Anda di halaman 1dari 29
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia putusan.mahkamahagung.go.id P U T U S A N Nomor

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

putusan.mahkamahagung.go.id

P U T U S A N

Nomor 40/Pdt.G/2017/PN Gto

DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA

Pengadilan Negeri Gorontalo yang memeriksa dan memutus perkara

perdata pada tingkat pertama, telah menjatuhkan putusan sebagai berikut dalam

perkara gugatan antara:

MOHAMMAD YUSRAN TANAIJO, karyawan swasta, beralamat di Jl. Thayeb M

Gobel RT/RW 004/002 Kel. Tapa Kec. Sipatana Kota Gorontalo,

dalam hal ini memberikan kuasa kepada WARSITO KASIM, SH.,

MH., RONGKI ALI, SH., MANSUR RAHIM dan RIO R.

RUCHBAN, SH., para advokat dari YAYASAN LEMBAGA

BANTUAN HUKUM INDONESIA GORONTALO, beralamat

kantor di Jalan Durian No. 28 Kecamatan Kota Tengah Kota

Gorontalo, berdasarkan surat kuasa khusus tanggal 9 Juli 2017,

selanjutnya disebut sebagai PENGGUGAT

Lawan

PT. BFI FINANCE CABANG GORONTALO, beralamat di Jalan HB Jassin

Kota Gorontalo. dalam hal ini dikuasakan kepada LUSITO

KRISYATI, SHELVIA, STEVEN, HIDAYAT GATOT

SUPRIYANTO, MOHAMAD AGUS SARWONO DWI PUTRA,

HASANUDDIN, MARSEL DANIEL ALEKSANDER dan ANDRE

YOGAN PALANDI, para karywana PT. BFI Finance,

berdasarkan surat kuasa khusus tanggal 01 Agustus 2017,

selanjutnya disebut sebagai TERGUGAT;

Pengadilan Negeri tersebut;

Setelah membaca berkas perkara;

Setelah mendengar kedua belah pihak yang berperkara;

TENTANG DUDUK PERKARA

Menimbang bahwa Penggugat dengan surat gugatan tanggal 20 Juli

2017 yang diterima dan didaftarkan di Kepaniteraan Pengadilan Negeri

Gorontalo pada tanggal 20 Juli 2017 dalam Register Nomor 40/PDT.G/2017/PN

Gto, telah mengajukan gugatan sebagai berikut:

1. Bahwa pada tanggal 17 Maret 2014 PENGGUGAT melakukan perjanjian

Pembiayaan Konsumen dengan TERGUGAT sesuai dengan Nomor

Kontrak: 4441400817, adapun syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan yang

disepakati sebagai berikut :

Halaman 1 dari 29 Putusan Perdata Gugatan Nomor 40/Pdt.G/2017/PN Gto

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

Telp : 021-384 3348 (ext.318)

Halaman 1

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia putusan.mahkamahagung.go.id TERGUGAT menyetujui untuk memberikan

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

putusan.mahkamahagung.go.id

TERGUGAT menyetujui untuk memberikan fasilitas Pembiayaan Konsumen

kepada PENGGUGAT dengan jaminan 1 (satu) unit kendaraan Roda Empat

(Mobil) dengan spesifikasi, Merk/Type : Toyota-All New Avanza-VVTI G1.3

MT, Nomor Rangka : MHKM1BA3JDJ018912, Nomor Mesin : MB64693

BPKB atas nama : Muhammad Yusran Tanaijo, Nomor Polisi : DM 1225

AH, Warna : Silver Metalik, Tahun Pembuatan/Perakitan :2013, milik

PENGGUGAT.

2. TERGUGAT setuju dan sepakat untuk memberikan pembiayaan kenderaan

terhadap PENGGUGAT dengan struktur pembiayaan kendaraan sebagai

berikut :

Kenderaan yang dibiayai

TOYOTA ALL NEW AVANZA VVTI

:

G1.3 MT

Harga kenderaan : Rp 198.400.000,-

Jumlah yang dibiayai

: Rp 165.041.500,-

Jangka waktu

: 48 bulan

Angsuran perbulan

: Rp 4.815.000,-

Tanggal mulai dan berakhirnya angsuran : 17/04/2014 sampai dengan

17/03/2018

3. Bahwa PENGGUGAT aktif menjalankan kewajiban membayar angsuran

setiap bulan terhitung sejak angsuran ke-1 sampai angsuran ke-34, namun

pada bulan mei 2017 PENGGUGAT belum dapat melaksanakan

kewajibannya untuk membayar angsuran selama 4 bulan tunggakan

(angsuran ke-35,36,37,38.) dikarenakan PENGGUGAT pada saat itu

mendapatkan musibah anaknya sakit sehingga membutuhkan biaya yang

besar untuk pengobatan.

4. Bahwa PENGGUGAT pada malam lebaran Idhul Fitri tanggal 24 Juni 2017

PENGGUGAT menelepon karyawan dari pihak TERGUGAT atas nama

Chandra Uno, untuk bisa datang ke butik PENGGUGAT yang berada di

depan Rumah Sakit Bunda kota Gorontalo untuk membicarakan masalah

tunggakan angsuran mobil PENGGUGAT, dan pada saat itu telah terjadi

KESEPAKATAN antara PENGGUGAT dan karyawan dari pihak

TERGUGAT yang bernama Chandra uno bahwa pembayaran angsuran

akan dilakukan paling lambat tanggal 17 juli 2017 dan TERGUGAT tidak

akan melakukan penarikan kenderaan milik PENGGUGAT;

5. Bahwa pada tanggal 05 Juli 2017 atau pada waktu siang hari pukul 15:00

WITA atau setidak-tidaknya pada suatu waktu-waktu tertentu dalam bulan

Juli Tahun 2017, PENGGUGAT dalam perjalanan kembali dari bandara

udara jalaludin gorontalo, datang 2 (Dua) orang mencegat PENGGUGAT di

Halaman 2 dari 29 Putusan Perdata Gugatan Nomor 40/Pdt.G/2017/PN Gto

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

Telp : 021-384 3348 (ext.318)

Halaman 2

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia putusan.mahkamahagung.go.id jalan, yang pada saat itu mengaku karyawan

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

putusan.mahkamahagung.go.id

jalan, yang pada saat itu mengaku karyawan dari TERGUGAT atas nama

Rahman dan Kasim, dengan tujuan untuk melakukan penarikan MOBIL

kepada PENGGUGAT tanpa menunjukkan IDENTITAS dan SURAT TUGAS

dari TERGUGAT;

6. Bahwa ketika PENGGUGAT dicegat di jalan oleh 2 (Dua) orang yang

mengaku karyawan dari pihak TERGUGAT yang bernama RAHMAN dan

KASIM, PENGGUGAT mengundang untuk berbicara dirumah keluarga

PENGGUGAT di isimu, dirumah keluarga PENGGUGAT terjadi

pembicaraan bahwa 2(Dua) orang tersebut yang pada intinya mau

melakukan PENARIKAN MOBIL milik PENGGUGAT. Akan tetapi

PENGGUGAT merasa bahwa sudah terjadi KESEPAKATAN dengan

karyawan dari pihak TERGUGAT yang bernama CHANDRA UNO bahwa

pembayaran mobil PENGGUGAT akan di lakukan paling lambat 17 juli 2017

dan untuk itu tidak akan di lakukan penarikan;

7. Bahwa kemudian dihari yang sama pada tanggal 05 juli 2017 PENGGUGAT

yang pada saat itu berada dirumah keluarga PENGGUGAT menyatakan

kepada kedua orang yang diutus oleh TERGUGAT, bahwa PENGGUGAT

berniat akan menyelesaikan seluruh tunggakan angsuran kredit yang ke- 35,

36, dan 37 dengan total keseluruhan Rp. 14.445.000,- (Empat Belas Juta

Empat Ratus Empat Puluh Lima Ribu Rupiah); Akan tetapi para pihak

TERGUGAT mengatakan bahwa angsuran yang akan dibayarkan oleh

PENGGUGAT tidak bisa 3 (Tiga) Bulan akan tetapi PENGGUGAT

diharuskan melunasi keseluruhan hutang kenderaan mobil kepada

TERGUGAT;

8. Bahwa pada hari itu ke dua orang tesebut tetap memaksa mobil

PENGGUGAT untuk di tarik oleh kedua orang tersebut yang mengaku

sebagai karyawan dari TERGUGAT akan tetapi PENGGUGAT tetap

mempertahankan. Dan PENGGUGAT mencoba meminta solusi kepada

kedua orang yang mengaku sebagai karyawan TERGUGAT untuk bisa

berkomunikasi dengan atasan dari dua orang yang mengaku karyawan

TERGUGAT, dan PENGGUGAT di kasih untuk berkomunikasi dengan

atasan dari kedua orang yang mengaku karyawan TERGUGAT yang

bernama bapak mus melalui telepon gengam dan dalam pembicaraan itu

PENGGUGAT diminta untuk datang ke kantor TERGUGAT dengan kedua

orang yang mengaku karyawan dari TERGUGAT untuk membicarakan

angsuran mobil PENGGUGAT.

Halaman 3 dari 29 Putusan Perdata Gugatan Nomor 40/Pdt.G/2017/PN Gto

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

Telp : 021-384 3348 (ext.318)

Halaman 3

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia putusan.mahkamahagung.go.id 9. Bahwa dalam perjalanan menuju kantor

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

putusan.mahkamahagung.go.id

9. Bahwa dalam perjalanan menuju kantor TERGUGAT, PENGGUGAT di

kawal oleh salah satu orang yang mengaku karyawan TERGUGAT yang

bernama bapak. Kasim, Dan setelah tiba di depan kantor TERGUGAT,

PENGGUGAT di pertemukan dengan pimpinan TERGUGAT yang bernama

bapak.Steven yang di dampingi oleh bapak.mus dan pada pertemuan itu

PENGGUGAT sudah TIDAK DIBERIKAN SOLUSI lagi malah

PENGGUGAT diminta langsung oleh TERGUGAT untuk menitipkan mobil

PENGGUGAT, walaupun PENGGUGAT meminta izin untuk mengantarkan

istri dan anak PENGGUGAT yang berada didalam mobil. akan tetapi pihak

TERGUGAT tidak mengizinkan lagi, dan istri dari PENGGUGAT

mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan, perlakuan yang tidak

menyenangkan tersebut dilakukan oleh salah satu yang mengaku sebagai

karyawan TERGUGAT yaitu rahman dengan cara MENERIAKI istri

PENGGUGAT dengan perkataan TURUN DARI MOBIL sementara anak-

anak dari PENGGUGAT yang berumur 5 tahun dan 2 tahun sedang tidur di

pangkuan istri PENGGUGAT kaget dari tidurnya dan langsung menangis

ketakutan, stelah PENGGUGAT melihat anak dan istrinya yang sudah

menangis ketakutan, maka PENGGUGAT meminta ijin untuk kedua kalinya

mengantarkan istri dan anak PENGGUGAT, akan tetapi TERGUGAT tidak

mengijinkan untuk mengantarkan istri PENGGUGAT, tetapi pada saat itu istri

dan anak-anak PENGGUGAT di antarkan oleh pihak TERGUGAT dan yang

mengantarkan sekaligus mengendarai mobil PENGGUGAT yaitu rahman

tanpa mengikut sertakan PENGGUGAT dalam mobil untuk menggantarkan

istri dan anak-anaknya kerumah;

10. Bahwa cara penarikan dan penguasaan yang dilakukan TERGUGAT dengan

bersikap kasar dan tidak manusiawi terhadap PENGGUGAT dan anak

istrinya, sehingga membuat anak istri PENGGUGAT mengalami trauma

yang sampai hari ini bisa kelihatan di raut muka anak dan istri

PENGGUGAT;

11. bahwa PENGGUGAT merasa telah ditipu oleh TERGUGAT dalam hal

penarikan mobil, sehingganya perbuatan TERGUGAT telah dilaporkan /

diadukan kepada kepolisian RI, khususnya dikantor Polres Gorontalo Kota;

12. Bahwa pada hari itu juga tanggal 05 Juli 2017 mobil PENGGUGAT telah

diminta untuk ditahan oleh TERGUGAT untuk di titipkan di kantor

TERGUGAT, dengan perjanjian PENGGUGAT diundang datang kekantor

TERGUGAT untuk melakukan pembayaran tunggakan angsuran mobil pada

besok harinya sekitar tanggal 06 Juli 2017;

Halaman 4 dari 29 Putusan Perdata Gugatan Nomor 40/Pdt.G/2017/PN Gto

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

Telp : 021-384 3348 (ext.318)

Halaman 4

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia putusan.mahkamahagung.go.id 13. Bahwa pada tanggal 06 Juli 2017

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

putusan.mahkamahagung.go.id

13. Bahwa pada tanggal 06 Juli 2017 PENGGUGAT telah datang dan berniat

untuk melakukan pembayaran tunggakan angsuran mobil milik

PENGGUGAT dan akan mengambil kembali mobil PENGGUGAT yang telah

ditahan / dititip oleh TERGUGAT dikantor TERGUGAT, tetapi PENGGUGAT

tidak mendapatkan pelayanan seperti yang telah dijanjikan oleh

TERGUGAT, melainkan PENGGUGAT langsung disuruh untuk melakukan

Pelunasan keseluruhan terhadap sisa hutang PENGGUGAT;

14. Bahwa TERGUGAT pada intinya tidak mau menerima pembayaran

tunggakan angsuran mobil milik PENGGUGAT dan TERGUGAT sudah tidak

mau mengembalikan lagi mobil milik PENGGUGAT yang telah ditahan dan

dititip oleh TERGUGAT;

15. Bahwa pada faktanya mobil milik PENGGUGAT tidak pernah dilakukan

penarikan oleh TERGUGAT, melainkan mobil tersebut, PENGGUGAT tau

hanya ditahan untuk dititip, dengan fakta dilapangan pada saat itu

PENGGUGAT tidak pernah dibuatkan berita acara serah terima kendaraan,

ataupun diperlihatkan surat-surat penarikan mobil dan surat jaminan fidusia;

16. Bahwa dalam syarat-syarat umum perjanjian Nomor : 4441400817 antara

PENGGUGAT dan TERGUGAT memuat klausul pada Nomor 14.2 point (a

dan b). Sedangkan pada saat pihak TERGUGAT melalui karyawannya yang

bernama CHANDRA UNO mengadakan kesepakatan dengan pihak

PENGGUGAT untuk pembayaran tunggakan angsuran mobil milik

PENGGUGAT paling lambat tanggal 17 Juli 2017;

17. Bahwa berdasarkan Pasal 4 huruf (g) Undang-Undang No. 8 Tahun 1999

tentang Perlindungan Konsumen, PENGGUGAT memiliki “hak untuk

diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak

diskriminatif” oleh TERGUGAT sebagai pelaku usaha.

18. Bahwa selanjutnya ketentuan perjanjian yang dimaksud dalam hal

Penyerahan hak Milik Secara Fidusia pada nomor 10 point (e.i) menyatakan

bahwa “Apabila TERGGUGAT tidak melunasi sebagian atau seluruh

hutangnya atau tidak memenuhi kewajibannya menurut perjanjian ini

berhak, tanpa melalui penetapan atau putusan pengadilan terlebih dahulu

TERGGUGAT berhak dan dengan ini diberi kuasa dengan hak substitusi

oleh PENGGUGAT untuk mengambil dimanapun, kapanpun, dan ditempat

siapapun kendaraan tersebut berada”. Sedangkan PENGGUGAT sejak dari

perjanjanjian awal telah melaksanakan kewajibannya pada angsuran ke-1

sampai ke-34 dengan sebaiknya, artinya PENGGUGAT lebih dari setengah

Halaman 5 dari 29 Putusan Perdata Gugatan Nomor 40/Pdt.G/2017/PN Gto

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

Telp : 021-384 3348 (ext.318)

Halaman 5

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia putusan.mahkamahagung.go.id jalan dalam menyelesaikan sisa dari 48

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

putusan.mahkamahagung.go.id

jalan dalam menyelesaikan sisa dari 48 kali angsuran yang telah disepakati

bersama;

19. Bahwa akibat dari perbuatan TERGUGAT tersebut mengingat PENGGUGAT

sebagai pengusaha pakaian, maka penarikan dan penguasaan kendaraan

secara sepihak yang dilakukan oleh TERGUGAT secara sewenang-wenang

dan melawan hukum yang dilakukan bertepatan dengan berlangsungnya

kegiatan usaha PENGGUGAT. Maka perbuatan tersebut sangat merugikan

kegiatan usaha PENGGUGAT dengan menghilangkan berbagai kesempatan

usaha PENGGUGAT;

20. Bahwa mobil tersebut digunakan oleh PENGGUGAT dan keluarganya untuk

keperluannya sehari-hari dan juga mobil tersebut digunakan untuk

kelancaran usaha milik PENGGUGAT, sehingga setelah mobil tersebut

ditarik oleh TERGUGAT, keluarga PENGGUGAT dalah kesehariannya

hanya menggunakan transportasi umum untuk melakukan aktifitas dengan

nilai kerugian sejumlah Rp 10.000.000,- (sepuluh juta rupiah), dan begitu

juga dalam hal usaha PENGGUGAT hanya melakukan sewa kenderaan

milik orang lain untuk melaksanakan aktifitas usahanya dengan kerugian

sejumlah Rp 25.000.000,- (dua puluh lima juta rupiah) dengan jumlah total

kerugian sebesar Rp 35.000.000,- ( tiga puluh lima juta rupiah);

21. Bahwa berdasarkan Pasal 1365 KUHPerdata menyatakan bahwa “Tiap

perbuatan yang melanggar hukum dan membawa kerugian kepada

orang lain, mewajibkan orang yang menimbulkan kerugian itu karena

kesalahannya untuk mengganti kerugian tersebut

22. Bahwa PENGGUGAT mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri Gorontalo

melalui mekanisme pertanggung jawaban perdata menurut Pasal 17

Undang-Undang No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia yang

berbunyi menentukan bahwa “setiap orang tanpa diskriminasi, berhak untuk

memperoleh keadilan dengan mengajukan permohonan, pengaduan, dan

gugatan baik dalam perkara Pidana, Perdata, maupun administrasi serta

diadili melalui proses peradilan yang bebas dan tidak memihak,sesuai

dengan hukum acara yang menjamin pemeriksaan yang objektif oleh hakim

yang jujur dan adil untuk memperoleh putusan yang adil dan benar

23. Bahwa sengaja PENGGUGAT tidak menarik pihak-pihak lain dalam gugatan

ini, dikarenakan PENGGUGAT merasa bahwa segala perbuatan yang telah

dilakukan oleh karyawan TERGUGAT adalah menjadi satu bagian yang tidak

bisa dipisahkan yang pada intinya segala perbuatan bawahan adalah

menjadi tanggung jawab atasannya;

Halaman 6 dari 29 Putusan Perdata Gugatan Nomor 40/Pdt.G/2017/PN Gto

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

Telp : 021-384 3348 (ext.318)

Halaman 6

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia putusan.mahkamahagung.go.id 24. Bahwa mobil tersebut sangat

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

putusan.mahkamahagung.go.id

24. Bahwa mobil tersebut sangat dibutuhkan oleh PENGGUGAT untuk

dipergunakan keperluan keluarga dan khususnya untuk keperluan usaha

PENGGUGAT;

25. Bahwa berdasarkan keterangan gugatan PENGGUGAT diatas terbukti

bahwa TERGUGAT secara sengaja dan dengan cara tipu daya telah

melakukan perbuatan melawan hukum dan patut dihukum dengan

mengembalikan kendaraan yang dikuasai secara sepihak dan sewenang-

wenang terhadap PENGGUGAT. Walaupun ada upaya hukum selanjutnya;

Berdasarkan alasan-alasan tersebut maka PENGGUGAT mohon kepada Ketua

Pengadilan Negeri Gorontalo atau majelis hakim yang memeriksa dan mengadili

perkara aquo agar memberikan putusan sebagai berikut :

1. Mengabulkan gugatan PENGGUGAT secara keseluruhan;

2. Menyatakan penarikan dan penguasaan yang dilakukan TERGUGAT tidak

sah, dan perbuatan melawan hukum

3. Menghukum TERGUGAT untuk melakukan pengembalian terhadap 1 (satu)

unit kenderaan Roda empat Merk/Type : Toyota Avanza VVTI G1.3 MT, No

Rangka :MHKM1BA3JDJ018912, No mesin : MB64693, BPKP atas nama :

Mohammad Yusran Tanaijo, No polisi : DM 1225 AH, warna : Silver Metalik,

milik PENGGUGAT walaupun ada upaya hukum selanjutnya;

4. Menghukum TERGUGAT untuk melakukan penggantian terhadap kerugian

materiil atas usaha PENGGUGAT yang diakibatkan dari perbuatan melawan

hukum sebesar Rp. 35.000.000 (Tiga puluh lima juta rupiah);

5. Menghukum TERGUGAT untuk membayar segala biaya yang timbul dalam

perkara ini.

Apabila majelis hakim berpendapat lain dalam perkara ini, mohon putusan yang

seadil-adilnya

Menimbang bahwa pada hari persidangan yang telah ditentukan, untuk

Penggugat hadir kuasanya;

Menimbang bahwa Tergugat menghadap Kuasanya tersebut;

Menimbang bahwa Majelis Hakim telah mengupayakan perdamaian

diantara para pihak melalui mediasi sebagaimana diatur dalam Perma Nomor 1

Tahun 2016 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan dengan menunjuk

ERWINSON NABABAN, SH., Hakim pada Pengadilan Negeri Gorontalo sebagai

Mediator;

Halaman 7 dari 29 Putusan Perdata Gugatan Nomor 40/Pdt.G/2017/PN Gto

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

Telp : 021-384 3348 (ext.318)

Halaman 7

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia putusan.mahkamahagung.go.id Menimbang bahwa berdasarkan laporan

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

putusan.mahkamahagung.go.id

Menimbang bahwa berdasarkan laporan Mediator tanggal 22 Agustus

2017 menyatakan upaya perdamaian tersebut tidak berhasil;

Menimbang bahwa oleh karena itu pemeriksaan perkara dilanjutkan

dengan pembacaan surat gugatan yang isinya tetap dipertahankan oleh

Penggugat;

Menimbang bahwa terhadap gugatan Penggugat tersebut Tergugat

memberikan jawaban pada pokoknya sebagai berikut:

Bahwa TERGUGAT dengan tegas menolak seluruh dalil-dalil yang dikemukakan

oleh PENGGUGAT di dalam Gugatannya, kecuali apa yang dinyatakan benar

oleh TERGUGAT, dengan alasan-alasan sebagai berikut:

I.

DALAM EKSEPSI:

A.

PENGGUGAT DAN TERGUGAT TELAH SEPAKAT MEMILIH DOMISILI

HUKUM DI PENGADILAN NEGERI TANGERANG

1.

Bahwa TERGUGAT telah memberikan fasilitas pembiayaan kepada

PENGGUGAT berdasarkan PERJANJIAN PEMBIAYAAN KONSUMEN

nomor 4441400817 tanggal 17 Maret 2014 (selanjutnya disebut

PERJANJIAN”).

2.

Bahwa diantara TERGUGAT dan PENGGUGAT telah terjadi kesepakatan

di dalam pasal 20.11 PERJANJIAN mengenai pemilihan domisili hukum

untuk penyelesaian sengketa yang timbul sehubungan dengan pelaksanaan

PERJANJIAN yaitu di Pengadilan Negeri Tangerang.

3.

Bahwa menunjuk pasal 118 ayat 4 Herziene Indonesisch Reglement (HIR)

atau 142 Rechtsreglement voor de Buitengewesten (RBG), apabila

dalam PERJANJIAN telah dipilih dan ditentukan suatu tempat kedudukan,

maka gugatan diajukan kepada Ketua Pengadilan Negeri dalam daerah

hukum tempat kedudukan yang dipilih itu.

4.

Bahwa mengingat sesuai ketentuan dalam pasal 20.11 PERJANJIAN juncto

pasal 118 ayat 4 HIR atau 142 RBG, kewenangan untuk mengadili perkara

ini berada pada Pengadilan Negeri Tangerang, serta menimbang inti

permasalahan dalam perkara aquo adalah bermuara pada pelaksanaan isi

PERJANJIAN dan PENGGUGAT juga telah secara tegas mengakui telah

mengadakan PERJANJIAN dengan TERGUGAT (vide angka 1 Gugatan

PENGGUGAT), maka sudah seharusnya Gugatan oleh PENGGUGAT

terhadap TERGUGAT diajukan melalui Pengadilan Negeri Tangerang

sesuai kesepakatan dalam PERJANJIAN, namun pada kenyataannya

PENGGUGAT justru telah mendaftarkan gugatannya di Pengadilan Negeri

Gorontalo, oleh sebab itu TERGUGAT mohon kebijaksanaan dari Majelis

Hakim Pengadilan Negeri Gorontalo untuk menerima eksepsi TERGUGAT

Halaman 8 dari 29 Putusan Perdata Gugatan Nomor 40/Pdt.G/2017/PN Gto

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

Telp : 021-384 3348 (ext.318)

Halaman 8

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia putusan.mahkamahagung.go.id dan memutuskan agar Gugatan PENGGUGAT

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

putusan.mahkamahagung.go.id

dan memutuskan agar Gugatan PENGGUGAT tersebut tidak dapat

diterima (Niet Onvantkelijke Verklaard).

B.

GUGATAN PENGGUGAT TERLALU PREMATURE UNTUK DIAJUKAN

5.

Bahwa setelah membaca dan mencermati Gugatan yang diajukan

PENGGUGAT, maka TERGUGAT berpendapat bahwa Gugatan

PENGGUGAT

ini

terlalu

prematur

untuk

diajukan,

dengan

alasan

sebagai berikut:

 

6.

Bahwa alasan hukum PENGGUGAT mengajukan tuntutan terhadap

TERGUGAT dikarenakan TERGUGAT dinilai oleh PENGGUGAT telah

melakukan perbuatan melawan hukum karena telah melakukan

penguasaan atas 1 (satu) unit TOYOTA-ALL NEW AVANZA-VVTI G 1.3

MT, nomor rangka MHKM1BA3JDJ018912, nomor mesin MB64693, warna

SILVER METALIC, tahun 2013, nomor polisi DM1225AH (selanjutnya

disebut “KENDARAAN”).

 

7.

Bahwa sehubungan dengan penguasaan KENDARAAN di atas oleh

TERGUGAT, maka PENGGUGAT telah melaporkannya kepada Polres

Gorontalo Kota (vide butir 11 Gugatan PENGGUGAT) dan faktanya

terhadap proses pemeriksaan perkara pidana tersebut saat ini masih

dalam tahap penyelidikan oleh Polres Gorontalo Kota.

 

8.

Bahwa berdasarkan fakta-fakta di atas, maka Gugatan PENGGUGAT

masih terlalu prematur untuk diajukan, mengingat sampai dengan saat ini

belum

ada

satupun

putusan

pidana

yang

menyatakan

bahwa

TERGUGAT

telah

terbukti

melanggar

hukum

sehubungan

dengan

penguasaan KENDARAAN di atas, dengan demikian unsur melawan

sebagaimana dimaksud dalam pasal 1365 KITAB UNDANG-UNDANG

HUKUM PERDATA (selanjutnya disebut ”KUHPerdata”) tersebut di bawah

ini menjadi tidak terpenuhi:

 

Tiap perbuatan yang melanggar hukum dan membawa kerugian

bagi orang lain, mewajibkan orang yang menimbulkan kerugian itu

karena kesalahannya untuk menggantikan kerugian tersebut.”

 

9.

Bahwa berdasarkan alasan dan dasar hukum tersebut di atas, maka mohon

kiranya agar Majelis Hakim Pengadilan Negeri Gorontalo yang terhormat

dapat menerima eksepsi yang diajukan oleh TERGUGAT dan kemudian

menyatakan untuk menolak atau setidak-tidaknya menyatakan bahwa

Gugatan yang diajukan oleh PENGGUGAT tidak dapat diterima (niet

ontvankelijk)

 

II.

DALAM POKOK PERKARA:

 

Halaman 9 dari 29 Putusan Perdata Gugatan Nomor 40/Pdt.G/2017/PN Gto

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

Telp : 021-384 3348 (ext.318)

Halaman 9

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia putusan.mahkamahagung.go.id - Bahwa dalil-dalil yang telah

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

putusan.mahkamahagung.go.id

-

Bahwa dalil-dalil yang telah dikemukakan TERGUGAT pada bagian Pokok

Perkara ini menjadi satu kesatuan dan bagian yang tidak terpisahkan dari

bagian Eksepsi di atas.

 

C.

PENGGUGAT DAN TERGUGAT TELAH MENGADAKAN

KESEPAKATAN

MENGENAI

PEMBERIAN

FASILITAS

PEMBIAYAAN

OLEH TERGUGAT KEPADA PENGGUGAT

 

10.

Bahwa sesuai bukti PERJANJIAN di atas, TERGUGAT telah memberikan

fasilitas pembiayaan dalam jumlah sebesar Rp. 165.041.500,- kepada

PENGGUGAT untuk pembelian KENDARAAN dari PT. HASJRAT ABADI

selaku penjual.

11.

Bahwa selaku penerima fasilitas pembiayaan dari TERGUGAT, maka

PENGGUGAT wajib untuk mengembalikan fasilitas pembiayaan tersebut

berikut bunganya dengan cara mengangsur secara tepat waktu kepada

TERGUGAT sebanyak 48 kali yang wajib dibayar pada tanggal 17 setiap

bulannya mulai dari bulan April 2014 sampai dengan bulan Maret 2018

dengan besar angsuran per bulan sebesar Rp. 4.815.000,-.

 

12.

Bahwa apabila PENGGUGAT terlambat dalam membayar kewajiban

kepada TERGUGAT, maka sesuai kesepakatan dalam pasal 2 ayat 2.4

butir c PERJANJIAN juncto angka 11 huruf e Lampiran PERJANJIAN,

PENGGUGAT wajib membayar kepada TERGUGAT berupa denda sebesar

5 ‰ (lima per mil) per hari dari jumlah kewajiban PENGGUGAT yang

tertunggak.

D.

PENGGUGAT TELAH MENJAMINKAN KENDARAAN SEBAGAI

JAMINAN ATAS PELUNASAN HUTANG PENGGUGAT BERDASARKAN

PERJANJIAN KEPADA TERGUGAT

 

13.

Bahwa guna menjamin pembayaran hutang PENGGUGAT kepada

TERGUGAT tersebut diatas, maka PENGGUGAT telah menyerahkan

jaminan kepada TERGUGAT berupa KENDARAAN secara Fidusia sesuai

bukti Sertifikat Jaminan Fidusia nomor W26.00009321.AH.05.01 Tahun

2014 yang dikeluarkan oleh Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia

Kantor Wilayah Gorontalo.

 

14.

Bahwa dengan dijaminkannya KENDARAAN tersebut secara fidusia

(fiduciare Eigendoms Overdraft) oleh PENGGUGAT kepada TERGUGAT,

maka hak kepemilikan atas KENDARAAN tersebut menjadi beralih kepada

TERGUGAT, sedangkan fisik KENDARAAN diserahkan secara

kepercayaan oleh TERGUGAT untuk dipergunakan oleh PENGGUGAT, dan

dalam hal ini kedudukan PENGGUGAT hanya bertindak sebagai peminjam

pakai saja (bruiklenner) atas KENDARAAN tersebut sesuai ketentuan pasal

Halaman 10 dari 29 Putusan Perdata Gugatan Nomor 40/Pdt.G/2017/PN Gto

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

Telp : 021-384 3348 (ext.318)

Halaman 10

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia putusan.mahkamahagung.go.id 1 ayat 1 UNDANG-UNDANG nomor 42 tahun

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

putusan.mahkamahagung.go.id

1 ayat 1 UNDANG-UNDANG nomor 42 tahun 1999 tentang JAMINAN

FIDUSIA (selanjutnya disebut ”UUJF”).

E. PENGGUGAT TELAH CIDERA JANJI (WANPRESTASI) ATAS

PERJANJIAN

15. Bahwa merujuk pada ketentuan pasal 1338 Kitab Undang-Undang Hukum

Perdata yang berbunyi sebagai berikut:

Semua persetujuan yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-

persetujuan-

undang bagi mereka yang membuatnya

persetujuan harus dilakukan dengan itikad baik.”

16. Bahwa berdasarkan ketentuan di atas, maka sudah sepatutnya

PENGGUGAT melaksanakan seluruh kewajibannya dalam PERJANJIAN

dengan penuh itikad baik, namun faktanya PENGGUGAT selalu terlambat

seringkali

dilakukan penagihan dan teguran oleh TERGUGAT kepada PENGGUGAT

membayar

angsuran kepada

TERGUGAT,

meskipun

telah

sesuai bukti sebagai berikut:

a. Surat Pemberitahuan nomor 201610444SP110832

b. Surat Peringatan nomor 201611444SP206986

c. Surat Penegasan nomor 201611444SP304764

17. Bahwa selama ini TERGUGAT sangat kesulitan menagih PENGGUGAT,

meskipun telah berulang kali diberikan waktu, toleransi, kesempatan dan

teguran agar PENGGUGAT segera melaksanakan kewajibannya tersebut,

akan tetapi PENGGUGAT hanya menghindar dan memberikan janji-janji

pembayaran saja tanpa ada realisasinya, sehingga TERGUGAT tidak

memperoleh kepastian pembayaran dari PENGGUGAT untuk bulan-bulan

berikutnya.

18. Bahwa menimbang PENGGUGAT selalu menunggak pembayaran

angsuran kepada TERGUGAT, maka menunjuk pasal 14.1 PERJANJIAN

tersebut di bawah ini, menjadi bukti yang sah bagi TERGUGAT untuk

menyatakan bahwa PENGGUGAT telah melakukan cidera janji

(wanprestasi) terhadap PERJANJIAN:

Peristiwa-peristiwa dibawah ini merupakan peristiwa kelalaian atau

cidera janji terhadap Perjanjian ini oleh Konsumen (in casu

PENGGUGAT):

14.1 Bilamana suatu angsuran atau lain-lain jumlah yang terhutang

berdasarkan Perjanjian ini tidak dibayar lunas pada waktu dan

dengan cara sebagaimana ditentukan dalam Perjanjian ini,

dalam hal ini, lewatnya waktu saja telah menjadi bukti yang sah

dan cukup bahwa debitur telah melalaikan kewajibannya.”

Halaman 11 dari 29 Putusan Perdata Gugatan Nomor 40/Pdt.G/2017/PN Gto

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

Telp : 021-384 3348 (ext.318)

Halaman 11

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia putusan.mahkamahagung.go.id 19. Bahwa terhadap dalil TERGUGAT yang

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

putusan.mahkamahagung.go.id

19.

Bahwa terhadap dalil TERGUGAT yang menyatakan bahwa PENGGUGAT

telah melakukan tindakan cidera janji (wanprestasi) terhadap PERJANJIAN

karena menunggak pembayaran sesungguhnya tidak perlu lagi diperiksa

kebenarannya, menimbang hal itu telah diakui secara tegas oleh

PENGGUGAT dalam Posita butir 3 Gugatannya sebagai berikut:

 

pada

bulan Mei 2017 PENGGUGAT belum dapat melaksanakan

kewajibannya untuk membayar angsuran selama 4 bulan

tunggakan

 

20.

Bahwa merujuk pada ketentuan pasal 1925 KUHPerdata disebutkan:

 

Pengakuan yang diberikan di hadapan Hakim, merupakan suatu bukti

yang sempurna terhadap orang yang telah memberikannya, baik

sendiri maupun dengan perantaran seseorang yang diberi kuasa

khusus untuk itu.”

 

maka dengan adanya pengakuan tersebut sudah cukup membuktikan

bahwa PENGGUGAT telah cidera janji (wanprestasi) terhadap

PERJANJIAN. Oleh karena itu pada kesempatan ini TERGUGAT mohon

kepada Majelis Hakim Pengadilan Negeri Gorontalo yang memeriksa

Perkara ini untuk menolak Gugatan PENGGUGAT untuk seluruhnya.

 

F.

TERGUGAT BERHAK MEMPEROLEH KEMBALI KENDARAAN AKIBAT

CIDERA

JANJI

(WANPRESTASI)

YANG

DILAKUKAN

OLEH

PENGGUGAT

 

21.

Bahwa TERGUGAT menolak dengan tegas dalil PENGGUGAT pada butir

4 s/d 6 Gugatannya yang pada intinya menyatakan TERGUGAT ada

mengadakan kesepakatan dengan PENGGUGAT mengenai pembayaran

kewajiban PENGGUGAT pada tanggal 17 Juli 2017, dengan alasan sebagai

berikut:

22.

Bahwa mengingat PENGGUGAT telah melakukan perbuatan cidera janji

(wanprestasi) terhadap PERJANJIAN, maka menunjuk pada ketentuan

dalam pasal 14.2 PERJANJIAN yang berbunyi sebagai berikut:

Apabila terjadi salah satu saja dari peristiwa-peristiwa cidera janji

sebagaimana tersebut dalam ayat 1 di atas, maka menyimpang dari

ketentuan tentang Jangka Waktu Fasilitas sebagaimana tercantum

dalam Struktur F Perjanjian, atau yang tercantum dalam jadwal lain

yang dibuat secara khusus atau tersendiri, maka Para Pihak dengan

ini menyatakan melepaskan ketentuan-ketentuan dalam pasal 1266

KUHPerdata, Perseroan (in casu TERGUGAT) adalah berhak

untuk mengakhiri Perjanjian ini, dan:

a. Seketika dan sekaligus menagih seluruh jumlah hutang Konsumen

Halaman 12 dari 29 Putusan Perdata Gugatan Nomor 40/Pdt.G/2017/PN Gto

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

Telp : 021-384 3348 (ext.318)

Halaman 12

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia putusan.mahkamahagung.go.id (in casu PENGGUGAT) kepada Perseroan yang

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

putusan.mahkamahagung.go.id

(in casu PENGGUGAT) kepada Perseroan yang timbul

berdasarkan Perjanjian ini, baik yang sudah jatuh tempo maupun

yang belum, demikian itu berikut denda serta semua biaya

termasuk biaya penagihan dan biaya pengacara dan Konsumen

wajib untuk melunasi semua tagihan kepada Perseroan.”

23. Bahwa berdasarkan ketentuan tersebut di atas, maka TERGUGAT berhak

untuk mengakhiri PERJANJIAN dan menyatakan seluruh kewajiban

PENGGUGAT berdasarkan PERJANJIAN menjadi jatuh tempo secara

seketika dan sekaligus sebagai akibat perbuatan cidera janji yang dilakukan

oleh PENGGUGAT, dengan demikian dalil PENGGUGAT yang menyatakan

telah tercapai kesepakatan pembayaran pada tanggal 17 Juli 2017

sesungguhnya sangat bertentangan dengan ketentuan dalam pasal 14

PERJANJIAN itu sendiri, disamping memang kesepakatan sebagaimana

dimaksud PENGGUGAT di atas memang tidak pernah ada dan tidak dapat

dibuktikan kebenarannya.

24. Bahwa meskipun PENGGUGAT mendalilkan telah melakukan pembayaran

angsuran kepada TERGUGAT sebanyak 35 kali, namun hal tersebut

sesungguhnya tidak menghilangkan fakta bahwa PENGGUGAT telah

melakukan perbuatan cidera janji (wanprestasi) terhadap PERJANJIAN

dengan menunggak pembayaran selama ± 120 hari keterlambatan

kepada TERGUGAT.

25. Bahwa TERGUGAT menolak dengan tegas dalil PENGGUGAT pada butir

7 s/d 18 Gugatannya yang pada intinya menyatakan bahwa tindakan

TERGUGAT dalam menguasai kembali KENDARAAN dan meminta

pelunasan seluruh kewajiban berdasarkan PERJANJIAN adalah perbuatan

yang melawan hukum, dengan alasan sebagai berikut:

26. Bahwa mengingat PENGGUGAT telah melakukan perbuatan cidera janji

(wanprestasi) terhadap PERJANJIAN, maka merujuk pada ketentuan pasal

14.2 PERJANJIAN juncto pasal 30 UUJF yang berbunyi sebagai berikut:

Pemberi Fidusia wajib menyerahkan Benda yang menjadi objek

Jaminan Fidusia dalam rangka pelaksanaan eksekusi Jaminan

Fidusia.

Dan penjelasan pasal 30 UUJF yang berbunyi sebagai berikut:

Dalam hal Pemberi Fidusia tidak menyerahkan Benda yang menjadi

obyek Jaminan Fidusia pada waktu eksekusi dilaksanakan, Penerima

Fidusia berhak mengambil Benda yang menjadi obyek Jaminan

Fidusia dan apabila perlu dapat meminta bantuan pihak yang

berwenang.”

Halaman 13 dari 29 Putusan Perdata Gugatan Nomor 40/Pdt.G/2017/PN Gto

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

Telp : 021-384 3348 (ext.318)

Halaman 13

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia putusan.mahkamahagung.go.id Maka TERGUGAT berhak untuk mengakhiri

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

putusan.mahkamahagung.go.id

Maka TERGUGAT berhak untuk mengakhiri PERJANJIAN dan kemudian

menyatakan seluruh kewajiban PENGGUGAT menjadi jatuh tempo

secara seketika dan wajib dibayar sekaligus kepada TERGUGAT,

dalam hal ini TERGUGAT berhak melakukan penguasan kembali atas

KENDARAAN

kewajiban

guna

dijadikan

sebagai

alat

pembayaran

PENGGUGAT berdasarkan PERJANJIAN, sebagaimana KENDARAAN

telah dikuasai oleh TERGUGAT pada tanggal 6 Juli 2017.

27. Bahwa sesungguhnya perihal kesepakatan dalam pasal 14 PERJANJIAN

sebagaimana di atas telah diketahui dan dipahami secara jelas oleh

PENGGUGAT sebagaimana butir 16 Gugatannya, sehingga sangat tidak

tepat apabila saat ini PENGGUGAT menolak untuk melunasi seluruh

kewajiban berdasarkan PERJANJIAN, terlebih kondisinya PENGGUGAT

juga sudah mengakui dengan tegas dalam Gugatannya telah melakukan

perbuatan cidera janji (wanprestasi) terhadap PERJANJIAN dengan

menunggak pembayaran kepada TERGUGAT.

28. Bahwa terkait dengan dalil PENGGUGAT yang menyatakan ada perbuatan

kasar yang dilakukan oleh TERGUGAT pada saat melakukan penguasaan

kembali atas KENDARAAN sesungguhnya tidak benar dan semata-mata

hanya pengakuan sepihak dari PENGGUGAT saja tanpa didasari putusan

pidana yang menyatakan TERGUGAT telah terbukti melakukan perbuatan

kasar.

29. Bahwa setelah KENDARAAN berada dalam penguasaan TERGUGAT,

maka sesuai bukti Surat Konfirmasi Pelunasan dan Penjualan Barang

tanggal 06 Juli 2017, TERGUGAT kembali memberikan kesempatan

kepada PENGGUGAT untuk melunasi kewajibannya berdasarkan

PERJANJIAN atau mencari calon pembeli yang mau membeli

KENDARAAN tersebut.

G. PENGGUGAT TIDAK BERDASAR MENUNTUT GANTI KERUGIAN,

OLEH

PENGEMBALIAN

KENDARAAN

KEPADA

TERGUGAT,

KARENANYA

TUNTUTAN

PENGGUGAT

TERSEBUT

HARUSLAH

DITOLAK

30. Bahwa TERGUGAT menolak dengan tegas dalil PENGGUGAT pada butir

19 s/d 25 Gugatannya yang pada intinya meminta pengembalian

KENDARAAN dan meminta TERGUGAT di hukum membayar kerugian

PENGGUGAT, dengan alasan sebagai berikut:

31. Bahwa sesuai dengan uraian di atas, maka tindakan pemilikan kembali atas

KENDARAAN oleh TERGUGAT bukan merupakan perbuatan melawan

hukum, akan tetapi perbuatan yang didasarkan pada hak TERGUGAT

berdasarkan kesepakatan dalam PERJANJIAN, yang dilakukan sebagai

Halaman 14 dari 29 Putusan Perdata Gugatan Nomor 40/Pdt.G/2017/PN Gto

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

Telp : 021-384 3348 (ext.318)

Halaman 14

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia putusan.mahkamahagung.go.id konsekuensi dari adanya peristiwa cidera

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

putusan.mahkamahagung.go.id

konsekuensi dari adanya peristiwa cidera janji (wanprestasi) yang dilakukan

oleh PENGGUGAT.

32. Bahwa berdasarkan dasar hukum di atas, maka tuntutan PENGGUGAT

sudah sepatutnya ditolak karena tidak berdasar hukum, mengingat

selain tidak ada pelanggaran hukum yang dilakukan TERGUGAT, juga

tidak ada kerugian apapun baik itu materiil maupun immateriil yang

dialami PENGGUGAT, sehingga tidak terpenuhinya unsur perbuatan

melawan hukum sebagaimana dimaksud dalam pasal 1365 KUHPerdata

yang berbunyi sebagai berikut :

Tiap perbuatan melawan hukum dan membawa kerugian bagi

orang lain, mewajibkan orang yang menimbulkan kerugian itu karena

kesalahannya untuk menggantikan kerugian tersebut.”

Bahwa dengan berdasarkan uraian di atas, maka TERGUGAT mohon kepada

Majelis Hakim yang terhormat untuk memberikan amar putusan sebagai berikut:

PRIMER:

I.

DALAM EKSEPSI:

1.

Menerima eksepsi TERGUGAT seluruhnya.

2.

Menyatakan gugatan PENGGUGAT tidak dapat diterima (Niet

Ontvankelijk).

3.

Menyatakan Pengadilan Negeri Gorontalo tidak berwenang untuk

memeriksa, mengadili dan memutuskan perkara ini mengingat

kewenangan untuk itu ada pada Pengadilan Negeri Tangerang.

II.

DALAM POKOK PERKARA:

Menolak gugatan PENGGUGAT seluruhnya.

SUBSIDER:

Apabila Majelis Hakim Pengadilan Negeri Gorontalo berpendapat lain, maka

TERGUGAT mohon agar Majelis Hakim yang terhormat memberikan putusan

yang seadil-adilnya (ex aquo et bono).

Menimbang bahwa selanjutnya segala sesuatu yang termuat dalam

berita acara persidangan perkara ini, yang untuk ringkasnya putusan ini

dianggap telah termuat dan menjadi satu bagian yang tak terpisahkan dengan

putusan ini; (template putusan Vide SK KMA Nomor 44/KMA/SK/III/2014 tanggal

20 Maret 2014)

Menimbang bahwa akhirnya para pihak menyatakan tidak ada hal-hal

yang diajukan lagi dan mohon putusan;

Halaman 15 dari 29 Putusan Perdata Gugatan Nomor 40/Pdt.G/2017/PN Gto

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

Telp : 021-384 3348 (ext.318)

Halaman 15

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia putusan.mahkamahagung.go.id TENTANG PERTIMBANGAN HUKUM DALAM EKSEPSI

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

putusan.mahkamahagung.go.id

TENTANG PERTIMBANGAN HUKUM

DALAM EKSEPSI

Menimbang bahwa Tergugat dalam jawaban telah mengajukan eksepsi

yang pada pokoknya sebagai berikut:

1. Penggugat dan Tergugat telah sepakat memilih domisili hukum di

Pengadilan Negeri Tangerang;

2. Gugatan Penggugat terlalu prematur untuk diajukan;

Menimbang bahwa terhadap ekesepsi atau keberatan Tergugat kesatu

yaitu mengenai kewenangan relatif dari Pengadilan Negeri Gorontalo;

Menimbang bahwa Tergugat mendalilkan Pengadilan Negeri Gorontalo

tidak berwenang mengadili perkara a quo karena telah meilih domisili hukum di

Pengadilan Negeri Tangerang;

Menimbang bahwa merujuk pada ketentuan pasal 162 Rbg maka

eksepsi mengenai ketidak wenangan mengadili Pengadilan Negeri Gorontalo

maka Majelis Hakim telah memutusnya terlebih dahulu berdasarkan Putusan

Sela Nomor 40/Pdt.G/2017/PN Gto tanggal 12 Oktober 2017;

Menimbang bahwa salah satu pertimbangan dalam Putusan Sela

tersebut menyatakan dalam perkara aquo pihak Penggugat adalah dalam posisi

sebagai konsumen dalam Perjanjian Pembiayaan Konsumen sehingga

berdasarkan Pasal 142 ayat (4) Rbg maka Penggugat berhak memilih tempat

mengajukan gugatan yaitu Pengadilan Negeri Gorontalo;

Menimbang bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut Majelis Hakim

berpendapat Penggugat mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri Gorontalo

tidaklah melanggar ketentuan Pasal 142 ayat (4) Rbg dan juga tidak melanggar

asas Actor Sequitur Forum Rei sebagaimana termuat dalam Pasal 142 ayat (1)

Rbg;

Menimbang bahwa selain itu melihat tempat tinggal nyata Penggugat

dan Tergugat yaitu di Gorontalo dan Perjanjian Pembiayaan Konsumen

sebagaimana bukti P-1 dan T-1 yang ditandatangani di Kota Gorontalo sehingga

sesuai asas pemeriksaan perkara di Pengadilan yaitu asas sederhana, cepat

dan biaya ringan maka Pengadilan Negeri Gorontalo paling efektif dan effisien

dalam memeriksa perkara aquo;

Menimbang bahwa secara lengkap pertimbangan Majelis Hakim telah

termuat lengkap dalam Putusan Sela Nomor 40/Pdt.G/2017/PN Gto tanggal 12

Oktober 2017 dan telah diputuskan dengan amarnya adalah sebagai berikut:

MENGADILI

1. Menolak eksepsi kompetensi relatif yang diajukan oleh Tergugat;

2. Menyatakan Pengadilan Negeri Gorontalo berwenang memeriksa dan

mengadili perkara perdata Nomor 40/Pdt.G/2017/PN Gto;

Halaman 16 dari 29 Putusan Perdata Gugatan Nomor 40/Pdt.G/2017/PN Gto

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

Telp : 021-384 3348 (ext.318)

Halaman 16

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia putusan.mahkamahagung.go.id 3. Memerintahkan kepada para pihak untuk

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

putusan.mahkamahagung.go.id

3. Memerintahkan kepada para pihak untuk melanjutkan persidangan

perkara ini;

4. Menangguhkan biaya perkara hingga putusan akhir;

Menimbang bahwa oleh karena Majelis Hakim berpendapat Pengadilan

Negeri Gorontalo berwenang memeriksa dan mengadili perkara a quo maka

selanjutnya Majelis Hakim akan mempertimbangkan eksepsi Tergugat yang

kedua;

Menimbang bahwa Tergugat dalam jawabannya juga mengajukan

eksepsi yang mengenai hal diluar kewenangan mengadili, oleh karena eksepsi

eksepsi tersebut bukanlah tentang kewenangan mengadili dari Pengadilan,

sehingga merujuk ketentuan Pasal 162 Rbg maka atas eksepsi eksepsi

tersebut diputus bersama sama dengan pokok perkaranya;

Menimbang bahwa merujuk hukum acara perdata maka yang dimaksud

dengan eksepsi adalah jawaban dari Tergugat yang bukan mengenai pokok

perkara namun mengenai formalitas suatu gugatan;

Menimbang bahwa terhadap eksepsi Tergugat yang kedua tersebut

Majelis Hakim berpendapat sudah masuk materi jawaban atas pokok perkara

oleh karenanya harus dipertimbangkan bersama dengan pokok perkara;

Menimbang bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut Majelis Hakim

berpendapat keberatan atau eksepsi Tergugat ditolak sepanjang mengenai

kewenangan relatif;

DALAM POKOK PERKARA

Menimbang, bahwa maksud dan tujuan gugatan Penggugat yang pada

pokoknya adalah:

- Bahwa Penggugat melakukan perjanjian pembiayaan konsumen dengan

Tergugat dengan nomor kontrak 4441400817;

- Bahwa Tergugat memberikan pembiayaan konsumen kepada Penggugat

untuk pembelian 1 (satu) unit kendaraan Roda Empat (Mobil) dengan

spesifikasi, Merk/Type : Toyota-All New Avanza-VVTI G1.3 MT, Nomor

Rangka : MHKM1BA3JDJ018912, Nomor Mesin : MB64693, Nomor

Polisi : DM 1225 AH, Warna : Silver Metalik, Tahun Pembuatan/Perakitan

:2013;

- Bahwa Penggugat telah melakukan pembayaran angsuran selama 34

(tiga puluh empat) bulan dan belum melakukan pembayaran lagi selama

tiga bulan;

- Bahwa pada tanggal 5 Juli 2017 saat Penggugat mengendarai kendaraan

Toyota Avanza dengan nomor polisi DM 1225 AH telah dihentikan di

jalan oleh karyawan Tergugat dengan tujuan untuk menarik kendaraan

yang dikendarai oleh Penggugat;

Halaman 17 dari 29 Putusan Perdata Gugatan Nomor 40/Pdt.G/2017/PN Gto

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

Telp : 021-384 3348 (ext.318)

Halaman 17

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia putusan.mahkamahagung.go.id - Bahwa karena tidak ada kesepakatan

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

putusan.mahkamahagung.go.id

- Bahwa karena tidak ada kesepakatan kemudian Penggugat diminta untuk

datang ke kantor Tergugat bersama dua orang karyawan Tergugat yang

menghentikan Penggugat di tengah jalan;

- Bahwa Penggugat kemudian berbicara dengan salah satu karyawan

Tergugat dan Penggugat diminta menyerahkan mobilnya kemudian

melunasi tunggakan keesokan harinya;

- Bahwa pada saat itu Penggugat mengendarai kendaraan bersama

keluarga yaitu istri dan dua orang anaknya yang masih kecil,

diperintahkan untuk menyerahkan mobil dan selanjutnya karyawan

Tergugat yang mengemudian mobil mengantar Penggugat beserta

keluarga pulang kerumah;

- Bahwa selanjutnya karyawan Tergugat membawa kembali mobil milik

Penggugat;

- Bahwa keesokan harinya pada tanggal 6 Juli 2017 Penggugat datang ke

kantor Tergugat untuk melunasi tunggakan dan mengambil kembali

mobilnya namun Tergugat menyuruh Penggugat untuk membayar

pelunasan seluruh hutang Penggugat;

- Bahwa Tergugat tidak mau menerima pembayaran tunggakan angsuran

dan juga tidak mau mengembalikan mobil yang telah ditahannya;

- Bahwa penguasaan sepihak oleh Tergugat dengan cara penarikan

secara sewenang wenang adalah perbuatan melawan hukum;

Menimbang bahwa atas dalil gugatan dari Penggugat tersebut, Tergugat

mengajukan bantahan yang pada pokoknya adalah sebagai berikut:

- Bahwa Penggugat dan Tergugat telah terikat kesepakatan pembiayaan

dalam jumlah Rp165.041.500,00 (seratus enam puluh lima juta empat

puluh satu ribu lima ratus rupiah) untuk pembelian kendaraan;

- Bahwa pengembalian pembiayaan tersebut dengan jangka waktu 48

(empat puluh delapan) bulan yaitu mulai bulan April 2014 sampai dengan

bulan Maret 2018 dengan angsuran per bulan sebesar Rp4.815.000,-

(empat juta delapan ratus lima belas ribu rupiah);

- Bahwa untuk pelunasan Penggugat telah menjaminkan kendaraan

kepada Tergugat yang telah diikat dengan jaminan fidusia;

- Bahwa Penggugat telah melakukan wanprestasi dengan menunggak

pembayaran kurang lebih 120 (seratus dua puluh) hari keterlambatan;

- Bahwa karena Penggugat telah cidera janji maka Tergugat berhak

memperoleh kembali kendaraan;

- Bahwa Penguasaan kembali kendaraan secara kasar oleh Tergugat

adalah tidak benar dan pengakuan sepihak dari Penggugat karena tanpa

didasari putusan pidana;

Halaman 18 dari 29 Putusan Perdata Gugatan Nomor 40/Pdt.G/2017/PN Gto

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

Telp : 021-384 3348 (ext.318)

Halaman 18

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia putusan.mahkamahagung.go.id Menimbang bahwa berdasarkan dalil gugatan

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

putusan.mahkamahagung.go.id

Menimbang bahwa berdasarkan dalil gugatan maka yang menjadi

pokok sengketa antara kedua belah pihak adalah apakah perbuatan Tergugat

yang menarik obyek jaminan berupa 1 (satu) unit kendaraan Roda Empat

(Mobil) dengan spesifikasi, Merk/Type : Toyota-All New Avanza-VVTI G1.3 MT,

Nomor Rangka : MHKM1BA3JDJ018912, Nomor Mesin : MB64693, Nomor

Polisi : DM 1225 AH, Warna : Silver Metalik, Tahun Pembuatan/Perakitan : 2013

dari Penggugat adalah perbuatan melawan hukum atau tidak;

Menimbang bahwa berdasarkan pokok sengketa dam merujuk pada

ketentuan Pasal 283 RBg maka Penggugat berkewajiban untuk membuktikan

dalil gugatannya;

Menimbang bahwa terhadap bukti bukti yang diajukan baik oleh

Penggugat maupun yang diajukan Tergugat, Majelis Hakim hanya akan

mempertimbangkan tentang bukti bukti yang ada relevansinya dengan perkara

ini dan yang tidak relevan akan dikesampingkan atau tidak dipertimbangkan;

Menimbang bahwa Penggugat untuk menguatkan dalilnya telah

mengajukan bukti berupa bukti P-1 sampai dengan P-3 dan dan juga

mengajukan saksi yaitu saksi Vidi Aristo Saleh dan saksi Ismail Haras;

Menimbang bahwa dari alat-alat bukti yang diajukan oleh Penggugat

yaitu alat bukti surat P-1 berupa Perjanjian Pembiayaan Konsumen tertanggal

17 Maret 2014 antara Penggugat dengan Tergugat;

Menimbang bahwa alat bukti tersebut tidak dibantah oleh Tergugat dan

sama dengan bukti surat yang diajukan Tergugat yang ditandai dengan bukti T-

1;

Menimbang bahwa selanjutnya Pengugat juga mengajukan alat bukti

surat bertanda P-2 berupa STNK 1 (satu) unit kendaraan Roda Empat (Mobil)

dengan spesifikasi, Merk/Type : Toyota-All New Avanza-VVTI G1.3 MT, Nomor

Rangka : MHKM1BA3JDJ018912, Nomor Mesin : MB64693, Nomor Polisi: DM

1225 AH, Warna : Silver Metalik, Tahun Pembuatan/Perakitan : 2013 yang

membuktikan ada obyek yang menjadi perjanjian sesuai dengan bukti P-1 dan

bukti T-1;

Menimbang bahwa Penggugat mengajukan alat bukti surat bertanda P-

3 yang berupa perincian angsuran berupa fotocopy namun tidak dibantah juga

oleh Tergugat maka Majelis Hakim berpendapat terhadap bukti tersebut

membuktikan adanya transaksi angsuran untuk mewujudkan hak dan kewajiban

yang lahir dari Perjanjian Pembiayaan Konsumen antara Penggugat dengan

Tergugat sedangkan mengenai kekuatan pembuktiannya akan dinilai dengan

alat bukti yang lain;

Menimbang bahwa sedangkan saksi Vidi Aristo Saleh memberikan

keterangan yang pada pokonya adalah:

Halaman 19 dari 29 Putusan Perdata Gugatan Nomor 40/Pdt.G/2017/PN Gto

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

Telp : 021-384 3348 (ext.318)

Halaman 19

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia putusan.mahkamahagung.go.id - Bahwa saksi melihat karyawan Tergugat

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

putusan.mahkamahagung.go.id

- Bahwa saksi melihat karyawan Tergugat mencegat Penggugat yang

mengendarai mobil di tengah jalan raya;

- Bahwa saat itu Penggugat mengendarai mobil Avanza warna Silver dan

didalam kendaraan saat itu ada anak dan istri Penggugat;

- Bahwa saksi mendengar dari percakapan yaitu karyawan Tergugat akan

menarik mobil yang dikendarai Penggugat karena Penggugat sudah

menunggak pembayaran angsuran;

- Bahwa saksi mengetahui yang mencegat Penggugat di jalan adalah

karyawan Tergugat dari pakain yanmg dikenakan adalah seragam PT.

BFI;

Menimbang bahwa saksi Ismail Haras memberikan keterangan yang

pada pokoknya adalah:

- Bahwa saksi melihat ada keributan antara Penggugat dengan karyawan

Tergugat di depan kantor Tergugat;

- Bahwa saksi mendengar sendiri perselisihan tersebut karena Penggugat

menunggak pembayaran dan Tergugat akan menahan kendaraan milik

Penggugat;

- Bahwa mobil milik Penggugat adalah Toyota Avanza warna Silver

dengan nomor polisi DM 1225 AH;

- Bahwa saksi mengetahui terjadi kesepakatan kendaraan akan ditahan

oleh Tergugat dan Penggugat dapat membayar tunggakannya keesokan

harinya;

- Bahwa kemudian Penggugat bersama dengan anak serta istrinya diantar

salah satu karyawan Tergugat untuk pulang ke rumahnya menggunakan

mobil milik Penggugat, kemudian karyawan Tergugat tersebut membawa

kembali mobil milik Penggugat;

- Bahwa keesokan harinya saksi diajak oleh Penggugat ke kantor Tergugat

untuk melakukan pembayaran tunggakan dan bertemu dengan salsh satu

karyawan Tergugat yang bernama bapak Mus;

- Bahwa saat itu karyawan Tergugat menyatakan Penggugat tidak bisa

hanya membayar tunggakan namun harus membayar keseluruhan

utangnya;

- Bahwa Penggugat saat itu menyatakan membayar sesuai kesepakatan

yang dibuat kemarin malam yaitu untuk membayar tunggakan selama

tiga bulan namun pihak Tergugat tidak mau menerima;

Menimbang bahwa Tergugat dipersidangan mengajukan alat bukti surat

yang bertanda bukti surat T-1 sampai dengan T-6 dan Tergugat tidak

mengajukan saksi;

Halaman 20 dari 29 Putusan Perdata Gugatan Nomor 40/Pdt.G/2017/PN Gto

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

Telp : 021-384 3348 (ext.318)

Halaman 20

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia putusan.mahkamahagung.go.id Menimbang bahwa alat bukti surat bertanda

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

putusan.mahkamahagung.go.id

Menimbang bahwa alat bukti surat bertanda T-1 adalah berupa

Perjanjian Pembiayaan Konsumen tertanggal 17 Maret 2014 antara Penggugat

dengan Tergugat yang sama dengan bukti surat Penggugat yang bertanda P-1;

Menimbang bahwa Tergugat mengajukan bukti surat bertanda T-2

berupa sertifikat jaminan fidusia atas 1 (satu) unit kendaraan Roda Empat

(Mobil) dengan spesifikasi, Merk/Type : Toyota-All New Avanza-VVTI G1.3 MT,

Nomor Rangka : MHKM1BA3JDJ018912, Nomor Mesin : MB64693, Nomor

Polisi : DM 1225 AH, Warna : Silver Metalik, Tahun Pembuatan/Perakitan :

2013;

Menimbang bahwa Tergugat mengajukan alat bukti surat T-3 sampai

denga T-5 berupa surat peringatan untuk pembayaran angsuran;

Menimbang bahwa Tergugat mengajukan alat bukti surat bertanda T-6

berupa surat konfirmasi pelunasan dan penjualan barang tertanggal 6 Juli 2017;

Menimbang bahwa Tergugat tidak mengajukan saksi;

Menimbang bahwa berdasarkan alat bukti yang diajukan kedua belah

pihak maka yang menjadi fakta hukum dan tidak dibantah oleh para pihak

adalah sebagai berikut:

- Penggugat dan Tergugat terikat dengan Perjanjian Pembiayaan

Konsumen terhadap pembelian 1 (satu) unit kendaraan Roda Empat

(Mobil) dengan spesifikasi, Merk/Type : Toyota-All New Avanza-VVTI

G1.3 MT, Nomor Rangka : MHKM1BA3JDJ018912, Nomor Mesin :

MB64693, Nomor Polisi : DM 1225 AH, Warna : Silver Metalik, Tahun

Pembuatan/Perakitan : 2013;

- Bahwa 1 (satu) unit kendaraan Roda Empat (Mobil) dengan spesifikasi,

Merk/Type : Toyota-All New Avanza-VVTI G1.3 MT, Nomor Rangka :

MHKM1BA3JDJ018912, Nomor Mesin : MB64693, Nomor Polisi : DM

1225 AH, Warna : Silver Metalik, Tahun Pembuatan/Perakitan : 2013

telah diikat dengan akta fidusia;

- Bahwa Penggugat mempunyai tunggakan pembayaran kepada Tergugat;

- Bahwa obyek jaminan fidusia telah dikuasai oleh Tergugat karena

adanya keterlambatan pembayaran;

- Bahwa kendaraan yang menjadi obyek fidusia diambil oleh Tergugat dari

penguasaan Penggugat;

Menimbang bahwa berdasarkan bukti P-1 yang sama dengan bukti T-1

dihubungkan dengan bukti T-2 maka terhadap 1 (satu) unit kendaraan Roda

Empat (Mobil) dengan spesifikasi, Merk/Type : Toyota-All New Avanza-VVTI

G1.3 MT, Nomor Rangka : MHKM1BA3JDJ018912, Nomor Mesin : MB64693,

Nomor Polisi : DM 1225 AH, Warna : Silver Metalik, Tahun

Pembuatan/Perakitan : 2013 adala dengan nama orang lain namun menjadi

Halaman 21 dari 29 Putusan Perdata Gugatan Nomor 40/Pdt.G/2017/PN Gto

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

Telp : 021-384 3348 (ext.318)

Halaman 21

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia putusan.mahkamahagung.go.id tanggungan Penggugat karena Penggugat yang

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

putusan.mahkamahagung.go.id

tanggungan Penggugat karena Penggugat yang menandatangani perjanjian

pembiayaan;

Menimbang bahwa para pihak tidak mengajukan akta notaris yang

menyangkut pengikatan perjanjian apakah atas nama Penggugat atau atas

nama orang lain sehingga Majelis Hakim tidak bisa mempertimbangkan

mengenai sah tidaknya pengikatan fidusia tersebut;

Menimbang bahwa dalam praktek nama pemberi fidusia baik yang ada

dalam akta notaris maupun dalam sertifikat fidusia seharusnya sama dengan

nama dengan orang yang menandatangani perjanjian pembiayaan untuk

pembelian mobil atau kendaraan baru;

Menimbang bahwa dikecualikan untuk pembiayaan pembelian mobil

bekas tentunya nama pemberi fidusia berbeda dengan nama pemilik lama

kendaraan tersebut;

Menimbang bahwa tidak ada bukti lain yang membuktikan hal tersebut

sehingga Majelis Hakim hanya mempertimbangkan mengenai perbuatan

penarikan kendaraan bukan mengenai sah tidaknya perjanjian pengikatan

dengan jaminan fidusia;

Menimbang bahwa oleh karena ob-yek jaminan fidusia tersebut telah

diikat dengan jaminan fidusia maka mempunyai terhadap perjanjian jaminan

fidusia tersebut telah memiliki titel eksekutorial;

Menimbang bahwa menjadi fakta yang tidak dibantah oleh Penggugat

dan Tergugat yaitu Penggugat mempunyai tunggakan pembayaran sehingga

Tergugat menahan kendaraan yang menjadi obyek jaminan fidusia tersebut;

Menimbang bahwa sebagaimana dipertimbangkan diatas maka Majelis

Hakim tidak mempertimbangkan mengenai cidera janji atau permasalahan

mengenai sah tidaknya perjanjian pembiayaan;

Menimbang bahwa sebagaimana pokok sengketa dan dalil jawaban

yang menyatakan Tergugat melakukan eksekusi atas barang jaminan fidusia

karena Penggugat telah cidera janji maka yang akan dipertimbangkan adalah

apakah perbuatan Tergugat dalam melakukan ekseksusi terhadap obyek

jaminan fidusia telah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang

undangan yang berlaku atau sebaliknya Tergugat telah melakukan perbuatan

yang tidak sesuai dengan peraturan perundang undangan sehingga termasuk

melakukan perbuatan melawan hukum;

Menimbang bahwa sebagaimana dipertimbangkan diatas maka

selanjutnya Majelis Hakim akan mempertimbangkan mengenai perbuatan

Tergugat menguasai barang jaminan fidusia tersebut;

Menimbang bahwa mengenai eksekusi terhadap jaminan fidusia diatur

dalam Undang Undang No. 42 tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia terutama

Halaman 22 dari 29 Putusan Perdata Gugatan Nomor 40/Pdt.G/2017/PN Gto

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

Telp : 021-384 3348 (ext.318)

Halaman 22

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia putusan.mahkamahagung.go.id diatur dalam Pasal 29 ayat (1) Undang –

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

putusan.mahkamahagung.go.id

diatur dalam Pasal 29 ayat (1) Undang Undang tersebut yang menyatakan

eksekusi terhadap barang yang menjadi obyek Fidusia dilakukan dengan cara:

a. Pelaksanaan titel eksekutorial oleh penerima fidusia;

b. Penjualan benda yang menjadi obyek jaminan fidusia melalui pelelangan

umum;

c. Penjualan dibawah tangan atas dasar kesepakatan pemberi dan

penerima fidusia;

Menimbang bahwa terhadap suatu hubungan hutang piutang termasuk

didalamnya hubungan pembiayaan pembelian kendaraan semua terikat dalam

suatu perjanjian;

Menimbang bahwa manakala seorang debitur tidak melakukan

kewajibannya membayar angsuran atau wanprestasi maka kreditur tidak serta

merta dapat mengambil atau menguasai obyek jaminan karena kepemilikan

atas obyek jaminan tersebut masih melekat pada perjanjiannya;

Menimbang bahwa mengenai kepemilikan tersebut menjadi lebih

kompleks lagi karena dalam suatu pembiayaan yang telah dibayarkan sebagian

oleh debitur maka berdasarkan hukum kebendaan mengenai kepemilikan atas

barang tersebut terbagi menjadi dua yaitu kreditur mempunyai hak sebagian

dalam bentuk kekurangan pembayaran sedangkan debitur juga mempunyai hak

sebagian dengan prosentase sesuai dengan pembayaran yang telah dilakukan;

Menimbang bahwa untuk menjamin pelaksanaan perjanjian tersebut

selanjutnya obyek jaminan benda bergerak harus diikat dengan jaminan fidusia

sebagaimana diatur dalam Undang Undang No. 42 tahun 1999 tentang

Jaminan Fidusia;

Menimbang bahwa untuk melindungi kepentingan perusahaan

pembiayaan atau leasing dan juga untuk melindungi kepentingan konsumen

atau debitur maka jaminan kendaraan harus diikat dengan fidusia untuk

mendapatkan titel eksekutorial dimana haknya didahulukan sebagaimana hak

seorang kreditur preferen;

Menimbang bahwa sesuai dengan ketentuan Undang Undang No. 42

tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia dan Peraturan Menteri Keuangan No.

130/PMK.010/2012 tentang pendaftaran fidusia bagi perusahaan pembiayaan

maka barang jaminan harus didaftarkan dan memperoleh sertifikat jaminan

fidusia dari kementerian hukum dan HAM dengan akibat hukum perusahaan

leasing ataupun melalui pihak ketiga dilarang melakukan penarikan secara

paksa;

Menimbang bahwa selanjutnya Majelis Hakim akan mempertimbangkan

mengenai eksekusi terhadap obyek jaminan fidusia yang mempunyai titel

eksekutorial tersebut;

Halaman 23 dari 29 Putusan Perdata Gugatan Nomor 40/Pdt.G/2017/PN Gto

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

Telp : 021-384 3348 (ext.318)

Halaman 23

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia putusan.mahkamahagung.go.id Menimbang bahwa pada saat seorang debitur

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

putusan.mahkamahagung.go.id

Menimbang bahwa pada saat seorang debitur melakukan wanprestasi

maka jaminan fidusia dapat dilakukan eksekusi oleh penerima fidusia dengan

cara sebagaimana diatur dalam Pasal 29 Undang Undang No. 42 tahun 1999

tentang Jaminan Fidusia yang bersifat limitatif dalam pengertian penerima

fidusia dalam melakukan eksekusi jaminan fidusia memilih salah satu cara

sebagaimana diatur dalam pasal tersebut;

Menimbang bahwa dalam hal penerima fidusia memilih melakukan

eksekusi jaminan fidusia menggunakan pelelangan umum maka pelaksanaan

eksekusi jaminan fidusia oleh Tergugat harus menggunakan lembaga

pelelangan atau perusahaan lelang atau menggunakan juru taksir sehingga

pejabat tersebut yang melakukan ekskeusi terhadap obyek jaminan fidusia;

Menimbang bahwa berdasarkan alat bukti yang diajukan dipersidangan

maka Tergugat dalam melakukan penarikan obyek jaminan fidusia atas nama

Penggugat, tidak menggunakan jasa penilai barang atau penaksir barang atau

tidak dilakukan melalui jasa lembaga atau perusahaan pelelangan barang

sehingga demikian cara melalui pelelangan umum sebagaimana pasal 29 ayat

(1) huruf b Undang Undang No. 42 tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia tidak

dilakukan oleh Tergugat, oleh karena itu harus dikesampingkan atau tidak

dipertimbangkan;

Menimbang bahwa apabila Tergugat akan menjual dibawah tangan

terhadap obyek jaminan fidusia atas nama Penggugat maka harus ada

kesepakatan antara Penggugat dengan Tergugat;

Menimbang bahwa berdasarkan alat bukti yang diajukan dipersidangan

maka tidak ada kesepakatan antara Penggugat dengan Tergugat sehingga

pelaksanaan eksekusi jaminan fidusia selama persidangan juga tidak dilakukan

secara dibawah tangan sehingga eksekusi jaminan fidusia dengan cara ketiga

sebagaimana pasal 29 ayat (1) huruf c Undang Undang No. 42 tahun 1999

tentang Jaminan Fidusia, oleh karenanya harus dikesampingkan atau tidak

dipertimbangkan;

Menimbang bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut maka Majelis

Hakim berpendapat Tergugat dalam melakukan eksekusi terhadap jaminan

fidusia menggunakan cara kesatu sebagaimana pasal 29 ayat (1) huruf a

Undang Undang No. 42 tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia yaitu

pelaksanaan titel eksekutorial oleh penerima fidusia;

Menimbang bahwa untuk melakukan eksekusi terhadap barang jaminan

fidusia dengan dasar titel eksekutorial atau dengan kekuasaannya penerima

fidusia maka merujuk ketentuan dalam hukum acara perdata dengan cara

parate eksekusi;

Halaman 24 dari 29 Putusan Perdata Gugatan Nomor 40/Pdt.G/2017/PN Gto

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

Telp : 021-384 3348 (ext.318)

Halaman 24

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia putusan.mahkamahagung.go.id Menimbang bahwa eksekusi oleh penerima

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

putusan.mahkamahagung.go.id

Menimbang bahwa eksekusi oleh penerima fidusia ini dibenarkan oleh

Undang-undang Nomor 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia karena

menurut pasal 15 ayat (2) Undang-undang Nomor 42 Tahun 1999 Tentang

Jaminan Fidusia, sertifikat Jaminan Fidusia menggunakan irah-irah “Demi

Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa” yang berarti kekuatannya

sama dengan kekuatan putusan pengadilan yang bersifat tetap. Irah-irah ini

memberikan titel eksekutorial dan berarti akta tersebut tinggal dieksekusi tanpa

harus melalui suatu putusan pengadilan;

Menimbang bahwa pelaksaan eksekusi tersebut tunduk pada hukum

acara perdata umum dengan mengajukan fiat eksekusi yaitu eksekusi atas

sebuah akta seperti mengeksekusi suatu putusan pengadilan yang telah

berkekuatan pasti, yakni dengan cara meminta fiat dari ketua pengadilan

dengan cara memohon penetapan dari ketua pengadilan untuk melakukan

eksekusi kemudian atas penetapan Ketua Pengadilan akan dilakukan eksekusi

obyek jaminan fidusia sebagaimana dimaksud dalam Rbg;

Menimbang bahwa pengertian dari fiat eksekusi tersebut adalah

pelaksanaan eksekusinya harus tetap mengikuti prosedur seperti pelaksanaan

suatu keputusan pengadilan yang merujuk ketentuan Pasal 207 Rbg maka

kreditur harus mengajukan permohonan kepada Ketua Pengadilan Negeri agar

dilaksanakan eksekusi atas benda jaminan berdasarkan titel eksekutorial

Sertipikat Jaminan Fidusia tersebut, kemudian pengadilan akan

memberitahukan kepada pemberi fidusia agar menyerahkan kendaraan atau

benda bergerak lainnya maupun harta benda lain yang dijadikan jaminan untuk

dieksekusi secara sukarela, jika pemberi fidusia tidak mau, maka pengadilan

akan memerintahkan juru sita untuk menyita kendaraan ataupun harta benda

pemberi fidusia yang merupakan objek jaminan fidusia tersebut;

Menimbang bahwa selanjutnya objek yang disita tersebut kemudian

akan dijual dengan cara dilelang di muka umum dan hasilnya digunakan untuk

melunasi utang pemberi fidusia kepada perusahaan leasing, sedangkan

mengenai pelelangan di depan umum ini menjadi hak sepenuhnya dari

perusahaan (kreditur) berdasarkan pasal 29 (1) huruf a Undang Undang No.

42 tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia dengan pengertian kreditur

melaksanakan penjualan atau eksekusi berdasarkan kekuasaannya sendiri

atau parate eksekusi dan tidak lagi melibatkan pengadilan maupun jurusita

untuk melakukan penjualan di muka umum atau lelang;

Menimbang bahwa dalam perkara a quo berdasarkan keterangan saksi

saksi maka Tergugat menguasai kendaraan yang diikat dengan jaminan

fidusia dengan mengambil kendaraan tersebut dari penguasaan Penggugat di

Halaman 25 dari 29 Putusan Perdata Gugatan Nomor 40/Pdt.G/2017/PN Gto

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

Telp : 021-384 3348 (ext.318)

Halaman 25

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia putusan.mahkamahagung.go.id jalan dan di kantor Tergugat dalam arti

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

putusan.mahkamahagung.go.id

jalan dan di kantor Tergugat dalam arti tidak ada penyerahan secara sukarela

dari Penggugat;

Menimbang bahwa Tergugat dalam menarik kendaraan yang dikuasai

oleh Penggugat dilakukan ditengah jalan, diwaktu malam dan saat itu situasi

dalam kendaraan ada perempuan dan anak anak namun tetap dilakukan

penarikan terhadap kendaraan yang dijadikan jaminan fidusia;

Menimbang bahwa berdasarkan fakta yang terungkap dipersidangan

maka kendaraan yang menjadi obyek jaminan fidusia telah dikuasai oleh

Tergugat;

Menimbang bahwa selama persidangan Tergugat tidak mengajukan

bukti bukti yang membuktikan pelaksanaan ekskusi jaminan fidusia dilakukan

melalui fiat pengadilan atau dengan petugas yang berwenang;

Menimbang bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut maka Majelis

Hakim berpendapat Tergugat melaksanakan eksekusi terhadap obyek jaminan

fidusia atas inisiatif dari Tergugat dan bukan sebagai perbuatan yang dimaksud

sebagai parate ekskusi sebagaimana dimaksud pasal 29 (1) huruf a Undang

Undang No. 42 tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia;

Menimbang bahwa Majelis Hakim berpendapat perbuatan Tergugat

dalam melakukan eksekusi terhadap obyek jaminan fidusia dengan cara

menarik langsung dan tidak sesuai dengan peraturan perundang - undangan

yang berlaku maka termasuk perbuatan melawan hukum dan dapat diklasifikasi

sebagai perbuatan tindak pidana karena sebagai perbuatan sewenang

wenang;

Menimbang bahwa sebagaimana telah dipertimbangkan diatas yaitu

Tergugat dinyatakan telah melakukan perbuatan melawan hukum maka

Penggugat telah dapat membuktikan dalil gugatannya;

Menimbang bahwa meskipun mengenai perbuatan penarikan

kendaraan obyek jaminan fidusia tidak sesuai dengan ketentuan peraturan

perundang undangan, namun tidak menghilangkan kewajiban Penggugat atau

Debitur untuk melaksanakan kewajibannya membayar kekurangan pembayan

kepada Tergugat sesuai dengan perjanjian;

Menimbang bahwa berdasarkan pertimbangan pertimbangan tersebut

diatas maka Penggugat dapat membuktikan dalil gugatannya namun demikian

Majelis Hakim akan mempertimbangkan petitum gugatan Penggugat;

Menimbang bahwa terhadap petitum gugatan no. 1 akan

dipertimbangkan setelah mempertimbangkan petitum gugatan yang lain;

Menimbang bahwa terhadap petitum gugatan no. 2, Majelis Hakim

berpendapat sebagaimana telah dipertimbangkan diatas bahwa perbuatan

Halaman 26 dari 29 Putusan Perdata Gugatan Nomor 40/Pdt.G/2017/PN Gto

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

Telp : 021-384 3348 (ext.318)

Halaman 26

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia putusan.mahkamahagung.go.id Tergugat yang mengambil dan menguasai

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

putusan.mahkamahagung.go.id

Tergugat yang mengambil dan menguasai obyek jaminan fidusia adalah

perbuatan melawan hukum;

Menimbang bahwa oleh karena itu petitum no. 2 sebagaimana petitum

dalam surat gugatan dikabulkan;

Menimbang bahwa terhadap petitum gugatan No. 3, Majelis Hakim

berpendapat oleh karena perbutan Tergugat adalah perbutan melawan hukum

maka sudah seharusnya menurut hukum obyek jaminan fidusia 1 (satu) unit

kendaraan Roda Empat (Mobil) dengan spesifikasi, Merk/Type : Toyota-All New

Avanza-VVTI G1.3 MT, Nomor Rangka : MHKM1BA3JDJ018912, Nomor Mesin

: MB64693, Nomor Polisi : DM 1225 AH, Warna : Silver Metalik, Tahun

Pembuatan/Perakitan : 2013 dikembalikan kepada Penggugat;

Menimbang bahwa untuk menghindari permasalahan hukum lebih lanjut

baik secara keperdataan maupun pidana, maka Majelis Hakim menyarankan

agar kendaraan dikembalikan terlebih dahulu kepada Penggugat;

Menimbang bahwa sebagaimana telah dipertimbangkan diatas yaitu

selanjutnya apabila Tergugat sebagai penerima fidusia akan melaksanakan

eksekudi atas obyek jaminan maka dapat dilakukan lagi dengan syarat

dilakukan sesuai dengan ketentuan hukum yang ada;

Menimbang bahwa setelah Majelis Hakim meneliti tentang bukti BPKB

kendaraan maka terhadap kendaraan tersebut bukan atas nama Penggugat

maka Majelis Hakim akan memutuskan dengan perbaikan redaksi amar

putusan;

Menimbang bahwa mengenai permohonan agar kendaraan diserahkan

kepada Penggugat meskipun ada upaya hukum maka Majelis Hakim

berpendapat mengenai upaya hukum adalah hak semua pihak sehingga tidak

bisa dibatasi oleh karenanya mengenai permohonan tersebut harus

dikesampingkan atau ditolak;

Menimbang bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut diatas oleh

karena itu petitum no. 3 sebagaimana petitum dalam surat gugatan patut

dikabulkan dengan perbaikan redaksi dalam amar putusan;

Menimbang, bahwa terhadap petitum gugatan No. 4, Majelis Hakim

berpendapat mengenai tuntutan ganti rugi setelah Majelis Hakim melihat

dengan jelas dalam posita gugatan tidak diuraikan secara jelas kerugian yang

nyata diderita oleh Penggugat;

Menimbang bahwa tuntutan ganti rugi hanya bisa dikabulkan terhadap

kerugian yang secara nyata diderita oleh Penggugat dan harus dibuktikan

dipersidangan;

Halaman 27 dari 29 Putusan Perdata Gugatan Nomor 40/Pdt.G/2017/PN Gto

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

Telp : 021-384 3348 (ext.318)

Halaman 27

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia putusan.mahkamahagung.go.id Menimbang bahwa selama persidangan

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

putusan.mahkamahagung.go.id

Menimbang bahwa selama persidangan Penggugat tidak dapat

membuktikan kerugian yang nyata diderita Penggugat maka tuntutan ganti rugi

haruslah ditolak;

Menimbang bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut diatas oleh

karena itu petitum no. 4 sebagaimana petitum haruslah ditolak;

Menimbang bahwa terhadap petitum gugatan no. 1, Majelis Hakim

berpendapat oleh karena dalam pertimbangan Majelis Hakim ada beberapa

petitum yang tidak dikabulkan maka Majelis Hakim hanya mengabulkan gugatan

Penggugat untuk sebagian dan menolak yang selebihnya;

Menimbang bahwa oleh karena gugatan Penggugat dikabulkan sebagian

sehingga Tergugat berada di pihak yang kalah, maka Tergugat harus dihukum

untuk membayar biaya perkara yang besarnya akan ditentukan dalam amar

putusan;

Memperhatikan Pasal 157 RBg dan peraturan-peraturan lain yang

bersangkutan;

DALAM EKSEPSI

MENGADILI:

- Menolak eksepsi Tergugat tentang kompetensi relatif;

DALAM POKOK PERKARA

1. Mengabulkan gugatan Penggugat untuk sebagian;

2. Menyatakan penarikan dan penguasaan yang dilakukan Tergugat tidak

sah dan perbuatan melawan hukum;

3. Menghukum Tergugat untuk melakukan pengembalian terhadap 1 (satu)

unit kendaraan Merk/Type : Toyota-All New Avanza-VVTI G1.3 MT,

Nomor Rangka : MHKM1BA3JDJ018912, Nomor Mesin : MB64693,

Nomor Polisi : DM 1225 AH, Warna : Silver Metalik, Tahun

Pembuatan/Perakitan : 2013, kepada Penggugat;

4. Menghukum Tergugat untuk membayar biaya perkara sejumlah Rp.

866.000,- (delapan ratus enam puluh enam ribu rupiah);

5. Menolak gugatan Penggugat untuk selain dan selebihnya;

Demikian diputuskan dalam sidang permusyawaratan Majelis Hakim

Pengadilan Negeri Gorontalo, pada hari JUMAT, tanggal 3 NOVEMBER 2017,

oleh kami, FATCHU ROCHMAN, S.H., sebagai Hakim Ketua, I GEDE

PURNADITA, SH., dan FITRI NOHO, SH., MH., masing-masing sebagai

Hakim Anggota, yang ditunjuk berdasarkan Surat Penetapan Ketua

Pengadilan Negeri Gorontalo Nomor 40/Pdt.G/2017/PN Gto tanggal 21 Juli

2017, putusan tersebut pada hari KAMIS, tanggal 16 NOVEMBER 2016

diucapkan dalam persidangan terbuka untuk umum oleh Hakim Ketua FATCHU

ROCHMAN, S.H., dengan dihadiri oleh ERWINSON NABABAN, SH., dan FITRI

Halaman 28 dari 29 Putusan Perdata Gugatan Nomor 40/Pdt.G/2017/PN Gto

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

Telp : 021-384 3348 (ext.318)

Halaman 28

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia putusan.mahkamahagung.go.id NOHO, SH., MH., para Hakim Anggota,

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

putusan.mahkamahagung.go.id

NOHO, SH., MH., para Hakim Anggota, SUMARNY MUSTAPA, S.H., Panitera

Pengganti, Kuasa Penggugat dan Kuasa Tergugat.

HAKIM ANGGOTA HAKIM KETUA

ttd

ERWINSON NABABAN, SH.

ttd

ttd

FATCHU ROCHMAN, SH.,

FITRI NOHO, SH., MH.

PANITERA PENGGANTI

ttd

SUMARNY MUSTAPA, SH.

Perincian biaya :

1. Pendaftaran

Rp 30.000,00

2. Proses……

Rp 50.000,00

3. Panggilan

Rp765.000,00

4. PNBP

Rp 10.000,00

5. Materai ……………

Rp

6.000,00

6. Redaksi ……………………

Rp

5.000,00

Jumlah ……………

Rp866.000,00

(delapan ratus enam puluh enam ribu rupiah) ;

Halaman 29 dari 29 Putusan Perdata Gugatan Nomor 40/Pdt.G/2017/PN Gto

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id

Telp : 021-384 3348 (ext.318)

Halaman 29