Anda di halaman 1dari 13

Pengertian

Berdasarkan PERMENKES Nomor 75 tahun 2014 Pusat Kesehatan Masyarakat yang


selanjutnya disebut Puskesmas adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang
menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan perseorangan tingkat
pertama, dengan lebih mengutamakan upaya promotif dan preventif, untuk mencapai
derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya di wilayah kerjanya.

Persyaratan
Berdasarkan PERMENKES Nomor 75 Tahun 2014 persyaratan puskesmas diantaranya adalah:
1. Puskesmas harus didirikan pada setiap kecamatan.
2. Dalam kondisi tertentu, pada 1 (satu) kecamatan dapat didirikan lebih dari 1 (satu)
Puskesmas.
3. Kondisi tertentu ditetapkan berdasarkan pertimbangan kebutuhan pelayanan, jumlah
penduduk dan aksesibilitas.
4. Pendirian Puskesmas harus memenuhi persyaratan lokasi, bangunan, prasarana,
peralatan kesehatan, ketenagaan, kefarmasian dan laboratorium.
Lokasi pendirian Puskesmas harus memenuhi persyaratan:
a. geografis;
b. aksesibilitas untuk jalur transportasi;
c. kontur tanah;
d. fasilitas parkir;
e. fasilitas keamanan;
f. ketersediaan utilitas publik;
g. pengelolaan kesehatan lingkungan; dan
h. kondisi lainnya.

Perizinan Dan Registrasi


 Setiap Puskesmas wajib memiliki izin untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan.
 Izin diberikan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota.
 Izin berlaku untuk jangka waktu 5 (lima) tahun dan dapat diperpanjang selama
memenuhi persyaratan.
 Perpanjangan izin dilakukan dengan mengajukan permohonan perpanjangan
selambat-lambatnya 6 (enam) bulan sebelum habis masa berlakunya izin.
Syarat-syarat pengajuan perizinan:
1. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota mengajukan permohonan tertulis kepada
Bupati/Walikota melalui satuan kerja pada pemerintah daerah kabupaten/kota yang
menyelenggarakan perizinan terpadu dengan melampirkan dokumen:
a. fotokopi sertifikat tanah atau bukti lain kepemilikan tanah yang sah;
b. fotokopi Izin Mendirikan Bangunan (IMB);
c. dokumen pengelolaan lingkungan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan;
d. surat keputusan dari Bupati/Walikota terkait kategori Puskesmas;
e. studi kelayakan untuk Puskesmas yang baru akan didirikan atau akan dikembangkan;
f. profil Puskesmas yang meliputi aspek lokasi, bangunan, prasarana, peralatan
kesehatan, ketenagaan, dan pengorganisasian untuk Puskesmas yang mengajukan
permohonan perpanjangan izin; dan
g. persyaratan lainnya sesuai dengan peraturan daerah setempat.
2. Satuan kerja pada pemerintah daerah harus menerbitkan bukti penerimaan berkas
permohonan yang telah lengkap atau memberikan informasi apabila berkas
permohonan belum lengkap kepada pemohon yang mengajukan permohonan izin
dalam jangka waktu paling lama 6 (enam) hari kerja sejak berkas permohonan diterima.
3. Dalam hal berkas permohonan belum lengkap pemohon harus mengajukan
permohonan ulang kepada pemberi izin.
4. Dalam jangka waktu 14 (empat belas) hari kerja setelah bukti penerimaan berkas
diterbitkan, pemberi izin harus menetapkan untuk memberikan atau menolak
permohonan izin.
5. Dalam hal terdapat masalah yang tidak dapat diselesaikan dalam kurun waktu, pemberi
izin dapat memperpanjang jangka waktu pemrosesan izin paling lama 14 (empat belas)
hari kerja dengan menyampaikan pemberitahuan tertulis kepada pemohon.
6. Penetapan pemberian atau penolakan permohonan izin dilakukan setelah pemberi izin
melakukan penilaian dokumen dan peninjauan lapangan.
7. Dalam hal permohonan izin ditolak, pemberi izin harus memberikan alasan penolakan
yang disampaikan secara tertulis kepada pemohon.
8. Apabila pemberi izin tidak menerbitkan izin atau tidak menolak permohonan hingga
berakhirnya batas waktu, permohonan izin dianggap diterima.

Setiap Puskesmas yang telah memiliki izin wajib melakukan registrasi.Registrasi diajukan
oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota kepada Menteri setelah memperoleh
rekomendasi dari Dinas Kesehatan Provinsi, dalam jangka waktu paling lambat 6 (enam)
bulan setelah izin Puskesmas ditetapkan.
Syarat Registrasi Puskesmas
1. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota mengajukan surat permohonan registrasi
Puskesmas kepada Menteri dengan melampirkan:
a. fotokopi izin Puskesmas;
b. profil Puskesmas;
c. laporan kegiatan Puskesmas sekurang-kurangnya 3 (tiga) bulan terakhir;
d. surat keputusan dari Bupati/Walikota terkait kategori Puskesmas; dan
e. rekomendasi dinas kesehatan provinsi.
2. Menteri menetapkan nomor registrasi berupa kode Puskesmas paling lambat 14 (empat
belas) hari kerja sejak surat permohonan registrasi Puskesmas diterima.
3. Kode Puskesmas diinformasikan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan dinas
kesehatan provinsi.
Sistem Puskesmas
Sistem puskesmas terdiri dari 3 unsur : input, output dan proses
 Input terdiri dari : SDM, Sarana, prasarana, alkes ; Pembiayaan ; regulasi, pedoman,
metode, prosedur ; Farmasi, perbekalan kesehatan ; data dan informasi ; pasien,
sasaran program masyarakat ; dan waktu
 Proses : UKP (usaha kesehatan perorangan), UKM (usaha kesehatan masyarakat) dan
administrasi
 Output : status kesehatan masyarakat ; kinerja puskesmas dan kepuasan masyarakat

Fungsi Puskesmas
1. Sebagai Pusat Penggerak Pembangunan Kesehatan
a. Menggerakkan lintas sektor dan dunia usaha di wilayah kerjanya agar
menyelenggarakan pembangunan berwawasan kesehatan
b. Aktif memantau & melaporkan dampak kesehatan dr setiap penyelenggaraan
program pembangunan
c. Mengutamakan pemeliharaan kesehatan & pencegahan penyakit tnp mengabaikan
penyembuhan dan pemulihan
2. Sebagai Pusat pemberdayaan masyarakat
a. Berupaya agar perorangan, TOMA (tokoh masyarakat), keluarga & masy punya
kesadaran, kemauan & kemampuan melayani diri sendiri & masy utk hidup sehat
serta menetapkan, menyelenggarakan, emmantau serta memberikan pelayanan
kesehatan menyeluruh terpadu di wilayah kerjanya
b. Memberikan bantuan dlm bentuk bimb teknis materi, rujukan medis & kesmas 
tdk menimbulkan ketergantungan
3. Sebagai pusat pelayanan kesehatan pertama
 Menyelenggarakan pelayanan kesehatan pertama secara menyeluruh, terpadu dan
berkesinambungan melalui pelayanan kesehatan perorangan (UKP) & kesmas(UKM).

Upaya Kesehatan
Upaya Kesehatan dibagi 3 yaitu : Upaya kesehatan wajib, pengembangan dan penunjang
1. Upaya Kesehatan Wajib
a. Promosi Kesehatan
b. Kesehatan Lingkungan
c. Pemberantasan penyakit Menular
d. KIA/KB
e. Gizi
f. Pengobatan
1. Umum
2. Gigi mulut
2. Upaya Kesehatan Pengembangan
a. Upaya Perawatan Kesehatan Masyarakat
b. Usaha Kesehatan Sekolah
c. Usaha Kesehatan Jiwa
d. Upaya Kesehatan Kerja
e. Upaya Kesehatan olahraga
f. Upaya Kesehatan mata
g. Upaya kesehatan Lansia
h. Upaya pengobatan tradisional
3. Upaya Kesehatan Penunjang
a. Upaya Pencatatan dan pelaporan
b. Upaya Laboratorium

Asas Pengelolaan Puskesmas


Asas Pengelolaan puskesmas ada 4 yaitu :
1. Asas pertanggungjawaban Wilayah
Arti dari asas pertanggung jawaban wilayah kerja ialah puskesmas harus bertanggung
jawab atas semua masalah yang terjadi di wilayah kerjanya. Wilayah kerja meliputi satu
kecamatan atau sebagian dari kecamatan. Factor kepadatan, luas daerah, keadaan
geografik dan keadaan infrastruktur lainnya merupakan bahan pertimbangan dalam
menentukan wilayah kerja puskesmas. Azas kerja inilah yang membedakan peskemas
dengan rumah sakit, karena rumah sakit hanya bertanggung jawab pada pasien yang
datang berkunjung, tetapi Puskesmas harus bertanggung jawab untuk setiap masalah
kesehatan yang terjadi di wilayah kerjanya, walaupun letaknya sangat jauh. Selain itu,
karena adanya azas ini, maka Puskesmas dituntut untuk lebih mengutamakan tindakan
penyakit dan bukannya pengobatan, atau dengan kata lain harus aktif terjun di
masyarakat dan bukannya menanti masyarakat untuk datang ke Puskesmas.
2. Asas pemberdayaan masyarakat
Asas ini menjelaskan bahwa untuk mencapai tujuan tiap kegiatan maka peran serta
masyarakat mulak diikutsertakan dalam kondisi apapun. Pengertian mengikutsertakan
potensi masyarakat dalam melaksanakan kegiatan–kegiatan Puskesmas, adalah
menggali berbagai potensi masyarakat sedemikian rupa, sehingga masyarakat dengan
kesadaran, kemauan, dan kemampuan sendiri dapat menyelesaikan berbagai masalah
kesehatan yang dihadapinya. Salah satu bukti ketertiban peran serta masyarakat ialah
adanya posyandu dan dasa wisma.
3. Asas keterpaduan
Asas ini menjadikan puskesmas dapat menyatukan program kerja dari sector yang satu
ke sector yang lain. Artinya selain puskesmas menjalankan program kesehatan,
puskesmas dapat juga menjalankan program lain selain kesehatan
4. Asas rujukan
Asas rujukan adalah asas yang diberlakukan apabila puskesmas tidak dapat menangani
suatu masalah kesehatan. Asas ini ditetapkan untuk bekerja sama dengan rumah sakit.
Sistem Rujukan
1. Usaha Kesehatan Masyarakat (UKM)
Usaha Kesehatan Bersumberdaya (Posyandu)
 Pelayanan Kesehatan Tingkat I : Puskesmas (Pustu dan Poskesdes)
 Pelayanan Kesehatan Tingkat II : Dinkes Kab/Kota
 Pelayanan Kesehatan Tingkat III : Dinas Kesehatan Propinsi
2. Usaha Kesehatan Perorangan (UKP)
Masyarakat (Perawatan mandiri)
 Pelayanan Kesehatan Tingkat I : Praktek Swasta (Dokter dan Bidan)..Puskesmas
(Pustu dan Poskesdes)
 Pelayanan Kesehatan Tingkat II : PraktekSpesialis/ klinik...Rumah sakit
 Pelayanan Kesehatan Tingkat III : RS Provinsi ....Praktek Spesialis Konsultan

Manajemen Puskesmas
Manajemen Puskesmas dibagi 3 : P1 (Perencanaan), P2 (Pengorganisasian), P3
(Pengawasan, Pengendalian, Pengawasan)
P1 ada 3 : Restra SWOT, Rencana Operasional dan Mikro Pleaning 5 tahun
P2 ada 2 : SOTK dan TUPOKSI (Tugas Pokok dan Fungsi)
P3 yaitu : Penilaian Kinerja Puskesmas
P1 : Restra SWOT.
Rencana strategis adalah suatu rencana jangka panjang yang bersifat menyeluruh,
memberikan rumusan ke mana organisasi akan diarahkan, dan bagaimana sumberdaya
dialokasikan untuk mencapai tujuan selama jangka waktu tertentu dalam berbagai
kemungkinan keadaan lingkungan dan juga merupakan sebuah alat manajemen yang
digunakan untuk mengelola kondisi saat ini untuk melakukan proyeksi kondisi di masa
depan, sehingga rencana strategis adalah sebuah petunjuk yang dapat digunakan
organisasi dari kondisi saat ini untuk mereka bekerja menuju 5 sampai 10 tahun ke
depan.
a. Visi
Terwujudnya masyarakat Sehat di Wilayah Kelurahan Pegambiran yang Mandiri dan Adil
menuju Kota Cirebon yang Religius, Aman, Maju, Aspiratif, dan Hijau (RAMAH).
b. Misi
a. Mendorong kemandirian individu, keluarga, dan masyarakat untuk hidup sehat dan
produktif
b. Mewujudkan pelayanan kesehatan yang bermutu dan terjangkau
c. Meningkatkan kerjasama lintas sektor dan mengembangkan manajemen efektif
dalam memberikan pelayanan
d. Meningkatkan kemitraan dengan berbagai pihak terkait dalam upaya meningkatkan
mutu pelayanan dan pemberdayaan masyarakat.
Tujuan Puskesmas
1. Meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan kepada masyarakat
2. Ameningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang
yang bertempat tinggal di wilayah puskesmas
3. Memberdayakan individu dan masyarakat untuk memelihara, meningkatkan dan
melindungi kesehatannya sendiri dan lungkungan menuju masyarakat yang sehat,
mandiri dan produktif.

Sumber Daya Manusia (Man / Manusia)


Tenaga Kesehatan terdiri atas
 dokter umum : 2
 dokter gigi : 1
 perawat : 13
 bidan : 19
 tenaga kesehatan masyarakat : 2
 tenaga kesehatan lingkungan : 1
 ahli teknologi laboratorium medik : 2
 tenaga gizi : 2
 tenaga kefarmasian : 3
Tenaga Non Kesehatan
 KTU : 1
 Rekam Medik : 1
 Pendaftaran : 2
 Administrasi : 2
 Kebersihan : 2
 Keamanan : 2
Untuk Manajemen kebutuhan tenaga kesehatan dilakukan dengan metode ABK
(Analisis Beban Kerja)

Fasilitas yang tersedia di Puskesmas Pegambiran (Material)


 Loket pendaftaran dengan menggnakan aplikasi komputer
 Ruangan konsultasi terpadu ( Klinik sanitasi, konsultasi gizi, kesehatan remaja,
berhenti merokok, LROA )
 Ruangan bermain Anak
 Ruangan Akupresure untuk ibu hamil dan bayi
 Ruangan refleksi kaki
 Ruang tunggu pasien
 Sarana APAR
 Sarana IPAL dan Gudang Limbah
 Kotak saran dan Papan Tanggapan keluhan
 Ruangan laktasi
Jenis-jenis Pelayanan Kesehatan (Machines / Mesin)
 Pelayanan Kesehatan Ibu (Kebidanan) dan Kesehatan Anak .
 Pelayanan Persalinan Normal (PONED)
 Pelayanan Kesehatan Umum ( BP Umum )
 Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut
 Pelayanan kefarmasian (Obat-obatan)
 Pelayanan Imunisasi
 Pelayanan Konseling :
- Klinik Sanitasi
- Klinik Gizi
- MTBS dan MTBM
- Kesehatan Remaja
- Psikolog (Dengan perjanjian)
 Pelayanan keuring (pemeriksaan kesehatan bagi pelajar/ pencari kerja )
 Pelayanan Pemeriksaan dan pengobatan Tuberkulosa (DOTS)
 Pelayanan rujukan kesehatan ke rumah sakit
 Pelayanan Akupresure bagi Ibu Hamil dan bayi lain-lain.

Pendanaan (Money/ Modal)


Pemerintah daerah telah menyediakan dana dari pengembalian retribusi pendapatan
Puskesmas dengan besaran yang bervariasi di setiap kabupaten/kota.
Pendanaan di Puskesmas bersumber dari:
1. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD)
2. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)
3. sumber-sumber lain yang sah dan tidak mengikat.
Dalam proses manajemen pendanaan puskesmas menggunakan Aplikasi RENBUT
(Rencana Kebutuhan) yang langsung berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Provinsi.

Panduan pelaksanaan kegiatan Puskesmas (Metode / Prosedur)


 Adanya standard operating procedure (SOP) yang telah dibuat dan selalu
diperbaharui tiap tahunnaya.
 Adanya sistem informasi manajemen Puskesmas yang bersumber dari sitem
pencatatan dan pelaporan Puskesmas, sistem informasi Posyandu, laporan sarana
kesehatan swasta, laporan lintas sektor, dan lain-lain.
 Adanya sistem Kesehatan Nasional dan UU tentang Kesehatan serta peraturan
perundang-undangan lainnya sebagai pedoman dalam penyelenggaraan
pembangunan kesehatan.
 Adanya sistem Kesehatan Nasional dan UU tentang Kesehatan serta peraturan
perundang-undangan lainnya sebagai pedoman dalam penyelenggaraan
pembangunan kesehatan.
P1 : RO (Rencana Operasional)
Rencana Operasional puskesmas terdiridari
1. Proses Persiapan
2. Perumusan Masalah terdiri dari : Data Kinerja, Analisa Data, Perumusan Masalah
3. Penyusunan RUK (Rencana Usulan Kegiatan)
4. Penyusunan RPK (Rencana Pelaksanaan Kegiatan)
5. Lokakarya Mini

P1 : Perencanaan Mikro Planing 5 tahun


Perencanaan mikro tingkat puskesmas adalah penyusunan rencana tingkat puskesmas untuk
5 tahun, termasuk rincian tiap tahunnya.
1. Identifikasi keadaan dan masalah
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada tahap ini:
a. Mengetahui kebijakan yang telah ditetapkan baik oeh pusat maupun daerah.
b. Pengumpulan data terdiri dari :
 Data umum
 Data wilayah
 Sumber daya puskesmas: sarana dan prasarana fisik, tenaga, dana, dan sumber
daya masyarakat
 Data penduduk
 Data status kesehatan
 Data cakupan program sesuai dengan indicator dan variabel
c. Analisa data
Meliputi analisa keadaan dan masalah dalam perencanaan, yang meliputi:
 Analisa derajat kesehatan : Menjelaskan masalah kesehatan yang dihadapi, yang
menggambarkan derajat-derajat kesehatan secara kuantitatif dan penyebaran
masalah tersebut menurut kelompok manusia, tempat dan waktu. Dengan kata
lain menggunakan pendekatan epidemiologis.
 Analisa kependudukan : Adalah analisa menggunakan ukuran-ukuran demografis
dalam wilayah kerja puskesmas, diantaranya jumlah penduduk, penyebarannya
berdasarkan kelompok umur, waktu dan pertumbuhan penduduk, kematian,
kesakitan, mobilitas penduduk dan sebagainya.
 Analisa upaya pelayanan kesehatan: Masukkan (input) baik sarana, dana, dan
tenaga.Proses, merupakan upaya kesehatan yang dijalankan secara
terkoordinasi, supervisi, stratifikasi. Keluaran (output) merupakan hasil upaya
kesehatan yang merupakan cakupan-cakupan pelayanan yang telah
dilaksanakan.
 Analisa perilaku : Analisa yang dapat menggambarkan tentang sikap dan perilaku
masyarakat terhadap kesehatan dan upaya kesehatan.
 Analisa lingkungan : Merupakan analisa lingkungan fisik, biologis, sosial budaya
dan ekonomi masyarakat di wilayah kerja puskesmas.
d. Perumusan Masalah
Adalah upaya mengidentifikasikan permasalahan yang dihadapi oleh puskesmas
berdasarkan analisa di atas dan digambarkan secara kuantitatif dengan pendekatan
epidemiologis sehingga dapat menggambarkan masalah yang sebenarnya baik dari
segi tempat, waktu, dan besarnya masalah.
e. Penentuan Prioritas Masalah
Kriteria yang dipakai adalah:
1. Besarnya masalah meliputi: Presentasi penduduk yang terkena
 Biaya yang dikeluarkan perorang perbulan karena masalah tersebut
 Kerugian yang dialami penduduk
 Skore 0-10
2. Tingkat kegawatan/bahaya meliputi:
 Tingkat keganasan
 Tingkat urgensinya
 Kecenderungannya
 Skore 0-10
3. Kemudahan penanggulangan masalah
Penentuan kemudahan penanggulangan masalah dilaksankn dengan memberi
nilai 0,5-1,5.
4. Faktor PEARL Adalah menentukan dapat tidaknya program tersebut dilaksanakan
meliputi:
P = Appropriatness (tepat guna)
E = Ekonomic Feasibility (secara ekonomis murah)
A = Acceptability (dapat diterima)
R = Resource Availability (tersedianya sumber)
L = legality (legalitas terjamin)
Penentuan skor melalui voting (1=ya, 0= tidak)
Hasil voting untuk masing-masing faktor dikalikan sehingga didapatkan hasil akhir
dari faktor PEARL tersebut. Skor dari masing-masing kriteria ditabulasi dan
dihitung hasil akhirnya dengan pembobotan, sehingga didapatkan prioritas
masalah.
2. Penyusunan Rencana
1. Perumusan tujuan dan sasaran
2. Perumusan kebijaksanaan dan langkah-langkah
3. Perumusan kegiatan
4. Perumusan sumber daya
3. Penyusunan rencana pelaksanaan (Plan of Action)
a. Penjadwalan, meliputi: Penentuan waktu, Penentuan lokasi dan sasaran,
Pengorganisasian
b. Pengalokasian sumber daya meliputi: Dana: sumber dana, besarnya, dan
pemanfaatannya, Jenis dan jumlah sarana yang diperlukan, Jumlah dan tenaga yang
diperlukan
c. Pelaksanaan Kegiatan, meliputi: Persiapan, Penggerakan dan pelaksanaan,
Pengawasan, pengendalian dan penilaian,
4. Penulisan Dokumen perencanaan meliputi:
a. Pendahuluan
b. Keadaan dan masalah
c. Tujuan dan sasaran
d. Pokok kegiatan dan pentahapan tahunannya
e. Kebutuhan sumber daya
f. Pemantauan dan penilaian
g. Penutup
Lampiran lampiran dokumen.

P2 : Pengorganisasian
Tupoksi : Tugas pokok dan fungsi
 Tugas Pokok : suatu kesatuan organisasi kesehatan ffungsional yang merupakan
pusat pengembangan kesehatan masyarakat juga membina peran serta masyarakat
disamping memberikan pelayanan secara menyeluruh dan terpadu kepada
masyarakat di wilayah kerjanya dalam bentuk kegiatan pokok.
 Fungsi :
1. Sebagai Pusat Pembangunan kesehatan masyarakat di wilayahnya
2. Membina peran serta masyarakat dalam rangka meningkatkan kemampuan untuk
hidup sehat
3. Memberikan pelayanan kesehatan secara menyeluruh dan terpadu kepada
masyarakat di wilayah kerjanya

Mini Worskhop
Adalah Forum yang dibentuk khusus untuk melakukan penggerakan pelaksanaan
program/kegiatan dinamakan juga forum Lokakarya Mini Puskesmas.
Ada 2 macam Lokakarya mini puskesmas yaitu :
1. Lokakarya Mini bulanan
Lokakarya mini bulanan bertujuan untuk menilai sampai seberapa jauh pencapaian dan
hambatan-hambatan yang dijumpai oleh para pelaksana program/kegiatan pada bulan
atau periode yang lalu sekaligus pemantauan terhadap pelaksanaan rencana kegiatan
Puskesmas yang akan datang; sehingga dapat dibuat perencanaan ulang yang lebih baik
dan sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai.
2. Lokakarya Mini Tribulanan
Masalah kesehatan (termasuk kejadian kesakitan dan kematian) yang terjadi
dimasyarakat disebabkan oleh banyak faktor untuk memecahkan masalah kesehatan
dibutuhkan kerjasama antara sektor kesehatan dengan sektor-sektor lain yang terkait
dengan penyebab terjadinya masalah kesehatan. Untuk memelihara kerjasama lintas
sektor perlu dilakukan upaya penggalangan dan pemantauan pelaksanaan kerjasama
melalui suatu forum lokakarya mini yang diselenggarakan setiap tribulan yang disebut
Lokakarya Mini Tribulanan.
Lokakarya mini tribulanan bertujuan untuk menginformasikan dan mengidentifikasikan
capaian hasil kegiatan tribulan sebelumnya, membahas dan memecahkan masalah dan
hambatan yang dihadapi oleh lintas sektor pada kegiatan tribulan sebelumnya, dan
menganalisa serta memutuskan Rencana Tindak Lanjut (RTL) dengan memasukkan
aspek umpan balik dari masyarakat dan sasaran program.

P3 : (pengawasan, pengendalian, penilaian)


Penilaian Kinerja Puskesmas
Penilaian Kinerja Puskesmas adalah suatu proses yang obyektif dan sistematis dalam
mengumpulkan, menganalisis dan menggunakan informasi untuk menentukan seberapa
efektif dan efisien pelayanan Puskesmas disediakan, serta sasaran yang dicapai sebagai
penilaian hasil kerja/prestasi Puskesmas. Penilaian Kinerja Puskesmas dilaksanakan oleh
Puskesmas dan kemudian hasil penilaiannya akandiverifikasi oleh dinas kesehatan
kabupaten/kota.
Tujuan dilaksanakannya penilaian kinerja adalah agar Puskesmas:
1. Mendapatkan gambaran tingkat kinerja Puskesmas (hasil cakupan kegiatan, mutu
kegiatan, dan manajemen Puskesmas) pada akhir tahun kegiatan.
2. Mendapatkan masukan untuk penyusunan rencana kegiatan di tahun yang akan
datang.
3. Dapat melakukan identifikasi dan analisis masalah, mencari penyebab dan latar
belakang serta hambatan masalah kesehatan di wilayah kerjanya berdasarkan
adanya kesenjangan pencapaian kinerja.
4. Mengetahui dan sekaligus dapat melengkapi dokumen untuk persyaratan akreditasi
Puskesmas.
5. Dapat menetapkan tingkat urgensi suatu kegiatan untuk dilaksanakan segera pada
tahun yang akan datang berdasarkan prioritasnya.
Ruang lingkup dan tahap pelaksanaan penilaian kinerja Puskesmas sebagai berikut:
a. Pencapaian cakupan pelayanan kesehatan meliputi:
1) UKM esensial yang berupa pelayanan promosi kesehatan, pelayanan kesehatan
lingkungan, pelayanan kesehatan ibu, anak dan keluarga berencana, pelayanan
gizi, dan pelayanan pencegahan dan pengendalian penyakit.
2) UKM pengembangan, dilaksanakan setelah Puskesmas mampu melaksanakan
UKM esensial secara optimal, mengingat keterbatasan sumber daya dan adanya
prioritas masalah kesehatan.
3) UKP, yang berupa rawat jalan, pelayanan gawat darurat, pelayanan satu hari (one
day care), home care; dan/atau rawat inap berdasarkan pertimbangan kebutuhan
pelayanan kesehatan.
b. Pelaksanaan manajemen Puskesmas dalam penyelenggaraan kegiatan, meliputi:
1) Proses penyusunan perencanaan, penggerakkan pelaksanaan dan pelaksanaan
penilaian kinerja;
2) Manajemen sumber daya termasuk manajemen sarana, prasarana, alat, obat,
sumber daya manusia dan lain-lain;
3) Manajemen keuangan dan Barang Milik Negara/Daerah
4) Manajemen pemberdayaan masyarakat;
5) Manajemen data dan informasi; dan
6) Manajemen program, termasuk Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan
Keluarga.
7) Mutu pelayanan Puskesmas, meliputi:
 Penilaian input pelayanan berdasarkan standar yang ditetapkan.
 Penilaian proses pelayanan dengan menilai tingkat kepatuhannya terhadap
standar pelayanan yang telah ditetapkan.
 Penilaian output pelayanan berdasarkan upaya kesehatan yang
diselenggarakan, dimana masing-masing program/kegiatan mempunyai
indikator mutu sendiri yang disebut Standar Mutu Pelayanan (SMP). Sebagai
contoh: Angka Drop Out Pengobatan pada pengobatan TB Paru.
 Penilaian outcome pelayanan antara lain melalui pengukuran tingkat kepuasan
pengguna jasa pelayanan Puskesmas dan pencapaian target indikator outcome
pelayanan.

KESIMPULAN
Weakness (kelemahan)
1. Visi, misi dan tujuan Puskesmas belum dipahami sepenuhnya oleh pimpinan dan staf
Puskesmas. Hal tersebut dapat melemahkan komitmen, dukungan dan keikutsertaan
pegawai dalam mengembangkan fungsi Puskesmas. Mereka terperangkap oleh tugas-
tugas rutin yang bersifat kuratif yang kebanyakan dilakukan di dalam gedung
Puskesmas. Akibatnya, kegiatan Puskesmas di luar gedung yang bersifat promotif dan
preventif kurang mendapatkan perhatian.
2. Beban kerja Puskesmas sebagai Unit Pelaksana Teknis Dinas kesehatan kota terlalu
berat. Pertama karena rujukan kesehatan dan dari Dinas kesehatan kota kurang
berjalan. Kedua karena Dinas kesehatan kota yang sebenarnya bertanggung jawab
penuh terhadap keberhasilan pembangunan kesehatan secara menyeluruh di wilayah
kota lebih banyak melaksanakan tugas-tugas administratif.
3. Puskesmas masih bersifat sentralistis, dimana Puskesmas belum memiliki
keleluasaan menetapkan kebijakan program yang sesuai dengan kebutuhan
masyarakat setempat.
4. Citra Puskesmas masih kurang baik, utamanya yang berkaitan mutu, penampilan fisik
Puskesmas kurah bersih, nyaman, disiplin profesionalisme, dan keramahan petugas
dalam pelayanan kesehatan yang masih lemah.
5. Belum tersedianya sumber daya Puskesmas yang memadai seperti ketersediaan
tenaga belum sesuai standar ketenagaan Puskesmas dan Penyebaran tidak merata,
kemampuan dan kemauan petugas belum memadai, penanggung jawab program
Puskesmas belum memiliki kemampuan manajerial program, pengembangan sumber
daya tenaga kesehatan tidak berorientasi pada kebutuhan Puskesmas atau program,
namun seringkali merupakan keinginan dari pegawai yang bersangkutan: kurangnya
tanggung jawab, motivasi, dedikasi, loyalitas dan kinerja petugas Puskesmas
6. Ketersediaan obat-obatan baik jenis maupun jumlahnya terbatas karena pengadaan
melalui dana JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) hanya untuk obat generik, Daftar
Fornas (Formularium Nasional), Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) dan E-Katalog.
Threat (ancaman/ rintangan/ tantangan)
1. Terjadinya transisi epidemiologi baik oleh pengaruh perubahan struktur penduduk
dan perubahan gaya hidup masyarakat menyebabkan beban ganda pelayanan
kesehatan yaitu tidak saja pada masalah penyakit infeksi tetapi juga penyakit
degeneratif. Selain itu pelayanan kesehatan juga menghadapi masalah penyakit
yang pada akhir ini cenderung meningkat seperti tuberculosa, demam berdarah
dengue. Fenomena- fenomena tersebut merupakan tantangan sekaligus ancaman
pengembangan Puskesmas.
2. Terjadinya krisis ekonomi yang belum sepenuhnya pulih tidak saja menambahi
jumlah penduduk miskin, tetapi juga menurunkan kemampuan pemerintah dalam
menyediakan anggaran untuk pembangunan kesehatan.
3. Puskesmas masih belum berhasil dalam menggali, menghimpun dan
mengorganisasi partisipasi masyarakat serta membina kemitraan dengan sektor lain
yang terkait.
4. Berkembangnya pelayanan kesehatan swasta yang lebih profesional, bermutu, dan
bernuansa profit merupakan ancaman terhadap pelayanan kesehatan
pemerintahan termasuk Puskesmas
5. Mobilisasi penduduk yang tinggi menyebabkan penularan penyakit yang cepat serta
perubahan lingkungan dan perilaku sosial budaya masyarakat merupakan ancaman
terhadap semakin meningkatnya masalah kesehatan.
6. Perilaku Hidup Bersih dana Sehat (PHBS) masih belum memasyarakat dan
membudaya baik PHBS rumah tangga, sarana kesehatan, institusi pendidikan,
tempat kerja, maupun tempat-tempat umum.