Anda di halaman 1dari 11

MANAJEMEN PEMASARAN ITIK

Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah

Manajemen Pemasaran

Dosen Pengampu

Ar Rahman, SP

DISUSUN OLEH:

RACHMADI

NIM 08.1.39.404.054

PROGRAM STUDY AGRIBISNIS

STIPER MUHAMMADIYAH TANAH GROGOT

TAHUN AKADEMI

2010
I. PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG

Upaya menumbuhkan ekonomi kerakyatan seperti sekarang ini menjadi


salah satu bagian visi dan misi dari pasangan cabup-cawabup. Harapannya tentu
untuk merebut simpati calon pemilih sebanyak-banyaknya. Namun, dibalik itu
semua masih membuat kita bertanya-tanya apa bentuk riil upaya menumbuhkan
ekonomi kerakyatan yang benar-benar bisa dinikmati oleh rakyat itu?entahlah,
kita tunggu saja saat terpilih dan menjalankan roda pemerintahan nantinya.

Sebenarnya wujud nyata upaya menumbuhkan ekonomi kerakyatan bisa


digiatkan salah satunya melalui bidang subsektor peternakan. Misalnya, dengan
mengembangkan sentra-sentra peternakan kerakyatan terpadu yakni mulai dari
penyediaan bibit, pakan dan kemudahan pemasaran pada jenis-jenis ternak yang
biasa dibudidayakan petani di pedesaan dan daerah masing-masing.

Sebagai contoh di Jawa Tengah dikenal ada 2 jenis itik “bebek” yakni itik
Tegal (Anas javanica) yang banyak dijumpai di daerah Tegal, Brebes dan daerah
sekitarnya (Pantura) dan itik Magelang di daerah Magelang dan sekitarnya.
Sebagai bagian dari jenis unggas lokal, itik Tegal dan itik Magelang ini
sebenarnya merupakan komoditi ternak unggas yang potensial sebagai penghasil
telur dan daging (dwiguna).

Bayangkan saja, sumbangan ternak itik secara umum terhadap produksi


telur nasional menurut Rusfidra dari Fakultas Peternakan Andalas Padang cukup
signifikan, yakni sebagai penyumbang kedua terbesar setelah ayam ras. Ditinjau
dari tingginya angka permintaan produk telur-telur itik ini, tidak mengherankan
jika Brebes sebagai salah satu sentra peternakan itik di Jawa Tengah masih
kekurangan stok telur asin seperti yang dibahas dalam rubrik yang sama edisi
(23/5).
2. MASALAH

Hingga kini, usaha peternakan itik di Jawa Tengah khususnya masih


terkendala beberapa permasalahan. Diantaranya usaha-usaha peternakan itik yang
ada sekarang masih didominasi peternak skala kecil yang bersifat tradisional
ekstensif (diumbar), kecilnya modal, sulitnya mencari bibit DOD (Day Old
Duck) unggul serta pengetahuan peternak yang masih rendah. Tidak
mengherankan jika produktivitas ternak itik di pedasaan saat ini masih rendah dan
jauh dari harapan.

Pada itik Magelang misalnya. Secara fenotip dulunya mempunyai


kemampuan memproduksi telur yang baik, bahkan beberapa literatur mengatakan
kemampuan produksi telurnya dapat mencapai 250–300 butir/ekor/tahun. Namun
pada kenyataannya, menurut hasil penelitian Mahfudz dkk (2005) dari
Laboratorium Ilmu Ternak Unggas FP Undip, sekarang ini sangat sulit untuk
mendapatkan itik yang mampu bertelur diatas 150 butir/ekor/tahun.

Hal ini akibat dari sistem perkawinan yang dilakukan oleh peternak masih
secara alami, tidak adanya seleksi calon induk-pejantan unggul dan belum adanya
program pembibitan (breeding) yang baik. Sehingga lama kelamaan kualitas itik
Magelang baik secara genetik maupun fenotipe diduga menurun.

Disisi lain, sistem pemeliharaan itik secara tradisional ekstensif memiliki


banyak kekurangan. Diperlukannya lahan yang luas, itik yang diumbar berpotensi
mengganggu tanaman pertanian yang baru ditanam, membutuhkan tenaga kerja
untuk pengembalaan “sontoloyo”, serta tingginya resiko itik terkontaminasi
pestisida akibat petani yang sering menggunakannya untuk membasmi hama.
II. PEMBAHASAN

Tujuan utama dari pemeliharaan itik adalah menghasilkan telur bagi itik
betina produktif dan daging untuk itik jantan dan betina afkir. Produksi telur itik
kadang bervariasi, antara lain dipengaruhi faktor umur (masa produksi), genetik
(breeding), pakan dan sistem pemeliharaan (manajemen). Sudah saatnya sistem
pemeliharaan yang selama ini bersifat tradisional ekstensif diganti dengan semi
atau intensif.

Selain itu, ada beberapa upaya alternatif pengembangan terpadu


peternakan itik rakyat skala kecil sampai menengah yang dapat dilakukan untuk
meningkatkan produksi dan populasi itik yang ada sekarang.

1) Pertama, model penyediaan bibit itik DOD (Day old Duck). Pada model ini
yang menjadi sasaran adalah daerah sentra bibit itik agar mampu menyediakan
bibit itik yang dibutuhkan peternakan skala kecil sampai menengah secara
kontinyu. Sebagai penyedia bibit unggul, model ini memerlukan adanya sistem
seleksi induk sebagai calon tetua dan inseminasi buatan (IB) untuk sarana
perkawinan yang mampu mempercepat penyediaan bibit.
2) Kedua, model pelestarian plasma nutfah. Dalam model ini lebih diarahkan pada
pelestarian ternak itik-itik berbasis lokal asli “murni” khas daerah asal masing-
masing. Seperti itik Magelang dan itik Tegal asli yang nantinya sebagai sumber
plasma nutfah unggulan propinsi Jawa Tengah, itik Mojosari di Jawa Timur,
dan lain sebagainya.
3) Ketiga, model pengembangan sistem bagi hasil. Pada jenis model ini, peternak
itik hanya menyediakan kandang dan tenaga kerjanya saja untuk memelihara
itik dari pemilik modal. Sistem ini memerlukan kesepakatan yang saling
menguntungkan antara peternak dengan pemilik modal.
4) Keempat, model Bapak dan Anak Angkat. Para peternak yang menjadi binaan
nantinya meliputi peternak kecil dan menengah. Sedangkan sebagai bapak
angkat diharapkan adalah para pengusaha peternakan, pengusaha Poultry Shop,
BMUN, dan lain sebagainya. Bapak angkat dalam hal ini tidak hanya
memberikan bantuan dana, tetapi juga aspek manajemen pengelolaan dan
kepastian pemasaran produk peternakan itik yang dihasilkan peternak plasma
nantinya.
III. PENUTUP

1. KESIMPULAN

Model-model tersebut saling terkait dan sangat mendukung tujuan


pembangunan peternakan yakni meningkatkan produksi dan pendapatan peternak
dalam rangka mewujudkan industrilisasi peternakan rakyat. Untuk menjamin
suksesnya aplikasi model ini, perlu dilakukan penyuluhan intensif dan pembinaan
secara terus menerus sampai terciptanya kemantapan usaha. Bimbingan dan
pembinaan dapat dilakukan oleh perguruan tinggi atau instansi terkait melalui
pembentukan kelompok-kelompok Tani Ternak Itik (KTTI).

2. SARAN

Melalui upaya-upaya pengembangan terpadu ini, diharapkan para peternak


itik ini nantinya semakin termotivasi, cepat berkembang, dan mampu
meningkatkan taraf perekonomian keluarga. Dengan demikian, upaya
pengembangan itik (bebek) berbasis lokal seperti itik Tegal, itik Magelang dan
itik-itik lokal lainnya di Indonesia yang selama ini masih belum optimal bisa
segera dioptimalkan
http://www.mustang89.com/literatur/75-literatur--unggas-lainnya-selain-
ayam/416-pengembangan-ternak-itik-bebek

Bebek adalah hewan penurut, bahkan mereka bisa baris lho… Bebek mudah di
ternakkan dan dipelihara. Banyak sekali sumber daya yang bisa kita ambil dari
bebek ini, ada telurnya, dagingnya bahkan kotorannya bisa di jadikan pupuk.
Penggemar daging dan telur bebek sekarang semakin banyak, karena rasa dari
dagingnya yang sangat lezat. Telurnya pun bisa dibikin telur asin yang tak kalah
lezat dengan dagingnya. Kebutuhan akan ketersediaan daging dan telur bebek ini
sangatlah tinggi, nah inilah kesempatan Anda karena bisnis ini masih sangat
potensial untuk dijalankan.

Umumnya usaha peternakan bebek ditujukan untuk bebek petelur. Namun


peluang bebek pedaging juga bisa diambil dari bebek jantan atau bebek betina
yang sudah lewat masa produksinya. Selain itu bisa juga pebisnis mengambil
bagian pembibitan ternak bebek sebagai fokus usaha.

Namun sebelum seorang peternak memulai usahanya, harus menyiapkan diri


dengan pemahaman tentang perkandangan, bibit unggul, pakan ternak,
pengelolaan dan pemasaran hasil. Misalnya bagaimana pemeliharaan anak bebek
(5-8 minggu), pemeliharaan bebek Dara (umur 8-20 minggu ke atas) dan
pemeliharaan bebek petelur (umur 20 minggu ke atas).

Masa produksi telur yang ideal adalah selama 1 tahun. Produksi telur rata-rata
bebek lokal berkisar antara 200-300 butir per tahun dengan berat rata-rata 70
gram. Bahkan, bebek alabio memiliki produktivitas tinggi di atas 250 butir per
tahun dengan masa produksi telur hingga 68 minggu.

Pemeliharaannya tidak membutuhkan waktu yang lama, dimana hasil sudah bisa
dipetik dalam waktu 2-3 bulan. Hal tersebut disebabkan karena pertumbuhan dan
perkembangan tubuhnya relatif lebih baik daripada bebek betina. Berat badan
sampai saat dipotong tidak kurang dari 1,5 kg. Dengan memanfaatkan bebek
jantan, dalam waktu yang relatif singkat sudah dapat dicapai berat yang lebih
dibutuhkan. Pemotongan pada umur yang relatif muda, menghasilkan daging yang
lebih empuk, lebih gurih dan nilai gizinya lebih tinggi.

• Bebek Siap Telur = Rp 39.000,- S/d Rp 42.000,-


• DOD Betina = Rp 3700,-
• DOD Jantan = Rp 3200-
• Bebek Potong 1,2 kg s/d 1,3 kg = Rp 19.500,-
• Telur Tetas = Rp 1250,-
• Telur Konsumsi = Rp. 900,-

Usaha peternakan itik di Indonesia telah lama dikenal masyarakat. Agar usaha
ini dapat memberikan keuntungan yang optimal bagi pemiliknya maka perlu
diperhatikan beberapa hal yang menyangkut Manajemen pemeliharaan ternak itik,
antara lain :

1. Seleksi Bibit

Bibit itik di Indonesia dibagi dalam dua kelompok yaitu :

a. Itik Lokal

1). Itik Tegal (Tegal).

• Ciri-ciri : warna bulu putih polos sampai cokelat hitam, warna paruh dan
kaki kuning atau hitam.

2). Itik Mojosari (Mojosari Jawa Timur).

• Ciri-ciri : warna bulu cokelat muda sampai cokelat tua, warna paruh hitam
dan kaki berwarna hitam.

3). Itik Alabio (Amuntai Kalimantan Selatan).


• Ciri-ciri : badan lebih besar dibandingkan dengan itik Tegal.

4). Itik Asahan dikembangkan di Tanjung Balai, Sumatera Utara.

b. Itik Persilangan

2. Pakan

a. Jenis Pakan : jagung, dedak padi, bungkil kedelai, bungkil kelapa, dll.

b. Pemberian Pakan :

• Umur 1 – 2 minggu 60 gr/ekor/hari.


• Umur 3 – 4 minggu 80 gr/ekor/hari.
• Umur 5 – 9 minggu 100 gr/ekor/hari.
• Umur 10 minggu 150-180gr/ekor/hari.

3. Perkandangan

a. Lokasi Kandang

• Jauh dari keramaian.


• Ada atau dekat dengan sumber air.
• Tidak terlalu dekat dengan rumah.
• Mudah dalam pengawasan.

b. Bahan kandang bisa terbuat dari kerangka kayu atau bambu, atap genteng dan
lantainya pasir atau kapur.

c. Daya tampung untuk 100 ekor itik :

• Umur 1 hari – 2 minggu 1 -2 m.


• Umur 1 – 2 minggu 2 – 4 m.
• Umur 2 – 4 minggu 4 – 6 m.
• Umur 4 – 6 minggu 6 – 8 m.
• Umur 6 – 8 minggu 8 – 10 m.

Itik dara sampai umur 6 bulan 5 – 10 ekor/m.

4. Tatalaksana Pemeliharaan

a. Secara ekstensif yaitu pemeliharaan yang berpindah-pindah.

b. Secara intensif yaitu secara terus-menerus dikandangkan seperti ayam ras.

c. Secara semi intensif yaitu dipelihara di kandang yanga ada halaman berpagar.

Perbandingan jantan dan betina (sex ratio) adalah 1 : 10 dan dipilih ternak itik
yang berproduksi tinggi.

5. Kesehatan

a. Penyakit Berak Kapur.

Penyebab : Bakteri Salmonella Pullorum. Tanda-tanda : Berak putih, lengket


seperti pasta.

Pencegahan: Kebersihan kandang, makanan, minuman, vaksinasi, dan itik yang


sakit dipisahkan.

b. Penyakit Cacing.

Penyebab : Berbagai jenis cacing.

Tanda-tanda : Nafsu makan kurang, kadang-kadang mencret, bulu kusam, kurus,


dan produksi telur menurun. Pencegahan: Kandang harus bersih, kering tidak
lembab, makanan dan minuman harus bersih dan sanitasi kandang.

c. Lumpuh.

Penyebab : Kekurangan vitamin B.


Tanda-tanda : Kaki bengkak dibagian persendian, jalan pincang dan lumpuh,
kelihatan ngantuk, kadang-kadang keluar air mata berlebihan.

Pencegahan : Pemberian sayuran / hijauan dalam bentuk segar setiap hari.

6. Pasca Panen

a. Telur itik dapat diolah menjadi telur asin, telur pindang, dll.

b. Bebek dapat diolah menjadi bebek panggang dll

c. Bulu dapat diolah menjadi kerajinan tangan

d. Tinja/kotoran itik dapat menjadi pupuk.

Sumber: http://peternakandody.blogspot.com/2008/05/peluang-beternak-itik.html

Dinas Peternakan Prop. Lampung

Sumber gambar :
http://www.deptan.go.id/daerah_new/jambi/tanjung_timur/gambar/Peternakan/Bebek1.jpg