Anda di halaman 1dari 23

REFLEKSI KASUS ANESTESI

PASIEN ICU

Disusun Oleh :

Rosalia Septaviana Risdiarta

42170200

Pembimbing :

dr. Yos Kresna Wardhana, M.Sc, Sp. An

KEPANITERAAN KLINIK ANESTESI RUMAH SAKIT EMANUEL

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN DUTA WACANA

YOGYAKARTA

2019
BAB I

LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS PASIEN
Nama Pasien : Ny. S
Nomor RM : 00039XXX
Usia, Tgl Lahir : 56 tahun, 24/11/1962
Alamat : Kalipelus, Banjarnegara
Tanggal masuk : 8 April 2019
Tanggal keluar : 10 April 2019

II. STATUS UMUM


Tinggi badan : 149 cm
Berat badan : 55 kg
IMT : 24.7
Status Gizi : Normal
Saturasi : 98%
VAS :4
Penggunaan alat bantu napas Nasal Kanul O2 3 lpm

III. MASUK ICU


 Keluhan Utama
Post KLL
 Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke IGD RS Emanuel Klampok pada tanggal 08 April
2019 jam 9.45 dengan keluhan kepala terasa pusing disertai mual
muntah setelah mengalami kecelakaan lalu lintas. Pasien mengalami
kecelakaan motor vs motor di daerah Purwonegoro. Saat kejadian,
pasien sempat tidak sadarkan diri dan muntah sebanyak satu kali.
Kepala pasien terbentur dalam keadaan tidak mengenakan helm.
Kemudian pasien dipindahkan dari IGD ke ruang ICU pada pukul
15.55 di hari yang sama.
 Riwayat Penyakit Dahulu
DM (-) TBC (-) Jantung (-)
HT (-) Asma (+) Ginjal (-)
 Riwayat penyakit keluarga
(-)
 Riwayat Alergi
Alergi obat (-)
Alergi makanan (-)
 Life Style
Pasien bekerja sebagai pegawai negeri sipil. Untuk kebiasaan
makan, pasien rutin makan 2-3x sehari, dengan buah sayur serta
daging. Pasien tidak merokok maupun mengkonsumsi alkohol.

IV. PEMERIKSAAN FISIK


Pemeriksaan dilakukan pada hari Senin, 8 April 2019 di ruang IGD
pukul 9.45.
1. Keadaan Umum : Sedang
2. Kesadaran : Compos Mentis
3. GCS : E4 M5 V6
4. Vital Sign
a. Tekanan darah : 112/75 mmHg
b. Nadi : 88 kali/menit
c. Respirasi : 18 kali/menit
d. Suhu : 37 0 C

Pemeriksaan dilakukan pada hari Senin, 8 April 2019 di ruang ICU


pukul 16.00.
1. Keadaan Umum : Sedang
2. Kesadaran : Compos Mentis
3. GCS : E3 M5 V6
4. Vital Sign
a. Tekanan darah : 110/70 mmHg
b. Nadi : 115 kali/menit
c. Respirasi : 20 kali/menit
d. Suhu : 36,1 0 C

Pemeriksaan dilakukan pada hari Selasa, 9 April 2019 di ruang ICU


pukul 10.00.
1. Airway
 Menggunakan alat bantu nafas, yaitu nasal kanul dengan O2 3
lpm
2. Breathing
 Respirasi : 13x/menit
 Suara nafas : vesikuler
 Dinding dada : simetris
3. Circulation
 Tekanan darah : 127/65 mmHg
 Nadi : 92x/menit
 SpO2 : 100%
 CRT : <2dtk
 Akral : hangat
4. Disabilitas
 Keadaan Umum : Sedang
 Kesadaran : DPO (Dalam Pengaruh Obat)
 GCS : DPO (Morfin, Fentanyl)
 Suhu : 36.70 C
5. Pemeriksaan lokalis
A. Kepala
 Kepala : normocephali, hematoma regio
parietooccipitalis sinistra
 Mata : konjungtiva anemis (-/-) sklera ikterik (-/-)
injeksi konjungtiva (-/-) pupil isokor
3mm/3mm, reflek cahaya (+/+)
 Hidung : deformitas (-)
 Mulut : sianosis (-) kering (-) stomatitis (-)
B. Leher
 Limfonodi < 0,5 CM +/+
 Peningkatan tekanan vena jugularis/arteri karotis (-)
 Tidak ada pembesaran massa tiroid
 Krepitasi (-)
C. Thorax
 Paru paru
 Inspeksi : deformitas (-) jejas (-) massa (-) otot bantu
nafas (-)
 Palpasi : ketinggalan gerak dada (-)
 Perkusi : sonor +/+
 Auskultasi : vesikuler +/+, wheezing (-), ronki (-)
 Jantung
 Inspeksi : iktus cordis terlihat
 Palpasi : iktus cordis terletak di SIC 5 midklavikula
sinister
 Perkusi : batas jantung normal
 Auskultasi : bising jantung (-) S1, S2 normal
D. Abdomen
 Inspeksi : jejas (-) distensi (-) supel
 Auskulasi : peristaltik usus normal
 Perkusi : timpani
 Palpasi : nyeri tekan (-) hepatomegali (-) massa (-)
E. Ekstremitas
 Akral hangat, CRT < 2 detik
 Edema ekstremitas bawah (-/-) krepitasi (-)
V. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Laboratorium (8/4/19)
Hasil Nilai Rujukan
Hematologi
Hemoglobin 12.4 12 – 16 g/dL
Lekosit 12.77 H 4.8 – 10.8 rb/mmk
Eritrosit 4.64 4.2 – 5.4 jt/mmk
Hematokrit 37 37 – 47 %
MCV 79.7 79 – 99 fL
MCH 27 27 – 31 pg
MCHC 33.5 33 – 37 g/dL
RDW 36.9 35 – 47 fL
Trombosit 255 150 – 450 rb/mmk
PDW 11.6 9 – 13 fL
P-LCR 23 15 – 25 %
MPV 9.7 7.2 – 11.1 fL
Neutrofil% 85.1 H 50 – 70 %
Eusinofil 0.5 L 2–4%
Basofil 0.2 0–1%
Limfosit% 9.7 L 25 – 40 %
Monosit 4.5 2–8%
Kimia Klinik
Glukosa Sewaktu 135.7 H 70 – 115 mg/dL
SGPT 30 7 – 35 IU/L
Kreatinin Darah 0.50 0.6 – 1.1 md/dL
EKG (8/4/19)

Kesan: sinus rhytm dengan heart rate 100x/menit.

CT Scan (8/4/19)
 Soft tissue swelling
pada extracranial
regio
temporoparietalis
dextra
 Tidak tampak
adanya
diskontinuitas
tulang
 Penipisan pada
gyrus dan sulcii
 Batas cortex dan
medulla kabur
 Tampak lesi
hiperdens
berbentuk crescent
pada fossa
posterior sinistra
 Tampak lesi
hiperdens mengisi
sulcus regio
temporalis sinistra
 Tidak ada midline
shift.
Kesan: edema cerebri dengan SDH pada fossa posterior, SAH pada regio
temporalis sinistra dan soft tissue swelling pada extracranial regio
temporoparietalis dextra, tanpa disertai fraktur.
VI. DIAGNOSIS DAN TERAPI
Diagnosis Kerja : Cedera Kepala Ringan
Terapi : Penatalaksanaan pada pasien dengan
cedera kepala bertujuan untuk
mencegah cedera kepala sekunder
dan memperbaiki keadaan umum
sehingga membantu penyembuhan sel
otak. Prinsip penanganan awal
meliputi survei primer (airway,
breathing, circulation, disability,
exposure) dan sekunder (resusitasi).
Terapi oksigen : Pemasangan nasal kanul 3 Lpm
Pemasangan infus : (+) NaCL 500cc/24 jam
Lain-lain : DC (+), NGT (-)
Pasien : Risiko Jatuh
Lain lain : Alergi (-)
Obat-obatan yang diberikan :
 Ketorolac 3 x 1 Inj  sebagai analgetik
 Ranitidin 2 x 1 inj  sebagai antiulcer
 Manitol 4 x 125 mg inj  untuk mengurangi edema pada otak
dan peningkatan tekanan intracranial
 Citicholin 2 x 125 mg  meningkatkan aliran darah dan
konsumsi o2 di otak
 Ondancentron 1 amp  sebagai antiemetik
 Morfin 2 amp + Sedacum 3 amp/24 jam  sebagai sedasi
 Fentanyl 50mcg  sebagai analgetik
 Paracetamol 4 x 1 gr  sebagai analgesik
 Metoclopramide HCl 3 x 1  sebagai antiemetik

VII. STATUS HEMODINAMIK

Tanggal Jam TD HR RR T SpO2


(mmHg) (x/menit) (x/menit) (ºC) (%)
8/4/19 Malam 110/60 90 20 36.6 99
Pagi 100/60 90 20 37.5 99
Siang 115/65 75 26 36.6 98
9/4/19
Sore 90/50 75 30 37.5 99
Malam 85/55 90 30 36.7 100

10/4/19 Pagi 95/60 85 18 36.5 100


Siang 105/70 75 20 36.3 98
Sore 110/70 90 25 36.9 98

BALANCE CAIRAN
Tanggal Jam UU BC
8/4/19 Malam 700 cc/6 jam -500 cc/6 jam
Pagi 400 cc/6 jam -695 cc/12 jam
Siang 300cc/6 jam -225 cc/6 jam
9/4/19
Sore 400 cc/6 jam -328 cc/12 jam
Malam 100 cc/6 jam -226 cc/18 jam
Pagi 150 cc/6 jam -54 cc/24 jam
10/4/19 Siang 300 cc/6 jam +302 cc/6 jam
Sore 400 cc/6 jam +318 cc/12 jam
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

I. DEFINISI
Menurut Brunner dan Suddarth (2001), cedera kepala adalah cedera
yang terjadi pada kulit kepala, tengkorak dan otak. Cedera kepala
merupakan proses dimana terjadi trauma langsung atau deselerasi pada
kepala yang menyebabkan kerusakan tengkorak dan otak (Pierce &
Neil, 2006). Sedangkan menurut Brain Injury Association of America
(2009), cedera kepala merupakan suatu kerusakan pada kepala, bukan
bersifat kongenital ataupun degeneratif, tetapi disebabkan oleh serangan
atau benturan fisik dari luar, yang dapat mengurangi atau mengubah
kesadaran yang kemudian akan menimbulkan kerusakan fungsi kognitif
dan fisik.
Dari berbagai pengertian diatas, disimpulkan bahwa cedera kepala
merupakan trauma pada kulit kepala, tengkorak dan otak yang terjadi
baik secara langsung atau tidak langsung pada kepala yang dapat
mengakibatkan terjadinya penurunan kesadaran hingga kematian.

II. EPIDEMIOLOGI
Angka kejadian cedera kepala di seluruh dunia terus meningkat
sehubungan dengan meningkatnya penggunaan kendaraan bermotor di
negara berpendapatan rendah dan menengah. Insidensi cedera kepala
secara global diperkirakan sekitar 200 per 100.000 orang setiap
tahunnya. Menurut Center of Disease Control amd Prevention (CDC)
kejadian cedera kepala di Amerika Serikat adalah sekitar 1,7 juta kasus
setiap tahunnya (Roozenbeek, Maas, dan Menon, 2013). Di Indonesia,
penelitian mengenai insidensi cedera kepala masih sangat minim
sehingga angka kejadian cedera kepala di Indonesia masih belum dapat
ditentukan.
Cedera kepala menjadi penyebab utama kematian orang dewasa yang
berusia dibawah 45 tahun dan pada anak-anak berusia 1 sampai 15
tahun. Kasus cedera kepala terbanyak merupakan cedera kepala derajat
ringan. Pasien dengan cedera kepala ringan memiliki prognosis yang
baik bila penanganan dilakukan dengan baik pula. Secara kesuluruhan
angka kematian pada pasien-pasien cedera kepala ringan adalah sekitar
0,1% dan paling sering disebabkan oleh perdarahan intrakranial yang
tidak terdiagnosa. Walaupun banyak pasien cedera kepala ringan yang
dapat kembali bekerja, namun sekitar 50% dari pasien ini memiliki
disabilitas sedang sampai berat bila diukur dengan Glasgow Outcome
Scale (GOS) atau Disability Outcome Scale (DOS). Hal ini
menunjukkan bahwa cedera kepala ringan pun memiliki morbiditas
yang signifikan. Pada pasien-pasien yang mengalami cedera kepala
yang lebih parah, prognosisnya jauh lebih buruk (Moppett, 2007).

III. ANATOMI
a. Kulit Kepala

Kulit kepala terdiri dari 5 lapisan yang disebut sebagai SCALP


yaitu:
 Skin (kulit)
 Connective tissue (jaringan ikat)
 Aponeuris atau galea aponeurotika (jaringan ikat
yang berhubungan langsung dengan tengkorak)
 Loose areolar tissue (jaringan penunjang longgar)
 Perikranium

a. Tulang Tengkorak
Terdiri dari kubah (kalvaria) dan basis kranii. Tulang tengkorak
terdiri dari beberapa tulang yaitu frontal, parietal, temporal dan
oksipital. Kalvaria khususnya diregio temporal adalah tipis, namun
disini dilapisi oleh otot temporalis. Basis cranii berbentuk tidak rata
sehingga dapat melukai bagian dasar otak saat bergerak akibat
proses akselerasi dan deselerasi. Rongga tengkorak dasar dibagi atas
3 fosa yaitu fosa anterior tempat lobus frontalis,fosa media tempat
temporalis dan fosa posterior ruang bagi bagian bawah batang otak
dan serebelum.
b. Meningen
Selaput meningen menutupi seluruh permukaan otak dan terdiri dari
3 lapisan yaitu :
1) Duramater
Duramater secara konvensional terdiri atas dua lapisan yaitu
lapisan endosteal dan lapisan meningeal. Duramater
merupakan selaput yang keras,terdiri atas jaringan ikat
fibrisa yang melekat erat pada permukaan dalam dari
kranium. Karena tidak melekat pada selaput arachnoid di
bawahnya, maka terdapat suatu ruang potensial (ruang
subdura) yang terletak antara duramater dan arachnoid,
dimana sering dijumpai perdarahan subdural (Japardi, 2004).
Pada cedera otak, pembuluh-pembuluh vena yang berjalan
pada permukaan otak menuju sinus sagitalis superior di garis
tengah atau disebut bridging veins dapat mengalami robekan
dan menyebabkan perdarahan subdural. Sinus sagitalis
superior mengalirkan darah vena ke sinus transversus dan
sinus sigmoideus. Laserasi dari sinus-sinus ini dapat
mengakibatkan perdarahan hebat (Japardi,2004).
Arteri meningea terletak antara duramater dan permukaan
dalam dari kranium (ruang epidural). Adanya fraktur dari
tulang kepala dapat menyebabkan laserasi pada arteri-arteri
ini dan menyebabkan perdarahan epidural. Yang paling
sering mengalami cedera adalah arteri meningea media yang
terletak pada fosa temporalis (fosa media).
2) Selaput Arakhnoid
Selaput arakhnoid merupakan lapisan yang tipis dan tembus
pandang. Selaput arakhnoid terletak antara pia mater sebelah
dalam dan dura mater sebelah luar yang meliputi otak.
Selaput ini dipisahkan dari dura mater oleh ruang potensial,
disebut spatium subdural dan dari pia mater
oleh spatium subarakhnoid yang terisi oleh liquor
serebrospinalis. Perdarahan subarakhnoid umumnya
disebabkan akibat cedera kepala (American college
of surgeon,1997)
3) Pia mater
Pia mater melekat erat pada permukaan korteks serebri. Pia
mater adarah membrana vaskular yang dengan erat
membungkus otak, meliputi gyri dan masuk kedalam sulci
yang paling dalam. Membrana ini membungkus saraf otak
dan menyatu dengan epineuriumnya. Arteri-arteri yang
masuk kedalam substansi otak juga diliputi oleh pia mater
(Japardi, 2004)
c. Otak

Otak terdiri dari beberapa bagian yaitu proensefalon (otak depan)


terdiri dari serebrum dan diensefalon, mesensefalon (otak tengah)
dan rhombensefalon (otak belakang) terdiri dari pons,medula
oblongata dan serebellum. Fisura membagi otak menjadi beberapa
lobus. Lobus frontal berkaitan dengan fungsi emosi, fungsi motorik
dan pusat ekspresi bicara. Lobus parietal berhubungan dengan fungsi
sensorik dan orientasi ruang. Lobus temporal mengatur fungsi
memori tertentu. Lobus oksipital bertanggung jawab dalam proses
penglihatan. Mesensefalon dan pons bagian atas berisi sistem aktivasi
retikular yang berfungsi dalam kesadaran dan kewaspadaan. Pada
medulla oblongata terdapat pusat kardio respiratorik. Serebellum
bertanggung jawab dalam fungsi koordinasi dan keseimbangan
(American college of surgeon,1997)
d. Cairan serebrospinalis
Cairan serebrospinal (CSS) dihasilkan oleh plexus khoroideus dengan
kecepatan produksi sebanyak 20 ml/jam. CSS mengalir dari dari
ventrikel lateral melalui foramen monro menuju ventrikel III, dari
akuaduktus sylvius menuju ventrikel IV. CSS akan direabsorbsi ke
dalam sirkulasi vena melalui granulasio arakhnoid yang terdapat pada
sinus sagitalis superior. Adanya darah dalam CSS dapat menyumbat
granulasio arakhnoid sehingga mengganggu penyerapan CSS dan
menyebabkan kenaikan takanan intracranial. Angka rata-rata pada
kelompok populasi dewasa volume CSS sekitar 150 ml dan dihasilkan
sekitar 500 ml CSS per hari (Hafidh, 2007).
e. Tentorium
Tentorium serebeli membagi rongga tengkorak menjadi ruang
supratentorial (terdiri dari fosa kranii anterior dan fosa kranii media)
dan ruang infratentorial (berisi fosa kranii posterior) (Japardi,2004)
f. Vaskularisasi
Otak disuplai oleh dua arteri carotis interna dan dua arteri vertebralis.
Keempat arteri ini beranastomosis pada permukaan inferior otak dan
membentuk sirkulus Willisi. Vena-vena otak tidak mempunyai
jaringan otot didalam dindingnya yang sangat tipis dan tidak
mempunyai katup. Vena tersebut keluar dari otak dan bermuara ke
dalam sinus venosus cranialis (Japardi,2004).

IV. PATOFISIOLOGI
Pada cedera kepala, kerusakan otak dapat terjadi karena dua tahap yaitu:
a. Cedera primer
Cedera primer merupakan cedera yang terjadi sebagai akibat
langsung dari suatu ruda paksa, dapat berupa benturan langsung (lesi
coup) atau proses akselerasi-deselerasi (lesi countercoup).

Proses akselerasi-deselerasi terjadi karena kepala bergerak dan


berhenti secara mendadak. Perbedaan densitas antara tengkorak
(solid) dan otak (semisolid) menyebabkan tengkorak bergerak lebih
cepat daripada otak, sehingga otak membentur permukaan dalam
tengkorak pada tempat yang berlawanan dari benturan dan disebut
countercoup.
b. Cedera sekunder
Cedera sekunder merupakan cedera yang terjadi akibat berbagai
proses patologis yang timbul sebagai tahap lanjutan dari kerusakan
otak primer, berupa perdarahan, edema otak, kerusakan neuron
berkelanjutan, iskemia, peningkatan tekanan intrakranial dan
perubahan neurokimiawi (Japardi, 2004).

V. KLASIFIKASI
Cedera kepala diklasifikasikan berdasarkan mekanisme, beratnya
cedera kepala, dan morfologinya.
a) Mekanisme cedera kepala
 Cedera kepala tumpul biasanya berkaitan dengan kecelakaan
mobil atau motor, jatuh atau terkena pukulan benda tumpul.
 Cedera kepala tembus disebabkan oleh peluru atau tusukan
(Bernath,2009).

b) Beratnya cedera
Cedera kepala diklasifikasikan berdasarkan nilai Glasgow Coma
Scale adalah sebagai berikut :
 GCS ≤ 8  cedera kepala berat
 GCS 9 – 13  cedera kepala sedang
 GCS 14 – 15  cedera kepala ringan

c) Morfologi Cedera
1. Fraktur cranium
Fraktur cranium dapat terjadi pada atap atau dasar tengkorak,
dan dapat berbentuk garis atau bintang dan dapat pula terbuka
atau tertutup. Fraktur dasar tengkorak biasanya memerlukan
pemeriksaan CT Scan dengan dengan teknik bone window untuk
memperjelas garis frakturnya. Adanya tanda-tanda klinis fraktur
dasar tengkorak menjadikan petunjuk kecurigaan untuk
melakukan pemeriksaan lebih rinci. Tanda-tanda tersebut antara
lain ekimosis periorbital (raccoon eye sign), ekimosis
retroauikular (battle sign), kebocoran CSS (rhinorrhea, otorrhea)
dan paresis nervusfasialis (Bernath, 2009). Fraktur cranium
terbuka atau komplikata mengakibatkan adanya hubungan
antara laserasi kulit kepala dan permukaan otak karena robeknya
selaput duramater. Keadaan ini membutuhkan tindakan dengan
segera. Adanya fraktur tengkorak merupakan petunjuk bahwa
benturan yang terjadi cukup berat sehingga mengakibatkan
retaknya tulang tengkorak. Fraktura kalvaria linear
mempertinggi risiko hematoma intrakranial sebesar 400 kali
pada pasien yang sadar dan 20 kali pada pasien yang tidak sadar.
Untuk alasan ini, adanya fraktura tengkorak mengharuskan
pasien untuk dirawat dirumah sakit untuk pengamatan (Bernath,
2009)
2. Lesi Intrakranial
Lesi intrakranial dapat diklasifikasikan sebagai fokal atau difusa,
walau kedua bentuk cedera ini sering terjadi bersamaan. Lesi
fokal termasuk hematoma epidural, hematoma subdural, dan
kontusi (atau hematoma intraserebral). Pasien pada kelompok
cedera otak difusa, secara umum, menunjukkan CT scan normal
namun menunjukkan perubahan sensorium atau bahkan koma
dalam keadaan klinis. (Bernath,2009)
 Hematoma Epidural
Epidural hematom (EDH) adalah perdarahan yang
terbentuk diruang potensial antara tabula interna dan
duramater dengan ciri berbentuk bikonvek atau
menyerupai lensa cembung. Paling sering terletak diregio
temporal atau temporoparietal dan sering akibat robeknya
pembuluh meningeal media. Perdarahan biasanya
dianggap berasal arterial, namun mungkin sekunder dari
perdarahan vena pada sepertiga kasus. Kadang-kadang,
hematoma epidural akibat robeknya sinus vena, terutama
diregio parietal-oksipital atau fossa posterior. Walau
hematoma epidural relatif tidak terlalu sering (0.5% dari
keseluruhan atau 9% dari pasien koma cedera kepala),
harus selalu diingat saat menegakkan diagnosis dan
ditindak segera. Bila ditindak segera, prognosis biasanya
baik karena penekanan oleh gumpalan darah yang terjadi
tidak berlangsung lama. Keberhasilan pada
penderita pendarahan epidural berkaitan langsung dengan
status neurologis penderita sebelum pembedahan.
Penderita dengan pendarahan epidural dapat menunjukan
adanya ‘lucid interval´ yang klasik dimana penderita yang
semula mampu bicara lalu tiba-tiba meningggal (talk and
die), keputusan perlunya tindakan bedah memang tidak
mudah dan memerlukan pendapat dari seorang ahli bedah
saraf.
Dengan pemeriksaan CT Scan akan tampak area hiperdens
yang tidak selalu homogen, bentuknya biconvex sampai
planoconvex, melekat pada tabula interna dan mendesak
ventrikel ke sisi kontralateral (tanda space occupying
lesion ). Batas dengan corteks licin, densitas duramater
biasanya jelas, bila meragukan dapat diberikan injeksi
media kontras secara intravena sehingga tampak lebih jelas
(Ghazali,2007).
 Hematom Subdural
Hematoma subdural (SDH) adalah perdarahan yang terjadi
diantara duramater dan arakhnoid. SDH lebih sering terjadi
dibandingkan EDH, ditemukan sekitar 30% penderita
dengan cedera kepala berat. Terjadi paling sering akibat
robeknya vena bridging antara korteks serebral dan sinus
draining . Namun ia juga dapat berkaitan dengan laserasi
permukaan atau substansi otak. Selain itu, kerusakan otak
yang mendasari hematoma subdural akuta biasanya sangat
lebih berat dan prognosisnya lebih buruk dari hematoma
epidural. Mortalitas umumnya 60%, namun mungkin
diperkecil oleh tindakan operasi yang sangat segera dan
pengelolaan medis agresif. Subdural hematom terbagi
menjadi akut dan kronis.

1) SDH Akut
Pada CT Scan tampak gambaran hyperdens sickle ( seperti
bulan sabit ) dekat tabula interna, terkadang sulit
dibedakan dengan epidural hematom. Batas medial
hematom seperti bergerigi. Adanya hematom di daerah
fissure interhemisfer dan tentorium juga menunjukan
adanya hematom subdural (Bernath, 2009).
2) SDH Kronis
Pada CT Scan terlihat adanya komplek perlekatan,
transudasi, kalsifikasi yang disebabkan oleh bermacam-
macam perubahan, oleh karenanya tidak ada pola tertentu.
Pada CT Scan akan tampak area hipodens, isodens, atau
sedikit hiperdens, berbentuk bikonveks, berbatas tegas
melekat pada tabula. Jadi pada prinsipnya, gambaran
hematom subdural akut adalah hiperdens, yang semakin
lama densitas ini semakin menurun, sehingga terjadi
isodens, bahkan akhirnya menjadi hipodens (Ghazali,
2007)
 Kontusi dan hematoma intraserebral.
Kontusi serebral murni bisanya jarang terjadi. Selanjutnya,
kontusi otak hampir selalu berkaitan dengan hematoma
subdural akut. Majoritas terbesar kontusi terjadi di lobus
frontal dan temporal, walau dapat terjadi pada setiap
tempat termasuk serebelum dan batang otak. Perbedaan
antara kontusi dan hematoma intraserebral traumatika
tidak jelas batasannya. Bagaimanapun, terdapat zona
peralihan, dan kontusi dapat secara lambat laun menjadi
hematoma intraserebral dalam beberapa hari.

VI. PENEGAKKAN DIAGNOSIS


a) Foto polos kepala
Indikasi foto polos kepala meliputi jejas lebih dari 5 cm, luka tembus
(tembak/tajam), adanya corpus alineum, deformitas kepala (dari
inspeksi dan palpasi), nyeri kepala yang menetap, gejala fokal
neurologis, gangguan kesadaran. Pada kecurigaan adanya fraktur
depresi maka dilakukan foto polos posisi AP/lateral dan oblique.
b) CT-Scan (dengan atau tanpa kontras)
Indikasi CT Scan adalah :
1. Nyeri kepala menetap atau muntah ± muntah yang tidak
menghilang setelah pemberian obat±obatan analgesia/anti
muntah.
2. Adanya kejang ± kejang, jenis kejang fokal lebih bermakna
terdapat lesi intrakranial dibandingkan dengan kejang general.
3. Penurunan GCS lebih 1 point dimana faktor ± faktor
ekstracranial telah disingkirkan (karena penurunan GCS dapat
terjadi karena misal terjadi shock, febris, dll).
4. Adanya lateralisasi.
5. Adanya fraktur impresi dengan lateralisasi yang tidak sesuai,
misal fraktur depresi temporal kanan tapi terdapat
hemiparese/plegi kanan.
6. Luka tembus akibat benda tajam dan peluru.
7. Perawatan selama 3 hari tidak ada perubahan yang membaik dari
GCS.
8. Bradikardia (Denyut nadi kurang 60 X / menit).mengidentifikasi
luasnya lesi, perdarahan, determinan ventrikuler, dan perubahan
jaringan otak.
Catatan : Untuk mengetahui adanya infark / iskemia jangan
dilakukan pada 24 - 72 jam setelah injuri.
c) MRI : digunakan sama seperti CT-Scan dengan atau tanpa kontras
radioaktif.
d) Cerebral Angiography: menunjukan anomali sirkulasi cerebral,
seperti  perubahan jaringan otak sekunder menjadi udema,
perdarahan dan trauma.
e) Serial EEG: Dapat melihat perkembangan gelombang yang patologis
f) X-Ray: Mendeteksi perubahan struktur tulang (fraktur), perubahan
struktur garis (perdarahan/edema), fragmen tulang.
g) BAER: Mengoreksi batas fungsi corteks dan otak kecil
h) PET: Mendeteksi perubahan aktivitas metabolisme otak
i) CSF, Lumbal Punksi : dapat dilakukan jika diduga terjadi perdarahan
subarachnoid.
j) ABGs: Mendeteksi keberadaan ventilasi atau masalah pernapasan
(oksigenisasi) jika terjadi peningkatan tekanan intracranial
k) Kadar Elektrolit : Untuk mengkoreksi keseimbangan elektrolit
sebagai akibat peningkatan tekanan intrkranial
l) Screen Toxicologi: Untuk mendeteksi pengaruh obat sehingga
menyebabkan penurunan kesadaran (Ariwibowo, 2008)
VII. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan awal penderita cedara kepala bertujuan untuk
memantau sedini mungkin dan mencegah cedera kepala sekunder serta
memperbaiki keadaan umum seoptimal mungkin sehingga dapat
membantu penyembuhan sel-sel otak yang sakit. Penatalaksanaan
cedera kepala tergantung pada tingkat keparahannya, berupa cedera
kepala ringan, sedang, atau berat (Ariwibowo, 2008).
Prinsip penanganan awal meliputi survei primer dan survei sekunder.
Dalam penatalaksanaan survei primer hal-hal yang diprioritaskan antara
lain airway, breathing, circulation, disability, dan exposure, yang
kemudian dilanjutkan dengan resusitasi. Pada penderita cedera kepala
khususnya dengan cedera kepala berat survei primer sangatlah penting
untuk mencegah cedera otak sekunder dan mencegah homeostasis otak
(Ariwibowo, 2008).
Tidak semua pasien cedera kepala perlu di rawat inap di rumah sakit.
Indikasi rawat antara lain:
a.Amnesia post traumatika jelas (lebih dari 1 jam)
b.Riwayat kehilangan kesadaran (lebih dari 15 menit)
c.Penurunan tingkat kesadaran
d.Nyeri kepala sedang hingga berat
e.Intoksikasi alkohol atau obat
f.Fraktura tengkorak
g.Kebocoran CSS, otorrhea atau rhinorrhea
h.Cedera penyerta yang jelas
i.Tidak punya orang serumah yang dapat dipertanggung jawabkan
j. CT scan abnormal (Ghazali, 2007)

Terapi medika mentosa pada penderita cedera kepala dilakukan


untuk memberikan suasana yang optimal untuk kesembuhan. Hal-hal
yang dilakukan dalam terapi ini dapat berupa pemberian cairan
intravena, hiperventilasi, pemberian manitol, steroid, furosemid,
barbitirat dan antikonvulsan. Pada penanganan beberapa kasus cedera
kepala memerlukan tindakan operatif. Indikasi untuk tindakan operatif
ditentukan oleh kondisi klinis pasien, temuan neuro radiologi dan
patofisiologi dari lesi. Secara umum digunakan panduan sebagai
berikut:
 volume masa hematom mencapai lebih dari 40 ml di daerah
supratentorial atau lebih dari 20 cc di daerah infratentorial
 kondisi pasien yang semula sadar semakin memburuk secara klinis
 tanda fokal neurologis semakin berat
 terjadi gejala sakit kepala, mual, dan muntah yang semakin hebat
 pendorongan garis tengah sampai lebih dari 3 mm
 terjadi kenaikan tekanan intrakranial lebih dari 25 mmHg.
 terjadi penambahan ukuran hematom pada pemeriksaan ulang CT
scan
 terjadi gejala herniasi otak
 terjadi kompresi / obliterasi sisterna basalis (Bernath, 2009)

VIII. PROGNOSIS
Apabila penanganan pasien yang mengalami cedera kepala sudah
mendapat terapi yang agresif, terutama pada anak-anak biasanya
memiliki daya pemulihan yang baik. Penderita yang berusia lanjut
biasanya mempunyai kemungkinan yang lebih rendah untuk pemulihan
dari cedera kepala.
BAB III
PEMBAHASAN

Seorang pasien berusia 56 tahun datang ke IGD RS Emanuel pada tanggal 8 April
2019 pukul 09.45 dengan keluhan pusing dan muntah setelah mengalami
kecelakaan bermotor. Keterangan dari anamnesis dan aloanamnesis menyebutkan
bahwa pasien sempat tidak sadarkan diri setelah kejadian dan muntah sebanyak satu
kali. Kepala pasien sempat terbentur dalam keadaan tidak mengenakan helm. Saat
tiba di IGD, pasien sudah sadar kembali. Pasien memiliki riwayat sakit asma yang
terkontrol dan sudah lama tidak kambuh. Tidak terdapat adanya obat-obatan yang
dikonsumsi rutin oleh pasien. Pada pemeriksaan didapatkan kesadaran compos
mentis dengan keadaan umum pasien sedang, tanda vital: tekanan darah 112/75
mmHg, nadi 88x/menit, nafas 18x/menit dan suhu 37, head to toe: hematoma regio
parietooccipitalis sinistra. Hasil EKG menunjukkan sinus rythm. Hasil CT Scan
menunjukkan adanya edema cerebri dengan SDH pada fossa posterior, SAH pada
regio temporalis sinistra dan soft tissue swelling pada extracranial regio
temporoparietalis dextra, tanpa disertai fraktur. Sedangkan hasil laboratorium
menunjukkan adanya lekositosis (12.77 rb/mmk) dan peningkatan GDS (135.7).
Pasien diputuskan dokter anestesi dan tim untuk dirawat di ICU. Berdasarkan
prioritas, pasien masuk kategori Prioritas II, yaitu golongan pasien tidak dalam
keadaan kritis namun kondisi klinisnya membutuhkan pemantauan intensif, baik
secara invasif maupun noninvasif. Sedangkan berdasarkan sistem organ, pasien
masuk ICU karena mengalami ancaman kegagalan sistem saraf pusat yaitu
perdarahan subarakhnoid.
Selama di ICU pasien di monitoring kondisi hemodinamiknya yaitu tekanan darah,
respiration rate, nadi, suhu dan saturasi O2 serta pengaturan balance cairan. Pada
pasien ini diberikan agen osmotik yaitu manitol untuk mengurangi tekanan
intrakranial dan mengurangi adanya edema cerebri. Ditambahkan juga citiholin
untuk membantu proses perbaikan sel otak. Selain itu, pasien juga mendapat terapi
antiemetik berupa ondancentron dan metoclopramide HcL serta ranitidine sebagai
antiulcer. Karena pasien mengalami nyeri kepala, pasien mendapat injeksi ketorolac
di IGD dan analgesik berupa morfin dan fentanyl di ICU. Untuk mengurangi
kecemasan yang dialami pasien diberikan sedasi yaitu Sedacum.
BAB IV
KESIMPULAN

1. Cedera kepala adalah trauma pada kulit kepala, tengkorak dan otak yang
terjadi baik secara langsung atau tidak langsung pada kepala yang dapat
mengakibatkan terjadinya penurunan kesadaran hingga kematian.
2. Gejala cedera kepala bervariasi tergantung pada beratnya trauma yang
terjadi.
3. Berdasarkan kesadaran, cedera kepala dibagi tiga yaitu: berat (GCS ≤ 8),
sedang (GCS 9 – 13) dan ringan (GCS 14 – 15).
4. Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan adalah foto polos, CT scan,
MRI, dll.
5. Prinsip penangan cedera kepala dibagi dua yaitu primer dan sekunder.
Penanganan secara primer yang tepat dapat mempengaruhi prognosis.
Penanganan sekunder berguna untuk mencegah adanya cedera sekunder.
6. Terapi farmakologi yang dapat diberikan yaitu agen osmotik, analgetik, dan
antiemetik.
BAB V
DAFTAR PUSTAKA

American college of Surgeons, 1997. Advance Trauma Life Suport . United


States of America: First Impression
Ariwibowo, Haryo et all, 2008. Art of Therapy: Sub Ilmu Bedah.
Yogyakarta: Pustaka Cendekia Press of Yogyakarta.
Bernath David, 2009, Head Injury, www.e-medicine.com
Brunner dan Suddarth. 2001. Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8 Volume
2. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC
Ghazali, Malueka. 2007. Radiologi Diagnostik. Yogyakarta: Pustaka
Cendekia.
Grace, Pierce A. dan Neil R. Borley. At a Glance Ilmu Bedah . Alih Bahasa
dr. Vidia Umami. Editor Amalia S. Edisi 3. Jakarta: Erlangga, 2006.
Japardi, Iskandar. 2004. Penatalaksanaan Cedera Kepala secara Operatif .
SumatraUtara: USU Press.
Moppet, I.K. 2007, Traumatic Brain Injury: Assessment, Resuscitation, and
Early Management, Br J Anaesth, 99 (1): 18-31.
Roozenbeek, B., Maas, A.I.R. & Menon, D.K., 2013. Nature Reviews
Neurology. [Online] Available at:
http://www.nature.com/nrneurol/journal/v9/n4/full/nrneurol.2013.2
2.html [Accessed 17 April 2019].