Anda di halaman 1dari 16

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Keperawatan sudah ada sejak adanya manusia dimuka bumi ini.
Bisa dikatakan, keperawatan sudah ada sejak zaman purba. Pendapat ini didukung
oleh kenyataan bahwa keperawatan adalah kegiatan yang awalnya dilakukan atas
dasar “mother instinct”. Setiap manusia pasti memiliki naluri. Jadi, bisa
dikatakan bahwa naluri keperawatan ada dalam setiap pribadi manusia.
(Asmadi,2008:58)
Keperawatan telah berkembang baik sebagai ilmu maupun profesi
sehingga ia telah menjadi bidang studi yang mandiri. Hal ini ditandai
dengan adanya dorongan bagi seorang ibu untuk membagi dirinya kepada
bayinya melalui proses penyusuan.
Namun seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi, pekerjaan keperawatan tidak hanya berkembang sebatas kegiatan
alamiah namun tumbuh dalam bentuk penalaran sehingga melahirkan berbagai
kegiatan seperti observasi, eksperimen, empiris yang digali akarnya dari
pemikiran kefilsafatan maupun budaya. Akan tetapi penggalian
pengetahuan tentang keperawatan
mendorong untuk terus mencari akar yang lebih dalam lagi yaitu tidak
sekedar
bersumber dari keberadaan manusia dengan alam semesta akan tetapi dari
hakikat keberadaan manusia sebagai makhluk Allah SWT.
Islam sangat memperhatikan dunia kesehatan dan keperawatan guna
menolong orang yang sakit dan meningkatkan kesehatan. Anjuran islam
untuk hidup bersih juga menunjukkan obsesi islam untuk mewujudkan
kesehatan masyarakat, sebab kebersihan pangkal kesehatan dan
kebersihan dipandang sebagai bagian dari iman. Jadi walaupun seseorang
sudah menjaga kesehatannya sedemikian rupa risiko kesakitan masih besar,
disebabkan faktor eksternal yang diluar kemampuannya. Mengingat
2

kompleksnya faktor pemicu penyakit, maka profesi keperawatan tidak bisa


dihindari dan sangat dibutuhkan.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana dimensi keperawatan dalam perspektif islam
2. Bagaimana prinsip etika dalam profesi keperawatan sudut pandangan
Islam?
3. Bagaimana tingkat perkembangan kebutuhan terhadap keperawatan?
4. Apa kemuliaan dari profesi perawat?
5. Bagaimana peran keperawatan islam?

C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan umum
Karya tulis ilmiah ini susun dengan tujuan umum untuk memenuhi
tugas mata kuliah Bahasa Indonesia Prodi DIII Keperawatan di Akademi
Keperawatan Mamba’ul U’lum Surakarta.
2. Tujuan khusus
a. Memberikan sebuah penjelasan tentang bagaimana dimensi
keperawatan dalam perspektif islam.
b. Memberikan sebuah penjelasan tentang bagaimana prinsip etika
dalam profesi keperawatan sudut pandangan Islam.
c. Memberikan sebuah penjelasan tentang bagaimana tingkat
perkembangan kebutuhan terhadap keperawatan.
d. Untuk mengetahui apa kemuliaan dari profesi perawat.
e. Memberikan sebuah penjelasan tentang bagaimana peran
keperawatan islam.
BAB II
PEMBAHASA
N

A. Dimensi Keperawatan dalam Perspektif Islam


Penyakit dalam pandangan islam adalah suatu gangguan
keseimbangan sebagai mana yang dimaksud oleh Allah. Sebab-sebab dari
gangguan ini dapat dicari baik dari kekuatan yang menguasai alam maupun
yang berasal dari kuasa - kuasa manusia. (Stevens, 1999:284).
Keperawatan dalam Islam adalah pelayanan kesehatan yang
berkaitan dengan merawat pasien, individu, keluarga, dan masyarakat
sebagai manifestasi cinta kepada Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW.
Keperawatan sebagai profesi bukan hal baru bagi Islam. Pada kenyataannya,
itu adalah atributif untuk simpati dan tanggung jawab terhadap yang
bersangkutan membutuhkan. Usaha ini telah dimulai selama pengembangan
Islam sebagai agama, budaya, dan peradaban. (Dahlia, 2013:1).

Keperawatan Islami mengutamakan bekerja dengan cerdas dan dilandasi ilmu


sesuai dengan Al Quran surat Al Mujadalah:11

‫اااا‬‫اا لفاكرم ْ فوُإعفذا عقيِفل ارناشازوُا ففاَرناشازوُا يفررففعع ا‬‫ح ا‬‫س ففاَرففساحوُا يفرففس ع‬ ‫فياَ أفيَيفهاَ الاعذيفن آفمانوُا إعفذا عقيِفل لفاكرم تفففاساحوُا عفيِ ارلفمفجاَلع ع‬
‫الاعذيفن آفمانوُا عمرناكرم فوُالاعذيفن اأوُاتوُا ارلععرلفم فدفرفجاَ ت‬
‫ت ٍ فوُ ا‬
‫اا بعفماَ تفرعفمالوُفن فخعبيِرر‬

Artinya :

“Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah


dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan
untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya
Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang
yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa
yang kamu kerjakan.”
Tugas seorang muslim untuk menyebarkan keselamatan bagi setiap
makhluk termasuk manusia tanpa membeda-bedakan seorang pasien
berdasar pada agamanya. Tugas penyebaran untuk berbuat baik adalah
merupakan inti dari ajaran dakwah yaitu mendorong manusia kepada
kebaikan dan petunjuk, menyuruh perbuatan makruf dan mencegah perbuatan
mungkar, agar mereka memperoleh kehidupan yang beruntung di dunia dan di
akhirat (Lubis, 2011:3).

Oleh karena itu profesi keperawatan dalam pandangan Islam


memiliki berbagai aspek. Seorang perawat juga bisa berfusngsi sebagai
muballig, da’i, guru dan sebagainya. Terdapat empat prinsip etika dalam
profesi keperawatan sudut pandangan Islam:

1. Penghargaan terhadap kemandirian klien menjadi prinsip etik dalam teori


keperawatan. Islam mengajarkan bahwa keberadaan seorang manusia
hendaklah memperbanyak orang yang memberikan pertolongan bukan
orang yang mengharap pertolongan sesuai dengan sabda Rasul yadu
al ‘ulya
khairun min yadu al sufla, artinya tangan di atas yaitu yang
memberikan pertolongan lebih baik dari tangan yang di bawah. Hal
ini menunjukkan bahwa dalam pandangan Islam seseorang sebaiknya
menjadi pribadi yang mandiri yaitu yang dapat menolong orang lain karena
perbuatan itu pada hakikatnya adalah menolong dirinya sendiri.
2. Tidak melakukan tindakan yang bertentangan dengan teori
keperawatan sekalipun pada akhirnya yang menyembuhkan itu semata-
mata Allah SWT. Seluruh perangkat tenaga medis hanya berfungsi
sebagai sebab yang mengantarkan kesembuhan atau sebaliknya terhadap
klien.
3. Seorang yang berprofesi sebagai perawat dan memiliki komitmen
keislaman
yang kuat adalah selalu mempertimbangkan manfaat dari
perbuatannya karena Rasul bersabda yang artinya sebagian dari tanda
keindahan Islam seseorang adalah meninggalkan perbuatan yang tidak
berguna kepadanya (min husni islam al mar-I tarku ma la ya’nihi).
4. Seorang yang berprofesi perawat adalah mereka yang mampu berlaku
adil
baik kepada pasien maupun kepada dirinya sendiri sehingga juga
memperhatikan kebutuhan fisik dan psikisnya.

B. Prinsip Keperawatan dalam Islam


1. Aspek Teologis yaitu setiap hamba telah dibekali oleh Allah dua potensi
yaitu
kehendak (masyiah) dan kemampuan (istitha’ah). Atas dasar kehendak
maka
seorang muslim memiliki cita-cita untuk melakukan berbagai rekayasa
dan inovasi dalam kehidupannya yang dibaktikan karena Allah. Dengan adanya
kehendak dan kemampuan maka seorang manusia melakukan upaya
yang sungguh-sungguh tanpa menyisakan kemampuannya dan setelah itu
menyerahkan hasilnya menanti ketentuan Allah. Dalam perspektif
yang seperti itulah bertemunya dua hal yang seing dipandang krusial
dalam pemahaman akidah yaitu antara usaha manusia dan takdir Allah.
Keduanya adalah merupakan perpaduan dalam perjalanan hidup manusia yang
disebut tawakkal. Hal ini tercermin dalam Al Quran sebagian
diantaranya menekankan manusia agar berbuat secara maksimal karena
Allah tidak akan merubah nasib seseorang sehingga merubah sendiri.
Sementara pada ayat yang lain menegaskan seakan manusia tidak berperan
sedikitpun dalam perbuatannya dengan mengatakan “Dan Allah yang
menciptakan kamu dan apa yang kamu kerjakan”.
2. Aspek fungsi kemanusiaan yaitu khilafah dan ibadah. Tugas khilafah
adalah
mengelola seluruh alam semesta untuk kepentingan umat manusia.
Dan tentunya harus diingat bahwa tugas pengelolaan yang baik harus
dilakukan oleh hamba-hamba Allah yang memiliki kepatutan untuk itu.
Selanjutnya pelaksanaan tugas khilafah yang benar pastilah akan
menghasilkan ibadah yang benar pula dan demikian sebaliknya. Atas
dasar itu, seorang muslim hendaknya menggali seluruh informasi ilmu
pengetahuan tentang alam semesta termasuk tugas perawatan sekalipun
ilmu itu ada pada umat lain yang
tidak muslim. Anjuran tentang hal ini ditegaskan dalam berbagai ayat
Al Quran antara lain dengan penyebutan tipologi orang berilmu itu
dengan ulul albab. Allah menegaskan bahwa sesungguhnya dalam
penciptaan langit dan bumi dan pergantian siang dan malam adalah
menjadi tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang yang berpikir. Selanjutnya
dalam ayat berikutnya Allah menjelaskan tanda-tanda orang yang disebut
ulul albab yaitu orang yang selalu mengingat Allah; memikirkan
penciptaan langit dan bumi; dan kemudian yang mampu mengambil
keputusan: ya Tuhan kami, tidaklah Engkau jadikan semua ayang ada di
alam semesta ini sia-sia; dan terakhir pernyataan Maha Suci Allah dari sifat
kekurangan dan peliharalah kami dari azab neraka.
3. Aspek akhlak yaitu ihsan yang menyatakan bahwa setiap orang yang
beriman hendaklah menyadari bahwa dirinya selalu dalam pengawasan
Allah sesuai dengan Hadis Rasul bahwa engkau menyembah Allah
seakan engkau melihatNya dan andaikata engkau tidak mampu melihatNya
maka yakinlah Ia melihatmu (an ta’bud Allah kaannaka tarahu fa in lam
takun tarahu fa innahu yaraka). Atas dasar itu, seorang muslim dalam
segala tindakannya tidak memerlukan kendali eksternal untuk menjadi
orang baik karena di dalam hatinya terdapat potensi fitrah yang selalu
menuntunnya untuk menjadi orang yang takut berbuat maksiat.

C. Tujuan Penetapan Hukum Syariat


Hukum islam disebut dengan syariat dengan pengertian dasarnya adalah
bermakna jalan yaitu jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Hukum
syariat diturunkan Allah adalah semata-mata untuk kemaslahatan hambaNya
oleh karena itu tidak ada dalam ajaran Islam yang dapat membuat hidup
manusia menjadi susah. Justru, syariat bertujuan untuk membuat kehidupan
manusia lebih mudah dan tenteram. Tujuan penetapan hukum syariat
(maqashid al syari’at) itu disusun oleh ulama fikh ke dalam lima prinsip
pemeliharaan yaitu:
1. Hifz Al Din, yaitu syariat bertujuan untuk memelihara agama agar
hidup manusia selamat dunia dan akhirat. Agama (din) adalah yang
utama sebagai dasar kehidupan manusia karena tanpa agama maka hidup
manusia tidak memiliki arah dan tujuan.
2. Hifz Al Nafs, yaitu syariat bertujuan untuk memelihara kelangsungan
hidup manusia karena manusia adalah hamba Allah dalam format
tubuh yang sempurna. Oleh karena itu, tidak selayaknya kehidupan
manusia menjadi susah akibat pengamalan ajaran agama.
3. Hifz Al Nasl, yaitu syariat menegaskan bahwa perlunya
kelangsungan keturunan manusia sehingga semakin banyak orang yang
menyembah Allah. Oleh karena itu, tindakan keperawatan yang
memutuskan kelangsungan keturunan tanpa alasan yang sah maka
tindakan itu terlarang dalam ajaran Islam.
4. Hifz Al ‘aql, yaitu syariat bertujuan untuk menjaga keberadaan akal
manusia sehingga akal menjadi salah satu patokan seseorang dibebani
hukum syari’at (taklif).
5. Hifz Al Mal, yaitu syariat bertujuan untuk memelihara aturan
tentang kepemilikan dan penyalurannya kepada yang berhak.
Dari uraian di atas, maka kedatangan syariat adalah untuk menegaskan
keberadaan manusia sebagai hamba Allah yang berkewajiban beribadah
kepada- Nya dan melaksanakan tugasnya mengelola segala sesuatu ciptaan
Allah di alam semesta. Tugas-tugas keperawatan hendaklah disusun
sejalan dengan tujuan hukum syariat. Bentuk perumusannya adalah peluang
kepada manusia untuk mengerahkan segala kemampuannya untuk melakukan
berbagai eksperimen dan empiris namun harus tetap harus meyakini bahwa
penentu yang terakhir adalah Allah. Peran manusia hanya sebatas usaha (al
kasb) dan pilihan (Lubis, 2011:5).

D. Tingkat Kebutuhan terhadap Keperawatan


Setiap tindakan dalam tugas keperawatan dibagi dalam tiga klasifikasi
sesuai dengan tingkat kepentingannya, yakni:
1. Tingkatan dlaruriyat yaitu suatu kondisi darurat yang sedang dihadapi
oleh orang yang sakit. Apabila derajat kesakitan seorang klien telah
mencapai kondisi darurat sesuai dengan pertimbangan medis, maka dapat
dilakukan tindakan darurat yaitu diperkenankan untuk menyimpang
dari hukum
konvensional syari’at, dengan ukuran sekedar mengatasi suasana
yang darurat. Demikian pula, petugas kesehatan dapat menunda untuk
sementara waktu kepentingan Allah untuk menyelamatkan situasi darurat
yang sedang dihadapi oleh hambaNya misalnya menunda sementara
melaksanakan solat karena membantu pasien yang sedang kritis.
2. Tingkatan hajiyat yaitu kondisi manusia yang sangat membutuhkan
untuk menopang terwujudnya hifz al nafs sebagaimana telah diterangkan
di atas. Sebagian ulama mempersamakan antara dlaruriyat dengan
hajiyat namun dengan derajat yang bisa berbeda. Oleh karena itu, apabila
dalam dlaruriyat, seorang petugas keperawatan dapat menunda
pelaksanaan ibadah atau melakukan tindakan pemotongan bagian tubuh
manusia, maka dalam hajiyat tidak sampai kepada derajat itu.
3. Tahsiniyat yang bersifat aksesori kehidupan. Dalam hal ini hukumnya
tidak wajib dan tidak haram yaitu berada pada posisi mubah. Bahkan
terkadang, derajat kepentingan tahsiniyat dapat berubah menjadi haram
apabila motivasi yang melandasintya justru bersifat cenderung mubazir
atau bertentangan dengan tujuan syariat.
Oleh karena itu, seorang petugas keperawatan dituntut kearifan
guna menentukan pilihan di antara tiga alternatif kondisi yang dihadapi oleh
seorang yang sakit. Hal ini disebabkan karena kesalahan dalam penetapan
alternatif justru akan berakibat fatal yaitu pelanggaran terhadap syariat.
E. Mulianya Profesi Perawat
Perawat merupakan profesi mulia. Allah menghormatinya melalui
mukjizat Nabi Isa bin Maryam dan Nabi Ibrahim yang pandai mengobati
penyakit dan selalu menyebut nama Allah sebagai penyembuh
penyakitnya. Sama halnya dengan semua aspek ilmu pengetahuan, ilmu
kedokteran dan keperawatan adalah sebagian dari ilmu Allah, karena Allah-
lah yang mengajarkan kepada manausia apa yang tidak diketahuinya (Inna,
2009:4).

Ikhlas disini dalam artian sikap yang murni, semata-mata demi memperoleh
ridhla dan perkenan Allah dalam proses keperawatannya. Bekerja harus ikhlas,
jangan terpaksa, Al ‘amalu bin niyah ( Setiap pekerjaan dinilai sesuai niatnya).
Bekerja dengan niat ikhlas akan mendapatkkan pahala dan bila tidak ikhlas tidak
berpahala. Allah menerangkan dalam QS Al Bayyinah :5

‫صفلةف فوُيارؤاتوُا الازفكاَةف ٍ فوُذفذلع ف‬


‫ك عديان ارلقفيِيفمعة‬ ‫فوُفماَ أاعماروُا إعال لعيِفرعباادوُا ا‬
‫اف امرخلع ع‬
‫صيِفن لفها اليديفن احنفففاَفء فوُياعقيِاموُا ال ا‬

Artinya : “ Dan tidaklah mereka disuruh, kecuali supaya menyembah Allah dengan
mengiklhaskan ketaatan kepadaNya dalam menjalankan Agama dengan lurus

Benar-benar dengan niat yang ikhlas untuk beramal Tidak mengharapkan


balasan atau pujian. Karena amal yang diterima Allah hanyalah amal yang
didasarkan pada keikhlasan. HR. Abu Dawud & Nasa’idari abi umamah. Ikhlas
disini dapat dilakukan dengan cara : Selalu Menolong Dengan Segala Cara
Bersegeralah menolong seseorang dengan segenap kemampuan, baik berupa harta,
tenaga, waktu atau setidak-tidaknya perhatian yang tulus hanya untuk
mendengarkan keluh kesahnya. Setiap kali kita menolong seseorang dengan ikhlas,
berarti kita telah menabung untuk mendapat pertolongan Allah. Karena
sesungguhnya kesempatan menolong orang lain hanya ada jika Allah yang maha
agung memberi kesempatan kepada kita. Andaikata kemampuan menolong secara
fisik sangat terbatas, tolonglah dengan taburan do’a. Percayalah, tidak ada kebaikan
sekecil apapun kecuali diperhatikan dan dibalas dengan sempurna oleh Allah SWT.

Sumbangkan Ilmu Pengetahuan. Sedikitpun jangan pernah sungkan untuk


mengajarkan ilmu dan pengalaman yang kita miliki agar orang lain bertambah
ilmunya, wawasannya, pengalamannya dan kemampuannya. Kita harus amanah
dengan ilmu dan pengalaman kita dengan cara menyalurkannya untuk membantu
orang lain.

Hindari Penghinaan Terhadap Pasien Segala sesuatu yang bersifat merendahkan,


mengejek, menghina dalam bentuk apapun terhadap seseorang, baik tentang postur
tubuhnya, keadaan penyakitnya, kepribadiannya, keadaan sosial dan sebagainya.
Sedikitpun jangan pernah kita lakukan kalau kita sebagai seorang perawat. Akibat
perbuatan itu akan muncul perasaan sakit hati atau sampai bisa mendendam.
Tolonglah pasien dengan ikhlas karena diahadapan Allah manusia adalah sama.

Berkaitan dengan ini pengadaan praktik kedokteran dan perawatan adalah


perintah agama kepada masyarakat, yang disebut fardlu kifayah, yang
diwakili
oleh beberapa institusi untuk melayani kebutuhan kesehatan dan pengobatan
masyarakat dan dapat dinikmati oleh setiap orang tanpa kecuali, tanpa
melihat kepada perbedaan ras, agama dan status sosialnya. Kewajiban ini
merupakan tugas negara untuk menjamin kebutuhan bangsa akan para dokter
dan perawat dalam berbagai bidang spesialisiasi. Dalam Islam hal ini
merupakan kewajiban negara terhadap warganegaranya.

Kesehatan harus menjadi tujuan, dan keperawatan kedokteran sebagai


cara, pasien adalah tuan, dokter dan perawat sebagai pelayannya. Peraturan-
peraturan, jadwal-jadwal, waktu dan pelayanan harus dilaksanakan sedemikian
rupa untuk menentukan keadaan pasien dan ditempatkan paling atas dengan
kesejahteraan dan kesenangan yang pantas.

Status istimewa harus diberikan kepada pasien selama ia menjadi


pasien, tidak membedakan siapa dan apa dia. Seorang pasien berada pada tempat
perlindungan karena penyakitnya dan bukan karena kedudukan sosialnya,
kekuasaan atau hubungan pribadinya. Karena itulah dokter dan perawat
mengemban tugas mulia, yang dalam sumpah jabatannya mereka
sudah bersumpah dengan nama Tuhan, berjanji untuk mengingat
Tuhan dalam profesinya, melindungi jiwa manusia dalam semua tahap dan
semua keadaan, melakukan semampu mungkin untuk menyelamatkannya
dari kematian, penyakit, rasa sakit dan kecemasan.
Allah berjanji akan menolong setiap orang di akhirat dan di hari
pembalasan, siapa saja yang menolong saudaranya di dunia. Walaupun
kematian merupakan hak prerogatif Allah menentukannya, namun manusia
diberi kewenangan yang maksimal untuk mengatasi penyakitnya dengan
bantuan dokter dan perawat. Itu sebabnya terhadap penyakit yang parah
sekalipun, dokter dan perawat tetap melakukan usaha maksimal dan memberi
semangat hidup para pasien bersangkutan.

F. Peran Keperawatan Islam


1. Mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dalam ilmu keperawatan.
Islam mengajarkan kita beberapa aspek nilai-nilai yang dapat
menjadikan manusia itu terlihat baik disisi Allah SWT. Oleh karena
itu nilai-nilai keislaman perlu di integrasikan terhadap ilmu keperawatan
yang berkembang pada saat ini. Adanya pengintegrasian ini
dimaksudkan akan terciptanya seorang perawat yang bercirikan agama
Islam.
2. Mengaplikasikan nilai-nilai keislaman dalam ilmu keperawatan.
Setelah adanya pengintegrasian maka perlu adanya realisasi dari pada
nilai- nilai tersebut untuk diaplikasikan terhadap praktik keperawatan.
Misalnya ketika seorang perawat mendapati pasien yang beragama islam,
dan pasien tersebut memiliki penyakit yang apabila terkena air maka penyakit
tersebut bertambah. Maka seorang perawat tersebut perlu untuk
mengajarkan
bertayamum kepada pasien/klien agar klien tidak bertambah sakitnya,
namun tidak pula meninggalkan ibadahnya.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Keperawatan dalam islam tidak hanya menjalankan pekerjaannya
sebagai profesi tetapi sebagai bentuk syiar islam, yang mengintegrasikan
nilai-nilai keislaman serta mengaplikasikannya dalam praktik
keperawatan. Dalam padangan agama islam merawat pasien merupakan
tugas mulia, baik secara tersurat maupun tersirat.

B. Saran
Allah menciptakan manusia sebagai pemimpin di muka bumi ini,
tapi apabila manusia sudah menjadi pemimpin mereka lupa dengan
masyarakat yang dia pimpin. Sebagai calon pemimpin dalam bidang
keperawatan atau kesehatan jangan membeda-bedakan masyarakat antara si
kaya dan si miskin apabila dalam
merawat pasien.

DAFTAR PUSTAKA

Asmadi. 2008. Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta: ECG

Dahlia, Lia.2013. “Peran Perawat Islam dalam Membimbing Ibadah bagi


Pasien”, (online), (http://keperawata nr e ligio nlia.wo rdpres s.co m/2013/06 /
02/pe ra n- perawat- isla m- da la m- me mb i mb i ng- ibada h- bagi- pas ie n- 2/
diakses 1 Januari
2015).
Departemen Agama RI. 2005. AL-Qur’an dan Terjemahannya, Bandung: PT Syamil
Media Cipta
Inna.2009.”Dimensi Keperawatan dalam Perspektif Islam”, (online),
(http://www. i nna- k.org/2009/09 /d ime ns i- keperawa ta n- da la m- perspek t if.
ht ml, diakses 13 November 2014).
Lubis, Ridwan.2011. “Keperawatan Sebagai Ilmu dan Profesi dalam Pandangan
Islam”, (online),
(http://pera wat m us li mi ndo nes ia.b lo gspo t.co m/2011/11 /kepera wat a n-
sebaga i- ilmu- da n- pro fes i. ht ml, diakses 29 Desember 2014).
Stevens, P.J.M. dkk,.1997. Ilmu Keperawatan. E/2. Jilid 2. Terjemahan oleh J.A.
Tomasowa. 1999. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC .