Anda di halaman 1dari 33

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

Dalam kaitannya dengan bangunan, kenyamanan didefinisikan sebagai suatu kondisi


tertentu yang dapat memberikan sensasi yang menyenangkan bagi pengguna bangunan.
Manusia dikatakan nyaman secara termal ketika ia tidak dapat meyatakan apakah ia
menghendaki perubahan suhu yang lebih panas atau lebih dingin dalam suatu ruangan .
Kenyamanan adalah bagian dari salah satu sasaran karya arsitektur. Kenyamanan terdiri atas
kenyamanan psikis dan kenyamanan fisik. Kenyamanan psikis yaitu kenyamanan kejiwaan
(rasa aman, tenang, gembira, dan lain-lain) yang terukur secara subyektif (kualitatif).
Sedangkan kenyamanan fisik dapat terukur secara obyektif (kuantitatif); yang meliputi
kenyamanan spasial, visual, auditorial dan thermal.Kenyamanan Thermal didefinisikan
sebagai suatu kondisi pikiran yang mengekspresikan kepuasan terhadap lingkungan thermal
(ISO 7730). Kenyamanan thermal dalam ruang (indoor) akan berbeda dengan kenyamanan
thermal pada luar ruang (outdoor). Kenyamanan thermal indoor merupakan dampak yang
ditimbulkan oleh pemilihan jenis material bangunan, bentuk dan atau orientasi bangunan itu
sendiri, bukaan-bukaan, luasan bangunan dan lain-lain (Sastra & Marlina, 2006).

Sedangkan kenyamanan thermal outdoor timbul dari pengaruh konfigurasi massa


bangunan terhadap temperatur dalam sebuah kawasan, akhirnya didapat kenyamanan thermal
lingkungan (Wonorahadjo & Koerniawan, 2005) Kondisi fisik masing-masing ruang luar akan
memberikan dampak kenyamanan thermal yang berbeda. Sistem pembayangan, suhu,
kelembaban dan temperature sebagai faktor-faktor pendukung kenyamanan thermal dalam
sebuah kawasan perumahan. (Rilatupa, 2008)

Indonesia mempunyai iklim tropis dengan karakteristik kelembaban udara yang tinggi
(dapat mencapai angka 80%), suhu udara relatif tinggi (dapat mencapai hingga 35°C), serta
radiasi matahari yang menyengat serta mengganggu. Di Kota Makassar sendiri memiliki
kondisi iklim sedang hingga tropis dengan suhu udara rata-rata berkisar antara 26°C sampai
dengan 29°C. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana menciptakan kenyamanan termal
dalam dan luar bangunan dalam kondisi iklim tropis panas lembab seperti di atas. Adapun yang

1
menjadi fokus lokasi yaitu pada sebuah daerah permukiman di Kota Makassar tepatnya di
RW.04/RT.01 kelurahan Banta-Bantaeng yang diketahui sebagai daerah dengan kondisi yang
padat dan juga kumuh.

1.2.Rumusan Masalah
1. Bagaimana menciptakan kenyamanan thermal dalam dan luar bangunan (indoor dan
outdoor) pada lokasi RW.04/RT.01 kelurahan Banta-Bantaeng?

1.3.Tujuan Penelitian

Tujuan dari dilakukannya penelitian ini yaitu untuk menciptakan kenyamanan thermal
dalam dan luar bangunan (indoor dan outdoor) pada lokasi RW.04/RT.01 kelurahan Banta-
Bantaeng yang sesuai dengan standar yang ada.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1.Kenyamanan Termal Berdasarkan Desain Bangunan


Untuk memperoleh kenyamanan termal dalam merancang suatu bangunan, seorang
arsitek harus memperhatikan di mana bangunan tersebut akan didirikan karena setiap tempat
atau lokasi mempunyai karakteristik desain bukaan udara yang berbeda-beda. Bentuk dan
desain bukaan udara sangat erat kaitannya dengan kenyamanan termal. Setiap bangunan harus
menyesuaikan dengan kondisi iklim setempat agar dapat memberikan rasa nyaman terhadap
penggunanya.

Ilmu kenyamanan termal hanya membatasi kondisi udara tidak ektrim, keadaan yang
manusia masih bisa beradatasi pada perubahan suhu di sekitarnya (Karyono, 2007: 5).
Kenyamanan ruang dipengaruhi: temperatur udara, kelembaban udara, radiasi matahari,
kecepatan angin, tingkat terang dan distribusi cahaya pada dinding pandangan, Lippsmeier,
1994 (Maidinita, 2009: 22). Para ahli sepakat pada enam variabel kenyamanan termal, yaitu:
faktor personal (pakaian dan aktivitas); faktor lingkungan: suhu udara, suhu radian, kecepatan
angin dan kelembaban udara (Sugini, 2004: 4), kecuali Szokolay, Humphreys dan Nicol
menambah variabel lagi.

Tabel 1. Perbandingan Faktor Penentu Kenyamanan Termal

3
2.1.1. Orientasi Bangunan
Penyinaran langsung dari sebuah dinding bergantung pada orientasinya terhadap
matahari, dimana pada iklim tropis fasad Timur paling banyak terkena radiasi matahari
Bangunan persegi menciptakan eddy yang relatif konsisten (lihat gambar 4).
Sedangkan, Bentuk massa bangunan yang tidak memiliki sudut (lihat gambar 5)
memungkinkan aliran udara bergerak melalui selubung bangunan tanpa terjadi tabrakan
yang dapat menyebabkan bayangan angin (leeward).

2.1.2. Dimensi dan Bentuk Bangunan

Pergerakan udara pada bangunan yang berfungsi sebagai hunian memiliki tiga
fungsi berbeda, yaitu kualitas udara, energi, dan kenyamanan. B. Givoni menyebut tiga
fungsi tersebut sebagai :

a. “Health ventilation”, mengutamakan untuk mempertahankan kualitas udara dalam


hunian dengan mengganti udara dalam ruangan dengan udara segar yang berada di
alam bebas;
b. “Structural cooling ventilation”, mengutamakan penurunan suhu terhadap struktur
bangunan disaat suhu dalam bangunan lebih tinggi dari suhu luar bangunan.
c. “Thermal comfort ventilation”, mengarah kepada pengurangan panas serta
kelembaban tubuh ke udara sekitar. Udara yang melewati bangunan akan
membelokkan dirinya menuju ke atas dan ke sekeliling bangunan dan memiliki pola
gerakan udara yang berbeda.

Gerakan udara yang membelok ini disebabkan karena intensitas gerakan dipengaruhi
oleh struktur, tinggi, lebar, dan panjang. Gerakan udara yang melewati sisi bangunan
hanya mengenai dua per tiga panjang wajah bangunan pada tiap sisinya, sedangkan
gerakan udara yang melewati bagian atas bangunan hanyalah mengenai satu per tiga
tinggi wajah bangunan. Disamping struktur, tinggi, lebar, dan panjang bangunan, hal

4
lain yang mempengaruhi efek pola dan pergerakan udara serta kecepatannya adalah
bentuk dan orientasi bangunan. Bentuk dan orientasi bangunan dapat mengarahkan
pergerakan udara, menghambat pergerakan udara, dan membelokkan pergerakan udara.

Gambar 7. Bentuk Dan Orientasi Bangunan Mengarahkan (a), Menghambat (b),


Dan Membelokkan (c) Udara
Sumber: Napitupulu, Sally Septania, 2014.
2.1.3. Material Bangunan
Panas masuk ke dalam bangunan melalui proses konduksi pada material bangunan
(lewat dinding, atap, jendela kaca) dan radiasi panas matahari yang ditransmisikan
melalui jendela/ kaca. Radiasi panas matahari menyumbang jumlah panas yang cukup
besar masuk ke dalam bangunan.

2.1.4. Konfigurasi Bangunan


Perletakan massa bangunan dengan pola papan catur (lihat gambar 7) akan
menciptakan aliran udara lebih merata dan bangunan tidak berada dalam daerah
bayangan angin (leeward). Membangun massa bangunan dengan posisi berjajar (lihat
gambar 8) dapat menimbulkan kantung-kantung turbulensi yang berisi pergerakan udara
kecil yang menciptakan pola lompatan yang tidak biasa pada aliran udara.

5
2.2.Kenyamanan Termal Berdasarkan Desain Bukaan
Desain bukaan udara sangatlah berpengaruh terhadap upaya pemanfaatan angin dalam
pengkondisan ruangan. Desain bukaan juga dapat disesuaikan dengan kebutuhan akan aliran
udara. Menurut SNI 03-6572-2001: 3, tujuan ventilasi untuk: membuang gas-gas keringat dan
CO2 dari pernafasan; membuang uap air; membuang kalor; memperoleh kenyamanan termal.
Model ventilasi ada dua macam gaya angin dan gaya termal. Ventilasi gaya angin ventilasi
yang memanfaatkan perbedaan tekanan angin. Laju angin ventilasi gaya angin dipengaruhi:
kecepatan rata-rata; arah angin yang kuat; variasi kecepatan, arah angin musiman dan harian;
hambatan setempat, seperti padatnya bangunan, bukit, pohon dan semak belukar (SNI 03-
6572-2001: 5).

2.2.1. Perletakan dan Orientasi Bukaan


Perletakan dan orientasi bukaan inlet terletak pada zona bertekanan positif dan
bukaan outlet terletak pada zona bertekanan negatif dalam rangka untuk
mengoptimalkan pergerakan udara dalam sebuah bangunan. Perletekan dan orientasi
bukaan Inlet tidak hanya mempengaruhi kecepatan udara, tetapi juga pola aliran udara
dalam ruangan, sedangkan lokasi outlet hanya memiliki pengaruh kecil dalam
kecepatan dan pola aliran udara.

2.2.2. Lokasi Bukaan


Bukaan berfungsi untuk mengalirkan udara ke dalam ruangan dan mengurangi
kelembaban ruangan. Salah satu syarat untuk bukaan yang baik yaitu harus terjadi

6
cross ventilation. Dengan memberikan bukaan pada kedua sisi ruangan maka akan
memberi peluang supaya udara dapat mengalir masuk dan keluar.
2.2.3. Dimensi Bukaan
Semakin besar perbandingan luas outlet terhadap luas inlet, maka akan
menciptakan kecepatan angin yang lebih tinggi, yang juga menghasilkan penyejukan
lebih besar.

2.2.4. Bukaan
Pengarah bukaan sangatlah berpengaruh terhadap upaya pemanfaatan angin dalam
pengkondisan ruangan. Pengarah pada inlet akan menentukan arah gerak dan pola
udara dalam ruang, sehingga perbedaan bentuk pengarah akan memberikan pola aliran
udara yang berbeda-beda. Penggunaan kanopi pada bukaan inlet akan mengarahkan
aliran udara ke atas dibandingkan bukaan inlet tanpa kanopi (lihat gambar 11).
2.2.5. Tipe Bukaan
Tipe bukaan yang berbeda akan memberi sudut pengarah yang berbeda dalam
menentukan arah gerak udara dalam ruang (lihat gambar 12), serta efektifitas berbeda
dalam mengalirkan udara masuk/ keluar ruang.

2.3.Faktor Internal Kenyamanan Termal


Syarat kenyamanan termal untuk daerah tropis dapat dikatakan nyaman optimal,
dengan temperatur efektif 22,80 0C ~ 25,80 0C. Zona nyaman (comfort zone) adalah daerah
dalam bioclimatic chart yang menunjukkan kondisi udara yang nyaman secara termal.

7
2.4.Faktor Eksternal Kenyamanan Termal
Berdasarkan penelitian Wonoharjo dan Koerniawan (dalam Seminar Nasional Peran
Arsitektur Perkotaan dalam mewujudkan Kota Tropis, 2008), maka alat ukur yang dipakai
dalam mengetahui kenyamanan thermal ruang luar (thermal outdoor comfort) adalah dengan
mengukur temperatur udara kawasan tersebut. Dalam penelitian ini thermal outdoor comfort
diukur dengan menggunakan alat termometer digital, Hygrometer (alat ukur kelembaban
udara) Pengukuran dilakukan pukul 07.00 s/d 17.00 dengan interval waktu 1 jam. Dari data
pengukuran temperature udara kawasan tersebut, didukung dengan data kelembaban udara
kawasan kemudian dihitung untuk mendapatkan nilai temperatur udara efektif (oTE) dengan
bantuan Diagram Psikometrik. Dalam Nikolopoulou dan Lykoudis (2006), jalan merupakan
salah satu faktor pengaruh kenyamanan thermal suatu bangunan di sekitarnya terhadap sinar
matahari, baik itu yang langsung maupun yang terpantulkan, juga terhadap gerakan angin.

Gambar 14. Kenyamanan Thermal yang timbul dari sinar matahari dan gerakan angin
(Nikolopoulou dan Lykoudis, 2006)
Nikolopoulou dan Lykoudis (2006) juga mengatakan bahwa faktor –faktor penyebab
timbul atau tidaknya kenyamanan thermal seperti jalan dapat memberikan dampak timbul
atau tidaknya kenyamanan thermal pada bangunan yang terkena pantulan matahari (yang

8
langsung maupun yang tidak langsung) dan terkena aliran angin. Juga memberikan pengaruh
terhadap kenyamanan thermal lingkungan disekitarnya.

9
BAB III

METODE PENELITIAN

Penelitian ini berlokasi di RW.04/RT.01 kelurahan Banta-Bantaeng, kota Makassar


yang berlangsung pada bulan Maret 2019 hingga April 2019. Adapun pengumpulan data
dilakukan melalui observasi langsung untuk mendapatkan data primer berupa data tentang
iklim (temperatur, kelembaban udara, kecepatan angin, intensitas cahaya, dan curah hujan)
serta data dari bangunan-bangunan yang terdapat di lokasi (orientasi, bentuk, bukaan-bukaan,
atap dan dinding, material, pelindung, serta tatanan bangunannya.)

Metode penelitian ini yaitu antara lain :

a. Identifikasi permasalahan dengan menggunakan teknik pengukuran di lapangan dan data


grafis berupa gambar peta, lokasi RW.04/RT.01 kelurahan Banta-Bantaeng.
b. Studi pustaka mengenai kajian literatur konsep kenyamanan thermal baik di dalam
maupun di luar ruangan.
c. Identifikasi kriteria kenyamanan thermal dengan melihat hasil data pengukuran yang
didapat di lapangan untuk kemudian dibandingkan dengan standar kenyamanan thermal
yang ditetapkan untuk daerah beriklim tropis lembab.
d. Untuk tahapan terakhir yaitu dengan membuat rekomendasi berdasarkan permasalahan
yang ditemukan dilapangan yang tidak sesuai dengan standar yang ditetapkan.

10
BAB IV

ANALISIS & PEMBAHASAN

4.1. Kondisi Eksisting Lokasi

Gambar 15. Lokasi Penelitian


Lokasi penelitian yaitu pada sebuah daerah permukiman di Kota Makassar tepatnya di
RW.04/RT.01 kelurahan Banta-Bantaeng yang diketahui sebagai daerah dengan kondisi yang
padat dan juga kumuh.

Gambar 16. Orientasi Bangunan dan Arah Datang Angin


Arah datang angin dari Barat Laut akan langsung berhadapan dengan massa bangunan
yang berbentuk sejajar, angin menabrak muka bangunan sehingga mengakibatkan tolakan
angin (turbulensi) di samping bangunan dengan kecepatan gerak yang menurun. Kondisi

11
tersebut mengakibatkan kurangnya kenyamanan termal bangunan akibat tertahannya
pergerakan angin akibat turbulensi.

Gambar 17. Variasi Ketinggian Bangunan


Ketinggian bangunan-bangunan rumah pada lokasi sangat bervariasi mulai dari
ketinggian 6 meter hingga 12 meter. Hal tersebut tentu saja mempengaruhi pergerakan udara
dan juga pembayangan pada bangunan. Kondisi umum yang terjadi pada bangunan di sekitar
lokasi yaitu cahaya dan penghawaan yang masuk pada bangunan hanya dari satu sisi saja yaitu
dari arah depan bangunan dikarenakan posisi dan jarak rumah yang saling berhimpitan.
4.1.1. Titik Selatan

Gambar 18. Sudut Selatan


Lebar Jalan 2 meter dengan selokan tertutup di samping kiri & kanan jalan
dengan lebar masing-masing 0,5 meter. Lingkungan bersih dan tidak terdapat titik
pembuangan sampah. Tanaman hijau sangat sedikit. Material Jalanan berupa paving
blok. Tingkat kebisingan berdasarkan hasil pengukuran adalah rendah, hal ini karena
tidak banyak kendaraan berlalu-lalang.

12
4.1.2. Titik Timur

Gambar 19. Sudut Timur


Lebar Jalan 2 meter dengan selokan tertutup di samping kiri & kanan jalan
dengan lebar masing-masing 0,5 meter. Lingkungan bersih dan tidak terdapat titik
pembuangan sampah. Tanaman hijau sangat sedikit. Material Jalanan berupa paving
blok. Tingkat kebisingan berdasarkan hasil pengukuran adalah rendah, hal ini karena
tidak banyak kendaraan berlalu-lalang.

4.1.3. Titik Utara

13
Gambar 20. Sudut Utara
Lebar Jalan 2 meter dengan selokan tertutup di samping kiri & kanan jalan dengan
lebar masing-masing 0,5 meter. Lingkungan bersih dan tidak terdapat titik pembuangan
sampah. Tanaman hijau sangat sedikit. Material Jalanan berupa paving blok. Tingkat
kebisingan berdasarkan hasil pengukuran adalah rendah, hal ini karena tidak banyak
kendaraan berlalu-lalang.

4.1.4. Titik Barat

Gambar 18. Sudut Barat

Lebar Jalan 2 meter dengan selokan tertutup di samping kiri & kanan jalan
dengan lebar masing-masing 0,5 meter. Lingkungan bersih dan tidak terdapat titik
pembuangan sampah. Tanaman hijau sangat sedikit. Material Jalanan berupa paving
blok. Tingkat kebisingan berdasarkan hasil pengukuran adalah rendah, hal ini karena
tidak banyak kendaraan berlalu-lalang.

14
4.2. Analisis Kenyamanan Termal Berdasarkan Desain Bangunan
3.2.1. Rumah 1
a. Orientasi Bangunan

Gambar 19. Tampak Depan Rumah 1

Bagian depan rumah menghadap selatan. Lokasi rumah berada jauh dari
jalan lorong

b. Bentuk dan Denah

Gambar 20. Denah Rumah 1

15
Rumah tipe tidak permanen dengan ukuran 6x7 meter. Terdapat ruang tamu yang
juga digunakan sebagai ruang keluarga, ruang tidur, dapur dan wc.

c. Overstek

Gambar 21. Overstek Rumah 1


Overstek rumah cukup lebar pada bagian depan dan samping rumah sehingga
rumah terlindung dari cahaya matahari langsung. Lebar overstek 60 cm.

d. Atap dan Dinding

Gambar 22. Atap dan Dinding Rumah 1


Atap rumah berupa atap pelana dengan material seng.

16
e. Bukaan-Bukaan

Gambar 23. Bukaan Rumah 1


Terdapat dua bukaan jendela pada depan rumah, yaitu jendela kaca dan jendela
dengan bukaan triplek , karena aliran udara tidak mengalir pada area aktifitas
pengguna. Untuk tingkat kebisingan sendiri terbilang cukup rendah dikarenakan
lingkungan yang memang tidak bising.

f. Material dan Warna

Gambar 24. Material dan Warna pada Rumah 1


Material rumah berupa seng, kayu, dan batu bata, dan bamboo. Sedangkan rumah
berwarna natural tanpa cat. Material yang berwana gelap dan kasar akan menyerap
kalor yang cukup besar sehingga ruangan di sekitarnya akan memanas dan
mengurangi kenyamanan termal dalam ruang.

17
g. Lingkungan

Gambar 25. Lingkungan Rumah 1


Lingkungan rumah langsung menghadap lorong dan tidak terdapat taman. Hanya
ada 1 pohon disamping rumah. Keadaan ini menyebabkan tidak adanya
perlindungan dari vegetasi yang cukup untuk menangkal radiasi matahari dari arah
depan rumah dan juga angin dari samping rumah.

4.2.2. Rumah 2
a. Orientasi Bangunan

Gambar 26. Tampak Depan Rumah 2


Bagian depan rumah menghadap timur laut. Lokasi rumah berada di sudut, di apit
oleh dua rumah.

18
b. Bentuk dan Denah

Gambar 27. Denah Rumah 2


Rumah tipe semi permanen dengan ukuran 3x6 meter. Terdapat ruang tamu yang
juga digunakan sebagai ruang keluarga, ruang tidur, dapur

c. Overstek

Gambar 28. Overstek Rumah 2

Overstek rumah cukup lebar pada bagian depan dan samping rumah sehingga
rumah terlindung dari cahaya matahari langsung. Lebar overstek 80 cm.

19
d. Atap dan Dinding

Gambar 29. Atap dan Dinding Rumah 2


Model atap rumah yaitu tradisional bugis dengan material seng dan rangka kayu
tanpa plafond. Dinding rumah pada lantai 1 berupa batu bata dan lantai 2
menggunakan seng.

e. Bukaan-Bukaan

Gambar 30. Bukaan Rumah 2


Terdapat dua bukaan jendela pada depan rumah, yaitu jendela kaca.

20
f. Material dan Warna

Gambar 31. Material dan Warna pada Rumah 2


Material rumah berupa seng, kayu, dan batu bata pada lantai bawah. Warna rumah
perpaduan antara warna biru dan krem.

g. Lingkungan

Gambar 32. Lingkungan Rumah 2


Rumah tidak memiliki halaman depan dan langsung menghadap lorong hanya
dibatasi oleh pagar beton. Tidak terdapat tanaman hijau sama sekali. Keadaan ini
menyebabkan tidak adanya perlindungan dari vegetasi yang cukup untuk
menangkal radiasi matahari dari arah depan rumah dan juga angina dari samping
rumah.

21
4.2.3. Rumah 3
a. Orientasi Bangunan

Gambar 33. Tampak Depan Rumah 3


Bagian depan rumah menghadap selatan. Lokasi rumah berada di depan jalan

b. Bentuk dan Denah

Gambar 34. Denah Rumah 3


Rumah tipe semi permanen 2 lantai dengan ukuran 6x17 meter. Rumah ini di
fungsikan sebagai kos kosan sehingga terdapat banyak kamar.

22
c. Overstek

Gambar 35. Overstek Rumah 3


Overstek rumah cukup lebar pada bagian depan dan samping rumah sehingga
rumah terlindung dari cahaya matahari langsung. Lebar overstek 80 cm.
Lebar overstek 1 meter. Bagian depan Balkon digunakan sebagai jemuran
sehingga menghalangi cahaya masuk dari depan.

d. Atap dan Dinding

Gambar 36. Atap dan Dinding Rumah 3


Model atap rumah yaitu tradisional bugis dengan material seng dan rangka kayu
tanpa plafond. Dinding rumah pada lantai 1 berupa batu bata dan lantai 2
menggunakan seng dan tripleks.

23
e. Bukaan-Bukaan

Gambar 37. Bukaan Rumah 3


Terdapat dua bukaan jendela pada depan rumah, yaitu jendela kaca.

f. Material dan Warna

Gambar 38. Material dan Warna pada Rumah 3

Dinding lantai 1 menggunakan bata, dinding lantai 2 menggunakan seng. Cat


dinding wara hijau dan railing balkon lantai 2 menggunakan seng.

24
g. Lingkungan

Gambar 39. Lingkungan Rumah 3


Tidak terdapat halaman karena rumah ini full bangunan, tetapi terdapat tanaman
pot di depan pagar rumah dan tanaman gantung

4.2.4. Rumah 4
a. Orientasi Bangunan

Gambar 40. Tampak Depan Rumah 4


Bagian depan rumah menghadap selatan. Lokasi rumah berada di depan jalan

25
b. Bentuk dan Denah

Gambar 41. Bentuk Rumah 4


Rumah tipe semi permanen 2 lantai dengan ukuran 6x17 meter. Rumah ini di
fungsikan sebagai kos kosan sehingga terdapat banyak kamar
c. Overstek

Gambar 42. Overstek Rumah 4


Lebar overstek 0,5 meter yang terletak di atas jendela samping rumah.

d. Atap dan Dinding

Gambar 43. Atap dan Dinding Rumah 4

26
Model atap rumah yaitu atap pelana dengan material seng. Dinding rumah berupa
batu bata
e. Bukaan-Bukaan

Gambar 44. Bukaan Rumah 4


Terdapat 1 bukaan berupa jendela pada tampak depan rumah dan 2 jendela pada
bagian samping. Terdapat pula beberapa roster sebagai ventilasi.

f. Material dan Warna

Gambar 45. Material dan Warna pada Rumah 4


Dinding lantai 1 menggunakan bata, dinding lantai 2 menggunakan seng. Warna
rumah masih menggunakan warna natural pada setiap material dinding maupun
seng

27
g. Lingkungan

Gambar 46. Lingkungan Rumah 4


Tidak terdapat halaman ataupun tanaman karena rumah ini full bangunan, depan
bangunan difungsikan sebagai warung.

4.2.5. Rumah 5
a. Orientasi Bangunan

Gambar 47. Tampak Depan Rumah 5


Bagian depan rumah menghadap barat. Lokasi rumah berada di depan jalan

28
b. Bentuk dan Denah

Gambar 48. Denah Rumah 5


Rumah tipe semi permanen 1 lantai dengan ukuran 5x3,3 meter.
c. Overstek

Gambar 49. Overstek Rumah 5


Overstek rumah cukup lebar pada bagian depan dan samping rumah sehingga
rumah terlindung dari cahaya matahari langsung. Lebar overstek 1 meter.

d. Atap dan Dinding

Gambar 50. Atap dan Dinding Rumah 5

29
Model atap rumah yaitu atap perisai dengan material seng dan rangka kayu.
Plafond berupa kain. Dinding rumah perpaduan seng dan tripleks.

e. Bukaan-Bukaan

Gambar 51. Bukaan Rumah 5


Terdapat dua bukaan jendela kaca pada depan rumah

f. Material dan Warna

Gambar 52. Material dan Warna pada Rumah 5


Meterial dinding menggunakan bata, lantai menggunakan keramik. Warna
dinding kuning

30
g. Lingkungan

Gambar 53. Lingkungan Rumah 5


Tidak terdapat halaman ataupun tanaman

31
BAB VI

PENUTUP

4.1. Kesimpulan

Analisis kajian kenyamanan termal pada RW.04/RT.01 kelurahan Banta-Bantaeng


ini ditinjau berdasarkan desain bangunan, desain bukaan udara, faktor internal, serta faktor
eksternal yang mempengaruhi kenyamanan termal. Dari hasil analisis tersebut dapat
diambil kesimpulan sebagai berikut:

1. Dari hasil analisis diperoleh bahwa secara umum bangunan rumah yang terdapat di
RW.04/RT.01 kelurahan Banta-Bantaeng belum memenuhi aspek kenyamanan termal.
2. Ditinjau dari aspek bentuk dan dimensi bangunan masih memiliki sedikit kekurangan
karena aliran angin yang bergerak pada massa bangunan menerus tanpa terjadi
perputaran sehingga sulit masuk ke dalam ruang dan menyebabkan kenyamanan
termal kurang optimal.
3. Ditinjau dari desain bukaan udara, secara umum belum cukup baik dalam menunjang
kenyamanan termal. Begitupun dari aspek dimensi dan pengarah bukaan dirasakan
kurang baik karena tidak terjadi peningkatan kecepatan udara yang menghasilkan
aliran udara optimal.

32
DAFTAR PUSTAKA

Napitupulu, Sally Septania. 2014. Pengaruh Orientasi Bangunan dan Kecepatan Angin Terhadap
Bentuk dan Dimensi Filter pada Fasad Bangunan Rumah Susun. E-Journal Graduate
Unpar.

Maidinita,D, dkk, 2009. Pola Ruang Luar Kawasan Perumahan Dan Kenyamanan Thermal Di
Semarang. RIPTEK, 3 ( 2 ): hal. 21-26).

Satwiko, Prasasto. 2004. Fisika Bangunan1. Yogyakarta: Andi.

33