Anda di halaman 1dari 620

The World until Yesterday

(DUN IA H I NGGA KEMARI N)

Apa yang Dapat Kita Pelajari dari Masyarakat Tradisional?

Jared Diamond ialah profesor geograi di UCLA. Anugerah yang pernah dia dapatkan antara lain
National Medal of Science, Tyler Prize for Environmental Achievement, Cosmos Prize (Jepang),
Fellowship dari MacArthur Foundation, dan Lewis Thomas Prize honoring the Scientist as Poet
yang diberikan oleh Rockefeller University. Buku-bukunya yang terdahulu antara lain

2007),
(terjemahan bahasa Indonesia diterbitkan KPG dengan judul
(terjemahan bahasa Indonesia diterbitkan KPG, 2014),
Jared
(terjemahan bahasa Indonesia berjudul

http://facebook.com/indonesiapustaka
diterbitkan KPG, 2013)

Jared
diamond
http://facebook.com/indonesiapustaka
The World
until Yesterday
(DUN IA H I NGGA KEMARI N)

A p a y a n g D a p a t K it a Pe la ja r i d a r i M a s y a r a k a t T r a d is io n a l?
http://facebook.com/indonesiapustaka
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta

Lingkup Hak Cipta


Pasal 1
Hak Cipta adalah hak eksklusif pencipta yang timbul secara otomatis berdasarkan prinsip deklaratif setelah suatu ciptaan
diwujudkan dalam bentuk nyata tanpa mengurangi pembatasan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Ketentuan Pidana
Pasal 113
(1) Setiap Orang yang dengan tanpa hak melakukan pelanggaran hak ekonomi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9
ayat (1) huruf i untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan/
http://facebook.com/indonesiapustaka

atau pidana denda paling banyak Rp100.000.000 (seratus juta rupiah).


(2) Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau pemegang Hak Cipta melakukan pe-
langgaran hak ekonomi Pencipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf c, huruf d, huruf f, dan/atau
huruf h untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau
pidana denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
(3) Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau pemegang Hak Cipta melakukan pe-
langgaran hak ekonomi Pencipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf a, huruf b, huruf e, dan/atau
huruf g untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau
pidana denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).
(4) Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang dilakukan dalam bentuk pem-
bajakan, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling banyak
Rp4.000.000.000,00 (empat miliar rupiah).
The World
until Yesterday
(DUN IA H I NGGA KEMARI N)

A p a y a n g D a p a t K it a Pe la ja r i d a r i M a s y a r a k a t T r a d is io n a l?

Jared
diamond
http://facebook.com/indonesiapustaka

J akarta:
KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Dunia Hingga Kemarin
Jared Diamond

Hak terjemahan bahasa Indonesia pada KPG


(Kepustakaan Populer Gramedia)

KPG 591500989

Cetakan pertama, Juni 2015

Judul asli
The World until Yesterday
Copyright © Jared Diamond, 2012. All rights reserved

Penerjemah
Damaring Tyas Wulandari Palar

Penyunting
Andya Primanda

Penataletak
Dadang Kusmana

Perancang sampul
Boy Bayu Anggara

DIAMOND, Jared
The World until Yesterday
Jakarta; KPG (Kepustakaan Populer Gramedia), 2015
x + 604 hlm.; 15 cm x 23 cm
ISBN: 978-979-91-0875-3
http://facebook.com/indonesiapustaka

Dicet ak oleh PT Gramedia


Isi di luar t anggung j awab percet akan
Dipersem bahkan kepada
Meg Tay lor,
sebagai penghargaan bagi persahabatan
berdasaw arsa-dasaw arsa,
dan w aw asan y ang kam u bagi m engenai kedua dunia kita.
http://facebook.com/indonesiapustaka
http://facebook.com/indonesiapustaka
Daftar Isi

D aftar Pe ta, Tabe l, Ilu s tras i x

Pembukaan: Di banDara 1

Pemandangan di bandara ▪ Mengapa mempelajari masyarakat-


masyarakat tradisional? ▪ Negara ▪ Tipe-tipe masyarakat
tradisional ▪ Pendekatan, penyebab, dan sumber ▪ Buku kecil
mengenai subjek besar ▪ Susunan buku ini

baGian SaTu: membanGun LaTar DenGan membaGi ruanG 39

bab 1: kaWan, LaWan, OranG aSinG, Dan SauDaGar 41


Batas ▪ Wilayah yang saling tidak boleh dimasuki ▪ Penggunaan
lahan non-eksklusif ▪ Kawan, lawan, dan orang asing ▪ Kontak
pertama ▪ Perdagangan dan pedagang ▪ Ekonomi pasar ▪ Bentuk-
bentuk tradisional perdagangan ▪ Dagangan tradisional ▪ Siapa
http://facebook.com/indonesiapustaka

berdagang apa? ▪ Negara-negara mungil

baGian Dua: Damai Dan PeranG 89

bab 2: kOmPenSaSi aTaS kemaTian SeOranG anak 91


Kecelakaan ▪ Upacara ▪ Bagaimana jika...? ▪ Apa yang negara
lakukan ▪ Kompensasi di Papua ▪ Hubungan seumur hidup ▪
Masyarakat-masyarakat bukan-negara lainnya ▪ Kewenangan
viii ● DAFTAR ISI

negara ▪ Peradilan perdata negara ▪ Cacat-cacat dalam peradilan


perdata negara ▪ Peradilan pidana negara ▪ Peradilan restoratif ▪
Keunggulan-keunggulan dan harga y ang harus dibay arkan

bab 3: SaTu bab PenDek, menGenai SuaTu


PeranG keciL 138
Perang Dani ▪ Urutan kejadian perang ▪ Korban tewas dalam
perang

bab 4: bab YanG Lebih PanjanG, menGenai banYak


PeranG 150
Deinisi perang ▪ Sumber-sumber informasi ▪ Bentuk-bentuk
peperangan tradisional ▪ Tingkat kematian ▪ Kemiripan dan
perbedaan ▪ Mengakhiri perang ▪ Efek kontak dengan orang-orang
Eropa ▪ Hewan yang gemar berperang, manusia yang pecinta
damai ▪ Motif perang tradisional ▪ Penyebab mendasar ▪ Siapa
yang diperangi? ▪ Melupakan Pearl Harbor

baGian TiGa: muDa Dan Tua 217

bab 5: membeSarkan anak-anak 219


Pembandingan cara membesarkan anak ▪ Kelahiran anak
▪ Infantisida ▪ Penyapihan dan jarak kelahiran ▪ Menyusui
sekeinginan anak ▪ Kontak anak dan dewasa ▪ Ayah dan
orangtua-damping ▪ Tanggapan terhadap anak yang menangis
▪ Hukuman isik ▪ Otonomi anak ▪ Kelompok bermain multi-usia ▪
Permainan dan pendidikan anak ▪ Anak-anak mereka dan anak-
anak kita

bab 6: PerLakuan TerhaDaP OranG LanjuT uSia:


hOrmaTi, abaikan, aTau habiSi? 262
Orang lanjut usia ▪ Harapan mengenai perawatan lansia ▪
Mengapa meninggalkan atau membunuh? ▪ Kegunaan lansia ▪
Nilai-nilai masyarakat ▪ Aturan-aturan masyarakat ▪ Sekarang
lebih baik atau lebih buruk? ▪ Apa yang harus dilakukan kepada
lansia?

baGian emPaT: bahaYa Dan TanGGaPan 299


http://facebook.com/indonesiapustaka

bab 7: ParanOia kOnSTrukTif 301


Sikap terhadap bahaya ▪ Kunjungan malam ▪ Kecelakaan kapal ▪
Hanya sebatang tongkat di tanah ▪ Mengambil risiko ▪ Risiko dan
kegem aran m engobrol

bab 8: SinGa Dan bahaYa-bahaYa LainnYa 340


Bahaya-bahaya dalam kehidupan tradisional ▪ Kecelakaan ▪
Kewaspadaan ▪ Kekerasan oleh manusia ▪ Penyakit ▪ Tanggapan
DAFTAR ISI ● ix

terhadap penyakit ▪ Kelaparan ▪ Kekurangan makanan yang


tidak terperkirakan ▪ Memanfaatkan lahan yang terpencar-
pencar ▪ Musim dan cadangan makanan ▪ Perluasan ragam
makanan ▪ Mengumpul dan menyebar ▪ Tanggapan terhadap
bahay a

baGian Lima: aGama, bahaSa, Dan keSehaTan 409

bab 9: aPa YanG DiberiTahukan beLuT LiSTrik kePaDa


kiTa menGenai evOLuSi aGama 411
Pertanyaan-pertanyaan mengenai agama ▪ Deinisi agama ▪
Fungsi dan belut listrik ▪ Pencarian penjelasan sebab ▪ Keyakinan
supranatural ▪ Fungsi penjelasan agama ▪ Meredakan kecemasan
▪ Menyediakan penghiburan ▪ Organisasi dan kepatuhan ▪
Kode perilaku terhadap orang asing ▪ Menjustiikasi perang
▪ Perlambang komitmen ▪ Ukuran keberhasilan religius ▪
Perubahan fungsi agam a

bab 10: berTuTur DenGan banYak bahaSa 466


Multilingualisme ▪ Total bahasa di dunia ▪ Bagaimana
bahasa ber-evolusi ▪ Geograi keanekaragaman bahasa ▪
Multilingualisme tradisional ▪ Manfaat bilingualisme ▪ Penyakit
Alzheimer ▪ Bahasa-bahasa yang menghilang ▪ Bagaimana
bahasa menghilang ▪ Apakah bahasa minoritas berbahaya?
▪ Untuk apa melestarikan bahasa? ▪ Bagaimana kita bisa
m elindungi bahasa?

bab 11: Garam, GuLa, Lemak, Dan PemaLaS 514


Penyakit-penyakit tidak menular ▪ Asupan garam kita ▪ Garam
dan tekanan darah ▪ Penyebab hipertensi ▪ Sumber garam pada
makanan ▪ Diabetes ▪ Jenis-jenis diabetes ▪ Gen, lingkungan,
dan diabetes ▪ Orang-orang Indian Pima dan Penduduk Nauru
▪ Diabetes di India ▪ Manfaat-manfaat gen pemicu diabetes ▪
Mengapa diabetes rendah di antara orang-orang Eropa? ▪ Masa
depan peny akit-peny akit tidak m enular

PenuTuP: Di banDara Lain 563


Dari rimba ke 405 ▪ Keunggulan dunia modern ▪ Keunggulan
dunia tradisional ▪ Apa yang bisa kita pelajari?
http://facebook.com/indonesiapustaka

U cap an Te rim a Kas ih 58 1


Bacaan Le bih Lan ju t 58 5
Kre d it Ilu s tras i 60 2
Te n tan g Pe n u lis 60 4
D AF TAR PE TA , TABE L , I LU STR AS I

Pe ta 1. Lokasi 39 m asyarakat yang akan sering dibahas dalam buku ini 30


Tabe l 1.1. Barang-barang yang diperdagangkan oleh sejum lah
m asyarakat tradisional 77
Tabe l 3 .1. Keanggotaan dua persekutuan Dani yang berperang 141
Tabe l 8 .1. Kecelakaan penyebab kem atian dan cedera 343
Tabe l 8 .2 . Sim panan m akanan tradisional di seluruh dunia 395
Tabe l 9 .1. Sejumlah deinisi agama yang diajukan 415
Tabe l 9 .2 . Contoh-contoh kepercayaan supranatural yang terbatas pada
agam a-agam a tertentu 432
Ilu s tras i 9 .1. Fungsi-fungsi agam a berubah seiring waktu 464
Tabe l 11.1. Prevalensi diabetes Tipe-2 di seluruh dunia 546
http://facebook.com/indonesiapustaka

Tabe l 11.2 . Contoh-contoh sikap kem aruk ketika m akanan tersedia


secara m elim pah 552
PE M BUK A AN

Di Bandara

Pemandangan di bandara ▪ Mengapa mempelajari masyarakat


tradisional? ▪ Negara ▪ Tipe-tipe masyarakat tradisional ▪ Pendekatan,
penyebab, dan sumber ▪ Buku kecil mengenai subjek besar ▪ Susunan
buku ini

Pe m an d an gan d i ban d ara


30 April 20 0 6, pukul 7 pagi. Saya berada di aula check-in suatu ban-
dara, m encengkeram kereta dorong saya, seraya terdesak-desak oleh
banyak orang lain yang juga sedang check-in untuk penerbangan per-
tam a pagi itu. Adegan tersebut sungguh akrab: ratusan calon pe num -
pang yang m em bawa koper, kardus, ransel, dan bayi, m em bentuk
ba risan-barisan sejajar m endekati satu gerai panjang, dengan pega-
wai-pegawai m askapai penerbangan yang berseragam berdiri di bela-
kangnya, m engha dapi kom puter. Orang-orang lain yang juga berse -
ra gam tersebar di an tara kerum unan: pilot dan pram ugari, pem eriksa
bagasi, serta dua pe tu gas polisi yang dikerubungi oleh kerum unan dan
http://facebook.com/indonesiapustaka

ber diri tanpa m e la kukan apa-apa selain hadir di sana. Para pem eriksa
bagasi sibuk m e m erik sa bawaan penum pang dengan sinar X, pegawai
m askapai m e labeli koper, dan portir m eletakkan koper-koper di atas
sabuk berjalan yang m em bawa koper-koper itu pergi, m oga-m oga
sam pai ke pe sawat yang benar. Di sepanjang dinding di seberang gerai
check-in, terdapat toko-toko yang m enjual surat kabar dan hidangan
cepat saji. Benda-benda lain di sekitar saya adalah jam dinding biasa,
2 ● DI BANDARA

telepon, ATM, tangga berjalan ke lantai atas, dan tentu saja pesawat-
pesawat di landas pacu yang bisa terlihat dari jendela-jendela term inal.
Para petugas m askapai m enggerakkan jari-jem ari m ereka di atas
papan ketik kom puter dan m enatap ke layar, terkadang m encetak
resi kartu kredit di term inal kartu kredit. Kerum unan orang di situ
m e nunjuk kan cam puran um um rasa hum or, ke sa baran, kegusaran,
antre dengan sabar, dan tegur sapa dengan te m an. Sewaktu saya
m encapai ujung antrean, saya m enunjukkan selem bar kertas (berkas
penerbangan saya) kepada seseorang yang be lum pernah saya lihat
sebelum nya dan m ungkin tidak akan pernah saya jum pai lagi (seorang
petugas check-in). Dia lantas m enyerahkan ke pada saya sehelai kertas
yang m em beri saya izin untuk terbang ra tusan kilom eter m enuju
tem pat yang belum pernah saya kunjungi, yang penduduknya tidak
m engenal saya nam un tidak akan berke be rat an bila saya datang
berkunjung.
Bagi para pelancong dari AS, Eropa, atau Asia, ciri pertam a yang
akan m ereka anggap berbeda dari pem andangan yang tam pak bia sa
saja itu adalah bahwa sem ua orang dalam aula itu selain saya dan se-
ge lin tir wisatawan lain m erupakan orang Papua. Perbedaan-per be da an
lain yang akan disadari oleh pelancong dari luar negeri adalah bahwa
ben dera nasional yang dipajang di atas gerai check-in adalah bendera
hitam, merah, dan emas milik negara Papua Nugini, menampilkan
burung cendrawasih dan rasi bintang Layang-layang; sim bol m as kapai
di gerai bukan m ilik Am erican Airlines atau British Airways m e lainkan
Air Niugini; dan nama-nama tujuan terbang di layar terdengar eksotik:
Wapenam anda, Goroka, Kikori, Kundiawa, dan Wewak.
Bandara tem pat saya check-in pagi itu adalah bandara Port
Moresby, ibukota Papua Nugini. Bagi orang yang mengetahui sejarah
Papua—termasuk saya, yang pertama kali datang ke Papua Nugini
pada 1964 ketika negara tersebut m asih berada di bawah pem erintahan
Australia—pem andangan itu akrab, m em ukau, sekaligus m engharukan.
Dalam benak, saya m em bandingkan pem andangan itu dengan foto-
http://facebook.com/indonesiapustaka

foto yang diam bil oleh orang-orang Australia pertam a yang m em asuki
dan "m e nem ukan" Dataran Tinggi Papua pada 1931, yang dipadati satu
juta pen duduk desa-desa Papua yang kala itu m asih m enggunakan
peralatan batu. Dalam foto-foto itu, para penduduk Dataran Tinggi,
yang telah hidup beribu-ribu tahun relatif terisolasi dengan penge-
tahuan ter ba tas m engenai dunia luar, m enatap orang-orang Eropa
per tam a yang m ereka lihat (Gam bar 30 , 31) dengan ketakutan. Saya
PEMANDANGAN DI BANDARA ● 3

m enatap wajah-wajah para pe num pang, petugas gerai, dan pilot


Papua Nugini di bandara Port Moresby pada tahun 2006 itu, dan
terbayanglah wajah-wajah orang-orang Papua Nugini yang dipotret
pada 1931. Orang-orang yang ber diri di sekitar saya di bandara ketika
itu tentu saja bukan orang-orang yang ada di foto-foto tahun 1931,
nam un wajah-wajah m ereka m irip, dan sebagian di antaranya m ungkin
m erupakan anak-cucu orang-orang di foto-foto itu.
Perbedaan paling jelas antara pem andangan check-in tahun 20 0 6
yang terpatri di ingatan saya, dan foto-foto "kontak pertam a" dari
tahun 1931, adalah bahwa para penduduk Dataran Tinggi Papua pada
1931 tidak m engenakan banyak pakaian selain rok rum put, noken yang
dise lem pangkan di bahu, dan hiasan kepala dari bulu burung, nam un
pa da 20 0 6 m ereka m engenakan pakaian standar internasional berupa
ke m eja, celana panjang, rok, celana pendek, dan topi bisbol. Dalam satu
atau dua generasi, dan dalam kehidupan individual banyak orang di
aula bandara itu, para penduduk Dataran Tinggi Papua belajar m enulis,
m enggunakan kom puter, dan m enerbangkan pesawat. Sebagian orang
di aula itu m ungkin m erupakan orang-orang pertam a dalam suku m e-
reka yang belajar m em baca dan m enulis. J urang generasi itu bagi
saya disim bolkan oleh pem andangan berupa dua laki-laki Papua di
antara ke ru m un an di bandara, laki-laki yang lebih m uda m enggandeng
yang lebih tua: yang lebih m uda m engenakan seragam pilot, dan dia
m enjelaskan ke pada saya bahwa dia m em bawa laki-laki yang lebih
tua, kakeknya, untuk terbang pertam a kali dengan pesawat terbang;
sem entara sang kakek yang beruban terlihat nyaris sam a kebingungan
dan panik nya dengan orang-orang dalam foto-foto tahun 1931.
Namun seorang pengamat yang akrab dengan sejarah Papua
akan m e ngenali perbedaan-perbedaan yang lebih besar di antara pe-
m andangan tahun 1931 dan 20 0 6, selain bahwa orang-orang di tahun
1931 m engenakan rok rum put sem entara orang-orang di tahun 20 0 6
mengenakan pakaian Barat. Masyarakat-masyarakat Dataran Tinggi
Papua pa da 1931 bukan hanya tidak m em iliki pakaian produksi pabrik,
http://facebook.com/indonesiapustaka

m elain kan juga sem ua teknologi m odern, m ulai dari arloji, telepon, dan
kartu kredit sam pai kom puter, tangga berjalan, dan pesawat terbang.
Secara lebih m endasar, di Dataran Tinggi Papua pada 1931 tidak ada
tulisan, logam , uang, sekolah, dan pem erintahan terpusat. Seandainya
tidak pernah terjadi dalam kurun waktu belum lam a ini, kita m ungkin
ber tanya-tanya: bisakah m asyarakat tanpa tulisan benar-benar m e-
nguasai tulisan dalam waktu satu generasi?
4 ● DI BANDARA

Seorang pengam at teliti yang akrab dengan sejarah Papua akan


m e nyadari lebih banyak lagi ciri-ciri lain pem andangan tahun 20 0 6
yang bisa ditem ukan juga pada pem andangan di bandara-bandara
m odern lain nya, nam un berbeda dengan pem andangan Dataran Tinggi
tahun 1931 yang tertangkap oleh foto-foto yang dibuat ketika kontak
per tam a. Pada pem andangan 20 0 6 terdapat lebih banyak orang tua
beruban, sem entara relatif lebih sedikit orang yang bertahan hidup
sam pai tua dalam m asyarakat Dataran Tinggi tra disional. Kerum unan
di bandara, m eskipun pada awalnya bagi orang Barat yang belum
pernah bertem u orang-orang Papua akan tam pak "hom ogen"—m ereka
sem ua m irip karena sam a-sam a berkulit ge lap dan beram but keriting
(Gam bar 1, 13, 26, 30 , 31, 32)—sebenarnya he te rogen dalam segi-
segi lain penam pakan m ereka: penduduk dataran ren dah dari pesisir
selatan yang jangkung, dengan janggut jarang dan wa jah yang lebih
sem pit; penduduk Dataran Tinggi yang lebih pendek, ber janggut lebat,
dan berwajah lebar; serta penduduk pulau dan dataran rendah pesisir
utara yang m em iliki ciri-ciri wajah yang agak m irip orang Asia. Pada
1931, m ustahil m enjum pai penduduk Dataran Tinggi, penduduk da-
taran rendah pesisir selatan, dan penduduk dataran rendah pesisir
utara bersam a-sam a; kum pulan orang m ana pun di Papua jauh lebih
ho m ogen pada 1931 dibandingkan dengan kerum unan di bandara
pada 20 0 6 itu. Seorang ahli linguistik yang m endengarkan kerum unan
itu bercakap-cakap akan bisa m em bedakan lusinan bahasa, yang
tergolong ke dalam kelom pok yang am at berbeda-beda; bahasa-
bahasa tonal dengan kata-kata yang dibedakan oleh tinggi-rendah
nada seperti bahasa Mandarin, bahasa-bahasa Austronesia dengan
suku kata dan konsonan yang relatif sederhana, serta bahasa-bahasa
tanpa-tonal Papua. Pada 1931, kita bisa m enjum pai individu-individu
yang berbicara beberapa bahasa ber beda bersam a-sam a, nam un tidak
pernah ada kum pulan orang yang ber bicara lusinan bahasa berbeda.
Dua bahasa yang banyak digunakan, ba hasa Inggris dan Tok Pisin
(dikenal juga sebagai bahasa Inggris Melanesia atau bahasa Inggris
http://facebook.com/indonesiapustaka

Pidgin), m erupakan bahasa-bahasa yang digu nakan pada 20 0 6 di gerai


check-in dan juga dalam percakapan di antara banyak penum pang,
nam un pada 1931 sem ua percakapan di seluruh Dataran Tinggi Papua
dilangsungkan dengan bahasa-bahasa lokal, yang m asing-m asing
terbatas di area yang sem pit.
Satu lagi perbedaan halus antara pem andangan 1931 dan 20 0 6 ada-
lah bahwa di antara kerum unan 20 0 6 terdapat sejum lah orang Papua
PEMANDANGAN DI BANDARA ● 5

de ngan tipe tubuh yang sayangnya um um di Am erika: orang-orang


ke le bih an berat badan dengan "perut bir" m enggelam bir di atas ikat
pinggang. Foto-foto dari 75 tahun lalu tidak m enunjukkan seorang
pun penduduk Papua Nugini yang kelebihan berat; semua orang lang-
sing dan berotot (Gam bar 30 ). Bila saya bisa m ewawancarai dokter
yang m e rawat para penum pang itu, m aka (jika m enilik dari statistika
kesehatan masyarakat Papua Nugini modern) saya pasti akan diberi
tahu m e ngenai peningkatan jum lah kasus diabetes yang terkait dengan
kelebihan berat badan, plus kasus-kasus hipertensi, penyakit jantung,
stroke, dan kanker yang tidak dikenal satu generasi silam .
Satu lagi perbedaan kerum unan 20 0 6 dibandingkan dengan keru-
m un an 1931 adalah satu ciri yang kita anggap biasa saja di dunia
m odern: sebagian besar orang yang berjejalan dalam aula bandara itu
m e rupakan orang-orang asing yang tak pernah berjum pa sebelum nya,
na m un tidak ada di antara m ereka yang berkelahi. Itu tak ter ba-
yangkan pada 1931, kala perjum paan dengan orang asing jarang ter-
jadi, berbahaya, dan berkem ungkinan besar berubah m enjadi perta-
rungan. Ya, m e m ang ada dua orang petugas polisi dalam aula ban-
dara itu, guna m en jaga ketertiban, nam un pada kenyataannya keru -
m unan itu m enjaga ke tertiban sendiri, sem ata karena para penum -
pang tahu bahwa tidak ada di antara orang asing itu yang akan
m e nyerang m ereka, dan bah wa m ereka hidup dalam m asyarakat
dengan petugas polisi dan pra ju rit yang siap dipanggil seandainya
ada per kelahian yang kelewat batas. Pada 1931, tidak ada yang nam a-
nya polisi atau pemerintah di Papua Nugini. Penumpang di aula
ban dara itu m enikm ati hak untuk terbang ataupun m enggu nakan
sarana transportasi lain m enuju Wapenam anda atau ke m ana pun di
Papua Nugini tanpa perlu izin. Di dunia Barat modern, kami anggap
kebebasan m elanglang itu biasa saja, nam un sebelum nya keadaan itu
sungguh luar biasa. Pada 1931, tidak ada orang Papua yang terlahir di
Goroka pernah m engunjungi Wapenam anda yang hanya 172 kilom eter
ke arah barat; tak terpikirkan gagasan untuk m elanglang dari Goroka
http://facebook.com/indonesiapustaka

ke Wapenam anda, tanpa terbunuh gara-gara dianggap orang asing


tak dikenal dalam 10 kilometer pertama dari Goroka. Namun saya
baru saja m elanglang se jauh 11.0 0 0 kilom eter dari Los Angeles ke
Port Moresby, jarak yang ratusan kali lipat lebih besar daripada jarak
kum ulatif yang pernah ditem puh se orang penduduk Dataran Tinggi
Papua tradisional selam a m asa hidup nya dari tem pat kelahirannya.
6 ● DI BANDARA

Sem ua perbedaan antara kerum unan 20 0 6 dan 1931 itu bisa di-
rangkum dengan m engatakan bahwa, dalam 75 tahun terakhir,
populasi Da taran Tinggi Papua telah m elesat m elalui perubahan-per-
ubahan yang butuh waktu ribuan tahun untuk berlangsung di sebagian
besar tem pat lain di dunia. Bagi orang-orang Dataran Tinggi, per ubah -
an itu bahkan lebih cepat lagi: sejumlah teman saya dari Papua Nugini
m en ceritakan kepada saya bahwa m ereka m asih m em buat beliung batu
terakhir dan am bil bagian dalam perang-perang suku tradisional ter ak-
hir, hanya satu dasawarsa sebelum bertem u saya. Kini, warga negara-
negara industri m enganggap wajar saja ciri-ciri pem andangan 20 0 6
yang saya sebutkan: logam , tulisan, m esin, pesawat terbang, po lisi dan
pem erintah, orang-orang kelebihan berat badan, berjum pa orang asing
tanpa rasa takut, populasi yang heterogen, dan lain sebagainya. Namun
se m ua ciri m asyarakat m anusia m odern itu relatif baru dalam seja rah
m a nusia. Selam a nyaris 6.0 0 0 .0 0 0 tahun sejak garis keturunan evolu-
sio ner proto-m anusia dan proto-sim panse saling m em isah, sem ua m a-
sya ra kat m anusia tidak m em iliki logam dan segala hal lainnya itu. Ciri-
ciri m odern itu baru m uncul dalam 11.0 0 0 tahun terakhir, di beberapa
daerah saja di dunia.
Dengan dem ikian, Papua * dalam beberapa segi m erupakan jendela
bagi dunia m anusia seperti adanya sam pai kem arin, bila diukur dengan
skala waktu 6.0 0 0 .0 0 0 tahun evolusi m anusia. (Saya m enekankan
"da lam beberapa segi"—tentu saja Dataran Tinggi Papua pada 1931
bu kan lah dunia kem arin dulu yang belum pernah berubah.) Sem ua
perubahan yang tiba di Dataran Tinggi selam a 75 tahun terakhir juga
telah terjadi pada m asyarakat-m asyarakat lain di seluruh dunia, nam un

* Peristilahan yang digunakan bagi Papua sungguh m em bingungkan. Sepanjang buku ini,
saya m enggunakan istilah "Papua" untuk m engacu kepada pulau Papua, pulau terbesar
ke dua di dunia setelah Tanah Hijau, yang terletak dekat khatulistiwa di sebelah utara
Australia (halam an 26). Saya m engacu kepada penduduk asli pulau itu yang beraneka-
ragam sebagai "orang-orang Papua". Sebagai akibat kecelakaan sejarah kolonial abad
http://facebook.com/indonesiapustaka

ke-19, pulau itu sekarang terbagi secara politis di antara dua negara. Bagian tim ur pulau
tersebut, beserta banyak pulau kecil di sekitarnya, m em bentuk negara m erdeka Papua
Nugini, yang awalnya merupakan koloni Jerman di timur laut dan koloni Britania di
tenggara, serta diperintah oleh Australia sam pai kem erdekaannya pada 1975. Orang-
orang Australia menyebut bekas koloni Jerman sebagai Nugini sementara bekas koloni
Britania sebagai Papua. Paroan barat pulau tersebut, tadinya bagian dari Hindia Belanda,
sejak 1969 m erupakan provinsi Indonesia (dahulu Irian J aya, kem udian diganti nam anya
m enjadi provinsi Papua dan Papua Barat). Kerja lapangan saya di Papua berlangsung
nyaris sam a lam anya di kedua belahan po litis pulau tersebut.
MENGAPA MEMPELAJARI MASYARAKAT-MASYARAKAT TRADISIONAL? ● 7

di sebagian besar tem pat lain di dunia, perubahan-perubahan itu


terjadi lebih da hulu dan secara jauh lebih bertahap daripada di Papua.
Tapi, "ber tahap" itu relatif: bahkan pada m asyarakat-m asyarakat di
m ana perubahan-perubahan itu terjadi lebih dahulu, waktu kurang
daripada 11.0 0 0 tahun hanyalah sebentar dibandingkan dengan
6.0 0 0 .0 0 0 tahun. Pada dasarnya, m asyarakat-m asyarakat m anusia
m engalam i perubahan-perubahan besar baru-baru ini saja secara cepat.

Me n gap a m e m p e lajari m as yarakat-m as yarakat


trad is io n al?
Mengapa masyarakat "tradisional" sebegitu menarik bagi kita?** Seba-
gian alasannya adalah ketertarikan m anusiawi; rasa girang m engenal
orang-orang yang sedem ikian m irip dengan kita dan m udah dipaham i
da lam beberapa segi, sekaligus sedem ikian berbeda dengan kita dan
su kar dipaham i dalam beberapa segi lain. Sewaktu saya tiba untuk
per tam a kali di Papua, pada 1964 ketika saya berusia 26 tahun, saya
terpukau oleh keeksotikan orang-orang Papua: m ereka terlihat ber-
beda dari orang-orang Am erika, berbicara dengan bahasa-bahasa yang
berbeda, berpakaian secara berbeda, dan berperilaku secara ber beda.
Namun dalam dasawarsa-dasawarsa berikutnya, selama lusinan kun-
jungan yang saya lakukan selam a satu sam pai lim a bulan setiap kali ke
banyak bagian Papua dan pulau-pulau tetangganya, rasa ke eksotikan
yang tadinya m endom inasi luntur m enjadi rasa kesam aan se iring
saya m engenali orang-orang Papua secara individual: kam i ber cakap-

** Yang saya m aksudkan dengan istilah m asyarakat "tradisional" dan "berskala kecil",
yang akan saya gunakan sepanjang buku ini, adalah m asyarakat m asa lalu m aupun m a-
sa kini yang hidup dalam kepadatan populasi rendah, berkisar dari beberapa lusin
sam pai beberapa ribu orang, bertahan hidup dengan berburu-m engum pul atau dengan
ber cocok-tanam atau m enggem bala, dan berubah secara terbatas akibat kontak dengan
m asyarakat-m asyarakat industrial yang besar dan terwesternisasi. Pada kenyataannya,
se m ua m asyarakat tradisional sem acam itu yang m asih ada sekarang telah berubah se-
tidaknya sebagian akibat kontak dengan m asyarakat industrial, dan sebagai gantinya da-
http://facebook.com/indonesiapustaka

pat dijabarkan sebagai m asyarakat "transisional" alih-alih "tradisional", nam un m ereka


se ring kali m asih m em pertahankan banyak ciri dan proses sosial m asyarakat kecil
seperti pada m asa lalu. Saya m engkontraskan m asyarakat tradisional bersakala kecil
dengan m a sya ra kat "terwesternisasi", yang saya artikan sebagai m asyarakat industrial
m odern besar yang dijalankan oleh pem erintahan negara, akrab bagi para pem baca buku
ini sebagai masyarakat di mana sebagian besar pembaca saya kini hidup. Masyarakat
dem ikian diistilahkan "ter westernisasi" karena ciri-ciri penting m asyarakat-m asyarakat
itu (m isalnya Revolusi In dus tri dan kesehatan m asyarakat) pertam a kali m uncul di Eropa
Barat pada 170 0 -an dan 180 0 -an, dan m enyebar dari situ ke banyak negara lain.
8 ● DI BANDARA

cakap untuk waktu lam a, m enertawakan candaan yang sa m a, saling


m enceritakan ketertarikan tentang anak-anak dan seks dan m akanan
dan olahraga, serta m endapati diri kam i m arah, takut, ber duka, lega,
dan bersukacita bersam a-sam a. Bahkan bahasa-bahasa m e re ka m eru-
pakan variasi tem a-tem a linguistik yang fam iliar di se luruh dunia:
walau pun bahasa Papua pertam a yang saya pelajari (Fore) tidak terkait
dengan bahasa-bahasa Indo-Eropa sehingga kosa katanya sam a sekali
tidak akrab dengan saya, bahasa Fore tetap m en kon jugasikan kata kerja
secara rum it seperti bahasa J erm an, dan m em iliki pro nom ina ganda
seperti bahasa Slovenia, pascaposisi seperti bahasa Finlandia, dan tiga
kata depan dem onstratif ("di sini", "dekat di sana", dan "jauh di sana")
seperti bahasa Latin.
Sem ua kem iripan itu m enyesatkan saya, setelah perasaan awal saya
m engenai keeksotikan Papua, sehingga saya berpikir, “Orang di m ana
saja pada dasar nya sam a.” Tidak, akhirnya saya pun m enyadari, kita
sem ua berbeda dalam banyak hal yang m endasar: banyak tem an-tem an
Papua saya m enghitung secara berbeda (dengan pem etaan visual,
bukan dengan angka abstrak), m em ilih istri atau suam i se cara berbeda,
m em perlakukan orangtua dan anak-anak se cara berbeda, m em andang
bahaya secara berbeda, dan m em iliki kon sep persahabatan yang
berbeda. Cam puran m em bingungkan antara kem iripan dan perbedaan
itu m erupakan salah satu hal yang m en ja dikan m asyarakat-m asyarakat
tradisional m enarik bagi orang luar.
Satu lagi alasan m engapa m asyarakat tradisional m enarik dan pen-
ting adalah m ereka m em pertahankan ciri-ciri cara hidup nenek m oyang
kita selam a puluhan ribu tahun, sam pai kurang lebih kem arin. Gaya hi-
dup tradisional-lah yang m em bentuk kita dan m enjadikan kita seperti
se karang. Pergeseran dari berburu-m engum pul m enjadi pertanian
baru dim ulai sekitar 11.0 0 0 tahun lalu; alat-alat logam pertam a dan
tulisan pertam a baru m uncul sekitar 5.40 0 tahun lalu. Kondisi-kondisi
"m odern" baru berkem bang, bahkan secara lokal saja, dalam secuil dari
pentangan sejarah m anusia; sem ua m asyarakat m anusia pernah m en-
http://facebook.com/indonesiapustaka

jadi tradisional jauh lebih lam a daripada m enjadi m odern. Kini, para
pem baca buku ini m enganggap wajar saja m a kanan hasil pertanian
yang dibeli di toko, bukannya m akanan dari alam yang diburu dan
dikum pulkan setiap hari, peralatan logam bukannya peralatan kayu,
batu, dan tulang, pem erintahan negara dan pengadilan hukum dan
polisi dan tentara yang terkait dengannya, serta baca-tulis. Namun
segala hal yang kelihatannya m erupakan kebutuhan dasar itu relatif
MENGAPA MEMPELAJARI MASYARAKAT-MASYARAKAT TRADISIONAL? ● 9

baru, dan m iliaran orang di seluruh dunia saat ini m asih hidup dalam
cara-cara yang sebagian tradisional.
Di dalam m asyarakat-m asyarakat industrial yang m odern pun
m asih tertanam berbagai ranah di m ana banyak m ekanism e tradisio-
nal m asih beroperasi. Di banyak daerah perdesaan Dunia Pertam a,
misalnya lembah Montana tempat saya beserta istri dan anak-anak
saya berlibur m usim panas setiap tahun, banyak persengketaan m asih
dipe cahkan m elalui m ekanism e-m ekanism e inform al tradisional, bu-
kan m elalui pengadilan. Geng-geng perkotaan di kota-kota besar ti-
dak m em anggil polisi untuk m enyelesaikan perselisihan m ereka, m e-
lain kan m engandalkan m etode-m etode tradisional berupa negosiasi,
kom pensasi, intim idasi, dan perang. Tem an-tem an saya yang berasal
dari Eropa dan tum buh besar di desa-desa kecil Eropa pada 1950 -an
m enggam barkan m asa kanak-kanak seperti yang ada di desa Pa pua
tradisional: sem ua orang di desa saling m engenal, sem ua orang ta hu
apa yang orang lain lakukan dan m engem ukakan opini m ereka m e-
nge nai hal itu, orang-orang m enikahi pasangan yang terlahir hanya
satu atau dua kilom eter jauhnya, orang-orang tinggal seum ur hidup di
dalam atau di dekat desa kecuali para pem uda yang am bil bagian da-
lam Perang Dunia, dan persengketaan dalam desa harus diselesaikan
de ngan cara yang m em ulihkan hubungan atau m enjadikannya bisa
dito leransi, sebab m ereka akan hidup dekat orang yang bersengketa
dengannya seum ur hidup. Dengan kata lain, dunia kem arin tidak
dihapus dan digantikan oleh dunia hari ini yang baru: banyak hal dari
dunia kem arin m asih bersam a kita. Itulah satu alasan lain kita ingin
m em aham i dunia kem arin.
Seperti yang akan kita lihat dalam bab-bab buku ini, m asyarakat-
m a sya rakat tradisional jauh lebih beragam dalam banyak praktik bu-
daya daripada m asyarakat-m asyarakat industrial m odern. Dalam
kisaran keanekaragam an itu, banyak norm a budaya m a syarakat ne-
gara m odern yang jauh sekali perbedaannya dengan norm a-norm a
tra disional dan terletak lebih dekat ke ekstrem -ekstrem kisaran ke-
http://facebook.com/indonesiapustaka

anekaragaman tradisional tersebut. Misalnya, dibandingkan dengan


m asyarakat industrial m odern m ana pun, sejum lah m asyarakat tra-
disional m em perlakukan orang lanjut usia secara jauh lebih ke jam ,
sem entara yang lain m enawarkan kehidupan yang jauh lebih m e m uas-
kan bagi orang lanjut usia; m asyarakat industrial m odern lebih dekat
ke ekstrem yang disebutkan terdahulu daripada yang belakangan. Tapi
para ahli psikologi m endasarkan sebagian besar generalisasi m e reka
10 ● DI BANDARA

m engenai hakikat m anusia pada penelitian-penelitian m engenai irisan


keanekaragam an m anusia kita sendiri yang sem pit dan tak tipikal. Di
antara subjek-subjek m anusia yang dipelajari dalam sam pel m akalah
dalam jurnal-jurnal psikologi top yang disurvei pada 20 0 8, 96%
berasal dari negara-negara industrial terwesternisasi (Am erika Utara,
Eropa, Australia, Selandia Baru, dan Israel), 68% khususnya berasal
dari Am e rika Serikat, dan sam pai 80 % m erupakan m ahasiswa S1
psikologi, alias tidak tipikal bahkan untuk m asyarakat bangsa m ereka
sen diri. Dengan kata lain, seperti yang dikatakan oleh para ilm uwan
sosial Joseph Henrich, Steven Heine, dan Ara Norenzayan, sebagian
be sar pem aham an kita m engenai psikologi m anusia didasarkan pada
subjek-subjek yang dapat dideskripsikan dengan singkatan WEIRD:
dari m asyarakat yang Western, educated, industrialized, rich, and
democratic—Barat, berpendidikan, terindustrialisasi, kaya, dan dem o-
kratik. Kebanyakan subjek juga tam paknya m em ang "w eird" alias
"aneh" berdasarkan standar-standar variasi budaya dunia, sebab
m ereka ter bukti sebagai pencilan luar di dalam banyak penelitian m e-
ngenai fe no m e na budaya yang m engam bil sam pel variasi dunia secara
lebih luas. Fenom ena-fenom ena yang disam pel itu m encakup persepsi
visual, keadilan, kerjasam a, hukum an, penalaran biologis, orientasi
ruang, pe nalaran analitik versus holistik, penalaran m oral, m otivasi
un tuk m e nyela ras kan diri, m em buat pilihan, dan konsep diri. Oleh
ka rena itu bila kita hendak m enggeneralisasi hakikat m anusia, kita
perlu sangat m em perluas sam pel penelitian kita dari subjek-subjek
WEIRD yang biasa (biasanya m ahasiswa S1 psikologi Am erika) hingga
m encakup ke se lu ruhan kisaran m asyarakat tradisional.
Sementara para ilmuwan sosial tentu bisa mena rik kesimpulan-ke-
sim pulan bernilai akademik dari penelitian-penelitian ter hadap masya-
rakat-masyarakat tradisional, kita semua juga mungkin bisa mem pelajari
berbagai hal yang bernilai praktis. Masyarakat tradisional pada dasarnya
merepresentasikan ribuan tahun percobaan alam ten tang ba gaimana
membangun masyarakat manusia. Masyarakat-masyarakat tradisional
http://facebook.com/indonesiapustaka

telah menghasilkan ribuan pemecahan terhadap ber bagai ma salah


manusia, pemecahan-pemecahan yang berbeda dengan yang diterapkan
oleh masyarakat-masyarakat WEIRD modern kita. Kita akan lihat bahwa
sebagian pemecahan itu—misalnya, sebagian ca ra ma syarakat tradisional
mem besarkan anak, mem per la ku kan orang lan jut usia, menjaga
kesehatan, berbicara, menghabiskan waktu senggang, dan menyelesaikan
perselisihan—mungkin akan Anda, seperti juga saya, anggap sebagai
NEGARA ● 11

superior dibandingkan praktik-praktik yang nor mal dijalankan di


Dunia Pertama. Barangkali kita bisa mem peroleh keun tungan dari
mengadopsi secara selektif sejumlah praktik tra disional itu. Sebagian di
antara kita sudah melakukannya, dengan manfaat nya ta bagi kesehatan
dan kebahagiaan. Dalam beberapa segi, kita orang modern me rupakan
penyimpangan; tubuh dan praktik-praktik kita kini menghadapi kondisi-
kondisi yang berbeda dengan sewaktu mereka ber-evolusi dulu, padahal
terhadap kondisi-kondisi yang dulu itulah mereka beradaptasi.
Namun kita juga tidak boleh melakukan ekstrem yang satu lagi, yai-
tu m erom antisasi m asa lalu dan m endam bakan m asa-m asa yang lebih
sederhana. Banyak praktik tradisional yang sudah kita buang, dan kita
bersyukur karenanya—m isalnya infantisida, m engabaikan atau m em -
bunuh orang yang lanjut usia, m enghadapi risiko kelaparan ber kala,
berisiko lebih tinggi terkena bahaya dari lingkungan atau penyakit m e-
nular, kerap kali m elihat anak sendiri m eninggal, dan terus-m enerus
hidup dalam ketakutan akan diserang. Masyarakat-masyarakat tradi-
sio nal bu kan hanya bisa m em berikan saran kepada kita m engenai
praktik-praktik kehidupan yang lebih baik, m elainkan juga m em bantu
kita m enghargai sejum lah keunggulan m asyarakat kita yang selam a ini
kita anggap wajar saja.

N e gara
Masyarakat tradisional lebih bervariasi dalam hal organisasi dibanding
m asyarakat dengan pem erintahan negara.*** Sebagai titik awal un tuk
m em bantu kita m em aham i ciri-ciri yang tidak kita akrabi di m a sya-
ra kat tradisional, m ari kita ingat-ingat lagi ciri-ciri yang kita akrabi di
negara-bangsa tem pat kita hidup sekarang.
Kebanyakan bangsa m odern m em iliki populasi ratusan ribu atau
ju taan orang, berkisar sam pai lebih dari satu m iliar di India dan Tiong-
kok, dua negara m odern berpenduduk paling banyak. Bahkan negara-
bangsa m odern berdaulat yang paling kecil, negara-negara pulau
Nauru dan Tuvalu di pasiik, berpenduduk lebih daripada 10.000 jiwa.
http://facebook.com/indonesiapustaka

(Vatikan, dengan populasi hanya 1.000 orang, juga diklasiikasikan se-


bagai negara, nam un m erupakan kekecualian karena m erupakan kan-

*** Sepanjang buku ini, saya akan m enggunakan kata "state" ("negara") bukan hanya
dengan m ak na nya yang biasa yaitu "kondisi" (m isalnya, "he was reduced to a state of
poverty "), m e lain kan juga dengan m akna politis teknisnya, yaitu m asyarakat besar
dengan pem erintahan biro kratik tersentralisasi, seperti yang dideskripsikan di bawah.
12 ● DI BANDARA

tong m ungil di dalam kota Rom a, tem pat asal sem ua kebutuhan yang
Vatikan im por.) Pada m asa lalu pun, negara-negara m em iliki populasi
yang berkisar dari puluhan ribu sam pai jutaan orang. Populasi yang
besar itu sudah cukup untuk m em beritahu kita bagaim ana ne ga-
ra m encukupi kebutuhan m akannya, bagaim ana negara harus dior-
ganisasi, dan m engapa negara sam pai ada. Sem ua negara m en cu-
kupi m a kan warganya terutam a m elalui produksi m akanan (pertanian
dan penggem balaan), bukan berburu dan m engum pulkan. Kita bisa
m em per oleh lebih banyak m akanan dengan bercocok-tanam atau
m em elihara ter nak dalam sehektar kebun, ladang, atau padang
penggem balaan yang telah kita isi dengan spesies-spesies tum buhan
dan hewan yang paling berm anfaat bagi kita, daripada berburu dan
m engum pulkan spesies hewan dan tum buhan liar apa pun (yang
sebagian besar tidak bisa dim a kan) yang kebetulan hidup dalam se-
hektar hutan. Oleh karena alas an itu saja, tidak ada m asyarakat pem -
buru-pengum pul yang per nah m am pu m em enuhi kebutuhan m akan
populasi yang cukup pa dat untuk m endukung pem erintahan negara.
Di negara m ana pun, ha nya sekian persen populasi—sam pai serendah
2% di m asyarakat-m a sya rakat m odern dengan pertanian yang sangat
term ekanisasi—yang m enum buhkan pangan. Anggota-anggota lain
populasi sibuk m e la ku kan berbagai hal lain (m isalnya m em erintah atau
m em produksi barang atau berdagang), tidak m enum buhkan pangan
sendiri, dan sebagai gan tinya bertahan hidup dari kelebihan pangan
yang dihasilkan oleh para petani.
Populasi besar negara juga m em astikan bahwa sebagian besar
orang dalam suatu negara tak saling kenal. Mustahil bagi warga ne-
gara Tuvalu yang kecil sekalipun untuk m engenal ke-10 .0 0 0 rekan s e-
ne gara nya, dan bagi ke-1,4 m iliar warga negara Tiongkok tantangan itu
bahkan le bih m ustahil lagi. Oleh karena itu negara m em erlukan polisi,
hukum , dan kode m oralitas untuk m em astikan bahwa perjum paan
terus-m e ne rus yang tak terhindarkan antara orang-orang asing tidak
secara rutin berubah m enjadi perkelahian. Kebutuhan akan polisi dan
http://facebook.com/indonesiapustaka

hukum dan perintah m oral untuk berlaku ram ah terhadap orang asing
itu tidak hadir dalam m asyarakat kecil, di m ana sem ua orang saling
m engenal.
Terakhir, begitu suatu m asyarakat m elebihi 10 .0 0 0 orang, m us ta-
hil m encapai, m elaksanakan, dan m engelola keputusan dengan m e-
ngum pulkan sem ua warga untuk berdiskusi tatap m uka, di m ana se tiap
orang m enyam paikan pikirannya m asing-m asing. Populasi besar tidak
NEGARA ● 13

bisa berfungsi tanpa para pem im pin yang m engam bil keputusan, ekse-
ku tif yang m elaksanakan keputusan, serta birokrasi yang m engelola
keputusan dan hukum. Malang bagi Anda yang berpaham anarkis dan
berm im pi hidup tanpa pem erintahan negara, itulah alasan-alasan
m engapa m im pi Anda tidak realistik: Anda harus m encari kum pulan
atau suku kecil yang bersedia m enerim a Anda, di m ana tidak ada
seorang pun yang asing, dan di m ana raja, presiden, m aupun birokrat
tidak dibutuhkan.
Akan kita lihat sebentar lagi bahwa sejum lah m asyarakat tra-
disional m e m iliki populasi yang cukup besar untuk m em butuhkan
birokrat serbaguna. Tapi negara-negara m em iliki populasi yang lebih
be sar lagi dan m em butuhkan birokrat-birokrat terspesialisasi dan
terdiferensiasi secara vertikal m aupun horisontal. Bagi kita, warga ne-
gara, para birokrat itu m engesalkan: lagi-lagi sayangnya, m ereka di-
butuhkan. Negara memiliki sedemikian banyak hukum dan warga
negara se hingga satu tipe birokrat saja tidak dapat m elaksanakan
sem ua hu kum sang raja: harus ada penarik pajak tersendiri, juga
pem eriksa kendaraan berm otor, polisi, hakim , pem eriksa kebersihan
restoran, dan lain sebagainya. Dalam satu lem baga negara yang
m engandung hanya satu jenis birokrat sem acam itu pun, kita terbiasa
dengan fakta bahwa ada banyak pejabat dalam tiap jenis, tersusun
dalam hierarki dengan tingkat berbeda-beda: lem baga pajak m em iliki
petugas pajak yang secara langsung m engaudit laporan pajak Anda,
dan bekerja di bawah penyelia, orang yang Anda protes bila Anda
tidak setuju dengan laporan sang agen, dan si penyelia sendiri bekerja
di bawah m anajer kantor, yang bekerja di bawah m anajer distrik atau
negara bagian, yang bekerja di bawah kom isioner pendapatan dalam
negeri bagi seluruh Am erika Serikat. (Pada kenyataannya hierarki
itu bahkan lebih rum it lagi: saya tidak sertakan beberapa tingkatan
lain demi mempersingkatnya.) Novel Franz Kafka, Das Schloss (Puri),
menjabarkan birokrasi khayalan semacam itu, yang terilhami oleh
birokrasi sungguhan di Kekaisaran Habsburg, tempat Kafka menjadi
http://facebook.com/indonesiapustaka

warga negara. Bila saya baca sebelum tidur, tulisan Kafka mengenai
perasaan frustrasi yang dihadapi protagonisnya kala ber urusan dengan
birokrasi puri khayalan itu dijamin membuat saya ber mimpi buruk,
namun Anda pembaca sekalian pasti punya mimpi buruk dan perasaan
frustrasi Anda sendiri, buah dari berurusan dengan birokrasi betulan.
Itulah harga yang kita bayar untuk hidup di bawah pemerintahan
14 ● DI BANDARA

negara: tak pernah ada pendamba utopia yang pernah menemukan cara
menjalankan bangsa tanpa setidaknya sejumlah birokrat.
Satu lagi ciri yang terlalu kita akrabi dari negara adalah bahwa,
bah kan di negara-negara dem okrasi Skandinavia yang paling egaliter,
warga negara tidaklah setara secara politis, ekonom is, m aupun sosial.
Tak pelak, negara m ana pun pastilah m em iliki segelintir pem im pin
politik yang m em berikan perintah dan m em buat hukum , serta banyak
orang biasa yang m em atuhi perintah dan hukum tersebut. Warga ne-
gara m em iliki peran ekonom i berbeda-beda (sebagai petani, pesuruh,
pengacara, politikus, penjaga toko, dsb) dan sejum lah peran tersebut
digaji lebih tinggi daripada peran yang lain. Sejum lah warga negara m e-
nikm ati status sosial yang lebih tinggi daripada warga negara lainnya.
Se m ua upaya idealistik untuk m em inim alisasi ketidaksetaraan di dalam
negara—misalnya perumusan gambaran ideal komunis oleh Karl Marx,
“Dari m asing-m asing sesuai kem am puannya, bagi m asing-m asing se-
suai kebutuhannya”—telah gagal.
Negara tidak bisa ada sebelum ada produksi makanan (baru di-
mulai sekitar 9000 SM), dan negara belum juga ada sebelum pro-
duksi m akanan telah beroperasi selam a beberapa ribu tahun se-
hingga terbentuklah populasi yang besar, padat, dan m em butuhkan
pemerintahan negara. Negara pertama muncul di Bulan Sabit Subur
pada sekitar 3400 SM, dan negara-negara lain lantas bermunculan
di Tiongkok, Meksiko, Andes, Madagaskar, dan daerah-daerah lain
selam a beberapa ribu tahun berikutnya, sam pai hari ini peta dunia
m enunjukkan kese lu ruh an daratan di planet ini kecuali Antartika
terbagi-bagi m enjadi ber bagai negara. Bahkan di Antartika pun terjadi
klaim teritorial yang ber tum pang-tindih sebagian oleh tujuh negara.

Tip e -tip e m as yarakat trad is io n al


Dengan demikian, sebelum 3400 SM tidak ada negara di mana pun,
dan kini masih ada daerah-daerah luas yang tidak terkontrol oleh
negara, beroperasi di bawah sistem-sistem politik tradisional yang
http://facebook.com/indonesiapustaka

lebih sederhana. Perbedaan-perbedaan antara masyarakat-ma sya rakat


tradisional itu dan masyarakat-masyarakat negara yang kita akrabi ada-
lah pokok bahasan buku ini. Bagaimana seharusnya kita menggo long-
kan dan membicarakan keanekaragaman masyarakat tradisional itu
sendiri?
Meskipun setiap masyarakat manusia bersifat unik, tetap ada pola-
pola lintas budaya yang m em ungkinkan sejum lah generalisasi. Ter-
TIPE-TIPE MASYARAKAT TRADISIONAL ● 15

uta m a, ada kecenderungan korelasi antara setidaknya em pat aspek


m asyarakat: ukuran populasi, cara m em peroleh m akanan, sentrali-
sasi politik, dan stratiikasi sosial. Seiring peningkatan ukuran dan ke-
padatan populasi, pem erolehan m akanan dan segala keperluan lain
cenderung terintensiikasi. Dengan kata lain, ada lebih banyak makan-
an yang diperoleh per hektar oleh petani subsistensi yang hidup di
desa-desa dibanding oleh kelom pok-kelom pok nom aden kecil yang
ter diri atas pem buru-pengum pul, dan m akin banyak lagi yang di-
per oleh per hektar di petak-petak beririgasi intensif yang dita nam i
oleh m asyakat berpopulasi padat dan di pertanian-pertanian ter-
m ekanisasi di negara-negara m odern. Pengam bilan keputusan politis
m enjadi sem akin tersentralisasi, dari diskusi kelom pok tatap m u ka
pada kelom pok-kelom pok pem buru-pengum pul kecil m enjadi hierarki
politis dan pengam bilan keputusan oleh pem im pin di negara-ne gara
modern. Stratiikasi sosial meningkat, dari egalitarianisme relatif pada
kelom pok-kelom pok pem buru-pengum pul kecil m enjadi ketidak se ta ra-
an antara orang-orang dalam m asyarakat besar yang ter sen tralisasi.
Korelasi antara berbagai aspek suatu m asyarakat itu tidaklah
kaku: sejum lah m asyarakat berukuran tertentu m em iliki cara m em -
peroleh makanan yang semakin terintensiikasi, atau lebih banyak
sentralisasi politik, atau lebih banyak stratiikasi sosial, daripada
masyarakat-masyarakat lain. Namun kita membutuhkan sebutan
prak tis untuk m engacu kepada beragam tipe m asyarakat yang m un-
cul dari kecenderungan-kecenderungan luas itu, seraya m engakui ke-
aneka ragam an di dalam kecenderungan-kecenderungan tersebut.
Masalah praktis kita mirip dengan masalah yang dihadapi para ahli
psikologi tum buh kem bang yang m em bahas perbedaan di antara
individu manusia. Meskipun setiap manusia bersifat unik, tetap
ada kecenderungan-kecenderungan luas yang terkait usia, m isalnya
bahwa orang berusia 3 tahun secara rata-rata berbeda dalam banyak
segi yang berkorelasi dari orang yang berusia 24 tahun. Namun usia
m em bentuk kesinam bungan tanpa batas-ba tas yang tegas: tidak ada
http://facebook.com/indonesiapustaka

transisi m endadak dari m enjadi "seperti orang berusia 3 tahun" ke


m enjadi "seperti orang berusia 6 tahun". Dan ada per bedaan di antara
orang-orang yang berusia sama. Meskipun menghadapi kerumitan-
kerum itan itu, para ahli psikologi tum buh kem bang m asih m enganggap
ada gunanya m enggunakan kategori-kategori ber se but an praktis seperti
"bayi", "balita", "anak", "rem aja", "dewasa m uda", dan lain se bagainya,
seraya m engakui ketidaksem purnaan kategori-kategori itu.
16 ● DI BANDARA

Para ilm uwan sosial juga beranggapan bahwa ada gunanya


m enggunakan kategori-kategori yang ketidaksem purnaannya m ereka
pahami. Mereka menghadapi kerumitan tambahan bahwa perubahan-
per ubahan di antara m asyarakat bisa berbalik ke kondisi terdahulu,
sem entara perubahan-perubahan pada kelom pok usia tidak bisa.
Desa tani m ungkin kem bali m enjadi kawanan pem buru-pengum pul
kecil bila terjadi kekeringan, sem entara orang berusia 4 tahun tidak
akan pernah kembali menjadi orang berusia 3 tahun. Meskipun se-
bagian besar ahli psikologi tum buh-kem bang setuju m engakui dan
m enam ai kategori-ka tegori terluas berupa bayi/ anak/ rem aja/ dewasa,
para ilm uwan sosial m enggunakan berbagai perangkat berbeda dari
kategori-kategori ber sebutan praktis untuk m enjabarkan variasi di
antara m asyarakat-m a syarakat tradisional, dan sebagian ilm uwan
m en jadi tidak senang m enggu na kan kategori sam a sekali. Dalam buku
ini saya akan terkadang m enggunakan pem bagian m asyarakat m a-
nusia m enurut Elm an Service m enjadi em pat kategori berdasarkan
peningkatan ukuran populasi, sentralisasi politik, dan stratiikasi sosial:
kawanan (band), suku (tribe), kedatuan (chiefdom), dan negara (state).
Meskipun istilah-istilah itu telah berusia 50 tahun dan istilah-istilah lain
telah diajukan sesudahnya, istilah-istilah Service me miliki keunggulan
yaitu kesederhanaan: cukup empat istilah untuk diingat, bukan tujuh
istilah; dan kata-kata tunggal, bukan frase panjang. Namun tolong ingat
bahwa istilah-istilah tersebut hanyalah se butan praktis yang berguna
untuk m em bahas keanekaragam an luar biasa m asyarakat m anusia,
tanpa perlu m engulang-ulangi ketidak sem pur naan dalam istilah-istilah
praktis dan variasi-variasi penting dalam setiap kategori setiap kali
istilah-istilah itu digunakan dalam naskah buku ini.
J enis m asyarakat paling kecil dan sederhana (diistilahkan Service
sebagai kawanan) terdiri atas beberapa lusin individu saja, banyak di
an ta ranya yang m erupakan anggota satu atau beberapa keluarga besar
(yaitu suam i-istri dewasa, anak-anak m ereka, dan sejum lah orangtua,
sau dara kandung, dan sepupu m ereka). Sebagian besar pem buru-
http://facebook.com/indonesiapustaka

pengum pul nom aden, dan sejum lah petani kebun, secara tradisional
hidup dengan kepadatan populasi rendah dalam kelom pok-kelom pok
ke cil sem acam itu. Anggota-anggota kawanan cukup sedikit jum lahnya
se hingga setiap orang saling m engenal dengan baik, keputusan
kelom pok dapat tercapai m elalui diskusi tatap m uka, dan tidak ada
kepem im pinan politik form al ataupun spesialisasi ekonom i yang
tegas. Seorang ilm uwan sosial akan m endeskripsikan kawanan sebagai
TIPE-TIPE MASYARAKAT TRADISIONAL ● 17

relatif egalitarian dan dem okratik: anggota-anggota kawanan tidak


m em iliki perbedaan besar dalam hal "kekayaan" (toh hanya ada sedikit
harta pribadi) dan ke kuatan politik, kecuali sebagai akibat perbedaan
individual da lam hal ke m am puan atau kepribadian, dan perbedaan-
perbedaan itu diper halus oleh pem bagian sum ber daya secara ekstensif
di antara anggota-anggota kawanan.
Sejauh yang bisa kita nilai dari bukti arkeologis m engenai orga-
nisasi m a syarakat m asa silam , barangkali seluruh m anusia hidup da-
lam ka wan an-kawanan sem acam itu sam pai setidaknya beberapa
puluh ribu tahun lalu, dan sebagian besar bahkan m asih hidup seperti
itu 11.0 0 0 ta hun lalu. Ketika orang-orang Eropa m ulai m enyebar ke
seluruh du nia, ter utam a setelah pelayaran pertam a Kolom bus pada
1492 M, dan menjumpai orang-orang non-Eropa yang hidup dalam
m asyarakat-m a sya ra kat bukan-negara, kawanan-kawanan m asih
m enghuni sem ua atau se bagian besar Australia dan Artik, plus ling-
kungan gurun dan hutan ber pro duktivitas-rendah di Am erika dan
Afrika sub-Sahara. Masyarakat kawanan yang akan sering dibahas
dalam buku ini m encakup !Kung dari Gurun Kalahari Afrika, Indian
Ache dan Siriono dari Am erika Se lat an, penduduk Kepulauan Andam an
di Teluk Benggala, Pigm i dari hutan-hutan khatulistiwa Afrika, dan
Indian pekebun Machiguenga dari Peru. Semua contoh yang disebut-
kan dalam kalimat sebelumnya, kecuali Indian Machiguenga, pernah
atau m asih m erupakan pem buru-pengum pul.
Kawanan beralih m enjadi tipe m asyarakat berikutnya yang lebih
besar dan lebih rum it (diistilahkan sebagai suku oleh Service), yang
terdiri atas satu kelom pok lokal beranggotakan ratusan individu. J um -
lah itu m asih dalam batas ukuran kelom pok di m ana setiap orang bisa
m engenali orang lain secara pribadi dan tidak ada yang nam anya orang
asing. Misalnya, di SMA saya yang memiliki 200 murid, semua mu-
rid dan guru kenal nama satu sama lain, namun itu mustahil di SMA
istri saya yang memiliki ribuan murid. Masyarakat yang terdiri atas
ratusan orang berarti lusinan keluarga, kerap kali terbagi-bagi m en-
http://facebook.com/indonesiapustaka

jadi kelom pok-kelom pok sedarah yang disebut klan, yang m ungkin
bertukar pasangan nikah dengan klan lain. Populasi suku yang le bih
tinggi daripada populasi kawanan karenanya m em butuhkan lebih ba-
nyak m akanan untuk m enyokong lebih banyak orang di area yang
kecil, m aka suku biasanya m erupakan petani atau penggem bala atau-
pun keduanya sekaligus, nam un segelintir di antaranya m erupakan
pem buru-pengum pul di lingkungan yang am at produktif (m isalnya
18 ● DI BANDARA

orang-orang Ainu di Jepang dan Indian Pasiik Barat Laut di Amerika


Utara). Suku cenderung m enetap, dan m enghabiskan sebagian be sar
ataupun seluruh waktu dalam setahun di desa-desa yang terletak de-
kat kebun, ladang penggem balaan, atau tem pat penangkapan ikan.
Tapi suku penggem bala di Asia Tengah dan beberapa suku lain m em -
praktikkan transhum ans (transhumance)—yaitu m em indahkan ternak
secara m u sim an ke tem pat berketinggian berbeda-beda guna m engikuti
per tum buh an rum put di tem pat yang lebih tinggi seiring perubahan
m usim .
Dalam segi-segi lain, suku m asih m enyerupai kawanan besar—
m isalnya, dari segi egalitarianism e relatif, spesialisasi ekonom i yang
tidak tegas, kurangnya kepem im pinan politik, tidak adanya biro-
krat, dan pengam bilan keputusan secara tatap m uka. Saya pernah
m enyaksikan m u sya warah di desa-desa Papua di m ana ratusan orang
duduk di ta nah, m engungkapkan pendapat m ereka, dan m encapai
kesim pulan. Se jum lah suku m em iliki "orang besar" yang berfungsi
sebagai pem im pin le m ah, nam un dia hanya m em im pin dengan ke-
m am puan m em bujuk dan kepribadian, bukan kewenangan yang diakui.
Sebagai contoh batas kekuatan "orang besar", akan kita lihat di Bab
3 bagaim ana orang-orang yang tam paknya m erupakan pengikut se-
orang pe m im pin bernam a Gutelu dalam suku Dani di Papua berhasil
m enggagalkan keinginan Gutelu dan m eluncurkan serangan genosida
yang m e m e cah alian si politik Gutelu. Bukti arkeologis organisasi suku,
m isalnya sisa-sisa struk tur hunian dan perm ukim an yang cukup besar,
m e nun juk kan bah wa tam paknya suku-suku m uncul di beberapa daerah
pada se tidak nya 13.0 0 0 tahun silam . Kini, suku-suku m asih ter sebar
luas di berbagai bagian Papua dan Amazonia. Masyarakat-masyarakat
ke su ku an yang akan saya bahas dalam buku ini m encakup Iñupiat dari
Alaska, Indian Yanom am o dari Am erika Selatan, Kirghiz dari Afganis-
tan, Kaulong dari Britania Baru, serta Dani, Daribi, dan Fore dari
Papua.
Suku-suku kem udian berkem bang m enjadi tahapan berikutnya da-
http://facebook.com/indonesiapustaka

lam kerum itan organisasi, disebut kedatuan, yang terdiri atas ribuan
orang. Populasi sebesar itu, dan spesialisasi ekonom i yang m u lai m un-
cul dalam kedatuan, m em butuhkan produktivitas m a kan an yang
tinggi dan kem am puan m enghasilkan serta m enyim pan ke le bih an
pangan untuk m em beri m akan para spesialis yang tidak m enghasilkan
pangan, m isalnya para datu beserta kerabat m ereka dan para biro krat.
Oleh karena itu, kedatuan telah m em bangun desa-de sa dan dusun-
TIPE-TIPE MASYARAKAT TRADISIONAL ● 19

dusun m enetap dengan fasilitas penyim panan dan se ba gian besar


telah m erupakan m asyarakat penghasil pangan (bertani dan m eng-
gem bala), terkecuali di daerah-daerah paling produktif yang ter sedia
bagi pem buru-pengum pul, sem isal kedatuan Calusa di Florida dan
kedatuan-kedatuan Chum ash di pesisir California Selatan.
Dalam m asyarakat yang terdiri atas ribuan orang, m ustahil
bagi setiap orang untuk m engenali setiap orang lain ataupun m e-
nyelenggarakan diskusi tatap m uka yang m enyertakan sem ua orang.
Se bagai akibatnya, kedatuan m enghadapi dua m asalah baru yang tidak
dikenal oleh kawanan atau suku. Pertam a-tam a, orang-orang yang ti-
dak saling m engenal dalam kedatuan harus bisa berjum pa satu sam a
lain, m enyadari satu sam a lain sebagai sesam a anggota kedatuan yang
sam a m eskipun tidak saling kenal secara pribadi, dan m enghindari per-
gesekan ketika ada pelanggaran wilayah serta perkelahian. Oleh ka-
rena itu kedatuan m engem bangkan ideologi dan identitas politik dan
religius bersam a yang kerap kali bersum ber dari status sang datu yang
konon titisan dewa atau ditunjuk tuhan. Kedua, kini ada pem im pin
yang diakui, sang datu, yang m engam bil keputusan, m em iliki ke-
we nangan yang diakui, m engklaim m onopoli hak m enggunakan ke -
ke rasan terhadap anggota m asyarakatnya bila perlu, sehingga m e-
m as tikan bahwa orang-orang yang tak saling m engenal dalam ke-
datuan yang sam a tidak saling bertarung. Sang datu dibantu oleh pe-
jabat-pejabat serbaguna yang tidak terspesialisasi (proto-birokrat),
yang m engum pulkan upeti dan m endam aikan perselisihan serta m e-
laksanakan tugas-tugas adm inis tratif lainnya; belum ada penarik pajak,
hakim , dan pem e rik sa restoran ter sendiri seperti yang ada dalam
negara. (Sum ber kebingungan di sini adalah bahwa sejum lah m asya-
rakat tradisional yang m em iliki datu dan dijabarkan secara benar
sebagai kedatuan dalam kepustakaan ilm iah dan dalam buku ini, tetap
saja disebut sebagai "suku" dalam sebagian besar tulisan populer:
m isalnya, "suku-suku" Indian di Am erika Utara bagian tim ur, yang
sebenarnya terdiri atas kedatuan-kedatuan.)
http://facebook.com/indonesiapustaka

Salah satu inovasi kedatuan di bidang ekonom i diistilahkan sebagai


eko nom i redistributif: bukannya sekadar pertukaran langsung antar-
individu, datu m engum pulkan upeti berupa m akanan dan kerja rodi,
yang se ba gian besar di antaranya diredistribusikan ke para pejuang,
pendeta, dan pengrajin yang m elayani sang datu. Oleh karena itu
redistribusi m eru pa kan bentuk paling awal pajak untuk m enyokong
institusi-institusi baru. Datu m em iliki tanggung jawab m oral kala
20 ● DI BANDARA

terjadi kelaparan untuk m enyokong rakyat jelata yang bekerja bagi


sang datu dalam aktivitas-aktivitas seperti m em bangun m onum en dan
sistem irigasi, dan ke pada rakyat pula datu m engem balikan sebagian
upeti m akanan. Selain inovasi-inovasi politik dan ekonom i yang
m elam paui praktik-praktik kawanan dan suku, kedatuan m erintis
inovasi sosial berupa ketidaksetaraan yang terlem bagakan. Sem entara
sejum lah suku telah m e m iliki garis keturunan yang terpisah-pisah,
garis keturunan dalam kedatuan disusun secara hierarkis, dengan
datu dan keluarganya di puncak, rakyat jelata atau budak di dasar, dan
(seperti di Hawaii, Polinesia) sam pai delapan tingkat kasta di antara
keduanya. Bagi anggota-anggota garis keturunan atau kasta tingkat
lebih tinggi, upeti yang dikum pulkan oleh datu m endanai gaya hidup
yang lebih ba gus dari segi pangan, kediam an, dan pakaian serta hiasan
khusus.
Oleh karena itu, kedatuan zam an dulu dapat dikenali secara arkeo-
logis (terkadang) m elalui bangunan m onum ental, dan m elalui bukti-
bukti sem isal persebaran tidak m erata bekal kubur di pem akam an: se-
jum lah jenazah (datu beserta kerabatnya dan para birokrat) dikubur -
kan dalam m akam -m akam besar yang sarat benda m ewah se per ti pirus
dan kurban kuda, kontras dengan m akam -m akam kecil tak ber hiasan
tem pat rakyat jelata dikuburkan. Berdasarkan bukti se m a cam itu, ahli
arkeologi m enyim pulkan bahwa kedatuan m ulai m uncul secara lokal
pada sekitar 5500 SM. Pada zaman modern, tepat sebelum penerapan
kekuasaan pem erintahan negara yang nyaris m erata di seluruh dunia,
ke da tuan m asih tersebar luas di Polinesia, banyak bagian Afrika sub-
Sa hara, dan daerah-daerah yang lebih produktif di Am erika Utara se-
belah tim ur dan barat daya, Am erika Tengah, dan Am erika Selatan di
luar daerah-daerah yang dikontrol negara-negara Meksiko dan Andes.
Ke datuan yang akan dibahas dalam buku ini m encakup Penduduk
Pulau Mailu dan Penduduk Kepulauan Trobriand di wilayah Papua,
serta In dian Calusa dan Chum ash di Am erika Utara. Dari kedatuan,
negara bermunculan (sejak sekitar 3400 SM) melalui penaklukan
http://facebook.com/indonesiapustaka

atau pengga bungan di bawah tekanan, m enghasilkan populasi yang


lebih besar, po pulasi yang kerap kali beraneka ragam dalam segi etnis,
lingkup dan la pis an birokrat yang terspesialisasi, tentara perm anen,
spesialisasi eko nom i yang jauh lebih besar, urbanisasi, dan perubahan-
perubahan lain, se hingga m enghasilkan tipe-tipe m asyarakat yang
m eram aikan dunia m odern.
TIPE-TIPE MASYARAKAT TRADISIONAL ● 21

Dengan dem ikian, bila ilm uwan sosial yang punya m e sin waktu
bisa mengamati dunia kapan pun sebelum sekitar 9000 SM, mereka
akan m endapati sem ua orang di sem ua tem pat bertahan hidup se-
bagai pem buru-pengum pul, hidup dalam kawanan dan barangkali
sebagian sudah ada yang hidup sebagai suku, tanpa peralatan logam ,
tulisan, pem erintahan tersentralisasi, ataupun spesialisasi ekonom i.
Bila para ilm uwan sosial itu bisa m undur ke periode 140 0 -an, ketika
eks pansi orang-orang Eropa ke benua-benua lain baru saja dim ulai,
m ereka akan m endapati Australia sebagai satu-satunya benua yang m a-
sih sepenuhnya dihuni oleh pem buru-pengum pul, yang sebagian besar
m asih hidup dalam kawanan dan barangkali sebagai beberapa suku.
Sem entara itu, negara sudah hadir di sebagian besar Erasia, Afrika
utara, pulau-pulau terbesar di Indonesia barat, sebagian besar Andes,
dan beberapa bagian Meksiko dan Afrika Barat. Tapi masih ada ba-
nyak kawanan, suku, dan kedatuan di Am erika Selatan di luar Andes, di
seluruh Amerika Utara, Papua, Artika, dan pulau-pulau di Pasiik. Kini,
seluruh dunia terkecuali Antartika terbagi-bagi setidaknya secara no-
m inal m enjadi berbagai negara, walaupun pem erintahan negara tetap
tidak efektif di beberapa bagian dunia. Wilayah-wilayah dengan m a-
sya rakat di luar kontrol efektif negara dalam jum lah terbanyak sam pai
abad ke-20 adalah Papua dan Am azon.
Kesinam bungan dalam peningkatan ukuran populasi, organisasi
politik, dan intensitas produksi m akanan yang m em bentang dari
kawanan sam pai negara disejajari oleh kecenderungan-kecenderungan
lain seperti pem akaian peralatan logam , kecanggihan teknologi,
spesialisasi ekonom i dan ketidaksetaraan individu, serta tulisan, plus
perubahan dalam pepe rangan dan agam a yang akan saya bahas dalam
Bab 3 dan 4 serta dalam Bab 9. (Ingatlah lagi: perkem bangan dari
kawanan sam pai negara tidak lah terjadi di sem ua tem pat, ataupun
tidak dapat balik, tidak juga linier.) Kecenderungan-kecenderungan
itu, terutam a populasi besar dan sentralisasi politik serta teknologi
dan persenjataan yang lebih baik m ilik negara dibandingkan dengan
http://facebook.com/indonesiapustaka

m asyarakat-m asyarakat yang lebih se derhana, adalah yang telah


m em ungkinkan negara m enaklukkan tipe-tipe m asyarakat tradisional
itu dan m enundukkan, m em perbudak, m enggabungkan, m engusir,
atau pun m em usnahkan para penghuni daerah-daerah yang dicaplok
oleh negara. Itu m enyebabkan kawanan-kawanan dan suku-suku
zam an m odern terbatas di daerah-daerah yang tidak m enarik atau sulit
dijangkau warga negara yang m e netap (m isalnya Gurun Kalahari yang
22 ● DI BANDARA

dihuni oleh !Kung, hutan-hutan khatulistiwa di Afrika yang dihuni oleh


Pigm i, daerah-daerah terpencil di Cekungan Am azon yang disisakan
bagi Penduduk Asli Am erika, dan Papua yang disisakan bagi orang-
orang Papua.
Mengapa, pada 1492 ketika Kolombus melaksanakan pelayaran
lintas-Atlantik pertam anya, m anusia hidup dalam tipe-tipe m a sya rakat
berbeda di bagian-bagian dunia yang berbeda? Ketika itu, sebagian
m asyarakat (terutam a orang-orang Erasia) sudah hidup di bawah
pem erintahan negara dengan tulisan, peralatan logam , agrikultur in-
tensif, dan tentara perm anen. Banyak m asyarakat lain yang waktu
itu belum m em iliki bagian-bagian peradaban itu, dan orang-orang
Aborigin Australia serta !Kung dan Pigm i Afrika kala itu m asih m em -
per tahankan banyak cara hidup yang dijalani m asyarakat di seluruh
dunia sampai 9000 SM. Bagaimana kita bisa menjelaskan perbedaan-
perbedaan geograik yang mencolok semacam itu?
Kepercayaan yang dahulu m endom inasi, dan m asih dipegang
oleh banyak orang saat ini, adalah bahwa perbedaan antar wilayah itu
m encerm inkan perbedaan bawaan dalam hal kecer das an, kem ajuan
biologis, dan etos kerja m anusia penghuni berbagai wilayah. Konon,
m enurut ke per cayaan itu, orang-orang Eropa lebih cerdas, lebih m aju
secara biologis, dan bekerja keras, sem entara orang-orang Aborigin
Australia dan Papua serta kawanan dan suku m odern lainnya kalah
cerdas, lebih prim itif, dan kalah am bisius. Tapi, tidak ada bukti yang
m en dukung perbedaan-perbedaan biologis yang diduga itu, ter ke-
cuali penalaran m elingkar bahwa kawanan dan suku m odern m e-
m ang m eneruskan penggunaan teknologi, organisasi politik, dan cara
subsistensi yang lebih prim itif dan karenanya diasum sikan sebagai le-
bih prim itif secara biologis.
J ustru penjelasan bagi perbedaan-perbedaan di antara berbagai
tipe m a syarakat yang hadir bersam a-sam a di dunia m odern bergantung
ke pada perbedaan-perbedaan lingkungan. Peningkatan sentralisasi
politik dan stratiikasi sosial didorong oleh peningkatan kepadatan
http://facebook.com/indonesiapustaka

populasi m a nusia, yang sendirinya didorong oleh kem unculan dan


intensiikasi produksi pangan (agrikultur dan penggembalaan). Namun
secara m enge jut kan, hanya segelintir spesies tum buhan dan hewan
liar yang ter sedia bagi dom estikasi untuk m enjadi tanam an pangan
dan hewan ter nak. Segelintir spesies liar itu terkonsentrasi di sekitar
selusin daerah kecil di dunia, yang m asyarakat m anusianya karenanya
m enikm ati start ter lebih dahulu yang m enguntungkan m ereka dalam
PENDEKATAN, PENYEBAB, DAN SUMBER ● 23

pengem bangan pro duksi pangan, surplus pangan, populasi yang


berkem bang, tek no logi m aju, dan pem erintahan negara. Seperti yang
saya bahas secara terperinci dalam buku saya yang lebih dahulu, Bedil,
Kuman, dan Baja, perbedaan-perbedaan itu m enjelaskan m engapa
orang-orang Eropa, yang hidup di dekat wilayah dunia (Bulan Sabit
Subur) dengan spesies-spesies tum buhan dan hewan liar paling
berharga yang bisa didom estikasi, akhirnya m enyebar ke seluruh
dunia, sem entara orang-orang !Kung dan Aborigin Australia tidak.
Dem i tujuan buku ini, hal itu berarti bahwa orang-orang yang sekarang
ataupun sam pai belum lam a ini m asih hidup dalam m asyarakat-m a-
syarakat tradisional ada lah orang-orang yang m odern secara biologis,
yang kebetulan saja m enghuni daerah-daerah dengan sedikit spesies
tum buhan dan hewan liar yang bisa didom estikasi, dan yang gaya
hidupnya dari segi lain relevan ba gi para pem baca buku ini.

Pe n d e katan , p e n ye bab, d an s u m be r
Dalam bagian sebelum nya, kita m em bahas perbedaan-perbedaan
di an tara m asyarakat-m asyarakat tradisional yang kita bisa kaitkan
secara sis tem atik dengan perbedaan dalam hal ukuran populasi dan
kepadatan populasi, cara m em peroleh m akanan, dan lingkungan.
Meskipun kecenderungan-kecenderungan umum yang kita bahas
m em ang ada, keliru kiranya bila kita bayangkan bahwa segala sesuatu
m engenai suatu m asya rakat dapat diprediksi dari kondisi-kondisi
m aterial. Sebagai contoh, coba pikirkan tentang perbedaan-perbedaan
budaya dan politik antara orang-orang Prancis dan J erm an, yang tidak
terkait secara jelas de ngan perbedaan-perbedaan antara lingkungan
Prancis dan J erm an, yang ba gaim anapun juga terhitung sedikit
m enurut standar variasi lingkungan di seluruh dunia.
Cendekiawan m engam bil berbagai pendekatan berbeda untuk m e-
m a ham i perbedaan di antara m asyarakat. Setiap pendekatan berguna
untuk m em aham i sejum lah perbedaan di antara sejum lah m asyarakat,
nam un tidak sesuai untuk m em aham i fenom ena-fenom ena lain. Salah
http://facebook.com/indonesiapustaka

satunya adalah pendekatan evolusioner yang dibahas dan digam barkan


dalam bagian sebelum nya: m engenali ciri-ciri luas yang berbeda antara
m a syarakat dengan ukuran populasi dan kepadatan populasi berbeda-
beda, nam un sam a-sam a dim iliki oleh m asyarakat-m asyarakat dengan
ukur an dan kepadatan populasi yang serupa; dan m enyim pulkan, serta
ter kadang m engam ati secara langsung, perubahan-perubahan da lam
suatu m asyarakat seiring dia bertam bah besar atau kecil. Terkait de -
24 ● DI BANDARA

ngan pendekatan evolusioner itu adalah apa yang diistilahkan se bagai


pen dekatan adaptasionis: gagasan bahwa sejum lah ciri suatu m a-
sya ra kat bersifat adaptif, dan m em ungkinkan m asyarakat berfungsi
secara lebih efektif dalam kondisi-kondisi material, lingkungan isik
dan so sial, serta ukuran dan kepadatannya. Contoh-contohnya m en-
cakup ke bu tuh an sem ua m asyarakat yang terdiri atas lebih daripada
beberapa ribu orang untuk m em iliki pem im pin, dan potensi m asya-
rakat-m asyarakat yang besar itu untuk m enghasilkan surplus pangan
yang dibutuhkan guna m e nyokong para pem im pin. Pendekatan itu
m endorong kita m eru m us kan generalisasi, dan m engartikan per-
ubahan-perubahan m asyarakat seiring waktu dari segi kondisi dan
lingkungan tem pat m asyarakat hidup.
Pendekatan kedua, yang berada di kutub berlawanan dari pen-
dekat an pertam a, m em andang setiap m asyarakat sebagai unik karena
se ja rah nya m asing-m asing, dan m enganggap kepercayaan dan praktik
bu daya bergantung sebagian besar kepada variabel-variabel bebas yang
tidak ditentukan oleh kondisi-kondisi lingkungan. Di antara contoh-
contoh yang jum lahnya sepertinya tidak terbatas, izinkan saya m e-
nyebutkan salah satu kasus ekstrem dari salah satu m asyarakat yang
dibahas dalam buku ini, karena contoh tersebut sangat dram atik dan
secara sangat m eyakinkan tidak berkaitan dengan kondisi-kon disi
m aterial. Orang-orang Kaulong, satu dari beberapa lusin po pu lasi kecil
yang hidup di sepanjang daerah aliran sungai sebelah se latan di pulau
Britania Baru, tepat di sebelah tim ur Papua, dulu m em praktikkan ritual
m encekik janda. Ketika seorang laki-laki m eninggal, janda nya m e-
m anggil saudara-saudara laki-lakinya untuk m encekiknya. Dia bu kan
dicekik sam pai m ati di luar keinginannya, juga tak ditekan m e la ku -
kan bunuh diri teritualisasi oleh anggota-anggota lain m a sya rakatnya.
J ustru ketika tum buh dia m engam atinya sebagai suatu adat, m engikuti
adat tersebut ketika dia sendiri m enjadi janda, dan m endesak saudara-
saudara laki-lakinya (atau putranya bila dia tidak punya saudara laki-
laki) guna m em enuhi kewajiban khidm at m ereka untuk m encekiknya
http://facebook.com/indonesiapustaka

m eskipun secara alam iah m ereka ragu-ragu, dan duduk tidak m elawan
sewaktu m ereka m encekiknya.
Tidak ada cendekiawan yang telah m engklaim bahwa adat m en-
cekik janda oleh orang-orang Kaulong ada m anfaatnya bagi m asyarakat
Kaulong ataupun kepentingan genetik jangka panjang (anum erta) sang
janda yang dicekik ataupun kerabat-kerabatnya. Tidak ada ahli ling-
kungan yang telah m engenali ciri apa pun pada lingkungan Kaulong
PENDEKATAN, PENYEBAB, DAN SUMBER ● 25

yang cenderung m em buat adat m encekik janda lebih m enguntungkan


atau pun bisa dipaham i dibandingkan daerah aliran sungai sebelah
utara Britania Baru, ataupun lebih jauh ke tim ur atau selatan di se-
pan jang daerah aliran sungai selatan Britania Baru. Saya tidak m e nge-
tahui m asyarakat lain yang m em praktikkan ritual m encekik janda di
Britania Baru atau Papua, terkecuali tetangga orang-orang Kaulong,
yaitu orang-orang Sengseng yang m asih berkerabat dengan m ereka.
Sebaliknya, tam paknya kita perlu m em andang adat m encekik janda
orang Kaulong sebagai sifat budaya historis m an diri yang m uncul
karena alas an yang tidak diketahui di area tertentu Britania Baru itu,
dan ba rangkali akhirnya telah dilenyapkan oleh se leksi alam di antara
m a syarakat (yakni, m elalui m asyarakat-m asya rakat Britania Baru lain
yang tidak m em praktikkan adat m encekik janda sehingga m em peroleh
ke unggulan dari orang-orang Kaulong), nam un tetap ada selam a be-
be rapa waktu sam pai tekanan dan kontak dari luar m enyebabkan adat
itu ditinggalkan setelah sekitar 1957. Siapa pun yang akrab dengan m a-
syarakat lain m ana pun akan m am pu m em ikirkan sifat-sifat yang tidak
sebegitu ekstrim yang m enjadi ciri m asyarakat tersebut, yang m ung-
kin tidak m em iliki m anfaat jelas atau tam pak m em bahayakan bagi
m asyarakat tersebut, dan yang tidak langsung kelihatan diakibatkan
kondisi lokal.
Satu lagi pendekatan untuk m em aham i perbedaan di antara m a-
sya ra kat adalah m engenali kepercayaan dan praktik budaya yang m e-
m iliki sebaran regional yang luas, dan yang dalam sejarah m enyebar
di wilayah itu tanpa terkait secara jelas dengan kondisi-kondisi lo-
kal. Contoh-contoh yang akrab dengan kita adalah agam a-agam a m o-
no teistik dan bahasa-bahasa non-tonal yang tersebar nyaris di se gala
penjuru Eropa, dibanding dengan frekuensi agam a-agam a non-m o no-
teistik dan bahasa-bahasa tonal di Tiongkok dan bagian-bagian Asia
Tenggara yang bersebelahan dengannya. Kita tahu banyak m engenai
asal-m uasal dan sejarah penyebaran m asnig-m asing jenis agam a
dan ba hasa di setiap wilayah. Tapi saya tidak m engetahui alasan m e-
http://facebook.com/indonesiapustaka

yakinkan apa pun m engenai m engapa bahasa tonal bakal kalah


berm anfaat di lingkungan Eropa, ataupun m engapa agam a-agam a
m onoteistik tidak cocok secara intrinsik di lingkungan Tiongkok dan
Asia Tenggara. Agam a, bahasa, serta kepercayaan dan praktik lain
dapat m enyebar dalam satu di antara dua cara. Salah satunya adalah
m elalui orang-orang yang m enyebar dan m em bawa serta budaya
m ereka, seperti yang dilakukan oleh em igran Eropa ke Am erika dan
26 ● DI BANDARA

Australia, yang m em bawa bahasa-bahasa Eropa dan m asyarakat-


m asyarakat serupa Eropa ke sana. Cara satu lagi adalah sebagai akibat
orang-orang yang m engadop si ke per cayaan dan praktik kebudayaan-
kebudayaan lain: m isalnya, orang-orang J epang m odern m engadopsi
gaya pakaian Barat, m es kipun J epang tidak ditundukkan oleh em igran
Barat ataupun A.S. ditun duk kan oleh em igran J epang.
Satu perm asalahan berbeda m engenai penjelasan yang akan m un-
cul berulang-ulang sepanjang buku ini adalah perbedaan antara pen-
carian atas penjelasan proksim at (penjelasan langsung) dan pen carian
atas penjelasan ultim at (penjelasan m endasar). Guna m em aham i
perbedaan ini, anggaplah ada sepasang suam i-istri yang ber konsultasi
kepada seorang psikoterapis setelah m enikah 20 tahun, dan berniat
bercerai. Terhadap pertanyaan sang terapis, “Apa yang m en dadak
m em buat Anda m enem ui saya dan ingin bercerai setelah 20 tahun
m enikah?”, sang suam i m enjawab, “Karena dia m em ukul keras-keras
wajah saya dengan botol kaca yang berat: saya tak bisa hidup dengan
pe rem puan yang m elakukan itu.” Sang istri m engakui bah wa dia
m em ang m em ukul suam inya dengan botol kaca, dan bahwa itu lah
"penyebab" (alias alasan proksimat) keretakan mereka. Namun sang
terapis tahu bahwa serangan dengan botol jarang terjadi dalam per-
nikahan yang bahagia dan m em inta m ereka m em berikan penjelasan
dari sudut pandang m asing-m asing. Sang istri m enjawab, “Saya tidak
tahan lagi dengan perselingkuhannya dengan perem puan-perem puan
lain, m aka itu saya pukul dia—perselingkuhannya itulah alasan nyata
[alias ultim at] keretakan hubungan kam i.” Sang suam i m engakui
bahwa dia ber selingkuh, nam un lagi-lagi sang terapis bertanya-tanya
m engapa suam i ini, tidak seperti suam i-suam i yang pernikahannya
bahagia, ber selingkuh. Sang suam i m enjawab, “Istri saya orang yang
dingin dan egois, dan saya jadi m enginginkan hubungan cinta seperti
orang norm al m ana pun—itulah yang saya cari dalam perselingkuhan-
perselingkuhan saya, dan itulah penyebab m endasar keretakan hu-
bungan kam i.”
http://facebook.com/indonesiapustaka

Dalam terapi jangka panjang, sang terapis akan m endalam i lebih


lanjut bagaim ana m asa kecil sang istri untuk m engetahui m engapa
sang istri m enjadi dingin dan egois (bila m em ang hal itu benar). Tapi,
bahkan versi pendek cerita ini cukup untuk m enunjukkan bahwa ke-
banyakan sebab dan akibat sebenarnya terdiri atas rantai penyebab,
sebagian di antaranya lebih proksim at sem entara yang lainnya lebih
ultim at. Dalam buku ini kita akan jum pai banyak rantai sem acam itu.
PENDEKATAN, PENYEBAB, DAN SUMBER ● 27

Misalnya, penyebab proksimat perang suku (Bab 4) mungkin karena


si A dari satu suku m encuri babi m ilik si B yang anggota suku lain; A
m em benarkan pencurian itu dengan alasan yang lebih dalam lagi (se-
pupu B telah sepakat untuk m em beli babi itu dari ayah A nam un
belum m em bayar harga yang disetujui untuk babi itu); dan penyebab
ultim at perang itu adalah kekeringan dan kelangkaan sum ber daya
serta tekanan populasi, yang m enyebabkan tidak ada cu kup babi untuk
m em beri m akan orang-orang dari kedua suku.
Dem ikianlah pendekatan-pendekatan luas yang digunakan para
cen dekiawan untuk m encoba m em aham i perbedaan-perbedaan di
antara m a sya rakat-m asyarakat m anusia. Sedangkan m engenai bagai-
m ana cen dekiawan m endapatkan pengetahuan yang kita m iliki m e-
ngenai m asyarakat-m asyarakat tradisional, sum ber-sum ber infor-
m asi kita da pat dibagi secara agak m anasuka m enjadi em pat kategori,
m asing-m asing dengan keunggulan dan kekurangannya sendiri, dan
keempatnya bisa saling berbaur. Metode yang paling jelas, sumber se-
bagian besar inform asi dalam buku ini, adalah m engirim kan ilm uwan-
ilm uwan sosial atau biologi guna m engunjungi atau hidup di antara
m a syarakat tradisional, dan m elakukan penelitian yang berfokus pada
topik yang spesiik. Satu keterbatasan besar pendekatan itu adalah
bawa ilm uwan biasanya tidak bisa berdiam di antara m asyarakat
tradisional kecuali m asyarakat itu telah "didam aikan", berkurang aki-
bat penyakit dari luar, ditaklukkan dan ditundukkan di bawah kontrol
pem erintah negara, dan karenanya sangat berubah dari kondisi
m asyarakat itu se belum nya.
Metode kedua adalah mencoba menelusuri ke belakang perubahan-
per ubahan baru dalam m asyarakat tradisional m odern itu, dengan
m e wa wan carai orang-orang tuna-aksara yang m asih hidup m engenai
sejarah m ereka yang diteruskan dari m ulut ke m ulut, dan dengan
dem ikian m e rekonstruksi m asyarakat m ereka sebagaim ana adanya
beberapa generasi sebelumnya. Metode ketiga sama tujuannya dengan
rekonstruksi lisan, da lam pengertian ingin m eneliti m asyarakat-
http://facebook.com/indonesiapustaka

m asyarakat tradisional se belum m ereka dikunjungi ilm uwan-ilm uwan


m odern. Tapi pen dekatan ketiga m enggunakan catatan para penjelajah,
pedagang, petugas patroli pem erintah, dan ahli bahasa m isionaris yang
biasanya m endahului para ilm uwan dalam m engontak m asyarakat-
m asyarakat tradisional itu. Walaupun cenderung kurang sistem atik,
kurang kuantitatif, dan kurang kuat secara saintiik daripada catatan
yang dibuat oleh pekerja lapangan yang terlatih secara saintiik,
28 ● DI BANDARA

catatan-catatan yang m ereka buat m e na war kan keunggulan tersendiri,


yaitu m enjabarkan m asyarakat kesukuan yang belum banyak berubah,
dibandingkan ketika m asyarakat itu dipelajari kem udian oleh para
ilm uwan yang berkunjung. Terakhir, satu-satunya sum ber inform asi
m engenai m asyarakat pada m asa yang sangat silam , tanpa tulisan, dan
tanpa kontak dengan para pengam at m elek aksara, adalah penggalian
arkeologis. Penggalian arkeolohis m enawarkan rekonstruksi suatu ke-
budayaan jauh sebelum dikontak dan diubah oleh dunia m odern—
dengan kerugian berupa hilangnya rincian halus (m isalnya nam a
dan niat orang-orang), dan m enghadapi lebih banyak ketidakpastian
dan kesulitan dalam m enarik kesim pulan-kesim pulan sosial dari
perwujudan-perwujudan isik yang terawetkan dalam peninggalan-
peninggalan arkeologis.
Bagi pem baca (terutam a cendekiawan) yang tertarik m em pelajari
lebih lanjut berbagai sum ber inform asi m engenai m asyarakat-m asya-
rakat tradisional, saya m enyediakan diskusi tam bahan di halam an 476–
481 di bagian Bacaan Lebih Lanjut di buntut buku ini.

Bu ku ke cil m e n ge n ai s u bje k be s ar
Pokok bahasan buku ini berpotensi m encakup sem ua aspek kebu-
dayaan m anusia, dari sem ua m asyarakat di seluruh dunia, selam a
setidaknya 11.0 0 0 tahun terakhir. Tapi, lingkup itu akan m em butuhkan
buku setebal 2.397 halam an yang tidak akan dibaca seorang pun.
J adi, untuk alasan praktis, saya telah m em ilih sejum lah topik dan
m asyarakat untuk dibahas, guna m enghasilkan buku dengan pan jang
yang layak baca. Dengan itu, saya harap untuk m erangsang para pem -
baca saya agar m em pelajari topik-topik dan m asyarakat-m a sya ra kat
yang tidak saya cakup, dengan m enengok buku-buku luar biasa lain
yang banyak tersedia (banyak di antaranya saya kutip di bagian Bacaan
Le bih Lanjut buku saya ini).
Soal pilihan topik, saya m em ilih sem bilan bidang untuk dibahas da-
lam 11 bab, guna m enggam barkan keanekaragam an cara yang bisa kita
http://facebook.com/indonesiapustaka

gu nakan untuk m em aham i m asyarakat-m asyarakat tradisional. Dua


topik—bahaya dan perawatan anak—m elibatkan area-area di m ana kita
se bagai individu bisa m em pertim bangkan sejum lah praktik m asyarakat
tradisional untuk kita pakai dalam kehidupan pribadi kita sendiri. Ini
adalah dua area di m ana praktik-praktik sejum lah m asyarakat tra-
disional yang pernah m enjadi tuan rum ah saya telah sangat m em -
pengaruhi gaya hidup dan keputusan saya pribadi. Tiga topik—perla-
BUKU KECIL MENGENAI SUBJEK BESAR ● 29

kuan ter ha dap orang lanjut usia, bahasa dan m ultilingualism e, serta
gaya hidup yang m endukung kesehatan—m elibatkan area-area di m ana
se jum lah praktik tradisional dapat m enawarkan kepada kita m odel bagi
keputusan-keputusan pribadi kita, nam un juga bisa m enawarkan m o-
del bagi kebijakan yang bisa diadopsi m asyarakat kita sebagai suatu
ke satuan. Satu topik—resolusi persengketaan secara dam ai—bisa le bih
berguna dalam m enyarankan kebijakan bagi m asyarakat kita se ba gai
suatu kesatuan daripada m em andu kehidupan pribadi kita. Ber kenaan
dengan sem ua topik ini, kita harus paham bahwa tidaklah m udah untuk
m em injam atau m engadaptasi praktik-praktik dari suatu m asyarakat ke
masyarakat lainnya. Misalnya, bahkan bila Anda mengagumi praktik-
praktik perawatan anak tertentu dari suatu m a sya rakat tradisional, bisa
jadi sulit bagi Anda untuk m engadopsi praktik tersebut dalam m erawat
anak-anak Anda sendiri bila sem ua orangtua lain di se kitar Anda
m erawat anak dengan cara-cara yang dijalankan oleh se bagian besar
orangtua m odern.
Berkenaan dengan topik m engenai agam a, saya tidak m engha rap-
kan individu pem baca atau m asyarakat untuk m em eluk agam a tribal
ter tentu sebagai akibat diskusi saya m engenai agam a di Bab 9. Tapi,
sebagian besar orang dalam hidupnya m elalui fase atau fase-fase di
m ana kita m encari-cari pem ecahan bagi pertanyaan-pertanyaan kita
sendiri m engenai agam a. Dalam fase hidup sem acam itu, m ungkin ada
m anfaatnya bagi pem baca bila dia m erenungkan kisaran luas m akna
agam a bagi berbagai m asyarakat sepanjang sejarah um at m anusia.
Terakhir, dua bab m engenai peperangan m enggam barkan suatu area
di m ana, saya percaya, m em aham i praktik-praktik tradisional dapat
m em bantu kita m enghargai sejum lah faedah yang telah didatangkan
oleh pem erintah negara, dibandingkan dengan m asyarakat tradisional.
(J angan langsung bereaksi dengan m arah-m arah berlebihan karena
terpikirkan soal Hiroshim a atau peperangan parit dan m enutup benak
Anda terhadap diskusi m engenai "faedah" peperangan negara; pokok
bahasan ini jauh lebih rum it daripada seperti yang terlihat awalnya.)
http://facebook.com/indonesiapustaka

Tentu saja, pem ilihan topik ini tidak m engikutkan banyak pokok
bahasan yang paling sentral bagi penelitian-penelitian sosial m engenai
m anusia—m isalnya seni, kognisi, perilaku kooperatif, m a sakan, tarian,
hubungan antar jenis kelam in, sistem kekerabatan, per debatan penga-
ruh bahasa terhadap persepsi dan pikiran (hipotesis Sapir-Whorf),
sastra, pernikahan, m usik, praktik seksual, dan lain seba gainya. Se-
bagai pem belaan diri, saya ulangi lagi bahwa buku ini tidak dim ak -
30 ● DI BANDARA

Pe ta 1. Lo kasi 39 m asyarakat yan g akan se rin g dibahas dalam buku in i.

Pap u a d an p u lau -p u lau te tan ggan ya. 1 = Dani. 2 = Fayu. 3 = Daribi. 4 = Enga.
5 = Fore. 6 = Tsembaga Maring. 7 = Hinihon. 8 = Kepulauan Mailu. 9 = Kepulauan
http://facebook.com/indonesiapustaka

Trobriand. 10 = Kaulong.
Au s tralia. 11 = Ngarinyin. 12 = Yolngu. 13 = Sandbeach. 14 = Yuwaaliyaay. 15 =
Kunai. 16 = Pitjantjatjara. 17 = Wiil and Minong.
Eras ia. 18 = Agta. 19 = Ainu. 20 = Kepulauan Andam an. 21 = Kirghiz. 22 =
Nganasan.
BUKU KECIL MENGENAI SUBJEK BESAR ● 31

Afrika. 23 = Hadza. 24 = !Kung. 25 = Nuer. 26 = Pigmi Afrika (Mbuti, Aka). 27 =


Turkana.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Am e rika U tara. 28 = Calusa. 29 = Chum ash daratan. 30 = Chum ash pulau. 31


= Iñupiat. 32 = Inuit North Slope Alaska. 33 = Shoshone Great Basin. 34 = Indian
Pantai Barat Laut.
Am e rika Se latan . 35 = Ache. 36 = Machiguenga. 37 = Piraha. 38 = Siriono. 39 =
Yanom am o.
32 ● DI BANDARA

sud kan sebagai pem bahasan kom prehensif m asyarakat m anu sia, m e-
lainkan m em bahas beberapa topik yang dipilih berdasarkan alasan-
alasan yang dibahas di atas, dan bahwa ada buku-buku yang sangat
bagus yang m em bahas topik-topik lain itu dari perspektif kerangka
kerja lain.
Soal m asyarakat-m asyarakat yang saya pilih, dalam buku yang
pendek tidaklah m ungkin m engam bil contoh dari sem ua m asyarakat
m a nusia tradisional berskala kecil di seluruh dunia. Saya m em utuskan
untuk berkonsentrasi ke kawanan dan suku yang terdiri atas petani
berskala kecil dan pem buru-pengum pul, dan m enyertakan lebih sedikit
kedatuan, lebih sedikit lagi negara-negara yang baru m uncul—karena
m asyarakat kawanan dan suku lebih berbeda dengan m asyarakat
m odern kita, sehingga dapat m engajari kita lebih banyak dari per-
bedaan itu. Saya berulang-ulang m engutip contoh-contoh dari bebe-
rapa lusin m a syarakat tradisional sem acam itu di seluruh dunia
(Gam bar 1—12). De ngan cara dem ikian, saya berharap pem baca bisa
m em bangun gam baran yang lebih lengkap dan berwarna m engenai
beberapa lusin m asyarakat ter sebut, dan bisa m elihat betapa aspek-
aspek berbeda m asyarakat ter nyata saling bertautan: m isalnya,
bagaim ana suatu m asyarakat m e m an dang cara m erawat anak, usia
lanjut, bahaya, dan penyelesaian persengke taan.
Sejum lah pem baca m ungkin m erasa ada terlalu banyak con toh
yang saya ambil dari pulau Papua dan pulau-pulau Pasiik di seki-
tarnya. Salah satu alasannya adalah karena itulah area yang paling
saya kenal, dan di m ana saya m enghabiskan paling banyak waktu.
Namun alasan lainnya adalah karena Papua memang menyumbangkan
persentase kenaekaragam an budaya m anusia yang besar sekali. Seribu
dari kira-kira 7.0 0 0 bahasa di dunia ditem ukan hanya di Papua. Di
pulau tersebut pula terdapat paling banyak m asyarakat yang bahkan
pada zam an m odern m asih berada di luar kontrol pem erintah negara
atau baru belum lam a ini dipengaruhi oleh pem erintah negara. Po-
pulasinya m enjalankan berm acam -m acam gaya hidup tradisional, m u-
http://facebook.com/indonesiapustaka

lai dari pem buru-pengum pul nom aden, pengarung laut, dan petani
sagu dataran rendah sam pai ke petani m enetap di Dataran Tinggi,
terdiri atas kelom pok-kelom pok yang berkisar dari beberapa lusin sam -
pai 20 0 .0 0 0 jiwa. Terlepas dari itu, saya secara ekstensif m em bahas
hasil-hasil pengam atan para cendekiawan lain m engenai m asyarakat-
m asyarakat dari sem ua benua yang berpenghuni.
SUSUNAN BUKU INI ● 33

Agar tidak m enciutkan niat calon pem baca untuk m em baca buku
ini gara-gara panjang dan harganya, saya tidak sertakan catatan kaki
dan referensi bagi pernyataan-pernyataan individual yang disisipkan
ke dalam naskah. Saya kum pulkan referensi dalam bagian Ba caan
Lebih Lanjut yang disusun per bab. Beberapa penggalan bagian ter-
sebut m enyediakan referensi bagi keseluruhan buku ini, sem entara
re ferensi bagi Kata Pem buka ini dicetak di ujung naskah. Penggalan-
penggalan yang m enyediakan referensi bagi Bab 1– 11 dan Kata Penutup
tidak dicetak, m elainkan dipajang di situs Web yang bebas diakses,
http:/ / www.jareddiam ondbooks.com . Walaupun jauh lebih panjang
daripada yang diinginkan kebanyakan pem baca, bagian Bacaan Lebih
Lanjut tetap saja bukan daftar acuan yang lengkap bagi setiap bab.
Saya m em ilih karya-karya terbaru yang m enawarkan daftar acuan bagi
m ateri bab tersebut kepada pem baca dengan m inat tertentu, ditam bah
beberapa penelitian klasik yang bisa pem baca nikm ati.

Su s u n an bu ku in i
Buku ini m engandung 11 bab yang dikelom pokkan m enjadi lim a
bagian, plus kata penutup. Bagian 1, yang terdiri atas Bab 1 sem ata
wayang, m em bangun latar bagi topik-topik yang akan dipentaskan
dalam bab-bab berikutnya, dengan m enjelaskan bagaim ana m asya-
rakat-m a sya rakat tradisional m em bagi ruang—entah itu dengan per-
batasan jelas yang m em isahkan wilayah-wilayah yang sepenuhnya
eksklusif, seperti pada negara-negara m odern, atau dengan tatanan
yang lebih cair di m ana kelom pok-kelom pok yang bertetangga
m enikm ati hak tim bal-balik untuk m enggunakan wilayah pangkal
satu sama lain demi tujuan-tujuan tertentu. Namun tak pernah ada
kebebasan penuh bagi siapa pun untuk bepergian ke m ana saja,
sehingga m asyarakat tradisional cen derung m em andang orang-orang
lain sebagai terbagi ke dalam tiga m acam : orang-orang yang dikenal
dan m erupakan tem an, orang-orang yang dikenal dan m erupakan
m usuh, dan orang-orang asing tak dikenal yang harus dianggap sebagai
http://facebook.com/indonesiapustaka

calon m usuh. Sebagai akibatnya, m a syarakat tradisional tidak bisa


m engetahui dunia luar yang jauh dari wilayah pangkal m ereka.
Sesudahnya, bagian 2 terdiri atas tiga bab m engenai penyelesaian
sengketa. Dalam ketiadaan pem erintah negara yang tersentralisasi be-
serta lem baga pengadilannya, m asyarakat tradisional berskala kecil
m enyelesaikan persengketaan dalam satu di antara dua cara, salah
satunya lebih bersifat m endam aikan, sedangkan yang satu lagi lebih
34 ● DI BANDARA

bengis, daripada penyelesaian persengketaan dalam m asyarakat ne-


gara. Saya m enggam barkan penyelesaian persengketaan secara da-
m ai (Bab 2) dengan satu peristiwa ketika seorang anak Papua ter bu-
nuh secara tidak disengaja, lalu orangtua si anak dan rekan-re kan sang
pem bunuh m encapai kesepakatan m engenai kom pensasi dan rekon-
siliasi em osional dalam beberapa hari. Tujuan proses kom pen sasi
tradisional sem acam itu bukan untuk m enentukan benar atau salah,
m elain kan m em ulihkan hubungan atau non-hubungan antara anggota-
anggota m asyarakat kecil yang akan terus-m enerus saling ber jum pa
sepanjang hayat m ereka. Saya m em bandingkan bentuk penyelesaian
sengketa tradisional yang dam ai itu dengan kerja hukum di m a sya rakat
negara, yang berlangsung lam bat dan bersifat saling m e nye rang, pihak-
pihak yang terlibat sering kali m erupakan orang-orang asing yang tidak
akan pernah berjum pa lagi, fokusnya adalah m e nen tukan benar atau
salah bukan m em ulihkan hubungan, dan negara m e m iliki kepentingan-
kepentingan sendiri yang m ungkin tidak sejalan de ngan kepentingan-
kepentingan korban. Bagi negara, sistem pengadilan pem erintah
adalah suatu kebutuhan. Tapi m ungkin ada be berapa ciri penyelesaian
sengketa dam ai tradisional yang ada gunanya bila kita ser takan ke
dalam sistem pengadilan negara.
Bila sengketa dalam m asyarakat berskala kecil tidak diselesaikan
se cara dam ai antara pihak-pihak yang terlibat, pilihan lainnya adalah
ke kerasan atau perang, sebab tidak ada pengadilan negara untuk m e-
ne ngahi. Tanpa pem im pin politik yang kuat dan klaim m o nopoli
negara atas penggunaan kekuatan, kekerasan cenderung m engarah
kepada siklus pem bunuhan balas dendam . Bab 3 yang pendek m eng-
ilustrasikan peperangan tradisional dengan m enjabarkan perang yang
tam pak kecil di antara orang-orang Dani di Dataran Tinggi Papua
barat. Bab 4 yang lebih panjang kem udian m engulas peperangan tradi-
sional di seluruh dunia, guna m em aham i apakah m em ang peperangan
tradisional cocok dideinisikan sebagai perang, mengapa proporsi kor-
ban jiwanya kerap kali tinggi sekali, apa bedanya dengan peperangan
http://facebook.com/indonesiapustaka

ne gara, dan m engapa perang lebih sering terjadi di antara sebagian m a-


sya rakat dibandingkan m asyarakat lainnya.
Bagian ketiga buku ini terdiri atas dua bab m engenai dua ujung
siklus hidup m anusia: m asa kanak-kanak (Bab 5) dan usia lanjut
(Bab 6). Kisaran praktik perawatan anak tradisional sungguh luas,
dari m asyarakat dengan praktik-praktik yang lebih re presif sam pai
m asyarakat dengan praktik-praktik yang lebih lepas tangan (laissez-
SUSUNAN BUKU INI ● 35

faire) daripada yang ditoleransi di sebagian besar m asyarakat negara.


Terlepas dari itu, sejum lah tem a berulang-ulang m uncul dari survei
m e ngenai perawatan anak tradisional. Pem baca bab ini m ungkin bakal
m engagum i sebagian di antaranya nam un m erasa ngeri terhadap
praktik-praktik perawatan anak tradisional lainnya, dan bertanya-tanya
apakah sebagian praktik yang kita kagum i bisa kita gabungkan dengan
kum pulan praktik perawatan anak kita sendiri.
Sedangkan m engenai perlakuan terhadap orang lanjut usia (Bab 6),
sejum lah m asyarakat tradisional, terutam a yang nom aden atau yang
hidup di lingkungan yang keras, terpaksa m engabaikan, m eninggalkan,
ataupun m em bunuh orang-orang lanjut usia. Yang lain m enyediakan
ke hidupan yang jauh lebih m em uaskan dan produktif bagi orang-orang
lanjut usia dibandingkan kebanyakan m asyarakat yang terwesternisasi.
Faktor-faktor di belakang variasi ini m encakup kondisi lingkungan,
m an faat dan kuasa orang lanjut usia, serta nilai-nilai dan aturan-aturan
m a syarakat. Harapan hidup yang sangat m em anjang dan m anfaat
lansia yang tam paknya berkurang di m asyarakat-m asyarakat m odern
telah m enciptakan tragedi bagi kita, yang dapat kita ringankan dengan
contoh-contoh yang bisa ditawarkan oleh m asyarakat-m a syarakat
tradisional yang m enyediakan kehidupan m em uaskan dan ber m anfaat
bagi orang lanjut usia.
Bagian 4 terdiri atas dua bab m engenai bahaya dan tanggapan kita
ter ha dapnya. Saya m ulai (Bab 7) dengan m enjabarkan tiga pengalam an
yang betul-betul atau kelihatan berbahaya yang saya alam i di Papua,
dan apa yang saya pelajari dari kejadian-kejadian itu m engenai sikap
yang tersebar luas di kalangan m asyarakat tradisional yang saya
kagumi dan istilahkan "paranoia konstruktif". Melalui ekspresi para-
doks itu, yang saya m aksudkan adalah secara rutin m erenungkan arti
penting kejadian-kejadian atau tanda-tanda kecil yang setiap kali
berisiko rendah, nam un m ungkin terjadi berulang-ulang ribuan kali
selam a hidup seseorang, sehingga pada akhirnya berkem ungkinan
ter buk ti m elum puhkan atau fatal bila diabaikan. "Kecelakaan" tidak
http://facebook.com/indonesiapustaka

terjadi secara acak atau gara-gara nasib sial: secara tradisional segala
sesuatu dipandang sebagai terjadi karena suatu alasan, sehingga kita
harus tetap waspada terhadap hal-hal yang bisa m enjadi penyebabnya
dan berhati-hati. Bab 8 kem udian m enjabarkan jenis-jenis bahaya
yang m erupakan bagian tak terpisahkan dalam kehidupan tradisional,
dan beraneka ragam cara orang m enanggapi bahaya-bahaya tersebut.
36 ● DI BANDARA

Ternyata persepsi kita m engenai bahaya, dan reaksi-reaksi kita ter-


hadapnya, secara sistem atis tidak irasional dalam beberapa segi.
Bagian 5 yang m erupakan penutup terdiri atas tiga bab m engenai
tiga topik yang sentral bagi kehidupan m anusia dan berubah secara
ce pat pada zam an m odern: agam a, keanekaragam an bahasa, dan
kese hatan. Bab 9, m engenai fenom ena yang hanya ditem ukan pada
m anusia yaitu agam a, m elanjutkan bahasan Bab 7 dan 8 m engenai ba-
haya, sebab pen carian tradisional kita secara terus-m enerus terhadap
penyebab bahaya m ungkin bersum bangsih terhadap kelahiran agam a.
Keberadaan aga m a di ham pir sem ua m asyarakat m anusia m enun-
jukkan bahwa tam pak nya agam a m enjalankan fungsi-fungsi penting,
terlepas dari apakah klaim-klaim agama betul atau tidak. Namun
agam a telah m en jalankan berbagai fungsi yang arti penting relatifnya
telah ber ubah se iring berevolusinya m asyarakat-m asyarakat m anusia.
Menarik untuk berspekulasi mengenai fungsi-fungsi mana yang
akan m enjadi paling kuat ba gi agam a dalam dasawarsa-dasawarsa
m endatang.
Bahasa (Bab 10 ), sebagaim ana agam a, hanya ditem ukan pada m a-
nusia; bahkan, kerap kali bahasa dianggap sebagai ciri paling penting
yang membedakan manusia dari hewan-hewan (lain). Meskipun jumlah
m e dian penutur bahasa hanya beberapa ratus sam pai beberapa ribu
individu bagi kebanyakan m asyarakat pem buru-pengum pul berskala
kecil, anggota-anggota banyak m asyarakat sem acam itu biasanya
m ultilingual. Orang Am erika m odern kerap beranggapan bahwa m ulti-
lingualism e tidak sepatutnya didorong, karena m ultilingualism e konon
m engham bat penguasaan bahasa oleh anak dan asim ilasi im igran. Tapi,
penelitian terbaru m enunjukkan bahwa tam paknya orang-orang yang
m ultilingual m em peroleh m anfaat-m anfaat kognitif penting seum ur
hidup. Terlepas dari itu, berbagai bahasa kini m enghilang de ngan
sedem ikian cepat sehingga 95% bahasa dunia akan punah atau nyaris
m ati dalam seabad bila tren yang sekarang ini berlanjut. Kon sekuensi-
konsekuensi fakta yang tidak diragukan itu sam a kontro ver sialnya
http://facebook.com/indonesiapustaka

dengan konsekuensi-konsekuensi m ultilingualism e: banyak orang yang


akan m enyam but dunia yang telah tereduksi m enjadi ha nya beberapa
bahasa yang tersebar luas, sem entara orang-orang lain m enyoroti
m anfaat-m anfaat keanekaragam an bahasa bagi m a syarakat m aupun
individu.
Bab terakhir (Bab 11) juga m erupakan bab dengan relevansi praktis
paling langsung dengan kita sekarang. Kebanyakan warga negara-
SUSUNAN BUKU INI ● 37

negara m odern akan m ati akibat penyakit-penyakit tidak m enular—


diabetes, hipertensi, stroke, serangan jantung, berbagai kanker, dan
lain se ba gainya—yang jarang atau tidak dikenal di kalangan m asya-
rakat tra disional, yang terlepas dari itu kerap kali ikut terserang
penyakit-pe nyakit itu dalam satu atau dua dasawarsa setelah m ulai
m enjalankan gaya hidup terwesternisasi. J elaslah bahwa gaya hidup
terwesternisasi m em bawa penyakit-penyakit itu, dan kita dapat m e-
m inim alkan risiko kita m eninggal akibat penyebab-penyebab paling
um um kem atian tersebut bila kita dapat m em inim alkan faktor-
faktor risiko gaya hidup itu. Saya m engilustrasikan kenyataan suram
itu m elalui dua contoh, yaitu hipertensi dan diabetes Tipe-2. Kedua
penyakit tersebut m elibatkan gen-gen yang pastilah tadinya m eng-
untungkan bagi kita dalam kondisi-kondisi gaya hidup tradisional,
nam un lantas m enjadi m em atikan dalam kondisi-kon disi gaya hidup
terwesternisasi. Banyak individu m odern telah m erenungkan fakta-
fakta itu, sehingga memodiikasi gaya hidup mereka, dan dengan
dem ikian m em perpanjang rentang hidup dan m em perbaiki kualitas
hidup m ereka. J adi, bila penyakit-penyakit tersebut m em bunuh kita,
itu karena kita m em biarkan m ereka m e la ku kannya.
Terakhir, Penutup pun m enutup perjalanan kita yang diawali
dengan adegan bandara Port Moresby yang saya tampilkan di Kata
Pem buka. Baru setelah saya tiba di bandara Los Angeles saya m ulai
terlibat kem bali secara em osional dengan m asyarakat Am erika yang
m erupakan ru m ah saya, setelah berbulan-bulan di Papua. Terlepas
dari perbedaan-per be daan drastis antara Los Angeles dan rim ba
Papua, banyak hal dari dunia sam pai kem arin m asih hidup dalam
tubuh dan dalam m a sya ra kat kita. Perubahan-perubahan besar terbaru
baru dim ulai 11.0 0 0 tahun silam , bahkan di wilayah dunia di m ana
m ereka pertam a kali m uncul, baru dim ulai beberapa dasawarsa lalu di
daerah-daerah ber pen duduk paling padat di Papua, dan nyaris belum
dim ulai di segelintir daerah yang belum berhubungan dengan dunia
luar di Papua dan Amazon. Namun bagi kita yang tumbuh besar di
http://facebook.com/indonesiapustaka

m asyarakat-m a sya rakat negara m odern, kondisi-kondisi kehidupan


m odern sede m ikian m erasuk, dan kita terim a begitu saja, sehingga
sulit bagi kita untuk m engam ati perbedaan-perbedaan m endasar
m asyarakat-m a sya rakat tradisional dalam kunjungan singkat kita ke
m ereka. Oleh karena itu Kata Penutup dim ulai dengan m engingat-
ingat lagi sejum lah perbedaan itu, yang m encengangkan saya sewaktu
saya tiba di bandara Los Angeles, dan yang m encengangkan anak-anak
38 ● DI BANDARA

Am erika, atau penduduk desa Papua dan Afrika, yang tum buh besar
dalam m a syarakat tradisional dan kem udian pindah ke Barat saat
rem aja atau de wasa. Saya persem bahkan buku ini bagi salah seorang
teman saya yang mengalami itu, Meg Taylor (Dame Meg Taylor), yang
tum buh di Dataran Tinggi Papua Papua dan m enghabiskan bertahun-
tahun di Am erika Serikat sebagai Duta Besar bagi negaranya dan Wakil
Pre siden Grup Bank Dunia. Halam an 468 secara ringkas m erangkum
pengalaman-pengalaman Meg.
Masyarakat-masyarakat tradisional mewakili ribuan percobaan
alam selam a beribu-ribu tahun dalam penataan kehidupan m a nusia.
Kita tidak dapat m engulangi percobaan-percobaan itu de ngan m e ran-
cang-ulang ribuan m asyarakat sekarang lalu m enanti ber puluh-puluh
tahun dan m engam ati hasilnya; kita harus belajar dari m asyarakat-
m asya rakat yang telah m enjalankan percobaan-percobaan itu. Sewaktu
kita m em pelajari tentang ciri-ciri kehidupan tradisional, se ba gian
di antaranya m erupakan ciri yang untungnya telah kita singkir kan,
dan yang m em buat kita sem akin m enghargai m asyarakat kita sendiri.
Ciri-ciri lain adalah yang m ungkin m em buat kita iri, atau kita sesali
karena telah lenyap, atau kita pertanyakan m engenai bisa-tidak nya
kita gunakan atau sesuaikan secara selektif. Misalnya, kita tentunya iri
akan ketiadaan penyakit-penyakit tidak m enular yang terkait dengan
gaya hidup terwesternisasi di kalangan m asyarakat tradsional. Se waktu
kita m em pelajari m engenai penyelesaian sengketa, perawatan anak,
perlakuan terhadap orang lanjut usia, kewaspadaan akan bahaya, dan
m ultilingualism e yang um um pada m asyarakat tradisional, kita juga
m ungkin m em utuskan bahwa kita ingin dan bisa m erengkuh se jum lah
ciri tradisional itu.
Setidak-tidaknya, saya berharap Anda akan m enjadi berm inat se-
perti saya terhadap aneka cara m asyarakat-m asyarakat lain m engor-
ganisasi hidup. Bukan hanya sekadar berm inat, Anda m ungkin m e-
m utuskan bahwa sejum lah cara yang sangat berm anfaat bagi m e reka
barangkali juga berm anfaat bagi Anda sebagai individu, dan bagi kita
http://facebook.com/indonesiapustaka

sebagai m asyarakat.
BAG IAN SATU

MEMBANGUN L ATAR
DENGAN MEMBAGI
RUANG
http://facebook.com/indonesiapustaka
http://facebook.com/indonesiapustaka
BAB 1

Kawan, Lawan, Orang Asing, dan Saudagar

Batas ▪ Wilayah yang saling tidak boleh dimasuki ▪ Penggunaan lahan


non-eksklusif ▪ Kawan, lawan, dan orang asing ▪ Kontak pertama
▪ Perdagangan dan pedagang ▪ Ekonomi pasar ▪ Bentuk-bentuk
tradisional perdagangan ▪ Dagangan tradisional ▪ Siapa berdagang apa?
▪ Negara-negara mungil

Batas
Di sebagian besar dunia sekarang, warga banyak negara dapat m elang-
lang de ngan bebas. Kita tidak m enghadapi batasan untuk m elanglang
di da lam negara kita sendiri. Untuk m enyeberangi perbatasan ke ne-
gara lain, kita boleh datang tanpa bilang-bilang dulu dan cukup m e-
nun juk kan paspor kita (Gam bar 34), atau m em peroleh visa dulu
nam un ke m udian boleh m elanglang tanpa dibatasi di dalam negara itu.
Kita tidak perlu m inta izin untuk m elanglang di jalanan atau di tanah
m ilik rakyat. Hukum sejum lah negara bahkan m enjam in akses ke
sejumlah tanah milik pribadi. Misalnya, di Swedia, pemilik tanah boleh
m enutup ladang dan kebunnya untuk um um , tapi hutannya tidak bo leh
http://facebook.com/indonesiapustaka

ditutup. Kita m enjum pai ribuan orang asing setiap hari dan tidak m e-
m usingkannya. Sem ua hak ini kita terim a begitu saja, tanpa m e renung-
kan bahwa hak tersebut tidak terpikirkan nyaris di sem ua tem pat di
dunia sepanjang sejarah m anusia, dan keadaannya m asih seperti itu
di beberapa bagian dunia saat ini. Saya akan beri ilustrasi kondisi-kon-
disi tradisional akses tanah berdasarkan pengalam an-pengalam an
saya bertandang ke satu desa di pegunungan Papua. Kondisi-kondisi
42 ● KAWAN, LAWAN, ORANG ASING, DAN SAUDAGAR

tradisional itu m em bangun latar bagi pem aham an m engenai perang


dan dam ai, m asa kanak-kanak dan lanjut usia, bahaya, dan segala ciri
lain m asyarakat-m asyarakat tradisional yang akan kita dalam i di buku
ini.
Saya datang ke desa itu dalam rangka m ensurvei burung di bukit
yang m enjulang tepat di sebelah selatannya. Pada hari kedua setelah
saya tiba, beberapa penduduk desa m enawarkan untuk m em andu saya
m enyusuri jalur setapak yang lazim m ereka gunakan ke punggung
bukit tersebut, di m ana saya akan m em ilih tem pat berkem ah untuk
survei-survei saya. J alur itu m endaki m elalui kebun-kebun di atas desa,
kem udian m em asuki hutan prim er yang tinggi. Setelah satu se tengah
jam pendakian yang curam , kam i m elewati pondok yang ditinggalkan
di tengah kebun kecil yang telah tum buh liar tepat di bawah puncak
bukit, dan di situlah jalur pendakian kam i berakhir di satu pertigaan.
Ke sebelah kanan dari pertigaan itu, satu jalur yang bagus berlanjut di
sepanjang punggung bukit.
Beberapa ratus m eter jauhnya di jalur tersebut, saya m em ilih tem -
pat berkem ah tepat di sebelah utara garis punggung bukit, di sisi yang
m engha dap desa pegunungan tem an-tem an saya. Di arah sebaliknya,
ke arah selatan jalur dan punggung bukit, lereng m enukik landai ke
arah bawah, m e le wati hutan lebat yang dibelah oleh ngarai yang dari
dalam nya terdengar bunyi aliran air. Saya girang m enem ukan tem pat
yang se de m ikian indah dan nyam an, di lokasi setem pat yang paling
tinggi, sehingga m em beri kesem patan terbaik m enem ukan spesies-
spesies dataran tinggi, m enawarkan kem udahan m engakses m edan
landai yang bagus untuk pengam atan burung, juga dekat dengan
sumber air untuk minum, memasak, mencuci, dan mandi. Maka saya
m engajukan kepada pendam ping-pendam ping saya bahwa keesokan
harinya saya akan pindah ke tem pat berkem ah itu dan m enghabiskan
beberapa m alam di sana bersam a dua orang yang akan m enunjukkan
burung-burung yang ada dan m erawat perkem ahan.
Teman-teman saya mengangguk setuju sampai saya menyebutkan
http://facebook.com/indonesiapustaka

bah wa saya hanya butuh dua orang untuk tinggal di kemah bersama
saya. Mereka lantas menggeleng-geleng dan bersikeras bahwa daerah
itu berbahaya, dan bahwa kemah saya harus dilindungi oleh ba nyak laki-
laki bersenjata. Situasinya mengerikan benar bagi seorang pengamat bu-
rung! Bila ada banyak orang, mereka pastilah membuat keributan, terus-
menerus mengobrol, dan membuat burung-burung menjauh ke ta kutan.
Saya bertanya, mengapa saya perlu kelompok pendamping se besar itu,
BATAS ● 43

dan apanya yang sedemikian berbahaya di hutan yang cantik dan terlihat
damai?
Mereka cepat menjawab: di dasar sisi jauh punggung bukit (sisi
selatannya) ada desa-desa orang jahat yang disebut sebagai orang-
orang sungai, m u suh orang-orang pegunungan tem an-tem an saya.
Orang-orang sungai m em bunuh ba nyak orang pegunungan terutam a
dengan racun dan tenung, bukan m e lalui pertarungan terbuka dengan
senjata. Namun kakek buyut salah seorangg pemuda pegunungan
dipanah sam pai tewas sewaktu dia tidur di pondok kebunnya yang
terletak agak jauh dari desa pegunungan itu. Laki-laki paling tua yang
hadir dalam percakapan kam i itu ingat, sewaktu anak-anak, m elihat
jenazah sang kakek-buyut yang m asih ditancapi anak-anak panah
dibawa kem bali ke desa, dan dia pun ingat orang-orang m enangisi
jenazah itu, juga ingat akan rasa takutnya sen diri.
Kalau begitu, saya bertanya-tanya, apakah kita punya "hak" untuk
ber kem ah di bukit itu? Orang-orang pegunungan m enjawab bahwa
garis punggung bukit itu sendiri m em bentuk perbatasan antara wilayah
m ereka di lereng utara dan wilayah orang-orang sungai yang jahat di
lereng selatan. Namun orang-orang sungai mengklaim sebagian tanah
orang-orang pegunungan di sebelah utara punggung bukit. Ingatkah
saya akan pon dok yang ditinggalkan dan kebun yang tum buh liar tepat
di ba wah garis punggung bukit? tem an-tem an saya bertanya. Pondok
dan kebun itu dibuat oleh orang-orang sungai yang jahat, sebagai
cara m enegaskan klaim m ereka atas tanah di sisi utara m aupun di sisi
selatan punggung bukit.
Dari pengalam an-pengalam an tak m enyenangkan sebelum nya
gara-gara dikira m enerobos wilayah orang di Papua, saya sadar bahwa
saya harus m enanggapi situasi itu dengan serius. Bagaim anapun
juga, ter lepas dari penilaian saya sendiri m engenai bahaya itu, orang-
orang pegunungan tidak m au m em biarkan saya berkem ah di bukit
itu tanpa pengawalan banyak orang. Mereka bersikeras saya disertai
oleh 12 laki-laki, dan saya m enanggapi dengan usulan 7 laki-laki. Ka-
http://facebook.com/indonesiapustaka

m i akhirnya "berkom prom i" antara 12 dan 7: nam un ketika kam p ka-
m i telah berdiri, saya hitung ada kira-kira 20 laki-laki ikut tinggal di
kam p, sem uanya dipersenjatai dengan busur dan anak panah, belum
lagi kaum perem puan yang datang untuk m em asak dan m encarikan
air serta kayu bakar. Selain itu, saya dilarang m eninggalkan jalur m e -
nuju hutan yang terlihat cantik di lereng selatan yang landai. Hutan itu
jelas-jelas m ilik orang-orang sungai, dan akan tim bul m asalah besar,
44 ● KAWAN, LAWAN, ORANG ASING, DAN SAUDAGAR

sangat-sangat besar, bila saya tertangkap m enerobos di sana, m eskipun


hanya untuk m engam ati burung. Perem puan-perem puan pegunungan
di kam p kam i juga tidak bisa m engam bil air dari sungai kecil di lereng
selatan de kat situ, sebab itu berarti bukan hanya m enerobos, m elainkan
juga m engam bil sum ber daya berharga, yang harus dibayar dengan
ganti rugi, itu juga kalau m asalahnya bisa diselesaikan baik-baik.
Para perem puan m alah harus setiap hari berjalan turun ke desa dan
m em bawa wadah-wadah air berukuran 20 liter naik-turun ketinggian
450 m eter ke dan dari kam p kam i.
Pada hari kedua saya di kam p, ada hal m enarik yang m em buat
deg-degan dan m engajarkan kepada saya bahwa hubungan teritorial
an tara orang-orang gunung dan orang-orang sungai jauh lebih rum it
daripada sem ata klaim hitam -putih bahwa wilayah m asing-m asing
tidak boleh dim asuki oleh yang lain. Dengan salah seorang laki-laki
gunung saya kem bali ke pertigaan jalur setapak dan terus m enyusuri
punggung bukit guna m em bersihkan jalur setapak tua yang telah
tertutup tum buhan liar. Laki-laki gunung pendam ping saya itu tidak
tam pak khawatir kam i ada di sana, dan saya pikir, kalau orang-orang
su ngai m enem ukan kam i di sini, m ereka tidak akan keberatan kam i
ber diri di punggung bukit asalkan kam i tidak m elewati batas wilayah
mereka. Namun kemudian kami mendengar suara-suara mendekat dari
arah ba wah di sisi selatan. Waduh! Orang-orang sungai!! Bila m ereka
terus m en daki sam pai ke punggung bukit dan pertigaan, m ereka akan
m elihat tanda-tanda jalur setapak yang baru dibersihkan dan m elacak
kam i, kam i akan terperangkap di sini, m ereka bisa jadi m enganggap
kam i m e ne ro bos wilayah m ereka, dan entah apa yang akan m ereka
lakukan.
Saya m endengarkan dengan cem as dan m encoba m engikuti per-
pindahan suara-suara itu sam bil m em perkirakan lokasi m ereka. Ya,
m ereka m em ang m endaki ke arah punggung bukit dari sisi m ereka.
Mereka pastilah sudah berada di pertigaan, dan di situ pasti mereka
m enyadari tanda-tanda jalur setapak yang baru kam i buka. Apakah
http://facebook.com/indonesiapustaka

m ereka m engejar kam i? Saya terus m engikuti suara-suara itu, yang


seolah bertam bah nya ring, bercam pur dengan detak jantung saya yang
bergemuruh di telinga saya. Namun suara-suara itu tidak mendekat;
m alah jelas se m a kin bertam bah pelan. Apakah m ereka kem bali ke
sisi selatan, ke desa orang-orang sungai? Tidak! Mereka menuruni
sisi utara ke arah desa gunung kam i! Tidak bisa dipercaya! Apakah
itu serbuan? Namun kedengarannya hanya ada dua atau tiga suara,
BATAS ● 45

dan m ereka m engobrol keras-keras: bukan apa yang kita duga dari
kelom pok yang m e nyerbu diam -diam .
Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, kata laki-laki gunung pen-
dam ping saya untuk m enenangkan; sem uanya baik-baik saja. Kam i
orang-orang gu nung (kata dia) m engakui hak orang-orang sungai
untuk m enuruni jalur setapak kam i dengan dam ai m enuju desa kam i,
dan dari situ ber ja lan ke pesisir guna berniaga. Orang-orang sungai
tidak boleh m e ninggalkan jalur setapak untuk m engum pulkan m akan-
an atau m enebang kayu, nam un sekadar m enyusuri jalur setapak tidak
apa-apa. Terlebih lagi, dua laki-laki sungai bahkan telah m enikahi pe-
rem puan gunung dan pindah ke desa gunung. Dengan kata lain, tidak
ada perm usuhan m ur ni di antara kedua kelom pok itu, m elainkan gen-
catan senjata yang te gang. Ada hal yang dibolehkan dan ada hal yang
dilarang berdasarkan ke se pa kat an bersam a, sem entara sejum lah
hal lain (m isalnya kepem ilikan tanah di pondok dan kebun yang
ditinggalkan) m asih diperdebatkan de ngan sengit.
Dua hari kem udian, saya belum m endengar lagi suara orang-orang
su ngai di dekat-dekat kam i. Saya m asih belum pernah m elihat satu
pun orang sungai dan sam a sekali tidak tahu seperti apa penam pilan
dan pakaian mereka. Namun desa mereka cukup dekat sehingga satu
kali terdengar oleh saya genderang ditabuh di desa m ereka dari daerah
aliran su ngai selatan ketika pada waktu bersam aan sam ar-sam ar
terdengar suara-suara teriakan di desa gunung jauh di bawah, di daerah
aliran su ngai utara. Sewaktu saya dan laki-laki gunung pem andu saya
berjalan kem bali ke arah situs kam p kam i, kam i saling m elem par canda
konyol ten tang apa yang akan kam i lakukan terhadap orang sungai bila
kami tangkap salah satunya di situ. Mendadak, sewaktu kami berbelok
di jalur setapak dan ham pir m em asuki kam p kam i, pem andu saya
berhenti ber canda, m engangkat tangannya ke m ulut, dan m em beri
peringatan ke pada saya dengan berbisik, “Ssst! Orang-orang sungai!”
Di kam p kam i, ada sekelom pok orang gunung pendam ping yang
kam i kenali, sedang berbicara dengan enam orang yang belum pernah
http://facebook.com/indonesiapustaka

saya lihat: tiga laki-laki, dua perem puan, dan satu anak. Akhirnya
di sanalah saya lihat orang-orang sungai yang mengerkan! Mereka
bukanlah m onster-m onster berbahaya yang telah secara tidak sadar
saya bayangkan, m elainkan orang-orang Papua yang terlihat nor-
m al, tidak berbeda dari orang-orang gunung yang m erupakan tuan
ru m ah saya. Anak dan kedua perem puan sungai itu sam a sekali tidak
terlihat m engancam . Ketiga laki-laki sungai m em bawa busur dan anak
46 ● KAWAN, LAWAN, ORANG ASING, DAN SAUDAGAR

panah (seperti juga sem ua laki-laki gunung) nam un m engenakan kaos


oblong dan tidak terlihat seolah-olah berpenam pilan un tuk berperang.
Percakapan antara orang-orang sungai dan orang-orang gunung
tam pak akrab dan tidak tegang. Ternyata kelom pok orang sungai itu
sedang berjalan turun ke pesisir dan m erasa perlu m engun jungi kam p
kam i, barangkali sekadar untuk m em astikan bahwa niat da m ai m ereka
tidak disalahartikan dan kam i tidak m enyerang m ereka.
Bagi orang-orang gunung dan orang-orang sungai, kunjungan itu
jelas m erupakan bagian norm al hubungan kom pleks m ereka yang m e-
libatkan aneka perilaku: pem bunuhan sem bunyi-sem bunyi, jarang;
pem bunuhan dengan racun dan tenung, konon lebih sering; hak
tim bal-balik yang diakui untuk m elakukan beberapa hal (m isalnya
singgah dalam perjalanan ke pesisir dan m elakukan kunjungan sosial)
na m un beberapa hal lain tetap terlarang (m isalnya m engum pulkan
m akanan, kayu, dan air selagi singgah); perselisihan m engenai hal-
hal lain (m isalnya pondok dan kebun) yang terkadang m eledak m en-
jadi kekerasan; dan pernikahan cam pur yang terkadang terjadi de-
ngan frekuensi yang kira-kira sam a dengan pem bunuhan sem bunyi-
sem bunyi (setiap beberapa generasi sekali). Sem ua itu berlangsung
di antara dua kelom pok orang yang terlihat sam a bagi saya, berbicara
ba hasa yang berbeda nam un berkerabat, m em aham i bahasa satu
sam a lain, m enjabarkan satu sam a lain dengan istilah-istilah yang
sebenarnya ditujukan untuk m anusia kelas rendah yang jahat, dan
saling m em andang sebagai m usuh bebuyutan.

W ilayah yan g s alin g tid ak bo le h d im as u ki


Secara teori, hubungan ruang antara m asyarakat-m asyarakat tra di-
sional yang bertetangga bisa m encakup segala m acam hasil, berkisar
dari satu ekstrem berupa wilayah yang saling tidak bertum pukan de-
ngan per batasan jelas yang dijaga dan tidak digunakan secara ber sam a,
sam pai ke ekstrem satu lagi berupa akses bebas bagi sem ua orang ke
se lu ruh daerah dan tanpa wilayah yang ditetapkan. Barangkali tidak
http://facebook.com/indonesiapustaka

ada m asyarakat yang berpegang secara ketat ke ekstrem yang m ana


pun, nam un sejum lah m asyarakat dekat dengan ekstrem yang per ta m a.
Misalnya, teman-teman saya dari gunung yang baru saya saja jabar-
kan tidak jauh dari ekstrem tersebut: m ereka m em ang m em iliki wila-
yah dengan perbatasan tegas yang m ereka jaga, m ereka m em ang m e-
ne gas kan klaim ekslusif atas sum ber daya dalam wilayah m ereka, dan
WILAYAH YANG SALING TIDAK BOLEH DIMASUKI ● 47

m ereka m engizinkan akses bagi orang luar hanya untuk berjalan lewat
dan per nikahan cam pur yang jarang terjadi.
Masyarakat-masyarakat lain yang mendekati ekstrem berupa wila-
yah eksklusif itu antara lain Dani (Gam bar 1) dari Lem bah Baliem di
Dataran Tinggi Papua sebelah barat, Iñupiat (satu kelom pok Inuit) * di
Alaska barat laut, Ainu di J epang utara, Yolngu (kelom pok Aborigin
di Arnhem Land di Australia Barat Laut), Indian Shoshone di Lem bah
Owens California, dan Indian Yanom am o di Brazil dan Venezuela.
Misalnya, orang Dani mengairi dan menggemburkan tanah yang di-
pisahkan oleh lahan tak bertuan tanpa kebun dari kebun-kebun m ilik
kelom pok Dani di sebelahnya. Setiap kelom pok m em bangun jejeran
m enara pengawas dari kayu yang tingginya bisa m encapai 9 m eter di
wilayahnya di sebelah lahan tak bertuan, dengan pela taran di puncak
yang cukup besar untuk diduduki satu orang (Gambar 13). Nyaris
sepanjang hari, para laki-laki bergantian m engawasi dari m asing-
m asing m enara, sem entara para pendam pingnya duduk di dasar
m enara untuk m elindungi m enara dan sang pengawas, yang m e -
m indai daerah itu guna m engawasi apakah ada m usuh yang diam -
diam m endekat dan m em berikan peringatan seandainya ada serangan
kejutan.
Sebagai contoh lain, orang Iñupiat dari Alaska (Gam bar 9) terdiri
atas 10 ke lom pok dengan wilayah yang sam a-sam a eksklusif. Orang-
orang dari satu wilayah yang kedapatan m enerobos wilayah lain biasa
dibunuh, kecuali kalau m ereka terbukti berkerabat dengan pem ilik
wilayah yang m e nangkap m ereka saat m enerobos. Dua penyebab
paling um um pe ne ro bosan wilayah adalah pem buru yang m elintasi
batas sewaktu se dang asyik m engejar rusa kutub, dan pem buru
anjing laut yang ber buru di bongkah es yang patah dan hanyut m en-
jauhi daratan. Bila yang terakhirlah yang terjadi, bila es lantas
hanyut kem bali ke pesisir dan para pem buru itu m endarat di wilayah
kelom pok lain, m ereka dibu nuh. Bagi kita yang bukan orang Iñupiat,
itu tam paknya sangat ke jam dan tidak adil: para pem buru m alang itu
http://facebook.com/indonesiapustaka

sudah m engam bil risiko tinggi untuk pergi berburu di bongkahan es


yang m engam bang, nasib m e reka sial karena bongkahan es itu patah,
m ereka kem udian berisiko m ati akibat tenggelam atau hanyut ke laut,
lalu m ereka m endapat keberun tungan besar karena akhirnya bisa

* Orang-orang Artika Am erika Utara m enyebut diri m ereka sendiri Inuit, dan istilah
itulah yang digunakan dalam buku ini. Istilah awam yang lebih diakrabi adalah Eskim o.
48 ● KAWAN, LAWAN, ORANG ASING, DAN SAUDAGAR

m engam bang kem bali ke pesisir, m ereka tidak punya niat m enerobos
m elainkan hanya tidak sengaja ter bawa secara pasif oleh arus laut—
nam un m ereka m alahan dibunuh te pat ketika m ereka selam at dari
tenggelam atau hanyut ke laut. Tapi be gitulah aturan kehidupan
Iñupiat. Terlepas dari itu, eksklusivitas wilayah Iñupiat tidaklah sem -
purna: orang luar terkadang diberi izin m engunjungi suatu wilayah
untuk tujuan spesiik lain semisal pekan dagang musim panas,
atau singgah ke suatu wilayah untuk alasan spesiik lain, misalnya
berkunjung atau m enyerang kelom pok jauh yang hidup di seberang
wilayah yang disinggahi.
Sewaktu kita kum pulkan contoh-contoh m asyarakat (seperti orang-
orang gunung tem an saya, Dani, dan Iñupiat) yang m endekati eks-
trem berupa wilayah yang saling dipertahankan secara eksklusif, kita
tem ukan bahwa hasil itu m uncul dari kom binasi em pat kondisi. Per-
tam a-tam a, wilayah yang dipertahankan m em iliki populasi yang cu-
kup besar dan padat sehingga sebagian orang bisa ditugaskan untuk
m enghabiskan waktu berpatroli di perbatasan, sehingga populasi tidak
harus m engandalkan setiap orang untuk sesekali m engawasi kalau-
kalau ada penerobos sam bil tetap m encari m akanan seperti biasa. Ke-
dua, wilayah eksklusif m em butuhkan lingkungan yang produktif, stabil,
dan bisa diperkirakan, di m ana pem ilik wilayah biasanya dapat m e-
nem u kan sebagian besar atau sem ua sum ber daya yang dibutuh kan,
sehingga jarang atau tak pernah perlu pergi ke luar wila yah. Ketiga,
wilayah itu harus m engandung sejum lah sum ber daya tetap yang
berharga atau pem anfaatan m odal yang pantas diper ta han kan bahkan
sam pai m ati, m isalnya ladang yang produktif, kebun pohon buah,
bendungan tam bak ikan, atau parit irigasi yang m em bu tuh kan banyak
upaya untuk pem bangunan dan perawatannya. Terakhir, ke anggotaan
kelom pok harus cukup konstan, dan kelom pok-kelom pok yang ber te-
tangga harus cukup berbeda, dengan sedikit m igrasi di antara kelom -
pok-kelom pok itu—kekecualian utam a berupa perpindahan orang-
orang m uda yang belum m enikah (lebih sering perem puan daripada
http://facebook.com/indonesiapustaka

laki-laki) m eninggalkan kelom pok tem pat m ereka lahir guna m e nikahi
anggota kelom pok lain.
Kita bisa am ati bagaim ana keem pat kondisi itu dipenuhi oleh ke-
lom pok-kelom pok yang baru saja saya sebutkan sebagai m endekati
ekstrem berupa wilayah eksklusif dan perbatasan yang dipertahankan.
Tem an-tem an saya dari pegunungan Papua m em iliki investasi cukup
besar dalam kebun sepanjang tahun, babi, dan hutan m ereka, yang
WILAYAH YANG SALING TIDAK BOLEH DIMASUKI ● 49

secara tradisional memberikan segala yang mereka butuhkan. Mem-


buka hutan dan m engem bangkan kebun adalah kerja keras bagi
m ereka, dan bahkan lebih keras lagi bagi orang-orang Dani di Papua
barat, yang m enggali dan m em pertahankan sistem parit rum it guna
m engalirkan air ke dan dari kebun-kebun m ereka. Orang Iñupiat dan
Ainu m enem pati wilayah yang sepanjang tahun kaya akan sum ber
daya laut berlim pah berupa ikan laut, anjing laut, paus, dan burung
laut, perikanan air tawar dan unggas air, serta wilayah daratan dengan
m am alia darat untuk diburu. Orang Yolngu dari Arnhem Land juga
hidup da lam populasi-populasi padat yang bisa terbentuk berkat
kom binasi sum ber daya pesisir dan daratan yang produktif. Indian
Shoshone di Lem bah Owens m erupakan pem buru-pengum pul yang
hidup dalam ke padatan relatif tinggi di area dengan cukup air yang
m em ungkinkan m e reka m engairi lahan guna m eningkatkan hasil
panen berupa biji rum put liar yang bisa dim akan, dan m enyediakan
panenan kacang pinus yang bisa disim pan. Cadangan m akanan, kebun
pinus, dan sistem irigasi itu layak dipertahankan, dan ada cukup
banyak orang Shoshone Lem bah Owens untuk m em pertahankan se-
m ua itu. Terakhir, Indian Yanom am o m em pertahankan perkebunan
pohon palem pejibaye (Bactris gasipaes) dan pisang tanduk yang
m em produksi m akanan pokok m ereka selam a bertahun-tahun dan juga
berharga untuk dipertahankan.
Di daerah-daerah dengan populasi yang sangat besar dan pa-
dat, misalnya daerah orang-orang Dani dan Nuer di Sudan, tidak ha-
nya ada kelom pok-kelom pok terpisah dengan wilayah m asing-m asing,
nam un kelom pok-kelom pok teritorial itu juga tertata lebih lan jut
m en jadi hierarki dengan tiga atau lebih tingkatan. Hierarki ter se-
but m engingatkan kita kepada tatanan hierarkis lahan, rakyat, dan
kendali politik yang akrab dengan kita di m asyarakat-m asyakat m odern
kita, dim ulai dari petak-petak rum ah individu, dan terus naik tingkat-
an m enjadi kota, kabupaten, dan provinsi sam pai ke pe m e rintah an
nasonal. Misalnya, orang Nuer (Gambar 7), yang berjumlah 200.000
http://facebook.com/indonesiapustaka

orang dan bertem pat tinggal dalam daerah seluas 77.0 0 0 kilom eter
persegi, terbagi m enjadi suku-suku yang m asing-m asing beranggotakan
antara 7.0 0 0 dan 42.0 0 0 orang, setiap suku terbagi-bagi lagi m enjadi
sub-suku prim er, sekunder, dan tersier, terus sam pai ke desa-desa
dengan 50 sam pai 70 0 orang dan dipisahkan oleh jarak 8 sam pai 30
kilom eter. Se m akin kecil dan rendah suatu satuan dalam hierarki,
sem akin sedikit terjadi perselisihan m engenai perbatasan dan berbagai
50 ● KAWAN, LAWAN, ORANG ASING, DAN SAUDAGAR

m asalah lain, sem akin kuat tekanan dari kerabat dan tem an terhadap
pihak-pihak yang berselisih agar segera berdam ai tanpa kekerasan, dan
kalaupun terjadi pertarungan, lingkupnya semakin terbatas. Misalnya,
orang-orang Nuer bisa bertindak apa saja terhadap suku-suku Dinka
yang bertetangga dengan m ereka: secara rutin m ereka m enjarah harta
orang Dinka, m en curi ternak Dinka, m em bunuhi laki-laki Dinka, dan
m enculik sejum lah perem puan dan anak-anak Dinka sebagai tahanan
dan membunuh yang lainnya. Namun kekejian orang-orang Nuer
terhadap suku-suku Nuer lain hanya terdiri atas penjarahan ternak
sesekali, pem bunuhan be berapa laki-laki saja, dan tidak ada pem -
bunuhan atau penculikan ter hadap perem puan dan anak-anak.

Pe n ggu n aan lah an n o n -e ks klu s if


Ekstrem seberangnya berupa kurang atau tidak adanya eksklusivitas
tercapai dengan kondisi-kondisi yang m erupakan kebalikan kondisi-
kondisi yang m endorong eksklusivitas. Salah satu kondisi ter se but
adalah populasi yang jarang dan kecil, yang tidak m em ungkin kan
patroli (selain sesekali m engawasi kalau-kalau ada penerobos se raya
melakukan hal-hal lain). Misalnya, masyarakat yang hanya terdiri
atas satu keluarga tidak bisa m engkhususkan anggota keluarga hanya
untuk berpatroli, sebab tidak m ungkin laki-laki dewasa satu-satunya
da lam keluarga m enghabiskan waktu seharian bertengger di puncak
m enara pengawas. Kondisi kedua m elibatkan lingkungan yang tidak
pro duktif, m arjinal, dan berubah-ubah dengan sum ber daya yang ber-
jarak berjauhan dan tidak bisa diperkirakan, sedem ikian rupa se hing-
ga wilayah m ana pun yang bisa diklaim seseorang kerap kali (pa da
beberapa m usim atau tahun yang buruk) tidak m engandung sum ber
daya yang dibutuhkan, sehingga orang itu harus sesekali m encari
sum ber daya dalam wilayah kelom pok lain dan sebaliknya. Ketiga,
wilayah yang tidak m engan dung apa-apa itu kurang pantas dibela
sam pai m ati: bila wilayah dise rang, lebih baik pindah saja ke daerah
lain. Terakhir, lebih besar ke m ungkinan wilayah bersifat non-eksklusif
http://facebook.com/indonesiapustaka

bila keanggotan kelom pok bersifat cair, dan bila anggota-anggota


kelom pok sering berkunjung atau pindah ke kelom pok-kelom pok lain.
Toh tidak m asuk akal m enjaga jarak dari kelom pok lain bila separo
anggotanya m erupakan pengunjung atau pin dahan dari kelom pok kita
sendiri.
Tapi bentuk pem bagian lahan yang biasa dalam kondisi-kondisi
yang m endorong non-eksklusivitas bukanlah ekstrem berupa keadaan
PENGGUNAAN LAHAN NON-EKSKLUSIF ● 51

"bebas untuk sem ua" di m ana setiap orang bisa m elakukan apa pun
di m ana pun. Tetap saja setiap kelom pok m em iliki daerah inti yang
spesiik. Satu lagi perbedaan masyarakat non-eksklusif dengan ma-
sya ra kat eksklusif adalah kelom pok-kelom pok tetangga m enerim a
izin untuk m engunjungi wilayah non-eksklusif secara lebih sering dan
untuk lebih banyak alasan berbeda—terutam a untuk m em peroleh
m akanan dan air pada m usim -m usim tertentu atau pada tahun-tahun
tertentu. Se jalan dengan itu, kita bisa dengan m udah m em peroleh
izin untuk m engun jungi wilayah tetangga kita ketika kita yang
berkebutuhan, sehingga tatanan itu m enjadi pertukaran berdasarkan
asas tim bal-balik dan saling m enguntungkan.
Contoh kepem ilikan lahan non-eksklusif yang telah dijabarkan
se cara terperinci adalah para pem buru-pengum pul !Kung (Gam bar
6) dari daerah Nyae Nyae di Gurun Kalahari. Ketika dipelajari pada
1950 -an, m e reka terdiri atas 19 kawanan, m asing-m asing terdiri atas
8 sam pai 42 orang, m asing-m asing kawanan dengan "wilayah" m ereka
sendiri (istilahnya n!ore) dengan luas antara 250 dan 650 kilom eter
persegi. Namun perbatasan antara n!ore satu dengan lainnya tidaklah
jelas: ketika para ahli antropologi dan inform an !Kung berjalan
bersam a-sam a dari kam p para inform an m enuju n!ore berikutnya, para
infor m an m enjadi sem akin tidak yakin, atau sem akin sering berdebat,
m engenai di n!ore m ana m e reka sekarang berada, sem akin jauh m ereka
dari pusat n!ore m ereka sen diri. Tidak ada m enara pengawas atau jalan
setapak yang m e nandai perbatasan n!ore.
N!ore !Kung dihuni secara non-eksklusif sebab penggunaan ber-
sam a sum ber daya n!ore bersifat perlu sekaligus m em ungkinkan.
Penggunaan bersam a sum ber daya dibutuhkan karena air langka
di Gurun Kalahari, dan setiap kawanan perlu m enghabiskan seba-
gian besar waktunya di dekat sumber air. Namun ada variasi yang tak
bisa diper kira kan dalam hal curah hujan dari tahun ke tahun. Banyak
sum ber air di daerah itu m engering saat m usim kem arau. Hanya 2
sum ber air yang tidak pernah kering selam a periode yang dipelajari; 3
http://facebook.com/indonesiapustaka

lagi biasanya ada sepanjang tahun nam un kering pada beberapa tahun;
5 lagi hanya kadang-kadang ada waktu m usim kem arau; sem entara 50
ber sifat m usim an dan selalu m engering pada waktu-waktu tertentu da-
lam setahun. Oleh karena itu pada m usim kem arau, sam pai 20 0 orang
dari berbagai kawanan berkum pul di sum ber air perm anen dengan se-
izin para pem iliknya, yang sebagai gantinya diizinkan berkunjung dan
m enggunakan sum ber daya yang sedang berlim pah di n!ore-n!ore
52 ● KAWAN, LAWAN, ORANG ASING, DAN SAUDAGAR

lain. Dengan dem ikian, pertim bangan m engenai air m eng ha rus kan
!Kung m em iliki wilayah non-eksklusif: tidak ada gunanya m engklaim
penggunaan eksklusif suatu daerah bila daerah itu bisa ke habisan air
sehingga m enjadi tidak berguna. Sebaliknya, kelim pahan m usim an
luar biasa sejum lah sum ber daya m em ungkinkan non-eksklusivitas:
tidak ada gunanya m enyinggung sekutu yang berpotensi ber m anfaat
dengan cara m encegah m ereka m em asuki wilayah kita sewaktu wilayah
tersebut sedang m em produksi jauh lebih banyak m a kanan daripada
yang kita bisa m akan sendiri. Itu terutam a benar adanya bagi m akanan
pokok berupa kacang m ongongo (Schinziophyton rautanenii) yang
secara m u sim an tersedia dalam jum lah besar, dan juga berlaku bagi
tanam an pangan m usim an berupa kacang liar dan m elon.
Seharusnya, siapa pun dari kawanan mana pun di daerah Nyae
Nyae boleh berburu di mana pun, termasuk di luar n!ore kawanannya
sendiri. Tapi, bila kita m em bunuh hewan di luar n!ore kita, kita harus
m em berikan sebagian dagingnya sebagai hadiah bila kita ke m u dian
berjum pa dengan anggota kawanan yang m em iliki n!ore tersebut.
Namun kebebasan akses untuk berburu itu tidak berlaku bagi para
pem buru !Kung dari daerah-daerah yang lebih jauh. Secara le bih
um um , kawanan-kawanan !Kung yang bertetangga dapat dengan m u-
dah m em peroleh izin untuk saling m enggunakan n!ore dem i tujuan-
tujuan lain, m isalnya m engam bil air, kacang-kacangan, polong-po-
longan, dan m elon—nam un pertam a-tam a m ereka harus m em inta izin,
dan m ereka m enjadi berkewajiban untuk m em balas budi nantinya de-
ngan m engizinkan kawanan tuan rum ah untuk berkunjung ke n!ore
kawanan pengunjung. Perkelahian bisa pecah bila m ereka tidak m e-
m in ta izin. Kawanan-kawanan yang lebih jauh harus sangat berhati-
hati dalam m em inta izin, dan harus m em batasi lam a kunjungan m e-
reka serta jum lah orang yang berkunjung. Orang luar yang tidak punya
hu bungan yang diakui, entah itu hubungan darah atau pernikahan, de-
ngan para pem ilik n!ore tidak bisa berkunjung sam a sekali. Dengan de-
m ikian, wilayah non-eksklusif jelas bukan berarti bebas untuk sem ua.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Hak untuk m enggunakan lahan dan sum ber daya, entah itu secara
eks klusif ataupun tidak, m enyiratkan konsep kepem ilikan. Siapa yang
m e m iliki n!ore kawanan !Kung? J awabannya: k’ausi kawanan tersebut,
yaitu kelom pok inti yang terdiri atas sekelom pok orang tua atau se-
orang tua yang m erupakan keturunan orang-orang yang telah pa ling
lama menghuni daerah tersebut. Namun komposisi kawanan bersifat
cair dan berubah dari hari ke hari, karena orang-orang se ring pergi
PENGGUNAAN LAHAN NON-EKSKLUSIF ● 53

m engunjungi kerabat m ereka di n!ore lain, orang-orang m elakukan


kunjungan m usim an ke n!ore lain untuk m engam bil air atau m akanan
yang sedang sangat berlim pah, sejum lah orang ber pindah kawanan
secara perm anen karena berbagai alasan, dan seorang pengan tin laki-
laki baru beserta para tanggungannya (orangtuanya yang sudah lanjut
usia, juga istri pertam a dan anak-anaknya bila sekarang dia m enikahi
istri m uda) m ungkin hidup dengan kawanan istri barunya selam a
sekitar satu dasawarsa sam pai dia dan istri barunya telah m e m iliki
beberapa anak. Sebagai akibatnya, banyak orang !Kung m engha bis kan
lebih banyak waktu di luar daripada di dalam n!ore m ereka. Dalam satu
tahun rata-rata, 13% populasi berpindah kediam an secara perm anen
dari satu kam p ke kam p lain, sem entara 35% populasi m em bagi waktu
huniannya secara setara antara dua atau tiga kam p. Dalam kondisi-
kondisi itu, kawanan di n!ore yang bertetangga terdiri sebagian atas
anggota n!ore kita sendiri; m ereka bukanlah m anusia ren dahan jahat
yang dalam beberapa generasi hanya m elangsungkan per pindahan
antar-kelom pok berupa dua pernikahan cam pur, seperti yang terjadi
pada orang-orang gunung tem an-tem an saya dari Papua. Kita tidak
akan m engam bil pendekatan eksklusif garis keras terhadap sum ber
daya-sum ber daya kita ketika banyak "penyusup" itu sebenarnya m e-
ru pa kan saudara kandung dan sepupu kita, anak-anak kita yang sudah
dewasa, dan orangtua kita yang telah berusia lanjut.
Satu lagi ilustrasi m enarik m engenai wilayah non-eksklusif m eli-
batkan orang Shoshone dari Great Basin, Amerika Utara. Mereka
adalah pen du duk asli Am erika yang tergolong ke dalam kelom pok
bahasa yang sam a dengan Shoshone Lem bah Owens yang sudah saya
sebutkan sebagai ilustrasi wilayah eksklusif. Sepupu-sepupu m ereka
di Great Basin ber beda dalam hal penggunaan lahan akibat perbedaan
lingkungan. Se m entara tanah Lem bah Owens m em iliki air yang m en-
cukupi, cocok un tuk pengairan, dan pantas dipertahankan, Great Basin
m erupakan gu run kering yang berkondisi keras, sangat m enggigit pada
m usim dingin, dengan sum ber daya yang jarang-jarang dan tak bisa di-
http://facebook.com/indonesiapustaka

per kirakan, serta kem ungkinan kecil m enum puk cadangan m akanan.
Kepadatan populasi m anusia di Great Basin hanya sekitar satu orang
per 40 kilom eter persegi. Shoshone Great Basin hidup dalam keluarga-
keluarga terpisah nyaris sepanjang tahun, berkum pul di m usim dingin
m en jadi kam p-kam p yang terdiri atas 5 atau 10 keluarga di dekat m ata
air dan daerah penghasil kacang pinus, serta sekali-sekali berkum pul
m enjadi kelom pok-kelom pok yang lebih besar yang terdiri atas sam pai
54 ● KAWAN, LAWAN, ORANG ASING, DAN SAUDAGAR

15 keluarga demi perburuan bersama antelop dan kelinci. Mereka


tidak m em pertahankan wilayah yang berbatas jelas. Keluarga-ke luarga
memiliki tempat-tempat spesiik, misalnya daerah yang ditumbuhi
pinus, yang bisa dim anfaatkan bersam a dengan keluarga-keluarga
lain nam un hanya berdasarkan perjanjian: penerobos yang berupaya
m em anen kacang pinus tanpa perjanjian akan diusir de ngan tim pukan
batu. Sum ber daya nabati dan hewani lain nya dim anfaatkan bersam a-
sam a dengan hak-hak non-eksklusif yang lentur.
Terakhir, penetapan dan patroli wilayah secara m inim al dilang-
sungkan oleh orang-orang Indian Machiguenga Peru dan Indian
Siriono Bolivia di daerah-daerah berhutan tropis. Sewaktu kelom pok-
ke lom pok itu dipelajari oleh para ahli antropologi, orang-orang
Machiguenga merupakan pekebun yang hidup dengan kepadatan
populasi se dang, barangkali karena populasi yang sebelum nya lebih
padat telah m engecil akibat penyakit-penyakit yang dibawa orang-
orang Eropa atau pem bantaian selam a boom karet, dan juga karena
agrikultur di dae rah m ereka hanya m em berikan hasil panen yang
sedikit. Orang-orang Machiguenga melakukan perpindahan musiman
dem i m en cari sum ber m akanan liar dan m em buka kebun tebang-
bakar yang m enghasilkan m akanan hanya beberapa tahun dan tidak
layak dipere but kan dengan kekerasan. Tidak ada wilayah: dalam teori,
sem ua sum ber daya di hutan dan sungai bebas dim anfaatkan oleh
semua orang Machiguenga. Pada praktiknya, kelompok-kelompok
m ulti-keluarga m en jaga jarak dari daerah pangkalan kelom pok lain.
Serupa dengan itu, Indian Siriono yang dipelajari oleh Allan Holm berg
hidup dengan berburu-m engum pul dan kadang-kadang agrikultur
dalam kawanan 60 sam pai 80 orang yang tidak m em iliki wilayah yang
berbatas jelas. Namun bila ada satu kawanan yang menemukan jejak
perburuan yang ditinggalkan oleh kawanan lain, m ereka m em ilih untuk
tidak berburu di daerah kawanan lain tersebut. Dengan kata lain, ada
saling m enghindar yang inform al.
Dengan dem ikian, pem anfaatan lahan tradisional berkisar pada
http://facebook.com/indonesiapustaka

suatu kisaran, dari wilayah berbatas jelas yang dijaga patroli, diper-
tahan kan, dan dijaga dari orang luar dengan ancam an kem atian; dae-
rah pangkalan yang tidak jelas tanpa perbatasan tegas dan yang da-
pat dim anfaatkan oleh orang luar m elalui perjanjian bersam a; sam -
pai daerah pangkalan yang dijaga terpisah sem ata m elalui saling
m enghindar yang inform al. Tidak ada m asyarakat tradisional yang
m enenggang akses relatif terbuka yang dinikm ati oleh orang-orang
KAWAN, LAWAN, DAN ORANG ASING ● 55

Am erika m odern atau warga Uni Eropa, yang sebagian besar di


antaranya bisa ber kelana ke m ana pun di dalam Am erika Serikat atau
Uni Eropa, dan bisa berkelana ke banyak negara lain m ana pun sem ata
dengan m enunjukkan paspor dan visa yang berlaku ke petugas im igrasi
di perbatasan. (Tentu saja serangan ke World Trade Center pada 11
Septem ber 20 0 1 telah m enjebloskan orang-orang Am erika kem bali
ke dalam kecurigaan tradisional terhadap orang asing dan telah m e-
nye babkan pem batasan terhadap perjalanan bebas, m isalnya daftar
larangan terbang dan pemeriksaan keamanan di bandara.) Namun kita
juga bisa berargum en bahwa sistem m odern kita berupa akses yang
relatif terbuka m erupakan perluasan skala hak-hak dan pem batasan
akses tradisional. Orang-orang tradisional, yang hidup dalam m a sya-
rakat yang terdiri atas beberapa ratus jiwa, m em peroleh akses ke tanah
orang lain dengan cara dikenali secara individual, m em iliki hubungan
individual di wilayah itu, atau m em inta izin secara individual.
Dalam masyarakat kita yang terdiri atas ratusan juta orang, deinisi
"hubungan" kita diperluas ke sem ua warga negara kita atau negara
sahabat, dan perm intaan izin diform alisasi serta dikabulkan secara
m assal m e lalui paspor dan visa.

Kaw an , law an , d an o ran g as in g


Sem ua pem batasan terhadap perpindahan bebas itu m enyebabkan ang-
gota m asyarakat-m asyarakat berskala kecil m enggolong-golongkan
orang m enjadi tiga kategori: kawan, lawan, dan orang asing. "Kawan"
adalah anggota-anggota kawanan atau desa kita sendiri, juga anggota-
anggota kawanan atau desa tetangga yang kebetulan sedang berdam ai
de ngan kawanan kita kini. "Lawan" adalah anggota-anggota kawanan
dan desa tetangga yang kebetulan sedang berm usuhan dengan
kawanan kita kini. Terlepas dari itu, kita barangkali tahu setidaknya
nam a dan hubungan, serta barangkali sosok, banyak atau sebagian be-
sar individu dalam kawanan-kawanan tak bersahabat itu, sebab kita
pernah m endengar tentang m ereka atau bertem u m ereka sewaktu ber-
http://facebook.com/indonesiapustaka

ne gosiasi dem i ganti rugi, pada m asa-m asa dam ai yang disebabkan oleh
pergeseran aliansi, dan pertukaran pengantin perem puan (atau terka-
dang pengantin laki-laki) selam a gencatan senjata sem acam itu. Salah
satu contohnya adalah kedua laki-laki desa sungai yang pindah ke desa
tem an-tem an saya di gunung karena pernikahan.
Kategori yang tersisa adalah "orang asing": individu-individu tak
dikenal yang m erupakan anggota kawanan-kawanan jauh yang hanya
56 ● KAWAN, LAWAN, ORANG ASING, DAN SAUDAGAR

pernah berkontak sedikit dengan kawanan Anda, atau m alahan tidak


per nah sam a sekali. Anggota m asyarakat berskala kecil jarang atau
tidak pernah berjum pa dengan orang asing, karena berkelana ke daerah
yang tidak diakrabi yang penduduknya tidak kenal dan sam a sekali
tidak berkerabat dengan kita sam a saja bunuh diri. J ika kita kebetulan
ber jum pa dengan orang asing di wilayah kita, kita harus m enganggap
bahwa orang itu berbahaya, karena (m engingat bahayanya berkelana
ke daerah yang tidak diakrabi) orang asing itu sangat m ungkin sedang
m em ata-m atai guna m enyerbu atau m enghabisi kelom pok kita, atau
m ungkin m enerobos m asuk guna berburu atau m encuri sum ber daya
atau m enculik perem puan yang bisa dinikahi.
Dalam populasi lokal berskala kecil yang terdiri atas beberapa ratus
jiwa, kita tentunya tahu nam a dan wajah sem ua anggota, rincian se m ua
kekerabatan m ereka m elalui keturunan, pernikahan, dan adopsi, dan
seperti apa kekerabatan m ereka dengan kita. Bila kepada ka wan an kita
sendiri kita tam bahkan beberapa kawanan tetangga yang ber sahabat,
sem esta potensial "kawan" kita m ungkin berjum lah lebih daripa da
seribu orang, term asuk banyak orang yang kita pernah dengar na m un
belum pernah lihat. Oleh karena itu anggaplah bahwa, sewaktu berada
sendirian jauh dari daerah inti atau di dekat perbatasan teritori kita,
kita berjum pa seseorang atau beberapa orang yang tidak kita kenali.
Bila m ereka berjum lah lebih daripada satu sem entara kita sen dirian,
kita akan lari, dan sebaliknya. Bila kita sendirian dan orang lain itu juga
sendirian, dan bila kita dan dia m elihat satu sam a lain dari kejauhan,
kita dan dia akan sam a-sam a kabur bila sepintas tam paknya ke kuatan
kita seim bang (m isalnya, dua laki-laki dewasa, bukan seorang laki-laki
yang berhadapan dengan seorang perempuan atau anak-anak). Namun
bila kita kebetulan sedang berbelok dan m endadak berpapasan dengan
orang lain tanpa diduga-duga, dan kita tidak sem pat kabur, akan ter-
jadi situasi yang m enegangkan. Situasi tersebut bisa dipecahkan bila
kita dan dia bersam a-sam a duduk, m enyebutkan nam a dan kerabat
m asing-m asing dan bagaim ana kekerabatan kita dengan m ereka, dan
http://facebook.com/indonesiapustaka

terus berlanjut dalam upaya mengidentiikasi kerabat bersama, sampai


dite m u kan hubungan kekerabatan antara kita dan dia sehingga tidak
ada alasan untuk saling menyerang. Namun bila sampai beberapa jam
bercakap-cakap namun kita belum juga bisa mengidentiikasi kerabat
yang sam a, m aka kita tidak bisa hanya m em balikkan badan dan ber-
kata, “Senang berjum pa denganm u, sam pai jum pa.” Kita atau dia atau
keduanya harus m enganggap yang satu lagi sebagai penerobos tanpa
KAWAN, LAWAN, DAN ORANG ASING ● 57

kekerabatan yang m enjadi alasan untuk berkunjung, dan kem ungkinan


terjadi pengusiran atau pertarungan.
Para penutur dialek !Kung Pusat di dalam daerah Nyae Nyae
m e nyebut sesam a penutur bahasa itu sebagai jù/ w ãsi, dengan jù
berarti "orang", si adalah akhiran jam ak, sem entara w ã kira-kira
berarti "tulus, baik, jujur, bersih, tidak m em bahayakan". Kunjungan
bolak-balik antar-kerabat di dalam daerah Nyae Nyae menciptakan
keakraban pribadi yang m enyatukan ke-19 kawanan dan seluruh
anggota kawanan yang berjum lah kurang lebih seribu orang di daerah
tersebut, dan m enjadikan m ereka sem ua jù/ w ãsi terhadap satu sam a
lain. Istilah yang berlawanan, jù/ dole (dengan dole berm akna "buruk,
asing, m em bahayakan"), diber la kukan kepada sem ua orang kulit
putih, sem ua orang Bantu yang ber kulit hitam , dan bahkan orang-
orang !Kung yang m erupakan pe nu tur dialek yang sam a nam un m eru-
pakan anggota kelom pok jauh tanpa kerabat atau kenalan m ereka
di dalam nya. Seperti anggota sem ua m a sya rakat berskala kecil lain,
orang-orang !Kung bersikap curiga terha dap orang asing. Pada prak-
tiknya, m ereka berhasil m enem ukan istilah ke kerabatan yang digu-
nakan bagi hampir setiap orang !Kung yang mereka temui. Namun
bila m ereka berjum pa seorang !Kung asing dan tidak bisa m enem ukan
kekerabatan apa pun dengannya setelah m ereka m e nelusuri seluruh
kekerabatan m ereka dan orang asing itu juga telah m enelusuri seluruh
kekerabatannya, m aka dia m erupakan penerobos yang harus m ereka
usir atau bunuh.
Misalnya, seorang laki-laki !Kung bernama Gao, atas permintaan
ahli antropologi Lorna Marshall, pergi ke tempat bernama Khadum,
yang terletak di luar namun tidak jauh di sebelah utara daerah Nyae
Nyae. Gao tidak pernah mengunjungi Khadum, dan sedikit sekali
orang !Kung lain dari Nyae Nyae yang pernah ke sana. Orang-orang
!Kung di Khadum pada awalnya m enyebut Gao seorang jù/ dole, yang
berarti setidaknya penerim aan yang dingin dan barangkali ber arti
masalah. Namun Gao dengan cepat mengatakan bahwa dia pernah
http://facebook.com/indonesiapustaka

dengar bahwa ayah seseorang yang tinggal di Khadum m em iliki nam a


yang sam a dengan ayah Gao sendiri, dan bahwa seseorang lain di
Khadum m em iliki saudara laki-laki bernam a Gao, seperti Gao sendiri.
Orang-orang !Kung di Khadum lantas berkata kepada Gao, “J adi, kam u
adalah !gun!a si Gao (m aksudnya Gao m ereka).” (!gun!a adalah istilah
kekerabatan.) Mereka lalu menerima Gao di api unggun mereka dan
m enghadiahinya m akanan.
58 ● KAWAN, LAWAN, ORANG ASING, DAN SAUDAGAR

Kategorisasi serupa atas orang-orang berlaku di antara orang-orang


Indian Ache di Paraguay (Gam bar 10 ). Pada m asa kontak dam ai de-
ngan orang Eropa, orang Ache berjum lah sekitar 70 0 jiwa, hidup dalam
kawanan yang m asing-m asing beranggotakan 15 sam pai 70 orang, dan
beberapa kawanan yang berailiasi dekat membentuk satu kelompok
kawanan. Ada em pat kelom pok sem acam itu, dengan jum lah anggota
total pada m asa kontak berkisar antara 30 sam pai 550 orang. Orang
Ache m enyebut anggota-anggota lain kelom pok m ereka sen diri sebagai
irondy (yang berarti orang-orang yang berdasarkan adat m e ru pakan
kaum atau saudara kita), dan m engacu kepada orang-orang Ache dari
ketiga kelom pok lainnya sebagai irolla (yang berarti orang-orang Ache
yang bukan kaum kita).
Dalam m asyarakat m odern berskala besar yang warga-warganya
ber kelana ke sana-ke m ari di dalam negara m ereka sendiri dan ke se-
keliling dunia, kita m endapat banyak kawan berdasarkan "ke co cokan"
individual, bukan ailiasi kelompok. Sejumlah kawan lama kita adalah
orang-orang yang tum buh besar atau bersekolah bersam a-sam a kita,
nam un yang lainnya adalah orang-orang yang kita jum pai da lam
perjalanan kita. Yang penting dalam perkawanan adalah apakah orang-
orang saling m enyukai dan punya kesam aan m inat, bukan apa kah
kelom pok seseorang bersekutu secara politik dengan kelom pok orang
lain. Kita terim a begitu saja konsep perkawanan pribadi ini se bagai
kewajaran, sehingga baru setelah bertahun-tahun bekerja di Papua-
lah saya m em aham i konsep berbeda m engenai perkawanan yang ada
di m asyarakat-m asyarakat tradisional berskala kecil di Papua m e lalui
suatu insiden.
Insiden itu m elibatkan seorang Papua bernam a Yabu, yang desa-
nya di Dataran Tinggi Tengah telah m enjalankan gaya hidup tradi-
sional sam pai pem erintah m enancapkan kendali di daerah m ereka
dan m engakhiri peperangan antarsuku kira-kira satu dasawarsa sebe-
lum nya. Selam a penelitian terhadap burung yang saya lakukan, saya
m em bawa serta Yabu sebagai salah satu asisten lapangan saya ke per-
http://facebook.com/indonesiapustaka

kem ah an di Dataran Tinggi Tenggara, dan di sana kam i dikunjungi


selam a be berapa hari oleh seorang guru dari Britania bernam a J im .
Yabu dan J im m enghabiskan banyak waktu m engobrol dan bercanda
dengan satu sam a lain, m engingat-ingat cerita panjang-lebar bersam a,
dan tam pak jelas saling m enikm ati keberadaan satu sam a lain. Kota
Dataran Tinggi Tengah tem pat J im m engajar sekolah terletak hanya
beberapa lusin kilom eter dari desa Yabu. Ketika kerja lapangannya
KAWAN, LAWAN, DAN ORANG ASING ● 59

dengan saya sudah selesai, Yabu akan kem bali ke desanya dengan pe-
sawat terbang ke bandara di kota J im dan kem udian pulang ke desa-
nya dengan berjalan kaki. Oleh karena itu, sewaktu J im m e ninggalkan
perkem ahan kam i dan m engucap kan selam at tinggal kepada Yabu dan
saya, J im m elakukan hal yang tam pak sepe nuhnya wajar bagi saya: dia
m engundang Yabu untuk m am pir dan m engunjunginya sewaktu Yabu
pulang m elalui kota J im .
Beberapa hari setelah J im pergi, saya bertanya kepada Yabu apakah
dia berencana m engunjungi J im dalam perjalanannya pulang. Yabu
bereaksi dengan terkejut dan agak tersinggung gara-gara saran saya
yang buang-buang waktu itu: “Mengunjungi dia? Buat apa? Kalau dia
punya tawaran kerja berupah buat aku, aku akan kunjungi dia. Tapi
dia tidak punya kerjaan buatku. Untuk apa aku m am pir ke kotanya dan
m en cari dia hanya dem i ‘perkawanan’!” (Percakapan ini berlangsung
dalam lingua franca Papua Nugini, Tok Pisin; ungkapan Tok Pisin
yang saya terjem ahkan di sini sebagai "hanya dem i perkawanan" adalah
"bilong pren nating".) Saya terkesim a m enyadari bahwa sebelum nya
saya m em buat asum si keliru m engenai hal-hal yang sepertinya uni-
versal bagi m anusia sehingga tidak terpikir sedikit pun oleh saya untuk
m em per ta nyakannya.
Sewajarnya, baru sadarnya saya itu tidak perlu dibesar-besarkan.
Tentu saja, anggota-anggota m asyarakat berskala kecil m enyenangi
se ba gian orang lebih daripada orang-orang lain dalam m asyarakat
m ereka sendiri. Seiring sem akin besar atau terpaparnya m asyarakat
ber skala kecil kepada pengaruh-pengaruh luar yang non-tradisional,
pem ikiran-pem ikiran tradisional berubah, term asuk pandangan m e-
ngenai perkawanan. Terlepas dari itu, saya pikir perbedaan antara
kon sep perkawanan dalam m asyarakat berskala besar (terungkapkan
dalam undangan J im ) dan berskala kecil (terungkapkan dalam reaksi
Yabu) secara rata-rata m erupakan hal nyata. Itu bukan hanya sekadar
perbedaan tanggapan Yabu terhadap orang Eropa dan terhadap orang
Papua. Seperti yang diterangkan kepada saya oleh seorang ka wan
http://facebook.com/indonesiapustaka

Papua yang akrab dengan cara-cara Barat sekaligus cara-cara tra di-
sional Papua, “Di Papua kam i tidak m ain datang m engunjungi orang
tanpa tujuan. Bila kita baru bertem u dan m enghabiskan waktu se-
m inggu bersam a seseorang, bukan berarti kita lantas punya hubungan
atau perkawanan dengan orang itu.” Kontras dengan itu, sedem ikian
ba nyak nya pilihan dalam m asyarakat terwesternisasi berskala besar,
dan seringnya perpindahan geograis kita, memberi kita lingkup yang
60 ● KAWAN, LAWAN, ORANG ASING, DAN SAUDAGAR

lebih luas—dan kebutuhan yang lebih besar—akan hubungan yang


didasari oleh ikatan perkawanan pribadi, bukan kekerabatan, per ni-
kahan, dan kedekatan geograis yang tidak disengaja di masa kanak-
kanak.
Dalam m asyarakat hierarkis besar di m ana ribuan atau jutaan
orang hidup bersam a di bawah payung kedatuan atau negara, norm al
saja bila bertem u orang asing, dan kejadian itu am an lagi tidak m em -
bahayakan. Misalnya, setiap saat saya berjalan melintasi kampus
University of California tem pat saya bekerja atau di jalan-jalan Los
Angeles, tanpa m erasa takut atau terancam ketika berpapasan dengan
ratusan orang yang belum per nah saya lihat, dan m ungkin tak akan
per nah saya lihat lagi, yang tidak punya kekerabatan apa pun yang bisa
ter lacak, entah itu dari keturunan ataupun pernikahan. Tahap awal
perubahan sikap terhadap orang asing itu ditunjukkan oleh orang-
orang Nuer di Sudan, yang sudah saya sebutkan sebagai masyarakat
beranggota se kitar 20 0 .0 0 0 jiwa dan tersusun dalam hierarki beberapa
tingkat mulai dari desa sampai suku. Jelaslah, tidak ada seorang Nuer
pun yang m e ngenal atau pernah m endengar tentang sem ua 199.999
orang Nuer lainnya. Organisasi politik Nuer lemah: setiap desa me-
m iliki seorang datu bergelar kosong dengan hanya sedikit kekuasaan
sungguhan, nanti saya jabarkan di Bab 2. Terlepas dari itu (dalam
kata-kata ahli antropologi E.E. Evans-Pritchard), “Di antara orang-
orang Nuer, dari mana pun asal mereka, dan walaupun mereka asing
bagi satu sam a lain, hubungan ber sahabat dengan segera term antapkan
sewaktu mereka bertemu di luar negara mereka, sebab seorang Nuer
tidak pernah merupakan seorang asing terhadap sesama orang Nuer
seperti dia terhadap seorang Dinka atau seorang Shilluk. Perasaan
superioritas m ereka dan rasa jijik yang m ereka tunjukkan kepada
sem ua orang asing serta kesediaan m ereka untuk m em erangi orang
asing m erupakan ikatan yang m enya tu kan m ereka sem ua, dan bahasa
serta nilai-nilai m ereka yang sam a m e m ungkinkan kom unikasi yang
m udah.”
http://facebook.com/indonesiapustaka

Dengan dem ikian, dibandingkan dengan m asyarakat-m asyarakat


berskala lebih kecil, orang-orang Nuer tidak lagi menganggap orang
asing sebagai m engancam , m elainkan netral atau bahkan berpotensi
menjadi sahabat—asalkan mereka sama-sama orang Nuer. Orang-orang
asing yang bukan orang Nuer bisa jadi diserang (apabila mereka orang
Dinka) atau sem ata dipandang rendah (apabila m ereka tergolong jenis
orang lain m ana pun). Dalam m asyarakat yang lebih besar lagi dengan
KONTAK PERTAMA ● 61

ekonom i pasar, orang asing m em iliki nilai positif potensial sebagai


calon m itra bisnis, pelanggan, pem asok, dan pem beri pekerjaan.

Ko n tak p e rtam a
Bagi m asyarakat-m asyarakat tradisional berskala kecil, pem bagian du-
nia m enjadi kawan dari kelom pok sendiri m aupun kelom pok tetangga,
lawan yang bertetangga, dan orang asing dari tem pat yang lebih jauh
m enyebabkan pengetahuan m ereka tentang dunia bersifat sangat lokal.
Orang-orang m engetahui daerah atau teritori inti m ereka sendiri, dan
m ereka tahu banyak m engenai lingkungan lingkar terdekat di teritori
te tangga berkat kunjungan berdasarkan hak penggunaan tim bal-balik
atau selam a gencatan senjata yang terjadi berselang-seling de ngan per-
musuhan. Namun kecil kemungkinan mereka mengetahui lingkungan
lingkar berikutnya (yang kedua) berupa teritori-teritori di dekat teritori
m ereka sendiri; ketika sedang terjadi perm usuhan dengan orang-orang
di lingkar pertama, mereka tidak bisa menyeberangi lingkar pertama
kala perang guna mencapai lingkar kedua; dan ketika mereka berdamai
de ngan orang-orang di lingkar pertama, orang-orang tersebut mungkin
jus tru sedang bermusuhan dengan tetangga-tetangga di lingkar kedua,
se hingga lagi-lagi mereka tidak bisa mengunjungi tetangga-tetangga itu.
Bahkan berkelana ke teritori-teritori tetangga langsung m ereka
(lingkar pertam a) pada m asa yang dianggap dam ai dapat m enda tang-
kan bahaya. Mereka mungkin tidak menyadari bahwa tetangga-te-
tangga itu baru saja m em ulai perang dengan sekutu lain kelom pok
m e reka, sehingga m ereka pun dianggap sebagai m usuh. Tuan ru-
m ah dan kerabat m ereka di m asyarakat tetangga itu pun m enjadi
tidak bersedia atau tidak mampu melindungi mereka. Misalnya, Karl
Heider, Jan Broekhuijse, dan Peter Matthiessen menjabarkan suatu
insiden yang terjadi pada 25 Agustus 1961, di antara orang-orang Dani
Dugum di Lem bah Baliem . Orang-orang Dani terbagi m enjadi be -
berapa lusin konfederasi, di m ana dua di antaranya, Aliansi Gutelu
dan Aliansi Widaia, bertarung m em perebutkan wilayah Dugum . Di de -
http://facebook.com/indonesiapustaka

kat situ ada konfederasi tersendiri bernam a Asuk-Balek, didirikan oleh


kelom pok pecahan Gutelu yang telah m eninggalkan tanah asal m e reka
dan m engungsi ke sepanjang Sungai Baliem setelah terjadi se jum lah
pertem puran. Em pat laki-laki Asuk-Balek yang bersekutu dengan
Aliansi Widaia m engunjungi dusun Gutelu bernam a Abulopak, di m ana
terdapat dua kerabat dari dua di antara laki-laki Asuk-Balek itu. Na-
m un para pengunjung tidak m enyadari bahwa belum lam a Widaia
62 ● KAWAN, LAWAN, ORANG ASING, DAN SAUDAGAR

m em bunuh dua orang Gutelu, bahwa upaya-upaya terbaru orang-orang


Gutelu gagal m em balas im pas dengan m em bunuh seorang Widaia, dan
bahwa ketegangan di antara orang-orang Gutelu sedang tinggi.
Tibanya orang-orang Asuk-Balek, sekutu Widaia, yang tidak
m enaruh curiga, m em berikan orang-orang Gutelu Abulopak kesem -
patan ter baik kedua untuk m em balas dendam , hanya kalah dari
m em bunuh orang Widaia. Kedua orang Asuk-Balek yang punya
kerabat di Abulopak tidak diapa-apakan, nam un dua laki-laki yang
tidak punya kerabat diserang. Seorang berhasil m eloloskan diri. Yang
satu lagi berlindung di dalam bilik tidur satu pondok, nam un diseret
turun dan ditom bak. Se rangan itu m em icu ledakan suka-ria beram ai-
ram ai di antara orang-orang Abulopak, yang m enyeret tubuh orang
Asuk-Balek yang sebenarnya m a sih hidup itu di sepanjang jalur
berlum pur ke lapangan tari m ereka. Orang-orang Abulopak kem udian
m enari-nari girang m alam itu di sekeliling jenazah laki-laki itu dan
akhirnya m em buangnya ke dalam sa luran irigasi, m endorongnya ke
dalam air, dan m enutupinya dengan rum put. Pagi berikutnya, kedua
orang Asuk-Balek yang m em punyai kerabat orang Abulopak diizinkan
m engam bil jenazah tersebut. Insiden itu m enggam barkan kebutuhan
untuk berhati-hati pada tingkat nyaris paranoia sewaktu m elakukan
perjalanan. Bab 7 akan m enjabarkan lebih lanjut tentang kebutuhan
yang saya istilahkan "paranoia konstruktif" ini.
J arak tradisional perjalanan dan pengetahuan lokal adalah dekat
di daerah-daerah berkepadatan penduduk tinggi dan lingkungan yang
konstan, dan jauh di daerah-daerah dengan kepadatan penduduk
rendah dan lingkungan yang berubah-ubah. Pengetahuan geograis
sangat lokal di Dataran Tinggi Papua, karena kepadatan penduduknya
yang tinggi dan lingkungannya yang relatif stabil. Perjalanan dan pe-
ngetahuan bersifat lebih luas di daerah-daerah dengan lingkungan
stabil na m un dengan populasi yang lebih rendah (m isalnya dataran
rendah Papua dan hutan hujan Afrika yang dihuni oleh orang-orang
Pigm i Afrika), dan lebih luas lagi di daerah-daerah dengan lingkungan
http://facebook.com/indonesiapustaka

yang ber ubah-ubah dan berpopulasi rendah (m isalnya gurun dan


daratan pedalaman Artika). Misalnya, penduduk kepulauan Andaman
tidak tahu apa-apa tentang suku-suku Andam an yang hidup lebih
daripada 30 kilom eter jauhnya dari m ereka. Sebagian besar dunia yang
diketahui orang-orang Dani Dugum terbatas di Lem bah Baliem , yang
sebagian besarnya bisa m ereka lihat dari puncak-puncak bukit, nam un
m ereka hanya bisa m engunjungi sebagian lem bah itu karena Baliem
KONTAK PERTAMA ● 63

terbagi-bagi oleh garis-garis batas pe rang yang bila dilintasi sam a saja
dengan bunuh diri. Orang-orang Pigm i Aka, yang diberi daftar berisi
nam a sam pai 70 tem pat dan ditanyai tem pat m ana saja yang pernah
m ereka kunjungi, tahu hanya separo dari tem pat-tem pat yang terletak
dalam radius 30 kilom eter dan hanya seperem pat dari tem pat-tem pat
yang terletak dalam radius 60 m il. Se benarnya, sewaktu saya tinggal di
Inggris pada 1950 -an dan 1960 -an, banyak orang Inggris yang hidup
di perdesaan dan sepanjang hayat tak pernah keluar dari desa m ereka
atau wilayah sekitarnya, kecuali barangkali pergi ke luar negeri sebagai
prajurit sem asa Perang Dunia I atau II.
Dengan dem ikian, di dalam m asyarakat tradisional berskala kecil,
pengetahuan m engenai dunia di luar tetangga lingkar pertam a atau
lingkar kedua tidak ada atau hanya diperoleh dari orang lain. Misal-
nya, tidak ada penduduk lem bah-lem bah pegunungan yang ber populasi
padat di tengah Papua yang pernah m elihat atau bahkan m en dengar
soal laut, yang terletak dalam jarak hanya 80 sam pai 190 kilom eter.
Dalam perdagangan, penduduk Dataran Tinggi Papua m em ang per-
nah m enerim a cangkang hewan laut dan (setelah tibanya orang-orang
Eropa di pesisir) beberapa kapak baja, yang m ereka hargai sangat
tinggi. Namun cangkang dan kapak itu diperdagangkan dari satu ke-
lom pok ke kelom pok lain, dan dioper-oper m elalui banyak tangan se-
waktu m enem puh perjalanan dari pesisir ke Dataran Tinggi. Seperti
per m ainan telepon anak-anak, berupa anak-anak duduk m em bentuk
barisan atau lingkaran, satu anak m em bisikkan sesuatu ke anak di se-
be lahnya, dan apa yang didengar anak terakhir benar-benar berbeda
daripada apa yang dikatakan anak pertam a, sem ua pengetahuan
m engenai lingkungan dan orang-orang yang m em asok cangkang
dan kapak itu telah lenyap sewaktu benda-benda tersebut m encapai
Dataran Tinggi.
Bagi banyak m asyarakat berskala kecil, keterbatasan-keterbatasan
tradisional m engenai pengetahuan akan dunia itu berakhir secara
tiba-tiba oleh apa yang disebut kontak pertam a, ketika kedatangan
http://facebook.com/indonesiapustaka

kolonialis, penjelajah, pedagang, dan m isionaris Eropa m em buktikan


keberadaan du nia luar yang sebelum nya tidak diketahui. Kelom pok-
kelom pok orang terakhir yang "belum m engalam i kontak" sekarang
adalah beberapa ke lom pok terpencil di Papua dan Am erika Selatan
tropis, nam un kini kelom pok-kelom pok yang tersisa itu setidaknya tahu
m engenai keberadaan dunia luar, sebab m ereka telah m elihat pesawat
yang ter bang di atas m ereka dan telah m endengar soal orang-orang
64 ● KAWAN, LAWAN, ORANG ASING, DAN SAUDAGAR

luar dari kelom pok-kelom pok tetangga m ereka yang telah m engalam i
kontak dengan dunia luar. ("Mengalami kontak" yang saya maksudkan
di sini adalah orang-orang luar yang datang dari jauh, m isalnya orang-
orang Eropa dan Indonesia; tentu saja kelom pok-kelom pok yang
"belum m engalam i kontak" itu telah m engalam i kontak dengan orang-
orang Papua atau Indian Am erika Selatan lain selam a ribuan tahun.)
Misalnya, sewaktu saya berada di pegunungan Papua barat pada 1990-
an, tuan-tuan rum ah saya, yang m engalam i kontak pertam a kali dengan
orang-orang Belanda beberapa dasa warsa sebelum nya, m enceritakan
kepada saya tentang satu kelom pok di sebelah utara m ereka yang
belum m engalam i kontak, dalam pengertian bahwa m ereka belum
pernah dikunjungi oleh misionaris atau orang luar lainnya. (Misionaris
biasanya bersikap hati-hati dengan m engirim kan utusan dari kelom pok
tetangga yang telah m engalam i kontak guna m e na nyakan apakah
m ereka m au m enerim a seorang m isionaris, bukan m enem patkan
diri dalam posisi berbahaya dengan datang tanpa pengum um an.)
Namun orang-orang gunung yang "belum mengalami kontak" itu pas-
tilah telah m engetahui tentang orang-orang Eropa dan orang-orang
Indonesia dari kelom pok-kelom pok tetangga yang "telah m engalam i
kontak" dan m em ang punya kontak dengan kelom pok-kelom pok yang
belum m engalam i kontak. Sebagai tam bahan, kelom pok yang belum
m engalam i kontak telah selam a bertahun-tahun m elihat pesawat
terbang di atas m ereka, m isalnya pesawat yang saya tum pangi sewaktu
tiba di desa tetangga-tetangga m e reka yang telah m engalam i kontak.
Oleh karena itu, kelom pok-kelom pok ter akhir yang belum m engalam i
kontak di dunia sebenarnya tahu bahwa dunia luar itu ada.
Terdapat perbedaan kondisi ketika orang-orang Eropa m ulai m e-
nyebar ke seluruh dunia sejak 1492 M dan "menemukan" orang-orang
jauh sebelum ada pesawat yang bisa terbang di atas kepala m ereka dan
m em buat m ereka m enyadari soal keberadaan dunia luar. Kelak akan
ter bukti bahwa kontak-kontak pertam a berskala besar yang terakhir
ter jadi dalam sejarah dunia adalah yang berlangsung di Dataran Tinggi
http://facebook.com/indonesiapustaka

Papua, di m ana sejak 1930 -an sam pai 1950 -an patroli oleh pem erintah
Australia dan Belanda, serta ekspedisi-ekspedisi peninjauan oleh ten-
tara, perjalanan-perjalanan penjajakan oleh para penam bang, dan
ekspedisi-ekspedisi biologi "m enem ukan" sejuta penduduk Da tar an
Tinggi yang keberadaannya belum diketahui oleh dunia luar dan se-
ba lik nya—walaupun orang-orang Eropa ketika itu telah m engun jungi
dan m endiam i pesisir Papua selam a 40 0 tahun. Sam pai 1930 -an,
KONTAK PERTAMA ● 65

kontak-kontak pertam a di Papua dilakukan oleh orang-orang Eropa


yang m enjelajah m enem bus daratan atau m elalui sungai, dan bukti per-
tam a keberadaan orang Eropa bagi penduduk Dataran Tinggi adalah
kedatangan orang-orang Eropa secara isik. Sejak 1930, semakin sering
pesawat terbang yang m engangkasa m endahului kedatangan kelom pok
yang m elalui jalan darat dan m em peringatkan orang-orang Dataran
Tinggi bahwa ada sesuatu di luar sana. Misalnya, populasi Dataran
Tinggi terpadat di Papua Barat, kira-kira 10 0 .0 0 0 orang di Lem bah
Baliem , "ditem ukan" pada 23 J uni 1938, ketika pesawat terbang
ekspedisi gabungan American Museum of Natural History New York
dan pem erintah kolonial Belanda, dibiayai oleh pewaris raja m inyak
Richard Archbold dan m enjelajahi Papua guna m encari hewan dan
tum buhan, terbang di atas m edan pegunungan yang tadinya dikira
terjal, tertutup hutan, dan tak berpenghuni. Archbold dan tim nya
m alah terkaget-kaget m elihat di bawah m ereka ada lem bah luas,
datar, tak berhutan yang berguratkan jejaring rapat parit irigasi dan
m enyerupai daerah-daerah Belanda yang berpopulasi padat.
Situs-situs terakhir tem pat terjadinya kontak-kontak pertam a ber-
skala besar antara penduduk Dataran Tinggi Papua dan orang-orang
Eropa itu dijabarkan dalam tiga buku yang luar biasa. Yang pertam a,
berjudul First Contact oleh Bob Connolly dan Robin Anderson, m en-
jabarkan tentang patroli oleh para penambang Michael Leahy, Michael
Dwyer, dan Daniel Leahy, orang-orang Eropa per tam a yang m em asuki
sejum lah lem bah Dataran Tinggi berpopulasi pa dat di Papua Tim ur
antara 1930 dan 1935. (Kaum m isionaris Lutheran telah m encapai
tepi tim ur Dataran Tinggi pada 1920 -an). Yang kedua adalah catatan
Michael Leahy sendiri, Explorations into Highland New Guinea, 1930–
1935. Buku yang terakhir adalah The Sky Travelers oleh Bill Gam m age,
yang m enjabarkan patroli pem erintah Australia yang dipim pin oleh J im
Taylor dan J ohn Black yang m en jelajahi bagian barat Dataran Tinggi
Papua Nugini pada 1938 dan 1939. Kedua ekspedisi itu mengambil
banyak foto, dan Michael Leahy juga merekam ilm. Ekspresi ketakutan
http://facebook.com/indonesiapustaka

di wajah orang-orang Papua yang difoto pada saat kontak pertam a itu
m enyam paikan syok kontak per tam a secara lebih baik daripada yang
bisa dilakukan kata-kata m anapun (Gam bar 30 , 31).
Keunggulan buku pertam a dan ketiga yang saya sebutkan tadi
ada lah keduanya m em bahas tentang kesan-kesan yang ditim bulkan
oleh kontak pertam a pada orang-orang Papua dan orang-orang Eropa
yang terlibat. Kedua penulis m ewawancarai orang-orang Papua yang
66 ● KAWAN, LAWAN, ORANG ASING, DAN SAUDAGAR

terlibat dalam peristiwa-peristiwa itu 50 tahun kem udian. Seperti


juga orang-orang lanjut usia di Am erika akan selam anya m engingat
apa yang m ereka lakukan saat berlangsungnya tiga peristiwa paling
traum atis dalam sejarah Am erika m odern—serangan J epang ter hadap
Pearl Harbor pada 7 Desem ber 1941, pem bunuhan Presiden Kennedy
pada 22 November 1963, dan serangan World Trade Center pada 11
Septem ber 20 0 1—dem ikian pula orang-orang Papua berusia lebih
daripada 60 tahun pada 1980 -an m engingat dengan je las bagaim ana
m ereka sewaktu anak-anak untuk pertam a kalinya m e lihat orang-orang
kulit putih yang m erupakan anggota patroli Leahy-Dwyer pada 1930 .
Inilah kisah salah seorang Papua itu: “Laki-laki yang lebih besar ini
[m enunjuk ke dua laki-laki lanjut usia]—m e reka sudah tua sekarang—
saat itu mereka masih muda, dan belum menikah. Mereka belum
bercukur. Itulah saat orang-orang kulit pu tih datang... Aku begitu
ketakutan, aku tidak bisa berpikir dengan lan car, dan aku m enangis
tidak karuan. Ayahku m enarik tanganku dan kam i bersem bunyi di
belakang rum put kunai yang tinggi. Lalu dia m e ne gak kan tubuh dan
m engintip ke arah orang-orang kulit putih itu... Begitu m ereka lenyap,
orang-orang [kam i, orang-orang Papua] duduk dan m engarang-
ngarang cerita. Mereka tidak tahu apa-apa soal orang berkulit putih.
Kam i belum pernah pergi ke tem pat-tem pat yang jauh. Kam i hanya
tahu sisi pegunungan yang ini, dan kam i pikir hanya kam ilah m a nusia
yang ada di dunia. Kam i percaya bahwa ketika seseorang m e ninggal,
kulitnya berubah m enjadi putih, dan dia pergi ke perbatasan ‘tem pat
itu’—tempatnya orang-orang mati. Maka ketika orang-orang asing itu
datang kam i berkata: ‘Ah, orang-orang ini bukan penghuni dunia ini
lagi. Jangan bunuh mereka—mereka kerabat kita sendiri. Mereka yang
telah m ati akan berubah m enjadi putih, dan pulang.”
Sewaktu m elihat orang-orang Eropa untuk pertam a kali, para
pen duduk Dataran Tinggi Papua berusaha m encocokkan m akhluk-
m akhluk yang terlihat aneh itu dengan kategori-kategori yang m ereka
ke tahui dalam pandangan m ereka sendiri m engenai dunia. Pertanyaan-
http://facebook.com/indonesiapustaka

per tanyaan yang m ereka ajukan kepada diri sendiri m encakup: Apa-
kah makhluk-makhluk ini manusia? Mengapa mereka datang ke
sini? Mereka mau apa? Sering kali, orang-orang Papua menganggap
orang-orang kulit putih sebagai "orang-orang langit": m anusia seperti
orang-orang Papua juga, tapi konon m enghuni langit, yang berniaga,
ber kasih-sayang, dan berperang dengan orang-orang Papua nam un
hidup abadi, yang m erupakan roh atau arwah nenek m oyang, dan
PERDAGANGAN DAN PEDAGANG ● 67

yang kadang-kadang m engam bil wujud m anusia berkulit m e rah atau


putih dan turun ke Bum i. Pada kontak pertam a, orang-orang Papua
dengan saksam a dan penuh selidik m em perhatikan orang-orang Eropa,
perilaku m ereka, dan sisa-sisa yang m ereka tinggalkan di perkem ahan
m ereka, dem i m encari-cari bukti m engenai apa se be nar nya m ereka.
Dua tem uan yang sangat m eyakinkan orang-orang Papua bahwa
orang-orang Eropa sebenarnya m anusia adalah tahi yang dikum pulkan
dari jam ban perkem ahan ternyata m irip dengan tahi m anusia biasa
(alias tahi orang-orang Papua); dan bahwa gadis-gadis m uda Papua
yang ditawarkan kepada orang-orang Eropa itu sebagai m itra seks
m elaporkan bahwa orang-orang Eropa m em iliki organ-organ ke lam in
dan m elakukan seks secara m irip dengan laki-laki Papua.

Pe rd agan gan d an p e d agan g


Satu lagi hubungan antara m asyarakat-m asyarakat yang bertetangga,
se lain m em pertahankan perbatasan, berbagi sum ber daya, dan ber-
perang, adalah perdagangan. Saya jadi m enghargai canggihnya per-
dagangan di antara m asyarakat-m asyarakat tradisional ketika saya m e-
la ku kan survei terhadap burung di 16 pulau di Selat Vitiaz, lepas pantai
tim ur laut Papua. Kebanyakan pulau itu sebagian besarnya m asih ter-
tu tup hutan, hanya dengan beberapa desa, yang m asing-m asing terdiri
atas rum ah-rum ah yang berjarak beberapa puluh m eter satu sam a
lain, dan m enghadap ke ruang terbuka publik yang luas. Oleh karena
itu sewaktu saya mendarat di satu pulau bernama Malai, saya terpana
ka rena kekontrasannya. Saya m erasa seolah-olah saya m endadak di-
terjunkan dengan parasut ke Manhattan versi skala kecil. Rumah-
rum ah kayu tinggi berlantai dua, berdem petan rapat satu sam a lain,
nyaris bersisi-sisian bagaikan sederetan rumah perkotaan di New York;
m ereka laksana pencakar langit dibandingkan dengan pondok-pondok
berlantai satu yang m endom inasi desa-desa lain di pulau-pulau Selat
Vitiaz. Sam pan-sam pan kayu besar yang ditarik ke atas pantai m eng-
ingatkan kepada m arina di Dunia Pertam a yang seluruh derm aganya
http://facebook.com/indonesiapustaka

habis disewakan. Di depan rum ah-rum ah itu, terlihat orang-orang yang


jauh lebih banyak jum lahnya daripada yang pernah saya lihat di area
kecil di m ana pun di Selat Vitiaz. Sensus tahun 1963 m enghitung po-
pulasi Malai sebanyak 448 jiwa, yang kemudian dibagi dengan luas
daerah Malai sebesar 0,83 kilometer persegi, menghasilkan kepadatan
po pu lasi sebesar 540 jiwa per kilom eter persegi, lebih tinggi daripada
negara Eropa m ana pun. Sebagai perbandingan, bahkan Belanda,
68 ● KAWAN, LAWAN, ORANG ASING, DAN SAUDAGAR

negara ber pen duduk paling padat di Eropa, hanya m enyokong 497 jiwa
per kilom eter persegi.
Hunian yang luar biasa itu dim iliki oleh para pedagang jarak jauh
Siassi yang terkenal, yang m enjelajah dalam sam pan-sam pan m ereka
sam pai 480 kilom eter jauhnya m elalui lautan yang ganas, m em bawa
babi, an jing, kuali, m anik-m anik, obsidian, dan berbagai barang
lain. Mereka memberikan layanan kepada masyarakat-masyarakat
yang m ereka kunjungi, berupa pasokan barang-barang kebutuhan
dan m ewah itu. Seraya ber buat baik bagi orang-orang lain, m ereka
juga m enjadi m akm ur, m en da patkan sebagian m akanan m ereka
sen diri dan m enjadi luar biasa kaya m e nurut standar Papua, yang
m engukur kekayaan dengan patokan jum lah babi. Satu kali pelayaran
dapat m enghasilkan keuntungan 90 0 %, dengan cara m enukar setiap
ekor babi di perhentian pertam a (Pu lau Um boi) dengan 10 bungkus
sagu, m enukar 10 bungkus sagu itu di perhentian kedua (Desa Sio,
daratan utam a Papua) dengan 10 0 kuali, dan m enukar 10 0 kuali itu
di per hentian berikutnya di Britania Baru dengan 10 ekor babi, yang
dibawa pulang ke Malai dan disantap dalam jamuan upacara. Secara
tradisional, tidak ada pertukaran uang tunai, sebab sem ua m asyarakat
itu tidak m em iliki uang tunai. Sam pan bertiang dua m ilik Siassi, yang
bisa m encapai panjang 18 m eter dan kedalam an badan 1,5 m eter,
serta berdaya angkut kira-kira dua ton, m e ru pa kan adikarya teknologi
perahu layar kayu (Gam bar 32).
Bukti arkeologis m enunjukkan bahwa nenek m oyang kita pada
Zam an Es telah berdagang sejak puluhan ribu tahun lalu. Situs-situs
Cro-Magnon di pedalaman Eropa Kala Pleistosen mengandung ambar
Laut Baltik dan cangkang kerang Laut Tengah yang diangkut ribuan
kilom eter ke daratan pedalam an, ditam bah obsidian, batu api, jasper,
dan bebatuan keras lain yang sangat cocok untuk pem buatan per-
kakas batu dan diangkut ratusan kilom eter jauhnya dari situs-situs
per tam bangan aslinya. Hanya segelintir m asyarakat tradisional m o-
dern yang dilaporkan sebagai m asyarakat yang secara garis besar
http://facebook.com/indonesiapustaka

berswasem bada dan hanya sedikit berdagang atau bahkan tidak sam a
sekali, termasuk orang-orang Nganasan penggembala rusa kutub
di Siberia dan orang-orang Indian Siriono di Bolivia seperti yang
dipelajari oleh Allan Holm berg. Kebanayakan m asyarakat tradisional,
seperti sem ua m a syarakat m aju, m engim por sebagian barang. Se-
perti yang kita akan lihat, m asyarakat-m asyarakat tradisional yang
sebe narnya bisa berswasem bada pun biasanya m em ilih untuk tidak
PERDAGANGAN DAN PEDAGANG ● 69

m elakukan itu dan se ba lik nya m alah m em ilih untuk m em anfaatkan


perdagangan guna m em peroleh sejum lah barang yang sebenarnya bisa
m ereka peroleh atau buat sendiri.
Sebagian besar perdagangan dalam masyarakat-masyarakat tra-
disional berskala kecil adalah perdagangan jarak pendek antara ke-
lompok-kelompok yang bertetangga, sebab peperangan yang seben-
tar-sebentar terjadi m enyebabkan perjalanan dagang m elalui be berapa
populasi yang berbeda berbahaya. Bahkan para pedagang jarak jauh
Siassi yang m enggunakan sam pan berhati-hati agar m endarat hanya di
desa-desa yang telah m em antapkan hubungan dagang dengan m ereka.
Bila m e reka terbawa arus atau m engalam i patah tiang layar dan
terpaksa m en darat di pesisir yang dihuni orang-orang yang tidak punya
hubungan se m acam itu dengan m ereka, kem ungkinan m ereka akan
dibunuh karena dianggap penerobos, dan barang-barang m ereka disita
oleh penduduk desa yang tidak peduli soal berbaik-baik dan ingin
kunjungan lebih lanjut.
Perdagangan tradisional berbeda dalam beberapa segi dengan
m etode m odern kita untuk m endapat barang dari orang lain, seperti
membeli dengan uang di toko. Misalnya, zaman sekarang tak mungkin
terpikir oleh seorang pelanggan yang m em beli m obil baru di distributor
untuk langsung m em bawa pergi m obil tersebut tanpa m em bayar apa-
apa atau m enandatangani kontrak, m e ninggalkan si penjual hanya
dengan kepercayaan bahwa pada suatu waktu kelak sang pelanggan
akan m em utuskan untuk m em berinya barang dengan nilai setara.
Namun modus operandi yang mengejutkan itu umum ditemukan di
kalangan m asyarakat tradisional. Tapi, be berapa ciri perdagangan
tradisional pastilah akrab dengan para pem belanja m odern, terutam a
besarnya proporsi belanjaan yang dim aksudkan sebagai sim bol status
yang tidak punya kegunaan fungsional ataupun keterlaluan m ahalnya,
m isalnya perhiasan dan pakaian karya perancang. Oleh karena itu
m arilah kita m ulai dengan m enggam barkan apa yang dengan segera
dirasakan aneh oleh orang-orang tradisional yang sebelum nya tidak
http://facebook.com/indonesiapustaka

pernah terlibat dalam ekonom i pasar kita yang m em anfaatkan uang.


Sejum lah penduduk Dataran Tinggi Papua yang baru saja berkontak
dengan dunia luar diterbangkan ke kota-kota pe sisir di Papua untuk
m engalam i gegar budaya. Apa yang dipikirkan oleh para penduduk
Dataran Tinggi itu sewaktu m ereka berkenalan dengan cara kerja
ekonom i pasar kita?
70 ● KAWAN, LAWAN, ORANG ASING, DAN SAUDAGAR

Eko n o m i p as ar
Kejutan pertam a bagi para penduduk Dataran Tinggi adalah m e nem u-
kan bahwa m etode paling utam a kita dalam m em peroleh suatu ben-
da bukanlah m elalui barter, m elainkan m em bayarnya dengan uang
(Gam bar 33). Tidak seperti kebanyakan barang yang dipertukarkan
da lam perdagangan tradisional, uang tidak punya nilai intrinsik, tidak
juga dianggap benda m ewah yang cantik seperti perhiasan kita atau
m angkuk dagangan Siassi, yang bernilai untuk dipertukarkan atau
disim pan dan dikagum i sebagai sim bol status. Satu-satunya kegu-
naan uang adalah untuk dibelanjakan dan ditukar dengan benda-
benda lain. Selain itu, tak seperti m angkuk dagang Siassi, yang boleh
dibuat oleh siapapun yang m enghuni desa-desa tertentu asalkan m e-
m iliki ketram pilan yang m en cukupi, uang diterbitkan hanya oleh
pem erintah: bila seorang warga negara Dunia Pertam a yang m e m iliki
ketram pilan yang dibutuhkan plus alat percetakan, m encoba m em an-
faatkan ketram pilannya untuk m e ner bitkan uang sendiri, dia akan
dipenjarakan sebagai pem alsu uang.
Metode barter tradisional yang sebelumnya umum, dua orang
m em pertukarkan barang-barang yang diinginkan satu sam a lain tan-
pa langkah perantara berupa m em bayar uang kepada pihak ketiga,
kini lebih jarang ditem ukan di antara m asyarakat m odern. Sebalik-
nya, se jum lah m asyarakat tradisional m enggunakan objek-objek ber-
nilai m anasuka dalam cara yang terkadang nyaris m enyam ai cara pe-
m an faatan uang. Contohnya antara lain penggunaan cangkang kerang
m u tiara bibir em as oleh orang-orang Kaulong di Britania Baru, dan
cakram-cakram batu besar oleh penduduk Pulau Yap di Mikronesia.
Para penduduk Dataran Tinggi Papua m enggunakan cangkang bilalu,
se m entara orang-orang di Selat Vitiaz m enggunakan m angkuk kayu
ber ukir, sebagai alat pertukaran, term asuk m em bayar sebagian m as
kawin dengan tarif tertentu: sekian cangkang atau m angkuk, plus
barang-barang lain, untuk satu pengantin perempuan. Namun benda-
ben da itu tetap berbeda dengan uang, sebab m ereka hanya digunakan
http://facebook.com/indonesiapustaka

untuk m em bayar barang-barang tertentu (bukan untuk sekadar


m em beli ubi untuk m akan siang), dan m ereka juga m erupakan ben-
da m ewah m enarik untuk disim pan dan dipam erkan. Tak seperti pen-
du duk Dataran Tinggi Papua, orang-orang Am erika yang punya uang
$ 10 0 m enyim pan uang secara tersem bunyi dalam dom pet sam pai tiba
wak tunya digunakan, dan tidak berkeliaran berkalungkan uang kertas
yang dironce agar bisa dilihat sem ua orang.
EKONOMI PASAR ● 71

Ciri kedua ekonom i pasar kita yang akan m engejutkan banyak m a-


syarakat tradisonal adalah bahwa proses kita m em beli sesuatu dipan-
dang secara eksplisit sebagai suatu pertukaran, di m ana penyerahan
suatu barang lain oleh pem beli (biasanya uang), dianggap sebagai pem -
bayaran, bukan hadiah timbal-balik. Nyaris selalu, si pembeli langsung
m em bayar saat m em peroleh barang, atau setidaknya m e nyetujui harga
bila pem bayaran akan dilakukan nantinya secara m en cicil. Bila penjual
setuju untuk m enunggu pem bayaran yang dila ku kan kelak entah itu
secara sebagian atau lunas, seperti dalam ba nyak pem belian m obil
baru, pem bayaran itu tetap saja m erupakan ke wajiban yang ditentukan
sebelum nya, bukan hadiah tim bal-balik yang dilakukan nantinya
sesuka si pem beli. Kontras dengan prosedur ini adalah kasus im ajiner
berupa seorang penjual m obil "m em berikan" m obil kepada seorang
pelanggan dan m engharapkan untuk suatu hari nanti m em peroleh
hadiah yang tidak ditentukan sebelum nya: kita akan anggap transaksi
semacam itu absurd. Namun kita akan lihat bahwa memang begitulah
caranya perdagangan dilangsungkan oleh banyak m a sya rakat
tradisional.
Ciri ketiga adalah bahwa sebagian besar transaksi pasar kita ber-
langsung di antara pem beli dan seorang perantara profesional khusus
("salesm an") dalam fasilitas profesional khusus ("toko"), bukan an-
tara pem beli dan pem asok aslinya di dekat rum ah salah satu di an tara
mereka. Model lebih sederhana yang bekerja di tingkat terendah hie-
rarki ekonom i kita terdiri atas transaksi langsung beli-putus di m ana
seorang penjual m engiklankan dagangannya (dengan tanda di de pan
rum ahnya, iklan koran, atau pengum um an di eBay) dan m enjual rum ah
atau m obilnya secara langsung kepada pem beli yang telah m em pe lajari
iklan. Berkebalikan dengan itu, m odel rum it pada tingkat ter tinggi
hierarki ekonom i kita terdiri atas penjualan antar-pem erintah, seperti
kontrak antar-pem erintah tentang ekspor-im por m inyak, atau pen jual-
an senjata oleh negara-negara Dunia Pertam a ke negara-negara lain.
Sem entara bentuk transaksi pasar kita m em ang berm acam -m acam ,
http://facebook.com/indonesiapustaka

dalam sem ua variasi sang pem beli dan sang penjual biasanya hanya
m e m iliki sedikit hubungan pribadi yang berlangsung di luar transaksi,
atau malah tidak sama sekali. Mereka mungkin sebelumnya tidak per-
nah m elihat atau berurusan dengan satu sam a lain, m ereka m ungkin ti-
dak akan pernah saling berurusan lagi, dan hal yang m ereka pedulikan
paling-paling adalah barang-barang yang dipertukarkan (belanjaan dan
uang), bukan soal hubungan m ereka. Bahkan dalam kasus-kasus di
72 ● KAWAN, LAWAN, ORANG ASING, DAN SAUDAGAR

m ana pem beli dan penjual berulang-ulang m elakukan transaksi dengan


satu sam a lain, seperti m isalnya pem beli yang m engunjungi kios pasar
se orang petani tertentu setiap m inggunya, yang nom or satu adalah
tran saksinya, hubungan hanyalah nom or dua. Kita akan lihat bahwa
fakta dasar ekonom i pasar, yang diterim a oleh para pem baca buku ini
se bagai hal yang sewajarnya, kerap kali tidak berlaku bagi m asyarakat
tra disional berskala kecil, di m ana pihak-pihak yang terlibat bukanlah
penjual atau pem beli profesional, hubungan antara kedua pihak itu
terus berlangsung, dan m ereka m ungkin m enganggap barang yang
diper tukarkan sebagai tidak ada artinya dibandingkan dengan hu bung-
an pribadi yang diperkuat oleh pertukaran itu.
Ciri keem pat ekonom i pasar berkaitan dengan ciri ketiga: keba-
nyakan pasar profesional beroperasi baik secara terus-m enerus m au-
pun secara teratur dan sering. Um um nya, satu toko buka setiap hari
kecuali hari Minggu, sementara pasar petani beroperasi mingguan (mi-
salnya pada Rabu pagi). Kontras dengan itu, banyak perdagangan tra di-
sional berskala kecil m em pertem ukan pihak-pihak yang berbeda se cara
jarang, paling-paling hanya sekali setahun atau bahkan sekali se tiap
beberapa tahun.
Ciri pasar berikutnya sebenarnya sam a, bukan beda, dengan per-
dagangan oleh m asyarakat tradisional ber skala kecil. Dalam kedua
jenis perdagangan, benda-benda yang diper da gangkan berkisar dari
yang secara m aterial penting ("ke bu tuhan") sam pai yang secara
m aterial tidak berguna ("barang m ewah"). Di satu ekstrem adalah
benda-benda yang m em fasilitasi atau m utlak dibu tuhkan untuk ke-
langsungan hidup, m isalnya m akanan, pakaian hangat, serta per-
kakas dan m esin. Di ekstrem yang berseberangan ada benda-benda
yang tidak berkaitan dengan kelangsungan hidup nam un dihargai
sebagai barang m ewah, sebagai hiasan, untuk hiburan, atau untuk
m elam bangkan status, m isalnya perhiasan dan perangkat televisi. Di
daerah abu-abu ter dapat benda-benda yang berguna secara m aterial,
nam un yang ter sedia baik sebagai barang fungsional bergengsi rendah
http://facebook.com/indonesiapustaka

berharga m u rah atau sebagai barang bergengsi tinggi berharga m ahal


dengan fungsi yang sama. Misalnya, tas jinjing sintetis berharga $10
dan tas jinjing Gucci dari kulit berharga $ 2.0 0 0 yang sam a-sam a bisa
dipakai un tuk m em bawa barang, nam un tas Gucci m elam bangkan
status se m entara tas sintetis tidak. Contoh ini sudah m em berikan
petunjuk bah wa kita tidak boleh m em berikan cap tidak berguna bagi
benda-benda m ewah yang secara m aterial "tidak berguna": status yang
EKONOMI PASAR ● 73

dilam bangkannya m ungkin m endatangkan m anfaat m aterial yang


besar, m isalnya kesem patan bisnis atau m erayu calon pasangan yang
berkualitas. Kisaran "ketidakbergunaan" yang sam a telah ada da lam
perdagangan terawal yang ada bukti arkeologisnya: orang-orang Cro-
Magnon berpuluh-puluh ribu tahun lalu melakukan pertukaran mata
tom bak dari obsidian yang dibutuhkan untuk berburu hewan, cangkang
kerang dan am bar yang berm anfaat hanya untuk hiasan, serta m ata
tom bak dari kwarsa bening yang cantik dan diasah halus. Orang-orang
Cro-Magnon barangkali tidak menggunakan mata tombak kwarsa
untuk berburu sehingga berisiko patah, seperti tidak terpikir oleh kita
untuk m enggunakan tas jinjing Gucci guna m em bawa pulang belanjaan
berupa ikan yang m asih berbau am is dari pasar.
Ciri terakhir pasar m odern adalah ciri yang sering kali dite m u kan
juga dalam perdagangan tradisional, nam un dalam kasus-kasus lain
digantikan oleh m asyarakat tradisional dengan perilaku yang nya ris
tidak pernah terjadi sebelum nya di antara orang-orang m odern. Kita
m em beli sesuatu terutam a sem ata karena kita m enginginkan ben da itu
(bukan untuk m em perkokoh hubungan pribadi dengan penjual), dan
kita m em belinya dari seseorang yang m elengkapi kita secara ekonom is
dan dapat m enjual sesuatu kepada kita yang tidak bisa kita peroleh atau
buat sendiri. Misalnya, konsumen biasa yang bukan petani tidak bisa
m em peroleh apel sendiri: m ereka harus m em beli apel dari petani apel
atau dari toko grosir. Petani apel pun m em beli jasa m edis dan hu kum
dari dokter dan petani yang m em iliki pengetahuan m edis dan hu kum
yang tidak dim iliki oleh petani apel. Tidak ada petani apel yang m en-
jual apel kepada dan m em beli apel dari pedagang lain sem ata un tuk
m em pertahankan hubungan baik dengan para petani apel lain. Kita
akan lihat bahwa m asyarakat-m asyarakat tradisional berskala kecil,
seperti konsum en dan penyalur m odern, sering kali m em ang m em -
per dagangkan benda-benda yang dapat diperoleh salah satu pihak se-
m entara pihak lain tidak punya akses terhadapnya (m isalnya, jenis batu
yang hanya tersedia di daerah tertentu), dan m ereka m em per dagang-
http://facebook.com/indonesiapustaka

kan benda-benda yang cara pem buatannya dipaham i salah satu pihak
nam un tidak dipaham i oleh pihak yang lain (m isalnya, sam pan dari
batang pohon yang canggih untuk berlayar di laut). Namun mereka
juga banyak m em perdagangkan benda-benda yang sam a-sam a tersedia
bagi kedua pihak, dan m ereka m elangsungkan perdagangan itu guna
m em pertahankan hubungan dem i alasan-alasan politik dan sosial.
74 ● KAWAN, LAWAN, ORANG ASING, DAN SAUDAGAR

Be n tu k-be n tu k trad is io n al p e rd agan gan


Sejauh ini, kita telah m em pelajari perdagangan dari sudut pandang
anggota-anggota m asyarakat tradisional, dan apa yang akan m ereka
anggap berbeda dan m engejutkan, atau m alah akrab dengan m ereka,
dalam ekonomi pasar. Mari kita kaji mekanisme-mekanisme yang
ber ke se suaian dalam perdagangan tradisional. Saya sudah sebutkan
sebelum nya bagaim ana, bukannya perdagangan dengan uang seperti
kita, m e reka berdagang m elalui pertukaran barang, dan terkadang
dengan m enggunakan benda-benda berharga seperti cangkang bilalu
dalam cara yang agak serupa dengan uang. Sekarang, m ari kita kaji
hal-hal tra disional yang setara dengan ciri-ciri lain ekonom i pasar yang
sudah kita bahas.
Meskipun dalam sebagian kasus masyarakat tradisional mene-
go siasikan pertukaran-pertukaran eksplisit, dan benda-benda itu di-
per tukarkan pada waktu bersam aan, dalam kasus-kasus lain satu
pihak m enghaturkan hadiah, sehingga sang penerim a m en jadi ber-
ke wa jiban m em berikan hadiah dengan nilai sebanding, suatu saat
yang tidak ditentukan pada m asa depan. Bentuk paling se der hana
pem berian hadiah secara tim bal-balik dilangsungkan oleh para pen-
duduk Kepulauan Andam an (Gam bar 4), dengan hanya sedikit selang
waktu antara kedua sisi transaksi. Salah satu kelom pok lokal m eng-
undang satu atau beberapa kelom pok lokal lainnya untuk jam uan
yang berlangsung beberapa hari, dan tam u yang hadir akan m em bawa
hadiah-hadiah seperti busur, anak panah, beliung, keranjang, dan
tanah liat. Tam u m enyerahkan suatu benda kepada tuan rum ah,
yang tidak bisa m enolak hadiah itu nam un kem udian diharapkan un-
tuk m em berikan sesuatu yang setara nilainya. Bila hadiah kedua ti-
dak m em enuhi harapan sang tam u, sang tam u bisa m enjadi m arah.
Ter kadang si pem beri, sewaktu m enyerahkan hadiah, m enyebutkan
hadiah yang dia inginkan sebagai balasannya, nam un itu tidak um um
terjadi. Di antara orang-orang Indian Yanom am o di Am erika Selatan,
pem berian hadiah tim bal-balik juga dikaitkan dengan jam uan di m ana
http://facebook.com/indonesiapustaka

satu kelom pok m engundang kelom pok tetangganya. Pem berian hadiah
tim bal-balik ala Yanom am o berbeda dari adat Andam an dalam hal
hadiah kedua, yang harus berupa barang yang berbeda jenisnya dari
hadiah pertam a, diberikan pada jam uan berikutnya. Setiap hadiah
Yanom am o diingat lam a sesudahnya. Selang waktu antara hadiah per-
tam a dan kedua berarti bahwa kewajiban yang terkum pul berperan
sebagai alasan terus-m enerus bagi desa-desa yang bertetangga untuk
BENTUK-BENTUK TRADISIONAL PERDAGANGAN ● 75

saling berkunjung dem i m enghadiri jam uan, karena sebagian pendu-


duk di satu desa selalu berutang hadiah kepada sebagian penduduk
desa lain sejak pertem uan terakhir m ereka.
Di antara orang-orang Inuit di Alaska barat laut, orang-orang
Agta di Filipina (Gam bar 3), penduduk Kepulauan Trobriand, dan
orang-orang !Kung, m asing-m asing orang telah m engenali m itra-
m itra dagang untuk ber tukar hadiah. Setiap orang Inuit punya antara
satu sam pai enam m itra sem acam itu. Para pem buru-pengum pul
Agta m em iliki hubungan de ngan keluarga-keluarga petani Filipina,
sem entara pem buru-pengum pul Pigm i Afrika dengan petani Bantu,
dan hubungan-hu bungan itu diwariskan dari generasi ke generasi.
Setiap penduduk Ke pu lauan Trobriand yang berlayar dengan kano
untuk berdagang m e m iliki seorang m itra dagang di setiap pulau
yang dikunjungi. Kepada si m itra, dia m em berikan hadiah, dan dia
lantas m engharapkan hadiah yang setara dari orang tersebut dalam
kunjungan berikutnya setahun ke m udian. Sistem dagang jarak-jauh
orang-orang !Kung yang disebut hxaro bersifat khas karena setiap
orang m em iliki lusinan m itra dagang, dan juga khas karena selang
waktu yang lam a antara pem berian hadiah dan penerim aan hadiah
yang setara ketika kedua pihak bertem u kali berikutnya, biasanya
berbulan-bulan atau bertahun-tahun kem udian.
Siapakah para pedagang, dan dalam kondisi-kondisi apa serta se-
be rapa sering m ereka bertem u? Dalam m asyarakat berskala kecil,
se tiap orang berdagang. Tapi, dalam kedatuan-kedatuan besar dan
negara-negara awal dengan spesialisasi peran ekonom i, m un cullah
para pedagang profesional seperti para pedagang m odern kita, se-
suai dengan yang terdokum entasikan oleh catatan-catatan sejak ke-
m unculan tulisan 4.0 0 0 atau 5.0 0 0 tahun lalu di Tim ur Dekat. Satu
lagi fenom ena m odern dengan pendahulu di m asyarakat-m a sya ra-
kat yang lebih sederhana adalah m asyarakat yang seluruhnya ter spe-
sialisasi berdagang. Penduduk Pulau Malai yang "pencakar langit"-nya
m engejutkan saya hidup di pulau yang terlalu kecil untuk m enyediakan
http://facebook.com/indonesiapustaka

segala makanan yang mereka butuhkan. Mereka pun menjadi


perantara, produsen barang, dan pedagang antarpulau, sehingga bisa
m em peroleh m akanan yang m ereka butuhkan. De ngan dem ikian Pulau
Malai adalah model bagi Singapura modern.
Form at dan frekuensi perdagangan tradisional berm acam -m acam .
Pada tingkat paling sederhana ada perjalanan yang ter kadang-kadang
dilakukan oleh individu-individu !Kung dan Dani guna m engunjungi
76 ● KAWAN, LAWAN, ORANG ASING, DAN SAUDAGAR

individu mitra dagang mereka di kawanan atau dusun lain. Mirip


dengan pasar luar ruang dan pasar loak kita, ada pasar m usim an yang
m en jadi ajang pertem uan penduduk desa Sio di pesisir Papua tim ur
laut de ngan orang-orang Papua dari desa-desa yang jauh dari pesisir.
Sam pai beberapa lusin orang dari m asing-m asing pihak duduk berjejer
ber hadap-hadapan. Seorang penduduk desa yang jauh dari pesisir
m en dorong m aju noken yang berisi antara 5 sam pai 15 kilogram talas
dan ubi jalar, sem entara penduduk Sio yang duduk di hadapannya
m e nanggapi dengan m enawarkan sejum lah kuali dan kelapa yang
dianggap setara nilainya dengan sekantong m akanan itu. Para peda-
gang ber sam pan dari Kepulauan Trobriand m enyelenggarakan pasar-
pasar serupa di pulau-pulau yang m ereka kunjungi, bertukar barang-
barang kebutuhan (m akanan, kuali, m angkuk, dan batu) m elalui barter,
dan pada waktu yang sam a m ereka dan m itra-m itra dagang individual
m ereka saling bertukar hadiah berupa barang m ewah (kalung dan
gelang dari cangkang kerang).
Kawanan-kawanan Pulau Andaman dan desa-desa Indian Yanomamo
mengatur pertemuan dengan selang waktu tidak teratur un tuk jam uan
berhari-hari yang berperan sebagai ajang bertukar hadiah. Orang-
orang Inuit Alaska barat laut m enyelenggarakan pekan da gang m u sim
panas dan pekan duta m usim dingin di m ana kelom pok-ke lom pok yang
tadinya m erupakan m usuh pada waktu lain da lam setahun bisa duduk
dam ai bersam a-sam a selam a satu atau dua pekan untuk berdagang
dan berpesta. Masyarakat-masyarakat dengan spesialisasi sebagai pe-
dagang bersam pan, m isalnya penduduk Ke pu lauan Siassi, Kepulauan
Trobriand, Pulau Mailu di Papua tenggara, dan orang-orang Indonesia
(Makassar) yang mengunjungi Australia utara untuk memperoleh
teripang dem i m em enuhi kebutuhan pasar sup Tiongkok, m engirim kan
kelom pok-kelom pok saudagar sejauh ratusan atau bahkan ribuan
kilom eter untuk m enyeberangi lautan dalam perjalanan-per ja lan an
dagang tahunan.
http://facebook.com/indonesiapustaka

D agan gan trad is io n al


Dalam hal barang-barang yang dipertukarkan dalam perdagangan,
kita bisa saja m em ulai m em bahasnya dengan m em bagi m enjadi dua
ka te gori: barang-barang kebutuhan (seperti m akanan dan perkakas)
ver sus barang-barang m ewah (seperti cangkang bilalu dan cincin ber-
lian). Namun dikotomi ini menjadi abu-abu begitu kita mencoba me-
nerapkannya. Seperti yang ditulis oleh ahli ekonom i Frank Knight,
DAGANGAN TRADISIONAL ● 77

“Di antara sem ua kesalahpaham an keliru dan absurd yang sedem ikian
m erusak diskusi ekonom i dan sosial, barangkali yang paling parah
adalah pe m ikiran... bahwa penafsiran m engenai m anfaat, atau kegu-
naan, dari segi kelestarian biologis atau isik memiliki arti penting yang
besar pada tingkat manusia.” Misalnya, mobil BMW tak diragukan lagi
m erupakan kem ewahan dan sim bol status, nam un tetap bisa digunakan
untuk pergi ke pasar, dan citra yang ditam pilkannya m ungkin penting
bagi pem iliknya guna m em peroleh uang dengan m elancarkan bisnis
atau m erayu calon pasangan. Itu juga berlaku bagi m angkuk kayu
berukir yang cantik buatan orang-orang Siassi, yang digunakan untuk
m enam pung sayur-m ayur dalam jam uan nam un juga m erupakan
sim bol status yang wajib ada ketika m em beli istri di wilayah Selat
Vitiaz. Sedangkan babi sejauh ini m e ru pa kan sim bol status paling
berharga di Papua. Ini m engilham i ucapan Thom as Harding, “Soal
babi, kita juga bisa katakan bahwa hal paling tidak penting yang bisa
dilakukan seseorang terhadapnya adalah sem ata-m ata m enyantapnya.”

Tabe l 1.1. Baran g-baran g yan g d ip e rd agan gkan o le h s e ju m lah


m as yarakat trad is io n al

“BARAN G
“KEBU TU H AN ” “ABU -ABU ”
MEW AH ”

Bahan m entah Produk jadi

Cro - batu cangkang


Magn o n kerang,
( Ero p a oker, am ber
Zam an Es )
http://facebook.com/indonesiapustaka

D aribi garam kapak batu asah bulu burung


( Pap u a)

D an i garam , batu, bilah kapak dan jala berwarna- cangkang


( Pap u a) kayu beliung, serat warni, anak kerang
kulit kayu panah berhiasan
78 ● KAWAN, LAWAN, ORANG ASING, DAN SAUDAGAR

“BARAN G
“KEBU TU H AN ” “ABU -ABU ”
MEW AH ”

En ga garam , batu, tali kulit kayu babi cangkang


( Pap u a) kayu, bam bu kerang, bulu
burung,
tebu,
m inyak
pohon, oker,
genderang

Ke p u lau an batu, ikan, ubi sagu kuali, m angkuk kalung dan


Tro brian d ungu berukir gelang dari
( Pap u a) cangkang
kerang

Ke p u lau an obsidian, talas sagu, noken, kuali, m angkuk, gigi babi dan
Sias s i busur dan anak babi, anjing, anjing, cat,
( Pap u a) panah, sam pan tikar oker, m anik-
m anik, sirih,
tem bakau

Calu s a kuali, daging cangkang


( Am e rika anjing laut dan kerang, gigi
U tara) paus hiu

Kam ch atka daging, jam ur,


( Sibe ria) bulu, urat, kulit
hewan

Pigm i daging, jam ur, jala, busur, kuali tem bakau,


Afrika besi, m adu, m ata tom bak alkohol
hasil panen logam
kebun
http://facebook.com/indonesiapustaka

!Ku n g daging, besi, kuali logam , anak panah, tem bakau,


( Afrika) m adu, bulu, kuali tanah liat pakaian kalung,
kulit hewan pipa, m anik-
m anik
DAGANGAN TRADISIONAL ● 79

“BARAN G
“KEBU TU H AN ” “ABU -ABU ”
MEW AH ”

Ke p u lau an besi, kayu, beliung, tali, cangkang


An d am an m adu, tanah liat busur dan kerang, cat,
( As ia) untuk kuali anak panah, sirih
keranjang

Yo ln gu kapak logam , teripang cangkang


( Au s tralia) pisau, kail ikan, kerang,
paku, tom bak, cangkang
sam pan, kura-kura,
pakaian, roti biji tem bakau,
pakis alkohol

In u it N o rth batu, bulu, wadah kayu, produk kayu, gading


Slo p e kayu hanyutan, rangka perahu, produk batu, tas
m inyak anjing pemmican
laut, kulit dan
lem ak paus, ter

Terlepas dari segala kritik itu, bila kita disodori daftar yang berisi
59 barang dagangan, tetap lebih baik bila kita m enggolong-go longkan
m ereka daripada m enum pukkan m ereka m enjadi satu da lam daftar
yang berantakan. Oleh karena itu Tabe l 1.1. m em berikan contoh-
contoh barang-barang dagangan dalam 13 m asyarakat berskala kecil,
dibagi-bagi m enjadi em pat kategori: barang-barang yang ber m an faat
langsung untuk m em pertahankan hidup, m em peroleh m akanan, dan
kebutuhan sehari-hari, dibagi lagi m enjadi bahan m entah versus pro-
duk jadi; benda-benda m ewah atau hiasan yang tidak berm anfaat lang-
sung bagi kelangsungan hidup; dan kategori antara bagi barang-barang
yang berkegunaan m aterial nam un juga m enjadi lam bang status yang
m e naik kan nilai barang jauh di atas nilai m aterial benda dengan ke-
http://facebook.com/indonesiapustaka

gunaan sam a nam un bukan m erupakan lam bang status (m isalnya jaket
kasm ir bila dibandingkan dengan jaket sintetis m urah dengan ukuran
dan kehangatan yang serupa).
Tabel 1.1 m enunjukkan bahwa jenis-jenis tertentu bahan-bahan
m en tah berguna telah diperdagangkan oleh banyak m asyarakat di se-
lu ruh dunia: terutam a batu, dan yang lebih baru lagi logam , untuk
m em buat perkakas dan senjata; ditam bah garam , m akanan, kayu,
80 ● KAWAN, LAWAN, ORANG ASING, DAN SAUDAGAR

kulit dan bulu hewan, ter untuk m enam bal kebocoran, dan tanah liat
untuk m em buat kuali. Produk-produk jadi berguna yang um um di-
per dagangkan antara lain perkakas dan senjata jadi, keranjang dan
m acam -m acam wadah lain, serat untuk anyam an, tas dan jala dan
tali, kain dan pakaian, serta m akanan olahan seperti roti, sagu, dan
pemmican (daging awetan). Daftar panjang barang-barang m ewah
dan hiasan, terkadang diperdagangkan sebagai bahan m entah, tapi
lebih sering lagi berupa produk jadi, berisi antara lain bulu burung;
cangkang m oluska dan kura-kura, baik sebagai bahan m entah m aupun
dibuat m enjadi kalung dan gelang; am ber; gigi anjing, babi, dan hiu;
gading gajah dan walrus; m anik-m a nik; cat dan bahan cat, m isalnya
oker m erah dan oksida m angan hitam ; m inyak pohon; serta stim ulan
seperti tembakau, alkohol, dan sirih. Misalnya, pada 2.000 tahun
silam para pedagang spesialis jarak jauh dari Asia sudah m em bawa
bulu cendrawasih dari Papua ke Tiongkok, dan bulu-bulu itu dari sana
diperdagangkan sam pai sejauh Persia dan Turki. Terakhir, barang-
barang dagangan yang berguna sekaligus m e wah antara lain babi,
teripang, rem pah-rem pah, dan berbagai m akanan bergengsi lainnya
(versi tradisional kaviar bagi orang m odern); serta produk-produk
jadi yang cantik nam un juga berguna sem isal ge ra bah, busur dan anak
panah berukiran, serta tas, pakaian, dan tikar ber hiasan.
Tabel 1.1 dan pem bahasan sebelum nya tidak m enyertakan dua ka-
te gori hal penting lainnya yang m ungkin ditawarkan oleh seseorang ke-
pada orang lain nam un yang biasanya tidak kita hitung sebagai barang
da gangan: tenaga kerja dan pasangan nikah. Orang-orang pigm i di hu-
tan hujan Afrika terkadang bekerja untuk para petani Bantu tetangga
mereka, demikian pula orang-orang Negrito di hutan Agta yang bekerja
untuk para petani Filipina, serta sejak baru-baru ini sebagian orang
!Kung terkadang bekerja untuk para penggem bala Bantu. Itu ada lah
bagian besar tatanan quid pro quo yang m engatur bahwa kelom pok-
kelom pok pelanja itu m enerim a besi plus hasil kebun atau susu dari
tetangga-tetangga m ereka yang m em produksi m akanan, se ba gai ba-
http://facebook.com/indonesiapustaka

lasan bagi produk-produk hasil berburu-m engum pul plus te na ga kerja.


Kebanyakan m asyarakat yang bertetangga betukar pasangan nikah,
terkadang sebagai pertukaran berbarengan secara langsung (kam u beri
aku saudarim u, kuberi kam u saudariku), lebih sering lagi sebagai tin-
dakan terpisah (kam u beri aku saudarim u sekarang, nanti kuberi kam u
adik perem puanku setelah dia m ulai m enstruasi). Di antara orang-
orang Pigm i di hutan hujan Afrika (foto 8) dan petani-petani Bantu
SIAPA BERDAGANG APA? ● 81

tetangga m ereka, perpindahan pasangan nikah sem acam itu sepertinya


hanya searah, dengan perem puan-perem puan diperistri oleh laki-laki
Bantu tapi tidak sebaliknya.
Itulah kategori-kategori utam a barang-barang yang dipertukarkan.
Kalau soal siapa yang m em perdagangkan apa kepada siapa, orang-
orang Daribi di Papua, yang hidup dalam kepadatan penduduk rendah
di daerah yang m asih sangat berhutan di tepi lem bah-lem bah Dataran
Tinggi yang berpopulasi padat dan telah gundul, m engirim kan ekspor
ke pada orang-orang Dataran Tinggi berupa bulu burung cendrawasih,
yang berlim pah di hutan-hutan Daribi, ditukar dengan garam dan ka-
pak batu berasah yang diim por dari Dataran Tinggi. Kelom pok-ke lom -
pok Pigm i di hutan hujan Afrika m engekspor produk-produk hu tan
seperti m adu, daging hewan buruan, dan jam ur ke para petani Bantu
tetangga m ereka, yang m enyediakan m akanan hasil kebun, kuali, besi,
tem bakau, dan alkohol yang m ereka im por. Di wilayah Selat Vitiaz,
para penghuni pulau m engekspor gigi babi, anjing, sagu, sirih, tikar,
m anik-m anik, obsidian, dan oker m erah kepada penghuni daratan
utam a, yang m enyediakan babi, gigi anjing, talas, tem bakau, kuali,
noken, busur dan anak panah, serta cat hitam yang m ereka im por.
Dalam perdagangan antara orang-orang Inuit Alaska yang hidup di
pesisir dan pedalam an lereng utara Alaska, orang-orang pesisir bisa
m enawarkan produk-produk m am alia laut seperti m inyak anjing laut
untuk bahan bakar dan m akanan, kulit anjing laut dan walrus, lem ak
paus, dan gading walrus, plus kayu hanyutan yang ditem ukan di pantai
dan wadah kayu, serta gerabah dan tas yang m ereka buat. Penghuni
pedalam an sebagai balasannya dapat m enyediakan kulit, kaki, dan
tanduk karibu, kulit bulu serigala dan m am alia darat lainnya, ter untuk
m enam bal kebocoran, serta pemmican dan beri-berian.

Siap a be rd agan g ap a?
Contoh-contoh barang-barang yang diperdagangkan ini menggam bar-
kan suatu pola yang kita, orang-orang modern, terima sebagai suatu
http://facebook.com/indonesiapustaka

ke wajaran, sebab merupakan ciri dari nyaris semua perdagangan ma sa


kini: masing-masing mitra menyediakan barang-barang yang dia miliki
atau dapat buat dengan mudah, namun tidak dimiliki oleh mitra yang
satu lagi. Bahan mentah, dan ketrampilan yang dibutuhkan un tuk mem-
buat produk jadi, sama-sama tersebar secara tidak merata di se lu ruh
dunia. Misalnya, Amerika Serikat merupakan eksportir utama makanan
mentah dan pesawat pabrikan di dunia, sebab kami dapat mengha sil-
82 ● KAWAN, LAWAN, ORANG ASING, DAN SAUDAGAR

kan makanan dan membuat pesawat dalam jumlah melebihi ke butuh -


an kami sendiri. Tapi, AS merupakan importir minyak, sebab kami tidak
menghasilkan cukup minyak untuk memenuhi ke bu tuhan kami sendiri,
se mentara sejumlah negara lain (misalnya Arab Saudi) mengha silkan
minyak dalam jumlah melebihi yang mereka bu tuh kan. Ke tidak se im-
bangan bahan mentah dan ketrampilan se ma cam itu juga men cirikan
banyak, bila bukan semua, perdagangan tra disional.
Kalau soal bahan m entah yang tersebar secara tidak m erata, pola
yang um um adalah m asing-m asing kelom pok orang yang bertetangga
na m un m enem pati habitat yang berbeda-beda m em asok kelom pok
lainnya dengan bahan m entah yang hanya ditem ukan atau lebih ber-
lim pah di habitat sang eksportir. Banyak contoh m encakup per da-
gangan antara orang-orang pesisir dan pedalam an. Dalam m asing-
m asing ka sus, seperti yang saya jabarkan di dua paragraf di atas
m engenai orang-orang Inuit Alaska, m itra dari pesisir m em iliki akses
preferensial atau satu-satunya terhadap sum ber daya laut atau pesisir,
seperti m am alia laut, ikan, dan cangkang kerang, sem entara m itra dari
pedalam an m em iliki akses preferensial atau satu-satunya terhadap
sum ber daya darat seperti binatang buruan, kebun, dan hutan.
Satu lagi pola yang um um adalah perdagangan bahan-bahan m en-
tah yang sangat lokal namun tidak terikat pada tipe habitat spesiik,
ter utam a garam dan batu. Orang-orang Dani Dugum m em peroleh se-
m ua garam m ereka dari kolam air asin Iluekaim a, dan sem ua batu un-
tuk kapak dan beliung dari satu pertambangan di Cekungan Nogolo,
sementara untuk sebagian besar Pasiik Barat Daya, sumber utama
obsidian (gelas vulkanik yang digunakan untuk m em buat artifak-artifak
batu paling tajam ) adalah tam bang-tam bang di dekat Talasea di pulau
Britania Baru. Obsidian Talasea pun diperdagangkan di wilayah yang
m em bentang lebih daripada 6.0 0 0 kilom eter, dari Kalim antan, 3.0 0 0
kilom eter di sebelah barat Talasea sam pai Fiji, 3.0 0 0 kilom eter di
sebelah tim ur Talasea.
Pola terakhir yang um um dalam perdagangan berbagai jenis bahan
http://facebook.com/indonesiapustaka

m entah berbeda m elibatkan kelom pok-kelom pok bertetangga dengan


strategi-strategi bertahan hidup yang berbeda-beda, m em beri m ereka
akses ke bahan yang berbeda-beda. Di banyak tem pat di berbagai pen-
juru dunia, pem buru-pengum pul m enawarkan daging, m adu, resin,
dan produk-produk hutan lainnya yang m ereka buru dan kum pulkan
ke para petani di desa-desa dekat m ereka, ditukar dengan bahan pa-
ngan yang dibudidayakan penduduk desa. Contoh-contohnya antara
SIAPA BERDAGANG APA? ● 83

lain para pem buru bison di padang rum put dan para petani Pueblo di
AS Barat daya, para pemburu Semang dan petani Melayu di Malaysia
Barat, dan berbagai hubungan pem buru-pengum pul di India, juga para
Pigm i pem buru di Afrika dan petani Bantu, serta orang-orang Agta
pem buru dan para petani Fillipina seperti yang sudah saya jabarkan.
Ada hubungan-hubungan dagang serupa antara penggem bala dan pe-
tani di banyak bagian Asia dan Afrika, serta antara penggem bala dan
pem buru-pengum pul di Afrika.
Perdagangan tradisional, seperti perdagangan m odern, kerap
kali juga m elibatkan ketram pilan yang tidak tersebar secara m erata.
Satu contohnya adalah m onopoli lokal atas gerabah dan sam pan laut
yang dinikmati oleh para penghuni Pulau Mailu di lepas pantai Papua
tenggara, yang dipelajari oleh ahli etnograi Bronislaw Malinowski.
Meskipun gerabah awalnya juga diproduksi oleh para penduduk
daratan utama Papua di dekat situ, orang-orang Mailu meraih mono-
poli ekspor karena m enem ukan cara m em produksi m assal kuali-kuali
yang lebih halus, tipis, dan bergaya baku. Kuali-kuali sem acam itu
menguntungkan para pembuat kuali Mailu maupun para pelanggan
pengguna kuali m ereka. Kuali yang tipis m em ungkinkan pem buat kuali
m enghasilkan lebih banyak kuali dari tanah liat berjum lah tertentu,
m e ngeringkan kuali dengan lebih cepat, dan m engurangi risiko ke-
rusakan sewaktu kuali sedang dibakar. Sedangkan bagi pelanggan
pengguna kuali, mereka lebih menyukai kuali Mailu yang tipis karena
m em butuhkan lebih sedikit bahan bakar sewaktu dipakai m em asak,
dan isi kuali pun m endidih lebih cepat. Secara serupa, pen duduk
Pulau Mailu memperoleh monopoli dalam pembuatan dan peng-
operasian sam pan laut jarak jauh, yang lebih rum it dan m em butuh-
kan lebih banyak ketram pilan dalam pem buatannya diban dingkan
sam pan sederhana yang m em buat penduduk daratan utam a hanya
dapat m elakukan perjalanan pendek di perairan pesisir yang lebih
aman. Monopoli produksi yang sebanding dengan itu dinikmati se-
ribu tahun lalu oleh para pem buat porselin dan kertas dari Tiongkok,
http://facebook.com/indonesiapustaka

sam pai rahasia-rahasia produksi m ereka bocor atau ditiru. Dalam za-
m an m odern yang penuh m ata-m ata industri dan penyebaran pe nge -
ta huan, sulit untuk m em pertahankan m onopoli dalam waktu lam a.
Tapi, Am erika Serikat untuk waktu singkat (em pat tahun) m e nik m ati
m onopoli pem buatan bom atom (yang tidak kam i ekspor), dan Am erika
Serikat dan Eropa kini m endom inasi pasar dunia dalam pem buatan
pesawat jet kom ersial yang sangat besar (kalau yang ini, kam i ekspor).
84 ● KAWAN, LAWAN, ORANG ASING, DAN SAUDAGAR

J enis perdagangan tradisional terakhir, yang jarang ada paralelnya


kini, disebut "m onopoli konvensional". Istilah ini m engacu kepada per-
dagangan suatu barang yang dapat diperoleh atau dibuat oleh kedua
pihak, nam un salah satu di antara m ereka m em utuskan untuk ber-
gantung kepada pasokan dari m itra yang satu lagi, sebagai alasan un-
tuk mempertahankan hubungan dagang. Misalnya, barang-barang
yang diterim a Dani Dugum dari daerah J alem o antara lain adalah anak
panah kayu dengan kait dan dekorasi rum it, ditam bah noken de ngan
serat anggrek berwarna cerah dianyam di sekeliling talinya. Orang-
orang Dani sendiri m em buat anak panah dan tas sederhana yang tidak
berhiasan. Bila di depan m ereka ada anak panah atau tas J alem o, orang
Dani bisa dengan sem purna m enirunya, sebab tingkat ke tram pilan
mengukir atau menganyam yang dibutuhkan tidaklah tinggi. Namun
orang-orang Dani m alah terus bergantung kepada daerah J alem o de-
m i m em peroleh im por anak panah dan tas, m aupun bahan-bahan
dari hutan yang dim iliki daerah secara J alem o dalam jum lah lebih
berlim pah daripada di wilayah Dani. Pengakuan Dani akan "m onopoli
konvensional" J alem o atas anak panah dan tas berhiasan m engun-
tungkan bagi kedua pihak karena m em bantu m enyeim bangkan efek-
efek luktuasi penawaran dan permintaan. Orang-orang Jalemo bisa
terus m em peroleh garam dari Dani m eskipun hasil panen produk hutan
J alem o sedang turun, sedangkan orang-orang Dani bisa terus m enjual
garam ke orang-orang J alem o m eskipun perm intaan Dani akan produk
hutan sedang berlebihan.
Monopoli konvensional yang lebih rumit ditemukan di antara
orang-orang Indian Yanom am o Brazil dan Venezuela, serta di antara
orang-orang Indian Xingu Brazil. Masing-masing desa Yanomamo
bisa ber swasem bada, nam un tidak m elakukannya. Tiap desa justru
m enjadi spesialis m enghasilkan suatu produk yang m ereka tawarkan
kepada sekutu-sekutu m ereka, antara lain m ata anak panah, batang
anak panah, keranjang, busur, kuali tanah liat, benang katun, anjing,
obat-obatan halusinogenik, ataupun ranjang gantung. Serupa dengan
http://facebook.com/indonesiapustaka

itu, m asing-m asing desa Xingu m enjadi spesialis m enghasilkan dan


m engekspor busur, gerabah, garam , sabuk cangkang kerang, atau
tom bak. Bila Anda pikir bahwa kebanyakan de sa Yanom am o betul-
betul tidak bisa m em buat gerabah Yanom am o yang kasar dan tak
berhiasan, tengoklah perubahan belum lam a ini da lam cara desa
Mömariböwei-teri memperoleh kuali. Pada awalnya, Mömariböwei-
teri m engim por kuali dari desa lain yang m erupakan se kutu politik
SIAPA BERDAGANG APA? ● 85

mereka, Möwaraöba-teri. Sebagai penjelasan, para penduduk desa


Mömariböwei-teri dulu dengan berapi-api bersikeras bahwa mereka
tidak tahu cara m em buat kuali, bahwa dulu m ereka m e m ang m em buat
kuali nam un sudah lupa cara m elakukannya, bahwa tanah liat di daerah
m ereka toh tidak bagus untuk m em buat kuali, dan bahwa m ereka
memperoleh semua kuali yang mereka butuhkan dari Möwaraöba-
teri. Namun kemudian perang memutuskan persekutuan antara
Mömariböwei-teri dan Möwaraöba-teri, sehingga Mömariböwei-teri
tidak lagi bisa mengimpor kuali dari Möwaraöba-teri. Secara ajaib,
para penduduk desa Mömariböwei-teri mendadak "ingat" bagaimana
m e reka dahulu kala m em buat kuali, m endadak "m enem ukan" bahwa
tanah liat di daerah m ereka yang tadinya dijelek-jelekkan ternyata
bagus sekali untuk m em buat kuali, dan kem bali m em buat kuali sendiri.
Dengan demikian, jelaslah bahwa penduduk desa Mömariböwei-teri se-
belumnya mengimpor kuali dari Möwaraöba-teri karena pilihan (men-
jalin persekutuan politik), bukan karena kebutuhan.
Bahkan lebih jelas lagi bahwa orang-orang !Kung terlibat dalam
per da gangan ekstensif anak panah sebagai pilihan, karena sem ua orang
!Kung m em buat anak panah yang serupa, yang tetap saja m ereka saling
per dagangkan bolak-balik. Ahli antropologi Richard Lee m em inta
em pat laki-laki !Kung untuk m em beritahunya siapa pem ilik asli m a-
sing-m asing anak panah yang berjum lah 13 sam pai 19 batang dalam
tem pat anak panah m ereka. Di antara keem pat laki-laki itu, hanya satu
(Kopela Maswe) yang tidak memiliki anak panah dari orang lain. Satu
laki-laki (/N!au) memiliki 11 anak panah dari total empat orang laki-
laki lain, dan hanya 2 anak panah m ilik nya sendiri. Kedua laki-laki
lain (/Gaske dan N!eishi) tidak memiliki anak panah sendiri: alih-alih,
m asing-m asing m em bawa anak panah dari enam laki-laki lain.
Apa arti penting m onopoli konvensional dan perdagangan anak
pa nah itu, yang tam paknya tidak berm akna bagi kam i orang-orang
Barat yang terbiasa berjual-beli hanya dem i barang-barang yang ti-
dak bisa kam i peroleh sendiri? Terbukti, perdagangan tradisional m e -
http://facebook.com/indonesiapustaka

m iliki fungsi sosial dan politik, selain ekonom i: bukan hanya un tuk
m em peroleh barang-barang itu sem ata, m elainkan juga untuk "m en-
ciptakan" perdagangan dem i tujuan-tujuan sosial dan politik. Barang-
kali tujuan yang paling utam a adalah m em perkuat persekutuan atau
ikatan yang bisa dimintai tolong bila dibutuhkan. Mitra-mitra dagang
di antara orang-orang Inuit Alaska barat laut m em iliki kewajiban untuk
s aling m endukung bila dibutuhkan: seandainya di wilayah kita terjadi
86 ● KAWAN, LAWAN, ORANG ASING, DAN SAUDAGAR

ke laparan, kita berhak m endatangi m itra dagang kita di wilayah lain


un tuk tinggal bersam anya. Para Agta pem buru yang "berdagang" di
antara m ereka sendiri atau dengan para petani Filipina m enganggap
per tukaran yang m ereka lakukan sebagai didasari oleh kebutuhan, bu-
kan penawaran dan perm intaan: m ereka m engganggap bahwa m itra-
m itra yang berbeda kem ungkinan m em iliki kelebihan atau kekurangan
pada waktu yang berbeda-beda, dan hasil akhirnya dalam jangka pan-
jang akan seim bang, sehingga m ereka tidak m em buat catatan secara
ter perinci. Setiap pihak dalam pertukaran yang dilakukan orang-orang
Agta m em berikan pengorbanan besar pada waktu m itranya m engalam i
krisis, m isalnya ketika ada upacara pernikahan atau pem akam an,
topan, ataupun kegagalan panen atau per buruan. Bagi orang-orang
Yanom am o, yang terlibat dalam pepe rangan terus-m enerus, per se ku-
tuan yang berkem bang m elalui perda gangan secara teratur m enya tu -
kan tetangga-tetangga dalam sua sana bersahabat; itu jauh lebih pen-
ting bagi kelangsungan hidup daripada kuali dan ranjang gantung yang
diper dagangkan—m eskipun tidak ada orang Yanom am o yang akan ber-
kata terang-terangan bahwa fungsi sesungguhnya perdagangan adalah
m em pertahankan persekutuan.
Sejum lah jejaring dan upacara perdagangan—m isalnya cincin Kula
para penduduk Kepulauan Trobriand, siklus pertukaran serem onial Tee
di antara orang-orang Enga di Dataran Tinggi Papua, dan jejaring per-
dagangan Siassi yang saya jumpai secara tak sengaja di Pulau Malai—
m enjadi cara-cara utam a untuk m em peroleh dan m enam pilkan status
di m asyarakat m ereka m asing-m asing. Barangkali terlihat konyol bagi
kita bahwa penduduk Kepulauan Siassi m enghabiskan berbulan-bu lan
m em bawa kargo dengan sam pan m elalui lautan yang berbahaya se mata
agar bisa berpesta besar-besaran pada akhir tahun dengan menyantap
sebanyak mungkin babi—sampai kita merenungkan apa yang penduduk
Ke pulauan Siassi mungkin katakan mengenai orang-orang Amerika
modern yang kerja keras banting tulang demi memamerkan permata dan
mobil sport.
http://facebook.com/indonesiapustaka

N e gara-n e gara m u n gil


Dengan dem ikian, m asyarakat tradisional m asa lalu, dan yang bertahan
sampai zaman modern, berperilaku seperti negara mungil. Mereka
m em pertahankan teritori atau daerah inti m ilik sendiri, m engunjungi
dan m enerim a tam u dari sebagian negara lain nam un m enolak keda-
tangan negara lain,dan dalam beberapa kasus m enetapkan, m em per -
NEGARA-NEGARA MUNGIL ● 87

tahankan, dan berpatroli di perbatasan seketat negara-negara m odern.


Masyarakat tradisional memiliki pengetahuan yang jauh lebih terba-
tas m engenai dunia luar daripada warga negara m odern, yang sem a-
kin banyak m enggunakan televisi, telepon genggam , dan Inter net
guna m em pelajari bagian-bagian lain dunia m eskipun m e reka tidak
pernah meninggalkan kampung halaman mereka sendiri. Masya-
rakat tradisional m enggolong-golongkan kelom pok-kelom pok lain
secara lebih tajam sebagai lawan, kawan, dan orang asing, lebih dari-
pada yang dilakukan Korea Utara sekalipun kini. Terkadang m e reka
saling mengawini dengan orang-orang dari negara lain. Mereka ber-
dagang dengan satu sam a lain, seperti juga negara-negara m odern, dan
dorongan politik m aupun sosial m em ainkan peran yang bah kan lebih
besar lagi dalam hubungan dagang m ereka daripada yang kita lakukan
dalam perdagangan. Dalam tiga bab berikutnya, kita akan pelajari ba-
gaim ana negara-negara tradisional m ungil ini m em per ta han kan per-
dam aian, dan bagaim ana m ereka berperang.
http://facebook.com/indonesiapustaka
http://facebook.com/indonesiapustaka
http://facebook.com/indonesiapustaka

BAG IAN

PERANG
DUA

DAMAI DAN
http://facebook.com/indonesiapustaka
BAB 2

Kompensasi atas Kematian Seorang Anak

Kecelakaan ▪ Upacara ▪ Bagaimana jika...? ▪ Apa yang negara lakukan


▪ Kompensasi di Papua ▪ Hubungan seumur hidup ▪ Masyarakat-
masyarakat bukan-negara lainnya ▪ Kewenangan negara ▪ Peradilan
perdata negara ▪ Cacat-cacat dalam peradilan perdata negara
▪ Peradilan pidana negara ▪ Peradilan restoratif ▪ Keunggulan-
keunggulan dan harga yang harus dibayarkan

Ke ce lakaan
Suatu petang m enjelang akhir m usim kem arau, m obil yang dikendarai
seorang laki-laki bernama Malo secara tidak sengaja menabrak dan
m enewaskan seorang anak sekolah, Billy, di satu jalan di Papua
Nugini. Billy sedang dalam perjalanan pulang dari sekolah dalam
m inibus um um (bukan bis sekolah khusus), dan pam annya Genjim p
sedang menunggu di seberang jalan untuk menjemputnya. Malo, supir
perusahaan kecil setem pat, sedang m em bawa pu lang staf kantor yang
pulang kerja dan sedang berkendara ke arah yang berlawanan dengan
m inibus yang m engangkut Billy. Ketika Billy m e lom pat turun dari
m inibus, dia m elihat Pam an Genjim p dan m ulai ber lari m enyeberangi
http://facebook.com/indonesiapustaka

jalan untuk m endekatinya. Tapi ketika m e nye be rangi jalan, Billy bukan
berjalan di depan m inibus, yang akan m em buatnya bisa terlihat dari
mobil Malo dan para pengemudi lain. Billy malah berlari di belakang
minibus sehingga tidak terlihat, dan baru tampak oleh Malo sewaktu
Billy melesat ke tengah jalan. Malo tidak bisa menginjak rem tepat pada
waktunya, dan m oncong m obilnya m enghantam kepala Billy sam pai
anak itu terlem par ke udara. Pam an Genjim p langsung m em bawa
92 ● KOMPENSASI ATAS KEMATIAN SEORANG ANAK

Billy ke ruang gawat darurat rum ah sakit, na m un Billy m engem buskan


napas terakhir beberapa jam kem udian akibat cedera kepala parah.
Di Am erika Serikat, pengem udi yang terlibat dalam kecelakaan se-
rius diharapkan tetap berada di tem pat kejadian perkara sam pai po-
lisi tiba: bila dia angkat kaki dan tidak m elapor ke polisi, dia dianggap
m e la rikan diri, dan itu dianggap sebagai kejahatan. Tapi, di Papua
Nugini, juga di beberapa negara lain, hukum membolehkan, dan polisi
serta akal sehat juga m endesak, agar pengem udi tidak tetap ber ada di
TKP m elainkan langsung m enuju ke kantor polisi terdekat. Itu karena
orang-orang di sekitar yang m arah m ungkin m enyeret sang pengem udi
yang m enabrak dari m obilnya dan m em ukulinya sam pai m ati di
tem pat itu juga, bahkan kalaupun kecelakaan itu adalah ke salahan si
pejalan kaki. Risiko bagi Malo dan para penumpangnya semakin besar,
karena Malo dan Billy berasal dari dua kelompok etnis yang berbeda,
yang di Papua Nugini sering kali merupakan sumber ketegangan.
Malo adalah penduduk setempat dari desa di dekat situ, sementara
Billy adalah penduduk dataran rendah yang kam pung halam annya
terletak berkilo-kilom eter jauhnya. Banyak pen du duk dataran rendah
yang telah berm igrasi ke daerah itu untuk bekerja, hidup di sekitar
tempat kecelakaan itu terjadi. Bila Malo berhenti dan keluar dari
m obilnya untuk m enolong anak itu, dia m ungkin diha bisi oleh orang-
orang dataran rendah yang ada di sekitar situ, dan ba rangkali para
penumpangnya juga akan diseret keluar dan dibunuh. Namun Malo
m asih cukup waras sehingga dia m enuju ke kantor polisi terdekat
dan m enyerahkan diri. Polisi m engurung para penum pangnya untuk
sem entara di kantor itu dem i keselam atan m ereka sendiri, dan m eng-
antarkan Malo demi keselamatannya ke desanya, dan dia pun tetap di
situ selam a beberapa bulan setelahnya.
Peristiwa-peristiwa yang terjadi berikutnya m enunjukkan bagai-
m ana orang-orang Papua, seperti banyak kelom pok m anusia tradi-
sional yang hidup nyaris sepenuhnya di luar kontrol efektif sistem per-
adilan yang ditetapkan oleh pem erintahan negara, tetap saja m ene-
http://facebook.com/indonesiapustaka

tapkan ke adilan dan secara dam ai m enyelesaikan perselisihan m elalui


mekanisme-mekanisme tradisional mereka sendiri. Mekanisme-me-
ka n ism e pe nyelesaian perselisihan itu barangkali bekerja sepanjang
prasejarah m anusia, sam pai m uncul negara-negara dengan hukum
tertulis, pengadilan, hakim , dan polisi sejak 5.40 0 tahun lalu. Kasus
Billy dan Malo kontras dengan kasus yang akan saya bahas di bab
berikutnya, ka sus yang juga dipecahkan m elalui cara tradisional,
UPACARA ● 93

nam un berlawanan de ngan cara yang digunakan dalam kasus Billy


dan Malo: melalui pembunuhan untuk balas dendam dan perang.
Bergantung pada kondisi dan pihak-pihak yang terlibat, perselisihan
dalam m asyarakat tradisional bisa diselesaikan entah itu secara dam ai,
atau m elalui perang bila pro ses dam ai buyar atau tidak diupayakan.
Proses dam ai m elibatkan apa yang disebut "kom pensasi". (Seperti
yang akan kita lihat, terjem ahan ke dalam Bahasa Inggris yang biasa
digunakan untuk istilah Papua itu m enyesatkan; m ustahil m engom -
pen sasi kem atian seorang anak, dan bukan itu tujuannya. Istilah da-
lam lingua franca Nugini, Tok Pisin, adalah sori m oney , berarti
"uang penyesalan", dan terjem ahan itu lebih sesuai, sebab secara pas
m enggam barkan uang yang dibayarkan sebagai wujud duka atau per-
m intaan m aaf yang juga dirasakan atas apa yang telah terjadi.) Kasus
m e ngenai kom pensasi tradisional setelah tewasnya Billy diceritakan
ke pa da saya oleh seorang laki-laki bernam a Gideon, yang ketika itu
m erupakan m anajer kantor setem pat perusahaan yang m em pekerja-
kan Malo sebagai supir, dan peserta dalam proses yang terjadi sesudah-
nya. Ternyata mekanisme peradilan tradisional Nugini memiliki
tujuan-tujuan yang secara m endasar berbeda dengan tujuan-tujuan
sistem peradilan negara. Meskipun saya setuju bahwa peradilan ne-
ga ra m em berikan m anfaat besar dan m utlak diperlukan untuk m e-
nyele saikan banyak perselisihan di antara warga negara, terutam a
per se lisihan antara orang-orang yang tidak saling m engenal, saya kini
m erasakan bahwa m ekanism e-m ekanism e peradilan tradisional da pat
m engajari kita banyak hal tentang perselisihan bila pihak-pihak yang
terlibat bukanlah orang yang sam a sekali asing, m elainkan akan tetap
terkunci dalam suatu hubungan yang terus berlangsung setelah per-
selisihan itu diselesaikan: m isalnya tetangga, orang-orang yang ber-
hubungan bisnis, orangtua yang bercerai, dan kakak-adik yang ber-
selisih soal harta warisan.

U p acara
http://facebook.com/indonesiapustaka

Karena ada risiko anggota-anggota klan Billy akan m encoba m em balas


dendam terhadap Malo, Gideon, dan para pegawai lain di perusahaan
m e reka, Gideon m em beritahu staf agar tidak m asuk kerja keesokan
hari setelah kecelakaan. Gideon sendiri tetap berada sendirian di
kantornya, dalam kom pleks gedung yang berpagar dan berpenjaga,
hanya beberapa ratus m eter dari rum ah tem pat Gideon dan ke-
luarganya tinggal. Dia m em erintahkan para penjaga keam anan agar
94 ● KOMPENSASI ATAS KEMATIAN SEORANG ANAK

tetap waspada, tidak m em biarkan orang asing m asuk, dan terutam a


m engawasi apakah ada orang dataran rendah yang datang dan m enjaga
agar m ereka tidak bisa m asuk. Terlepas dari itu, saat hari m asih pagi,
Gideon m engangkat ke pala dari m ejanya dan dengan ketakutan
m elihat tiga laki-laki bertubuh besar, yang bisa dikenali sebagai orang
dataran rendah berdasarkan perawakan m ereka, berdiri di luar jendela
belakang kantornya.
Yang pertam a terpikir oleh Gideon adalah: aku harus tersenyum
kepada mereka, kalau tidak ya aku lari. Namun kemudian terpikir
olehnya bahwa istri dan anak-anaknya yang m asih kecil ada di dekat-
dekat situ, dan lari hanya akan m enyelam atkan nyawanya sendiri.
Dia berhasil ter se nyum , dan ketiga laki-laki itu pun balas tersenyum .
Gideon m en de kati jendela belakang kantornya dan m em bukanya,
m enyadari bah wa tindakan itu bisa jadi langsung terbukti fatal, nam un
dia tidak punya pilih an sebab alternatifnya lebih buruk lagi. Salah
satu laki-laki, yang ternyata adalah Peti, ayah si anak yang tewas,
bertanya kepada Gideon, “Bolehkah aku m asuk ke kantorm u dan
berbicara denganm u?” (Ini dan sebagian besar percakapan yang akan
saya tuturkan bukan dilangsungkan dalam bahasa Inggris, m elainkan
bahasa Tok Pisin. Kata-kata Peti ke pada Gideon sebenarnya “Inap m i
kam insait long opis bilong you na yum i tok-tok?”)
Gideon m engangguk, pergi ke bagian depan kantornya, m em buka
pintu, dan m em persilakan Peti m asuk sendirian dan duduk. Sebagai
laki-laki yang putranya baru saja tewas, dan sedang berhadapan dengan
atas an sang pem bunuh, perilaku Peti sungguh m engesankan: jelas dia
m asih syok, nam un dia tetap tenang, penuh horm at, dan tidak ber-
basa-basi. Peti duduk diam beberapa lam a, dan akhirnya berkata ke-
pa da Gideon, “Kam i paham ini adalah kecelakaan, dan kalian tidak
m elakukannya dengan sengaja. Kam i tidak ingin m em buat m asalah.
Kam i hanya ingin kalian m em bantu pem akam annya. Kam i m em inta
dari kalian sedikit uang dan m akanan, agar kam i bisa m em beri m akan
ke ra bat kam i saat upacara.” Gideon m em balas dengan m engungkapkan
http://facebook.com/indonesiapustaka

bela sungkawanya m ewakili perusahaan dan staf, dan m em buat janji


seadanya. Segera sore itu juga, dia m endatangi superm arket setem pat
dan m ulai m em beli bahan-bahan m akanan standar seperti beras,
daging kalengan, gula, dan kopi. Selagi berada di toko itu, dia kebetulan
bertem u lagi dengan Peti, dan lagi-lagi tidak ada m asalah.
Pada hari kedua itu, sehari setelah kejadian, Gideon pun ber-
bicara dengan anggota senior stafnya, seorang laki-laki Papua tua ber-
UPACARA ● 95

na m a Yaghean, yang m erupakan penduduk asli distrik lain nam un


ber pengalam an dalam negosiasi kom pensasi ala Papua. Yaghean
m enawarkan diri untuk m enangani negosiasi. Pada hari berikutnya
(hari ketiga), Gideon m engadakan rapat staf perusahaan guna
m em bahas langkah se lan jutnya. Ketakutan utam a setiap orang adalah
keluarga besar anak yang tewas itu (kerabat-kerabat yang lebih
jauh dan anggota-anggota lain klainnya) m ungkin bersikap bengis,
m eskipun sang ayah telah m en jam in bahwa keluarga dekatnya tidak
akan m enyebabkan m asalah. Ter do rong oleh perilaku tenang Peti
selam a dua perjum paan m ereka, pada awalnya Gideon ingin langsung
m endatangi pem ukim an dataran ren dah sendiri, m encari keluarga
Billy, dan "bilang m aaf" (m em inta m aaf secara resm i), dan berupaya
memadamkan ancaman dari keluarga besarnya. Namun Yaghean
bersikeras bahwa Gideon tidak boleh m ela ku kan itu. “Bila kam u
sendiri, Gideon, pergi ke sana terlalu cepat, aku kha wa tir keluarga
besarnya dan keseluruhan kom unitas dataran ren dah m ungkin
m asih berkepala panas. Kita tetap harus m elalui proses kom pensasi
yang benar. Kita akan kirim kan seorang utusan, yaitu aku. Aku akan
berbicara dengan anggota dewan daerah yang m encakup pe m ukim an
dataran rendah itu, dan dia kem udian akan berbicara dengan ko-
m unitas dataran rendah. Dia dan aku sam a-sam a tahu bagaim ana
proses kom pensasi harus dilangsungkan. Baru setelah proses itu dise-
le saikan kam u dan stafm u boleh adakan upacara bilang m aaf [tok-sori
dalam Tok Pisin] ke keluarga itu.”
Yaghean pun m endatangi dan berbicara dengan si anggota de wan,
yang pada hari berikutnya (hari keem pat) m engatur pertem uan yang
m elibatkan Yaghean, sang anggota dewan, dan keluarga Billy (term asuk
ke luarga besarnya). Gideon tidak tahu banyak soal apa yang terjadi
dalam per tem uan itu, selain laporan Yaghean bahwa m ereka berbicara
panjang lebar m engenai bagaim ana m engatasi m asalah tersebut, bahwa
keluarga itu sendiri tidak berniat m enggunakan kekerasan, nam un
beberapa laki-laki di pem ukim an itu sangat berduka atas kem atian
http://facebook.com/indonesiapustaka

Billy dan m a sih geram . Yaghean m em beritahu Gideon bahwa dia


harus m em beli le bih banyak m akanan untuk upacara kom pensasi dan
pem akam an, dan bahwa telah disepakati pem bayaran kom pensasi
sebesar 1.0 0 0 kina (setara dengan kira-kira $ 30 0 ) dari perusahaan
Gideon kepada ke luar ga Billy. (Kina adalah m ata uang nasional Papua
Nugini.)
96 ● KOMPENSASI ATAS KEMATIAN SEORANG ANAK

Upacara kom pensasi itu sendiri berlangsung hari berikutnya,


hari kelim a, dengan tatanan resm i dan terstruktur. Upacara tersebut
dim ulai de ngan Gideon, Yaghean, dan sem ua staf lain kantor kecuali
Malo, menumpangi mobil perusahaan ke pemukiman dataran rendah.
Mereka memarkir mobil itu, berjalan melalui pemukiman, dan
m em asuki halam an di belakang rum ah keluarga Billy. Upacara duka
tradisional Papua Nugini dilangsungkan di bawah semacam atap, guna
m enaungi kepala para pe la yat; dalam kasus ini, atap yang didirikan
oleh keluarga itu adalah se lem bar terpal, dan di bawahnya sem ua
orang—keluarga m aupun tam u—ber kum pul. Ketika para tam u datang,
salah satu pam an bocah yang tewas m enunjukkan tem pat m ereka
duduk dan m em beri tanda kepada keluarga untuk duduk di bagian lain.
Upacara dim ulai dengan ucapan dari seorang pam an, yang ber-
terim a kasih kepada pelayat yang datang, dan m enyatakan betapa
sedih nya karena Billy telah tiada. Kem udian Gideon, Yaghean, dan
seorang staf kantor lain berbicara. Dalam m enjabarkan peristiwa itu
kepada saya, Gideon m enjelaskan, “Tidak enak sekali, tidak enak sekali
rasanya ha rus m enyam paikan ucapan itu. Aku m enangis. Waktu itu
anak-anakku juga m asih kecil. Kusam paikan kepada keluarga itu bah-
wa aku m encoba m em bayangkan dalam nya duka m ereka. Aku ka ta-
kan bahwa aku m encoba m em aham inya dengan m engandaikan ke-
celakaan itu terjadi pada anakku sendiri. Duka itu pastilah tidak terperi.
Kukatakan kepada m ereka bahwa m akanan dan uang yang kuberikan
kepada m ereka tidak ada apa-apanya, sem ata sam pah, dibandingkan
de ngan nyawa anak m ereka.”
Gideon m elanjutkan tuturannya kepada saya, “Kem udian giliran
ayah Billy, Peti, yang berbicara. Kata-katanya sangat sederhana. Dia
m en cucurkan air m ata. Dia m engakui bahwa kem atian Billy adalah ke-
ce la kaan, dan bukan karena keteledoran kam i. Dia berterim akasih atas
ke ha diran kam i, dan m engatakan bahwa kaum nya tidak akan m encari-
cari m asalah dengan kam i. Dia kem udian berbicara tentang Billy,
m engangkat foto putranya, dan berkata, 'Kam i m erindukannya.' Ibu
http://facebook.com/indonesiapustaka

Billy duduk diam di belakang sang ayah yang sedang berbicara. Be be-
ra pa pam an Billy yang lain berdiri dan m enegaskan, “Kalian tidak akan
punya m asalah dengan kam i, kam i puas dengan tanggapan kalian dan
kom pensasi yang diberikan.” Sem ua orang—rekan-rekan kerjaku dan
aku, serta seluruh keluarga Billy—m enangis.”
Serah-terim a m akanan dilakukan oleh Gideon dan rekan-rekannya
untuk "bilang maaf", diiringi kata-kata “Makanan ini untuk membantu
BAGAIMANA JIKA...? ● 97

kalian pada m asa sulit ini.” Setelah pem bicaraan, keluarga dan pelayat
pun ber sam a-sam a m enyantap hidangan sederhana berupa ubi
(makanan pokok tradisional Nugini) dan sayur-mayur lain. Banyak
yang berjabat tangan pada akhir upacara. Saya bertanya kepada Gideon
apakah ada yang saling berpelukan, dan apakah m isalnya dia dan sang
ayah berpelukan seraya menangis. Namun jawaban Gideon adalah
“Tidak, upacara itu ter stuktur, dan sangat resm i.” Tetap saja, sulit
bagi saya m em bayangkan di AS ataupun m asyarakat Barat lainnya
ada pertem uan rekonsiliasi sem acam itu, di m ana keluarga anak yang
tewas dan orang-orang yang tidak sengaja m enewaskan anak itu, yang
tadinya asing satu sam a lain, du duk dan m enangis bersam a-sam a
serta berbagi m akanan hanya be berapa hari setelah anak tersebut
tewas. J ustru keluarga si anak akan m erencanakan tuntutan hukum
pidana, dan keluarga pelaku yang tidak sengaja akan berkonsultasi
dengan pengacara dan agen asuransi guna bersiap-siap m em bela diri
dari tuntutan hukum itu plus kem ungkinan hukum an yang m ungkin
dijatuhkan.

Bagaim an a jika...?
Seperti yang disepakati ayah dan kerabat Billy, Malo tidak sengaja me-
newaskan Billy. Saya bertanya kepada Malo dan Gideon, apa yang akan
terjadi seandainya Malo betul-betul membunuh Billy secara sengaja,
atau seandainya Malo setidak-tidaknya bersikap tidak peduli.
Malo dan Gideon menjawab bahwa, bila seperti itu kejadiannya,
m a salah itu m asih tetap dapat diselesaikan m elalui proses kom pensasi
yang sam a. Hanya saja hasilnya lebih tidak pasti, situasinya lebih ber-
ba haya, dan uang kom pensasi yang dim inta akan lebih besar. Ada
risiko lebih besar bahwa kerabat-kerabat Billy ogah m enanti hasil nego-
siasi kom pensasi, atau akan m enolak pem bayaran dan m alah m elak-
sanakan yang disebut pem bunuhan bayar nyawa; sebagus-bagusnya
dengan membunuh Malo sendiri, kalau tidak ya salah seorang keluarga
dekatnya bila mereka tidak berhasil membunuh Malo, kalau tidak ya
http://facebook.com/indonesiapustaka

anggota klannya yang berkerabat lebih jauh dengan Malo bila mereka
tidak bisa m em bunuh anggota keluarga dekatnya. Tapi, jika kerabat-
kera bat Billy ternyata m au m enunggu hasil proses kom pensasi,
mereka akan menuntut kompensasi yang jauh lebih tinggi. Malo
m em perkirakan untuk saya bahwa kom pensasi yang dim inta (bila betul
dia bertanggung jawab atas tewasnya Billy) kira-kira berupa lim a ekor
babi, plus 10 .0 0 0 kina (setara dengan kira-kira $ 3.0 0 0 ), plus sejum lah
98 ● KOMPENSASI ATAS KEMATIAN SEORANG ANAK

m akanan se tem pat antara lain bertandan-tandan pisang, talas, ubi,


sagu, sayur-sayuran kebun, dan ikan asin.
Saya juga bertanya-tanya apa yang akan terjadi seandainya Malo
bukan supir perusahaan, m elainkan hanya supir pribadi seorang
Papua, sehingga perusahaan itu tidak terlibat. Malo menjawab bahwa
negosiasi kom pensasi dari pihaknya tidak akan ditangani oleh kolega
se kantornya, Yaghean, m elainkan oleh sejum lah pam an dan tetua dari
desanya. Kom pensasi itu sendiri tidak akan dibayar oleh perusahaan,
melainkan oleh seluruh penduduk desa Malo, termasuk keluarganya,
orang-orang satu klannya, dan penduduk desa yang m erupakan
anggota klan-klain lain yang mungkin Malo terpaksa mintai tolong
dalam mengumpulkan dana pembayaran. Kalau begitu Malo akan ber-
utang budi kepada sem ua orang yang m em berikan sum bangan. Pada
suatu waktu kelak, Malo harus membayar utang budinya kepada orang-
orang yang telah m enyum bang itu, dan kepada pam an-pam annya
yang bekerja keras menangani negosiasi. Seandainya Malo berpulang
sebelum tuntas m em bayar utang budi, para penyum bang dan pam an-
pamannya akan meminta pelunasan dari keluarga dan klan Malo. Tapi,
selain perbedaan berupa siapa yang m enangani negosiasi dan siapa
yang m em bayar, proses kom pensasi seandainya perusahaan tidak
terlibat akan berlangsung sangat m irip dengan apa yang sungguh-
sungguh dilangsungkan dalam kasus tewasnya Billy.

Ap a yan g n e gara laku kan


Rangkaian peristiwa yang saya tuturkan m erupakan contoh bagaim ana
m ekanism e-m ekanism e tradisional Papua m enangani secara dam ai
kerugian yang diderita oleh seseorang akibat perbuatan orang lain.
Itu kontras dengan cara sistem peradilan negara Barat m enangani
kerugian semacam itu. Dalam kasus Billy dan Malo, tanggapan negara
Papua Nugini adalah polisi tidak peduli perasaan berduka atau ingin
membalas dendam kerabat-kerabat Billy, namun menuntut Malo
kare na m enyetir dengan tidak berhati-hati. Walaupun keluarga Billy,
http://facebook.com/indonesiapustaka

term asuk pam annya Genjim p, yang sebenarnya ada di tem pat ke-
jadian perkara, tidak menyalahkan cara Malo menyetir, polisi tetap saja
mengklaim bahwa Malo mengebut. Selama berbulan-bulan Malo tetap
di desanya, kecuali ketika dia pergi ke kota untuk berbicara dengan
polisi. Itu karena Malo masih takut akan pembalasan dendam oleh
pem uda-pem uda dataran rendah yang berkepala panas. Rekan-rekan
KOMPENSASI DI PAPUA ● 99

sedesa Malo tetap waspada dan siap melindunginya kalau-kalau terjadi


se rangan sem acam itu.
Setelah interogasi awal oleh polisi, beberapa bulan berlalu sebelum
interogasi kedua, yang menghasilkan perintah untuk Malo agar datang
ke kota dua kali sem inggu guna m elapor ke petugas lalu lintas seraya
menanti kasusnya masuk ke pengadilan. Setiap kali melapor, Malo
harus m enunggu di kantor polisi lalu lintas selam a setengah hari
sampai seharian penuh. SIM Malo dicabut sesudah interogasi kedua.
Karena Malo bekerja sebagai supir perusahaan, pencabutan SIM-nya
menyebabkan pekerjaan Malo pun melayang.
Kasus Malo yang dianggap menyetir dengan tidak berhati-hati
akhirnya disidangkan satu setengah tahun kemudian. Selama itu, Malo
terus hidup terkatung-katung di desanya, menganggur. Sewaktu Malo
akhir nya m uncul di pengadilan pada tanggal yang ditetapkan untuk
sidang, ternyata hakim yang bertanggung jawab sedang sibuk dengan
ke wajiban lain yang berbenturan waktunya, dan tanggal sidang harus
dijadwalkan ulang tiga bulan kem udian. Lagi-lagi pada tanggal kedua
hasil penjadwalan ulang itu, sang hakim tidak bisa datang, dan tanggal
sidang lain ditetapkan tiga bulan kem udian. Tanggal ketiga itu dan
satu lagi tanggal sidang lain harus ditunda karena m asalah-m asalah
lebih lanjut yang m elibatkan si hakim . Akhirnya, pada tanggal kelim a
yang ditetapkan untuk sidang, kini sudah dua setengah tahun setelah
ke celakaan itu, sang hakim akhirnya m uncul, dan sidang pun digelar.
Namun polisi yang dipanggil oleh jaksa tidak muncul, dan sang hakim
pun harus m engakhiri kasus itu. Dem ikianlah akhir keterlibatan negara
dalam kasus Billy dan Malo. Apabila Anda pikir ketidakhadiran dan pe-
nundaan semacam itu adalah ciri khas sistem pengadilan Papua Nugini
yang sangat tidak eisien, seorang teman karib saya yang belum lama ini
m enjalani sidang di Chicago m engalam i urutan peristiwa dan hasil per-
sidangan pidana yang serupa.

Ko m p e n s as i d i Pap u a
http://facebook.com/indonesiapustaka

Proses kom pensasi tradisional, yang digam barkan oleh cerita Billy dan
Malo, bertujuan memecahkan perselisihan secara damai dan cepat,
re konsiliasi em osional antara kedua pihak, dan pem ulihan hubung-
an m ereka sebelum nya. Itu terdengar sederhana, wajar, dan m em ikat
bagi kita, sam pai kita renungkan betapa m endasar perbedaan nya
de ngan tujuan-tujuan sistem peradilan negara kita. Papua se cara
100 ● KOMPENSASI ATAS KEMATIAN SEORANG ANAK

tradisional tidak m em iliki sistem peradilan negara, pe m e rin tahan


negara, sistem politik tersentralisasi, atau pem im pin, biro krat, dan
hakim profesional yang berkuasa m em buat keputusan dan m eng-
klaim monopoli atas hak penggunaan kekerasan. Negara memiliki
kepentingan tersendiri dalam m enyelesaikan perselisihan dan m e-
laksanakan peradilan di antara warganya. Kepentingan-kepentingan
negara itu tidak harus sam a dengan kepentingan-kepentingan pihak-
pihak yang terlibat perselisihan. Peradilan tradisional Papua justru
m e ru pakan jenis peradilan yang dilaksanakan sendiri, direncanakan
oleh pihak-pihak yang berselisih dan para pendukung m asing-m asing.
Proses kom pensasi m erupakan satu cabang, yang dam ai, dalam sistem
resolusi perselisihan tradisional yang bercabang dua. Cabang yang satu
lagi (Bab 3 dan 4) adalah m encari pem balasan dendam pribadi m e la-
lui kekerasan, yang berkecenderungan m eningkat m enjadi siklus pem -
balasan dendam dan akhirnya m enjadi perang.
Fakta penting yang m em bentuk proses kom pensasi tradisional
Papua, dan m em bedakannya dari perselisihan ala Barat, adalah pihak-
pihak yang terlibat dalam nyaris sem ua perselisihan tradisional Papua
sebelum nya saling m engenal, entah karena pernah terlibat dalam suatu
hubungan pribadi, atau setidaknya saling kenal nam a, nam a ayah,
atau ailiasi kelompok. Misalnya, meskipun sebagai seorang Papua kita
tidak secara pribadi m engenal laki-laki dari desa beberapa kilom eter
jauhnya yang m em bunuh babi kita yang sedang berkeliaran di hutan,
kita pastilah per nah m endengar nam anya, kita tahu klannya, dan kita
secara pribadi kenal beberapa anggota klan tersebut. Itu karena Papua
tradisional ter diri atas m asyarakat-m asyarakat lokal berskala kecil
yang terdiri atas be berapa lusin sam pai beberapa ratus jiwa. Orang-
orang yang secara tradisional tetap tinggal di daerah berm ukim yang
sam a seum ur hidup atau pindah dekat-dekat saja karena alasan-alasan
tertentu, m isalnya karena pernikahan atau ikut dengan kerabat. Orang-
orang Papua tradisio nal jarang ataupun tak pernah berjum pa dengan
"orang asing" sepenuhnya, tidak seperti kita, warga m asyarakat negara
http://facebook.com/indonesiapustaka

yang modern. Namun kita, warga negara-negara yang terwesternisasi,


tidak seperti orang-orang Papua, hidup dalam m asyarakat berjum lah
jutaan jiwa, se hingga tentu saja kita setiap hari berjum pa dan harus
berurusan de ngan anggota-anggota m asyarakat kita sendiri yang
sebelum nya tidak kita kenal. Bahkan di daerah perdesaan berpenduduk
jarang yang pen duduknya saling m engenal, m isalnya Big Hole Basin di
Montana, di mana saya menghabiskan musim panas sewaktu remaja,
KOMPENSASI DI PAPUA ● 101

orang asing m un cul secara teratur—m isalnya, orang yang berkendara


m elewati kota dan berhenti untuk m em beli bensin. Terlebih lagi, kita
m enem puh jarak jauh untuk bekerja, berlibur, atau sem ata karena suka
sehingga ber ulang-ulang m engalam i perubahan-perubahan besar yang
nyaris se pe nuhnya dalam hal lingkaran perkenalan kita.
Sebagai akibatnya, sem entara dalam m asyarakat-m asyarakat ne ga-
ra sebagian besar perselisihan kita m uncul dari kecelakaan m obil atau
transaksi bisnis dengan orang asing yang sebelum nya tidak kita kenal
dan yang tidak akan pernah berurusan dengan kita lagi, dalam m a-
syarakat tradisional Nugini, perselisihan terjadi dengan orang yang
akan terus m em iliki hubungan sungguhan atau potensial dengan kita
di m asa depan. Paling pol, perselisihan kita adalah dengan seseorang,
m isalnya sesam a penduduk desa, yang kita jum pai berulang-ulang dan
tidak bisa kita hindari dalam urusan sehari-hari. Setidak-tidaknya,
pihak yang satu lagi dalam perselisihan adalah orang yang tidak akan
kita jum pai berulang-ulang pada m asa depan (m isalnya, pem bunuh
babi kita yang berasal dari desa yang beberapa kilom eter jauhnya),
nam un tetap saja orang itu tinggal dalam jarak yang terjangkau oleh
kita, dan kita se tidaknya ingin m em astikan bahwa kita tidak akan lagi
berm asalah de ngan dia. Itulah m engapa tujuan utam a kom pensasi
tradisional Nugini adalah memulihkan hubungan sebelumnya, bahkan
m eskipun yang ada sebenarnya adalah "non-hubungan" yang hanya
berupa tidak saling m engganggu m eskipun ada potensi untk m elakukan
itu. Namun tujuan itu, dan fakta-fakta esensial yang mendasarinya,
m ewakili satu perbedaan besar dengan sistem pem ecahan per se lisihan
negara Barat, yang biasanya tidak m em entingkan pem ulihan hubungan
karena m em ang sebelum nya tidak ada hubungan apa-apa dan tidak
akan ada hubungan apa pun lagi di masa depan. Misalnya, dalam
hidup saya, saya pernah terlibat tiga perselisihan sipil—dengan seorang
tukang lem ari, seorang kontraktor kolam renang,dan seorang agen real
estat—dan dalam m asing-m asing kasus, saya tidak m engenal pihak
lawan yang terlibat sebelum terjadi transaksi tentang lem ari, kolam ,
http://facebook.com/indonesiapustaka

atau real estat yang kam i ributkan, dan saya tidak lagi berhubungan
atau bahkan m endengar soal m ereka setelah perselisihan kam i
diselesaikan atau diakhiri.
Bagi orang-orang Papua, unsur kunci dalam m em ulihkan hubungan
yang rusak adalah m engakui dan m enghorm ati perasaan satu sam a
lain, sehingga kedua pihak itu dapat m em buang jauh-jauh am arah
m ereka sebisa m ungkin dalam kondisi tersebut, dan m elanjutkan
102 ● KOMPENSASI ATAS KEMATIAN SEORANG ANAK

hubungan atau non-hubungan m ereka. Walaupun pem bayaran yang


m engukuhkan hu bungan yang dipulihkan kini secara um um disebut
di Papua Nugini dengan kata bahasa Inggris "kompensasi", istilah
itu m enyesatkan. Pem ba yaran itu sebenarnya cara sim bolik untuk
m em antapkan kem bali hu bungan m ereka sebelum nya: pihak A "bilang
m aaf" ke pihak B dan m engakui perasaan B dengan m erugikan diri
sendiri, dengan cara membayar kompensasi. Misalnya, dalam kasus
Billy dan Malo, apa yang sebenarnya ayah Billy inginkan adalah
pengakuan oleh Malo dan atasan-atasannya atas kehilangan dan duka
dahsyat yang dia derita. Seperti yang Gideon katakan secara eksplisit
kepada ayah Billy sewaktu m enyerahkan kom pensasi kepadanya,
uang itu hanyalah sam pah tak bernilai bila dibandingkan dengan
nyawa Billy; uang tersebut hanyalah cara untuk bilang m aaf dan turut
m erasakan kehilangan yang diderita keluarga Billy.
Memantapkan ulang hubungan adalah segalanya di masyarakat
tradisional Papua, sem entara m enetapkan siapa yang bersalah, siapa
yang teledor, atau hukum an apa yang dijatuhkan m enurut konsep-kon-
sep Barat bukanlah perm asalahan yang utam a. Perspektif itu m em -
bantu m enjelaskan penyelesaian—yang m engejutkan sewaktu saya per-
tam a kali m endengar tentangnya—suatu perselisihan yang telah ber-
langsung lam a antara beberapa klan di pegunungan Papua, salah satu-
nya adalah klan tem an-tem an saya di Desa Goti. Tem an-tem an saya
dari Goti terlibat serangkaian panjang penyerbuan dan pem bunuhan
balas dendam dengan em pat klan lainnya. Selam a m asa itu, ayah dan
abang salah seorang tem an saya dari Goti, Pius, terbunuh. Situasi
m en jadi sedem ikian berbahaya sam pai-sam pai sebagian besar tem an
saya dari Goti kabur dari tanah nenek m oyang m ereka dan m engungsi
di antara sekutu-sekutu m ereka di desa tetangga guna m enghindari
serangan-serangan lebih lanjut. Baru 33 tahun kem u dian orang-
orang Goti m erasa cukup am an untuk pulang ke tanah nenek m oyang
m ereka. Tiga tahun kem udian, supaya tak lagi terus-m enerus dibayangi
ketakutan diserbu, di Goti m ereka m enyelenggarakan upacara
http://facebook.com/indonesiapustaka

rekonsiliasi, di m ana orang-orang Goti m em bayar kom pensasi berupa


babi dan barang-barang lain kepada pihak-pihak yang dulu m enyerang
m ereka.
Sewaktu Pius m enceritakan hal itu kepada saya, saya terkejut luar
biasa dan yakin saya salah m em aham i kata-katanya. “Kam u m em bayar
kom pensasi kepada m ereka?” Saya bertanya kepadanya. “Tapi kan
m ereka m em bunuh ayah dan kerabat-kerabatm u, m engapa bukan
HUBUNGAN SEUMUR HIDUP ● 103

m ereka yang m em bayarm u?” Tidak, Pius m enjelaskan, bukan seperti


itu caranya; tujuannya bukannya m em peroleh bayaran sem ata-m ata,
bu kan pula berpura-pura m em buat segala urusan im pas dengan cara
B m em beri X ekor babi kepada A setelah B m enyebabkan kem atian
seba nyak Y jiwa di pihak A. Tujuannya justru m em antapkan kem bali
hubungan dam ai antara pihak-pihak yang tadinya m erupakan m usuh,
dan m em ungkinkan penduduk hidup dengan am an kem bali di Desa
Goti. Klan-klan m usuh punya keluhan m ereka sendiri-sendiri m e-
ngenai perebutan tanah m ereka dan pem bunuhan atas beberapa
anggota m ereka oleh orang-orang Goti. Setelah negosiasi, kedua pihak
m enyatakan diri puas dan bersedia m enyingkirkan segala perasaan
sakit hati; berdasarkan perjanjian yang m enyatakan klan-klan
m usuh m enerim a babi dan barang-barang lain, orang-orang Goti pun
m em peroleh kem bali tanah m ereka dahulu, dan kedua pihak pun bisa
terbebas dari serangan-serangan lebih lanjut.

H u bu n gan s e u m u r h id u p
Dalam masyarakat tradisional Nugini, karena jejaring hubungan
sosial cenderung lebih penting dan bertahan lebih lam a daripada da-
lam m asyarakat negara Barat, konsekuensi perselisihan rawan m e-
nyebar ke pihak-pihak lain yang tidak terlibat langsung, dalam ting-
kat yang sulit dipaham i orang-orang Barat. Bagi kam i orang-orang
Barat, rasanya absurd bahwa rusaknya kebun m ilik anggota salah satu
klan gara-gara babi yang dim iliki anggota klan lain bisa m em icu pe-
rang antara dua klan; bagi penduduk Dataran Tinggi Papua, akibat
itu tidaklah m engejutkan. Orang-orang Papua cenderung sepanjang
hayat m em pertahankan hubungan-hubungan penting yang m ereka
per oleh sejak lahir. Hubungan-hubungan itu m em beri setiap orang
Papua dukungan dari banyak orang lain, nam un juga m endatangkan
ke wa jiban bagi banyak orang lain. Tentu saja kam i orang-orang Barat
m odern juga punya hubungan sosial yang bertahan lam a, nam un
kam i m em peroleh dan m em utuskan hubungan sepanjang hayat kam i
http://facebook.com/indonesiapustaka

secara jauh lebih sering daripada orang-orang Papua, dan kam i hidup
dalam m a sya rakat yang m em berikan penghargaan kepada individu-
individu yang berupaya m aju. Oleh karena itu, dalam perselisihan
di Nugini, pihak-pihak yang menerima atau membayar kompensasi
bukan hanya yang terlibat langsung, misalnya Malo dan orangtua
Billy, nam un juga orang-orang yang berkerabat lebih jauh dari kedua
pihak: anggota-anggota klan Billy, yang dikhawatirkan m elakukan
104 ● KOMPENSASI ATAS KEMATIAN SEORANG ANAK

pembunuhan balas dendam; rekan-rekan kerja Malo, yang merupakan


sasaran potensial pem balasan den dam , dan yang atasannya betul-
betul m em bayar kom pensasi; dan sem ua anggota keluarga besar atau
klan Malo, yang merupakan sasaran pembalasan dendam sekaligus
sumber pembayaran kompensasi seandainya Malo tidak bekerja di
suatu perusahaan. Serupa dengan itu, bila di Nugini ada pasangan
suam i-istri yang m em pertim bangkan untuk bercerai, m aka orang-
orang lain juga terkena dam paknya dan terlibat dalam perdebatan-
perdebatan m engenai perceraian, jauh m elebihi di Barat. Orang-orang
lain itu m encakup kerabat-kerabat sang suam i, yang m em bayar m as
kawin dan m enuntut uang m ereka dikem balikan; kerabat-kerabat sang
istri, yang m enerim a m as kawin dan harus m enghadapi tuntutan untuk
m engem balikannya; dan kedua klan, yang m ungkin m erupakan sekutu
politik penting dengan pernikahan itu sebagai bagiannya, dan yang
persekutuannya bisa jadi terancam akibat perceraian tersebut.
Kebalikan pengutam aan berlebihan terhadap jejaring sosial dalam
m asyarakat-m asyarakat tradisional adalah pengutam aan kita terhadap
individu dalam m asyarakat negara m odern, terutam a di Am erika
Serikat. Kam i tidak hanya m engizinkan, m alahan m endorong individu-
individu untuk m em ajukan diri, m enang, dan m em peroleh ke un tungan
dengan m engorbankan orang lain. Dalam banyak transaksi bis nis,
kam i berupaya m em aksim alkan keuntungan kam i sendiri, dan tidak
m enghiraukan perasaan orang lain yang berdiri di pihak lain yang ka-
m i berhasil rugikan. Bahkan perm ainan anak-anak di AS um um nya
m e rupakan pertandingan m enang dan kalah. Tidak dem ikian adanya
di m asyarakat tradisional Papua, di m ana perm ainan anak-anak m e-
libatkan kerjasam a, bukan m enang dan kalah.
Misalnya, ahli antropologi Jane Goodale mengamati sekelompok
anak (m asyarakat Kaulong di Britania Baru) yang diberi setandan
pisang, dalam jum lah yang m encukupi sehingga setiap anak dapat
m em peroleh satu buah. Anak-anak itu lantas m elakukan suatu per -
m ainan. Bukannya pertandingan di m ana setiap anak berupaya m e m e-
http://facebook.com/indonesiapustaka

nangkan pisang ter besar, m asing-m asing anak m em otong pisangnya


m enjadi dua bagian yang sam a besar, m em akan separonya, m ena-
warkan paroan yang satu lagi kepada anak lain, dan sebagai balasan
m enerim a paroan pisang anak itu. Kem udian m asing-m asing anak
m em otong lagi paroan pisang yang belum dim akan itu m enjadi dua
perem patan yang sam a be sar, m akan satu perem patnya, m enawarkan
perem pat yang satu lagi ke pada anak lain, dan m enerim a perem pat
HUBUNGAN SEUMUR HIDUP ● 105

yang belum dim akan dari anak lain itu sebagai balasannya. Perm ainan
itu berlangsung sebanyak lim a putaran, seiring dibelahnya potongan
pisang yang tersisa m enjadi per delapanan yang sam a besar, kem udian
perenam belasan yang sam a besar, sam pai akhirnya setiap anak
m em akan cuilan terakhir yang m e ru pa kan sepertigapuluhdua dari
pisang awal, m em berikan seper tiga puluhdua yang satu lagi ke anak
lain untuk dim akan, dan m enerim a serta m elahap sepertigapuluhdua
terakhir dari pisang lain dari anak yang lain lagi. Keseluruhan ritual
perm ainan itu m erupakan bagian latihan bagi anak-anak Papua agar
belajar berbagi, bukan untuk m en cari keuntungan dem i diri sendiri.
Satu lagi contoh bagaim ana m asyarakat tradisional Papua tidak m e-
nekankan keuntungan individu adalah seorang rem aja pekerja keras
dan ambisius bernama Mafuk yang bekerja untuk saya selama beberapa
bulan. Sewaktu saya m em bayarkan gaji kepadanya dan m enanyainya
apa yang hendak dia lakukan dengan uang itu, dia m enjawab bahwa
dia akan m em beli m esin jahit yang akan dia gunakan untuk m em -
betulkan pa kaian orang-orang yang robek. Dia akan m em inta bayaran
jahit dari m ereka, sehingga dia bisa m em peroleh kem bali dan m eli-
pat gandakan inves tasi awalnya, dan m ulai m engum pulkan uang un-
tuk meningkatkan taraf hidupnya. Namun kerabat-kerabat Mafuk
m ur ka akibat apa yang m ereka anggap sebagai keegoisannya. Wajar
saja kalau dalam m a sya ra kat yang anggotanya tak banyak berpindah
tempat itu, orang-orang pemilik pakaian yang Mafuk akan perbaiki
adalah orang-orang yang telah dia kenal, sebagian besar di an taranya
merupakan kerabat dekat atau jauhnya. Mafuk melanggar norma-
norma masyarakat Nugini karena berupaya memajukan dirinya
dengan m engam bil uang dari m ereka. J ustru dia diharapkan untuk
m em perbaiki pakaian m ereka secara gratis, dan sebagai balasannya
m ereka akan m enyokongnya dengan cara-cara lain sepanjang hidup-
nya, m isalnya turut m enyum bangkan m as kawin yang m enjadi
kewajibannya saat dia m enikah. Serupa dengan itu, para penam bang
em as di Gabon yang tidak berbagi em as dan uang dengan tem an dan
http://facebook.com/indonesiapustaka

kerabat yang cem buru pun m enjadi sasaran tukang tenung yang
dipercaya ber tanggungjawab m enyebabkan korban-korban m ereka
terserang dem am ber darah Ebola yang biasanya m em atikan.
Ketika para m isionaris Barat yang pernah tinggal di Papua ber-
sam a anak-anak m ereka yang m asih kecil kem bali ke Australia atau
Am erika Serikat, atau ketika m ereka m engirim kan anak-anak m ereka
kem bali ke Australia atau Am erika Serikat untuk m em asuki sekolah
106 ● KOMPENSASI ATAS KEMATIAN SEORANG ANAK

ber asram a, anak-anak m ereka bercerita kepada saya bahwa m asalah


ter besar penyesuaian diri adalah m enghadapi dan m enuruti cara-cara
individualistik egois ala Barat, dan m enyingkirkan pengutam aan ker-
ja sam a dan berbagi yang m ereka pelajari di antara anak-anak Papua.
Mereka mengaku merasa malu bila mereka memainkan permainan
kom petitif dem i m em peroleh kem enangan, atau bila m ereka m en-
coba m em peroleh nilai bagus di sekolah, atau bila m ereka m encari
keuntungan atau kesem patan yang tidak rekan-rekan m ereka peroleh.

Mas yarakat-m as yarakat bu kan -n e gara lain n ya


Bagaim ana dengan perbedaan dalam hal pem ecahan perselisihan da-
lam masyarakat-masyarakat bukan negara? Meski penggunaan me-
diasi, seperti dalam kasus Billy dan Malo, dapat bekerja dengan baik
di desa-desa Papua tradisional, m ungkin m ediasi tidak diperlukan
atau pun tidak efektif dalam m asyarakat-m asyarakat jenis lainnya. Ter-
nyata tam paknya ada suatu kisaran, dari m asyarakat kecil tanpa ke-
wenangan terpusat ataupun sistem pengadilan, m enuju kedatuan de-
ngan datu yang m enyelesaikan banyak perselisihan, terus ke negara-
ne gara lem ah di m ana individu kerap kali m asih m ain hakim sendiri,
dan berujung pada negara-negara kuat yang m enerapkan kewenangan
efektif. Marilah kita kaji pemecahan perselisihan secara damai di lima
m a syarakat bukan-negara yang berbeda, dim ulai dari m asyarakat yang
lebih kecil daripada desa-desa Papua sam pai ke m asyarakat yang besar
dan telah m enunjukkan tanda-tanda awal sentralisasi politik (Gam bar
15).
Kita m ulai dengan perselisihan dalam m asyarakat terkecil, yang
terdiri atas kelom pok-kelom pok lokal beranggotakan hanya bebe rapa
lusin orang. Orang-orang !Kung (Gam bar 6) m em buat seorang ahli
antropologi yang m engunjungi m ereka terkesan karena m ereka m eru-
pakan m asya ra kat yang terdiri atas orang-orang yang terus-m enerus
berbicara, per se lisihan dilangsungkan secara terbuka, dan setiap
orang dalam ka wan an m enjadi terlibat dalam perselisihan antara dua
http://facebook.com/indonesiapustaka

anggota kawanan yang m ana pun. Sang ahli antropologi kebetulan


berkunjung selam a sebulan ke tika sepasang suam i-istri sedang ram ai
bertengkar, dan ketika anggota-anggota lain kawanan (sem uanya m asih
berhubungan darah de ngan sang suam i, sang istri, ataupun keduanya)
terus-m enerus ikut am bil bagian dalam pertengkaran pasangan
tersebut. Setahun kem u dian, sang ahli antropologi kem bali berkunjung,
m endapati pasangan itu m a sih bersam a, m asih juga bertengkar, dan
MASYARAKAT-MASYARAKAT BUKAN-NEGARA LAINNYA ● 107

anggota-anggota lain ka wan an m asih saja terlibat dalam perang m ulut


antara m ereka.
Orang-orang Siriono di Bolivia, yang juga hidup dalam kelom pok-
ke lom pok kecil, juga digam barkan terus-m enerus bertengkar, ter-
utam a antara suam i dan istri, antara istri-istri satu suam i, antara m e-
nantu dan m ertua, dan antara anak-anak dalam satu keluarga besar.
Dari 75 perselisihan Siriono yang disaksikan, 44 dise babkan oleh
m a kanan (ada yang tidak m au berbagi, m enim bun, m encuri, m e-
nyan tap m akanan diam -diam di perkam pungan, atau m e nye linap ke
hutan untuk diam -diam m akan di sana); 19 gara-gara seks, ter utam a
akibat perselingkuhan; dan hanya 12 perselisihan disebabkan oleh
hal selain m akanan atau seks. Tanpa penengah, kebanyakan perse-
lisihan Siriono diselesaikan antara pihak-pihak yang berselisih, ter-
kadang dengan keterlibatan seorang kerabat yang bergabung untuk
m endukung salah satu pihak. Bila perm usuhan di antara dua ke luarga
di dalam kam pung yang sam a sem akin sengit, salah satu ke luarga
m ungkin pindah dari kam pung itu untuk hidup terpisah di hutan sam -
pai perasaan perm usuhan itu lenyap. Bila perm usuhan te rus ada, satu
keluarga m em isahkan diri untuk bergabung dengan ka wanan lain
atau m em bentuk kawanan baru. Itu m enggam barkan satu generalisasi
penting: di antara kelom pok-kelom pok pem buru-pengum pul nom aden
dan kelom pok-kelom pok berpindah-pindah lainnya, per selisihan da lam
suatu kelom pok dapat diselesaikan hanya dengan m em belahnya ke-
lom pok itu sehingga pihak-pihak yang berselisih pun pindah ke tem pat
berjauhan. Itu pilihan sulit bagi petani desa yang berm ukim dengan
investasi besar pada kebun-kebun m ereka, dan bahkan lebih sulit lagi
bagi kam i warga negara Barat yang terikat pekerjaan dan rum ah kam i.
Di satu lagi kelom pok kecil lain, orang-orang Indian Piraha di
Brazil (Gam bar 11), tekanan sosial untuk berperilaku sesuai nor-
m a m asyarakat dan m enyelesaikan perselisihan diterapkan m e la-
lui pengucilan ber tingkat. Pengucilan itu dim ulai dengan tidak m e-
nyertakan seseorang dalam pem bagian m akanan selam a sehari,
http://facebook.com/indonesiapustaka

kem udian selam a beberapa hari, kem udian m em aksa orang itu
hidup agak jauh di dalam hutan, tanpa pertukaran dagang dan sosial
yang norm al. Sanksi ter berat di kalangan Piraha adalah pengucilan
sepenuhnya. Misalnya, seorang remaja Piraha bernama Tukaaga
m em bunuh seorang Indian Apurina bernam a J oaquim yang hidup
di dekat m ereka, sehingga m e nye babkan Piraha berisiko diserang
sebagai balasan. Tukaaga ke m udian dipaksa hidup terpisah dari
108 ● KOMPENSASI ATAS KEMATIAN SEORANG ANAK

sem ua desa Piraha lain, dan se bulan kem udian dia ditem ukan m ati
secara m isterius, konon karena ter serang selesm a, nam un barangkali
sebenarnya dibunuh oleh orang Piraha lain yang m erasa terancam
akibat kelakuan Tukaaga.
Contoh keem pat saya adalah orang-orang Fore, kelom pok Dataran
Tinggi Papua. Saya tinggal dan bekerja bersam a m ereka pada 1960 -
an. Mereka hidup dengan kepadatan populasi yang jauh lebih tinggi,
sehingga tam pak lebih agresif daripada orang-orang !Kung, Siriono,
atau Piraha. Orang-orang Fore dipelajari antara 1951 dan 1953 oleh
sepasang suam i-istri ahli antropologi, Ronald dan Catherine Berndt,
pada m asa ketika pertarungan m asih um um terjadi di daerah ter-
sebut. Tanpa kewenangan pusat atau m ekanism e form al untuk ber-
urusan dengan pelanggaran, perselisihan di dalam suatu klan atau se-
ke turunan di antara orang-orang Fore dipecahkan secara m andiri.
Misalnya, tanggung jawab mempertahankan milik seseorang dari
pencurian ada di tangan sang pemilik. Meskipun pencurian dianggap
hina m enurut standar m asyarakat, terserah pem ilik untuk m em inta
kom pen sasi berupa babi ataupun hal lain. Besarnya kom pensasi tidak
dibakukan sesuai nilai barang yang dicuri, m elainkan bergantung ke pa-
da kekuatan relatif si pelanggar dan korbannya, dendam m asa lalu, dan
bagaim ana kerabat si pencuri m em andangnya dan apakah m ereka ber-
ke m ungkinan m endukungnya.
Perselisihan Fore berkem ungkinan m enyeret-nyeret orang-orang
lain selain dua orang yang awalnya berselisih. Dalam kasus cekcok an-
tara suam i dan istri, kerabat keduanya akan m enjadi terlibat nam un
mereka sendiri pun bisa mengalami konlik kepentingan. Meskipun se-
orang laki-laki yang m erupakan anggota klan yang sam a dengan sang
suam i m ungkin m endukung sesam a anggota klannya (sang suam i)
dalam cekcok dengan sang istri, dia m ungkin m alah m endukung sang
istri m e lawan sang suam i karena dia ikut m enyum bangkan m as kawin
untuk m em per oleh sang istri dem i klan m ereka. Oleh karena itu
perselisihan di antara orang-orang seketurunan biasanya m endapat
http://facebook.com/indonesiapustaka

tekanan besar agar lekas-lekas diselesaikan, m elalui pem bayaran kom -


pensasi, per tu karan hadiah, atau penyelenggaraan jam uan sebagai
pertanda pe m an tap an ulang hubungan yang bersahabat. Perselisihan
antara orang-orang dari dua garis keturunan berbeda di distrik
yang sam a juga bisa dise lesaikan m elalui pem bayaran kom pensasi,
nam un (seperti yang akan kita lihat dalam dua bab berikutnya) risiko
penggunaan kekerasan lebih tinggi daripada bila perselisihan itu
MASYARAKAT-MASYARAKAT BUKAN-NEGARA LAINNYA ● 109

berlangsung di antara orang-orang seketurunan, karena tekanan yang


lebih kecil dari orang-orang lain untuk m enyelesaikannya.
Masyarakat bukan-negara terakhir yang saya bandingkan di sini
adalah orang-orang Nuer di Sudan (Gambar 7), yang beranggota sekitar
20 0 .0 0 0 jiwa (terbagi-bagi m enjadi banyak suku) sewaktu dipelajari
oleh ahli antropologi E.E. Evans-Pritchard pada 1930 -an. Di antara
lima masyarakat yang saya jabarkan, orang-orang Nuer adalah yang
paling besar populasinya, m enunjukkan prevalensi kekerasan terfor-
m alisasi yang paling tinggi, dan satu-satunya yang m em iliki pem im pin
politik yang diakui secara form al, diistilahkan "datu kulit-m acan"
(leopard-skin chief). Orang-orang Nuer bersifat cepat tersinggung,
dan cara yang m ereka pandang terhorm at bagi laki-laki untuk
m enyelesaikan perselisihan dalam satu desa adalah berkelahi de ngan
gada sam pai salah satu di antara m ereka terluka parah, atau (biasa nya)
sam pai warga lain m enengahi dan m em isahkan m ereka yang ber tarung.
Pelanggaran paling berat di antara orang-orang Nuer adalah pem-
bu nuhan, yang m em icu balas nyawa untuk nyawa: bila X m em bunuh
Y, kerabat-kerabat Y wajib m em balas dendam dengan m em bunuh
X dan/ atau salah satu kerabat dekat X. Oleh karena itu pem bunuhan
m e nandai perselisihan bukan hanya antara yang pem bunuh dan kor-
bannya m elainkan juga antara sem ua kerabat dekat keduanya, dan
an tara seluruh m asyarakat m ereka. Segera setelah terjadi suatu pem -
bunuhan, si pem bunuh, yang tahu bahwa dia kini m erupakan sasaran
ba las dendam , berlindung di rum ah sang datu, di m ana dia am an
dari se rangan—nam un m usuh-m usuhnya terus m engawasi, siap m e-
nom bak nya kalau-kalau dia khilaf m eninggalkan rum ah sang datu.
Datu m e nunggu beberapa m inggu sam pai am arah m ereka reda (m irip
dengan jangka waktu dalam kasus kematian Billy di Nugini yang saya
ceritakan, m eski dalam kasus Billy waktunya lebih pendek), kem udian
dia pun m em buka negosiasi m engenai kom pensasi antara kerabat-
kerabat sang pem bunuh dan kerabat-kerabat sang korban. Kom pensasi
untuk ke m a tian biasanya 40 atau 50 ekor sapi.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Tapi kita perlu pahami bahwa seorang datu Nuer tidak punya
kewenangan m em erintah, m engam bil keputusan bila terjadi per-
selisihan, atau m enetapkan penyelesaian. Sang datu hanyalah pe-
rantara yang dim anfaatkan jika dan hanya jika kedua pihak ingin m en-
ca pai penyelesaian atau kem bali ke kondisi sebelum nya. Sang datu
m em inta usul dari satu pihak, yang biasanya ditolak pihak yang satu
lagi. Pada akhirnya, sang datu m endesak satu pihak un tuk m enerim a
110 ● KOMPENSASI ATAS KEMATIAN SEORANG ANAK

tawaran pihak yang satu lagi, dan pihak pertam a pun m ela kukannya
tanpa m enyem bunyikan keengganan m ereka, dan ber sikeras bahwa
m ereka m elakukan itu hanya untuk m enghorm ati sang datu. Dengan
kata lain, sang datu m enyediakan cara yang tidak m en datangkan
m alu untuk m enerim a kom prom i yang dibutuhkan dem i ke baikan
m asyarakat. Suatu sengketa tidak bisa ditenggang di dalam satu desa,
dan sulit dipertahankan untuk waktu lam a di antara desa-desa yang
berdekatan. Namun semakin jauh jarak antara dua garis keturunan
yang terlibat, sem akin sulit m enyelesaikan sengketa itu (karena se-
m akin kecil niat untuk m em ulihkan hubungan norm al), dan sem akin
besar kem ungkinan pem bunuhan awal m eningkat m enjadi kekerasan
lebih lanjut.
Datu kulit-macan Nuer juga mungkin dimanfaatkan untuk me-
ne ngahi perselisihan yang lebih ringan, m isalnya gara-gara pencurian
ter nak, ada yang m ain gebuk, atau keluarga pengantin perem puan
yang setelah perceraian tidak m engem balikan sapi yang m erupakan
m as ka win yang m ereka terim a di saat pernikahan. Tapi, per se lisih-
an Nuer bukanlah masalah menentukan siapa yang benar dan salah.
J ika m isalnya perselisihan itu adalah m engenai pencurian ter nak, si
m aling tidak m em bantah pencurian itu, m elainkan dengan bangga
m em benarkannya dengan m enyebut-nyebut m asalah yang belum se-
le sai: pencurian ternak sebelum nya oleh si pem ilik ternak yang seka-
rang atau kerabatnya, atau utang (m isalnya sebagai kom pensasi atas
per se lingkuhan, cedera, berhubungan seks dengan gadis yang be lum
m e nikah, perceraian, m as kawin yang belum lunas atau belum di-
kem balikan, atau kem atian seorang istri saat m elahirkan yang dianggap
sebagai tanggung jawab si suami). Seperti juga kompensasi Nuer
tidak m e libatkan benar atau salah, pihak yang m enjadi korban tidak
akan ber hasil m em inta kom pensasi kecuali dia siap m enggunakan
kekerasan, dan kecuali ditakutkan bahwa dia dan kerabat-kerabatnya
akan m engam uk bila tidak dikom pensasi. Seperti juga dengan orang-
orang Fore, dasar penyelesaian perselisihan orang-orang Nuer bersifat
http://facebook.com/indonesiapustaka

swa-bantuan atau m andiri.


Dibandingkan dengan keempat masyarakat bukan-negara lainnya
yang dibahas di sini, peran datu Nuer tampaknya merupakan langkah
pertama menuju penghakiman perselisihan. Namun ada baiknya
menegaskan kembali ciri-ciri penghakiman perselisihan oleh negara
yang tidak ditemukan di antara orang-orang Nuer, seperti juga di antara
ke ba nyakan masyarakat bukan-negara lain kecuali kedatuan-kedatuan
KEWENANGAN NEGARA ● 111

yang kuat. Datu Nuer tidak punya kewenangan untuk menyelesaikan


per selisihan, dan hanya bertindak sebagai penengah, cara mencegah
agar jangan sampai ada pihak yang malu dan untuk mendorong periode
pen dinginan bila kedua pihak menginginkannya, seperti halnya peran
Yaghean dalam perselisihan antara keluarga Billy dan atasan Malo. Datu
Nuer tidak punya monopoli atas kekuatan, tidak pula punya cara apa
pun untuk menggunakan kekuatan; yang dapat menggunakan ke kuat -
an tetaplah pihak-pihak yang bertikai. Tujuan pe mecahan per se lisih an
di antara orang-orang Nuer bukanlah untuk memutuskan benar atau
salah, melainkan me mantapkan-kembali hubungan normal da lam ma-
syarakat di mana setiap orang mengenal atau setidaknya ta hu ten tang
semua orang lain, dan di mana rasa benci berlarut-larut an tara dua ang-
gota masyarakat membahayakan stabilitas masyarakat ter se but. Se mua
keterbatasan datu tribal Nuer ini berubah ketika kita tengok kedatuan
yang berpenduduk lebih besar (misalnya kedatuan di pulau-pulau besar
Polinesia dan masyarakat Pribumi Amerika), yang datu-datu nya betul-
betul memiliki kekuasaan politik dan judisial, me megang mono poli
penggunaan kekuatan, dan mewakili ta hap yang mungkin merupakan
tahap antara menuju kemunculan pe me rin tah an negara.

Ke w e n an gan n e gara
Sekarang m ari bandingkan sistem -sistem pem ecahan m asalah bukan-
negara itu dengan sistem -sistem negara. Sebagaim ana berbagai sistem
bukan-negara yang kita bahas m em iliki kesam aan ciri sekaligus
perbedaan di segi lain, sistem -sistem negara juga m em iliki ke sam aan
di antara keanekaragam an. Sebagian besar kom entar saya m engenai
pem ecahan perselisihan akan didasarkan kepada sistem yang paling
saya akrabi, yaitu sistem Am erika Serikat, nam un saya akan sebutkan
sejum lah perbedaan dalam sistem -sistem negara lain.
Pem ecahan perselisihan oleh negara dan pem ecahan perselisihan
oleh bukan-negara m em iliki dua prosedur alternatif: m ekanism e-
m ekan ism e untuk m encapai persetujuan bersam a antara pihak-pihak
http://facebook.com/indonesiapustaka

yang berselisih, dan kem udian (bila m ekanism e-m ekanism e itu gagal)
m ekanism e-m ekanism e untuk m encapai pem ecahan yang diributkan.
Da lam m asyarakat bukan-negara, kebalikan proses kom pensasi untuk
m en capai persetujuan bersam a adalah peningkatan kekerasan (Bab 3,
4). Masyarakat-masyarakat bukan negara tidak memiliki mekanisme
ne gara yang terpusat dan form al guna m encegah orang-orang yang ti-
dak puas m encapai tujuan m ereka dengan m enggunakan kekerasan.
112 ● KOMPENSASI ATAS KEMATIAN SEORANG ANAK

Karena satu aksi kekerasan cenderung m em icu aksi kekerasan lain-


nya, kekerasan bertam bah parah dan m enjadi ancam an endem ik bagi
perdam aian di m asyarakat bukan-negara. Oleh sebab itu, kepentingan
utam a pem erintahan negara yang efektif adalah m enjam in atau
setidaknya m eningkatkan keam anan publik dengan m encegah warga
negara m enggunakan kekerasan terhadap satu sam a lain. Guna m em -
per tahankan perdam aian dan keselam atan internal, kewenangan
politik pusat dalam negara m engklaim m onopoli nyaris penuh terha-
dap penggunaan kekerasan sebagai pem balasan: hanya negara dan
polisinya yang diizinkan (dengan alasan kuat) untuk m enggunakan
tindakan-tindakan pem balasan dengan kekerasan terhadap warga
negaranya sendiri. Tapi negara m engizinkan warganya untuk m eng-
gunakan kekerasan guna m em pertahankan diri: m isalnya, bila warga
diserang terlebih da hulu, atau bila m ereka secara m asuk akal percaya
bahwa m ereka atau m ilik m ereka terancam bahaya gawat.
Warga dibujuk dengan dua cara untuk tidak m enggunakan ke ke ras-
an pribadi: dengan rasa takut terhadap kekuasaan negara yang unggul;
dan de ngan keyakinan bahwa kekerasan pribadi tidaklah diperlukan,
se bab negara telah m em antapkan suatu sistem peradilan yang dianggap
tidak m em ihak (setidaknya dalam teori), yang m enjam in keselam atan
diri warga dan hartanya, dan yang m enetapkan pelaku kesalahan serta
m enghukum orang-orang yang m em bahayakan keselam atan orang
lain. Bila negara m elakukan hal-hal itu secara efektif, m aka warga
yang dirugikan tidak akan m erasa perlu m elaksanakan peradilan
sendiri, seperti orang-orang Papua atau Nuer. (Namun di negara-
negara lem ah yang warganya tidak m em iliki keyakinan bahwa negara
akan menanggapi secara efektif, seperti Papua Nugini kini, warga
negara m ungkin m eneruskan praktik-praktik tribal tradisional berupa
kekerasan pribadi.) Pem eliharaan perdam aian di dalam m asyarakat
adalah salah satu jasa terpenting yang dapat disediakan negara. J asa itu
sangat m en jelaskan apa yang tam paknya m erupakan suatu paradoks,
yaitu sejak kem unculan pem erintahan-pem erintahan negara pertam a
http://facebook.com/indonesiapustaka

di Bulan Sabit Subur sekitar 5.40 0 tahun silam , orang-orang secara


kurang lebih suka rela (tidak hanya di bawah ancam an) m enyerahkan
sebagian ke be bas an pribadi m ereka, m enerim a kewenangan pem e rin-
tahan negara, m em bayar pajak, dan m endukung gaya hidup individual
yang nyam an bagi para pem im pin dan pejabat negara.
Salah satu contoh perilaku yang pem erintahan negara ingin cegah
dengan segala daya-upaya adalah kasus Ellie Nesler di kota kecil
KEWENANGAN NEGARA ● 113

J am estown, California, seratus enam puluh kilom eter sebelah tim ur


San Francisco. Ellie (Gam bar 35) adalah ibu seorang anak laki-laki
berusia enam tahun, William . Penasihat perkem ahan bernam a Daniel
Driver dicurigai m e la ku kan pelecehan seksual terhadap William di
satu perkem ahan m u sim panas bagi anak-anak Kristen. Dalam pra-
sidang pada 2 April 1993, ketika sedang dilakukan pem bacaan tun-
tutan terhadap Daniel yaitu pelecehan seksual atas William dan tiga
anak laki-laki lain, Ellie m enem bak kepala Daniel lim a kali dalam
jarak dekat sehingga Daniel pun tewas seketika. Itu adalah keke-
rasan sebagai pem balasan: Ellie tidak sedang m em bela anaknya
yang tengah diserang, bukan juga karena ada ancam an serangan,
m elainkan dia m em balas setelah peristiwa yang dicurigai terjadi.
Dalam pem belaannya, Ellie m enyatakan bahwa putranya sedem ikian
m enderita akibat dile cehkan sehingga dia m untah-m untah dan tidak
m am pu bersaksi m e la wan Daniel. Ellie takut Daniel akan dibebaskan,
dan tidak cukup per caya pada sistem peradilan payah yang telah
m em ungkinkan predator seksual yang m em iliki riwayat kejahatan
serupa tetap bebas dan m e lanjutkan kejahatannya.
Kasus Ellie m em icu perdebatan nasional m engenai m ain hakim
sendiri: para pem belanya m em uji Ellie karena m ain hakim sendiri,
dan yang m engkritiknya m engutuk Ellie karena m e la kukan hal itu.
Setiap orangtua pasti paham am arah Ellie dan m erasa ber sim pati
dengannya, dan barangkali kebanyakan orangtua yang anaknya pernah
dilecehkan pastilah berkhayal m elakukan hal yang Ellie lakukan.
Namun pandangan negara bagian California adalah hanya negara
yang punya wewenang untuk m enghakim i dan m enghukum pelaku
pelecehan seksual, dan bahwa (m eskipun ke m ur kaan Ellie dapat dipa-
ham i) pem erintahan negara akan runtuh bila war ga negara m ain
hakim sendiri, seperti yang Ellie lakukan. Ellie diadili dan dinyatakan
bersalah atas pem bunuhan dan m enjalani 3 tahun dari hu kum an 10
tahun penjara sebelum dilepaskan atas perm ohonan yang didasari oleh
perbuatan keliru juri.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Dengan dem ikian, tujuan peradilan negara yang paling utam a ada-
lah m em elihara stabilitas m asyarakat dengan m enyediakan alter natif
wajib bagi peradilan yang dilakukan sendiri. Seluruh tujuan lain per-
adilan negara hanyalah sekunder dibandingkan tujuan utam a itu. Yang
paling utam a, negara hanya punya kepentingan kecil, atau bahkan tidak
berkepentingan sam a sekali, terhadap tujuan paling utam a peradilan
m asyarakat bukan-ne gara berskala kecil: m em ulihkan hubungan
114 ● KOMPENSASI ATAS KEMATIAN SEORANG ANAK

atau non-hubungan yang se be lum nya sudah ada (m isalnya dengan


m endorong kedua pihak untuk m e num pahkan uneg-uneg) antara
pihak-pihak yang berselisih yang sudah kenal atau tahu soal satu sam a
lain dan harus terus berurusan de ngan satu sam a lain. Oleh karena
itu pem ecahan perselisihan bukan-ne gara bukanlah sistem peradilan
dalam pengertian negara: sistem untuk m enentukan siapa yang benar
dan salah, m enurut hukum -hukum suatu negara. Dengan m engingat
tujuan-tujuan utam a yang berbeda itu, seberapa m iripkah sistem -
sistem pem ecahan perselisihan oleh negara dan bukan-negara pada
praktiknya?

Pe rad ilan p e rd ata n e gara


Titik awalnya adalah m enyadari bahwa peradilan negara dibagi m en-
jadi dua sistem , yang kerap kali m elibatkan pengadilan, hakim , peng-
acara, dan lem baga-lem baga hukum yang berbeda-beda: peradilan pi-
dana dan peradilan perdata. Peradilan pidana berurusan dengan kri-
m inalitas yang m elanggar hukum -hukum negara, dan bisa dihukum
oleh negara. Per adilan perdata berurusan dengan cedera bukan-kri-
m inalitas yang dise babkan oleh satu individual (atau kelom pok)
terhadap individual lain, dan terbagi lebih lanjut m enjadi dua jenis
tindakan: kasus kontrak, akibat pelanggaran suatu kontrak, dan sering
kali atau biasanya m elibat kan uang; dan kasus gugatan, yang di-
akibatkan oleh cedera yang diakibatkan kepada diri seseorang atau
m iliknya gara-gara perbuatan orang lain. Pem bedaan oleh negara
antara tindakan pidana dan perdata bersifat abu-abu dalam m asya-
rakat bukan-negara, yang m em iliki norm a perilaku m asyarakat
antara individu namun tidak memiliki hukum terkodiikasi yang men-
deinisikan kriminalitas melawan institusi yang terdeinisikan secara
form al, negara. Selain bersifat abu-abu, ce dera terhadap seorang indi-
vidu berkem ungkinan m em pengaruhi individu-individu lain juga,
dan m asyarakat kecil lebih peduli efek terhadap orang lain itu diban-
dingkan m asyarakat negara—seperti dicon tohkan oleh kasus yang saya
http://facebook.com/indonesiapustaka

tuturkan tentang setiap orang dalam kawanan !Kung yang terpengaruh


dan turut cam pur dalam percekcokan antara suam i-istri yang tidak
akur. (Bayangkan bila seorang hakim pengadilan perceraian California
harus m em inta kesaksian m engenai bagaim ana perceraian itu akan
m em pengaruhi sem ua penduduk kota) Di Papua, sistem negosiasi
kom pensasi yang pada dasarnya sam a digu nakan untuk m enangani
pem bunuhan secara sengaja terhadap se se orang oleh orang lain (di
PERADILAN PERDATA NEGARA ● 115

pengadilan Barat disebut krim inalitas), pengem balian m as kawin


setelah perceraian (kontrak), dan rusaknya ke bun seseorang akibat babi
orang lain (gugatan).
Mari mulai dengan membandingkan sistem negara dan bukan-
negara untuk perselisihan perdata. Salah satu kem iripan adalah ke dua-
nya m em anfaatkan pihak ketiga untuk m enengahi, m em isahkan pihak-
pihak yang berselisih, dan karenanya m endorong redanya am arah.
Para penengah itu m erupakan juru runding berpengalam an seperti
Yaghean di Nugini, datu kulit-macan di antara orang-orang Nuer, dan
pengacara di pengadilan negara. Bahkan, negara m em iliki banyak jenis
pe nengah lain selain pengacara: banyak perselisihan ditangani di luar
sistem pengadilan oleh pihak-pihak ketiga seperti arbitrator, m ediator,
dan penaksir asuransi. Terlepas dari reputasi orang-orang Am erika
yang terkenal suka beperkara di pengadilan, m ayoritas sangat besar
per selisihan perdata di Am erika Serikat diselesaikan di luar pengadilan
atau sebelum sidang. Sejum lah profesi terdiri atas segelintir anggota
yang m em onopoli suatu sum ber daya—m isalnya nelayan lobster di
Maine, peternak sapi, dan pedagang berlian—biasa menyelesaikan sen-
diri perselisihan antar-anggota tanpa keterlibatan negara. Baru ke tika
negosiasi pihak ketiga gagal m enghasilkan penyelesaian yang dise tujui
oleh sem ua pihak yang berselisih, m ereka akan berpaling ke m etode
m asyarakat m ereka untuk m enangani perselisihan bila tidak tercapai
kesepakatan bersam a: kekerasan atau perang dalam m a sya ra kat bukan-
negara, dan pengadilan atau pengam bilan keputusan form al dalam
m asyarakat negara.
Kem iripan berikutnya adalah bahwa m asyarakat negara m aupun
bukan-negara sering kali m em buat banyak pihak harus turut m e nang-
gung biaya yang ditim bulkan oleh pihak yang m elakukan pelanggaran.
Dalam m asyarakat negara, kita m em beli polis asuransi m obil dan ru-
m ah yang akan m enanggung biaya bila m obil kita m enabrak orang atau
m obil lain, atau bila seseorang jatuh akibat terpeleset di tangga kita
yang licin akibat kita teledor. Kita dan banyak orang lain m em bayar
http://facebook.com/indonesiapustaka

pre m i asuransi yang m em ungkinkan perusahaan asuransi m em bayar


se m ua biaya itu, sehingga pada dasarnya para pem egang polis lain tu-
rut m em bayari kewajiban kita dan sebaliknya. Serupa dengan itu,
dalam m asyarakat-m asyarakat bukan-negara, para kerabat dan se-
sam a anggota klan turut m em bayar kewajiban seorang individu: m i-
salnya, Malo mengatakan kepada saya bahwa rekan-rekan sedesanya
akan terpaksa ikut m enyum bang untuk pem bayaran kom pensasi bagi
116 ● KOMPENSASI ATAS KEMATIAN SEORANG ANAK

kematian Billy seandainya saja Malo tidak bekerja untuk perusahaan


yang m am pu m elakukan pem bayaran itu.
Dalam m asyarakat negara, kasus-kasus perdata yang alurnya pa-
ling mirip dengan negosiasi kompensasi Nugini adalah perselisihan
bis nis antara pihak-pihak yang terlibat dalam hubungan bisnis jangka
pan jang. Ketika m uncul perm asalahan yang tidak bisa diselesaikan sen-
diri oleh pihak-pihak yang berbisnis, satu pihak m ungkin m enjadi m a-
rah dan berkonsultasi ke pengacara. (Hal ini jauh lebih m ungkin ter-
jadi di AS daripada di J epang dan negara-negara lain.) Terutam a da lam
hubungan jangka panjang dengan kepercayaan yang telah ter pu puk,
pihak yang tersinggung m erasa dim anfaatkan, dikhianati, dan jauh
lebih m arah daripada bila hubungan itu hanya bersifat "sekali putus"
(m isalnya, perjum paan bisnis pertam a antara pihak-pihak itu). Seperti
dalam negosiasi kom pensasi Papua, penyaluran diskusi per selisihan
bisnis m elalui pengacara dapat m eredakan perselisihan dengan
m engganti tuduh-m enuduh secara pribadi yang penuh am arah m enjadi
pernyataan-pernyataan tenang yang didukung alasan oleh pengacara,
dan m engurangi risiko bahwa pihak-pihak yang berseberangan akan
ngotot. Bila pihak-pihak yang berselisih m em iliki prospek m elanjutkan
hubungan bisnis yang m enguntungkan di m asa depan, m ereka ter m o-
tivasi untuk m enerim a penyelesaian yang m encegah m alu—seperti juga
orang-orang Papua di desa yang sam a atau desa-desa yang bertetangga,
yang m erasa akan terus berjum pa satu sam a lain sepanjang hidup
m ereka, term otivasi untuk m enem ukan penyelesaian. Terlepas dari itu,
tem an-tem an pengacara saya m em beritahu saya bahwa perm intaan
m aaf yang tulus dan pem adam an em osi ala Papua jarang ada bahkan
dalam perselisihan bisnis, dan biasanya yang bisa diharapkan paling-
paling hanyalah perm intaan m aaf yang sudah dirancang sebelum nya
sebagai taktik penyelesaian pada tahap akhir. Tapi, bila pihak-pihak
bisnis terlibat dalam hubungan sekali-putus dan tidak pernah m erasa
akan berurusan dengan satu sam a lain lagi, m aka m otivasi m e reka
untuk penyelesaian yang bersahabat pun m enciut (seperti juga halnya
http://facebook.com/indonesiapustaka

perselisihan di Papua atau Nuer yang terjadi antara anggota suku-suku


yang berjauhan), dan terjadi peningkatan risiko bahwa perselisihan itu
akan berlanjut ke apa yang m erupakan padanan perang dalam sistem
peradilan negara: persidangan. Terlepas dari itu, persidangan dan
putusan hukum m enguras uang, hasilnya tidak bisa diperkirakan, dan
bahkan pihak-pihak bisnis sekali putus yang berselisih pun m e ra sa kan
tekanan untuk m enyudahinya.
PERADILAN PERDATA NEGARA ● 117

Satu lagi paralel antara pem ecahan perselisihan di negara dan bu-
kan-negara m elibatkan perselisihan internasional antar-negara (kon-
tras dengan perselisihan antara sesam a warga dari negara yang sam a).
Meskipun sebagian perselisihan internasional kini diselesaikan oleh
Mahkamah Internasional melalui persetujuan dari pemerintahan-pe-
m e rintahan yang terlibat, yang lain ditangani dengan apa yang pada
da sarnya m erupakan pendekatan tradisional yang bekerja pada skala
besar: negosiasi langsung atau negosiasi berperantara di antara pihak-
pihak yang terlibat, dengan kesadaran bahwa kegagalan bernegosiasi
da pat m em icu m ekanism e alternatif yang tidak diinginkan, yaitu pe-
rang. Contoh bagus adalah perselisihan tahun 1938 antara J erm an di
bawah Hitler dan Cekoslowakia m engenai wilayah perbatasan Ceko,
Sudetenland, yang m ayoritas penduduknya beretnis J erm an. Per-
selisihan itu diselesaikan m elalui m ediasi Britania dan Prancis (yang
m e nekan sekutu m ereka, Ceko, untuk m enyudahi perselisihan); dan
serangkaian krisis Eropa dalam tahun-tahun sebelum Perang Dunia I,
yang m asing-m asing diselesaikan untuk sem entara m elalui negosiasi
sam pai krisis 1914 yang dipicu oleh pem bunuhan Erzherzog Franz
Ferdinand betul-betul berbuntut perang.
Itulah beberapa kesam aan antara penyelesaian perselisihan dalam
bukan-negara dan peradilan perdata negara. Sedangkan m engenai per-
be daannya, yang paling dasar adalah bila suatu kasus perdata akhirnya
m e lewati tahap negosiasi dan m asuk ke pengadilan, m aka kepedulian
utam a negara saat pengadilan bukanlah m engenyahkan perasaan yang
tidak enak, m em ulihkan hubungan baik, ataupun m endorong pihak-
pihak yang terlibat agar saling m em aham i perasaan—bah kan m es-
kipun pihak-pihak yang terlibat itu m erupakan kakak-adik, suam i-istri
yang sedang cekcok, orangtua dan anak, atau tetangga yang sam a-
sam a m em iliki investasi em osional besar terhadap satu sam a lain dan
m ungkin harus berurusan dengan satu sam a lain sepanjang hayat m e-
reka. Tentu saja, dalam banyak atau bahkan sebagian besar kasus da-
lam m asyarakat negara berpenduduk banyak, yang terdiri atas jutaan
http://facebook.com/indonesiapustaka

warga negara yang asing terhadap satu sam a lain, orang-orang yang
terlibat tidak punya hubungan apa-apa sebelum nya, tidak m erasa akan
punya hubungan apa-apa di m asa depan, dan dipertem ukan sekali
putus oleh peristiwa yang m enyebabkan kasus itu: seorang pelanggan
dan seorang pedagang, dua pengem udi yang terlibat dalam kecelakaan
lalu lintas, seorang penjahat dan korbannya, dan seterusnya. Tetap saja
peristiwa penyebab dan proses hukum selanjutnya m eninggalkan jejak
118 ● KOMPENSASI ATAS KEMATIAN SEORANG ANAK

perasaan pada kedua orang asing itu, dan negara tidak atau hanya se-
dikit m em bantu m eredakan perasaan-perasaan itu.
Dalam sidang, kepentingan pertam a negara adalah m e nentukan
benar atau salah (Gam bar 16). Bila kasus itu m elibatkan kon trak, betul-
kah pihak tergugat m elanggar kontrak, atau tidak? Bila kasus itu m eli-
batkan kerugian, betulkah pihak tergugat teledor sehingga kerugian
terjadi, atau betulkah ter gugat setidak-tidaknya m enyebabkan kerugian
itu? Perhatikan perbedaan antara pertanyaan pertam a yang diajukan
oleh negara dan kasus Malo dan Billy. Kerabat-kerabat Billy setuju
bahwa Malo tidak teledor, namun mereka tetap meminta kompensasi,
dan atasan Malo dengan segera setuju untuk membayar kompensasi—
sebab tujuan kedua pihak ada lah m em antapkan kem bali hubungan
sebelum nya (dalam kasus ini, non-hubungan sebelum nya), bukan
m endebatkan benar atau salah. Ciri pencapaian perdam aian ala Papia
ini juga berlaku pada banyak masyarakat tradisional lain. Misalnya,
dalam kata-kata Hakim Agung Robert Yazzie dari Bangsa Navajo, salah
satu dari dua m asyarakat Pribum i Am erika berpenduduk paling banyak
di Am erika Utara, “Pe ne tapan hukum ala Barat adalah penyelidikan
m engenai apa yang terjadi dan siapa yang m elakukannya; pencapaian
perdamaian ala Navajo adalah tentang akibat peristiwa yang terjadi.
Siapa yang terluka? Apa pe ra saan m ereka m engenai hal itu? Apa yang
dapat dilakukan untuk m em per baiki akibat buruk itu?”
Begitu negara telah m enuntaskan langkah pertam a yaitu m e nen-
tu kan apakah tergugat m em ang berkem ungkinan bersalah secara hu-
kum dalam suatu perselisihan perdata, negara kem udian m eneruskan
ke langkah kedua, yaitu m enghitung kerusakan yang disebabkan oleh
si ter gugat bila tergugat didapati m elanggar kontrak, teledor, atau ber-
tanggungjawab. Tujuan perhitungan itu dijabarkan sebagai "m em buat
penggugat kem bali utuh"—dengan kata lain, sebisa m ungkin, m e -
ngem balikan si penggugat ke kondisinya seharusnya seandainya saja
tidak ada pelanggaran atau keteledoran itu. Misalnya, anggaplah se-
orang pen jual m enandatangani kontrak untuk m enjual ke si pem beli
http://facebook.com/indonesiapustaka

10 0 ekor ayam dengan harga $ 7 per ekornya. Si penjual kem udian m e-


langgar kontrak itu dengan tidak m engantarkan ayam yang dipesan,
dan sebagai akibatnya si pem beli harus m em beli 10 0 ekor ayam pada
harga yang lebih m ahal, $ 10 per ekor, di pasar, sehingga pem beli ter-
pak sa m enghabiskan ekstra $ 30 0 di luar jum lah yang tercantum da lam
kontrak. Dalam kasus pengadilan, si penjual akan diperintahkan m em -
bayar kerugian si pem beli sebesar $ 30 0 , ditam bah biaya-biaya yang
CACAT-CACAT DALAM PERADILAN PERDATA NEGARA ● 119

tim bul dem i m em buat kontrak baru, plus ditam bah barangkali bunga
atas kegunaan yang hilang dari $ 30 0 , sehingga m em ulihkan sang pem -
beli (setidaknya secara nom inal) ke posisi tem pat dia seharusnya ber-
ada seandainya si penjual tidak m elanggar kontrak tersebut. Serupa
dengan itu, dalam kasus gugatan, pengadilan akan m encoba m eng-
hitung kerugian, walaupun cedera isik atau emosional terhadap sese-
orang lebih sulit dihitung daripada kerusakan terhadap barang. (Saya
ingat tem an saya, seorang pengacara, yang m em bela seorang pe-
m ilik perahu m otor yang baling-balingnya m em utuskan kaki seorang
perenang lanjut usia, dan yang berargum en kepada juri bahwa nilai
kaki yang putus itu tidak besar karena usia si korban sudah tua dan
harapan hidupnya tidak akan lam a lagi bahkan sebelum kecelakaan itu
terjadi.)
Sekilas, perhitungan kerugian oleh negara tam paknya m irip de ngan
kom pensasi yang dinegosiasikan di antara orang-orang Papua atau
Nuer. Namun bukan artinya keduanya memang mirip. Walaupun kom-
pensasi ter standardisasi bagi sebagian pelanggaran oleh orang Papua
dan Nuer (misalnya, 40 sampai 50 ekor sapi di Nuer bagi pembunuhan)
dapat dipa ham i sebagai kerugian, dalam kasus-kasus lain kom pensasi
bukan-negara dihitung sebagai berapa pun jum lah yang disepakati
pihak-pihak yang berselisih sebagai dasar bagi m ereka untuk m enying-
kirkan pera saan-perasaan yang tersakiti dan m engem balikan hubung-
an m ereka: m isalnya, babi dan barang-barang lain yang tem an-tem an
saya di Desa Goti setuju untuk bayarkan kepada klan-klan yang telah
m em bunuh ayah tem an saya dari Goti, Pius.

Cacat-cacat d alam p e rad ilan p e rd ata n e gara


Cacat-cacat dalam sistem peradilan perdata negara kita banyak dibahas
oleh para pengacara, hakim , penggugat, m aupun tergugat. Cacat-cacat
pada sistem Am erika ada yang lebih m endingan, tapi ada juga yang
lebih parah dibanding sistem m asyarakat-m asyarakat negara lain-
nya. Salah satunya adalah pem ecahan sengketa perdata m elalui peng-
http://facebook.com/indonesiapustaka

adilan cenderung m em akan banyak waktu, sering kali sam pai lim a
tahun, karena kasus-kasus krim inal lebih dipentingkan daripada
kasus-kasus perdata, dan hakim m ungkin dipindahtugaskan dari peng-
adilan perdata ke pengadilan pidana guna m engadili kasus-kasus kri-
minal. Misalnya, pada waktu saya menyusun paragraf ini, tidak ada
ka sus perdata yang sedang disidangkan di Riverside County, tepat di
sebelah tim ur kota tem pat tinggal saya Los Angeles, karena ada ba-
120 ● KOMPENSASI ATAS KEMATIAN SEORANG ANAK

nyak nya kasus krim inal yang belum diselesaikan. Itu berarti lim a tahun
tanpa pem ecahan apa-apa, hidup terom bang-am bing dan tersiksa se-
cara em osional, dibandingkan dengan lim a hari yang dibutuhkan un-
tuk m enyelesaikan kasus tewasnya Billy secara tidak sengaja dalam ke-
celakaan yang melibatkan Malo. (Tapi, perang antar klan yang mung-
kin terjadi seandainya kasus Malo dan Billy gagal diselesaikan melalui
negosiasi bisa berlangsung jauh lebih lam a daripada lim a tahun.)
Klaim cacat kedua dari peradilan perdata negara di AS adalah, da-
lam kebanyakan kasus, pengadilan gagal m ewajibkan pihak yang kalah
untuk m em bayar biaya pengacara pihak yang m enang, kecuali hal itu
diperinci sejak awal dalam kontrak yang diperselisihkan. Kegagalan
itu, seperti yang sering kali diperdebatkan, m enciptakan asim etri yang
berat sebelah ke pihak yang lebih kaya (entah itu penggugat atau pun
tergugat), dan m em berikan tekanan kepada penggugat yang kalah
kaya untuk m enyetujui ganti rugi yang lebih sedikit daripada ke ru-
gian yang sesungguhnya, dan kepada tergugat yang kalah kaya untuk
m em bayar klaim yang tidak m asuk akal. Itu karena pihak yang lebih
kaya m engancam akan m enyebabkan proses hukum yang m enguras
banyak uang, m enggunakan taktik m enunda-nunda, dan terus-m e-
nerus m engajukan m osi sehingga pihak yang satu lagi tergerus secara
inansial. Tidak logis kalau tujuan peradilan perdata adalah mem-
buat pihak yang dirugikan kem bali utuh, nam un yang kalah tidak
diwajibkan m em bayar biaya pengacara pihak yang dim enangkan di
AS. Kontras dengan itu, sistem hukum di Britania dan beberapa negara
lain m ewajibkan pihak yang dikalahkan untuk m em bayar setidaknya
sebagian biaya dan ongkos yang dikeluarkan pihak pem enang.
Cacat terakhir sistem peradilan negara adalah yang paling m en -
dasar: bahwa peradilan berurusan dengan kerugian, nam un pem a-
dam an em osi dan rekonsiliasi hanya nom or dua atau tidak relevan.
Bagi per selisihan perdata yang m engadu orang-orang yang saling
asing dan tidak akan pernah berjum pa lagi (m isalnya, dua orang yang
m o bilnya saling bertabrakan), dalam beberapa kasus ada yang dapat
http://facebook.com/indonesiapustaka

dilakukan untuk m endorong pem adam an em osi dan m enghindarkan


warisan se pan jang-hayat berupa non-resolusi, bahkan m eskipun hal
itu sekadar berupa m enawarkan kepada kedua pihak kesem patan (bila
m ereka setuju) untuk saling m engungkapkan perasaan terhadap satu
sam a lain, dan m em andang orang lain sebagai m anusia dengan ber-
bagai alasan dan penderitaan m ereka sendiri. Itu m ungkin dilakukan
bahkan da lam kondisi-kondisi ekstrem seperti bila salah satu pihak
CACAT-CACAT DALAM PERADILAN PERDATA NEGARA ● 121

m em bunuh seorang kerabat dekat pihak yang lain. Yang lebih bagus
daripada tidak adanya pertukaran em osi sam a sekali adalah pertukaran
yang betul-betul terjadi antara Gideon dan ayah Billy—atau pertukaran
antara Senator Edward Kennedy dan orang tua Mary Jo Kopechne,
ketika Kennedy atas inisiatifnya sendiri dengan berani m engunjungi
dan m e m andang wajah orangtua sang gadis yang tewas akibat kete-
ledoran luar biasa sang senator.
Yang paling parah adalah banyak sekali kasus perdata dengan
pihak-pihak berselisih yang m em ang ber kem ungkinan m em iliki hu-
bungan yang terus berlanjut: terutam a, suam i-istri yang sudah punya
anak nam un hendak bercerai, kakak-adik yang m em perebutkan
warisan, m itra-m itra bisnis, dan tetangga. Bukannya m em bantu m e-
nyingkirkan perasaan tidak enak, proses pengadilan sering kali m em -
buat perasaan sem akin tidak enak. Kita sem ua punya kenalan yang
hubungannya m em buruk untuk seum ur hidup setelah ber selisih di
pengadilan. Yang terbaru dalam daftar panjang cerita se m acam itu
terjadi di antara kenalan-kenalan saya sendiri, salah seorang tem an
akrab saya dan saudarinya dipanggil sebagai saksi dalam sebuah kasus
warisan di pengadilan antara saudara laki-laki dan ayahnya, yang
saling m enggugat. Kegetiran yang ditinggalkan oleh proses hukum itu
sedem ikian dalam nya sam pai-sam pai tem an saya dan saudarinya kini
digugat oleh ibu tiri m ereka sendiri, dan tem an saya beserta saudarinya
pikir m ereka tidak akan lagi m au berbicara kepada saudara laki-laki
m ereka seum ur hidup.
Satu saran yang kerap kali diajukan m engenai cara m engurangi
cacat m endasar sistem peradilan perdata kam i adalah m eningkatkan
pem anfaatan program m ediasi. Program m ediasi m em ang ada, dan
sering kali bermanfaat. Namun kami tidak punya cukup mediator dan
hakim hukum -keluarga, m ediator-m ediator kam i kurang terlatih, dan
pengadilan keluarga kam i kekurangan pegawai m aupun dana. Se-
bagai akibatnya, suam i-istri yang sedang bercerai sering kali akhir nya
berbicara dengan satu sam a lain hanya m elalui pengacara-pengacara
http://facebook.com/indonesiapustaka

m ereka. Siapa pun yang pernah m engunjungi pengadilan hukum -


keluarga berkali-kali tahu betapa pem andangan di sana bisa sa ngat
m engenaskan. Pihak-pihak berseberangan dalam suatu kasus per-
ceraian, pengacara-pengacara m ereka, dan anak-anak m ereka m ungkin
harus m enunggu di dalam ruang tunggu yang sam a, dan dengan pihak-
pihak yang berselisih dalam kasus-kasus wa ris an. Guna m em ediasi
secara efektif, kita harus pertam a-tam a m em buat pihak-pihak yang
122 ● KOMPENSASI ATAS KEMATIAN SEORANG ANAK

terlibat m erasa nyam an: itu m ustahil bila m ereka saling m elotot selam a
berjam -jam di dalam ruang tunggu yang sam a. Anak-anak terjebak di
tengah-tengah perang m ulut antara orangtua yang hendak bercerai.
Seorang hakim bisa dan sering kali m em ang m ensyaratkan pihak-
pihak yang berselisih untuk am bil bagian dalam pertem uan m eng-
upayakan penyelesaian sebelum kasus dibiarkan berlanjut sam pai
pengadilan. Namun cara itu membutuhkan waktu dan keahlian agar
se orang m ediator bisa m enjadikan m ediasi atau pertem uan penye-
lesaian itu berhasil. Mediasi biasanya membutuhkan jauh lebih banyak
waktu daripada yang dibutuhkan untuk pertem uan penyelesaian
yang wajib. Bahkan ketika pihak-pihak dalam perselisihan itu tidak
akan punya hubungan apa-apa di m asa depan, m ediasi yang berhasil
akan m engurangi beban yang akan tim bul berikutnya bagi sistem
pengadilan: beban yang m uncul akibat pihak-pihak yang m au berlelah-
lelah di pengadilan, atau justru tidak puas dengan keputusan yang
dijatuhkan dan kem bali lagi ke pengadilan dengan keluhan-keluhan
lebih lanjut, atau setuju berdam ai baru setelah pertarungan yang lam a
dan m ahal.
Bila m asyarakat negara kam i m au m em berikan dana lebih besar
un tuk m ediasi dan hakim hukum -keluarga, barangkali banyak kasus
per ceraian dan harta warisan yang bisa diselesaikan secara jauh le bih
m urah, dengan lebih sedikit perasaan yang terluka, dan secara lebih
cepat, karena uang, energi em osional, dan waktu ekstra yang dibutuh-
kan untuk m ediasi kem ungkinan lebih kecil daripada uang, energi,
dan waktu ekstra yang dibutuhkan untuk proses pengadilan yang getir
tanpa m ediasi. Bila suam i istri yang bercerai setuju dan dapat m en-
danainya, m ereka dapat m em peroleh keuntungan-keuntungan itu
de ngan m em ilih sistem pengadilan hukum -keluarga, dengan cara
m em pe kerja kan hakim yang sudah pensiun untuk m enyelesaikan per-
selisihan m e reka. Hakim yang sudah pensiun m elakukan sidang-sem u
dan m e na rik bayaran per jam yang tinggi, nam un tarifnya itu tidak ada
apa-apa nya dibandingkan dengan tarif pengacara berm inggu-m inggu.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Ha kim akan m engesahkan keputusan untuk sem ua orang dan tidak


terburu-buru seperti hakim -hakim di pengadilan keluarga. Pra-sidang
dijad walkan dengan persis: pihak-pihak yang berselisih tahu bahwa
pra-sidang itu akan berlangsung pada jam tertentu, dan m ereka tidak
perlu m uncul berjam -jam sebelum nya hanya karena m ereka tidak bisa
m em perkirakan apakah sang hakim akan terlam bat gara-gara harus
CACAT-CACAT DALAM PERADILAN PERDATA NEGARA ● 123

m enyelesaikan kasus yang dijadwalkan terlebih dahulu, seperti yang


sering terjadi di pengadilan perceraian.
Saya tidak m au m elebih-lebihkan pernyataan tentang nilai m e-
diasi, tidak juga bermaksud bahwa mediasi adalah obat sapujagad. Me-
diasi juga punya m asalah-m asalahnya sendiri. Hasil akhirnya bisa jadi
dirahasiakan sehingga tidak bisa m enjadi preseden hukum atau m em -
berikan m anfaat edukasional yang lebih luas. Pihak-pihak yang m e-
nerim a m ediasi tahu bahwa, seandainya m ediasi gagal, kasus itu akan
m enjalani proses penetapan hukum m enurut kriteria hukum yang
biasa berupa benar, salah, bersalah, dan tanggung jawab, sehingga
para m ediator tidak m erasa bebas sepenuhnya untuk m enggunakan
kriteria yang berbeda. Banyak pihak yang berselisih ingin didengar di
pengadilan, tidak m enginginkan m ediasi, dan kesal bila ditekan atau
dipaksa un tuk m enjalani m ediasi.
Sebagai contoh, dalam satu kasus terkenal yang didasarkan pa-
da insiden di New York City pada 22 Desember 1984, seorang laki-
laki bernam a Bernhard Goetz didekati oleh em pat orang pe m uda yang
dia kira penodong. Dia m engeluarkan pistol, m e nem bak keem pat-
em patnya dengan alasan m em pertahankan diri, dan karena nya
ditetapkan oleh grand jury bersalah atas percobaan pem bu nuhan. Ka-
sus nya m em icu diskusi publik yang berapi-api dan diram aikan per be-
daan pendapat. Sebagian orang m em ujinya karena berani m e lawan
balik, yang lainnya m engutuknya karena vigilantism e dan reak sinya
yang berlebihan. Baru setelahnya latar insiden itu diketahui: Goetz
sebenarnya pernah ditodong em pat tahun sebelum nya oleh tiga pe-
m uda yang m engejarnya dan m em ukulinya sam pai babak-belur. Ke-
tika para penyerang itu tertangkap, si penyerang yang licik m engaju kan
tuntutan bahwa sebenarnya ialah yang diserang oleh Goetz. Oleh ka-
rena itu pengadilan m engajak Goetz m engikuti sidang m e diasi bersam a
si penodong. Goetz m enolak undangan itu dan tidak per nah diberi
tahu bah wa si penodong akhirnya dipen ja rakan setelah m e lakukan
penodongan lagi. Goetz m em utuskan untuk m em beli pistol, ka rena
http://facebook.com/indonesiapustaka

dia tak lagi m em percayai sistem hukum yang tam paknya hanya m e na-
warkan mediasi antara penodong dan korban. Meskipun kasus Goetz
tidaklah lazim , tetap saja m enyedihkan karena pengadilan-penga dilan
kam i sedem ikian terbebani sehingga sering kali m em ang m enyarankan
atau m ewajibkan m ediasi kepada pihak-pihak yang bersikeras
menolak kasus mereka dimediasi. Namun fakta-fakta ini tidak boleh
124 ● KOMPENSASI ATAS KEMATIAN SEORANG ANAK

m em butakan kita terhadap nilai potensial m ediasi dalam banyak kasus,


dan dalam kurangnya investasi kita ke pa da jalur ini.
Saya akan sudahi pem bahasan m engenai m ediasi dan pem adam an
em osi dengan m engutip kom entar m engenai pro dan kontra oleh se-
orang rekan saya yang merupakan pengacara, Profesor Mark Grady
dari UCLA Law School: “Banyak orang yang m enolak anggapan bah-
wa negara harus m engurusi hubungan pribadi dan perasaan yang ter-
luka. Mereka berargumen bahwa hanya ‘negara pengasuh bayi’ yang
m elakukan tugas itu, dan m enyatakan bahwa bila suatu negara m en-
coba m em perbaiki hubungan pribadi dan perasaan yang terluka, itu
ancaman terhadap kebebasan namanya. Mereka juga berargumen bah-
wa adalah suatu pelanggaran terhadap kebebasan orang bila m ereka
dipaksa untuk berdam ai dengan pelaku kesalahan. Korban justru harus
punya hak untuk m em inta negara m enetapkan pihak-pihak lawan m e-
reka sebagai yang bersalah, dan, setelah m enerim a keputusan itu, kor-
ban cukup m enjauhi orang-orang yang telah berbuat salah kepada
m ereka.
“Salah satu tanggapan untuk ini adalah bahwa negara m em elihara
sistem peradilan m ahal yang dim aksudkan untuk m em enuhi tujuan-
tu juan khas dan telah sangat berubah dalam m asyarakat m assal tanpa
tatap wajah langsung. Terlepas dari itu, kita bisa m engam bil pelajaran
berharga dari orang-orang Papua tanpa m engkom prom ikan tujuan-
tujuan khas sistem peradilan kita. Begitu negara m em bawa suatu
perselisihan ke ranah hukum , negara telah terbebani biaya un tuk pe-
nyelesaian perselisihan itu. Mengapa tidak setidak-tidaknya mem-
berikan pihak-pihak yang berselisih pilihan untuk m enyelesaikan per-
selisihan pada tingkat pribadi selain tingkat hukum ? Tidak ada yang
perlu m ewajibkan pihak-pihak yang berselisih untuk m enerim a sistem
m ediasi yang negara m ungkin tawarkan kepada m ereka, dan bukan
ber arti sistem m ediasi m enggantikan sistem form al penetapan hukum
ke cuali pihak-pihak yang berselisih bersepakat untuk m elakukan itu.
Sistem m ediasi justru seharusnya m enjadi pelengkap dan ba rang-
http://facebook.com/indonesiapustaka

kali alternatif bagi sistem hukum yang lebih form al, yang akan tetap
tersedia. Tidak ada salahnya m enawarkan kesem patan ini ke pada
orang-orang, dan banyak hal baik yang bisa diperoleh darinya. Ba-
ha yanya adalah, seperti yang digam barkan dengan baik oleh sistem
Papua, orang-orang bisa dipaksa m engikuti m ediasi dalam kondisi-
kon disi yang m engancam m artabat dan kem erdekaan m ereka, dan itu
m ungkin m alah m em perparah ketidakadilan pada kesalahan aslinya.
PERADILAN PIDANA NEGARA ● 125

Sistem hasil reform asi harus punya penangkal terhadap pelencengan


itu, nam un kem ungkinan adanya pelencengan bukanlah alasan untuk
sepenuhnya m engabaikan kem ungkinan bahwa kekhilafan m a nusia
bisa diselesaikan pada tingkat m anusia.”

Pe rad ilan p id an a n e gara


Setelah m em badingkan sistem pem ecahan perselisihan oleh negara
dan bukan-negara dalam hal peradilan perdata, sekarang m arilah kita
tengok peradilan pidana. Di sini langsung kita tem ui dua perbedaan
dasar antara sistem negara dan bukan-negara. Pertam a-tam a, peradilan
pidana negara berurusan degan penjatuhan hukum an terhadap ke-
ja hatan yang m elanggar hukum -hukum negara. Tujuan hukum an
yang dijatuhkan oleh negara adalah m em elihara kepatuhan terhadap
hukum -hukum negara dan m em pertahankan kedam aian dalam negara.
Hukum an penjara yang dijatuhkan terhadap seorang penjahat oleh
negara bukan dan tidak dim aksudkan sebagai kom pensasi kepada kor-
ban atas kerugiannya. Kedua, sebagai akibatnya, peradilan pidana dan
peradilan perdata oleh negara m erupakan dua sistem berbeda, se-
m en tara sistem -sistem itu tidak dibedakan di m asyarakat-m asyarakat
bukan-negara, yang um um nya m engurusi kom pensasi kepada individu
atau kelom pok atas cedera—terlepas dari apakah cedera itu di m a sya-
rakat negara dianggap sebagai tindak pidana, gugatan, ataupun pe-
langgaran kontrak.
Seperti juga dalam kasus perdata negara, kasus pidana negara ber-
langsung dalam dua tahap. Dalam tahap pertam a, pengadilan m eng-
kaji apakah tertuduh bersalah atau tidak atas satu atau beberapa tun-
tutan. Itu terdengar hitam dan putih dan jawabannya cukup ya atau
tidak. Pada kenyataannya, keputusan tidak selalu m utlak, sebab bisa
ada tuntutan alternatif yang berbeda-beda tingkatannya: pem bunuh
m ungkin diputuskan bersalah atas pem bunuhan berencana, pem bu-
nuhan terhadap perwira polisi yang sedang bertugas, pem bu nuh an
da lam upaya penculikan, pem bunuhan spontan akibat am arah, pem -
http://facebook.com/indonesiapustaka

bu nuhan karena alasan yang benar nam un tak berdasar yaitu m em -


percayai bahwa kor ban sedang m engancam untuk m encelakainya
secara isik, atau pembunuhan akibat kegilaan sementara atau dalam
kondisi tidak sadar—de ngan hukum an yang berbeda-beda, tergantung
tuntutannya. Pada ke nya taannya, banyak kasus pidana diselesaikan
m elalui perundingan-pengakuan (plea-bargain) sebelum m asuk ke
pengadilan. Namun, bila toh kasus itu sampai ke pengadilan, tuntutan
126 ● KOMPENSASI ATAS KEMATIAN SEORANG ANAK

tetap m em butuhkan keputusan bersalah atau tidak bersalah: Ellie


Nessler diputuskan bersalah membunuh Daniel Driver, walaupun
alasannya yaitu m em balas dendam atas pelecehan ter hadap putranya
m em buat dia m erebut sim pati publik. Berbeda de ngan itu, dalam
m asyarakat bukan-negara, cedera yang disebabkan biasa dipandang
sebagai sesuatu yang abu-abu: iya, aku m em ang m em bunuhnya tapi—
ada alasan yang m em benarkan tindakanku, sebab dia m e ne nung
anakku, atau sepupu jauhnya m em bunuh kakak ayahku, atau babinya
m erusak kebunku dan dia m enolak m em bayar ganti rugi, jadi aku tidak
berutang kom pensasi apa-apa pada kerabatnya, atau setidak nya sedikit
saja. (Namun kondisi-kondisi meringankan semacam itu memang
sangat berperan dalam tahap penjatuhan hukum an di pengadilan
pidana ala Barat.)
Bila tertuduh diputuskan bersalah, negara kem udian m elanjutkan
ke tahap kedua yaitu penjatuhan hukum an, m isalnya hukum an penjara.
Tu juan hukum an m encakup tiga m acam , dengan penekanan berbeda-
beda pada sistem peradilan nasional yang berbeda-beda: pencegahan,
pem balasan atas kesalahan, dan rehabilitasi. Ketiga tujuan ini berbeda
dari tujuan utam a penyelesaian perselisihan oleh bukan-negara, yaitu
m engkom pensasi korban. Bahkan m eskipun Daniel Driver dihukum
penjara, itu tidak akan mengkompensasi Ellie Nessler dan putranya
atas traum a yang disebabkan oleh pelecehan seksual terhadap sang
anak.
Satu tujuan utam a hukum an atas tindak pidana adalah pence-
gah an: m en cegah warga lain m elanggar hukum negara dan m enim -
bulkan korban-korban baru. Harapan korban yang sekarang beserta
keluarganya, atau sang pelaku kejahatan dan keluarganya, sa ngat tidak
relevan: hukum an justru berperan m em enuhi tujuan ne gara, sebagai
perwakilan warga negara lainnya. Paling m aksim al, kor ban, pelaku
kejahatan, beserta keluarga dan tem an m ereka m ungkin diizin kan
m em bacakan pledoi pada saat penjatuhan hukum an, dan m e nyata kan
keinginan m ereka sendiri m engenai penjatuhan hukum an itu, nam un
http://facebook.com/indonesiapustaka

hakim boleh-boleh saja m engabaikan keinginan-keinginan itu.


Kepentingan berbeda antara negara dan korban diilustrasikan
oleh kasus pidana yang diajukan oleh negara bagian California dan
mendapat banyak sorotan media. Sutradara ilm Roman Polanski
dituduh m em bius, m em perkosa, dan m enyodom i seorang gadis ber-
usia 13 tahun (Sam antha Geim er) pada 1977, m enyatakan diri ber-
salah pada 1978 atas kejahatan yaitu berhubungan seks dengan anak
PERADILAN PIDANA NEGARA ● 127

di bawah um ur, na m un kem udian kabur ke Eropa sebelum dia bisa


dijatuhi hukum an. Kor ban Polanski, kini seorang perem puan berusia
40 -an, telah m engatakan bahwa dia telah m em aafkan Polanski
dan tidak ingin dia dihukum atau dipenjara. Dia telah m engajukan
pernyataan ke pengadilan agar kasus itu dihentikan. Meskipun pada
awalnya m ungkin bagi kita sungguh aneh bila negara bagian California
akan m em enjarakan seorang penjahat m eskipun korbannya telah
m enyatakan secara terbuka agar hal itu tidak dilakukan, alasan-alasan
untuk tetap m elakukan hal itu dinyatakan secara tegas dalam sebuah
editorial dalam Los Angeles Tim es: “Kasus Polanski diproses bukan
untuk m em uaskan ke ingin annya [korban] atas keadilan ataupun
kebutuhannya untuk m enyu dahi hal ini. Kasus itu diajukan oleh
negara bagian California atas na m a m a syarakat California. Bahkan
m eskipun Geim er tidak lagi m e nyim pan dendam terhadap Polanski,
itu bukan artinya Polanski tidak lagi m em ba hayakan orang-orang
lain... Kejahatan bukan hanya dilakukan ter hadap individu m elainkan
terhadap m asyarakat... Orang-orang yang ditu duh m elakukan keja-
hatan serius harus ditahan dan diadili dan, bila dinya takan bersalah,
m enjalani hukum an m ereka.”
Tujuan hukum an yang kedua, selain pencegahan, adalah pem balas-
an terhadap kejahatan: untuk m em ungkinkan negara m enyatakan,
“Kam i, negara, m enghukum pelaku kejahatan, agar kalian, korban,
tidak punya alasan untuk m enghukum sendiri.” Oleh karena alasan-
alasan yang ram ai diperdebatkan, tingkat pem enjaraan lebih tinggi,
dan hukum an lebih berat, di AS daripada di negara-ne gara Barat
lainnya. AS adalah satu-satunya negara Barat yang m asih m e nerapkan
hukuman mati. Negara saya kerap kali menjatuhkan hukuman pen-
jara jangka panjang ataupun seum ur hidup, yang di J erm an hanya
dijatuhkan kepada pelaku kejahatan-kejahatan paling berat (m isalnya,
kasus pem bunuhan berantai paling parah di J erm an pasca-Perang
Dunia II, yaitu seorang perawat dinyatakan bersalah m em bunuh 28
pa sien di saru rum ah sakit di J erm an dengan cara m enyuntikkan
http://facebook.com/indonesiapustaka

campuran obat mematikan kepada mereka.) Meskipun hukuman


penjara jangka pan jang di AS tadinya hanya dijatuhkan kepada para
pelaku kejahatan gawat, kebijakan "three strikes" yang kini diterapkan
oleh negara bagian tem pat saya tinggal, California, m ew ajibkan hakim
m en jatuhkan hukum an jangka panjang kepada pelaku kejahatan yang
dinya takan bersalah untuk ketiga kalinya setelah dua kali dinyatakan
ber salah atas kejahatan berat—m eskipun kejahatan yang ketiga sepele
128 ● KOMPENSASI ATAS KEMATIAN SEORANG ANAK

saja, m isalnya m encuri pizza. Sebagai akibatnya, jum lah uang yang di-
ke luarkan California untuk sistem penjaranya kini sudah m endekati
pengeluarannya untuk pendidikan tinggi di kolese dan universitas.
Orang-orang California yang m enentang alokasi dana itu m enganggap
bukan hanya alokasi tersebut m erupakan pem balikan terhadap prio-
ritas manusia melainkan juga kebijakan ekonomi yang buruk. Mereka
ber ar gu m en bahwa kem erosotan ekonom i California yang banyak diso-
rot sekarang sebaiknya dikurangi dengan m em angkas dana yang diberi-
kan untuk m em enjarakan pelaku kejahatan untuk waktu lam a akibat
kesalahan-kesalahan kecil, m em berikan lebih banyak dana untuk m e-
re ha bilitasi pelaku kejahatan, dan lekas-lekas m engem balikan m ereka
ke pe kerjaan yang produktif, serta menghabiskan lebih banyak uang
untuk men didik orang-orang California yang tidak dipenjara agar mam-
pu mengisi posisi-posisi kerja bergaji tinggi. Tidak jelas apakah hukuman
yang keras di AS efektif dalam mencegah orang melakukan ke ja hatan.
Tujuan terakhir yang m endasari penjatuhan hukum an terhadap
pe laku kejahatan yang diputus bersalah adalah m erehabilitasi m e-
reka, se hingga m ereka bisa kem bali ke m asyarakat, hidup norm al se-
perti se m ula, dan m em berikan sum bangsih ekonom i kepada m asya-
rakat, bukannya m enim bulkan biaya ekonom i yang berat terhadap
m asyarakat se bagai narapidana dalam sistem penjara kita yang
m ahal. Rehabilitasi, bukan pem balasan atas kejahatan, adalah fokus
pendekatan Eropa terhadap hukuman kriminal. Misalnya, satu kasus
pengadilan di Jerman melarang penayangan ilm dokumenter yang
secara aku rat m enggam barkan peran seorang pelaku kejahatan dalam
satu ke ja hatan yang banyak dibicarakan—sebab hak sang pelaku
kejahatan un tuk m enunjukkan hasil rehabilitasinya, dan untuk
m em peroleh ke sem patan yang adil agar bisa kem bali secara sehat ke
m asyarakat setelah m enjalani hukum an penjaranya, dianggap lebih
penting daripada kebebasan pers atau hak m asyarakat untuk tahu.
Apakah pandangan itu m en cerm inkan kepedulian yang lebih besar di
Eropa terhadap m artabat m anusia, pem bim bingan, dan kasih sayang,
http://facebook.com/indonesiapustaka

dan kepedulian yang lebih rendah di Eropa terhadap pem balasan atas
kejahatan ala Perjanjian Lam a, dan terhadap kebebasan berbicara,
dibandingkan dengan di AS? Dan seberapa efektif sih rehabilitasi itu?
Misalnya, keefektifannya sepertinya terbatas dalam kasus pedoilia.
PERADILAN RESTORATIF ● 129

Pe rad ilan re s to ratif


Yang sejauh ini belum m asuk dalam pem bahasan kita m engenai
hukum an pidana oleh negara adalah kita belum m enyinggung soal
tujuan uta m a peradilan perdata oleh negara (m enjadikan pihak yang
cedera kem bali utuh) dan penyelesaian perselisihan oleh bukan-negara
(m e m u lihkan hubungan dan m em adam kan em osi). Kedua tujuan itu,
yang sam a-sam a m em berikan perhatian terhadap kebutuhan korban
ke jahatan, bukanlah tujuan utam a dalam sistem peradilan pidana kam i,
walaupun ada sedikit aturan m engenai itu. Selain m em berikan ke -
saksian yang m em bantu dalam m em utuskan apakah seorang ter tuduh
betul bersalah atau tidak, korban atau kerabat korban m ungkin saat
penjatuhan penghukum an diizinkan berbicara di ha dap an pengadilan
yang m enghadirkan sang pelaku kejahatan, dan m en ja barkan dam pak
em osional kejahatan itu. Kalau soal m enjadikan korban kem bali utuh,
ada sejum lah negara yang m em berikan dana kom pensasi bagi korban,
nam un jum lahnya biasanya kecil.
Misalnya, kasus kejahatan yang paling banyak dipublikasikan da-
lam sejarah Am erika belakangan ini adalah pengadilan m antan bin-
tang futbol O.J. Simpson atas pembunuhan terhadap istrinya Nicole
dan tem an sang istri, Ron Goldm an. Setelah pengadilan pidana
yang berlangsung selam a delapan bulan. Sim pson dinyatakan tidak
bersalah. Namun keluarga Nicole dan Ron kemudian menang dalam
gugatan perdata terhadap Sim pson atas nam a anak-anak Sim pson dan
Nicole serta kedua keluarga, dan memenangi (namun tidak berhasil
m enagih) ganti rugi bernilai total sekitar $ 43.0 0 0 .0 0 0 . Sayangnya,
kasus-kasus kom pensasi yang diperoleh dari gugatan perdata sungguh
jarang terjadi, sebab kebanyakan pelaku kejahatan tidak kaya dan
tidak punya aset yang cukup besar untuk dianggap berharga. Dalam
m asyarakat tradisional, kem ungkinan korban m em peroleh kom pensasi
ditingkatkan oleh ilosoi tradisional berupa tanggung jawab bersama:
seperti dalam kasus Malo, bukan hanya pelaku, melainkan juga
kerabat, sesam a anggota klan, dan rekan kerja pelaku pun wajib
http://facebook.com/indonesiapustaka

membayar kompensasi. Masyarakat Amerika justru menekankan


tanggung jawab individual m e lebihi tanggung jawab bersam a. Di
Papua, bila sepupu laki-laki saya dicam pakkan oleh istrinya, saya akan
dengan m arah m enuntut klan si istri agar m engem balikan sebagian
m as kawinnya yang saya bayarkan dem i m em peroleh dia untuk sepupu
saya; sebagai seorang Am erika, saya lega karena tidak perlu ikut
bertanggungjawab atas keberhasilan per nikahan sepupu-sepupu saya.
130 ● KOMPENSASI ATAS KEMATIAN SEORANG ANAK

Satu pendekatan m enjanjikan untuk m em adam kan em osi da-


lam beberapa kasus, bagi pelaku kejahatan yang tidak dihukum m ati
m au pun bagi korban yang selam at atau kerabat terdekat korban yang
tewas, adalah program yang disebut peradilan restoratif. Peradilan ter-
sebut m em andang kejahatan sebagai pelanggaran terhadap korban atau
m asyarakat sekaligus juga terhadap negara; m em pertem ukan pelaku
ke ja hat an dan korban untuk berbicara secara langsung (asalkan kedua-
nya bersedia m elakukan itu), bukan m em isahkan m ereka dan m em -
biar kan pengacara berbicara atas nam a m ereka; dan m endorong pelaku
kejahatan untuk m enerim a tanggung jawab, dan korban untuk m eng-
ungkap kan seberapa besar m ereka telah terluka, bukan m en ce gah atau
hanya m em berikan sedikit kesem patan m elakukan hal-hal tersebut.
Pe laku kejahatan dan korban (atau kerabat korban) bertem u dengan
didam pingi m ediator terlatih, yang m enetapkan aturan-aturan dasar
bah wa tidak boleh m enyela pem bicaraan dan m enggunakan bahasa
kasar. Korban dan pelaku kejahatan duduk berhadap-hadapan, saling
m e m an dang, dan bergantian m enuturkan kisah hidup m ereka, pera sa-
an m ereka, alasan-alasan m ereka, dan pengaruh kejahatan itu terhadap
hidup m ereka sesudahnya. Pelaku kejahatan bisa m elihat langsung luka
yang telah m ereka akibatkan; korban bisa m elihat si pelaku se bagai
seorang m anusia dengan latar belakang dan alasan, bukan m onster
yang tidak bisa dipaham i; dan sang pelaku m ungkin bisa m e ne laah
riwa yat nya sendiri, dan m em aham i apa yang m enyebabkan dia m eng-
am bil jalan yang keliru.
Misalnya, satu perjumpaan semacam itu di California memper-
tem u kan seorang janda berusia 41 tahun, Patty O’Reilly, dan sau-
darinya Mary, dengan seorang narapidana berusia 49 tahun, Mike
Albertson. Mike sedang menjalani hukuman penjara 14 tahun karena
m enewaskan suam i Patty, Danny, dua setengah tahun sebelum nya.
Danny tertabrak oleh truk Mike dari belakang ketika Danny sedang
bersepeda. Selama empat jam, Patty mencurahkan kepada Mike
perasaan benci yang awalnya dia rasakan terhadap Mike, kata-
http://facebook.com/indonesiapustaka

kata terakhir suam inya kepadanya secara rinci, bagaim ana dia dan
kedua putrinya yang m asih m u da m enerim a kabar tentang kem atian
Danny dari wakil sheriff, dan ba gaim ana dia setiap hari teringat akan
Danny gara-gara hal-hal yang sepertinya sepele seperti m endengar
lagu di radio atau melihat seorang pesepeda. Mike menuturkan
kepada Patty kisah hidupnya yang m engalam i pelecehan seksual oleh
ayahnya, kecanduan obatnya, punggungnya yang patah, kehabisan
PERADILAN RESTORATIF ● 131

pil penghilang rasa sakit pada m alam peristiwa naas itu terjadi,
bagaim ana dia m enelepon dan ditolak oleh pa carnya, berangkat dalam
keadaan m abuk dengan truknya untuk m e m e riksakan diri ke rum ah
sakit, m elihat seorang pesepeda—dan m engakui bahwa dia m ungkin
m enabrak Danny dengan sengaja, dalam am arah ter hadap sang ayah,
yang telah m em perkosanya berulang kali, dan ter hadap sang ibu,
yang tidak m enghentikan sang ayah. Pada akhir em pat jam itu, Patty
menutup proses itu dengan kata-kata, “Memaafkan sungguh sulit,
nam un tidak m em aafkan lebih sulit lagi.” Selam a se m inggu berikutnya
Patty m erasa terlepas dari bebannya, m em peroleh ke kuatan, dan
tabah setelah m elihat bahwa orang yang m enewaskan suam inya di
seberang m eja sana telah m elihat kepedihan m acam apa yang telah dia
sebabkan. Setelahnya, Mike silih berganti merasa lemas, depresi, dan
lega karena kesediaan Patty untuk m enjum pai dan m e m aafkaannya.
Di nakas samping tempat tidurnya, Mike meletakkan sepucuk kartu
yang Patty bawa untuknya dari putrinya Siobhan: “Yang terhorm at
Bapak Albertson, hari ini 16 Agustus dan saya akan berulangtahun ke-
10 pada 1 Septem ber. Saya hanya ingin Bapak tahu bahwa saya sudah
m em aafkan Bapak. Saya m asih m e rin du kan Ayah saya, saya rasa untuk
seum ur hidup. Saya harap Bapak baik-baik saja. Dadah, Siobhan.”
Program -program peradilan restoratif sem acam itu telah beroperasi
selam a 20 tahun-an di Australia, Kanada, Selandia Baru, Britania, dan
berbagai negara bagian Amerika. Masih banyak coba-coba yang ter-
jadi—m isalnya, apakah pertem uan itu harus m elibatkan hanya pelaku
dan korban ataukah juga harus m elibatkan kerabat, tem an, dan guru;
apa kah pertem uan itu harus dilangsungkan pada tahap awal (segera
setelah penahanan) atau tahap lanjut (di penjara, seperti dalam
kasus Patty dan Mike); dan apakah ada upaya penggantian kerugian
oleh pelaku kepada korban. Ada banyak kisah anekdotal m engenai
hasilnya, dan sejum lah uji kontrol yang secara acak m em asukkan
pelaku kejahatan ke dalam sa lah satu dari beberapa program alternatif
atau ke dalam kelom pok kontrol tanpa program sem acam itu, dan
http://facebook.com/indonesiapustaka

kem udian m engevaluasi ha sil yang diperoleh secara statistik. Hasil


baik yang dilaporkan dalam analisis statistik kum ulatif kasus dari
beberapa program antara lain lebih rendahnya tingkat kejahatan
lanjutan yang dilakukan oleh si pelaku, dan kalaupun dilakukan lagi
kejahatannya lebih ringan, ber ku ran gnya perasaan m arah dan takut
korban, dan m eningkatnya perasaan am an dan lega korban. Secara
tidak m engejutkan, hasil lebih baik diper oleh dalam kasus-kasus di
132 ● KOMPENSASI ATAS KEMATIAN SEORANG ANAK

m ana pelaku bersedia bertem u korban, am bil bagian secara aktif dalam
pertem uan, dan m enyadari luka yang telah dia akibatkan, daripada
dalam kasus-kasus di m ana pelaku tidak berniat m engikuti pertem uan
yang diwajibkan oleh pengadilan.
Tentu saja, peradilan restoratif bukanlah obat sapujagad untuk
sem ua pelaku kejahatan dan korban. Peradilan restoratif m em bu-
tuhkan fasilitator terlatih. Sejum lah pelaku kejahatan tidak m erasa
m enyesal, dan sejum lah korban akan m erasa traum a, bukan terbantu,
karena ha rus m engingat-ingat lagi kejahatan itu di hadapan sang
pelaku. Per adilan restoratif sebaiknya hanya m erupakan tam bahan,
bukan pengganti, sistem peradilan pidana kita. Namun peradilan
restoratif sungguh m enjanjikan.

Ke u n ggu lan -ke u n ggu lan d an h arga yan g h aru s


d ibayarkan
Kesim pulan-kesim pulan apa yang bisa kita tarik dari perbandingan
penyelesaian perselisihan di negara dan di m a syarakat berskala kecil?
Di satu sisi, dalam bidang penyelesaian per se lisihan, seperti juga dalam
bidang-bidang lain yang akan dibahas di bab-bab berikutnya dalam
buku ini, kita tidak boleh secara naif m engidealisasikan m asyarakat
berskala kecil, m em andangnya serba m engagum kan, m elebih-lebihkan
keunggulan-keunggulannya, dan m engkritik pem erintahan negara
m eskipun hanya sebagai hal buruk yang diperlukan. Di sisi lain, banyak
m asyarakat berskala kecil yang m em ang m em iliki sejum lah ciri-ciri
yang bisa kita terapkan juga dalam m asyarakat negara kita secara
berm anfaat.
Sedari awal, izinkan saya m encegah kesalahpaham an dan m e-
ne gaskan lagi bahwa penyelesaian perselisihan di negara industri
m odern pun sudah m engandung wilayah-wilayah yang m em anfaatkan
m ekanism e-m ekanism e penyelesaian perselisihan bergaya tribal. Se-
waktu kita berselisih dengan seorang pedagang, sebagian besar orang
tidak langsung m enyewa pengacara atau m enggugat; kita m ulai de-
http://facebook.com/indonesiapustaka

ngan berdiskusi dan bernegosiasi dengan si pedagang, barangkali bah-


kan m em inta tem an untuk m enghubungi si pedagang m ewakili kita
bila kita m erasa terlalu m arah atau tidak berdaya. Sebelum nya saya
sudah sebutkan bahwa banyak profesi dan kelom pok dalam m a sya-
rakat industri yang m em iliki prosedur rutin m ereka sendiri untuk m e-
nye lesaikan perselisihan. Di daerah-daerah perdesaan dan daerah-
daerah kantong kecil di m ana setiap orang m engenal satu sam a lain
KEUNGGULAN-KEUNGGULAN DAN HARGA YANG HARUS DIBAYARKAN ● 133

dan m erasa bahwa hubungan di antara m ereka akan berlangsung lam a,


m otivasi dan tekanan untuk m endam aikan perselisihan secara inform al
sungguh kuat. Bahkan m eskipun kita akhirnya berpaling kepada peng-
acara, sejum lah pihak yang berselisih m engharapkan hubungan yang
terlus berlangsung—m isalnya seperti sejum lah suam i-istri yang ber-
cerai dan sudah m em iliki anak, ataupun m itra bisnis atau pasangan
kerja—akhirnya m enggunakan pengacara untuk m em antapkan kem bali
hubungan yang tidak bermusuhan. Banyak negara selain Papua Nugini
m asih cukup baru atau lem ah sehingga sebagian besar m asyarakat
terus berfungsi dalam cara-cara tradisional.
Dengan m engingat hal tersebut, kini m arilah kita kenali tiga ke-
unggulan bawaan peradilan negara, bila peradilan tersebut berfungsi
secara efektif. Pertam a dan paling utam a, satu m asalah m endasar
yang sepertinya dim iliki oleh sem ua m asyarakat berskala kecil ada-
lah, ka rena tidak m em iliki kewenangan politik pusat yang m e m e gang
m onopoli kekuatan pem balasan, m ereka tidak m am pu m encegah ang-
gota m asyarakat yang m em bandel untuk m elukai anggota lainnya,
dan juga tidak m am pu m encegah anggota m asyarakat yang m erasa
diperlakukan tidak adil untuk m ain hakim sendiri dan berupaya
mencapai tujuan melalui kekerasan. Namun kekerasan mengundang
ke kerasan balasan. Seperti yang akan kita lihat di dua bab berikutnya,
kebanyakan m asyarakat berskala kecil terperangkap dalam siklus
kekerasan dan peperangan. Pem erintahan negara dan ke datuan yang
kuat berjasa sangat besar karena m em utus siklus-siklus se m acam itu
dan m em egang m onopoli kekuatan. Tentu saja, saya tidak m engklaim
bahwa ada negara yang sepenuhnya berhasil m eredam kekerasan, dan
saya m engakui bahwa negara pun m enggunakan kekerasan dengan
derajat berbeda-beda terhadap warganya sendiri. J ustru saya per-
hatikan bahwa, sem akin efektif kontrol yang diberlakukan oleh negara,
se m akin terbatas kekerasan oleh bukan-negara.
Itulah keunggulan bawaan pem erintahan negara, dan alasan utam a
m engapa m asyarakat besar di m ana orang-orang asing biasa berjum pa
http://facebook.com/indonesiapustaka

satu sam a lain selam a ini cenderung m enghasilkan datu yang kuat dan
kem udian pem erintahan negara. Kapan pun kita m endapati diri kita
cenderung m engagum i penyelesaian perselisihan dalam m asyarakat
ber skala kecil, kita harus m engingatkan diri sendiri bahwa penyelesaian
per selisihan m ereka m em iliki dua cabang, dengan satu cabang berupa
ne gosiasi dam ai yang m engagum kan sem entara cabang yang satu lagi
adalah kekerasan dan perang yang harus disesali. Penyelesaian per-
134 ● KOMPENSASI ATAS KEMATIAN SEORANG ANAK

selisihan oleh negara juga m em iliki dua cabang, satu di an taranya


berupa negosiasi dam ai, nam un cabang konfrontasional yang ke dua
hanyalah sidang. Bahkan sidang yang paling m erepotkan sekali pun
m a sih lebih bagus daripada perang saudara atau siklus pem bunuhan
balas dendam . Fakta itu m ungkin m em buat anggota-anggota m a sya-
rakat berskala kecil lebih bersedia daripada anggota-anggota m a sya ra-
kat negara untuk m enyelesaikan perselisihan pribadi m elalui negosiasi,
dan m em fokuskan negosiasi kepada keseim bangan em osional dan pe-
m ulihan hubungan, bukan berdebat benar-salah.
Keunggulan atau potensi keunggulan kedua peradilan yang di-
laksanakan oleh negara dibandingkan peradilan tradisional m andiri
m e libatkan hubungan kuasa. Pihak yang berselisih dalam m asyarakat
berskala kecil perlu m em iliki sekutu agar posisi tawarnya kuat, dan bila
dia betul-betul ingin m enagih ternak yang telah disarankan oleh datu
kulit-macan Nuer sebagai kompensasi yang patut. Itu mengingatkan
saya akan satu artikel sangat berpengaruh m engenai peradilan negara
ala Barat, berjudul “Bargaining in the Shadow of the Law” atau “Tawar-
m enawar di bawah Bayang-bayang Hukum ”—yang berarti m e diasi
di negara berlangsung dengan kedua pihak m enyadari bahwa, bila
m ediasi gagal, perselisihan itu akan diselesaikan di pengadilan m e -
lalui penerapan hukum . Untuk alasan-alasan yang sam a, negosiasi
kom pensasi dalam m asyarakat berskala kecil berlangsung "dalam
bayang-bayang perang"—yang berarti kedua pihak tahu bahwa, bila ne-
gosiasi tidak berhasil, alternatifnya adalah perang atau kekerasan. Pe-
ngetahuan itu m enciptakan kondisi yang berat sebelah dalam m a sya-
rakat berskala kecil dan m em berikan daya tawar yang kuat bagi pihak
yang diduga bisa m enggalang lebih banyak sekutu seandainya perang
pecah.
Secara teoretis, peradilan negara bertujuan m enciptakan kondisi
yang tidak berat sebelah, m enawarkan keadilan yang m erata bagi se-
m ua, dan m encegah pihak yang berkuasa atau kaya m e nya lah gu na-
kan kekuatannya sehingga tercapailah penyelesaian yang tidak adil.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Tentu saja, saya dan setiap pem baca akan langsung m em protes “Se cara
teori iya sih, tapi...!” Pada kenyataannya, seorang penggugat yang kaya
m enikm ati keunggulan dalam kasus-kasus perdata m aupun pidana. Dia
bisa m enyewa pengacara yang m ahal dan saksi ahli. Dia bisa m e nekan
lawan yang kalah kaya agar m enyetujui penyelesaian yang ditawarkan,
dengan m engajukan peninjauan kem bali berkali-kali guna m em buat
ongkos hukum lawannya bengkak, dan dengan m engajukan tun tutan
KEUNGGULAN-KEUNGGULAN DAN HARGA YANG HARUS DIBAYARKAN ● 135

yang tidak ada artinya nam un akan m enguras kantong pihak yang satu
lagi untuk m enghadapinya. Sejum lah sistem peradilan negara bersifat
korup dan m em bela pihak-pihak yang kaya atau m em iliki koneksi
politik yang baik.
Ya, sayangnya m em ang benar bahwa pihak yang lebih kuat dalam
perselisihan m enikm ati keunggulan yang tidak adil dalam sistem per-
adilan negara, seperti juga dalam masyarakat berskala kecil. Namun
setidak-tidaknya ada perlindungan yang disediakan oleh negara ke pa-
da pihak yang lem ah, sem entara m asyarakat berskala kecil tidak m e -
nye diakan perlindungan sem acam itu, paling-paling sedikit saja. Da-
lam negara yang dikelola dengan baik, korban yang lem ah tetap bisa
m e laporkan kejahatan ke polisi dan sering kali atau biasanya akan
didengarkan; orang m iskin yang m em ulai bisnis bisa m em inta bantuan
ne gara untuk m em astikan pelaksanaan kontrak; pengacara yang
dibayar oleh pengadilan disediakan bagi tergugat yang m iskin dalam
kasus pidana; dan penggugat yang m iskin dengan kasus yang kuat
m ungkin bisa m enem ukan pengacara pribadi yang bersedia m enerim a
kasus itu de ngan asas kontingensi (alias pengacara bersedia dibayar
sekian per sen dari uang yang diperoleh penggugat seandainya kasusnya
m enang).
Keunggulan ketiga peradilan negara m elibatkan tujuannya yaitu
m enetapkan benar dan salah, serta m enjatuhkan hukum an dan m eng-
kaji penalti perdata terhadap pelaku kesalahan, sehingga m en cegah
anggota-anggota lain m asyarakat m elakukan kejahatan atau ke salahan.
Pencegahan m erupakan tujuan eksplisit sistem peradilan pidana
kita. Pada kenyataannya, pencegahan juga m erupakan tujuan sis tem
peradilan gugatan perdata kita, yang m engkaji penyebab dan tanggung
jawab atas kerugian, sehingga berupaya m encegah perilaku penyebab
kerugian dengan m em buat setiap orang m enyadari hu kum an perdata
yang m ungkin harus m ereka bayarkan bila m ereka m e lakukan perilaku
semacam itu. Misalnya, seandainya Malo dituntut bersalah di dalam
sistem peradilan negara yang efektif atas kerugian per data karena
http://facebook.com/indonesiapustaka

menewaskan Billy, para pengacara Malo pastilah berargumen (dengan


kem ungkinan berhasil yang baik) bahwa tanggung jawab atas kem atian
Billy bukan berada pada Malo, yang menyetir dengan aman, melainkan
pada pengem udi m inibus yang m em biarkan Billy turun m eskipun lalu-
lintas sedang ram ai, dan pada pam an Billy, Genjim p, yang m enunggu
untuk m enjem put Billy di sisi seberang jalanan yang ram ai. Satu kasus
sungguhan di Los Angeles yang sepadan dengan kasus Billy dan Malo
136 ● KOMPENSASI ATAS KEMATIAN SEORANG ANAK

adalah Schwartz vs Helms Bakery. Seorang anak laki-laki kecil tewas


tertabrak m obil sewaktu sedang berlari m enyeberangi jalanan yang
ram ai guna m em beli donat coklat dari truk Helm s Bakery; bocah itu
m em inta supir m enunggu se m en tara dia lari m enyeberangi jalan ke
rum ahnya untuk m engam bil uang; sang supir setuju dan tetap m e-
m arkir m obilnya sam bil m enunggu si bocah di jalan yang ram ai itu;
dan pengadilan m em inta juri m e m u tus kan apakah Helm s Bakery turut
bertanggungjawab atas kem atian si bocah, akibat keteledoran sang
pengem udi.
Kasus-kasus gugatan sem acam itu m em berikan tekanan kepada
warga m asyarakat negara untuk terus-m enerus m ewaspadai ke-
m ungkinan bahwa keteledoran m ereka m ungkin ikut m e nye bab kan
kecelakaan. Sem entara itu, penyelesaian yang dirundingkan secara
pribadi antara klan Billy dan kolega-kolega Malo tidak memberikan
insentif bagi orang-orang dewasa dan pengemudi minibus di Nugini
untuk m erenungkan risiko yang ada bila anak sekolah berlari-lari
m enyeberangi jalan. Terlepas dari jutaan m obil yang m ondar-m andir
setiap hari di jalanan Los Angeles, dan terlepas dari segelintir m obil
polisi yang berpatroli di jalan-jalan kam i, kebanyakan orang Los
Angeles berkendara dengan am an nyaris sepanjang waktu, dan ha-
nya sekian kecil persentase dari jutaan perjalanan harian itu yang
m enyebabkan kecelakaan atau cedera. Salah satu alasannya adalah
kuasa pencegahan sistem peradilan perdata dan pidana kam i.
Namun izinkan saya mencegah kesalahpahaman lagi: saya tidak se-
dang m em uji-m uji peradilan negara sebagai selalu unggul. Ada harga
yang harus dibayarkan negara dem i m em peroleh ketiga ke unggulan
itu. Sistem peradilan pidana negara ada terutam a untuk m en dorong
tercapainya tujuan-tujuan negara: m engurangi kekerasan pribadi,
m em upuk ketaatan terhadap hukum -hukum negara, m elindungi
m asyarakat sebagai keseluruhan, m erehabilitasi pelaku ke ja hat an,
serta m enghukum dan m encegah kejahatan. Fokus negara kepada
tujuan-tujuan itu cenderung m engurangi perhatian negara terhadap
http://facebook.com/indonesiapustaka

tujuan-tujuan warga-warga individual yang terlibat dalam pem ecahan


perselisihan dalam m asyarakat berskala kecil: pem ulihan hubungan
(atau non-hubungan), dan m em adam kan em osi. Bukan berarti negara
se nantiasa m engabaikan tujuan-tujuan itu, m elainkan negara kerap
kali m engabaikannya karena terfokus pada tujuan-tujuan lain. Sebagai
tam bahan, ada cacat-cacat lain di sistem peradilan negara yang bukan
m erupakan bawaan aslinya, nam un tetap saja ditem ukan di m ana-
KEUNGGULAN-KEUNGGULAN DAN HARGA YANG HARUS DIBAYARKAN ● 137

m ana: kom pensasi yang terbatas atau bahkan tidak diberikan oleh
sistem peradilan pidana terhadap korban kejahatan (kecuali m e-
lalui gugatan perdata terpisah); dan, dalam gugatan perdata, lam -
bat nya pem ecahan perselisihan, sulitnya m enghitung cedera pribadi
dan em osional dalam takaran uang, kurangnya aturan (di AS) yang
m e m erintahkan penggugat yang sukses untuk m enanggung biaya
pengacara, dan kurangnya rekonsiliasi (atau yang lebih parah,
seringkali ter jadi peningkatan perm usuhan) antara pihak-pihak yang
berselisih.
Kita telah lihat bahwa m asyarakat negara dapat m engurangi m asa-
lah-m asalah itu dengan turut m enerapkan praktik-praktik yang di-
ilham i oleh prosedur-prosedur di m asyarakat berskala kecil. Da lam
sistem peradilan perdata kita, kita bisa m enginvestasikan lebih ba-
nyak uang untuk m elatih dan m enyewa m ediator dan m em astikan ke-
ter sediaan hakim . Kita bisa m encurahkan lebih banyak upaya untuk
m ediasi. Kita bisa m elim pahkan biaya pengacara kepada penggugat
yang berhasil dalam kondisi-kondisi tertentu. Dalam sistem peradilan
pidana Am erika, kita bisa kaji kem bali apakah m odel-m odel Eropa
yang lebih m enekankan rehabilitasi dan tidak m engutam akan
pem balasan atas kejahatan akan lebih berm anfaat bagi pelaku keja-
hatan, bagi m a sya rakat secara keseluruhan, dan bagi ekonom i.
Sem ua saran tersebut telah banyak didiskusikan. Saran-saran itu
m e m iliki kesulitannya sendiri-sendiri. Saya berharap bahwa, dengan
pe nge tahuan yang lebih m endalam tentang bagaim ana m asyarakat
ber skala kecil m enyelesaikan perselisihan, para ahli hukum dapat
m enyadari betapa baiknya bila kita m em asukkan prosedur-prosedur
yang m engagum kan dari m asyarakat berskala kecil ke dalam sistem
kita sendiri.
http://facebook.com/indonesiapustaka
BAB 3

Satu Bab Pendek,


Mengenai Suatu Perang Kecil

Perang Dani ▪ Urutan kejadian perang ▪ Korban tewas dalam perang

Pe ran g D an i
Bab ini akan m em perkenalkan peperangan tradisional dengan m e-
nuturkan serangkaian pertem puran dan serbuan yang cukup lazim
terjadi di antara orang-orang Dani di Papua, yang m enjadi tidak biasa
hanya karena betul-betul diamati dan diilmkan oleh ahli antropologi.
Orang-orang Dani adalah salah satu populasi beranggota paling
banyak dan padat di Papua, berpusat di Lem bah Besar Sungai Baliem
(Papua Indonesia). Antara 190 9 dan 1937, delapan ekspedisi Barat
m engadakan kontak dan m enyam bangi sejenak kelom pok-kelom pok
Dani yang tinggal di tepi luar lem bah ataupun tetangga-tetangga
m ereka tanpa m em asuki lem bah itu sendiri. Seperti yang disebutkan
http://facebook.com/indonesiapustaka

di Bab 1, lem bah itu dan populasinya yang berlim pah "ditem ukan"—
m aksudnya, pertam a kali dilihat oleh orang-orang Eropa, sekitar
46.0 0 0 tahun setelah tibanya nenek m oyang orang-orang Papua—pada
23 J uni 1938, oleh pesawat terbang yang m e la kukan peninjauan untuk
Ekspedisi Archbold. Kontak pertam a ber hadap-hadapan m enyusul
pada 4 Agustus, ketika patroli eks pedisi yang dipim pin oleh Kapten
Teerink berjalan ke dalam lem bah itu. Setelah Ekspedisi Archbold
PERANG DANI ● 139

m eninggalkan lem bah itu pada Desem ber 1938, kontak lebih lanjut
orang-orang Dani Baliem dengan orang-orang Eropa (selain upaya
penyelam atan singkat oleh Angkatan Darat AS terhadap awak pesawat
terbang yang jatuh pada 1945) ditunda sam pai 1954 dan tahun-
tahun berikutnya, ketika beberapa stasiun m isionaris dan pos patroli
pem erintah Belanda didirikan di lem bah itu.
Pada 1961, ekspedisi dari Museum Peabody, Universitas Harvard,
tiba untuk melakukan penelitian antropologi dan perekaman ilm.
Tem pat perkem ahan yang dipilih berada di kawasan Dani Dugum ,
sebab di daerah itu tidak ada stasiun pem erintah atau m isionaris serta
relatif hanya berkontak sedikit dengan dunia luar. Ter nyata peperangan
tradisional m asih berlangsung. Catatan-catatan ten tang pertarungan
di sana antara April dan Septem ber 1961 telah m un cul dalam beberapa
bentuk: terutam a, disertasi doktoral (dalam ba hasa Belanda) oleh ahli
ilm u sosial J an Broekhuijse dari Universitas Utrecht; dua buku oleh
ahli antropologi Karl Heider, berdasarkan disertasi doktoral Heider di
Harvard; satu buku populer, Under the Mountain Wall, oleh penulis
Peter Matthiessen; dan satu ilm dokumenter, Dead Birds, diproduseri
oleh Robert Gardner dan m encakup rekam an video luar biasa
pertarungan antara anggota-anggota suku yang m enghunus tom bak.
Rangkum an singkat berikut ini, m engenai peperangan Dani Dugum
selam a beberapa bulan pada tahun 1961, terutam a berasal dari tesis
Broekhuijse karena tesisnya m erupakan catatan yang paling rinci,
dilengkapi dengan inform asi dari Heider ditam bah beberapa rincian
dari Mathiessen. Broekhuijse mewawancarai peserta pertempuran,
yang m enjabarkan kepadanya pandangan m ereka atas setiap per-
tem puran, suasana hati yang tim bul akibat pertem puran, dan perincian
m engenai luka setiap orang. Ada beberapa ketidaksesuaian kecil di
antara ketiga catatan ini, terutam a dalam ejaan nam a-nam a Dani
(Broekhuijse menggunakan ortograi Belanda sementara Heider meng-
gunakan ortograi Amerika), dan dalam beberapa perincian seperti
perbedaan satu hari dalam hal tanggal salah satu pertem puran. Tapi,
http://facebook.com/indonesiapustaka

banyak ke sa m a an inform asi yang dituliskan oleh ketiga penulis ini dan
juga oleh Gardner, dan catatan-catatan m ereka secara garis besar saling
cocok.
Sewaktu Anda m em baca catatan gabungan ini, saya pikir Anda
akan kaget, seperti juga saya, oleh banyaknya ciri peperangan Dani
yang ternyata m irip dengan peperangan di banyak m asyarakat tradi-
sio nal lain yang akan disebutkan di Bab 4. Ciri-ciri yang sam a itu m en-
140 ● SATU BAB PENDEK, MENGENAI SUATU PERANG KECIL

ca kup yang berikut ini. Penyergapan diam -diam dan pertem puran ter-
buka yang sering terjadi (Gam bar 36), m asing-m asing m enyebabkan
se dikit kem atian, disela oleh pem bantaian yang jarang terjadi, yang
m e m us nahkan seluruh populasi atau m em bunuh sebagian besarnya.
Yang disebut peperangan tribal itu sering kali atau biasanya sebenarnya
ber langsung intrasuku, antara kelom pok-kelom pok yang m enggunakan
bahasa yang sam a dan m em iliki kesam aan budaya, bukan antarsuku.
Terlepas dari kem iripan atau identitas budaya yang sam a-sam a di-
m iliki pihak-pihak yang berperang, m ereka sering m enistakan satu
sam a lain sebagai bukan m anusia. Anak laki-laki sejak kanak-kanak
su dah dilatih bertarung, dan m ewaspadai serangan. Penting untuk
m enggalang persekutuan, nam un persekutuan sering berubah. Balas
dendam berperan dom inan sebagai alasan bagi siklus kekerasan. (Karl
Heider m alah m enjabarkan alasan tersebut sebagai kebutuhan untuk
m e nenangkan arwah kawan-kawan yang belum lam a terbunuh.) Pe-
perangan m elibatkan keseluruhan populasi, bukan hanya balatentara
pro fesional yang terdiri atas laki-laki dewasa yang tidak banyak jum -
lahnya: ada pem bunuhan sengaja terhadap perem puan dan anak-
anak "sipil" m au pun terhadap "prajurit" laki-laki. Desa dibakar dan
dijarah. Eisiensi militer rendah bila dipandang dengan standar pe-
pe rangan m odern, sebagai akibat ketersediaan senjata jarak-pen dek
sem ata, kepem im pinan yang lem ah, rencana yang sederhana, kurang-
nya pelatihan m iliter ke lom pok, dan kurangnya serangan yang ter-
sin kronisasi. Tapi, ka rena bersifat kronis, peperangan pun m em iliki
akibat pada segala segi perilaku m anusia. Terakhir, jum lah korban jiwa
m utlak tak pelak ren dah sebab ukuran populasi-populasi yang terlibat
m em ang kecil (diban dingkan dengan populasi nyaris sem ua negara
m odern), nam un jum lah korban jiwa relatif sebagai persentase dari
populasi yang terlibat ter hitung tinggi.

U ru tan ke jad ian p e ran g


Perang Dani digam barkan sebagai berlangsung antara dua perse-
http://facebook.com/indonesiapustaka

kutuan, yang m asing-m asing berjum lah sam pai 5.0 0 0 jiwa. Guna
m em bantu pem baca m engingat nam a-nam a Dani yang tidak diakrabi
dan akan m uncul berulang-ulang di beberapa halam an berikut, saya
m erangkum sem ua kom posisi persekutuan dalam Tabe l 3 .1. Satu
persekutuan, disebut Persekutuan Gutelu m engikuti nam a pem im -
pinnya Gutelu, terdiri atas beberapa konfederasi yang m asing-m asing
berjum lah sekitar 1.0 0 0 orang, term asuk Konfederasi Willihim an-
URUTAN KEJADIAN PERANG ● 141

Walalua yang m encakup ka wasan Dugum Dani, ditam bah sekutu-


sekutu mereka Gosi-Alua, Dloko-Mabel, dan konfederasi-konfederasi
lain. Persekutuan lain, yang hidup di sebelah selatan Persekutuan
Gutelu, m encakup Widaia dan sekutu-sekutu m ereka sem isal konfe-
derasi-konfederasi Siep-Eloktak, Hubu-Gosi, dan Asuk-Balek. Perse-
kutuan Gutelu pada saat bersam aan juga berperang dengan tetangga
m ereka di sebelah utara, yang tidak dibahas di dalam catatan berikut
ini. Beberapa dasawarsa sebelum peristiwa-peristiwa tahun 1961,
Wilihim an-Walalua dan Gosi-Alua tadinya bersekutu dengan Siep-
Eloktak dan merupakan lawan Dloko-Mabel, sampai pencurian babi
dan perselisihan m engenai perem puan m e nyebabkan Wilihim an-
Walalua dan Gosi-Alua bersekutu dengan Dloko-Mabel, membentuk
persekutuan di bawah pim pinan Gutelu, dan m enyerang serta m engusir
Siep-Eloktak, yang lantas m enjadi sekutu Widaia. Setelah peristiwa-
peristiwa tahun 1961, Dloko-Mabel lagi-lagi menyerang dan menjadi
m usuh Wilihim an-Walalua dan Gosi-Alua.
Sem ua kelom pok ini m erupakan penutur bahasa Dani dan m e-
m iliki kem iripan dalam hal budaya dan cara hidup. Dalam paragraf-
paragraf berikut, saya akan secara singkat m enyebut kedua pihak yang
berseberangan sebagai Wilihim an dan Widaia, nam un harus diingat
bahwa m asing-m asing dari kedua konfederasi itu biasanya didam pingi
da lam pertem puran oleh satu atau beberapa konfederasi sekutunya.

Tabe l 3 .1. Ke an ggo taan d u a p e rs e ku tu an D an i yan g be rp e ran g

PERSEKU TU AN GU TELU PERSEKU TU AN W ID AIA

Konfederasi Wilihim an-Walalua Konfederasi Widaia


Konfederasi Gosi-Alua Konfederasi Siep-Eloktak
Konfederasi Dloko-Mabel Konfederasi Hubu-Gosi
Konfederasi-konfederasi lain Konfederasi Asuk-Balek
Konfederasi-konfederasi lain

Pada Februari 1961, sebelum catatan-catatan utam a Broekhuijse,


http://facebook.com/indonesiapustaka

Heider, dan Matthiessen bermula, empat perempuan dan satu laki-


laki dari Persekutuan Gutelu dibunuh oleh orang-orang Widaia se-
wak tu m ereka sedang m engunjungi kerabat satu klan m ereka di suku
tetangga un tuk berjam u babi, sehingga Gutelu pun m urka. Sebelum nya
juga ada pem bunuhan-pem bunuhan lain. Oleh karena itu, kita harus
m e nyebutnya peperangan kronis, bukan perang dengan awal dan
penyebab yang bisa disebutkan dengan pasti.
142 ● SATU BAB PENDEK, MENGENAI SUATU PERANG KECIL

Pada 3 April, seorang laki-laki Widaia yang terluka dalam per-


tem pur an sebelum nya m eninggal dunia. Bagi Wilihim an, kem atian
itu m em ba las kan kem atian seorang laki-laki Wilihim an pada bulan
J anuari dan m e nunjukkan betapa m urah-hatinya nenek m oyang m e-
reka, nam un bagi Widaia, kem atian anggota Widaia yang baru ter-
jadi itu harus dibalaskan guna m em ulihkan hubungan m ereka dengan
nenek m oyang m ereka sendiri. Pada fajar 10 April, orang-orang Widaia
m e neriakkan tantangan un tuk berperang secara terbuka, yang diterim a
orang-orang Wilihiman. Mereka pun bertarung sampai hujan meng-
akhiri pertem puran itu pada pukul 5 sore *. Sepuluh orang Wilihim an
terluka ringan, salah seorang sekutu Gosi-Alua (seorang laki-laki ber-
nam a Ekitam elek) cedera parah (ujung sebatang anak panah patah
dalam paru-paru kirinya, dan dia m e ninggal dunia 17 hari kem udian),
dan orang Widaia dalam jum lah yang tidak diperinci terluka. Hasil itu
m enyebabkan kedua belah pihak ingin ber tarung lagi.
Pada 15 April, lagi-lagi tantangan pertem puran dilayangkan dan
diterim a, dan sekitar 40 0 prajurit bertarung sam pai turunnya m a lam

* Di sini dan di beberapa paragraf berikutnya, kita menjumpai satu ciri peperangan Dani
yang pada awalnya membingungkan kita: pertempuran sesuai perjanjian. Dengan kata
lain, satu pihak menantang pihak yang satu lagi untuk berjanji bertemu di tempat ter-
tentu pada hari tertentu untuk bertempur. Pihak yang satu lagi bebas untuk menerima
atau mengabaikan tantangan itu. Ketika pertempuran telah dimulai, salah satu pihak bo-
leh meminta mengakhirinya bila hujan mulai turun. Fakta-fakta ini telah menyesatkan
sejum lah komentator sehingga menyatakan bahwa peperangan Dani teritualisasi, ti-
dak dimaksudkan untuk membunuh, dan hanyalah sebentuk pertandingan olahraga.
Pandangan itu ditentang oleh fakta-fakta yang tidak bisa diragukan bahwa orang-
orang Dani ternyata terluka dan terbunh dalam pertempuran-pertempuran demikian,
bahwa orang-orang Dani lain terbunuh dalam serbuan dan penyergapan, dan banyak
yang terbunuh dalam pem bantaian yang jarang terjadi. Ahli antropologi Paul Roscoe
berargumen bahwa apa yang tam paknya merupakan ritualisasi pertempuran Dani tidak
bisa terhindarkan akibat medan yang berawa-rawa dan berkubangan, dengan hanya dua
bukit kering sempit di mana kelompok-kelompok besar petarung bisa bermanuver dan
bertarung dengan aman. Bertempur dalam kelompok-kelompok besar di tempat-tempat
lain sangat berisiko ketika mengejar atau menjauhi lawan melalui rawa-rawa dengan
http://facebook.com/indonesiapustaka

jembatan-jem bat an bawah air tersembunyi yang diakrabi oleh lawan. Sebagai dukungan
terhadap tafsir Roscoe, apa yang tampaknya merupakan ritualisasi pada peperangan Dani
tidak ditemukan di banyak kelompok Dataran Tinggi Papua lain yang bertarung di me-
dan kering dan keras. Ada rumor-rumor yang beredar, tampaknya dipicu oleh kaum mi-
sionaris, bahwa Ekspedisi Harvard itu sendiri, yang sangat ingin memperoleh rekaman ilm
yang dramatis, entah bagaimana memprovokasi orang-orang Dani untuk bertarung dan
saling membunuh. Tapi, orang-orang Dani bertarung sebelum ekspedisi itu tiba dan setelah
ekspedisi itu pergi, dan penyelidikan pemerintah tidak menemukan dasar ba gi rumor
tersebut.
URUTAN KEJADIAN PERANG ● 143

m em aksa sem ua orang pergi pulang. Sekitar 20 laki-laki pada m asing-


m asing pihak terluka. Tiga sekutu Widaia yang berasal dari Hubikiak
harus dibopong pergi, diiringi tawa dan ledekan keji dari Wilihim an,
yang m eneriakkan ucapan-ucapan seperti, “Biarkan saja bajingan-
bajingan itu jalan sendiri, m ereka bukan babi! ... Pulang sana, biar
istrim u m asakkan ubi buatm u.” Salah satu orang Hubikiak yang ter luka
itu tewas enam m inggu kem udian.
Pada 27 April Ekitam alek, laki-laki Gosi-Alua yang terluka pada 10
April, m eninggal dunia dan dikrem asi. Widaia m enyadari bahwa tidak
ada orang Gosi-Alua dan hanya sedikit orang Wilihim an yang berada di
per kebunan, sehingga 30 orang Widaia m enyeberangi sungai m enuju
wilayah Wilihim an dan m enunggu untuk m enyergap. Ketika tidak
ada yang m uncul, Widaia m erubuhkan salah satu m enara pengawas
Wilihim an dan beranjak pulang (Gam bar 13).
Pada 4 Mei, Wilihiman dan sekutu-sekutunya melayangkan tan-
tangan pertem puran dan m enanti di m edan pertem puran yang dipilih,
nam un tidak ada orang Widaia yang m uncul, sehingga m ereka pun
pulang.
Pada 10 Mei atau 11 Mei, ayah Ekitamalek memimpin serbuan
yang m elibatkan Gosi-Alua, Walalua, dan banyak laki-laki Wilihim an
ke kebun-kebun Widaia sem entara para laki-laki Wilihim an sisanya
dan kaum pe rem puan terus bekerja di kebun dan berlaku seolah-
olah segala se sua tunya biasa-biasa saja, sehingga Widaia tidak akan
m encurigai ada nya penyergapan. Para penyerbu m elihat dua orang
laki-laki Widaia se dang bekerja di kebun Widaia, sem entara orang
ketiga ber diri m enjaga di atas m enara pengawas. Selam a berjam -jam ,
para penyerbu m erayap sem akin dekat sam pai laki-laki Widaia yang
berjaga-jaga m elihat m ereka pada jarak 50 m eter. Ketiga orang Widaia
m e larikan diri, nam un para penyerang berhasil m enangkap salah
seorang yang bernam a Huwai, m enusuknya berulang-ulang dengan
tom bak, lalu kabur. Penyergapan balasan yang dilakukan Widaia di
wilayah Wilihim an tidak m em buahkan apa-apa. Huwai m engem buskan
http://facebook.com/indonesiapustaka

napas terakhir pada hari yang sam a. Tiga orang Wilihim an terluka
ringan dalam aksi hari itu. Wilihim an kini m erasa bahwa m ereka
telah m em balaskan dendam kem atian sekutu Gosi-Alua m ereka, dan
m erayakannya dengan m enari sam pai m alam .
Pada 25 Mei, para prajurit Gutelu di garis depan utara persekutuan
m e reka m enewaskan seorang laki-laki dari Konfederasi Asuk-Balek,
144 ● SATU BAB PENDEK, MENGENAI SUATU PERANG KECIL

yang bersekutu dengan Widaia dan berperan dalam kem atian tanggal
25 Agustus yang akan dijabarkan berikut ini.
Pada 26 Mei, kedua pihak melayangkan tantangan, melakukan
serbuan, dan berperang sam pai jauh petang, dan sesudahnya m ereka
pu lang. Dua belas orang Wilihim an terluka, tapi tidak ada yang serus.
Pada 29 Mei, Widaia melaporkan bahwa prajurit mereka yang ter-
luka pada 15 April baru saja m eninggal, m enyebabkan Wilihim an m e-
m ulai tarian perayaan yang terpaksa dihentikan karena ada laporan
ten tang serbuan Widaia di garis depan utara.
Orang-orang Widaia m erasa gelisah karena m ereka telah m en-
derita dua kem atian tanpa m am pu m em balas dendam . Pada 4 J uni
m e reka m engirim kan kelom pok penyergap yang berkem bang m enjadi
per tem puran yang m elibatkan sekitar 80 0 laki-laki, yang bubar karena
m alam turun. Tiga orang Wilihim an terluka ringan.
Pertem puran besar terjadi pada 7 J uni, m elibatkan 40 0 atau 50 0
pra jurit di m asing-m asnig pihak. Di antara hujan tom bak dan anak
panah dari kelom pok-kelom pok yang terpisah 20 m eter jauh nya,
orang-orang yang berkepala panas m elesat sam pai berjarak kurang
lebih 5 m eter dari m usuh, terus-m enerus m enghindar agar tidak ter-
kena hantam an. Sekitar 20 orang terluka.
J ejak kaki m enunjukkan bahwa Widaia m encoba m enyerang pada 8
J uni, nam un m ereka tidak terlihat.
Pada 10 J uni, Wilihim an sibuk m elaksanakan upacara, dan tidak
ada yang berkebun atau berjaga di m enara pengawas. Pada petang hari
yang panas, seorang laki-laki Wilihim an dan tiga anak laki-laki pergi
un tuk m eneguk air dingin di sungai, di m ana m ereka dikejutkan oleh
30 orang Widaia yang terbagi m enjadi dua kelom pok. Sewaktu ke lom -
pok pertam a m uncul, keem pat orang Wilihim an m elarikan diri, dan
kelom pok Widaia kedua yang bersem bunyi berupaya m em otong pe-
larian m ereka. Si laki-laki Wilihim an dan dua anak laki-laki berhasil
ka bur, nam un Wejakhe, anak laki-laki yang satu lagi, tidak bisa lari
cepat ka rena kakinya yang cedera, tertangkap, dilukai secara parah
http://facebook.com/indonesiapustaka

dengan tom bak, dan m eninggal m alam itu.


Pada 15 J uni, kerabat-kerabat Wejakhe dari Wilihim an m elak sa na-
kan serbuan yang gagal.
Pada 22 J uni, orang-orang Widaia m eneriakkan tantangan, dan
terjadi pertem puran yang m elibatkan kira-kira 30 0 laki-laki di m asing-
m asing pihak, disertai satu penyergapan. Em pat laki-laki terluka ri-
ngan. Seorang laki-laki Dloko-Mabel terluka parah akibat ujung panah
URUTAN KEJADIAN PERANG ● 145

yang patah dalam bahunya. Rekan-rekannya m encoba m engeluarkan


ujung panah itu, pertam a-tam a dengan m enggigit dan m enariknya de-
ngan gigi, kem udian dengan m engoperasinya (tanpa obat bius) dengan
pisau bam bu.
Pada 5 J uli, setelah 2 m inggu tanpa pertarungan, Wilihim an m e-
nyer bu sepetak kebun Widaia. Seorang laki-laki Wilihim an bernam a
J enokm a, yang lebih cepat daripada rekan-rekannya, dengan ge gabah
m elesat di depan tem an-tem annya m engejar enam orang Widaia yang
m elarikan diri, dicegat, dan ditom bak. Rekan-rekannya ka bur, dan
orang-orang Widaia m em bawa pergi jenazah J enokm a nam un m e-
ngem balikannya m alam itu dan m eletakkannya di lahan tidak bertuan
agar bisa diam bil oleh orang-orang Wilihim an. Tiga sekutu Wilihim an
dari Gosi-Alua terluka ringan. Orang-orang Wilihim an m erasa de presi:
m ereka berharap bisa m em bunuh, nam un kem atian justru terjadi
lagi di pihak m ereka. Seorang perem puan tua Wilihim an m eratap,
“Mengapa kalian coba bunuh orang-orang Widaia itu?” Seorang laki-
laki Wilihiman menyahut, “Orang-orang itu musuh kita. Mengapa kita
tidak boleh bunuh m ereka?—m ereka bukan m anusia.”
Pada 12 J uli, orang-orang Wilihim an m enghabiskan waktu seharian
m enanti di persem bunyian sam pai m ereka m engeluarkan tantangan
ter buka pada sekitar pukul 5 sore. Tapi pada hari itu turun hujan,
sehingga orang-orang Widaia tidak m enerim a tantangan itu ataupun
pergi berkebun.
Pada 28 J uli, orang-orang Widaia m elaksanakan serbuan yang ter-
deteksi oleh delapan laki-laki Wilihim an di m enara pengawas. Orang-
orang Wilihim an bersem bunyi dekat-dekat situ. Tidak m enyadari bah-
wa di sekitar m ereka ada orang-orang Wilihim an, orang-orang Wi-
daia m endekati m enara itu, dan salah seorang di antara m ereka m e-
m anjatnya untuk m elihat-lihat. Pada saat itu, orang-orang Wilihim an
yang bersem bunyi m elom pat keluar. Orang-orang Widaia yang berada
di atas tanah m elarikan diri, sedangkan laki-laki yang berada di atas
m enara m en coba m elom pat turun nam un tidak cukup cepat. Dia
http://facebook.com/indonesiapustaka

pun tertangkap dan dibunuh. Malam itu, orang-orang Wilihiman


m engem balikan jena zah nya ke orang-orang Widaia.
Pada 2 Agustus, satu pertem puran kecil terjadi ketika se ekor babi
Widaia entah dicuri oleh Wilihim an atau tersasar dari wilayah Widaia.
Pada 6 Agustus, pertem puran besar pecah di antara orang-orang
Wilihim an, Widaia, dan sekutu kedua belah pihak. J uga ter jadi per-
tem puran paralel antara para anak laki-laki Widaia dan Wilihim an,
146 ● SATU BAB PENDEK, MENGENAI SUATU PERANG KECIL

bahkan yang baru berusia enam tahun. Mereka berdiri berhadap-


hadapan di sisi sungai yang berseberang-seberangan, sa ling m enem -
bakkan anak panah, dipanas-panasi oleh laki-laki yang lebih tua. Hanya
lim a orang yang terluka ringan, sebab pertem puran itu m enyusut
sehingga lebih menjadi saling ejek, bukan pertarungan isik. Sejumlah
contoh makian: “Kalian perempuan, kalian pengecut.” “Mengapa kalian
punya begitu banyak perem puan padahal status kalian begitu rendah?”
“Aku punya lim a istri, dan aku akan kawini lim a lagi, sebab aku hidup
di tanahku sendiri. Kalian buronan yang tak punya ta nah, m aka itu
kalian tak punya istri.”
Pada 16 Agustus, berlangsung satu lagi pertem puran besar yang
m enyeret-nyeret sekutu kedua pihak. Setidaknya 20 laki-laki ter luka,
salah satunya barangkali m engalam i luka serius akibat anak pa nah
yang kena perutnya. Orang-orang Wilihim an m e rasa tegang, tertekan
oleh ketidakm am puan m ereka m em balas dua ke m a tian yang belum
lam a terjadi, dan terobsesi untuk lekas-le kas m em bunuh m usuh. Arwah
nenek m oyang m enginginkan balas den dam , yang belum berhasil
mereka laksanakan sendiri. Mereka merasakan bahwa arwah nenek
m oyang tidak lagi m endukung m ereka, dan bahwa m ereka hanya bisa
bergantung kepada diri sendiri; rasa takut itu m enurunkan gairah
m ereka bertarung.
Pada 24 Agustus, seorang perem puan Widaia yang kesal kepada
suam inya kabur ke tanah Wilihim an guna m encari perlindungan.
Seke lom pok Wilihim an ingin m em bunuhnya sebagai pem balasan atas
kem atian J enokm a pada 5 J uli, nam un m ereka berhasil dibujuk untuk
tidak m e la ku kannya.
Pada 25 Agustus, seperti yang saya tuturkan di Bab 2, em pat laki-
laki Asuk-Balek dari sisi seberang Sungai Baliem datang m engunjungi
kerabat dua orang di antara mereka di daerah Dloko-Mabel. Mereka
tidak se ngaja bertem u sekelom pok Wilihim an, yang langsung m e-
nyadari bahwa orang-orang Asuk-Balek m erupakan sekutu m usuh, dan
dua orang yang tidak punya kerabat di tem pat itu pun harus dibunuh.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Satu di an tara dua orang itu berhasil kabur, nam un yang satu lagi
ditaklukkan dan dibunuh. Sewaktu para laki-laki Wilihim an m enyeret
laki-laki Asuk-Balek yang sekarat itu, anak-anak laki-laki kecil berlarian
di sisinya, m enusuk-nusuk tubuhnya dengan tom bak-tom bak kecil.
Pem bunuhan itu m em icu sorak-sorai dan nyanyian liar di m ana-m ana
di antara orang-orang Wilihim an, diikuti oleh tarian perayaan. Orang
Wilihim an m e nyim pulkan bahwa orang Asuk-Balek itu telah diarahkan
URUTAN KEJADIAN PERANG ● 147

ke m ereka oleh arwah-arwah nenek m oyang m ereka, atau kalau tidak


oleh roh J enokm a. Walaupun pem bunuhan itu belum im pas (ke-
m atian hanya satu m usuh sebagai pem balasan atas kem atian dua orang
Wilihim an sebelum nya), ketegangan berkurang. Pem bunuhan bahkan
satu m usuh saja pun m erupakan pertanda jelas bahwa arwah-arwah
nenek m oyang m em bantu m ereka lagi.
Pada awal Septem ber, serbuan Widaia m enewaskan seorang anak
laki-laki bernam a Digiliak, sem entara serbuan oleh Gutelu m em bunuh
dua orang Widaia. Hari berikutnya, peperangan m endadak ber akhir di
garis depan selatan Gutelu karena didirikannya pos patroli Belanda di
sana, nam un peperangan berlanjut di garis depan Gutelu lainnya.
Setiap tindakan yang dijabarkan hanya m enghasilkan akibat-
akibat kentara yang terbatas, sebab hanya sedikit sekali orang yang
tewas dan tidak ada populasi yang terusir dari tanahnya. Lim a
tahun kem u dian, pada 4 J uni 1966, terjadi pem ban taian berskala
besar. Akar penyebabnya adalah ketegangan dalam Per sekutuan
Gutelu, antara pem im pin persekutuan itu, Gutelu dari Konfederasi
Dloko-Mabel, dan para pemimpin yang cemburu dari Konfederasi
Wilihim an-Walalua dan Konfederasi Gosi-Alua yang ber sekutu.
Bebe rapa dasawarsa sebelum nya, kedua konfederasi yang dise but-
kan terakhir tadinya berperang dengan Konfederasi Dloko-Mabel
sam pai terjadi pergantian persekutuan. Tidak jelas apakah Gutelu
sendiri yang m eren canakan serangan terhadap m antan-m antan m u-
suhnya, ataukah dia tidak m am pu m enahan anggota-anggota kon-
federasinya sendiri yang berkepala panas. Bila yang benar adalah ke-
m ungkinan kedua, m aka kejadian itu m enggam barkan satu tem a yang
sering berulang di antara m asyarakat-m asyarakat tribal yang tidak
m em iliki kepem im pinan kuat dan m onopoli kekuatan seperti yang
ada pada kedatuan dan m asyarakat negara. Serangan itu dijadwalkan
secara berhati-hati pada hari ketika m isionaris setem pat dan polisi
Indonesia (yang m engam bil alih kendali atas Papua sebelah barat
dari Belanda pada 1962) kebetulan sedang pergi. Para prajurit Dloko-
http://facebook.com/indonesiapustaka

Mabel dan anggota-anggota Persekutuan Gutelu lainnya dari utara me-


nyelinap m enyeberangi Sungai Elogeta ketika fajar, tersem bunyi oleh
kabut, guna m enyerang anggota-anggota Persekutuan Gutelu sebelah
selatan. Dalam sejam , 125 orang dewasa dan anak-anak, laki-laki m au-
pun perem puan, dari sebelah selatan tewas atau sekarat, lusinan pe-
m u kim an dibum ihanguskan, dan persekutuan-persekutuan lain yang
su dah diberitahu soal serangan yang akan dilakukan pun ikut datang
148 ● SATU BAB PENDEK, MENGENAI SUATU PERANG KECIL

untuk m encuri babi. Orang-orang selatan nyaris saja tum pas se an-
dainya saja m ereka tidak m enerim a bantuan dari persekutuan lain
yang terletak lebih ke selatan dan tadinya m erupakan sekutu m ereka.
Hasilnya, selain sem ua kem atian itu, adalah kaburnya orang-orang
selatan sem akin jauh ke selatan, dan perpecahan dalam Perse kutuan
Gutelu antara orang-orang selatan dan orang-orang utara. Pem -
bantaian sem acam itu adalah peristiwa yang jarang terjadi dengan
akibat-akibat besar. Karl Heider diberitahu m engenai em pat pem -
bantaian, pem ba kar an desa, penjarahan babi, dan perpindahan
populasi lain sem acam itu antara 1930 -an dan 1962.

Ko rban te w as d alam p e ran g


Seluruh pertarungan yang berlangsung antara April dan awal Sep-
tem ber 1961 m enghasilkan hanya sekitar 11 kem atian di garis depan
selatan. Bahkan pem bantaian pada 4 J uni 1966 m enim bulkan korban
tewas se banyak 125 saja. Bagi kita yang telah m elewati abad ke-20
dan dua perang du nia, angka itu sedem ikian rendah sehingga tidak
pantas disem ati nam a perang. Coba pikirkan jum lah korban tewas yang
jauh lebih tinggi dalam sejarah perang m odern: 2.996 orang Am erika
terbunuh da lam waktu sejam dalam serangan ke World Trade Center
pada 11 Septem ber 20 0 1; 20 .0 0 0 prajurit Britania terbunuh dalam
satu hari, 1 J uli 1916, dalam Pertem puran Som m e saat Perang Dunia
I, terbantai se waktu m ereka m aju m enyerang m elintasi lahan terbuka
m enuju garis pertahanan J erm an yang bersenjatakan banyak senapan
m esin; sekitar 10 0 .0 0 0 orang J epang terbunuh pada atau setelah 6
Agustus 1945, oleh bom atom Am erika yang dijatuhkan di Hiroshim a
(Gam bar 37); dan total korban jiwa m elebihi 50 .0 0 0 .0 0 0 akibat Perang
Dunia II. Bila dibandingkan dengan itu sem ua, pertarungan Dani yang
baru saja saya rangkum hanyalah perang kecil, itu juga kalau bisa
dianggap perang.
Iya, bila diukur dari jum lah m utlak orang yang terbunuh, Perang
Dani memang kecil. Namun negara-negara yang terlibat dalam Perang
http://facebook.com/indonesiapustaka

Dunia II berpenduduk jauh lebih banyak, dan m enawarkan jauh


lebih banyak calon korban, daripada kedua persekutuan yang ter-
libat dalam perang Wilihim an-Widaia. Kedua persekutuan itu ba-
rangkali berjum lah total 8.0 0 0 jiwa, sem entara peserta-peserta utam a
Perang Dunia II berpenduduk pada kisaran puluhan juta sam pai nya-
ris satu m iliar. J um lah korban tewas relatif Perang Dani—jum lah
orang Dani yang terbunuh sebagai persentase total penduduk yang ter-
KORBAN TEWAS DALAM PERANG ● 149

libat—m enyaingi atau bahkan m engalahkan jum lah korban tewas yang
dialam i oleh AS, negara-negara Eropa, J epang, atau Tiongkok dalam
kedua perang dunia. Misalnya, ke-11 kematian yang diderita oleh kedua
persekutuan Dani di garis depan selatan Gutelu saja, dalam enam
bulan antara April dan Septem ber 1961, m erupakan sekitar 0 ,14% dari
populasi kedua persekutuan itu. Itu lebih tinggi daripada persentase
angka kem atian (0 ,10 %) dari pertem puran paling m em akan korban
di garis depan Pasiik selama Perang Dunia II: perebutan Okinawa
selam a tiga bulan, yang m enggunakan pesawat pem bom , pesawat
kam ikaze, artileri, dan penyem bur api, dengan korban tewas 264.0 0 0
jiwa (23.0 0 0 prajurit Am erika, 91.0 0 0 prajurit J epang, dan 150 .0 0 0
orang Okinawa), dari total populasi Am erika/ J epang/ Okinawa saat itu
yang berjum lah kira-kira 250 .0 0 0 .0 0 0 . Ke-125 laki-laki, perem puan,
dan anak-anak yang terbunuh dalam waktu sejam dalam pem bantaian
Dani pada 4 J uni 1966 m erupakan sekitar 5% populasi sasaran
(sekitar 2.50 0 ), konfederasi-konfederasi selatan dalam Persekutuan
Gutelu. Untuk m enyam ai persentase itu, bom atom Hiroshim a harus
m em bunuh 4.0 0 0 .0 0 0 , bukan 10 0 .0 0 0 orang J epang, dan serangan
World Trade Center harus m em bunuh 15.0 0 0 .0 0 0 , bukan 2.996 orang
Am erika.
Menurut standar dunia, Perang Dani kecil hanya karena populasi
Dani yang berisiko terbunuh juga kecil. Menurut standar populasi se-
tem pat yang terlibat, Perang Dani itu besar. Dalam bab berikutnya kita
akan lihat bahwa kesim pulan itu juga berlaku bagi peperangan tra disio-
nal secara um um .
http://facebook.com/indonesiapustaka
BAB 4

Bab yang Lebih Panjang,


Mengenai Banyak Perang

Deinisi perang ▪ Sumber-sumber informasi ▪ Bentuk-bentuk


peperangan tradisional ▪ Tingkat kematian ▪ Kemiripan dan perbedaan
▪ Mengakhiri perang ▪ Efek kontak dengan orang-orang Eropa ▪ Hewan
yang gemar berperang, manusia yang pecinta damai ▪ Motif perang
tradisional ▪ Penyebab mendasar ▪ Siapa yang diperangi? ▪ Melupakan
Pearl Harbor

Deinisi perang
Peperangan tradisional, seperti yang digam barkan oleh Perang Dani
yang dijabarkan dalam bab sebelum nya, banyak ditem ukan di m ana-
m ana nam un tidak selalu ada di antara m asyarakat-m asyarakat ber -
ska la kecil. Itu m enim bulkan banyak pertanyaan yang telah diper-
debatkan dengan sengit. Misalnya, bagaimana seharusnya perang di-
deinisikan, dan apakah yang disebut perang tribal itu memang betul-
betul perang? Bagaim anakah jum lah korban tewas dalam peperangan
m asyarakat kecil dibandingkan dengan jum lah korban tewas dalam
pe perangan negara? Apakah peperangan m eningkat atau berkurang ke-
tika m asyarakat berskala kecil m enjalin kontak dan dipengaruhi oleh
http://facebook.com/indonesiapustaka

orang-orang Eropa dan m asyarakat-m asyarakat lain yang lebih ter sen -
tralisasi? Apabila pertarungan antara kelom pok sim panse, singa, se ri-
gala, dan hewan-hewan sosial lain m erupakan pendahulu pe pe rangan
m anusia, apakah itu m enunjukkan bahwa tam paknya ada dasar genetis
bagi peperangan? Di antara berbagai m asyarakat m a nu sia, ada kah m a-
syarakat yang sangat dam ai? Bila iya, m engapa? Dan: apa m otif serta
penyebab peperangan tradisional?
DEFINISI PERANG ● 151

Mari kita mulai dengan pertanyaan berupa bagaimana mendei-


nisikan peperangan. Kekejam an m anusia berm acam -m acam ben tuk-
nya, hanya sebagian yang biasanya dianggap m erupakan perang. Siapa
pun akan setuju bahwa pertem puran antara pasukan-pasukan besar
yang terdiri atas prajurit-prajurit profesional yang m engabdi kepada
pe m e rintah negara-negara yang bersaing yang telah m engeluarkan per-
nyataan perang resm i m erupakan perang. Keba nyakan orang juga akan
setuju bahwa ada bentuk-bentuk kekejam an m anusia yang bukan m e-
ru pakan perang, m isalnya pem bunuhan individu (direnggutnya nyawa
seorang individu oleh individu lain yang m erupakan anggota unit po-
litik yang sam a), atau perseteruan keluarga dalam unit politik yang
sama (misalnya perseteruan antara keluarga Hatield dan keluarga
McCoy di Amerika Serikat bagian timur yang dimulai sekitar 1880).
Kasus-kasus yang m engam bang di perbatasan antara lain kekejam an
yang berlangsung berulang-ulang antara kelom pok-kelom pok rival da-
lam unit politik yang sam a, m isalnya pertarungan antara geng-geng di
per kotaan (biasa disebut "perang geng"), antara kartel-kartel narkoba,
atau faksi-faksi politik yang pertarungannya belum lagi m encapai tahap
perang saudara yang dim aklum atkan (m isalnya pertarungan antara
m ilisi-m ilisi bersenjata kaum fasis dan kaum sosialis di Italia dan
Jerman yang mengarah ke pengambilalihan kekuasaan oleh Mussolini
dan Hitler). Di m ana harus kita tarik garis batasnya?
J awaban bagi pertanyaan itu m ungkin bergantung kepada tujuan
pe nelitian. Bagi para calon prajurit yang sedang berlatih di aka-
dem i m iliter yang disponsori negara, m ungkin sepatutnya kisah-kisah
kekejam an antara persekutuan-persekutuan Dani yang dituturkan
di Bab 3 tidak disertakan dalam deinisi peperangan. Tapi, untuk
tujuan-tujuan kita dalam buku ini, yang m em bahas tentang ke se lu -
ruh an kisaran fenom ena yang diam ati dari kawanan m anusia ter-
ke cil berjum lah 20 jiwa sam pai negara terbesar yang berpenduduk
lebih daripada semiliar jiwa, kita harus mendeinisikan peperangan
dalam cara yang tidak m engabaikan peperangan tradisional an tara
http://facebook.com/indonesiapustaka

kawanan-kawanan kecil. Seperti argumen Steven LeBlanc, “Deinisi


perang tidak boleh digantungkan kepada ukuran kelom pok atau m e-
tode pertarungan bila kita ingin deinisi itu bermanfaat dalam mem-
pelajari peperangan masa lalu... Banyak cendekiawan mendeinisikan
peperangan sedem ikian rupa sehingga kata tersebut m engacu ke -
pada sesuatu yang hanya bisa terjadi pada m asyarakat kom pleks yang
m enggunakan perkakas logam [yaitu pertem puran yang dirancang dan
152 ● BAB YANG LEBIH PANJANG, MENGENAI BANYAK PERANG

prajurit profesional]. Mereka percaya segala hal lainnya—taruhlah satu


atau dua serbuan yang kadang-kadang dilangsungkan—bukanlah pe-
perangan "sungguhan", m elainkan sesuatu yang lebih m irip dengan
per m ainan dan bukan hal yang perlu terlalu dipedulikan. Tapi, pen-
dekatan atau sikap sem acam itu m encam pur-adukkan m etode pe-
rang dengan akibat perang... Apakah konlik antara unit-unit politik
yang m andiri m enyebabkan kem atian dalam jum lah cukup besar dan
hilangnya teritori, sekaligus m enyebabkan sebagian teritori m enjadi
tidak berguna karena terlalu berbahaya untuk ditinggali? Apakah
orang-orang m enghabiskan banyak sekali waktu dan energi untuk
m em pertahankan diri?... Bila pertarungan m enyebabkan dam pak-
dampak signiikan terhadap manusia, maka itulah yang disebut
perang, terlepas dari ba gaim ana pertarungan itu dilangsungkan.” Dari
perspektif itu, perang harus dideinisikan secara cukup luas agar men-
cakup juga pertarungan Dani yang dijabarkan di Bab 3.
Coba kita tengok satu deinisi perang yang cukup tipikal, dari
Encyclopaedia Britannica edisi ke-15: “Suatu negara biasanya m em -
buka dan menyatakan konlik bermusuhan bersenjata antara unit-unit
politik, m isalnya negara atau bangsa atau antara faksi-faksi politik yang
bersaing dalam negara atau bangsa yang sam a. Perang dicirikan oleh
kekejam an yang disengaja oleh kum pulan banyak individu yang dengan
sengaja diorganisasi dan dilatih untuk am bil bagian dalam kekejam an
sem acam itu... Perang um um nya dipaham i sebagai hanya m elibatkan
konlik bersenjata dalam skala cukup besar, biasanya tidak mencakup
konlik-konlik yang melibatkan kurang daripada 50.000 kombatan.”
Seperti banyak deinisi perang yang sekilas tampak masuk akal, yang
ini terlalu sem pit bagi tujuan-tujuan kita, karena m ensyaratkan
"kum pulan banyak individu yang dengan sengaja diorganisasi dan
dilatih", sehingga deinisi tersebut menolak kemungkinan bahwa pe-
perangan dapat terjadi dalam m asyarakat kawanan kecil. Persyaratan
m anasukanya berupa setidaknya 50 .0 0 0 kom batan, lebih daripada
enam kali lipat populasi total (prajurit laki-laki, perem puan, dan anak-
http://facebook.com/indonesiapustaka

anak) yang terlibat dalam Perang Dani di Bab 3, dan jauh lebih besar
daripada sebagian besar m asyarakat berskala kecil yang dibahas dalam
bab ini.
Oleh karena itu, para cendekiawan yang m em pelajari m asyarakat-
masyarakat berskala kecil telah merumuskan berbagai deinisi alter-
natif yang lebih luas untuk perang, yang m irip satu sam a lain dan
biasa nya m em butuhkan tiga unsur. Unsur pertam a adalah kekejam an
SUMBER-SUMBER INFORMASI ● 153

yang dilakukan oleh kelom pok berukuran berapa pun, tapi tidak oleh
individu yang sendirian saja. (Pem bunuhan yang dilakukan oleh satu
individu dianggap sebagai pem bunuhan, bukan perang.) Satu lagi
unsur adalah kekejam an itu berlangsung antara kelom pok-kelom pok
yang m e rupakan bagian dua unit politik berbeda, bukan bagian satu
unit politik yang sam a. Unsur yang terakhir adalah kekejam an itu harus
disetujui oleh seluruh unit politik, bahkan m eskipun hanya se bagian
anggota unit itu yang m elaksanakan kekejam an tersebut. Dengan
demikian, pembunuhan antara keluarga Hatield dan keluarga McCoy
bukan m erupakan perang, sebab kedua keluarga m erupakan bagian
unit politik yang sam a (Am erika Serikat) sem entara AS sebagai ke-
seluruhan tidak m enyetujui perseteruan keluarga itu. Unsur-unsur ini
bisa digabungkan menjadi deinisi pendek perang yang akan saya gu-
nakan dalam buku ini, yang mirip dengan deinisi-deinisi yang di-
rum uskan oleh cendekiawan-cendekiawan lain yang m em pelajari
m a sya rakat berskala kecil m aupun m asyarakat negara: “Perang ada-
lah kekejam an yang berlangsung berulang-ulang antara kelom pok-ke-
lom pok yang m erupakan bagian unit-unit politik yang bersaing, dan
disetujui oleh unit-unit m ereka.”

Su m be r-s u m be r in fo rm as i
Tuturan dalam Bab 3 m engenai peperangan Dani m ungkin m e nun juk-
kan bahwa tam paknya m em pelajari perang tradisional sungguh m udah:
kirim mahasiswa S2 dan kru ilm, amati dan rekam pertempuran, hitung
berapa prajurit terluka dan tewas yang dibawa pulang, dan wawancara
orang-orang yang am bil bagian dalam perang untuk m engetahui lebih
banyak perincian. Itulah bukti yang tersedia bagi kita m engenai pe-
perangan Dani. Bila kita punya ratusan penelitian sem acam itu, tidak
akan ada perdebatan m engenai ada-tidaknya perang tradisional.
Tapi sebenarnya, untuk beberapa alasan yang gam blang, peng-
am atan langsung terhadap perang tradisional oleh cendekiawan yang
m em bawa kam era sungguh jarang, dan ada sejum lah kontroversi m e-
http://facebook.com/indonesiapustaka

ngenai seperti apa perang tradisional bila tidak ada pengaruh Eropa.
Selagi orang-orang Eropa menyebar ke seluruh dunia sejak 1492 M
dan m enjum pai serta m enaklukkan bangsa-bangsa non-Eropa, salah
satu hal pertam a yang pem erintahan Eropa lakukan adalah m enekan
pe perangan tradisional: dem i keam anan orang-orang Eropa sendiri,
dan dem i m engelola daerah-daerah yang ditaklukkan, serta bagian
m isi m em buat bangsa-bangsa lain itu lebih beradab. Pada waktu sains
154 ● BAB YANG LEBIH PANJANG, MENGENAI BANYAK PERANG

antropologi m em asuki era kelim pahan penelitian lapangan dan m a ha-


siswa S2 yang berdana baik setelah Perang Dunia II, sebagian sa ngat
besar peperangan di antara m asyarakat tradisional berskala kecil hanya
berlangsung terbatas di Papua dan beberapa bagian Am erika Selatan.
Peperangan sem acam itu telah berakhir jauh lebih dulu di pulau-pulau
Pasiik lain, Amerika Utara, Australia Aboriginal, Afrika, dan Erasia,
walaupun bentuk-bentuk m odern-nya belum lam a ini m uncul kem bali
di sejum lah wilayah, terutam a Afrika dan Papua.
Bahkan di Papua dan Am erika Selatan, akhir-akhir ini kesem patan
bagi ahli antropologi untuk m engam ati langsung peperangan tra-
disional telah m enjadi terbatas. Pem erintah tidak m enginginkan
m asalah dan sorotan m edia yang tim bul kalau ada orang luar yang
rentan dan tidak bersenjata diserang oleh suku-suku yang sedang
berperang. Pem e rin tah juga tidak ingin ahli antropologi dipersenjatai,
m enjadi wakil pertam a m a syarakat negara untuk m em asuki daerah
kesukuan yang belum dida m aikan, dan m encoba sendiri untuk
m engakhiri peperangan de ngan kekuatan. Oleh karena itu di Papua
dan Am erika Selatan ada pem batasan-pem batasan perjalanan yang
dikeluarkan pem erintah sam pai suatu daerah dianggap telah didam ai-
kan dan am an bagi sem ua orang untuk berkunjung. Terlepas dari
itu, sejum lah cendekiawan dan m isionaris telah berhasil bekerja di
daerah-daerah di m ana pertarungan m asih berlangsung. Contoh-
contoh yang m enonjol adalah para pengam at pada tahun 1961 di
daerah Dani, di m ana sudah ada pos patroli Belanda yang didirikan
di Lem bah Baliem , nam un Ekspedisi Harvard diizinkan beroperasi di
luar daerah yang dikontrol pem erintah; penelitian keluarga Kuegler
di antara orang-orang Fayu di Papua Indonesia yang dim ulai pada
1979; dan penelitian Napoleon Chagnon di antara orang-orang Indian
Yanom am o di Venezuela dan Brazil. Tapi, bahkan dalam penelitian-
penelitian yang m em ang m enghasilkan sejum lah pengam atan langsung
atas peperangan, banyak atau sebagian besar perincian tetap bu kan
m erupakan hasil pengam atan langsung oleh orang Barat yang m enu-
http://facebook.com/indonesiapustaka

liskannya, m elainkan m e ru pa kan tuturan orang-kedua dari inform an


setem pat: m isalnya, catatan terperinci J an Broekhuijse m engenai siapa
yang terluka dalam setiap pertem puran Dani, dalam kondisi apa, dan di
bagian tubuh se belah m ana.
Sebagian besar inform asi kita m engenai peperangan tradisional se-
pe nuhnya berasal dari orang kedua dan didasarkan kepada penuturan
yang diberikan oleh orang-orang am bil bagian dalam peperangan
SUMBER-SUMBER INFORMASI ● 155

kepada para pengunjung dari Barat, ataupun berdasarkan pengam atan


sendiri oleh orang-orang Eropa (m isalnya pejabat pem erintah, pen-
je la jah, dan pedagang) yang bukan m erupakan ilm uwan terlatih yang
mengumpulkan data untuk disertasi doktoral. Misalnya, banyak orang
Papua telah m elaporkan pengalam an m ereka sendiri dalam peperangan
tradisional kepada saya. Tapi, dalam sem ua kunjungan saya ke Papua
timur yang dikendalikan Australia (sekarang Papua Nugini mer-
deka) m aupun Papua barat yang dikendalikan Indonesia, saya tidak
pernah secara pribadi m elihat orang-orang Papua m enyerang orang-
orang Papua lain. Pem erintah Australia m aupun Indonesia tidak akan
pernah m engizinkan saya m em asuki daerah di m ana pertarungan m a-
sih berlangsung, bahkan m eskipun saya ingin m elakukannya, dan saya
m em ang tidak punya niat m elakukan itu.
Kebanyakan orang Barat yang m engam ati dan m enjabarkan pe-
perangan tradisional bukanlah cendekiawan profeisonal. Misalnya,
Sabine Kuegler, putri pasangan m isionaris Klaus dan Doris Kuegler,
m enjabarkan dalam bukunya yang terkenal Child of the Jungle ba-
gaim ana, sewaktu dia m asih berusia enam tahun, pertarungan m eng-
gunakan busur dan anak panah pecah di antara orang-orang Fayu dari
klan Tigre (keluarga Kuegler hidup bersam a m ereka) dan para pela-
wat dari klan Sefoidi, dan bagaim ana dia m elihat anak-anak panah
be ter bangan di sekelilingnya dan orang-orang terluka dibawa pergi
m enggunakan sam pan. Serupa dengan itu, pastor Spanyol J uan Crespí,
salah seorang anggota Ekspedisi Gaspar de Portolá, yang m erupakan
ekspedisi darat orang-orang Eropa pertam a yang m encapai orang-
orang Indian Chum ash di pesisir selatan California, pada 1769– 1770 ,
m e nuliskan secara terperinci tentang kelom pok-kelom pok Chum ash
yang saling m em anah.
Satu m asalah yang berkaitan dengan sem ua tuturan tentang pe-
perangan tradisional oleh pengam at luar (biasanya orang Eropa), en-
tah itu ahli antropologi atau orang awam , m engingatkan kepada Asas
Ketidakpastian Heisenberg dalam isika: pengamatan itu sendiri meng-
http://facebook.com/indonesiapustaka

ganggu fenom ena yang diam ati. Dalam antropologi, ini berarti bahwa
se m ata keberadaan orang luar pun tak pelak berefek besar terhadap
m a syarakat yang tadinya "belum tersentuh". Pem erintah negara secara
rutin m enerapkan kebijakan sadar untuk m enyudahi peperangan tra-
disional: m isalnya, tujuan pertam a para perwira patroli Australia pada
abad ke-20 di Teritori Papua dan Nugini, sewaktu memasuki area baru,
ada lah m enghentikan peperangan dan kanibalism e. Orang luar bukan-
156 ● BAB YANG LEBIH PANJANG, MENGENAI BANYAK PERANG

pem erintah m ungkin m encapai hasil yang sam a dengan cara-cara yang
berbeda. Misalnya, Klaus Kuegler pada akhirnya harus mendesak agar
klan Fayu yang m enjadi tuan rum ahnya berhenti bertarung di se kitar
rum ahnya dan pergi ke tem pat lain bila m au saling m em anah, kalau
tidak dia dan keluarganya terpaksa angkat kaki dem i ke se la m at an
dan kedam aian m ereka sendiri. Orang-orang Fayu setuju, dan secara
perlahan-lahan berhenti bertarung sepenuhnya.
Itu adalah contoh-contoh orang Eropa yang secara sengaja m eng-
akhiri atau m engurangi pertarungan kesukuan, nam un ada juga se-
jum lah klaim bahwa orang-orang Eropa secara sengaja m em provokasi
per tarungan kesukuan. Ada juga banyak cara orang luar, m elalui
aktivitas atau pun sekadar keberadaan m ereka, m ungkin secara tidak
sengaja m e ningkatkan atau m engurangi pertarungan. Dengan dem i-
kian, setiap kali se orang pengunjung dari luar m elaporkan hasil peng-
am atan tentang pe pe rangan (atau tidak adanya peperangan) tradi-
sional, tak pelak ada ketidakpastian m engenai seperti apa pertarungan
yang m ungkin ter jadi seandainya tidak ada pengam at dari luar. Saya
akan kem bali ke per ta nyaan tersebut nanti dalam bab ini.
Salah satu pendekatan alternatif adalah m em pelajari bukti-buk ti
pertarungan kesukuan yang tercatat dalam bukti arkeologis yang dibuat
sebelum kedatangan orang luar. Pendekatan ini m em iliki keunggul-
an yaitu m enyingkirkan sepenuhnya pengaruh pengam at luar se m en-
tara. Tapi, dalam analogi dengan Asas Ketidakpastian Heisenberg, kita
m endapatkan keunggulan nam un juga m em peroleh kekurangan: fakta-
fakta sem akin tidak pasti, karena pertarungan tidak diam ati langsung
m aupun dijabarkan sesuai laporan dari saksi setem pat, m elainkan
disim pulkan dari bukti arkeologis, yang juga dapat dipengaruhi ber-
bagai ketidakpastian. Salah satu jenis bukti tidak terbantahkan tentang
per tarungan adalah tum pukan kerangka, dikuburkan bersam a-sam a
tan pa tanda-tanda yang biasanya terlihat pada pem akam an secara pa-
tut yang disengaja, dengan bekas-bekas irisan atau patahan pada tulang
yang dapat dikenali sebagai akibat senjata atau perkakas. Bekas-bekas
http://facebook.com/indonesiapustaka

se m acam itu m encakup tulang yang ditancapi m ata panah, tulang de-
ngan bekas irisan akibat senjata tajam sem isal kapak, tengkorak de-
ngan bekas irisan lurus m em anjang yang m erupakan indikasi kulit
ke pa la dikuliti, atau tengkorak dengan dua ruas tulang be la kang
pertam a yang m asih m elekat, biasanya m erupakan akibat pe m enggalan
kepala (misalnya untuk adat mengayau). Misalnya, di Talheim di
Jerman baratdaya, Joachim Wahl dan Hans König mempelajari 34
SUMBER-SUMBER INFORMASI ● 157

kerangka yang ternyata bisa diidentiikasi sebagai 18 orang dewasa


(sem bilan laki-laki, tujuh perem puan, dan dua dengan jenis kelam in
tidak diketahui) dan 16 anak-anak. Mereka ditumpukkan secara
sembarangan pada sekitar 5000 SM dalam satu lubang tanpa bekal ku-
bur yang biasanya diasosiasikan dengan pem akam an penuh horm at
oleh kerabat. Bekas-bekas irisan yang tidak sem buh di perm ukaan
belakang kanan 18 tengkorak m enunjukkan bahwa orang-orang itu te-
was akibat hantam an dari belakang m enggunakan setidaknya enam
ka pak berbeda, yang jelas diayunkan oleh penyerang bertangan kanan.
Korban-korban itu usianya berm acam -m ucam , m ulai dari kanak-
kanak sam pai seorang laki-laki berusia sekitar 60 tahun. J elaslah, ke-
seluruhan kelom pok yang terdiri dari setengah lusin keluarga dibantai
secara ber sa m aan oleh kelom pok penyerang yang jauh lebih besar.
J enis-jenis lain bukti arkeologis tentang peperangan mencakup
temuan senjata, baju zirah, dan perisai, serta perbentengan. Meskipun
keberadaan senjata bukanlah tanda-tanda perang yang jelas, karena
tombak, busur, dan anak panah bisa digunakan untuk memburu hewan
maupun membunuh manusia, kapak tempur dan tumpukan peluru
ketapel besar me mang merupakan bukti perang, sebab hanya atau
terutama digunakan untuk membunuh manusia, bukan hewan. Peng-
gunaan senjata dalam perang telah dijabarkan secara etnograis di
antara ba nyak masyarakat tradisional yang masih ada, termasuk orang-
orang Papua, Aborigin Australia, dan Inuit. Oleh karena itu, temuan
berupa baju zirah dan perisai yang serupa di situs-situs arkeologis
merupakan buk ti pertarungan pada masa lalu. Tanda-tanda arkeologis
pe perangan lainnya adalah perbentengan, misalnya tembok, parit,
gerbang per ta han an, dan menara untuk meluncurkan senjata lempar ke
musuh yang mencoba memanjat tembok. Misalnya, ketika orang-orang
Eropa mulai ber mu kim di Selandia Baru pada awal 180 0 -an, populasi
Maori pribumi memiliki benteng-benteng bukit, disebut pa, yang pada
awalnya digu nakan untuk memerangi satu sama lain dan akhirnya juga
untuk meme rangi orang-orang Eropa. Ada sekitar seribu pa Maori
http://facebook.com/indonesiapustaka

yang dike tahui, banyak di antaranya diekskavasi secara arkeologis dan


berasal dari berabad-abad sebelum kedatangan orang-orang Eropa,
namun serupa dengan yang digunakan oleh orang-orang Maori abad
ke-19 se perti yang disaksikan oleh orang-orang Eropa. Oleh karena
itu tidak diragukan bahwa orang-orang Maori saling berperang lama
sebelum orang-orang Eropa tiba.
158 ● BAB YANG LEBIH PANJANG, MENGENAI BANYAK PERANG

Terakhir, situs-situs pem ukim an arkeologis lain terletak di lokasi-


lokasi di puncak bukit, puncak tebing, atau lereng tebing yang tidak
m asuk akal kecuali sebagai pertahanan terhadap serangan m usuh.
Contoh-contoh yang akrab antara lain pem ukim an Indian Anasazi
di Mesa Verde dan tempat-tempat lain di AS Barat Daya, di langkan
dan tonjolan tebing yang hanya bisa dicapai dengan tangga. Posisi pe-
m ukim an yang terletak jauh di atas dasar lem bah berarti air dan segala
pasokan lain harus diangkat ke sana sejauh ratusan m eter. Ketika
orang-orang Eropa tiba di AS Barat Daya, orang-orang Indian m eng-
gunakan situs-situs sem acam itu sebagai tem pat pelarian untuk ber-
sem bunyi atau berlindung dari orang-orang Eropa yang m enyerang.
Oleh karena itu dianggap bahwa pem ukim an-pem ukim an di te bing
yang secara arkeologis dijabarkan berasal dari berabad-abad se-
be lum tibanya orang-orang Eropa juga digunakan sebagai per ta-
hanan terhadap orang-orang Indian yang m enyerang; pe m anfaatan
situs-situs sem acam itu sem akin m eningkat seiring m e ningkatnya
juga kepadatan penduduk dan bukti kekejam an. Bila sem ua bukti
arkeologis itu belum cukup, lukisan-lukisan batu yang berasal dari Kala
Pleistosen Atas m enunjukkan pertarungan antara kelom pok-kelom -
pok yang berlawanan, m enggam barkan orang-orang yang ditom bak,
dan m enggam barkan kelom pok-kelom pok orang yang saling ber tarung
dengan busur, anak panah, perisai, tom bak, dan gada. Karya seni
canggih dalam tradisi itu dari m asa sesudahnya nam un tetap se belum
kedatangan orang-orang Eropa adalah lukisan Maya yang terkenal di
Bonampak, dari suatu masyarakat pada sekitar 800 M, yang meng-
gam barkan pertem puran dan siksaan terhadap tawanan dalam rincian
m engerikan yang realistik.
Dengan dem ikian, kita punya tiga kum pulan ekstensif inform asi—
dari pengam at m odern, dari ahli arkeologi, dan dari sejarah seni—m e-
ngenai peperangan tradisional, dalam m asyarakat-m asyarakat berskala
kecil dengan beraneka ragam ukuran, m ulai dari kawanan kecil sam pai
ke datuan besar dan negara awal.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Be n tu k-be n tu k p e p e ran gan trad is io n al


Ada berbagai m acam bentuk peperangan, baik pada m asa lalu m aupun
se ka rang. Peperangan tradisional m enggunakan sem ua taktik dasar
yang kini digunakan oleh negara-negara m odern dan yang dari sisi tek-
nologi m em ungkinkan bagi m asyarakat-m asyarakat tribal. (Tentu saja,
alat-alat peperangan udara tidak tersedia bagi m asyarakat tradisional,
BENTUK-BENTUK PEPERANGAN TRADISIONAL ● 159

dan peperangan laut dengan kapal perang khusus baru tercatat sejak
munculnya pemerintah negara setelah 3000 SM). Salah satu taktik
yang akrab dengan kita dan m asih dipraktikkan adalah pertem puran
teratur (pitched battle), dengan kom batan dari pihak-pihak yang
berseberangan da lam jum lah besar berhadap-hadapan dan bertarung
secara terbuka. Inilah taktik pertam a yang teringat oleh kita bila kita
m em ikirkan soal pe perangan negara m odern—contoh-contoh yang
terkenal antara lain Per tem puran Stalingrad, Pertem puran Gettysburg,
dan Pertem puran Waterloo. Kecuali soal skala dan persenjataannya,
pertem puran-per tem puran sem acam itu pastilah akrab dengan orang-
orang Dani, yang pertem puran-pertem purannya terjadi secara spontan
pada 7 J uni, 2 Agustus, dan 6 Agustus 1961, seperti yang saya jabarkan
di Bab 3.
Taktik akrab berikutnya adalah serbuan m endadak, di m ana seke-
lom pok prajurit yang berjum lah cukup sedikit untuk m e nyem bunyikan
diri, m aju dalam kegelapan m alam , m elakukan serbuan m e nge jutkan
di teritori m usuh dengan tujuan terbatas berupa m em bunuh be berapa
m usuh atau m enghancurkan properti m usuh dan lantas m undur,
tanpa m engharapkan bisa m enghancurkan keseluruhan bala ten tara
lawan atau secara perm anen m enduduki teritori m usuh. Ini ba rangkali
m erupakan bentuk peperangan tradisional yang paling ter sebar luas,
tercatat di sebagian besar m asyarakat tradisional, m isalnya serbuan
mendadak yang dilakukan orang-orang Nuer terhadap orang-orang
Dinka, atau serbuan m endadak orang-orang Yanom am o terhadap
sesam a. Saya telah m enjabarkan serbuan m endadak oleh orang-orang
Dani yang terjadi pada 10 Mei, 26 Mei, 29 Mei, 8 Juni, 15 Juni, 5 Juli,
dan 28 J uli 1961. Contoh-contoh penyergapan, oleh infanteri dan
sekarang juga oleh kapal dan pesawat terbang, juga berlim pah dalam
peperangan negara.
Berkaitan dengan serbuan m endadak, dan juga tersebar luas dalam
peperangan tradisional, adalah penyergapan, satu lagi bentuk serangan
m engagetkan dengan para penyerbu, bukannya bergerak diam -diam ,
http://facebook.com/indonesiapustaka

m e nyem bunyikan diri dan m enanti di suatu tem pat yang kem ungkinan
akan didatangi oleh m usuh-m usuh yang tidak m enduga akan disergap.
Saya m enjabarkan sergapan-sergapan oleh orang-orang Dani yang ter-
jadi pada 27 April, 10 Mei, 4 Juni, 10 Juni, 12 Juli, dan 28 Juli 1961. Pe-
nyergapan juga tetap populer dalam peperangan m odern, dibantu oleh
radar dan m etode-m etode pem ecahan sandi yang m em bantu m em baca
gerakan lawan supaya ke lom pok penyergap m akin sulit terdeteksi.
160 ● BAB YANG LEBIH PANJANG, MENGENAI BANYAK PERANG

Taktik tradisional yang tidak ada paralelnya dalam peperangan ne-


gara m odern adalah jam uan m engecoh yang terdokum entasikan di
antara orang-orang Yanomamo dan di Nugini: mengundang tetangga
un tuk berpesta, kem udian m engejutkan dan m em bunuh m ereka
setelah m e reka m eletakkan senjata dan m em usatkan perhatian pada
m akan-m a kan dan m inum . Kita orang-orang m odern wajar bertanya-
tanya m engapa ada kelom pok Yanom am o yang m em biarkan diri ter-
perosok ke dalam perangkap itu, padahal pernah m endengar cerita-
cerita m e nge nai pengecohan sem acam itu. Penjelasannya m ungkin
adalah bah wa jam uan kehorm atan um um diselenggarakan, bahwa
m e nerim a undangan biasanya m endatangkan keuntungan besar da-
lam segi penjalinan persekutuan dan berbagi m akanan, dan bahwa
para tuan rum ah ber usaha keras m em buat diri m ereka tam pak
berniat bersahabat. Satu-satu nya contoh m odern yang m elibatkan
pem erintahan negara yang saya bisa pikirkan adalah pem bantaian
terhadap panglim a Boer, Piet Retief, dan seluruh rom bongannya yang
berjum lah seratus orang oleh raja Zulu, Dingane, pada 6 Februari
1838, sewaktu orang-orang Boer se dang m enjadi tam u Dingane dalam
ja m uan di kam pnya. Contoh ini m ungkin bisa dianggap sebagai keke-
cualian yang m em buktikan suatu aturan: orang-orang Zulu hanyalah
satu di antara ratusan kedatuan yang saling berperang sam pai terjadi
penyatuan dan pendirian negara Zulu beberapa dasawarsa sebelum nya.
Pengecohan keji sem acam itu sebagian besar telah ditinggalkan di
dalam aturan-aturan diplom asi yang dituruti negara-negara m odern
sekarang. Bahkan Hitler dan J epang m engeluarkan pernyataan perang
m elawan Uni Soviet dan Am erika Serikat se cara bersam aan dengan
(nam un bukan sebelum ) dilancarkannya se rangan terhadap negara-
negara itu. Tapi, negara m em ang m e m anfaatkan kecohan m elawan
para pem berontak yang m ereka anggap tidak terikat aturan-aturan
diplomasi yang biasa dipegang di antara negara-negara. Misalnya,
jen deral Prancis Charles Leclerc tidak segan-segan m engundang pe-
m im pin gerakan kem er de kaan Haiti, Toussaint-Louverture, untuk
http://facebook.com/indonesiapustaka

be runding pada 7 J uni 180 2, m enangkapnya di situ, dan m engirim -


kannya ke penjara Prancis, sam pai Toussaint-Louverture m enutup
usia. Dalam negara-negara m odern, pem bunuhan disertai kecohan
m asih dilakukan oleh geng-geng perkotaan, kartel-kartel narkoba, dan
kelom pok-kelom pok teroris, yang tidak beroperasi dengan aturan-
aturan diplom asi negara.
BENTUK-BENTUK PEPERANGAN TRADISIONAL ● 161

Satu lagi bentuk peperangan tradisional yang tidak ada paralel


m odern nya yang m irip adalah pertem uan bukan kecohan yang m alah
ber kem bang m enjadi pertarungan. Bentuk ini jauh lebih um um dari-
pada jam uan kecohan, dan m elibatkan kelom pok-kelom pok yang ber te-
tangga dan bertemu untuk suatu upacara tanpa niat berkelahi. Namun
kekerasan tetap m ungkin pecah karena individu-individu yang punya
dendam yang belum tuntas dan jarang saling berjum pa jadi bertatap
m uka, tidak bisa m enahan diri, dan m ulai berkelahi, dan kerabat-
kerabat mereka pun ikut turun tangan. Misalnya, seorang teman
saya dari Am erika hadir dalam sebuah kum pul-kum pul yang jarang
terjadi antara beberapa lusin orang Fayu. Dia m enceritakan tentang
ketegangan yang m em buncah ketika orang-orang terkadang saling
m elontarkan m akian dan ledakan am arah, m em ukul tanah dengan
kapak m ereka, dan satu kali saling m enerjang sam bil m engacung-
acungkan kapak. Risiko pe cah nya pertarungan yang tak direncanakan
sem acam itu dalam kum pul-kum pul yang dim aksudkan untuk tujuan
dam ai sungguh tinggi bagi m asyarakat-m asyarakat tradisional de-
ngan kelom pok-kelom pok ber te tangga yang jarang bertem u, balas
den dam diserahkan kepada individu, dan tidak ada pem im pin atau
"pem erintah" yang m am pu m em onopoli ke kuatan dan m enahan orang-
orang yang berkepala panas.
Eskalasi pertarungan spontan antar-individu m enjadi peperangan
dengan bala tentara terorganisasi jarang ditem ukan dalam m asyarakat
negara tersentralisasi, nam un m em ang terkadang terjadi. Salah
satu contohnya adalah apa yang dinam akan Perang Sepakbola J uni-
J uli 1969 antara El Salvador dan Honduras. Pada waktu ketegangan
antara kedua negara itu sedang tinggi akibat kesenjangan ekonom i
dan im igran perebut ta nah, tim sepakbola kedua negara itu bertem u
untuk tiga pertandingan dalam babak kualiikasi Piala Dunia 1970. Para
pendukung kedua tim nasional yang bersaing m ulai berkelahi pada
pertandingan pertam a pada 8 J uni di ibukota Honduras (dim enangi
1-0 oleh Honduras), dan para pendukung sem akin ganas pada pertan-
http://facebook.com/indonesiapustaka

dingan kedua pada 15 J uni di ibukota El Salvador (dim enangi 3-0 oleh
El Salvador). Ke tika El Salvador m em enangi pertandingan penentuan
3-2 dengan perpanjangan waktu pada 26 Juni di Mexico City, kedua
negara itu m e m u tuskan hubungan diplom atik, dan pada 14 J uli ang-
katan darat dan angkatan udara El Salvador m ulai m engebom dan
m enyerbu Honduras.
162 ● BAB YANG LEBIH PANJANG, MENGENAI BANYAK PERANG

Tin gkat ke m atian


Seberapa tinggikah tingkat kem atian akibat peperangan tribal tradisio-
nal? Bagaim ana jika dibandingkan dengan tingkat kem atian akibat pe-
perangan antara pem erintah negara?
Ahli sejarah m iliter secara rutin m engum pulkan angka total korban
nasional untuk setiap perang m odern: m isalnya, angka kem atian
J erm an saat Perang Dunia II. Itu m em ungkinkan kita m enghitung
tingkat kem atian nasional terkait-perang rata-rata dalam satu abad
se ja rah negara yang diwarnai perang dan dam ai berselang-seling:
m isalnya, angka kem atian J erm an sepanjang abad ke-20 . Tingkat-
tingkat se m a cam itu juga telah dihitung atau diperkirakan dalam
lusinan penelitian m engenai berbagai m asyarakat tradisional m odern.
Em pat survei—oleh Lawrence Keeley, oleh Sam uel Bowles, oleh Steven
Pinker, dan oleh Richard Wrangham, Michael Wilson, dan Martin
Muller—merangkum evaluasi-evaluasi semacam itu untuk antara
23 dan 32 m asyarakat tradisional. Tidaklah m engejutkan, ternyata
banyak variasi antara m a syarakat yang berbeda-beda. Tingkat kem atian
tahunan terkait-perang dengan rata-rata-waktu paling tinggi adalah
1% per tahun (dengan kata lain, 1 orang terbunuh setiap tahunnya per
10 0 anggota populasi) atau le bih di antara orang-orang Dani, Dinka
di Sudan, dan dua kelom pok Indian Am erika Utara, berkisar sam pai
yang paling rendah 0 ,0 2% per tahun atau kurang di antara penduduk
Kepulauan Andaman dan orang-orang Semang di Malaysia. Sejumlah
perbedaan itu terkait dengan cara m enyam bung hidup, dengan tingkat
rata-rata bagi petani nyaris em pat kali lipat daripada bagi pem buru-
pengumpul dalam analisis Wrangham, Wilson, dan Muller. Salah satu
alternatif pengukur an dam pak perang adalah persentase total kem atian
yang terkait de ngan perang. Pengukuran itu berkisar dari 56% bagi
orang-orang Indian Waorani di Ekuador sam pai hanya 3%– 7% untuk
enam populasi tradisional yang tersebar di sekeliling dunia.
Sebagai pem banding dengan pengukuran-pengukuran tingkat ke-
m a tian terkait perang dalam m asyarakat-m asyarakat berskala kecil
http://facebook.com/indonesiapustaka

itu, Keeley m engekstraksi 10 angka bagi m asyarakat-m asyarakat ber-


pem e rin tahan negara: salah satunya adalah Swedia abad ke-20 , yang
tidak m engalam i perang sehingga tingkat kem atian terkait-perang-
nya nol. Sem bilan nilai lainnya diperoleh dari negara-negara dan
periode-periode waktu yang dipilih karena tercatat m engalam i pen-
deritaan hebat akibat perang. Persentase tingkat kem atian jangka pan-
TINGKAT KEMATIAN ● 163

jang paling tinggi setelah dirata-ratakan dalam seabad pada zam an


m odern adalah J erm an (0 ,16%) dan Rusia (0 ,15%) abad ke-20 (yaitu
16 atau 15 orang terbunuh setiap tahunnya per 10 .0 0 0 anggota po-
pulasi) akibat gabungan kekejam an selam a Perang Dunia I dan II.
Tingkat yang lebih rendah, 0 ,0 7% per tahun, dipegang oleh Prancis
pada abad yang mencakup Perang-perang Napoleon dan mundurnya
balatentara Napoleon dari Rusia pada musim dingin. Terlepas dari
jum lah kem atian yang dipicu oleh dua bom atom di Hiroshim a dan
Nagasaki, pemboman api, dan pemboman konvensional di banyak
kota besar J epang lainnya, juga kem atian akibat tem bakan senjata,
kelaparan, bunuh diri, dan tenggelam nya ratusan ribu prajurit J epang
di luar negeri selam a Perang Dunia II, ditam bah korban jiwa dalam
serangan J epang ke Tiongkok pada 1930 -an dan perang Rusia-J epang
pada 190 4– 190 5, persentase tingkat kem atian terkait-perang yang
dirata-ratakan se lam a abad ke-20 m asih lebih rendah untuk J epang
dibandingkan untuk J erm an atau Rusia, "hanya" 0 ,0 3% per tahun.
Estim asi jangka pan jang paling tinggi untuk negara m ana pun adalah
0 ,35% per tahun untuk Kekaisaran Aztek yang terkenal haus darah,
dalam waktu seabad se belum kekaisaran itu sendiri dihancurkan oleh
Spanyol.
Sekarang m arilah kita bandingkan tingkat-tingkat kem atian terkait-
perang ini (lagi-lagi dinyatakan sebagai persentase populasi yang tewas
tiap tahun karena sebab-sebab yang terkait-perang, dirata-ratakan
untuk waktu lam a yang diwarnai perang dan dam ai berselang-seling)
untuk m asyarakat-m asyarakat tradisional berskala kecil dan untuk
m asyarakat-m asyarakat m odern berpenduduk banyak dengan pe m e-
rin tahan negara. Ternyata nilai-nilai tertinggi untuk negara m odern
m a na pun (J erm an dan Rusia abad ke-20 ) hanyalah sepertiga dari nilai
rata-rata untuk m asyarakat-m asyarakat tradisional berskala kecil, dan
hanya seperenam nilai untuk masyarakat Dani. Nilai rata-rata untuk
negara-negara m odern sekitar sepersepuluh nilai-nilai tradisional rata-
rata.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Mungkin, pembaca, Anda pun terkejut, seperti saya awalnya ter-


ke jut, sewaktu m engetahui bahwa peperangan parit, senjata m esin,
napalm , bom b atom , artileri, dan torpedo kapal selam m enim bulkan
tingkat kem atian terkait-perang dengan rata-rata-waktu yang jauh
lebih ren dah daripada yang disebabkan oleh tom bak, anak panah,
dan gada. Alas annya m enjadi jelas bila kita renungkan perbedaan-
164 ● BAB YANG LEBIH PANJANG, MENGENAI BANYAK PERANG

perbedaan an tara peperangan tradisional dan peperangan negara


m odern yang akan kita bahas secara lebih terperinci di bawah. Per-
tam a-tam a, pepe rangan negara m erupakan kondisi luar biasa yang
tidak selalu terjadi, se m en tara peperangan kesukuan tam pak nyaris
tidak pernah berakhir. Selam a abad ke-20 , J erm an berperang hanya
selam a 10 tahun (1914– 1918 dan 1939– 1945), dan kem atian akibat
perang selam a 90 tahun sisanya nyaris tidak ada, sem entara orang-
orang Dani secara tradisional ber pe rang setiap bulan dalam setiap
tahunnya. Kedua, korban tewas dalam perang negara um um nya ha-
nya terjadi di antara prajurit-prajurit laki-laki berusia 18 sam pai 40
tahun; bahkan dalam kisaran usia itu, ke ba nyakan perang negara
hanya m enggunakan balatentara profesional ber jum lah sedikit, dengan
wajib m iliter m assal dalam Perang Dunia II sebagai kekecualian; dan
penduduk sipil tidak berada dalam risiko langsung dalam jum lah
besar sam pai pem bom an udara pukul-rata m ulai dijalankan dalam
Perang Dunia II. Kontras dengan itu, da lam m asyarakat tradisional,
sem ua orang—laki-laki dan perem puan, de wasa usia produktif m aupun
dewasa lanjut usia, anak-anak dan bayi—m erupakan sasaran. Ketiga,
dalam peperangan negara, prajurit yang m enyerah atau ditangkap
biasanya dibiarkan hidup, sem entara dalam peperangan tradisional
sem ua biasanya dihabisi. Alasan yang ter akhir tidak terjadi dalam
peperangan negara nam un terjadi dalam pe perangan tradisional.
Peperangan tradisional secara periodik disela oleh pem bantaian di
m ana sebagian besar atau seluruh populasi salah satu pihak dikepung
dan ditum pas, seperti dalam pem bantaian-pem bantaian di antara
orang-orang Dani pada 4 J uni 1966, akhir 1930 -an, 1952, J uni 1962,
dan Septem ber 1962. Sem entara itu, negara-negara yang m enang
sekarang biasanya m em biarkan populasi yang ditaklukkan tetap hidup
untuk dieksploitasi, bukan dibantai.

Ke m irip an d an p e rbe d aan


Dalam segi apa peperangan tradisional m irip dengan peperangan ne-
http://facebook.com/indonesiapustaka

gara, dan dalam segi apa keduanya berbeda? Sebelum m enjawab per-
tanyaan ini, kita harus tentu saja m enyadari bahwa kedua jenis pepe-
rangan bukanlah m erupakan dua hal yang sepenuhnya bertolak
bela kang, tan pa bentuk-bentuk antara. Peperangan sesungguhnya
berubah di se pan jang suatu kisaran m ulai dari m asyarakat terkecil
sam pai m asyarakat terbesar. Sem akin besar m asyarakatnya, sem akin
besar angkatan ber sen jata yang bisa digalang, sehingga lebih kecil
KEMIRIPAN DAN PERBEDAAN ● 165

ke m ungkinannya m e nyem bunyikan balatentara, sem akin kecil ke-


m ungkinannya m e la kukan serbuan m endadak dan penyergapan
oleh kelom pok-kelom pok ter sem bunyi kecil yang hanya terdiri atas
beberapa orang, dan sem akin besar penekanannya terhadap per-
tem puran terbuka antara kekuatan-kekuatan besar. Kepem im pinan
m en jadi lebih kuat, lebih tersentralisasi, dan lebih hierarkis dalam
m asya rakat yang lebih besar: angkatan ber senjata nasional m em iliki
perwira dengan berbagai pangkat, dewan perang, dan panglim a ter-
tinggi, sem entara kawanan-kawanan kecil ha nya m em iliki petarung-
petarung berkedudukan sam a, sedangkan kelom pok-kelom pok ber-
ukuran sedang (m isalnya Persekutuan Gutelu di antara orang-orang
Dani) m em iliki pem im pin lem ah yang m engarah kan anggota-anggo-
tanya dengan bujukan, bukan dengan ke we nangan untuk m em berikan
perintah. Terlepas dari kisaran ukuran m asyarakat ini, kita m asih
tetap bisa m em bandingkan m a sya ra kat besar dan kecil dalam hal cara
m ereka bertarung.
Salah satu kem iripan di antara keduanya adalah arti penting m en-
jalin persekutuan. Sebagaim ana Konfederasi Wilihim an-Walalua di
antara orang-orang Dani m encari sekutu dari konfederasi-konfederasi
lain dalam bertarung m elawan Widaia dan sekutu-sekutu m ereka, Pe-
rang Dunia II m em buat dua persekutuan berhadap-hadapan; salah
satu persekutuan itu beranggota Britania, AS, dan Rusia, sedangkan di
sisi yang berseberangan ada J erm an, Italia, dan J epang. Persekutuan
bahkan lebih penting lagi bagi m asyarakat-m asyarakat tradisional yang
berperang daripada bangsa-bangsa yang berperang. Negara-negara
m odern sangat berbeda-beda dalam hal teknologi m iliter, sehingga
bangsa kecil m ungkin bisa m engan dalkan teknologi dan kepem im pinan
yang superior alih-alih sekutu untuk m em enangi perang. (Coba
pikirkan keberhasilan angkatan ber sen jata Israel m elawan persekutuan
Arab yang berjumlah jauh lebih besar.) Namun peperangan tradisional
cenderung berlangsung antara lawan-lawan dengan teknologi yang
m irip dan kepem im pinan yang m irip, sehingga pihak yang m em iliki
http://facebook.com/indonesiapustaka

keunggulan jum lah berkat ke ber hasilan m enggalang sekutu yang lebih
banyak, berkem ungkinan lebih besar akan m enang.
Kem iripan satu lagi adalah m asyarakat berukuran berapa pun
sam a-sam a m engandalkan pertarungan jarak dekat dan senjata jarak
jauh. Bahkan kawanan-kawanan Fayu yang bertarung di sekeliling
rum ah Kuegler m em iliki busur dan anak panah, sem entara orang-
orang Dani m elontarkan tom bak sekaligus m em bunuh Wijakhe dan
166 ● BAB YANG LEBIH PANJANG, MENGENAI BANYAK PERANG

J enokm a dari jarak dekat dengan tikam an tom bak. J arak yang bisa
ditem puh senjata m eningkat seiring m eningkatnya jum lah anggota
dan tingkat teknologi suatu m asyarakat. Walaupun para prajurit
Rom awi terus m enggunakan pedang dan belati untuk pertarungan
jarak dekat, m ereka juga m enggunakan senjata jarak jauh seperti
panah, lem bing, pelontar batu, dan ketapel dengan jangkauan jarak
m encapai 80 0 m eter. Dalam Perang Dunia I, balatentara J erm an
telah m engem bangkan m eriam (dijuluki si Besar Bertha) untuk m em -
bom bardir Paris dari jarak 10 0 kilom eter, sem entara ridal balistik
antarbenua m odern m em iliki jangkauan sam pai setengah keliling
dunia. Namun prajurit modern tetap harus siap menggunakan pistol
atau bayonet untuk m em bunuh dalam jarak dekat.
Konsekuensi psikologis m eningkatnya jangkauan senjata jarak
jauh m odern adalah bahwa sebagian besar pem bunuhan oleh m iliter
adalah m elalui teknologi "tekan tom bol" (bom , artileri, dan rudal),
m e m ungkinkan prajurit untuk m em bunuh lawan yang tidak terlihat
dan tidak perlu m engatasi kebim bangan untuk m em bunuh sam bil
m e natap lawan (Gam bar 37). Dalam sem ua pertarungan tradisional,
orang per orang m em ilih sasaran dan m elihat wajah sasarannya,
entah saat m enikam si sasaran dari jarak dekat atau m enem bakkan
anak panah kepadanya dari jarak puluhan m eter (Gam bar 36). Laki-
laki dalam m asyarakat tradisional sejak anak-anak dibesarkan sam bil
diajari untuk m em bunuh, atau setidak-tidaknya tahu cara m em bunuh,
nam un kebanyakan warga negara m odern tum buh sam bil terus-m e-
nerus diajari bahwa m em bunuh itu buruk, sam pai ketika berusia lewat
18 tahun m ereka m endadak dikenai wajib m iliter atau m em asuki
angkatan bersenjata, diberi sepucuk senjata, dan diperintahkan untuk
m em bidik m usuh dan m enem baknya. Tidaklah m engejutkan, cukup
besar persentase pra ju rit dalam Perang Dunia I dan II—sejum lah
perkiraan m enyatakan sam pai separonya—tidak bisa m enggerakkan
diri untuk m enem bak se orang m usuh yang m ereka anggap sebagai
sesam a m anusia. De ngan dem ikian, m eskipun m asyarakat tradisional
http://facebook.com/indonesiapustaka

tidak m em iliki ke bim bangan m oral m engenai m em bunuh m usuh yang


berhadap-ha dapan dengannya, dan tidak juga m em iliki teknologi yang
dibutuhkan un tuk m engatasi kebim bangan itu dengan m em bunuh
m usuh yang tidak terlihat dari jarak jauh, m asyarakat-m asyarakat
negara m odern cen de rung m engem bangkan kebim bangan itu sekaligus
juga teknologi yang dibutuhkan untuk m engatasi kebim bangan itu.
Gam bar 1. Laki-laki
Dani dari Lem bah
Baliem , Dataran
Tinggi Papua.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Gam bar 2 . Laki-


laki Aborigin
Australia.
Gam bar 3 . Perem puan Agta, dari
hutan pegunungan Pulau Luzon,
Filipina.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Gam bar 4 . Penduduk Kepulauan


Andam an, Teluk Benggala.
Gam bar 5. Laki-laki Hadza, dari
Tanzania.

Gam bar 6 . Pem buru !Kung, dari Gurun Kalahari, Afrika


http://facebook.com/indonesiapustaka
Gam bar 7. Perempuan Nuer,
dari Sudan

Gam bar 8 . Ayah dan anak Aka, dari hutan khatulistiwa Afrika
http://facebook.com/indonesiapustaka
Gam bar 9 .
Perem puan Inuit
(Iñupiaq) dari
Alaska.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Gam bar 10 . Laki-laki Indian Ache,


dari hutan Paraguay.
Gam bar 11. Pasangan dan bayi Indian Piraha, dari hutan hujan tropis Am azon Brazil.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Gam bar 12 . Gadis Indian Yanom am o,


dari hutan Venezuela.
Gam bar 13 . Perbatasan tradisional
antarsuku, dijaga seorang Dani di atas
m enara pengawas, di Lem bah Baliem ,
Dataran Tinggi Papua.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Gam bar 14 . Perbatasan m odern


antarnegara, dijaga kam era berpengendali
jarak jauh di m enara pengawas Patroli
Perbatasan & Im igrasi AS, di perbatasan
antara Amerika Serikat dan Meksiko.
Gam bar 15. Penyelesaian perselisihan tradisional, di satu desa Uganda. Pihak-pihak
yang berselisih saling m engenal, dan berkum pul untuk m encari penyelkesaian, dengan
cara yang m em ungkinkan m ereka m engungkapkan perasaan dan bisa terus saling
bertem u dengan dam ai. (Bab 2)
http://facebook.com/indonesiapustaka

Gam bar 16 . Penyelesaian perselisihan m odern, di pengadilan Am erika. Pengacara (kiri)


dan jaksa (kanan) beradu pendapat di depan hakim (tengah). Terdakwa, korban, dan
keluarga terdakwa sebelum nya tak saling kenal dan barangkali tak akan pernah saling
bertem u lagi. (Bab 2)
Gam bar 17. Mainan tradisional:
anak-anak laki-laki Mozambik
dengan m obil-m obilan yang
m ereka buat sendiri, sam bil
m em pelajari cara as roda dan
bagian m obil lain dirancang.
Mainan tradisional itu sedikit,
sederhana, dibuat oleh anak atau
orangtuanya, sehingga sangat
m endidik.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Gam bar 18 . Mainan modern:


anak perem puan Am erika
dikelilingi lusinan m ainan
pabrikan yang dibeli di toko,
yang tak m em beri dia nilai
pendidikan yang didapat
anak-anak tradisional dengan
m erancang dan m em buat
m ainan sendiri.
Gam bar 19 . Kebebasan anak tradisional: bayi Indian Pum e
berm ain dengan pisau besar yang tajam . Anak-anak di banyak
m asyarakat tradisional diizinkan m em buat keputusan sendiri,
term asuk m elakukan tindakan berbahaya yang tak bakal dibiarkan
orangtua m odern.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Gam bar 2 0 . Mainan tradisional: bayi Aka membawa keranjang


m ainan di kepala, m irip keranjang yang dibawa orang dewasa di
kepala.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Gam bar 2 1. Seorang nenek Hadza m encari m akanan sam bil


m enggendong cucu. Satu alasan orang lanjut usia dianggap berharga
dalam m asyarakat tradisional adalah karena m ereka bisa berguna sebagai
perawat dan penyedia m akanan bagi cucu.
Gam bar 2 2 . Laki-laki tua Indian Pum e m em buat m ata panah. Alasan lain orang
lanjut usia dianggap berharga di m asyarakat tradisional adalah karena m ereka m enjadi
pem buat perkakas, senjata, keranjang, kuali, dan kain yang terbaik.
http://facebook.com/indonesiapustaka
Gam bar 2 3 . Iklan Coca-Cola di Tiongkok. Kultus pem uda Am erika dan rendahnya
status lansia, yang sekarang m enyebar di Riongkok, tecerm in bahkan dalam pilihan
m odel untuk iklan. Orang m uda dan lansia sam a-sam a m inum m inum an ringan, tapi
siapa yang pernah lihat iklan m enggam barkan orang lansia m inum Coca-Cola?

Gam bar 2 4 . Iklan untuk jasa konsultasi


http://facebook.com/indonesiapustaka

kehidupan lansia. Bukannya m uncul dalam


iklan m inum an, pakaian, dan m obil baru, lansia
m uncul di iklan untuk rum ah jom po, obat
artritis, dan popok dewasa.
Gam bar 2 5. Agama purba?: lukisan dinding gua terkenal di dalam gua Lascaux, Prancis,
m asih m enim bulkan kekagum an bagi pengunjung m odern. Lukisan itu m em beri kesan
bahwa agam a m anusia sudah ada sejak Zam an Es 15.0 0 0 tahun lalu.
http://facebook.com/indonesiapustaka
Gam bar 2 6 . Pesta tradisional orang Dani di Lem bah Baliem , Dataran Tinggi Papua.
Pesta tradisional sangat jarang terjadi, m akanan yang disantap tak m enggem ukkan
(dalam contoh ini, ubi), dan orang-orang yang berpesta tidak jadi kegem ukan atau kena
diabetes. (Bab 11)
http://facebook.com/indonesiapustaka
Gam bar 2 7. Makan besar
m odern. Orang Am erika dan
anggota m asyarakat m odern
kaya lainnya "m akan besar"
(m engonsum si lebih banyak
daripada kebutuhan harian)
tiga kali sehari, m enyantap
m akanan m enggem ukkan
(dalam foto ini, ayam
goreng), m engalam i
obesitas, dan bisa kena
diabetes. (Bab 11)

Gam bar 2 8 . Korban


diabetes: kom ponis
J ohann Sebastian Bach.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Wajah dan tangannya


yang m enggem bung di
satu-satunya potret diri
Bach yang otentik ini, juga
m em buruknya tulisan
tangan dan penglihatannya
pada tahun-tahun terakhir
hidupnya, konsisten dengan
diagnosis diabetes.
KEMIRIPAN DAN PERBEDAAN ● 183

Sedangkan m engenai perbedaan yang banyak sekali antara pe-


perangan tradisional dan peperangan negara, salah satu perbedaannya
m e ru pakan kelanjutan pem bahasan barusan tentang psikologi pem -
bunuhan. Bahkan m eskipun prajurit m odern bertatap-tatapan de-
ngan m usuhnya, m usuhnya nyaris selalu m erupakan seseorang yang
na m anya tak m ereka kenal, yang belum pernah m ereka tem ui, tanpa
dendam pribadi dengannya sam a sekali. Sem entara itu, dalam m asya-
rakat tradisional berskala kecil, orang kenal dan tahu nam a bukan
hanya setiap anggota m asyarakatnya sendiri, m e lain kan juga banyak
atau sebagian besar prajurit m usuh yang dia coba bunuh—sebab
persekutuan yang berubah-ubah dan pernikahan cam pur yang kadang
terjadi m enyebabkan tetangga-tetangga pun diakrabi se ba gai individu.
Sum pah-serapah yang diteriakkan prajurit Dani satu sam a lain dalam
pertem puran-pertem puran yang dijabarkan di Bab 3 m en cakup hinaan
pribadi. Para pem baca Ilias tentu ingat bagaim ana para pem im pin
Yunani dan Troya yang berseberangan pihak saling m em anggil nam a
sebelum berupaya saling m em bunuh dalam per tem puran—salah satu
contohnya yang terkenal adalah pidato Hektor dan Akhilles kepada satu
sam a lain tepat sebelum Akhilles m elukai dan m enewaskan Hektor.
Balas dendam pribadi terhadap m usuh individual yang diketahui telah
m em bunuh kerabat atau tem an kita berperan besar dalam peperangan
tradisional, nam un berperan jauh lebih kecil atau bahkan tidak sam a
sekali dalam perang negara m odern.
Satu lagi perbedaan psikologis m encakup pengorbanan diri, yang
dipuja-puja dalam peperangan m odern nam un tidak dikenal da lam
pe pe rangan tradisional. Prajurit negara m odern kerap kali diperin tah-
kan, dem i negara, m elakukan hal-hal yang berkem ungkinan sangat
besar m enyebabkan dia terbunuh, m isalnya m enerjang m e lin tasi
lahan terbuka ke arah pertahanan yang dikelilingi pagar kawat. Pra-
jurit-prajurit lain m em utuskan sendiri untuk m engorbankan nyawa
m e reka (m isalnya, m enjatuhkan diri ke atas granat tangan yang su-
dah ditarik picunya) guna m enyelam atkan nyawa rekan-rekan m e-
http://facebook.com/indonesiapustaka

reka. Selam a Perang Dunia II ribuan prajurit J epang, awalnya secara


suka rela nam un kem udian dengan paksaan, m elakukan serangan-
serangan bunuh diri, dengan m em iloti pesawat-pesawat kam i-
kaze, bom -bom luncur baka yang bertenaga roket, dan torpedo m a-
nusia kaiten ke kapal-kapal perang Am erika. Perilaku sem acam itu
m ensyaratkan calon-calon prajurit diprogram sejak m asa kanak-kanak
untuk m engagum i kepatuhan setia dan pengorbanan bagi negara atau
184 ● BAB YANG LEBIH PANJANG, MENGENAI BANYAK PERANG

agam a. Saya belum pernah m endengar perilaku sem acam itu dalam
peperangan tra disional Papua: tujuan setiap pejuang adalah m em -
bunuh m usuh dan bertahan hidup. Misalnya, ketika para penyerbu
Wilihim an m e nangkap dan m em bunuh laki-laki Widaia ber nam a
Huwai pada 11 Mei 1961, dua rekan Huwai yang kalah jumlah kabur
tanpa m encoba m enyelam atkan Huwai; dan ketika para penyerbu
Widaia m elakukan pe nyergapan dan m enangkap serta m em bunuh
bocah Wilihim an, Wejakhe, yang sebelum nya sudah cedera pada 10
J uni, ketiga orang Wilihim an lainnya yang sedang bersam a Wejakhe
dan kalah jum lah dari penyerang juga kabur.
Masyarakat tradisional dan negara berbeda dalam hal siapa yang
m enjadi prajurit. Sem ua balatentara negara m en cakup prajurit-
prajurit profesional purnawaktu yang bisa tetap bertugas di m edan
sela m a bertahun-tahun, disokong oleh orang-orang sipil yang m em -
budidayakan m akanan untuk diri sendiri dan juga untuk para prajurit.
Balatentara bisa jadi sepenuhnya terdiri atas profesional (seperti
yang kini berlaku di AS), atau bisa ditam bah (ter utam a saat perang)
oleh para sukarelawan atau peserta wajib m iliter non-profesional.
Sem entara itu, sem ua prajurit kawanan dan suku, seperti prajurit-
pr ajurit Dani yang dijabarkan di Bab 3, dan se m ua atau sebagian
besar prajurit kedatuan, bukanlah profesional. Mereka adalah laki-
laki yang biasanya sibuk berburu, bertani, atau m enggem bala, yang
m enghentikan sem entara aktivitas-aktivitas m e nyam bung hidup itu
untuk periode yang berkisar dari beberapa jam sam pai beberapa m ing-
gu dem i ikut bertarung, dan kem udian pulang lagi sebab m ereka dibu-
tuhkan untuk berburu, bercocok-tanam , atau m em anen. Oleh karena
itu m ustahil bagi "balatentara" tradisional untuk tetap bertahan di
m edan dalam waktu yang lam a. Kenyataan dasar itu m em berikan ke-
unggulan m enentukan bagi para prajurit kolonial Eropa dalam pepe-
rangan m ereka dem i m enaklukkan suku-suku dan kedatuan-kedatuan
di seluruh dunia. Sejum lah orang-orang non-Eropa, sem isal orang-
orang Maori di Selandia Baru, Indian Araucania di Argentina, serta
http://facebook.com/indonesiapustaka

Indian Sioux dan Apache di Amerika Utara, merupakan petarung yang


teguh dan lihai, yang dapat m enggalang kekuatan besar untuk waktu
singkat dan m eraih sejum lah kem enangan m enakjubkan atas bala-
tentara Eropa. Namun tak pelak mereka melemah dan pada akhirnya
takluk karena m ereka harus berhenti bertarung guna kem bali m engum -
pulkan dan m em budidayakan m akanan, sem entara para pra jurit
profesional Eropa bisa terus bertarung.
KEMIRIPAN DAN PERBEDAAN ● 185

Ahli-ahli sejarah m iliter m odern biasa m engom entari apa yang


menurut mereka merupakan "ketidakeisienan" peperangan tradisio-
nal: ratusan orang bisa bertarung selam a seharian, dan buntut-bun-
tutnya tidak ada yang tewas, paling-paling satu atau dua orang. Se-
bagian alasannya, tentu saja, adalah m asyarakat tradisional tidak
m em iliki artileri, bom , dan persenjataan lain yang bisa m em bunuh
banyak orang sekaligus. Namun alasan-alasan lainnya terkait dengan
balatentara suku yang non-profesional dan kurangnya ke pem im -
pinan yang kuat. Prajurit tradisional tidak m enjalani pelatihan ke-
lom pok yang m em ungkinkan m ereka m enjadi lebih m em atikan de ngan
m elaksanakan rencana-rencana rum it atau bahkan sekadar m eng-
koordinasikan tem bakan. Anak panah akan lebih efektif bila ditem -
bakkan serentak, bukan satu per satu; m usuh yang m enjadi sasaran
bisa m enghindari satu anak panah na m un tidak bisa m enghindari
hujan anak panah. Terlepas dari itu, orang-orang Dani, seperti keba-
nyakan pem anah tradisional lainnya, tidak pernah m elatih penem -
bakan anak panah secara tersinkronisasi. (Orang-orang Inuit Alaska
Barat Daya m erupakan kekecualian dalam hal ini.) Disiplin dan form asi
terorganisasi bersifat m inim al: bahkan m es kipun satuan-satuan tarung
terbentuk dengan baik sebelum per tem puran, satuan-satuan itu dengan
segera m enjadi berantakan, dan per tem puran pun buyar m enjadi huru-
hara tak terkoordinasi. Para pem im pin perang tradisional tidak bisa
m engeluarkan perintah yang bila tidak dituruti akan m em buahkan
pengadilan m iliter. Pem bantaian tahun 1966 yang m enghancurkan
persekutuan Dani yang dipim pin Gutelu m ungkin disebabkan oleh
ketidakm am puan Gutelu m encegah para prajuritnya sendiri dari utara
yang berkepala panas agar tidak m em bantai sekutu-sekutunya dari
selatan.
Salah satu di antara dua perbedaan terbesar antara peperangan tra-
disio nal dan negara m elibatkan pem bedaan antara perang total dan
perang terbatas. Kam i orang-orang Am erika terbiasa berpikir bahwa
perang total m erupakan konsep baru yang diperkenalkan oleh jenderal
http://facebook.com/indonesiapustaka

utara William Tecum seh Sherm an dalam Perang Saudara Am erika


(1861– 1865). Peperangan oleh negara dan kedatuan besar cenderung
m em iliki tujuan terbatas: m enghancurkan angkatan bersenjata m usuh
dan kem am puan m ereka untuk bertarung, nam un jangan sentuh
tanah, sum ber daya, dan populasi sipil m usuh karena hal-hal itulah
yang hendak dikuasai sang calon penakluk. J enderal Sherm an, dalam
m em im pin pasukannya ber gerak ke arah laut (dari Atlanta, pangkalan
186 ● BAB YANG LEBIH PANJANG, MENGENAI BANYAK PERANG

di pedalam an, m enuju Sam udra Atlantik) m elalui jantung Konfederasi


dan kem udian ke utara m elalui South Carolina, m enjadi terkenal
karena kebijakan perang totalnya yang eksplisit: m enghancurkan segala
sesuatu yang m ungkin ber nilai m iliter, dan m enciutkan nyali Selatan,
dengan m enjarah m a kanan, m em bakar ladang, m em bunuh ternak,
m enghancurkan m esin-m esin pertanian, m em bakar kapas dan m esin
pem intal kapas, m em bakar jalur-jalur rel dan m em bengkokkan rel-
relnya agar tidak bisa diperbaiki, serta m em bakar atau m eledakkan
jem batan, depo kereta, pabrik, penggilingan, dan bangunan. Tin dak-
an-tindakan Sherman adalah buah ilosoi perang yang telah diper-
hitungkan, yang dia jabar kan sebagai berikut: “Perang adalah keke-
jam an dan kita tidak bisa m em perindahnya... Kita bukan hanya m e-
m erangi balatentara yang berm usuhan, m elainkan juga rakyat yang
berm usuhan, dan harus m em buat yang m uda m aupun yang tua, yang
kaya m aupun yang m iskin, m erasakan kerasnya hantam an perang...
Kita tidak bisa m engubah hati orang-orang Selatan, nam un kita bisa
m em buat perang se de m ikian m engerikan... m em buat m ereka se de-
m ikian m uak akan pe rang sehingga baru bergenerasi-generasi kem u-
dian mereka merasa ingin berperang lagi.” Namun Sherman tidak
m enghabisi orang-orang sipil Selatan ataupun m em bunuh prajurit-pra-
jurit Konfederasi yang m e nyerah atau tertangkap.
Meskipun perilaku Sherman memang sungguh di luar kebiasaan
m enurut standar peperangan negara, dia bukan orang pertam a yang
m en ciptakan peperangan total. Dia sekadar m em praktikkan bentuk
ringan apa yang telah dipraktikkan oleh kawanan dan suku selam a
ber puluh-puluh ribu tahun, seperti yang terdokum entasikan oleh
sisa-sisa kerangka pem bantaian Talheim yang dijabarkan di ha-
lam an 134. Balatentara negara m enawan orang dalam keadaan hidup
karena m ereka m am pu m em beri m akan tawanan, m enjaga ta wan-
an, m em pekerjakan tawanan, dan m encegah tawanan m elarikan diri.
"Balatentara" tradisional tidak m enawan prajurit m usuh, sebab m e-
reka tidak bisa m elakukan hal-hal itu sehingga tawanan tidak ada gu-
http://facebook.com/indonesiapustaka

nanya. Prajurit tradisional yang terkepung atau dikalahkan tidak


akan m enyerah, sebab m ereka tahu toh m ereka akan dibunuh juga.
Bukti sejarah atau arkeologis tertua negara m elakukan penawanan
baru muncul pada masa negara-negara Mesopotamia sekitar 5.000
tahun silam , yang m em ecahkan m asalah praktis yaitu bagaim ana m e-
m anfaat kan tawanan dengan cara m encungkil m ata m ereka agar buta
dan tidak bisa m elarikan diri, lalu m em pekerjakan m ereka untuk m e la-
KEMIRIPAN DAN PERBEDAAN ● 187

kukan tugas-tugas yang bisa dilakukan hanya dengan indera sen tuhan,
m isalnya m em intal dan sejum lah pekerjaan berkebun. Sejum lah suku
dan kedatuan pem buru-pengum pul yang berukuran besar, m e netap,
dan terspesialisasi secara ekonom i, m isalnya orang-orang Indian di
pesisir Pasiik Baratlaut dan orang-orang Indian Calusa di Florida,
secara rutin m am pu m em perbudak, m em pertahankan, dan m e m an-
faatkan tawanan.
Tapi, bagi m asyarakat-m asyarakat yang lebih sederhana daripada
negara-negara Mesopotamia, Indian Pasiik Baratlaut, dan orang-orang
Calusa, m usuh yang dikalahkan tidak ada gunanya bila hidup. Tujuan
perang orang-orang Dani, Fore, Inuit Alaska Barat Laut, Penduduk
Kepulauan Andam an, dan banyak suku-suku lain ada lah m engam bil
alih tanah m usuh dan m em usnahkan m usuh m ereka apa pun jenis
kelam innya dan berapa pun usianya, term asuk lusinan pe rem puan
dan anak-anak Dani yang dibunuh dalam pem bantaian 4 J uni 1966.
Masyarakat tradisional lainnya, misalnya orang-orang Nuer yang
m enyerbu orang-orang Dinka, kini lebih selek tif, dalam artian m ereka
m em bunuh laki-laki Dinka dan m enggebuk bayi dan perem puan tua
Dinka sam pai m ati, nam un m em bawa pulang perem puan-perem puan
Dinka yang m asih cukup usia untuk dinikahi guna dinikahkan paksa
dengan laki-laki Nuer, dan juga membawa pulang balita Dinka untuk
dibesarkan sebagai orang Nuer. Orang-orang Yanomamo juga juga
tidak m em bunuh perem puan-perem puan dari pihak m usuh yang bisa
dikawini.
Peperangan total di antara m asyarakat tradisional juga berarti m e-
m obilisasi sem ua laki-laki, term asuk bocah-bocah Dani berusia enam
tahun sekalipun yang bertarung dalam pertem puran 6 Agustus 1961.
Tapi, perang negara biasanya dilangsungkan dengan balatentara pro-
fesional yang terdiri atas laki-laki dewasa dan hanya m erupakan per-
sentase kecil dari keseluruhan populasi. Grande Armée Napoleon
yang diboyongnya m enyerbu Rusia pada 1812 berjum lah 60 0 .0 0 0
orang dan karenanya terhitung besar sekali untuk standar peperangan
http://facebook.com/indonesiapustaka

negara abad ke-19, nam un jum lah itu m erepresentasikan kurang


daripada 10 % total populasi Prancis saat itu (sebenarnya bahkan lebih
sedikit lagi, karena se jum lah prajurit itu adalah sekutu yang bukan
m erupakan orang Prancis). Bahkan dalam balatentara negara m odern,
pasukan tem pur biasa nya kalah jum lah dari pasukan pendukung:
perbandingannya kini 1 banding 11 di Angkatan Darat AS. Orang-orang
Dani pasti mencibir ketidakmampuan balatentara Napoleon dan AS
188 ● BAB YANG LEBIH PANJANG, MENGENAI BANYAK PERANG

untuk m enggalang pa sukan tem pur, yang diukur sebagai persentase


dari keseluruhan populasi masyarakat. Namun orang-orang Dani
akan m erasa akrab de ngan perilaku Sherm an dalam pergerakannya
m enuju ke laut, yang m engingatkan akan perilaku orang-orang Dani
saat penyerbuan fajar 4 J uni 1966, ketika m ereka m em bakar lusinan
pem ukim an dan m encuri babi.

Me n gakh iri p e ran g


Perbedaan besar yang tersisa antara peperangan suku dan negara,
setelah pem bedaan antara perang total dan perang terbatas, m elibatkan
perbedaan dalam kem udahan m engakhiri perang dan m enjaga per-
dam aian. Seperti yang ditunjukkan oleh Perang Dani di Bab 3, perang
yang dilangsungkan m asyarakat berskala kecil kerap kali m elibatkan
siklus pem bunuhan balas dendam . Kem atian yang diderita pihak
A m enuntut pihak A m em balas dendam dengan cara m em bunuh
seseorang dari pihak B, yang anggota-anggotanya lalu m enuntut pem -
ba lasan dendam kem atian di pihak m ereka terhadap pihak A. Siklus
itu baru berakhir ketika salah satu pihak berhasil dim usnahkan atau
diusir, atau ketika kedua pihak sam a-sam a letih, sam a-sam a m enderita
banyak ke m atian, dan tidak satu pun yang m erasa bisa m em usnahkan
atau m engusir pihak yang satu lagi. Walaupun pertim bangan-pertim -
bangan serupa berlaku bagi penuntasan peperangan negara, negara dan
ke datuan besar berperang dengan tujuan yang jauh lebih terbatas dari-
pada kawanan dan suku: paling-paling hanya untuk m enaklukkan se lu-
ruh teritori m usuh.
Namun lebih sulit bagi suku daripada bagi negara (dan kedatuan
besar yang tersentralisasi) untuk m encapai keputusan m engakhiri
pertarungan, dan m erundingkan gencatan senjata dengan m usuh—
karena negara m em iliki pengam bilan keputusan tersentralisasi dan
juru runding, sem entara suku tidak m em iliki kepem im pinan ter pu sat
dan sem ua orang bebas berpendapat. Lebih sulit lagi bagi suku dari-
pada bagi negara untuk m em pertahankan perdam aian, begitu gencatan
http://facebook.com/indonesiapustaka

sen jata berhasil dirundingkan. Dalam m asyarakat apa pun, entah itu
suku ataupun negara, pasti ada orang-orang yang tidak puas dengan
suatu perjanjian dam ai, dan yang ingin m enyerang m usuh karena
alasan-alasan pribadi, dan ingin m em provokasi pecahnya pertarungan
yang baru. Pem erintah negara yang m em egang m onopoli tersentralisasi
atas penggunaan kekuasaan dan kekuatan biasanya dapat m enahan
orang-orang berkepala panas itu; pem im pin suku yang lem ah tidak
MENGAKHIRI PERANG ● 189

bisa. Oleh karena itu perdam aian antarsuku biasanya rapuh dan
dengan cepat runtuh m enjadi siklus perang yang baru.
Perbedaan antara negara dan m asyarakat kecil tersentralisasi itu
m erupakan alasan utam a m engapa negara ada. Sejak lam a ada per-
de batan di antara para ilm uwan politik m engenai bagaim ana negara
m uncul, dan m engapa m assa yang diperintah m enoleransi raja, anggota
kongres, dan para birokrat. Pem im pin politik purnawaktu tidak m em -
bu didayakan m akanan sendiri, tapi m alah hidup dari m akanan yang
dibu didayakan oleh kaum tani. Bagaim ana bisa para pem im pin kita
m e yakinkan atau m em aksa kita untuk m em beri m ereka m akan, dan
m engapa kita biarkan m ereka tetap berkuasa? Filsuf Prancis J ean-
J acques Rousseau berspekulasi, tanpa bukti apa pun untuk m endukung
spe kulasinya, bahwa pem erintah m uncul sebagai hasil keputusan ra-
sional oleh m assa yang m enyadari bahwa kepentingan m ereka sen diri
akan terpenuhi dengan lebih baik di bawah seorang pem im pin dan
birokrat. Dalam sem ua kasus pem bentukan negara yang kini telah di-
ketahui oleh ahli sejarah, tidak ada perhitungan berpikiran jauh ke
depan seperti itu yang teramati. Negara justru muncul dari kedatuan
m e lalui persaingan, penaklukan, atau tekanan luar: kedatuan dengan
pengam bilan keputusan yang paling efektif lebih m am pu m enaklukkan
atau mengalahkan kedatuan lain dalam persaingan. Misalnya, antara
180 7 dan 1817, lusinan kedatuan yang terdiri atas orang-orang Zulu
di Afrika tenggara, yang secara tradisional berperang satu sam a lain,
m enjadi tergabung ke dalam satu negara di bawah salah seorang datu,
bernam a Dingiswayo, yang m enaklukkan sem ua datu pesaingnya
karena terbukti lebih sukses dalam m enem ukan cara terbaik untuk
m erekrut balatentara, m enyelesaikan perselisihan, m engga bungkan
kedatuan-kedatuan yang dikalahkan, dan m engelola teritorinya.
Terlepas dari keseruan dan gengsi pertarungan antarsuku, suku-
suku itu sendiri paling paham dibandingkan siapa pun tentang ke-
sengsaraan yang berkaitan dengan perang, bahaya yang terus-m enerus
ada, dan kedukaan akibat terbunuhnya orang-orang yang disayangi.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Ke tika peperangan antarsuku akhirnya berakhir berkat intervensi paksa


pem erintahan kolonial, suku-suku biasanya berkom entar m engenai
buah yang m ereka peroleh, yaitu peningkatan kualitas hidup yang tidak
bisa m ereka wujudkan sendiri sebelum nya, karena tanpa pem erintah
yang tersentralisasi m ereka tidak m am pu m em utuskan siklus pem -
bunuhan balas dendam . Ahli antropologi Sterling Robbins diberi tahu
oleh orang-orang Auyana di Dataran Tinggi Papua, “Hidup lebih baik
190 ● BAB YANG LEBIH PANJANG, MENGENAI BANYAK PERANG

sejak pem erintah datang karena sekarang m ereka bisa m akan tanpa
perlu m ewaspadai apa yang ada di belakang m ereka, dan bisa pagi-pa gi
keluar rum ah untuk buang air kecil tanpa takut ditem bak. Sem ua orang
m engakui bahwa m ereka takut ketika bertarung. Bahkan, m ereka m e-
m andang aku seolah-olah aku sedem ikian dungunya sam pai-sam pai
yang begitu saja ditanyakan. Mereka mengaku bermimpi buruk berupa
ter pisah dari kawan-kawan sekelom poknya ketika bertarung dan tidak
bisa m elihat jalan pulang.”
Reaksi itu m enjelaskan m engapa secara m engejutkan perwira
patroli Australia dan polisi pribum i dalam jum lah kecil dapat dengan
m u dahnya m engakhiri peperangan antarsuku di apa yang saat itu m e-
rupakan teritori Papua Nugini. Mereka menyambangi satu desa yang
sedang berperang, m em beli seekor babi, m enem bak babi itu un tuk
m enunjukkan kekuatan senjata api, m erubuhkan perbentengan desa
dan m enyita perisai perang kelom pok-kelom pok yang berperang agar
akan lebih m em atikan bila ada yang berani-berani m em ulai pe rang,
dan terkadang m enem bak orang-orang Papua yang berani m e nye rang
m ereka. Tentu saja, orang-orang Papua bersifat pragm atik dan bisa
mengenali kekuatan senjata api. Namun kita mungkin tidak mem-
perkirakan betapa m udahnya m ereka m eninggalkan peperangan yang
telah m ereka lakukan selam a ribuan tahun, padahal pencapaian dalam
perang telah dipuji-puji sejak m asa kanak-kanak dan dianggap sebagai
har ga diri laki-laki.
Penjelasan atas hasil yang m engejutkan itu adalah orang-orang
Papua m enghargai m anfaat perdam aian yang dijam in oleh negara
yang tidak m am pu m ereka capai sendiri tanpa pem erintahan negara.
Misalnya, pada 1960-an saya menghabiskan waktu sebulan di satu
daerah yang baru saja didam aikan di Dataran Tinggi Papua, di m ana
20 .0 0 0 penduduk Dataran Tinggi yang sam pai kira-kira satu da sa-
warsa sebelum nya m asih terus berperang satu sam a lain, kini hidup
dam ai bersam a satu orang perwira patroli Australia dan sege lintir polisi
Papua Nugini. Ya, perwira patroli dan para polisi itu punya senjata
http://facebook.com/indonesiapustaka

api, dan orang-orang Papua tidak. Namun bila orang-orang Papua


itu benar-benar ingin kem bali bertarung, m udah sekali bagi m ereka
untuk m em bunuh si perwira patroli dan polisi-polisinya di m alam hari,
atau menyergap mereka di siang hari. Mereka bahkan tidak mencoba
m elakukan itu. Artinya m ereka telah m e m aham i keuntungan terbesar
pem erintahan negara: terwujudnya per da m aian.
EFEK KONTAK DENGAN ORANG-ORANG EROPA ● 191

Efe k ko n tak d e n gan o ran g-o ran g Ero p a


Apakah peperangan tradisional m eningkat, m enurun, atau tidak ber-
ubah setelah ada kontak dengan orang-orang Eropa? Ini bukan per-
ta nyaan yang m udah dijawab, sebab bila kita percaya bahwa kontak
m e m ang m em pengaruhi intensitas peperangan tradisional, m aka kita
secara otom atis tidak akan m em percayai catatan m engenai perang
yang dibuat oleh pengam at luar karena telah dipengaruhi oleh si
pengam at dan tidak m enggam barkan kondisinya yang asli. Lawrence
Keeley m enggunakan analogi yaitu m enganggap bahwa bagian dalam
sem angka berwarna putih dan m enjadi m erah hanya setelah dipotong
dengan pisau: ba gaim ana kita bisa m enunjukkan bahwa sem angka
m em ang benar-benar m e rah sebelum dipotong terbuka untuk m e-
m eriksa warnanya?
Tapi, berlim pahnya bukti arkeologis dan catatan lisan m e ngenai
perang sebelum kontak dengan orang Eropa seperti yang dibahas
sebelum nya m em buat kita sem akin tidak m ungkin saja bersikeras
bahwa orang-orang tradisional pada awalnya cinta dam ai, sam pai
kem u dian orang-orang Eropa yang jahat itu m uncul dan m engacaukan
segalanya. Tidak diragukan bahwa kontak dengan orang Eropa atau
bentuk-ben tuk lain pem erintahan negara dalam jangka panjang nyaris
selalu m engakhiri atau m engurangi peperangan, sebab sem ua pe m e-
rintahan negara tidak ingin perang m engganggu pengelolaan teri-
torinya. Berbagai pe ne litian terhadap kasus-kasus yang diam ati secara
etnograis membuat jelas bahwa, dalam jangka pendek, dimulai-
nya kontak dengan orang-orang Eropa dapat m eningkatkan ataupun
m engurangi pertarungan, karena alasan-alasan yang m encakup per-
senjataan yang diper ke nalkan oleh orang-orang Eropa, penyakit, ke-
sem patan dagang, dan pe ningkatan atau penurunan persediaan
m akanan.
Salah satu contoh yang dim engerti dengan baik m engenai pe ning-
katan pertarungan jangka pendek sebagai akibat kontak de ngan orang-
orang Eropa adalah yang terjadi pada penduduk asli Selandia Baru
http://facebook.com/indonesiapustaka

yang berdarah Polinesia, orang-orang Maori, yang mulai bermukim di


Selandia Baru sejak sekitar 1200 M. Penggalian-penggalian arkeologis
terhadap benteng-benteng Maori memberikan bukti akan adanya
peperangan Maori yang terjadi di mana-mana lama sebelum orang-
orang Eropa tiba. Catatan-catatan buatan para penjelajah pertam a
dari Eropa sejak 1642, dan buatan para pem ukim Eropa pertam a
sejak 1790-an, menjabarkan pembunuhan oleh orang Maori terhadap
192 ● BAB YANG LEBIH PANJANG, MENGENAI BANYAK PERANG

orang-orang Eropa m au pun terhadap satu sam a lain. Sejak sekitar


1818 sam pai 1835, dua produk yang diperkenalkan oleh orang-orang
Eropa m em icu lon jakan sem entara dalam hal tingkat kem atian yang
disebabkan oleh peperangan Maori, dalam sebuah episode yang
dalam sejarah Selandia Baru dikenal sebagai Perang Bedil. Salah satu
faktornya tentu saja ada lah diperkenalkannya bedil, yang digunakan
orang-orang Maori untuk saling membunuh secara jauh lebih eisien
daripada yang bisa m e reka lakukan sebelum nya hanya dengan gada.
Faktor lain m ungkin pada awalnya m em buat Anda terkejut: kentang,
yang biasanya tidak kita anggap sebagai pendorong utam a perang.
Namun ternyata durasi dan ukuran ekspedisi Maori untuk menyerang
kelompok-kelompok Maori lain sebelumnya dibatasi oleh jumlah
makanan yang bisa dibawa sebagai bekal para prajurit. Makanan pokok
asli Maori adalah ubi. Kentang yang diperkenalkan oleh orang-orang
Eropa (walaupun ber asal dari Am erika Selatan) jauh lebih produktif
di Selandia Baru daripada ubi, m enghasilkan lebih banyak surplus
m akanan, dan m e m ungkinkan pengirim an ekspedisi penyerbuan
yang lebih besar untuk waktu yang lebih lam a daripada yang bisa
dilakukan orang-orang Maori tradisional yang bergantung kepada
ubi. Setelah tibanya kentang, ekspedisi-ekspedisi sampan Maori yang
bertujuan memperbudak atau membunuh orang-orang Maori lain
pun memecahkan semua rekor jarak Maori dengan menempuh jarak
m encapai ribuan kilom eter. Pada awalnya ha nya segelintir suku yang
hidup di daerah-daerah tem pat saudagar Eropa berm ukim yang bisa
m em peroleh bedil, yang m ereka gunakan untuk m enghancurkan suku-
suku yang tak m em iliki bedil. Seiring m e nyebarnya bedil, Perang Bedil
pun m encapai puncaknya ketika se m ua suku yang m asih ada m em iliki
bedil, sehingga tidak ada lagi suku tanpa bedil yang bisa m enjadi
sasaran em puk, dan Perang Bedil pun lam a-kelam aan reda.
Di Fiji, diperkenalkannya bedil Eropa pada sekitar 180 8 m em -
buat orang-orang Fiji bisa m em bunuh lebih banyak orang daripada
yang secara tradisional bisa m ereka lakukan dengan gada, tom bak,
http://facebook.com/indonesiapustaka

dan anak panah. Senjata api, kapal, dan kapak baja Eropa untuk
sem entara m em fasilitasi perang antar-pulau di Ke pu lauan Solom on
pada abad ke-19: tidak seperti kapak batu, kapak baja bisa m em enggal
banyak orang tanpa m enjadi tum pul. Serupa dengan itu, senjata api
dan kuda Eropa m erangsang peperangan di Great Plains Am erika
Utara, sedangkan senjata api dan pem beli budak dari Eropa m em icu
perang di Afrika Tengah. Untuk m asing-m asing m a sya rakat yang baru
EFEK KONTAK DENGAN ORANG-ORANG EROPA ● 193

saja saya sebutkan, peperangan telah m arak lam a se belum orang-


orang Eropa tiba, nam un efek orang Eropa m e nyebabkan peperangan
m enjadi sem akin parah untuk beberapa dasa warsa (Selandia Baru, Fiji,
Kepulauan Solom on) atau beberapa abad (Great Plains, Afrika Tengah)
sebelum akhirnya reda.
Dalam kasus-kasus lain, tibanya orang-orang Eropa atau orang-
orang luar lainnya justru m enyebabkan perang berakhir tanpa bukti
pe ningkatan awal apa pun. Di banyak bagian Dataran Tinggi Papua,
orang-orang Eropa pertam a yang tiba m erupakan patroli pem erintah
yang segera m engakhiri peperangan sebelum para saudagar dan
m isionaris dari Eropa, atau bahkan barang-barang dagangan Eropa
yang diteruskan secara tidak langsung bisa m uncul. Sewaktu pertam a
kali dipelajari oleh para ahli antropologi pada 1950 -an, kawanan
!Kung Afrika tidak lagi saling m enyerbu, walaupun frekuensi pem -
bunuhan individual di dalam kawanan atau antara kawanan-ka-
wanan yang bertetangga tetap tinggi sam pai 1955. Em pat dari lim a
pem bu nuhan terakhir (pada 1946, 1952, 1952, dan 1955) berbuntut
pada diseretnya para pem bunuh itu ke penjara oleh pem erintahan
Tswana, dan hal itu ditam bah tersedianya pengadilan Tswana untuk
m e nyelesaikan perselisihan m em buat orang-orang !Kung pun m e-
ninggalkan pembunuhan sebagai cara memecahkan konlik setelah
1955. Tapi, sejarah lisan !Kung m elaporkan serbuan-serbuan antar-
kawanan beberapa generasi sebelum nya, sam pai m asa ketika kontak
dengan Tswana yang sem akin m eningkat m em perkenalkan besi untuk
m ata panah dan perubahan-perubahan lainnya. Entah bagaim ana,
kontak tersebut m enyebabkan berakhirnya penyerbuan lam a sebelum
polisi Tswana m engintervensi untuk m enangkap pem bunuh.
Contoh saya yang terakhir berasal dari Alaska barat laut, tem pat
orang-orang Inuit Yupik dan Iñupiaq bertarung dan saling m enum pas,
sam pai satu dasawarsa atau satu generasi setelah kontak dengan orang-
orang Eropa—bukan karena perwira pa troli, polisi, dan pengadilan
m elarang perang, m elainkan karena akibat-akibat lain kontak tersebut.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Berakhirnya peperangan Yupik dika ta kan disebabkan oleh wabah cacar


api tahun 1838 yang sa ngat m engurangi populasi sejum lah kelom pok.
Berakhirnya pe pe rangan Iñupiaq tam paknya disebabkan oleh obsesi
kronik Iñupiaq ter ha dap per da gangan, dan terhadap kesem patan-
kesem patan baru yang jauh m e ningkat untuk berdagang bulu dengan
orang-orang Eropa yang m en jalin kontak teratur dengan m ereka secara
194 ● BAB YANG LEBIH PANJANG, MENGENAI BANYAK PERANG

sem akin intensif setelah 1848: peperangan terus-m enerus jelas akan
m enghalangi kesepatan itu.
Dengan dem ikian, efek jangka panjang orang-orang Eropa, Tswana,
ataupun kontak luar lainnya dengan negara atau kedatuan nyaris selalu
berupa diredam nya peperangan antarsuku. Efek jangka pendeknya
berm acam -m acam , bisa berupa langsung teredam nya peperangan
atau pun m alah peningkatan sem entara yang kem udian diikuti oleh
pengekangan. Tidak bisa dikatakan bahwa peperangan tradisional
m erupakan akibat kontak dengan orang-orang Eropa.
Terlepas dari itu, ada sejarah panjang penyangkalan terhadap pe-
pe rangan tradisional oleh cendekiawan Barat. J ean-J acques Rousseau,
yang sudah disebutkan sebelum nya berkaitan de ngan teori spe-
kulatifnya m engenai pem bentukan negara yang tidak dida sarkan pada
bukti em piris apa pun, m engajukan teori yang sam a spekulatif dan
tidak berdasarnya m engenai peperangan: dia m engklaim bahwa secara
kodrati m anusia bersifat penuh kasih sayang, dan perang baru dim ulai
seiring kemunculan negara. Sebagian besar ahli etnograi terlatih yang
m em pelajari m asyarakat-m asyarakat tradisional pada abad ke-20
m endapati kawanan dan suku yang telah didam aikan oleh pem erintah
kolonial, sam pai sejum lah ahli antropologi m am pu m enyaksikan con-
toh-contoh terakhir peperangan tradisional pada 1950 -an dan 1960 -
an di Dataran Tinggi Papua dan Am azonia. Para ahli arkeologi yang
m enggali perbentengan yang dikaitkan dengan peperangan kuno telah
kerap kali m elewatkan, m engabaikan, atau m en cari-cari penjelasan
bagi hal-hal yang m ereka tem ukan, m isalnya m enganggap parit-parit
dan tiang-tiang pertahanan yang m engelilingi suatu desa hanya sebagai
"pembatas" atau "simbol eksklusi". Namun bukti mengenai peperangan
tradisional, entah itu berdasarkan pengam at an langsung, sejarah lisan,
ataupun bukti arkeologis, sede m ikian ber lim pah sehingga kita harus
bertanya-tanya: m engapa m asih saja ada per debatan m engenai arti
pentingnya?
Salah satu alasannya adalah kesulitan-kesulitan yang nyata, seperti
http://facebook.com/indonesiapustaka

yang sudah kita bahas sebelum nya, dalam m engevaluasi peperangan


tra disional dalam kondisi-kondisi sebelum kontak atau pada awal
kontak. Para prajurit dengan cepat m em aham i bahwa para ahli antro-
pologi yang ber kun jung tidak m enyukai perang, dan para prajurit
cenderung tidak m em bawa serta para ahli antropologi kala m enyerbu
atau m em biarkan m e reka m em otret pertem puran tanpa diganggu:
kesempatan merekam ilm yang diperoleh Ekspedisi Peabody Harvard
EFEK KONTAK DENGAN ORANG-ORANG EROPA ● 195

di antara orang-orang Dani sungguh unik. Alasan lain adalah bahwa


efek jangka pen dek kontak orang-orang Eropa terhadap peperangan
antarsuku da pat berupa peningkatan ataupun penurunan dan harus
dievaluasi kasus demi kasus dengan pikiran terbuka. Namun penyang-
kalan luas m e ngenai peperangan tradisional tam paknya tidak berkaitan
dengan m asalah-m asalah itu dan ketidakpastian bukti itu sendiri,
m elainkan m elibatkan keengganan m enerim a keberadaan m aupun arti
penting bukti. Mengapa?
Bisa jadi ada beberapa alasan yang m enyebabkannya. Para cende-
kiawan cenderung menyukai, mengidentiikasi diri, atau bersimpati
de ngan m asyarakat tradisional yang m enjadi tem an hidup m ereka
selam a be berapa tahun. Para cendekiawan m enganggap perang itu
buruk, tahu bahwa sebagian besar pem baca m onograf m ereka juga
akan m enganggap perang buruk, dan tidak ingin "kawan-kawan" tra-
disional m ereka dipandang buruk. Satu alasan lagi m elibatkan klaim -
klaim tidak ber dasar (akan dibahas di bawah) bahwa peperangan
m anusia m em iliki dasar genetik yang tidak bisa diubah. Anggapan
itu m em bim bing kepada asum si keliru bahwa perang tidak akan bisa
dihentikan, sehingga tim bul ke engganan m engakui kesim pulan yang
tam pak m enyedihkan bahwa perang m em ang secara tradisional ter-
sebar luas. Satu alasan lagi adalah bahwa sejum lah pem erintah negara
atau kolonial ingin m engusir pen du duk asli dengan cara m e naklukkan
atau m erebut tanah m ereka, atau tidak m em pedulikan pem bantaian
terhadap mereka. Mengecap masyarakat tradisional sebagai suka
berperang digunakan sebagai alasan untuk m em benarkan per lakuan
buruk itu, sehingga para cendekiawan berusaha m enyingkirkan alasan
itu dengan m encoba m em bersihkan penduduk asli dari tuduhan
sebagai penyuka perang.
Saya bersim pati dengan para cendekiawan yang m urka akibat
perlakuan buruk terhadap penduduk asli. Namun penyangkalan ter-
hadap ke nyataan peperangan tradisional akibat penyalahgunaan
politik atas ke nyataan itu m erupakan strategi yang buruk, untuk alasan
http://facebook.com/indonesiapustaka

yang sam a yang m enyebabkan penyangkalan terhadap kenyataan lain


m ana pun untuk tujuan politik terpuji apa pun m erupakan strategi
yang buruk. Alasan untuk tidak m em perlakukan penduduk asli secara
buruk bu kan lah karena m ereka telah dituduh secara keliru sebagai
penyuka perang, m e lainkan karena m em perlakukan m ereka dengan
buruk adalah suatu ketidakadilan. Fakta-fakta m engenai peperangan
tradisional, seperti juga fakta-fakta m engenai fenom ena kontroversial
196 ● BAB YANG LEBIH PANJANG, MENGENAI BANYAK PERANG

lainnya yang bisa diam ati dan diteliti, pada akhirnya m ungkin terkuak.
Sewaktu fakta-fakta itu terkuak, bila para cendekiawan selam a ini
m enyangkal ke nya taan peperangan tradisional untuk tujuan politik
yang terpuji, ditem ukannya fakta-fakta itu akan m eruntuhkan tujuan
politik yang terpuji. Hak-hak penduduk pribum i harus ditegakkan
berdasarkan alasan m oral, bukan dengan m em buat-buat klaim -klaim
palsu yang rawan dibantah.

H e w an yan g ge m ar be rp e ran g, m an u s ia yan g p e cin ta


d am ai
Bila kita mendeinisikan perang seperti yang saya deinisikan di
halam an 131—”kekerasan berulang-ulang antara kelom pok-kelom pok
yang m erupakan anggota unit politik yang bersaing, dan disetujui oleh
unit-unit tersebut”—dan bila kita m em andang "unit politik" dan "di-
setujui" dalam pengertian luas, m aka perang bukan hanya dilakukan
m anusia, m elainkan juga sejum lah spesies hewan. Spesies yang paling
sering disebutkan dalam pem bahasan m engenai perang m anusia ada-
lah sim panse biasa, sebab sim panse m erupakan salah satu dari dua he-
wan kerabat terdekat kita yang m asih ada. Perang di antara sim panse
m e nyerupai peperangan di antara kawanan dan suku m anusia, karena
terdiri atas pertem uan kebetulan atau kalau tidak serbuan yang seperti-
nya disengaja dan m elibatkan pejantan dewasa. Kalkulasi tingkat ke m a-
tian terkait perang pada sim panse, 0 ,36% per tahun (alias 36 sim panse
per tahun dalam populasi berjum lah 10 .0 0 0 ), m irip dengan kalkulasi
untuk m asyarakat-m asyarakat tradisional m anusia. Apakah ini berarti
bahwa peperangan diwariskan kepada m anusia dalam garis keturunan
dari sim panse nenek m oyang kita, jadi peperangan m e m iliki dasar
genetik, dan kita sudah dari sananya terprogram untuk berperang,
sehingga perang tak ter hindarkan dan tak bisa dicegah?
J awaban untuk keem pat pertanyaan itu adalah tidak. Sim panse
bu kan nenek m oyang m anusia; sim panse dan m anusia sam a-sam a
keturunan nenek m oyang bersam a yang hidup sekitar 6.0 0 0 .0 0 0
http://facebook.com/indonesiapustaka

tahun lalu, dan sesudahnya sim panse m odern m ungkin m engalam i


lebih banyak perubahan daripada m anusia m odern. Tidak sem ua ke-
turunan nenek m oyang bersam a itu suka berperang: bonobo (ta dinya
disebut sim panse kerdil), yang secara genetis berjarak sa m a dengan
kita sebagaim ana sim panse dengan kita, sehingga m erupakan satu
lagi dari kedua hewan kerabat terdekat kita, juga berasal dari nenek
m oyang yang sam a itu nam un belum pernah diam ati berperang; dan
HEWAN YANG GEMAR BERPERANG, MANUSIA YANG PECINTA DAMAI ● 197

sejum lah m asyarakat tradisional m anusia juga tidak berperang. Di an-


tara spesies-spesies hewan sosial selain sim panse, beberapa di antara-
nya (m isalnya singa, serigala, hyena, dan sejum lah spesies sem ut) di-
ke tahui m elaksanakan pertarungan m em atikan antar-kelom pok, se-
m entara spesies-spesies lain tidak diketahui m elakukan itu. Terbukti,
pe rang m uncul secara berulang-ulang dan sendiri-sendiri, nam un
bu kan berarti tidak terhindarkan di antara hewan-hewan sosial pada
um um nya, tidak juga di dalam garis evolusioner m anusia-sim panse
khususnya, tidak juga di antara m asyarakat-m asyarakat m anusia
m odern lebih khususnya lagi. Richard Wrangham berargum en bahwa
dua ciri m em bedakan spesies-spesies sosial yang berperang de ngan
yang tidak: kom petisi sengit m em perebutkan sum ber daya, dan ada-
nya kelom pok-kelom pok berbeda ukuran yang m em buat kelom pok
besar kadang-kadang berjum pa dengan kelom pok-kelom pok kecil atau
hewan-hewan individual yang bisa dengan am an m ereka serang dan
kalahkan berkat keunggulan jum lah dengan risiko kecil bagi para pe-
nyerang.
Sedangkan m engenai dasar genetik peperangan m anusia, tentu saja
dasar genetik itu ada, dalam pengertian yang sam a luas dan jauhnya
de ngan dasar genetik bagi kerjasam a dan berbagai perilaku m anusia
yang sungguh beranekaragam itu. Dengan kata lain, otak, horm on,
dan naluri m anusia pada dasarnya dibangun oleh gen, m isalnya gen-
gen yang m engendalikan sintesis horm on testosteron yang berkaitan
dengan perilaku agresif. Tapi, kisaran norm al perilaku agresif, seperti
kisaran norm al tinggi badan, dipengaruhi oleh berbagai gen serta oleh
faktor-faktor lingkungan dan sosial (m isalnya efek gizi pada m asa
kanak-kanak terhadap tinggi badan). Itu tidak seperti sifat-sifat gen-
tunggal sem isal hem oglobin sel sabit, yang diproduksi oleh pem bawa
gen tersebut tak peduli seperti apa gizi yang dim akan pada m asa kanak-
kanak, gen-gen lain, ataupun persaingan lingkungan yang dialam i.
Seperti peperangan, kerja sam a yang m erupakan kebalikan peperangan
pun tersebar luas nam un diekspresikan secara berbeda-beda oleh
http://facebook.com/indonesiapustaka

m asya rakat-m asyarakat m anusia. Kita sudah lihat di Bab 1 bahwa ker-
ja sam a antara m asyarakat-m asyarakat m anusia yang bertetangga
didorong oleh kondisi-kondisi lingkungan tertentu, m isalnya naik
turunnya jum lah sum ber daya pada atau antara tahun-tahun tertentu,
dan apakah suatu teritori m engandung sem ua sum ber daya yang
dibutuhkan untuk hidup berswasem bada atau tidak. Kerja sam a antara
m asyarakat-m asyarakat berskala kecil yang bertetangga bukanlah
198 ● BAB YANG LEBIH PANJANG, MENGENAI BANYAK PERANG

tidak ter hin dar kan atau terprogam secara genetis; ada alasan-alasan
m engapa sejum lah m asyarakat lebih banyak bekerja sam a sem entara
sejum lah m asyarakat lain kurang bekerja sam a.
Serupa dengan itu, ada alasan-alasan eksternal m engapa sejum lah
m a syarakat m anusia bersifat dam ai, sem entara yang lain tidak. Ke-
banyakan m asyarakat negara m odern pernah terlibat dalam berbagai
perang yang terjadi belum lam a ini, nam un segelintir di antaranya tidak
pernah, untuk alasan-alasan yang bisa dipahami. Negara di Amerika
Tengah, Kosta Rika, sudah lam a tidak berperang, dan bahkan m em -
bubarkan angkatan bersenjatanya pada 1949, sebab populasi dan
kondisi-kondisi sosial m asa lalunya m enghasilkan tradisi yang rela-
tif egaliter dan demokratik, dan kedua tetangganya (Nikaragua dan
Panam a) tidaklah m engancam dan tidak m enawarkan sasaran apa pun
yang sangat berharga untuk ditaklukkan terkecuali Terusan Panam a,
yang akan dipertahankan oleh Angkatan Darat AS seandainya saja
Kosta Rika cukup dungu untuk berinvestasi m em persiapkan bala-
tentara guna m enyerang terusan tersebut. Swedia dan Swiss sudah
lam a tidak berperang (walaupun dulu Swedia pernah berperang), sebab
kini m ereka m em iliki tetangga-tetangga yang agresif serta berkekuatan
dan berpenduduk jauh lebih besar (J erm an, Prancis, dan Rusia) yang
tidak bisa m ereka kalahkan sendiri, dan karena m ereka telah berhasil
m en ce gah tetangga-tetangga itu m enyerang m ereka dengan cara m em -
persenjatai diri selengkap-lengkapnya.
Seperti negara-negara m odern yang tidak pernah terlibat perang
be la kangan ini, sejum lah kecil m asyarakat tradisional juga tidak ber-
pe rang karena alasan-alasan yang bisa dipaham i. Orang-orang Eskim o
Kutub di Tanah Hijau sedem ikian terisolasi sehingga m ereka tidak
punya tetangga, tidak punya kontak dengan dunia luar, dan tidak ber-
kem ungkinan berperang m eskipun m ereka m enginginkannya. Ke tiada-
an perang juga telah dilaporkan dari segelintir kawanan kecil pem buru-
pengum pul nom aden yang hidup dalam kepadatan populasi yang am at
rendah, dalam lingkungan keras yang tidak produktif, de ngan wilayah
http://facebook.com/indonesiapustaka

jelajah yang luas, dengan sedikit atau m alahan tidak ada harta benda
yang layak dipertahankan atau direbut, dan relatif ter isolasi dari
kawanan-kawanan lain. Kawanan yang seperti itu antara lain adalah
orang-orang Indian Shoshone di Great Basin AS, orang-orang Indian
Siriono di Bolivia, sejum lah suku gurun di Aus tralia, dan orang-orang
Nganasan di Siberia utara. Masyarakat petani tanpa sejarah perang
antara lain orang-orang Indian Machiguenga di Peru, yang hidup di
MOTIF PERANG TRADISIONAL ● 199

lingkungan hutan m arjinal yang tidak diinginkan orang lain, tanpa


kantong-kantong lahan subur yang cukup padat atau bisa diandalkan
sehingga m engundang perang atau usaha m em pertahankannya, dan
dengan kepadatan populasi yang saat ini rendah, ba rangkali akibat
penurunan drastis populasi belum lam a ini pada m asa lon jakan
perm intaan karet.
Dengan dem ikian, kita tidak bisa m engklaim bahwa sejum lah m a-
sya rakat m em iliki sifat bawaan atau dasar genetik sebagai pencinta
dam ai, sem entara yang lain terlahir sebagai pencinta perang. Seba-
liknya, tam paknya m asyarakat bisa berperang ataupun tidak, bergan-
tung pada apakah ada m anfaat bagi m ereka untuk m em ulai perang
dan/ atau apakah perlu m ereka m em pertahankan diri dari perang yang
dim ulai oleh orang lain. Kebanyakan m asyarakat m em ang pernah am -
bil bagian dalam perang, nam un segelintir lainnya tidak pernah, untuk
alasan-alasan yang bagus. Meskipun masyarakat-masyarakat yang
be lum pernah terlibat perang itu terkadang diklaim m em iliki pem -
ba waan lem but (m isalnya orang-orang Sem ang, !Kung, dan Pigm i
Afrika), orang-orang yang lem but itu tetap m em iliki kekejam an dalam
kelom pok ("pem bunuhan"); m ereka hanya punya alasan untuk tidak
m ela ku kan kekejam an terorganisasi antar-kelom pok yang sesuai de-
ngan deinisi perang. Ketika orang-orang Semang yang biasanya lem-
but dire krut angkatan darat Britania pada 1950 -an untuk m encari
dan membunuh para pemberontak Komunis di Malaya, orang-orang
Sem ang pun m em bunuh dengan antusias. J uga tidak ada gunanya
berdebat m e ngenai apakah m anusia m em iliki sifat bawaan kejam atau
m alah m em iliki sifat bawaan senang bekerja sam a. Sem ua m asyarakat
m anusia m elakukan kekejam an dan juga kerja sam a; sifat m ana yang
m uncul m endom inasi bergantung pada situasi.

Mo tif p e ran g trad is io n al


Mengapa masyarakat tradisional berperang? Kita dapat mencoba men-
jawab pertanyaan ini dalam beberapa cara. Metode yang paling mudah
http://facebook.com/indonesiapustaka

adalah tidak m encoba m enafsirkan m otif-m otif yang dikatakan atau


dipikirkan orang, nam un sem ata m engam ati keuntungan-keuntungan
apa yang diperoleh masyarakat yang menang perang. Metode kedua
adalah m enanyai orang-orang m e ngenai m otif m ereka ("penyebab
langsung perang"). Metode yang satu lagi adalah mencoba mencari
tahu apa sebenarnya m otif yang m en da sari perang ("penyebab dasar
perang").
200 ● BAB YANG LEBIH PANJANG, MENGENAI BANYAK PERANG

Masyarakat-masyarakat tradisional yang menang perang diamati


m em peroleh banyak keuntungan. Sejum lah keuntungan terbesar, yang
disebutkan sesuai urutan abjad tanpa upaya m engurutkan sesuai arti
penting, adalah anak-anak yang ditangkap, babi, budak, gengsi, hak
berdagang, istri, kepala (bagi pengayau), kuda, m akanan, protein, sapi,
sum ber daya tanah (m isalnya daerah m em ancing, kebun buah, la dang,
kolam garam , dan tam bang batu), tanah, tubuh m anusia untuk di-
m akan (bagi kanibal).
Namun motif berperang yang diakui oleh orang-orang, seperti juga
m otif-m otif yang m ereka akui untuk keputusan penting lain apa pun,
m ungkin tidak ada hubungannya dengan keuntungan yang teram ati.
Dalam segi ini seperti juga dalam segi-segi kehidupan lain nya, orang
m ungkin tidak sadar atau tidak jujur m engenai hal yang m en do rong
m ereka. Apa yang m enurut orang-orang m erupakan m otif m ereka
berperang?