Anda di halaman 1dari 20

REFARAT

INVAGINASI ( INTUSSUSCEPTION )

Refarat ini Disusun Sebagai Salah Satu Syarat Mengikuti Kepaniteraan Klinik Senior SMF
Departemen Bedah Umum Royal Prima Hospital Medan

Disusun Oleh :
EBEN EZER RUMAPEA (123307033)
INTAN PERMATA SARI (123307056)

Pembimbing :
dr. Johannes Apul Simarmata, Sp.B

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR SMF DEPARTEMEN BEDAH UMUM


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PRIMA INDONESIA
ROYAL PRIMA HOSPITAL MEDAN
2017

i
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI .................................................................................................................................................... I

BAB 1................................................................................................................................................................ 1

PENDAHULUAN ............................................................................................................................................ 1

BAB 2................................................................................................................................................................ 2

KAJIAN TEORI .............................................................................................................................................. 2

2.1. DEFENISI INVAGINASI ..................................................................................................................... 2


2.2. PATOFISIOLOGI INVAGINASI........................................................................................................... 2
2.3. EPIDEMIOLOGI INVAGINASI............................................................................................................ 4
2.4. ETIOLOGI INVAGINASI .................................................................................................................... 5
2.5. FAKTOR RESIKO INVAGINASI ......................................................................................................... 5
2.6. KLASIFIKASI INVAGINASI ............................................................................................................... 6
2.7. MANIFESTASI KLINIS INVAGINASI ................................................................................................. 6
2.8. DIAGNOSA INVAGINASI ................................................................................................................... 7
2.8.1. Anamnese (history taking) ..................................................................................................... 7
2.8.2. Pemeriksaan Fisik .................................................................................................................. 7
2.8.3. Pemeriksaan Penunjang ........................................................................................................ 8
2.9. DIAGNOSIS BANDING INVAGINASI ................................................................................................ 11
2.10. PENATALAKSANAAN INVAGINASI ................................................................................................. 12
2.10.1. Reduksi Hidrostatik .............................................................................................................. 12
2.10.2. Reduksi Manual dan Reseksi Usus ...................................................................................... 14
2.11. KOMPLIKASI INVAGINASI ............................................................................................................. 17
2.12. PROGNOSIS INVAGINASI................................................................................................................ 17

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................................................... 18

i
BAB 1
PENDAHULUAN

Invaginasi atau dikenal juga dengan nama intususepsi. Invaginasi merupakan


penyebab tersering dari obstruksi usus akut pada bayi, ketika suatu bagian atas dari usus
invagiansi ke bagian bawah dari usus tersebut. Jika progress dari intususepsis ini tidak
segera di tatalakasanakan, dapat berakibat fatal. Biasanya intususepsi yang terjadi pada
bayi, tidak diketahui sebab pastinya.

Invaginasi atau intususepsi sering ditemukan pada anak dan jarang pada orang muda
dan dewasa. Kebanyakan ditemukan pada kelompok umur 2-12 bulan, dan lebih banyak
pada anak laki-laki. Berdasarkan penelitian O’Ryan et al, dari kasus intususepsi di RS
Santiago ditemukan bahwa insiden invaginasi pada pasien berusia kurang dari 12 bulan
sebanyak 55 per 100.000 kelahiran hidup, sedangkan untuk usia 0-24 bulan sebanyak 35
per 100.000 kelahiran hidup. Insiden bervariasi dari 1-4 per 100.000 kelahiran hidup.
Perbandingan kasus pada laki-laki dan perempuan 4 : 1. Invaginasi pada anak biasanya
idiopatik karena tidak diketahui penyebabnya.

Gejala klinis tersering yang terjadi pada invaginasi adalah muntah, nyeri perut, anak
menangis kuat, demam, bloody stool, adanya masa di abdomen dan hematemesis.
Invaginasi dapat mengakibatkan nekrosis iskemik pada bagian usus yang masuk dengan
komplikasi terjadinya perforasi dan perotinitis.

1
BAB 2
KAJIAN TEORI

2.1. Defenisi Invaginasi

Invaginasi adalah suatu keadaan dimana segmen usus masuk ke dalam


segmen lainnya, yang pada umumnya berakibat dengan terjadinya obstruksi
ataupun strangulasi. Invaginasi sering disebut juga sebagai intussusepsi. Umumnya
bagian yang proximal (intussuseptum) masuk ke bagian distal (intususepien).

Gambar 2.1. Intususepsi usus halus yang masuk ke usus besar

2.2. Patofisiologi Invaginasi

Pada kasus invaginasi, 90-95% terjadi pada anak dibawah 1 tahun akibat
idiopatik. Ditemukan penebalan dinding ileum terminal berupa hipertropi jaringan
limfoid (plaque payer) akibat infeksi virus (limfadenitis) yang mengikuti suatu
gastroenteritis/ infeksi saluran napas. Keadaan ini menimbulkan pembengkakan
bagian intususeptum (usus bagian proksimal) edema intestinal dan obstruksi aliran
vena obstruksi intestinal sehingga terjadi perdarahan. Proses ini dikenal sebagai
titik awal invaginasi.

Perubahan intususeptum ditimbulkan oleh penekanan bagian intususeptum


oleh karena kontraksi dari intususepien (usus bagian distal yang menerima).

2
Adanya hiperperistaltik usus bagian proksimal mengakibatkan terjadinya segmen
usus yang masuk ke segmen usus lainnya (ileokolik, ileum bervaginasi ke kolon;
ileoileokolik, usus halus berinvaginasi ke dalam usus halus). Dimana akan
menyebabkan dinding usus yang terjepit sehingga mengakibatkan aliran darah
menurun dan keadaan akhir yang menyebabkan nekrosis dinding usus sebagai
akibat strangulasi dan tidak jarang terjadi ganggren, yang selanjutnya terjadi edema
dan pembengkakan, sehingga menghambat reduksi. Pembengkakan dari
intususeptum umumnya menutup lumen usus. Akibatnya terjadi perlengketan yang
tidak dapat kembali normal.

Invaginasi menjadi iskemik karena penekanan dari jepitan pembuluh darah


segmen intususeptum usus atau mesentrial. Bagian usus yang paling awal
mengalami iskemik adalah mukosa. Ditandai dengan prodiksi mukus yang berlebih
dan bila berlanjut akan terjadi strangulasi dan laserasi luka sehingga timbul
perdarahan campuran mukus dan darah dan akan keluar melalui anus (agar-agar jeli
darah/ red currant jelly stool). Iskemik dan distensi abdomen menimbulkan rasa
nyeri. Iskemik dan destruksi usus akan menyebabkan sekuenstrisasi cairan ke
lumen usus yang distensi. Sehingga pasinen mengalami dehidrasi hingga syok
hipovolemik. Mukosa usus yang iskemik merupakan Port de Entry intravasi
mikroorganisme dari lumen usus yang dapat menyebabkan pasien mengalami
infeksi sistemik dan sepsis.

3
Gambar 2.2. Patofisiologi Invaginasi

2.3. Epidemiologi Invaginasi

Kejadian invaginasi berkisar 1 kasus per 2000 kelahiran. Dua pertiga kasus
anak dengan invaginasi < 1 tahun, berkisar 5-10 bulan. Secara keseluruhan, rasio
laki-laki terhadap perempuan sekitar 3:1. Seiring bertambahnya usia, pada anak
diatas usia 4 tahun, rasio laki-laki terhadap perempuan menjadi 8:1.

Invaginasi adalah penyebab obstruksi usus paling umum pada pasien berusia
5 bulan sampai 3 tahun. Invaginasi menduduki 25% kasus keadaan darurat bedah
pada anak dibawah 5 tahun melebihi kasus apendisitis.

4
2.4. Etiologi Invaginasi

Berdasarkan penyebabnya, invaginasi terbagi dua yaitu primary dan


secondary invaginasi.

a. Primary invaginasi/ Idiopatik


Berdasarkan kepustakaan, invaginasi pada anak dibawah umur 1 tahun
tidak dijumpai penyebab yang spesifik sehingga digolongkan sebagai "infantile
idiopathic intussusceptions". Penyebabnya kebanyakan karena hipertrofi Peyer
patches pada dinding usus, gastroenteritis.

b. Secondary invaginasi/ Kausal


Berdasarkan kepustakaan, invaginasi pada anak diatas umur 2 tahun
adanya kelainan usus sebagai penyebab invaginasi seperti: inverted Meckel's
diverticulum, polip usus, leiomioma, leiosarkoma, hemangioma.
Invaginasi dapat juga terjadi setelah laparotomi, yang biasanya timbul
setelah dua minggu pasca bedah. Hal ini terjadi akibat gangguan peristaltik
usus, disebabkan manipulasi usus yang kasar dan lama, diseksi retroperitoneal
yang luas dan hipoksia lokal.

2.5. Faktor Resiko Invaginasi

Invaginasi sering ditemukan pada umur 5-10 bulan, dimana pada saat itu
terjadi perubahan diet makanan dari cair ke padat, perubahan pemberian makanan
ini dicurigai sebagai penyebab terjadi invaginasi. Invaginasi kadang-kadang terjadi
setelah/ selama gastroenteritis akut, sehingga dicurigai akibat peningkatan
peristaltik usus. Gastoenteritis akut dijumpai pada bayi, ternyata kumat rota virus
adalah agen penyebabnya.

5
2.6. Klasifikasi Invaginasi

Berdasarkan lokasinya pada bagian usus mana yang terlibat, invaginasi


terbagi atas:
a. Ileo-ileal, adalah bagian ileum masuk ke bagian ileum.
b. Ileo-colica, adalah bagian ileo-caecal masuk ke bagian kolon.
c. Ileo-caecal, adalah bagian ileo-caecal masuk ke bagian apex dari invaginasi.
d. Appedicial-colica, adalah bagian caput dari caecum terinvaginasi.
e. Colo-colica, adalah bagian colon masuk ke bagian kolon.

2.7. Manifestasi Klinis Invaginasi

Gejala yang timbul umumnya berisfat tiba-tiba. Bayi dengan intususepsi


mengalamai nyeri abdomen yang mendadak, lutut bayi di tarik keatas dan anak
menangis serta tampak pucat dengan pola kolik yang muncul setiap 15 hingga 20
menit. Serangan juga diikuti dengann muntah, lalu diluar serangan penderita akan
terlihat lemas dan tertidur, namun terbangun kembali saat serangan datang. Bayi
menolak minum.

Pada awalnya saat sebelum terjadi gangguan pasase usus secara total, feses
yang terlihat masih dalam batas normal, namun saat terjadi gangguan total, feses
mulai bercampur darah segar dan lendir yang lama kelamaan tinggal darah segar
dan lendir. Seiring dengan bertambah beratnya intususepsi dan bertambah lamanya
obstruksi, maka muntah hijau menjadi dominan. Usus yang letih dan berdilatasi
menghasilkan tekanan dan nyeri yang berkurang. Makin masuknya bagian usus
yang mengalami intususepsi ke bagian usus dibawahnya yang memiliki motilitas
normal, menyebabkan mesenterium tertarik dan terkompresi.

Aliran vena dari intususeptum terhambat, menyebabkan enema, rembesan


cairan, kongesti dan perdarahan. Keadaan ini menyebabkan kehilangan cairan dan
feses yang terlihat seperti “currant jelly”. Diantara episode nyeri, bayi biasanya
tampak kurang fokus dan bingung, dan tampak seperti baru menjalani sedasi.
Mungkin dapat teraba suatu masa berbentuk sosis yang disebabkan oleh usus yang

6
bengkak dan mengalami intususepsi pada kuadran kanan atas atau regio
epigastrium.

2.8. Diagnosa Invaginasi

2.8.1. Anamnese (history taking)

Umumnya bayi dalam keadaan sehat dan gizi baik. Mungkin beberapa
hari kemudian terdapat peradangan saluran napas bagian atas atau diare.
Awalnya, bayi dapat tiba-tiba menangis karena merasa sakit pada perut,
menarik kaki ke perut dan muntah berisi makanan atau minuman yang
masuk. Beberapa menit kemudian jika serangan telah berlalu, bayi akan
tampak normal, bermain-main atau tertidur kembali.

Beberapa jam kemudian, serangan akan timbul semakin sering dan


bayi akan mengalami letargik. Bayi defekasi berupa feses disertai darah
segar dan lendir, selanjutnya hanya darah dan lendir (currant jelly stools).
Muntah yang awalnya berisi makanan yang belum dicerna, berlanjut
menjadi muntah hijau (biliois enemis) jika obstruksi telah berlanjut.

2.8.2. Pemeriksaan Fisik

Pada pemeriksaan fisik, sementara gejala dan tanda obstruksi belum


tampak, pada pemeriksaan abdomen mungkin teraba massa diperut kanan
atau kiri atas, sementara perabaan pada abdomen bawah terus kosong
(Dance’s Sign). Pada pemeriksaan colok dubur terdapat darah segar serta
lendir dan mungkin masih terdapat feses pada sarung tangan.

Menjelang 24 jam sesudah invaginasi terjadi, dapat ditemukan tanda-


tanda obstruksi usus, seperti:
 Abdomen yang kembung, terlihat kontur dan peristaltik usus
 Muntah sudah berwarna hijau atau bahkan berupa fekal
 Massa intraabdomen sulit teraba

7
 Pemeriksaan colok dubur ditemukan ampula yang kolaps dan pada
sarung tangan hanya terdapat darah dan lendir
 Terdapat tanda-tanda dehidrasi yang berakibat takikardia dan mungkin
juga kenaikan suhu tubuh

Terdapat gejala khas yang biasa disebut sebagai trias gejala, yaitu
sebagai berikut:
a. Nyeri perut tiba-tiba, yang hilang timbul dengan periode serangan setiap
15 sampai 20 menit
b. Teraba massa tumor di daerah hipokondrium kanan dan membentang
sepanjang colon transversum yang dapat teraba saat pasien dalam
keadaan tenang
c. Buang air besar bercampur darah dan lendir
Namun, ada yang menggantikan terabanya masa dengan muntah yang
berwarna kehijauan, karena sulitnya meraba massa tumor saat penderita
terlambat memeriksakan sendiri.

2.8.3. Pemeriksaan Penunjang

1. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium tidak dapat menunjang doagnosis
invaginasi. Leukositosis dapat merupakan indikasi gangren pada proses
lanjut. Pemeriksaan elektrolit diperlukan untuk melihat
ketidakseimbangan elektrolit pada kondisi dehidrasi.

2. Foto Polos Abdomen


Sebagian kasus invaginasi detunjang dengan pemeriksaan foto
polos abdomen. Meskipun demikian, foto polos abdeomen hanya dapat
menunjukkan adanya obstruksi usus (adanya massa abdominalis,
distribusi udara dan feses yang abnormal, udara di dalam usus yang
melebar, gambaran Hearring bone, dan air fluid level) atau perforasi
(gambaran udara bebas).

8
3. Ultrasonografi (USG)
Diagnosis berdasarkan kepada visualisasi langsung usus dalam
usus. Cara sederhana dan langsung untuk memvisualisasi keadaan
tersebut adalah dengan ultrasonografi abdomen. Pada pemeriksaan USG
ditemukan gambaran karakteristik invaginasi berupa lesi target dan
pseudokidney. Apabila ultrasonografi positif, atau apabila belum
tercapai visualisasi secara langsung dengan baik, maka terindikasi untuk
dilakukan kontras enema dengan fluoroskopi.

4. Computed Tomography Scan


Pada CT scan akan tampak sebagai massa intraluminal dengan
lapisan yang karakteristik. Meskipun demikian, CT scan memiliki risiko
terkait dengan pemberian kontras, paparan radisi dan sedasi.

5. Pemeriksaan dengan Kontras Enema (Kontras berupa Barium dan


Udara)
Pemeriksaan dapat digunakan untuk diagnostik sekaligus terapi
pada pasien yang stabil. Pada foto terlihat gambaran cupping dan coil
spring. Cara yang dilakukan dengan kontras enema dan fluoroskopi
paling langsung dan bermanfaat untuk memperlihatkan dan penanganan
intususepsi. Udara dan barium dapat segera memperlihatkan
intususepsi, dan apabila diberikan dengan tekanan terkontrol, biasanya
dapat menyebabkan reduksi sempurna.

Tingkat keberhasilan reduksi pneumatik dapat lebih tinggi


dibandingkan dengan reduksi hidrostatik dengan barium, mendekati
90% bila dilakukan saat gejala kurang dari 24 jam. Enema pneumatik
memiliki kelebihan tambahan dibandingkan barium, yaitu tidak
mengganggu pemeriksaan radiologi selanjutnya, seperti foto serial
saluran cerna atas atau CT scan. Reduksi non-bedah tidak boleh
dilakukan apabila keadaan pasien tidak stabil atau terdapat tanda
perforasi atau peritonitis.

9
A. Kriteria mayor pada invagiansi yakni:
a. Bukti adanya obstruksi saluran cerna
 Riwayat muntah kehijaun
 Distensi abdomen danntidak adanya bising usus atau bising usus
abnormal
 Foto polos abdomen menunjukkan adanya level cairan dan
dilatasi usus halus
b. Inspeksi
 Massa di abdomen
 Massa di rektal
 Prolapsus intestinal
 Foto polos abdomen, USG, CT scan yang menunjukkan
invaginasi atau massa dijaringan lunak
c. Gangguan vaskuler intestinal dan kongesti vena
 Keluarnya darah per rectal
 Keluarnya feses yang berwarna red currant jelly
 Adanya darah ketika pemeriksaan rectum

B. Adapun kriteria minor untuk invaginasi adalah:


a. Usia < 1 tahun
b. Laki-laki
c. Nyeri perut
d. Letargi
e. Hangat
f. Syok hipovolemik
g. Foto polos abdomen menunjukkan pola gas usus yang abnormal.

Berikut pengelompokan penegakan diagnosis invaginasi berdasarkan


tingkat pembuktiannya, yaitu:
1. Level 1  Definite (1 kriteria dibawah)
a. Kriteria pembedahan : Invaginasi usus yang ditemukan saat
pembedahan

10
b. Kriteria radiologi : air enema atau liquid kontras enema. Invaginasi
dengan manifestasi spesifik yang dapat dibuktikan dengan enema
tersebut
c. Kriteria autopsi : invaginasi dari usus

2. Level 2  Probable (1 kriteria dibawah)


a. 2 kriteria mayor
b. 1 kriteria mayor + 3 kriteria minor

3. Level 3  Posible
a. 4 atau > kriteria minor

2.9. Diagnosis Banding Invaginasi

Diagnosis banding Invaginasi antara lain, sebagai berikut:


a. Gastroenteritis
Anak dengan gastroenteritis cenderung sulit dibedakan dengan
innvaginasi. Perlu diperhatikan perubahan pola penyakit, karakter rasa sakit,
karakteristik muntah, dan jenis perdarahan untuk membedakannya.

b. Enterocolitis
Pada enterocolitis terdapat feses yang bercampur darah disertai kram
abdomen, namun hal ini dapat dibedakan dari invaginasi karena sakit
cenderung lebih jarang, disertai diare, dan tetap adanya rasa sakit diantara
nyeri.

c. Diverticulum Meckel
Perbedaan invaginasi dan diverticulum Meckel terdapat pada rasa sakit
yang biasanya tidak dirasakan penderita diverticulum Meckel.

d. Henoch-Schönlein purpura
Terkadang terdapat gejala perdarahan pada pasien Henoch-Schönlein
purpura, namun yang dapat membedakannya adalah ditemukannya purpura
pada penderita Henoch-Schönlein purpura.
11
e. Prolapsus Recti
Perbedaan prolapsus recti dan invaginasi dapat diketahui dengan
melakukan colok dubur, dimana pada prolapsus recti didapati adanya hubungan
antara mukosa dan kulit perianal sedangkan pada invaginasi didapati adanya
celah.

2.10. Penatalaksanaan Invaginasi

Tatalaksana invaginasi secara umum mencakup beberapa hal penting sebagai


berikut:
a. Resusitasi cairan dan elektrolit
b. Dekompresi maksudnya menghilangkan peregangan usus dan muntah dengan
selang nasogastrik, pemberian antibiotik
c. Reposisi bisa dilakukan dengan konservatif / non operatif dan operatif.

Setelah keadaan umum baik dilakukan tindakan pembedahan, bila jelas telah
tampak tanda-tanda obstruksi usus. Atau dilakukan tindakan reposisi bila tidak
terdapat kontraindikasi.

Dasar pengobatan pada invaginasi ialah reposisi usus yang masuk ke lumen
usus lainnya. Reposisi dapat dicapai dengan barium enema, reposisi pneumostatik
atau melalui pembedahan.

2.10.1. Reduksi Hidrostatik

Metode ini dengan cara memasukkan barium melalui anus


menggunakan kateter dengan tekanan tertentu dengan diikuti oleh X-ray.
Mula-mula tampak bayangan barium bergerak berbentuk cupping pada
tempat invaginasi, dengan tekanan hidrostatik sebesar ¾ sampai 1 meter air,
barium didorong ke arah proksimal. Tekanan hidrostatik tidak boleh
melewati 1 meter air agar tidak terjadi perforasi selain itu tidak boleh
dilakukan penekanan manual di perut sewaktu dilakukan reposisis
hidrostatik.

12
Pengobatan dianggap berhasil bila barium sudah mencapai ileum
terminalis, serta pada saat itu, pasase usus kembali normal, norit yang
diberikan akan keluar melalui dubur. Seiring dengan pemeriksaan zat
kontras kembali dapat terlihat coiled spring appearance. Gambaran tersebut
disebabkan oleh sisa-sisa barium pada haustra sepanjang bekas tempat
invaginasi.
Pada saat sekarang ini barium enema yang digunakan untuk prosedur
diagnostic, kurang lebih 75% berhasil mereduksi invaginasi. Pemberian
sedikit sedative yang cukup sebelum prosedur enema sangat banyak
membantu berhasilnya reduksi hidrostatik ini.

Gambar 2.3. Terapi dengan menggunakan barium enema

Indikasi:
a. Tidak terdapat gejala & tanda rangsangan peritoneum
b. Tidak toksik juga tidak terdapat obstruksi tinggi
c. Tidak dehidrasi
d. Gejala invaginasi kurang dari 48 jam

Kontra indikasi:
a. Distensi abdomen yang berlebihan
b. Invaginasi rekuren
c. Gejala invaginasi lebih dari 48 jam
d. Peritonitis
e. Perforasi

13
Keuntungan reposisi hidrostatik:
a. Kemungkinan terjadinya perforasi lebih sedikit
b. Lama perawatan lebih pendek, karena tidak bersifat traumatic

Kerugian reposisi hidrostatik itu sendiri adalah cukup banyaknya


kasus invagianasi berulang, karena tidak dilakukan reseksi.

2.10.2. Reduksi Manual dan Reseksi Usus

Indikasi reduksi manual adalah pada pasien dengan keadaan tidak


stabil, didapatkan peningkatan suhu serta angka lekosit, mengalami gejala
berkepanjangan atau ditemukan penyakit sudah lanjut yang ditandai dengan
distensi abdomen, feses berdarah, gangguan sistem usus yang berat sampai
timbul shock atau peritonitis.

Pasien segera dipersiapkan untuk suatu operasi laparotomi dengan


incise transversal interspina. Jika ditemukan kelainan telah mengalami
nekrose, reduksi tidak perlu dikerjakan dan reseksi segera dilakukan

Pelaksanaan operatif:
1. Pre-operatif
Penanganan intususepsi pada dewasa secara umum sama seperti
penangan pada kasus obstruksi usus lainnya yaitu perbaikan keadaan
umum seperti rehidrasi dan koreksi elektrolit bila sudah terjadi defisit
elektrolit.

Pembedahan sudah dapat dilakukan kalau perfusi jaringan sudah


cukup yang dapat diukur secara klinis dari produksi urin, yaitu 0,5 - 1
ml/kgBB/jam melalui kateter. Kriteria lainnya adalah suhu tubuh kurang
dari 38ºC, nadi kurang dari 120 kali per menit, pernapasan tidak lebih
dari 40 kali/ menit, turgor kulit membaik, dan paling utama kesadaran
yang baik.Biasanya dengan pemberian cairan sejumlah 50% dari
kebutuhan (untuk koreksi & kebutuhan normal), perfusi jaringan sudah
dapat dicapai.
14
Pembedahan dan anestesi yang dikerjakan pada waktu perfusi
jaringan tidak memadai akan menyebabkan tertimbunnya hasil-hasil
metabolisme yang seharusnya dikeluarkan dari tubuh, dan hal ini akan
mengakibatkan oksigenasi jaringan yang buruk, yang dapat berakibat
kerusakan sel yang irreversible, dan bila menyangkut organ vital akan
menyebabkan kematian.

2. Operatif
Sewaktu operasi awalnya akan dicoba reposisi manual dengan
mendorong invaginatum dari anal kearah sudut ileo-sekal, dorongan
dilakukan dengan hati- hati tanpa tarikan dari bagian proximal.

Gambar 2.4. Terapi dengan reseksi manual

Reposisi dengan pembedahan dicapai melalui laparatomi. Setelah


dinding perut dibuka, tindakan selanjutnya tergantung pada temuan
yang ada. Reposisi dikerjakan secara manual diperas seperti memeras
susu sapi yang disebut milking, dikerjakan secara halus dan perlahan
dengan sabar, dan diselingi dengan istirahat beberapa waktu untuk
memberi kesempatan agar aliran darah balik yang mengurangi edema
sehingga mempermudah usaha milking selanjutnya. Jangan sekali-kali
menarik bagian usus yang masuk ke dalam usus lainnya, tetapi diperas
dari pihak lainnya.

15
Jika terjadi kebocoran usus sebelum atau sesudah milking maka
dilanjutkan dengan reseksi usus. Batas reseksi pada umumnya adalah
10cm dari tepi - tepi segmen usus yang terlibat, pendapat lainnya pada
sisi proksimal minimum 30 cm dari lesi, kemudian dilakukan
anastosmose end to end atau side to side.

Gambar 2.5. Anastomose end to end

Apabila terdapat kerusakan usus yang cukup luas, dan banyak


bagian dari usus itu yang harus diangkat. Maka pada kasus ini tidak
dapat dilakukan anastomose end to end, harus colostomy supaya proses
digestive tetap berjalan. Jika ditemukan penyebab yang menjadi factor
pencetus seperti divertikulum atau duplikasi maka perlu dilakukan
reseksi.

3. Pasca Operasi
a. Hindari Dehidrasi
b. Pertahankan stabilitas elektrolit
c. Pengawasan akan inflamasi dan infeksi
d. Pemberian analgetika yang tidak menggangu motilitas usus

16
2.11. Komplikasi Invaginasi

Jika invaginasi terlambat atau tidak diterapi, bisa timbul beberapa komplikasi
berat, seperti kerusakan bahkan kematian jaringan usus, perforasi usus (usus
pecah), infeksi, bahkan kematian pada penderita.

2.12. Prognosis Invaginasi

Intususepsi pada bayi yang tidak ditangani akan selalu berakibat fatal. Angka
rekurensi pasca reduksi intususepsi dengan enema barium adalah sekitar 10% dan
dengan reduksi bedah sekitar 2-5%; tidak pernah terjadi setelah dilakukan reseksi
bedah. Mortalitas sangat rendah jika penanganan dilakukan dalam 24 jam pertama
dan meningkat dengan cepat setelah waktu tersebut, terutama setelah hari kedua.

17
DAFTAR PUSTAKA

Blanco, MD, Felix C and Carmen Cuffari, MD. Intussusception. 3 Maret 2017. 8 Oktober
2017 <http://emedicine.medscape.com/article/930708-overview>.

Dorland, W.A. Newman. Kamus Saku Kedokteran Dorland Edisi 28. Jakarta: EGC, 2012.

Maki, Alexandra C and Mary E Fallat. "Intussusception." Holcomb III, George W, Patrick
J Murphy and Daniel J Ostlie. Ashcraft's Pediatric Surgery. Philadelphia: Saunders
Elsevier, 2014. 531-537.

Sjamsuhidajat, R and De Jong Wim. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 3. Jakarta: EGC, 2014.

Staf Pengajar IKA FK UI. "Bedah Anak." UI, Bagian IKA FK. Buku Kuliah 1 Ilmu
Kesehatan Anak. Jakarta: Infomedika Jakarta, 2007. 204-205.

World Health Organization. Dept. of Vaccines and Other Biologicals. Acute


intussusception in infants and children : incidence, clinical representation and
management : a global perspective. October 2002. 9 October 2017
<http://www.who.int/iris/handle/10665/67720>.

18