Anda di halaman 1dari 14

Pendekatan Kedokteran Keluarga pada Tuberculosis

Laporan Kasus

Pendekatan Kedokteran Keluarga pada


Pasien Tuberculosis

Rahmat, *
*Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas, Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Makassar.

Abstrak: Studi kasus ini menyajikan penatalaksanaan Tuberkulosis dengan pendekatan


kedokteran keluarga yang bersifat holistik, komprehensif, terpadu, dan berkesinambungan.
Didapatkan perbaikan masalah klinis pasien dengan perbaikan perilaku kesehatan pasien,
keluarga, dan komunitas sekitar, serta perbaikan lingkungan. Data WHO tahun 2012,
diperkirakan terdapat 8,6 juta kasus TB, diantaranya 450.000 orang dengan TBMDR dan
170.000 orang diantaranya meninggal dunia. Sekitar 75% pasien TB adalah kelompok
usiayang paling produktif secara ekonomis (15-50 tahun). Diagnosis TB paru pada
ditegakkan dengan pemeriksaan klinis, pemeriksaan bakteriologis dan pemeriksaan
penunjang seperti foto toraks.
Kata kunci: tuberculosis,TB, kedokteran keluarga.

Family Medicine Approach on Hypertension

Rahmat, *
*Department of Community Medicine, Faculty of Medicine University of Muhammadiyah
Makassar

Abstract: The case study presents management of Tuberculosis with holistic, comprehensive, integrated, and
continuous family medicine approach. The symptoms of tuberculosis are clinically recovered by improving
health behavior of the patient, his family, and environmental condition . WHO data in 2012, there were an
estimated 8.6 million cases of TB, including 450,000 people with TBMDR and 170,000 fatalities.
Approximately 75% of TB patients are the age group most economically productive (15-50 years). The
diagnosis of pulmonary TB is made by clinical examination, bacteriological examination and investigations
such as chest X-ray.

Keywords. tuberculosis, TB, family medicine.

Page 1
Pendekatan Kedokteran Keluarga pada Tuberculosis

Pendahuluan Risiko penularan tiap tahun


Penyakit tuberkulosis (TB) paru (Annual Risk of Tuberculosis Infection =
masih merupakan masalah utama ARTI) di Indonesia dianggap cukup tinggi
kesehatan yang dapat menimbulkan dan bervariasi antara 1-3 %. Pada daerah
kesakitan (morbiditas) dan kematian dengan ARTI sebesar 1% mempunyai arti
(mortalitas) (Aditama & Chairil, 2002). bahwa pada tiap tahunnya diantara 1000
Diperkirakan sekitar sepertiga penduduk penduduk, 10 orang akan terinfeksi.
dunia telah terinfeksi oleh Mycobacterium Sebagian besar orang yang terinfeksi tidak
tuberculosis. Pada tahun 1995, akan menderita tuberkulosis, hanya sekitar
diperkirakan ada 9 juta pasien TB baru dan 10% dari yang terinfeksi yang akan
3 juta kematian akibat TB di seluruh menjadi penderita tuberkulosis.1,2
dunia.1,2 Diagnosis TB paru ditegakkan
Angka kejadian TB di Indonesia berdasarkan diagnosis klinis, dilanjutkan
menempati urutan ketiga terbanyak di dengan pemeriksaan fisik, pemeriksaan
dunia setelah India dan Cina. Diperkirakan laboratorium dan pemeriksaan radiologis.
setiap tahun terdapat 528.000 kasus TB TB sampai dengan saat ini masih
baru dengan kematian sekitar 91.000 merupakan salah satu masalah kesehatan
orang. Prevalensi TB di Indonesia pada masyarakat didunia walaupunupaya
tahun 2009 adalah 100 per 100.000 pengendalian dengan strategi DOTS telah
penduduk dan TB terjadi pada lebih dari diterapkan di banyak negara sejak tahun
70% usia produktif (15-50 tahun).2 1995.4
Penyakit tuberkulosis adalah Strategi penanganan TB
penyakit menular yang disebabkan oleh berdasarkan World Health Organization
Mycobacterium tuberculosis. Sebagian (WHO) tahun 1990 dan International
besar kuman Mycobacterium tuberculosis Union Against Tuberkulosa and Lung
menyerang paru, tetapi dapat juga Diseases (IUATLD) yang dikenal sebagai
menyerang organ tubuh lainnya. Penyakit strategi Directly observed Treatment
ini merupakan infeksi bakteri kronik yang Short-course (DOTS) secara ekonomis
ditandai oleh pembentukan granuloma paling efektif (cost-efective), strategi ini
pada jaringan yang terinfeksi dan reaksi juga berlaku di Indonesia. Pengobatan TB
hipersensitivitas yang diperantarai sel (cell paru menurut strategi DOTS diberikan
mediated hypersensitivity). Penyakit selama 6-8 bulan dengan menggunakan
tuberkulosis yang aktif bisa menjadi kronis paduan beberapa obat atau diberikan dalam
dan berakhir dengan kematian apabila bentuk kombinasi dengan jumlah yang
tidak dilakukan pengobatan yang efektif.3 tepat dan teratur, supaya semua kuman
Page 2
Pendekatan Kedokteran Keluarga pada Tuberculosis

dapat dibunuh. Obat-obat yang Buang air besar biasa, buang air kecil
dipergunakan sebagai obat anti lancar. Pasien belum pernah mengonsumsi
tuberkulosis (OAT) yaitu : Isoniazid obat OAT sebelumnya, Riwayat
(INH), Rifampisin (R), Pirazinamid (Z), Hipertensi, Riwayat DM, kolesterol, dan
Streptomisin (S) dan Etambutol (E). Efek asam urat disangkal. Riwayat alergi
samping OAT yang dapat timbul antara disangkal. Riwayat penyakit keluarga tidak
lain tidak ada nafsu makan, mual, sakit diketahui. Pasien ada riwayat kontak
perut, nyeri sendi, kesemutan sampai rasa dengan dengan penderita batuk lama yaitu
terbakar di kaki, gatal dan kemerahan kulit, teman korban. Pasin ada riwayat merokok
ikterus, tuli hingga gangguan fungsi hati sejak masih di Sekolah di STM tetapi
(hepatotoksik) dari yang ringan sampai sudah berhenti sejak mengeluh batuk dan
berat berupa nekrosis jaringan hati. Obat sesak yaitu sekitar 2 bulan yang lalu.
anti tuberkulosis yang sering hepatotoksik Pada awalnya, pasien mendapatkan
adalah INH, Rifampisin dan Pirazinamid. pengobatan berupa obat batuk di
Hepatotoksitas mengakibatkan puskesmas tetapi batuknya tidak kunjung
peningkatan kadar transaminase darah sembuh. Setelah itu pasien dirujuk ke RS
(SGPT/SGOT) sampai pada hepatitis Ibnu Sina dan dilakukan pemeriksaan
fulminan, akibat pemakaian INH dan/ dahak dan Foto Thoraks. Dari hasil
Rifampisin (Depkes RI, 2006; Arsyad, pemeriksaan dahak sewaktu-pagi-sewaktu
1996; Sudoyo, 2007).1,5 hasilnya BTA negatif, sedangkan pada
Ilustrasi Kasus pemeriksaan foto thoraks dengan hasil TB
Seorang Laki-laki Tn. SB berumur paru lama aktif.
59 tahun dengan keluhan batuk berdahak Dari pemeriksaan fisik didapatkan
sejak 2 bulan yang lalu. Batuk disertai keadaan umum baik, kompos mentis.
dahak berwarna putih, tidak ada bercak Tanda vital yaitu tekanan darah 130/80
darah. Batuk dirasakan terus menerus, mmHg, nadi 82 kali/menit, pernapasan 20
sesak napas ada dipengaruhi aktivitas, kali/menit, dan suhu badan 36,5 C. Status
memberat terutama saat batuk, tidak gizi pasien, tinggi badan 168 cm, berat
dipengaruhi cuaca. Nyeri dada tidak ada, badan 44 kg dengan hasil IMT = 16 (BB
demam ada kadang-kadang tapi tidak kurang). Status generalis, kepala: rambut
terlalu tinggi. Pasien juga mengeluh pendek sebahu, lurus, warna hitam.
kadang keringat dingin malam hari, badan Pemeriksaan mata, konjungtiva tidak
menggigil dan terasa lemas. Penurunan anemis dan sklera tidak ikterik, lensa tidak
berat badan ada lebih kurang 7 kg dalam 2 keruh. Pemeriksaan THT dalam batas
bulan terakhir, nasfu makan menurun. normal. Jantung dalam batas normal. Paru
Page 3
Pendekatan Kedokteran Keluarga pada Tuberculosis

suara dasar vesikular. Ekstremitas tidak poin II, diagnosis kerja yang ditegakkan
didapatkan edema. adalah TB Paru baru. Pada poin III,
Dari informasi yang dapatkan didapatkan masalah perilaku berupa
pasien bekerja di bengkel dan serabutan. kebiasaan merokok dan jarang berolah
Pasien mempunyai 3 orang anak, 2 anak raga. Pada poin IV, didapatkan masalah
tinggal serumah dengan pasien beserta pendapatan keluarga yang kurang, teman
istrinya. Pasien tinggal di rumah milik bergaul yang mempunyai riwayat batuk
sendiri. Di dalam rumah terdapat 2 kamar lama, lingkungan tempat tinggal yang
tidur, 1 ruang tamu juga sebagai ruang kurang bersih dan minim ventilasi. Pada
keluarga, dapur, kamar mandi dan tempat poin V, ditetapkan skala fungsional pasien
cuci piring dan baju. Jarak antar rumah derajat 3 yang sesuai dengan usia pasien.
berdempetan, menyebabkan kesan ventilasi
Tindakan yang dilakukan meliputi
sangat kurang.
tindakan terhadap pasien, keluarga, dan
Frekuensi makan rata – rata setiap lingkungannya. Pada pasien diberikan
harinya 2x/hari dengan menu makan terapi medikamentosa berupa Obat anti
bervariasi. Variasi makanan sebagai Tuberkulosis kategori 1 dalam bentuk
berikut: nasi, lauk (ikan) sering makan paket obat kombinasi dosis tetap (OAT-
ikan asin, sayur, jarang makan daging, air KDT) : 2 (HRZE) / 4 (HR)3. Terapi non
minum (air putih dan teh manis). Air medikamentosa berupa edukasi terhadap
minum berasal dari air PAM yang dimasak pasien dan keluarga pasien mengenai
sendiri atau kadang juga air galon. Kesan pentingnya kontrol dan minum obat OAT
status gizi saat ini kurang. secara teratur dan tuntas, senantiasa
membuka pintu dan jendela setiap pagi
Dalam menetapkan masalah serta
agar terjadi pertukaran udara serta agar
faktor yang mempengaruhi, digunakan
sinar matahari dapat masuk kedalam
konsep Mandala of Health. Diagnosis
ruangan, memakai masker saat bekerja
holistic yang ditegakkan pada pasien
atau saat berinteraksi untuk mencegah
adalah sebagai berikut.
penularan dan semakin memburuknya
Pada poin I, alasan kedatangan: kondisi, istirahat serta asupan makanan
keluhan batuk dan sesak sejak 2 bulan cukup dan bergizi, menerapkan perilaku
yang lalu dengan harapan batuk bisa hilang hidup bersih dan sehat (PHBS).
dan tidak timbul lagi keluarga punya
Tindakan untuk mengatasi masalah
kekhawatiran penyakit batuk ini sulit
lingkungan antara lain dengan melakukan
disembuhkan dan semakin memberat. Pada
penyuluhan mengenai Tuberculosis dan
Page 4
Pendekatan Kedokteran Keluarga pada Tuberculosis

faktor risikonya, yang dihadiri oleh kader,


wakil dari puskesmas, dan para warga.
Pada kesempatan tersebut juga
disampaikan mengenai pentingnya
menjaga pola makan dan perilaku berobat
yang baik.

Keterangan :
= Penderita

= laki-laki

= perempuan

= tinggal serumah dengan


pasien

Gambar 1. Genogram

Page 5
Pendekatan Kedokteran Keluarga pada Tuberculosis

Gambar 2. Mandala of health

Page 6
Pendekatan Kedokteran Keluarga pada Tuberculosis

Tabel 1. Skoring Kemampuan


Penyelesaian Masalah Dalam
Keluarga

Masalah Skor Upaya penyelesaian Resume Hasil Skor


awal Akhir Perbaikan akhir

Fungsi biologis 3 - Edukasi mengenai - Terselenggara 4


- Faktor biologi pada pasien ini penyakit, penyebab, penyuluhan
faktor resiko dan
adalah menderita TB Paru
penularannya
- Edukasi tentang - Keluhan berkurang
pentingya kepatuhan
berobat

Fungsi ekonomi dan - Motivasi untuk - Pasien dan suami


pemenuhan kebutuhan menambah penghasilan berniat
- Pendapatan keluarga dengan memanfaatkan memanfaatkan
rendah waktu luang waktu luang untuk 3
2
memperoleh
penghasilan
tambahan

Faktor perilaku kesehatan keluarga


- Hygien pribadi dan lingkungan - Edukasi mengenai pola - Keluarga
kurang 3 hidup bersih dan sehat memperhatikan
4
(PHBS) kebersihan diri dan
- Kebiasaan merokok lingkungan rumah
- Edukasi dan motivasi - Pasien berkeinginan
berhenti merokok serta untuk berhenti
bahaya merokok bagi merokok 5
3
kesehatan pribadi dan
keluarga

Lingkungan rumah - Memperbaiki ventilasi - Jendela terbuka


- Ventilasi dan penerangan dan penerangan dengan namun ventilasi
masih kurang membuka jendela setiap masih kurang 2
2
- Kebersihan halaman dan pagi
rumah masih kurang, banyak - Edukasi untuk - Barang bekas masih
2 2
barang bekas yang merapikan barang bekas bertumpuk di
bertumpuk atau yang sudah tidak halaman rumah
terpakai
Total Skor : 15 20
Rata-rata Skor : 2,5 3,33
Klasifikasi skor kemampuan menyelesaikan Skor 1 tidak dilakukan, keluarga menolak,
masalah : tidak ada partisipasi

Page 7
Pendekatan Kedokteran Keluarga pada Tuberculosis

Skor 2 keluarga mau melakukan tapi tidak dalam batas normal. Jantung dalam batas
mampu, tidak ada sumber (hanya
keinginan); penyelesaian masalah normal. Paru suara dasar vesikular.
dilakukan sepenuhnya oleh provider Ekstremitas tidak didapatkan edema.
Skor 3 keluarga mau melakukan namun
perlu penggalian sumber yang belum Dari hasil pemeriksaan dahak
dimanfaatkan, penyelesaian masalah
dilakukan sebagian besar oleh sewaktu-pagi-sewaktu hasilnya BTA
provider negatif, sedangkan pada pemeriksaan foto
Skor 4 keluarga mau melakukan namun tak
sepenuhnya, masih tergantung pada thoraks dengan hasil TB paru lama aktif.
upaya provider
Pasien TB terdiagnosis secara klinis
Skor 5 dapat dilakukan sepenuhnya oleh
keluarga adalah pasien yang tidak memenuhi
kriteria terdiagnosis secara bakteriologis
Pembahasan tetapi didiagnosis sebagai pasien TB aktif
Studi kasus dilakukan pada pasien
oleh dokter, dan diputuskan untuk
Tn. SB berumur 59 tahun dengan keluhan
diberikan pengobatan TB; termasuk
batuk berdahak sejak 2 bulan yang lalu.
dalam kelompok pasien ini adalah pasien
Batuk disertai dahak berwarna putih,
TB paru BTA negatif dengan hasil
tidak ada bercak darah. Batuk dirasakan
pemeriksaan foto thoraks mendukung
terus menerus, sesak napas ada
TB.2
dipengaruhi aktivitas, memberat terutama
Dari faktor resiko dapat dilihat
saat batuk, tidak dipengaruhi cuaca.
dari keadaan lingkunga pasien, Pada
Riwayat HT, DM, kolesterol, dan
kamar pasien didapatkan bahwa ventilasi
asam urat disangkal. Riwayat penyakit
kamarnya tergolong minimal. Jendela
keluarga tidak diketahui.
rumah pasien hampir setiap hari jarang
Dari pemeriksaan fisik didapatkan
dibuka sehingga sinar matahari susah
keadaan umum baik, kompos mentis.
masuk ke kamar. Keadaan ini cenderung
Tanda vital yaitu tekanan darah 130/80
akan membuat kelembapan kamar cukup
mmHg, nadi 76 kali/menit, pernapasan 20
tinggi yang bisa membuat kuman –
kali/menit, dan suhu badan 36,5 C.
kuman penyakit bisa tumbuh. Suasana di
Status gizi pasien, tinggi badan 168 cm,
dalam rumah juga terasa gelap dan
berat badan 44 kg dengan hasil IMT = 16
lembab. Lingkungan tempat tinggal
(BB kurang). Status generalis, kepala:
rumah dari tiap anggota keluarga sangat
rambut pendek sebahu, lurus, warna
padat serta faktor ventilasi dan
hitam. Pemeriksaan mata, konjungtiva
penerangan yang kurang dapat menjadi
tidak anemis dan sklera tidak ikterik,
penyebab penyebaran TB. Kuman TB
lensa tidak keruh. Pemeriksaan THT
yang terdapat di udara bebas akan terus

Page 8
Pendekatan Kedokteran Keluarga pada Tuberculosis

berada di dalam rumah, terakumulasi membaik jika masalah status ekonomi


sehingga konsentrasi kuman lama keluarga tidak teratasi. Selain itu, karena
kelamaan semakin meningkat. Kamar pendapatan yang kecil tersebut
mandi, kamar tidur dan tidur dalam menyebabkan tidak adanya dana alokasi
kondisi memuaskan. khusus untuk kesehatan. Hal ini
menyebabkan lambatnya penanganan
Berdasarkan wawancara pasien dan
terhadap anggota keluarga apabila
keluarganya didapatkan bahwa pasien
menderita suatu penyakit.
sehari-harinya sering menghabiskan
waktunya bersama keluarga. Pola makan Tingkat pendidikan berpengaruh karena
pasien dikatakan berkurang dan ada sering kali akan sebanding dengan tingkat
penurunan berat badan selama sakit. pengetahuan yang terwujud dalam pola
Pasien juga mengatakan dirinya tidak pikir dan perilaku seseorang. Rendahnya
pernah minum alkohol tapi ada riwayat tingkat pengetahuan mengenai kesehatan
merokok sebelumnya sejak dari SMP maupun mengenai fasilitas kesehatan
merokok dan sudah sekitar 2 bulan menyebabkan pasien dan keluarga tidak
berhenti merokok.. cukup peduli dengan kesehatannya,
hingga keluhan sangat menggangu. Pada
Kondisi sosial ekonomi juga memiliki
pasien lebih memilih membeli obat di
peran dalam terjadinya penyakit TB pada
warung untuk mengobati keluhannya,
pasien. Penyakit yang diderita oleh
hingga akhirnya masa penyakit pasien
pasien menuntut pasien untuk lebih
lebih lama dan dapat semakin buruk jika
banyak beristirahat, sehingga dukungan
tidak segera diobati.
dari keluarga baik masalah motivasi
maupun kebutuhan sehari-hari pasien Anggota keluarga mempunyai
sangat diperlukan. resiko untuk tertular oleh karena itu
dianjurkan untuk survey kontak. Untuk
Tingkat ekonomi keluarga yang cukup
melakukan pengawasan kepatuhan
rendah akan menyebabkan daya beli
minum obat bagi penderita diharapkan
keluarga terhadap bahan-bahan pokok
anggota keluarga dapat menjadi
makanan rendah, sehingga kualitas
pengawas minum obat. Dianjurkan
makanan yang dikonsumsi juga rendah
kepada anggota keluarga untuk
yang pada akhirnya akan menyebabkan
meningkatkan gizi, menjaga kebersihan
defisiensi makro dan mikronutrien secara
rumah dan meningkatkan daya tahan
kronis. Status gizi keluarga tidak akan
tubuh.

Page 9
Pendekatan Kedokteran Keluarga pada Tuberculosis

Pada kunjungan ke Puskesmas


Rappokalling diberikan terapi
medikamentosa untuk mengurangi dan
menghilangkan bakteri penyebab
tuberkulosis, berupa obat anti
Tuberkulosis kategori 1 karena
merupakan pasien TB baru dengan
diagnosis berdasarkan gejala klinis dan
pemeriksaan penunjang serta dari hasil
pemerksaan bakteriologi BTA yang
negatif. Obat diberikan dalam bentuk
paket obat kombinasi dosis tetap (OAT-
KDT). Tablet OAT-KDT ini terdiri dari
kombinasi 2 atau 4 jenis obat dalam satu
tablet. Pada pasien ini dengan berat badan
45 kg diberikan dosis tahap intensif tiap
hari 3 tablet 4KDT (RHZE) selama 56
hari, setelah slesai akan dilanjutkan untuk
tahap lanjutan 3 kali seminggu selama 16
minggu 3 tablet 2KDT (RH). Perlu juga
diberi edukasi kepada pasien terkait efek
samping obat.

Setelah dilakukan edukasi kepada


pasien dan keluarganya, diharapkan
pasien dapat rutin dan tuntas dalam
minum obat, serta kembali ke puskesmas
jika obatnya habis. Kepada pasien dan
keluarga juga diberikan edukasi tentang
pentingnya hidup sehat, mengingat salah
satu faktor risiko Tuberculosis adalah
faktor lingkungan.

Page 10
Pendekatan Kedokteran Keluarga pada Tuberculosis

DAFTARA PUSTAKA

1. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2006. Pedoman Nasional Penanggulangan


Tuberkulosis Edisi 2 Cetakan Pertama. Jakarta.

2. World Health Organization. 2010. Epidemiologi tuberkulosis di Indonesia diakses


pada 23 Maret 2010 pukul 14:39 WIB
(http://www.tbindonesia.or.id/tbnew/epidemiologi-tb-di-
indonesia/article/55/000100150017/2)

3. Daniel, M. Thomas. 1999. Harrison : Prinsip-Prinsip Ilmu penyakit dalam Edisi 13


Volume 2. Jakarta : EGC : 799-808

4. Kemenkes RI. 2014. Pedoman Nasional Pengendalian Tuberculosis. Jakarta :


Direktorat jenderal pengendalian penyakit dan pnyehatan lingkungan.

5. Arsyad, Zulkarnain. 1996. Evaluasi FaaI Hati pada Penderita Tuberkulosis Paru yang
Mendapat Terapi Obat Anti Tuberkulosis dalam Cermin Dunia Kedokteran No. 110,
1996 15.

Page 11
Pendekatan Kedokteran Keluarga pada Tuberculosis

LAMPIRAN

Pekarangan Rumah

Kmar mandi / WC

Page 12
Pendekatan Kedokteran Keluarga pada Tuberculosis

Dapur

Jendela dan ventilasi

Obat yang dikonsumsi pasien

Page 13
Pendekatan Kedokteran Keluarga pada Tuberculosis

TABEL NILAI APGAR


Respons
Hampir
KRITERIA PERTANYAAN Hampir
Kadang tidak
selalu
pernah
Apakah pasien puas dengan
keluarga karena masing-masing
Adaptasi anggota keluarga sudah √
menjalankan kewajiban sesuai
dengan seharusnya
Apakah pasien puas dengan
keluarga karena dapat membantu
Kemitraan √
memberikan solusi terhadap
permasalahan yang dihadapi
Apakah pasien puas dengan
kebebasan yang diberikan
Pertumbuhan √
keluarga untuk mengembangkan
kemampuan yang pasien miliki
Apakah pasien puas dengan
Kasih Sayang kehangatan / kasih sayang yang √
diberikan keluarga
Apakah pasien puas dengan
Kebersamaan waktu yang disediakan keluarga √
untuk menjalin kebersamaan
TOTAL
Skoring : Hampir selalu=2 , kadang-kadang=1 , hampir tidak pernah=0
Total skor
8-10 = fungsi keluarga sehat
4-7 = fungsi keluarga kurang sehat
0-3 = fungsi keluarga sakit
Dari tabel APGAR keluarga diatas total nilai skoringnya adalah 10, ini menunjukan
fungsi keluarga sehat.

Page 14