Anda di halaman 1dari 16

Kata Pengantar

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat, Inayah, Taufik
dan Hinayahnya sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam bentuk
maupun isinya yang sangat sederhana. Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah
satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca dalam administrasi pendidikan dalam
profesi keguruan.

Harapan saya semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi
para pembaca, sehingga saya dapat memperbaiki bentuk maupun isi makalah ini sehingga
kedepannya dapat lebih baik.

Makalah ini saya akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang saya miliki sangat
kurang. Oleh kerena itu saya harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukan-
masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.

PEKANBARU, JULI 2018

JAROT WIRO TAMTOMO


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB 1 PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
B. RUMUSAN MASALAH
C. TUJUAN PENULISAN MAKALAH
D. MANFAAT PENULISAN MAKALAH

BAB II PEMBAHASAN

A. Prinsip-prinsip etika bisnis dan prinsip etika profesi


B. Prinsip-prinsip etika profesi
C. Bisnis sebagai profesi yang luhur
D. Pandangan praktis – Realistis
E. Pandangan ideal
F. Seberapa beretikah?
G. Etika profesi

BAB III PENUTUP

A. KESIMPULAN
B. SARAN
BAB I

A. Latar Belakang

Gorengan merupakan jenis makanan yang sangat merakyat. Harganya yang murah dan rasa
yang enak dan cukup mengenyangkan membuat hampir setiap orang menyukai makanan
gorengan pisang, ubi, tempe dan tahu goreng.

Makanan jajanan ini makin sedap rasanya jika dikonsumsi saat masih dalam keadaan panas,
apalagi dengan tambahan cabai rawit yang pedas menggigit. Menemukannya pun amat
gampang, mulai dari pinggir jalan hingga mal. Itu sebabnya kita kerap membawanya ke
rumah, sebagai makanan ringan di sore hari, sambil minum kopi atau teh manis. Namun,
kebiasaan menyantap makanan gorengan untuk sementara waktu harus kita kurangi atau
paling tidak perlu diwaspadai. Sebab, kebiasaan ini mengandung risiko buruk bagi kesehatan.

Terdapat beberapa faktor yang dapat membuat makanan gorengan menjadi berbahaya dan tak
layak konsumsi. Faktor – faktor tersebut dapat ditinjau dari kualitas bahan, minyak goring
yang digunakan, kebersihan, pembungkus yang tak sesuai dan trik berbahaya yang digunakan
untuk membuat gorengan lebih tahan lama.

Makanan yang digoreng atau populer disebut gorengan, ternyata bukan hanya meningkatkan
kadar kolesterol darah serta menyebabkan terjadinya peningkatan risiko terkena stroke dan
penyakit jantung koroner. Makanan gorengan juga menghasilkan zat pemicu kanker
(karsinogenik) dengan nama akrilamida.

Melihat bahaya dan dampaknya terhadap kesehatan, maka hendaknya kita perlu lebih bijak
lagi dalam berpikir untuk memakan gorengan di pinggir jalan. Sekadar untuk mengantisipasi,
alangkah baiknya jika kita mulai mencoba untuk membuat sendiri gorengan dirumah. Selain
lebih aman, kita pun dapat berhemat.

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah yang dikaji dalam makalah ini yaitu :

1. Apa saja kandungan gizi yang terdapat di dalam gorengan ?

2. Apa saja faktor – faktor yang dapat membuat gorengan di pinggir jalan berbahaya untuk
dikonsumsi ?

3. Bagaimana dampaknya terhadap kesehatan tubuh ?

C. Tujuan

Tujuan yang hendak dicapai dalam penulisan makalah ini yaitu :


1. Untuk mengetahui kandungan gizi yang terdapat di dalam gorengan

2. Untuk mengetahui faktor – faktor apa saja yang membuat gorengan di pinggir jalan
berbahaya untuk dikonsumsi.

3. Untuk mengetahui dampaknya terhadap kesehatan tubuh.

D. MANFAAT PENULISAN

Adapun manfaat penulisan makalah ini adalah :

1. Memahami makanan sehat ,

2. Mengetahui Etika dalam usaha

3. Memberikan informasi
BAB II

A. Prinsip –prinsip etika bisnis dan prinsip etika profesi

Prinsip Otonomi

Prinsip otonomi mengharuskan pelaku bisnis mengambil keputusan dengan tepat dan baik,
serta mempertanggungjawabkan keputusan tersebut. Dalam menjalankan prinsip otonomi ini,
dua perusahaan atau lebih bisa berkomitmen menjalankan etika bisnis dengan prinsip
otonomi. Namun, masing-masing perusahaan dapat mengambil pendekatan yang berbeda-
beda dalam menjalankannya. Karena, masing-masing perusahaan pasti memiliki kondisi dan
strategi yang berbeda-beda dalam mencapai suatu tujuan perusahaan.

Prinsip Kejujuran

Kejujuran merupakan nilai yang paling dasar untuk mendukung keberhasilan kinerja
perusahaan. Tanpa kejujuran, bisnis tidak akan bertahan lama, karena kejujuran adalah kunci
utama dalam kesuksesan bisnis. Prinsip ini harus diterapkan dalam segala kegiatan bisnis
misalnya saat melaksanakan kontrak terhadap pihak ketiga maupun karyawan, jujur terhadap
konsumen, jujur salam kerja sama, dan lain sebagainya.

Prinsip Keadilan

Dalam prinsip ini berarti setiap orang yang melakukan bisnis meiliki hak untuk mendapatkan
perlakuan yang sama. Sehingga semua pihak yang terkait dalam bisnis harus memberikan
kontribusi baik secara langsung atau tidak langsung terhadap keberhasilan bisnis.
Menerapkan prinsip keadilan berarti semua pihak harus memiliki akses positif sesuai dengan
kemampuan dan peran yang telah diberikan untuk mendukung keberhasilan bisnis.

Prinsip Loyalitas

Loyalitas adalah salah satu hal penting dalam menjalankan sebuah bisnis. Loyalitas dalam
perusahaan biasanya dapat dilihat dari kerja keras dan keseriusan dalam menjalani bisnis
sesuai dengan visi dan misi. Dengan menerapkan prinsip ini, berarti tidak boleh
mencampurkan urusan pekerjaan dengan urusan pribadi.

Prinsip Integritas Moral


Setiap perusahaan harus memiliki integritas moral yang baik. Dengan begitu, perusahaan
lebih dapat dipercaya masyarakat. Menerapkan prinsip ini, berarti seluruh pelaku bisnis, baik
karyawan hingga manajemen harus selalu menjaga nama baik perusahaan.

B. Prinsip-prinsip etika profesi

-Prinsip tanggung jawab

Seorang profesional harus betanggung jawab atas profesi yang dimilikinya.

-Prinsip keadilan

Prinsip yang menuntut seseorang yang profesional agar dalam melaksanakan profesinya tidak
akan merugikan hak dan kepentingan pihak tertentu.

-Prinsip otonomi

Prinsip yang dituntut oleh kalangan profesional terhadap dunia luar agar mereka diberikan
kebebasan sepenuhnya dalam menjalankan profesinya.

-Prinsip integritas moral

Seorang yang profesional adalah orang yang mempunyai integritas pribadi atau moral yang
tinggi.

Selanjutnya, seorang yang profesional adalah seseorang yang menjalankan profesinya secara
benar dan melakukan menurut etika dan garis-garis profesionalisme yang berlaku pada
profesional tersebut. Untuk menjadi seorang profesional, seseorang yang melakukan
pekerjaan dituntut untuk memiliki beberapa sikap sebagai berikut:

C.Menuju Bisinis Sebagai Profesi Luhur

Sesungguhnya bisnis bukanlah merupakan profesi, kalau bisnis dianggap sebagai pekerjaan
kotor, kedati kata profesi, profesional dan profesionalisme sering begitu diobral dalam kaitan
dengan kegiatan bisnis. Namun dipihak lain tidak dapat disangkal bahwa ada banyak orang
bisnis dan juga perusahaan yang sangat menghayati pekerjaan dan kegiatan bisnisnya sebagai
sebuah profesi. Mereka tidak hanya mempunyai keahlian dan ketrampilan yang tinggi tapi
punya komitmen moral yang mendalam. Karena itu, bukan tidak mungkin bahwa bisnis pun
dapat menjadi sebuah profesi dalam pengertian sebenar-benarnya bahkan menjadi sebuah
profesi luhur.

a. Pandangan Praktis-Realistis
Pandangan ini bertumpu pada kenyataan yang diamati berlaku dalam dunia bisnis dewasa ini.
Pandangan ini didasarkan pada apa yang umumnya dilakukan oleh orang-orang bisnis.
Pandangan ini melihat bisnis sebagai suatu kegiatan di antara manusia yg menyangkut
memproduksi, menjual dan membeli barang dan jasa untuk memperoleh keuntungan.

Bisnis adalah suatu kegiatan Profit Making. Dasar pemikirannya adalah bahwa orang yg
terjun ke dalam bisnis tidak punya keinginan dan tujuan lain selain ingin mencari
keuntungan. Kegiatan bisnis adalah kegiatan ekonomis dan bukan kegiatan sosial. Karena itu,
keuntungan itu sah untuk menunjang kegiatan bisnis. Asumsi Adam Smith :

Dalam masyarakat modern telah terjadi pembagian kerja di mana setiap orang tidak bisa lagi
mengerjakan segala sesuatu sekaligus dan bisa memenuhi semua kebutuhan hidupnya sendiri.
Semua orang tanpa terkecuali mempunyai kecenderungan dasar untuk membuat kondisi
hidupnya menjadi lebih baik.

b. Pandangan Ideal

Disebut pandangan ideal, karena dlm kenyataannya masih merupakan suatu hal yang ideal
mengenai dunia bisnis. Sebagai pandangan yang ideal pandangan ini baru dianut oleh
segelintir orang yang dipengaruhi oleh idealisme berdasarkan nilai yang dianutnya.

Menurut Adam Smith, pertukaran dagang terjadi karena satu orang memproduksi lebih
banyak barang sementara ia sendiri membutuhkan barang lain yang tidak bisa dibuatnya
sendiri.

Menurut Matsushita (pendiri perusahan Matsushita Inc di Jepang), tujuan bisnis sebenarnya
bukanlah mencari keuntungan melainkan untuk melayani kebutuhan masyarakat. Sedangkan
keuntungan tidak lain hanyalah simbol kepercayaan masyarakat atas kegiatan bisnis suatu
perusahaan. Artinya, karena masyarakat merasa kebutuhan hidupnya dipenuhi secara baik
mereka akan menyukai produk perusahaan tersebut yang memang dibutuhkannya tapi
sekaligus juga puas dengan produk tersebut.

Dengan melihat kedua pandangan berbeda di atas, kita dapat menarik kesimpulan bahwa citra
jelek dunia bisnis sedikit banyaknya disebabkan oleh pandangan pertama yang melihat bisnis
sekadar sebagai mencari keuntungan.

Atas dasar ini, persoalan yg dihadapi di sini adalah bagaimana mengusahakan agar
keuntungan yang diperoleh ini memang wajar, halal, dan fair. Terlepas dari pandangan mana
yang dianut, keuntungan tetap menjadi hal pokok bagi bisnis. Masalahnya adalah apakah
mengejar keuntungan lalu berarti mengabaikan etika dan moralitas? Yang penting adalah
bagaimana keuntungan ini sendiri tercapai.

Salah satu upaya untuk membangun bisnis sebagai profesi yang luhur adalah dengan
membentuk, mendukung dan memperkuat organisasi profesi.Melalui organisasi profesi
tersebut bisnis bisa dikembangkan sebagai sebuah profesi dalam pengertian sebenar-benarnya
sebagaimana dibahas disini, kalau bukan menjadi profesi luhur.
D.Pandangan Ideal

Pandangan ideal ini dalam kenyataanya masih merupakan suatu hal yang ideal dalam dunia
bisnis. Harus diakui bahwa sebagian pandangan yang ideal pandangan ini baru dianut oleh
sebagian orang yang dipengaruhi oleh idealisme tertentu nilai tertentu yang dianutnya.

Menurut pandangan ini bisnis tidak lain adalah suatu kegiatan di antara manusia yang
menyangkut produksi, menjual dan membeli barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan
masyarakat. Pandangan ini tidak menolak bahwa keuntungan adalah tujuan utama bisnis.
Tapi keuntungan bisnis tidak dapat bertahan. Namun keuntungan hanya dilihat sebagai
konsekuensi logis dalam kegiatan bisnis, yaitu bahwa dengan memenuhi kebutuhan
masyarakat secara baik, keuntungan akan datang dengan sendirinya. Masyarakat akan merasa
terkait membeli barang dan jasa yang ditawarkan oleh perusahaan yang memenuhi kebutuhan
mereka dengan mutu dan harga yang baik itu.

Dasar pemikirannya adalah pertukaran timbal balik secara fair diantara pihak-pihak yang
terlibat. Maka yang mau di tegakkan dalam bisnis yang menganut pandangan ini adalah
keadilan komutatif, khususnya keadilan tukar atau pertukaran dagang yang fair.
Sesungguhnya pandangan ini pun bersumber dari ekonomi klasiknya Adam Smith. Menurut
Adam Smith, pertukaran dagang terjadi karena satu orang memproduksi lebih banyak barang
tertentu, sementara ia sendiri membutuhkan barang lain yang tidak dapat memproduksinya
sendiri. Jadi sesungguhnya kegiatan bisnis bisa terjadi karena keinginan untuk saling
memenuhi kebutuhan hidup masing-masing. Hal itu berarti kegiatan bisnis merupakan
perwujudan hakekat sosial manusia saling membutuhkan satu dengan lainnya. Dengan kata
lain keuntungan bukan merupakan tujuan dalam melakukan kegiatan bisnis. Walaupun
menurut Adam Smith pertukaran dagang didasarkan atas kepentingan pribadi masing-masing
yang secara moral baik, pertukaran dagang atau bisnis merupakan upaya saling memenuhi
kebutuhan masing-masing, yang hanya akan paling mungkin dipenuhi masing-masing orang
diperhatikan.

Pandangan ini juga telah dihayati dan dipraktekkan dalam kegiatan bisnis oleh beberapa
orang pengusaha, bahkan menjadi etos bisnis dari perusahaan yang mereka dirikan. Sebagai
contoh : Matsushita, berpendapat tujuan bisnis sebenarnya bukanlah mencari keuntungan
melainkan melayani kebutuhan masyarakat, Sedangkan keuntungan tidak lain hanyalah
simbol kepercayaan masyarakat atas kegiatan bisnis suatu perusahaan. Hal itu berarti bahwa
karena masyarakat merasa kebutuhan hidupnya dipenuhi, secara baik mereka akan menyukai
produk perusahaan tersebut yang memang dibutuhkannya, tapi sekaligus juga puas dengan
produk tersebut. Sehingga mereka akan tetap membeli produk tersebut. Dari situ akan
mengalir keuntungan. Dengan demikian yang pertama-tama menjadi fokus perhatian dalam
bisnis bukanlah mencari keuntungan, melainkan apa kebutuhan masyarakat dan bagaimana
melayani kebutuhan masyarakat itu secara baik dan dari sana akan mendapatkan keuntungan.

Pandangan Matsushita, sebenarnya dalam arti tertentu tidak sangat idealisitis, karena lahir
dari visi bisnis yang kemudian diperkuat dengan dukungan oleh pengalamannya dalam
mengelola bisnisnya. Ternyata perusahaan dan bisnisnya berhasil bertahan lama, tanpa perlu
harus menggunakan segala cara demi mencapai keuntungan. Demikian pula pandangan
seperti itu diakui dan dibuktikan kebenarannya oleh pengalaman banyak perusahanan yang
juga mengembangkan nilai-nilai budaya perusahaan tertentu atau etos bisnis bagi perusahaan
tersebut.

Dengan melihat kedua pandangan yang berbeda di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa citra
jelek dunia sedikit banyak disebabkan oleh pandangan pertama sekedar bisnis mencari
keuntungan. Tentu saja, pada dirinya sendiri, sebagaimana telah dikatakan keuntungan tidak
jelek. Hanya saja sikap yang timbul dari kesadaran bahwa bisnis hanya pada satu tujuan
untuk mencari keuntungan sangat berbeda dengan alternative lainnya. Yang terjadi adalah
munculnya sikap dan perilaku yang menjurus pada menghalalkan segala cara, termasuk cara
yang tidak dibenarkan siapapun hanya demi mendapatkan keuntungan. Akibatnya pelaku
bisnis tersebut hidup dalam suatu dunia yang bahkan ia sendiri sejauh sebagai manusia tidak
diinginkannya.

Salah satu upaya untuk membangun bisnis sebagai profesi yang luhur adalah membentuk,
mendukung dan memperkuat organisasi profesi. Melalui organisasi profesi tersebut bisnis
bisa dikembangkan sebagai sebuah profesi dalam pengertian yang sebenar-benarnya
sebagaimana dibahas, jika bukan menjadi profesi yang luhur tentu saja sangat sulit untuk
membentuk sebuah organisasi profesi yang mencakup semua bidang bisnis.

Dalam hal ini KADIN dapat diperdayakan untuk kepentingan tersebut. Yang lebih efektif
adalah membentuk organisasi profesi untuks setiap kelompok atau bidang bisnis : tekstil,
konstruksi, bisnis retail tambang dan sebagainya. Organisasi-organisasi ini tidak hanya
menangani kegiatan bisnis teknis dari kelompoknya melainkan juga menjadi semacam polisi
moral yang akan memberikan rekomendasi kepada pemerintah dalam mengeluarkan izin
usaha bagi para anggotanya dan tanpa rekomendasi itu izin tersebut tidak akan diperoleh.
Paling tidak organisasi ini memberikan peringkat / ranking label kualitas yang menentukan
sehat tidaknya, etis tidaknya, perusahaan-perusahaan yang menjadi anggotanya. Peringkat ini
sangat diandalkan masyarakat dan semua pelaku bisnis lainnya sehingga membuat para
anggota merasa membutuhkannya dengan menjadi anggota yang setia dari organisasi profesi
tersebut.

Jika cara ini dijalankan, dengan kontrol yang ketat dari organisasi profesi, akan bisa terwujud
iklim bisnis yang baik. Tentu saja hal ini pun mengandalkan bahwa organisasi profesi itu
sendiri bersih dan baik; tidak ada nepotisme, tidak ada kolusi tidak ada diskriminasi dalam
pemberian rekomendasi peringkat atau label kualitas. Demikian pula ini pun mengandalkan
pemerintah, melalui departemen terkait, memang bersih dari praktek-praktek yang dapat
merusak citra bisnis yang baik dan etis.

E.Seberapa Beretikakah?

Pada Etika Khusus dibagi menjadi 3 (tiga) macam, yaitu :

Etika Individual ; yaitu menyangkut kewajiban dan sikap manusia terhadap diri sendiri. Salah
satu prinsip yang secara khusus relevan dalam etika individual adalah prinsip integritas
pribadi, yang berbicara mengenai perilaku individual tertentu dalam rangka menjaga dan
mempertahankan nama baiknya sebagai pribadi moral.

Etika Sosial ; yaitu suatu etika yang berbicara mengenai kewajiban dan hak, pola dan
perilaku manusia sebagai makhluk sosial ber-intraksi dengan sesamanya. Hal ini tentu saja
sebagaimana hakikat manusia yang bersifat ganda, yaitu sebagai makhluk individual dan
sosial, etika individual dan etika sosial berkaitan erat. Bahkan dalam arti tertentu sulit untuk
dilepaskan dan dipisahkan satu dengan lainnya. Karena kewajiban seseorang terhadap dirinya
berkaitan langsung dengan banyak hal yang mempengaruhi pula kewajibannya terhadap
orang lain, dan demikian pula sebaliknya.

Etika Lingkungan Hidup ; yaitu sebuah etika yang saat ini sering dibicarakan sebagai cabang
dari etika khusus. Etika ini adalah hubungan antara manusia dengan lingkungan alam yang
ada di sekitarnya. Sehingga etika lingkungan ini dapat merupakan cabang dari etika sosial
(sejauh menyangkut hubungan antara manusia dengan manusia, yang bersangkutan dengan
dampak lingkungan) maupun berdiri sendiri dengan sebagai etika khusus (sejauh menyangkut
hubungan manusia dengan lingkungannya). Lingkungan hidup dapat dibicarakan juga dalam
kerangka bisnis, karena pola interaksi bisnis sangat mempengaruhi lingkungan hidup

F.Etika Profesi

Pengertian Profesi dapat dirumuskan sebagai pekerjaan yang dilakukan sebagai nafkah hidup
dengan mengandalkan keahlian dan ketrampilan yang tinggi dan dengan melibatkan
komitmen pribadi (moral) yang mendalam. Dengan demikian profesional adalah orang yang
melakukan suatu pekerjaan purna waktu dan hidup dari pekerjaan itu dengan mengandalkan
keahlian dan ketrampilan yang tinggi serta mempunyai komitmen pribadi yang mendalam
atas pekerjaan itu.

Adapun Ciri-ciri dari Profesi yang secara umum ada 6 (enam), yaitu :

Memiliki Keahlian dan Ketrampilan Khusus

Adanya komitmen moral yang tinggi.

Seorang Profesional adalah orang yang hidup dari profesinya.

Mempunyai tujuan mengabdi untuk masyarakat.

Memiliki sertifikasi maupun izin atas profesi yang dimilikinya.

Kandungan Gizi Dalam Gorengan

Gizi adalah sesuatu hal yang sangat penting dalam kehidupan. Setiap orangtentu
menginginkan gizi yang seimbang untuk dapat melakukan aktivitasnya dengan lancar dan
untuk itu mereka rela mengeluarkan uang yang cukup banyak hanya untuk kesehatan. Karena
seperti pepatah bilang kesehatan tak ternilai harganya. Oleh karenaitu tidaklah mengherankan
jika gizi diidentikan dengan kesehatan. Gizi adalah zat makanan pokok yang dipelukan untuk
pertumbuhan dan kesehatan tubuh manusia.Sumber gizi yang utama berasal dari makanan
yang kita makan. Namun salah-salah kita justru bisa mendapatkan penyakit dari makanan
yang tidak sehat.

Jadi kita harus selektif dalam memilih makanan karena terkadang makanan enak belum tentu
sehat dan baik untuk tubuh kita. Bagi beberapa orang yang begitu menjaga kesehatan,
mungkin akan langsung menghindar begitu mendengar kata “gorengan”. Gorengan sering
dipandang sebelahmata dan di anggap tak ada gunanya. Begitu mendengar kata “gorengan”,
secara spontan orang akan mengatakan makanan sampah yang membawa penyakit. Hal
tersebut tidak 100% benar. Bagi para pencintanya, gorengan sudah di anggap sebagai hobi
yang tidak dapat mereka tinggalkan. Mereka melakukan kebiasaan tersebut tanpa perlu takut
atau khawatir akan dampak negatf yang ditimbulkan oleh gorengan. Gorengan memang telah
menjadi makanan yang mendominasi. Selain harganya murah, rasanya pun enak dan mudah
untuk ditemukan.

Disadari atau pun tidak, gorengan ternyata selain mempunyai dampak negatif juga
mempunyai dampak positif. Gorengan memiliki kandungan gizi yang dapat dikatakan cukup
tinggi. Kandungan gizi tersebut berasal dari bahan-bahan pembuatannya. Hal ini menambah
daya tarik untuk menyantap gorengan.

Setiap jenis gorengan mempunyai kandungan gizi yang berbeda-beda tergantung bahan dasar
pembuatannya. Beberapa bahan dasar pembuatan gorengan antara lain :

1.Tempe dan tahu

Seperti kita tahu tempe dan tahu yang terbuat dari kacang kedelaimemiliki kandungan protein
nabati yang cukup tinggi. Protein tersebutsangat dibutuhkan oleh tubuh kita dalam proses
pertumbuhan terutamadalam perkembangan otak.“ Tempe berpotensi untuk digunakan
melawan radikal bebas,sehingga dapat melambatkan proses penuaan dan mencegah
terjadinya penyakit degeneratif (aterosklerosis, jantung koroner, diabetes, kanker,dan lain-
lain). Selain itu tempe juga mengandung zat antibakteria penyebab diarrhoea, penurun
kolesterol darah dan lain sebagainya

Beberapa Faktor Yang Membuat Gorengan Di Pinggir Jalan Menjadi Berbahaya

1. Kualitas Bahan

Kita tidak tahu bagaimana proses persiapan hingga pengolahannya. Misalnya, apakah bahan-
bahan mentahnya berkualitas, apakah sayur yang dibuat untuk bala-bala/bakwan bukan sayur
sortiran yang sebagian sudah rusak? Apakah tepung terigu yang digunakan diayak dulu atau
tidak? Sebab, kalau tidak diayak, biasanya ada ulat atau kutunya. Lalu, sayur atau
singkongnya dicuci dulu apa tidak sebelum dimasak? Apalagi kalau disiapkan semuanya di
gerobaknya, dengan persediaan air bersih terbatas, tentu dicuci secara asal-asalan atau tidak
mencuci sama sekali.

2. Minyak Goreng

Minyak dan lemak merupakan sumber energy bagi manusia (9 kal/g), wahana bagi vitamin
larut lemak seperti vitamin A, D, E dan K, meningkatkan citarasa dan kelezatan makanan dan
memperlambat rasa lapar (Winamo, 2002). Selama proses penggorengan minyak goreng
mengalami berbagai reaksi kimia diantaranya reaksi hidrolidis, oksidasi, isomerisasi dan
polirnerisasi. Reaksi kimia yang terjadi pada asam lemak contohnya pemanasan minyak pada
suhu di atas 200“C dapat menyebabkan terbentuknya polimer, molekul tak jenuh membentuk
ikatan cincin (Kataren, 1986, Haliwell B, and Gutteridge JMC. 1999).

Alat penggoreng yang terbuatdari besi dapat merangsang oksidasi lemak. Pada pedagang
gorengan terutama pedagang kaki lima minyak yang digunakan tidak mengalami pergantian
dengan minyak yang baru, biasanya mereka hanya melakukan penambahan beberapa liter
saja ke dalam minyak goreng lama. Proses ini menyebabkan penurunan kualitas minyak,
ditandai dengan warna minyak yang gelap, indek bias, bilangan asam, bilangan ied, senyawa
polimer dan radikal bebas terjadi peningkatan (Djatmiko,Enni. 2000).

Banyak data ilmiah yang menyatakan bahwa penyakit degenerative seperti penyakit jantung,
diabetes, tumor dan kanker akibat sumbangan dari radikal bebas yang bersumber terutama
dari makanan dan minuman (Nabet BF. 2002, Haliwell B, and Gutteridge JMC.1999). Kerja
radikal bebas pada molekul tubuh berlangsung lama dengan kata lain terakumulasi dalam
tubuh dan baru menimbulkan gejala penyakit setelah tahunan (Hishino H. et.al, 2000).
Minyak goreng sering digunakan sebagai medium untuk pengolahan makanan karena
menimbulkan rasa gurih pada makanan, hal ini meningkatkan peminat masakan seperti
peminat gorengan.

3. Kebersihan

Biasanya gorengan dijual di pinggir jalan yang ramai, atau tempat-tempat keramaian lainnya.
Biasanya juga makanannya tidak ditempatkan dalam wadah tertutup. Sehingga debu dan asap
kendaraan atau kotoran lainnya menempel di makanan berminyak tersebut dan dapat ikut
masuk ke dalam tubuh. Ini tentu sangat berbahaya untuk kesehatan.

4. Pembungkus (kantong)

Kalau kita membeli gorengan, wadahnya hanya ada dua pilihan: kantong kertas dan kantong
plastik. Kantong kertas yang biasa dipakai biasanya adalah kertas bekas fotokopian atau
barang cetakan lainnya. Seperti kita tahu, tinta fotokopi atau tinta cetak mengandung logam
berat yang berbahaya. Jika bertemu minyak, bisa ikut masuk ke dalam tubuh kita. Sedangkan
kalau pakai kantong kresek, pada umumnya adalah kantong kresek hitam atau berwarna
lainnya yang terbuat dari plastik daur ulang. Ini sama bahayanya dengan kertas bekas. Selain
itu trik berbahaya tukang gorengan yang umum diketahui yaitu melarutkan plastik ke dalam
minyak panas. Tujuannya supaya makanan yang dibuatnya awet renyah. Jadi, gorengan yang
kita beli dapat terus renyah selama berjam-jam. Hal ini tentu sangat berbahaya bagi kesehatan
kita.

6. Akrilamida

Penggorengan dapat merangsang pembentukan senyawa karsinogenik (pemicu kanker)


bernama akrilamida. Akrilamida termasuk salah satu senyawa kimia berbahaya yang kini
diduga memiliki potensi kuat sebagai mesin pemicu kanker. Penelitian terhadap tikus
percobaan menunjukkan bahwa senyawa yang satu ini menimbulkan tumor, merusak DNA
alias materi genetika, merusak saraf, mengganggu tingkat kesuburan, dan mengakibatkan
keguguran.
Secara umum sifat akrilamida (2-propenamide) adalah tidak berwarna dan tidak berbau
dengan berat molekul 71. Senyawa ini berupa kristal putih, meleleh pada suhu 84,5 derajat
Celcius, dan mendidih pada suhu 125 derajat. Senyawa yang larut dalam air, aseton dan
etanolini, pada proses pembakaran menghasilkan zat-zat yang berbahaya bagi kesehatan,
seperti amonia, karbonomoksida, dan nitrogen oksida (Friedman, 2003).

Kini yang menjadi pertanyaan, berapa dosis minimum akrilamida yang bisa ditoleransi tubuh
manusia? Hingga sekarang belum ada jawaban yang memuaskan untuk itu. Namun,
masyarakat Uni Eropa dan organisasi kesehatan PBB (WHO) menetapkan standar maksimum
akrilamida pada air minum 0,5 mikrogram per liter. Pada kadar itu, saluran pencernaan
mampu menyerap dan mengeluarkannya dari tubuh melalui urin dalam beberapa jam
kemudian. Dosis tinggi akrilamida pernah dilakukan uji toksisitas. Hasil yang diperoleh
adalah dosis antara 800-2.700 mikrogram per hari bagi orang dewasa merupakan yang
terendah, tapi di sisi lain sudah mampu meningkatkan mutasi gen pada tikus percobaan.

D. Efek Gorengan “Berbahaya” Bagi Kesehatan

Gorengan memang dapat menunda rasa lapar. Selain itu, gorengan juga dapatmenjadi asupan
berbagai macam gizi yang baik bagi kesehatan, seperti protein dankarbohidrat yang didapat
dari tempe goreng, tahu goreng, dan berbagai jenis gorengan lainnya. Tetapi, kita tidak
mengetahui sebenarnya, gorengan mengandungzat yang bisa menyebabkan penyakit yang
serius terhadap tubuh kita ini. Seperti halnya asam lemak yang dikandung gorengan.Asam
lemak yang berbahaya adalah jenis asam lemak trans. Asam lemak ini dapat membahayakan
kesehatan, apalagi dikonsumsi dalam jumlah yang besar. Menurut beberapa penilitian,
menyatakan bahwa asam lemak trans mengurangi jumlah kolestrol baik (HDL) dan
menaikkan kadar kolestrol jahat (LDL).

Asupan lemak trans yang tinggi di atas enam persen dari energi totalsecara terus menerus bisa
berakibat buruk pada banyak hal. Pengaruh negatif asam lemak trans lebih besar dari asam
lemak jenuh dan kolesterol. Konsumsi asam lemak trans akan menaikkan kadar kolesterol
jahatdan bisa menurunkan kadar kolesterol baik. Asam lemak trans mempunyai efek negative
dua kali lipat dibandingkan dengan asam lemak jenuh (www.keluargasehat.com,2008).

Berdasarkan kutipan tersebut, dapat dilihat bahwa asam lemak trans memangsangat tidak
baik bagi kesehatan kita. Lemak yang menjadi penyebab utama penyakit jantung memang
harus diperhatikan secara khusus. Asam lemak trans membawa pengaruh negatif yang lebih
besar dari asam lemak jenuh dan kolestrol. Penurunan jumlah kolestrol yang baik juga
membawa dampak yang buruk bagi kesehatan.

Asam lemak trans juga bisa menyebabkan bayi lahir prematur.Pasalnya, konsumsi asam
lemak trans pada ibu hamil dapat menggangguasupan asam lemak esensial yang sangat
dibutuhkan oleh calon bayi. Sebuahstudi menunjukkan, wanita di negara yang mengonsumsi
asam lemak transtinggi akan menghasilkan ASI dengan kadar asam lemak trans sebesar 2 %
hingga 5 % dari total asam lemak susu (www.keluargasehat.com, 2008).
Kutipan tersebut juga menunjukkan penyakit lain yang ditimbulkan oleh asamlemak trans,
yaitu bayi lahir prematur. Asam lemak trans mengganggu masuknyaasam lemak yang
bermanfaat bagi pertumbuhan bayi. Akibatnya, kekurangan gizidalam kandungan
menyebabkan bayi lahir prematur. Dampak lemak trans juga tidak hanya dirasakan oleh bayi
itu saja, tetapi juga oleh ibunya. ASI yang diberikan pada bayinya mengandung kadar asam
lemak trans antara 2-5%. Kadar asam lemak transyang cukup tinggi ini bisa berpengaruh
terhadap pertumbuhan bayi tersebut. Akibatnya, banyak bayi yang lahir dalam keadaan tidak
normal, karena kekurangan jumlah kolestrol baik (HDL).
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil pembahasan sebelumnya maka dapat disimpulkan bahwa gorengan tidak
hanya menyebabkan berbagai penyakit namun juga memiliki kandungan gizi yang sangat
dibutuhkan oleh manusia. Hal ini dapat terlihat dari bahan dasar pembuatan gorengan yang
sudah tidak asing lagi dalam kehidupan kita seperti tempe, singkong, pisang, dan sayur-
sayuran. Gorengan yang telah merakyat ternyata juga mempunyai efek yang buruk bagi
kesehatan akibat beberapa faktor (kebersihan, kualias bahan, minyak goring, pencemaran
udara, dan lain-lain) seperti adanya asam lemak trans dalam gorengan. Berbagai penyakit
ditimbulkan dari konsumsi asam lemak trans yang terlalu banyak.

B. Saran

Kepada pedagang gorengan hendaknya lebih menjaga dan memperhatikan dagangannya


mengingat peranan gorengan yang cukup penting dalam masyarakat. Kepada konsumen
gorengan sebaiknya hasrat untuk mengkonsumsi gorengan dikurangi, demi kebugaran dan
kesehatan jasmani.