Anda di halaman 1dari 72

MANAGEMEN PUSKESMAS

Makalah
Diajukan dalam rangka Tugas Mata Kuliah Managemen

Disusun Oleh:
Dessy Natalia 01016105
Desin Wiana Dewi 01016019
Elia 01016273
Pinki Nur Indah T. 01016285
Ratnawati 01016286
Siti Masito 01016120
Tristania Alamsyah 01016124
Ulfatun Nisa 01016126
Tewi Sulistiani 01016122
Vina Damayanti 01016288

SEKOLAH TINGGI FARMASI YPIB CIREBON


PROGRAM PENDIDIKAN STRATA I (S.I) FARMASI
CIREBON
2019

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT karena atas rahmat, taufiq, dan hidayahNya

sehingga bisa menyelesaikan makalah Managemen Puskesmas UPT. Puskesmas

Pegambiran Kota Cirebon tepat waktu. Karya tulis ini disusun untuk memenuhi tugas mata

kuliah Managemen.

Keberhasilan penulisan karya tulis ini tentunya tidak lepas dari bantuan berbagai

pihak, untuk itu disampaikan terima kasih yang sebesar-sebesarnya kepada semua pihak

yang telah memberikan dorongan kepada kami sehingga karya tulis ini terwujud. Untuk

itu, kami mengucapkan terima kasih kepada :

1. Bapak Soni Suharmono, MM yang tidak lelah dan bosan untuk memberikan arahan dan

bimbingan kepada kami setiap saat.

2. Orang Tua dan keluarga kami tercinta yang banyak memberikan motivasi dan dorongan

serta bantuan, baik secara moral maupun spiritual.

3. Teman-teman kami yang telah berbagi pengetahuan agar karya tulis ilmiah ini dapat

selesai dengan baik.

Penulisan ini masih jauh dari sempurna, karena itu senantiasa diharapkan adanya

kritik dan saran yang membangun dari para pembaca sebagai perbaikan dan kesempurnaan

karya tulis ini.Semoga karya tulis ini memberikan manfaat terutama bagi kami dan

pembaca pada umumnya. Terima kasih.

Cirebon, Juni 2019

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ....................................................................................................... i


DAFTAR ISI ...................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................................. 1
1.1. Latar Belakang.............................................................................................................. 1
1.2. Identifikasi Masalah ..................................................................................................... 3
1.3. Batasan Masalah ........................................................................................................... 4
1.4. Perumusan Masalah ...................................................................................................... 4
1.5. Tujuan Penulisan .......................................................................................................... 5
1.3. Manfaat Penulisan ........................................................................................................ 5
BAB II DASAR TEORI ...................................................................................................... 6
2.1. Puskesmas..................................................................................................................... 6
2.2. Managemen Puskesmas ................................................................................................ 21
BAB III PROFIL PUSKESMAS......................................................................................... 49
3.1. Visi dan Misi Puskesmas .............................................................................................. 49
3.2. Tujuan Puskesmas ........................................................................................................ 50
3.3. Lokasi Puskesmas ......................................................................................................... 51
3.4. Fasilitas Puskesmas ...................................................................................................... 53
3.5. Sumber Daya Manusia.................................................................................................. 55
3.6. Upaya Kesehatan .......................................................................................................... 56
3.7. Pendanaan ..................................................................................................................... 57
3.8. Sistem Informasi Puskesmas ........................................................................................ 57
3.9. Pembinaan dan Pengawasan ......................................................................................... 58
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ............................................................................. 59
4.1. Analisa Lingkungan Dalam Puskesmas ....................................................................... 59
4.2. Analisa Lingkungan Luar Puskesmas .......................................................................... 63
BAB V PENUTUP .............................................................................................................. 64
5.1. Kesimpulan ................................................................................................................... 64
5.2. Saran ............................................................................................................................. 68
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................................... 69

3
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Puskesmas merupakan Unit Pelaksana Teknis Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota

yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di wilayah

kerjanya. Sebagaipenyelenggara pembangunan kesehatan, puskesmas bertanggung jawab

menyelenggarakan upaya kesehatan perorangan dan upaya kesehatan masyarakat, yang

ditinjau dari Sistem Kesehatan Nasional merupakan pelayanan kesehatan tingkat pertama

(Depkes RI, 2009).

Pada saat ini Puskesmas telah didirikan hampir di seluruh pelosok tanah air.

Untuk menjangkau wilayah kerjanya puskesmas diperkuat dengan puskesmas pembantu,

puskesmas keliling dan untuk daerah yang jauh dari sarana pelayanan rujukan, puskesmas

dilengkapi dengan fasilitas rawat inap (Depkes RI, 2009).

Sekalipun telah banyak keberhasilan yang dicapai oleh puskesmas dalam

meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, namun dalam pelaksanaanya masih banyak

terjadi masalah-masalah yang dapat menghambat puskesmas berfungsi maksimal.

Masalah-masalah tersebut dapat memengaruhi pemanfaatan puskesmas yang pada

ujungnya berpengaruh pada status kesehatan masyarakat di wilayah kerjanya (Oleske,

2002).

Rendahnya pemanfaatan fasilitas kesehatan baik milik pemerintah maupun swasta

antara lain karena inefisiensi dan buruknya kualitas dalam sektor kesehatan, buruknya

kualitas infrastruktur dan banyaknya pusat kesehatan yang tidak memiliki perlengkapan

yang memadai, jumlah dokter yang tidak memadai di daerah terpencil dan tingginya

ketidakhadiran dokter di puskesmas, serta kurangnya pendidikan tenaga kerja kesehatan.

4
Faktor lain yang mungkin berpengaruh adalah pendapatan yang meningkat, pengetahuan

yang lebih baik akan pilihan pelayanan kesehatan dan meningkatnya ekspektasi terhadap

standar pelayanan (World Bank, 2008).

Untuk mengantisipasi hal itu, sebaiknya puskesmas mampu meningkatkan

kualitas pelayanan profesi (quality of care) dan kualitas pelayanan manajemen (quality of

service) karena mutu pelayanan yang baik akan memberikan kepuasankepada pelanggan

dan pelanggan akan memanfaatkan ulang dan merekomendasikan pelayanan kesehatan

tersebut kepada orang lain (Muninjaya, 2004).

Beberapa pandangan yang berkembang di masyarakat terkait rendahnya jumlah

kunjungan masyarakat ke puskesmas ialah buruknya citra pelayanan di puskesmas, di

antaranya pegawai puskesmas yang tidak disiplin, kurang ramah, kurang profesional,

pengobatan yang tidak manjur, fasilitas gedung maupun peralatan medis dan non medis

kurang memadai di mana masyarakat harus dirujuk untuk melanjutkan pengobatan atau

pemeriksaan yang sebenarnya masih dapat dilakukan di puskesmas, atau untuk membeli

obat-obatan yang tidak tersedia di puskesmas padahal kondisi geografis di beberapa

tempat tidak mendukung akibat jauhnya jarak tempuh, tidak ada transportasi, jam buka

puskesmas yang terbatas dan lain-lain. Di samping itu petugas kesehatan juga melakukan

praktik swasta di luar jam kerja puskesmas yang memungkinkan persaingan terselubung

dengan puskesmas, yang berpengaruh terhadap angka kunjungan ke puskesmas

(Muninjaya, 2004).

Dalam hal manajemen, puskesmas juga dinilai belum cukup mampu

melaksanakan fungsinya dengan baik. Kepala puskesmas yang pada umumnya dipimpin

oleh dokter, cenderung lebih berorientasi kepada pelayanan kesehatan kuratif. Sistem

informasi puskesmas belum mampu menunjang proses perencanaan strategis puskesmas

misalnya dalam hal kebutuhan jumlah dan latar belakang pendidikan sumber daya

5
manusianya, program-program kesehatan masyarakat yang perlu dikembangkan sesuai

kebutuhan wilayahnya dan dengan fungsi promotif dan preventif puskesmas yang

semakin terabaikan dibandingkan dengan fungsi kuratifnya. Kemampuan pimpinan

puskesmas dalam melakukan advokasi terhadap lintas sektor di tingkat kecamatan

maupun di tingkat kabupaten juga masih sangat kurang, sehingga pembangunan

berwawasan kesehatan masih disikapi secara pasif oleh sektor di luar kesehatan karena

adanya anggapan bahwa masalah pembangunan berwawasan kesehatan hanya tugas

sektor kesehatan (Muninjaya, 2004).

Tinggi rendahnya pembiayaan pelayanan kesehatan berdampak kepada mutu

pelayanan itu sendiri karena alokasi dana untuk program penunjang kesehatan tidak

memadai. Apabila hal ini terus terjadi, maka puskesmas semakin lama akan ditinggalkan

oleh pengguna jasanya dan hanya digunakan oleh masyarakat miskin yang tidak

mempunyai pilihan lain (Trisnantoro, 2005).

Berdasarkan latar belakang tersebut, dilakukan studi tentang managemen

puskesmas yang diambil sampel UPT. Puskesmas Pegambiran Kota Cirebon, karena

salah satu anggota kelompok kami bekerja di puskesmas tersebut untuk memudahkan

dalam pengambilan data-data.

1.2. Identifikasi Masalah

Berdasarkan uraian dari latar belakang diatas dapat diidentifikasikan masalah

yang ada antara lain:

1. Rendahnya pemanfaatan fasilitas kesehatan baik milik pemerintah maupun swasta

antara lain karena inefisiensi dan buruknya kualitas dalam sektor kesehatan, buruknya

kualitas infrastruktur dan banyaknya pusat kesehatan yang tidak memiliki

perlengkapan yang memadai, jumlah dokter yang tidak memadai di daerah terpencil

6
dan tingginya ketidakhadiran dokter di puskesmas, serta kurangnya pendidikan tenaga

kerja kesehatan

2. Rendahnya jumlah kunjungan masyarakat ke puskesmas ialah buruknya citra

pelayanan di puskesmas, diantaranya pegawai puskesmas yang tidak disiplin, kurang

ramah, kurang profesional, pengobatan yang tidak manjur, fasilitas gedung maupun

peralatan medis dan non medis kurang memadai dimana masyarakat harus dirujuk

untuk melanjutkan pengobatan atau pemeriksaan yang sebenarnya masih dapat

dilakukan di puskesmas, atau untuk membeli obat-obatan yang tidak tersedia di

puskesmas padahal kondisi geografis di beberapa tempat tidak mendukung akibat

jauhnya jarak tempuh, tidak ada transportasi, jam buka puskesmas yang terbatas dan

lain-lain

3. Manajemen, puskesmas juga dinilai belum cukup mampu melaksanakan fungsinya

dengan baik

4. Alokasi dana untuk program penunjang kesehatan tidak memadai.

1.3. Batasan Masalah

Mengingat banyaknya permasalahan yang ada diruang lingkup puskesmas maka

perlu diadakannya pembatasan masalah untuk menghindari berbagai persepsi yang

muncul berkaitan dengan penelitian ini, permasalahan dibatasi pada “Managemen

Puskesmas” dimana diambil sampel UPT. Puskesmas Pegambiran Kota Cirebon.

1.4. Perumusan Masalah

Berdasarkan pembatasan masalah diatas, maka dirumuskan permasalahannya

yaitu bagaimana management Puskesmas di UPT Puskesmas Pegambiran Kota Cirebon.

7
1.5. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui managemen Puskesmas di

UPT Puskesmas Pegambiran Kota Cirebon.

1.6. Manfaat Penulisan

1. Bagi Mahasiswa

Mahasiswa mengetahui managemen Puskesmas

2. Bagi Puskesmas

Dapat memberikan masukan bagi Puskesmas dalam perencanaan dan manajemen

pelayanan kesehatan.

3. Bagi Akademik

Untuk menambah perbendaharaan Karya Tulis di Perpustakaan STF YPIB

Cirebon serta pengembangan ilmu pengetahuan.

8
BAB II

DASAR TEORI

2.1. Puskesmas

Berdasarkan PERMENKES Nomor 75 tahun 2014 Pusat Kesehatan Masyarakat

yang selanjutnya disebut Puskesmas adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang

menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan perseorangan

tingkat pertama, dengan lebih mengutamakan upaya promotif dan preventif, untuk

mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya di wilayah kerjanya.

Gambar 1. Sitem Puskesmas

9
2.1.1. Prinsip Penyelenggaraan, Tugas, Fungsi Dan Wewenang

 Prinsip penyelenggaraan Puskesmas meliputi:

1. Paradigma sehat, yang artinya Puskesmas mendorong seluruh pemangku

kepentingan untuk berkomitmen dalam upaya mencegah dan mengurangi

resiko kesehatan yang dihadapi individu, keluarga, kelompok dan

masyarakat.

2. Pertanggungjawaban wilayah, yang artinya Puskesmas menggerakkan dan

bertanggung jawab terhadap pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya.

3. Kemandirian masyarakat, yang artinya Puskesmas mendorong kemandirian

hidup sehat bagi individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat.

4. Pemerataan, yang artinya Puskesmas menyelenggarakan Pelayanan

Kesehatan yang dapat diakses dan terjangkau oleh seluruh masyarakat di

wilayah kerjanya secara adil tanpa membedakan status sosial, ekonomi,

agama, budaya dan kepercayaan.

5. Teknologi tepat guna, yang artinya Puskesmas menyelenggarakan Pelayanan

Kesehatan dengan memanfaatkan teknologi tepat guna yang sesuai dengan

kebutuhan pelayanan, mudah dimanfaatkan dan tidak berdampak buruk

bagi lingkungan.

6. Keterpaduan dan kesinambungan, yang artinya Puskesmas mengintegrasikan

dan mengoordinasikan penyelenggaraan Upaya Kesehatan Masyarakat

(UKM) dan Upaya Kesehatan Perorangan (UKP) lintas program dan lintas

sektor serta melaksanakan Sistim Rujukan yang didukung dengan

manajemen Puskesmas.

10
 Tugas Puskesmas

Puskesmas mempunyai tugas melaksanakan kebijakan kesehatan untuk mencapai

tujuan pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya dalam rangka mendukung

terwujudnya kecamatan sehat.

 Fungsi Puskesmas

Dalam melaksanakan tugas Puskesmas menyelenggarakan fungsi:

a. penyelenggaraan UKM tingkat pertama di wilayah kerjanya.

b. penyelenggaraan UKP tingkat pertama di wilayah kerjanya.

c. Puskesmas dapat berfungsi sebagai wahana pendidikan Tenaga Kesehatan yang

dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Puskesmas mengintegrasikan dan mengoordinasikan penyelenggaraan UKM dan

UKP lintas program dan lintas sektor serta melaksanakan Sistem Rujukan yang didukung

dengan manajemen Puskesmas.

 Wewenang Puskesmas

Dalam menyelenggarakan fungsi Penyelenggaraan UKM Puskesmas berwenang

untuk:

a. melaksanakan perencanaan berdasarkan analisis masalah kesehatan masyarakat

dan analisis kebutuhan pelayanan yang diperlukan;

b. melaksanakan advokasi dan sosialisasi kebijakan kesehatan;

c. melaksanakan komunikasi, informasi, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat

dalam bidang kesehatan;

d. menggerakkan masyarakat untuk mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah

kesehatan pada setiap tingkat perkembangan masyarakat yang bekerjasama

dengan sektor lain terkait;

11
e. melaksanakan pembinaan teknis terhadap jaringan pelayanan dan upaya kesehatan

berbasis masyarakat;

f. melaksanakan peningkatan kompetensi sumber daya manusia Puskesmas;

g. memantau pelaksanaan pembangunan agar berwawasan kesehatan;

h. melaksanakan pencatatan, pelaporan, dan evaluasi terhadap akses, mutu, dan

cakupan Pelayanan Kesehatan; dan

i. memberikan rekomendasi terkait masalah kesehatan masyarakat, termasuk

dukungan terhadap sistem kewaspadaan dini dan respon penanggulangan

penyakit.

Dalam menyelenggarakan fungsi penyelenggaraan UKP Puskesmas berwenang

untuk:

a. menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan dasar secara komprehensif,

berkesinambungan dan bermutu;

b. menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan yang mengutamakan upaya promotif dan

preventif;

c. menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan yang berorientasi pada individu,

keluarga, kelompok dan masyarakat;

d. menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan yang mengutamakan keamanan dan

keselamatan pasien, petugas dan pengunjung;

e. menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan dengan prinsip koordinatif dan kerja

sama inter dan antar profesi;

f. melaksanakan rekam medis;

g. melaksanakan pencatatan, pelaporan, dan evaluasi terhadap mutu dan akses

Pelayanan Kesehatan;

h. melaksanakan peningkatan kompetensi Tenaga Kesehatan;

12
i. mengoordinasikan dan melaksanakan pembinaan fasilitas pelayanan kesehatan

tingkat pertama di wilayah kerjanya; dan

j. melaksanakan penapisan rujukan sesuai dengan indikasi medis dan Sistem

Rujukan.

Asas Pengelolaan Puskesmas

1. Asas Pertanggungjawaban Wilayah

2. Asas Pemberdayaan Masyarakat

3. Asas Keterpaduan

4. Asas Rujukan

Sistem Rujukan

Sistem rujukan adalah suatu sistem jaringan pelayanan kesehatan yang

memungkinkan terjadinya penyerahan tanggung jawab secara timbal balik atas timbulnya

masalah dari suatu kasus atau masalah kesehatan masyarakat, baik secara vertikal

maupun horisontal, kepada yang lebih kompeten, terjangkau dan dilakukan secara

rasional.

Gambar 2. Sitem Rujukan Upaya Kesehatan

13
Jenis Rujukan :

a) Rujukan Medis :

 Konsultasi penderita, untuk keperluan diagnostik, pengobatan, tindakan

operatif dan lain-lain.

 Pengiriman bahan (spesiemen) untuk pemeriksaan laboratorium yang lebih

lengkap.

 Mendatangkan atau mengirim tenaga yang lebih kompeten atau ahli untuk

meningkatkan mutu pelayanan pengobatan setempat.

b) Rujukan Kesehatan

Rujukan yang menyangkut masalah kesehatan masyarakat yang bersifat

preventif dan promotif, yang antara lain meliputi bantuan :

 Survey epidemiologi dan pemberantasan penyakit atas kejadian luar biasa

atau berjangkitnya penyakit menular.

 Pemberian pangan atas terjadinya kelaparan di suatu wilayah.

 Penyidikan sebab keracunan, bantuan tekhnologi penanggulangan

keracunan dan bantuan obat-obatan atas terjadinya keracunan massal.

 Pemberian makanan, tempat tinggal dan obat-obatan untuk pengungsi atas

terjadinya bencana alam.

 Saran dan teknologi untuk penyediaan air bersih atas masalah kekurangan

air bersih bagi masyarakat umum.

 Pemeriksaan spesiemen air di Laboratorium Kesehatan dan sebagainya.

2.1.2. Persyaratan

Berdasarkan PERMENKES Nomor 75 Tahun 2014 persaratan puskesmas diantaranya

adalah:

14
1. Puskesmas harus didirikan pada setiap kecamatan.

2. Dalam kondisi tertentu, pada 1 (satu) kecamatan dapat didirikan lebih dari 1 (satu)

Puskesmas.

3. Kondisi tertentu ditetapkan berdasarkan pertimbangan kebutuhan pelayanan, jumlah

penduduk dan aksesibilitas.

4. Pendirian Puskesmas harus memenuhi persyaratan lokasi, bangunan, prasarana,

peralatan kesehatan, ketenagaan, kefarmasian dan laboratorium.

Lokasi pendirian Puskesmas harus memenuhi persyaratan:

a. geografis;

b. aksesibilitas untuk jalur transportasi;

c. kontur tanah;

d. fasilitas parkir;

e. fasilitas keamanan;

f. ketersediaan utilitas publik;

g. pengelolaan kesehatan lingkungan; dan

h. kondisi lainnya.

Puskesmas harus memiliki prasarana yang berfungsi paling sedikit terdiri atas:

a. sistem penghawaan (ventilasi);

b. sistem pencahayaan;

c. sistem sanitasi;

d. sistem kelistrikan;

e. sistem komunikasi;

f. sistem gas medik;

g. sistem proteksi petir;

h. sistem proteksi kebakaran;

15
i. sistem pengendalian kebisingan;

j. sistem transportasi vertikal untuk bangunan lebih dari 1 (satu) lantai;

k. kendaraan Puskesmas keliling; dan

l. kendaraan ambulans.

2.1.3. Perizinan Dan Registrasi

 Setiap Puskesmas wajib memiliki izin untuk menyelenggarakan pelayanan

kesehatan.

 Izin diberikan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota.

 Izin berlaku untuk jangka waktu 5 (lima) tahun dan dapat diperpanjang selama

memenuhi persyaratan.

 Perpanjangan izin dilakukan dengan mengajukan permohonan perpanjangan

selambat-lambatnya 6 (enam) bulan sebelum habis masa berlakunya izin.

Syarat-syarat pengajuan perizinan:

1. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota mengajukan permohonan tertulis kepada

Bupati/Walikota melalui satuan kerja pada pemerintah daerah kabupaten/kota yang

menyelenggarakan perizinan terpadu dengan melampirkan dokumen:

a. fotokopi sertifikat tanah atau bukti lain kepemilikan tanah yang sah;

b. fotokopi Izin Mendirikan Bangunan (IMB);

c. dokumen pengelolaan lingkungan sesuai ketentuan peraturan perundang-

undangan;

d. surat keputusan dari Bupati/Walikota terkait kategori Puskesmas;

e. studi kelayakan untuk Puskesmas yang baru akan didirikan atau akan

dikembangkan;

16
f. profil Puskesmas yang meliputi aspek lokasi, bangunan, prasarana, peralatan

kesehatan, ketenagaan, dan pengorganisasian untuk Puskesmas yang mengajukan

permohonan perpanjangan izin; dan

g. persyaratan lainnya sesuai dengan peraturan daerah setempat.

2. Satuan kerja pada pemerintah daerah harus menerbitkan bukti penerimaan berkas

permohonan yang telah lengkap atau memberikan informasi apabila berkas

permohonan belum lengkap kepada pemohon yang mengajukan permohonan izin

dalam jangka waktu paling lama 6 (enam) hari kerja sejak berkas permohonan

diterima.

3. Dalam hal berkas permohonan belum lengkap pemohon harus mengajukan

permohonan ulang kepada pemberi izin.

4. Dalam jangka waktu 14 (empat belas) hari kerja setelah bukti penerimaan berkas

diterbitkan, pemberi izin harus menetapkan untuk memberikan atau menolak

permohonan izin.

5. Dalam hal terdapat masalah yang tidak dapat diselesaikan dalam kurun waktu,

pemberi izin dapat memperpanjang jangka waktu pemrosesan izin paling lama 14

(empat belas) hari kerja dengan menyampaikan pemberitahuan tertulis kepada

pemohon.

6. Penetapan pemberian atau penolakan permohonan izin dilakukan setelah pemberi izin

melakukan penilaian dokumen dan peninjauan lapangan.

7. Dalam hal permohonan izin ditolak, pemberi izin harus memberikan alasan penolakan

yang disampaikan secara tertulis kepada pemohon.

8. Apabila pemberi izin tidak menerbitkan izin atau tidak menolak permohonan hingga

berakhirnya batas waktu, permohonan izin dianggap diterima.

17
Setiap Puskesmas yang telah memiliki izin wajib melakukan registrasi.Registrasi

diajukan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota kepada Menteri setelah

memperoleh rekomendasi dari Dinas Kesehatan Provinsi, dalam jangka waktu paling

lambat 6 (enam) bulan setelah izin Puskesmas ditetapkan.

Syarat Registrasi Puskesmas

1. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota mengajukan surat permohonan registrasi

Puskesmas kepada Menteri dengan melampirkan:

a. fotokopi izin Puskesmas;

b. profil Puskesmas;

c. laporan kegiatan Puskesmas sekurang-kurangnya 3 (tiga) bulan terakhir;

d. surat keputusan dari Bupati/Walikota terkait kategori Puskesmas; dan

e. rekomendasi dinas kesehatan provinsi.

2. Menteri menetapkan nomor registrasi berupa kode Puskesmas paling lambat 14

(empat belas) hari kerja sejak surat permohonan registrasi Puskesmas diterima.

3. Kode Puskesmas diinformasikan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan

dinas kesehatan provinsi.

18
Gambar 3.
Sertifikat Akreditasi

19
Gambar 4.
Surat Keputusan Perijinan Operasional Puskesmas

20
2.1.4. Penyelenggaraan

2.1.4.1. Kedudukan dan Organisasi

Puskesmas merupakan unit pelaksana teknis Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota,

sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Organisasi Puskesmas disusun oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota berdasarkan

kategori, upaya kesehatan dan beban kerja Puskesmas paling sedikit terdiri atas:

1. kepala Puskesmas;

2. kepala sub bagian tata usaha;

3. penanggung jawab UKM dan Keperawatan Kesehatan Masyarakat;

4. penanggung jawab UKP, kefarmasian dan Laboratorium; dan

5. penanggungjawab jaringan pelayanan Puskesmas dan jejaring fasilitas pelayanan

kesehatan.

21
22
dr. Siti Masito S.Farm Apt. SKM. M.Kes
Ulfatunnisa MKM,
M.Kes
Tewi MKM, M.Kes Vina MKM, M.Kes dr.Elia MKM, M.Kes
dr. Ratnawati, S.Farm Apt, Dessy MKM, S.Farm dr. Tristania A, S.Farm Apt, Pinki, S.Farm Apt, MKM
M.Kes Apt, SST, M.Kes M.Kes
drg.Desin M.Kes
PEMERINTAH DAERAH KOTA CIREBON
DINAS KESEHATAN
UPT PUSKESMAS PEGAMBIRAN
Jln. Buyut Gambir Baru No.04 Telp.(0231) 224409 Cirebon45113
E-mail: pkmpegambiran2015@gmail.com Website : http://puskesmas-Pegambiran.web.id

STRUKTUR ORGANISASI TIM PENINGKATAN MUTU PELAYANAN KLINIS


DAN KESELAMATAN PASIEN
KETUA MANAJEMEN MUTU
dr. Siti Masito S.Farm Apt. SKM. M.Kes

WAKIL MANAJEMEN MUTU


Dessy MKM, S.Farm Apt,

KETUA AUDIT INTERNAL SEKRETARIS


dr.Elia MKM, M.Kes Ulfatunnisa MKM,
AUDITOR ADMEN PJ KEHUMASAN
Ulfatunnisa MKM, Yayah Kodariyah, Amd.Keb
AUDITOR UKM PJ PERLENGKAPAN
Tewi MKM, M.Kes Aat Suhayati
AUDITOR UKP PJ DOKUMENTASI
Vina MKM, M.Kes Mustikasari, AMKL
PJ KEARSIPAN
Neneng Nurhasanah
PJ KEBERSIHAN DAN
KAMTIB
Irfan

KETUA POKJA
KETUA POKJA UKM KETUA POKJA UKP
ADMEN
dr. Tristania A, S.Farm
Pinki S.Farm Apt, MKM dr. Ratnawati, S.Farm Apt,
Apt

PJ PPP PJ PROMKES PJ LKBP


Dewi Ayu Yayah Kodariyah, Amd.Keb Kasina

PJ KMP PJ KESLING PJ MPLK


Aat Suhayati Mustikasari Siti Masito

PJ PMP PJ KIA PJ PMK dan KP


Nurlela Mida Rubak Langi Mien Farmuti

Anggota PJ P2P Anggota


Iha Mamduhah Syaiful Baith Stevy Matindas
Restu Paramita Firda Yuhila
Anggun PJ GIZI Asih Setiani
Istiqomah Sri Haryati Yayu Rahayu
Rosilawati
PJ PENGEMBANGAN Sri Ayana
Non Heli Mimin Nurhasanah

23
2.1.4.2 Akreditasi

Dalam upaya peningkatan mutu pelayanan, Puskesmas wajib diakreditasi secara

berkala paling sedikit 3 (tiga) tahun sekali.

Akreditasi dilakukan oleh lembaga independen penyelenggara akreditasi yang

ditetapkan oleh Menteri.

Lembaga independen penyelenggara akreditasi bersifat mandiri dalam proses

pelaksanaan, pengambilan keputusan dan penerbitan sertifikat status akreditasi. Dalam

hal lembaga Akreditasi, pelaksanaan akreditasi Puskesmas dilaksanakan oleh komisi

akreditasi Fasilitas Pelayanan Kesehatan tingkat pertama yang ditetapkan oleh Menteri.

2.2. Managemen Puskesmas

Manajemen adalah serangkaian proses yang terdiri atas perencanaan,

pengorganisasian, pelaksanaan dan kontrol (Planning,Organizing, Actuating, Controling)

untuk mencapai sasaran/tujuansecara efektif dan efesien. Efektif berarti bahwa tujuan

yang diharapkan dapat dicapai melalui proses penyelenggaraan yang dilaksanakan

dengan baik dan benar serta bermutu, berdasarkan atas hasil analisis situasi yang

didukung dengan data dan informasi yang akurat (evidence based). Sedangkan efisien

berarti bagaimana Puskesmas memanfaatkan sumber daya yang tersedia untuk dapat

melaksanaan upaya kesehatan sesuai standar dengan baik dan benar, sehingga dapat

mewujudkan target kinerja yang telah ditetapkan.

Dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 75 Tahun 2014 tentang Pusat

Kesehatan Masyarakat, disebutkan bahwa Puskesmas mempunyai tugas melaksanakan

kebijakan kesehatan untuk mencapai tujuan pembangunan kesehatan diwilayah kerjanya

dan berfungsi menyelenggarakan UKM dan UKP tingkat pertama diwilayah kerjanya.

Puskesmas dalam Sistem Kesehatan Daerah Kabupaten/Kota, merupakan bagian dari

24
dinas kesehatan kabupaten/kota sebagai UPTD dinas kesehatan kabupaten/kota. Oleh

sebab itu, Puskesmas melaksanakan tugas dinas kesehatan kabupaten/kota yang

dilimpahkan kepadanya, antara lain kegiatan dalam Standar Pelayanan Minimal (SPM)

Bidang Kesehatan Kabupaten/kota dan upaya kesehatan yang secara spesifik dibutuhkan

masyarakat setempat (localspecific).

Dalam pelaksanaan tugas dan fungsi Puskesmas tersebut, Puskesmas harus

melaksanakan manajemen Puskesmas secara efektif dan efisien. Siklus manajemen

Puskesmas yang berkualitas merupakan rangkaian kegiatan rutin berkesinambungan,

yang dilaksanakan dalam penyelenggaraan berbagai upaya kesehatan secara bermutu,

yang harus selalu dipantau secara berkala dan teratur, diawasi dan dikendalikan

sepanjang waktu, agar kinerjanya dapat diperbaiki dan ditingkatkan dalam satu siklus

“Plan-Do-Check-Action (P-D-C-A)”.

Untuk menjamin bahwa siklus manajemen Puskesmas yang berkualitas berjalan

secara efektif dan efisien, ditetapkan Tim Manajemen Puskesmas yang juga dapat

berfungsi sebagai penanggungjawab manajemen mutu di Puskesmas. Tim terdiri atas

penanggung jawab upaya kesehatan di Puskesmas dan didukung sepenuhnya oleh jajaran

pelaksananya masing-masing. Tim ini bertanggung jawab terhadap tercapainya target

kinerja Puskesmas, melalui pelaksanaan upaya kesehatan yang bermutu.

Upaya kesehatan bermutu merupakan upaya yang memberikan rasa puas sebagai

pernyataan subjektif pelanggan, dan menghasilkan outcome sebagai bukti objektif dari

mutu layanan yang diterimapelanggan. Oleh karena itu Puskesmas harus menetapkan

indikator mutu setiap pelayanan yang dilaksanakannya atau mengikuti standar mutu

pelayanan setiap program/pelayanan yang telah ditetapkan, yang dikoordinasikan oleh

dinas kesehatan kabupaten/kota.

25
Upaya kesehatan Puskesmas yang dilaksanakan secara merata dan bermutu sesuai

standar, diwujudkan dengan bukti adanya perbaikan dan peningkatan pencapaian target

indikator kesehatan masyarakat dan perseorangan. Seperti menurunnya angka-angka

kesakitan penyakit yang menjadi prioritas untuk ditangani, menurunnya angka kematian

balita, angka gizi kurang dan atau gizi buruk balita dan maternal, menurunnya jumlah

kematian maternal, teratasinya masalah-masalah kesehatan masyarakat dalam wilayah

kerjanya, dan lainnya.

Diperlukan dukungan sumber daya yang memadai baik dalam jenis, jumlah

maupun fungsi dan kompetensinya sesuai standar yang ditetapkan, dan tersedia tepat

waktu pada saat akan digunakan. Dalam kondisi ketersediaan sumber daya yang terbatas,

maka sumber daya yang tersedia dikelola dengan sebaik-baiknya, dapat tersedia saat

akan digunakan sehingga tidak menghambat jalannya pelayanan yang akan dilaksanakan.

Manajemen sumber daya dan mutu merupakan satu kesatuan sistem pengelolaan

Puskesmas yang tidak terpisah satu dengan lainnya, yang harus dikuasai sepenuhnya oleh

tim manajemen Puskesmas dibawah kepemimpinan kepala Puskesmas, dalam upaya

mewujudkan kinerja Puskesmas yang bermutu, mendukung tercapainya sasaran dan

tujuan penyelenggaraan upaya kesehatan di Puskesmas, agar dapat mengatasi masalah-

masalah kesehatan yang dihadapi masyarakat di wilayah kerjanya. Manajemen

Puskesmas akan mengintegrasikan seluruh manajemen yang ada (sumber daya, program,

pemberdayaan masyarakat, sistem informasi Puskesmas, dan mutu) didalam

menyelesaikan masalah prioritas kesehatan di wilayah kerjanya.

Dalam menyusun perencanaan 5 (lima) tahun Puskesmas, selain mengacu pada

Rencana Lima Tahunan dinas kesehatan kabupaten/kota, Puskesmas juga harus

memperhatikan dan mengacu pada Rencana Lima Tahunan Kementerian Kesehatan.

Apabila Puskesmas sebelumnya telah menyusun rencana 5 (lima) tahunan dan rencana

26
tahunan, maka dengan keluarnya kebijakan baru yang berkaitan dengan kesehatan,

Puskesmas perlu menelaah kembali rencana 5 (lima) tahun Puskesmas yang telah disusun

sebelumnya untuk dapat disesuaikan dengan hal-hal yang sangat prinsip dan prioritas.

Gambar berikut menguraikan contoh siklus manajemen Puskesmas yang berkualitas.

Gambar 5

Siklus Managemen Puskesmas

27
Tabel 1. Tahapan Kegiatan Siklus Manajemen Puskesmas

(contoh untuk siklus tahun 2015, 2016, dan 2017)

No Waktu
Pelaksa Pihak
Tahapan Pelaksan Keluaran
naan Terkait
aan
Evaluasi kinerja Puskesmas Desember
1. tahun 2015 2015 Puskesmas Dinas Hasil Penilaian Kinerja
melalui Penilaian Kinerja
Puskesmas (PKP). Kesehatan Puskesmas tahun 2015
Kab/Kota
Persiapan penyusunan Desember
2. Rencana Pelaksanaan 2015 Puskesmas Draft RPK tahun 2016.
Kegiatan (RPK) tahun 2016
berdasarkan
Rencana Usulan Kegiatan
(RUK) yang telah
disetujui dan dibandingkan
dengan hasil
kinerja Puskesmas tahun 2015
Analisa situasi dan Awal
3. pelaksanaan Survei Mawas Januari Desa/ Pemangku Hasil analisa situasi
Diri (SMD), Musyawarah kepentingan
Masyarakat Desa 2016 Kelurahan Tk. Hasil SMD dan MMD
(MMD) sebagai bahan Usulan Kebutuhan
penyusunan RUK tahun Desa/ pelayanan kesehatan
2017 dan Rencana lima masyarakat desa/keluraha
tahunan periode 2017 Kelurahan sesuai harapan rasional
s.d 2021, dengan pendekatan masyarakat
Top-Down dan desa/kelurahan
Bottom-Up.

Lokakarya Mini (Lokmin) Minggu


4. Bulanan Pertama Kedua Puskesmas
Januari Kesiapan pelaksanaan
2016 kegiatan bulan Januari
tahun 2016
Bahan Musrenbangdes
tahun 2016
Draft RUK tahun 2017
Draft Rencana Lima
Tahunan 2017 s.d 2021
Musyawarah Perencanaan
5. Pembangunan Desa Minggu Desa/ Pemangku
kepentingan Penyesuaian draft RUK
(Musrenbangdes) keempat Kelurahan Tk. tahun 2017 dengan
Januari hasil
2016 Desa/ Musrenbangdes

Penyesuaian draft
Kelurahan Rencana

28
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 44 Tahun 2016 tentang

Pedoman Manajemen Puskesmas Ruang Lingkup Pedoman Manajemen Puskesmas

meliputi:

a. perencanaan;

b. penggerakkan dan pelaksanaan;

c. pengawasan, pengendalian, dan penilaian kinerja; dan

d. dukungan dinas kesehatan kabupaten/kota dalam manajemen Puskesmas.

2.2.1. Perencanaan

Perencanaan yang disusun melalui pengenalan permasalahan secara tepat

berdasarkan data yang akurat, serta diperoleh dengan cara dan dalam waktu yang tepat,

maka akan dapat mengarahkan upaya kesehatan yang dilaksanakan Puskesmas dalam

mencapai sasaran dan tujuannya. Dalam upaya mencakup seluas mungkin sasaran

masyarakat yang harus dilayani, serta mengingat ketersediaan sumber daya yang terbatas,

maka pelayanan kesehatan harus dapat dilaksanakan secara terintegrasi baik lintas

program maupun lintas sektor. Kepala Puskesmas harus mampu membangun kerjasama

dan mengkoordinasikan program di internal Puskesmas dan di eksternal dengan mitra

lintas sektor. Koordinasi dengan lintas sektor sangat diperlukan, karena faktor penyebab

dan latar belakang masalah kesehatan tertentu kemungkinan hanya dapat diselesaikan

oleh mitra lintas sektor.

29
DATA KINERJA

Penyusunan
Penyusunan
RUK
RPK
- UKM
- UKM
Esensial

LOKAKARYA MINI
PROSES ANALISIS Esensial
DATA - UKM
PERSIAPAN - UKM
Pengemba
Pengemb
ngan
angan
- UKP
- UKP
- Pelayanan
- Pelayana
Kefarmasi
PERUMUSAN n
an
MASALAH Kefarmas
- dst
ian
- dst

TAHAP TAHAP PERUMUSAN TAHAP TAHAP


PERSIAPAN MASALAH PENYUSUNAN PENYUSUNAN
RUK RPK

Gambar 6

Tahap-tahap Perencanaan Tingkat Puskesmas

Peran pemerintah daerah sangat besar dalam menyelesaikan permasalahan

kesehatan di masyarakat, oleh karenanya Puskesmas perlu mencari dukungan dari

pemerintah daerah yang dimulai dari tingkat desa/kelurahan, kecamatan dan

kabupaten/kota. Proses perencanaan Puskesmas harus terintegrasi kedalam sistem

perencanaan daerah melalui forum Musyawarah Perencanaan Pembangunan

(Musrenbang) yang disusun secara top down dan bottom-up.

Proses perencanaan Puskesmas akan mengikuti siklus perencanaan pembangunan

daerah, dimulai dari tingkat desa/kelurahan, selanjutnya disusun pada tingkat kecamatan

dan kemudian diusulkan ke dinas kesehatan kabupaten/kota. Perencanaan Puskesmas

yang diperlukan terintegrasi dengan lintas sektor kecamatan, akan diusulkan melalui

kecamatan ke pemerintah daerah kabupaten/kota.

30
Gambar 7

Siklus Perencanaan dan Penganggaran Daerah

Puskesmas akan menyusun rencana 5 (lima) tahunan dan rincian rencana

tahunannya berdasarkan pada hasil evaluasi tahun sebelumnya dan mengacu pada

kebijakan kesehatan dari tingkat administrasi diatasnya, baik kabupaten/kota, provinsi,

dan pusat. Untuk kepentingan penyusunan perencanaan Puskesmas, perlu diselaraskan

dengan Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga dan program kesehatan

nasional lainnya

PENYUSUNAN RENCANA LIMA TAHUNAN

Dalam rangka meningkatkan prinsip penyelenggaraan Puskesmas, agar mampu

mencapai tujuan yang diharapkan, serta mengembangkan dan membina pelayanan

kesehatan di wilayahnya secara efektif dan efisien, perlu disusun rencana lima tahunan

31
ditingkat Puskesmas. Dengan adanya Rencana Lima Tahunan Puskesmas, maka

kelangsungan pelaksanaan kegiatan pelayanan kesehatan pada setiap tahun untuk satu

periode akan dapat lebih terjamin, walaupun terjadi pergantian pengelola dan pelaksana

kegiatan di Puskesmas maka diharapkan pengembangan program/kegiatan tetap berjalan

sesuai dengan Rencana Lima Tahunan yang telah ada. Penyusunan Rencana Lima

Tahunan Puskesmas dilakukan pada setiap periode lima tahun, dengantahap

pelaksanaannya sebagai berikut:

a. Persiapan

Tahap ini mempersiapkan staf Puskesmas yang terlibat dalam proses penyusunan

Rencana Lima Tahunan Puskesmas agar memperoleh kesamaan pandangan dan

pengetahuan untuk melaksanakan tahap perencanaan. Tahap ini dilakukan dengan

cara:

 Kepala Puskesmas membentuk Tim Manajemen Puskesmas yang anggotanya

terdiri dari Tim Pembina Wilayah, Tim Pembina Keluarga, Tim Akreditasi

Puskesmas, dan Tim Sistem Informasi Puskesmas.

 Kepala Puskesmas menjelaskan tentang Pedoman Manajemen Puskesmas

kepada tim agar dapat memahami pedoman tersebut demi keberhasilan

penyusunan Rencana Lima Tahunan Puskesmas.

 Tim mempelajari:

1. Rencana Lima Tahunan dinas kesehatan kabupaten/kota, yang merupakan

turunan dari Rencana Lima Tahunan dinas kesehatan provinsi dan Rencana

Lima Tahunan Kementerian Kesehatan.

2. Standar Pelayanan Minimal tingkat kabupaten/kota.

3. Target yang disepakati bersama dinas kesehatan kabupaten/kota, yang

menjadi tanggung jawab Puskesmas.

32
4. Pedoman Umum Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga.

5. Penguatan Manajemen Puskesmas Melalui Pendekatan Keluarga.

6. NSPK lainnya yang dianggap perlu untuk diketahui oleh tim di dalam

penyusunan perencanaan Puskesmas.

b. Analisis Situasi

Tahap ini dimaksudkan untuk memperoleh informasi mengenai keadaan dan

mengidentifikasi masalah kesehatan yang dihadapi Puskesmas, agar dapat merumuskan

kebutuhan pelayanan dan pemenuhan harapan masyarakat yang rasional sesuai

dengankeadaan wilayah kerja Puskesmas. Tahap ini dilakukan dengan cara:

1. Mengumpulkan Data Kinerja Puskesmas

Puskesmas mengumpulkan dan mempelajari data kinerja dan gambaran status

kesehatan masyarakat di wilayah kerja Puskesmas dalam 4 tahun yang dimulai dari

tahun N-5 sampai dengan tahun N-2 untuk setiap desa/kelurahan. N menunjukan

tahun yang akan disusun, sehingga untuk menyusun perencanaan lima tahunan

(sebagai contoh perencanaan lima tahunan periode tahun 2017-2021), maka data

kinerja akhir tahun yang dikumpulkan dan dipelajari adalah tahun 2012, 2013, 2014

dan 2015. Data yang dikumpulkan ditambah hasil evaluasi tengah periode (midterm

evaluation) dari dokumen laporan tahun berjalan(N-1). Adapun data kinerja dan

status kesehatan masyarakat diperoleh dari Sistem Informasi Puskesmas. Data yang

dikumpulkan adalah:

a. Data dasar, yang mencakup:

1. Identitas Puskesmas;

2. Wilayah kerja Puskesmas;

3. Sumber daya Puskesmas, meliputi:

 Manajemen Puskesmas;

33
 Gedung dan sarana Puskesmas;

 Jejaring Puskesmas, lintas sektor serta potensi sumber daya lainnya;

 Sumber daya manusia kesehatan; dan

 Ketersediaan dan kondisi peralatan Puskesmas.

b. Data UKM Esensial, yaitu:

1. Promosi Kesehatan;

2. Kesehatan Lingkungan;

3. Pelayanan Gizi KIA-KB;

4. Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular;

5. Surveilans dan Sentinel SKDR;

6. Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular.

c. Data UKM Pengembangan, antara lain:

 Upaya Kesehatan Sekolah (UKS);

 Kesehatan Jiwa;

 Kesehatan Gigi Masyarakat;

 Kesehatan Tradisional dan Komplementer;

 Kesehatan Olahraga;

 Kesehatan Kerja;

 Kesehatan Indera;

 Kesehatan Lanjut Usia; dan/atau

 Pelayanan kesehatan lainnya sesuai kebutuhan Puskesmas.

d. Data UKP, antara lain:

1. Kunjungan Puskesmas;

2. Pelayanan Umum;

3. Kesehatan Gigi dan Mulut; dan

34
4. Rawat Inap, UGD, Kematian, dll.

e. Data Keperawatan Kesehatan Masyarakat, data laboratorium, dan data

kefarmasian.

f. Kondisi keluarga di wilayah kerjanya yang diperoleh dari Profil Kesehatan

Keluarga (Prokesga) melalui pelaksanaan Program Indonesia Sehat dengan

Pendekatan Keluarga. Setiap keluarga pada wilayah kerja Puskesmas akan

terpantau kondisi status kesehatan sebuah keluarga terkait 12 indikator utama

sebagai berikut:

1. Keluarga mengikuti program Keluarga Berencana (KB);

2. Ibu melakukan persalinan di fasilitas kesehatan;

3. Bayi mendapat imunisasi dasar lengkap;

4. Bayi mendapat Air Susu Ibu (ASI) eksklusif;

5. Balita mendapatkan pemantauan pertumbuhan;

6. Penderita tuberkulosis paru mendapatkan pengobatan sesuai standar;

7. Penderita hipertensi melakukan pengobatan secara teratur;

8. Penderita gangguan jiwa mendapatkan pengobatan dan tidak ditelantarkan;

9. Anggota keluarga tidak ada yang merokok;

10. Keluarga sudah menjadi anggota Jaminan Kesehatan Nasional (JKN);

11. Keluarga mempunyai akses sarana air bersih; dan

12. Keluarga mempunyai akses atau menggunakan jamban sehat.

Data tersebut diolah dan dianalisis sehingga menghasilkan Indeks Keluarga Sehat

(IKS) pada tingkat keluarga, tingkat desa atau kelurahan, dan tingkat Puskesmas. Hasil

perhitungan IKS tersebut, selanjutnya dapat ditentukan kategori kesehatan masing-

masing keluarga dengan mengacu padaketentuan berikut:

35
 Nilai indeks > 0,800: keluarga sehat

 Nilai indeks 0,500 – 0,800 : pra-sehat

 Nilai indeks < 0,500 : tidak sehat

2. Analisis data.

Dalam rangka mendapatkan informasi sebagai landasan penyusunan Rencana Lima

Tahunan Puskesmas, dilaksanakan analisis data Puskesmas, berdasarkan hasil analisis

perhitungan IKS dan data kesehatan lain yang telah dikumpulkan. Beberapa metode

analisis data yang dapat dilaksanakan di Puskesmas adalah sebagai berikut:

a. Analisis Deskriptif

Menggambarkan/menjelaskan data yang terdapat dalam tabel sesuai karakteristik

data yang ditampilkan, termasuk nilai rata-rata, nilai minimal dan maksimal, serta

nilai kuartil. Misalnya nilai rata-rata cakupan imunisasi bayi, kisaran nilai maksimal

dan minimal cakupan imunisasi bayi.

b. Analisis Komparatif

Menjelaskan data dengan membandingkan karakteristik data wilayah yang satu

dengan wilayah lainnya atau membandingkan dengan target/standar tertentu, antar

jenis kelamin, antar kelompok umur, antar sumber data. Secara khusus, dengan

tersedianya data kesehatan yang terpilah menurut jenis kelamin, dapat

dikomparasikan derajat kesehatan, upaya kesehatan, dan sumber daya kesehatan

antara laki-laki dan perempuan. Misalnya perbandingan prevalensi gizi buruk pada

balita laki-laki dan perempuan.

c. Analisis Hubungan Dalam Program dan Antar Program Analisis hubungan dalam

program dan antar program adalah analisis yang menjelaskan hubungan/keterkaitan

variabel dalam dan atau antar program yang secara logika memiliki hubungan.

Analisis Hubungan Dalam Program misalnya cakupan K1, K4, Persalinan Normal

36
(PN) dan KN. Analisis Hubungan Antar Program misalnya KIA dengan Imunisasi

(cakupan TT 2-5 dengan cakupan K4 dan temuan TN; cakupan KN1 dengan cakupan

HB0).

3. Analisis masalah dari sisi pandang masyarakat, yang dilakukan melalui Survey

Mawas Diri/Community SelfSurvey (SMD/CSS):

 Survei Mawas Diri adalah kegiatan untuk mengenali keadaan dan masalah yang

dihadapi masyarakat, serta potensi yang dimiliki masyarakat untuk mengatasi

masalah tersebut. Potensi yang dimiliki antara lain ketersediaan sumber daya,

serta peluang-peluang yang dapat dimobilisasi. Hal ini penting untuk

diidentifikasi oleh masyarakat sendiri, agar selanjutnya masyarakat dapat

digerakkan untuk berperan serta aktif memperkuat upaya-upaya perbaikannya,

sesuai batas kewenangannya.

 Tahapannya dimulai dari pengumpulan data primer dan data sekunder,

pengolahan dan penyajian data masalah dan potensi yang ada dan membangun

kesepakatan bersama masyarakat dan kepala desa/kelurahan, untuk bersama-

sama mengatasi masalah kesehatan di masyarakat.

 Instrumen SMD/CSS disusun Puskesmas sesuai masalah yang dihadapi dan

masalah yang akan ditanggulangi Puskesmas. Instrumen yang disusun

mencakup format pendataan yang dilakukan wakil masyarakat yang dapat

mengidentifikasi masalah kesehatan masyarakat dan dapat memberi informasi

tentang:

Kepemilikan Kartu Menuju Sehat (KMS) balita; Status imunisasi dan status gizi

balita; Kondisi lingkungan permukiman/rumah tempat tinggal; Kondisi rumah,

ketersediaan air bersih layak konsumsi, cakupan jamban sehat, Sarana

Pembuangan Air Limbah (SPAL) di rumah tangga; Perawatan balita sehat dan

37
sakit; Upaya pemenuhan kebutuhan kesehatan balita (tumbuh kembang, gizi

seimbang, imunisasi, Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS), dll); Peranan

keluarga dalam pemanfaatan pelayanan kesehatan di Upaya Kesehatan Berbasis

Masyarakat (UKBM);

3. Perumusan Masalah

Darihasilanalisis data,dilaksanakanperumusanmasalah.Masalah adalah

kesenjangan antara harapan dan kenyataan.

Tahapan ini dilaksanakan melalui:

a. Identifikasi Masalah

Identifikasi masalah dilaksanakan dengan membuat daftar masalah yang

dikelompokkan menurut jenis upaya, target, pencapaian, dan masalah yang

ditemukan.

b. Menetapkan Urutan Prioritas Masalah

Mengingat adanya keterbatasan kemampuan dalam mengatasi masalah,

ketidaktersediaan teknologi yang memadai atau adanya keterkaitan satu masalah

dengan masalah lainnya, maka perlu dipilih masalah prioritas dengan jalan

kesepakatan tim. Bila tidak dicapai kesepakatan dapat ditempuh dengan

menggunakan kriteria lain. Dalam penetapan urutan prioritas masalah dapat

mempergunakan berbagai macam metode seperti metode USG

(Urgency,Seriousness, Growth) dan sebagainya.

Metode USG:

Urgency, Seriousness, Growth (USG) adalah salah satu alatuntuk menyusun

urutan prioritas isu yang harus diselesaikan. Caranya dengan menentukan tingkat

urgensi,keseriusan, dan perkembangan isu dengan menentukan skala nilai 1 – 5 atau 1 –

38
10. Isu yang memiliki total skor tertinggi merupakan isu prioritas. Untuk lebih jelasnya,

dapat diuraikan sebagai berikut:

(1) Urgency:

Seberapa mendesak isu tersebut harus dibahas dikaitkan dengan waktu yang

tersedia dan seberapa keras tekanan waktu tersebut untuk memecahkan masalah

yang menyebabkan isu tadi. Urgency dilihat dari tersedianya waktu, mendesak

atau tidak masalah tersebut diselesaikan.

(2) Seriousness:

Seberapa serius isu tersebut perlu dibahas dikaitkan dengan akibat yang timbul

dengan penundaan pemecahan masalah yang menimbulkan isu tersebut atau

akibat yang menimbulkan masalah-masalah lain kalau masalah penyebab isu tidak

dipecahkan. Perlu dimengerti bahwa dalam keadaan yang sama, suatu masalah

yang dapat menimbulkan masalah lain adalah lebih serius bila dibandingkan

dengan suatu masalah lain yang berdiri sendiri. Seriousness dilihat dari dampak

masalah tersebut terhadap produktifitas kerja, pengaruh terhadap keberhasilan,

dan membahayakan sistem atau tidak.

(3) Growth:

Seberapa kemungkinannya isu tersebut menjadi berkembang dikaitkan

kemungkinan masalah penyebab isu akan makin memburuk kalau dibiarkan.

c. Mencari Akar Penyebab Masalah

Setelah ditentukan masalah yang menjadi prioritas, selanjutnya dicari akar

penyebab dari masalah tersebut.

Penyebab masalah agar dikonfirmasi dengan data di Puskesmas. Beberapa metode

yang dapat dipergunakandalam mencari akar penyebab masalah yaitu:

1. Diagram sebab akibat dari Ishikawa (diagram tulang ikan/ fish bone).

39
2. Pohon Masalah (Problem Trees).

Kemungkinan penyebab masalah dapat berasal dari:

 Input (sumber daya): sarana, prasarana, alat kesehatan, tenaga, obat dan

bahan habis pakai, anggaran dan data.

 Proses (pelaksanaan kegiatan).

 Lingkungan.

Gambar 8

Diagram Tulang Ikan/ fish bone

40
Gambar 9

Pohon Masalah (Problem Trees)

d. Menetapkan Cara Pemecahan Masalah

Untuk menetapkan cara pemecahan masalah dapat dilakukan kesepakatan di antara

anggota tim dengan didahului brainstorming (curah pendapat). Bila tidak terjadi

kesepakatan dapat digunakan tabel cara pemecahan masalah.

41
PENYUSUNAN RENCANA TAHUNAN

Penyusunan Rencana Tahunan Puskesmas harus dilengkapi dengan usulan

pembiayaan untuk kebutuhan rutin, sarana, prasarana dan operasional Puskesmas.

Penyusunan Rencana Usulan Kegiatan (RUK) untuk tahun mendatang (N+1) disusun

pada bulan Januari tahun berjalan (N) berdasarkan hasil kajian pencapaian kegiatan

tahunsebelumnya (N-1), dan diharapkan proses penyusunan RUK telah selesai

dilaksanakan di Puskesmas pada akhir bulan Januari tahun berjalan (N).

Adapun tahapan penyusunan Rencana Tahunan Puskesmas seperti tahapan

penyusunan Rencana Lima Tahunan Puskesmas, yaitu:

a. Persiapan

Langkah-langkah dalam tahap persiapan dilaksanakan seperti tahap persiapan pada

penyusunan Rencana Lima Tahunan Puskesmas.

Pada tahap ini tim mempelajari:

1. Rencana Lima Tahunan Puskesmas

2. Penjabaran tahunan rencana capaian target Standar Pelayanan Minimal

tingkat kabupaten/kota.

3. Target yang disepakati bersama Dinas kesehatan kabupaten kota, yang

menjadi tanggung jawab Puskesmas.

4. Pedoman Umum Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga.

5. Penguatan Manajemen Puskesmas Melalui Pendekatan Keluarga.

6. NSPK lainnya yang dianggap perlu untuk diketahui oleh tim di dalam

penyusunan perencanaan Puskesmas.

42
b. Analisis Situasi

1. Mengumpulkan data kinerja Puskesmas:

Puskesmas mengumpulkan dan mempelajari data kinerja dan gambaran status

kesehatan masyarakat di wilayah kerja Puskesmas di tahun (N-2) untuk setiap

desa/kelurahan. N menunjukan tahun yang akan disusun, sehingga untuk menyusun

perencanaan tahunan (sebagai contoh tahun 2017), maka data kinerja yang

dikumpulkan dan dipelajari adalah data tahun 2015. Data diperoleh dari Sistem

Informasi Puskesmas.

2. Analisis data.

Hasil analisis data harus bisa menggambarkan:

1) Kecenderungan pencapaian status kesehatan masyarakat dan hasil

kinerja Puskesmas pada tahun (N-3 dan tahun (N-2). Status kesehatan keluarga

dan masyarakat dapat dilihat dari hasil Indeks Keluarga Sehat yang diperoleh

dari pelaksanaan Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga.

2) Hasil kinerja dan mutu penyelenggaraan kesehatan di tahun (N-2).

3) Prediksi status kesehatan dan tingkat kinerja Puskesmas di tahun N, baik

prediksi untuk pencapaian target kinerja dan status kesehatan masyarakatnya

maupun untuk kesenjangan pencapaian hasilnya serta antisipasi yang perlu

diperhatikan terhadap kemungkinan penyebab dan hambatan yang ada serta

yang mungkin akan terjadi.

4) Mengidentifikasi faktor-faktor yang mendukung kemungkinan adanya suatu

perubahan yang signifikan terjadi, baik perubahan ke arah yang lebih baik dan

perubahan kearah yang buruk, dan memanfaatkan pengalaman tersebut untuk

mengadakan perbaikan pelayanan kesehatan.

5) Ketersediaan dan kemampuan sumber daya Puskesmas.

43
3. Analisis masalah dari sisi pandang masyarakat, yang dilakukan melalui Survey

Mawas Diri/Community Self Survey (SMD/CSS).

c. Perumusan Masalah

PerumusanmasalahdilaksanakansepertipadaPenyusunanRencana Lima Tahunan

Puskesmas.

d. Penyusunan Rencana Usulan Kegiatan (RUK)

Penyusunan RUK diformulasikan setelah melalui tahapan diatas, bersama dengan

lintas sektor terkait dan didampingi oleh dinas kesehatan kabupaten/kota. Penyusunan

RUK terintegrasi kedalam sistem perencanaan daerah dan dalam tataran

targetpencapaian akses, target kualitas pelayanan, target pencapaian output dan

outcome, serta menghilangkan kondisi yang dapat menyebabkan kehilangan peluang

dari sasaran program untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang seharusnya dapat

dilaksanakan secara terintegrasi dalam satu pelaksanaan (missedopportunity). Seperti

cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan(PN) dengan cakupan Inisiasi Menyusui

Dini (IMD), Cakupan kunjungan neonatal pertama (KN1) dengan cakupan imunisasi

HB0, cakupan kunjungan neonatal 1 (KN1) dengan cakupan kunjungan nifas pertama

(KF1), dan lain sebagainya. Rencana usulan kegiatan dibuat sesuai contoh pada

formulir 4 terlampir.

e. Penyusunan Rencana Pelaksanaan Kegiatan (RPK)

Tahap penyusunan RPK dilaksanakan melalui pendekatan keterpaduan lintas program

dan lintas sektor dalam lingkup siklus kehidupan. Keterpaduan penting untuk

dilaksanakan mengingat adanya keterbatasan sumber daya di Puskesmas. Dengan

keterpaduan tidak akan terjadi missed opportunity, kegiatan Puskesmas dapat

terselenggara secara efisien, efektif, bermutu, dan target prioritas yang ditetapkan

pada perencanaan lima tahunan dapat tercapai.

44
Penyusunan RPK terintegrasi kedalam sistem perencanaan didaerah, dengan tahapan:

a. Mempelajari alokasi kegiatan dan biaya yang sudah disetujui.

b. Membandingkan alokasi kegiatan yang disetujui dengan RUK yang diusulkan dan

situasi pada saat penyusunan RPK.

c. Menyusun rancangan awal, rincian dan volume kegiatan yang akan dilaksanakan

serta sumber daya pendukung menurut bulan dan lokasi pelaksanaan.

d. Mengadakan Lokakarya Mini Bulanan Pertama untuk membahas kesepakatan

RPK.

e. Membuat RPK tahunan yang telah disusun dalam bentuk matriks.

2.2.2 Penggerakka dan Pelaksanaan

Penggerakan dan Pelaksanaan program/kegiatan merupakan kegiatan lanjutan

dari RPK. Penggerakan pelaksanaan program/kegiatan dapat dilakukan melalui berbagai

cara, diantaranya adalah rapat dinas, pengarahan pada saat apel pegawai, pelaksanaan

kegiatan dari setiap program sesuai penjadwalan pada Rencana Pelaksanaan Kegiatan

bulanan, maupun dilakukan melalui forum yang dibentuk khusus untuk itu. Forum yang

dibentuk khusus untuk melakukan penggerakan pelaksanaan program/kegiatan

dinamakan forum Lokakarya Mini Puskesmas.

Dalamrangkapenggerakan danpelaksanaanprogram/kegiatan,KepalaPuskesmas

dapat melakukan pengorganisasianulangpetugasdiPuskesmas dalam rangka penguatan

dan pemantapan organisasi.

a. Lokakarya Mini Bulanan

Lokakarya mini bulanan bertujuan untuk menilai sampai seberapa jauh

pencapaian dan hambatan-hambatan yang dijumpai oleh para pelaksana

program/kegiatan pada bulan atau periode yang lalu sekaligus pemantauan terhadap

45
pelaksanaan rencana kegiatan Puskesmas yang akan datang; sehingga dapat dibuat

perencanaan ulang yang lebih baik dan sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai.

Disamping itu, kita ketahui bersama bahwa keberhasilan pelaksanaan kegiatan

Puskesmas memerlukan keterpaduan baik lintas program maupun lintas sektor.

Lokakarya mini bulanan dilaksanakan pada setiap awal bulan.

b. Lokakarya Mini Tribulanan

Masalah kesehatan (termasuk kejadian kesakitan dan kematian) yang terjadi

dimasyarakat disebabkan oleh banyak faktor, dimana sebagai penyebab utamanya

diluar faktor kesehatan. Penyebab masalah kesehatan dapat disebabkan antara lain

oleh faktor lingkungan (termasuk sosial-ekonomi-budaya), perilaku masyarakat,

pelayanan kesehatan, keadaan demografi dan faktor keturunan. Oleh karena itu untuk

memecahkan masalah kesehatan dibutuhkan kerjasama antara sektor kesehatan

dengan sektor-sektor lain yang terkait dengan penyebab terjadinya masalah kesehatan.

Untuk menumbuhkan semangat kerjasama antar sektor yang terkait dalam

pembangunan kesehatan diperlukan upaya pengggalangan dan peningkatan kerjasama

lintas sektoral, agar diperoleh hasil yang optimal.

Untuk memelihara kerjasama lintas sektor perlu dilakukan upaya penggalangan

dan pemantauan pelaksanaan kerjasama melalui suatu forum lokakarya mini yang

diselenggarakan setiap tribulan yang disebut Lokakarya Mini Tribulanan. Lokakarya

mini tribulanan bertujuan untuk menginformasikan dan mengidentifikasikan capaian

hasil kegiatan tribulan sebelumnya, membahas dan memecahkan masalah dan

hambatan yang dihadapi oleh lintas sektor pada kegiatan tribulan sebelumnya, dan

menganalisa serta memutuskan Rencana Tindak Lanjut (RTL) dengan memasukkan

aspek umpan balik dari masyarakat dan sasaran program. Lokakarya mini bulanan

tetap dilaksanakan jika pada bulan yang bersamaan ada lokakarya mini tribulanan,

46
dimana lokakarya mini bulanan mempersiapkan bahan untuk pelaksanaan lokakarya

mini tribulanan.

2.2.3. Pengawasan, Pengendalian, dan penilaian Kinerja

Manajemen perencanaan yang telah ditetapkan sebagai Rencana Pelaksanaan

Kegiatan, perlu dilakukan pengawasan dan pengendalian agar target output dari setiap

kegiatan dapat dicapai secara optimal. Hal-hal yang menjadi faktor penghambat

pencapaian target output yang ditemukan pada proses pengawasan dan pengendalian,

dapat segera diatasi melalui penyesuaian perencanaan selanjutnya. Selain melalui forum

lokakarya mini, pelaksanaan pengawasan dan pengendalian secara internal dapat

dilaksanakan melalui kegiatan monitoring rutin terhadap upaya yang dilakukan, dengan

berpedoman pada NSPK masing-masing program. Hasil pengawasan dan pengendalian

akan dinilai didalam suatu proses penilaian kinerja Puskesmas, yang juga merupakan

instrument/tools untuk menilai pelaksanaan proses manajemen Puskesmas secara

keseluruhan.

Pengawasan Dan Pengendalian

Pengawasan Puskesmas dibedakan menjadi dua, yaitu pengawasan internal dan

eksternal. Pengawasan internal adalah pengawasan yang dilakukan oleh Puskesmas

sendiri, baik oleh Kepala Puskesmas, tim audit internal maupun setiap penanggung jawab

dan pengelola/pelaksana program. Adapun pengawasan eksternal dilakukan oleh instansi

dari luar Puskesmas antara lain dinas kesehatan kabupaten/kota, institusi lain selain

Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, dan/atau masyarakat.

Pengawasan yang dilakukan mencakup aspek administratif, sumber daya,

pencapaian kinerja program, dan teknis pelayanan. Apabila ditemukan adanya

ketidaksesuaian baik terhadap rencana, standar, peraturan perundangan maupun berbagai

47
kewajiban yang berlaku perlu dilakukan pembinaan sesuai dengan ketentuan yang

berlaku. Pengawasan dilakukan melalui kegiatan supervisi yang dapat dilakukan secara

terjadwal atau sewaktu-waktu.

Pengendalian adalah serangkaian aktivitas untuk menjamin kesesuaian

pelaksanaan kegiatan dengan rencana yang telah ditetapkan sebelumnya dengan cara

membandingkan capaian saat ini dengan target yang telah ditetapkan sebelumnya. Jika

terdapat ketidaksesuaian, maka harus dilakukan upaya perbaikan (correctiveaction).

Kegiatan pengendalian ini harus dilakukan secara terusmenerus. Pengendalian dapat

dilakukan secara berjenjang oleh Dinas kesehatan kabupaten/kota, Kepala Puskesmas,

maupun penanggung jawab program.

Tujuan dari pengawasan dan pengendalian adalah sebagai berikut:

1. Mengetahui sejauh mana pelaksanaan pelayanan kesehatan, apakah sesuai dengan

standar atau rencana kerja, apakah sumber daya telah ada dan digunakan sesuai

dengan yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien.

2. Mengetahui adanya kendala, hambatan/tantangan dalam melaksanakan pelayanan

kesehatan, sehingga dapat ditetapkan pemecahan masalah sedini mungkin.

3. Mengetahui adanya penyimpangan pada pelaksanaan pelayanan kesehatan

sehingga dapat segera dilakukan klarifikasi.

4. Memberikan informasi kepada pengambil keputusan tentang adanya

penyimpangan dan penyebabnya, sehingga dapat mengambil keputusan untuk

melakukan koreksi pada pelaksanaan kegiatan atau program terkait, baik yang

sedang berjalan maupun pengembangannya di masa mendatang.

5. Memberikan informasi/laporan kepada pengambil keputusan tentang adanya

perubahan-perubahan lingkungan yang harus ditindaklanjuti dengan penyesuaian

kegiatan.

48
6. Memberikan informasi tentang akuntabilitas pelaksanaan danhasil kinerja

program/kegiatan kepada pihak yang berkepentingan, secara kontinyu dan dari

waktu ke waktu.

Penilaian Kinerja Puskesmas

Penilaian Kinerja Puskesmas adalah suatu proses yang obyektif dan sistematis

dalam mengumpulkan, menganalisis dan menggunakan informasi untuk menentukan

seberapa efektif dan efisien pelayanan Puskesmas disediakan, serta sasaran yang dicapai

sebagai penilaian hasil kerja/prestasi Puskesmas. Penilaian Kinerja Puskesmas

dilaksanakan oleh Puskesmas dan kemudian hasil penilaiannya akandiverifikasi oleh

dinas kesehatan kabupaten/kota.

Tujuan dilaksanakannya penilaian kinerja adalah agar Puskesmas:

1. Mendapatkan gambaran tingkat kinerja Puskesmas (hasil cakupan kegiatan, mutu

kegiatan, dan manajemen Puskesmas) pada akhir tahun kegiatan.

2. Mendapatkan masukan untuk penyusunan rencana kegiatan di tahun yang akan

datang.

3. Dapat melakukan identifikasi dan analisis masalah, mencari penyebab dan latar

belakang serta hambatan masalah kesehatan di wilayah kerjanya berdasarkan

adanya kesenjangan pencapaian kinerja.

4. Mengetahui dan sekaligus dapat melengkapi dokumen untuk persyaratan akreditasi

Puskesmas.

5. Dapat menetapkan tingkat urgensi suatu kegiatan untuk dilaksanakan segera pada

tahun yang akan datang berdasarkan prioritasnya.

Adapun aspek penilaian meliputi hasil pencapaian pelaksanaan pelayanan

kesehatan dan manajemen Puskesmasn. Berdasarkan hasil verifikasi, dinas kesehatan

49
kabupaten/kota menetapkan Puskesmas kedalam kelompoknya sesuai dengan pencapaian

kinerjanya.

Ruang lingkup dan tahap pelaksanaan penilaian kinerja Puskesmas sebagai berikut:

a. Pencapaian cakupan pelayanan kesehatan meliputi:

1) UKM esensial yang berupa pelayanan promosi kesehatan, pelayanan kesehatan

lingkungan, pelayanan kesehatan ibu, anak dan keluarga berencana, pelayanan

gizi, dan pelayanan pencegahan dan pengendalian penyakit.

2) UKM pengembangan, dilaksanakan setelah Puskesmas mampu melaksanakan

UKM esensial secara optimal, mengingat keterbatasan sumber daya dan adanya

prioritas masalah kesehatan.

3) UKP, yang berupa rawat jalan, pelayanan gawat darurat, pelayanan satu hari

(one day care), home care; dan/atau rawat inap berdasarkan pertimbangan

kebutuhan pelayanan kesehatan.

b. Pelaksanaan manajemen Puskesmas dalam penyelenggaraan kegiatan, meliputi:

1) Proses penyusunan perencanaan, penggerakkan pelaksanaan dan pelaksanaan

penilaian kinerja;

2) Manajemen sumber daya termasuk manajemen sarana, prasarana, alat, obat,

sumber daya manusia dan lain-lain;

3) Manajemen keuangan dan Barang Milik Negara/Daerah

4) Manajemen pemberdayaan masyarakat;

5) Manajemen data dan informasi; dan

6) Manajemen program, termasuk Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan

Keluarga.

7) Mutu pelayanan Puskesmas, meliputi:

 Penilaian input pelayanan berdasarkan standar yang ditetapkan.

50
 Penilaian proses pelayanan dengan menilai tingkat kepatuhannya terhadap

standar pelayanan yang telah ditetapkan.

 Penilaian output pelayanan berdasarkan upaya kesehatan yang

diselenggarakan, dimana masing-masing program/kegiatan mempunyai

indikator mutu sendiri yang disebut Standar Mutu Pelayanan (SMP). Sebagai

contoh: Angka Drop Out Pengobatan pada pengobatan TB Paru.

 Penilaian outcome pelayanan antara lain melalui pengukuran tingkat

kepuasan pengguna jasa pelayanan Puskesmas dan pencapaian target

indikator outcome pelayanan.

Selanjutnya dalam upaya peningkatan mutu pelayanan Puskesmas, Puskesmas

wajib diakreditasi oleh lembagaindependen penyelenggara akreditasi yang ditetapkan

oleh Menteri, secara berkala paling sedikit 3 (tiga) tahun sekali.

51
BAB III

PROFIL PUSKESMAS

3.1. Visi dan Misi Puskesmas

Untuk terselengaranya upaya kesehatan bermutu bagi masyarakat di wilayah

kerjanya, maka Tim Manajemen Puskesmas harus mampu bekerja dengan baik dan

profesional, dibawah koordinasi dan supervisi kepala Puskesmas yang menjalankan

fungsi kepemimpinannya yang baik dan tepat sesuai situasi dan kondisi. Upaya

kesehatan yang diberikan harus selalu memperhatikan kepentingan, kebutuhan dan

harapan masyarakat sebagai konsumen eksternal, kepentingan dan kepuasan dari seluruh

staf Puskesmas sebagai konsumen internal, serta pemerintah daerah kabupaten/kota

sebagai pemilik/owner.

Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya puskesmas mempunyai visi dan misi yaitu:

a. Visi

Terwujudnya masyarakat Sehat di Wilayah Kelurahan Pegambiran yang Mandiri dan

Adil menuju Kota Cirebon yang Religius, Aman, Maju, Aspiratif, dan Hijau

(RAMAH).

b. Misi

a. Mendorong kemandirian individu, keluarga, dan masyarakat untuk hidup sehat dan

produktif

b. Mewujudkan pelayanan kesehatan yang bermutu dan terjangkau

c. Meningkatkan kerjasama lintas sektor dan mengembangkan manajemen efektif

dalam memberikan pelayanan

d. Meningkatkan kemitraan dengan berbagai pihak terkait dalam upaya meningkatkan

mutu pelayanan dan pemberdayaan masyarakat.

52
Motto

“Melayani dengan SENYUM dan Hati NURANI yang ikhlas”

Tata Nilai

“NURANI” Niat – Unggul – Responsif – Aktif – Normati - Iklas

3.2. Tujuan Puskesmas

1. Meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan kepada masyarakat

2. Ameningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang

yang bertempat tinggal di wilayah puskesmas

3. Memberdayakan individu dan masyarakat untuk memelihara, meningkatkan dan

melindungi kesehatannya sendiri dan lungkungan menuju masyarakat yang sehat,

mandiri dan produktif.

Strategi

Strategi yang digunakan adalah “SENYUM” dengan rincian sebagai berikut :

Sambut pasien dengan senyum dan salam yang hangat.

Eksplorasi dan bantu menemukan masalah kesehatan pasien.

Niat yang tulus untuk menyelesaikan masalah kesehatan pasien dengan kemampuan

terbaik.

Yakinkan pada pasien bahwa kita akan menangani pasien sesuai dengan prosedur.

Umum, artinya memperlakukan semua pasien secara adil tanpa membedakan status

social, suku, agama, maupun politik.

Mutu, artinya pelayanan kesehatan yang kita berikan adalah sesuai standar profesi dan

memuaskan pelanggan.

53
3.3. Lokasi Puskesmas

Batas wilayah Kelurahan Pegambiran yang merupakan wilayah kerja Puskesmas

Pegambiran adalah sebagai berikut :

1. Sebelah Utara : Sungai Kriyan/ Kelurahan Kesepuham

2. SebelahSelatan : Sungai Kalijaga/ Kabupaten Cirebon

3. SebelahBarat : Sungai Cikalong/ Keluarahan Larangan

4. SebelahTimur : Laut Jawa

Gambar 10.

Peta Wilayah Puskesmas Pegambiran.

54
Secara administratif wilayah kelurahan Pegambiran dibagi dalam 17 RW dan 83 RT.

No Nama RW Jumlah RT

1 RW 01 Kemakmuran 7

2 RW 02 Paguyuban 6

3 RW 03 Karangdawa Barat 9

4 RW 04 Karangdawa Timur 5

5 RW 05 Kejawanan 6

6 RW 06 Karang Wangun 2

7 RW 07 Karang mulya 4

8 RW 08 Karang Anom 7

9 RW 09 Api-api 2

10 RW 10 Pegambiran 5

11 RW 11 Petireman 4

12 RW 12 Sirandu 4

13 RW 13 Kertasemboja 6

14 RW 14 Kutasirap 3

15 Rw 15 Gambir baru 3

16 Rw 16 Kriyan Timur 4

17 Rw 17 Kriyan Barat 6

Jumlah 83

Tabel 2

Nama RW dan Jumlah RT Kelurahan Pegambiran

55
3.4. Fasilitas Puskesmas

a. Gedung Puskesmas dan Rumah Paramedis.

Puskesmas Pegambiran menempati sebuah gedung permanen bertingkat (Lantai 1

dan 2) menempati tanah seluas 883 m². ( No. HP. 30 ). Memiliki satu Puskesmas

Pembantu Api-Api (dibangun pada tahun 2006) .Rumah dinas paramedis ada 3 (tiga) unit

yaitu 2 (dua) unit di Pustu Api-Api dan satu unit di Kriyan.

b. Kendaraan dinas operasional :

No Jenis Kendaraan Jumlah Kondisi

1 Ambulance PONED (KIA –Travelo) 2016 1 Baik

2 Ambulance Suzuki APV ( Suzuki APV lux .th. 2013 ) 1 Baik

3 Sepeda motor Honda Supra 100 cc (2007) 2 Baik

4 Sepeda motor Honda Fits 100 cc (2007) 1 Baik

5 Sepeda motor Yamaha 125 cc Soul (2016) 4 Baik

Tabel 3

Distribusi Jenis Kendaraan Dinas Puskesmas

c. Pelayanan Kesehatan :

1) Produk Pelayanan Kesehatan

a). Kepuasan pasien setelah mendapatkan pelayanan kesehatan

b). Pasien sembuh dari penyakit/ masalah kesehatan lainnya.

c). Pemberian Obat yang tepat sesuai dengan penyakitnya

2) Fasilitas yang tersedia di Puskesmas Pegambiran sebagai berikut:

a) Loket pendaftaran dengan menggnakan aplikasi komputer

b) Ruangan konsultasi terpadu ( Klinik sanitasi, konsultasi gizi, kesehatan remaja,

berhenti merokok, LROA )

56
c) Ruangan bermain Anak

d) Ruangan Akupresure untuk ibu hamil dan bayi

e) Ruangan refleksi kaki

f) Ruang tunggu pasien

g) Sarana APAR

h) Sarana IPAL dan Gudang Limbah

i) Kotak saran dan Papan Tanggapan keluhan

j) Ruangan laktasi

3) Jenis-jenis Pelayanan Kesehatan :

a) Pelayanan Kesehatan Ibu (Kebidanan) dan Kesehatan Anak .

b) Pelayanan Persalinan Normal (PONED)

c) Pelayanan Kesehatan Umum ( BP Umum )

d) Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut

e) Pelayanan kefarmasian (Obat-obatan)

f) Pelayanan Imunisasi

g) Pelayanan Konseling :

- Klinik Sanitasi

- Klinik Gizi

- MTBS dan MTBM

- Kesehatan Remaja

- Psikolog (Dengan perjanjian)

h)Pelayanan keuring (pemeriksaan kesehatan bagi pelajar/ pencari kerja )

i)Pelayanan Pemeriksaan dan pengobatan Tuberkulosa (DOTS)

j) Pelayanan rujukan kesehatan ke rumah sakit

k) Pelayanan Akupresure bagi Ibu Hamil dan bayi

57
4) Standar Biaya Pelayanan Kesehatan

 Biaya retribusi pelayanan kesehatan di Puskesmas Pegambiran yaitu Rp. 4.000,- (

Empat Ribu Rupiah ) sesuai dengan Peraturan Daerah Kota Cirebon nomor 6 tahun

2008 tentang perubahan atas peraturan daerah kota Cirebon nomor 4 tahun 2001

dan nomor 17 tahun 2002 tentang retribusi pelayanan kesehatan dan perijinan

penyelenggaraan di bidang kesehatan.

 Dengan adanya Peraturan Daerah Kota Cirebon Nomor 3 Tahun 2014 tentang

Perubahan atas Peraturan Daerah Kota Cirebon Nomor 5 Tahun 2012 tentang

Retribusi Jasa Umum, maka mulai 1 April 2014 Pelayanan Retribusi Rawat

Jalan pada UPTD Puskesmas sebesar Rp. 4.000,00 tidak dipungut / gratis,

ketentuan berlaku bagi penduduk Kota Cirebon dengan persyaratan menunjukkan

Kartu Tanda Penduduk (KTP) atau Kartu Keluarga ( KK ). Namun untuk tindakan-

tindakan medis masih diberlakukan dengan besar tarif sesuai dengan Perda diatas.

 Bagi Peserta Jaminan Kesehatan (BPJS), baik Penerima Bantuan Iuran (PBI)

ataupun Bukan Penerima Bantuan Iuran yang sudah terdaftar sebagai peserta akan

mendapat pelayanan dan dibayar oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS)

melalui dana Kapitasi. Dan berlaku mulai tanggal 1 Januari 2014.

 Bagi masyarakat yang tidak termasuk dalam ketentuan diatas maka diberlakukan

Peraturan Daerah Kota Cirebon Nomor 3 Tahun 2014 tentang Perubahan atas

Peraturan Daerah Kota Cirebon Nomor 5 Tahun 2012 tentang Retribusi Jasa

Umum, yaitu Rp. 4000,00,-

3.5. Sumber Daya Manusia

Sumber daya manusia Puskesmas terdiri atas Tenaga Kesehatan dan tenaga non

kesehatan. Jenis dan jumlah Tenaga Kesehatan dan tenaga non kesehatan dihitung

58
berdasarkan analisis beban kerja, dengan mempertimbangkan jumlah pelayanan yang

diselenggarakan, jumlah penduduk dan persebarannya, karakteristik wilayah kerja, luas

wilayah kerja, ketersediaan fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama lainnya di

wilayah kerja, dan pembagian waktu kerja.

Jenis Tenaga Kesehatan paling sedikit terdiri atas:

a. dokter atau dokter layanan primer;

b. dokter gigi;

c. perawat;

d. bidan;

e. tenaga kesehatan masyarakat;

f. tenaga kesehatan lingkungan;

g. ahli teknologi laboratorium medik;

h. tenaga gizi; dan

i. tenaga kefarmasian.

Tenaga non kesehatan harus dapat mendukung kegiatan ketatausahaan, administrasi

keuangan, sistem informasi, dan kegiatan operasional lain di Puskesmas.

3.6. Upaya Kesehatan

Puskesmas menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat tingkat pertama dan

upaya kesehatan perseorangan tingkat pertama yang dilaksanakan secara terintegrasi dan

berkesinambungan. Upaya kesehatan masyarakat tingkat pertama meliputi upaya

kesehatan masyarakat esensial dan upaya kesehatan masyarakat pengembangan.

Upaya kesehatan masyarakat esensial meliputi:

a. pelayanan promosi kesehatan;

b. pelayanan kesehatan lingkungan;

59
c. pelayanan kesehatan ibu, anak, dan keluarga berencana;

d. pelayanan gizi; dan

e. pelayanan pencegahan dan pengendalian penyakit.

Upaya kesehatan masyarakat pengembangan merupakan upaya kesehatan

masyarakat yang kegiatannya memerlukan upaya yang sifatnya inovatif dan/atau bersifat

ekstensifikasi dan intensifikasi pelayanan, disesuaikan dengan prioritas masalah

kesehatan, kekhususan wilayah kerja dan potensi sumber daya yang tersedia di masing-

masing Puskesmas.

3.7. Pendanaan

Pendanaan di Puskesmas bersumber dari:

1. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD)

2. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)

3. Sumber-sumber lain yang sah dan tidak mengikat.

3.8. Sistem Informasi Puskesmas

Setiap Puskesmas wajib melakukan kegiatan sistem informasi Puskesmas.Sistem

Informasi Puskesmas dapat diselenggarakan secara eletronik atau non elektronik.

Sistem informasi Puskesmas paling sedikit mencakup:

a. pencatatan dan pelaporan kegiatan Puskesmas dan jaringannya

b. survei lapangan

c. laporan lintas sektor terkait

d. laporan jejaring fasilitas pelayanan kesehatan di wilayah kerjanya.

Dalam menyelenggarakan sistem informasi, Puskesmas wajib menyampaikan

laporan kegiatan Puskesmas secara berkala kepada dinas kesehatan kabupaten/kota.

60
Laporan kegiatan Puskesmas merupakan sumber data dari pelaporan data kesehatan

prioritas yang diselenggarakan melalui komunikasi data.

3.9. Pembinaan Dan Pengawasan

Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota

serta fasilitas pelayanan kesehatan rujukan tingkat lanjutan milik Pemerintah dan

Pemerintah Daerah melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap penyelenggaraan

Puskesmas, sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing. Pemerintah, Pemerintah

Daerah Provinsi, dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dapat melibatkan organisasi

profesi dalam melakukan pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan Puskesmas.

Pembinaan dan pengawasan diarahkan untuk meningkatkan mutu pelayanan kepada

masyarakat.

Pembinaan dan pengawasan dalam bentuk fasilitasi, konsultasi, pendidikan dan

pelatihan serta penelitian dan pengembangan.

61
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Analisis SWOT Puskesmas Pegambiran

4.1. Analisis Lingkungan Dalam Puskesmas

 Strength (kekuatan)

Puskesmas telah didirikan di hampir seluruh pelosok tanah air. Untuk menjangkau

seluruh wilayah kerja, Puskesmas diperkuat dengan Puskesmas Pembantu sereta

Puskesmas Keliling.

1. Sumber Daya Manusia (Man / Manusia)

Tenaga Kesehatan terdiri atas

a. Dokter umum : 2

b. Dokter gigi : 1

c. Perawat : 13

d. Bidan : 19

e. Tenaga kesehatan masyarakat : 2

f. Tenaga kesehatan lingkungan : 1

g. Ahli teknologi laboratorium medik : 2

h. Tenaga gizi : 2

i. Tenaga kefarmasian : 3

Tenaga Non Kesehatan

a. KTU : 1

b. Rekam Medik : 1

c. Pendaftaran : 2

d. Administrasi : 2

62
e. Kebersihan : 2

f. Keamanan : 2

Untuk Manajemen kebutuhan tenaga kesehatan dilakukan dengan metode ABK

(Analisis Beban Kerja)

Gambar 11.

Perhitungan kebutuhan tenaga kesehatan dengan metode ABK (Analisa Beban Kerja)

63
2. Fasilitas yang tersedia di Puskesmas Pegambiran (Material)

a) Loket pendaftaran dengan menggnakan aplikasi komputer

b) Ruangan konsultasi terpadu ( Klinik sanitasi, konsultasi gizi, kesehatan remaja,

berhenti merokok, LROA )

c) Ruangan bermain Anak

d) Ruangan Akupresure untuk ibu hamil dan bayi

e) Ruangan refleksi kaki

f) Ruang tunggu pasien

g) Sarana APAR

h) Sarana IPAL dan Gudang Limbah

i) Kotak saran dan Papan Tanggapan Keluhan

j) Ruangan laktasi

3. Jenis-jenis Pelayanan Kesehatan (Machines / Mesin)

a) Pelayanan Kesehatan Ibu (Kebidanan) dan Kesehatan Anak

b) Pelayanan Persalinan Normal (PONED)

c) Pelayanan Kesehatan Umum ( BP Umum )

d) Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut

e) Pelayanan kefarmasian (Obat-obatan)

f) Pelayanan Imunisasi

g) Pelayanan Konseling :

- Klinik Sanitasi

- Klinik Gizi

- MTBS dan MTBM

- Kesehatan Remaja

- Psikolog (Dengan perjanjian)

64
h) Pelayanan keuring (pemeriksaan kesehatan bagi pelajar/pencari kerja)

i) Pelayanan Pemeriksaan dan pengobatan Tuberkulosa (DOTS)

j) Pelayanan rujukan kesehatan ke rumah sakit

k) Pelayanan Akupresure bagi Ibu Hamil dan bayi lain-lain.

4. Pendanaan (Money / Modal)

Pemerintah daerah telah menyediakan dana dari pengembalian retribusi pendapatan

Puskesmas dengan besaran yang bervariasi di setiap kabupaten/kota.

Pendanaan di Puskesmas bersumber dari:

1. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD)

2. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)

3. Sumber-sumber lain yang sah dan tidak mengikat.

Dalam proses manajemen pendanaan puskesmas menggunakan Aplikasi RENBUT

(Rencana Kebutuhan) yang langsung berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan

Provinsi.

5. Panduan pelaksanaan kegiatan Puskesmas (Metode / Prosedur)

 Adanya standard operating procedure (S O P ) yang telah dibuat dan

diperbaharui setiap tahunnya.

 Adanya sistem informasi manajemen Puskesmas yang bersumber dari sitem

pencatatan dan pelaporan Puskesmas, sistem informasi Posyandu, laporan sarana

kesehatan swasta, laporan lintas sektor, dan lain-lain.

 Adanya sistem Kesehatan Nasional dan UU tentang Kesehatan serta peraturan

perundang-undangan lainnya sebagai pedoman dalam penyelenggaraan

pembangunan kesehatan.

 Adanya sistem Kesehatan Nasional dan UU tentang Kesehatan serta peraturan

perundang-undangan lainnya sebagai pedoman dalam penyelenggaraan

65
pembangunan kesehatan.

4.2. Analisis Lingkungan Luar Puskesmas

 Opportunity (kesempatan/peluang)

1. Adanya komitmen dan dukungan politis dari pemerintah daerah dan DPRD

kabupaten atau kota untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

2. Kemajuan pengetahuan dan teknologi dalam bidang kesehatan memberi peluang

untuk mempercepat peningkatan pemerataan pelayanan serta kualitas pelayanan

Puskesmas.

3. Adanya peran serta masyarakat dalam upaya kesehatn berupa UKBM antara

lain Posyandu, Polindes, Poskesdes, Posbindu, dan lain-lain.

4. Adanya komitmen dan dukungan dari stakeholders serta tokoh masyarakat

terhadap program Puskesmas.

5. Adanya momentum program kesehatan yang strategis seperti Gerakan Sayang

Ibu, Desa Siaga, Gerakan Terpadu Nasional, dan lain-lain.

6. Keadaan geografis yang dapat dijangkau oleh kendaraan serta tersedianya sarana

transportasi dan komunikasi yang sudah menjangkau seluruh wilayah kerja

Puskesmas

66
BAB V

PENUTUP

5.1. Kesimpulan

SWOT merupakan akronim dari Strenght (kekuatan) dan Weakness

(kelemahan), Opportunity (kesempatan atau peluang) dan Threat (ancaman atau

rintangan atau tantangan). Analisis SWOT dapat merupakan alat yang ampuh dalam

melakukan analisis strategik, karena analisis ini memiliki kemampuan untuk

memaksimalkan peranan faktor kekuatan dan memanfaatkan peluang serta berperan

untuk meminimalisasi kelemahan organisasi dan menekan dampak ancaman yang

timbul dan harus dihadapi. SWOT digunakan saat mengembangkan rencana strategis

atau perencanaan solusi untuk masalah, namun baru dapat diaplikasikan setelah

menganalisis lingkungan eksternal dan internal. Analisis SWOT merupakan

perkembangan hubungan atau interaksi antar unsur-unsur internal, yaitu kekuatan dan

kelemahan terhadap unsur-unsur eksternal yaitu peluang dan ancaman. Didalam

penelitian analisis SWOT kita ingin memperoleh hasil berupa kesimpulan-kesimpulan

berdasarkan keempat faktor dimuka yang sebelumnya telah dianalisa (strength,

weakness, opportunity, dan threat).

Puskesmas memberikan pengaruh positif terhadap kepuasan pasien, dapat dilihat

dari jenis kelamin tidak ada perbedaan antara pria dan wanita, remaja maupun orang

yang sudah lansia. Dahulu banyak orang yang beranggapan bahwa Puskesmas

keberadaanya hanya ada di pedesaan, tetapi sekarang lokasi Puskesmas dapat mudah

dijangkau di tengah kota, sehinnga dapat diterima dikalangan Masyarakat. Fasilitas di

Puskesmas tidak kalah dengan fasilitas yang berada di Rumah sakit, Pelayanan di

Pukesmas pada saat ini sudah cukup baik, karena telah didukung dengan fasilitas-

67
fasilitas yang memadai.

Keluhan-keluhan yang berhasil dari para pengguna jasa penanganannya selama

ini tindak lanjutnya belum terlihat jelas, kotak saran yang ada lebih banyak kosong hal

ini dapat disebabkan beberapa keluhan mereka selama ini tidak atau belum mendapat

tanggapan dari pihak Puskesmas. Gap atau kesenjangan mereka akan hal ini juga cukup

besar, hal ini kembali lagi berasal dari paradigma lama yang masih dianut oleh pihak

penyedia jasa pelayanan bahwa meraka adalah yang berwenang dan pelanggan adalah

pihak yang menerima sehingga tidakboleh banyak menuntut danmengeluh.

Dengan menggunakan strategi pelayanan yaitu strategi untuk memberikan

pelayanan kepada pelanggan dengan kualitas sebaik mungkin sesuai standar yang telah

diterapkan Pemerintah yang tertuang dalam PERMENKES Nomor 75 tahun 2014

tentang Puskesmas dan PERMENKES Nomor 44 tahun 2016 tentang Manajemen

Puskesmas. Standar pelayanan diterapkan sesuai keinginan dan harapan pelanggan

sehingga tidak terjadi kesenjangan antara pelayanan yang diberikan dengan harapan

pelanggan. Strategi pelayanan harus pula dirumuskan dan di implementasikan seefektif

mungkin sehingga mampu membuat pelayanan yang diberikan kepada pelanggan tampil

beda dengan persainganya, puskesmas harus fokus kepada kepuasan pelanggan sehingga

perusahaan mampu membuat pelanggan melakukan pembelian ulang bahkan meraih

pelanggan baru.

Weakness (kelemahan)

1. Visi, misi dan tujuan Puskesmas belum dipahami sepenuhnya oleh pimpinan dan staf

Puskesmas. Hal tersebut dapat melemahkan komitmen, dukungan dan keikutsertaan

pegawai dalam mengembangkan fungsi Puskesmas. Mereka terperangkap oleh tugas-

tugas rutin yang bersifat kuratif yang kebanyakan dilakukan di dalam gedung

Puskesmas. Akibatnya, kegiatan Puskesmas di luar gedung yang bersifat promotif

68
dan preventif kurang mendapatkan perhatian.

2. Beban kerja Puskesmas sebagai Unit Pelaksana Teknis Dinas kesehatan kota terlalu

berat. Pertama karena rujukan kesehatan dan dari Dinas kesehatan kota kurang

berjalan. Kedua karena Dinas kesehatan kota yang sebenarnya bertanggung jawab

penuh terhadap keberhasilan pembangunan kesehatan secara menyeluruh di wilayah

kota lebih banyak melaksanakan tugas-tugas administratif.

3. Puskesmas masih bersifat sentralistis, dimana Puskesmas belum memiliki

keleluasaan menetapkan kebijakan program yang sesuai dengan kebutuhan

masyarakat setempat.

4. Citra Puskesmas masih kurang baik, utamanya yang berkaitan mutu, penampilan fisik

Puskesmas kurah bersih, nyaman, disiplin profesionalisme, dan keramahan petugas

dalam pelayanan kesehatan yang masih lemah.

5. Belum tersedianya sumber daya Puskesmas yang memadai seperti ketersediaan

tenaga belum sesuai standar ketenagaan Puskesmas dan Penyebaran tidak merata,

kemampuan dan kemauan petugas belum memadai, penanggung jawab program

Puskesmas belum memiliki kemampuan manajerial program, pengembangan sumber

daya tenaga kesehatan tidak berorientasi pada kebutuhan Puskesmas atau program,

namun seringkali merupakan keinginan dari pegawai yang bersangkutan: kurangnya

tanggung jawab, motivasi, dedikasi, loyalitas dan kinerja petugas Puskesmas

6. Ketersediaan obat-obatan baik jenis maupun jumlahnya terbatas karena pengadaan

melalui dana JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) hanya untuk obat generik, Daftar

Fornas (Formularium Nasional), Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) dan E-

Katalog.

69
Threat (ancaman/ rintangan/ tantangan)

1. Terjadinya transisi epidemiologi baik oleh pengaruh perubahan struktur penduduk

dan perubahan gaya hidup masyarakat menyebabkan beban ganda pelayanan

kesehatan yaitu tidak saja pada masalah penyakit infeksi tetapi juga penyakit

degeneratif. Selain itu pelayanan kesehatan juga menghadapi masalah penyakit yang

pada akhir ini cenderung meningkat seperti tuberculosa, demam berdarah dengue.

Fenomena- fenomena tersebut merupakan tantangan sekaligus ancaman

pengembangan Puskesmas.

2. Terjadinya krisis ekonomi yang belum sepenuhnya pulih tidak saja menambahi

jumlah penduduk miskin, tetapi juga menurunkan kemampuan pemerintah dalam

menyediakan anggaran untuk pembangunan kesehatan.

3. Puskesmas masih belum berhasil dalam menggali, menghimpun dan mengorganisasi

partisipasi masyarakat serta membina kemitraan dengan sektor lain yang terkait.

4. Berkembangnya pelayanan kesehatan swasta yang lebih profesional, bermutu, dan

bernuansa profit merupakan ancaman terhadap pelayanan kesehatan pemerintahan

termasuk Puskesmas.

5. Mobilisasi penduduk yang tinggi menyebabkan penularan penyakit yang cepat serta

perubahan lingkungan dan perilaku sosial budaya masyarakat merupakan ancaman

terhadap semakin meningkatnya masalah kesehatan.

6. Perilaku Hidup Bersih dana Sehat (PHBS) masih belum memasyarakat dan

membudaya baik PHBS rumah tangga, sarana kesehatan, institusi pendidikan, tempat

kerja, maupun tempat-tempat umum.

70
5.2. Saran

1. Perlunya tambahan pengetahuan melelui pelatihan-pelatihan yang bersifat teknis

untuk semua jajaran di Puskesmas agar lebih memahami dalam pelaksanaan tugas

sehari-hari dan juga diperlukan kursus manajemen jasa yang akan mengubah cara

berpikir petugas bahwa pentingnya mutu kualitas pelayanan bagipasien.

2. Perlunya pengelolaan keluhan secara baik dalam praktek Pelayanan sehari-hari,

sehingga jika dimungkinkan perlu dibentuk suatu unit yang berfungsi untuk

melakukan monitoring kepada masyarakat tentang, kritik dan saran melalui kotak

saran yang telah disediakan dan kegiatan-kegiatan yang menciptakan partisipasi

masyarakat dalam menanggapai keluhan masyarakat dalam lokakarya mini

(Lokmin) yang diadakan oleh pihak Puskesmas tiap bulannya. Dan perlu dibuat

aturan main yang mengatur ketat tentang ”Reward” dan ”Punishment” bagi petugas

Pelayanan, sehingga akan memberikan motivasi yang baik bagi petugas pelayanan

dan kepuasan pelanggan.

3. Pihak Puskesmas harus mempersiapkan diri untuk membuat lebih baik lagi dalam

memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakst, sebab pengetahuan

pelanggan penggunaan jasa pelayanan kesehatan akan terus berkembang meningkat

dan kesadaran mereka untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dengan mutu yang

baik akan semakin meningkat sehingga hal tersebut akan mengakibatkan tuntunan

yang lebih besar lagi terhadap kualitas pelayananyang diterima oleh mereka,

maka jikapihakPuskesmas berpuas diri dengan keadaan seperti sekarang mereka

akan ditinggalkan olehpelanggannya.

71
DAFTAR PUSTAKA

Kurnia,M. “Paper Pengantar Administrasi dan Kebijakan Kesehatan SWOT (Strength,

Weakness, Opportunity, dan Threat”. 29 Maret 2015.

http://www.academia.edu/8445020/Paper-Pengantar-Administrasi-dan-Kebijakan-

Kesehatan-SWOT-Strength-Weakness-Opportunity-dan-Threat

Kementerian Kesehatan, 2012. Pedoman Pelaksanaan Manajemen Puskesmas,

Direktorat Bina Upaya Kesehatan Dasar, Direktorat Jenderal Bina Upaya

Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI

-------------------, 2014. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 75 Tahun 2014 tentang

Pusat Kesehatan Masyarakat

-------------------, 2016. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 44 Tahun 2016 tentang

Pedoman Manajeken Puskesmas

Nainggolan, T. “SWOT Kesehatan Ibu dan anak, KB di Puskesmas”. 29 Maret 2015.

http://florensiskan.blogspot.com/2014/04/swot-kesehatan-ibu-dan-anak-kb-di.html

Sulaeman ES. Manajemen Kesehatan: Teori dan Praktek di Puskesmas. Available from:

http://galeri.blog.fisip.uns.ac.id/files/2011/12/Microsoft-Word-BUKU-

MANAJEMEN-KESEHATAN-REVISI-_Dr.-Endang-Sutisna_.pdf

72