakin meningkat dan cepat
(Friedman, 1998).
B. Konsep Keperawatan Keluarga Dengan Tahap Perkembangan
Anak Usia Remaja
Menurut Setiadi, 2008. Tahap keluarga dengan anak remaja,
tahap ini dimulai pada saat anak pertama berusia 13 tahun dan
biasanya berakhir sampai pada usia 19-20 tahun. Pada saat anak
meninggalkan rumah orang tuanya. Tujuan keluarga adalah melepas
anak remaja dan memberi tanggung jawab. Serta kebutuhan yang
lebih besar untuk mempersiapkan diri menjadi lebih dewasa.
Berdasarkan tumbuh Kembang Adolescense (anak remaja):
1. Pertumbuhan Fisik:

 Pertumbuhan yang pesat ( growth sprut ) TB 25%, BB 50%


 Semua sistem berubah, paling banyak perubahan endokrin
 Bagian-bagian tubuh tertentu memanjang misalnya: tangan,
kaki, proporsi tubuh memanjang

2. Sosial Emosional

 Kemampuan bersosialisasi meningkat.


 Relasi dengan teman wanita/pria, tetapi lebih penting dengan
kawan sejenis.
 Penampilan fisik adolescense sangat penting, karena supaya di
terima oleh kawan dan di samping itu persepsi terhadap
badannya mempengaruhi konsep diri.
 Peranan orangtua/keluarga sudah tidak dianggap penting,
tetapi sudah beralih pada teman sebaya

3. Sosialisasi pada Adolescense dibagi dalam tiga (3) tahap:

 Tahap awal:
 Orangtua masih berperan penting baik fisik, sosial, emosional,
tetapi ketergantungan ini tidak sebesar pada usia dini.
 Tahap kedua:
Anak b erubah menjadi independent. Periode ini sering terjadi
konflik dengan orangtua.
 Tahap ketiga:
Relatif independent dengan orangtua. Anak memperlihatkan
peran independent dalam berfungsi di masyarakat.

4. Bermain pada anak


Pada usia ini anak dapat bermain dalam kelompok (keluar),
misalnya melalui sepak bola, basket, badminton, mendengar
musik atau TV serta dengan buku-buku.
5. Hospitalisasi pada anak dan keluarga
Kecemasan yang timbul pada anak remaja yang dirawat di rumah
sakit adalah akibat perpisahan dengan teman-teman
sebaya/kelompok. Anak tidak merasa takut berpisah dengan
orang tua tetapi takut kehilangan status dan hubungan dengan
teman sekelompok.Kecemasan lain disebabkan oleh akibat yang
ditimbulkan akibat penyakit fisik,kecacatan serta kurangnya
privacy
6. Pola minat dan seks

 minat pada perubahan


 suka lawan jenis

C. Tahap Perkembangan Keluarga


1. Duvall (19985)
Membagi keluarga dalam 8 tahap perkembangan yaitu :
a) Keluarga baru
Pasangan baru menikah yang belum mempunyai anak. Tugas
perkembangan keluarga tahap ini antara lain :
 Membina hubungan intim yang memuaskan
 Menerapkan tujuan bersama
 Mendiskusikan rencana memiliki anak
 Persiapan menjadi orang tua

b) Keluarga dengan anak pertama < 30 bulan


Masa ini merupakan transisi menjadi orang tua yang akan
menimbulkan krisis keluarga. Tugas perkembangan keluarga
tahap ini antara lain :

 Adaptasi perubahan anggota keluarga


 Mempertahankan hubungan yang memuaskan
 Membagi peran dan tanggung jawab
 Menata ruang untuk anak
 Mengatur biaya untuk anak

c) Keluarga dengan anak pra sekolah


Tugas perkembangannya adalah menyesuaikan pada
kebutuhan anak pra sekolah antara lain :

 Pemenuhan kebutuhan anggota keluarga


 Membantu anak bersosialisasi
 Pembagian waktu untuk anak
 Menstimulasi tumbuh kembang anak

d) Keluarga dengan anak usia sekolah


Tugas perkembangan keluarga pada saat ini adalah :

 Membantu sosialisasi anak terhadaplingkungan luar


 Menyediakan aktifitas untuk anak
 Mendorong anak untuk mencapai pengembangan daya
intelektual
 Memenuhi kebutuhan anak
e) Keluarga dengan anak remaja
Tugas perkembangan keluarga pada saat ini adalah :

 Pengembangan terhadap remaja


 Memelihara komunikasi terbuka
 Memelihara hubungan dalam keluarga
 Mempersiapkan perubahan yang akan terjadi

f) Keluarga dengan anak dewasa


Tugas perkembangan keluarga pada saat ini adalah :

 Mempersiapkan anak untuk hidup mandiri dan menerima


kepergian anaknya
 Memperluas keluarga inti menjadi keluarga besar
 Menata kembali keluarga
 Menjadi contoh bagi anak anaknya \

g) Keluarga usia pertengahan


Tugas perkembangan keluarga pada saat ini adalah

 Memulihkan hubungan antara generasi tua muda


 Memelihara hubungan dengan anak dan keluarga
 Keakrapan dengan pasangan
 Persiapan masa tua

h) Keluarga lanjut usia


Tugas perkembangan keluarga pada saat ini adalah :

 Penyesuaian tahap masa pensiun


 Merubah cara hidup
 Menerima kematian pasangan
 Mempersiapkan kematian
Carter dan MC Goldrick (1989)
Membagi keluarga dalam 5 tahap perkembangan yaitu :

 Keluarga antara (massa bebas atau pacaran) dengan usia


dewasa muda
 Terbentuknya keluaga baru melalui suatu perkawinnan
 Keluaga dengan memiliki anak usia muda
 Keluaga yang memiliki anak dewasa
 Keluaga yang mulai melepas anaknya untuk keluar rumah
 Keluaga lansia

D. Prinsip Perawatan Kesehatan Keluarga

Ada beberapa prinsip utama yang harus dipegang oleh perawat


keluarga yait

1. Keluarga dijadikan sebagai unit dalam pelayanan kesehatan.

2. Sasaran asuhan perawatan kesehatan keluarga adalah keluarga

secara keseluruhan

3. Kegiatan utama dalam memberikan asuhan keperawatan adalah

penyuluhan kesehatan dan asuhan keperawatan kesehatan

dasar/perawatan dirumah.

4. Diutamakan terhadap keluarga yang resiko tinggi

5. Diusahakan lebih mengutamakan kegiatan yang bersifat promotif

dan preventif dengan tidak mengabaikan upaya kuratif dan

rehabilitative
Ada 3 tingkatan pencegah terhadap kesehatan keluarga yaitu:

a. Pencegahan primer, yang meliputi peningkatan kesehatan dan


tindakan preventif khusus yang dirancang untuk mencegah
orang bebas dari penyakit dan cedera.

b. Pencegahan sekunder, yang terdiri dari deteksi dini, diagnosis


dan pengobatan.

c. Pencegahan tersier, yang mencakup tahap penyembuhan dan


rehabilitasi, dirancang untuk meminimalkan ketidakmampuan
klien dan memaksimalkan tingkat fungsinya.

Keluarga-keluarga yang tergolong resiko tinggi dalam bidang


kesehatan antara lain adalah:

1. Keluarga dengan anggota keluarga dalam masa usia

subur dengan masalah sebagai berikut:

 Tingkat sosial ekonomi rendah.


 Keluarga kurang atau tidak mampu mengatasi masalah
kesehatan sendiri.
 Keluarga dengan penyakit keturunan.

2. Keluarga dengan ibu resiko tinggi kebidanan, yaitu:

 Waktu hamil umur ibu kurang dari 16 tahun atau lebih


35 tahun.
 Waktu hamil menderita kekurangan gizi atau anemia.
 Primipara atau multi para.
 Riwayat persalinan dengan komplikasi.

3. Keluarga dengan anak:

 Lahir premature.
 Berat badan sukar naik.
 Lahir dengan cacat bawaan.
 Asi ibu kurang sehingga tidak mencukupi kebutuhan
bayi.
 Ibu menderita penyakit menular

4. Keluarga mempunyai masalah dalam hubungannya antara


anggota keluarga.

 Anak yang tidak dikehendaki dan mencoba untuk


digugurkan.
 Sering timbul cekcok.
 Ada anggota keluarga yang sering sakit.
 Salah satu orang tua (suami atau istri) meninggal, cerai,
atau lari meninggalkan rumah

E. Langkah-langkah Dalam Perawatan Keluarga

Langkah –langkah dalam perawatan kesehatan keluarga antara lain:

a. Membina hubungan kerja sama yang baik dengan keluarga


dengan cara:

 Menyampaikan maksud dan tujuan, serta minat untuk


membnatu keluarga dalam mengatasi masalah kesehatan
mereka.
 Menyatakan kesediaan untuk membantu memenuhi kebutuhan
kesehatan yang dirasakan keluarga.
 Membina komunikasi dua arah dengan keluarga.

b. Melaksanakan pengkajian untuk menentukan adanya masalah


kesehatan keluarga
 Menganalisa data untuk menentukan masalah dan perawatan
kleuarga dengan cara mengkelompokan menjadi data subyektif
dan objektif.
 Merumuskan masalah dengan mengacu kepada etiologi
masalah kesehatan serta berbagai alasan.
 Mentukan sifat dan luasnya masalah dan kesanggupan
keluarga dan melaksanakan tugas keluarga.
 Menentukan diagnosa keperawtan keluarga
 Menentukan prioritas diagnosa keperawatan yang ditemukan

c. Menyusun rencana asuhan keperawatan sesuai dengan urutan


prioritas

 Melaksanakan asuhan keperawatan


 Melaksanakan evaluasi keberhasilan tindakan keperawatan
yang dilakukan
 Meninjau kembali masalah kesehatan yang belum teratasi dan
merumuskan kembali rencana asuahan keperawatan yang
baru.

F. Pengambilan Keputusan Dalam Keperawatan Kesehatan Keluarga


Dalam mengatasi kesehatan yang terjadi pada keluarga yang
mengambil keputusan dalam pemecahannya adalah tetap kepala
keluarga atau anggota keluarga yang dituakan. Hal ini didasarkan
pemikiran sebagai berikut:

 Hak dan tanggung jawabnya sebagia kepala keluarga


 Kewenangan dan otoritas yang telah diakui oleh masing- masing
anggota keluarga
 Hak dalam menentukan masalah kebutuhan pelayan terhadap
keluarga/ anggota keluarga yang bermaslah
DAFTAR PUSTAKA

Ali Zaidin. 2006. Pengantar Keperawatan Keluarga . EGC. Jakarta.

Setiadi. 2008. Konsep dan Proses Keperawatan Keluarga. Graha Ilmu:


Yogyakarta

Stanhope Mercia, dkk. 1995. Keperawatan Komunitas dan Kesehatan


Rumah. EGC. Jakarta.

Stoppard Mirian. 2010. Panduan Kesehatan Keluarga. Erlangga. Jakarta

Sudiharto. 2007. Asuhan Keperawatan Keluarga dengan Pendekatan


Transkultural. EGC: Jakarta

Suprajitno. 2003. Asuhan Keperawatan Keluarga. EGC. Jakarta.

Diposting oleh Iftitahun Nabilah di 06.17

Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke


FacebookBagikan ke Pinterest