Anda di halaman 1dari 3

Membangun Pribadi Literat Menuju Bangsa Berkemajuan: Menilik Pribadi Eyang Habibie

Oleh: Abdullah Hanif

***

Eyang Habibie merupakan salah satu sosok pecinta literasi. Di masa Ia belia, ia selalu dihidupkan
dengan kegiatan membaca. Ia diberi motivasi dari membaca. Ia berani memiliki impian tinggi, karena
membaca. Ia juga mendapati julukan jenius, itu karena membaca. Kejeniusannya itu tergambar dari
karya besar yang pernah diraihnya, yaitu menciptakan sebuah pesawat N250 Gatot Kaca, yang
merupakan pesawat pertama buatan Indonesia dengan kapasitas mesin yang paling canggih di masa
nya.

Daya pikirnya yang tangkas disertai keuletan dan kedisiplinan yang bergeliya, membawa ia semakin
maju dalam dunia teknologi canggih.

Karakter dan mentaliti belio semakin terasah ketika menjabat sebagai orang nomor satu di tanah air
ini. Dimana Indonesia saat itu, sedang dalam kondisi krisis ekonomi yang besar dan amat
membutuhkan kebijakan-kebijakan yang tepat. Ia hadir dan akhirnya mampu menyelesaikan itu.

Kegemaran Eyang Habibie dalam membaca, benar-benar telah berhasil membawanya menjadi orang
nomor satu dalam dua keahlian yaitu pertama sebagai ilmuan dan kedua sebagai pemimpin negara.
Dari prestasi ini sudah dapat dipastikan bahwa Eyang Habibie pasti memiliki referensi bacaan yang
amat alot dalam sejarah hidupnya. Kapasitas bacaannya bisa saja melampaui rata-rata orang
kebanyakan. Sebagaimana pengakuan belio, "Hanya mengisi waktu dengan membaca dan
bacaannya adalah bacaan-bacaan yang digemari saja".

Jadi tak heran jika prestasi dan penghargaan secara berkelindan belio dapati. Sesuai hasil dari upaya
dan kerja kerasnya mendedikasikan diri sebagai seorang ilmuan profesional di bidang teknologi dan
pemimpin yang capable, dengan kapasitas pribadi yang mumpuni.

Jika kita lihat perkembangan literasi saat ini, budaya literasi belumlah menjadi suatu yang digemari
oleh anak-anak dan remaja "zaman now", layaknya seperti Eyang Habibie di masa belianya. Padahal
dengan perkembangan teknologi informasi seharusnya telah mampu membawa budaya literasi
sampai pada titik puncaknya. Namun, nyatanya budaya literasi malah semakin jauh di belakang
pintu.
Ada semacam suatu keganjalan di sini, dimana berkembangnya teknologi informasi ternyata belum
mampu memberikan ruang yang besar dalam menghidupkan budaya literasi di tanah air, terlebih di
lingkungan keluarga yang paling utama. Sebaliknya, teknologi justru malah mengiring anak-anak dan
remaja ke arah "glamour and style", dengan kata lain budaya fashion lebih menonjol dibanding
budaya literasi. Fashion seakan-akan telah menjuarai kompetisi dalam merebut hati anak-anak dan
remaja dewasa ini. Inilah persoalannya.

Di samping itu, budaya literasi menjadi suatu hal yang vital sebagai indikator dalam perkembangan
kognitif, pembentukan karakter, serta pendewasaan mentalitas anak guna membangun sebuah
peradaban. Perkembangan kognitif seperti pengetahuan ekonomi, teknologi, politik negara,
kebudayaan hingga pada tahap peradaban internasional (untuk menyebut beberapa saja) hanya
dapat diakses dalam tahap proses literasisasi. Begitu juga dengan pembentukan caracter and
mentality seperti disiplin dan daya saing, keduanya muncul setelah melalui proses literasisasi.

Kita bisa lihat negara maju yang berbasis teknologi seperti Jepang, hampir dari mayoritas
masyarakatnya hidup dalam budaya literasi dengan minat baca yang tinggi. Dari sini bisa dilihat
bahwa maraknya budaya literasi akan membentuk peradaban yang "berkemajuan", meminjam
istilahnya Eyang Habibie.

Dalam rangka mewujudkan budaya literasi di Indonesia, maka perlu adanya peran khusus yang bisa
dimainkan. Dalam hal ini, keluarga menjadi satu alternatif yang cukup bijak untuk dijadikan sebagai
algojo nya, karena mampu memainkan peran secara nyata dan tepat sasaran.

Proses pendidikan literasi lewat keluarga akan mengena jika diterapkan pada anak-anak dan remaja.
Karena dalam rentang usia itulah, orang tua punya kesempatan yang seluas-luasnya melakukan
proses pendidikan serta pembentukan karakter anak. Terutama di rumah, orang tua punya hak
prerogatif untuk memainkan peran tersebut. Di sinilah pentingnya peran orang tua dalam tujuan ini.

Sebagai pendidik di rumah, orang tua harus mampu membantu anak-anaknya menemukan bidang
keahlian mereka masing-masing. Tidak sampai disitu, orang tua juga harus mampu membimbing dan
memfasilitasi mereka untuk mendalami keahlian mereka (dengan pengadaan fasilitas buku bacaan
misalnya), yang tentunya harus sesuai dengan arah minat mereka. Sehingga ketika telah dewasa,
mereka hanya tinggal mengembangkan keahlian itu dalam bentuk yang lebih teoritis di bangku
perkuliahan, serta dapat mempraktekkannya secara intens dan komprehensif.

Persoalannya adalah bentuk literasi yang disajikan "seperti apa?", dan dianggap bisa memberi
nuansa kekinian secara cover book, juga tidak melupakan unsur-unsur yang dapat mencerahkan
serta bersifat informatif-produktif. Saya tidak mengatakan bahwa orang tua hanya cukup
menyediakan buku-buku yang sesuai dengan minat anak saja, kemudian mengajak mereka untuk
membaca di kamar misalnya atau di ruang lain, di lingkungan rumah. Ini merupakan motode
konvensional, yang menurut anak-anak adalah suatu kegiatan yang cukup membosankan. Tetapi
dalam tulisan ini, saya ingin mengajak dan menyarankan kepada para orang tua agar bisa melakukan
sebuah terobosan baru yang lebih daripada itu dengan perubahan yang lebih kekinian, namun tidak
menghilangkan nilai-nilai lama yang positif. Ini yang perlu dipikirkan kedepannya. Kreativitas orang
tua betul-betul diuji dalam tahap proses ini.

Harapannya cukup sederhana, agar dengan kegiatan literasi anak menyukai kegiatan membaca,
menemukan bakat dan minatnya masing-masing dan menjadi profesional. Itu saja. Dengan begitu,
budaya literasi menjadi berfungsi sebagaimana mestinya ia dihadirkan.

Dalam kaitannya dengan hal ini, mengacu dari kecakapan pribadi Eyang Habibie sebagaimana yang
telah dijelaskan di awal, saya ingin menambahkan bahwa untuk membangun pribadi anak yang
literat tidak cukup hanya punya minat baca yang tinggi saja. Di samping anak menjadi seorang
profesional, anak juga harus dituntut untuk memiliki kecakapan mentalitas disiplin serta berdaya
saing tinggi seperti Eyang Habibie. Tiga kata kuncinya, (1) Profesional, (2) Disiplin, dan (3) Berdaya
saing. Inilah pribadi literat yang saya maksudkan sebagaimana tercantum di judul.

Demikian, masa depan bangsa pun akan semakin terarah karena memiliki putra-putri ibu pertiwi
yang ahli dibidangnya, sehingga Indonesia tidak perlu lagi mendatangkan dan mempekerjakan
tenaga Asing dari luar untuk bekerja di Indonesia.

Tentu proses ini membutuhkan waktu yang cukup panjang dalam realisasinya, dan usaha ini pun
tidak serta merta menjadi jawaban atas solusi permasalahan tersebut. Tulisan Ini hanyalah sebuah
gagasan kecil yang tergores dalam catatan pikiran penulis. Namun dalam kondisi bangsa yang
sporadis semacam ini, sikap optimis tentu haruslah tetap dikedepankan demi Indonesia lebih baik.
(AH)