Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PENDAHULUAN LANSIA DENGAN HIPERTENSI

A. Konsep Teori Lansia


1. Definisi Lansia
Usia lanjut dikatakan sebagai tahap akhir perkembangan pada daur
kehidupan manusia. Sedangkan menurut Pasal 1 ayat (2), (3), (4) UU No. 13
Tahun 1998 tentang kesehatan dikatakan bahwa usia lanjut adalah seseorang
yang telah mencapai usia lebih dari 60 tahun. Menurut organisasi kesehatan
dunia (WHO), lanjut usia meliputi :
a. Usia pertengahan (middle age) ialah kelompok usia 45 sampai 59 tahun.
b. Lanjut usia (elderly) antara 60 – 74 tahun.
c. Lanjut usia tua (old) antara 75 – 90 tahun.
d. Usia sangat tua (very old) di atas 90 tahun.

2. Proses Menua
Pada hakekatnya menjadi tua merupakan proses alamiah yang berarti
seseorang telah melalui tiga tahap kehidupannya yaitu masa anak, masa
dewasa dan masa tua. Tiga tahap ini berbeda baik secara biologis maupun
psikologis. Memasuki masa tua berarti mengalami kemuduran secara fisik
maupun psikis. Kemunduran fisik ditandai dengan kulit yang mengendor,
rambut memutih, penurunan pendengaran, penglihatan memburuk, gerakan
lambat, kelainan berbagai fungsi organ vital, sensitivitas emosional
meningkat dan kurang gairah.
Meskipun secara alamiah terjadi penurunan fungsi berbagai organ,
tetapi tidak harus menimbulkan penyakit oleh karenanya usia lanjut harus
sehat. Sehat dalam hal ini diartikan :
a. Bebas dari penyakit fisik, mental dan sosial.
b. Mampu melakukan aktivitas untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
c. Mendapat dukungan secara sosial dari keluarga dan masyarakat.
Akibat perkembangan usia, lanjut usia mengalami perubahan-
perubahan yang menuntut dirinya untuk menyesuakan diri secara terus-

1
menerus. Apabila proses penyesuaian diri dengan lingkungannya kurang
berhasil maka timbullah berbagai masalah, masalah-masalah yang menyertai
lansia, yaitu :
a. Ketidakberdayaan fisik yang menyebabkan ketergantungan pada orang
lain.
b. Ketidakpastian ekonomi sehingga memerlukan perubahan total dalam
pola hidupnya.
c. Membuat teman baru untuk mendapatkan ganti mereka yang telah
meninggal atau pindah.
d. Mengembangkan aktifitas baru untuk mengisi waktu luang yang
bertambah banyak.
e. Belajar memperlakukan anak-anak yang telah tumbuh dewasa.
Berkaitan dengan perubahan fisik, perubahan fisik yang mendasar
adalah perubahan gerak.
Lanjut usia juga mengalami perubahan dalam minat. Pertama minat
terhadap diri makin bertambah. Kedua minat terhadap penampilan semakin
berkurang. Ketiga minat terhadap uang semakin meningkat, terakhir minta
terhadap kegiatan-kegiatan rekreasi tak berubah hanya cenderung
menyempit. Untuk itu diperlukan motivasi yang tinggi pada diri usia lanjut
untuk selalu menjaga kebugaran fisiknya agar tetap sehat secara fisik.
Motivasi tersebut diperlukan untuk melakukan latihan fisik secara benar dan
teratur untuk meningkatkan kebugaran fisiknya.
Berkaitan dengan perubahan yang dialami oleh setiap orang akan
mempengaruhi minatnya terhadap perubahan tersebut dan akhirnya
mempengaruhi pola hidupnya. Bagaimana sikap yang ditunjukkan apakah
memuaskan atau tidak memuaskan, hal ini tergantung dari pengaruh
perubahan terhadap peran dan pengalaman pribadinya. Perubahan yang
diminati oleh para lanjut usia adalah perubahan yang berkaitan dengan
masalah peningkatan kesehatan, ekonomi atau pendapatan dan peran sosial.
Dalam menghadapi perubahan tersebut diperlukan penyesuaian, ciri-ciri
penyesuaian yang tidak baik dari lansia, adalah :

2
a. Minat sempit terhadap kejadian di lingkungannya.
b. Penarikan diri ke dalam dunia fantasi.
c. Selalu mengingat kembali masa lalu.
d. Selalu khawatir karena pengangguran.
e. Kurang ada motivasi.
f. Rasa kesendirian karena hubungan dengan keluarga kurang baik.
g. Tempat tinggal yang tidak diinginkan.
Di lain pihak ciri penyesuaian diri lanjut usia yang baik antara lain
adalah: minat yang kuat, ketidaktergantungan secara ekonomi, kontak sosial
luas, menikmati kerja dan hasil kerja, menikmati kegiatan yang dilakukan
saat ini dan memiliki kekhawatiran minimal trehadap diri dan orang lain.

3. Teori Proses Menua


a. Teori-teori Biologi
1) Teori genetik dan mutasi (somatic mutatie theory)
Menurut teori ini menua telah terprogram secara genetik untuk
spesies-spesies tertentu. Menua terjadi sebagai akibat dari
perubahan biokimia yang diprogram oleh molekul-molekul / DNA
dan setiap sel pada saatnya akan mengalami mutasi. Sebagai contoh
yang khas adalah mutasi dari sel-sel kelamin (terjadi penurunan
kemampuan fungsional sel).
2) Teori “immunology slow virus” (immunology slow virus theory)
Sistem imune menjadi efektif dengan bertambahnya usia dan
masuknya virus kedalam tubuh dapat menyebabkab kerusakan
organ tubuh.
3) Teori stress
Menua terjadi akibat hilangnya sel-sel yang biasa digunakan tubuh.
Regenerasi jaringan tidak dapat mempertahankan kestabilan
lingkungan internal, kelebihan usaha dan stres menyebabkan sel-sel
tubuh lelah terpakai.

3
4) Teori radikal bebas
Radikal bebas dapat terbentuk dialam bebas, tidak stabilnya radikal
bebas (kelompok atom) mengakibatkan oksidasi oksigen bahan-
bahan organik seperti karbohidrat dan protein. Radikal bebas ini
dapat menyebabkan sel-sel tidak dapat regenerasi.
5) Teori rantai silang
Sel-sel yang tua atau usang, reaksi kimianya menyebabkan ikatan
yang kuat, khususnya jaringan kolagen. Ikatan ini menyebabkan
kurangnya elastis, kekacauan dan hilangnya fungsi.
6) Teori program
Kemampuan organisme untuk menetapkan jumlah sel yang
membelah setelah sel-sel tersebut mati.
b. Teori Kejiwaan Sosial
1) Aktivitas atau kegiatan (activity theory)
Ketentuan akan meningkatnya pada penurunan jumlah kegiatan
secara langsung. Teori ini menyatakan bahwa usia lanjut yang
sukses adalah mereka yang aktif dan ikut banyak dalam kegiatan
sosial. Ukuran optimum (pola hidup) dilanjutkan pada cara hidup
dari lanjut usia. Mempertahankan hubungan antara sistem sosial
dan individu agar tetap stabil dari usia pertengahan ke lanjut usia.
2) Kepribadian berlanjut (continuity theory)
Dasar kepribadian atau tingkah laku tidak berubah pada lanjut usia.
Teori ini merupakan gabungan dari teori diatas. Pada teori ini
menyatakan bahwa perubahan yang terjadi pada seseorang yang
lanjut usia sangat dipengaruhi oleh tipe personality yang dimiliki.
3) Teori pembebasan (disengagement theory)
Teori ini menyatakan bahwa dengan bertambahnya usia, seseorang
secara berangsur-angsur mulai melepaskan diri dari kehidupan
sosialnya. Keadaan ini mengakibatkan interaksi sosial lanjut usia
menurun, baik secara kualitas maupun kuantitas sehingga sering
terjadi kehilangan ganda (triple loss), yakni :

4
a) Kehilangan peran.
b) Hambatan kontak sosial.
c) Berkurangnya kontak komitmen.

4. Permasalahan yang terjadi pada lansia


Berbagai permasalahan yang berkaitan dengan pencapaian
kesejahteraan lanjut usia, antara lain :
a. Permasalahan umum
1) Makin besar jumlah lansia yang berada dibawah garis kemiskinan.
2) Makin melemahnya nilai kekerabatan sehingga anggota keluarga
yang berusia lanjut kurang diperhatikan, dihargai dan dihormati.
3) Lahirnya kelompok masyarakat industri.
4) Masih rendahnya kuantitas dan kualitas tenaga profesional
pelayanan lanjut usia.
5) Belum membudaya dan melembaganya kegiatan pembinaan
kesejahteraan lansia.
b. Permasalahan khusus
1) Berlangsungnya proses menua yang berakibat timbulnya masalah
baik fisik, mental maupun sosial.
2) Berkurangnya integrasi sosial lanjut usia.
3) Rendahnya produktifitas kerja lansia.
4) Banyaknya lansia yang miskin, terlantar dan cacat.
5) Berubahnya nilai sosial masyarakat yang mengarah pada tatanan
masyarakat individualistik.
6) Adanya dampak negatif dari proses pembangunan yang dapat
mengganggu kesehatan fisik lansia.

5. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Proses Menua


a. Hereditas atau ketuaan genetik.
b. Nutrisi atau makanan.
c. Status kesehatan.

5
d. Pengalaman hidup.
e. Lingkungan.
f. Stres.

6. Perubahan-perubahan yang terjadi pada Lansia


a. Perubahan fisik
Meliputi perubahan dari tingkat sel sampai kesemua sistim organ tubuh,
diantaranya sistem pernafasan, pendengaran, penglihatan,
kardiovaskuler, sistem pengaturan tubuh, muskuloskeletal,
gastrointestinal, genitourinaria, endokrin dan integumen.
b. Perubahan mental
Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan mental :
1) Pertama-tama perubahan fisik, khususnya organ perasa.
2) Kesehatan umum.
3) Tingkat pendidikan.
4) Keturunan (hereditas).
5) Lingkungan.
6) Gangguan syaraf panca indera, timbul kebutaan dan ketulian.
7) Gangguan konsep diri akibat kehilangan kehilangan jabatan.
8) Rangkaian dari kehilangan, yaitu kehilangan hubungan dengan
teman dan keluarga.
9) Hilangnya kekuatan dan ketegapan fisik, perubahan terhadap
gambaran diri, perubahan konsep diri.
c. Perubahan spiritual
Agama atau kepercayaan makin terintegrasi dalam kehidupannya.
Lansia makin matur dalam kehidupan keagamaanya, hal ini terlihat
dalam berfikir dan bertindak dalam sehari-hari.

7. Penyakit yang sering diderita Lansia


Menurut The National Old People’s Welfare Council, dikemukakan 12
macam penyakit lansia, yaitu :

6
a. Depresi mental.
b. Gangguan pendengaran.
c. Bronkhitis kronis.
d. Gangguan pada tungkai atau sikap berjalan.
e. Gangguan pada koksa atau sendi pangul atau anemia.
f. Demensia.

B. Konsep Hipertensi Pada Lansia


1. Definisi Hipertensi
Hipertensi menurut Manjoer dkk (2010) hipertensi adalah tekanan
sistolik di atas 140 mmHg dan tekanan darah diastolic di atas 90 mmHg atau
bila pasien memakai obat anti hipertensi. Pada populasi lansia hipertensi
didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160 mmHg dan tekanan diastolic 90
mmHg (Rohaendi, 2008). Menurut WHO tekanan darah sama dengan atau
diatas 160/95 mmHg dinyatakan sebagai hipertensi.

2. Klasifikasi
a. Klasifikasi Hipertensi menurut WHO
Kategori Sistol (mmHg) Diastol (mmHg)
Optimal < 120 < 80
Normal < 130 < 85
Tingkat 1 140-159 90-99
(Hipertensi Ringan)
Sub grup : perbatasan 140-149 90-94
Tingkat 2 160-179 100-109
(Hipertensi Sedang)
Tingkat 3 ≥ 180 ≥ 110
(Hipertensi Berat)
Hipertensi sistol terisolasi ≥ 140 < 90
Sub grup : perbatasan 140-149 < 90

7
b. Klasifikasi Hipertensi menurut Joint National Committee 7
Kategori Sistol (mmHg) Dan/atau Diastole (mmHg)
Normal <120 Dan <80
Pre hipertensi 120-139 Atau 80-89
Hipertensi tahap 1 140-159 Atau 90-99
Hipertensi tahap 2 ≥ 160 Atau ≥ 100

c. Klasifikasi Hipertensi Hasil Konsesus Perhimpunan Hipertensi


Indonesia
Kategori Sistol (mmHg) Dan/atau Diastole (mmHg)
Normal <120 Dan <80
Pre hipertensi 120-139 Atau 80-89
Hipertensi tahap 1 140-159 Atau 90-99
Hipertensi tahap 2 ≥ 160 Atau ≥ 100
Hipertensi sistol ≥ 140 Dan < 90
terisolasi

3. Etiologi
Penyebab hipertensi pada orang dengan lanjut usia adalah terjadinya
perubahan-perubahan pada :
a. Elastisitas dinding aorta menurun.
b. Katub jantung menebal dan menjadi kaku.
c. Kemampuan jantung memompa darah menurun 1% setiap tahun
sesudah berumur 20 tahun kemampuan jantung memompa darah
menurun menyebabkan menurunnya kontraksi dan volumenya.
d. Kehilangan elastisitas pembuluh darah, hal ini terjadi karena kurangnya
efektifitas pembuluh darah perifer untuk oksigenasi.
e. Meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer.
Meskipun hipertensi primer belum diketahui dengan pasti penyebabnya,
data-data penelitian telah menemukan beberapa faktor yang sering
menyebabkan terjadinya hipertensi. Faktor tersebut adalah sebagai berikut :

8
a. Faktor keturunan
Dari data statistik terbukti bahwa seseorang akan memiliki
kemungkinan lebih besar untuk mendapatkan hipertensi jika orang
tuanya adalah penderita hipertensi.
b. Ciri perseorangan
Ciri perseorangan yang mempengaruhi timbulnya hipertensi adalah:
1) Umur (jika umur bertambah maka tekanan darah meningkat).
2) Jenis kelamin (laki-laki lebih tinggi dari perempuan).
3) Ras (ras kulit hitam lebih banyak dari kulit putih).
4) Kebiasaan hidup.
c. Kebiasaan hidup yang sering menyebabkan timbulnya hipertensi
adalah:
1) Konsumsi garam yang tinggi (melebihi dari 30 gr).
2) Kegemukan atau makan berlebihan.
3) Stress.
4) Merokok.
5) Minum alkohol.
6) Minum obat-obatan (ephedrine, prednison, epineprin).
Sedangkan penyebab hipertensi sekunder adalah penyakit-penyakit
seperti ginjal, glomerulonefritis, pielonefritis, nekrosis tubular akut, tumor,
vascular, aterosklerosis, hiperplasia, trombosis, aneurisma, emboli kolestrol,
vaskulitis, kelainan endokrin, dm, hipertiroidisme, hipotiroidisme, saraf,
stroke, ensepalitis. Selain itu dapat juga diakibatkan karena obat-obatan
kontrasepsi oral kortikosteroid.

4. Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala pada hipertensi dibedakan menjadi :
a. Tidak ada gejala
Tidak ada gejala yang spesifik yang dapat dihubungkan dengan
peningkatan tekanan darah, selain penentuan tekanan arteri oleh dokter

9
yang memeriksa. Hal ini berarti hipertensi arterial tidak akan pernah
terdiagnosa jika tekanan arteri tidak terukur.
b. Gejala yang lazim
Sering dikatakan bahwa gejala terlazim yang menyertai hipertensi
meliputi nyeri kepala dan kelelahan. Dalam kenyataannya ini
merupakan gejala terlazim yang mengenai kebanyakan pasien yang
mencari pertolongan medis, manifestasi klinis beberapa pasien yang
menderita hipertensi yaitu: mengeluh sakit kepala, pusing lemas,
kelelahan, sesak nafas, gelisah, mual muntah, epistaksis, kesadaran
menurun.

5. Komplikasi
a. Stroke.
b. Penyakit pembuluh darah perifer.
c. Disfungsi seksual.
d. Kerusakan pada ginjal.
e. Kerusakan pada jantung.
f. Kerusakan pada mata.
g. Kerusakan pada otak.
h. Kerusakan pada pembuluh darah arteri.

6. Patofisiologi
Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah
terletak dipusat vasomotor, pada medulla diotak. Dari pusat vasomotor ini
bermula jaras saraf simpatis, yang berlanjut ke bawah ke korda spinalis dan
keluar dari kolumna medulla spinalis ganglia simpatis di toraks dan
abdomen. Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls
yang bergerak ke bawah melalui sistem saraf simpatis ke ganglia simpatis.
Pada titik ini, neuron preganglion melepaskan asetilkolin, yang akan
merangsang serabut saraf pasca ganglion ke pembuluh darah, dimana
dengan dilepaskannya norepineprin mengakibatkan konstriksi pembuluh

10
darah. Berbagai faktor seperti kecemasan dan ketakutan dapat
mempengaruhi respon pembuluh darah terhadap rangsang vasokonstriksi.
Individu dengan hipertensi sangat sensitive terhadap norepinefrin, meskipun
tidak diketahui dengan jelas mengapa hal tersebut bisa terjadi.
Pada saat bersamaan dimana sistem saraf simpatis merangsang
pembuluh darah sebagai respons rangsang emosi, kelenjar adrenal juga
terangsang, mengakibatkan tambahan aktivitas vasokonstriksi. Medulla
adrenal mensekresi epinefrin, yang menyebabkan vasokonstriksi. Korteks
adrenal mensekresi kortisol dan steroid lainnya, yang dapat memperkuat
respons vasokonstriktor pembuluh darah. Vasokonstriksi yang
mengakibatkan penurunan aliran ke ginjal, menyebabkan pelepasan renin.
Renin merangsang pembentukan angiotensin I yang kemudian diubah
menjadi angiotensin II, suatu vasokonstriktor kuat, yang pada gilirannya
merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal. Hormon ini
menyebabkan retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal, menyebabkan
peningkatan volume intravaskuler. Semua faktor ini cenderung mencetuskan
keadaan hipertensi.
Sebagai pertimbangan gerontologis dimana terjadi perubahan struktural
dan fungsional pada sistem pembuluh perifer bertanggungjawab pada
perubahan tekanan darah yang terjadi pada usia lanjut. Perubahan tersebut
meliputi aterosklerosis, hilangnya elastisitas jaringan ikat dan penurunan
dalam relaksasi otot polos pembuluh darah, yang pada gilirannya
menurunkan kemampuan distensi dan daya regang pembuluh darah.
Konsekuensinya, aorta dan arteri besar berkurang kemampuannya dalam
mengakomodasi volume darah yang dipompa oleh jantung (volume
sekuncup) mengakibatkan penurunan curang jantung dan peningkatan
tahanan perifer.
Pada usia lanjut perlu diperhatikan kemungkinan adanya “hipertensi
palsu” disebabkan kekakuan arteri brachialis sehingga tidak dikompresi oleh
cuff sphygmomanometer.

11
Pathway

12
7. Pemeriksaan Penunjang
a. Hemoglobin / Hematokrit
Untuk mengkaji hubungan dari sel-sel terhadap volume cairan
(viskositas), dan dapat mengindikasikan faktor-faktor resiko seperti
hiperkoagulabilitas, anemia.
b. BUN
Memberikan informasi tentang perfusi ginjal glukosa hiperglikemi
(diabetes mellitus adalah pencetus hipertensi) dapat diakibatkan oleh
peningkatan katekolamin (meningkatkan hipertensi).
c. Kalium serum
Hipokalemia dapat mengindikasikan adanya aldosteron utama
(penyebab) atau menjadi efek samping terapi diuretik.
d. Kalsium serum
Peningkatan kadar kalsium serum dapat menyebabkan hipertensi.
e. Kolesterol dan trigliserid serum
Peningkatan kadar dapat mengindikasikan pencetus untuk atau adanya
pembentukan plak ateromatosa (efek kardiovaskuler).
f. Pemeriksaan tiroid
Hipertiroidisme dapat menimbulkan vasokonstriksi dan hipertensi.
g. Kadar aldosteron urin/serum
Untuk mengkaji aldosteronisme primer (penyebab).
h. Urinalisa
Darah, protein, glukosa mengisyaratkan disfungsi ginjal dan atau
adanya diabetes.
i. Asam urat
Hiperurisemia telah menjadi implikasi faktor resiko hipertensi.
j. Steroid urin
Kenaikan dapat mengindikasikan hiperadrenalisme.
k. Foto dada
Menunjukkan obstruksi klasifikasi pada area katub, perbesaran jantung.

13
l. CT scan
Untuk mengkaji tumor serebral, ensefalopati.
m. EKG
Dapat menunjukkan pembesaran jantung, pola regangan, gangguan
konduksi, peninggian gelombang P adalah salah satu tanda dini
penyakit jantung hipertensi.

8. Penatalaksanaan Keperawatan dan Medis


Pengelolaan hipertensi bertujuan untuk mencegah morbiditas dan
mortalitas akibat komplikasi kardiovaskuler yang berhubungan dengan
pencapaian dan pemeliharaan tekanan darah dibawah 140/90 mmHg.
Prinsip pengelolaan penyakit hipertensi meliputi :
a. Terapi tanpa Obat
Terapi tanpa obat digunakan sebagai tindakan untuk hipertensi ringan
dan sebagai tindakan suportif pada hipertensi sedang dan berat. Terapi
tanpa obat ini meliputi :
1) Diet
Diet yang dianjurkan untuk penderita hipertensi adalah :
a) Restriksi garam secara moderat dari 10 gr/hr menjadi 5 gr/hari.
b) Diet rendah kolesterol dan rendah asam lemak jenuh.
c) Penurunan berat badan.
d) Penurunan asupan etanol.
e) Menghentikan merokok.
2) Latihan Fisik
Latihan fisik atau olah raga yang teratur dan terarah yang
dianjurkan untuk penderita hipertensi adalah olah raga yang
mempunyai empat prinsip yaitu: macam olah raga yaitu isotonis
dan dinamis seperti lari, jogging, bersepeda, berenang dan lain-lain.
Intensitas olah raga yang baik antara 60-80% dari kapasitas aerobik
atau 72-87% dari denyut nadi maksimal yang disebut zona latihan.
Lamanya latihan berkisar antara 20-25 menit berada dalam zona

14
latihan frekuensi latihan sebaiknya 3 kali perminggu dan paling
baik 5 kali perminggu.
3) Edukasi Psikologis
Pemberian edukasi psikologis untuk penderita hipertensi meliputi :
a) Tehnik biofeedback
Biofeedback adalah suatu tehnik yang dipakai untuk
menunjukkan pada subyek tanda-tanda mengenai keadaan tubuh
yang secara sadar oleh subyek dianggap tidak normal.
Penerapan biofeedback terutama dipakai untuk mengatasi
gangguan somatik seperti nyeri kepala dan migrain, juga untuk
gangguan psikologis seperti kecemasan dan ketegangan.
b) Tehnik relaksasi
Relaksasi adalah suatu prosedur atau tehnik yang bertujuan
untuk mengurangi ketegangan atau kecemasan, dengan cara
melatih penderita untuk dapat belajar membuat otot-otot dalam
tubuh menjadi rileks.
c) Pendidikan kesehatan (Penyuluhan)
Tujuan pendidikan kesehatan yaitu untuk meningkatkan
pengetahuan pasien tentang penyakit hipertensi dan
pengelolaannya sehingga pasien dapat mempertahankan
hidupnya dan mencegah komplikasi lebih lanjut.
b. Terapi dengan Obat
Tujuan pengobatan hipertensi tidak hanya menurunkan tekanan
darah saja tetapi juga mengurangi dan mencegah komplikasi akibat
hipertensi agar penderita dapat bertambah kuat. Pengobatan hipertensi
umumnya perlu dilakukan seumur hidup penderita. Pengobatan standar
yang dianjurkan oleh Komite Dokter Ahli Hipertensi (Joint National
Committee On Detection, Evaluation And Treatment Of High Blood
Pressure, USA, 1988) menyimpulkan bahwa obat diuretika, penyekat
beta, antagonis kalsium, atau penghambat ACE dapat digunakan

15
sebagai obat tunggal pertama dengan memperhatikan keadaan penderita
dan penyakit lain yang ada pada penderita.
Pengobatannya meliputi :
1) Step 1
Obat pilihan pertama : diuretika, beta blocker, Ca antagonis, ACE
inhibitor.
2) Step 2
Alternatif yang bisa diberikan :
Dosis obat pertama dinaikkan diganti jenis lain dari obat pilihan
pertama, ditambah obat ke-2 jenis lain, dapat berupa diuretika, beta
blocker, Ca antagonis, alpa blocker, clonidin, reserphin,
vasodilator.
3) Step 3
Alternatif yang bisa ditempuh obat ke-2 diganti ditambah obat ke-3
jenis lain.
4) Step 4
Alternatif pemberian obatnya ditambah obat ke-3 dan ke-4. Re-
evaluasi dan konsultasi, follow up untuk mempertahankan terapi.
Untuk mempertahankan terapi jangka panjang memerlukan
interaksi dan komunikasi yang baik antara pasien dan petugas
kesehatan (perawat, dokter) dengan cara pemberian pendidikan
kesehatan.

C. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan


1. Pengkajian
a. Identitas
Hal-hal yang perlu dikaji pada bagian ini yaitu antara lain: nama, umur,
jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, agama, status mental, suku,
keluarga/orang terdekat, alamat, nomor registrasi.
b. Alasan berada di Panti

16
c. Dimensi Biomedik
1) Riwayat Penyakit (6 bulan terakhir)
2) Riwayat Penyakit Keluarga
3) Riwayat Penyakit Dahulu
4) Riwayat Pencegahan Kesehatan
5) Riwayat Gizi
6) Masalah Kesehatan terkait dengan status Gizi
7) Masalah Kesehatan yang dialami saat ini
8) Obat-obatan yang dikonsumsi
9) Tindakan spesifik yang dilakukan saat ini
10) Status Fungsional
11) Pemenuhan Kebutuhan sehari-hari
d. Dimensi Psikologis
e. Dimensi Fisik
f. Dimensi Sosial
g. Dimensi Tingkah Laku
h. Dimensi Pelayanan Kesehatan
i. Pemeriksaan Fisik

2. Diagnosa Keperawatan
a. Nyeri berhubungan dengan peningkatan tekanan vascular cerebral.
b. Curah jantung, resiko tinggi terhadap hipertensi berhubungan dengan
peningkatan afterload, vasokontriksi.
c. Nutrisi, perubahan lebih dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
kebutuhan metabolik.
d. Koping individu tidak efektif berhubungan dengan sistem pendukung
yang tidak adekuat.
e. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum.
f. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi atau
keterbatasan kognitif.

17
3. Perencanaan Keperawatan
a. Dx 1 : Nyeri berhubungan dengan peningkatan tekanan vascular
cerebral.
1. Intervensi : Mempertahankan tirah baring selama fase akut.
Rasional : Meminimalkan stimulasi/meningkatkan relaksasi
2. Intervensi : Berikan tindakan non farmakologi untuk menghilangkan
sakit kepala, misalnya kompres dingin pada dahi, pijat punggung dan
leher, tenang, redupkan lampu kamar, tekhnik relaksasi.
Rasional : Tindakan yang menurunkan tekanan vascular serebral
dan yang memperlambat atau memblok respons simpatis efektif
dalam menghilangkan sakit kepala dan komplikasinya
3. Intervensi : Hilangkan atau minimalkan aktivitas fase kontriksi yang
dapat meningkatkan sakit kepala, misalnya mengejan saat BAB,
batuk panjang, membungkuk.
Rasional : Aktivitas yang meningkatkan vasokontriksi menyebabkan
sakit kepala pada adanya peningkatan tekanan vascular cerebral

b. Dx 2 : Curah jantung, resiko tinggi terhadap hipertensi


berhubungan dengan peningkatan afterload, vasokontriksi.
1. Intervensi: Pantau tekanan darah, ukur pada kedua tangan atau paha
untuk evaluasi awal gunakan ukuran manset yang tepat dan teknik
yang akurat.
Rasional : Perbandingan dari tekanan memberikan gambaran yang
lebih lengkap tentang keterlibatan/bidang masalah vascular.
Hipertensi berat diklasifikasikan pada orang dewasa sebagai
peningkatan tekanan diastolic sampai 130, hasil pengukuran
diastolic diatas 130 dipertimbangkan sebagai peningkatan pertama,
kemudian maligna. Hipertensi sistolik juga merupakan faktor resiko
yang di tentukan untuk penyakit cerebrovaskular dan penyakit
iskemi jantung bila tekanan diastolic 90-115.

18
c. Dx 3 : Nutrisi, perubahan lebih dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan kebutuhan metabolik.
1. Intervensi : Kaji pemahaman pasien tentang hubungan langsung
antara hipertensi dan kegemukan.
Rasional : Kegemukan adalah resiko tambahan pada tekanan darah
tinggi karena disproporsi antara kapasitas aorta dan peningkatan
curah jantung berkaitan dengan peningkatan masa tubuh.
2. Intervensi : Bicarakan pentingnya menurunkan masukan kalori dan
membatasi masukan lemak, garam, dan sesuai indikasi.
Rasional : Kesalahan kebiasaan makan menunjang terjadinya
ateroskelorosis dan kegemukan yang merupakan predesposisi untuk
hipertensi dan komplikasinya misalnya stroke, penyakit ginjal, gagal
jantung. Kelebihan memasukkan garam memperbanyak volume
cairan intravascular dan dapat merusak ginjal yang lebih
memperburuk hipertensi.

d. Dx 4 : Koping individu tidak efektif berhubungan dengan sistem


pendukung yang tidak adekuat.
1. Intervensi : Kaji keefektifan strategi koping dengan mengobservasi
perilaku, misalnya kemampuan menyatakan perasaan dan perhatian,
keinginan berpartisipasi dalam rencana pengobatan.
Rasional : Mekanisme adaptif perlu untuk mengubah pola hidup
seseorang, mengatasi hipertensi kronik dan mengintegrasikan terapi
yang diharuskan ke dalam kehidupan sehari-hari
2. Intervensi : Bantu pasien untuk mengidentifikasi stressor spesifik
dan kemungkinan strategi untuk mengatasinya.
Rasional : Pengenalan terhadap stressor adalah langkah pertama
dalam mengubah respons seseorang terhadap stressor
3. Intervensi : Libatkan pasien dalam perencanaan perawatan dan beri
dorongan partisipasi maksimum dalam rencana pengobatan.

19
Rasional : Keterlibatan memberikan pasien perasaan control diri
yang berkelanjutan, memperbaiki keterampilan koping, dan dapat
meningkatkan kerja sama dalam regimen terapeutik
4. Intervensi : Catat laporan gangguan tidur, peningkatan keletihan,
kerusakan konsentrasi, peka rangsang, penurunan toleransi sakit
kepala ketidakmampuan untuk mengatasi/menyelesaikan masalah.
Rasional : Manifestasi mekanisme koping maladaptive mungkin
merupakan indikator marah yang ditekan dan diketahui telah
menjadi penentu utama tekanan darah diastolik

e. Dx 5 : Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum.


1. Intervensi : Kaji respon pasien terhadap aktivitas, perhatikan
frequency nadi lebih dari 20 kali per menit diatas frequency istirahat:
peningkatan tekan darah yang nyata selama atau sesudah aktivitas
(tekanan sistolik meningkat 40 mmHg atau tekanan diastolik
meningkat 20 mmHg) dispnea atau nyeri dada: kelemahan dan
keletihan yang berlebihan: pusing atau pingsan.
Rasional : Menyebutkan parameter membantu dalam mengkaji
respon fisiologi terhadap stress, aktivitas bila ada merupakan
indikator dari kelebihan kerja yang berkaitan dengan tingkat
aktivitas.
2. Intervensi : Instruksikan pasien tentang teknik penghematan energi,
misalnya menggunakan kursi saat mandi, duduk saat menyisir
rambut atau menyikat gigi, melakukan aktivitas dengan perlahan.
Rasional : Teknik memghemat energi mengurangi penggunaan
energi, juga membantu keseimbangan antara suplai dan kebutuhan
oksigen.

20
f. Dx 6 : Kurang pengetahuan berhubungnya dengan kurang informasi
atau keterbatasan kognitif.
1. Intervensi : Kaji kesiapan dan hambatan dalam belajar, termasuk
orang terdekat.
Rasional : Kesalahan konsep dan menyangkal diagnosa karena
perasaan sejahtera yang sudah lama dinikmati mempengaruhi minat
pasien/orang terdekat untuk mempelajari penyakit, kemajuan, dan
prognosis. Bila pasien tidak menerima realitas bahwa membutuhkan
pengobatan kontinue, maka perubahan perilaku tidak akan
dipertahankan
2. Intervensi : Tetapkan dan nyatakan batas tekanan darah normal.
Jelaskan tentang hipertensi dan efeknya pada jantung, pembuluh
darah, ginjal dan otak.
Rasional : Memberikan dasar untuk pemahaman tentang
peningkatan tekanan darah dan mengklarifikasi istilah medis yang
sering digunakan. Pemahaman bahwa tekanan darah tinggi dapat
terjadi tanpa gejala adalah ini untuk memungkinkan pasien
melanjutkan pengobatan meskipun ketika merasa sehat
3. Intervensi : Hindari mengatakan tekanan darah “normal” dan
gunakan istilah “terkontrol dengan baik” saat menggambarkan
tekanan darah pasien dalam batas yang diinginkan.
Rasional : Karena pengobatan untuk hipertensi adalah sepanjang
kehidupan, maka dengan penyampaian ide “terkontrol” akan
membantu pasien untuk memahami kebutuhan untuk melanjutkan
pengobatan/medikasi
4. Intervensi : Bantu pasien dalam mengidentifikasi faktor-faktor risiko
kardiovaskular yang dapat diubah misalnya obesitas, diet tinggi
lemak jenuh, dan kolesterol, pola hidup monoton, merokok, dan
minum alkohol (lebih dari 60cc/hari dengan teratur), pola hidup
penuh stress.

21
Rasional : Faktor-faktor resiko ini telah menunjukkan hubungan
dalam menunjang hipertensi dan penyakit kardiovaskular serta
ginjal

5. Evaluasi Keperawatan
a. Pasien melaporkan nyeri atau ketidaknyamanan hilang atau terkontrol.
b. Pasien berpartisipasi dalam aktivitas yang menurunkan tekanan darah
atau beban kerja jantung.
c. Menunjukkan perubahan pola makan (misalnya pilihan makan,
kuantitas, dan sebagainya), mempertahankan berat badan yang
diinginkan dengan pemeliharaan kesehatan optimal.
d. Mengidentifikasi perilaku koping efektif dan konsekuensinya.
e. Pasien berpartisupasi dalam aktivitas yang diinginkan atau diperlukan.
f. Pasien menyatakan pemahaman tentang proses penyakit dan regimen
pengobatan.

22
DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth. 2008. Buku Ajar : Keperawatan Medikal Bedah Vol 2. Jakarta:
EGC.

Dep Kes RI. 2010. Diet Rendah garam, Pozi Pusat Dep Kes RI, Jakarta.

Huda, Amin Nurarif. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa


Medis & NANDA NIC-NOC. Yogyakarta: Mediaction.

Mansjoer Arief. 2010. Kapita Selekta Kedokteran, edisi 4. Jakarta: Media


Aesculapius.

Maryam, dkk. 2008. Mengenal Usia Lanjut dan perawatannya. Jakarta: Salemba
Medika.

Smeltzer, Suzanne; and Benda G Bare. 2008. Buku Saku Ajar Keperawatan
Medikal Bedah. Jakarta: EGC.

Tim Pokja SDKI DPP PPNI. 2017. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia.
Jakarta: Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia.

23