Anda di halaman 1dari 5

EBP

PENGARUH KOMPRES ES PADA PERINIUM


PASIEN DENGAN POST PARTUM SPONTAN
DI RUANG DAHLIA RSD dr. SOEBANDI JEMBER

DisusunOleh:

Yeni Maria Christina 1801032047


Tri Lestari 1801032046
TioHadiSujatmiko 1801032062
Angga Nova Tamala 1801032058
Inganah 1801032050
RodiyatulHasanah 1801032054

PRODI STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JEMBER
APRIL 2019
BAB I

PENDAHULUAN

A. LatarBelakang

Post partum atau biasa disebut sebagai masa nifas pada ibu pasca

melahirkan merupakan periode yang sangat penting untuk diketahui. Masa

puerpurium atau masa nifas dimulai setelah partus selesai dan berakhir kira-kira

6 minggu. Akan tetapi, seluruh alat genital baru pulih kembali seperti sebelum

kehamilan dalam waktu 3 bulan. Fase ini dialami setiap ibu post partum dalam

menyesuaikan perannya sebagai orang tua dengan baik karena terjadi

perubahan fisiologis maupun psikologis. Perubahan fisiologis dan psikologis

perlu diketahui agar ibu post partum dapat beradaptasi dengan baik( Indriyani,

2013).

Perubahan fisiologis dalam masa nifas, alat-alat genetalia intern

amaupun eksterna akan berangsur-angsur pulih kembali seperti keadaan semula

sebelum hamil. Perubahan alat genetalia ini yang disebut dengan involusi. Bila

ibu post partum mengalami perdarahan, dapat diduga perdarahan tersebut

disebabkan oleh retensio plasenta atau plasenta lahir tidak lengkap. Namun,

pada keadaan dimana plasenta lahir lengkap dan kontraksi uterus baik, dapat

dipastikan bahwa perdarahan tersebut berasal dari perlukaan pada jalan lahir.

Perlukaan ini dapat terjadi oleh karena kesalahan sewaktu memimpin

suatu persalinan, pada waktu persalinan operatif melalui vagina seperti

ekstrasicunam, ekstrasivakum, embriotomi atau trauma akib atalat-alat yang


dipakai. Selain itu perlukaan pada jalan lahir dapat pula terjadi oleh karena

memang disengaja seperti pada tindakan episiotomi(Wiknjosastro, 2007).

Episiotomi adalah insisi pudendum untuk melebar kanorifisium vulva

sehingga mempermudah jalan keluar bayi. Keuntungan episiotomy yaitu

mencegah robekan perineum, mengurangi tekanan kepalajanin, mempersingkat

kala dua persalinan dengan menghilangkan tahanan otot-otot pudendum dan

dapat diperbaiki dengan lebih memuaskan disbanding robekan yang tidak

teratur. Episiotomi biasa dilakukan pada sebagian besar primipara dan pada

banyak multi para (Jones, 2001).

Wanita dengan episiotomy memiliki luka perineum, terjadinya laserasi

perineum dan derajat yang parah (derajat ketiga atau derajat keempat). Nyeri

pada wanita dengan episiotomy meningkat, berarti kehilangan darah saat

persalinan tetapi komplikasi lain tidak meningkat secara signifikan. Luka

episiotomy menjadi sangat nyeri, nyeri tekan, bengkak, merah dan mengalami

indurasi. Pasien dapat merasakan panas didaerah perenium atau bias tidak,

kadang-kadang dari luka insisi mengalir cairan. Pada hari keempat atau kelima,

tepi luka akan terpisah (Forte& Oxorn 2010). Jahitan yang tidak sempurna juga

biasa menyebabkan fistel, yaitu timbulnya lubang yang menghubungkan anus

dengan vagina.Akibatnya, saat buang air besar, kotoran bukan hanya keluar di

anus namun juga keluar dari vagina. Hal ini akan menimbulkan infeksi pada

vagina, infeksi juga membuat pembuluh darah baru sehingga luka selalu

berdarah dan bias menyebabkan vagina robek saat kontraksi (Sinsin, 2008).
Nyeri perineum setelah kelahiran pervaginam, dengan atau tanpa

trauma pervaginam adalah salah satu morbiditas paling umum yang di laporkan

oleh wanita post natal. Nyeri perineal post partum dapat dirasakan sejak 1 jam

pertama setelah pertama melahirkan dan dapat dirasakan hingga 1 tahun. Pada

periode awal post natal nyeri perineum dapat mempengaruhi mobilitas seorang

wanita dan juga kemampuannya dalam melakukan perawatan diri serta

perawatan bagi bayinya, maka dari itu jika nyeri yang dirasakan oleh wanita

setalah melahirkan dalam waktu yang lama dapat menyebabkan iritabilitas,

kelelahan, dan juga bahkan depresi maternal yang mempunyai efek negative

selama masa transisi terhadap perubahan peran seorang wanita didalam sebuah

keluarga. Obat-obatan yang banyak digunakan sebagai anti nyeri seperti

golongan NSAID, Narkose dapat menyebabkan beberapa efek samping seperti

konstipasi, nausea, iritasi lambung, pusing dan bahkan perdarahan. Beberapa

obat juga dapat berpengaruh terhadap ASI.

Tingginya keluhan nyeri yang masih dilaporkan oleh ibu post partum

setelah mendapat pengobatan analgetik membuat peneliti ingin memberikan

treatmen atau terapi non-farmakologi yang mudah dilakukan sendiri oleh

wanita postpartum dan dapat dilakukan dirumah.

Cryotherapy adalah terapi yang mengaplikasikan benda yang dingin

untuk menghilangkan panas tubuh dan menurunkan suhu jaringan secara local.

Pada perawatan maternitas kompres dingin sering digunakan sebagai

Cryotherapy, hal ini murah, mudah dilakukan, treatmen yang non-invasif dan

tidak mempengaruhi pemberian ASI.


B. Tujuan

1. Umum

Menurunkanskalanyeriibu postpartum dengankelahiranpervaginam

2. Khusus

a. Mengidentifikasiresponnyerisebelumpemberiankompresdingin

b. Mengidentifikasiresponnyerisetelahpemberiankompresdingin

c. Mengetahuipengaruhpemberiankompresdinginpadaibupost

partumsecaraspontan

C. Kesimpulan Pengamatan

Dari ibu post partum yang telah diobservasi skala nyeri pada perineum rata-rata

mengalami nyeri pada skala 3-5. Hal ini dilakukan pada ibu multipara sehingga

data yg dilakukan homogen. Nyeri perineum ibu postpartum dapat berdampak

pada mobilitas fisik dan juga kemampuannya untuk melakukan perawatan diri

serta perawatan bayinya. Bila nyeri ini berlanjut dalam waktu yang lama, akan

menyebabkan ibu kelelahan, gangguan emosi dan juga depresi maternal. Dalam

mengatasi masalah nyeri perineum pada ibu post partum dilakukan tindakan

kompres dingin pada daerah perineum sehingga dapat mengatasi nyeri ibu post

partum.