Anda di halaman 1dari 18

TUGAS MAKALAH

HUKUM ADMINISTRASI NEGARA


PERBUATAN ADMINISTRASI NEGARA

DISUSUN OLEH 2
RANDY RAHDATULLAH : H1A1 16 213
KARLEN KRESENTIA : H1A1 16 675
ERWIYANTO : H1A1 16 068
FITRIANI : H1A1 16 623
LAODE MUH. FAISAL : H1A1 16 140
INDAH NIRMALA SARI : H1A1 16 296
ANNISA RAMADHAN : H1A1 16 347
HENOCH SAPUTRO LALLO : H1A1 16 497
ATRIYANI : H1A1 16 344
NUNU SRIYANTI : H1A1 16 294
MUH. FITRAN RAMADHAN : H1A1 16 717
AMIR MURSYID : H1A1 16 539
REXY ARYA PERMANA : H1A1 16 812
MUH. CHAIDIR WAHYU M : H1A1 16 295
AL MURSHALAT : H1A1 16 447
DAMIANUS RIMAN : H1A1 16 580

JURUSAN ILMU HUKUM


FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2017
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kita dapat menempatkan bahwa hukum administrasi Negara merupakan
bagian dari hukum public. Hukum administrasi Negara dapat dijelaskan sebagai
peraturan-peraturan (dari hukum publik) yang berkenaan dengan pemerintahan
umum.(Untuk menemukan definisi yang baik mengenai istilah ‘hukum
adminisrasi negara’, pertama-tama harus ditetapkan bahwa hukum administrasi
Negara merupakan bagian dari hukum publik, yakni hukum yang mengatur
tindakan pemerintah dan mengatur hubungan antara pemerintah dan mengatur
hubungan antara pemerintah dengan warga Negara atau hubungan antar organ
pemerintahan.
Hukum administrasi Negara memuat keseluruhan peraturan yang berkenaan
dengan cara bagaimana organ pemerintahan melaksanakan tugasnya. Jadi hukum
administrasi Negara berisi aturan main yang berkenaan dengan fungsi organ-
organ pemerintahan). Hukum administrasi Negara atau hukum tata pemerintahan
pada dasarnya dapat dibedakan berdasarkan tujuanya dari hukum tata Negara
memuat peraturan-peraturan hukum yang menentukan {tugas-tugas yang
dipercayakan} kepada organ-organ pemerintahan itu, menentukan tempatnya pada
Negara, menentukan kedudukan terhadap warga Negara, dan peraturan-peraturan
hukum yang mengatur tindakan-tindakan organ pemerintahan itu).
Hukum Administrasi Negara adalah seperangkat peraturan yang
memungkinkan administrasi Negara menjalankan fungsinya, yang sekaligus juga
melindungi warga terhadap sikap tindak administrasi , dan melindungi
administrasi Negara itu sendiri
Hukum administrasi Negara, hukum tata pemerintahan adalah keseluruhan
hukum yang berkaitan dengan {mengatur} administrasi, pemerintah, dan
pemerintah. Secara global dikatakan,hukum administrasi Negara merupakan
instrument yuridis yang digunakan oleh pemrintah untuk secara aktif terlibat
dalam kehidupan kemasyarakatan, dan disisi lain HAN merupakan hukum yang
dapat digunakan oleh anggota masyarakat untuk mempengaruhi dan memperolah
perlindungan dari pemerintah. Jadi HAN memuat peraturan mengenai aktivitas
pemerintahan).
Hukum administrasi meliputi peraturan-peraturan yang berkenaan dengan
administrasi. Administrasi berarti sama dengan pemerintahan. Oleh karena itu,
HAN disebut juga hukum tata pemerintahan. Perkataan pemerintahan dapat
disamakan dengan kekuasaan eksekutif, artinya pemerintahan merupakan bagian
dari organ dan fungsi dari pemerintahan, yang bukan organ dan fungsi pembuat
undang-undang dan peradilan). Hukum administrasi Negara atau hukum tata
pemerintahan berisi peraturan-peraturan yang berkenaan dengan pemerintahan
umum.
Berdasarkan perspektif ilmu hukum administrasi, ada dua jenis hukum
administrasi, yaitu pertama, hukum administrasi umum (allgemeem deel) , Yakni
berkenaan dengan teori-teori dan prinsip-prinsip yang berlaku untuk semua
bidang hukum administrasi,tidak terikat pada bidang-bidang tertentu , kedua
hukum administrasi khusus (bijzonder deel) , yakni hukum-hukum yang terkait
dengan bidang-bidang pemerintahan tertentu seperti hukum lingkungan, hukum
tata ruang , hukum kesehatan dan sebagainya.
Telah disebutkan bahwa pada dataran implementasi Negara hukum itu
memiliki karakteristik dan model yang beragam. Terlepas dari berbagai model
Negara hukum tersebut , Budiono mencatat bahwa sejarah pemikiran manusia
mengenai politik dan hukum secara bertahap menuju kearah kesimpulan, yaitu
Negara merupakan Negara yang akan mewujudkan harapan pada warga Negara
akan kehidupan yang tertib, adil, dan sejahtera jika Negara itu bdiselenggarakan
berdasarkan hukum sebagai aturan main Dalam Negara hukum, hukum menjadi
aturan permainan untuk mencapai cita-cita
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas maka saya dapat menarik rumusan masalah di
antaranya adalah:
1. Pengertian Perbuatan Administrasi Negara
2. Macam-macam Perbuatan Administrasi Negara
3. Hubungan Hukum Administarsi Negara dengan Hukum Positif

C. Tujuan Masalah
Dari rumusan masalah di atas maka tujuan penulisan dari makalah di atas
adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui bagaimana pengertian Perbuatan Administrasi Negara
2. Untuk mengetahui macam-macam dari Perbuatan Administrasi Negara
3. Untuk mengetahui bagaimana hubungan Hukum Administarsi Negara
dengan Hukum Positif

D. Manfaat Penulisan
Adapun manfaat dari penyusunan makalah ini adalah :
1. Bagi Penulis
Dapat mengetahui bagaimana kedudukan Hukum Administrasi Negara
diIndonesia serta berharap agar makalah ini dapat memenuhi tuntutan perkuliahan
yang sedang dijalani.
2. Bagi Pembaca
Dapat memberikan informasi dan penjelasan mengenai kedudukan
Hukum Administrasi Negara di indonesia dalam sistem hukum positif.
3. Bagi Masyarakat
Dapat memberikan informasi dan penjelasan mengenai kedudukan
Hukum Administrasi Negara dalam sistem hukum positif yang berlaku Indonesia
serta dapat membantu menyelesaikan masalah-masalah yang berhubungan dengan
pelaksanaan Hukum Administrasi Negara yang ada di Indonesia.
BAB I
PEMBAHASAN

A. Pengertian Perbuatan Administrasi Negara


Hukum Administrasi Negara menurut E. Utrecht diartikan sebagai
himpunan peraturan-peraturan tertentu yang menjadi sebab Negara berfungsi.
Dengan kata lain Hukum Administrasi Negara merupakan sekumpulan peraturan
yang memberikan wewenang kepada Administrasi Negara untuk mengatur
masyarakat. Hal itu dapat diartikan bahwa Administrasi Negara mempunyai
fungsi mengatur warga masyarakat dengan mendapat wewenang dari Hukum
Administrasi Negara sebagai landasan hukum.
Perbuatan Administrasi Negara yang disebut juga bestuur
handeling/overheids handeling adalah perbuatan yang dilakukan oleh alat
pemerintah/penguasa dalam tingkat tinggi dan rendahnya secara spontan dan
mandiri (zelfstanding) untuk pemeliharaan kepentingan Negara dan rakyat.
Dalam hal ini kita harus membedakan antara perbuatan hukum administrasi
Negara (recht handelingen) dan perbuatan yang bukan perbuatan hukum (feitelijke
handeligen). Perbedaannya adalah terdapat atau tidaknya akibat hukum dan
perbuatan pemerintah termaksud. De Haan cs (Bestuursrecht in sociale
rechtstaat) menyebutkan sebagai perbuatan materiil atau tindakan nyata. De
Haan (1986:113) menyebutkan perbedaan antara keduanya ialah bahwa dalam
perbuatan hukum ada maksud untuk melakukan akibat hukum, sedangkan
perbuatan materiil tidak punya maksud dalam hal itu.
Administrasi Negara memiliki beberapa perbuatan atau tindakan. Berikut
beberapa definisi tentang perbuatan administrasi Negara:
1. Menurut Van Poelje
Perbuatan atau tindakan dalam hukum publik adalah tindakan-tindakan
hukum yang dilakukan oleh penguasa dalam menjalankan fungsi pemerintah.
Van Poelje berpendapat, bahwa perbuatan atau tindakan pemerintahan itu
merupakan manifestasi atau perwujudan pemerintahan (bestuur).
2. Menurut Romeyn
Perbuatan atau tindakan adalah tiap-tiap tindakan atau perbuatan dari suatu
alat perlengkapan pemerintahan (bestuursorgan), juga diluar lapangan hukum
tata pemerintahan, misalnya keamanan, peradilan dan lain-lain, yang
bermaksud untuk menimbulkan akibat hukum di bidang hukum administrasi.
3. Menurut Van Vollenhoven
Tentang pemerintahan (bestuur) adalah pemeliharaan kepentingan Negara
dan rakyat secara spontan dan tersendiri oleh penguasa tinggi dan rendah
(prinsip hierarki).
Dari tiga bentuk diatas, maka dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya
perbuatan administrasi Negara dijalankan oleh penguasa untuk menjalankan
fungsi pemerintahan, menimbulkan akibat hukum serta memelihara kepentingan
publik. Sehingga perbuatan administrasi Negara meliputi segala bentuk kegiatan
atau pekerjaan pemerintah dalam menjalankan pemerintahan untuk mencapai
tujuan pemrintah.
4) E. Utrecht
perbuatan pemerintah ialah tiap-tiap perbuatan yang dilakukan
pemerintah dengan maksud untuk menyelenggarakan kepentingan umum,
termasuk perbuatan mengadakan peraturan maupun perbuatan mengadakan
ketetapan atau perjanjian.
Dengan demikian Substansi dari perbuatan alat administrasi negara adalah
tiap-tiap tindakan yang dilakukan oleh alat tata usaha negara/alat pemerintah tidak
hanya dalam fungsi eksekutif, akan tetapi juga dalam melaksanakan public service
sebagai konsekuensi dari pelaksanaan Welfare State. Perbuatan alat
administrasi negara ini ada yang masuk dalam klasifikasi perbuatan hukum dan
perbuatan nyata.
Dalam melaksanakan tugas menyelenggarakan kepentingan umum,
pemerintah banyak melakukan kegiatan atau perbuatan-perbuatan. Aktivita atau
perbuatan itu pada garis besarnya dibedakan kedalam dua golongan, yaitu :
 Golongan perbuatan hukum.
 Golongan yang bukan perbuatan hukum.
 Golongan Perbuatan nyata
Perbuatan administrasi negara yang termasuk ke dalam kategori perbuatan
hukum dibagi menjadi dua, yaitu perbuatan hukum yang berdasarkan hukum
privat dan perbuatan hukum yang berdasarkan hukum publik. Perbuatan hukum
yang berdasarkan hukum privat itu selalu bersegi dua artinya suatu hubungan
yang diatur hukum privat itu ada dua pihak yang dapat menentukan kehendaknya.
Dari kedua golongan perbuatan tersebut yang penting bagi hukum
administrasi negara adalah golongan perbuatan hukum (hechts handelingen),
sebab perbuatan tersebut langsung menimbulkan akibat hukum tertentu bagi
hukum administrasi Negara, oleh karena perbuatan hukum ini membawa akibat
pada hubungan hukum atau atau keadaan hukum yang ada, maka maka perbuatan
tersebut tidak boleh mengandung cacat, seperti kehilafan (dwaling), penipuan
(bedrog), paksaan (dwang). Disamping itu tindakan hukum tersebut harus
didasarkan pada peraturan perundang-undangan yang berlaku, maka dengan
sendirinya tindakan tersebut tidak boleh menyimpang atau bertentangan dengan
peraturan peraturan yang bersangkutan. sedangkan golongan perbuatan yang
bukan perbuatan hukum tidak relevan (tidak penting).

B. Macam-macam Perbuatan Administrasi Negara


Adapun bentuk-bentuk perbuatan atau tindakan administrasi Negara yang
diklasifikasikan berdasarkan teori, antara lain sebagai berikut :
1) Teori Donner
Dalam suatu Negara hukum modern, teori Donner membagi pekerjaan
pemerintah kedalam bentuk sebagai berikut :
a. Menetapkan tugas (taak stelling) atau tugas politik.
b. Mewujudkan atau melaksanakan tugas (taak verwezenlijking) atau
tugas teknik.
Jika teori ini diterapkan kedalam praktek administrasi Negara, maka
secara kualitatif perbuatan administrasi Negara dapat dibagi menjadi :
1. Perbuatan membentuk undang-undang dan peraturan, yang merupakan
pekerjaan elit politik pemerintah.
2. Perbuatan melaksanakan undang-undang dan peraturan, merupakan
pekerjaan aparatur pemerintah.
2) Teori Hans Kelsen
Hans Kelsen membagi pekerjaan pemerintah menjadi beberapa bagian,
diantaranya sebagai berikut :
a. Tugas politik als ethiek (tugas dari elit politik pemerintah).
b. Tugas politik als techniek (tugas dari birokrat pemerintah).
Sehingga dalam melaksanakan undang-undang dan peraturan pemerintah
atau administrasi Negara melakukan beberapa perbuatan konkret. Perbuatan
tersebut dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :
1. Perbuatan biasa, yaitu perbuatan yang tidak membawa akibat hukum.
Contohnya : membuat rumah, membuat mesjid, dan lain-lain.
2. Perbuatan hukum, yaitu perbuatan maupun akibatnya diatur oleh hukum,
baik perdata maupun publik.
3) Teori Utrecht
Dalam bukunya yang berjudul “Pengantar Hukum Administrasi
Negara Indonesia”. Utrecht membagi perbuatan atau tindakan dalam hukum
publik kedalam dua macam, yaitu :
a. Perbuatan hukum publik yang bersegi dua, yaitu suatu perjanjian
berdasarkan hukum publik. Contohnya : adanya perjanjian kontrak
antara pihak swasta dengan pemerintah dalam pembangunan jalan tol.
b. Perbuatan hukum publik yang bersegi satu, yaitu suatu hubungan yang
diatur oleh hukum publik hanya satu pihak saja yang dapat
menentukan kehendaknya, yaitu pihak pemerintah. Perbuatan hukum
publik bersegi satu inilah yang menjadi dasar ketetapan.
Dalam melaksanakan tugas menyelenggarakan kepentingan umum,
pemerintah banyak melakukan kegiatan atau perbuatan-perbuatan. Aktivitas atau
perbuatan itu pada garis besarnya dibedakan kedalam dua golongan, yaitu :
1. Golongan perbuatan hukum. Rechtshandelingen.
2. Golongan yang bukan perbuatan hukum. Feitelijke handelingen.
3. Golongan perbuatan nyata.
Yang penting bagi Hukum Administrasi Negara adalah golongan
perbuatan hukum, sebab perbuatan tersebut langsung menimbulkan akibat hukum
tertentu bagi Hukum Administrasi Negara. Adapun golongan perbuatan yang
bukan perbuatan hukum tidak relevan (tidak penting), perbuatan pemerintah yang
termasuk golongan perbuatan hukum dapat berupa :
1) Perbuatan hukum menurut hukum privat (sipil)
2) Perbuatan hukum menurut hukum public.
Untuk Hukum Administrasi Negara, yang penting adalah perbuatan Alat
Administrasi Negara yang merupakan perbuatan hukum (rechtshandelingen),
yaitu suatu perbuatan yang dilakukan dengan berdasarkan pada hukum yang
berlaku baik yang didasarkan hukum privat maupun hukum publik. Perbuatan
hukum yang diadasarkan pada hukum public bisa bersegi satu bisa pula bersegi
dua. Perbuatan hukum bersegi satu, yaitu apabila dalam perbuatan itu hanya ada
satu kehendak yang menonjol, bersegi dua apabila di dalam perbuatan itu ada dua
kehendak yang sama-sama menonjol. Perbuatan yang didasarkan pada hukum
privat selalu bersegi dua. Perbuatan menurut hukum yang dilakukanoleh alat
administrasi negara ini yang penting di dalam HAN terutama yang didasarkan
pada hukum public yang bersegi satu. Sedangkan perbuatan hukum menurut
hukum privat pada umumnya tidak termasuk di dalam Hukum Administrasi
Negara.
1. Perbutan pemerintah yang bukan perbuatan hukum.
Pengertian perbuatan pemerintah yang bukan perbuatan hukum adalah
tindakan pemerintah terhadap masyarakat yang tidak mempunyai akibat
hukum. Contoh-contoh :
 Presiden menghimbau masyarakat untuk hidup sederhana.
 Menteri perhubungan meresmikan jembatan.
 Gubernur mengunjungi panti asuhan.
2. Perbuatan pemerintah yang merupakan perbuatan hukum.
Adalah suatu perbuatan atau tindakan oleh pemerintah kepada
masyarakat yang dapat menimbulkan akibat hukum. (bentuk keputusan dan
peraturan).
Perbuatan nyata Adalah perbuatan pemerintah dalam rangka memberikan
pelayanan. Yang menjadi obyek kajian dalam HAN adalah perbuatan pemerintah
yang merupakan perbuatan hukum.

 Perbuatan Hukum menurut Hukum Privat.


Pertama, menurut Prof. scholten, pendapat yang menyatakan bahwa
Administrasi Negara dalam menjalankan tugas pemerinyah tidak dapat
menggunakan hukum privat. Alasannya karena sifat hukum privat itu
mengatur hubungan hukum yang merupakan kehendak kedua belah pihak dan
bersifat perorangan, sedangkan Hukum Administrasi Negara merupakan
bagian dari hukum public yang merupakan hukum untuk bolehnya tindakan
atas kehendak satu pihak. Tindakan satu pihak ini dalam administrasi Negara
di lakukan dalam rangka melindungi kepentingan umum.
Kedua, menurut Prof. Krabbe, Kranenburg, Vegting, Donner, dan
Huart, menyatakan bahwa administrasi Negara dalam menjalankan tugasnya
dalam beberapa hal dapat juga menggunakan hukum privat. Untuk
menyelesaikan suatu soal khusus dalam lapangan administrasi Negara telah
tersedia peraturan-peraturan hukum publik, maka administrasi Negara harus
menggunakan hukum public itu dan tidak dapat menggunakan hukum privat.
Perbuatan alat administrasi negara yang merupakan perbuatan hukum
menurut hukum privat, yaitu menyangkut hubungan hukum aparatur negara
dengan subyek hukum lain berdasarkan hukum privat, sebagai contoh :
 Hubungan sewa menyewa antara pemerintah dengan pihak swasta yang
diatur oleh Pasal 1548 KUHPerdata;
 Penjualan tanah eigendom yang diatur oleh Pasal 1547 KUHPerdata;
 Perjanjian Kerja (pelayanan rumah tangga untuk kepentingan kantor) yang
diatur KUHPerdata Buku III title 7 dan 7A
Perbuatan - perbuatan yang dilakukan oleh alat administrasi negara
berdasarkan ketentuan-ketentuan di atas tidak tergolong dalam HAN, melainkan
masuk di dalam perbuatan hukum perdata. Perbuatan hukum yang didasarkan
pada hukum publik baik itu perbuatan untuk melaksanakan peraturan maupun
perbuatan yang dilakukan dengan tujuan untuk menyelesaikan masalah konkrit
termasuk juga yang didasarkan pada Freies Ermessen (kebebasan bertindak atas
inisiatif sendiri). Perbuatan ini dilakukan untuk menyelenggarakan kepentingan
umum. Mengenai apa yang dimaksud dengan “kepentingan umum”,
The Liang Gie menyatakan bahwa kepentingan umum ialah segenap hal
yang mendorong tercapainya ketentraman, kestabilan ekonomi dan kemajuan
dalam kehidupan masyarakat di samping urusan-urusan yang menyangkut negara
dan rakyat seluruhnya sebagai satu kesatuan, sedangkan Sudargo Gautama
menyatakan bahwa kepentingan umum sama dengan kesejahteraan umum.
Dengan demikian tugas dan fungsi alat administrasi negara dalam negara
kesejahteraan (welfare state) menjadi sangat luas, tidak semata-mata menjalankan
roda pemerintahan, akan tetapi juga berperan dalam kehidupan social, ekonomi
dan cultural. Oleh karena itu alat administrasi negara tidak lagi dipandang sebagai
alat kekuasaan, akan tetapi dipandang sebagai alat pelayan masyarakat (public
service). Menurut Faried Ali dengan adanya campur tangan pemerintah yang
luas dalam kegiatan social dan ekonomi maka Hukum Ekonomi (Economic Law)
yang sering dipakai oleh para ahli di indonesia 80% masuk dalam bidang Hukum
Administrasi Negara dan 20% masuk bidang hukum privat.
 Perbuatan Hukum menurut Hukum Publik
Mengenai perbuatan hukum alat administrasi negara yang didasarkan
pada hukum publik ada perbedaan pendapat di antara para ahli. Ada ahli yang
tidak menerima/membenarkan adanya perbuatan hukum public yang bersegi
dua. Menurut mereka semua perbuatan hukum publik selalu bersegi satu
antara lain Paul Scolten, Sybengan, Van Praag, Meyers. Alasan mereka tidak
mengakui perbuatan hukum public bersegi dua, karena pada hakekatnya
perbuatan pemerintah/alat administrasi negara adalah suatu perbuatan yang
mengeluarkan atau memberhentikan suatu peraturan. Mereka bertitik tolak
dari pandangan yang didasarkan pada teori kehendak (wilstheori). Menurut
teori ini perbuatan mengeluarkan atau memberhentikan suatu peraturan,
dalam hal ini hanya ada satu kehendak yang menonjol yakni kehendak
pemerintah, sehingga di sini tidak ada perjanjian dan dalam perbuatan yang
bersegi dua yakni ada perjanjian antara dua pihak, oleh karena itu tidak ada
perbuatan pemerintah.
Para ahli yang menerima pendapat adanya perbuatan hukum public
bersegi dua yakni Kranenburg-Vegting, Wiarda, Donner, Utrecht. Alasan
mereka menerima pendapat adanya perbuatan hukum publik bersegi dua,
karena yang dimaksud dengan perbuatan pemerintah adalah perbuatan dengan
maksud menyelenggarakan kepentingan umum, termasuk perbuatan membuat
peraturan dan perbuatan mengadakan keputusan atas perjanjian. Sebagai
contoh :
 Perjanjian kerja jangka pendek (Kortverband Contract) yang dilakukan
oleh pemerintah dengan pihak swasta sebagai pekerja dan pemerintah
sebagai pemberi kerja.

Di sini ada kesesuaian dua kehendak, sehingga perbuatan hukum itu


dikatakan bersegi dua. Perbuatan hukum bersegi dua ini tidak diatur dalam hukum
privat akan tetapi diatur oleh suatu hukum yang bersifat istimewa dalam hal ini
hukum publik. Bertitik tolak dari pandangan ini, maka pemerintah dapat juga
melakukan perjanjian kerja yang sesungguhnya diatur dalam KUHPerdata di
mana perjanjian itu karena sifatnya istimewa dimaksudkan sebagai perjanjian
menurut hukum publik.

Pada kortverband contract ada persesuaian kehendak antara pekerja


dengan pemberi pekerjaan, dan perbuatan hukum itu diatur oleh hukum istimewa
yaitu peraturan hukum publik sehingga tidak ditemui pengaturannya di dalam
hukum privat (bisaa). Dalam kaitan ini bisa dicontohkan misalnya tenaga-tenaga
kerja asing yang bekerja di Indonesia untuk masa waktu tertentu adalah
merupakan Kontverband Contract yang kemudian dituangkan dalam satu
beschikking.
C. Hubungan Hukum Administarsi Negara dengan Hukum Positif
1. Hubungan HAN Dan Hukum Perdata
Menurut para ahli hubungan Han dan hukum perdata,antara lain:
a. P.M. HADJON dkk
Keikutsertaan badan atau pejabat tata negara dalam berbagai
perbuatan hukum perdata, ikut mempengaruhi hubungan hukum
keperdataan yang berlangsung dimasyarakat umum.
Contoh : pejabat pemerintah mengadakan perjanjian sewa menyewa.
b. DAVID FOULKES
Badan-badan hukum politik dapat mengikatkan diri dalam suatu
perjanjian dalam kapasitasnya sebagai subyek hukum privat. Tindakan
pemerintah untuk mengikatkan dari dalam suatu perjanjian seringkali
dibatasi oleh peraturan perundang-undangan (HAN).
c. VAN WIJK
Badan-badan hukum pemerintahan dapat mengikatkan diri dalam
perjanjian berdasarkan hukum privat. Misalnya : sewa menyewa,
pengadaan barnag inventaris, pembelian inventaris kantor.
 Kesimpulan hubungan HAN dengan hukum perdata:
1. Negara dan badan hukum publik dapat menggunakan peraturan-
peraturan hukum perdata, seperti tentang perjanjian jual bei, sewa
menyewa, tukar menukar dll.
2. Dalam hal penguasa/pemerintah mengikatkan diri dalam perbuatan
perdata maka kedudukan pemerintah adalah sama dengan rakyat
(orang/badan hukum).
3. Dapat diterapkan asas lex specialis derogat lex generalis, yakni hukum
khusus mengesampingkan hukum umum. Sehingga apabila suatu
peristiwa itu diselesaikan berdasarkan aturan yang ada pada khusus
administrasi negara (hukum khusus).
 Kemungkinan yang merugikan kalau HAN menggunakan hukum perdata :
1. Efektifitas pengawasan preventif dan represif maupun jalur banding
administrasif adakalanya tidak dapat ditempuh.
2. Dengan menempuh jalur perdata kemungkinan dapat menyimpang dari
jaminan prosedural atau jaminan perlindungan hukum yang diberikan
oleh hukum publik.
3. Pemerintah juga dapat menyalahgunakan posisinya sebagai penguasan
yang berkuasa maupun sebagai pemegang monopoli.
4. Dengan membuat perjanjian yang juga berlaku untuk waktu yang
lama. Berarti pemerintah mengikat para penerusnya, tetapi ada kalanya
pemerintah yang baru, mungkin tidak sependapat dengan perjanjian
tersebut, lalu kemungkinan dapat berakibat dibatalkannya secara
sepihak perjanjian yang telah dibuat.
2. Hubungan HAN dengan HTN :
Dari segi HISTORIS:
1. Sebelum adab ke 19 hukum administrasi negara (HAN) masih menyatu
dengan HTN, setelah abad ke 19 HAN berdiri sendiri (revousi prancis).
Dari segi OBYEK KAJIAN
1) Baik HAN maupun HTN sama-sama mempelajari negara, akan tetapi
untuk HAN secara khusus mempelajari negara dalam keadaan
bergerak, sedangkan HTN mempelajari negara dalam keadaan diam.
3. Hubungan HAN dengan hukum pidana:
a. UTRECHT
Hubungan HAN dengan hukum pidana terlihat dari segi
penegakannya. Hukum pidana memberikan sanksi dalam penegakan
hukumnya, baik atas pelanggaran kaidah hukum privat maupun kaidah
hukum publik yang yang ada, termasuk dalam HAN. Maka dalam aturan
HAN juga banyak menggunakan sanksi pidana.
b. ROMEYN
Hukum pidana sebagai hukum pembantu (hulprecht) bagi HAN
karena penetapan sanksi pidana merupakan salah satu sarana untuk
menegakkan HAN. Yaitu berupa penjara, kurungan dan denda.
c. W.F. PRINS
Hampir setiap peraturan berdasarkan hukum administrasi diakhiri
dengan sejumlah ketentuan pidana atau in cauda venenum (secara
harafiah berarti ada racun di ekor/buntut).
4. Hubungan HAN dengan hukum internasional
Pengertian dan sumber hukum internasional
1. Menurut : Prof. KRANENBURG
Pengertian hukum internasional adalah hukum yang diadakan
untuk mengatur antar negara-negara yang berdaulat dan merdeka, salah
satu sumber hukum internasional adalah traktat, konvendi dan agreement.
Traktat, konvensi dan agreement harus dengan persetujuan DPR (maka
dalam bentuk UU) Untuk melaksanakan traktat, konvensi dan agreement
maka harus diratifikasi dulu dengan UU sebagaimana diamanahkan pasal
11 UUD NKRI 1945 “Presiden dengan persetujuan DPR menyatakan
perang dengan negara lain dan membuat perjanjian dengan negara lain”.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Perbuatan Administrasi Negara yang disebut juga bestuur handeling/overheids


handeling adalah perbuatan yang dilakukan oleh alat pemerintah/penguasa dalam
tingkat tinggi dan rendahnya secara spontan dan mandiri (zelfstanding) untuk
pemeliharaan kepentingan Negara dan rakyat.
Dalam hal ini kita harus membedakan antara perbuatan hukum administrasi
Negara (recht handelingen) dan perbuatan yang bukan perbuatan hukum (feitelijke
handeligen). Perbedaannya adalah terdapat atau tidaknya akibat hukum dan
perbuatan pemerintah termaksud. De Haan cs (Bestuursrecht in sociale
rechtstaat) menyebutkan sebagai perbuatan materiil atau tindakan nyata. De
Haan (1986:113) menyebutkan perbedaan antara keduanya ialah bahwa dalam
perbuatan hukum ada maksud untuk melakukan akibat hukum, sedangkan
perbuatan materiil tidak punya maksud dalam hal itu.
Dari tiga bentuk diatas, maka dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya
perbuatan administrasi Negara dijalankan oleh penguasa untuk menjalankan
fungsi pemerintahan, menimbulkan akibat hukum serta memelihara kepentingan
publik. Sehingga perbuatan administrasi Negara meliputi segala bentuk kegiatan
atau pekerjaan pemerintah dalam menjalankan pemerintahan untuk mencapai
tujuan pemrintah.
Perbuatan tersebut dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :
1. Perbuatan biasa, yaitu perbuatan yang tidak membawa akibat hukum.
Contohnya : membuat rumah, membuat mesjid, dan lain-lain.
2. Perbuatan hukum, yaitu perbuatan maupun akibatnya diatur oleh hukum,
baik perdata maupun publik.
Untuk Hukum Administrasi Negara, yang penting adalah perbuatan Alat
Administrasi Negara yang merupakan perbuatan hukum (rechtshandelingen),
yaitu suatu perbuatan yang dilakukan dengan berdasarkan pada hukum yang
berlaku baik yang didasarkan hukum privat maupun hukum publik. Perbuatan
hukum yang diadasarkan pada hukum public bisa bersegi satu bisa pula bersegi
dua. Perbuatan hukum bersegi satu, yaitu apabila dalam perbuatan itu hanya ada
satu kehendak yang menonjol, bersegi dua apabila di dalam perbuatan itu ada dua
kehendak yang sama-sama menonjol. Perbuatan yang didasarkan pada hukum
privat selalu bersegi dua. Perbuatan menurut hukum yang dilakukanoleh alat
administrasi negara ini yang penting di dalam HAN terutama yang didasarkan
pada hukum public yang bersegi satu. Sedangkan perbuatan hukum menurut
hukum privat pada umumnya tidak termasuk di dalam Hukum Administrasi
Negara.

B. Saran

Sebagai Saran, diharapkan untuk perkembangan Hukum Administrasi Negara

selanjutnya dapat dikeluarkan lagi peraturan perundang – undangan mengenai apa

yang belum ada sebelumnya. Saya sebagai pembuat/penyusun makalah ini sangat

berharap adanya Kritik Dan Saran untuk perbaikan makalah ini. Sehingga

makalah ini dapat bermanfaat bagi kita didalam bidang Hukum Administrasi

negara khususnya, agar kelak makalah ini dapat berkembang dan menjadi lebih

baik lagi kedepannya.

Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat dan menambah pengetahuan

kita terutama dalam bidang hukum pada umumnya,dan menambah pengetahuan di

bidang Hukum Administrasi negara pada khususnya.


DAFTAR PUSTAKA

Atmosudirdjo, Prajudi, Hukum Administrasi Negara, Ghalia Indonesia,


Jakarta,1994.
artonang.blogspot.com/2015/03/sumber-hukum-perdata-tertulis.html
Bagir Manan, Sistem dan Teknik Pembuatan Peraturan Perundang-undangan
Tingkat Daerah , LPPM Unisba,Bandung,1985.

http://ahmadaminullah.blogspot.com/2013/10/makalah-hukum-administrasi-
negaranyoba.html
Marbun ,SF., Peradilan Administrasi dan Upaya Administratif di Indonesia,
Liberty, Yogyakarta, 1997.
Marbun,S.F. dan Moh.Mahfud MD, Peradilan Administrasi dan Upaya
Administratif di Indonesia, Liberty, Yogyakarta,1997.
Michiels ,F.C.M.A., De Arob-Beschikking, ‘s-Gravenhage, Vuga Uitgeverij B.V.,
1987.
Utrecht ,E. dan Moh. Saleh Djindang,Pengantar Hukum Administrasi Negara
Indonesia, PT Ichtiar Baru,Anggota IKAPI,Jakarta, 1990.