Anda di halaman 1dari 46

Hermeneutika

(2)

Disusun oleh:
Stefanus Suheru, M.Si.Teol.

SEKOLAH TINGGI TEOLOGI KINGDOM


Jl. Antasura – Nangka Utara, Kom. Lembah Pujian Blok A I Denpasar - Bali
2019
Hermeneutika (2) STT Kingdom, 2019 Stefanus Suheru, M.Si.Teol.

DAFTAR ISI

No Pokok Bahasan Halaman


01 Daftar Isi 1
02 Silabus 2
03 Penafsiran Simbol 5
04 Penafsiran Tipologi 13
05 Penafsiran Nubuat 16
06 Penafsiran Perumpamaan 20
07 Penafsiran Syair 25
08 Penutup 29
09 Lampiran 01. Tindakan Simbolis 30
10 Lampiran 02. Warna-warna Dalam Alkitab 31
11 Perumpamaan-perumpamaan Yesus 44

1
Hermeneutika [2] STT Kingdom, 2019 Stefanus Suheru, M.Si.Teol.

KELOMPOK : MATA KULIAH PERILAKU BERKARYA

DOSEN PENGAMPU : Stefanus Suheru, M.Si.Teol.


NIDN : 23-2805-6001
EMAIL : suherustefanus60@teachers.org
NOMOR HP : 08156654237
NAMA MATA KULIAH : HERMENEUTIKA [2]
BOBOT : 2 SKS
PRASYARAT : BAHASA IBRANI & YUNANI, PEMB. & PENG. PL & PB
PERTEMUAN : 14 x 2 x 50 menit
10 – 12 Mei 2019

STANDAR KOMPETENSI :
Mahasiswa menguasai materi hermeneutika dalam menafsirkan nats-nats Alkitab serta
dapat merancang metode-metode penafsiran dan mengaplikasikan temuan pesan
Firman Tuhan secara relevan dalam pelayanannya (Lanjutan).

KOMPETENSI DASAR
1. Mampu menerapkan prinsip & metode penafsiran Simbol
2. Mampu menerapkan prinsip & metode penafsiran Tipologi
3. Mampu mengaplikasikan prinsip & metode penafsiran Nubuat
4. Mampu mengaplikasikan prinsip & metode penafsiran Perumpamaan
5. Mampu menjalankan prinsip & metode penafsiran syair

URUTAN DAN RINCIAN MATERI


1. Penafsiran Simbol
2. Penafsiran Tipologi
3. Penafsiran Nubuat
4. Penafsiran Perumpamaan
5. Penafsiran Syair
6. Penutup

INDIKATOR HASIL BELAJAR


1. Menjelaskan prinsip & metode penafsiran Simbol
2. Menjelaskan prinsip & metode penafsiran Tipologi
3. Menerangkan prinsip & metode penafsiran Nubuat
4. Memaparkan prinsip & metode penafsiran Perumpamaan
5. Memaparkan prinsip & metode penafsiran syair

2
Hermeneutika [2] STT Kingdom, 2019 Stefanus Suheru, M.Si.Teol.

STANDAR PROSES PEMBELAJARAN

PENDEKATAN : Kontekstual dan partisipatoris.

PENGALAMAN BELAJAR : 1. Mahasiswa mendengarkan kuliah yang disampaikan


dosen
2. Mahasiswa mendiskusikan
3. Mahasiswa melakukan lokakarya

METODA : Ceramah, Diskusi, Simulasi, pengamatan.

TUGAS : Menyusun rancangan pelayanan Firman Tuhan

:
STANDAR PENILAIAN 1. Partisipasi dan kehadiran : 20 %
2. Lokakarya : 80 %
KONTRAK PERKULIAHAN : 1. Agar tidak mengganggu perkuliahan, para mahasiswa
diwajibkan hadir tepat waktu.
2. Wajib membawa Alkitab sendiri di setiap perkuliahan.
3. Selama perkuliahan, mahasiswa me-non-aktifkan
handphone-nya.
4. Berpakaian sopan dan rapi.
5. Melaksanakan lokakarya dengan topik/nats pilihan yang
dilaporkan terlebih dahulu kepada dosen supaya tidak
ada topik/nats pilihan yang sama dipilih oleh dua orang
mahasiswa atau lebih.

TEKNIK : Tertulis

BENTUK SOAL : Porto Folio, proyek, unjuk kerja. lokakarya

MEDIA : Netbook, LCD Projector, diktat, whiteboard

SUMBER BELAJAR
1. Media elektronik (internet)
2. Lingkungan sosial,
3. Teman di kampus
4. Komunitas gereja
5. Literatur:
1. Berkhof, Louis. Principles of Biblical Interpretation. Grand Rapids: Zondervan

3
Hermeneutika [2] STT Kingdom, 2019 Stefanus Suheru, M.Si.Teol.

Publishing House, 1962.


2. Bullinger, E.W. Number In Scripture. Grand Rapids: Kregel Publications, 1983
(Reprinted).
3. Cox, Alan. D.. Penafsiran Alkitabiah, Catatan Pribadi, 1988.
4. Fee, Gordon D. & Stuart, Douglas. Hermeneutik; Bagaimana Menafsirkan Firman
Tuhan dengan Tepat! Malang, Penerbit Gandum Mas, 1989.
5. Grant, R. M. & Tracy D. Sejarah Singkat Penafsiran Alkitab. Jakarta: BPK Gunung
Mulia, 1993.
6. Groenen, C. Hermeneuse Alkitabiah. Ende-Flores: Nusa Indah, 1977.
7. Habershon, Adar. The Study of The Types. Grand Rapids: Kregel Publications, 1983.
8. Hayes, J. H. & Holladay, C.R. Pedoman Singkat Penafsiran Alkitab. Jakarta: BPK
Gunung Mulia, 1993.
9. Hesselgrave, D. J. & Rommen E. Kontekstualisasi. Jakarta: BPK Gunung Mulia,
1994.
10. Hunter, A.M. Interpreting The Parables. Philadelphia: The Westminster Press,
1960.
11. Kaiser, Walter C.,Jr. Toward an Exegetical Theology. Grand Rapids: Baker Book
House, 1981.
12. Kraybill, Donald B. Kerajaan Yang Sungsang. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993.
13. Lohfink, G. Sekarang Saya Memahami Kitab Suci. Yogyakarta: Kanisius, 1974.
14. Mickelsen, A. Berkeley. Interpreting The Bible. Grand Rapids: Wm. B. Eerdmans
Publishing Co., 1966.
15. Paulus D.H. Daun & Lucia S.K. Hermeniutika Perumpamaan Yesus. Yogyakarta:
Yayasan Andi, 1988.
16. Peter Wongso. Tafsiran Kitab Yehezkiel. Malang: SAAT, 1998.
17. Ramm, Bernard. Protestant Biblical Interpretation. Grand Rapids: Baker Book
House, 1970.
18. Rumahlatu, Jerry. Hermeneutik dari Masa ke Masa. Jakarta: STT Jaffray Jakarta,
2010.
19. Saparman. Belajar Alkitab: Cara dan Contoh. Yogyakarta: Andi Offset, 2009.
20. Sitompul, A. A. & U. Bayer. Metode Penafsiran Alkitab. Jakarta: BPK Gunung Mulia,
1977.
21. Sutanto, Hasan. Hermeneutik: Prinsip dan Metode Penafsiran Alkitab. Malang:
SAAT, 1986.
22. Terry, Milton S. Biblical Hermeneutics. Grand Rapids: Zondervan Publishing House,
1974.
23. Tong, Joseph. Hermeneutics and Biblical Interpretation. Pacet: ICTS, 1999.
24. Wald, O. Temukanlah Sendiri. Malang: Gandum Mas, 1986.
25. Wan, Enoch. Ethnohermeneutics, A paper presented at The Evangelical Theological
Society (46 th Annual Meeting). November, 17-19, 1994, Listle, Illinois.
26. Warren, R. Twelve Dinamic Bible Study Methods for Individuals or Groups.
Wheaton: Victor Books, 1981.

4
Hermeneutika (2) STT Kingdom, 2019 Stefanus Suheru, M.Si.Teol.

HERMENEUTIKA (2)

PRINSIP-PRINSIP & METODE-METODE KHUSUS HERMENEUTIKA

Pada bagian sebelumnya (Hermeneutika 1) kita telah mempelajari pelbagai prinsip & metode
penafsiran yang bersifat umum. Prinsip-prinsip & metode-metode tersebut pada dasarnya
berlaku untuk semua penafsiran Alkitab secara umum. Namun demikian, mengingat dalam
Alkitab terdapat bermacam-macam gaya sastra dan cara berkomunikasi, adalah lebih lengkap
bila kita juga memperhatikan cara-cara dan prinsip-prinsip yang berhubungan dengan gaya
sastra atau cara komunikasi tertentu. Dengan demikian, diharapkan seorang penafsir akan
dapat memperhatikan ciri khas gaya sastra tertentu, sehingga bukan saja terhindar dari bahaya
salah menafsir, bahkan maju satu langkah dapat menafsir dengan jelas dan tepat.

8. PENAFSIRAN SIMBOL

8.1. Pengertian

Simbol adalah suatu hal yang dipakai untuk menyampaikan suatu pengertian
yang melebihi pengertian umum/biasa dari hal yang dipakai tersebut.
Dan sebenarnya, bukan saja di Alkitab, namun dalam kehidupan sehari-hari kita
selalu menemui simbol, misalnya burung merpati adalah simbol perdamaian.

Simbol tidak sama dengan tipe (akan dibahas pada bagian berikut). Simbol
tidak dibatasi oleh waktu, sehingga suatu simbol melambangkan suatu
pengertian yang mungkin terdapat di masa lalu, sekarang atau yang akan datang.

8.2. Ciri-ciri Khas Simbol Di Dalam Alkitab

a. Simbol itu sendiri selalu dalam pengertian harfiah.


Misalnya burung Merpati yang melambangkan perdamaian. Burung Merpati
itu sendiri harus dibaca dalam pengertian harfiah.

b. Simbol dipakai untuk menyampaikan sesuatu pengertian/pengajaran.


Misalnya dalam suatu upacara burung-burung Merpati dilepaskan. Sudah tentu
bukan saja keindahan burung-burung yang ingin dipertunjukkan, melainkan
pengertian perdamaian yang sebenarnya ingin ditonjolkan.

c. Terdapat hubungan tertentu antara simbol dan makna yang akan disampaikan.
Dalam hal burung Merpati tersebut, kita dapat memahami bahwa burung
Merpati memang terkenal dengan sifat lemah lembutnya.

d. Dalam hal simbol yang tidak umum atau yang kurang dikenal, kita perlu
mengadakan penyelidikan secara cermat. Bila si pemakai simbol telah
menjelaskannya, penjelasannya itu harus menjadi patokan dalam memahami
simbol itu. Tidaklah bijaksana bila seorang penafsir berusaha menjelaskan
simbol berdasarkan keinginan atau latar belakangnya sendiri.

e. Suatu simbol yang sama mungkin memberi dua bahkan lebih pengertian yang

5
Hermeneutika (2) STT Kingdom, 2019 Stefanus Suheru, M.Si.Teol.

berbeda. Misalnya di Matius 10:16 Merpati adalah simbol dari ketulusan,


namun di Yesaya 38:14 suara Merpati melambangkan keluh-kesah, serta di
Hosea 7:11 Merpati melambangkan kebodohan.

f. Simbol dipakai untuk memberi suatu makna yang dalam kepada mereka yang
mengerti, tetapi mungkin juga dengan tujuan yang sebaliknya, Misalnya
penulis kitab Wahyu banyak memakai simbol, mungkin agar musuh orang
Kristen tidak mengerti isi kitab tersebut dan tidak dapat menangkap
maknanya. Adakalanya penafsir modern tidak menyadari akan kehadiran suatu
simbol, namun adakalanya sebaliknya, ia mencari-cari suatu simbol yang
sebenarnya tidak ada. Untuk menghindari semua kelalaian ini, seorang
penafsir dituntut mengadakan penyelidikan yang lebih seksama.

8.3. Jenis-jenis Simbol Di Dalam Alkitab

a. Benda

Yang dimaksudkan dengan benda yang bermakna simbolik di sini adalah


material yang dapat dilihat dan diraba.

Misalnya: Salib sebenarnya adalah suatu alat penghukuman orang Romawi


yang sangat kejam. Namun dalam Perjanjian Baru, salib telah berubah
menjadi simbol yang melambangkan banyak pengertian teologis: simbol
penderitaan-Nya, penyelamatan Tuhan atas dunia ini, kasih Kristus, usaha
Kristus memperdamaikan Allah dengan orang-orang berdosa, penyangkalan
diri Kristus, penyangkalan pengikut Kristus. Jadi menafsir simbol salib,
penafsir Alkitab perlu memperhatikan pengertian umum pada jaman itu dan
catatan Alkitab.

b. Peraturan & Upacara

Yang dimaksudkan dengan peraturan atau upacara yang bermakna simbolik di


sini, misalnya baptisan air dan perjamuan suci.

Pada umumnya dalam peraturan atau upacara ini terdapat unsur-unsur:

[1] Benda yang dipakai.


[2] Tindakan dari pihak manusia.
[3] Tindakan dari pihak Allah.

Oleh karena itu, dalam penyelidikan simbol-simbol ini, unsur-unsur ini perlu
diperhatikan. Sebab melalui unsur-unsur ini, Allah telah menyatakan banyak
makna rohani yang sangat penting bagi orang Kristen.

c. Tindakan

Banyak tindakan, di luar peraturan atau upacara, yang dicatat dalam Alkitab
secara jelas menyatakan pengertian simbolik. Misalnya apa yang pernah
dilakukan oleh Yehezkiel (Yehezkiel 4-5) dan Hosea (Hosea 1-3).
Tindakan-tindakan ini diperintahkan oleh Allah dengan tujuan-tujuan tertentu

6
Hermeneutika (2) STT Kingdom, 2019 Stefanus Suheru, M.Si.Teol.

dan mengandung makna yang dalam. Bagi mereka yang melakukannya dan
melihat tindakan-tindakan ini jelas dapat menggoreskan kesan yang sangat
mendalam di hati mereka.

d. Angka

Pada jaman kuno, bahkan sampai kini, angka mengandung makna-makna


tertentu. Nilai angka juga berhubungan dengan huruf tertentu. Namun dalam
penyelidikan angka yang terdapat di dalam Alkitab, sekali lagi, Alkitab sendiri
adalah buku pegangan yang terbaik, meskipun penafsiran demikian bukan
tugas yang mudah.

Berikut di bawah ini dikemukakan ringkasan dari hasil penelitian Ethelbert W.


Bullinger tentang makna simbolik dari angka-angka yang terdapat di dalam
Alkitab.1

[1] Pola Supranatural Dari Angka-angka Di Dalam Alkitab

a> Ditunjukkan Di Dalam Pekerjaan-pekerjaan Allah


Segala pekerjaan-Nya dilaksanakan, dan semua perkataan-Nya
diucapkan & dituliskan, di dalam cara yang tepat, pada waktu yang
tepat, di dalam susunan/aturan yang benar, dan di dalam jumlah yang
tepat (Mazmur 18:31, 19:8-9, 143:5, 145:17, 147:4, Yesaya 40:26,
Ayub 28:25).

Misalnya: di Langit (gugusan bintang-bintang) - Kronologi


(hari-hari penciptaan) - Tumbuh-tumbuhan & Binatang (Kelas, Ordo,
Keluarga, Genus, dan Spesies) - Umat Allah (Sejarah Israel) -
Fisiologi (Tahap-tahap perkembangan: bayi - dewasa) - Musik (Not)
- Warna (Pelangi).

b> Ditunjukkan Di Dalam Perkataan-perkataan Allah


Di dalam Daniel 8:13 terdapat istilah Seorang kudus berbicara
(dalam bahasa Inggris: that certain saint) ditulis dalam bahasa
Ibrani ynIAml.P ; (Palmoni) yang berarti The Numberer of
Secrets atau The Wonderful Numberer.

Dengan demikian, ada seorang Malaikat kudus, paling tidak, yang


bertugas berkaitan dengan angka-angka. Oleh karena itu, angka-angka
dan rahasianya memiliki tempat yang penting di dalam perkataan-
perkataan Allah sama seperti di dalam pekerjaan-pekerjaan-Nya. Dan
hal-hal yang bersifat rahasia itu akan dinyatakan kepada kita (Ulangan
29:29).

Misalnya: Perjanjian Lama (24 Kitab) - Perjanjian Baru (27 kitab) -


Para Penulis (28 penulis Perjanjian Lama + 8 Perjanjian Baru).

1
E.W. Bullinger, Number In Scripture (Grand Rapids: Kregel Publications), 1983 (Reprinted).

7
Hermeneutika (2) STT Kingdom, 2019 Stefanus Suheru, M.Si.Teol.

[2] Makna Rohani Dari Angka-angka di Dalam Alkitab

No Angka Makna Rohani Terdapat di


01 1 Kesatuan, utama, independen, Kejadian 1:1, 22:2, 12,16,
tiada yang lain, hanya satu- Keluaran 20:3, Ulangan
satunya, permulaan 6:4, Yesaya 43:10-11,
Markus 12:29-30
02 2 Pemisahan, pembagian, Kejadian 1:2,6, 13:11,14,
perbedaan Galatia 4:29-30, Roma
9:13
03 3 Solid, nyata, substansial, Kejadian 1;13, 18:1-2,
esensial, keseluruhan, 13,17,33, Imamat 14:10,
kesempurnaan Ilahi, Ilahi, Bilangan 6:23-24, Yesaya
Kebangkitan 6:3, Matius 12:39-40,
Lukas 13:32, Wahyu 4:8
04 4 Penciptaan & kelengkapan Kejadian 2:10-11,
materi, dunia, kepenuhan berkat Keluaran 16:14,31,
material Yesaya 60:17, Markus
13:35, 1 Korintus 15:42-
44, 2 Korintus 4:8-9
05 5 Anugerah Keluaran 2:24-25, 30:23-
25, 34, 1 Samuel 17:40,
Roma 3:24, 1 Korintus
14:19
06 6 Manusia, ketidaksempurnaan Kejadian 18, Imamat
tanpa Allah, pekerjaan manusia, 24:6, 1 Raja-raja 10:19,
kesempurnaan otoritas manusia Ayub 4:10-11, 28:8,
Mazmur 8:6-9
07 7 Kelengkapan, kesempurnaan Kejadian 12:2-3,
rohani, kepuasan Keluaran 6:4-8, Ulangan
8:8, Hakim-hakim
6:13,15, 17-18,22,23, 24,
25-27, 33-35, Yesaya
11:2, Hosea 2:8-9, Lukas
3:23-38
08 8 Kelahiran baru, permulaan dari Kejadian 17:12, Keluaran
jaman/perintah baru 22:29,30, 1 Petrus 3:20, 2
Petrus 2:5
09 9 Penghukuman, Finalitas di Hagai 1:11, 1 Korintus
dalam hal-hal Ilahi 12:8-10, Galatia 5:22-23
10 10 Hukum, kesempurnaan tatanan Kejadian 14:20, Keluaran
Ilahi 20:3-17, 34:28, Ulangan
4:13, 10:4, 14:22, 1
Samuel 8:15, Lukas
11:42, 18:12, Ibrani 7:4
11 11 Penghukuman, pengadilan, Kejadian 36:40-43,
ketidakteraturan, disintegrasi Ulangan 1:2, 2 Raja-raja
23:36, 24:1, 2 Tawarikh
36:5-6,11, Yeremia 39:2,

8
Hermeneutika (2) STT Kingdom, 2019 Stefanus Suheru, M.Si.Teol.

Yehezkiel 26:1, 30:20,


31:1, Kisah Para Rasul
2:14
12 12 Kesempurnaan pemerintahan Kejadian 35:22, 49:28,
atau otoritas ilahi Lukas 2:42, Wahyu 7:4,
21:16-17
13 13 Dosa, pemberontakan, kebejatan Kejadian 14:4, 17:25,
moral, penghancuran Yosua 6:1-5, Yesaya
53:12, Matius 26:48,
27:20, Lukas 23:18
14 14 Keselamatan, pembebasan Keluaran 12:25-27,
( 2x7 ) Imamat 23:5, Matius 1:1-
17, Galatia 4:23,28.
15 15 Tindakan yang dibuat oleh kuasa Kejadian 7:20, Imamat
( 3x5 ) anugerah Ilahi, perhentian, 23:6,34, 2 Raja-raja 20:6,
ketenangan, bersandar Ester 9:18,21, Yohanes
11:18, Kisah Para Rasul
27:21
16 17 Kesempurnaan dari Peraturan Mazmur 83:6-12, Roma
Rohani, Kemenangan 8:35-39, Ibrani 12:18-24
17 19 Kesempurnaan dari tatanan Ilahi Epesus 2:8, Ibrani 11
(10+9) dihubungkan dengan
(5+14) penghukuman, Iman
18 20 Pengharapan, Penebusan Kejadian 21:38,41,
(2x10) Keluaran 30:12-14,
(21-1) 26:18-20, 27:9-11,
Hakim-hakim 4:3, 13:25,
15:20,16:31, 1 Samuel
7:2, 1 Raja-raja 9:10, 2
Tawarikh 8:1
19 22 Disintegrasi, khususnya di Keluaran 25:31-34,
(2x11) dalam hubungan dengan Firman Yohanes 3:20-21, Epesus
Allah ( menambah atau 5:13, 1 Tesalonika 5:5
mengurangi Firman Allah,
korupsi/manipulasi ), terang,
menyatakan
20 24 Pemerintahan Surgawi & Keluaran 28:29,
(2x12) penyembahan, keimaman 1 Tawarikh 24:1-9,
28:12,19, Ibrani 8:5,
Wahyu 1:5-6, 4:4, 5:8-10
21 25 Pengampunan dosa Yeremia 52:31-33
(5x5) ( berdasarkan anugerah )
22 27 Proklamasi Injil/Nubuat Roma 1:15-16, Galatia
(3x9) 2:1-2, Wahyu 13:1
23 28 Kehidupan kekal Yohanes 5:24, 10:27-29,
(4x7) Roma 5:20-21, 6:23,
24 29 Kombinasi antara pengharapan
(20+9) & penghukuman
25 30 Tingkat yang lebih tinggi dari Kejadian 41:46, Keluaran

9
Hermeneutika (2) STT Kingdom, 2019 Stefanus Suheru, M.Si.Teol.

(3x10) kesempurnaan tatanan Ilahi, 26:7-10, 2 Samuel 5:4,


Darah Matius 27:3-4, Lukas
3:23, Wahyu 5:6-9
26 31 Keilahian, keturunan, benih
27 40 Pencobaan, godaan, penyucian Keluaran 24:18, Ulangan
(5x8) ( bagi umat perjanjian, bukan 8:2-5, 9:18,25, Bilangan
penghukuman seperti nomor 9 13:26, 14:34, Hakim-
yang dihubungkan dengan hakim 3:11, 5:31, 8:28,
penghukuman terhadap para 13:1, 2 Samuel 5:4, 1
musuh ) Raja-raja 11:42, 19:8,
Mazmur 95:10, Matius
4:2, Markus 1:12-13,
Kisah Para Rasul 1:2,
7:23, 30, 13:18,21, Ibrani
3:8-9,
28 42 Anti-Kristus, perlawanan 2 Raja-raja 2:23-24,
manusia terhadap Allah Wahyu 11:2, 13:5
29 50 Roh Kudus, Tahun Yobel, Keluaran 27:18, Imamat
Pembebasan 23:15-16, 25:8-10, Ibrani
10:29
30 51 = Revelasi Ilahi
24+27
31 65 Kemurtadan ( dihubungkan Hakim-hakim 17 dan
(13x5) dengan suku Efraim ) Yesaya 7:8
32 70 Kesempurnaan Tatanan Rohani Kejadian 10, 46:26, 27,
(7x10) yang dilaksanakan dengan Keluaran 1:5, 24:1,
semua kekuatan rohani ( Roh & Bilangan 11:16, Rut 4:11,
Tatanan sangat ditekankan ) , 2 Tawarikh 36:19-23,
Pembuangan & kembalinya Yeremia 25:4-11, Daniel
Israel 7:24-27, 9:24, Lukas
10:1,17
33 120 Masa Pencobaan yang Kejadian 6:3, Nehemia
(3x40) ditentukan secara ilahi 10:1-10, Kisah Para
Rasul 1:15
34 153 = Kemenangan sempurna ( dari Yohanes 21:11 - 6:39,
17x32 Anak-anak Allah ) 17:12, Mazmur 147:4,
Keluaran 15:14
35 200 = Ketidakcukupan, tidak memadai Yohanes 6:7 - Yosua
20x10 7:21, Mazmur 49:7-9, 2
Samuel 14:26, 18:9,
Hakim-hakim 17:4, Ezra
2:65, Nehemia 8:5-9
36 390 = Israel Yehezkiel 4:5
13x30
37 400 Masa sempurna secara ilahi Kejadian 15:13, Kisah
(8x50) Para Rasul 7:6
38 430 Masa persinggahan dari “Janji” Kejadian 12:3, Galatia
sampai “Hukum” ( bagi 3:17 - Keluaran 12:40
Abraham )

10
Hermeneutika (2) STT Kingdom, 2019 Stefanus Suheru, M.Si.Teol.

39 490 Produk dari kesempurnaan Daniel 9:2, 24-27,


(70x7) rohani dengan memperhatikan Yeremia 25:11-12, 29:10
penentuan terhadap Yerusalem
40 666 Nama binatang/Anti-Kristus, Wahyu 13:8,17-18. 17:9-
Trintitas dari kesempurnaan 14
manusia, kesempurnaan dari
ketidaksempurnaan, kulminasi
dari kecongkakan manusia di
dalam ketidakbergantungannya
kepada Allah dan perlawanan
terhadap Kristus, penyembahan
kepada Iblis

Catatan : Jumlah Bilangan untuk Nama Yesus (di dalam bahasa Yunani:
) adalah 10 + 8 + 200 + 70 + 400 + 200 = 888.
Kristus (1480 = 8x183), Tuhan (800 = 8x100), Juru Selamat
(1408 = 82x32), Imanuel (25600 = 82x50), Mesias (656 = 8x82).

Nama Huruf Simbol Nilai


Alpha  1
Beta  2
Gamma  3
Delta  4
Epsilon  5
Stigma  6
Zeta  7
Eta  8
Theta  9
Iota  10
Kappa  20
Lambda  30
Mu  40
Nu  50
Xi  60
Omicron  70
Pi  80
Koppa Ç 90
Rho  100
Sigma  200
Tau  300
Upsilon  400
Phi  500

11
Hermeneutika (2) STT Kingdom, 2019 Stefanus Suheru, M.Si.Teol.

Chi  600
Psi  700
Omega  800
Sampsi  900

e. Warna

Warna dalam Alkitab pun dapat mempunyai makna simbolik.


Misalnya Merah biasa dianggap sebagai simbol dari darah Kristus, kemudian
penebusan daripada-Nya. Namun dalam kasus-kasus lain, kata Merah dan
sinonim-sinonimnya menunjuk penghakiman di Yesaya 63:2, menunjuk dosa
di Yesaya 1:18, melukiskan langit di Matius 16:2, dan melukiskan prajurit di
Nahum 2:3.

Dalam bahasa-bahasa Alkitab, warna berhubungan erat dengan benda-


benda/kata-kata tertentu. Dalam bahasa Ibrani, kata biru berkaitan dengan
ikan, Kirmizi mungkin berasal dari semacam ulat yang merahnya seperti
Kirmizi, kata putih sama dengan kain lenan putih. Jika ini tepat, maka
soal warna perlu diselidiki dengan metode epistemologi. Hanya perlu
diingatkan, pada jaman kuno pembagian warna belum seteliti jaman sekarang.

f. Nama

Nama-nama dapat pula dipakai sebagai suatu simbol. Ini termasuk nama-nama
tokoh, bangsa, tempat, bahkan lembaga. Misalnya Kota Perlindungan
(Bilangan 35:9-15), nama Yesus (Matius 1:21), Babel, dan Yerusalem Baru
(Wahyu).

g. Penglihatan (Visi)

Dalam Alkitab tercatat banyak penglihatan (visi), dan biasanya dalam


penglihatan ini para nabi/rasul telah melihat hal yang bersifat simbolik.
Dalam penglihatan ini, seorang penafsir perlu memperhatikan penjelasan dari
Allah atau dari Malaikat, tentang hal yang dilihat, konotasi umum tentang hal
tersebut, situasi dari umat Allah atau orang yang bersangkutan, dan permainan
kata.

h. Mujizat

Simbol-simbol dalam bentuk mujizat tidak begitu banyak dalam Alkitab.


Contoh yang dapat ditunjukkan di sini misalnya nyala api yang keluar dari
semak duri (Keluaran 3), tiang awan & tiang api (Keluaran 13). Simbol-
simbol ini dapat dimengerti dari konteks.

8.4. Prinsip & Metode Penafsiran Simbol

a. Tidak ada hukum tertentu yang dapat dipakai untuk setiap kasus. Jadi dalam
penyelidikan simbol, seorang penafsir perlu hati-hati, dan menyelidikinya
kasus per kasus. Jangan membuat penafsiran secara spekulatif.

12
Hermeneutika (2) STT Kingdom, 2019 Stefanus Suheru, M.Si.Teol.

b. Penafsir perlu hati-hati dalam kasus warna, angka, logam, permata,


sebab tidak setiap warna, angka, logam, dan permata memiliki pengertian
simbolik. Hendaknya diperhatikan bagian yang berkaitan secara umum
daripada mencoba memaksa makna yang dibuatnya ke dalam simbol tersebut.

c. Perhatikan ciri yang umum, yang utama, yang penting dari simbol tersebut. Ini
berarti simbol pertama harus dimengerti dalam pengertian harfiah. Selidikilah
makna simbol tersebut dari pengertian harfiah ini.

d. Selalu perhatikan latar belakang mengenai simbol tersebut. Alkitab dan


penemuan arkeologis adalah sumber baik tentang data jenis ini. Sekali-kali
jangan menafsir simbol Alkitab berdasarkan latar belakang modern.

e. Penjelasan simbol yang tercatat di bagian Alkitab yang bersangkutan adalah


keterangan yang paling penting. Ini adalah penafsiran yang paling dapat
diandalkan.

f. Dalam kasus kurang penjelasan, seorang penafsir perlu memperhatikan


konteks dan tujuan dari bagian Alkitab tersebut. Ini sangat menolong.

g. Pakailah konkordansi untuk mencari ayat-ayat yang berhubungan.


Perhatikanlah jumlah pemakaiannya dan kitab-kitab yang memakainya.
Namun, ingat setiap kasus mungkin memberi pengertian tersendiri.

h. Bila seorang penafsir sudah yakin akan salah satu ciri dari suatu simbol,
hendaknya ia memulai penyelidikannya berangkat dari butir tersebut.
Mungkin ia akan mendapat butir lain dalam proses penyelidikan tersebut.

i. Penafsiran yang alami dan sederhana adalah penafsiran yang terbaik.

9. PENAFSIRAN TIPOLOGI

Kata Tipologi berasal dari kata bahasa Inggris Type, yang sebenarnya berasal dari kata bahasa
Yunani  (dipakai sebanyak 14 kali dalam Perjanjian Baru), berarti: bekas yang
kelihatan (karena pukulan atau tekanan), gambaran, bayangan, contoh atau pola. Misalnya:
Yohanes 20:25, Kisah Para Rasul 7:44, Roma 5:14, Kolose 2:17, Ibrani 8:5.

Dengan demikian, Tipologi adalah suatu korespondensi dalam satu atau beberapa aspek
antara tokoh, peristiwa, benda, atau lainnya di Perjanjian Lama dengan tokoh, peristiwa,
benda, atau lainnya yang lebih dekat, atau sejaman dengan penulis Perjanjian Baru.2

Atau memakai penjelasan lain: Type adalah suatu bayangan dari suatu kebenaran yang
terdapat di Perjanjian Lama, sedangkan perwujudannya (Anti-type) terdapat di Perjanjian
Baru.3

2
A. Berkeley Mickelsen, Interpreting The Bible (Grand Rapids: Wm. B. Eerdmans Publishing Co.,1966), 237.
3
Baker’s Dictionary of Theology, s.v. “Type, Typology” by Wick Broomall.

13
Hermeneutika (2) STT Kingdom, 2019 Stefanus Suheru, M.Si.Teol.

9.1. Ciri-ciri Tipologi

a. Tipologi biasanya lebih rumit & teliti, sehingga melibatkan lebih banyak data.
b. Type & Anti-type adalah tokoh-tokoh, peristiwa-peristiwa atau benda-benda di
dalam sejarah. Type dapat diterapkan setelah ada peristiwa di Perjanjian Baru
(konfirmasi).
c. Tipologi hanya terdapat di dalam Alkitab saja. Type dirancang oleh penunjukan
Ilahi untuk menghasilkan keserupaan dengan Anti-type.
d. Tipologi bersifat nubuat, dan anti-type-nya selalu berkisar pada Yesus Kristus,
khususnya karya penebusan-Nya bagi manusia yang jatuh ke dalam dosa.4
e. Baik Type atau Anti-Type telah terbaca di Perjanjian Baru, Type tetap bermakna
bagi umat Allah abad modern (baca 1 Korintus 10:1-11).

9.2. Jenis-jenis Tipologi

Pada umumnya Tipologi dapat dibagi dalam enam (6) jenis, yaitu:

a. Tokoh: misalnya Adam, Yusuf, Melkisedek, Musa, Daud.


b. Peristiwa: misalnya Air Bah, perjalanan orang Israel di padang belantara.
c. Benda: misalnya Kemah Suci beserta peralatan di dalamnya.
d. Jabatan: misalnya raja, nabi, dan imam.
e. Lembaga: misalnya hari raya Paskah, hari Sabat, upacara-upacara kurban.
f. Tempat : misalnya Bethlehem, Hebron, Gilgal, Kanaan, Yerusalem.

9.3. Prinsip & Metode Penafsiran Type

a. Relasi antara Type & Anti-Type harus dipahami sebagai hubungan yang tunggal
dan sederhana (tidak berfokus pada detailnya). Harus ada kesesuaian antara Type
& Anti-Type untuk menghindari masuknya eisegetis. Type di Perjanjian Lama
pertama-tama dipahami di dalam bentuk simbol.

b. Penafsir harus menetapkan makna moral & spiritual yang Allah ingin sampaikan
kepada umat-Nya. Setelah itu, penafsir dapat beralih untuk melihat bagaimana
kebenaran itu direalisasikan di Perjanjian Baru.

c. Type, sebagai pola, menghadirkan kebenaran secara terselubung, sehingga kita


harus kembali ke Perjanjian Baru untuk melihat bagaimana realitas menggenapkan
bayangan dan membuat kebenaran menjadi jelas. Sebagaimana nubuat secara
penuh dipahami di dalam terang penggenapannya, begitu pula dengan Type.

d. Perlu diperhatikan bahwa masih ada perbedaan esensial antara Type dan Anti-
Type. Type menghadirkan kebenaran pada taraf yang lebih rendah, karnal,
kekinian, eksternal, dan realitas duniawi, sementara Anti-Type menghadirkan
kebenaran pada taraf tinggi, spiritual murni, masa depan, internal, dan realitas
surgawi.

4
Tipologi berbeda dengan Nubuat dalam format mereka: Tipologi dalam bentuk korespondensi antara tokoh,
peristiwa benda yang terdapat di Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, sedangkan Nubuat dalam
format pemberitaan terlebih dahulu yang kemudian menjadi fakta.

14
Hermeneutika (2) STT Kingdom, 2019 Stefanus Suheru, M.Si.Teol.

e. Baik Type maupun Anti-Type perlu dipelajari dalam pengertian sejarah.


Penyelidikan yang seksama atas Type dan Anti-Type sama pentingnya.

f. Tipologi selalu berkisah tentang Kristus, khususnya karya penyelamatan-Nya. Jadi


penafsiran Tipologi harus memberi penekanan yang cukup memadai untuk aspek
ini. Jika tidak, sangat mungkin penafsir Tipologi akan melalaikan butir yang
terpenting dari tipologi tersebut.

9.4. Contoh Penafsiran Tipologi: YUSUF, Sebuah Type Dari KRISTUS


(Berdasarkan Kejadian 37)5

No YUSUF YESUS KRISTUS


01 Menggembalakan kawanan domba, Gembala yang baik, Yohanes
Kejadian 37:2 10:11,14
02 Kejahatan saudara-saudaranya, Perbuatan-perbuatan jahat mereka,
Kejadian 37:2 Yohanes 3:19-20
03 Dikasihi (oleh ayahnya), Kejadian “Anak-Ku yang Kukasihi”, Matius
37:3 3:17
04 Dibenci (oleh saudara-saudaranya), Dibenci tanpa sebab, Yohanes 15:25
Kejadian 37:4-5
05 Tidak dipercaya, Kejadian 37:5 Saudara-saudara-Nya sendiripun
tidak percaya kepada-Nya, Yohanes
7:5
06 Sujud menyembah, Kejadian 37:7,9 Dia yang lebih utama dalam segala
sesuatu, Kolose 1:18
07 Apakah engkau ingin berkuasa atas Kami tidak mau orang ini, Lukas
kami ? Kejadian 37:8 19:14
08 Maka iri hatilah saudara-saudaranya, Diserahkan karena dengki, Markus
Kejadian 37:11 15:10
09 Ayahnya menyimpan hal itu dalam Ibu-Nya menyimpan semua perkara
hatinya, Kejadian 37:11 itu di dalam hatinya, Lukas 2:51
10 Dikirim kepada saudara-saudaranya, Aku akan menyuruh anakku yang
Kejadian 37:13 kekasih, Lukas 20:13
11 “Ya, bapa” (“Here am I”), Kejadian “Sungguh, aku datang” (“Lo, I
37:13 come”), Mazmur 40:8-9, Ibrani
10:5-7.
12 Bawalah kabar tentang itu kepadaku, Tetapi sekarang, Aku datang
Kejadian 37:14 kepada-Mu, Yohanes 17:13
13 Keluar dari lembah Hebron Kemuliaan yang Kumiliki di
(persekutuan), Kejadian 37:14 hadirat-Mu, Yohanes 17:5,24
14 Ia datang ke Sikhem, Kejadian 37:14 Ke kota Samaria yang disebut
Sikhar (Sikhem), Yohanes 4:4-5
15 Berjalan mengembara di padang, Ladang dunia (Matius 13:38), tidak
Kejadian 37:15 ada tempat untuk meletakkan
kepala-Nya (Lukas 9:58)
16 Aku mencari saudara-saudaraku, Datang untuk mencari &
Kejadian 37:16 menyelamatkan, Lukas 19:10

5
Dikutip dari Adar Habershon, The Study of The Types (Grand Rapids: Kregel Publications), 1983, 169.

15
Hermeneutika (2) STT Kingdom, 2019 Stefanus Suheru, M.Si.Teol.

17 Pergi menyusul saudara-saudaranya, Pergi mencari yang sesat, Lukas


Kejadian 37:17 15:4
18 Mereka bersekongkol membunuhnya, Bersepakat untuk membunuh-Nya,
Kejadian 37:18 Matius 27:1, Yohanes 11:53
19 Kita akan melihat, Kejadian 37:20 Sehingga mereka dapat melihat,
Markus 15:32
20 Menanggalkan jubahnya, Kejadian Mereka menanggalkan pakaian-
37:23 Nya, Matius 27:28
21 Sumur (The Pit), Kejadian 37:24 Lubang Kebinasaan (The Horrible
Pit), Mazmur 40:3, 69:3,15-16
22 Mereka duduk, Kejadian 37:25 Mereka duduk di situ menjaga Dia,
Matius 27:36
23 20 Keping Perak, Kejadian 37:28 30 Keping Perak, Matius 26:15,
27:9, Keluaran 21:32
24 Ke Mesir, Kejadian 37:36 Dari Mesir Kupanggil Anak-Ku,
Matius 2:14-15

10. PENAFSIRAN NUBUAT

10.1. Problematika

Apakah sifat dari Nubuat itu?

[1] Hanya bersifat ramalan tentang peristiwa masa depan?


[2] Sejarah peristiwa-peristiwa sebelum mereka menjadi lampau? Atau,
[3] Gagasan Vaticina Post Eventum (prediksi setelah sesuatu terjadi)?

10.2. Definisi

Nubuat adalah proklamasi dari apa yang Allah nyatakan.

a. Karakteristik dari Nubuat Alkitab

[1] Ketika nabi menerima penyataan khusus dari Allah, dan pada gilirannya,
menyatakan kepada umat Allah. Penyataan ini untuk menjelaskan masa
lalu dan membentangkan masa kini, serta membuka masa depan.

[2] Perhatian sang nabi selalu berpusat pada Kerajaan Allah dan pekerjaan
penebusan Kristus.

[3] Inisiasi, penerimaan, dan komunikasi:

a> Semua nubuat harus datang dari Allah (1 Petrus 1:20-21).


b> Sang nabi menerima wawasan dari Allah melalui mimpi, visi, bisikan
batin, atau komunikasi langsung.
c> Para nabi mengkomunikasikan berita mereka kepada umat dengan
pernyataan sederhana, dengan deskripsi mimpi atau visi, atau dengan
tindakan-tindakan simbolis.

16
Hermeneutika (2) STT Kingdom, 2019 Stefanus Suheru, M.Si.Teol.

b. Perbedaan antara prediksi dan janji

Prediksi sebagai iluminasi tentang peristiwa mendatang, sedangkan janji


adalah pemahaman bahwa Allah telah menetapkan untuk menyelesaikan
tujuannya, dan siap bekerja menuju pemenuhan dari tujuan ini. Masa depan
berada di dalam perkembangan penggenapan. Semua nubuat bekerja di dalam
konteks janji Ilahi ini.

10.3. Karakteristik Khusus Dari Nubuat Alkitab

(a) Nubuat Alkitab sebagai suatu keseluruhan memiliki karakter organik

[1] Nubuat bukanlah suatu koleksi prediksi/ramalan.


[2] Nubuat adalah bagaikan setangkai bunga yang pada akhirnya mekar
menjadi bunga yang indah (dimulai dengan gagasan-gagasan umum,
yang akhirnya secara berangsur-angsur dinyatakan).

(b) Nubuat Alkitab dihubungkan secara erat dengan sejarah

[1] Mempunyai setting sejarah: seorang nabi adalah seseorang yang historis
dengan sebuah berita kepada orang-orang sezamannya.

[2] Nubuat bekerja di dalam konteks sejarah keselamatan. Oleh karena itu
melampaui batas sejarah & tempat sekarang dengan suatu gambaran
besar dari Allah.

[3] Dibuktikan di Perjanjian Baru, bahwa nubuat bekerja di dalam bentuk


kerugma, terdiri atas proklamasi peristiwa-peristiwa sejarah tertentu di
dalam sebuah konteks yang menafsirkan makna dari peristiwa-peristiwa
itu: kehidupan, kematian, dan kebangkitan Kristus, dan perkembangan
Gereja. Makna ini selalu dilihat di dalam terang kesaksian Perjanjian
Lama. Lihat 1 Korintus 15:3-5 sesuai dengan Kitab Suci, Kisah Para
Rasul 2:16,23, dan pemakaian Perjanjian Lama di Perjanjian Baru
(Yohanes 15:25 - Mazmur 69:5, Yohanes 19:28 - Mazmur 69:22).

(c) Nubuat memiliki perspektif khusus

[1] Sang nabi memadatkan peristiwa-peristiwa besar ke dalam suatu ruang


waktu yang singkat, ia memiliki a single glance of God’s eternal work
(visi).
[2] Waktu & rentetan peristiwa bukan perhatian utama.
[3] Adanya penggenapan ganda dari suatu nubuat seperti kedatangan Kristus.

(d) Allah memperkenankan para nabi untuk membungkus pemikiran mereka di


dalam bentuk-bentuk yang berasal dari masa mereka. Bentuk ini bukanlah
intisarinya, sebaliknya, isinyalah yang menjadi intisarinya.

(e) Ketika sang nabi diperintahkan untuk mewartakan berita di dalam tindakan-
tindakan nubuat, mereka sesungguhnya mengambil tempat di dalam setting
nabi saat itu, sekali pun penggenapannya hanya dapat dipahami di dalam

17
Hermeneutika (2) STT Kingdom, 2019 Stefanus Suheru, M.Si.Teol.

konteks sejarah keselamatan. Misalnya Yesaya berjalan dengan kaki


telanjang, Yehezkiel berbaring 390 hari di sisi kirinya, dan 40 hari di sisi
kanannya, menanggung perbuatan salah umat-Nya, dan perkawinan Hosea.

10.4. Langkah-langkah Dasar Di Dalam Penafsiran Nubuat

a. Tentukan makna literalnya terlebih dahulu, bila konteks tidak menunjukkan


bahwa mereka mempunyai makna simbolis.

b. Temukan gagasan dasar yang diekspresikan, baru kemudian menuju ke


detailnya. Misalnya kehidupan harmonis digambarkan seperti binatang yang
hidup bersama di langit & bumi baru.

c. Kenalilah penggenapan nubuat yang mula-mula (dekat) sebaik penggenapan


akhir di dalam konteks sejarah keselamatan.

d. Tetap menjaga sentralitas Kristus (Kristologis) di dalam semua penafsiran


nubuat. Kegagalan untuk melakukan hal ini, membuat seorang penafsir hanya
tertarik pada sejarah saja daripada keselamatan.

e. Jangan sekali-kali memakai metode allegori, mistik, atau dogmatik di dalam


menafsirkan nubuat.

10.5. Contoh Penafsiran Nubuat: Gembala Yang Akan Datang (Yehezkiel 34)6

Gembala sebenarnya adalah suatu istilah yang mengandung arti yang luas,
termasuk imam, raja, dan pembesar dari umat Israel. Dengan demikian, yang
dimaksudkan dengan gembala di sini bukanlah gembala yang biasa.

a. Kejahatan Para Gembala Palsu, 34:1-6

(1) Menggembalakan dirinya sendiri, ayat 2.


(2) Menikmati susu & bulunya, ayat 3. Bandingkan dengan Mazmur 100.
(3) Yang lemah tidak dikuatkan, yang sakit tidak diobati, yang luka tidak
dibalut, yang tersesat tidak dibawa pulang (ayat 4).

Di sini ada satu hal yang ditekankan, yaitu tidak kamu gembalakan,
dengan kata lain, orang-orang ini (imam, raja, pembesar Israel) hanya tahu
menikmati dan menggembalakan dirinya sendiri, tidak menjalankan perintah
Allah. Kesalahan umat Israel dan kecelakaan domba-domba itu adalah
disebabkan oleh mereka. Itulah sebabnya Allah menegur para gembala.

b. Kejahatan para gembala Yahudi diungkap ulang, 34:7-10

(1) Allah memberi peringatan & bermusuhan dengan mereka.


(2) Allah akan menyelamatkan domba-domba dari mulut gembala yang jahat
dan palsu.

6
Peter Wongso, Tafsiran Kitab Yehezkiel (Malang: SAAT), 1998, 69-71.

18
Hermeneutika (2) STT Kingdom, 2019 Stefanus Suheru, M.Si.Teol.

c. Tuhan menjanjikan bahwa Ia sendiri akan menjadi Gembala mereka, 34:11-24

(1) Ia akan mencari domba yang sesat, ayat 12.


(2) Ia akan membimbing & membawa domba-domba-Nya kembali ke tanah
airnya sendiri, ayat 13.
(3) Ia akan membaringkan domba-domba-Nya di taman yang indah, ayat 14.
(4) Ia sendiri akan menjadi Gembala domba-domba-Nya dan memberi tempat
untuk beristirahat, ayat 15.
(5) Ia melayani domba-domba-Nya, ayat 16.
(6) Ia akan menjalankan hukuman yang adil di tengah-tengah domba-domba
dan kambing-kambing-Nya, ayat 17-19.

Allah akan menjalankan hukuman di tengah-tengah domba yang gemuk dan


kurus, ayat 20-24.

Di dalam ayat 23-24 Allah berjanji akan membangkitkan Daud sebagai


Gembala mereka, namun pada waktu itu Daud sudah mati beberapa ratus
tahun sebelumnya (sekitar 300 - 400 tahun), maka secara harfiah jelas yang
dimaksudkan bukan Daud sendiri.

Ayat 24 menyinggung bahwa Daud akan menjadi raja. Mengenai nubuat ini,
Paulus menjelaskan bahwa raja yang diperkenan oleh Allah seperti Daud
itu adalah Tuhan Yesus (Kisah Para Rasul 13:22-23). Tuhan Yesus sendiri
juga mengakui bahwa Ia adalah Gembala yang baik dan Ia mati untuk domba-
domba-Nya (Yohanes 10:1-18). Nubuat ini jelas bukan ditujukan kepada
Daud, melainkan Tuhan Yesus, Gembala yang agung.

Petrus di dalam 1 Petrus 5:3-4 menjelaskan bahwa Yesus adalah Gembala


yang Agung dan di dalam 1 Petrus 2:25 menunjukkan bahwa Yesus adalah
Uskup & Gembala yang memelihara jiwa kita.

Ibrani 13:20 juga menyinggung bahwa Yesus adalah Gembala yang Agung, Ia
sudah bangkit dari antara orang mati. Maka kesimpulan Gembala yang
seperti Daud itu adalah Tuhan Yesus Kristus.

d. Perjanjian damai sejahtera dengan domba-domba-Nya, 34:25-31

(1) Sekali lagi Allah mengadakan perjanjian dengan Israel.


(2) Allah akan meniadakan binatang buas agar domba-domba ini hidup
aman, tenang sampai dapat tidur di hutan.

Selanjutnya ada janji berkat untuk tanah yang dijanjikan kepada mereka itu.
Allah akan melepaskan mereka dari tangan penjajah, dan tidak lagi menjadi
tawanan orang kafir. Mereka juga tidak akan mengalami kelaparan atau
pengkhianatan orang kafir. Bagian ini mengulangi tujuan Allah yakni agar
mereka tahu bahwa Dia-lah TUHAN (ayat 27,30,31).

19
Hermeneutika (2) STT Kingdom, 2019 Stefanus Suheru, M.Si.Teol.

11. PENAFSIRAN PERUMPAMAAN

11.1. Pengantar

a. Sifat Perumpamaan & Pemakaiannya Di Dalam Alkitab

[1] Perumpamaan adalah metafora atau simile yang diperluas, yang


membandingkan kebenaran agamawi dengan pengalaman yang umum.
Istilah perumpamaan dipakai hampir 50 kali di Perjanjian Baru, dan
berakar di Perjanjian Lama, khususnya di kitab Amsal. Rabbi pada jaman
Yesus juga memakai perumpamaan secara luas.

[2] Dua perbedaan sifat perumpamaan Yesus dari Rabbi pada jaman-Nya
adalah kesegaran & kesederhanaan, yang berlawanan dengan
menunjukkan keilmuan & membosankan, serta makna tunggal di dalam
hubungannya dengan Kerajaan yang sedang datang, dipertentangkan
dengan para Rabbi yang memusatkan perhatian pada Taurat & aplikasinya.

[3] Perumpamaan berbeda dari Fabel (sepele & fantastik), Mitos (ciptaan
cerita rakyat yang populer), Allegori (yang menemukan banyak poin di
dalam sebuah narasi), di mana Perumpamaan hanya memiliki SATU
POIN SENTRAL; semua unsur yang lain hanyalah tambahan & tunduk di
bawah SATU POIN TERSEBUT.

[4] Perumpamaan bersifat mendidik dengan maksud utama untuk mengajar


murid yang responsif (bandingkan dengan Matius 13:11-17, Markus 4:10-
12, Lukas 8:8-10). Dan maksud kedua adalah untuk menyembunyikan
kebenaran dari mereka yang acuh tak acuh, serta membantu di dalam
mengeraskan hati mereka (misalnya Yesaya 6).

Oleh karena itu, tujuan Perumpamaan bukanlah pendorong intelektual


seseorang, melainkan memimpin kepada perhatian moral seseorang.
Perumpamaan itu bagaikan sebuah anak panah yang meluncur ke jantung
manusia, inti kehidupannya, tempat kehendak & kasih sayangnya.

[5] Sifat eskatologis dari Perumpamaan Yesus: Perumpamaan-Nya membawa


para pendengar kepada gagasan kekuasaan Allah yang tidak tergoyahkan
dan tujuan penebusan di dunia ini.

b. Empat Unsur Di Dalam Perumpamaan

[1] Kejadian yang umum, lazim, dan ada di dalam kehidupan sehari-hari/konkret,
sehingga perumpamaan menjadi sarana pengajaran yang sangat baik.

[2] Pelajaran spiritual di balik unsur-unsur alami, kebenaran teologis perumpamaan


bermaksud untuk mengajar.

20
Hermeneutika (2) STT Kingdom, 2019 Stefanus Suheru, M.Si.Teol.

[3] Hubungan analogis antara unsur alami & spiritual.


Misalnya Garam: - Unsur Alami: yang selalu dibutuhkan.
- Unsur Spiritual: Orang Kristen yang selalu dibutuhkan
kehadirannya.

[4] Perumpamaan selalu mempunyai dua tahap arti, alami & spiritual; mereka
membutuhkan penafsiran sedemikian untuk menghindari terlalu banyak
dari yang dimaksudkan oleh perumpamaan itu.

11.2. PRINSIP-PRINSIP DASAR UNTUK PENAFSIRAN PERUMPAMAAN

Perumpamaan ditujukan kepada pendengar khusus, sehingga tidak mudah untuk


ditafsirkan, khususnya ketika konteks lingkungannya bukanlah masa kini.
Meskipun sifatnya tampak sederhana, penafsirannya sangat kompleks bila kita
tidak mengikuti jalan yang benar. Berikut di bawah ini diberikan petunjuk-
petunjuk yang disarankan oleh Ramm di dalam penafsiran Perumpamaan Alkitab

a. Prinsip Perspektif (Teologi): memahami secara memadai hubungan antara


perumpamaan dengan Kristologi & Kerajaan Allah.

[1] Perumpamaan Yesus mengandung lebih daripada pengajaran mashal


rabbinik (penekanan pada moral atau spiritual), bersifat pewahyuan,
mengajarkan tentang Kerajaan-Nya & diri-Nya sendiri.

[2] Yesus memberitakan Injil Kerajaan di dalam mengumumkan Kerajaan


Allah ada di tangan. Gagasan Kerajaan telah datang, kerajaan itu
diaktualisasikan (Lukas 17:20-21) dan berlanjut sampai sekarang. Oleh
karena itu, perumpamaan juga mengandung corak nubuat tentang Kerajaan
Allah, panen eskatologis pada akhir jaman.

b. Prinsip Kebudayaan (Background): di dalam menafsirkan perumpamaan,


unsur kebudayaan yang terdapat di dalamnya tidak dapat diabaikan. Dengan
mengetahui latar belakang kebudayaan akan banyak membantu bagi kita untuk
memahami arti sebenarnya dari perumpamaan tersebut.

c. Prinsip Eksegetikal (Penguraian) :

[1] Menetapkan SATU PUSAT KEBENARAN di dalam sebuah


perumpamaan. Detail-detail di dalam perumpamaan tidaklah dimaksudkan
untuk memiliki makna tersendiri, mereka bukanlah seperti allegori.

[2] Pastikan berapa banyak Tuhan sendiri telah menafsirkan perumpamaan


yang Ia sampaikan, misalnya Matius 13:3-8, 18-23, di mana kita memiliki
perkataan tertentu dari Kristus berkenaan dengan makna perumpamaan
tersebut. Tafsiran yang diberikan oleh Alkitab atau Tuhan Yesus sendiri
merupakan tafsiran langsung, akurat, dapat dipertanggung jawabkan secara
hermeneutika, dan tidak dapat diganggu gugat. Jadi kita tidak perlu
bersusah-payah menafsirkan dengan arti lain.

21
Hermeneutika (2) STT Kingdom, 2019 Stefanus Suheru, M.Si.Teol.

[3] Perhatikan tanda-tanda petunjuk di dalam konteks berkenaan dengan


makna perumpamaan. Misalnya Lukas 15:2 adalah tanda petunjuk untuk
menafsirkan tiga perumpamaan yang mengikutinya (Domba, Dirham, dan
Anak yang hilang); Lukas 14:25 dan seterusnya adalah perumpamaan
tentang pelayanan Kristiani, bukan tentang keselamatan; Lukas 16:14
mengenai bendahara yang tidak jujur.

[4] Perbandingkanlah dengan Perjanjian Lama


Dalam menafsirkan perumpamaan, hendaklah kita memperhatikan apakah
perumpamaan tersebut disinggung di dalam Perjanjian Lama. Bila ada,
maka perlu menyelidiki dan memperbandingkannya, sebab dengan berbuat
demikian akan membawa kita lebih menghayati jiwa perumpamaan
tersebut.

Misalnya di Yohanes 3:14, Tuhan Yesus menggunakan perumpamaan


peristiwa yang terjadi di Perjanjian Lama (Bilangan 21:4-9) -
mengungkapkan kebenaran keselamatan di dalam Yesus - tatkala manusia
memandang & meninggikan Kristus yang tergantung pada salib, maka
mereka tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3:16).

[5] Melihat Arti Sebaliknya


Ada kalanya perumpamaan tidak dapat ditafsirkan & dipahami secara
literal, melainkan secara terbalik. Misalnya di dalam perumpamaan
tentang Hakim yang tidak benar, yang dimaksudkan adalah bila hakim
yang jahat ini karena takut terus diganggu bersedia membela perkara janda
ini, apalagi dengan Allah Bapa yang maha adil, pastilah akan mendengar
seruan orang yang memohon kepada-Nya (Lukas 18:1-8).
Contoh lainnya, di Lukas 16:1-13 Tuhan tidak memuji ketidakjujuran
bendaharawan tersebut, melainkan kecerdikan memikirkan dan
mempersiapkan diri untuk menghadapi masa depan.

d. Prinsip Doktrinal
Dalam penafsiran, hendaklah tafsiran kita ditempatkan pada proporsi yang
sebenarnya. Dengan kata lain, tafsiran kita harus sesuai dengan arti yang
sebenarnya, tanpa terlebih dahulu memasukkan kehendak atau konsep
pemikiran yang sudah ada pada kita. Sebab itu, perlulah dalam menafsirkan
perumpamaan menggunakan pikiran yang bersih, jujur, dan terlepas dari
pandangan teologis, prasangka yang ada pada kita. Kita perlu memohon
bimbingan Roh Kudus untuk membawa kita kepada arti yang sebenarnya dan
yang dimaksudkan oleh Alkitab.

11.3. Contoh Penafsiran Perumpamaan: Orang Samaria Yang Murah Hati


(Lukas 10:25-37)7

Banyak orang menafsirkan perumpamaan ini secara alegoris. Misalnya Origenes


menafsirkan bahwa orang yang jatuh ke tangan para penyamun adalah Adam;
Yerusalem adalah Surga. Yerikho adalah dunia; para penyamun adalah iblis dan
para pengikutnya; yang dimaksudkan dengan imam adalah Hukum dan orang
7
Paulus D.H. Daun & Lucia S.K. Daun, Hermeniutika Perumpamaan Yesus (Yogyakarta: Yayasan
ANDI), 1988, 49-51.

22
Hermeneutika (2) STT Kingdom, 2019 Stefanus Suheru, M.Si.Teol.

Lewi adalah para nabi; Orang Samaria yang murah hati adalah Yesus Kristus;
keledai adalah tubuh Kristus yang menanggung Adam yang jatuh; rumah
penginapan adalah gereja; dua dinar menunjukkan Allah Bapa dan Allah Anak;
janji yang diberikan orang Samaria untuk kembali lagi menunjukkan pada
kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kalinya. Sedangkan Agustinus menafsirkan
sedikit lain sebagai berikut: keadaan orang yang dirampok melambangkan
keadaan orang yang telah jatuh dalam dosa; keadaannya yang parah karena
penganiayaan menunjukkan kemiskinan pengetahuan orang berdosa terhadap
Allah; orang Samaria membalut luka-luka melambangkan karya Kristus untuk
mengekang dosa; minyak dan anggur adalah penghiburan, pengharapan dan
nasehat dari pelayanan rohani; pemilik penginapan adalah Paulus dan dua dinar
adalah dua hukum kasih.8

Tafsiran yang bersifat alegoris dari dua tokoh gereja di atas, ditinjau secara
Hermeneutik tidak dapat dibenarkan! Bagaimana seharusnya kita menafsirkan
perumpamaan ini?

Dalam prinsip Kebudayaan, Tuhan Yesus mempergunakan kebudayaan yang


telah dikenal pada waktu itu sebagai latar belakang dari perumpamaan ini
(kebudayaanYahudi). Peristiwa yang diceritakan dalam perumpamaan ini, baik
secara geografis, suasana, situasi masyarakat pada waktu itu adalah hal biasa dan
diketahui umum. Tuhan Yesus mempergunakan orang Samaria sebagai lakon
utama dalam perumpamaan ini, yang mempunyai latar belakang tertentu. Dalam
kenyataan antara orang Yahudi dan orang Samaria pada waktu itu saling
bermusuhan (bandingkan dengan Lukas 9:51-56, Yohanes 4:9, 8:48). Di
pandangan orang Yahudi, orang Samaria adalah suku yang hina-dina dan
berdosa, dan menganggap diri sendiri sebagai orang benar dan suci.
Dengan perumpamaan ini yang mempunyai latar belakang umum dan diketahui
umum pula, Tuhan Yesus mau menyadarkan orang-orang Farisi dan ahli Taurat
yang selalu membenarkan diri.

Untuk mengetahui maksud & tujuan Tuhan memberikan perumpamaan ini dan
sekaligus menunjukkan hakekat perumpamaan ini, maka perlulah kita mencari
inti yang menjadi latar belakang perumpamaan ini. Bila kita perhatikan secara
teliti, perumpamaan ini diberikan karena Tuhan Yesus mendapat pertanyaan dari
seorang ahli Taurat, yang mempunyai motivasi mencobai Tuhan Yesus.
Pertanyaan pertama yang diajukan adalah tentang masalah dengan cara apa
seseorang memperoleh hidup yang kekal. Dengan bijaksana Tuhan menjawab
melalui si penanya. Memang dasarnya si penanya bermaksud untuk mencobai
dan membenarkan diri, maka dilanjutkan dengan pertanyaan, “Siapakah
Sesamaku Manusia ?”. Inilah inti & juga menjadi latar belakang sehingga
Tuhan memberikan perumpamaan Orang Samaria yang murah hati.

Tuhan Yesus dalam perumpamaan berusaha mengungkapkan siapa sebenarnya


Sesama Manusia itu. Bagi orang yang terluka parah Sesama Manusia
adalah orang Samaria yang baik hati dan yang bersedia menolong orang,
khususnya orang yang dalam penderitaan.

8
A.M. Hunter, Interpreting The Parables (Philadelphia: The Westminster Press), 1960, 7,9.

23
Hermeneutika (2) STT Kingdom, 2019 Stefanus Suheru, M.Si.Teol.

Sebagaimana telah dikemukakan di dalam prinsip eksegetikal bahwa setelah kita


menemukan inti atau pusat kebenarannya, maka yang lainnya hanya merupakan
bahan-bahan pelengkap dalam rangka mengungkapkan kebenaran itu. Bahwa
bersama & menjadi sesama bagi orang lain berarti menunjukkan sifat radikal
dari kasih agape; kasih yang sungsang itu.9 Kasih agape itu disebut sungsang,
sebab:

[1] Agape tidak pilih kasih


Mengasihi tanpa pilih kasih, melampaui kewajiban semata-mata. Pelaksana
agape tidak menarik garis tanggung jawab dan menolak orang lain. Jawaban
Tuhan Yesus kepada sang ahli Taurat jelas. Bila musuh sekali pun
didefinisikan sebagai sesama, maka jelas tidak ada seorang pun yang tidak
layak mendapatkan kasih agape. Cerita tersebut mendefinisikan bahwa setiap
orang, bahkan musuh kita, adalah sesama kita. Pengertian sesamaku dalam
Kerajaan Allah mencakup semua orang. Perbedaan antara musuh dan sahabat
menjadi larut, sebab setiap orang adalah sesama kita. Kita memperlakukan
setiap orang sebagai sesama kita, bahkan mereka yang kepadanya kita tidak
mempunyai kewajiban untuk bertindak ramah, bahkan juga musuh-musuh
yang sesungguhnya patut kita benci. Kasih agape menjawab kepada manusia,
bukan kepada kategori-kategori sosial. Tuhan Yesus menjungkirbalikkan
segala sesuatu dengan bertanya kepada sang ahli Taurat, singkatnya,
“Apakah saudara berperilaku sebagai sesama bagi orang lain?”

[2] Agape itu berani


Kebiasaan agamawi tidak menghalanginya. Agape membatalkan norma-
norma sosial yang dapat bersikap tidak peduli. Berbeda dengan imam yang
merasa takut bila bayangannya menyentuh mayat, agape menghargai manusia
lebih daripada tradisi-tradisi agamawi. Agape menembus rintangan-rintangan
sosial yang menyembunyikan manusia di penjara, rumah sakit, pusat
perawatan pecandu obat bius, dan segala jenis ghetto.

[3] Agape merepotkan


Imam dan orang Lewi melihat tetapi lewat saja pada sisi yang lain. Orang
Samaria mempunyai belas kasihan lalu turun dari keledainya. Ia mengangkat
si korban ke atas keledainya dan berjalan di sampingnya. Memang
merepotkan turun dari keledai yang membawa kita ke tempat-tempat yang
menyenangkan dan aman.

[4] Agape mengandung resiko


Seluruh adegan ini mungkin hanya rekayasa. Mungkin para penyamun itu
sedang bersembunyi di sekitar tempat itu untuk menghantam siapa pun yang
datang memberikan pertolongan. Setelah memberikan pertolongan, orang
Samaria itu berjalan dan tidak menunggangi keledainya sehingga ia mudah
diserang komplotan bersenjata.

9
Donald B. Kraybill, Kerajaan Yang Sungsang (Jakarta: BPK Gunung Mulia), 1993, 173-178.

24
Hermeneutika (2) STT Kingdom, 2019 Stefanus Suheru, M.Si.Teol.

[5] Agape menghabiskan waktu


Jadwal perdagangan orang Samaria itu terganggu. Berhenti lalu membalut
luka si korban, berjalan di samping keledainya, singgah di losmen, tentu saja
membuat perjalanannya terlambat.

[6] Agape itu mahal


Si orang Samaria membayar kepada pemilik losmen ongkos sewa kamar
selama 24 hari dan memberikan sehelai cek blangko untuk pengeluaran
tambahan. Sekiranya seorang Yahudi yang menolong sesamanya Yahudi,
maka pengadilan mungkin akan membayar mengembalikan uang itu kepada
si penolong. Akan tetapi, pengadilan Yahudi tidak akan pernah membayar
kembali kepada seorang Samaria. Orang Samaria itu dengan bebas
memberikan pertolongan tanpa mengharapkan balasan. Justru inilah yang
Tuhan Yesus perintahkan dalam ajaran-Nya yang resmi (Lukas 6:35).

[7] Agape itu mengacaukan status sosial


Apa yang terjadi ketika terdengar berita di kampung halaman si Orang
Samaria, bahwa ia telah menolong seorang Yahudi? Ia tentu dianggap
sebagai pengkhianat terhadap perjuangan bangsa Samaria. Nama baiknya dan
status sosialnya ternodai. Kemungkinan ia diejek oleh bangsanya sendiri.

Perumpamaan Orang Samaria Yang Murah Hati ini menjelaskan dengan tuntas
hakekat agape, yang ditunjukkan oleh seseorang yang menjadi sesama bagi orang
lain. Agape sungguh berani dan agresif. Agape lebih daripada sekedar rasa
hangat yang mengawang. Lebih daripada sikap baik terhadap orang lain. Agape
tidak berhenti pada senyuman manis. Kasih agape ini agresif. Mahal, secara
sosial maupun ekonomi.

Hal-hal atau bahan-bahan pelengkap tersebut di atas, tidak dapat ditafsirkan


dengan maksud lain. Sebab itu, Yerusalem, Yerikho, rumah penginapan, dua
dinar, dan lain-lain yang merupakan unsur penunjang, janganlah ditafsirkan
sebagai lambang ini atau itu. Bila kita tetap melakukan, bukan saja secara
Hermeneutika tidak dapat dipertanggung jawabkan, bahkan peluang yang
menjurus kepada penafsiran yang salah sangat besar sekali!

12. PENAFSIRAN SYAIR

12.1. Pendahuluan

Syair adalah semacam gaya tulisan yang mengambil bagian sebanyak


sepertiga hanya di Perjanjian Lama saja. Di luar dugaan umum, syair bukan
saja terdapat dalam kitab-kitab syair (Ayub, Mazmur, Amsal, Pengkhotbah,
Kidung Agung), melainkan juga terdapat di kitab-kitab lain di Perjanjian
Lama (hanya 7 kitab Perjanjian Lama yang tidak terdapat syair, yakni Imamat,
Rut, Ezra, Nehemia, Ester, Hagai, dan Maleakhi) maupun Perjanjian Baru
(biasanya syair di Perjanjian Baru merupakan nyanyian & pujian yang tidak
terlalu panjang, misalnya: Lukas 1:46-55, 68-69, 2:14,29-32, Kisah Para Rasul
17:28, Titus 1:12, Epesus 5:14, Filipi 2:8-11, 1 Timotius 3:16, 2 Timotius
2:11-13, Wahyu 4:8, 5:9-10,12-13, 7:15-17).

25
Hermeneutika (2) STT Kingdom, 2019 Stefanus Suheru, M.Si.Teol.

Syair di dalam Alkitab sebenarnya adalah suatu pokok yang luas, yang dapat
dibagi dalam bahasa Ibrani dan Yunani, yang berlatar belakang cukup berbeda
dan rumit. Ditambah lagi jangka waktu yang begitu panjang dan data yang
begitu banyak terlibat hanya dalam syair Ibrani saja. Maka lebih bijaksana dan
praktis bila pembahasan kita di sini hanya terbatas pada syair Perjanjian Lama
saja.

a. Sifat Umum dari Syair Ibrani

[1] Makna & bentuk: Semantik & keindahan Paralellisme.


[2] Lirik & Didaktik: emosi, pengalaman rohani, dan ekspresi diarahkan ke
hati (untuk menyampaikan makna yang lebih luas, berisi emosi bukan
logika). Misalnya Hosea 4:17, 7:8,11, 10:11, 11:3, 12:2.
Oleh karena itu, dalam batas-batas tertentu pesan syair ditentukan oleh
bentuknya.

b. Sifat Khusus dari Corak di dalam Syair Ibrani

[1] Paralellisme & pasangan-pasangan kata yang sejajar (pasangan-


pasangan kata-kata yang searti).

a. Sifat Paralellisme (Kesejajaran Makna) Khusus:

No Jenis Parallelisme Pemahaman Contoh


1. Synonymous - Pengulangan Ide Ayub 3:5,20, 4:17
Paralellism yang sama Mazmur 24:1.
2. Antithetic - Kesamaan Makna Mazmur 1:6,
Paralelism melalui Kontradiksi Amsal 11:24.
3. Synthetic - Pengembangan Idee Mazmur 24:9,
Paralellism Amsal 10:24,
16:4
4. Climatic Paralellism Model Mazmur 95:1-3
Tangga/Puncak
5. Parabolic - Lambang/Figuratif Mazmur 42:2,
Paralellism Amsal 25:11,25.

b. Pasangan-pasangan kata yang sejajar


Contoh pasangan-pasangan kata yang sejajar & baku adalah:

Kepala - Tempurung kepala (Mazmur 68:22)


Tanah, negeri - Debu, tanah (Yesaya 34:7,9)
Tangan - Tangan kanan (Mazmur 21:9)
Musuh - Seteru, lawan (Mazmur 81:15)
Ribu - Sepuluh ribu (Mazmur 91:7)
Dengar - Perhatikan
Yakub - Israel
Perak - Emas
Emas - Emas murni
Suara - Ucapan

26
Hermeneutika (2) STT Kingdom, 2019 Stefanus Suheru, M.Si.Teol.

Karunia - Pemberian
Manusia - Anak manusia (T/J)
Anggur - Minuman keras
Melayani - Menyembah
Membentuk - Menciptakan, membuat
Orang-orang - Bangsa
Menetap - Tinggal
Menghitung - Membilang

[2] Tidak adanya pemakaian beberapa ciri gramatikal, seperti kata sandang,
kata penunjuk obyek, awalan penghubung, relative pronoun, dan Waw-
Consecutive dari kata kerja. Hal ini akan membantu kita untuk
mengidentifikasi apa tulisan itu syair atau prosa, sebelum melakukan
eksegesis.

12.2. Sifat Syair Alkitab

a. Seperti semua syair, pada umumnya syair memberikan ungkapan dari


pengalamannya yang paling dalam, emosi, sukacita & dukacita,
pengharapan & rasa takut, pengharapan & kekecewaan yang pahit,
keyakinan & pengakuan yang berterima kasih, dan sebagainya. Di dalam
mengekspresikan perasaannya yang paling dalam, ia sebenarnya sedang
berbicara kepada dirinya sendiri daripada kepada orang-orang lain (seluruh
umat Allah di dunia telah diwakilinya).

b. Sifat Pewahyuan dari Literatur Syair


Sekalipun lirik syair berisi banyak unsur yang bersifat pribadi, seorang
penafsir tidak boleh mengambil unsur tertentu keluar dari konteksnya. Bila
tidak, maka karakter yang diwakilinya dengan solidaritasnya tidak akan
berhubungan dengan umat manusia secara keseluruhan, yang olehnya syair
itu merasakan getaran kehidupan komunal. Lirik adalah suatu ekspresi jiwa
manusia pada umumnya di dalam konfrontasinya dengan kenyataan yang
sedang dihadapinya.

Oleh karena itu, di dalam penafsiran Syair, kita harus ingat bahwa Syair
bersifat universal, dan melampaui pribadi & sejarah. Dalam hal ini, syair
mewakili komunitas umat Allah di dalam ekspresinya, karena itu nyanyian-
nyanyian mereka adalah juga nyanyian-nyanyian gereja, yang menemukan
dorongan utama di dalam Allah. Di dalam makna inilah, sifat inspirasi Ilahi
dari Syair Alkitab diteguhkan.

12.3. PRINSIP-PRINSIP UNTUK PENAFSIRAN SYAIR ALKITAB

a. Ketika ada peristiwa sejarah untuk penyusunan sebuah syair, peristiwa


sebaiknya dipelajari secara cermat. Misalnya Mazmur 3,32,51,63.

b. Perhatikan sifat subyektif dari syair, perhatian harus dilakukan dengan


mempelajari karakter syair dan kerangka pikir di mana menyusun
nyanyiannya.

27
Hermeneutika (2) STT Kingdom, 2019 Stefanus Suheru, M.Si.Teol.

c. Dengan sudut pandang bahwa syair bukan semata-mata bersifat pribadi,


namun sebagian besar bersifat komunal, mereka harus dihargai sebagai
pengutaraan dari hati yang telah diperbaharui, dari kehidupan yang telah
dilahirkan dari Allah, dan penafsir tidak berpuas diri sampai ia memahami
bahwa mereka juga menyatakan kehendak Allah.

d. Untuk Mazmur Mesianis, mereka bersifat nubuat, semua prinsip untuk


penafsiran nubuat sebaiknya diterapkan.

e. Untuk Mazmur-mazmur Kutukan, penafsir harus memperhatikan pokok-


pokok berikut di bawah ini:

(1) Di dalam penafsiran tulisan syair, kita sebaiknya tidak mengambil


deskripsi ditujukan kepada seseorang, di dalam kenyataan mereka
ditujukan kepada dosa sebagai gantinya.

(2) Mereka mewakili keinginan para penulis untuk pembalasan dari Allah
yang benar dan kudus. Mereka tidak mengutarakan keinginan untuk
balas dendam secara pribadi, melainkan ketidaksukaan umat Allah
terhadap dosa, yang diwujudkan di dalam orang-orang berdosa.

(3) Pada saat yang sama, mereka adalah penyataan sikap Allah terhadap
orang-orang yang memusuhi-Nya dan kerajaan-Nya.

12.4. Contoh Penafsiran Syair : Anak yang Bijaksana (Amsal 10:1)


Anak yang bijak mendatangkan sukacita kepada ayahnya,
tetapi anak yang bebal adalah kedukaan bagi ibunya.

Jenis Paralellisme yang dipergunakan dalam nats tersebut adalah Paralellisme


Kontradiksi (Antithetic Paralellism), di mana baris kedua mengungkapkan
gagasan yang sama namun dalam bentuk yang bertentangan/berlawanan. Hal
ini memang sering terdapat dalam kitab Mazmur dan Amsal.

Nats tersebut di atas disusun sebagai berikut:

AMai tg:WT lysiK. !beW ba'-xM;f;y> ~k'x' !Be


Bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia akan berbunyi sebagai berikut:

Anak bijak mendatangkan-sukacita-ayah


(a ) (b) (c)
Anak bebal kedukaan-ibunya
(a ) (b) (c)

Dalam Amsal 10:1 ini, bagian pertama adalah kata benda dan kata sifat
(Anak-bijak), sedangkan baris sejajarnya bertentangan (Anak-bebal).
Kata kerjanya juga berlawanan (mendatangkan-sukacita & kedukaan).

28
Hermeneutika (2) STT Kingdom, 2019 Stefanus Suheru, M.Si.Teol.

Kata Bapa dan Ibu (yang kontradiktif) dapat diterjemahkan sebagai Orang tua.
Dengan demikian, makna dari Amsal 10:1 tersebut adalah :
“Anak yang bijak membuat orang tuanya bahagia, sedangkan anak yang
bebal membuat mereka sedih”.

PENUTUP

Sebagai penutup, perlu disampaikan peringatan-peringatan akhir, yakni:

a. Perlunya perhatian penafsir terhadap konteks yang ada.


b. Perlunya menguji ulang maksud penafsir.
c. Mengikutsertakan secara berkesinambungan di dalam dialog yang sehat
dengan sejarah & kekinian.
d. Menjaga ketegasan namun dengan pikiran terbuka & rendah hati.

29
Hermeneutika (2) STT Kingdom, 2019 Stefanus Suheru, M.Si.Teol.

Lampiran 01. TINDAKAN SIMBOLIS

Tindakan Makna

Perlengkapan Ilahi dari Roh Kudus untuk


Mengurapi
pelayanan

Perjamuan Pesta, waktu perayaan

Terjaga Kesiapsediaan, mengamat-amati, perhatian

Memandikan Pembersihan, pemurnian, penyaringan

Meniupkan nafas Impartasi kehidupan

Penyunatan Memotong kehidupan daging

Bertepuk tangan Kegembiraan, kemenangan

Menari Kesukaan, sukacita besar

Mencemarkan dengan cinta yang lain,


Perzinahan
penyembahan berhala

Mengambil sumpah, pujian, penyerahan


Mengangkat tangan
diri

Menikah Penyatuan, dua menjadi satu

Berlari Semangat di dalam perlombaan kehidupan

Duduk Pekerjaan yang sudah selesai

Istirahat, penyegaran, ketidakacuhan


Tidur
rohani.

Berdiri Kejujuran, ketulusan, ketegasan

Berkeringat Pekerjaan dan aktivitas manusia

Berjalan Kemajuan, meningkat, gerakan ke depan

30
Hermeneutika (2) STT Kingdom, 2019 Stefanus Suheru, M.Si.Teol.

Lampiran 02.

Warna-warna Dalam Alkitab


Warna-warna jarang disebut dalam Alkitab, baik dalam Perjanjian Lama, maupun Perjanjian
Baru. Tampaknya orang Ibrani tidak tertarik pada estetika, tidak seperti orang Yunani di
Atena, dan bahasan tentang warna tidak cukup untuk mengungkapkannya. Namun demikian,
warna biru, dan warna ungu yang berasal pada kerang-kerangan (siput), dimengerti, dan kata
ini tampak dalam Perjanjian Baru (Kisah Para Rasul 16:14-15, 40

Kata dan ungkapan Alkitab untuk menunjukkan warna tidak menggunakan sejumlah istilah
yang persis sama dengan istilah yang terdapat dalam bagan warna modern. Para penulis
Alkitab menyampaikan gagasan tentang warna dengan bantuan pokok yang sedang dibahas,
atau dengan membandingkan obyek yang asing dengan sesuatu yang dikenal dengan baik
(Keluaran 16:31; Wahyu 1:14). Penampilan barang-barang yang umum seperti darah, salju,
burung tertentu, api, batu berharga, dan sebagainya, digunakan sebagai petunjuk warna (2
Raja-raja 3:22; Mazmur 51:7; Kidung Agung 5:11; Matius 16:2, 3; Wahyu 9:17). Warna juga
digunakan dalam arti kiasan, dan gagasan yang sudah jelas kadang-kadang dikaitkan dengan
warna yang spesifik.

Pewarnaan.

Seni memberi warna dan gradasi tertentu pada benang, kain, dan bahan-bahan lain dengan
menggunakan zat pewarna sudah dikenal dan dipraktekkan sebelum jaman Abraham dan
mungkin setua seni menenun. Orang Israel menggunakan bahan-bahan seperti benang biru,
bahan berwarna kirmizi, dan wol yang diwarnai ungu untuk Tabernakel dan pakaian imam
(Keluaran 25-28, 35, 38, 39). Pewarnaan, yang pada masa awal lebih merupakan pekerjaan
rumah tangga, pada akhirnya menjadi usaha komersial di berbagai tempat. Orang Mesir masa
awal terkenal karena memiliki bahan-bahan yang dicelup dengan warna yang luar biasa
cemerlang (Yehezkiel 27:7), dan setelah Mesir mengalami kemunduran, Tirus dan kota-kota
lainnya di Fenisia mulai menjadi pusat bahan pewarna yang penting.

Pada jaman dahulu, proses pewarnaan berbeda-beda di setiap tempat. Kadang-kadang benang
diwarnai, sedangkan pada kasus-kasus lain pewarna dibubuhkan pada bahan jadi.
Tampaknya, benang dicelupkan dua kali ke dalam pewarna. Setelah diangkat dari tong untuk
kedua kalinya, benang diperas supaya pewarna yang berharga itu dapat bertahan lama.
Kemudian, benang dihamparkan agar kering.

Setiap bahan harus ditangani dengan cara yang berbeda. Adakalanya, meskipun jarang, zat
pewarna memiliki afinitas alami dengan serat yang dicelup. Tetapi jika halnya tidak
demikian, bahan itu pertama-tama perlu diberi mordan, zat pengikat serat maupun pewarna.
Agar dapat berfungsi sebagai mordan, suatu senyawa setidaknya harus dapat mengikat
pewarna, sehingga kedua-duanya akan bercampur membentuk senyawa warna yang tidak
larut. Temuan-temuan memperlihatkan bahwa orang Mesir menggunakan mordan dalam
proses pewarnaan. Misalnya, merah, kuning, dan biru adalah tiga warna yang mereka
gunakan, dan konon pewarna tersebut tidak dapat menyatu tanpa menggunakan oksida
arsenik, besi, dan timah sebagai mordan.

31
Hermeneutika (2) STT Kingdom, 2019 Stefanus Suheru, M.Si.Teol.

Tampaknya, kulit binatang mula-mula disamak dan kemudian diwarnai. Bahkan pada masa-
masa belakangan di Siria, kulit domba jantan disamak lalu diwarnai. Setelah pewarna
mengering, kulit binatang digosok dengan minyak dan kemudian dipoles. Begitulah caranya
sepatu dan barang-barang lain dari kulit yang dikenakan oleh orang Badui diwarnai merah.
Hal itu dapat mengingatkan kita kepada kulit domba jantan yang diwarnai merah (Ibrani:
‫ םַ דָ א‬- 'ADAM) yang digunakan untuk Tabernakel (Keluaran 25:5).
Sehubungan dengan bahan-bahan yang diwarnai, yang menarik adalah inskripsi Raja Tiglat-
pileser III dari Asiria pada sebuah bangunan. Setelah mengisahkan kampanye-kampanye
militernya melawan Palestina dan Siria, ia menyatakan bahwa ia menerima upeti dari
seseorang bernama Hiram dari Tirus dan penguasa-penguasa lain. Barang-barang yang
disebutkan antara lain pakaian linen dengan hiasan beraneka warna, wol yang diwarnai biru,
wol yang diwarnai ungu, . . . dan juga kulit anak domba yang sudah dibentangkan serta
diwarnai ungu, (dan) sayap burung liar yang direntangkan serta diwarnai biru (J. Pritchard,
ED., Ancient Near Eastern Texts, 1974, p. 282, 283).

Sumber-sumber warna:

Bahan-bahan pewarna ini diperoleh dari berbagai sumber. Di Palestina, pewarna kuning
diperoleh dari daun-daun badam dan kulit delima yang sudah digiling, meskipun orang
Fenisia juga menggunakan kunyit/ Saffron dan kasumba. Orang Ibrani dapat memperoleh
pewarna hitam dari kulit kayu pohon delima dan pewarna merah dari akar tanaman lidah
ayam (Rubia tinctorum). Tarum (Indigofera tinctoria) yang mungkin dibawa masuk ke
Palestina dari Mesir atau Siria dapat digunakan untuk pewarna biru. Dalam salah satu metode
yang digunakan untuk menghasilkan gradasi warna ungu pada wol, wol antara lain direndam
dalam sari buah anggur semalaman dan ditaburi dengan bubuk lidah ayam.

Sumber warna/ pigmen yang unik yang sangat berharga misalnya, dari cacing kirmizi
menghasilkan warna kirmizi. Sumber warna biru dari makhluk moluska jenis Janthina
janthina, juga warna ungu berasal dari moluska jenis Bolinus brandaris dan Thais
haemastoma atau yang disebut dengan murex yang banyak ditemukan di laut Mediterania.
Dikenal pula bahan herbal untuk kecantikan yang digunakan untuk cat rambut dan ornamen
tangan, yaitu bunga pacar/ henna yang berwarna hitam/ kehitaman.

Daftar Warna-warna yang terdapat dalam Alkitab:


1. Putih
2. Biru
3. Ungu
4. Merah Kirmizi / Scarlet
5. Merah/ Merah Padam
6. Coklat
7. Hijau
8. Hitam
9. Kuning
10. Abu-abu
11. Warna campuran

32
Hermeneutika (2) STT Kingdom, 2019 Stefanus Suheru, M.Si.Teol.

1. Putih

B. Dalam Perjanjian Lama

Ada beberapa kata Ibrani dalam kategori "warna putih", sebagai berikut.
1. ‫ןלָָבָל‬- LAVAN, putih;
2. ‫ רּוח‬- KHUR/ KHOR, putih ;
3. ‫ רִ ֹחח‬- KHORI, putih roti ;
4. ‫ רַּ ח‬- DAR, warna putih mutiara ;
5. ‫ חַּ ר‬- TSAKH, bening, bersih, berkilau ;
6. ‫ חַּ רַּ ח‬- TSAKHAR, putih kekuningan, putih kemerahan ;
7. ‫ חָ רִ ח‬- TSAKHOR, putih kecoklatan ;
8. ‫ ֹחחח‬- RIR, cairan/ lendir putih.

Dalam Alkitab berbagai nuansa warna putih disebutkan, misalnya putih kemerah-
merahan (Imamat 13:19, 24) dan putih pudar (Imamat 13:39).

PUTIH adalah simbol dari kemurnian fisik dan intelektual, menjadi warna cahaya,
tanpa modifikasi (Kidung Agung 5:10, Daniel 12:10,

B. Dalam Perjanjian Baru

Putih (Yunani: λευκός - LEUKOS) adalah warna yang paling sering disebutkan
dalam Alkitab. Selain penggunaannya yang deskriptif, putih juga menjadi simbol
keadilan - kebenaran dan kebersihan rohani (Wahyu 3:4, 7:9,13-14).

Kuda putih, yang disebutkan di Wahyu 6:2 dan 19:11, melambangkan perang yang
murni dan adil-benar di bawah pimpinan Yesus Kristus.

Pakaian putih dikenakan oleh orang miskin maupun orang dari kalangan atas. Apabila
busana mereka disebutkan, para malaikat biasanya digambarkan berpakaian putih
(Markus 16:5; Yohanes 20:12; Wahyu 19:14). Ada beberapa hal lagi yang
digambarkan berwarna putih, antara lain bulu dan rambut (Imamat 13:3; Matius 5:36),
daging (Imamat 13:16), ladang biji-bijian yang siap dipanen (Yohanes 4:35), dan
takhta Allah yang melaksanakan penghakiman yang adil-benar (Wahyu 20:11). Yesus
menyamakan para penulis dan orang Farisi dengan kuburan yang dilabur putih
(Matius 23:27). Perumpamaan itu didasarkan atas kebiasaan orang untuk melabur
kuburan di sekitar Yerusalem dengan warna putih sebelum Paskah, agar orang-orang
yang datang untuk merayakan Paskah tidak menjadi najis karena menyentuh kuburan-
kuburan tersebut.

Putih (Yunani: λευκός - LEUKOS, harfiah: putih cerah bersinar). Dalam LAI-TB
diterjemahkan 'menguning' mengenai ladang yang telah masak untuk dipanen
(Yohanes 4:35).

33
Hermeneutika (2) STT Kingdom, 2019 Stefanus Suheru, M.Si.Teol.

2. Biru

Warna Biru, bahasa Ibrani: ‫ ֶתלֵ ְָּת‬- TEKHELET (LAI-TB "ungu tua") . Warna biru ini
digunakan untuk berbagai bahan yang diwarnai, seperti benang, tali, kain, dan pakaian
(Keluaran 26:4, 31, 36; 39:22, Bilangan 4:7).
Di dalam Taurat, bangsa Israel diperintahkan menggunakan ‫ תָ ִּל ַט‬- TALIT (syal,
selendang leher, selendang doa) dengan benang-benang/ tali-temali berwarna biru
(TEKHELET). Lihat Keluaran 28:37.

Ketika mereka memandang warna TEKHELET ini, bangsa Israel teringat akan langit
biru, bahwa ada Allah yang bermukim di seberang sana. Warna biru ini berhubungan
dengan warna penyataan ilahi menurut Midrasy Raba 15. Selanjutnya, garis-garis
dengan warna TEKHELET menginspirasi desain bendera Israel:

Kamus Ibrani modern untuk warna biru adalah ‫ לַחָּכ‬- KHAKOL dan ‫לכְט‬ ֵ ‫ ֶט‬-
TEKHELET, dan warna "TEKHELET" ini lebih ke warna biru jenis azure (biru
langit). Binatang Moluska jenis Janthina janthina yang lazim disebut Violet snail
adalah penghasil pigmen warna "biru":

Warna "Biru tua" (Yunani: u`aki,nqinoj - HUAKINTHINOS) merupakan salah


satu warna indah yang menghiasi pelindung dada yang disebutkan di: Wahyu 9:17.
Kata Yunani: "HUAKINTHINOS", diterjemahkan dalam LAI TB & NIV dengan biru
tua, sedangkan KJV menerjemahkannya dengan rujukan warna batu permata Jacinth.
Apa warna dari batu Jacinth itu?

Menurut Aston's Bible Dictionary warna "HUAKINTHINOS" ini adalah:

Properly a flower of a reddish blue or deep purple (hyacinth), and hence a


precious stone of that colour (Revelation 21:20). It has been supposed to
designate the same stone as the ligure (Hebrews leshem) mentioned in Exodus
28:19 as the first stone of the third row in the high priest's breast-plate. In
Revelation 9:17 the word is simply descriptive of colour.

Menurut situs Oxford Biblical Studies warna dari "Jacinth" dalam Alkitab adalah
jenis "Sapphire Blue" (yang tidak sama dengan rujukan warna "Jacinth" masa kini
yang berwarna merah menyala):

Not the modern (reddish-orange) jacinth, but a blue stone; it is mentioned at


Exod. 28: 19 as being in the high priest's breastpiece. In Rev. 9: 17 the colour
of the breastpieces of jacinth (AV) worn by the horsemen in the seer's vision is
likened to ‘sapphire’ (NRSV), ‘turquoise’ (REB), ‘hyacinth-blue’ (NJB).
Jacinth is also a stone in the wall of the New Jerusalem (Rev. 21: 20).

34
Hermeneutika (2) STT Kingdom, 2019 Stefanus Suheru, M.Si.Teol.

3. Ungu

Warna "ungu" (Ibrani: ‫ םָ ֶמגַרַ א‬- 'ARGAMAN, KJV: 'purple', TB-LAI: 'ungu
muda'). Karena bahan berwarna ungu sangat mahal, warna ini sering kali dikaitkan
dengan atau melambangkan kekayaan, kehormatan, dan keagungan raja. Oleh sebab
itu, warna ungu adalah lambang kuasa, dan kemuliaan (Hakim-hakim 8:26).
Pada zaman Ratu Ester, warna biru dan ungu merupakan warna kerajaan (Ester 8:15).

Alkitab Perjanjian Baru menyebut "Warna ungu" (Yunani: porfu,ra -


PORPHURA) digunakan terutama orang-orang kaya dan para raja (Lukas 16:19).
Ketika Yesus diolok-olok di pengadilan, Dia-pun dikenakan jubah berwarna ungu
(Yohanes 19:2).

Moluska jenis Bolinus brandaris dan Thais haemastoma. Moluska ini juga disebut
dengan "Murex", adalah penghasil warna ungu. Zat pewarna ungu diperoleh dari
kerang-kerangan atau moluska tersebut. Pada leher makhluk-makhluk itu terdapat
kelenjar kecil yang hanya berisi setetes cairan yang disebut flower. Awalnya, rupa dan
kekentalannya seperti krim, tetapi setelah terkena udara dan cahaya, warnanya lambat
laun berubah menjadi ungu tua atau ungu kemerah-merahan. Kerang-kerangan
tersebut terdapat di sepanjang pantai Mediterania, dan gradasi warna yang diperoleh
bervariasi bergantung pada lokasinya. Spesimen yang lebih besar dibuka satu per satu,
dan cairan berharganya dipisahkan dengan hati-hati, sedangkan yang lebih kecil
diremukkan dalam lumpang. Mengingat jumlah cairan yang diperoleh dari setiap
kerang sedikit sekali, untuk mengumpulkan jumlah yang cukup banyak dibutuhkan
biaya tinggi. Oleh karena itu, zat pewarna ini mahal, dan pakaian yang diwarnai ungu
menjadi simbol orang kaya atau orang kalangan atas (Ester 8:15; Lukas 16:19).
Makhluk moluska: Bolinus brandaris ini menghasilkan pigmen/ warna jenis Tyrian
Purple (ungu imperial). Pigmen ini dihasilkan dari lendir dari kelenjar hypobranchial.
Makhluk ini ditemukan terutama di Mediterania. Moluska jenis yang lain yang juga
menghasilkan warna ungu, adalah: Thais haemastoma.

Pada zaman dahulu species murex ini sangat dijaga oleh kekaisaran Roma karena
nilainya sangat berharga. Malah sudah dikenal sekitar 1.600 sM. Meskipun namanya
adalah Tyrian (dari Tirus), industri kimia skala besar pertama manusia menyebar ke
seluruh dunia (2 Tawarikh 2:14).

Tirus kuno menjadi tersohor karena bahan pewarna ungu dan biru. Dan, yang terkenal
adalah ungu Tirus atau ungu Imperial. Konon, orang Tirus menggunakan metode
pewarnaan dua kali, tetapi apa persisnya formula yang digunakan untuk memperoleh
warna tersebut tidak diketahui. Zat pewarnanya kelihatannya dihasilkan dari moluska
Murex, karena tumpukan cangkang Murex yang sudah kosong telah ditemukan di
sepanjang pantai Tirus dan di sekitar Sidon. Kota Tirus di Fenisia digambarkan oleh
Allah sebagai tempat yang memiliki wol yang diwarnai ungu dan biru serta bahan-
bahan beraneka warna lainnya, dan juga berdagang barang-barang semacam itu (lihat:
Yehezkiel 27:2, 7, 24).

Dengan jatuhnya Kekaisaran Romawi, penggunaan pewarna ini juga menurun dan
produksi skala besar berhenti dengan jatuhnya Konstantinopel pada 29 Mei 1453.
35
Hermeneutika (2) STT Kingdom, 2019 Stefanus Suheru, M.Si.Teol.

Pigmen ungu ini kemudian digantikan oleh pewarna lain yang lebih murah.
Kedua warna biru dan warna ungu ini amat penting baik dalam kebudayaan Yahudi
maupun non-Yahudi di saat itu, dan digunakan oleh keluarga kerajaan dan kalangan
pembesar dalam mewarnai pakaian, jubah, tirai, dan sebagainya. Dan warna biru dan
warna ungu, digunakan untuk pakaian para imam (Keluaran 28:4-5).
Ornamen buah delima menghiasi jubah imam besar, yaitu pada kelim/punca mantel
tak berlengan milik Imam Besar Harun terdapat serangkaian ornamen delima yang
terbuat dari benang biru, wol ungu kemerah-merahan, dan bahan berwarna kirmizi
yang dipintal bersama dan dipasang berselang-seling dengan giring-giring emas
(Keluaran 28:33, 34; 39:24-26).

Warna keagungan "Ungu" ini dikenakan kepada Yesus Kristus saat di pengadilan,
sebagai bahan olokan (Yohanes 19:2). Lihat juga Markus 15:17.

4. Merah Kirmizi/Scarlet
Apakah warna Kirmizi itu? Kamus Besar Bahasa Indonesia mendiskripsikan: warna merah
tua atau ungu. Dalam Wahyu 17:3 LAI-TB menerjemahkan warna "Kirmizi" dengan "merah-
ungu" (Yunani: "KOKKINOS"). Kata Kirmizi ini berasal dari kata Arab untuk ulat/ cacing,
yaitu: Qirmiz atau Kermez.

Ada 3 Kata Ibrani yang diterjemahkan KJV: 'scarlet' dan 'crimson'; TB-LAI: "kirmizi"
(merah padam):
1. ‫ יָ נֹ ח‬- SYANI, scarlet, crimson,
2. ‫ תָָָּת‬- TOLA', worm, scarlet stuff, crimson,
3. ָ‫ל ֶח ְֹח‬
ַּ - KAR'MIL, crimson, red, carmine.
Warna merah padam ini melambangkan darah, dan sering merupakan simbol kehidupan
meskipun warna ini sering pula merujuk kepada dosa, demikian pula kesukaan dan
kebahagiaan (Kejadian 38:28, Yeremia 4:30, Ratapan 4:5).

Tali kirmizi yang digantungkan di luar rumah Rahab di Yerikho menjadi tanda bagi para
penyerbu Israel bahwa rumah itu dilindungi (Yosua 2:18, 21).
Kata Ibrani: ‫ ל ֶָמ לרַכ‬- KAR'MIL (2 Tawarikh 2:7, 14; 3:14) diterjemahkan 'kain kirmizi',
suatu kata yg kemudian mengganti kata "SYANI" (2 Tawarikh 2:7, 14; 3:14).

Di lain tempat kata "TOLA" ini diterjemahkan 'ulat / cacing', Ciccus ilicis, yang dalam
bahasa Ibrani disebut 'ulat/ cacing kirmizi/ Tola'at Syani' (Keluaran 16:20, Ulangan 28:39,
Ayub 25:6, Mazmur 22:6).

Pohon-pohon Ek/ Tarbatin di Israel misalnya jenis Quercus calliprinos, adalah jenis pohon
Ek yang tumbuh rendah. Pada pohon-pohon tsb sering ditemukan ulat yang disebut Coccus
ilicis, nama modern-nya adalah Kermes vermilio:

Ulat jenis Coccus ilicis ini menjadi sumber zat pewarna kirmizi dan merah keungu-unguan.
Karena ulat betinanya, yang kira-kira sebesar biji ceri, mirip buah beri, orang Yunani

36
Hermeneutika (2) STT Kingdom, 2019 Stefanus Suheru, M.Si.Teol.

menggunakan kata "κόκκος - KOKKOS", yang artinya "buah beri", untuk menamainya.
Warna Kirmizi dalam bahasa Yunani adalah: κόκκινος - KOKKINOS, berasal dari ulat
""KOKKOS" (Coccus ilicis).

Nama Arab untuk ulat ini adalah Qirmiz atau Kermez, yang menjadi asal kata "kirmizi" dalam
bahasa Indonesia. Ulat ini terdapat di seluruh daerah Timur Tengah. Hanya telurnya yang
mengandung zat pewarna merah keungu-unguan, yang kaya dengan asam kermes. Menjelang
akhir bulan April, betina tak bersayap yang penuh dengan telur menempelkan dirinya dengan
probosisnya (belalai) pada ranting, dan kadang-kadang pada dedaunan pohon Ek Kermes
(Quercus coccifera). Tempayak, atau kermes, dikumpulkan dan dikeringkan, lalu zat pewarna
yang berharga itu diperoleh dengan merebus bahan-bahan itu dalam air. Pewarna merah ini
banyak digunakan untuk perlengkapan di tabernakel dan untuk pakaian yang dikenakan imam
besar Israel (Bilangan 4:8).

Kirmizi adalah salah satu warna bahan yang diwarnai dan mahal harganya (2 Tawarikh 2:7,
14; 3:14; Nahum 2:3). Kain berwarna Kirmizi adalah salah satu warna kain yang sangat
mahal di zaman kuno, berasal dari negeri Sur, Keluaran 25:4; Amsal 31:21 (pakaian rangkap
dua).

Kirmizi adalah warna kehormatan/ lambang kemewahan (2 Samuel 1:24)

Dosa juga disamakan dengan warna kirmizi dan kirmizi tua (kesumba), di dalam ayat di
bawah ini digunakan 2 kata Ibrani yang bermakna merah padam: "SYANI" dan "TOLA"
(Yesaya 1:18).

"Binatang" yang digambarkan dalam Wahyu 17:3-4 berwarna kirmizi yang membedakannya
dari "binatang" yang disebutkan di pasal 13.

Perempuan pelacur yang duduk di atas seekor binatang buas berwarna kirmizi itu, berbajukan
kain ungu dan kain kirmizi (Wahyu 17:3-5). Jadi, penglihatan itu secara simbolis
menggambarkan bahwa "binatang" itu mengklaim kekuasaan sebagai raja dan perempuan
yang menungganginya menikmati kemewahan serta perlakuan sebagai raja.

Warna Kirmizi "SYANI" ini pernah digunakan sebagai olokan dikenakan pada Yesus dalam
pengadilan-Nya (Matius 27:28).

5. Merah/ Merah Padam

Kata dasar ‫ םַ דָ א‬- 'ADAM berhubungan dengan: ‫ םַ א‬- DAM, yang artinya "darah", menjadi
dasar bagi sebutan macam-macam warna merah.

1. Kata ‫ םַ דָ א‬- 'ADAM, to be red, red (Keluaran 25:5).


2. Kata ַ ‫ םָ ֶדרְ דל‬- 'AD'MONI, red, ruddy (of Esau as infant): Kejadian 25:25 .
3. Kata ‫ םַ דְ א‬- 'ADOM, red, ruddy (of man, horse, heifer, garment, water, lentils):
Bilangan 19:2
4. Warna "Kemerah-merahan" (Ibrani: ‫ םָּ דָ ֶרםַ א‬- 'ADAM'DAM) dan "kehijau-hijauan"
37
Hermeneutika (2) STT Kingdom, 2019 Stefanus Suheru, M.Si.Teol.

(Ibrani: ‫ חֶ ַּחיֶ ַּחי‬- YERAQRAQ) digunakan untuk memaksudkan warna seperti bercak-
bercak kusta pada pakaian dan rumah batu berplester: Imamat 13:49; 14:37.

Merah terang (Ibrani: ‫ שַ שֵ מ‬- SYASYAR, red colour, vermilion). Dalam Yeremia 22:14
dan Yeremia 22:14; memaksudkan jenis cat berwarna kemerah-merahan yang dibuat dari
oksida besi atau oksida timbal (timah hitam). Baca Yeremia 22:14.

Kelihatannya jenis cat tersebut pertama kali diperkenalkan oleh orang Fenisia, yang
mengimpornya dari sumber-sumber alam atau tambang-tambang yang terdapat di Afrika
Utara. Di kemudian hari tambang-tambang serupa ditemukan di beberapa wilayah di di
Timur Tengah.

Merah, merah-api, dan merah kekuning-kuningan adalah istilah yang digunakan untuk
menggambarkan berbagai hal, seperti: bulu (Kejadian 25:25), kulit domba jantan yang
diwarnai (Keluaran 25:5), binatang (Bilangan 19:2; Hakim 5:10; Zakharia 1:8), pakaian
(Yesaya 63:2), dan langit pada waktu senja (Matius 16:2, 3).

Kata Yunani untuk merah adalah: πυρρός - PURROS, having the colour of fire, red, dalam
Alkitab Perjanjian Baru digunakan 2 kali: Wahyu 6:4, 12:3.

Warna "Merah padam" (PURROS) secara simbolis menggambarkan penampilan si naga


besar, Setan si Iblis (Wahyu 12:3). Kuda berwarna merah menyala melambangkan
peperangan antarbangsa, sebagaimana digambarkan dalam Wahyu 6:4. Ada kata yang
berhubungan dengan "PURROS" ini adalah πυρράζω - PURRAZÔ, to become glowing, grow
red, be red : Matius 16:2.

6. Coklat

Warna Coklat/ Cokelat (Ibrani: ‫ חּוא‬- KHUM, leksikon Ibrani: dark colour, darkened, dark
brown or black). Warna coklat ini dalam Alkitab hanya disebutkan dalam uraian mengenai
domba: Kejadian 30:32, 33, 35, 40.

Warna "KHUM" dalam terjemahan LAI-TB diterjemahkan dengan "hitam", sedangkam


MILT menerjemahkannya dengan "warna gelap". Dalam kamus Ibrani modern, kata
"KHUM" ini adalah "brown / coklat"

7. Hijau

Warna Hijau (Ibrani: ‫ ַַמָּי‬- YAROQ): Ayub 39:8.

Warna Hijau ini sering kali muncul dalam Alkitab, tetapi tidak selalu memaksudkan warna,
contohnya seperti ayat di atas. Hijau selalu memberikan kesan kesegaran dan daya kehidupan
tanaman yang sedang tumbuh, atau mengartikan kondisi yang sehat dan makmur. Terdapat
kata yang lain, misalnya kata Ibrani: ‫ בֵ שְ ע‬- 'ESEV, herb, herbage, grass, green plants, di
bawah ini: Kejadian 1:30.
38
Hermeneutika (2) STT Kingdom, 2019 Stefanus Suheru, M.Si.Teol.

Ada kata Ibrani: ‫ ַ ְְמי‬- YEREQ, green, greenness, green plants, greenery, merujuk kepada
tanaman-tanaman hujau, yang berasal dari kata "YAROQ". Kejadian 9:3 menggunakan 2
kata yang "sinonim", yaitu "YEREQ" dan "ESEV"

Warna "kehijau-hijauan" (Ibrani: ‫ ֶַ ָמיֶ ָמי‬- YERAQ'RAQ) dan "kemerah-merahan"


(Ibrani: ‫ םָּ דָ ֶרםַ א‬- 'ADAM'DAM) digunakan untuk memaksudkan warna seperti bercak-
bercak kusta pada pakaian dan rumah batu berplester: Imamat 13:49; 14:37.

Ada 2 kata Yunani yang diterjemahkan dengan "hijau": χλωρός - KLOROS dan ὑγρός -
HUGROS (Lukas 23:31, Wahyu 8:7). Lihat juga Markus 6:39.

8. Hitam

Warna Hitam (Ibrani: ‫ שַ חְ מ‬- SHAKHOR, black, atau ‫ שַ חָ מ‬- SHAKHAR, to be black (of
skin), Yunani: μέλας - MELAS). Warna hitam ini disebutkan sewaktu menjelaskan tentang

1. Rambut: Imamat 13:31, Matius 5:36.

2. Kuda: Zakharia 6:2, 6


Di Wahyu 6:5, 6, kuda hitam melambangkan bala kelaparan.

3. Kulit : Ayub 30:30


Tokoh utama dalam Kidung Agung adalah Gadis Sulam/Sulamit. Dikatakan bahwa ia
berkulit hitam tetapi sangat cantik (Kidung Agung 1:5-6). Sebagai pekerja di kebun
anggur, Gadis Sulam berkulit hitam karena terkena sinar matahari.

4. Matahari: Wahyu 6:12

Alkitab juga menyebutkan tentang "batu pualam hitam" (Ibrani: ‫ תְ חְ ְמט‬- SOKHERET) dan
"celak hitam" (Ibrani: ‫ ְךּוּפ‬- PUKH): Ester 1:6, Yeremia 4:30.

Tanaman Pacar (Ibrani: ‫ לְ פְמ‬- KOFER) digunakan untuk bahan kecantikan, sebagai cat
rambut dan bahan untuk melukis kesenian tangan. Wanita Mesir menggunakannya untuk
mencelup rambut, kuku jari dan kuku kaki, tangan dan kaki. Lelaki mewarnai janggutnya
dengan pacar, dan sering juga ekor dan bulu tengkuk kuda mereka. Tercatat dalam Alkitab,
perempuan berhias demikian jika menjadi tawanan Ibrani dituntut meniadakan segala bekas
celupan itu (Ulangan 21:11, 12). Warna jingga tua atau kuning tua agaknya mengingatkan
kepada penyembahan berhala. Di Palestina semak-semak ini tumbuh liar, dan dapat mencapai
tinggi 4 meter. Rantingnya berduri dengan tandan bunga-bunga putih yang harum di
puncaknya.

39
Hermeneutika (2) STT Kingdom, 2019 Stefanus Suheru, M.Si.Teol.

9. Kuning

Warna Kuning (Ibrani: ‫ בַ הְ ע‬- TSAHOV), disebutkan 3x dalam Alkitab PL. Warna Kuning
untuk rambut dirujuk sebagai sesuatu yang tidak sehat, najis (Imamat 13:30, 32, 36).

Warna ‫ ֶַ ָמיֶ ָמי‬- YERAQ'RAQ, harfiah "kehijau-hijauan" kadang juga dirujuk sebagai
warna "kuning" dalam ayat di bawah ini digunakan untuk memaksudkan warna seperti
bercak-bercak kusta: Imamat 13:49; 14:37

Warna "YERAQ'RAQ" digunakan untuk menggambarkan "kuning yang berkilauan"


(Mazmur 68:13).

Pewarnaan Kuning:

Di dalam Perjanjian Lama ada disebutkan tanaman yang menghasilkan pigmen warna kuning,
yang banyak digunakan sebagai bumbu dapur dan obat, yaitu Saffron (Ibrani: ‫ ל ֶָמלְ א‬-
KARKOM, Yunani: krokos, LXX). Baca Kidung Agung 4:14.

Saffron ini disebutkan hanya sekali dalam Alkitab, namun sumber kemudian
menggambarkannya sebagai tanaman yang berbunga bunga. Tanaman dapat berfungsi untuk
tujuan penyembuhan dan sebagai pewarna kuning (seperti fungsi kunyit di Indonesia) untuk
makanan dan minuman. Bahan yg dibuat dari bunga Crocus sativus ini sangat mahal, asli di
Yunani dan Asia Kecil. Putik-putik tanaman ini dikumpulkan, dikeringkan dan dibungkus
menjadi kue-kue kecil. pada zaman kuno kunyit dipakai untuk celupan dan pewarna
makanan. juga dipakai sebagai bahan terapi, perangsang haid dan pelawan kejang. Orang
Mesir kuno menanam tanaman lain: Carthamus tinctorius yg menghasilkan celupan seperti
kunyit, untuk mewarnai pakaian mumi.

Saffron sebagai bumbu masakan, adalah salah satu bumbu dapur khas Timur Tengah dan
India yang biasa digunakan untuk memasak kare, nasi kuning, paela dan masakan khas timur
tengah lainnya.

Saffron telah dibudidayakan sejak 3000 tahun yang lalu. Sebagian besar bunga saffron
ditanam di wilayah Mediterania hingga ke timur wilayah Kashmir. Saffron berasal dari bunga
crocus sativus yakni bagian tangkai putiknya. Karena jumlah putiknya sedikit maka jangan
heran bila saffron menjadi salah satu bumbu dapur termahal di dunia. Diperkirakan harga 1
kg saffron bisa mencapai 10 juta rupiah. Harga yang fantastis untuk ukuran bumbu dapur.

Selanjutnya di dalam Perjanjian Baru, ada disebutkan warna kuning belerang dalam Kitab
Wahyu: Wahyu 9:17. Kristal berwarna kuning belerang.

10. Abu-abu

Warna abu-abu (Ibrani: ‫ שֵ ַעַ ה‬- SEIVAH, age, gray hair, hoary head, old age) biasanya
digunakan untuk uban atau rambut orang yang lanjut usia: Kejadian 42:38, Imamat 19:32.

40
Hermeneutika (2) STT Kingdom, 2019 Stefanus Suheru, M.Si.Teol.

Lihat juga: Ulangan 32:25, Hakim 8:32, Rut 4:15, 1 Raja-raja 2:6, 9, Ayub 41:32, Mazmur
71:18, 92:14.

Wol yang mahal di antaranya berwarna "abu-abu kemerahan" (Ibrani: ‫ בָ חָ מ‬- TSAKHAR,
reddish-gray, tawny). Lihat Yehezkiel 27:18.

11. Warna-warna Campuran

Selain warna-warna yang lebih spesifik, ada sejumlah ungkapan dalam Alkitab yang
menggambarkan sesuatu yang warnanya kurang begitu jelas (dalam artian rincian
warna apa saja yang dimaksud) atau memiliki warna campuran, misalnya:

1. Warna belang-belang (Ibrani: ‫ תַ כַם‬- TALA): Kejadian 30:32-33.

Kata Ibrani ‫ תַ כַם‬- TALA dalam bentuk jamak ini juga diterjemahkan "berwarna-
warni" (divers colours): Yehezkiel 16:16.

2. Bermacam-macam warna: Belang-belang ‫ דַ מְ ד‬- BAROD, spotted, marked;


Zakharia 6:3, 6

3. Bermacam-macam warna: Loreng-loreng ‫ םַ רְ א‬- 'AMOTS, bay, dappled, piebald


(of colour). Lihat Zakharia 6:3, 6.

4. Berbintik (Ibrani: ‫ דַיְ ד‬- NAQOD, speckled, marked with points), Kejadian 31:10,
12

5. Berbintik (Ibrani: ָ‫ בַ עּוב‬- TSABU'A/ TSAVUA), harfiah: berbintik-bintik/ belang.


Lihat Yeremia 12:9.

6. Berwarna-warni (Ibrani: ‫ למיֶ רַ ה‬- RIQMAH, variegated stuff, embroidered, divers


colors). Lihat Yehezkiel 17:3; 27:7, 16, 24.

7. Bergaris-garis warna-warni (Ibrani: ‫ ְךָת‬- PAS). Lihat Kejadian 37:3, 2 Samuel


13:19.

Warna Jubah Kristus di Ruang Pengadilan Pilatus

Sesudah menyatakan Yesus Kristus bersalah, Dewan Sanhedrin datang kepada Pilatus
untuk menguatkan hukuman yang dijatuhkan dan dijalankan. Di dalam ruang
pengadilan Pilatus, Gubernur Roma, Yesus Kristus berdiri dalam keadaan terikat
sebagai seorang tahanan. Di sekeliling-Nya ada serdadu-serdadu pengawal, dan
ruangan itu penuh dengan penonton. Setelah menerima perintah untuk
mempersiapkan Yesus untuk dihukum mati, para prajurit Romawi yang tidak
berperasaan itu memeriahkan tugas mereka dengan olok-olokan yang kasar. Dengan
41
Hermeneutika (2) STT Kingdom, 2019 Stefanus Suheru, M.Si.Teol.

menanggalkan seluruh jubah Yesus, mereka mengenakan sebuah jubah kebesaran raja
kepada-Nya (mungkin mantel prajurit, dipakaikan seakan-akan warna "ungu kerajaan
/ungu imperial"), dikenakan pula pada-Nya mahkota duri, dan sebatang buluh sebagai
tongkat kerajaan.

Warna jubah yang Yesus Kristus kenakan pada hari ia dieksekusi, telah menyebabkan
beberapa orang mempersoalkan bahwa ada ketidakcocokan dalam catatan Alkitab
sehubungan dengan warna pakaian itu. Matius mengatakan bahwa para prajurit
mengenakan jubah "kirmizi / merah padam/ scarlet" (Yunani: κόκκινος -
KOKKINOS) kepada Yesus Kristus: Matius 27:28. Sedangkan Markus dan Yohanes
mengatakan bahwa jubah itu berwarna ungu: Markus 15:17, Yohanes 19:2.

Dari 2 kajian teks yang menyebut adanya perbedaan warna. Tentu akan muncul
pertanyaan: “Apakah jubah Yesus berwarnaKirmizi atau Ungu?”

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, pertama-tama kita harus memeriksa warna. Di


bawah ini adalah grafik yang menunjukkan kedua warna merah dan ungu dengan
nuansa yang berbeda, dalam kode hex, berdampingan. Kolom atas adalah presentasi
warna langsung. Sedangkan kolom bagian bawah menyajikan warna yang di"shade".
Warna "shade" tsb adalah untuk mensimulasikan kondisi pencahayaan redup yang
mungkin terjadi di dalam istana Pilatus di mana mereka mengenakan jubah kerajaan
kepada Yesus Kristus.

Seperti yang Anda lihat, warna-warna yang berbeda tersebut di atas dan keduanya
bisa menjadi "sama" tergantung pada warna dan pencahayaan. Misalnya, merah gelap
sangat mirip dengan lebih gelap ungu. Dalam kondisi pencahayaan yang buruk,
perbedaan kurang jelas karena warna akan terlihat lebih gelap. Jadi, perbedaan
"warna" dapat terjadi bahwa jubah itu berwarna ungu / merah gelap yang bisa saja
digambarkan dalam kata yang berlainan. Atau ada kemungkinan lain adalah bahwa
jubah yang dikenakan kepada Yesus itu bisa saja dibuat dari dua warna yang
kombinasikan.

Akan tetapi, daripada membuktikan ketidak-cocokan, variasi demikian untuk


menjelaskan warna pakaian itu justru membuktikan ciri khas tiap-tiap penulis Injil
dan fakta bahwa mereka tidak berkolusi. Matius menggambarkan jubah ini sesuai
pengamatannya, yakni warna menurut evaluasinya, dan Matius lebih menekankan
42
Hermeneutika (2) STT Kingdom, 2019 Stefanus Suheru, M.Si.Teol.

warna merahnya. Sedangkan Yohanes dan Markus tidak menonjolkan nuansa warna
merahnya, tetapi menyebutnya ungu.

Namun demikian dapat kita pahami bahwa kadang warna "Ungu" ini dapat berlaku
untuk warna apa saja yang memiliki komponen warna biru maupun merah. Jadi,
Markus dan Yohanes sependapat dengan Matius bahwa pakaian tersebut mengandung
warna merah. Tentu saja, latar dan pantulan cahaya dapat memberikan warna yang
berbeda.

Warna perairan misalnya di danau atau di lautan dapat bervariasi pada waktu-waktu
yang berlainan, bergantung pada warna langit dan pantulan cahaya. Jadi, apabila
faktor-faktor tersebut dipertimbangkan, jelaslah bahwa para penulis Injil tidak
bertentangan sewaktu menjelaskan warna jubah yang dikenakan pada Kristus oleh
para prajurit Romawi yang mengolok-olok itu, pada hari terakhir kehidupannya
sebagai manusia.

43
Hermeneutika (2) STT Kingdom, 2019 Stefanus Suheru, M.Si.Teol.

PERUMPAMAAN-PERUMPAMAAN YESUS DALAM URUTAN KRONOLOGIS


PERUMPAMAAN MATIUS MARKUS LUKAS
1 Secarik kain baru pada baju yang tua 9:16 2:21 5:36
2 Anggur baru di dalam kirbat yang lama 9:17 2:22 5:37-38
3 Pelita di atas kaki dian (lihat juga 6) 5:14-15
4 Pembangun bijaksana dan bodoh 7:24-27 6:47-49
5 Dua orang yang berhutang 7:41-43
6 Pelita di atas kaki dian (kedua kali, lihat 3) 4:21-22 8:16, 11:33
7 Orang kaya yang bodoh 12:16-21
8 Hamba harus tetap berjaga-jaga (lihat juga 12:35-40
44)
9 Hamba yang bijaksana dan bodoh (lihat 42) 12:42-48
10 Pohon Ara yang tidak berbuah 13:6-9
11 Penabur dan 4 macam tanah 13:3-8, 18-23 4:3-8, 14-20 8:5-8, 11-
12 Ilalang di antara gandum (Kerajaan Surga) 13:24-30, 36- 15
13 Benih yang bertumbuh (Kerajaan Surga) 43 4:26-29
14 Biji Sesawi (Kerajaan Surga) 13:31-32 4:30-32 13:18-19
15 Ragi (Kerajaan Surga) 13:33 13:20-21
16 Harta Terpendam (Kerajaan Surga) 13:44
17 Mutiara yang berharga (Kerajaan Surga) 13:45-46
18 Pukat (Kerajaan Surga) 13:47-50
19 Pemilik rumah (Kerajaan Surga) 13:52
20 Domba yang hilang (anak-anak, lihat juga 29) 18:12-14
21 Domba, pintu, dan gembala (Yohanes 10:1-5, 7-18)
22 Tuan dan hambanya 17:7-10
23 Hamba yang tak berbelas kasih (Kerajaan) 18:23-34
Surga) Samaria yang Baik Hati
24 Orang 10:30-37
25 Sahabat Sejati 11:5-8
26 Kursi terendah di pesta 14:7-14
27 Undangan untuk perjamuan besar 14:16-24
28 Harga pemuridan 14:28-33
29 Domba yang hilang (orang berdosa, lihat 20) 15:4-7
30 Mata Uang yang Hilang 15:8-10
31 Anak yang Hilang 15:11-32
32 Bendahara yang tidak jujur 16:1-8
33 Orang Kaya dan Lazarus 16:19-31
34 Pekerja-pekerja kebun anggur 20:1-16
35 Janda yang gigih dan hakim tidak jujur 18:2-8
36 Farisi dan Pemungut Cukai 18:10-14
37 Mina (lihat juga 45) 19:12-27
38 Dua orang putera 21:28-32
44
Hermeneutika (2) STT Kingdom, 2019 Stefanus Suheru, M.Si.Teol.

39 Para penggarap kebun anggur 21:33-44 12:1-11 20:9-18


40 Undangan untuk perjamuan pernikahan 22:2-14
41 Pohon Ara bertunas 24:32-35 13:28-29 21:29-31
42 Hamba yang bijaksana dan bodoh (kedua, 9) 24:45-51
43 Gadis Bijaksana & Gadis Bodoh 25:1-13
44 Hamba harus tetap berjaga-jaga (kedua, 8) 13:35-37
45 Talenta (lihat juga 37) 25:14-30
46 Domba dan kambing akan dipisahkan 25:31-46

Perumpamaan-perumpamaan Tuhan Yesus banyak kita jumpai di dalam Injil Matius, Markus, dan
Lukas, namun tidak kita temukan di dalam Injil Yohanes. Dalam Injil Matius ada 26
perumpamaan, dalam Injil Markus ada 7 perumpamaan, dan dalam Injil Lukas ada 32
perumpamaan. Tetapi di antara perumpamaan-perumpamaan dalam Injil-Injil itu terdapat
perumpamaan-perumpamaan yang sama, yang kita temukan dalam Injil Matius dan Markus dan
atau juga Injil Lukas. Walaupun demikian, tetap saja perumpamaan-perumpamaan itu
mendominasi kitab-kitab Injil. Dari kenyataan ini dapat disimpulkan bahwa perumpamaan -
perumpamaan Tuhan Yesus merupakan bagian yang sangat penting dalam Injil (Kabar
Gembira).

Dari sekian banyak perumpamaan yang Tuhan Yesus berikan, sebagian telah diterangkan arti dan
maksud perumpamaan itu oleh Tuhan sendiri, sebagian dapat dimengerti dengan
menyimpulkannya, dan sebagian lagi masih sulit untuk dimengerti. Tuhan Yesus berfirman bahwa
perumpamaan-perumpamaan itu menjadi rahasia bagi mereka yang tidak beriman kepada-Nya,
namun murid-murid-Nya diberi karunia untuk mengetahui arti perumpamaan-perumpamaan itu
(Matius 13:11).

45