Anda di halaman 1dari 12

BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK APRIL 2018

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

UJIAN BAGIAN

OLEH:

AGUS SALIM SANI

10542 0544 13

PENGUJI

dr. Nirwana Loddo, Sp,A.

(Dibawakan Dalam Rangka Memenuhi Tugas Kepaniteraan Klinik)

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

2018
1. Pemeriksaan Laboratorium Demam berdarag dengue (Faskes dan kapitaselekta)
a. Darah perifer lengkap, yang menunjukkan:
 Trombositopenia (≤ 100.000/μL).
 Kebocoran plasma yang ditandai dengan:
 peningkatan hematokrit (Ht) ≥ 20% dari nilai standar data populasi
menurut umur , Normal yaitu 37-48 %
 Ditemukan adanya efusi pleura, asites
 Hipoalbuminemia, hipoproteinemia
 Leukopenia < 4000/μL.

b. Serologi Dengue, yaitu IgM dan IgG anti-Dengue, yang titernya dapat terdeteksi
setelah hari ke-5 demam.1,2,3
2. Persalinan normal adalah persalinan pada presentasi belakang kepala (kepala janin
lahir terlebih dahulu) melalui jalan lahir/vagina. Janin cukup bulan (38-42 minggu),
lahir spontan / tanpa memakai alat, tidak menimbulkan komplikasi pada ibu maupun
bayi dan berlangsung dalam waktu 18-24 jam. Tanpa komplikasi antara ibu maupun
anak. Pada persalinan pervaginam dapat dilakukan secara spontan (menggunakan
tenaga dan usaha ibu sendiri) atau menggunakan bantuan alat khusus. Sedangkan
pada persalinan normal adalah persalinan spontan pada presentasi kepala (kepala
keluar lebih dahulu).4
3. Jadwal Imuisasi pada anak Usia 0-18 tahun 1,5

a. Vaksin hepatitis B (HB). Vaksin HB pertama (monovalen) paling baik diberikan

dalam waktu 12 jam setelah lahir dan didahului pemberian suntikan vitamin K1

minimal 30 menit sebelumnya. Jadwal pemberian vaksin HB monovalent adalah

usia 0,1, dan 6 bulan. Bayi lahir dari ibu HBsAg positif, diberikan vaksin HB dan

imunoglobulin hepatitis B (HBIg) pada ekstremitas yang berbeda. Apabila

diberikan HB kombinasi dengan DTPw, maka jadwal pemberian pada usia 2, 3,


dan 4 bulan. Apabila vaksin HB kombinasi dengan DTPa, maka jadwal

pemberian pada usia 2, 4, dan 6 bulan.

b. Vaksin polio. Apabila lahir di rumah segera berikan OPV-0. Apabila lahir di

sarana kesehatan, OPV-0 diberikan saat bayi dipulangkan. Selanjutnya, untuk

polio-1, polio-2, polio-3, dan polio booster diberikan OPV atau IPV. Paling

sedikit harus mendapat satu dosis vaksin IPV bersamaan dengan pemberian OPV-

3.

c. Vaksin BCG. Pemberian vaksin BCG dianjurkan sebelum usia 3 bulan, optimal

usia 2 bulan. Apabila diberikan pada usia 3 bulan atau lebih, perlu dilakukan uji

tuberkulin terlebih dahulu.

d. Vaksin DTP. Vaksin DTP pertama diberikan paling cepat pada usia 6 minggu.

Dapat diberikan vaksin DTPw atau DTPa atau kombinasi dengan vaksin lain.

Apabila diberikan vaksin DTPa maka interval mengikuti rekomendasi vaksin

tersebut yaitu usia 2, 4, dan 6 bulan. Untuk anak usia lebih dari 7 tahun diberikan

vaksin Td atau Tdap. Untuk DTP 6 dapat diberikan Td/Tdap pada usia 10-12

tahun dan booster Td diberikan setiap 10 tahun.

e. Vaksin pneumokokus (PCV). Apabila diberikan pada usia 7-12 bulan, PCV

diberikan 2 kali dengan interval 2 bulan; dan pada usia lebih dari 1 tahun

diberikan 1 kali. Keduanya perlu booster pada usia lebih dari 12 bulan atau

minimal 2 bulan setelah dosis terakhir. Pada anak usia di atas 2 tahun PCV

diberikan cukup satu kali.


f. Vaksin rotavirus. Vaksin rotavirus monovalen diberikan 2 kali, dosis pertama

diberikan usia 6-14 minggu (dosis pertama tidak diberikan pada usia > 15

minggu), dosis ke-2 diberikan dengan interval minimal 4 minggu. Batas akhir

pemberian pada usia 24 minggu. Vaksin rotavirus pentavalen diberikan 3 kali,

dosis pertama diberikan usia 6-14 minggu (dosis pertama tidak diberikan pada

usia > 15 minggu), dosis kedua dan ketiga diberikan dengan interval 4-10 minggu.

Batas akhir pemberian pada usia 32 minggu.

g. Vaksin influenza. Vaksin influenza diberikan pada usia lebih dari 6 bulan,

diulang setiap tahun. Untuk imunisasi pertama kali (primary immunization) pada

anak usia kurang dari 9 tahun diberi dua kali dengan interval minimal 4 minggu.

Untuk anak 6-36 bulan, dosis 0,25 mL. Untuk anak usia 36 bulan atau lebih, dosis

0,5 mL.

h. Vaksin campak. Vaksin campak kedua (18 bulan) tidak perlu diberikan apabila

sudah mendapatkan MMR.

i. Vaksin MMR/MR. Apabila sudah mendapatkan vaksin campak pada usia 9

bulan, maka vaksin MMR/MR diberikan pada usia 15 bulan (minimal interval 6

bulan). Apabila pada usia 12 bulan belum mendapatkan vaksin campak, maka

dapat diberikan vaksin MMR/MR.

j. Vaksin varisela. Vaksin varisela diberikan setelah usia 12 bulan, terbaik pada

usia sebelum masuk sekolah dasar. Apabila diberikan pada usia lebih dari 13

tahun, perlu 2 dosis dengan interval minimal 4 minggu.


k. Vaksin human papiloma virus (HPV). Vaksin HPV diberikan mulai usia 10

tahun. Vaksin HPV bivalen diberikan tiga kali dengan jadwal 0, 1, 6 bulan; vaksin

HPV tetravalen dengan jadwal 0,2,6 bulan. Apabila diberikan pada remaja usia

10-13 tahun, pemberian cukup 2 dosis dengan interval 6-12 bulan; respons

antibodi setara dengan 3 dosis.

l. Vaksin Japanese encephalitis (JE). Vaksin JE diberikan mulai usia 12 bulan

pada daerah endemis atau turis yang akan bepergian ke daerah endemis tersebut.

Untuk perlindungan jangka panjang dapat diberikan booster 1-2 tahun berikutnya.

m. Vaksin dengue. Diberikan pada usia 9-16 tahun dengan jadwal 0, 6, dan 12

bulan.

4. Apa yang anda ketahui tentang POLIO 6,7


a. Definisi
Poliomielitis adalah penyakit menular seksual yang dapat menyebabkan paralisis
irreversible daan kematian pada anak. Predileksi visur polio pada sel kornu
anterior medulla spinalis, inti motoric batang otak dan area motoric korteks otak
menyebabkan kelumpuhan serta atrofi otot.6,7
b. Etiologi6,7
Virus polio adaalah virus RNA ultra mikroskopik yang genus Enterovirus,
dalam family picornaviridae. Virus ini terdiri dari 3 serotipe yaitu serotype 1, 2
dan 3 atau yaitu Mahoney, Lansing, dan Leon. Perbedaan ketiga jenis starin ini
terletak pada nukteotidanya. Serotipe 1 adalah antigen yang paling dominan
dalam membentuk antibody netralisasi, serotype 2 adalah yang paling
paralitogenik dan sering menimbulkan KLB, sedangkan serotype 3 adalah yang
paling imunogenik.
c. Patogenesis6,7
Virus polio ditularkan melalui jalur fekal oral atau jalur jalan napas, dan
terjadi pada faring dan saluran pencernaan bawah. Setelah masuk virus tersebut
akan menginvasi dan membelah diri (replikasi) pada saat yang sama di saluran
cerna. Dalam 1 hari virus ini meluas ke limfonodi regional. Pada sekitar hari ke 3
terjadi viremia minor dan melibatkan banyak tempat-tempat sekunder
multiplikasi virus ditempat ini terjadi bersamaan dengan mulainya gejala klinis.
d. Manifestasi klinis : (Masa inkubasi 2-10 hari)6,7
1) Poliomielitis abortif ; sakit demam singkat disertai gejala malaise,
anoreksia,mual, muntah, nyeri kepala, nyeri tenggorokan, konstipasi, dan
nyeri perut, Coryza, batuk, eksudat faring, diare, nyeri perut local serta
kekakuan jarang. Demam jarang melebihi 39,5 dan faring bisanya
menunjukkan perubahan dan disertai nyeri tenggorokan.
2) Polimielitis non paralitik pada jenis ini hamper sama dengan poliomyelitis
abortif namun gejala nyeri kepala, mual, muntah lebih parah dan ada nyeri
dan kekauan pada leher posterior, badan dan tungkai. Paralisis kandung
kemih dan biasanya disertai konstipasi. Pada pemeriksaan fisik disetai
dengan tanda-tanda kaku kuduk spina dan perubahan pada reflex superfisial
dan dalam.
3) Poliomielitis paralitik manifestasi sama dengan poliomyelitis nonparalitik
ditambah dengan gejala satu atau lebih kelompok otot, skelet atau kranial.
Gejala awal biasanya asimtomatik kemudia beberapa hari muncul dan
kemudian puncaknya paralisis seperti paralisis kandung kemih, atoni usus
besar, paralisis flaksid merupakan ekspresi neuron yang paling jelas, terjadi
atrofi muskuler disebabkan oleh denervasi ditambah atrofi otot karena tidak
digunakan. Nyeri spastisitas, kaku kuduk atau kaku spinal, serta hipertoni.
e. Diagnosis
Pada polimielitis diagnosis dapat ditegakkan dari gejala klinis dan
pemeriksaan fisik yang ditemukan, sudah dapat diduga peyakit poliomyelitis,
namun diperlukan pula pemeriksaan laboratorium darah serta pemeriksaan cairan
otak (cebro spinal fluid) untuk melihan jenis dan jumlah selnya. Pemeriksaan
serologi darah kadang diperlukan untuk menetukan serotype virus. Diagnosis
ditegakkan atas dasar gambaran klinis, keadaan epidemiologis, pemeriksaan
cairan serebrospinal, isoloasi virus yang diambil dari tenggorok dan dan rectum
(tinja), meningkatnya titer antibody dalam darah, untuk memastika diagnosisnya
diperlukkan pemeriksaan serologi guna identifikasi virusnya. (Nelson)
f. Penatalaksanaan
Dasar menegemen yang luas adalah menghilangkan ketakuta, meminimalkan
terjadinya deformitas skelet, mencegan dan menemukan komplikasi disamping
komplikasi neuromuskuloskeletal, dan mempersiapkan anak dan keluarga untuk
pengoobatan yang lama yang mungkin diperlukan untuk kecatatan permanen bila
hal ini akan terjadi.
 Polimieltis abortik cukup analgetik, sedative, diet, yang menarik, dan tirah
baring secukupnya sampai suhu anak normal selama selama beberapa hari.
Pemeriksaan rutin selama kejadin 2 minggu rutin dilakukan pemeriksaan
neuromuskuloskeletal yang teliti selama dua bulan untuk mendeteksi setiap
keterlibatan kecil.
 Bentuk nonparalitik dengan pengobatan untuk bentuk abortif, pengurangan
rasa sakit terindikasi terutama untuk kekencangan otot yang tidak enak dan
spasme leher batang tubuh, serta tungkai, analgentik adalah lebih efektif bila
dikombinasi dengan pemakaian kantong panas selama 15-30 menit setiap 2-4
jam. Tempat tiduryang keras.
 Bentuk paralitik perlu rawat inap

g. Pencegahan 6,7
Pemberian Vaksin Polio; Vaksin polio. Apabila lahir di rumah segera berikan
OPV-0. Apabila lahir di sarana kesehatan, OPV-0 diberikan saat bayi
dipulangkan. Selanjutnya, untuk polio-1, polio-2, polio-3, dan polio booster
diberikan OPV atau IPV. Paling sedikit harus mendapat satu dosis vaksin IPV
bersamaan dengan pemberian OPV-3.
Terdapat jenis vaksin polio yaitu
 Oral Polivirus Vaccine (OPV) adalah sering disbut vaksin polio sabin sesuai
nama penemunya bentuk trivalent (tOPV) untuk mencegah tiga jenis virus
polio. Vaksin tOPV adalah vaksin hidup yang dilemahkan yang diberikan tiga
dosis secara serial untuk memberikan kekebalan seumur hidup. Vaksin polio
oral lebih efektif untuk pemberantasan poliomyelitis karena virus dilemahkan
akan mengadakan replikasi di gastrointestinal bagian bawah. Kemampuan
dapan menekan transmisi virus saat KLB. Namun vaksin OPV ini dapat
mengalami mutasi sebelum dapat bereeplikasi dalam usus dan di ekskresi
keluar sehingga perlu pertimbangan pemberian vaksin OPV.
 Inactivated polivirus Vaccine (IPV) sesuai jenis penemunya yang biasa
disebut polio salk. Vaksin IPV ini berisi virus in aktif berisi tiga tipe virus
polio. Vaksin ini akan memunculkan imunitas yang dimediasi IgG dan
mencegah terjadinya viremia serta melindungi motor neuron, mampu
mencegah kelumpuhan karena menghasilkan antibody netralisasi tinggi,
memiliki kandungan antigen yang tinggi. Keuntungan lain juga dapat
diberikan pada status imunokompromise. Kelemahan ini kurang kuat dalam
melindungi mukosa dan kurang efektif untuk menimbulkan herd immunity.

5. Komplikasi dan Obat difteri 1,2,3


a. Komplikasi difteri yang mematikan dan dosis obat yang diberikan
Komplikasi
 Kardiovaskuler Miokarditis dan paralisis otot dapat terjadi 2-7 minggu setelah
awitan penyakit. Tanda miokarditis meliputi nadi tidak teratur, lemah dan
terdapat gagal jantung. Atau biasanya menurut literature awal minggu
pertama atau awal minggu kedua. Takikardia, Bradikardia,
 Syock kardiogenik karena keruakan miokardium yang ekspensif
 Dekompensasi kordis
 Urogenital seperti nefritis
 System saraf ; paralisis palatum, paralisis otot oftalmik (tidak bisa membaca,
strabismus, dilatasi pupi,dan ptosis) parasisi otot wajah, paralisis nervus
phrenicus ( batuk, dispneu, pernapasan torakoabdominal, sianosis), system
pernapasan obstruksi, bronchopneumonia, atelectasis).
Dosis Obat
 Antitoksin
Berikan 40 000 unit ADS IM atau IV sesegera mungkin, karena jika
terlambat akan meningkatkan mortalitas.
 Antibiotik
Pada pasien tersangka difteri harus diberi penisilin prokain dengan dosis
50 000 unit/kgBB secara IM setiap hari selama 7 hari. Karena terdapat
risiko alergi terhadap serum kuda dalam ADS maka perlu dilakukan tes
kulit untuk mendeteksi reaksi hipersensitivitas dan harus tersedia
pengobatan terhadap reaksi anafilaksis.
 Kortikosteroid
Pemberian kortikosteroid di gunakan denga indikasi berat dan sangat berat
(membrane yang luas, komplikasi bullneck). Pemberian prednisone 2
mg/kgBB/Hari selama 3 minggu. Deksametason 0,5-1 mg/kgbb/hari
secara iv.
 Apabila terjadi paralisis ; strychnine 0,25 mg, vit B1 100 mg selama 10
hari
 Oksigen
Hindari memberikan oksigen kecuali jika terjadi obstruksi saluran
respiratorik
1,2,3
1. Penatalaksanaan Kejang Demam

a. Keluarga pasien diberikan informasi selengkapnya mengenai kejang demam dan


prognosisnya. Pertama-tama tenangkan dan yakinkan orang tua bahwa kejang
demam memiliki prognosis yang baik. Dan resiko kematian sangat kecil,
demikian pula terjadi epilepsi dimasa mendatang. Saat kejang pastikan jalan
napas tidak terhalang, pakaian ketat dilonggarkan, anak posisikan miring agar
lender atau cairan dapat mengalir keluar. Periksa tanda-tanda vital, baik
pernapasan, nadi dan suhu. Berika antipiretik seperti parasetamol 10-15
mg/kgbb/kali sampai 4-5 kali pemberian).
b. Farmakoterapi ditujukan untuk tatalaksana kejang akut dan tatalaksana profilaksis
untuk mencegah kejang berulang.
c. Pemberian farmakoterapi untuk mengatasi kejang akut adalah dengan:
 Diazepam per rektal (0,5mg/kgBB) atau BB < 10 kg diazepam rektal 5 mg ,
BB > 10 kg diazepam rektal 10 mg, atau lorazepam (0,1 mg/kg) harus segera
diberikan jika akses intravena tidak dapat diperoleh dengan mudah. Jika akses
intravena telah diperoleh diazepam lebih baik diberikan intravena
dibandingkan rektal. Dosis pemberian IV 0,3-0,5 mg/kgBB/kali dengan
maksimum pemberian 20 mg. Jika kejang belum berhenti diazepam rektal/IV
dapat diberikan 2 kali dengan interval 5 menit. Lorazepam intravena, setara
efektivitasnya dengan diazepam intravena dengan efek samping yang lebih
minimal (termasuk depresi pernapasan) dalam pengobatan kejang akut.
 Jika dengan 2 kali pemberian diazepam rektal/intravena masih terdapat kejang
dapat diberikan fenitoin IV dengan dosis inisial 20 mg/kgBB, diencerkan
dalam NaCl 0,9% dengan pengenceran 10 mg fenitoin dalam 1 ml NaCl 0,9%,
dengan kecepatan pemberian 1mg/kgBB/menit, maksimum 50 mg/menit,
dosis inisial maksimum adalah 1000 mg. Jika dengan fenitoin masih terdapat
kejang, dapat diberikan fenobarbital IV dengan dosis inisial 20 mg/kgBB,
tanpa pengenceran dengan kecepatan pemberian 20 mg/menit. Jika kejang
berhenti dengan fenitoin maka lanjutkan dengan pemberian rumatan 12 jam
kemudian dengan dosis 5-7 mg/kgBB/hari dalam 2 dosis. Jika kejang berhenti
dengan fenobarbital, maka lanjutkan dengan pemberian rumatan 12 jam
kemudian denagn dosis 4-6 mg/kgBB/hari dalam 2 dosis.

Gambar.1. Dosis Obat Kejang demam.3


d. Pemberian farmakoterapi untuk profilaksis untuk mencegah berulangnya kejang
di kemudian hari. 1,2,3
 Profilaksis intermiten dengan diazepam oral/rektal, dosis 0,3 mg/kgBB/kali
tiap 8 jam, hanya diberikan selama episode demam, terutama dalam waktu 24
jam setelah timbulnya demam.

 Profilaksis kontinyu dengan fenobarbital dosis 4-6 mg/kgBB/hari dibagi 2


dosis atau asam valproat dengan dosis 15-40 mg/kgBB/hari dibagi 2-3 dosis.
Profilaksis hanya diberikan pada kasus-kasus tertentu seperti kejang demam
dengan status epileptikus, terdapat defisit neurologis yang nyata seperti
cerebral palsy. Profilaksis diberikan selama 1 tahun.
DAFTAR PUSTAKA

1. Kapita Selekta Kedokteran. 2014. Editor Chris tanto et al. Ed.4.Jakarta Media

aeculapius.

2. World Health Organization tahun 2005 . Judul asli Pocket Book of Hospital Care

for Children, Guidelines for the Management of Common Illnesses with Limited

Resources, 2005

3. Panduan praktik klinis bagi dokter di fasilitas pelayanan kesehatan primer edisi

revisi tahun. IDI. Jakarta. 2014

4. Behrmen, Kliegman, and arvin. 2012. Nelson ilmu kesehatan anak ed.15.vol.2

Editor. Waham,samik. EGC.Jakarta

5. Satari,I. Hindra. 2016. Eradikasi Polio. Departemen ilmu kesehatan anak fakultas

kedokteran universitas Indonesia. Sari pediatric. Jakarta.

6. Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2017. Jadwal Imunisasi 2017.

http://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/jadwal-imunisasi-2017. Diakses 27

April 2018