Anda di halaman 1dari 32

1.

Persiapan kerja
Baca dan pahami Standard Job Sheet logging terlebih dahulu, untuk mengetahui
perlengkapan apa saja yang dibutuhkan dan safety apa saja yang harus ditaati.

2. Pengecekan collar, hole id dan deposit


Lakukan pengecekan sample meliputi collar, hole id dan deposit untuk mencegah
tertukarnya sample. Jangan lupa untuk menuliskan nama logger dan
tanggal logging untuk melakukan konfirmasi di kemudian hari.
Check juga urutan meteran sample dan yakinkan bahwa core box sudah
disusun secara berurut dan rapi untuk mempermudah proses logging dan
mencegah kemungkinan urutan sample terbalik.

3. Koreksi recovery actual


Sebelum memulai pekerjaan, lakukan koreksi terhadap core recovery
terlebih dahulu. Core recovery pada logging tidak harus sama dengan core
recovery dari core loss form. Core recovery pada logging harus ditekankan pada
kualitas data yang akan dihasilkan dan mempertimbangkan factor geoevaluasi.

4. Layer general
Lihat secara “general” profil laterit dari hole yang akan di logging.
Tentukan terlebih dahulu batas Limonite, Saprolite dan Bedrock sebelum
menentukan break geologinya.

5. Break geologi
Lakukan break geologi pada zona-zona yang memang memiliki
perbedaan kharakter yang jelas dan menerus. Untuk kharakter yang tidak
menerus (hanya setempat-setempat) tidak perlu di lakukan break geologi.
Perhatikan baik-baik pada saat melakukan break geology, jangan melakukan
break pada sample dengan panjang < 15cm (minimal interval 15cm), karena
tidak akan memenuhi syarat representative data sehingga data tersebut tidak
dapat dipakai, atau dinyatakan sebagai error. Break geologi minimal juga harus
memiliki core recovery > 15% (minimal recovery 15%). Jika material memiliki
length atau core recovery yang lebih kecil, maka tidak perlu di break
(digabungkan dengan material lain yang lebih dominant). Jika diperlukan,
sample boleh di split (harus rapi) untuk dilihat bagian dalamnya.

6. Pemotretan
Lakukan pemotretan secara baik dan hati – hati sehingga : kualitas foto terjamin
(cukup terang untuk di lakukan analisa, dan semua bagian sample terlihat / tidak
terpotong.), tidak ada sample / core box yang terlewati, yakinkan tidak ada foto
yang terhapus / tertumpang. Pastikan dulu kualitas foto sebelum
melakukan aktivitas logging.
7. Pengisian kolom From – To.
Perhatikan baik-baik meterannya, jangan pernah dilakukan generalisasi
atau pembulatan karena ingin memudahkan perhitungan. Catat meteran apa
adanya. Gunakan mistar atau meteran untuk mengukur setiap intraval.
Pengisian kolom From – To pada area yang mengalami swelling ataupun
loss, harus memenuhi kaidah sesuai dengan perhitungan core recovery. (Untuk
lebih jelasnya lihat point
9, kolom From – To menyesuaikan panjang interval run hasil perhitungan)

8. Pengisian kolom Length.


Pada umumya Length dapat diperoleh dari mengukur panjang sample dalam satu
break (pada kondisi biasa, yaitu tidak mengalami swelling
maupun loss). Penulisan dan pengisian kolom ini harus benar-benar teliti dan
berhati-hati karena kesalahan dan pembulatan akan menyebabkan perbedaan
nilai Tonnage Factor yang cukup significant. Pada kondisi khusus (terjadi
swelling dan loss), kolom length harus dihitung dengan menggunakan kaidah
seperti pada perhitungan core recovery. (Untuk lebih jelasnya lihat point
9, kolom Length menyesuaikan panjang interval run hasil perhitungan)

9. Pengisian Recovery Length.


Secara sederhana, Core Recovery length diperoleh dengan melakukan
perhitungan :

Core Recovery = Panjang sample yang diperoleh (Actual length)


Panjang run (Actual run)

Dengan pertimbangan terjadinya extrusion pada material, core recovery


disini akan selalu memberikan nilai yang over estimated. Persentase
dari “over estimated” akan di study lebih lanjut. Recovery ditulis
tidak dalam persen, melainkan dalam bentuk bilangan bulat desimal,
artinya recovery 100% akan ditulis sebagai 1, sedangkan recovery 90% akan
ditulis 0.9.

Perhatikan baik-baik pada saat penulisan core recovery. Jika dalam 1


meter sample terdapat lebih dari 1 jenis material yang memiliki karakter yang
berbeda dan memiliki total Recovery length yang tidak sama dengan 1
(bisa lebih bisa kurang), tentukan material mana yang paling mungkin
untuk terjadi “loss” (Recovery <1) dan material mana yang paling mungkin
untuk terjadi “swelling” (Recovery >1).

Jika semua material dalam meteran tersebut memungkinkan terjadinya loss


dan swelling, maka core recovery-nya dianggap sama, yaitu core recovery totalnya.
Jika dalam satu meter hanya terdapat sebagian saja material yang mungkin
loss atau swelling, sedangkan yang lainnya tidak mungkin untuk loss dan
swelling, maka perlu dilakukan perhitungan core recovery untuk
masing-masing jenis material.
Untuk material yang tidak mungkin terjadi loss dan swelling (misal:
boulder),
maka material tersebut akan memiliki recovery = 1.

Untuk material yang mungkin terjadi loss dan swelling (yaitu: clay material and
Soft material) maka core recovery harus dihitung dengan rumus
perhitungan seperti berikut ini :

Contoh perhitungan :
Jika Soft material Loss
5.90
5 5.50 Hard Material Loss 6
Soft Material

Hard Material
6
Loss
Soft Hard Material
7 Mat 8
erial Soft Material
8
Hard Material Soft Material Loss
9 10

1. Dari meteran 5 ke 6 Diketahui:


Actual length Soft material (SM) = 50 cm
Actual length Hard material (HM) = 40 cm
Loss = 10 cm
Total run = 1m
Total recovery length 1 meter = 0.9
Maka jika sample di break pada batas Soft material dan Hard
material, maka Recovery length masing-masing sample adalah sebagai
berikut:
Rec. SM (diasumsikan tidak loss) = 50 cm / 50 cm = 1
Rec. HM (diasumsikan loss) = 40 cm / (1m – 50cm)
= 40 cm / 50 cm = 0.80

2. Dari meteran 7 ke 8 diketahui :


Actual length Soft material (SM) = 40 cm
Actual length Hard material (HM) = 50 cm
Loss = 10 cm
Total run = 1m
Total recovery length 1 meter = 0.9
Maka jika sample di break pada batas Soft material dan Hard
material, maka Recovery length masing-masing sample adalah sebagai
berikut:
Rec. SM (loss) = 40 cm / (1m – 50cm)
= 40 cm / 50 cm = 0.80
Rec. HM (tidak loss) = 40 cm / 40 cm = 1
3. Dari meteran 9 ke 10 diketahui :
Actual length Hard material (HM) = 40 cm
Actual length Soft material (SM) = 50 cm
Loss = 10 cm
Total run = 1m
Total recovery length 1 meter = 0.9

Maka jika sample di break pada batas Soft material dan Hard
material, maka Recovery length masing-masing sample adalah sebagai
berikut:

Rec. HM (tidak loss) = 40 cm / 40 cm = 1


Rec. SM (loss) = 40 cm / (1m – 50cm)
= 40 cm / 50 cm = 0.80

Contoh perhitungan :
Jika Soft material swelling
5 5.40 5.60

Soft Material (A1) Hard Material (B) Soft Material (A2)

Soft Material (A2) 6

6 7

1. Dari meteran 5 ke 6 Diketahui:


Actual length Soft Material (SM) A1 = 40 cm
Actual length Soft Material (SM) A2 = 80 cm
Actual length Hard Material (HM) = 20 cm (diasumsikan tidak swelling)
Total run = 1m
Total recovery length 1 meter = 1.4
Actual run yang di tempati Soft Material A = 100 cm – 20 cm = 80 cm
Actual length total untuk soft material A = 40 cm + 80 cm = 120 cm

Maka jika sample di break pada batas Soft material A1 dan Hard material B, dan Hard
Material (B) dengan soft material (A2), maka Recovery length masing-masing sample
adalah sebagai berikut:
Tentukan dulu interval masing-masing Soft material A1 dan A2 :
Interval (SM) A1 = (SM) A1 actual length X Actual run Soft Material A
Actual length total SM (A)
= (40cm / 120 cm) x 80 cm = 0.3333 x 80 cm
= 26.67 cm

Recovery (SM) A1 = (SM) A1 .


Interval (SM) A1
= (40 cm / 26.67 cm) = 1.5

Interval (SM) A2 = SM) A2 actual length X Actual run Soft Material A


Actual length total SM (A)
= (80cm / 120 cm) x 80 cm = 0.6667 x 80 cm
= 53.33 cm
Recovery (SM) A2 = (SM) A2 .
Interval (SM) A2
= (80 cm / 53.33 cm) = 1.5

5.80
5
Soft Material (SM) (HM)

6
Hard Material (HM) (Contoh Kasus I)
(30 cm)

6 Soft Material (SM)

Hard Material (HM) (50 cm) 7 (Contoh Kasus II)

7 Hard Material (HM) (50 cm) Soft Material (SM)

8 ( Contoh Kasus 3 )
Soft Material (SM) (30 cm)

2. Dari meteran 5 ke 6 Diketahui ( Contoh Kasus I )

Actual length Soft Material (SM) = 80 cm


Actual length Hard Material (HM) = 50 cm (tidak swelling)
Total run = 1m
Total recovery length 1 meter = 1.3
Actual run yang ditempati Soft Material (SM) = 100 cm – 50 cm = 50 cm
Maka jika sample di break pada batas Soft material A dan Hard
material , maka Recovery length masing-masing sample adalah sebagai berikut:
Recovery Soft material (SM) = Actual length (SM) /Actual run (SM)
= 80 cm / 50 cm = 1.6
Recovery Hard Material (HM) = Actual length (HM) / Actual run (HM)
= 50 cm / 50 cm = 1
3. Dari meteran 5 ke 6 Diketahui ( Contoh Kasus II )
Kasus II dapat kita tentukan recovery-nya dengan cara yang sama
dengan
Contoh kasus I
Actual length Soft Material (SM) = 100 cm (swelling)
Actual length Hard material (HM) = 50 cm (tidak swelling)
Total run = 100 cm
Recovery total = 1.5
Actual run HM = 50 cm
Actual run SM = Total run – Actual run HM = 100 cm – 50 cm = 50 cm

Recovery HM = Actual length HM / Actual run HM


= 50 cm / 50 cm = 1

Recovery SM = Actual length SM / Actual run SM


= 100 cm / 50 cm =

4. Dari meteran 5 ke 6 Diketahui ( Contoh Kasus II )


Kasus III dapat kita tentukan recovery-nya dengan cara yang sama
dengan
Contoh kasus II
Actual length Hard material (HM) = 50 cm (tidak swelling)
Actual length Soft Material (SM) = 100 cm (swelling)
Total run = 100 cm
Recovery total = 1.5
Actual run HM = 50 cm
Actual run SM = Total run – Actual run HM = 100 cm – 50 cm = 50 cm

Recovery HM = Actual length HM / Actual run HM


= 50 cm / 50 cm = 1
Recovery SM = Actual length SM / Actual run SM
= 100 cm / 50 cm = 2

Contoh perhitungan :
Jika Soft material tidak loss dan tidak ada swelling

5.40 5.70 6
5
Soft Material A (SM A) Hard Material (HM) Soft Material B (SM B)

6 7
Soft Material (SM)

7 8
Hard Material (HM)
1. Dari meteran 5 ke 6 Diketahui
Actual length Soft Material A (SM A) = 40 cm
Actual length Hard material (HM) = 30 cm
Actual length Soft Material B (SM B) = 30 cm
Total run = 100 cm
Recovery total = 1

Pada kondisi core seperti ini ( tanpa loss dan tanpa swelling), maka actual run
untuk masing-masing material di asumsikan sama dengan actual
run-nya, perhitungan recovery masing-masing material adalah :

Recovery HM = Actual length HM / Actual run HM


= 30 cm / 30 cm = 1

Recovery SM A = Actual length SM A / Actual run SM A


= 40 cm / 40 cm = 1

Recovery SM B = Actual length SM B / Actual run SM B


= 30 cm / 30 cm = 1

Perhitungan yang sama berlaku juga untuk meteran 6 ke 7 dan 7 ke 8.

10. Pengisian Material Code


Material code diisi berdasarkan jenis material (ekuivalen dengan layer-layer yang
mungkin ada pada laterite profile), yaitu:
1. LIM untuk limonite material
2. SAP untuk saprolite material
3. BLD untuk boulder material (terletak di dalam layer LIM atau SAP)
4. BRK untuk bedrock material (terletak pada meteran terakhir)
Untuk Transition Zone dituliskan Limonite dan beri keterangan pada kolom
remark/comment sebagai transition Zone.
11. Pengisian Rock Code
Rock code diisi berdasarkan Nama Batuan actual yang ditemukan dalam
tiap break geologi, yaitu:
1. HRZ untuk harzburgite
2. DUN untuk dunite
3. SRP untuk serpentinite
4. PXT untuk piroksenit
5. SIL untuk silica
6. LHZ untuk lherzolite
7. PDT untuk peridotite (jika tidak dapat dibedakan antara HRZ dan LHZ)
8. CLY untuk clay
9. CGL untuk conglomerate
10. GAB untuk Gabro (khusus pada daerah Bahodopi)
11. DBS untuk Diabase (khusus pada daerah Bahodopi)
Jika logger menemukan batuan lain yang tidak dapat dikategorikan sebagai salah
satu Nama Batuan di atas, diharap segera memberitahu Geo Evaluasi
untuk diadakan study dan pemberian nama standard.
12. Pengisian Grain Size (Igneous Grain Size)
Grain size diisi dengan mengkategorikan ukuran butir mineral batuan (baik yang
sudah lapuk dan individual maupun yang masih fresh dan interlocking) ke dalam:
(International Standard)
1. fg untuk fine grain (less than 1 mm but not glassy)
2. mg untuk medium grain (1-5 mm)
3. cg untuk coarse grain (5 – 30 mm)
4. vcg untuk very coarse grain (greater than 30 mm)

13. Pengisian Tingkat Serpentinisasi


Tingkat serpentinisasi diisi di semua intercept / break geologi pada hole-hole yang
mencirikan adanya poses serpentinisasi. Tingkat serpentinisasi tidak hanya
ada pada batuan berukuran kasar, tetapi juga memungkinkan untuk hadir
di batuan yang berukuran halus.

Tingkat serpentinisasi pada kolom ini diisi berdasarkan kenampakan


visualnya saja (warna, kelimpahan mineral hasil proses serpentinisasi,
tekstur, dll) jangan dicampur adukkan dengan pembacaan dari magsus.

Tingkat serpentinisasi diisi dengan code:


1. nil untuk tidak adanya proses serpentinisasi
2. low untuk tingkat serpentinisasi rendah
3. med untuk tingkat serpentinisasi menengah
4. hi untuk tingkat serpentinisasi tinggi.

Untuk kalibrasi tingkat serpentinisasi berdasarkan pengamatan visual,


setiap logger diwajibkan menguasai materi training
petrography dari Jacques Babineau.

14. Pengisian Tingkat Weathering


Tingkat weathering tidak ada kaitannya dengan ukuran butir, meskipun
untuk material yang halus pada umumnya memiliki tingkat weathering yang tinggi.

Di beberapa area, terutama yang mengalami serpentinisasi tinggi dan


memiliki ukuran butir halus bisa memiliki tingkat weathering yang rendah.

Dengan demikian, tingkat weathering hanya bisa diukur dengan cara


melihat warna visual, kelimpahan mineral hasil weathering, dan tekstur pada batuan.

Tingkat weathering dituliskan di intercept “hard material” saja untuk hole


yang tidak mencirikan proses serpentinisasi, atau di seluruh intercept
(break geologi) untuk hole yang mencirikan proses serpentinisasi.
Tingkat weathering dituliskan dengan code: (modifikasi dari klasifikasi
weathering menurut Evert Hoek)
1. “1” untuk tingkat pelapukan tinggi (pelapukan sempurna,
tekstur sisa batuan yang fresh sudah jarang ditemukan,
terdapat tanda-tanda slickensided, dan kehadiran mineral
clay)
2. “2” untuk tingkat pelapukan menengah (pelapukan belum
sempurna,
tekstur sisa batuan yang fresh masih banyak/melimpah
ditemukan, terdapat tanda-tanda alterasi mineral hasil proses pelapukan)
3. “3” untuk tingkat pelapukan rendah (pelapukan belum terjadi,
atau
pelapukan baru pada tahap awal (hanya terdapat pada permukaan batuan),
fisik batuan masih keras)

15. Pengisian Color Code


Color code diisi dengan warna visual yang tampak pada batuan. Warna
batuan dapat terdiri dari:
1. blk untuk black (hitam)
2. brn untuk brown (coklat)
3. grn untuk green (hijau)
4. gry untuk gray (abu-abu)
5. red untuk red (merah)
6. yel untuk yellow (kuning)
7. wht untuk white (putih)

Warna batuan pada umumnya mencirikan kelimpahan mineral tertentu.


Logger diharapkan memiliki basic petrology laterite yang cukup kuat.
(semua literature disarankan, diskusi perlu dilakukan untuk kalibrasi
standard penentuan warna batuan).

16. Pengisian Structure


Structure terdiri dari structure primer dan structure sekunder. Structure
primer menggambarkan structure major/utama pada batuan,
sedangkan structure sekunder menggambarkan structure minor
pada batuan.
Contoh:
1. Structure primer berupa joint, structure sekunder berupa vein silica.
2. Structure primer berupa vein, structure sekunder “tidak ada”.

Kode pada kolom Structure adalah:


1. bxk untuk boxwork
2. ven untuk vein
3. brc untuk brecciated
4. jnt untuk joint
5. frc untuk fracture
6. dbs untuk diabasic
structure bisa diisi pada semua intercept, baik fine material maupun
coarse material, selama intercept tersebut masih memberikan kenampakan structure.
17. Pengisian Mineral
Mineral diisi berdasarkan kelimpahan yang ada pada batuan. Untuk nama mineral
yang melimpah tuliskan di kolom “Primary”, cukup melimpah di kolom “Sec.”,
dan sedikit melimpah di kolom “Tertiary”.

Secara umum, mineral yang terdapat di SPA, dan memungkinkan untuk terlihat
secara megaskopis adalah:

1. chl untuk chlorite


2. chr untuk chrome
3. grt untuk garnierite
4. mgt untuk magnetite
5. mng untuk manganese wad
6. opx untuk orthopiroxen (bronzite/enstatite)
7. ser untuk serpentine
8. sil untuk silica
9. tlc untuk talc
10. mgh untuk maghemite
11. hmt untuk hematite
12. asb untuk asbolite
13. gth untuk goethite
14. mgs untuk magnesite
15. non untuk nontronite
16. olv untuk olivin
17. prx untuk piroksin
18. mic untuk mica
19. crb untuk carbon
20. crp untuk crisoprast
21. ast untuk asbestos
22. cry untuk crysotile
23. cob untuk cobalt
24. kal untuk Kaolin
25. brz untuk bronzite
26. mnt untuk montmorilonite
27. lpc untuk lepidocrosite
28. plg untuk plagioklas
29. fel untuk feldspar
30. mgn untuk mangan
31. ant untuk Antigorite

18. Pengisian Magnetic Susceptibility


Mag. Suscept. dihitung disemua boulder yang terdapat di setiap intercept
yang masih memungkinkan / memenuhi syarat untuk pengukuran magsus.
Nilai magsus dituliskan sesuai dengan angka yang tertera pada bacaan alat, jangan
di generalisasikan kedalam nilai kualitatif. Nilai magsus diperoleh
dengan melakukan average dari 3 kali pengukuran pada titik yang
berbeda. Perhatikan syarat-syarat pengukuran magsus pada batuan.

19. Pengisian Fracture


Kolom fracture diisi dengan jumlah open fracture / joint / kenampakan
struktur yang berpola, baik yang sudah maupun yang belum terisi oleh mineral
sekunder. Fracture ini dihitung pada suatu zona boulder yang menerus,
selama ciri-ciri adanya fracture masih terlihat. Kedua ujung dari rangkaian
boulder tidak dihitung sebagai fracture. Fracture diisi disetiap intercept
yang memiliki rangkaian boulder, dengan ketentuan sebagai berikut:

1. Fracture dihitung dalam satu rangkaian boulder secara


keseluruhan, selama fracture tersebut masih dapat diidentifikasi dengan jelas.

Gambar: Fracture Artificial

11 cm 25 cm 24 cm 40 cm
1 2 3
Jumlah fracture dari boulder diatas adalah : 3
Fracture
5 cm
9 cm 8 cm 5 cm
1 2 3
Jumlah fracture dari boulder diatas adalah : 3
Fracture Artificial

11 cm 15 cm 15 cm 19 cm 30 cm 15 cm
1 2 3 4 5 6 7 8
Jumlah fracture dari boulder diatas adalah : 8
2. Jika rangkaian boulder yang mempunyai fracture dipisahkan
oleh soft material, maka perhitungan fracture dilakukan secara
terpisah antara rangkaian boulder yang satu dengan rangkaian boulder
yang lainnya.

Gambar:
rangkaian boulder 1 rangkaian boulder 2
Fracture
5 cm Soft material 2 cm
9 cm 8 cm 5 cm 17 cm 5 cm
1 2 3 45
Jumlah fracture dari boulder diatas adalah : 5
3. Untuk fracture yang sangat intensif, sehingga meski teridentifikasi sebagai
fracture logger masih mengalami kesulitan dalam menghitung
jumlah fracture, diberi angka konstan (konstanta) 100.

Gambar: Intensif Fracture

Jumlah fracture dari boulder diatas adalah : 100

4. Untuk fracture yang sangat intensif, yang terletak diantara 2 rangkaian


boulder maka fracture tersebut diperlakukan sama seperti soft
material pada point 2.

Gambar: rangkaian boulder 1 rangkaian boulder 2


Fracture
5 cmIntensif Fracture 2 cm
9 cm 8 cm 5 cm 17 cm 5 cm
1 2 3 45
Jumlah fracture dari boulder diatas adalah : 5

Perhatikan baik-baik apakah fracture berasal dari struktur atau artificial selama
pemboran berlangsung. Struktur biasanya dicirikan dengan kenampakan
yang berpola, atau sudah mengalami weathering, atau terisi oleh
mineral-mineral sekunder.

20. Pengisian Boulder > 10 cm


Kolom Boulder > 10 cm diisi dengan total panjang boulder yang lebih besar dari
10 cm. Untuk boulder < 10 cm tidak perlu dikalkulasikan. Boulder > 10 cm diisi
disetiap intercept yang memiliki boulder > 10 cm.

Contoh :
Fracture
Fracture
Hard Material
Soft Material 15 cm 30 cm Pjg Bld = 45 cm

5 cm 30 cm 5 cm 30 cm Pjg Bld = 60 cm

5 cm 40 cm 2 cm 25 cm Pjg Bld = 65 cm

25 cm 20 cm 25 cm 15 cm Pjg Bld = 85 cm

Artificial
21. Pengisian Comment
Kolom Comment diisi dengan seluruh informasi geologi baik yang bersifat unik
maupun yang berpola. Intercept dimana “relict texture (tekstur sisa)” pertama kali
terlihat sebaiknya diberi keterangan pada kolom comment-nya.
Keberadaan mineral-mineral atau struktur atau tekstur yang tidak lazim
terdapat pada profil laterite sebaiknya juga diidentifikasi pada kolom
comment, misal keberadaan mineral lempung sediment dalam kelimpahan yang
cukup besar, atau boulder dari batuan bukan ultramafic. Type batuan WT
1, WT 2 dan WT 3 juga dapat dicantumkan dalam comment di
setiap rangkaian boulder yang ada (tiap intercepth).

Geologist logging sebaiknya memperhatikan kolom comment ini. Karena,


besar kemungkinan terdapat informasi geologi yang tidak dapat
dimasukkan kedalam kolom-kolom sebelumnya tetapi memiliki arti
yang penting dalam evaluasi geologi.

Untuk intercept yang memiliki informasi geologi yang sama pada


kolom comment-nya, sebaiknya ditulis hanya di intercept awal dimana informasi
tersebut pertama kali ditemukan dan intercept terakhir dimana informasi
tersebut tidak nampak kembali (membentuk satu
series informasi geologi, series ini memungkinkan
untuk lebih dari satu).

Sebagai panduan, logger diharapkan mengenal geology general


Sorowako. Geological map terlampir dalam standard logging procedure.
Ketidaksesuaian antara data coring dengan general geology Sorowako
bukan merupakan suatu kesalahan dalam logging melainkan suatu
informasi baru yang nantinya dapat digunakan untuk meng-update
geology general Sorowako. Ketidaksesuaian ini merupakan informasi
geology yang harus dicatat oleh logger.

Comment harus disimpulkan menjadi satu kalimat di baris terakhir


sebagai resume dari seluruh informasi geologi yang diketahui.

Contoh:
Resume comment

Profile laterite lengkap dan berurut, relict texture mulai terlihat


pada meteran 22-23, secara umum batuan pernah mengalami struktur yang
intensive, banyak terdapat silica pada meteran 10-18, vein silica dan
garnierite banyak mengisi rekahan batuan. Gejala serpentinisasi terlihat pada
bidang fracture, type batuan WT 2 (tdk sesuai dengan General Map),
protolith didominasi oleh Harzburgite, terdapat boulder conglomerate pada
meteran 26-27. dll.
Penulisan comment diijinkan untuk menggunakan steno/singkatan, untuk
singkatan yang tidak umum harap didiskusikan diantara logger dan dibuat standar
abbreviation-nya.

Lampiran 1. Koreksi Recovery Actual

For all recoveries correction, it’s better to use Pipe or Splitter to make sure the volume is
appropriate with drilling volume.

MATERIAL SILIKA (GRAVEL SIZE)

RESULT

MATERIAL BOULDER / BEDROCK

RESULT

MATERIAL SAPROLITE + GRAVEL

RESULT
Lampiran 2. Tingkat Serpentinisasi (J. Babineau)
Lampiran 3. Contoh batuan

Brecciated Ultramafic Rock (fragment dan matriks terikat sangat kuat dan kompak)

Conglomerate Sediment (fragment dan matriks mudah lepas dan tidak kompak)
Konglomerat dan Brecciated Ultramafic rock memberikan kenampakan yang
hampir
sama. Untuk membedakan, perhatikan baik-baik tekstur, hubungan antar butir
dan kekompakan batuan.

Fine Gabbro (dicirikan dengan tidak adanya / minimnya mineral olivine dan piroksen,
digantikan oleh keberadaan mineral amphibole dan plagioklas)

Pegmatite (ukuran mineral sangat kasar (very coarse grain size), yaitu > 30 mm)
Chert (Warna merah, sangat kompak, banyak terdapat vein silika)

Chromite (Warna hitam, bentuk kristal original “cubic”, mempunyai struktur aggregate,
berat jenis sangat tinggi)
Clay Sediment (Warna bervariasi, di SPA pada umumnya berwarna hitam dan merah, di
beberapa tempat berwarna hijau tua).

Black Clay

Red Clay
Lampiran 4. Weathering Product minerals
Lampiran 5. Standard Color Code (disusun berdasarkan warna profile laterite di Sorowako Project
Area (SPA))

Black Color (blk)

Brown Color (brn)

Green Color (grn)


Gray Color (gry)

Yellow Color (yel)

Red Color (red)

White Color (wht)

White color is uncommon and already clear. High asbestos mineral content might give
white color.
Lampiran 6. Classification and Nomenclature of Mafic and Ultramafic Rocks
(Streckeisen,1976)