Anda di halaman 1dari 143

HUBUNGAN KEJADIAN STUNTING DENGAN RIWAYAT

PENYAKIT INFEKSI SALURAN PERNAFASAN AKUT


(ISPA) PADA BALITA USIA 24-59 BULAN DI
DESA MATARAM ILIR KECAMATAN
SEPUTIH SURABAYA KABUPATEN
LAMPUN TENGAH TAHUN
2019

(SKRIPSI)

Oleh :

NENDRY YUSTIKA NANDALIKE


NPM. 15310264

PROGRAM STUDI KEDOKTERAN UMUM


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MALAHAYATI
BANDAR LAMPUNG
2019
HUBUNGAN KEJADIAN STUNTING DENGAN RIWAYAT
PENYAKIT INFEKSI SALURAN PERNAFASAN AKUT
(ISPA) PADA BALITA USIA 24-59 BULAN DI
DESA MATARAM ILIR KECAMATAN
SEPUTIH SURABAYA KABUPATEN
LAMPUN TENGAH TAHUN
2019
Disusun Sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar
SARJANA KEDOKTERAN

(SKRIPSI)

Oleh :

NENDRY YUSTIKA NANDALIKE


NPM. 15310264

PROGRAM STUDI KEDOKTERAN UMUM


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MALAHAYATI
BANDAR LAMPUNG
2019

ii
Judul Skripsi : HUBUNGAN KEADIAN STUNTING DENGAN
RIWAYAT PENYAKIT INFEKSI SALURAN
PERNAFASAN AKUT (ISPA) PADA BALITA USIA 24-
59 BULAN DI DESA MATARAM ILIR, KECAMATAN
SEPUTIH SURABAYA, KABUPATEN LAMPUNG
TENGAH, TAHUN 2019.
Nama : Nendry Yustika Nandalike
NPM : 15310264
Fakultas : Kedokteran
Program Studi : Kedokteran Umum

MENYETUJUI

1. Komisi Pembimbing

Pembimbing I Pembimbing II

(dr. Deviani Utami, M.Kes) (dr. Yesi Nurmalasari, M.Kes)

2. Dekan Fakultas Kodokteran Universitas Malahayati

dr. Toni Prasetya, Sp.PD., FINASIM

iii
MENGESAHKAN

1. Tim Penguji

Pembimbing I : dr. Deviani Utami, M.Kes ........................

PembimbingII : dr. Yesi Nurmalasari, M.Kes .........................

Penguji : dr. Aspri Sulanto, MSc., Sp.A ........................

2. Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

dr. Toni Prasetia, Sp.PD,FINASIM.

Tanggal Lulus UjianSkripsi : 22 maret 2019

iv
LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN

Saya yang bertanda tangan dibawah ini :


Nama : Nendry Yustika Nandalike
NPM : 15310264
Judul Skripsi : HUBUNGAN KEJADIAN STUNTING DENGAN RIWAYAT
PENYAKIT INFEKSI SALURAN PERNAFASAN AKUT
(ISPA) PADA BALITA USIA 24-59 BULAN DI DESA
MATARAM ILIR, KECAMATAN SEPUTIH SURABAYA,
KABUPATEN LAMPUNG TENGAH, TAHUN 2019.
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang telah saya buat ini adalah
hasil pekerjaan saya sendiri dan di dalamnya tidak terdapat karya yang pernah
diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi atau lembaga
pendidikan lainnya. Pengetahuan yang diperoleh dari hasil penerbitan maupun yang
belum atau tidak diterbitkan, sumbernya dijelaskan dalam tulisan dan daftar pustaka.

Bandar Lampung, 23 / 03 / 2019

Nendry Yustika Nandalike

v
LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH
UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Sebagai civitas akademik Universitas Malahayati, saya yang bertanda tangan dibawah
ini :
Nama : Nendry Yustika Nandalike
NPM : 15310264
Fakultas : Kedokteran
Jurusan : Kedokteran Umum
Jenis Karya Ilmiah : Skripsi
Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada
Universitas Malahayati Hak Bebas Noneksklusif (None-exsclusive Royalti Free
Hight) atas karya ilmiah saya yang berjudul :
HUBUNGAN KEJADIAN STUNTING DENGAN RIWAYAT PENYAKIT
INFEKSI SALURAN PERNAFASAN AKUT (ISPA) PADA BALITA USIA 24-
59 BULAN DI DESA MATARAM ILIR, KECAMATAN SEPUTIH
SURABAYA, KABUPATEN LAMPUNG TENGAH, TAHUN 2019.

Beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti /
Noneksklusif ini Universitas Malahayati berhak menyimpan, mengalih media /
formatkan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database), merawat dan
mempublikasikan karya ilmiah saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai
penulis / pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.


Dibuat di: Bandar Lampung
Pada Tanggal : 22 / 03 / 2019
Yang menyatakan,

Nendry Yustika Nandalik

vi
FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS MALAHAYATI

Skripsi, Maret 2019

Nendry Yustika Nandalike

HUBUNGAN KEJADIAN STUNTING DENGAN RIWAYAT PENYAKIT


INFEKSI SALURAN PERNAFASAN AKUT (ISPA) PADA BALITA USIA 24-
59 BULAN DI DESA MATARAM ILIR KECAMATAN SEPUTIH
SURABAYA KABUPATEN LAMPUNG TENGAH TAHUN 2019

xvii + 47 Halaman + 5 Tabel + 3 Gambar + Lampiran

ABSTRAK

Latar Belakang: Masalah gizi yang paling banyak ditemukan pada anak di Indonesia
adalah stunting. Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita (bayi dibawah
lima tahun) akibat dari kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk
usianya. Keadaan stunting dapat menimbulkan berbagai macam penyakit, diantaranya
penyakit yang sering menyerang balita seperti halnya ISPA. Penyakit infeksi ini
merupakan penyakit yang sering menyebabkan kematian. Stunting berkaitan dengan
peningkatan resiko kesehatan dan kematian serta menghambat pertumbuhan dan
perkembangan kemampuan motorik dan psikis. Balita yang mengalami stunting
memiliki resiko terjadinya penurunan kemampuan intelektual, produktivitas, dan
peningkatan resiko penyakit degeneratif dimasa mendatang.
Tujuan Penelitian: Untuk mengetahui hubungan kejadian stunting dengan riwayat
penyakit ISPA pada balita usia 24-59 bulan di Kabupaten Lampung Tengah, tahun
2019.
Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan
desain case-control. Teknik pengambilan sampel yaitu purposive sampling dan
dihitung dengan rumus slovin. Analisis data menggunakan uji chi-square.
Hasil Penelitian: Terdapat hubungan antara kejadian stunting dengan riwayat ISPA.
(p=0,00. OR:66)
Kesimpulan: Terdapat hubungan antara kejadian stunting dengan riwayat penyakit
ISPA di Kabupaten Lampung Tengah, tahun 2019.

Kata kunci: Stunting, ISPA.


Kepustakaan: 25 (2004-2018).

vii
FACULTY OF MEDICINE

UNIVERSITY OF KEUMALAHAYATI

Script, March 2019

Nendry Yustika Nandalike

THE RELATIONSHIP OF THE INCIDENCE OF STUNTING WITH A


HISTORY OF ACUTE RESPIRATORY TRACT INFECTIONS DISEASE
(RESPIRATORY) IN TODDLERS AGED 24-59 MONTHS IN MATARAM
ILIR VILLAGE DISTRICT WHITE AS SURABAYA CENTRAL LAMPUNG
DISTRICT THE YEAR 2019

xvii + 47 Page + 5 Tables + 3 Pictures + Attachments

ABSTRACT

Background: Nutritional problems of the most widely found in children in Indonesia


is stunting. Stunting is a condition fails to grow on older toddlers (baby under five
year’s) consequence of chronic nutritional deficiencies so that the child is too short
for her age. Stunting circumstances can cause a variety of diseases, including diseases
that often strike a toddler as well as respiratory. This infectious disease is a disease
that often leads to death. Stunting related to increased health risks and death as well
as inhibiting the growth and development of motor abilities and psychic. A toddler
who suffered decline risk stunting intellectual abilities, productivity, and increased
risk of degenerative diseases in the future.
Research objectives: To know the relationship of the incidence of stunting with a
history of respiratory diseases at toddler age 24-59 months in Central Lampung
Regency, in 2019.
Research methods: This study used a quantitative approach to the design of case-
control. Sampling techniques using the purposive sampling and the counting with
slovin formula. Data analysis using the chi-square test.
Research results: There is a relationship between stunting event with the history of
ISPA. (p=0,000. OR;66)
Conclusion: There is a relationship between the incidence of stunting with a history
of respiratory disease in Central Lampung Regency, in 2019.

Keywords: Respiratory History, Stunting.


Literature: 25 (2004-2018).

viii
KATA PENGANTAR

Bismillahirrohmanirrohim Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala


limpahan Rahmat dan Hidayah-Nya. Sholawat dan Salam semoga tetap tercurahkan
kepada Baginda Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam. Syukur
Alhamdulillah penulis dapat menyelesaikan penyusunan proposal skripsi dengan
judul “Hubungan kejadian stunting dengan riwayat penyakit infeksi saluran
pernafasan akut (ISPA) pada balita usia 24-59 bulan di Desa Mataram Ilir,
Kecamatan Seputih Surabaya, Kabupaten Lampung Tengah, tahun 2019”
Proses penelitian ini dapat terselesaikan atas bantuandari berbagai pihak,
maka dari itu penulis mengucapkan terimakasih kepada :
1. Bapak Dr. Muhammad Kadafi,SH, MH selaku Rektor Universitas Malahayati
Bandar Lampung.
2. Bapak dr.Toni Prasetya, Sp.PD., FINASIM selaku Dekan Fakultas
Kedokteran Universitas Malahayati Bandar Lampung.
3. Bapak dr. Dalfian Adnan Th, DK selaku ketua Program Studi Kedokteran
Umum Universitas Malahayati Bandar Lampung.
4. dr. Aspri Sulanto, MSc., Sp.A selaku dosen penguji, terima kasih telah
memberikan waktu untuk memberikan arahan, koreksi, nasehat, dan masukan
sehingga skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik.
5. dr. Deviani Utami,. M.Kes selaku pembimbing I selaku dosen pembimbing I,
terima kasih yang dengan tulus memberikan waktu untuk bimbingan,
semangat, petunjuk, serta nasihat sehingga skripsi dapat diselesaikan dengan
baik.
6. dr. Yessi Nurmalasari,. M.Kes selaku pembimbing II, terima kasih yang
dengan tulus memberikan waktu untuk bimbingan, semangat, petunjuk, serta
nasihat sehingga skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik.

ix
7. Kedua orangtua saya, Murahman Amd.Kep dan Sri Rohayu S.kep Ners,
beserta keluarga tercinta yang senantiasa memberikan do’a, semangat dan
dukungan dalam menyelesaikan skripsi ini.
8. Bapak dan Ibu Dosen, serta seluruh staff dan karyawan Universitas
Malahayati.
9. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini baik secara
langsung ataupun tidak langsung.

Penelitian ini membutuhkan banyak saran dan masukan dari berbagai pihak
yang bersangkutan serta penulis berharap peneliti dapat menambah khazanah ilmu
pengetahuan yang bermanfaat.

Bandar Lampung, 23 Maret 2019

Penulis

x
DAFTAR ISI
Halaman

HALAMAN JUDUL LUAR ................................................................. i


HALAMAN JUDUL DALAM ............................................................. ii
LEMBAR PERSETUJUAN ................................................................. iii
LEMBAR PENGESAHAN .................................................................. iv
LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN ............................................ v
LEMBAR PERNYATAAN PUBLIKASI ........................................... vi
ABSTRAK ............................................................................................. vii
ABSTRACT ............................................................................................ viii
KATA PENGANTAR........................................................................... ix
DAFTAR ISI.......................................................................................... xi
DAFTAR TABEL ................................................................................. xiv
DAFTAR GAMBAR............................................................................. xv
DAFTAR SINGKATAN....................................................................... xvi
DAFTAR LAMPIRAN ......................................................................... xvii

BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang ..................................................................... 1
1.2. Rumusan Masalah ................................................................ 4
1.3. Tujuan Penelitian ................................................................. 5
1.3.1 Tujuan Umum .................................................................... 5
1.3.2 Tujuan Khusus ................................................................... 5
1.4 Manfaat Penelitian ................................................................ 5
1.4.1 Bagi Institusi Malahayati ................................................... 5
1.4.2 Bagi Tempat Peneliti.......................................................... 5
1.4.3 Bagi peneliti ....................................................................... 6
1.5 Ruang Lingkup...................................................................... 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1. Stunting .............................................................................. 7
2.1.1 Definisi Stunting ................................................................ 7
2.1.2 Etiologi Stunting ................................................................ 7
2.1.3 Gejala Stunting ................................................................... 8
2.1.4 Faktor Resiko Stunting....................................................... 8
2.1.5 Dampak Stunting................................................................ 8

xi
2.1.6 Pencegahan Dan Penanggulangan Stunting ....................... 9
2.1.7 Kriteria Diagnosa Stunting................................................. 10
2.2 Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) ........................... 11
2.2.1 Definis ISPA ...................................................................... 11
2.2.2 Etiologi ISPA ..................................................................... 11
2.2.3 Tanda Dan Gejala ISPA ..................................................... 11
2.2.4 Klasifikasi ISPA................................................................. 12
2.2.5 Faktor Resiko ISPA ........................................................... 15
2.2.6 Jenis-Jenis Penyakit ISPA.................................................. 15
2.2.7 Dampak ISPA .................................................................... 20
2.2.8 Penatalaksanaan Dan Pencegahan ISPA............................ 20
2.3 Hubungan Kejadian Stunting Dengan Riwayat ISPA........ 24
2.4 Kerangka Teori................................................................... 25
2.5 Kerangka Konsep ............................................................... 25
2.6 Hipotesa Penelitian ............................................................ 26

BAB III METODOLOGI PENELITIAN


3.1 Jenis Penelitian................................................................... 27
3.2 Waktu dan Tempat Penelitian ............................................ 27
3.3 Rancangan Peneltian .......................................................... 27
3.4 Subjek Penelitian................................................................ 28
3.4.1 Populasi .............................................................................. 28
3.4.2 Sampel ............................................................................... 28
3.4.3 Teknik Pengambilan Sampel.............................................. 29
3.5 Variabel Penelitian ............................................................. 29
3.6 Definisi Operasional........................................................... 30
3.7 Kriteria Subjek Penelitian .................................................. 31
3.7.1 Kriteria Inklusi ................................................................... 31
3.7.2 Kriteria Eksklusi................................................................. 31
3.8 Pengumpulan Data ............................................................. 31
3.9 Pengolahan Data................................................................. 32
3.10 Analisis Data ...................................................................... 33
3.10.1 Analisis Univariat............................................................. 33
3.10.2 Analisis Bivariat............................................................... 33
3.11 Alur Penelitian ................................................................. 34

xii
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian .................................................................. 35
4.1.1 Gambaran Umum Penelitian .............................................. 35
4.1.2 Karakteristik Balita Stunting Dan Balita normal ............... 36
4.2 Hasil Analisis Univariat ..................................................... 37
4.2.1 Kejadian Stunting............................................................... 37
4.2.2 Riwayat Penyakit ISPA...................................................... 37
4.3 Hasil Analisis Bivariat ....................................................... 38
4.3.1 Hubungan Kejadian Stunting Dengan Riwayat ISPA ....... 38
4.4 Pembahasan........................................................................ 39
4.4.1 Karakteristik Responden .................................................... 39
4.4.2 Kejadian Stunting............................................................... 40
4.4.3 Riwayat penyakit ISPA ...................................................... 41
4.4.4 Hubungan Kejadian Stunting Dengan Riwayat ISPA ....... 42

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN


5.1 Kesimpulan ........................................................................ 46
5.2 Saran................................................................................... 46
5.2.1 Bagi Masayarakat............................................................... 46
5.2.2 Peneliti Selanjutnya............................................................ 47

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

xiii
DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

Tabel 3.1 Definisi Oprasiona ............................................................... 31

Tabel 4.1 Karakteristik Balita Stunting Dan Normal .......................... 36

Tabel 4.2 Balita Stunting Dan Normal Berdasarkan (SD) ................... 37

Tabel 4.3 Riwayat Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA)

Balita Stunting Dan Normal ................................................ 38

Tabel 4.4 Analisis Hubunagn Kejadian Stunting Dengan Riwayat

Penyakit Infeksi saluran Pernafasan Akut (ISPA)............... 39

xiv
DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

Gambar 2.1 Kerangka Teori…………………………………………. 26

Gambar 2.2 Kerangka Konsep………………………………………. 26

Gambar 3.1 Alur Penelitian………………………………………….. 35

xv
DAFTAR SINGKATAN

ASI Air Susu Ibu

BBLR Berat Bayi Lahir rendah

GINA Global Initiative for Asthma

HPK Hari Pertama Kehidupan

IMD Inisiasi Menyusu Dini

IPKM Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat

ISPA Infeksi Saluran Pernafasan Akut

KEK Kurang Energi Kronis

MP-ASI Makanan Pendamping – Air Susu Ibu

PB/U Panjang Badan menurut Umur

PHBS Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat

RISKESDAS Riset Kesehatan Dasar

SD Standar Devias

TB/U Tinggi Badan menurut Umur

TBC Tuberculosis

WHO World Health Organization

WHO-MGRS World Health Organization - Multicentre Growth

Reference Study

xvi
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Lembar Izin Presurvey

Lampiran 2 Lembar Kelaikan Etik

Lampiran 3 Lembar Izin Penelitian

Lampiran 4 Informed Consent

Lampiran 5 Lembar Bimbingan Skripsi

Lampiran 6 Tabel Antropometri

Lampiran 7 Data Sampel Penelitian

Lampiran 8 Dokumentasi Penelitian

Lampiran 9 Hasil Uji Analisis Data SPSS

Lampiran 10 MOTTO

Lampiran 11 PERSEMBAHAN

Lampiran 12 BIODATA

xvii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Permasalahan gizi yang sering terjadi diseluruh negara dunia adalah

kekurangan energi protein seperti marasmus, kwasiorkor, dan stunting. Kekurangan

energi protein dapat berdampak pada perkembangan otak, hal tersebut dipengaruhi

oleh beberapa faktor seperti usia, durasi keadaan kekurangan gizi, pemulihan menuju

keadaan normal, lingkungan, serta terdapat atau tidaknya penyakit. Masalah gizi yang

paling banyak ditemukan pada anak di Indonesia adalah stunting.Stunting adalah

kondisi gagal tumbuh pada anak balita (balita dibawah lima tahun) akibat dari

kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek unttuk usianya. Stunting

didasarkan pada indeks Panjang Badan menurut Umur (PB/U) atau Tinggi Badan

menurut Umur (TB/U) dengan ambang batas (z-score) antara -3 SD sampai dengan <2

SD. Prevalensi pendek (stunting) pada balita dipengaruhi oleh beberapa faktor yang

terkait, antara lain keadaan gizi ibu ketika masa kehamilan, asupan gizi yang kurang

pada bayi, kekurangan konsumsi makanan yang berlangsung lama sehingga status gizi

balita rendah.(Efendhi, A,2015)

Upaya intervensi gizi spesifik untuk balita pendek difokuskanpadakelompok

1.000 HariPertamaKehidupan (HPK), yaitu Ibu hamil, Ibu Menyusui, dan Anak 0-23

bulan, karenapenanggulangan balita pendek yang paling efektif dilakukan pada 1.000

HPK. Periode 1.000HPKmeliputi yang 270 hari selama kehamilan dan 730 hari

1
2

pertama setelah bayi yang dilahirkantelah dibuktikan secara ilmiah merupakan periode

yang menentukan kualitas kehidupan. Olehkarena itu periode ini ada yang

menyebutnya sebagai "periode emas", "periode kritis",dan Bank Dunia (2006)

menyebutnya sebagai "window of opportunity". Periode inilah yang menentukan anak

stunting. (Kementrian Kesehatan, R,I, 2017)

Keadaan stunting dapat menimbulkan berbagai macam penyakit, diantaranya

penyakit yang sering menyerang balita seperti halnya ISPA. Penyakit infeksi ini

merupakan penyakit yang sering menyebabkan kematian. Infeksi saluran pernafasan

akut disebabkan oleh virus atau bakteri. Penyakit ini diawali dengan panas dan disertai

salah satu atau lebih gejala: tenggorokan sakit, atau nyeri telan, pilek, batuk kering atau

berdahak.(Efendhi, A,2015)

Stunting pada balita perlu menjadi perhatian khusus karena dapat menghambat

perkembangan fisik dan mental anak. Stunting berkaitan dengan peningkatan resiko

kesehatan dan kematian serta terhambatnya pertumbuhan dan perkembangan

kemampuan motorik dan mental. Balita yang mengalami stunting memiliki resiko

terjadinya penurunan kemampuan intelektual, produktivitas, dan peningkatan resiko

penyakit degeneratif dimasa mendatang. Hal ini dikarenakan anak stunting juga

cendrung lebih rentan terhadap penyakit infeksi. (Ningrum, E. W,.& Utami, T,2017)

Status gizi merupakan hal yang paling berperan dalam kejadian sakit, terutama

pada balita. Penelitian Hamisah (2011) yang dilakukan di Kabupaten Klaten,

menyebutkan bahwa status gizi memiliki hubungan yang bermakna terhadap penyakit

infekai saluran pernafasan akut(ISPA) dimana balita dengan status gizi kurang mudah
3

terjangkit ISPA. Balita dengan konsumsi pangan hewani, susu, dan produk olahan susu

yang rendah akan menyebabkan balita kekurangan protein dan mineral seperti kalsium

dan seng. Dikarenakan stunting tidak dapat dipisahkan dengan asupan gizi, dimana

asupan gizi akan mempengaruhi pertumbuhan tinggi badan anak. Hubungan

stuntingdengan frekuensi penyakit ISPA dan sistem imunitas tubuh sangat berperan

penting, sehingga apabila konsumsi sayur dan buah tidak mencukupi maka dapat

menyebabkan balita kekuranagn vitamin A dan vitamin C yang dapat menurunkan

imunitas tubuh. Hal ini dapat memicu terjadinya penyakit infeksi pada balita seperti

ISPA. (Efendhi, A,2015)

ISPA adalah penyebab utama morbiditas dan mortalitas penyakit menular

didunia. Hampir empat juta orang meninggal akibat ISPA setiap tahunnya. Selain itu,

ISPA merupakan penyebab utama konsultasi atau rawat inap difasilitas pelayanan

kesehatan terutama pada bagian perawatan anak.Hal yang serupa juga terjadi di

Indonesia. Satu dari empat kematian bayi dan balita di Indonesia diakibatkan oleh

ISPA. Pada setiap tahunnya, setiap anak diperkirakan mengalami 3-6 episode

ISPA.(Maharani, D, et al,2017)

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 di Indonesia mencatat bahwa

prevalensi stunting sebesar 37,2%, meningkat dari tahun 2010 (35,6%) dan 2007

(36,8%). Persentase tersebut dengan pembagian untuk kategori sangat pendek 19,2%

dan pendek 18,1%. Artinya, diperkirakan lebih dari sepertiga atau lebih dari 8,9 juta

anak usia dibawah 5 tahun di Indonesia mengalami pertumbuhan yang tidak sesuai

ukuran standar internasional untuk tinggi badan berbanding usia. Selain itu, untuk anak
4

Indonesia yang dalam keadaan kurus, diperkirakan ada sekitar 3,3 juta

anak.(Onetusfifsi, P,2016)

Ditahun 2014 Kementerian Kesehatan merilis turunan dari Riskesdas 2013

yang disebut Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM) 2014. IPKM 2014

membreak down data Riskesdas 2013 dilevel Kabupaten Kota untuk prevalensi balita

sangat pendek dan pendek adalah sebagai berikut, Kabupaten Lampung Barat 34,60%,

Tanggamus 39,66%, Lampung Selatan 43,01 %, Lampung Timur 43,17%. Lampung

Tengah 52,68%, Lampung Utara 32,44%, Way Kanan 29,80 %, Tulang Bawang

40,99%, Pesawaran 50,81%, Pringsewu 36,9 9%, Mesuji 43,43%, Tulang Bawang

Barat 40,08%, Bandar Lampung, 44,59%, dan Metro 47,34%.(Lampung, D. K. P.

2016)

Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan, peneliti tertarik untuk lebih lanjut

meneliti mengenai: “Hubungan kejadian stuntingdenganriwayat penyakit infeksi

saluran pernafasan akut (ISPA) padabalita usia 24-59 bulandi Desa Mataram

Ilir, Kecamatan Seputih Surabaya, Kabupaten Lampung Tengah, tahun 2019”.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka penulis merumuskan masalah

dalam penelitian ini yaitu “adakahhubungan kejadianstunting dengan riwayat penyakit

infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) pada balita usia 24-59 bulandi Desa Mataram

Ilir, Kecamatan Seputih Surabaya, Kabupaten Lampung Tengah, tahun 2019?”.


5

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Untuk mengetahui hubungankejadian stunting dengan riwayat penyakit infeksi

saluran pernafasan akut (ISPA) pada balita usia 24-59 bulandi Desa Mataram Ilir,

Kecamatan Seputih Surabaya, Kabupaten Lampung Tengah, tahun 2019.

1.3.2 Tujuan Khusus

1. Mengetahui gambaran kejadian stunting pada balita usia 24-59 bulan di Desa Mataram

Ilir, Kecamatan Seputih Surabaya, Kabupaten Lampung Tengah, tahun 2019.

2. Mengetahui gambaran kejadian penyakit infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) pada

balita usia 24-59 bulan di Desa Mataram Ilir, Kecamatan Seputih Surabaya, Kabupaten

Lampung Tengah, tahun 2019.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Bagi Institusi Malahayati

1. Dapat dijadikan bahan referensi khususnya bagi mahasiswa Kedokteran Universitas

Malahayati tentang hubungan kejadian stuntingdenganriwayat penyakit infeksi saluran

pernafasan akut (ISPA) pada balita usia 24-59 bulandi Desa Mataram Ilir, Kecamatan

Seputih Surabaya, Kabupaten Lampung Tengah, tahun 2019.

1.4.2 Bagi Tempat Penelitian

Sebagai bahan evaluasi bagi petugas kesehatan unit program gizi anak di Desa

mataram Ilir, Kecamatan Seputih Surabaya, Kabupaten Lampung Tengah untuk


6

meningkatkan pengetahuan dampakkejadian stuntingdengan riwayat penyakit infeksi

saluran pernafsan akut (ISPA) pada balita usia 24-59 bulan.

1.4.3 Bagi Peneliti

Dapat menambah wawasan dan pengetahuan peneliti tentang penyakit infeksi

saluran pernafasan akut (ISPA) dan stunting serta pengalaman mengaplikasikan mata

ajar metodelogi penelitian.

1.4.4 Ruang Lingkup Penelitian

1. Judul penelitian: “Hubungan kejadian stunting denganriwayat penyakit infeksi saluran

pernafasan akut (ISPA) pada balita usia 24-59 bulandi Desa Mataram Ilir, Kecamatan

Seputih Surabaya, Kabupaten Lampung Tengah, tahun 2019”.

2. Jenis penelitian: menggunakan metode penelitian observasi analitik dengan rancangan

case control.

3. Subyek penelitian: Balita stuntingsebagai kelompok kasus dan balita normal sebagai

kelompok kontrol yang berada di Desa Mataram Ilir, Kecamatan Seputih Surabaya,

Kabupaten Lampung Tengah, Tahun 2019.

4. Waktu dan tempat penelitian:Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari tahun 2019

samapai dengan selesai. Penelitian ini dilakukan di Desa Mataram Ilir, Kecamatan

Seputih Surabaya, Kabupaten Lampung Tenga


7

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Stunting

2.1.1 Definisi

Stunting adalah gangguan pertumbuhan linier yang tidak sesuai dengan umur

yang mengindikasikan kejadian jangka panjang serta merupakan dampak akumulatif

dari ketidakcukupan konsumsi zat gizi, kondisi kesehatan yang buruk dan pengasuhan

yang tidak memadai. (Damayanti, R. A., et al. 2017)

Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi

yang kurang dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai

dengan kebutuhan gizi. Stunting dapat terjadi mulai janin masih dalam kandungan dan

baru nampak saat anak berusia dua tahun. (Rachim, A. N. F., & Pratiwi, R. 2017)

2.1.2 Etiologi

Banyak faktor yang dapat menyebabkan kejadian stunting pada balita.Faktor-

faktor tersebut dapat berasal bersifat langsung dan tidak langsung. Penyebab langsung

dari kejadian stunting adalah asupan MP-ASI, riwayat ASI eksklusif, tinggi badan

orang tua, berat bayi lahir rendah (BBLR), dan riwayat penyakit infeksi, sedangkan

penyebab tidak langsungnya adalah faktor pendidikan, faktor pekerjaan, dan status

ekonomi keluarga.(Oktavia S, et al,2017)


8

2.1.3Gejala Klinis

Balita stunting umumnya terlihat normal dan sehat. Namun jika ditelisik lebih

jauh ada aspek-aspek lain yang justru jadi persoalan.Tidak hanya kognitif atau fisik,

anak yang mengalami stunting cenderung memiliki sistem metabolisme tubuh yang

tidak optimal.Misalnya kalau anak lain bisa tumbuh ke atas, dia justru tumbuh ke

samping.(Kementrian Kesehatan, R. I,2018))

2.1.4Faktor Resiko

Faktor risiko yang mempengaruhi kejadian stunting pada anak umur 12 - 24

bulan adalah rendahnya tingkat kecukupan energi, potein, seng, berat badan lahir

rendah, pemberian ASI tidak eksklusif, penyakit infeksi dan tingginya pajanan

pestisida. (Wellina, W. F.et al, 2016)

2.1.5Dampak Pada Balita

Dampak buruk yang dapat ditimbulkan oleh masalah gizi pada periode tersebut,

dalam jangka pendek adalah terganggunya perkembangan otak, kecerdasan, gangguan

pertumbuhan fisik, dan gangguan metabolisme dalam tubuh. Sedangkan dalam jangka

panjang akibat buruk yang dapat ditimbulkan adalah menurunnya kemampuan kognitif

dan prestasi belajar, menurunnya kekebalan tubuh sehingga mudah sakit, dan risiko

tinggi untuk munculnya penyakit diabetes, kegemukan, penyakit jantung dan

pembuluh darah, kanker, stroke, dan disabilitas pada usia tua, serta kualitas kerja yang

tidak kompetitif yang berakibat pada rendahnya produktivitas ekonomi. (Kementerian

Kesehatan, R. I,2017)
9

2.1.6Pencegahan Dan Penanggulangan

Periode yang paling kritis dalam penanggulangan stunting dimulai sejak janin

dalam kandungan sampai anak berusia 2 tahun yang disebut dengan periode emas

(seribu hari pertama kehidupan). Oleh karena itu, perbaikan gizi diprioritaskan pada

usia seribu hari pertama kehidupan yaitu 270 hari selama kehamilannya dan 730 hari

pada kehidupan pertama bayi yang dilahirkannya.

Pencegahan dan penanggulangan stunting yang paling efektif dilakukan pada

seribu hari pertama kehidupan, meliputi :

1. Pada ibu hamil

a. Memperbaiki gizi dan kesehatan ibu hamil merupakan cara terbaik dalam

mengatasi stunting. Ibu hamil perlu mendapat makanan yang baik. Apa bila

ibu hamil dalam keadaan sangat kurus atau telah mengalami Kurang Energi

Kronis (KEK), maka perlu diberikan makanan tambahan kepada ibu hamil

tersebut.

b. Setiap ibu hamil perlu mendapat tablet tambah darah, minimal 90 tablet

selama kehamilan.

c. Kesehatan ibu harus tetap dijaga agar ibu tidak mengalami sakit.

2. Pada saat bayi lahir

a. Persalinan ditolong oleh bidan atau dokter terlatih dan begitu bayi lahir

melakukan IMD (Inisiasi Menyusu Dini).

b. Bayi sampai dengan usia 6 bulan diberi ASI saja (ASI Eksklusif).
10

3. Bayi berusia 6 bulan sampai dengan 2 tahun

a. Mulai usia 6 bulan, selain ASI bayi diberi Makanan Pendamping ASI (MP-

ASI). Pemberian ASI terus dilakukan sampai bayi berumur 2 tahun atau

lebih.

b. Bayi dan anak memperoleh kapsul vitamin A, taburia, dan imunisasi dasar

lengkap.

c. Memantau pertumbuhan balita diposyandu merupakan upaya yang

strategis untuk mendeteksi dini terjadinya gangguan pertumbuhan.

4. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) harus diupayakan oleh setiap rumah

tangga termasuk meningkatkan akses terhadap air bersih dan fasilitas sanitasi, serta

menjaga kebersihan lingkungan.

5. PHBS menurunkan kejadian sakit terutama penyakit infeksi yang dapat membuat

energy untuk pertumbuhan teralihkan kepada perlawanan tubuh menghadap

iinfeksi, gizi sulit diserap oleh tubuh dan terhambatnya pertumbuhan. (Kementrian

Kesehatan, R. I, 2017)

2.1.7 Kriteria Diagnostik

Balita pendek adalah balita dengan status gizi yang berdasarkan panjang atau

tinggi badan menurut umurnya bila dibandingkan dengan standar baku WHO-MGRS

(Multicentre Growth Reference Study) tahun 2005, nilai z-scorenya<-2SD dan

dikategorikan sangat pendek jika nilai z-scorenya<-3SD. (Kementrian Kesehatan, R. I,

2017)
11

2.2 Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA)

2.2.1 Definisi ISPA

Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) adalah infeksi akut yang menyerang

salah satu bagian atau lebih dari saluran napas mulai hidung sampai alveoli termasuk

adneksanya (sinus, rongga telinga tengah, pleura). Menurut Organisasi Kesehatan

Dunia (World Health Organization/WHO), ISPA merupakan penyakit saluran

perrapasan akut yang disebabkan oleh agen infeksius yang menimbulkan gejala dalam

waktu beberapa jam sampai beberapa hari. Penyakit ini ditularkan umumnya melalui

droplet, namun berkontak dengan tangan atau permukaan yang terkontaminasi juga

dapat menularkan penyakit ini. (Maharani, D.,et al, 2017)

2.2.2 Etiologi ISPA

ISPA baik atas maupun bawah mengalami infeksi yang disebabkan oleh

bakteri, virus, dan riketsia yang menyebabkan radang akut tanpa disertai radang

parenkim paru. Bakteri penyebab ISPA antara lain adalah Genus Streptococcus,

Staphylococcus, Pneumococcus, Hemofilus, Bordetella dan Corynebacterium. Virus

penyebab ISPA antara lain adalah golongan Miksovirus, Adenovirus, Koronavirus,

Pikomavirus, Mikooplasma, Herpesvirus dan lain-lain.(Hadiana, S. Y. M, 2013)

2.2.3 Tanda Dan Gejala Klinis ISPA

Tanda dan gejala ISPA banyak bervariasi antara lain demam, pusing, malaise

(lemas), anoreksia (tidak nafsu makan), vomitus (muntah), photopobia (takut cahaya ),

gelisah batuk , keluar secret, stridor (suara nafas mengorok), dyspnea (kesakitan

bernafas), retraksi suprasternal (adanya tarikan dada), hipoksia (kurang oksigen), dan
12

dapat berlanjut pada gagal nafas apabila tidak mendapat pertolongan dan

mengakibatkan kematian. (Dekawati, W,2014)

2.2.4 Klasifikasi ISPA

A. Mengklasifikasikan penyakit ISPA atau infeksi saluran pernapasan akut bagian atas

dan infeksi saluran pernapasan akut bagian bawah.

1. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) Bagian Atas. Adalah infeksi-infeksi yang

terutama mengenai strukturstruktur saluran napas disebelah atas laring.

Kebanyakan penyakit saluran napas mengenai bagian atas dan bawah secara

bersama-sama atau berurutan, tetapi beberapa diantaranya adalah Nasofaringitis

akut (salesma), Faringitis akut (termasuk Tonsilitis dan Faringotositilitis) dan

rhinitis.

2. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) bagian bawah. Adalah infeksi-infeksi

yang terutama mengenai struktur-struktur saluran napas bagian bawah mulai dari

laring sampai dengan alveoli. Penyakit-penyakit yang tergolong Infeksi Saluran

Pernapasan Akut (ISPA) bagian bawah: Laringitis, Asma Bronchial, Bronchitis

akut maupun kronis, Broncho Pneumonia atau Pneumonia.

B. Klasifikasi ISPA dibedakan untuk golongan umur dibawah 2 bulan dan untuk

golongan umur 2 bulan-5 tahun.

1. Golongan umur kurang 2 bulan :

1) Pneumonia berat
13

Bila disertai salah satu tanda tarikan kuat didinding pada bagian bawah atau

nafas cepat. Napas cepat untuk golongan umur kurang dari 2 bulan yaitu 60 kali

per menit atau lebih.

2) Bukan Pneumonia (batuk pilek biasa)

Bila tidak ditemukan tanda tarikan kuat dinding dada bagian bawah atau napas

cepat. Tanda bahaya untuk golongan umur kurang 2 bulan, yaitu: kemampuan

minum menurun sampai kurang dari ½ volume yang biasa diminum, kejang,

kesadaran menurun, stridor, wheezing (mengi), serta demam/dingin.

2. Golongan umur 2 bulan-5 tahun.

1) Pneumonia Berat

Bila disertai napas sesak yaitu adanya tarikan didinding dada bagian

bawahkedalam pada waktu anak menarik napas.

2) Pneumonia Sedang

Bila disertai napas cepat. Batas napas cepat ialah : untuk usia 2 bulan – 12

bulan = 50 kali per menit atau lebih sedangkan untuk usia 1-4 tahun = 40 kali per

menit atau lebih.

3) Bukan Pneumonia

Bila tidak ditemukan tarikan dinding dada bagian bawah dan tidak ada napas

cepat. Tanda bahaya untuk golongan umur 2 bulan-5 tahun yaitu: tidak bisa

minum, kejang, kesadaran menurun, stridor, serta gizi buruk.


14

C. ISPA diklasifikasikan kedalam tiga kategori, yaitu :

1. ISPA ringan Tanda dan gejala ISPA ringan yaitu batuk, pilek, demam, tidak ada

napas cepat 40 kali per menit, tidak ada tarikan dinding ke dada dalam. Seseorang

dinyatakan menderita ISPA ringan jika ditemukan gejala-gejala: batuk, serak

(bersuara parau pada waktu mengeluarkan suara), pilek (mengeluarkan lendir dari

hidung), panas atau demam (suhu badan lebih dari 30ºC). Penderita ISPA ringan

cukup dibawa ke puskesmas atau diberi obat penurun panas di rumah.

2. ISPA sedang Tanda atau gejala ISPA sedang yaitu sesak napas, suhu tubuh lebih

dari 39ºC, bila bernapas mengeluarkan suara seperti mendengkur. Seseorang

dinyatakan menderita ISPA sedang jika dijumpai gejala ISPA ringan disertai

gejala: suhu tubuh lebih dari 39ºC, tenggorokan berwarna merah, timbul bercak-

bercak pada kulit menyerupai bercak campak, telinga 13 sakit atau mengeluarkan

nanah dari telinga, pernapasan berbunyi seperti mendengkur.

3. ISPA berat Tanda dan gejala ISPA berat yaitu kesadaran menurun, nadi cepat atau

tidak teraba, nafsu maka menurun, bibir dan ujung jari membiru (sianosis).

Seseorang dinyatakan menderita ISPA berat jika ditemukan gejala ISPA ringan

atau sedang disertai satu atau lebih gejala yaitu: bibir atau kulit membiru, lubang

hidung kembang kempis pada waktu bernapas, tidak sadar atau kesadarannya

menurun, pernapasan berbunyi mendengkur atau tampak gelisah, pernapasan

menciut, sela iga tertarik kedalam pada waktu bernapas, nadi cepat lebih dari 60

kali per menit atau tidak teraba, tenggorokan berwarna merah. (Alfarindah,

F.2017)
15

2.2.5 Faktor Resiko ISPA

Terdapat beberapa faktor resiko kesakitan hingga resiko kematian pada balita

penderita ISPA. Diantaranya faktor Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR), status gizi,

imunisasi, kepadatan tempat tinggal dan lingkungan fisik. Salah satunya balita dengan

riwayat Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR). Pada bayi BBLR, pembentukan zat anti

kekebalan kurang sempurna sehingga lebih mudah terkena penyakit infeksi terutama

pneumonia.

Berdasarkan hasil penelitian mengenai status imunisasi merupakan faktor risiko

yangberhubungan dengan kejadian ISPA pada balita. Imunisasi sangat berguna dalam

menentukan ketahanan tubuh bayi terhadap gangguan penyakit.

Salah satu faktor penyebab ISPA juga yaitu keadaan lingkungan fisik dan

pemeliharaan lingkungan rumah. Pemeliharaan lingkungan rumah dengan cara

menjaga kebersihan di dalam rumah, mengatur pertukaran udara dalam rumah,

menjaga kebersihan lingkungan luar rumah dan mengusahakan sinar matahari masuk

ke dalam rumah disiang hari, supaya pertahanan udara didalam rumah tetap bersih

sehingga dapat mencegah kuman dan termasuk menghindari kepadatan penghuni

karena dianggap risiko meningkatnya terjadinya ISPA. (Oktaviani, I., et al. 2014)

2.2.6 Jenis-Jenis Penyakit ISPA

1. Nasofaringitis

Nasofaringitis adalah infeksi primer pada nasofaring dan hidung yang sering

mengeluarkan cairan, penyakit ini banyak dijumpai pada bayi dan anak-anak.

Dibedakan istilah nasofaringitis akut adalah istilah untuk anak, sedangkan common
16

cold adalah istilah untuk orang dewasa atau yang kita kenal dengan sebutan infuenza.

Dalam hal ini manifestasi klinis antara orang dewasa dan anak berlainan. Pada anak

infeksi lebih luas, mencakup daerah sinus parsial, telinga tengah sampai nasofaring,

disertai demam yang tinggi. Pada orang dewasa infeksi mencakup daerah terbatas dan

biasanya tidak disertai demam yang tinggi. Pada bayi dan anak-anak infeksi saluran

nafas seperti nasofaringitis sangat berbahaya karena dapat mengganggu makan dan

kadang-kadang menyebabakan infeksi saluran nafas bawah menjadi lebih akut, apabila

tidak disertai penanganan khusus dari orangtua. Gejala penyakit nasofaringitis pada

anak-anak yaitu gejala awal berupa rasa tidak enak dihidung atau tenggorokkan,

penderita mulai bersin-bersin, hidung mengeluarkan cairan yang encer atau jernih,

biasanya tidak timbul demam tetapi bisa muncul demam ringan, disertai batuk atau

tanpa batuk.

2. Faringitis

Faringitis merupakan peradangan dinding faring yang dapat disebabkan oleh

virus, bakteri, alergi, trauma, toksin, dll. Faringitis umumnya terjadi didaerah beriklim

dingin. Faringitis adalah suatu penyakit peradangan tenggorokan (faring) yang bersifat

mendadak dan cepat memberat. Radang tenggorokan dapat merupakan tanda awal

pilek, tapi juga dapat merupakan gejala penyakit tertentu yang disebut faringitis. Pada

radang tenggorokan yang merupakan awal pilek, gejala bisa menghilang setelah

beberapa hari. Penyebab terbanyak radang ini adalah kuman golongan streptokokus

Beta Hemolitikus, Streptokokus viridians dan Streptokokus piogeners. Faringitis akut

dapat menular melalui kontak dari sekret hidung dan ludah (droplet infection) dari
17

oang yang menderita faringitis. Gejala faringitis pada anak adalah mengalami demam

tinggi, terdapat bintik-bintik merah terang dan nanah putih dibagian belakang langit-

langit dan amandel, dan kesulitan menelan makanan.

3. Rinitis

Rinitis aadalah kelainan pada hidung dengan gejala bersin-bersin, rinore, rasa

gatal dan tersumbat pada mukosa hidung. Berdasarkan sifat berlangsungnya terdapat

dua macam rhinitis yaitu rinitis musiman dan rinitis sepanjang tahun. Gejala keduanya

hampir sama, hanya berbeda dalam sifat berlangsungnya. Rinitis melibatkan interaksi

antara lingkungan dengan predisposisi genetik dalam perkembangan penyakitnya.

Alergen yang menyebabkan rinitis musiman biasanya berupa serbuk sari atau jamur.

Rinitis perenial (sepanjang tahun) diantaranya debu tungau, terdapat dua spesies utama

tungau yaitu Dermatophagoides farinae dan Dermatophagoides pteronyssinus, jamur,

kecoa, dll. Berbagai pemicu yang dapat memberatkan adalah beberapa faktor

nonspesifik diantaranyaasap rokok, polusi udara, bau aroma yang kuat atau

merangsang dan perubahan cuaca. Gejala rinitis adalah bersin berulang-ulang terutama

pada pagi atau malam hari dengan intensitas lebih dari 5 kali bila terdapat kontak

dengan debu, keluar ingus (rinore) yang encer, hidung tersumbat, hidung dan mata

terasa gatal kadang disertai keluar banyak air mata (lakrimasi), mengalami pucat.

Gejala lain yang mungkin terjadi berupa batuk, mengalami sakit kepala, terjadi

masalah penciuman, kehilangan nafsu makan dan susah tidur.


18

4. Asma

Global Initiative for Asthma (GINA) mendefinisikan sebagai gangguan

inflamasi kronik saluran nafas dengan banyak sel yang berperan, khususnya sel mast,

eosinofil, dan limfosit T. Pada orang yang rentan inflamasi dapat menyebabkan mengi

berulang, sesak nafas, rasa dada tertekan dan batuk khususnya pada malam atau dini

hari. Mekanisme utama timbulnya gejala asma diakibatkan hipereaktivitas bronkus,

sehingga pengobatan utama asma adalah mengatasi bronkospasme. Pada anak-anak,

asap rokok akan memberikan efek lebih parah dibandingkan orang dewasa, ini

disebabkan lebar saluran pernafasan anak lebih sempit, sehingga jumlah nafas anak

akan lebih cepat dari orang dewasa.

5. Bronkitis

Bronkitis adalah suatu penyakit yang ditandai adanya dilatasi (ekstasis) bronkus

lokal yang bersifat patologis dan berjalan kronik. Perubahan bronkus tersebut

disebabkan oleh perubahan-perubahan oleh perubahan-perubahan dalam dinding

bronkus berupa destruksi elemen-elemen elastis dan otot-otot polos bronkus. Bronkus

yang terkena umumnya bronkus kecil (medium size), sedangkan bronkus besar jarang

terjadi. Hal ini dapat memblok aliran udara ke paru-paru dan dapat merusaknya. Secara

umum penyebab bronkitis dibagi berdasarkan faktor lingkungan dan faktor

host/penderita. Penyebab bronkitis berdasarkan faktor lingkungan meliputi polusi

udara, merokok dan infeksi. Infeksi sendiri terbagi manjadi infeksi bakteri

(Staphylococcus, Pertusis, Tuberculosis, mikroplasma), infeksi virus (RSV,

Parainfluenza, Infuenza, Adeno) dan infeksi fungi (Monilia). Faktor polusi udara
19

meliputi polusi asap rokok atau uap/gas yang memicu terjadinya bronkitis. Gejala

umum bronkitis akut maupun bronkitis kronik adalah batuk dan produksi sputum

biasanya terjadi setiap hari paling sedikit 3 bulan atau 2 tahun berturut-turut, dahak

dapat berwarna bening, putih atau hijau kekuningan, mengalami dyspnea (sesak nafas),

mengalami kelelahan, sakit tenggorokan, nyeri otot, hidung tersumbat, sakit kepala,

kadang disertai demam.

6. Pneumonia

Pneumonia adalah infeksi akut yang mengenai jaringan paru-paru (alveoli).

Terjadinya pneumonia pada anak seringkali bersamaan dengan terjadinya proses

infeksi akut pada bronkus yang disebut bronchopneumonia. Gejala penyakit

pneumonia ini berupa nafas cepat dan nafas sesak, karena paru meradang secara

mendadak. Selain itu gejala pneumonia yang lain adalah mengalami kesulitan bernafas

dengan stidor (ngorok), kejang, anak mengalami mengi, dan sulit menelan makanan

atau minuman. Batas nafas cepat adalah frekuensi pernafasan sebanyak 50 kali per

menit atau lebih pada anak usia 2 bulan sampai kurang dari 1 tahun, dan 40 kali per

menit atau lebih pada nanak usia 1 tahun sampai kurang dari 5 tahun.

7. Tuberculosis (TBC)

Tuberculosis (TB) adalah infeksi bakteri pada paru-paru yang diperkirakan

mempengaruhi sekitar sepertiga penduduk dunia. Kuman TB menyebar ketika

penderita TB batuk atau bersin. Pada anak-anak gejala TB adalah batuk kering,

kesulitan bernafas, demam, nafsu makan menurun, mengeluarkan keringat ketika

malam hari dan sulit mendapatkan kenaikan berat badan. Namun gejala seringkali
20

tidak jelas atau samar sehingga untuk memastikan TB perlu diagnosis dengan tes kulit

(mantoux) dan rongga paru. Bila anak anda terdiagnosisi TB tersedia pengobatan

seperti INH atau rifampisin yang harus diberikan untuk jangka waktu tertentu (6 bulan

atau lebih) tanpa putus. (Pratiwi, A., Wahyuni, E,G, 2016)

2.2.7 Damapak ISPA Pada Balita

Dampak yang yang paling dirasakan adalah sesak nafas, pilek, demam,

kelelahan dan kelemahan sehingga balita berkurang aktifitasnya, padahal proses

tumbuh kembang pada balitas sangatlah penting. (Mardiah, 2017)

Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) merupakan salah satu penyebab

kematian tersering pada anak di negara sedang berkembang. ISPA menyebabkan

empat dari 15 juta perkiraan kematian pada anak berusia dibawah 5 tahun pada setiap

tahunnya Sebanyak dua pertiga kematian tersebut adalah bayi (khususnya bayi muda).

(Libianingsih, R. 2014)

2.2.8 Penatalaksanaan Dan Pencegahan ISPA

Penatalaksanaan ISPA meliputi langkah atau tindakan sebagai berikut :

A. Pemeriksaan

Pemeriksaan Pemeriksaan artinya memperoleh informasi tentang penyakit anak

dengan mengajukan beberapa pertanyaan kepada ibunya, melihat dan

mendengarkan anak. Hal ini penting agar selama pemeriksaan anak tidak menangis

(bila menangis akan meningkatkan frekuensi napas), untuk ini diusahakan agar

anak tetap dipangku oleh ibunya. Menghitung napas dapat dilakukan tanpa

membuka baju anak. Bila baju anak tebal, mungkin perlu membuka sedikit untuk
21

melihat gerakan dada. Untuk melihat tarikan dada bagian bawah, baju anak harus

dibuka sedikit. Tanpa pemeriksaan auskultasi dengan steteskop penyakit

pneumonia dapat didiagnosa dan diklassifikasi.

B. Pengobatan

a) Pneumonia berat : dirawat dirumah sakit, diberikan antibiotik parenteral,

oksigen dan sebagainya.

b) Pneumonia: diberi obat antibiotik kotrimoksasol peroral. Bila penderita tidak

mungkin diberi kotrimoksasol atau ternyata dengan pemberian kotrimoksasol

keadaan penderita menetap, dapat dipakai obat antibiotik pengganti yaitu

ampisilin, amoksisilin atau penisilin prokain.

c) Bukan pneumonia: tanpa pemberian obat antibiotik. Diberikan perawatan

dirumah, untuk batuk dapat digunakan obat batuk tradisional atau obat batuk

lain yang tidak mengandung zat yang merugikan seperti kodein,

dekstrometorfan dan, antihistamin. Bila demam diberikan obat penurun panas

yaitu parasetamol. Penderita dengan gejala batuk pilek bilapada pemeriksaan

tenggorokan didapat adanya bercak nanah (eksudat) disertai pembesaran

kelenjar getah bening dileher, dianggap sebagai radang tenggorokan oleh

kuman streptococcuss dan harus diberi antibiotik (penisilin) selama 10 hari.

C. Penanganan di rumah

Beberapa hal yang perlu dikerjakan seorang ibu untuk mengatasi anaknya yang

menderita ISPA.
22

a) Mengatasi panas (demam) Untuk anak usia 2 bulan samapi 5 tahun demam

diatasi dengan memberikan parasetamol atau dengan kompres, bayi

dibawah 2 bulan dengan demam harus segera dirujuk.Parasetamol

diberikan 4 kali tiap 6 jam untuk waktu 2 hari. Cara pemberiannya, tablet

dibagi sesuai dengan dosisnya, kemudian digerus dan diminumkan.

Memberikan kompres, dengan menggunakan kain bersih, celupkan pada air

(tidak perlu air es).

b) Mengatasi batuk Dianjurkan memberi obat batuk yang aman yaitu ramuan

tradisional yaitu jeruk nipis ½ sendok teh dicampur dengan kecap atau

madu ½ sendok teh , diberikan tiga kali sehari.

c) Pemberian makanan Berikan makanan yang cukup gizi, sedikit-sedikit

tetapi berulang-ulang yaitu lebih sering dari biasanya, lebih-lebih jika

muntah. Pemberian ASI pada bayi yang menyusu tetap diteruskan.

d) Pemberian minuman usahakan pemberian cairan (air putih, air buah dan

sebagainya) lebih banyak dari biasanya. Ini akan membantu mengencerkan

dahak, kekurangan cairan akan menambah parah sakit yang diderita.

e) Lain-lain Tidak dianjurkan mengenakan pakaian atau selimut yang terlalu

tebal dan rapat, lebih-lebih pada anak dengan demam. Jika pilek, bersihkan

hidung yang berguna untuk mempercepat kesembuhan dan menghindari

komplikasi yang lebih parah. Usahakan lingkungan tempat tinggal yang

sehat yaitu yang berventilasi cukup dan tidak berasap. Apabila selama

perawatan dirumah keadaan anak memburuk maka dianjurkan untuk


23

membawa kedokter atau petugas kesehatan. Untuk penderita yang

mendapat obat antibiotik, selain tindakan diatas usahakan agar obat yang

diperoleh tersebut diberikan dengan benar selama 5 hari penuh. Dan untuk

penderita yang mendapatkan antibiotik, usahakan agar setelah 2 hari anak

dibawa kembali kepetugas kesehatan untuk pemeriksaan ulang.

(Rasmaliah, 2014)

Pencegahan dan Pemberantasan Pencegahan dapat dilakukan dengan :

a. Menjaga keadaan gizi agar tetap baik.

b. Immunisasi.

c. Menjaga kebersihan prorangan dan lingkungan.

d. Mencegah anak berhubungan dengan penderita ISPA. Pemberantasan yang

dilakukan adalah :

a) Penyuluhan kesehatan yang terutama ditujukan pada para ibu.

b) Pengelolaan kasus yang disempurnakan.

c) Immunisasi.

(Rasmaliah, 2014)

Pencegahan primer yang dapat dilakukan untuk mencegah penyakit khusunya

ISPA pada balita yaitu dapat dengan memberikan imunisasi lengkap, pemenuhan

nutrisi yang optimal, menciptakan lingkungan yang sehat, serta memelihara

kebersihan dan kesehatan (personal hygiene) balita. (Ridwan, A., & Zahriani, Z.

2016)
24

2.3 Hubungan Kejadian Stunting Dengan ISPA

Salah satu faktor risiko kejadian stunting kurangnya asupan gizi dalam jangka

waktu yang lama, sehingga dapat terjadi perlambatan pertumbuhan dan berpengaruh

terhadap status gizi. Penyakit infeksi dapat mengakibatkan berat badan turun secara

akut dan berpengaruh pada status gizi balita bila terjadi dalam jangka waktu yang

lama. Balita dengan status gizi yang kurang mempunyai sistem imun yang rendah

yang dapat membuat balita mudah terkena penyakit infeksi . (Wellina, W. F.,et al.

2016)

Keadaan stunting dapat menimbulkan berbagai macam penyakit infeksi,

diantaranya penyakit yang sering menyerang balita seperti halnya ISPA. Penyakit

infeksi ini merupakan penyakit yang dapat menyebabkan kematian. Infeksi saluran

pernapasan akut disebabkan oleh virus dan bakteri. Penyakit ini diawali dengan panas

disertai salah satu gejala: tenggorokan sakit, nyeri telan, pilek, batuk kering atau

berdahak. Periode prevalensi ISPA dihitung dalam kurun waktu 1 bulan terakhir.

Penelitian oleh Efendi (2015) anak stunting yang mengalami ISPA dengan frekuensi

sering sebesar 85,2%.


25

2.4 Kerangka Teori

Faktor resiko stunting

1.Asupan gizi kurang


2.BBLR
3.Pemberian ASI tidak
eksklusif
4.Pejanan pestisida

Gangguan pertumbuhan dan gangguan metabolisme tubuh

Imunitas menurun

Kerentanan terhadap penyakit

Keterangan:

= Tidak diteliti

= Diteliti

Gambar 1. Kerangka Teori Kejadian ISPA


(Sumber :Wellina, W. F.,et al, 2016)

2.5 Kerangka Konsep


Variabel Independen Variabel Dependen

Stunting ISPA

Gambar 2. Kerangka konsep penelitian


26

2.6 Hipotesis Penelitian

HA Ada hubungan kejadian stunting dengan riwayat penyakit infeksi saluran

pernafasan akut (ISPA)pada balita usia 24-59 bulandi Desa Mataram Ilir,

Kecamatan Seputih Surabaya, Kabupaten Lampung Tengah, tahun 2019.

HO Tidak ada hubungan kejadian stunting dengan riwayat penyakit infeksi saluran

pernafasan akut (ISPA) pada balita usia 24-59 bulan di Desa Matarm Ilir,

Kecamatan Seputih Surabaya, Kabupaten Lampung Tengah, tahun 2019.


27

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Desain penelitian ini menggunakan metode observasi analitik dengan desain

penelitian stadi case control.

3.2 Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian akan dilaksanankan pada bulan Februari 2019 sampai selesai dan

tempat penelitian di Desa Mataram Ilir, Kecamatan Seputih Surabaya, Kabupaten

Lampung Tengah.

3.3 Rancangan Penelitian

Rancangan penelitian dalam penelitian ini dengan menggunakan desain

penelitian observasi analitik yaitu penelitian yang mencoba menggali bagaimana

hubungan antara variabel independent dan variabel dependent dan menggunakan

pendekatan case control. Riwayat paparan dalam penelitian ini dapat diketahui

berdasarkan pengukuran (TB/U) dan dengan tabel antropometri penilaian status gizi

untuk stunting, sedangkan untuk ISPA menggunakan data rekam medis Puskesmas

Seputih Surabaya.
28

3.4 Subjek Penelitian

3.4.1 Populasi

Populasi adalah subjek yang hendak diteliti dan memiliki sifat-sifat yang sama.

Menurut Notoatmodjo “populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang

di teliti”. Berdasarkan pengertian diatas, peneliti menentukun populasi dalam

penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data-data yang benar-benar relevan dengan

masalah yang diteliti. Adapun populasi dalam penelitian ini berjumlah 463 dengan

prevalensi balita stunting 38,01% atau 106 di Desa Mataram Ilir, Kecamatan Surabaya,

Kabupaten Lampung Tengah, tahun 2019.

3.4.2 Sampel

Sampel adalah sebagian dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap

mewakili seluruh populasi.(Notoatmodjo, 2012)

Cara perhitungan sampel untuk penelitian yang digunakan sebagai berikut:

Metode penelitian besar sampel terhadap populasi dihitung menggunakan metode

slovin:

n=
( )²

n=
( , )²

n=
( , )

n=
,
29

n=
,

n= 51,4orang

Keterangan:

N = Jumlah Populasi

n = Jumlah Sampel

d = Derajat penyimpangan terhadap populasi yang diharapkan (10%)

Berdasarkan hasil perhitungan sampel diatas, maka dapat diketahui sampel

dalam penelitian ini berjumlah 52 responden untuk masing-masing kelompok kasus

dan kelompok kontrol.

3.4.3 Teknik Pengambilan Sampel

Sedangkan teknik pengambilan sampel dengan metode purposive sampling

terhadap seluruh balitastunting di Desa Mataram Ilir, Kecamatan Seputih Surabaya,

Kabupaten Lampung Tengah, tahun 2019 yang menderita stunting hingga terpenuhi

jumlah sampel yang dibutuhkan.

3.5 Variabel Penelitian

Penelitian ini mempunyai dua variabel, yaitu: variabel bebas atau independen

yaitu stuntingdan variabel terkait atau variabel dependen yaituISPA.


30

3.6 Definisi Oprasional


3.1 Tabel Definisi Oprasional

N Variabel Definisi Oprasional Cara Ukur Alat Ukur Hasil Ukur Skala
O Ukur
1 Stunting Keadaan fisik anak Pengukuran Pengukur 0=Stunting Ordinal
balita yang antropometri tinggi jika: <-3
ditentukan dengan dengan badan dan SD s/d < -
melakukan melakukan tebel 2 SD.
pengukuran pengukuran antropomet
antropometri tinggi tinggi badan. ri penilaian 1=Tidak
badan menurut umur status gizi stunting
(TB/U) Kemudian anak. jika: -2SD
diinterpretasikan s/d +2 SD
dengan standar WHO (Kemenkes
NCHS dengan RI, 2012)
menggunakan
indikator TB/U.
2 Riwayat Suatu kondisi dimana Berdasarkan Rekam 0=Sering Ordinal
ISPA pernah mengalami diagnosa. medistahun (Mengalam
(infeksi infeksi pada saluran 2018. i ISPA>6
saluran pernafasan selama≤ kali)
pernafasa 14 hari.
n akut) 1=Tidak
sering
(mengalam
i ISPA<6
kali)
31

3.7 Kriteria Subjek Penelitian

3.7.1 Kriteria Inklusi

1. Balita usia 24-59 bulanyang berada di Desa Mataram Ilir, Kecamatan Seputih

Surabaya, Kabupaten Lampung Tengah.

2. Orangtua balita bersedia menjadi responden penelitian dengan menandatangani

informed consent.

3.7.2 Kriteria Eksklusi

1. Balita yang mengalami penyakit kongenital.

2. Balita yang mengalami kelainan tulang belakang (kifosis, skoliosis, lordosis).

3. Balita yang sedang menjalani pengobatan penyakit kronis seperti TB paru.

3.8 Pengumpulan Data

Pengumpulan data menggunakan data primer dan data sekunder. Data primer

yang diambil meliputi pengukuran tinggi badan (TB/U atau PB/U) dan menggunakan

tabel antropometri penilaian status gizi anak. Data sekunder yang diambil meliputi

riwayat penyakit infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) dari data rekam medis yang

diambil dari Puskesmas Seputih Surabaya, Desa Mataram Ilir, Kecamatan Seputih

Surabaya, Kabupaten Lampung Tengah.


32

3.9 Pengolahan Data

Untuk memperoleh pengolahan data dilakukan teknik-teknik pengolahan data

sebagai berikut:

1. Editing (Pengeditan data)

Langkah ini dilakukan peneliti untuk memeriksa kembali kelengkapan data yang

diperlukan untuk mecapai tujuan penelitian maka dilakukan pengelompokan dan

penyusunan data.

2. Coding(Pengkodean)

Coding adalah mengalokasikan jawaban-jawaban yang ada menurut macamnya

kedalam bentuk yang lebih ringkas dengan menggunakan kode-kode agar lebih

mudah dan sederhana.

3. Tabulating (Tabulasi data)

Tabulasi yaitu melakukan tabulasi dari data yang diperoleh dengan menggunakan

rumus distribusi frekuensi.

4. Entri data

Data yang telah dikelompokkan kemudian dimasukkan kedalam program statistic

computer (SPSS).

5. Cleaning

Data yang sudah benar-benar tidak ada kesalahan dilanjutkan dengan pengujian

data dengan menggunakan uji statistik.


33

3.10 Analisis Data

3.10.1Analisis Univariat

Analisis univariat bertujuan untuk menjelaskan atau mendeskripsikan

karakteristik tiap variabel penelitian. Bentuk analisis univariat tergantung dari jenis

datanya. Untuk data numerik digunakan nilai mean atau rata-rata, median dan standar

deviasi. Pada umumnya dalam analisis ini hanya menghasilkan distribusi frekuensi dan

persentase dari tiap variabel (Notoatmodjo, 2012). Pada penelitian ini analisis univariat

yang digunakan adalah antropometri TB/U dan rekam medis ISPAdi Desa Mataram

Ilir, Kecamatan Seputih Surabaya, Kabupaten Lampung Tengah.

3.10.2Analisis Bivariat

Analisa bivariat digunakan untuk mengetahui ada tidaknya korelasi antara

variabel dependent dan variabel independent yaitu hubungan kejadian stunting dengan

riwayat infeksi saluran pernafasan akut. Hubungan antara satu keadaan dengan

keadaan yang lain dapat digunakan uji statistik “chi-square” dengan tingkat kesalahan

5%.
34

3.11 Alur Penelitian

Balita

Inklusi Eksklusi

Pengisian Lembar Informed Consent

Pengukuran Tinggi Badan

Kuesioner

Pencatatan Hasil

Gambar 3. Alur Peneliti


Input Data

Analisis Data

Hasil Data
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian

4.1.1 Gambaran Umum Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada balita stunting dan balita normal yang berada di

Desa Mataram Ilir, Kecamatan Seputih Surabaya, Kabupaten Lampung Tengah pada

tanggal 6 Februari 2019. Dalam penelitian ini, pengambilan data dilakukan secara

primer dengan melakukan pengukuran tinggi badan (TB/U atau PB/U) dan

menggunakan tabel antropometri penilaian status gizi anak, dan pengambilan data

dilakukan secara sekunder dari rekam medis. Responden pada penelitian ini adalah

balita stuntingsebagai kelompok kasus dan balita normal sebagai kelompok kontrol

yang berusia 24-59 bulan yang berada di Desa Mataram Ilir, Kecamatan Seputih

Surabaya, Kabupaten lampung Tengah masing-masing sebanyak 52 orang.

35
36

4.1.2 Karakteristik Balita Stunting Dan Balita Normal

Tabel 4.1. Karakteristik Balita Stunting Dan Normal

Usia (Bulan) Frekuensi (N) Presentase (%)


Balita Stunting
24-35 16 30,8 %
36-47 22 42,3 %
48-59 14 26,9 %
Balita Normal
24-35 16 30,8 %
36-47 22 42,3 %
48-59 14 26,9 %
Jenis Kelamin
Balita Stunting
Laki-laki 27 51,9 %
Perempuan 25 48,1 %
Balita Normal
Laki-laki 29 55,8 %
Perempuan 23 44,2 %
Total 104 100 %

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa untuk usia, balita stunting kelompok

terbanyak adalah 36-47 bulan, dan balita normal kelompok terbanyak adalah 24-35.

Sedangkan jumlah sampel balita stunting dan balita normal laki-laki lebih banyak dari

pada perempuan.
37

4.2 Hasil Analisis Univariat

4.2.1 Kejadian Stunting

Peneliti mendapatkan data kejadian balita stunting dari data primer dengan

melakukan pengukuran tinggi badan (TB/U atau PB/U) dan menggunakan tabel

antropometri penilaian status gizi anak di Desa Mataram Ilir, Kecamatan Seputih

Surbaya, Kabupaten Lampung Tengah bisa dilihat dalam tabel 4.3 dan 4.4.

Tabel 4.2 Balita Stunting Dan Normal Berdasarkan Status Standar Deviasi (SD)

Golongan Standar Status Frekuensi Persentase (%)


Deviasi (SD) (N)
Balita Stunting
-3 SD sampai <-2 SD Pendek 43 82,7 %
<-3SD Sangat 9 17,3 %
pendek
Balita Normal
>2 SD sampai 3 SD Tinggi 13 25 %
<-1 SD sampai 2 SD Normal 39 75 %
Total 104 100%

Dari tabel diatas, untuk balita stunting dapat dilihat bahwa jumlah balita

dengan status pendek lebih banyak dibandingkan status sangat pendek. Dan untu balita

normal dapat dilihat bahwa jumlah balita dengan status normal lebih banyak dari pada

status tinggi.

4.2.2 Riwayat Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA)

Peneliti mendapatkan data riwayat penyakit infeksi saluran pernafasan akut

(ISPA) dari data sekunder dengan melihat data rekam medis pasien. Distribusi riwayat

penyakit infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) dapat dilihat pada tabel dibawah.
38

Tabel 4.3 Riwayat Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) Balita
StuntingDan Balita Normal

Riwayat Penyakit ISPA (per Frekuense (N) Persentase (%)


tahun)
Balita Stunting
Sering 44 84,6 %
Tidak sering/ jarang 8 15,4 %
Balita Normal
Sering 4 7,7 %
Tidak sering/ jarang 48 92,3 %
Total 104 100 %

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa balita dengan riwayat (ISPA) yang

mengalami ISPA sering lebih banyak dari pada ISPA tidak sering atau jarang.

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa balita dengan riwayat (ISPA) yang

mengalami ISPA tidak sering atau jarang lebih banyak dari pada ISPA sering.

4.3 Analisis Bivariat

4.3.1 Hubungan Kejadian Stunting Dengan Riwayat Penyakit Infeksi Saluran


Pernafasan Akut (ISPA) Pada Balita Usia 24-59 Bulan Di Desa Mataram Ilir,
Kecamatan Seputih Surabaya, Kabupaten Lampung Tengah, Tahun 2019.
Setelah dilakukan pengumpulan data, diedit dan dilakukan uji chi-square

dengan menggunakan program SPSS Computer 16.0 sehingga diperoleh gambaran

data dan melihat kemaknaan hubungan kejadian stunting dengan riwayat penyakit

infeksi saluran pernafasan akut (ISPA).


39

Tabel 4.9 Analisis Hubungan Kejadian Stunting Dengan Riwayat Penyakit Infeksi
Saluran Pernafasan Akut (ISPA)
Riwayat ISPA
Stunting ISPA Tidak ISPA Total OR P
Value
Sstunting 44orang 8 orang 52
84,6% 15,4% 100%
Tidak 4 orang 48orang 52 66.000 0,000
100% CI=18.572-
Stunting 7,7 % 92,3%
234.552
Total 48orang 56 orang 104
46 % 54 % 100%

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa balita stunting yang mengalami ISPA

sering lebih banyak dari pada balita tidak stunting.Dari tabel diatas juga dapat dilihat

bahwa ada hubungan bermakna antara kejadian Stunting dengan riwayat penyakit

ISPA dikarenakan hasil uji Chi-square menunjukan nilai p=0,000 dan uji chi-square

dikatakan berhubungan apabila nilai p<0,05. Dan nilai odd ratio 66.000, yang berarti

kejadian stunting lebih beresiko 66 kali lipat mengalami ISPA sering dari pada balita

normal.

4.4 Pembahasan

4.4.1 Karakteristik Responden Balita Stunting

Karakteristik responden menurut jenis kelamin paling banyak diderita oleh

laki-laki sebanyak 27 orang dibandingkan dengan wanita yang bejumlah 25 orang. Hal

ini sesuai dengan penelitian Roscha, et al (2013) yang menganalisis data Riskesdas

menyatakan bahwa balita stunting lebih banyak berjenis kelamin laki-laki (39,5 %).
40

Lebih banyak prevalensi stunting pada laki-laki disebabkan karena laki-laki lebih

beresiko untuk mengalami kekurangan gizi akibat lebih banyaknya kebutuhan energi

protein pada laki-laki. Jenis kelamin menentukan besar kecilnya kebutuhan energi

protein seseorang. (Damayanti, R. A.,et al. 2017)

Karakteristik responden berdasarkan usia paling banyak di derita oleh penderita

dengan usia 36-47 bulan dengan presentasi sebanyak 42 %. Hal ini sejalan dengan

penelitian Bahmat (2015) di Nusa Tenggara yang menyimpulkan bahwa balita stunting

paling banyak pada usia 36-47 bulan. Hal tersebut disebabkan karena mulai tahun

kedua kehidupan, laju pertumbuhan melambat dan terjadi perubahan bentuk tubuh

balita menjadi lebih berotot.(Damayanti, R. A.,et al. 2017)

4.4.2 Kejadian Stunting

Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Desa Mataram Ilir, Kecamatan

Seputih Surabaya, Kabupaten Lampung Tengah tahun 2019, didapatkan sampel

sebanyak 52 responden sebagai kelompok kasus, dan didapatkan hasil yang

menunjukan bahwa balita dengan standar deviasi -3 SD sampai <-2 SD dengan status

pendek paling banyak sebanyak 43 orang (82,7 %) dibandingkan dengan standar

deviasi <-3 dengan status sangat pendek sebanyak 9 orang (17,3 %). Hal ini

dikarenakan, stunting merupakan bentuk kegagalan pertumbuhan (growth faltering)

akibat akumulasi ketidak cukupan nutrisi yang berlangsung lama mulai dari kehamilan

sampai usia 24 bulan.(Mitra, M. 2015)

Hasil diatas juga sesui dengan kecendrungan prevalensi sangat pendek dan

pendek dari hasil Riskesdas tahun 2007-2013 menunjukan bahwa, untuk prevalensi
41

sangat pendek, cendrung menurun dari 18,8 % (Riskesdas 2007) menjadi 18,0 %

(Riskesdas 2013), namun untuk pendek terjadi sedikit kenaikan dari 18,0% (Riskesdas

2007) turun sedikit menjadi 17,1 % (Riskesdas 2010) dan naik lagi menjadi 19,2 %

(Riskesdas 2013). (Trihono, A., et al. 2015)

4.4.3 Riwayat Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) Pada Balita Stunting
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) adalah infeksi akut yang menyerang

salah satu bagian atau lebih dari saluran napas mulai hidung sampai alveoli termasuk

adneksanya (sinus, rongga telinga tengah, pleura).Menurut Organisasi Kesehatan

Dunia (World Health Organization/WHO), ISPA merupakan penyakit saluran

pernapasan akut yang disebabkan oleh agen infeksius yang menimbulkan gejala dalam

waktu beberapa jam sampai beberapa hari. Penyakit ini ditularkan umumnya melalui

droplet, namun berkontak dengan tangan atau permukaan yang terkontaminasi juga

dapat menularkan penyakit ini.(Maharani, D.,et al. 2017)

Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Desa Mataram Ilir, Kecamatan

Seputih Surabaya, Kabupaten Lampung Tengah tahun 2019, didapatkan hasil yang

menunjukan bahwa balita stunting lebih banyak mengalami ISPA sering dari pada

tidak sering. Dimana balita dikatakan sering ISPA jika mengalami frekuensi ISPA > 6

kali pertahun, dan jarang atau tidak sering jika frekuensi ISPA < 6 kali pertahun.

(Sienviolincia, D. 2015). Balita stunting lebih rentan terkena infeksi, terutama infeksi

saluran pernafasan akut (ISPA) yang biasa menyerang anak-anak karena lebih rentan

mengalami penurunan imunitas. ISPA merupakan penyakit yang sering terjadi

dimasyarakat. Terdapat 156 juta episode baru kejadian ISPA didunia pertahun dimana
42

151 juta episode (96,7 %) terjadi dinegara berkembang. ISPA lebih sering terjadi pada

anak-anak, dengan insiden menurut kelompok umur balita diperkirakan 0,29 episode

peranak pertahun dinegara berkembang dan 0,05 episode peranak pertahun dinegara

maju. (Efendhi, A. 2015). Penelitian oleh Efendi (2015) anak stunting yang mengalami

ISPA dengan frekuensi sering sebesar 85,2%

4.4.4 Hubungan Kejadian Stunting Dengan Riwayat penyakit Infeksi saluran


Penafasan Akut (ISPA)
Hubungan antara kejadian stunting dengan riwayat penyakit ISPA pada tabel

4.9, menunjukan bahwa persentase balita yang mengalami stunting dan tidak

mengalami stunting yang sering mengalai ISPA yaitu sebesar 84,6% : 7,7%. Kemudian

dari uji analisa data Chi Square dengan tingkat kepercayaan 90% diperoleh p value

sebesar 0,000 dengan taraf signifikan (p<0,05) yang menunjukkan bahwa terdapat

hubungann antara kejadian stunting dengan riwayat penyakit infeksi saluran

pernapasan akut (ISPA) pada balita di Desa Mataram Ilir, Kecamatan Seputih

Surabaya, Kabupaten lampung Tengah yang berarti HO ditolak.

Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi

yang kurang dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai

dengan kebutuhan gizi. Stunting dapat terjadi mulai janin masih dalam kandungan dan

baru nampak saat anak berusia dua tahun. (Rachim, A. N. F., & Pratiwi, R. 2017).

Stunting adalah gangguan pertumbuhan linier yang tidak sesuai dengan umur

yang mengindikasikan kejadian jangka panjang serta merupakan dampak akumulatif


43

dari ketidakcukupan konsumsi zat gizi, kondisi kesehatan yang buruk dan pengasuhan

yang tidak memadai. (Damayanti, R. A., et al. 2017)

Gizi merupakan salah satu penentu dari kualitas sumber daya manusia. Akibat

kekurangan gizi akan menyebabkan beberapa efek serius seperti kegagalan dalam

pertumbuhan fisikserta tidak optimalnya perkembangan dan kecerdasan. Akibat lain

adalah terjadinya penurunan produktifitas, menurunnya daya tahan tubuh terhadap

penyakit yang akan meningkatkan resiko kesakitan salah satunya adalah infeksi saluran

pernapasan akut (ISPA) (Hadiana, S. Y. M. 2013)

Keadaan stunting dapat menimbulkan berbagai macam penyakit, diantaranya

penyakit yang sering menyerang balita seperti halnya ISPA. Penyakit infeksi ini

merupakan penyakit yang sering menyebabkan kematian. Infeksi saluran pernafasan

akut disebabkan oleh virus atau bakteri. Penyakit ini diawali dengan panas dan disertai

salah satu atau lebih gejala: tenggorokan sakit, atau nyeri telan, pilek, batuk kering atau

berdahak. (Efendhi, A. 2015)

Stunting pada balita perlu menjadi perhatian khusus karena dapat menghambat

perkembangan fisik dan mental anak. Stunting berkaitan dengan peningkatan resiko

kesehatan dan kematian serta terhambatnya pertumbuhan dan perkembangan

kemampuan motorik dan mental. Balita yang mengalami stunting memiliki resiko

terjadinya penurunan kemampuan intelektual, produktivitas, dan peningkatan resiko

penyakit degeneratif dimasa mendatang. Hal ini dikarenakan anak stunting juga

cendrung lebih rentan terhadap penyakit infeksi.(Ningrum, E. W., & Utami, T. 2017)
44

Hasil penelitian Fonseca 1996 di Fortaleza Brazil menunjukkan bahwa status

gizi kurang menempati urutan pertama faktor resiko terjadinya pneumonia pada anak

balita.(Hadiana, S. Y. M. 2013) Salah satu faktor risiko kejadian stunting kurangnya

asupan gizi dalam jangka waktu yang lama, sehingga dapat terjadi perlambatan

pertumbuhan dan berpengaruh terhadap status gizi. Penyakit infeksi dapat

mengakibatkan berat badan turun secara akut dan berpengaruh pada status gizi balita

bila terjadi dalam jangka waktu yang lama. Balita dengan status gizi yang kurang

mempunyai sistem imun yang rendah yang dapat membuat balita mudah terkena

penyakit infeksi. (Wellina, W. F.,et al . 2016)

Kemudian penelitian dari Sukmawati & Sri Dara Ayu (2010) di wilayah kerja

Puskesmas Tunikamaseang Kabupaten Maros Sulawesi juga menunjukkan kejadian

ISPA berulang yang lebih banyak pada balita dengan status gizi kurang dengan p =

0,03, hal ini disebabkan karena status gizi yang kurang menyebabkan ketahanan tubuh

menurun dan virulensi patogen lebih kuat, sehingga akan menyebabkan keseimbangan

terganggu dan akan terjadi infeksi. Salah satu determinan dalam mempertahankan

keseimbangan tersebut adalah status gizi yang baik.

Dari hasil analisis dapat dilihat bahwa frekuensi ISPA lebih sering terjadi pada

balita stunting dibandingkan dengan balita tidak stuntingatau normal. Hal ini

menunjukan bahwa stunting sangat berpengaruh terhadap kejadian infeksi seperti

halnya infeksi saluran pernafasan akut (ISPA). Hasil penelitian ini sejalan dengan

penelitian Hadiana (2013) dimana diperoleh hasil bahwa terdapat hubungan yang
45

bermakna antara status gizi dengan frekunsi ISPA. Penelitian ini juga sejalan dengan

penelitian wanda lestari (2014) dimana anak stunting pada penelitian ini memiliki

proporsi yang lebih tinggi menderita ISPA dibandingkan dengan anak normal. Hal ini

tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Bayu (2013) yang menyatakan

bahwa kejadian stunting pada ank usia 12-60 bulan tidak ada hubungannya secara

bermakna dengan frekuensi penyakit infeksi yang terjadi di Desa Gresik.

Dari penelitian ini terdapat responden yang tidak mengalami stunting namun

sering mengalami ISPA. Hal ini disebabkan oleh faktor lain yang dapat menyebabkan

terjadinya ISPA pada balita seperti umur, pemberian ASI, keteraturan pemberian

vitamin A, polusi udara, sosial ekonomi, imunisasi kepadatan dalam rumah dan BBLR.

Selain itu didapatkan juga responden yang yang mengalami stunting tetapi jarang

mengalami ISPA. Hal tersebut bisa terjadi kemungkinan karena faktor lingkungan

tempat tinggalnya yang tidak ada yang menderita ISPA meskipun status balita stunting,

atau bisa dikarenakan mereka sudah mendapatkan imunisasi yang lengkap sehingga

mereka mempunyai kekebalan tubuh terhadap serangan infeksi sehingga tidak mudah

terkena ISPA. Dari hasil diatas dapat disimpulkan bahwa kejadian stunting mempunyai

peran yang sangat besar dalam pemeliharaan kesehatan tubuh balita. Jika balita

mengalami stunting maka akan lebih mempermudah kuman-kuman patogen

menyerang tubuh sehingga terjadi ISPA.


46

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

1. Diketahui ada hubungan kejadian stunting dengan riwayat penyakit infeksi saluran

pernafasan akut (ISPA) pada balita usia 24-59 bulan. (p=0,00. OR:66)

2. Diketahui gambaran kejadian stunting pada balita usia 24-59 bulan didapatkan

lebih banyak berstatus pendek.

3. Diketahui gambaran kejadian ISPA pada balita usia 24-59 bulan didapatkan lebih

banyak mengalami ISPA sering.

5.2 Saran

1.2.1 Bagi Instansi Dan Masyarakat

1. Dinas kesehatan dan instansi-instansi terkait sebaiknya meningkatkan pemberian

informasi dan sosialisasi kepada masyarakat mengenai stunting.

2. Diperlukan intervensi fokus kesehatan ibu dan anak untuk mengurangi risiko bayi

dengan berat badan lahir rendah dan panjang badan lahir rendah demi mengurangi

risiko semakin banyaknya anak yang mengalami stunting.

3. Menumbuhkan kesadaran ibu akan pentingnya pemberian ASI eksklusif kepada ibu

dan calon ibu melalui penyuluhan.

4. Dalam penanggulangan penyakit ISPA dan terjadinya gangguan pertumbuhan,

keluarga khususnya ibu hendaknya selalu memantau pertumbuhan bayi melalui


47

penimbangan rutin diposyandu, segera melakukan tindakan pengobatan pada saat bayi

sakit serta menjaga kebersihan lingkungan.

1.2.2 Peneliti Selanjutnya

1. Saran untuk penelitian selanjutnya yaitu kejadian kesakitan perlu diteliti dan dilihat

kaitannya dengan pertumbuhan dan perkembangan.

2. Bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat menambahkan variabel lain seperti variabel

keadaan rumah dan variabel ekonomi keluarga.


Daftar Pustaka

Alfarindah, F. (2017). Determinan Kejadian Ispa Anak Balita Dalam Lingkungan


Keluarga Perokok Di Wilayah Kerja Puskesmas Maccini Sawah.
Bab, I. (2004). Infeksi Saluran Pernafasan Akut (Ispa) Dan Penanggulangannya
Rasmaliah Fakultas Kesehatan Masyarakat Universtias Sumatera Utara.
Bening, S., Margawati, A., & Rosidi, A. (2018). Asupan Zink, Riwayat ISPA Dan
Pengeluaran Pangan Sebagai Faktor Resiko Stunting Pada Anak Usia 2-5
Tahun Di Kota Semarang. Jurnal Gizi, 7(1).
Damayanti, R. A., Muniroh, L., & Farapti, F. (2017). Perbedaan Tingkat Kecukupan
Zat Gizi Dan Riwayat Pemberian Asi Eksklusif Pada Balita Stunting Dan Non
Stunting. Media Gizi Indonesia, 11(1), 61-69.
Dekawati, W. (2014). Hubungan Status Gizi Dengan Kejadian ISPA Dan Diare Pada
Lansia Di Puskesmas Musuk I Boyolali(Doctoral Dissertation, Universitas
Muhammadiyah Surakarta).
Efendhi, A. (2015). Hubungan Kejadian Stunting Dengan Frekuensi Penyakit Ispa
Dan Diare Pada Balita Usia 12-48 Bulan Di Wilayah Kerja Puskesmas
Gilingan Surakarta (Doctoral Dissertation, Universitas Muhammadiyah
Surakarta).
Hadiana, S. Y. M. (2013). Hubungan Status Gizi Terhadap Terjadinya Infeksi
Saluran Pernapasan Akut (ISPA) Pada Balita Di Puskesmas Pajang
Surakarta (Doctoral Dissertation, Universitas Muhammadiyah Surakarta).
Kementerian Kesehatan, R. I. (2017). Data Dan Informasi Profil Kesehatan Indonesia
Tahun 2016. Jakarta: Pusat Data Dan Informasi Kemenkes RI.
Kementrian Kesehatan, R. I. (2018). Cegah Stunting Itu Mudah. Warta KESMAS.
Edisi 02.
Lampung, D. K. P. (2016). Profil Provinsi Lampung Tahun 2015. Bandar Lampung:
Dinas Kesehatan Pemerintah Povinsi Lampung.
Libianingsih, R. (2014). Penatalaksanaan Fisioterapi Pada Kondisi Infeksi Saluran
Pernafasan Akut (Ispa) Di Rsud Panembahan Senopati Bantul (Doctoral
Dissertation, Universitas Muhammadiyah Surakarta).
Maharani, D., Yani, F. F., & Lestari, Y. (2017). Profil Balita Penderita Infeksi
Saluran Nafas Akut Atas Di Poliklinik Anak RSUP DR. M. Djamil Padang
Tahun 2012-2013. Jurnal Kesehatan Andalas, 6(1), 152-157.
Mardiah, W. (2017). Pencegahan Penularan Ispa (Infeksi Saluran Pernafasan Akut)
Dan Perawatannya Pada Balita Dirumah Di Kabupaten
Pangandaran. Dharmakarya, 6(4).
Mitra, M. (2015). Permasalahan Anak Pendek (Stunting) Dan Intervensi Untuk
Mencegah Terjadinya Stunting (Suatu Kajian Kepustakaan). Jurnal
Kesehatan Komunitas, 2(6), 254-261.
Ningrum, E. W., & Utami, T. (2017). Hubungan Antara Status Gizi Stunting Dan
Perkembangan Balita Usia 12-59 Bulan. Bidan Prada: Jurnal Publikasi
Kebidanan Akbid YLPP Purwokerto.
Numrapi, T., Cahyani, V. D., Zulaekah, S., & Hidayati, L. (2017). Infeksi Cacing,
Ispa, Dan Phbs Pada Remaja Putri Stunting Dan Non-Stunting Di SMP Negeri
1 Nguter Kabupaten Sukoharjo.
Oktaviani, I., Hayati, S., & Supriatin, E. (2014). Faktor-Faktor Yang Berhubungan
Dengan Kejadian Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) Pada Balita Di
Puskesmas Garuda Kota Bandung. Jurnal Keperawatan BSI, 2(2).
Oktavia, S., Widajanti, L., & Aruben, R. (2017). Faktor-Faktor Yang Berhubungan
Dengan Status Gizi Buruk Pada Balita Di Kota Semarang Tahun 2017 (Studi
Di Rumah Pemulihan Gizi Banyumanik Kota Semarang). Jurnal Kesehatan
Masyarakat (E-Journal), 5(3), 186-192.
Onetusfifsi, P. (2016). Pengaruh Bblr Terhadap Kejadian Stunting Pada Anak Usia
12-60 Bulan Di Wilayah Kerja Puskesmas Pauh Pada Tahun 2016(Doctoral
Dissertation, Universitas Andalas).
Pratiwi, A., Wahyuni, E,G. (2016). Sistem Pakar Diagnosis ISPA Pada Balita Dengan
Metode Certainty Factor. Seminar Nasional Informatika Medis (SINIMED) VII,
P. 42.
Rachim, A. N. F., & Pratiwi, R. (2017). Hubungan Konsumsi Ikan Terhadap
Kejadian Stunting Pada Anak Usia 2-5 Tahun (Studi Analitik Observasional
Di Wilayah Puskesmas Rowosari Semarang) (Doctoral Dissertation,
Diponegoro University).
Ridwan, A., & Zahriani, Z. (2016). Pencegahan Primer Penyakitinfeksi Saluran
Pernafasan Akut Pada Balitadi Desa Ceurih Wilayah Kerja Puskesmas Ulee
Kareng Banda Aceh. Idea Nursing Journal, 7(1), 78-82.
Sienviolincia, D. (2015). Hubungan Frekuensi Berulangnya ISPA Dengan Status Gizi
Balita Di Kelurahan Jebres Surakarta.
Trihono, A., Tjandrarini, D. H., Irawati, A., Utami, N. H., & Nurlinawati, I. (2015).
Pendek (Stunting) Di Indonesia, Masalah Dan Solusinya. Jakarta:
Balitbangkes.
Wellina, W. F., Kartasurya, M. I., & Rahfiludin, M. Z. (2016). Faktor Risiko Stunting
Pada Anak Umur 12-24 Bulan. Jurnal Gizi Indonesia (The Indonesian
Journal Of Nutrition), 5(1), 55-61.
Informed Consent
LEMBAR PENJELASAN KEPADA CALON SUBJEK

Saya yang bertanda tangan dibawah ini:


Nama : Nendry Yustika Nandalike
Institusi : Universitas Malahayati
Alamat : Jalan Pramuka No 27 Kemiling, Bandar Lampung
Adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati Prodi
Kedokteran Umum Universitas Malahayati Bandar Lampung, pada kesempatan
ini saya akan melakukan penelitian tentang “Hubungan kejadian stunting dengan
riwayat penyakit infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) pada balita usia 24-59
bulan di Desa Mataram Ilir, kecamatan Seputih Surabaya, Kabupaten lampung
Tengah, tahun 2019”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan
kejadian stunting dengan riwayat ISPA pada balita usia 24-59 bulan di Desa
Mataram ilir, Kecamatan Seputih Surabaya, Kabupaten Lampung Tengah. Besar
harapan saya agar Bapak/Ibu/Saudara/Saudari berkenan untuk berpartipasi
dalam penelitian ini dengan mengikuti pengukuran tinggi badan. Penelitian ini
membutuhkan masing-masing 52 subyek untuk kelompok kasus dan kelompok
kontrol.
A. Kesukarelaan untuk mengikuti penelitian
Anda bebas memilih keikutsertaan dalam penelitian ini tanpa ada
paksaan. Bila anda sudah memutuskan untuk ikut, anda juga bebas
untuk mengundurkan diri setiap saat tanpa menggangu proses hubungan
dengan peneliti atau sangsi apapun. Jika anda tidak bersedia untuk
berpartisipasi maka tidak akan mengganggu hubungan dengan peneliti
maupun dengan instansi dengan peneliti
B. Prosedur Penelitian
Apabila anda bersedia berpartisipasi dalam penelitian ini, anda diminta
menandatanangi lembar persetujuan ini rangkap dua, satu untuk anda
simpan dan satu untuk peneliti. Prosedur penelitiannya yaitu anda
diminta untuk menandatangani lembar inform consent ini dan balita
mengikuti prosedur pengukuran tinggi badan
C. Kewajiban Subyek Penelitian
Sebagai subyek penelitian, bapak/ibu/saudara/saudari, berkewajiban
mengikuti aturan atau petunjuk penelitian seperti yang tertulis di atas.
Bila ada yang belum jelas, bapak/ibu/saudara/saudari, dipersilahkan
bertanya kepada peneliti.
D. Risiko dan Efek Samping dan Penanganannya
Tidak ada efek samping maupun resiko dalam penelitian ini
E. Manfaat
Berpartisipasi dalam penelitian ini, Anda akan mengetahui panjang
badan atau tinggi badan balita anda dan mengetahui status pertumbuhan
balita anda.
F. Kerahasiaan
Tidak ada informasi pribadi yang akan disertakan. Data dikembalikan
secara anonim dan tanggapan elektronik tidak dapat dilacak ke
pengirim.
G. Kompensasi
Penelitian menyediakan makanan untuk setiap individu sebagai bentuk
tanda terima kasih kepada bapak/ibu/saudara/saudari yang telah
berpartisipasi dalam penelitian ini
H. Informasi Tambahan
Bapak/ibu/saudara/saudari diberikan kesempatan untuk menanyakan
semua hal yang belum jelas terkiat dengan penelitian ini. Jika sewaktu-
waktu memerlukan penjelasan lebih lanjut bapak/ibu/saudara/saudari
dapat menghubungi peneliti (Nendry Yustika Nandalike).
PERSETUJUAN KEIKUTSERTAAN DALAM PENELITIAN

Semua penjelasan tersebut telah disampaikan kepada saya dan semua

pertanyaan saya telah di jawab oleh peneliti. Saya mengerti bahwa bila memerlukan

penjelasan, saya dapat menanyakan kepada Nendry Yustika nandalike di no telephone

082183948018.

Dengan menandatangani formulir ini, saya setuju untuk ikut serta dalam

penelitian ini.

BandarLampung,……………….2019

Tanda tangan (subyek) Tanda tangan Peneliti

________________________

(Nama Lengkap :………………………) (Nendry Yustika Nandalike)


Informed Consent
LEMBAR PENJELASAN
(untuk Data Sekunder)

Saya yang bertanda tangan dibawah ini:


Nama : Nendry Yustika nandalike
Institusi : Universitas Malahayatii
Alamat : Jalan Pramuka no 27 Kemiling, Bandar lampung.
Adalah mahasiswa Fakultas Fakultas Kedokteran Prodi Kedokteran Umum
Universitas Malahayati Bandar Lampung, pada kesempatan ini saya akan
melakukan penelitian tentang “ Hubungan kejadian stunting dengan riwayat
penyakit infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) pada balita usia 24-59 bulan di
Desa Mataram Ilir, Kecamatan Seputih Surabaya, Kabupaten Lampung Tengah,
tahun 2019”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kejadian
stunting dengan riwayat penyakit infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) pada
balita usia 24-59 di Desa Mataram Ilir, Kecamatan Seputih Surabaya, Kabupaten
Lampung Tengah, tahun 2019. Besar harapan saya agar
Bapak/Ibu/Saudara/Saudari berkenan untuk berpartipasi dalam penelitian ini
dengan memberikan izin dalam perolehan data sekunder yang saya butuhkan
dalam penelitian ini. Penelitian ini membutuhkan waktu data 12 bulan dengan
sampel sebanyak 52 subyek masing-masik untuk kelompok control dan
kelompok kasus.
I. Prosedur Penelitian
Apabila anda bersedia berpartisipasi dalam penelitian ini, anda diminta
menandatanangi lembar persetujuan ini rangkap dua, satu untuk anda
simpan dan satu untuk peneliti. Adapun data yang saya butuhkan adalah
sebagai berikut :
1. Data rekam medis riwayat ISPA subyek
J. Risiko dan Efek Samping dan Penanganannya
Tidak ada efek samping maupun resiko dalam penelitian ini
K. Manfaat
Berpartisipasi dalam penelitian ini , Anda akan mengetahui hubungan
kejadian stunting dengan riwayat infeksi saluran pernafasan akut pada
balita usia 24-59 bulan.
L. Kerahasiaan
Data yang diperoleh akan dijaga kerahasiaanya oleh peneliti.
M. Kompensasi
Penelitian menyediakan barang sebagai bentuk tanda terima kasih
kepada bapak/ibu/saudara/saudari yang telah berpartisipasi dalam
penelitian ini.
N. Informasi Tambahan
Bapak/ibu/saudara/saudari diberikan kesempatan untuk menanyakan
semua hal yang belum jelas terkiat dengan penelitian ini. Jika sewaktu-
waktu memerlukan penjelasan lebih lanjut bapak/ibu/saudara/saudari
dapat menghubungi (Nendry yustika nandalike).
PERSETUJUAN KEIKUTSERTAAN DALAM PENELITIAN

Semua penjelasan tersebut telah disampaikan kepada saya dan semua

pertanyaan saya telah di jawab oleh peneliti. Saya mengerti bahwa bila memerlukan

penjelasan, saya dapat menanyakan kepada Nendry Yustika Nandalike di no

telephone 082183948018.

Dengan menandatangani formulir ini, saya atas nama instansi/institusi/unit

kera setuju untuk ikut serta dalam penelitian ini.

Bandar Lampung,……………….2019

Tanda tangan (subyek) Tanda tangan Peneliti

________________________

(Nama Lengkap :………………………) (Nendry Yustika Nandalike)


Lembar Observasi Balita Stunting
NO No Jenis Tinggi Umur Nilai Tabel Status Riwayat
Rekam Kelamin Badan Antropometri ISPA
Medis
1 0542 L 81,1 29 -3 P 25
2 6202 L 92,5 57 <-3 SP 20
3 0149 L 90,7 49 <-3 Sp 15
4 5123 P 93 55 -3 P 5
5 5458 P 82,8 31 <-2 P 5
6 7274 L 83,4 33 -3 P 17
7 4468 P 86,9 38 <-2 P 17
8 6955 L 95,4 52 <-2 P 5
9 0835 L 84,5 36 <-3 SP 18
10 0383 L 89,5 42 <-2 P 4
11 7289 L 86,5 39 -3 P 12
12 0384 L 81,1 29 -3 P 12
13 7258 P 88,9 39 <-2 P 15
14 6506 P 90,2 44 <-2 P 17
15 4744 P 88,4 41 <-2 P 11
16 7245 L 90,7 48 -3 p 16
17 3635 P 93,9 57 -3 P 24
18 1382 L 77,9 42 <-3 SP 28
19 4829 P 94,7 59 -3 P 19
20 2345 L 80,9 27 <-2 P 16
21 1306 L 96,8 56 <-2 P 20
22 3738 L 84,5 31 <-2 P 21
23 3667 L 79,9 27 -3 P 18
24 4016 L 81,8 28 <-2 P 20
25 3124 P 76,8 25 -3 P 22
26 2742 P 85,3 39 -3 P 17
27 3543 P 90,1 46 <-2 P 5
28 2355 L 89,8 46 -3 P 15
29 0662 P 86,8 38 <-2 P 4
30 3857 L 88,9 44 -3 P 17
31 3340 P 92,2 46 <-2 P 20
32 2551 P 87,3 48 <-3 SP 18
33 3041 P 84,9 42 <-3 SP 16
34 2806 L 86,5 39 -3 P 4
35 3758 L 89,4 45 -3 P 16
36 1826 P 79,5 29 -3 P 23
37 1302 P 90,2 44 <-2 P 5
38 06 05 L 87,1 34 <-2 P 16
39 3591 L 82,4 33 <-3 SP 18
40 3314 P 76,8 25 -3 P 25
41 4315 P 78,1 27 -3 P 11
42 3592 L 81,4 31 <-3 SP 18
43 3704 L 82,3 31 -3 P 20
44 2719 P 86,4 36 <-2 P 18
45 1185 L 95,7 53 <-2 P 21
46 3777 P 83,6 36 -3 P 19
47 3921 P 94,5 50 <-2 P 10
48 4314 P 92,1 55 <-3 SP 18
49 3715 L 94,1 49 <-2 P 5
50 1824 L 93,4 54 -3 P 21
51 4336 P 87,8 38 <-2 P 10
52 4198 P 85,8 40 -3 P 15
Lembar Observasi Balita Normal
No No Jenis Tinggi Umur Nilai Tabel Status Riwayat
Rekam Kelamin Badan Antropometri ISPA
Medis
1 35 27 P 102,1 43 <1 N 4
2 42 89 L 113,9 59 <1 N 5
3 10 52 L 114,5 50 >2 T 5
4 41 65 L 95,2 25 >2 T 3
5 32 65 P 101,9 34 >2 T 4
6 21 42 P 94,2 30 1 N 4
7 43 32 L 102,4 43 <1 N 12
8 44 31 P 92,5 28 1 N 3
9 32 37 P 90,1 30 <1 N 4
10 43 67 L 93,7 28 1 N 6
11 45 23 L 97,4 32 1 N 5
12 43 26 L 108,2 57 <1 N 10
13 36 24 L 102,6 40 <2 N 4
14 35 78 P 105,3 38 >2 T 3
15 42 67 L 106 47 <1 N 6
16 20 34 P 94,7 35 <1 N 4
17 18 23 P 100,1 30 >2 T 4
18 40 32 P 90 26 <1 N 14
19 43 78 L 107,4 52 <1 N 5
20 26 74 L 112,5 54 <2 N 4
21 34 23 L 98,4 34 1 N 3
22 45 72 P 105,8 46 1 N 2
23 42 34 L 110,3 40 3 T 2
24 42 35 L 115,6 51 >2 T 4
25 22 36 P 99,3 42 <1 N 5
26 42 75 L 104,8 51 <1 N 12
27 21 33 P 95,8 32 1 N 5
28 42 39 P 102,7 46 <1 N 5
29 41 22 L 92,9 27 1 N 4
30 32 47 L 92,9 30 <1 N 6
31 43 57 L 109,5 43 >2 T 3
32 12 34 P 114,7 51 2 T 4
33 33 47 L 112,3 56 1 N 4
34 10 27 P 93,9 32 <1 N 5
35 25 42 L 98,4 34 1 N 6
36 20 47 P 107 48 1 N 4
37 43 28 L 97,1 35 <1 N 3
38 42 23 P 100,8 34 <2 N 6
39 1822 P 116,5 53 >2 T 4
40 30 26 P 102,6 42 <1 N 4
41 30 34 P 108,9 51 1 N 5
42 42 69 L 93,8 29 <1 N 6
43 32 45 P 97,3 31 <2 N 3
44 42 78 L 112,3 56 1 N 6
45 20 43 P 106,2 38 >2 T 4
46 30 23 P 93,2 24 >2 T 4
47 42 24 L 99 40 <1 N 6
48 33 67 L 99,1 35 1 N 5
49 36 68 L 107,7 52 <1 N 5
50 39 13 L 102,4 32 >2 T 4
51 38 72 L 111,1 54 1 N 6
52 26 94 L 105,1 44 1 N 4
FREQUENCIES VARIABLES=jeniskelamin usiagrup
/ORDER=ANALYSIS.
Frequencies
[DataSet0]
Statistics
jeniskelamin Usiagrup
N Valid 52 52
Missing 0 0

Frequency Table
Jeniskelamin
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid laki-laki 29 55.8 55.8 55.8
perempuan 23 44.2 44.2 100.0
Total 52 100.0 100.0

Usiagrup
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid 0 23 44.2 44.2 44.2
1 14 26.9 26.9 71.2
2 15 28.8 28.8 100.0
Total 52 100.0 100.0

FREQUENCIES VARIABLES=jeniskelamin usiagrup


/ORDER=ANALYSIS.
Frequencies
[DataSet0]
Statistics
jeniskelamin Usiagrup
N Valid 52 52
Missing 0 0
Frequency Table
Jeniskelamin
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid laki-laki 27 51.9 51.9 51.9
Perempuan 25 48.1 48.1 100.0
Total 52 100.0 100.0

Usiagrup
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid 24-35 16 30.8 30.8 30.8
36-47 22 42.3 42.3 73.1
48-59 14 26.9 26.9 100.0
Total 52 100.0 100.0

FREQUENCIES VARIABLES=balitanormal
/ORDER=ANALYSIS.
Frequencies
[DataSet0]
Statistics
Balitanormal
N Valid 52
Missing 0

Balitanormal
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid tinggi 13 25.0 25.0 25.0
normal 39 75.0 75.0 100.0
Total 52 100.0 100.0
FREQUENCIES VARIABLES=golonganSD
/ORDER=ANALYSIS.
Frequencies
[DataSet0]
Statistics
golonganSD
N Valid 52
Missing 0

golonganSD
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid Sangatpendek 9 17.3 17.3 17.3
Pendek 43 82.7 82.7 100.0
Total 52 100.0 100.0

FREQUENCIES VARIABLES=frekunesiISPAnormal
/ORDER=ANALYSIS.
Frequencies
Statistics
frekunesiISPAnormal
N Valid 52
Missing 0

frekunesiISPAnormal
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid sering 4 7.7 7.7 7.7
jarang 48 92.3 92.3 100.0
Total 52 100.0 100.0
FREQUENCIES VARIABLES=frekuensiISPA
/ORDER=ANALYSIS.
Frequencies
Statistics
frekuensiISPA
N Valid 52
Missing 0

frekuensiISPA
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid sering 44 84.6 84.6 84.6
jarang 8 15.4 15.4 100.0
Total 52 100.0 100.0

CROSSTABS
/TABLES=kejadianstunting BY riwayatISPA
/FORMAT=AVALUE TABLES
/STATISTICS=CHISQ RISK
/CELLS=COUNT ROW
/COUNT ROUND CELL.
Crosstabs
Case Processing Summary
Cases
Valid Missing Total
N Percent N Percent N Percent
kejadianstunting *
104 100.0% 0 .0% 104 100.0%
riwayatISPA
kejadianstunting * riwayatISPACrosstabulation
riwayatISPA
TidakseringISP
SeringISPA A Total
kejadianstun Stunting Count 44 8 52
ting
% within kejadianstunting 84.6% 15.4% 100.0%
Tidak stunting Count 4 48 52
% within kejadianstunting 7.7% 92.3% 100.0%
Total Count 48 56 104
% within kejadianstunting 46.2% 53.8% 100.0%

Chi-Square Tests
Asymp. Sig. Exact Sig. Exact Sig.
Value Df (2-sided) (2-sided) (1-sided)
Pearson Chi-Square 61.905a 1 .000
b
Continuity Correction 58.848 1 .000
Likelihood Ratio 70.705 1 .000
Fisher's Exact Test .000 .000
Linear-by-Linear
61.310 1 .000
Association
N of Valid Casesb 104
a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is
24.00.
b. Computed only for a 2x2
table
Risk Estimate
95% Confidence Interval
Value Lower Upper
Odds Ratio for
kejadianstunting (Stunting 66.000 18.572 234.552
/ Tidak stunting)
For cohort riwayatISPA =
11.000 4.260 28.404
SeringISPA
For cohort riwayatISPA =
.167 .088 .317
TidakseringISPA
N of Valid Cases 104
MOTTO

“Menjadi Rahmatan Lilalamin Dan Bertemu Allah Di Syurga”


PERSEMBAHAN

“Skripsi ini saya persembahkan untuk kedua orang tua saya yang sangat saya

sayangi dan cintai, Murahman Amd.kep dan Sri Rohayu S.kep.Ners yang telah

membesarkan saya, menyayangi saya, selalu mendoakan saya, selalu memberikan

semangat dan dukungannya kepada saya. Serta menjadi motivasi dan memberikan

semangat bagi saya dalam menjalani kehidupan ini.

Terimakasih kepada papuq muh nine dan alm papuq muh mame yang selelu

mendoakan tanpa henti, dan kepada adik-adikku Yendry Ahlatul Qarimah, Tendry

Leila Salsabila, Lendry Heizka Latifah yang selalu memberikan dukungan, semangat

dan kasih sayangnya kepada saya termasuk keluarga di lombok.Dan juga kepada

keluarga di Kempo yang selalu membantu dengan sekuat tenaga terutama Dae Jinta,

Om Yusron, dan Dua duaku dan puaku yang tersayang, sepupu sepupuku yang

tersayang. Dan juga kepada Brian Perkasa yang selalu membantu dan mendukung

dengan sepenuh hati.

Terimakasih banyak kepada teman-teman “Hitz E3.17”, dan seluruh teman-

teman dari“Hipof15is” yang selalu memberikan canda tawanya, berbagi cerita

bersama dan menemani hari-hari saya selama menempuh perkuliahan.

Terimakasih juga kepada dosen-dosen dan teman-teman yang tidak bisa saya

sebutkan satu persatu, yang sudah memberikan dukungan dan bantuannya baik

secara langsung maupun tak langsung.

Almamater tercinta Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati”


BIODATA

Nama : Nendry Yustika Nandalike

NPM : 15310264

Tempat Lahir : Kempo

Tanggal Lahir : 10 April 1997

Agama : Islam

Alamat : Dusun Timuk Rurung, Desa Barejulat, Kecamatan

Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah, NTB.

Riwayat Pendidikan :

1. SDN 1 Barejulat (2003-2009)

2. SMPN 1 Praya (2009-2012)

3. SMAN 1 Praya (2012-2015)

4. Diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati Tahun 2015


HUBUNGAN KEJADIAN STUNTING DENGANRIWAYAT PENYAKIT INFEKSI
SALURAN PERNAFASAN AKUT (ISPA) PADA BALITA USIA 24-59
BULAN DI DESA MATARAM ILIR KECAMATAN SEPUTIH
SURABAYA KABUPATEN LAMPUNG TENGAH
TAHUN 2019

Nendry Yustika Nandalike1, Deviani Utami1, Yessi Nurmalasari1, Aspri Sulanto2


1
Program Studi Kedokteran Umum Fakultas kedokteran Universitas Malahayati
2
Departemen Tumbuh Kembang Anak Fakultas Kedokteran UmumUniversitas
Malahayati

nendryy@gmail.com

ABSTRAK

Latar Belakang: Masalah gizi yang paling banyak ditemukan pada anak di
Indonesia adalah stunting.Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita
(bayi dibawah lima tahun) akibat dari kekurangan gizi kronis sehingga anak
terlalu pendek untuk usianya. Keadaan stunting dapat menimbulkan berbagai
macam penyakit, diantaranya penyakit yang sering menyerang balita seperti
halnya ISPA. Penyakit infeksi ini merupakan penyakit yang sering menyebabkan
kematian. Stunting berkaitan dengan peningkatan resiko kesehatan dan
kematian serta menghambat pertumbuhan dan perkembangan kemampuan
motorik dan psikis. Balita yang mengalami stunting memiliki resiko terjadinya
penurunan kemampuan intelektual, produktivitas, dan peningkatan resiko
penyakit degeneratif dimasa mendatang. Tujuan Penelitian: Untuk mengetahui
hubungan kejadian stunting dengan riwayat penyakit ISPA pada balita usia 24-59
bulan di Kabupaten Lampung Tengah, tahun 2019. Metode Penelitian:
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain case-control.
Teknik pengambilan sampel yaitu purposivesampling dan dihitung dengan rumus
slovin. Analisis data menggunakan uji chi-square. Hasil Penelitian: Terdapat
hubungan antara kejadian stunting dengan riwayat ISPA. (p=0,00. OR:66).
Kesimpulan: Terdapat hubungan antara kejadian stunting dengan riwayat
penyakit ISPA di Kabupaten Lampung Tengah, tahun 2019.

Kata kunci: Stunting, ISPA.

1|Page
PENDAHULUAN sangat pendek dan pendek adalah
sebagai berikut, Kabupaten
Stunting adalah kondisi Lampung Barat 34,60%,
gagal tumbuh pada anak balita Tanggamus 39,66%, Lampung
(balita dibawah lima tahun) akibat Selatan 43,01 %, Lampung Timur
dari kekurangan gizi kronis 43,17%. Lampung Tengah
sehingga anak terlalu pendek 52,68%, Lampung Utara 32,44%,
unttuk usianya. stunting Way Kanan 29,80 %, Tulang
didasarkan pada indeks Panjang Bawang 40,99%, Pesawaran
Badan menurut Umur (PB/U) atau 50,81%, Pringsewu 36,9 9%,
Tinggi Badan menurut Umur Mesuji 43,43%, Tulang Bawang
(TB/U) dengan ambang batas (z- Barat 40,08%, Bandar Lampung,
score) antara -3 SD sampai 44,59%, dan Metro 47,34%.
dengan <2 SD. Prevalensi pendek (Lampung, D. K. P. 2016)
(stunting) pada balita dipengaruhi
oleh beberapa faktor yang terkait, METODE
antara lain keadaan gizi ibu ketika
masa kehamilan, asupan gizi yang Penelitian ini menggunakan
kurang pada bayi, kekurangan metode observasi analitik dengan
konsumsi makanan yang desain penelitian stadi case
berlangsung lama sehingga status control. Pengumpulan data
gizi balita rendah. (Efendhi, A, menggunakan data primer dan
2015) data sekunder. Data primer yang
ISPA adalah penyebab diambil meliputi pengukuran
utama morbiditas dan mortalitas tinggi badan (TB/U atau PB/U)
penyakit menular didunia. Hampir dan menggunakan tabel
empat juta orang meninggal antropometri penilaian status gizi
akibat ISPA setiap tahunnya. anak. Data sekunder yang diambil
Selain itu, ISPA merupakan meliputi riwayat penyakit infeksi
penyebab utama konsultasi atau saluran pernafasan akut (ISPA)
rawat inap difasilitas pelayanan dari data rekam medis yang
kesehatan terutama pada bagian diambil dari Puskesmas Seputih
perawatan anak. Hal yang serupa Surabaya, Desa Mataram Ilir,
juga terjadi di Indonesia. Satu Kecamatan Seputih Surabaya,
dari empat kematian bayi dan Kabupaten Lampung Tengah.
balita di Indonesia diakibatkan Populasi dalam penelitian ini
oleh ISPA. Pada setiap tahunnya, berjumlah 463 dengan prevalensi
setiap anak diperkirakan balita stunting 38,01% atau 106,
mengalami 3-6 episode ISPA. dan cara perhitungan sampel
(Maharani, D, et al, 2017) untuk penelitian besar sampel
Ditahun 2014 Kementerian terhadap populasi dihitung
Kesehatan merilis turunan dari menggunakan metode slovin.
Riskesdas 2013 yang disebut Berdasarkan hasil perhitungan
Indeks Pembangunan Kesehatan sampel diatas, maka dapat
Masyarakat (IPKM) 2014. IPKM diketahui sampel dalam penelitian
2014 membreak down data ini berjumlah 52 responden untuk
Riskesdas 2013 dilevel Kabupaten masing-masing kelompok kasus
Kota untuk prevalensi balita dan kelompok kontrol. Sedangkan

2|Page
teknik pengambilan sampel Kabupaten Lampung tengah,
dengan metode purposive tahun 2019 yang menderita
sampling terhadap seluruh stunting hingga terpenuhi jumlah
balitastunting di Desa Mataram sampel yang dibutuhkan.
Ilir, Kecamatan Seputih Surabaya,

Hasil

A. Karakteristik Responden

1.Karakteristik Balita Stunting Dan Balita Normal


Tabel 1.1. Karakteristik Balita Stunting Dan Normal
Usia (Bulan)
Balita Stunting
24-35 16 30,8 %
36-47 22 42,3 %
48-59 14 26,9 %
Balita Normal
24-35 16 30,8 %
36-47 22 42,3 %
48-59 14 26,9 %
Jenis Kelamin
Balita Stunting
Laki-laki 27 51,9 %
Perempuan 25 48,1 %
Balita Normal
Laki-laki 29 55,8 %
Perempuan 23 44,2 %
Total 52 100 %

Dari tabel diatas dapat 24-35. Sedangkan jumlah


dilihat bahwa untuk usia, sampel balita stunting dan
balita stunting kelompok balita normal laki-laki lebih
terbanyak adalah 36-47 banyak dari pada perempuan.
bulan, dan balita normal
kelompok terbanyak adalah

3|Page
B. Hasil Analisis
1. Kejadian Stunting
Tabel 1.2 Balita Stunting Dan Normal Berdasarkan Status Standar
Deviasi (SD)
Golongan Status Frekuensi Persentase
Standar Deviasi (N) (%)
(SD)
Balita Stunting
-3 SD sampai <-2 Pendek 43 82,7 %
SD
<-3SD Sangat 9 17,3 %
pendek
Balita Normal
>2 SD sampai 3 Tinggi 13 25 %
SD
<-1 SD sampai 2 Normal 39 75 %
SD
Total 52 100%

Dari tabel diatas, sangat pendek. Dan untu


untuk balita stunting dapat balita normal dapat dilihat
dilihat bahwa jumlah balita bahwa jumlah balita dengan
dengan status pendek lebih status normal lebih banyak
banyak dibandingkan status dari pada status tingg

2. Riwayat Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA)


Tabel 1.3 Riwayat Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut
(ISPA) Balita Stunting Dan Balita Normal

Riwayat Penyakit ISPA Jumlah Persentase (%)


(per tahun)
Balita Stunting
Sering 44 orang 84,6 %
Tidak sering/ jarang 8 orang 15,4 %
Balita Normal
Sering 4 orang 7,7 %
Tidak sering/ jarang 48 orang 92,3 %
Total 52 100 %

Dari tabel diatas dapat Dari tabel diatas dapat


dilihat bahwa balita dengan dilihat bahwa balita dengan
riwayat (ISPA) yang riwayat (ISPA) yang
mengalami ISPA sering lebih mengalami ISPA tidak sering
banyak dari pada ISPA tidak atau jarang lebih banyak dari
sering atau jarang. pada ISPA sering.

4|Page
C. Analisis Bivariat
1. Hubungan Kejadian Stunting Dengan Riwayat Penyakit Infeksi
Saluran Pernafasan Akut (ISPA) Pada Balita Usia 24-59 Bulan Di
Desa Mataram Ilir, Kecamatan Seputih Surabaya, Kabupaten
Lampung Tengah, Tahun 2019.

Tabel 1.4 Analisis Hubungan Kejadian Stunting Dengan Riwayat


Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA)
Riwayat ISPA
Stunting Sering Tidak Total OR P
sering Value
stunting 44orang 8 orang 52
84,6% 15,4% 100%
Tidak 4 orang 48orang 52 66.000 0,000
Stunting 7,7 % 92,3% 100% CI=18.572-
Total 48orang 56 orang 104 234.552
46 % 54 % 100%
sebanyak 27 orang
Dari tabel diatas dapat dibandingkan dengan wanita
dilihat bahwa balita stunting yang bejumlah 25 orang. Hal
yang mengalami ISPA sering ini sesuai dengan penelitian
lebih banyak dari pada balita Roscha, et al (2013) yang
tidak stunting. Dari tabel menganalisis data Riskesdas
diatas juga dapat dilihat menyatakan bahwa balita
bahwa ada hubungan stunting lebih banyak berjenis
bermakna antara kejadian kelamin laki-laki (39,5 %).
Stunting dengan riwayat Lebih banyak prevalensi
penyakit ISPA dikarenakan stunting pada laki-laki
hasil uji Chi-square disebabkan karena laki-laki
menunjukan nilai p=0,000 lebih beresiko untuk
dan uji chi-square dikatakan mengalami kekurangan gizi
berhubungan apabila nilai akibat lebih banyaknya
p<0,05. Dan nilai odd ratio kebutuhan energi protein
66.000, yang berarti kejadian pada laki-laki. Jenis kelamin
stunting lebih beresiko 66 kali menentukan besar kecilnya
lipat mengalami ISPA sering kebutuhan energi protein
dari pada balita normal. seseorang. (Damayanti, R.
A.,et al. 2017)
PEMBAHASAN
Kejadian Stunting
Karakteristik Responden
Balita Stunting Berdasarkan penelitian
yang dilakukan di Desa
Karakteristik Mataram Ilir, Kecamatan
responden menurut jenis Seputih Surabaya, Kabupaten
kelamin paling banyak Lampung Tengah tahun 2019,
diderita oleh laki-laki didapatkan sampel sebanyak
52 responden sebagai

5|Page
kelompok kasus, dan didapatkan hasil yang
didapatkan hasil yang menunjukan bahwa balita
menunjukan bahwa balita stunting lebih banyak
dengan standar deviasi -3 SD mengalami ISPA sering dari
sampai <-2 SD dengan status pada tidak sering. Dimana
pendek paling banyak balita dikatakan sering ISPA
sebanyak 43 orang (82,7 %) jika mengalami frekuensi
dibandingkan dengan standar ISPA > 6 kali pertahun, dan
deviasi <-3 dengan status jarang atau tidak sering jika
sangat pendek sebanyak 9 frekuensi ISPA < 6 kali
orang (17,3 %). Hal ini pertahun. (Sienviolincia, D.
dikarenakan, stunting 2015). Balita stunting lebih
merupakan bentuk kegagalan rentan terkena infeksi,
pertumbuhan (growth terutama infeksi saluran
faltering) akibat akumulasi pernafasan akut (ISPA) yang
ketidak cukupan nutrisi yang biasa menyerang anak-anak
berlangsusng lama mulai dari karena lebih rentan
kehamilan sampai usia 24 mengalami penurunan
bulan. ( Mitra, M. 2015) imunitas. ISPA merupakan
Hasil diatas juga sesui penyakit yang sering terjadi
dengan kecendrungan dimasyarakat. Terdapat 156
prevalensi sangat pendek dan juta episode baru kejadian
pendek dari hasil Riskesdas ISPA didunia pertahun
tahun 2007-2013 dimana 151 juta episode
menunjukan bahwa, untuk (96,7 %) terjadi dinegara
prevalensi sangat pendek, berkembang. ISPA lebih
cendrung menurun dari 18,8 sering terjadi pada anak-
% (Riskesdas 2007) menjadi anak, dengan insiden
18,0 % (Riskesdas 2013), menurut kelompok umur
namun untuk pendek terjadi balita diperkirakan 0,29
sedikit kenaikan dari 18,0 5 episode peranak pertahun
(Riskesdas 2007) turun dinegara berkembang dan
sedikit menjadi 17,1 % 0,05 episode peranak
(Riskesdas 2010) dan naik pertahun dinegara maju.
lagi menjadi 19,2 % (Efendhi, A. 2015).Penelitian
(Riskesdas 2013). (Trihono, oleh Efendi (2015) anak
A., et al. 2015) stunting yang mengalami
ISPA dengan frekuensi sering
Riwayat Penyakit Infeksi sebesar 85,2%.
Saluran Pernafasan Akut
(ISPA) Pada Balita
Stunting

Berdasarkan penelitian
yang dilakukan di Desa
Mataram Ilir, Kecamatan
Seputih Surabaya, Kabupaten
Lampung Tengah tahun 2019,

6|Page
Hubungan Kejadian Stunting pada balita
Stunting Dengan Riwayat perlu menjadi perhatian
penyakit Infeksi saluran khusus karena dapat
Penafasan Akut menghambat perkembangan
(ISPA) fisik dan mental anak.
Stunting berkaitan dengan
Hubungan antara peningkatan resiko kesehatan
kejadian stuntingdengan dan kematian serta
riwayat penyakit ISPA pada terhambatnya pertumbuhan
tabel 4.9, menunjukan bahwa dan perkembangan
persentase balita yang kemampuan motorik dan
mengalami stunting dan tidak mental. Balita yang
mengalami stuntingyang mengalami stunting memiliki
sering mengalai ISPA yaitu resiko terjadinya penurunan
sebesar 84,6% : 7,7%. kemampuan intelektual,
Kemudian dari uji analisa produktivitas, dan
data Chi Square dengan peningkatan resiko penyakit
tingkat kepercayaan 90% degeneratif dimasa
diperoleh p value sebesar mendatang. Hal ini
0,000 dengan taraf signifikan dikarenakan anak stunting
(p<0,05) yang menunjukkan juga cendrung lebih rentan
bahwa terdapathubungann terhadap penyakit infeksi.
antara kejadian stunting (Ningrum, E. W., & Utami, T.
dengan riwayat penyakit 2017)
infeksi saluran pernapasan Hasil penelitian
akut(ISPA) pada balita di Fonseca 1996 di Fortaleza
Desa Mataram Ilir, Brazil menunjukkan bahwa
Kecamatan Seputih Surabaya, status gizi kurang menempati
Kabupaten lampung Tengah urutan pertama faktor resiko
yang berarti HO ditolak. terjadinya pneumonia pada
Keadaan stunting anak balita.(Hadiana, S. Y. M.
dapat menimbulkan berbagai 2013)Salah satu faktor risiko
macam penyakit, diantaranya kejadian stunting kurangnya
penyakit yang sering asupan gizi dalam jangka
menyerang balita seperti waktu yang lama, sehingga
halnya ISPA. Penyakit infeksi dapat terjadi perlambatan
ini merupakan penyakit yang pertumbuhan dan
sering menyebabkan berpengaruh terhadap status
kematian. Infeksi saluran gizi. Penyakit infeksi
pernafasan akut disebabkan dapatmengakibatkan berat
oleh virus atau bakteri. badan turun secara akut dan
Penyakit ini diawali dengan berpengaruh pada status gizi
panas dan disertai salah satu balita bila terjadi dalam
atau lebih gejala: jangka waktu yang lama.
tenggorokan sakit, atau nyeri Balita dengan status gizi yang
telan, pilek, batuk kering atau kurang mempunyai sistem
berdahak. (Efendhi, A. 2015) imun yang rendah yang dapat
membuat balita mudah

7|Page
terkena penyakit infeksi. normal. Hal ini tidak sejalan
(Wellina, W. F.,et al . 2016) dengan penelitian yang
Kemudian penelitian dilakukan oleh Bayu (2013)
dari Sukmawati & Sri Dara yang menyatakan bahwa
Ayu (2010) di wilayah kerja kejadian stunting pada ank
Puskesmas Tunikamaseang usia 12-60 bulan tidak ada
Kabupaten Maros Sulawesi hubungannya secara
juga menunjukkan kejadian bermakna dengan frekuensi
ISPA berulang yang lebih penyakit infeksi yang terjadi
banyak pada balita dengan di Desa Gresik.
status gizi kurang dengan p = Dari penelitian ini
0,03, hal ini disebabkan terdapat responden yang
karena status gizi yang tidak mengalami
kurang menyebabkan stuntingnamun sering
ketahanan tubuh menurun mengalami ISPA. Hal ini
dan virulensi patogen lebih disebabkan oleh faktor lain
kuat, sehingga akan yang dapat menyebabkan
menyebabkan keseimbangan terjadinya ISPA pada balita
terganggu dan akan terjadi seperti umur, pemberian ASI,
infeksi. Salah satu keteraturan pemberian
determinan dalam vitamin A, polusi udara, sosial
mempertahankan ekonomi, imunisasi
keseimbangan tersebut kepadatan dalam rumah dan
adalah status gizi yang baik. BBLR. Selain itu didapatkan
Dari hasil analisis juga responden yang yang
dapat dilihat bahwa frekuensi mengalami stunting tetapi
ISPA lebih sering terjadi pada jarangmengalami ISPA. Hal
balita stunting dibandingkan tersebut bisa terjadi
dengan balita tidak stunting kemungkinan karena faktor
atau normal. Hal ini lingkungan tempat tinggalnya
menunjukan bahwa stunting yang tidak ada yang
sangat berpengaruh terhadap menderita ISPA meskipun
kejadian infeksi seperti status balita stunting, atau
halnya infeksi saluran bisa dikarenakan mereka
pernafasan akut (ISPA). Hasil sudah mendapatkan
penelitian ini sejalan dengan imunisasi yang lengkap
penelitian Hadiana (2013) sehingga mereka mempunyai
dimana diperoleh hasil bahwa kekebalan tubuh terhadap
terdapat hubungan yang serangan infeksi sehingga
bermakna antara status gizi tidak mudah terkena ISPA.
dengan frekunsi ISPA. Dari hasil diatas dapat
Penelitian ini juga sejalan disimpulkan bahwa kejadian
dengan penelitian wanda stunting mempunyai peran
lestari (2014) dimana anak yang sangat besar dalam
stunting pada penelitian ini pemeliharaan kesehatan
memiliki proporsi yang lebih tubuh balita. Jika balita
tinggi menderita ISPA mengalami stunting maka
dibandingkan dengan anak akan lebih mempermudah

8|Page
kuman-kuman patogen Stunting (Suatu Kajian
menyerang tubuh sehingga Kepustakaan). Jurnal
terjadi ISPA. Kesehatan Komunitas, 2(6),
254-261.
SIMPULAN
3. Trihono, A., Tjandrarini, D.
1. Diketahui ada hubungan H., Irawati, A., Utami, N. H.,
kejadian stunting dengan & Nurlinawati, I. (2015).
riwayat penyakit infeksi Pendek (Stunting) Di
saluran pernafasan akut Indonesia, Masalah Dan
(ISPA) pada balita usia Solusinya. Jakarta:
24-59 bulan. (p=0,00. Balitbangkes.
OR:66)
2. Diketahui gambaran 4. Efendhi, A. (2015). Hubungan
kejadian stunting pada Kejadian Stunting Dengan
balita usia 24-59 bulan Frekuensi Penyakit Ispa Dan
didapatkan lebih banyak Diare Pada Balita Usia 12-48
berstatus pendek. Bulan Di Wilayah Kerja
3. Diketahui gambaran Puskesmas Gilingan
kejadian ISPA pada balita Surakarta (Doctoral
usia 24-59 bulan di Dissertation, Universitas
dapatkan lebih banyak Muhammadiyah Surakarta).
mengalami ISPA sering.
5. Ningrum, E. W., & Utami, T.
DAFTAR PUSTAKA (2017). Hubungan Antara
Status Gizi Stunting Dan
1. Damayanti, R. A., Muniroh, Perkembangan Balita Usia 12-
L., & Farapti, F. (2017). 59 Bulan. Bidan Prada: Jurnal
Perbedaan Tingkat Kecukupan Publikasi Kebidanan Akbid
Zat Gizi Dan Riwayat YLPP Purwokerto.
Pemberian Asi Eksklusif Pada
Balita Stunting Dan Non 6. Wellina, W. F., Kartasurya, M.
Stunting. Media Gizi I., & Rahfiludin, M. Z. (2016).
Indonesia, 11(1), 61-69. Faktor Risiko Stunting Pada
Anak Umur 12-24
2. Mitra, M. (2015). Bulan. Jurnal Gizi Indonesia
Permasalahan Anak Pendek (The Indonesian Journal Of
(Stunting) Dan Intervensi Nutrition), 5(1), 55-61.
Untuk Mencegah Terjadinya

9|Page