Anda di halaman 1dari 67

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Luka adalah rusaknya struktur dan fungsi anatomis normal akibat proses
patologis yang berasal dari internal maupun eksternal. Luka bakar adalah
kerusakan jaringan tubuh yang disebabkan oleh suhu tinggi seperti api, air panas
atau oleh penyebab lain seperti aliran listrik dan bahan kimia. Jenis luka dapat
beranekaragam dan memiliki penanganan yang berbeda tergantung jenis jaringan
terkena luka bakar, tingkat keparahan, dan komplikasi yang terjadi akibat luka
tersebut. Luka bakar dapat merusak jaringan otot, tulang, pembuluh darah dan
jaringan epidermal yang mengakibatkan kerusakan yang berada ditempat yang
lebih dalam dari akhir sistem persarafan.1
Luka bakar dapat mengakibatkan permasalahan yang kompleks dan
meluas melebihi kerusakan fisik yang terlihat. Masalah kompleks ini
mempengaruhi semua sistem tubuh dan beberapa keadaan mengancam
kehidupan.2 Prognosis pasien yang mengalami luka bakar berhubungan langsung
dengan lokasi dan derajat luka bakar. Faktor lain seperti umur, status kesehatan
sebelumnya, dan inhalasi asap dapat mempengaruhi beratnya luka bakar dan
pengaruh lain yang menyertai.3
Luka bakar merupakan penyebab kelima yang paling umum dari kematian
akibat cedera yang tidak disengaja di Amerika Serikat, dan merupakan penyebab
utama kematian ketiga karena cedera di rumah. AS menempati urutan ketujuh di
dunia untuk tingkat kematian dari kebakaran (di antara 25 negara-negara maju
yang statistik yang tersedia). Referensi emedicine
Menurut Administrasi Pemadam Kebakaran AS di Department of
Homeland Security, 3220 individu sipil di AS kehilangan nyawa mereka sebagai
akibat dari kebakaran pada tahun 2008. Sebagian besar kematian tersebut, 84%
terjadi pada rumah tinggal. Kurang dari 10% adalah hasil dari kebakaran yang
disengaja. Mayoritas korban jiwa yang timbul dari luka bakar termal terjadi pada
bangunan, namun kematian terkait kebakaran dapat terjadi di setiap lokasi,
umumnya termasuk kendaraan bermotor atau pesawat udara. pertanyaan kunci
yang harus dijawab meliputi identitas korban dan keadaan sekitar api. Referensi
emedicine
Berdasarkan data-data tersebut, kita sebagai dokter membutuhkan
pehamahaman yang baik tentang luka bakar itu sendiri, baik pada korban hidup
maupun pada korban yang meninggal.

1.2 PERUMUSAN MASALAH


Permasalahan-permasalahan yang diangkat dalam referat ini adalah:
1. Apa definisi thermal injuries?
2. Apa pemeriksaan thermal injuries dari pemeriksaan luar dan dalam serta
gambaran mikroskopis pada luka bakar?
3. Apa pemeriksaan thermal injuries dari pemeriksaan luar dan dalam serta
gambaran mikroskopis pada uap dan cairan?
4. Apa pemeriksaan thermal injuries dari pemeriksaan luar dan dalam serta
gambaran mikroskopis pada bahan korosif?
5. Apa pemeriksaan thermal injuries dari pemeriksaan luar dan dalam serta
gambaran mikroskopis pada aliran listrik?
6. Bagaimana aspek yuridis thermal injuries?

1.3 TUJUAN
1.3.1 TUJUAN UMUM
Mengetahui dan memahami thermal injuries
1.3.2 TUJUAN KHUSUS
1. Mengetahui dan memahami definisi thermal injuries.
2. Mengetahui dan memahami pemeriksaan luar dan dalam serta
gambaran mikroskopis pada luka bakar.
3. Mengetahui dan memahami pemeriksaan luar dan dalam serta
gambaran mikroskopis pada uap dan cairan.
4. Mengetahui dan memahami pemeriksaan luar dan dalam serta
gambaran mikroskopis pada bahan korosif.
5. Mengetahui dan memahami pemeriksaan luar dan dalam serta
gambaran mikroskopis pada aliran listrik.
6. Mengetahui dan memahami aspek yuridis thermal injuries.

1.4 MANFAAT
1.4.1 Manfaaat bagi ilmu pengetahuan
Menambah pengetahuan mengenai thermal injuries dan peranannya dalam
menentukan perbedaan dari masing-masing thermal injuries.
1.4.2 Manfaat bagi institusi di bidang forensik
Menambah pengetahuan mengenai thermal injuries untuk kepentingan
penentuan perbedaan dari masing-masing thermal injuries.
1.4.3 Manfaat bagi institusi dibidang hukum
Menambah pengetahuan mengenai kegunaan dan penentuan thermal
injuries dalam menunjang investigasi yang dilakukan oleh pihak penegak
hukum.
BAB II
THERMAL INJURY
Thermal injuy adalah .......

Luka Bakar
2.1 Definisi
Luka bakar adalah luka yang disebabkan oleh kontak dengan suhu tinggi
seperti api, air panas, listrik, bahan kimia, dan radiasi. Luka ini dapat
menyebabkan kerusakan jaringan. Cedera lain yang termasuk luka bakar adalah
sambaran petir, sengatan listrik, sinar x dan bahan korosif. Kerusakan kulit yang
terjadi tergantung pada tinggi suhu dan lama kontak.suhu minimal untuk dapat
menghasilkan luka bakar adalah sekitar 440C dengan kontak sekurang-kurangnya
5-6 jam. Suhu 650C dengan kontak selama 2 detik sudah cukup menghasilkan
luka bakar. Kontak kulit dengan uap air panas selama 2 detik mengakibatkan suhu
kulit pada kedalaman 1 mm dapat mencapai suhu 470C, air panas yang
mempunyai suhu 600C yang kontak dengan kulit dalam waktu 10 detik akan
menyebabkan partial thickness skin loss dan diatas 700C akan menyebabkan full
thickness skin loss. Temperatur air yang digunakan untuk mandi adalah berkisar
360C – 420C. Pelebaran kapiler dibawah kulit mulai terjadi pada saat suhu
mencapai 350C selama 120 detik, vesikel terjadi pada suhu 530C – 570C selama
kontak 30- 120 detik.1,7

2.2 Anatomi Kulit


Anatomi kulit manusia terdiri dari tiga lapisan utama yaitu epidermis,
dermis, dan jaringan subkutan. Lapisan epidermis tidak mengandung pembuluh
darah sehingga mendapat nutrisi secara difusi dari lapisan dermis; lapisan ini
tersusun atas beberapa tipe sel yaitu keratinosit, melanosit, sel langerhans, dan sel
merkel; lapisan ini tersusun atas lima lapisan yaitu stratum korneum, lusidum,
granulosum, spinosum, dan basale. Lapisan epidermis membantu menjaga suhu
tubuh. Dermis adalah lapisan di bawah epidermis yang mengandung lapisan epitel
dan terikat dengan epidermis oleh membran basalis. Lapisan dermis mengandung
folikel rambut, glandula sudorifera, glandula sebasea, kelenjar apokrin, pembuluh
limfe, pembuluh darah, serta nerve ending. Lapisan dermis tersusun atas dua
lapisan yaitu regio papillare dan regio retikuler. Regio papillare tersusun atas
jaringan ikat longgar, meluas hingga epidermis, dan mengandung kapiler
pembuluh darah serta korpuskulum Meissner. Regio retikuler tersusun atas
jaringan ikat padat yag terdiri dari serat-serat kolagen, elastin dan retikuler yang
padat. Protein-protein serat tersebut memberikan kekuatan, daya regang, dan
elastisitas. Jaringan subkutan bukan bagian dari kulit dan terletak di bawah
dermis, berfungsi untuk melekatkan dermis ke jaringan otot dan tulang serta
menyokong serabut saraf dan pembuluh darah. Jaringan subkutan terdiri dari
jaringan ikat longgar, makrofag, dan adiposit (50%).
Gambar 1. Anatomi dan histologi kulit
2.3 Etiologi Luka Bakar
Berdasarkan penyebabnya, luka bakar secara kasar dapat dibagi dalam enam
kategori:
A. Flame Burns
Terjadi bila kulit mengalami kontak langsung dengan api.
 Keparahan tergantung lamanya waktu kulit terpajan dengan api
 Bentuk lain dari flame burns adalah flash burns.
a. Disebabkan oleh ledakan yang berasal dari gas,atau berupa
pertikel-partikel halus suatu benda panas.
b. Menyebabkan luka bakar derajat dua dan tiga pada seluruh
daerah kulit yang terkena, termasuk rambut.
B. Contact Burns
Terjadi bila kulit mengalami kontak langsung dengan objek yang
panas,misalnya besi,panas, setrika,dll. Jenis luka bakar ini, dapat
memberikan mengenai bentuk benda panas yang menyebabkan luka bakar
tersebut.
C. Radiant Burns
Terjadi apabila kulit terpajan dengan gelombang panas.
 Tidak selalu diperlukan kontak langsung dengan benda yang
menghasilkan gelombang panas untuk menimbulkan luka bakar.
 Dapat menimbulkan lepuh dan eritema
 Bila pajanan terjadi dalam jangka waktu lama dapat menimbulkan
karbonisasi.
D. Luka terbakar terjadi bila kulit berhubungan dengan cairan panas
(biasanya air).
 Air pada 1580 F (700C) akan menghasilkan suatu luka derajat tiga pada
kulit orang dewasa, kira-kira dalam satu detik dari kontak; pada 1310F
(550C), hampir 25 detik dibutuhkan untuk menghasilkan luka bakar
yang sama.
 Luka bakar dapat dibagi menjadi 3 tipe :
a. Luka emersi, dapat karena ketidaksengajaan atau kecerobohan
dirumah. Luka bakar imersi akibat kecerobohan di rumah sering
terjadi karena anak kecil ditempatkan di dalam kolam atau bak
mandi yang di penuhi dengan air panas membara, dengan tujuan
untuk mendisiplinkan atau menghukum si anak. Bentuk khas
luka bakar dapat terlihat, sebagai anak yang terefleksi tenggelam
di dalam air. Disekeliling area dari kulit yang melingkari tiap-
tiap daerah lutut tidak terkena anak tersebut dipaksa berjongkok
di dalam air.
b. Luka bakar karena percikan atau tumpahan biasanya tidak
disengaja, disebabkan karena memercikkan, menumpahkan
cairan panas ke tubuh
c. Luka bakar hangat biasanya karena ketidaksengajaan. Uap yang
sangat panas dapat menyebabkan luka berat pada mukosa
saluran napas. Pada beberapa kasus, edema laring massif dapat
terjadi, penyebab asfiksia dan kematian.
E. Electrical burn, yaitu luka yang disebabkan oleh arus listrik yang melalui
jaringan tubuh. Arus lisrik akan menimbulkan panas padas jaringan yang
dilewatinya sehingga panas tersebut merusak jaringan. Kerusakan yang
tampak dari luar tidak sebanding dengan kerusakan pada jaringan dalam.
F. Luka bakar karena microwave
Microwave adalah gelombang elektromagnetik yang mana
frekuensi berkisar antara 30-300.000 MHz dan panjang antara 1 mm
sampai 30 cm. Radiasi microwave. Adalah non-ionisasi, oleh karena itu
efek biologi primernya adalah panas, yang mana memproduksi melalui
agitasi molecular dari molekul polar, seperti air. Pada system biologi, oleh
karena itu, jaringan dengan kompisisi air yang lebih tinggi (seperti otot)
akan menjadi lebih panas daripada jaringan dengan kompisisi air yang
lebih rendah (seperti lemak).
G. Luka bakar kimia adalah diproduksi oleh agen kimia seperti asam kuat dan
alkali, sama seperti agent lain seperti fosfor dan fenol. Luka bakar
menghasilkan perubahn yang lebih lambat daripada luka akibat agent
panas.

 Ekstensi luka tergantung dari:


 Agent kimianya
 Kekuatan atau konsentrasi dari agent kimianya
 Durasi kontak dengan agent tersebut
 Agent alkalin:
 Cenderung lebih menjadi luka berat dibanding agent asam
 Dapat menyebabkan luka bakar umumnya pH > 11,5
 Sering menghasilkan luka yang cukup tebal
 Menghasilkan luka yang menimbulkan nyeri; dan menusuk kulit
dan licin.
 Agen asma biasanya menghasilkan hanya sebagian dari ketebalan
luka, yang mana diikuti dengan eritema dan erosi yang superfisial
saja.

2.4 Patofisiologi Luka Bakar


Kulit adalah organ terluar pada tubuh manusia dengan luas 0,25 m2 pada
bayi baru lahir s/d 1 m2 pada orang dewasa. Apabila kulit terbakar atau terpajan
suhu tinggi, pembuluh kapiler dibawahnya, area sekitarnya, dan area yang jauh
sekali pun akan rusak dan meningkat permeabilitasnya, serta terjadi vasodilatasi.
Terjadilah kebocoran cairan intrakapiler ke intertitial sehingga terjadi udem dan
bula yang banyak mengandung elektrolit, disertai rusaknya eritrosit sehingga
menyebabkan anemia. Dengan rusaknya kulit, penguapanpun semakin meningkat.
Kebocoran cairan intravaskuler ke intertitial membawa albumin dalam plasma
sehingga menyebabkan hipoproteinemia dan memperparah udem.
Hal-hal tersebut diatas menyebabkan berkurangnya cairan intravaskuler
dengan cepat. Pada luka bakar yang luasnya kurang dari 20%%, mekanisme
kompensasi tubuh masih bisa mengatasi. Bila kulit yang terbakar lebih dari 20%
dapat terjadi syok hipovolemik disertai gejala yang khas seperti gelisah, pucat,
dingin, berkeringat, nadi lemah dan cepat, tekanan darah menurun dan produksi
urin berkurang.
Pada kebakaran diruang tertutup, luka bakar pada wajah, dapat terjadi
trauma inhalasi karea gas, asap, dan uap panas terhirup. Trauma inhalasi
menyebabkan edem laring sehingga terjadi obstruksi jalan nafas dengan gejala
dan tanda sesak nafas, takipnea, stridor, suara parau, dan sputum berwarna gelap
jelaga.
Dapat terjadi karacunan gas CO (karbon monoksida) atau gas beracun
lainnya. Karbon monoksida dangat kuat terkait dengan hemoglobin sehingga
hemoglobin tidak mampu mengikat oksigen. Tanda keracunan ringan berupa
lemas, bingung, pusing, mual,dan muntah. Pada keracunan yang berat terjadi
penurunan kesadaran hingga koma. Bila lebih dari 60% ikatan CO dengan
hemoglobin dapat mengakibatkan kematian.
Setelah 12-24 jam permeabilitas kapiler mulai membaik dan terjadi
mobilisasi serta penyerapan balik cairan dari intertitial ke intravaskuler hal ini
ditandai dengan diuresis.

2.5 Penilaian Luka Bakar


Ada beberapa aspek yang perlu dinilai pada pasien dengan luka bakar, yaitu:
1. Penyebab
2. Kedalaman
3. Luas
4. Lokasi
5. Usia
Penyebab luka bakar didapatkan dari anamnesis. Penyebab yang dimaksud
mengacu pada definisi luka bakar, yaitu api, cairan panas, bahan kimia, uap panas,
listrik, dll. Penting juga diketahui lama pajanan. Konsumsi alkohol atau obat-
obatan juga perlu ditanyakan. Mekanisme cedera yang berhubungan juga perlu
ditanyakan, misalnya ledakan, jatuh, kecelakaan lalu lintas.

1. Kedalaman
Gambar 2 . Kedalaman luka bakar

a. Derajat 1 (luka superfisialis) : kerusakan terbatas pada lapisan


epidermis, kulit tampak kemerahan, nyeri hilang dalam 48-72 jam,
sembuh tanpa cacat dalam waktu 5-7 hari. Secara mikrodkopis, terdapat
dilatasi pembuluh darah di dermis. Epidermis intak, namun terdapat
beberapa kerusakan sel. Luka bakar derajat 1 dapat disebabkan oleh
paparan berkepanjangan dari panas atau cahaya intensitas rendah (misal
: sunburn) atau paparan jangka pendek dari panas ataucahaya
berintensitas tinggi.

Gambar 3. Luka bakar derajat 1


b. Derajat 2 (partial thickness ) : kerusakan mengenai seluruh epidermis
disertai dermis, sangat nyeri, kulit kemerahan, edematous, dan timbul
bula. Luka bakar derajat 2 dibagi dua jenis yaitu:
 Derajat 2a (superfisial) : kulit kemerahan, edematous, timbul bula,
nyeri. Banyak sel basal selamat, bagian dermis masih baik,
pelebaran pembuluh darah. Sembuh dalam 2 minggu atau tanpa
jaringan parut.

Gambar 4. Luka bakar derajat 2a


 Derajat 2b (dalam) : kerusakan lapisan epidermis dan sebagian
dermis, masih basah tapi tampak pucat, nyeri berkurang
dibandingkan derajat 2a. Dapat sembuh dalam beberapa minggu
hingga beberapa bulan disertai jaringan parut.

Gambar 5. Luka bakar derajat 2b


c. Derajat 3 (Full Thiskness) : kerusakan seluruh lapisan dermis atau lebih
dalam. Tampak epitel terkelupas dan daerah putih karena koagulasi
protein dermis. Dermis yag terbakar akan mengering dan menciut
disebut eskar. Tidak ada perfusi darah dan sensasi rasa nyeri.
Penyembuhan spontan tak mungkin terjadi. Setelah minggu kedua akan
tampak jaringan granulasi yang harus ditutup dengan skin graft, bila
dibiarkan akan menjadi kontraktur oleh karena jaringan parut yang
menebal dan menyempit.

Gambar 6. Luka bakar derajat 3


d. Derajat 4 (Full Thickness+): luka bakar mengenai semua lapisan
meliputi jaringan subkutan dasar, fasia, otot, tendo,tulang dan terjadi
karbonasi. Dibutuhkan eksisi lengkap untuk jaringan yang masih hidup.
Sering membutuhkan amputasi segera.

Gambar 7. Luka bakar derajat 4


2. Luas
Luas luka bakar adalah persentase dari total area permukaan tubuh yang
terbakar atau Total Body Surface Area (TBSA). Untuk memudahkan
perhitungan, satu telapak tangan pasien adalah ± 0,78 % TBSA.
Perhitungan berdasarkan Rule of Nines dari Wallace :
o Kepala, leher :9%
o Lengan, tangan :2x9%
o Paha, betis, kaki :4x9%
o Dada, perut, punggung, bokong :4x9%
o Genitalia :1%
Penilaian pada anak berbeda karena ukuran kepala-dada dan tungkai
berbeda, yaitu:
→ Anak 5 tahun :
o Kepala : 14 %
o Tungkai, kaki : 16 %
o Bagian lain sama dengan dewasa
→ Bayi 1 tahun :
o Kepala, leher : 18 %
o Tungkai, kaki : 14 %
o Bagian lain sama dengan dewasa.

Gambar 8. Rule of nines


3. Usia
Luka bakar terjadi pada usia ekstrem dapat membawa morbiditas dan
mortalitas lebih besar. Perhatian terhadap usia kurang dari 3 tahun atau lebih
dari 60 tahun karena imunitas lebih lemah dibanding usia lainnya.
4. Lokasi
Wajah, leher, tangan, kaki dan perineum memerlukan perhatian khusus.

2.6 Pembagian Berat Luka Bakar


1. Berat / kritis:
o Derajat 2 lebih dari 25 %
o Derajat 3 lebih dari 10% atau terdapat di wajah, kaki,tangan.
o Luka bakar disertai trauma inhalasi atau jaringan lunak luas, atau
fraktur.
o Luka bakar akibat listrik
o Darajat 1 lebih dari 30% TBSA
2. Sedang
o Derajat 2 : 15-25%
o Derajat 3 kurang dari 10%, kecuali muka, kaki, tangan
o Derajat 1 meliputi 15-30% TBSA.
3. Ringan
o Derajat 2 kurang dari 15%
o Derjat 1 meliputi kirang dari 10% TBSA
4. Faktor-faktor komorbid :
o Penyakit kardiovaskuler
o Penyakit respirasi
o Penyakir ginjal
o Penyakit/ sindrom metabolik
5. Indikasi rawat inap :
o Usia 10-40 tahun dengan luka bakar derajat 2 lebih dari 15% TBSA,
atau luka bakar derajat 3 lebih dari 3% TBSA.
o Usia kurang dari 10 tahun dan lebh dari 40 tahun, luka bakar derajat
2 lebih dari 10% TBSA, atau setiap luka bakar derajat 3.
o Luka bakar yang mengenai wajah, tangan kaki atau perineum.
o Luka bakar sirkumferensial di ekstremitas
o Luka bakar akibat listrik
o Luka bakar yang menyebabkan penderita tidak dapat merawat diri
sendiri atau tidak dapat menopang kehidupannya sendiri di rumah.

2.7 Komplikasi Luka Bakar


Beberapa komplikasi luka bakar adalah:
o Jaringan parut yang sulit dikoreksi
o Kontraktur / kekakuan
o Kecacatan
o Kematian
Seorang korban luka bakar dapat mengalami berbagai macam komplikasi
yang fatal termasuk diantaranya kondisi shock, infeksi, ketidakseimbangan
elektrolit dan masalah distress pernapasan. Selain komplikasi yang berbebtuk
fisik, luka bakar dapat juga menyebabkan distrees emosional (trauma) dan
psikologis yang berat dikarenakan cacat akibat luka bakar dan bekas luka. Luka
bakar dangkal dan ringan dapat sembuh dengan cepat dan tidak menimbulkan
jaringan parut. Namun apabila luka bakarnya dalam dan luas, maka penanganan
memerlukan perawatan di fasilitas yang lengkap dan komplikasi semakin besar
serta kecacatan dapat terjadi.
Kontraktur adalah komplikasi serius pada luka bakar akibat reorganisasi
kolagen. Hal ini terjadi pada saat scar / jaringan parut telah mencapai tahap
maturasi, menebal, mengencang dan menahan gerakan. Kontraktur dibagi menjadi
dua:
o Kontraktur ekstrinsik : parut yang berbatas tegas, menarik jaringan sekitar
(kulit yang memendek). Membutuhkan pembebasan segera.
o Kontraktur intrinsik : kontraktur langsung dari suatu organ, misalnya tendon.
Butuh rekonstruksi khusus dalam pembebasanya.
Penyebab parut sudah kering tapi belum matanng. Akibat gerakan sendi
maupun gravitasi, kapiler baru pecah sehingga timbul perdarahan dan
penyembuhan luka yang mulai dari awal. Jaringan fibrosa akan menebal lalu
mengkerut.

Gambar 9. Kontraktur akibat luka bakar

Penyebab Kematian Akibat Luka Bakar (Manner of Death) :


a. Keracunan Zat Karbon Monoksida
Kebanyakan kematian pada luka bakar biasanya terjadi pada
kebakaran yang hebat yang terjadi pada gedung-gedung atau rumah -
rumah bila dibandingkan dengan kebakaran yang terjadi secara bertahap
maka CO poisoning dan smoke inhalation lebih sering bertanggunng
jawab dalam penyebab kematian koraban dibanding dengan luka bakar itu
sendiri. CO poisoning merupakan aspek yang penting dari penyebab
kematian pada luka bakar, biasanya korban menjadi tidak sadar dan
meninggal sebelum api membakarnya, ini dapat menjawab pertanyaan
mengapa korban tidak melarikan diri pada waktu terjadi kebakaran.
Sehingga dalam menentukan penyebab dari kematian, maka luas dan
derajat luka bakar serta saturasi darah yang mengandung CO harus dinilai
secara hati-hati. Gas CO ini dibentuk dari pembakaran yang tidak
sempurna misalnya kayu yang terbakar, kertas, kain katun, batu bara yang
terbakar akan menghasilkan gas CO. CO dalam darah merupakan indikator
yang paling berharga yang dapat menunjukkan bahwa korban masih hidup
pada waktu terjadi kebakaran. Bila CO merupakan penyebab mati yang
utama maka saturasi dalam darah sedikitnya dibutuhkan 40% COHB,
kecuali pada orang tua, anak-anak dan debilitas dimana pernah dilaporkan
mati dengan kadar 25%.
b. Menghirup asap pembakaran (Smoke Inhalation)
Pada banyak kasus kematian, dimana cedera panas pada badan
tidak sesuai dengan penyebab kematian maka dikatakan penyebab
kematian adalah smoke inhalation. Asap yag berasal dari kebakaran
terutama alat-alat rumah tangga seperti furniture, cat, kayu, karpet dan
komponen-komponen yang secara struktural terdiri polystryrene,
polyurethane, polyvinyl dan material-material plastik lainnya dikatakan
merupakan gas yang sangat toksik bila dihisap dan potensial dalam
menyebabkan kematian.

Gambar 10. Udema laring

c. Trauma Mekanik
Kematian oleh karena trauma mekanik biasanya disebabkan karena
runtuhnya bangunan disekitar korban, atau merupakan bukti bahwa korban
mencoba untuk melarikan diri seperti memecahkan kaca jendela dengan
tangan. Luka-luka ini harus dicari pada waktu melakukan pemeriksaan
luar jenazah untuk memastikan apakah luka-luka tersebut signifikan dalam
menyebabkan kematian. Trauma tumpul yang mematikan tanpa
keterangan antemortem sebaiknya harus dicurigai sebagai suatu
pembunuhan.
d. Anoksia dan hipoksia
Kekurangan oksigen dengan akibat hipoksia dan anoksia sangat
jarang sebagai penyebab kematian. Bila oksigen masih cukup untuk
menyalakan api maka masih cukup untuk mempertahankan kehidupan.
Radikal bebas dapat diajukan sebagai salah satu kemungkinan dari
penyebab kematian, oleh karena radikal bebas ini dapat menyebabkan
surfaktan menjadi inaktif, jadi mencegah pertukaran oksigen dari alveoli
masuk ke dalam darah.
e. Luka bakar itu sendiri
Secara general dapat dikatakan bahwa luka bakar seluas 30- 50%
dapat menyebabkan kematian. Pada orang tua dapat meninggal dengan
persentasi yang jauh lebih rendah dari ini, sedangkan pada anak-anak
biasanya lebih resisten. Selain oleh derajat dan luas luka bakar prognosis
juga dipengaruhi oleh lokasi daerah yang terbakar, keadaan kesehatan
korban pada waktu terbakar. Luka bakar pada daerah perineum, ketiak,
leher dan tangan dikatakan sulit dalam perawatannya, oleh karena mudah
mengalami kontraktur.
f. Paparan panas yang berlebih.
Environmental hypertermia dapat menjadi sangat fatal dan bisa
menyebabkan kematian. Bila tubuh terpapar gas panas, air panas atau
ledakan panas dapat menyebabkan syok yang disertai kolaps
kardiovaskuler yang mematikan.
BAB III
LUKA BAKAR AKIBAT ZAT KOROSIF

3.1 Klasifikasi
Zat korosif dapat dibagi menjadi :
a. Bahan kimia bersifat asam :
- Asam organik contohnya asam oksalat, asam asetat, asam karbolat.
- Asam anorganik contohnya asam sulfat (H2SO4), asam nitrat (HNO3),
asam klorda.
- Garam-garam dari logam berat contohnya merkuri klorida, zinc
klorida.
- Halogen contohnya F, CI, Br.
b. Basa : contohnya amoniak (NH4OH), kalium hidroksida (KOH), natrium
hidroksida (NaOH).
Pembahasan tentang zat-zat anorganik adalah sebagai berikut :
1. Zat kimia asam korosif
Asam bersifat korosif bila konsentrasinya pekat, bersifat iritan pada
konsentrasi yang agak pekat, dan bersifat perangsang pada konsentrasi
rendah. Cara kerja pada golongan ini dapat mengakibatkan luka dengan
mengekstraksi air dari jaringan, mengkoagulasi protein menjadi albuminat,
mengubah hemoglobin menjadi asam hematin dengan membentuk asam
albuminat melalui dehidrasi jaringan yang mengakibatkan perubahan warna
hitam atau coklat.
Gejala yang dapat timbul bila seseorang meminum asam pekat antara lain :
 Luka bakar pada bagian mulut, esofagus, sampai lambung.
 Muntah yang mengandung darah,mukosa, dan bagian-bagian membran
mukosa.
 Perasaan nyeri dan kembung.
 Sudut mulut mengalami korosi.
 Gigi berwarna putih kapur.
 Lidah mengalami korosi.
 Suara serak karena edema laring.
 Usus mengalami gangguan peristaltik, diare, maupun konstipasi.
 Pupil mengalami dilatasi.
 Disfagia.
 Oliguria dan disuria.
Sifat-sifat khas bahan korosif :
1. Tumpahan racun pada tubuh korban dapat merusak struktur kulit, bibir
bisa terbakar dan tetesan racun bisa mengenai dagu, leher dan dada. Pola
mulut yang terbakar bisa digunakan untuk melihat racun apa yang
diminum. Korban yang meminum racun dengan posisi duduk atau berdiri,
racun akan mengalir ke dada dan abdomen, bila berbaring, racun akan
mengaliri wajah dan pipi lalu keleher belakang. Tumpahan racun bisa
masuk kesaluran hidung.
2. Bagian inferior mulut bisa terkikis, lidah tertelan atau menciut tergantung
bahan racunnya. Faring, laring dan esofagus terkikis dan dalam beberapa
menit glotis akan edema. Mukosa saluran nafas bisa rusak dan terjadi
aspirasi cairan ke paru sehingga terjadi edema paru dan hemoragik.
3. Bagian bawah esofagus dan perut mengalami perubahan warna,
deskuamasi dan perforasi. Setelah beberapa menit racun bisa mengalir
lebih dalam dan dapat merusak usus halus tapi ini jarang terjadi karena
faktor waktu dan adanya spasme pilorus.
4. Tumpukan racun ke paru bisa menimbulkan edema paru dan
bronkopneumonia akibatnya terjadi kematian.
Ciri-ciri luka akibat zat korosif asam :
 Terlihat kering.
 Berwarna coklat kehitaman, kecuali yang disebabkan karena asam nitrat
berwarna kuning kehijauan.
 Perabaan keras dan kasar.
Penyebab kematian :
 Segera
- Kegagalan pernafasan karena spasme dan edema glotis.
- Perforasi lambung yang menyebabkan peritonitis.
 Lambat
- Lemas dan malnutrisi, karena kelaparan akibat esofagus atau pylorus
mengalami pembentukan sikatriks dan stenosis.
- Dispepsia yang sukar disembuhkan.

Asam hidroklorida
Asam hidroklorida adalah zat yang tajam dan tidak berwarna. Sumber
keracunan biasanya pada industri, laboratorium, pemakaian asam klorida sebagai
pembersih di lingkungan rumah tangga. Asam hidroklorida digunakan untuk
aborsi dengan cara disuntik pervaginam ke dalam uterus sehingga menyebabkan
kematian janin. Kasus yang sering kali terjadi pada penggunaan asam ini adalah
suicidal, dengan cara menelan cairan yang terkonsentrasi. Kasus jarang terjadi
adalah kecelakaan dan homocidal.

Asam sulfat
Asam sulfat adalah zat kimia yang sering digunakan pada proses
manufaktur dan reagen yang penting dalam laboratorium. Sumber keracunan
biasanya pada industri dan laboratorium. Asam sulfat memiliki sifat fisik tidak
berwarna, tidak berbau, tidak mudah terbakar pada udara terbuka, jika ditambah
air menghasilkan panas, jika mengenai benda bersifat organik seperti kulit akan
mengakibatkan perubahan warna menjadi hitam seperti terbakar.

Asam nitrat
Asam nitrat digunakan secara luas pada proses manufaktur dan reagen
yang penting dalam laboratorium. Sumber keracunan dari industri, pabrik bahan
peledak, dan laboratorium. Asam nitrat memiliki sifat fisik merupakan cairan
bening tidak berwarna. Asam nitrat yang berwarna merah kekuningan adalah
asam nitrat dipasaran yang mengandung nitrogen oksida. Dalam bentuk yang
terkonsentrasi, asam ini dapat menghancurkan bahan organik dengan cara oksidasi
dan reaksi xanthoproteic. Asam nitrat ini akan menimbulkan kerusakan mukosa
dan meninggalkan bekas berupa cetakan kuning kecoklatan di mukosa.
Asam asetat
Sumber keracunan dari industri, laboratorium, biasanya digunakan sebagai
bahan utama dari asam cuka. Larutan asam asetat glacial 99% yang digunakan
pada laboratorium kimia, dan merupakan zat korosif kuat serta asam yang berbau
menyengat dan khas. Keracunan sering kali disebabkan karena menghirup asap
dari asam asetat. Sifat fisik asam nitrat memiliki sifat tidak berwarna, pada asam
cuka berupa cairan yang berwarna kekuningan, berbau tajam dan khas.

Asam oksalat
Sifat asam oksalat tidak begitu korosif tapi masih bersifat racun dan
kerjanya cepat, kematian timbul daam beberapa menit sampai 1 jam. Asam
bersifat korosif lokal dan berefek sistemik yang dapat berakibat fatal meskipun
kerusakan lokalnya non letal. Saat otopsi bila tertelan kristal putih atau asam kuat
maka akan timbul efek pemutihan mukosa mulut, faring dan esofagus walau
perdarahan lokal juga bisa terjadi. Diperut juga terjadi kerusakan mukosa dan
warnanya menjadi coklat tua atau hitam yang berasal dari asam hematin,
dindingnya erosi. Kematian pada korban yang telah melewati fase akut
disebabkan karena kelainan fungsi otot (termasuk kelainan myocardium) karena
hypokalemi akibat presipitasi kalsium tubuh. Kematian terjadi setelah 2-10 hari.

2. Zat kimia basa korosif


Zat kimia basa seperti halnya asam mempunyai sifat korosif dalam
konsentrasi yang pekat, dan bersifat iritan pada konsentrasi yang lebih encer.
Ciri-ciri luka yang terjadi sebagai akibat bersentuhan dengan zat-zat ini adalah :
 Terlihat basah dan edematous
 Berwarna merah kecoklatan
 Perabaan lunak dan licin

a. Amonia
Sumber keracunan dari industri, rumah tangga dan laboratorium. Pada
rumah tangga sering kali digunakan sebagai pembersih. Amonia memiliki
sifat alkali kuat yang iritatif. Gas amonia yang digunakan dilemari es
adakalanya lolos melalui kebocoran pada pipa. Jika gas tersebut terhirup,
maka inflamasi yang hebat pada saluran pernafasan akan terjadi, yang akan
mengakibatkan laringitis pseudomembranosa, purulen dan berwarna
kekuningan, trakitisbronkitis dan bronkopneumonia.

b. Kalium hidroksida
Kalium hidroksida memiliki sifat fisik berupa zat padat berwarna putih
keabuan, larut dalam air, perabaan licin dan rasanya pahit. Zat ini memiliki
sifat korosif yang kuat dan akan memberikan efek terbakar pada kulit
sebagaimana pada saluran gastrointestinal. Sumber keracunan dari
laboratorium, industri terutama pabrik sabun. Pada sebagian besar kasus
adalah suicidal dan kecelakaan dengan cara menelan zat tersebut. Pada kasus
yang jarang adalah homicidal pada anak yang dipaksa menelan zat tersebut.

c. Natrium hidroksida
Sodium hidroksida, NaOH dan soda kaustik adalah nama lain dari natrium
hidroksida. Cairan konsentrat yang terdiri dari natrium hidroksida ditambah
dengan sodium hidroksida dan sodium karbonat jika ditelan pada kasus bunuh
diri atau tertelan oleh anak-anak, dapat menyebabkan kematian oleh karena
kerusakan yang parah pada saluran gastrointestinal. Dalam beberpa hal,
cairan tersebut dapat dilempar kearah wajah atau tubuh individu untuk
menimbulkan luka seperti luka bakar dan juga menimbulkan perlukaan pada
kornea.

3.2 Patofisiologi
1. Asam kuat
Asam kuat sifatnya mengkoagulasikan protein sehingga menimbulkan
luka korosif yang kering dan keras. Basa kuat bersifat membentuk reaksi
penyabunan intrasel sehingga menimbulkan luka yang basah, licin dan kerusakan
akan berlanjut sampai dalam. Karena bahan kimia asam atau basa terdapat dalam
bentuk cair (larutan pekat), maka bentuk luka sesuai dengan mengalirnya bahan
cair tersebut. Satu fakta penting yang harus diingat bahwa penampakan post
mortal tidak serta merta memberikan gambaran akan waktu kematian, mengingat
asam atau basa kuat akan terus merusak jaringan sehingga perforasi akan sering
didapat pada penampakan post mortal.
Penelanan zat korosif seringkali menghasilkan efek yang merugikan pada
esofagus dan/atau lambung. Zat basa umumnya menyebabkan perlukaan esofagus,
sedangkan zat asam seringkali menyebabkan kerusakan lambung. Barisan epitel
squamosa esofagus sensitif terhadap zat basa, namun dalam perjalanannya menuju
lambung, zat basa akan dinetralisir dengan cepat oleh keasaman lambung.
Sebaliknya, mukosa esofagus resisten terhadap zat asam, dan kemudian akan
menyebabkan peradangan hebat pada dinding lambung. Zat korosif baik asam
maupun basa dapat merusak esofagus dan lambung serta usus secara cepat. Jarang
sekali ditemukan nekrosis dari seluruh usus akibat penelanan zat korosif.
Asam kuat bersifat korosif pada konsentrasi yang pekat, bersifat iritan
pada konsentrasi yang agak pekat dan bersifat perangsang pada konsentrasi
rendah. Luka akibat zat asam menyebabkan “nekrosis koagulasi” pada jaringan
yang terkena, koagulum ini kemudian akan membatasi penetrasi lebih dalam ke
jaringan. Di sisi lain, luka bakar memicu “pencairan nekrosis”, sebuah proses
yang menyebabkan penguraian protein dan kolagen, saponifikasi lemak, dehidrasi
jaringan dan trombosis pembuluh darah, yang menyebabkan perlukaan jaringan
yang lebih dalam.
Luka bakar akibat zat kimia pada saluran gastrointestinal bagian atas
dikelompokkan dalam golongan yang sama dengan luka bakar pada kulit. Luka ini
dikelompokkan dalam tiga derajat berdasarkan luas dan beratnya lesi superfisial.
Penilaian kedalaman luka dapat memperbaiki penanganan luka, namun saat ini,
belum didapatkan pengukuran kedalaman yang tepat, dan penilaian derajat secara
subjektif masih dianggap yang terbaik.
Cara kerja zat korosif dari golongan asam sehingga mengakibatkan luka
ialah :
 Mengekstraksi air dari jaringan, sehingga luka terlihat kering dengan
perabaan keras dan kasar.
 Mengkoagulasi protein menjadi asam albuminat.
 Mengubah hemoglobin menjadi asam hematin, sehingga berubah warna
menjadi coklat kehitaman. Kecuali yang disebabkan oleh asam nitrat
berwarna kuning kehijauan.
Gangguan post mortem luka tergantung pada :
 Kepekatan asam.
 Banyaknya asam yang digunakan.
 Lamanya pasien dapat bertahan sejak meminum asam kuat tersebut.
Jika kematian dapat terjadi dengan singkat, maka ditemukan :
 Tanda-tanda korosi dan kerusakan pada mulut, tenggorokan, esofagus dan
lambung. Bentuknya bisa berupa sedikit erosi sampai merupakan bercak
kerusakan yang luas.
 Bisa dijumpai perforasi lambung yang mengakibatkan keluarnya isi lambung
kedalam rongga perineum. Dapat pula terjadi kerusakan pada organ perineum
atau pada organ-organ abdomen.

2. Basa kuat
Basa mempunyai sifat korosif dalam konsentrasi yang pekat dan bersifat
iritan pada konsentrasi yang lebih encer. Cara kerja zat kimia korosif dari
golongan basa sehingga menimbulkan luka ialah :
 Mengadakan ikatan dengan protoplasma sehingga membentuk alkalin dan
sabun, sehingga terlihat basah dan edematous dengan perabaan lunak dan
licin.
 Mengubah hemoglobin menjadi alkalin hematin, sehingga terlihat berwarna
merah kecoklatan.
Paparan zat korosif alkali seperti sodium hidroksida (NaOH), berakibat
penetrasi jaringan yang disebabkan oleh disosiasi OH- yang menimbulkan
nekrosis liquefaktif. Nekrosis liquefaktif berakibat disolusi protein,destruksi
kolagen, saponifikasi lemak, emulsifikasi membran sel, trombosis transmural dan
kematian sel. Paparan zat alkali pada mata menyebabkan defek pada epitel
kornea mata dan menembus kedalam mata secara cepat.
Gambaran post mortem luka akibat basa meliputi :
 Tanda-tanda korosi tidak begitu jelas seperti yang disebabkan oleh asam.
 Apabila tertelan akan timbul tanda-tanda korosif pada saluran cerna dengan
gejala berupa nyeri pada mulut, esofagus dan epigastrium. Hipersalivasi,
muntah disertai bagian mukosa lambung dan darah. Seringkali suara serak
karena edema glotis.
 Sistem pencernaan menunjukkan bercak-bercak yang mengalami inflamasi
dan nekrosis.
 Bila terhirup akan mengakibatkan peradangan berat pada saluran pernapasan.
Saluran pernapasan berwarna kekuningan, purulen dan terjadi
laringitispseudomembran, trakeitis, bronkitis, dan bronkopneumonia.
Gejalanya adalah nyeri dada, batuk berat, spasme glotis dan tanda-tanda
infeksi paru-paru. Terdapat bentuk basa kuat dalam bentuk gas yang
mengakibatkan iritasi kornea dan konjungtiva jika kontak dengan mata.
 Perforasi jarang sekali terjadi.
 Traktus respiratorius bagian atas mungkin mengalami kongesti.

3.3 Pemeriksaan Forensik


1. Asam
a. Pada pemeriksaan luar didapatkan :
Tanda terbakar yang berwarna coklat kemerahan atau hitam, kering dan
keras sesuai dengan bagian yang terkena.
b. Pada pemeriksaan dalam didapatkan :
 Mukosa teriritasi, memberikan gambaran merah terang atau merah
kecoklatan, mungkin didapatkan ulserasi.
 Tanda iritasi pada laring dan edema pada glotis.
 Peradangan yang memberikan gambaran pseudomembran pada trakea
dan bronkus yang mengakibatkan kerusakan epitel superfisial dan
nekrosis yang dapat terjadi sampai kelapisan submukosa.
2. Basa
a. Pada pemeriksaan luar didapatkan :
Luka terlihat basa dan edematous berwarna merah kecoklatan, perabaan
lunak dan licin.
b. Pada pemeriksaan dalam didapatkan :
Membran mukosa lembut, bengkak, edema, dan merah dengan sedikit
bintik coklat.

Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan yaitu :


1. Pemeriksaan dengan menggunakan kertas lakmus yang akan menimbulkan
perubahan warna.
2. Pemeriksaan patologi anatomi pada lapisan kulit.
 Asam kuat (H2SO4)
Pada pemeriksaan jaringan akibat luka asam kuat, terjadi penebalan
pada lapisan epidermis dan adanya granul-granul pada vesikel kolagen
berbentuk gelombang dan hiperemis.
 Basa (NaOH)
Pada pemeriksaan jaringan akibat luka basa kuat akan terjadi
penebalan dan nekrosis di semua jaringan sel di lapisan epidermis dan
dermis.
BAB IV
LUKA BAKAR AKIBAT LISTRIK

4.1 Definisi
Luka bakar listrik adalah luka yang disebabkan oleh trauma listrik, yang
merupakan jenis trauma yang disebabkan oleh adanya persentuhan dengan adanya
yang memiliki arus listrik, sehingga dapat menimbulkan luka bakar sebagai akibat
berubahnya energi listrik menjadi energi panas.
Pada umumnya tanda trauma listrik adalah luka bakar pada kulit. Gambar
makroskopis kerusakan kulit yang kontak langsung dengan sumber listrik
bertegangan rendah disebut electrical mark. Dalam studi kasus kematian, hanya
sekitar 55% yang menunjukkan electrical mark. Luka listrik biasanya dapat
diamati di titik masuk (entry point) maupun titik keluar (exit point).

4.2 Etiologi
Trauma listrik terjadi saat seseorang menjadi bagian dari sebuah
perputaran aliran listrik atau disebabkan pada saat berada dekat dengan sumber
listrik. Secara umum ada 2 jenis tenaga listrik, yaitu:
1. Tenaga listrik alam, seperti petir
2. Tenaga listrik buatan, seperti arus listrik searah (DC) contohnya baterai
dan arus listrik bolak-balik (AC) contohnya listrik PLN di rumah atau di
pabrik.

4.3 Patofisiologi
Elekrton mengalir dalam tubuh sacara abnormal sehingga menghasilkan
cedera atau kematian melalui depolarisasi otot dan saraf, inisiasi abnormal irama
elektrolit pada jantung dan otak atau menghasilkan luka bakar elektrik internal
maupun eksternal melalui panas dan pembentukan pori dimembran sel.
Arus yang melalui otak, baik voltase rendah tinggi mengakibatkan
penurunan kesadaran segera karena depolarisasi saraf otak. Arus bolak-balik (AC)
dapat menyebabkan fibrilasi ventrikel jika jalurnya melalui dada, aliran listrik
yang lama mengakibatkan kerusakan iskemik otak yang diikuti dengan gangguan
nafas.
Faktor-faktor yang mempengaruhi efek listrik terhadap tubuh.
a. Jenis dan tegangan listrik
Secara umum, arus searah (DC) tidak terlalu bebahaya jika dibandingkan
dengan arus bolak-balik (AC). Efek AC pada tubuh manusia sangat
tergantung kepada kecepatan beubahnya arus (frekuensi), yang diukur dalam
satuan siklus / detik (hertz). Arus frekuensi rendah (50-60 hertz) lebih
berbahaya dari arus frekuensi tingi dan 3-5 kali lebih berbahaya dari DC pada
tegangan (voltase) dan kekuatan (ampere) yang sama. DC cenderung
menyebabkan kontraksi otot yang kuat, yang seringkali mendorong jauh /
melempar korbannya dari sumber arus. AC sebesar 60 hertz menyebabkan
otot terpaku pada posisinya, sehingga korban tidak dapat melepaskan
genggamannya pada sumber listrik. Akibatnya korban terkena sengatan listrik
lebih lama sehingga terjadi luka bakar yang berat.
Biasanya semakin tinggi tegangan dan kekurangannya, maka semakin
besar kerusakan yang ditimbulkan oleh kedua jenis arus listik tersebut.
Kekutan arus listrik diukur dalam ampere. 1 miliampere (mA) sama dengan
1/1.000 ampere. Pada arus serendah 60-100 mA dengan tegangan rendah
(110-220 volt), AC 60 hertz mengalir melalui dada dalam waktu sepersekian
detik bisa menyebabkan irama jantung yang tidak beraturan, yang biasa
berakibat fatal. Arus bolak-balik lebih dapat menyebabkan aritmia jantung
dibanding arus searah. Arus dari AC pada 100 mA dalam seperlima detik
dapat menyebabkan fibrilasi vertikel dan henti jantung. Efek yang sama
ditimbulkan oleh DC sebesar 300-500 mA. Jika arus langsung mengalir
kejantung, misalnya melalui pacamaker., amak bisa terjadi gangguan irama
jantung meskipun arus listriknya jauh lebih rendah ( kurang dari 1 mA).
Voltase rendah lebih sering menyebabkan kematian dibanding voltase
yang lebih tinggi. Sebab kematian pada orang yang terkena arus listrik
dengan tegangan tinggi berbeda dengan tegangan rendah. Kematian pada
tegangan rendah disebabkan karena fibrilasi ventrikel, sedangkan jika
tegangan tinggi kematian lebih disebabkan karena luka bakar / panas.
b. Resistensi tahanan
Resistensi adalah kemampuan tubuh untuk menghentikan atau
memperlambat aliran listrik. Tahanan tubuh bervariasi di masing-masing
jaringan, yang ditentukan oleh perbedaan kandungan air di masing-masing
jaringan. Setiap manusia memiliki tahan terhadap listrik yang berbeda-beda
dalam tubuh sehingga apabila terkena aliran listrik dengan tegangan yang
sama belum tentu mengasilkan efek yang sama, selain berbeda pada tiap
manusia tahanan listrik juga berbeda-beda pada organ tubuh manusia.
Tahanan yang tersebar terdapat pada kulit tubuh, akan menurun besarnya
pada tulang, lemak, urat saraf, otot, darah dan cairan tubuh. Tahanan kulit
rata-rata 500-10.000 ohm.
Didalam lapisan kulit itu sendiri bervariasi derajat resistensinya, hal ini
bergantung pada ketebalan kulit dan jumlah relatif dari folikel rambut,
kelenjer keringat dan lemak. Kulit yang berkeringat lebih jelek daripada kulit
kering. Menurut hitungan Cardieu, bahwa berkeringat dapat menurunkan
tahan sebesar < 1.000 ohm.
Arus listrik banyak yang melewati kulit, karena itu energinya banyak yang
dilepaskan dipermukaan. Jika resistensi kulit tinggi, maka permukaan luka
bakar yang luas dapat terjadi pada titik masuk dan keluarnya arus, disertai
dengan adanya hangusnya jaringan diantara titik masuk dan titik keluarnya
arus listrik. Tergantung kepada resistensinya, jaringan dalam juga bisa
mengalami luka bakar. Tahanan tubuh terhadap aliran listrik juga akan
menurun pada keadaan demam atau adanya pengaruh obat-obatan yang
mangakibatkan produksi keringat menigkat. Pertimbangkan tentang
traditional resistence, yaitu suatu tahanan yang menyertai akibat adanya
bahan-bahan yang berada diantara konduktor dengan tubuh atau antara
dengan bumi, misalnya baju, sarung tangan, karet, sepatu karet dan lain-lain.
c. Adanya hubungan dengan bumi
Sehubungan dengan faktor tahanan, maka orang yang berdiri pada tanah
yang basah tanpa alas kaki, akan lebih berbahaya daripada orang yang berdiri
dengan menggunakan alas sepatu yang kering, karena pada keadaan pertama
tahanannya rendah.
d. Lamanya waktu kontak dengan konduktor
Makin lama korban kontak dengan konduktor maka makin banyak jumlah
arus yang melalui tubuh sehingga kerusakan tubuh akan bertambah besar dan
luas. Dengan tegangan yang rendah akan terjadi spasme otot-otot sehingga
korban malah menggenggam konduktor. Akibatnya arus listrik akan
menagalir lebih lama sehingga korban jatuh dalam keadaan syok yang
mematikan. Sedangkan pada tegangan tinggi, korban segera terlempar atau
melepaskan konduktif atau sumber listrik yang tersentuh, karena akibat arus
listrik dengan tegangan tinggi tersebut dapat menyebabkan timbulnya
kontraksi otot, termasuk otot yang tersentuh aliran listrik tersebut.
e. Aliran arus listrik
Arus listrik didefinisikan sebagai aliran elektron-elektron yang
menyebrangi gradient potensi dari konsentarasi tinggi ke konsentrasi rendah.
Pada konduktor elektron bergerak dari satu atom ke atom konduktor
berikutnya sedangnya pada mediumnya air elektron dibawa oleh elektrolit
yang larut didalamnya. Perbedaan potensi ini merupakan kekuatan utama
yang menyebabkan listrik mengalir melalui konduktor. Arus listrik
memegang peranan penting pada berat ringannya kerusakan organ dalam
akibat sengatan listrik, apabila tegangan konstan maka jumlah arus yang
masuk kedalam tubuh tergantung pada tahanan tubuh dan lama kontak.
Manusia lebih sensitive sekitar 4-6 kali terhadap arus kenis alternating
current (AC) dibandingkan arus direct current (DC). Arus DC menyebabkan
satu kontraksi otot, sedangkan arus AC menyebabkan kontraksi otot yang
kontinyu dapat mencapai 40-110 kali/detik, sehingga menyebabkan luka yang
lebih parah.
Adalah tempat-tempat pada tubuh yang lalui arus listrik sejak masuk
sampai meninggalkan tubuh. Arus listrik paling sering masuk melalui tangan,
kemudian kepala; dan paling sering keluar dari kaki. Arus listrik yang
mengalir dari lengan ke lengan atau dari lengan ke tungkai bisa melewati
jantung, karena itu lebih berbahaya dari pada arus listrik yang mengalir dari
tungkai ke tanah. Letak titik masuk arus listrik (point of entery) dan letak titik
keluar bervariasi sehingga efek dari arus listrik tersebut bervariasi dari ringan
samapi berat. Arus listrik masuk dari sebelah kiri bagian tubuh lebih
berbahaya daripada jika masuk dari sebelah kana. Bahya terbesar bisa timbul
jika jantung atau otak yang berada dalam posisi aliran listrik tersebut. Bumi
dianggap sebagai kutub negatif. Orang yang tanpa alas kaki lebih berbahaya
kalau terkena aliran listrik, alas kali dapat berfungsi sebagai isolator, terutama
yang terbuat dari karet.

Tabel 1 . hubungan kuat arus listrik dan pengaruh ke tubuh.


Arus lisrik Pengaruh ke Tegangan yang menghasilkan
(kontak 1 tubuh arus yang diperkirakan sesuai
detik dengan dengan tahanan tubuh
tubuh)
10.000 ohm 1000 ohm
1 mA Batas nilai 10 V 1V
ambang 10 V
persepsi merasa
geli
1,8 mA Sensasi syok, 10-80 V 1-8 V
tidak nyeri. Let
go current masih
dapat terjadi
8-15 mA Syok disertai rasa 80-150 V 8-15 V
nyeri. Let go
current masih
dapat terjadi
15-20 mA Syok disertai rasa 150-200 V 15-20 V
nyeri dan letih.
Let go current
masih dapat
terjadi
20-50 mA Nyeri disertai 200-500 V 20-50 V
kontraksi otot
yang hebat.
Kesulitan
bernafas
100-300 mA Fibrilasi ventrikel 500-60000 V 6000 V
dan kelumpuhan
pernafasan
6A Fibrilasi ventikel 60.000 volt
dan kelumpuhan
pernafasan. Luka
bakat
Dikutip dari : forensic pathologi of trauma

4.5 Gejala
Gejala yang tergantung kepada interaksi yang rumit dari semua sifat arus
listrik. Suatu kejutan dari sebuah arus listrk bisa mengejutkan korbannya sehingga
dia terjatuh atau menyebabkan terjadinya kontraksi otot yang kuat. Kedua hal
tersebut bisa mengakibatkan dislokasi, patah tulang dan cedera tumpul. Kesadaran
bisa menurun, pernafasan dan denyut jantung bisa lumpuh. Luka bakar listrik bisa
terlihat dengan jelas di kulit dan bisa meluas ke jaringan yang lebih dalam. Arus
listrik bertegangan tinggi bisa menumbuh jaringan diantara titik masuk dan ttitk
keluarnya, sehingga terjadi luka bakar pada daerah otot yang luas. Akibatnya
sejumlah besar cairan dan elekrolit akan hilang dan kadang menyebabkan tekanan
darah sangat rendah. Serat-serat otot yang rusak akan melepaskan mioglobin,
yang bisa melukai ginjal dan menyebabkan terjadinya gagal ginjal. Dalam
keadaan basah, kira dapat mengalami kontak dengan arus listrik. Pada keadaan
tersebut, resistensi kulit mungkin sedemikian rendah sehingga tidak terjadi luka
bakar tetapi henti jantung dan jika tidak mendapatkan pertolongan segera, korban
akan meninggal.
Petir jarang menyebabkan luka bakar dititik masuk dan titik keluarnya,
serta jarang menyebabkan kerusakan otot ataupun pelepasan mioglobin ke dalam
air kemih. Pada awalnya bisa terjadi penurunan kesadaran yang kadang diikuti
dengan koma atau kebingungan yang sifatnya sementara, yang biasanya akan
menghilang dalam beberapa jam atau beberapa hari. Penyebab utama dari
kematian akibat petir adalah kelumpuhan jantung dan paru-paru. Trauma listrik
melibatkan trauma langsung dan tidak langsung. Trauma listrik langsung
disebabkan oleh efek arus listrik pada tubuh dan trauma listrik tidak langsung oleh
konversi listrik menjadi listrik menjadi energi termal yang bertanggung jawab
untuk berbagai jenis luka bakar. Luka tidak langsung cenderung hasil dari
kontraksi otot yang parah disebabkan oleh trauma listrik. Terdapat kasus karena
listrik yang menyebabkan korban jatuh dari ketinggian, dalam hal ini sukar untuk
mencari sebab kematian yang segera.

4.5 Mekanisme Kerusakan Sel Akibat Listrik


Lapisan lemak membran sel mudah dipengaruhi oleh listrik karena lemak
membran memiliki kutub bermuatan listrik. Energi listrik mempengaruhi potensi
membran istirahat menyebabkan peningkatan permeabilitas membran sel sehingga
terjadi ketidakseimbangan dalam sel, perubahan bentuk permukaan membran sel.
Lapiasan lemak membran yang pada awalnya berupa lubang hidropobik berubah
menjadi hidropobik sehingga terbentunk lubang-lubang pada membran sel. Proses
ini dikenal sebagai proses elektroporasi. Elektroporasi terjadi karena energi listrik
yang berasal dari luar sel melebihi elastisitas membran sel. Elektroporasi terjadi
bila tubuh dialiri oleh listrik bertegangan tinggi atau arus listrik lebih dari 200
mA. Elektroporasi reversibe terjadi bila sel terpapar aurs listrik 200-500 mA
selama kurang dari 100 mikrodetik. Elektroporasi irreversibel terjadi bila terpapar
arus listrik sebesar 200-500 mA selama lebih dari 100 mikrodetik. Melalui proses
elektroporasi ini dapat terjadi kematian sel tanpa adanya pemanasan sel yang
signifikan, sebagai akibat terganggunya keadaan elektrolit sel.
Denaturasi protein
Adanya lapisan lipid pada membran sel menyebabkan arus listrik yang
melewati membran akan tertahan. Energi listrik yang masuk akan diubah menjadi
energi panas menyebabkan denaturasi, koagulasi protein dan nekrosis koagulasi.
Kerusakan tipe banyak terjadi pada paparan arus dengan voltase tinggi dan hampir
tidak terjadi pada voltase rendah.
Hiperkontraksi serabut otot
Energi listrik bervoltase rendah juga dapat menyebabkan terjadi tetani
pada otot. Aliran listrik yang terus-menerus merangsang voltage-gate chanal
membran cell sehingga terjadi hiperpolarisasi. Tetani ini lebih banyak terjadi pada
arus listrik bolak-balik dengan frekuensi rendah antara 15-150 Hz dimana pada
frekuensi ini otot dirangsang untuk berkontraksi sebanyak 40-110 perdetik.
Sebab kematian karena arus listrik
1. Fibrilasi ventrikel
Seperti diketahui bahwa penyebab terbesar kematian karena sengatan
listrik dilaporkan karena terpengaruhnya keja jantung. Sengatan listrik
mengganggu sistem kelistrikan jantung dan merusak otot jantung. Bergantung
pada ukuran badan dan jantung. Dalzie (1961) memperkirakan pada manusia
arus yang mengalir sedikitnya 70 mA dalam waktu 5 detik dari tangan ke
tungkai akan menyebabkan fibrilasi. Fibrilasi ventrikel juga dapat disebabkan
oleh sengatan listrik bertegangan 65-1000 volt dan menyebabkan kematian
dalam waktu beberapa detik < 15 detik. Arus bolak-balik (AC) jauh lebih
berbahaya daripada arus searah DC sehubungan dengan timbulnya aritmia
jantung. Henti jantung mendadak karena fibrilasi ventrikel lebih sering terjadi
karena arus AC dengan voltase rendah (30-200 mA), sedangkan asistole lebih
sering terjadi karena arus DC atau AC dengan tegangan tinggi (lebih dari 5A).
yang paling berbahaya adalah jika arus listrik masuk ke tubuh melalui tangan
yang satu dan keluar melalui tangan yang lain maka 60% yang meninggal
dunia.
2. Paralisis respiratorik
Akibat spasme dari otot-toto pernafasan, sehingga korban meninggal
karena asfiksia, sehubungan dengan spasme otot-tot karena jantung masih
tetap berdenyut sampai timbul kematian. Terjadi bila arus listrik yang
memasuki tubuh korban diatas nilai ambang yang membahayakan, tatapi
masih diatas bawah yang dapat menimbulkan fibrilasi ventrikel. Menurut
Koeppen, spasme otot-otot pernafasan terjadi pada arus 25-80 Ma, sedangkan
ventrikel fibrilasi terjadi pada arus 75-100 mA.
3. Paralisis pusat nafas
Jika arus listrik masuk melalui pusat dibatang otak, disebabkan juga oleh
trauma pada pusat vital diotak yang terjadi koagulasi dan akibat efek
hipertermis. Bila aliran listrik diputus, paralisis pusat pernafasan tetap ada,
jantung pun masih berdenyut, oleh karena itu dengan bantuan pernafasan
buatan korban korban masih dapat ditolong. Hal tersebut bisa terjadi kepala
merupakan jalur arus listrik.
4. Luka bakar
Paparan arus yang dihasilkan oleh sumber tegangan rendah (termasuk
sumber listrik rumah tangga) dapat menyebabkan luka bakar di jaringan kutan
disebabkan transformasi energi listrik ke energi termal. Luka dapat berupa
eritema lokal sehingga luka bakar derajat berat. Tingkat keparahan luka bakar
tergantung pada intensitas arus, permukaan daerah dan durasi paparan.

4.6 Pemeriksaan Korban


Pemeriksaan korban ditempat kejadian perkara
Korban mungkin ditemukan sedang memegang benda yang membuatnya
kena listrik, kadang-kadang ada busa mulut, yang perlu dilakukan pertama kali
adalah mematikan arus listrik atau menjauhi kawat listrik dengan kayu kering.
Lalu kemudian korban diperiksa apakah hidup atau sudah meninggal dunia.
Bilamana belum ada lebam mayat, maka mungkin korban dalam keadaan mati
suri dan perlu diberi pertolongan segera yaitu pernafasan buatan dan pijit jantung
dan kalau perlu segera dibawa ke Rumah sakit. Pernafasan buatan ini jika
dilakukan dengan baik dan benar masih merupakan pengobatan utama untuk
korban listrik. Usaha pertolongan ini dilakukan sampai korban menunjukkan
tanda-tanda hidup atau tanda-tanda kematian pasti.
Pemeriksaan jenazah
Pemeriksaan luar sangat penting karena justru kelainan yang menyolok
adalah kelainan pada kulit. Dalam pemeriksaan luar yang harus dicari adalah
tanda-tanda listrik atau cuma current mark/electrical mark/stoomark van
jelline/joule burn. Tanda-tanda listrik tersebut antara lain:
a. Electrical mark adalah kelainan yang dapat dijumpai pada tempat dimana
listrik masuk kedalam tubuh. Electrical mark berbentuk bundar atau oval
dengan bagian yang datar dan rendah ditengah, dikelilingi oleh kulit yang
menimbulkan bagian tersebut biasanya pucat dan kulit diluar elektrik mark
akan menunjukkan hiperemis. Benruk dan ukurannya tergantung dari bena
yang berarus listrik yang mengenai tubuh.
b. Joule burn (endogenenous burn) dapat terjadi bilamana kontak antara tubuh
dengan bendanya yang mengandung arus listrik cukup lama, dengan
demikian bagian tengah yang dangkal dan pucat pada elektrical mark dapat
menjadi hitam hangus terbakar.

Gambar: Gambaran Endogenenous burn


c. Exogenous burn, dapat terjadi bila tubuh manusia terkena benda yang berarus
listrik dengan tegangan tinggi yang mengenai sudah mengandung panas;
misalnya pada tegangan di atas 330 volt. Tubuh korban hangus terbakar
dengan kerusakan yang sangat berat, yang tidak jarang disertai patahnya
tulang-tulang.

Gambar: Exogenous burns


Pemeriksaan dalam
Pada otopsi biasanya tidak ditemukan kelainan yang khas. Pada otak
didapatkan perdarahan kecil-kecil dan terutama paling banyak adalah pada daerah
ventrikel III dan IV. Organ jantung akan terjadi fibrilasi bila dilalui aliran listrik.
Pada paru didapatkan edema dan kongesti. Pada korban yang terkena listrik
tegangan tinggi, Custer menemukan pada puncak lobus salah satu paru terbakar,
juga ditemukan pneumothorax, hal ini mungkin sekali disebabkan oleh aliran
listrik yang melalui paru kanan. Organ visera menunjukkan kongesti yang merata.
Petekie atau petdarahan mukosa gastrointestinal ditentukan pada 1 dari 100 kasus
fatal akibat listrik.
Pada hepar ditemukan lesi yang tidak khas, sedangkan pada tulang, karena
tulang mempunyai tahanan listrik yang besar, maka jika ada aliran listrik akan
terjadi panas shingga tulang meleleh dan terbentuklah butiran-butiran kalsium
fosfat yang menyerupai mutiara atau pearl like bodie. Otot korban mengalami
nekrosis dan ruptur lalu terjadi perdarahan kemudian terbentuklah gangren.
Pemeriksaan tambahan
Yang dilakukan adalah pemeriksaan patologi anatomi pada elektrical
mark. Walaupun pemeriksaan itu tidak spesifik untuk tanda kekerasan oleh listrik
tetapi sangat menolong untuk menegaskan bahwa korban telah mengalami trauma
listrik. Hasil pemeriksaan akan terlihat adanya bagian sel yang memipih, pada
pengecetan dengan metoxyl lineosin akan berwarna lebih gelap dari normal. Sel-
sel pada stratum korneum menggelembung dan vaksum. Sel dan intinya dari
stratum basalis menjadi lonjong dan tersusun secara palisade. Ada sel yang
mengalami karbonisasi dan ada pula bagian sel-sel yang rusak dari stratum
korneum. Folikel rambut dan kelenjar keringat menunjang dan memutar ke arah
bagian yang terkena listrik.
Selain pemeriksaan patologi anatomi, adanya cedera sel menyebabakan
peningakatan jumlah enzim dalam serum plasma karena pada cedera sel molekul-
molekul intrasel dapat lolos keluar dari sel. Setiap enzim bersifat spesifik untuk
substrat yang dibahannya menjadi produk tertentu. Kreatinin kinase (CK) adalah
suatu enzim yang mengkatalisis pemindahan suatu gugus fosfat antara kreatinin
fosfat dan adenosisn trifosfat (ATP). Enzim CK terdiri dari dua subunit yaitu M
(muscle type) dan B (brain type), sehingga CK memiliki tiga isoenzim yaitu CK 1
(BB), CK 2 (MB) dan CK3 (MM). Kreatinin kinase dihasilkan oleh otak, otak
rangka dan jantung, maka untuk membuktikan bahwa kreatinin kinase dalam
serum berasal dari jantung adalah dengan memeriksa iso enzim kreatini kinase.
Kemunculan MB yang mendadak dalam serum manandakan asalnya dari
miokardium, kadar kreatinin kinase- CKMB yang lebih tinggi dari kadar normal
dapat terjadi iskemi jantung, radang kandung jantung, sengatan listrik, serangan
jantung, paksa operasi jantung. Hausinger TS, Green L dkk pada penelitiannya
dengan 26 kasus sengatan listrik. Meningkatnya kadar CKMB pada sengatan
listrik dapat terjadi tanpa ditandai dengan gejala klinis dan kelainan gambaran
elektrokardiografi. Zhang B dkk melakukan penelitian ini adalah bahwa
kerusakan jantung akibat trauma listrik dapat diperkirakan dari kadar kreatinin
kinase – MB serum.
BAB V
PEMERIKSAAN POST MORTEM

5.1 Pemeriksaan
Beberapa pemeriksaan pada kasus kematian akibat luka bakar adalah:
1. Pemeriksaan tempat kejadian perkara (TKP).
a. Menentukan apakah korban sudah meninggal dengan pemeriksaan tanda-
tanda vital dan refleks batang otak.
b. Menentukan perkiraan waktu kematian.
Data-data yang diperlukan dalam menentukan waktu kematian akibat
luka bakar adalah : penurunan suhu tubuh, lebam mayat, kaku mayat,
tanda-tanda pembusukan dan umur larva jenazah yang sudah membusuk.
Pada luka bakar yang dalam dan luas, beberapa penyulit yang
mengganggu perolehan data diatas misalnya sikap pugulistik pada luka
bakar total, serta pemeriksaan lebam mayat pada korban hangus. Untuk
mengurangi kesalahan maka perlu diketahui jam ditemukannya korban
meninggal dan jam terakhir korban terlihat hidup.
c. Menentukan sebab / akibat luka bakar
Sesuai penyebabnya, maka luka bakar dibagi dalam dua jenis:
o Luka bakar oleh cairan (scalds). Luka bakar jenis ini ada dua derajat,
yaitu derajat 1 dan 2. Penyebab misalnya air panas, minyak panas,
dan lain-lain.
o Luka bakar panas (dry heat). Jenis luka bakar ini bervariasi, mulai
dari kemerahan biasa sampai hangus, tergantung dari tingkat panas
dan lama kontak, misalnya tersentuh benda panas, terbakar, dan lain-
lain.
d. Membantu mengumpulkan barang bukti
Barang-barang bukti di TKP merupakan informasi penting yang
dapat mengungkap penyebab dan indikasi awal kebakaran. Selain itu
dapat membantu penentuan cara kematian. Misalnya: puntung rokok,
kompor meledak, tangkai bensin yang mudah terbakar, dan lain-lain.
e. Cara kematian pada luka bakar
Biasanya akibat kecelakaan, akan tetapi bukan tidak mungkin ada
unsur ada unsur kesenjengan atau bunuh diri. Untuk mencari cara
kematian pada korban, maka perlu diperhatikan beberapa hal antara lain:
o Penyakit-penyakit yang mungkin menyebabkan kecelakaan.
Misalnya epilesi, hipertensi.
o Keadaan barang-barang di sekitar korban. Misalnya: pada bunuh diri
maka barang-barang disekitar korban masih tampak pada tempatnya
yang sesuai. (tidak berantakan)
o Adanya tanda-tanda kekerasan yang lain, selain luka bakar. Misalnya
: luka-luka akibat benda tajam/tumpul yang mungkin terjadi sebelum
terbakar.
2. Sebab kematian pada luka bakar:
a. Syok (hipovolemik atau neurogik)
b. Infeksi
c. Gagal ginjal akut
d. Udem laring
e. Keracunan akut gas CO atau gas-gas toksik yang lain. Misalnya karena
terbakarnya bahan-bahan yang terdapat pada lokasi antara lain.:
o Wool atau sutra yang bila terbakar akan melepaskan gas amonia atau
HCN.
o Terbakarnya bahan film nitroselulosa dan bahan-bahan kulit imitasi
dapat melepaskan gas NO2 dan NO4.
3. Identifikasi korban
Identifikasi pada korban dilaksanakan pada olah TKP maupun pada
pemeriksaan jenazah. Identifikasi dapat diperoleh dengan mencatat hal-hal
sebagai berikut :
a. Catat data-data dari korban, antara lain: tinggi badan, berat badan, jenis
kelamin, warna kulit, warna mata dan rambut.
b. Catat tanda-tanda pengenal khusus pada tubuh, seperti jaringan parut
luka, tato, kelainan-kelainan kongenital.
c. Simpan potongan pakaian yang tidak hangus terbakar.
d. Catat dan simpan barang-barang pribadi milik korban, misalnya : kunci,
uang, KTP, dan identitas lain, surat-surat berharga serta perhiasan yang
dikenakan korban.
e. Kumpulkan dari sampel rambut yang tidak terbakar.
f. Buat pemeriksaan gigi dan bila mungkin buat sidik jarinya.
g. Buat pemeriksaan radiologi.
h. Tentukan golongan darah korban.
4. Otopsi pada korban meninggal karena luka bakar
Sarjana teplitz mengusulkan beberapa prosedur yang bisa membantu ,
disamping pemeriksaan postmortem yang rutin antara lain.: membuat irisan
multiple pada luka bakar untuk pemeriksaan bakteriologis, dan bilamana
dicurigai adanya sepsis maka perlu secepatnya dibuat biakan kuman
postmortem dari darah dalam jantung bagian basal paru, hepar, serta limpa.
Pemeriksaan luar:
a. Kulit
Perubahan-perubahan pada kulit sesuai dengan derajat luka
bakarnya oleh karena itu pada pemeriksaan luar perlu ditentukan:
keadaan luka, luas luka, dan dalamnya luka. Pada pemeriksaan ini perlu
dicari adanya tanda-tanda reaksi vital berupa daerah yang berwarna
merah pada perbatsan antara daerah yang terbakar. Tanda reaksi vital ini
penting untuk membedakan apakah korban masih hidup atau sudah mati
pada saat terbakar. Bila pada pemeriksaan makroskopik tidak dapat
ditemukan tanda-tanda reaksi vital maka perlu dilakukan pemeriksaan
mikroskopik untuk menemukan daerah kongesti dengan perdarahan dan
infiltrasi leukoist.
Gambar 11. Skin and subcutaneous splits due to intense heat.

Gambar 12.Scalding injury resulting in a full-thickness immersion burn

b. Heat stiffening
Pada korban yang meniggal akibat luka bakar, dapat ditemukan
kekakuan postmortem pada otot-ototnya yang disebabkan oleh karena
terjadinya koagulasi protein-protein otot yang terkena panas. Pada tubuh
korban akan terjadi fleksi pada siku, lutut, dan paha sehingga posisi
korban dapat menyerupai petinju yang disebut pugilistic attitude.
Gambar 13. (1) pugilistic attitude as a result of heat-related
contactures. (2) In fire-related deaths, heat-induced contractures result
in exposure of the peripheral joint spaces, with charring of the
articulating surface of the bones.

c. Lebam mayat
Pada kematian akibat luka bakar, lebam mayat yang terjadi kadang-
kadang sukar dilihat. Bila masih ada sebagai dari tubuh yang tidak
terbakar, maka lebam mayat masih dapat ditemukan pada daerah
tersebut.
Pemeriksaan dalam :
a. Sistem pernafasan
Pada pemeriksaan makroskopik, paru-paru menjadi lebih berat dan
mengalami konsolidasi. Kelainan yang tersering : udema laryngopharynx,
tracheobronchitis, pneumonia, kongesti paru, udema paru interstitial,
petechiae pada pleura, pigmen karbon melekat pada mukosa saluran nafas
(tanda intravital telah menghirup asap saat masih hidup).

b. Jantung
Udema interstitial dan fragmentasi miokardium dapat terjadi pada
penderita dengan luka bakar thermis, tetapi perubahan- perubahan ini tidak
khas dan dapat ditemukan pada keadaan –keadaan lain. Pada penderita
dengan septikemia ditemukan adanya metastasis fokus-fokus septik pada
miokardium dan endokardium. Perubahan lain berupa gambaran petechia
pada perikardium dan endokardium.
c. Hati
Pada korban yang meninggal karena luka bakar yang superfisial
ditemukan adanya perlemakan hati, bendungan, nekrosis, dan hepatomegali.
Hal ini merupakan tanda yang non-spesifik.
d. Limpa dan kelenjar getah bening
Kelainan – kelainan yang ditemukan antara lain udema dan nekrosis
pada lymphoid germinal center dan infiltrasi makrofag. Peneliti lain
melaporkan adanya eosinopenia dalam limpa, sebagai akibat hiperaktifitas
adrenal.
e. Ginjal
Organ lain tidak terpengaruh langsung pada luka bakar termik.
Perubahan yag terjadi pada organ ini biasanya merupakan akibat dari
komplikasi yang terjadi. Pada korban yang mengalami komplikasi berupa
syok yang lama dapat terjadi nekrosis tubuler akut pada tubuler proksimal
dan distal serta trombosis. Nekrosis tubuler akut ini diduga disebabkan oleh
adanya heme cast pada medulla yang bisa ditemukan pada pemeriksaan
mikroskopik.
Pada korban yang mengalami luka nbakar fatal, dapat ditemukan
adanya pembesaran ginjal. Traktus genitalia merupakan sumber infeksi yang
potensial pada korban luka bakar, terutama korban yang memakai kateter
Dauter. Bakteri yang terlihat antara lain Pseudomonas sp., Aerobacter sp.,
Staphylococcus sp., dan Proteus sp
f. Saluran pencernaan
Pada penderita luka bakar dapat dijumpai Curling’s ulcer yang
kadang-kadang mengalami perforasi. Kelainan-kelainan ini dapat sebagai
ancaman bagi penderita luka bakar karena bisa terjadi perdarahan profuse
dan perforasi mukosa saluran pencernaan yang biasanya berakibat fatal.
g. Kelenjar endokrin
Pada kelenjar tiriod berat dan aktifitasnya meningkat pada
penderita luka bakar. Pada kelenjar thymus, terjadi involusi yang diduga
disebabkan oleh hipeaktifitas kelenjar adrenal sebagai respon terhadap
stres non-spesifik. Pada kelenjar adrenal, terjadi peningkatan kadar steroid
dalam darah dan urin pada penderita luka bakar thermik diduga karena
peningkatan aktifitas dan ukuran kelenjar adrenal; sementara itu
perubahan-perubahan patologis yang terjadi adalah penimbunan lemak dan
bendungan sinusoid-sinusoid pada korteks dan medulla sehingga bersama
dengan autolisis dapat menyebabkan perdarahan fokal kelenjar.
h. Sistem saraf pusat
Perubahan pada SSP berupa udema, kongesti, kenaikan tekanan
intrakranial dan herniasi dari tonsila cerebellum melewati foramen
magnum disertai perdarahan intrakranial. Perubahan-perubahan ini diduga
terjadi akibat gangguan keseimbangan air dan elektrolit karena
kebanyakan pada pasien dengan luka bakar terjadi kenaikan temperatur
tubuh tidak lebih dari 1 derajat sehingga otak tidak selalu terpengaruh jejas
thermik.
i. Sistem muskuloskeletal
Otot – otot, tendo, dan tulang, jarang sekali terpengaruh oleh luka
bakar thermik, kecuali pada kebakaran luas. Perubahan yang terjadi adalah
fraktur patologis yaitu pada tulang kepala. Hal ini dapat disebabkan oleh
karena kenaikan tekanan intrakranial yang mendadak, sedangkan pada
anggota gerak disebabkan oleh pemendekan otot-otot yang berlebihan
sehingga terjadi tarikan yang berlebihan pada tendon dan tulang.

48
5.2 Penentuan Intravitalitas Luka Bakar
Fraktor yang tidak kalah penting dalam patologi forensik adalah bagaimana
cara membedakan apakah korban mati sebelum atau sesudah kebakaran.
a. Jelaga dalam saluran nafas
Pada kebakaran rumah atau gedung dimana rumah atau gedung beserta
isi perabotannya juga seperti bahan-bahan yang terbuat dari kayu, plastik
akan menghasilkan asap yang berwarna hitam dalam jumlah yang banyak.
Akibat dari inhalasi ini korban akan menghirup partikel karbon dalam asap
yang berwarna hitam. Sebagai tanda dari inhalasi aktif antemortem, maka
partikel-partikel jelaga ini dapat masuk kedalam saluran nafas melalui mulut
yang terbuka, mewarnai lidah, dan faring, glottis, vocal cord, trachea bahkan
bronchiolus terminalis. Sehingga, secra histologi ditemukan jelaga yang
terletak pada bronchiolus terminalis merupakan bukti yang absolut dari
fungsi respirasi. Sering pula dijumpai adanya jelaga dalam mukosa
lambung, ini juga merupakan bukti bahwa korban masih hidup pada waktu
terdapat asap pada peristiwa kebakaran. Karbon ini biasanya bercampur
dengan mukus yang melekat pada trachea dan dinding bronchus oleh karena
iritasi panas pada mukosa. Ditekankan sekali lagi bahwa ini lebih nyata bila
kebakaran terjadi didalam gedung daripada di dalam rumah.
b. Saturasi COHB dalam darah
CO dalam darah merupakan indikator yang paling berharga dapat
menunjukkan bahwa korban masih hidup pada waktu terjadi kebakaran.
Oleh karena gas ini hanya dapat masuk melalui absorbsi pada paru-paru.
Akan tetapi bila pada darah korban tidak ditemukan adanya saturasi COHB
maka tidak berarti korban mati sebelum terjadi kebakaran. Pada nyala api
yang terjadi secara cepat, terutama kerosene dan benzene, maka level
karbon monoksida lebih rendah atau bahkan negative dari pada kebakaran
yang terjadi secra perlahan-lahan dengan akses oksigen yang terbatas seperti
pada kebakaran gedung.
Satu lagi yang harus disadari bahwa kadar saturasi CO dalam darah
tergantung beberapa faktor termasuk konsentrasi CO yang terinhalasi dari
udara, lamya eksposure, rata-rata dan kedalaman respiration rate dan

49
kandungan Hb dalam darah. Kondisi-kondisi ini akan mempengaruhi
peningkatan atau penurunan rata-rata absorbsi CO. Sebagai contoh api yang
menyala dalam ruangan tertutup, akumulasi CO dalam udara akan cepat
meningkat sampai konsentrasi yang tinggi, sehingga diharapkan absorbsi
CO dari korban akan meninggal secara bermakna.
Pada otopsi biasanya relatif mudah untuk memudahkan korban yang
meninggal pada keracunan CO dengan melihat warna lebam mayat yang
berupa cherry red pada kulit, otot, darah dan organ-organ interna, akan
tetapi pada orang yang anemik atau red ini juga dapat disebabkan oleh
keracunan sianida atau bila tubuh terpapar pada suhu dingin untuk waktu
yang lama.
c. Reaksi jaringan
Tidak mudah untuk membedakan luka bakar yang akut yang terjadi
antemortem dan postmortem. Pemeriksaan mikroskopik luka bakar tidak
banyak menolong kecuali bila korban dapat bertahan hidup cukup lama
sampai terjadi respon radang. Kurangnya respon tidak merupakan indikasi
bahwa luka bakar terjadi postmortem. Pemeriksaan slide secara mikroskopis
dari korban luka bakar derajat tiga yang meninggal tiga hari kemudian tidak
ditemukan reaksi radang, ini diperkirakan oleh karena panas menyebabkan
trombosis dari pembuluh darah pada lapisan dermis sehingga sel-sel radang
tidak dapat mencapai area luka bakar dan tidak menyebabkan reaksi radang.
Blister juga bukan merupakan indikasi bahwa korban masih hidup pada
waktu terjadi kebakaran, oleh karena blister ini dapat terjadi secara
postmortem. Blister yang terjadi postmortem berwarna kuning pucat,
kecuali pada kulit yang hangus terbakar. Agak jarang dengan dasar merah
atau areola yang erythematous, walaupun ini bukan merupakan tanda pasti.
Secara tradisionil banyak penulis mengatakan bahwa untuk dapat
membedakan blister yang terjadi antemortem dengan blister yang terjadi
postmortem adalah dengan menganalisa protein dan chlorida dari cairan itu.
Blister yang dibentuk pada antemortem dikatakan mengandung lebih
banyak protein dan chloride, tetapi inipun tidak merupakan angka yang
absolute.

50
d. Perdarahan subendokardial ventrikel kiri jantung
Perdarahan subendokardial pada ventrikel kiri dapat terjadi oleh karena
efek panas. Akan tetapi perdarahan ini bukan sesuatu yang spesifik karena
dapat disebabkan oleh berbagai mekanisme kematian. Pada korban
kebakaran perdarahan ini merupakan indikasi bahwa sirkulasi aktif sedang
berjalan ketika tereksposure oleh panas tinggi yang tidak dapat ditoleransi
oleh tubuh dan ini merupakan bukti bahwa korban masih hidup saat terjadi
kebakaran.

5.3 Keadaan Umum yang Ditemukan Pada Mayat Dengan Luka Bakar
Pada kebakaran yang hebat, apakah didalam gedung atau yang terjadi pada
kecelakaan mobil yang terbakar, sering terlihat bahwa keadaan tubuh korban yang
terbakar sering tidak mencerminkan kondisi saat matinya. Berikut keadaan umum
yang ditemukan pada mayat dengan luka bakar.
a. Skin split
Kontraksi dari jaringan ikat yang terbakar menyebabkan terbelahnya kulit
dari epidermis dan korium yang sering menyebabkan artefak yang
menyerupai luka sayat dan sering disalah artikan sebagai kekerasan tajam.
Artefak postmortem ini dapat mudah dibedakan dengan kekerasan tajam
antemortem oleh karena tidak adanya perdarahan dan lokasinya yang
bervariasi disembarang tempat. Kadang-kadang dapat terlihat pembuluh
darah yang intak yang menyilang pada kulit yang terbelah.

Gambar. Skin split

51
b. Abdominal wall destruction
Kebakaran partial dari dinding abdomen bagian depan akan menyebabkan
keluarnya sebagian dari jaringan usus melalui defek yang terjadi ini. Biasanya
ini terjadi tanpa perdarahn, apakah perdarahan yang terletak diluar atau
didalam rongga abdomen.

Gambar. Abdominal wall destruction


c. Skull fractures
Bila kepala terpapar cukup lama dengan panas dapat menyebabkan
pembentukan uap didalam rongga kepala yang lama kelamaan akan
mengakibatkan kenaikan tekanan intrakranial yang dapat menyebabkan
terpisahnya sutura-sutura dari tulang tengkorak. Pada luka bakar yang hebat
dan kepala sudah menjadi arang atau hangus terbakar dapat terlihat artefak
fraktur tulang tengkorak yang berupa fraktur linear. Disini tidak pernah
diikuti oleh kontusio serebri, subdural atau subarachnoid.

Gambar. Skull fractures

52
d. Pseudo epidural hemorrhage
Keadaan umum yang biasanya terdapat pada korban yang hangus terbakar
dan kepala yang sudah menjadi arang adalah pseudo epidural hemorrhage
atau epidural hematom postmortem. Untuk membedakan dengan epidural
hematom antemortem tidak sulit oleh karena pseudo epidural hematom
biasanya berwarna coklat, mempunyai bentuk seperti honey comb
appearance, rapuh tipis dan secara tipikal terletak pada daerah frontal,
parietal, temporal dan beberapa kasus dapat meluas sampai ke oksipital.

Gambar. Pseudo epidural hemorrhage


e. Non-cranial fractures
Artefak berupa fraktur pada tulang-tulang ekstremitas juga sering
ditemukan pada korban yang mengalami karbonisasi oleh karena terpapar
terlalu lama dengan api dan asap. Tulang-tulang yang terbakar mempunyai
warna abu-abu keputihan dan sering menunjukkan fraktur kortikal pada
permukaannya. Tulang ini biasanya hancur bila dipegang sehingga
memudahkan trauma postmortem pada waktu transportasi ke kamar mayat
atau selama usaha memadamkan api. Mayat sering dibawa tanpa tangan dan
kaki, dan mereka sudah tidak dikenali lagi di TKP karena sudah mengalami
fragmentasi.

53
Gambar. Non- cranial fractures
f. Puglistic Posture
Pada mayat yang hangus terbakar, tubuh akan mengambil posisi
“pugilistic’. Koagulasi dari otot-otot oleh karena panas akan menyebabkan
kontraksi serabut otot-otot fleksor dan mengakibatkan ekstremitas atas
mengambil sikap seperti posisi seorang boxer dengan tangan terangkat
didepannya, paha lutut yang juga fleksi sebagian atau seluruhnya. Posisi
“pugilistic” ini tidak berhubungan apakah individu itu terbakar pda waktu
hidup atau sesudah kematian. “pugilistic” attitude atau heat rigor ini akan
hilang bersama dengan timbulnya pembusukan.

Gambar. Posisi Puglistic

54
Aspek penting dalam Ilmu Kedokteran Forensik yang berhubungan
dengan kejadian luka bakar yang mengakibatkan kematian pada seseorang adalah
membedakan antara kematian karena terbakar dengan mayat yang dibakar. Dalam
hal ini dokter maupun penyidik membutuhkan informasi yang jelas : Apakah
korban terbakar yang ditemukan memang mati karena terbakar saat hidup atau
sebelumnya telah mengalami penganiayaan, peracunan, pembunuhan atau
kecelakaan.

Pemeriksaan yang diperlukan untuk menentukan tanda-tanda kematian dengan


luka bakar :
A. Pemeriksaan luar
1. Sikap tubuh mayat
Sikap tubuh mayat menunjukkan sikap seperti orang yang melakukan
tinju (Pugillistic attitude). Hal ini dikarenakan pada pemanasan dalam
tubuh terjadi koagulasi protein yang menyebabkan otot-otot mengecil.
2. Kulit sekitar tubuh pecah-pecah
Hal ini disebabkan oleh penguapan yang terjadi di dalam jaringan yang
bertambah akibat pemanasan dan mengakibatkan peningkatan tekanan di
dalam jaringan tubuh tersebut.
3. Patah tulang
Patah tulang terjadi karena pemanasan yang mengakibatkan tulang-
tulang menjadi rapuh. Tulang terdiri dari zat organic yaitu kolagen yang
berfungsi sebagai perekat. Zat organic akan menguap bila terkena panas
sehingga menyebabkan tulang menjadi rapuh dan mudah patah. Oleh
karena itu pada pemeriksaan luar terhadap mayat apabila dijumpai suatu
patah tulang hal tersebut belum tentu disebabkan oleh kejahatan seperti
penganiayaan.

B. Pemeriksaan dalam
1. Pada saluran nafas mulai dari mukosa hidung, mulut, sampai bronkiolus
tampak hiperemis, edema, dan sekresi lendir yang berlebihan.

55
2. Pada saluran nafas juga ditemukan partikel-partikel karbon halus (jelaga)
yang dalam hal ini saluran nafas tersebut masih utuh. Karena apabila
saluran nafas dalam keadaan tidak utuh maka kemungkinan jelaga tersebut
dapat berasal dari luar.
3. Pada pemeriksaan darah ditemukan zat karbonmonoksida. Hal ini menjadi
tanda spesifik pada orang yang meninggal akibat terbakar yaitu bahwa
orang tersebut masih hidup pada saat terbakar walaupun mungkin dalam
keadaan pingsan.

5.4 Perbandingan Tanda Luka Bakar Intravital dan Postmortem


Pada korban yang masih hidup saat terbakar akan ditemukan adanya hal-
hal antara lain adanya tanda intravital pada luka bakar dan gelembung yang
terbentuk, adanya jelaga pada saluran pernafasan serta saturasi karbon monoksida
diatas 10% dalam darah korban. Pada korban keracunan monoksida jika tubuh
korban tidak terbakar seluruhnya akan terbentuk lebam mayat berwarna cherry
red. Pada tubuh manusia yang telah mati bila dibakar tidak akan berwarna
kemerahan oleh reaksi intravital. Tubuh mayat akan tampak keras dan
kekuningan. Gelembung yang terdapat akan berisi cairan yang mengandung
sangat sedikit albumin yang akan memberikan sedikit kekeruhan bila dipanaskan
serta sangat sedikit atau tidak ditemukan sel PMN. Jadi perbedaan antara luka
bakar antemortem dengan postmortem adalah pada luka bakar antemortem
terdapat tanda-tanda intravital pada gelembung bula dan vesikula sedangkan pada
luka bakar postmortem tidak terdapat tanda tersebut. Perbedaan lainnya akan
tampak pada adanya jelaga pada saluran nafas luka bkar antemortem dan saturasi
karbon monoksida diatas 10% pada darah sedangkan pada luka bakar postmortem
tidak.
Ada tiga poin utama untuk membedakan luka bakar
antemortem/postmortem, yaitu batas kemerahan, vesikasi dan proses perbaikan.
Pada kasus luka bakar intravital, ada eritema yang disebabkan oleh distensi
kapiler yang bersifat sementara, menghilang karena tekanan selama hidup dan
memudar setelah mati. Namun, keadaan ini bisa saja tidak ada pada orang yang
sangat lemah kondisi badannya, yang meninggal segera setelah syok karena luka

56
bakar tersebut. Vesikasi yang timbul akibat luka bakar saat hidup mengandung
cairan serosa yang berisi albumin, klorida, dan sering juga sedikit sel PMN dan
memiliki daerah yang memerah, dasar inflamasi dengan papilla yang meninggi.
Kulit yang mengelilingi vesikasi tersebut berwarna merah cerah. Hal ini
merupakan ciri khas yang membedakan antara vesikasi sejati/palsu yang
diproduksi setelah mati. Vesikasi palsu mengandung udara saja, dan biasanya juga
mengandung serum dalam jumlah yang sangat sedikit yang berisi albumin, tapi
tidak ada klorida seperti pada orang yang menderita general anasarka, kemudian
dasarnya keras, kering, bertangkai, kekuningan selain menjadi merah dan
inflamasi. Proses perbaikan seperti tanda-tanda inflamasi, formasi jaringan
granulasi, pus dan pengelupasan yang mengindikasikan bahwa luka bakar tersebut
terjadi saat hidup. Luka bakar yang disebabkan setelah mati menunjukkan tidak
ada reaksi vital dan memiliki tampakan dull white dengan membukanya kelenjar
pada kulit yang berwarna abu-abu. Organ internal terpanggang dan menimbulkan
bau yang khas.

Tabel 2. Perbedaan antara luka bakar antemortem dan luka bakar postmortem.
Perbedaan Luka bakar Antemortem Luka bakar Postmortem
Gelembung vesikel/bula  Warna sekitar kulit hiperemis  Tidak hiperemis
 Gelembung cairan banyak  Tidak mengandung albumin
mengandung albumin dan dan eritrosit
eritrosit  Dasar gelembung vesikel
 Dasar gelembung mengalami kering dan keras
reaksi peradangan  Terdapat udara dalam
 Tidak terdapat udara pada gelembung bula
gelembung bula  Cairan encer
 Terdapat cairan pembusukan
(cairan kemerahan/blood
stained), cairan kental
Paru  Ada jelaga  Tidak ada
 Ada reaksi radang pada epitel  Tidak ada
saluran pernafasan
Gambaran mikroskopis  Terdapat serbukan sel  Tidak terdapat atau sedikit
polimorfonuklear serbukan sel polimorfonuklear

57
BAB VI
ASPEK MEDIKOLEGAL DAN HUKUM PADA LUKA BAKAR

6.1 Aspek medikolegal


Akhirnya dalam pemeriksaan sedapat mungkin dokter bisa menentukan cara
kematian dapat berupa :
1. Kecelakaan
Sering dijumpai pada kebakaran rumah dan gedung. Banyak pada wanita
dan anak karena sering bekerja didapur. Pada anak-anak luka bakar terjadi
karena mereka tidak menyadari bahwa ada kebakaran disekelilingnya.
Pada penderita epilepsi mendapat serangan sewaktu dekat dengan api.
2. Pembunuhan
Sering didapati sebagai upaya untuk menghilangkan jejak pembunuhan
atau agar sulit dilakukan penyelidikan.
3. Bunuh diri
Jarang terjadi, tetapi bisa karena patah hati atau sebagai ungkapan protes.
Visum et Repertum adalah salah satu alat bukti yang sah sebagaimana
tertulis dalam pasal 184 KUHAP. Visum et Repertum turut berperan dalam proses
pembuktian suatu perkara pidana terhadap kesehatan dan jiwa manusia. VeR
menguraikan segala sesuatu tentang hasil pemeriksaan medis yang terulang
didalam bagian pemberitaan, yang karenanya dapat dianggap sebagai pengganti
barang bukti. Visum et Repertum juga memuat keterangan atau pendapat dokter
mengenai hasil pemeriksaan medik tersebut yang tertuang didalam bagian
kesimpulan. Dengan demikian Visum et Repertum secara utuh telah
menjembatani ilmu kedokteran dengan jelas apa yang telah terjadi pada seseorang,
dan para praktisi hukum dapat menerapkan norma-norma hukum pada perkara
pidana yang menyangkut tubuh dan jiwa manusia.
Apabila VeR belum dapat menjernihkan duduk persoalan di sidang
pengadilan, maka hakim dapat meminta keterangan ahli atau diajukannya bahan
baru, seperti yang tercantum dalam KUHP, yang memungkinkan dilakukannya
pemeriksaan atau penelitian ulang atas barang bukti, apabila timbul keberatan

58
yang beralasan dari terdakwa atau penasehat hukumnya terhadap suatu hasil
pemeriksaan. Hal itu sesuai dengan pasal 180 KUHAP.
Bagi penyidik (polisi/polisi militer) VeR berguna untuk mengungkapkan
perkara. Bagi penuntut umum (Jaksa) keterangan itu berguna untuk menentukan
pasal yang didakwakan, sedangkan bagi hakim sebagai alat bukti formal untuk
menjatuhkan pidana atau membebaskan seseorang dari tuntutan hukum. Untuk itu
perlu dibuat suatu Standar Prosedur Operasional (SPO) di suatu rumah sakit
tentang tatalaksana pengadaan VeR.

6.2 Aspek Hukum


Pada kesimpulan Visum et Repertum untuk orang hidup harus dilengkapi
dengan kualifikasi luka. Kualifikasi luka ini dapat berdasarkna pada :
1. KUHP pasal 351
1) Penganiayaan diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun
delapan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus
rupiah,
2) Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat, yang bersalah diancam
dengan pidana pidana penjara paling lama lima tahun.
3) Jika mengakibatkan mati, diancam dengan pidana penjara paling lama
tujuh tahun.
4) Dengan penganiayaan disamakan senjata merusak kesehatan.
5) Percobaan untuk melakukan kejahatan ini tidak dipidana. KUHP pasal
351 ayat 1.
2. KUHP pasal 352
1) Kecuali yang tersebut dalam pasal 353 dan 356, maka
2) Penganiayaan yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk
menjalankan pekerjaan jabatan atau pencarian, diancam, sebagai
penganiayaan ringan, dengan pidana penjara paling lama tiga bulan atau
pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah. Pidana dapat
ditambah sepertiga bagi orang yang melakukan kejahatan itu terhadap
orang yang bekerja padanya, atau menjadi bawahannya.
3) Percobaan untuk melakukan kejahatan ini tidak dipidana.

59
3. Kualifikasi luka dibagi menjadi :
a. Luka ringan/luka dejarat I/luka golongan C
Luka yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk
menjalankan pekerjaan, jabatan atau mata pencaharian. Hukuman bagi
pelakunya menurut KUHP pasal 352 ayat 1 adalah selama 3 bulan.
Bila luka pada seorang korban diharapkan dapat sembuh sempurna
dan tidak menimbulkan penyakit dan/atau komplikasinya, maka luka
tersebut dimasukkan kedalam kategori ini.
Contoh : pada dahi orang tersebut ditemukan memar akibat
persentuhan benda tumpul yang tidak menimbulkan penyakit atau
halangan menjalankan pekerjaan mata pencahariannya sebagai petani.
Hukuman bagi pelakunya sesuai dengan KUHP pasal 352 ayat 1, yaitu :
“Kecuali yang tersebut dalam pasal 353 dan 356, maka penganiayaan
yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan
pekerjaan jabatan atau pencarian, diancam, sebagai penganiayaan
ringan, dengan pidana penjara paling lama tiga bulan atau pidana denda
paling banyak empat ribu lima ratus rupiah. Pidana dapat ditambah
sepertiga bagi orang yang melakukan kejahatan itu terhadap orang yang
bekerja padanya, atau menjadi bawahannya”.

b. Luka sedang/luka derajat II/luka golongan B


Luka yang menimbulkan penyakit atau halangan untuk
menjalankan pekerjaan, jabatan atau mata pencaharian untuk sementara
waktu. Sehingga bila kita memeriksa seorang korban dan didapati
“penyakit” akibat kekerasan tersebut, maka korban dimasukkan kedalam
kategori ini. Hukuman bagi pelakunya menurut KUHP pasal 351 ayat 1
adalah selama 2 tahun 8 bulan.
Contoh : “Pada orang tersebut ditemukan luka tusuk dibahu kiri
akibat persentuhan dengan benda tajam yang mengakibatkan korban
menderita penyakit tetanus selama satu bulan”.
Hukuman bagi pelakunya sesuai dengan KUHP pasal 351 ayat 1,
yaitu : “Penganiayaan diancam dengan pidana penjara paling lama dua

60
tahun delapan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima
ratus rupiah”.

c. Luka berat/luka derajat III/luka golongan A


Luka berat menurut KUHP pasal 90 yaitu :
 Jatuh sakit atau mendapat luka yang tidak memberi harapan akan
sembuh sama sekali atau menimbulkan bahaya maut.
 Tidak mampu secara terus menerus untuk menjalankan tugas jabatan
atau pekerjaan pencaharian.
 Kehilangan salah satu panca indera.
 Mendapat cacat berat.
 Menderita sakit lumpuh.
 Terganggunya daya pikir selama 4 minggu lebih.
 Gugur atau matinya kandungan seorang perempuan.
Hukuman bagi pelakunya menurut KUHP pasal 351 ayat 2 adalah selama
5 tahun.
Bukan tidak mungkin kejadian kebakaran atau luka bakar dilakukan
dengan sengaja sebagai bentuk upaya pembunuhan. Hal tersebut diatur di
dalam pasal 340 KUHP yang berbunyi “Barang siapa dengan sengaja dan
dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa orang lain, diancam,
karena pembunuhan dengan rencana (moord), dengan pidana mati atau
pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama dua
puluh lima tahun”.

61
BAB VII
PENUTUP

7.1 Kesimpulan
Luka bakar merupakan salah satu klasifikasi jenis luka yang diakibatkan
oleh sumber panas ataupun suhu dingin, sumber listrik, bahan kimiawi, cahaya,
radiasi dan friksi. Jenis luka dapat beraneka ragam dan memiliki penanganan yang
berbeda tergantung jenis jaringan yang terkena luka bakar, tingkat keparahan, dan
komplikasi yang terjadi akibat luka tersebut. Dalam aspek kedokteran klinik
forensik, dapat dilihat faktor-faktor yang mempengaruhi berat-ringannya luka
bakar antara lain kedalaman luka bakar, luas luka bakar, lokasi luka bakar,
kesehatan umum, mekanisme injury dan usia. Selain itu, luka bakar juga dibagi
dalam berbagai kategori yang disesuaikan dengan derajatnya. Ini membantu
dalam aspek medikolegal luka yang diatur dalam pasal 352 KUHP yang
menjelaskan tentang luka ringan yang diasosiasikan dengan penganiayaan ringan.
Sedangkan bila ia mengalami luka sedang akan diasosiasikan dengan pasal 351
(1) atau 351 (1) KUHP tergantung pada ada atau tidaknya rencana. Korban
dengan luka berat dapat diasosiasikan dengan pasal 351 (1), 353 (2), 354 (1), atau
355 (1) KUHP tergantung pada niat dan ada atau tidaknya rencana. Pada korban
yang sudah meninggal, aspek patologi forensik sangat berperan untuk menentukan
penyebab dan mekanisme kematian korban. Kematian akibat luka bakar ini dapat
terjadi akibat ketidaksengajaan atau memang ada unsur kesengajaan. Ada
beberapa cara yang digunakan untuk membedakan apakah pasien meninggal
sebelum atau sesudah luka bakar terjadi seperti jelaga pada saluran nafas, saturasi
COHB dalam darah, perdarahan subendokardial ventrikel kiri jantung, dan
lainnya yang telah dijelaskan dalam bab pembahasan. Perihal pembunuhan diatur
dalam pasal 340 KUHP.
Identifikasi korban tidak mudah dilakukan dan memerlukan ketelitian.
Metode yang terbanyak dan paling dipercaya adalah dental identification karena
gigi relatif tahan terhadap api. Metode lain yang dapat dipercaya tetapi kurang
umum penggunaannya adalah membandingkan x-ray yang diambil antemortem

62
dan postmortem dari korban. Bila identifikasi tidak dapat dibuat melalui
finger prints, dental charts, dental x-rays atau antemortem x-ray maka hanya satu
harapan yang dapat digunakan dalam menegakan identifikasi yaitu melalui
pemeriksaan DNA. Selain itu, keadaan umum seperti skin split, kerusakan dinding
abdomen, fraktur kepala, pseudo epidural hemorrhage juga bisa membantu dalam
identifikasi korban.

7.2 Saran
Bagi pihak penyidik :
Sebaiknya melibatkan dokter dalam proses olah TKP agar dapat memberikan
keterangan sebagai ahli yang lebih akurat.

Bagi tenaga kesehatan :


Sebaiknya lebih fokus dalam hal mempertimbangkan kualifikasi luka bakar terkait
dengan aspek-aspek lain yang menyangkut kualitas hidup.

63
DAFTAR PUSTAKA

1. Prof. Dr. Amri Amir. Ilmu kedokteran Forensik. Dalam: Luka Bakar.
Ed.2. Medan: Fakultas Kedokteran Universitas Sumetera Utara. 2005.
104-116.
2. Dahlan S. Ilmu Kedokteran Forensik Pedoman Bagi Dokter dan Penegak
Hukum. Semarang : Badan Penerbit UNDIP. 2007: 71-3.
3. Poerwantoro, Poengki D. 2008 Simposium Mini Luka Bakar,
www.lukabakar.org.index dikutip tanggal04 April 2016.
4. Sudjatmiko G. Petunjuk Praktis Ilmu Bedah Plastik Rekonstruksi, edisi
pertama. Jakarta: Yayasan Khasanah Kebajikan; 2007: 80-90.
5. Tintinalli, Judith E. Emergency Medicine: A Comprehensive Study Guide
(Emergency Medicine ( Tintinalli). New York: Mc Graw-Hill
Companies.2010: 1374-1386.
6. Martini NR, Wardhana A. Mortality Analysis of Adult Burn Patients.
Jurnal Plastik Rekonstruksi 2013 : 96.
Hhtp://jprjournal.com/index.php/jpr/article/viewFile/155/116 (diakses 04
April 2016)
7. Guy N. Rotty. Essentials of Autopsy Practice : Burn Injury. First Edition.
United Kingdom. Springner. 2006. 215-221.
8. McGrath, J.A.; Eady, R.A; Pope, F.M. (2004). Rook’s Textbook of
Dermatology ( 7 th ed.). Blackwell Publishing. 2004: 3.1 1-6
9. Marks, James G: Miller, Jeffery. Lookingbilll and Marks’ Principles of
Dermatology (4th ed.). Elsevier Inc. 2006: 8-9
10. Mcminn (October 2003). Lasts Anatomy Regional and Applied. Elsevier
Australia p.3
11. Sjamsuhidajat R, de Jong W. Buku Ajar Ilmu Bedah, edisi ketiga. Jakarta:
penerbit Buku Kedoteran EGC; 2010:103-4
12. Tintinalli, Judith E. (2010). Emergency Medicine: A Comprehensive Study
Guide ( Emergency Medicine (Tintinalli). New York: McGraw-Hill
Companies 2010:1374-1386.

64
13. Herndon D. “Chapter 3 : Epidemiological, Dermographic, and Outcome
Characteristics of Burn Injury “ Total Burn care. Edisi ke-4 Edinburgh:
Saunders. 23
14. Hardwicke, J; Hunter, T: Staruch, R; Moiemen, N. “ Chemical burns-an
historical comparison and reviw of the literature. “ Burns : journal of the
international society for burns Injuries (3) 2012:383-7
15. Chadha, PV. Catatan Kuliah Ilmu Forensik dan Toksikologi. Ed 5. Jakarta
: Binarupa Aksara. 1997
16. Joseph Prahlow. Forensik Patholgy : Burn and Fire-Deaths.USA. Springer.
2010. 481-488.
17. Brunicardi, Charles. “Chapter 8 : Burns”. Schwartz’s principles of surgery.
Edisi ke-9 New York : McGraw-Hill, Medical Pub. Devision.2010.
18. Herdon D (ed). “Chapter 4 : Prevention of Burn Injuries”. Total Burn care.
Edisi ke-4 Edinburgh:Saunders.46
19. Corrosive Acid Poisoning-A Case Report. New Delhi. 2011. Availlabe at
www.ijifmt.com
20. Snepherd R, Simpsons. Forensik Medicine 12th edition. USA: Oxoford
University Prees, 2003.
21. Idries, Abdul Mun’im. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Jakarta : Bina
rupa Aksara 1997
22. Budiyanto, A. widiatamaka, W. Sudiono, S. Ilmu Kedokteran Forensik.
Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Forensik Fakultas Kedoteran Universitas
Indonesia. 1997.
23. Skhrum, Michael. Pathology of Trauma. New Jersey : Humana Press inc.
2007. 211-288.4
24. Micchael, Mulholland W, Lkeith D Lillemoe, et al. Burns. Greenfield’s
Sugery: Scientific Principles and Practice. Edisi 4. Lippincott William &
wilkins. USA: 2006.
25. Dolinak, David . Burns. Schwart’s Principle of Surgery. Edisi 8 : McGraw
Hill. USA : 2007
26. Heimbach, David M.Burns. Schwart’s Principle of Sugery. Edisi 8 :
McGraw Hill. USA: 2007

65
27. Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal, edisi ketujuh. Surabaya:
Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas
Kedokteran Universitas Airlangga; 2010: 47-56
28. Riley P T. Burn Injury. ( Diakeses tanggal 03 April 2016). Diunduh dari:
http://www.burnsurvivor.com/burn types.html
29. Bagian Kedokteran Kehakiman. Bagaimana Dokter Mengetahui sebab
Kematian. Semarang : FK Universitas Diponegoro : 72-75
30. Idries, Abdul Mun’im. Pedomana Ilmu Kedokteran Forensik Edisi
Pertama. Jakarta : Binarupa Aksara. 117-129
31. Gordon I, Shapiro HA, Berson SD. Forensic Medicine a Guide to
Principles. London Churchill Livingstone. 135-149
32. Dimiao, Vincet. Forensic Pathology, Second Edition. Washington DC :
CRC Press. 2001.
33. Keren, Basbeth. Kematian Karena Luka Bakar. ( 15 oktober 2004 dikutip
tanggal 02 April 2016)
34. Vij K. Texbook of Forensic Medicine and Toxicology : Principles and
Practices. New Delhi : Elsevier; 2008.
35. W.D.S Mclay. Clinical Forensic Medicine : Burn Injury. United Kingdom.
Cambridge. 2009. 236-239.
36. Affandi D. Visum et Repertum Perlukaan: Aspek Medikolegal dan
Penentuan Derajat Luka. MajalahKedokteran Indonesia, Volum : 60,
Nomor: 4.2010.
37. Kitab Undang-undang Hukum Pidana. Buku Kesatu-Aturan Umum.2009
38. Aflanie I, Abdi M, Setiawan R. Roman’s Forensic. The text book of
forensic. 25 th edition. Departemen of forensic medicine University of
Lambung Mangkurat. www.mwdhacklab.com
39. Suharto G. Peraturan perundangan Yang Berkaitan Dengan Bidang
Kedokteran. Edisi Pertama. Semarang. Fakultas Kedokteran Universitas
Diponegoro.2013:53.
40. Fendi F. 2008. Asuhan Keperawatan Klien Dengan Luka Bakar,
www.nurse.rusari.com/asuhan-keperawatan-pada-luka-bakar-combustio-
htm, dikutip tanggal 02 April 2016

66
41. Li, Rubo. Injury Due to Heat, Cold, and Electricity. Departemen of
Forensic Pahology. China Medical University: 2010.

67