Anda di halaman 1dari 50

MAKALAH

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA PADA TAHAP LANSIA DENGAN


KASUS HIPERTENSI

Oleh :

Yuni Kartina

Nim : 106STYC16

YAYASAN RUMAH SAKIT ISLAM NUSA TENGGARA BARAT


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN YARSI MATARAM
PROGRAM STUDI JENJANG S1 KEPERAWATAN
T.A 2018/2019

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang.

Hipertensi menjadi momok bagi sebagian besar penduduk dunia termasuk


Indonesia. Hal ini karena secara statistik jumlah penderita yang terus meningkat dari
waktu ke waktu. Berbagai faktor yang berperan dalam hal ini salah satunya adalah
gaya hidup modern. Pemilihan makanan yang berlemak, kebiasaan aktifitas yang
tidak sehat, merokok, minum kopi serta gaya hidup sedetarian adalah beberapa hal
yang disinyalir sebagai faktor yang berperan terhadap hipertensi ini. Penyakit ini
dapat menjadi akibat dari gaya hidup modern serta dapat juga sebagai penyebab
berbagai penyakit non infeksi. Hal ini berarti juga menjadi indikator bergesernya dari
penyakit infeksi menuju penyakit non infeksi, yang terlihat dari urutan penyebab
kematian di Indoensia. Untuk lebih mengenal serta mengetahui penyakit ini, maka
kami akan membahas tentang hipertensi. Hipertensi didefinisikan sebagai
peningkatan darah sistolik lebih besar atau sama dengan 140 mmHg atau
peningkatan tekanan darah diastolik lebih besar atau sama dengan 90
mmHg(Anindya,2009).
Hipertensi menyebabkan meningkatnya resiko terhadap stroke, aneurisma,
gagal jantung, serangan jantung dan kerusakan ginjal. Tanpa melihat usia atau jenis
kelamin, semua orang bisa terkena hipertensi dan biasanya tanpa ada gejala-gejala
sebelumnya. Hipertensi juga dapat mengakibatkan kerusakan berbagai organ target
seperti otak, jantung,ginjal,aorta,pembulu darah perifer dan retina.

Oleh karena itu, negara Indonesia yang sedang membangun di segala bidang
perlu memperhatikan pendidikan kesehatan masyarakat untuk mencegah timbulnya
penyakit seperti hipertensi, kardiovaskuler, penyakit degeneratif dan lain-lain,
sehingga potensi bangsa dapat lebih dimanfaatkan untuk proses pembangunan.
Golongan umur 45 tahun ke atas memerlukan tindakan atau program pencegahan
yang terarah. Hipertensi perlu dideteksi dini yaitu dengan pemeriksaan tekanan
darah secara berkala, yang dapat dilakukan pada waktu check-up kesehatan atau
saat periksa ke dokter.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apakah definisi hipertensi ?

2. Apakah etiologi/ faktor pencetus hipertensi ?

3. Apakah manifestasi klinis hipertensi ?

4. Apakah pemeriksaan penunjang pada hipertensi ?

5. Apakah penatalaksanaan klien dengan hipertensi ?

6. Apa sajakah komplikasi dari hipertensi?

7. Apakah asuhan keperawatan pasien dengan hipertensi ?

1.3 Tujuan

1.3.1 Tujuan Umum

Menjelaskan pengertian dan asuhan keperawatan pada klien dengan


gangguan hipertensi.

1.3.2 Tujuan Khusus

1. Mengetahui dan memahami definisi hipertensi.


2. Mengetahui dan memahami etiologi/ faktor pencetus hipertensi.
3. Menyebutkan dan memahami manifestasi klinis hipertensi.
4. Mengetahui dan memahami pemeriksaan penunjang pada hipertensi.
5. Mengetahui dan memahami penatalaksanaan klien dengan hipertensi.
6. Mengetahui dan memahami komplikasi dari hipertensi
7. Menjelaskan asuhan keperawatan pasien dengan hipertensi.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. KONSEP KELUARGA

2.1 Pengertian Keluarga

Keluarga adalah sekumpulan orang dengan ikatan perkawinan, kelahiran, dan


adopsi yang bertujuan untuk menciptakan, mempertahankan budaya, dan
meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional, serta sosial dari tiap
anggota keluarga ,Duvall dan Logan ( 1986 ).

Keluarga adalah dua atau lebih individu yang hidup dalam satu rumah tangga
karena adanya hubungan darah, perkawinan, atau adopsi. Mereka saling
berinteraksi satu dengan yang lain, mempunyai peran masing-masing dan
menciptakan serta mempertahankan suatu budaya. Bailon dan Maglaya ( 1978 ).

Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari kepala
keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu tempat di
bawah satu atap dalam keadaan saling ketergantungan. Departemen Kesehatan
RI ( 1988 ).

Dapat disimpulkan bahwa karakteristik keluarga adalah :

1. Terdiri dari dua atau lebih individu yang diikat oleh hubungan darah,
perkawinan atau adopsi

2. Anggota keluarga biasanya hidup bersama atau jika terpisah mereka tetap
memperhatikan satu sama lain.

3. Anggota keluarga berinteraksi satu sama lain dan masing-masing mempunyai


peran sosial : suami, istri, anak, kakak dan adik.
4. Mempunyai tujuan : menciptakan dan mempertahankan budaya,
meningkatkan perkembangan fisik, psikologis, dan sosial anggota.

2.2 Struktur Keluarga

1. Patrilineal : keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah dalam
beberapa generasi, dimana hubungan itu disusun melalui jalur ayah

2. Matrilineal : keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah dalam
beberapa generasi dimana hubungan itu disusun melalui jalur garis ibu

3. Matrilokal : sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah ibu

4. Patrilokal : sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah


suami

5. Keluarga kawinan : hubungan suami istri sebagai dasar bagi pembinaan


keluarga, dan beberapa sanak saudara yang menjadi bagian keluarga
karena adanya hubungan dengan suami atau istri.

2.3 Ciri-Ciri Struktur Keluarga

1. Terorganisasi : saling berhubungan, saling ketergantungan antara anggota


keluarga

2. Ada keterbatasan : setiap anggota memiliki kebebasan, tetapi mereka juga


mempunyai keterbatasan dalam mejalankan fungsi dan tugasnya masing-
masing

3. Ada perbedaan dan kekhususan : setiap anggota keluarga mempunyai


peranan dan fungsinya masing-masing.

2.4 Macam-Macam Struktur / Tipe / Bentuk Keluarga

1. Tradisional :
a. The nuclear family (keluarga inti) Keluarga yang terdiri dari suami, istri dan
anak.

b. The dyad family Keluarga yang terdiri dari suami dan istri (tanpa anak)
yang hidup bersama dalam satu rumah

c. Keluarga usila Keluarga yang terdiri dari suami istri yang sudah tua dengan
anak sudah memisahkan diri

d. The childless family Keluarga tanpa anak karena terlambat menikah dan
untuk mendapatkan anak terlambat waktunya, yang disebabkan karena
mengejar karir/pendidikan yang terjadi pada wanita

e. The extended family (keluarga luas/besar) Keluarga yang terdiri dari tiga
generasi yang hidup bersama dalam satu rumah seperti nuclear family
disertai : paman, tante, orang tua (kakak-nenek), keponakan, dll)

f. The single-parent family (keluarga duda/janda) Keluarga yang terdiri dari


satu orang tua (ayah dan ibu) dengan anak, hal ini terjadi biasanya melalui
proses perceraian, kematian dan ditinggalkan (menyalahi hukum
pernikahan)

g. Commuter family Kedua orang tua bekerja di kota yang berbeda, tetapi
salah satu kota tersebut sebagai tempat tinggal dan orang tua yang
bekerja diluar kota bisa berkumpul pada anggota keluarga pada saat akhir
pekan (week-end)

h. Multigenerational family Keluarga dengan beberapa generasi atau


kelompok umur yang tinggal bersama dalam satu rumah

i. Kin-network family Beberapa keluarga inti yang tinggal dalam satu rumah
atau saling berdekatan dan saling menggunakan barang-barang dan
pelayanan yang sama. Misalnya : dapur, kamar mandi, televisi, telpon, dll)
j. Blended family Keluarga yang dibentuk oleh duda atau janda yang menikah
kembali dan membesarkan anak dari perkawinan sebelumnya

k. The single adult living alone / single-adult family Keluarga yang terdiri dari
orang dewasa yang hidup sendiri karena pilihannya atau perpisahan
(separasi), seperti : perceraian atau ditinggal mati

2. Non-Tradisional

a. The unmarried teenage mother Keluarga yang terdiri dari orang tua
(terutama ibu) dengan anak dari hubungan tanpa nikah

b. The stepparent family Keluarga dengan orangtua tiri

c. Commune family Beberapa pasangan keluarga (dengan anaknya) yang


tidak ada hubungan saudara, yang hidup bersama dalam satu rumah,
sumber dan fasilitas yang sama, pengalaman yang sama, sosialisasi anak
dengan melalui aktivitas kelompok / membesarkan anak bersama

d. The nonmarital heterosexual cohabiting family Keluarga yang hidup


bersama berganti-ganti pasangan tanpa melalui pernikahan

e. Gay and lesbian families Seseorang yang mempunyai persamaan sex


hidup bersama sebagaimana pasangan suami-istri (marital partners)

f. Cohabitating couple Orang dewasa yang hidup bersama diluar ikatan


perkawinan karena beberapa alasan tertentu

g. Group-marriage family Beberapa orang dewasa yang menggunakan alat-


alat rumah tangga bersama, yang merasa telah saling menikah satu
dengan yang lainnya, berbagi sesuatu, termasuk sexual dan membesarkan
anaknya

h. Group network family Keluarga inti yang dibatasi oleh set aturan/nilai-nilai,
hidup berdekatan satu sama lain dan saling menggunakan barang-barang
rumah tangga bersama, pelayanan dan bertanggung jawab membesarkan
anaknya
i. Foster family Keluarga menerima anak yang tidak ada hubungan
keluarga/saudara dalam waktu sementara, pada saat orangtua anak
tersebut perlu mendapatkan bantuan untuk menyatukan kembali keluarga
yang aslinya

j. Homeless family Keluarga yang terbentuk dan tidak mempunyai


perlindungan yang permanen karena krisis personal yang dihubungkan
dengan keadaan ekonomi dan atau problem kesehatan mental

k. Gang Sebuah bentuk keluarga yang destruktif, dari orang-orang muda yang
mencari ikatan emosional dan keluarga yang mempunyai perhatian, tetapi
berkembang dalam kekerasan dan kriminal dalam kehidupannya.

2.5 Tahap-Tahap Kehidupan / Perkembangan Keluarga

Meskipun setiap keluarga melalui tahapan perkembangannya secara


unik, namun secara umum seluruh keluarga mengikuti pola yang sama
(Rodgers cit Friedman, 199:

1. Pasangan baru (keluarga baru)

Keluarga baru dimulai saat masing-masing individu laki-laki dan perempuan


membentuk keluarga melalui perkawinan yang sah dan meninggalkan
(psikologis) keluarga masing-masing :

a. Membina hubungan intim yang memuaskan

b. Membina hubungan dengan keluarga lain, teman, kelompok sosial

c. Mendiskusikan rencana memiliki anak

2. Keluarga child-bearing (kelahiran anak pertama)

Keluarga yang menantikan kelahiran, dimulai dari kehamilan samapi kelahiran


anak pertama dan berlanjut damapi anak pertama berusia 30 bulan :

a. Persiapan menjadi orang tua


b. Adaptasi dengan perubahan anggota keluarga, peran, interaksi, hubungan
sexual dan kegiatan keluarga

c. Mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan pasangan

3. Keluarga dengan anak pra-sekolah

Tahap ini dimulai saat kelahiran anak pertama (2,5 bulan) dan berakhir saat anak
berusia 5 tahun :

a. Memenuhi kebutuhan anggota keluarga, seperti kebutuhan tempat tinggal,


privasi dan rasa aman

b. Membantu anak untuk bersosialisasi

c. Beradaptasi dengan anak yang baru lahir, sementara kebutuhan anak yang lain
juga harus terpenuhi

d. Mempertahankan hubungan yang sehat, baik di dalam maupun di luar keluarga


(keluarga lain dan lingkungan sekitar)

e. Pembagian waktu untuk individu, pasangan dan anak (tahap yang paling repot)

f. Pembagian tanggung jawab anggota keluarga

g. Kegiatan dan waktu untuk stimulasi tumbuh dan kembang anak

4. Keluarga dengan anak sekolah

Tahap ini dimulai saat anak masuk sekolah pada usia enam tahun dan berakhir
pada usia 12 tahun. Umumnya keluarga sudah mencapai jumlah anggota
keluarga maksimal, sehingga keluarga sangat sibuk :

a. Membantu sosialisasi anak : tetangga, sekolah dan lingkungan

b. Mempertahankan keintiman pasangan


c. Memenuhi kebutuhan dan biaya kehidupan yang semakin meningkat, termasuk
kebutuhan untuk meningkatkan kesehatan anggota keluarga

5. Keluarga dengan anak remaja

Dimulai pada saat anak pertama berusia 13 tahun dan biasanya berakhir sampai
6-7 tahun kemudian, yaitu pada saat anak meninggalkan rumah orangtuanya.
Tujuan keluarga ini adalah melepas anak remaja dan memberi tanggung jawab
serta kebebasan yang lebih besar untuk mempersiapkan diri menjadi lebih
dewasa :

a. Memberikan kebebasan yang seimbang dengan tanggung jawab, mengingat


remaja sudah bertambah dewasa dan meningkat otonominya

b. Mempertahankan hubungan yang intim dalam keluarga

c. Mempertahankan komunikasi terbuka antara anak dan orangtua. Hindari


perdebatan, kecurigaan dan permusuhan

d. Perubahan sistem peran dan peraturan untuk tumbuh kembang keluarga

6. Keluarga dengan anak dewasa (pelepasan)

Tahap ini dimulai pada saat anak pertama meninggalkan rumah dan berakhir
pada saat anak terakhir meninggalkan rumah. Lamanya tahap ini tergantung dari
jumlah anak dalam keluarga, atau jika ada anak yang belum berkeluarga dan
tetap tinggal bersama orang tua :

a. Memperluas keluarga inti menjadi keluarga besar

b. Mempertahankan keintiman pasangan

c. Membantu orangtua suami/istri yang sedang sakit dan memasuki masa tua

d. Membantu anak untuk mandiri di masyarakat

e. Penataan kembali peran dan kegiatan rumah tangga


7. Keluarga usia pertengahan

Tahap ini dimulai pada saat anak yang terakhir meninggalkan rumah dan berakhir
saat pensiun atau salah satu pasangan meninggal :

a. Mempertahankan kesehatan

b. Mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan teman sebaya dan


anak-anak

c. Meningkatkan keakraban pasangan

8. Keluarga usia lanjut

Tahap terakhir perkembangan keluarga ini dimulai pada saat salah satu pasangan
pensiun, berlanjut saat salah satu pasangan meninggal damapi keduanya
meninggal :

a. Mempertahankan suasana rumah yang menyenangkan

b. Adaptasi dengan peruabahan kehilangan pasangan, teman, kekuatan fisik dan


pendapatan

c. Mempertahankan keakraban suami istri dan saling merawat

d. Mempertahankan hubungan dengan anak dan sosial masyarakat

e. Melakukan life review (merenungkan hidupnya).

B. KONSEP DASAR HIPERTENSI

2.1 Definisi Hipertensi

Hipertensi atau Darah Tinggi adalah keadaan dimana seseorang mengalami


peningkatan tekanan darah diatas normal atau kronis (dalam waktu yang lama).
Hipertensi merupakan kelainan yang sulit diketahui oleh tubuh kita sendiri. Satu-
satunya cara untuk mengetahui hipertensi adalah dengan mengukur tekanan
darah kita secara teratur.
Tekanan darah tinggi atau hipertensi adalah kondisi medis di mana terjadi
peningkatan tekanan darah secara kronis (dalam jangka waktu lama). Penderita
yang mempunyai sekurang-kurangnya tiga bacaan tekanan darah yang melebihi
140/90 mmHg saat istirahat diperkirakan mempunyai keadaan darah tinggi.

Pada pemeriksaan tekanan darah akan didapat dua angka. Angka yang
lebih tinggi diperoleh pada saat jantung berkontraksi (sistolik), angka yang lebih
rendah diperoleh pada saat jantung berelaksasi (diastolik). Tekanan darah
kurang dari 120/80 mmHg didefinisikan sebagai "normal". Pada tekanan darah
tinggi, biasanya terjadi kenaikan tekanan sistolik dan diastolik. Hipertensi
biasanya terjadi pada tekanan darah 140/90 mmHg atau ke atas, diukur di
kedua lengan tiga kali dalam jangka beberapa minggu.

2.2 Etiologi Hipertensi

Berdasarkan penyebabnya, Hipertensi dapat digolongkan menjadi 2 yaitu :

1. Hipertensi esensial atau primer

Penyebab pasti dari hipertensi esensial sampai saat ini masih belum dapat
diketahui. Namun, berbagai faktor diduga turut berperan sebagai penyebab
hipertensi primer, seperti bertambahnya umur, stres psikologis, dan
hereditas (keturunan). Kurang lebih 90% penderita hipertensi tergolong
Hipertensi primer sedangkan 10% nya tergolong hipertensi sekunder.

2. Hipertensi sekunder

Hipertensi sekunder adalah hipertensi yang penyebabnya dapat diketahui,


antara lain kelainan pembuluh darah ginjal, gangguan kelenjar tiroid
(hipertiroid), penyakit kelenjar adrenal (hiperaldosteronisme), dan lain lain.
Karena golongan terbesar dari penderita hipertensi adalah hipertensia
esensial, maka penyelidikan dan pengobatan lebih banyak ditujukan ke
penderita hipertensi esensial.

Berdasarkan faktor akibat Hipertensi terjadi peningkatan tekanan darah di


dalam arteri bisa terjadi melalui beberapa cara:
1. Jantung memompa lebih kuat sehingga mengalirkan lebih banyak cairan
pada setiap detiknya
2. Terjadi penebalan dan kekakuan pada dinding arteri akibat usia lanjut. Arteri
besar kehilangan kelenturannya dan menjadi kaku, sehingga mereka tidak
dapat mengembang pada saat jantung memompa darah melalui arteri
tersebut. Karena itu darah pada setiap denyut jantung dipaksa untuk melalui
pembuluh yang sempit daripada biasanya dan menyebabkan naiknya
tekanan.
3. Bertambahnya cairan dalam sirkulasi bisa menyebabkan meningkatnya
tekanan darah. Hal ini terjadi jika terdapat kelainan fungsi ginjal sehingga
tidak mampu membuang sejumlah garam dan air dari dalam tubuh. Volume
darah dalam tubuh meningkat, sehingga tekanan darah juga meningkat.

Oleh sebab itu, jika aktivitas memompa jantung berkurang, arteri mengalami
pelebaran, dan banyak cairan keluar dari sirkulasi. Maka tekanan darah akan
menurun atau menjadi lebih kecil.

Berdasarkan faktor pemicu, Hipertensi dibedakan atas yang tidak


dapat dikontrol seperti umur, jenis kelamin, dan keturunan. Pada 70-80%
kasus Hipertensi primer, didapatkan riwayat hipertensi di dalam keluarga.
Apabila riwayat hipertensi didapatkan pada kedua orang tua, maka dugaan
Hipertensi primer lebih besar. Hipertensi juga banyak dijumpai pada
penderita kembar monozigot (satu telur), apabila salah satunya menderita
Hipertensi. Dugaan ini menyokong bahwa faktor genetik mempunyai peran
didalam terjadinya Hipertensi.

Sedangkan yang dapat dikontrol seperti kegemukan/obesitas, stress,


kurang olahraga, merokok, serta konsumsi alkohol dan garam. Faktor
lingkungan ini juga berpengaruh terhadap timbulnya hipertensi esensial.
Hubungan antara stress dengan Hipertensi, diduga melalui aktivasi saraf
simpatis. Saraf simpatis adalah saraf yang bekerja pada saat kita
beraktivitas, saraf parasimpatis adalah saraf yang bekerja pada saat kita
tidak beraktivitas.
Peningkatan aktivitas saraf simpatis dapat meningkatkan tekanan
darah secara intermitten (tidak menentu). Apabila stress berkepanjangan,
dapat mengakibatkan tekanan darah menetap tinggi. Walaupun hal ini belum
terbukti, akan tetapi angka kejadian di masyarakat perkotaan lebih tinggi
dibandingkan dengan di pedesaan. Hal ini dapat dihubungkan dengan
pengaruh stress yang dialami kelompok masyarakat yang tinggal di kota.

Berdasarkan penyelidikan, kegemukan merupakan ciri khas dari


populasi Hipertensi dan dibuktikan bahwa faktor ini mempunyai kaitan yang
erat dengan terjadinya Hipertensi dikemudian hari. Walaupun belum dapat
dijelaskan hubungan antara obesitas dan hipertensi esensial, tetapi
penyelidikan membuktikan bahwa daya pompa jantung dan sirkulasi volume
darah penderita obesitas dengan hipertensi lebih tinggi dibandingan dengan
penderita yang mempunyai berat badan normal.

2.3 Manifestasi Klinis Hipertensi

Mekanisme Terjadinya Hipertensi Gejala-gejala hipertensi antara lain pusing,


muka merah, sakit kepala, keluar darah dari hidung secara tiba-tiba, tengkuk
terasa pegal,dan lain-lain. Dampak yang dapat ditimbulkan oleh hipertensi
adalah kerusakan ginjal, pendarahan pada selaput bening (retina mata),
pecahnya pembuluh darah di otak, serta kelumpuhan.

2.4 Pemeriksaan Penunjang Hipertensi

1. Hemoglobin / hematokrit : mengkaji hubungan dari sel-sel terhadap


volume cairan (viskositas) dan dapat mengindikasikan faktor-faktor resiko
seperti hipokoagulabilitas, anemia.

2. BUN / kreatinin : memberikan informasi tentang perfusi/fungsi ginjal.

3. Glukosa : Hiperglikemia (diabetes melitus adalah pencetus hipertensi)


dapat diakibatkan oleh peningkatan kadar katekolamin (meningkatkan
hipertensi).
4. Kalium serum : hipokalemia dapat mengindikasikan adanya aldosteron
utama (penyebab) atau menjadi efek samping terapi diuretik.

5. Kalsium serum : peningkatan kadar kalsium serum dapat meningkatkan


hipertensi.

6. Kolesterol dan trigeliserida serum : peningkatan kadar dapat


mengindikasikan pencetus untuk/adanya pembentukan plak ateromatosa
(efek kardiofaskuler)

7. Pemeriksaan tiroid : hipertiroidisme dapat mengakibatkan vasikonstriksi


dan hipertensi.

8. Kadar aldosteron urin dan serum : untuk menguji aldosteronisme primer


(penyebab).

9. Urinalisa : darah, protein dan glukosa mengisyaratkan disfungsi ginjal dan


atau adanya diabetes.

10. VMA urin (metabolit katekolamin) : kenaikan dapat mengindikasikan adanya


feokomositoma (penyebab); VMA urin 24 jam dapat digunakan untuk
pengkajian feokromositoma bila hipertensi hilang timbul.

11. Asam urat: hiperurisemia telah menjadi implikasi sebagai faktor resiko
terjadinya hipertensi.

12. Steroid urin : kenaikan dapat mengindikasikan hiperadrenalisme,


feokromositoma atau disfungsi ptuitari, sindrom Cushing’s; kadar renin
dapat juga meningkat.

13. IVP : dapat mengidentifikasi penyebab hipertensi, seperti penyakit parenkim


ginjal, batu ginjal dan ureter.

14. Foto dada : dapat menunjukkan obstruksi kalsifikasi pada area katub;
deposit pada dan/ EKG atau takik aorta; perbesaran jantung.
15. CT scan : mengkaji tumor serebral, CSV, ensevalopati, atau
feokromositoma.

16. EKG: dapat menunjukkan perbesaran jantung, pola regangan, gangguan


konduksi. Catatan : Luas, peninggian gelombang P adalah salah satu
tanda dini penyakit jantung hipertensi.

2.5 Penatalaksanaan

Tujuan tiap program penanganan bagi setiap pasien adalah mencegah


terjadinya morbiditas dan mortalitas penyerta dengan mencapai dan
mempertahankan tekanan darah di bawah 140/90 mmHg. Efektivitas setiap
program ditentukan oleh derajat hipertensi, komplikasi, biaya perawatan,
dan kualitas hidup sehubungan dengan terapi.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pendekatan
nonfarmakologis termasuk penurunan berat badan, pembatasan alkohol,
natrium dan tembakau, latihan dan relaksasi merupakan intervensi wajib
yang harus dilakukan pada setiap terapi antihipertensi. Apabila penderita
hipertensi ringan berada dalam resiko tinggi (pria, perokok) atau bila
tekanan darah diastoliknya diatas 85 sampai 95 mmHg dan sistoliknya di
atas 130 sampai 139 mmHg, maka perlu dimulai terapi obat-obatan.
a. Berolah raga ga secara teratur
b. Obat-obatan penurun takanan darah antara lain :
1). Diuretik : Hidrochlortiasid,Furosemid dll.
2). Betabloker :Proparnolol, dll.
3). Alfabloker : Prazosin dll.
4). Penghambat ACE : Kaptopril dll.
5). Antagonis Kalsium : Diltiasem dll.(farmakologi FKUI,1995)
2.6Komplikasi
Organ organ tubuh sering terserang akibat hipertensi anatara lain
mata berupa perdarahan retina bahkan gangguan penglihatan sampai
kebutaan,gagal jantung, gagal ginjal, pecahnya pembuluh darah otak.
BAB III

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Pengkajian

Pengkajian keperawatan keluarga

3.1.1 Pengumpulan data

Merupakan informasi yang diperlukan untuk mengukur masalah


kesehatan ,status kesehatan, kesanggupan keluarga dalam memberikan
perawatan pada anggota keluarga meliputi:

1. Struktur dan sifat anggota keluarga, anggota –anggota keluarga dan


hubungan dengan kepala keluarga.
2. Data demografi.
3. Kegiatan dalam hidup sehari-hari,kebiasaan tidur,kebiasaan makan dan
penggunaan waktu senggang.
4. Faktor sosial budaya dan ekonomi .
5. Faktor lingkungan.
6. Perumahan.
7. Fasilitas social dan lingkungan.
8. Fasilitas transportasi dan kesehatan

3.1.2 Riwayat kesehatan

1. Analisa data

Analisa data bertujuan untuk mengetahui masalah kesehatan yang dialami


oleh keluarga. Dalam menganalisis data dapat menggunakan
Typologi masalah dalam family healt care.

Permasalahan dapat dikategorikan sebagai berikut :


a) Ancaman kesehatan adalah : keadaan yang dapat
memungkinkan terjadinya penyakit,kecelakaan atau kegagalan dalam
mencapai potensi kesehatan.

Contoh :

1) Riwayat penyakit keturunan dari keluarga seperti hipertensi.

2) Masalah nutrisi terutama dalam pengaturan diet

b) Kurang atau tidak sehat adalah : kegagalan dalam memantapkan


kesehatan.

Contoh:

1) Adakah didalam keluarga yang menderita penyakit hipertensi.

2) Siapakah yang menderita penyakit hipertensi

c) Krisis adalah : saat- saat keadaan menuntut terlampau banyak dari


indivdu atau keluarga dalam hal penyesuaian maupun sumber daya
mereka.

Contoh :

Adakah anggota keluarga yang meninggal akibat hipertensi.

2. Penentuan prioritas masalah

Didalam menentukan prioritas masalah kesehatan keluarga


menggunakan sistim scoring berdasarkan tipologi masalah dengan pedoman
sebagai berikut

Cara membuat skor penentuan prioritas masalah keperawatan keluarga :

NO KRITERIA SKOR BOBOT


1 Sifat masalah

Aktual (Tidak/kurang sehat) 3

Ancaman kesehatan 2 1

Keadaan sejahtera 1
2 Kemungkinan masalah dapat diubah

Mudah 2

Sebagian 1 2

Tidak dapat 0
3 Potensi masalah untuk dicegah

Tinggi 3

Sedang 2 1

Rendah 1
4 Menonjolnya masalah

Masalah berat, harus segera ditangani 2

Ada masalah, tetapi tidak perlu segera ditangani 1 1

Masalah tidak dirasakan

Skoring :

1. Tentukan skor untuk tiap kriteria

2. Skor dibagi dengan angka tertinggi dan kalikanlah dengan

3. Jumlahkanlah skor untuk semua criteria ,skor tertinggi 5 sama


dengan seluruh bobot
3. Penjajakan pada tahap kedua

Tahap ini menggambarkan sampai dimana keluarga dapat melaksanakan


tugas-tugas kesehatan yang berhubungan dengan ancaman kesehatan,kurang
/tidak sehat dan krisis yamg dialami oleh keluarga yang didapat pada
penjajakan tahap pertama. Pada tahap kedua menggambarkan ketidak
mampuan keluarga untuk melaklasanakan tugas-tugas kesehatan serta cara
pemecahan masalah yang dihadapi . Karena ketidakmampuan keluarga dalam
melaksanakan tugas-tugas kesehatan dan keperawatan, maka dapat
dirumuskan diagnosa keperawatan secara umum pada keluarga yang
menderita penyakit hipertensi antara lain :

a) Ketidak sanggupan keluarga mengenal masalah penyakit


hipertensi berhubungan dengan ketidaktahuan tentang gejala
hipertensi.
b) Ketidaksanggupan keluarga dalam mengambil keputusan
dalam melaksanakan tindakan yang tepat untuk segera berobat
kesarana kesehatan bila terkena hipertensi berhubungan
dengan kurang pengetahuan klien/keluarga tentang manfaat
berobat kesarana kesehatan.
c) Ketidak mampuan merawat anggota keluarga yang sakit
berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit
hipertensi ,cara perawatan dan sifat penykit hipertensi .
d) Keitdaksanggupan memelihara lingkungan rumah yang dapat
mempengaruhi kesehatan keluarga berhubungan dengan tadak
dapat melihat keuntungan dan manfaat pemeliharaan
lingkungan serta kitidaktahuan tentang usaha pencegahan
penyakit hipertensi.
e) Ketidakmampuan menggunakan sumber yang ada di
masyarakat guna memelihara kesehatan berhubungan dengan
kurangnya pengetahuan klien dan keluarga tersedianya fasilitas
kesehatan seperti JPS.,dana sehat dan tidak memahami
manfaatnya.
Adapun diagnosa keperawatan yang berhubungan pengaturan diet pada
klien hipertensi adalah :

1) Ketidaktahuan mengenal masalah nutrisi sebagai salah satu penyebab


terjadinya hipertensi adalah berhubungan dengan kurangnya
pengetahuan cara pengaturaan diet yang benar.

2) Ketidak sanggupan keluarga memilih tindakan yang tepat dalam


pengaturan diet bagi penderita hipertensi berhubungan dengan
kurangnya pengetahuan tentang cara pengaturan diet yang benar.

3) Ketidakmampuan untuk penyediaan diet khusus bagi klien hipertensi


berhubungan dengan kurangnya pengetahuan keluarga tentang cara
pengolahan makanan dalam jumlah yang tepat.

4) Ketidakmampuan meenyediakan makanan rendah garam bagi


penderita hipertensi berhubungan dengan kurangnya pengetahuan dan
kebiasaan sehari-hari yang mengkonsumsi makanan yang banyak
mengandung garam

5) Ketidaktahuan menggunakan manfaat tanaman obat keluarga


berhubungan dengan kurangnya pengetahan tentang manfaat
tanaman obat tersebut.

4. Perencanaan

Rencana keperawatan keluarga adalah sekumpulan tindakan


keperawatan yang ditentukan oleh perawat untuk dilaksanakan dalam
memecahkan masalah kesehatan dan keperawatan yang telah diidentifikasi
(Nasrul Effendi,1998 : 54 )

Rencana tindakan dari masing –masing diagnosa keperawatan khusus


diet pada klien hipertensi adalah :
1). Ketidakmampuan mengenal masalah nutrisi sebagai salah satu
penyebab terjadinya hipertensi berhubungan dengan kurangnya
pengetahuan tentang cara pengaturan diet yang benar.

a) Tujuan

Keluarga mampu mengenal cara pengaturan diet bagi anggota


keluarga yang menderita penyakit hipertensi.

b) Kriteria hasil

1. Keluarga mampu menyebutkan secara sederhana batas


pengaturan diet bagi anggota kelurga yng menderita hipertensi.

2. Keluarga dapat memahami danmampu mengambil tindakan sesuai


anjuran.

c) Rencana tindakan

1. Beri penjelasan kepada keluarga cara pengaturan diet yang


benar bagi penderita hipertensi.

2. Beri penjelasan kepada klien dan keluarga ,bagaimanA caranya


menyediakan makan-makanan rendah garam bagi penderita
hipertensi .

5 Rasional

a. Dengan diberikan penjelasan diharapkan keluarga menimbulkan


peresepsi yang negatip sehingga dapat dijadikan motivasi untuk
mengenal masalah khususnya nutrisi untuk klieh hiperetensi

b. Dengan diberikan penjelasan keluarga mampu menyajikan


makanan yang rendah garam.
2). Ketidak mampuan dalam mengambil keputusan untuk mengatur diet terhadap
anggota keluarga yang menderita hipertensi berhubungan dengan kurangnya
pengetahuan keluarga tentang manfaat dari pengaturan diet

a) Tujuan

Keluarga dapat memahami tentang manfaat pengaturan diet untuk klien


hipertensi

b) Kriteria hasil

1. Keluarga mampu menjelaskan tentang manfaat pengaturan diet bagi klien


hiperetensi

2. Keluarga dapat menyediakan makanan khusus untuk klien hipertensi

c). Rencana tindaka

1. Beri penjelasan kepada keluarga tentang manfaat pengaturan diet untuk


klien hipertensi.

2. Beri penjelasan kepada keluarga jenis untuk klien hipertensi.

d) Rasionalisasi

1. Dengan diberi penjelasan diharapkan keluarga mampu melaksanakan


cara pengaturan diet untuk klien hipertensi

2. Keluarga diharapkan mengetahui jenis makanan untuk penderita


hipertensi.

3). Ketidakmampuan keluarga untuk menyediakan diet khusus bagi penderita


hipertensi berhubungan kurangnya pengetahuan tentang cara pengolahan makanan
dalam jumlah yang benar .

a) Tujuan

Keluarga mampu menyediakan diet khusus untuk penderita hipertensi.


b) Kriteria hasil

1. Kilen dan keluarga mampu menyediakan diet khusus untuk penderita


hipertensi.

2. Keluarga mampu menyajikan makanan dalam jumlah yang tepat bagi klien
hipertensi.

c) Rencana tindakan

1. Beriakan penjelasan kepada klien dan keluarga cara pengolahan makanan


untuki klien hipertensi.

2. Beri penjelasan kepada klien dan keluarga jumlah makanan yang dikonsumsi
oleh klien hipertensi.

3. Beri contoh sederhana kepada klien dan keluarga untuk memnbuat makanan
dengan jumlah yang tepat.

d) Rasionalisasi.

1. Dengan diberikan penjelasan diharapkanklien dan keluarga dapat cara


pengolahan makanan untuk klien hipertensi.

2. Diharapkan klien dapat mengkonsumsi makanan sesuai yang dianjurkan.

3. Dengan diberikan contoh sederhana caara membuat makanan dalam jumlah


yang tepat kilen dan keluarga mampu menjalankan /melaksanakaannya
sendiri.

4). Ketidakmampuan menyediakan makanan rendah garam bagi penderita hipertensi


berhubungan dengan kurang pengetahuan dan kebiasaan sehari-hari yang
mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung garam.

a) Tujuan

Seluruh anggota keluarga membiasakan diri setiap hari mengkonsumsi


makanan yang rendah garam.
b) Kriteria hasil

1. Klien dan keluarga dapat menjelaskan manfaat makanan yang rendah garam

2.Klien dan keluarga dapat menjelaskan jenis makanan yang banyak


mengandung garam.

3. Klien dan keluarga mau berubah kebiasaan dari mengkonsumsi makanan


yang banyak mengandung garam.

c) Rencana tindakan.

1. Beri penjelasan kepada klien dan keluarga tentang pengaruh garan


terhadap klien hipertensi.

2. Beri penjelasan kepada klien dan keluarga jenis makana yang banyak
mengandung garam.

3. Beri motivasi kepada klien dan keluarga bahwamereka mampu untuk


merubah kebiasaan yang kurang baik tersebut yang didasari padea niat dan
keinginan untuk merubah.

d) Rasional

i. Diharapkan klien dan keluarga memahami dan mengerti tentang


pengaruh garam terhadap klien hipertensi

ii. Diharapkan klien dan keluarga dapat menghindari makanan yang


banyak mengandung garam.

iii. Dengan diberi motivasi diharapkan klien dan kelarga mau merubah
sikapnya dari yang tidak sehat menjadi sehat

5). Ketidakmampuan menggunakan sumber pemanfaatan tanaman obat keluarga


berhubungan dengan kurang pengetahuan guna dari tanaman obat keluarga.

a) Tujuan
Diharapkan klien dan keluarga mampu memanfaatkan sumber tanaman obat
keluarga.

b) Kriteria hasil

Klien dan keluarga dapat menyebutkan tanaman obat yang dapat membantu untuk
pengobatan hipertensi

c) Rencana tindakan

Beri penjelasan kepada klien dan keluarga manfaat Toga.

1. Beri penjelasan kepada klien keluarga macam dan jenis tumbuhan /tanaman yang
dapat membantu menurunkan tekanan darah

2. Anjurkan kepada kepada klien dan keluarga agar berusaha memiliki tanaman
obat keluarga .

d) Rasional

1 Agar klien dan keluarga dapat memahami manfaat Toga.

2 Klien dan keluarga dapat mengetahui jenis tanaman yang dapat menurunkan
tekanan darah.

3.Dengan memiliki Toga sendiri klien dapat mengkonsumsi tanaman obat tersebut
kapan saja diperlukan.

d. Pelaksanaan

Pelaksanaan asuhan keperawatan pada anggota keluarga yang menderita


hipertensi sesuai rencana yang telah disusun.

Pada peleksanaan asuhan keperawatan keluarga dapat dilaksanakan antara lain :

1). Deteksi dini kasus baru.


2). Kerja sama lintas program dan lontas sektoral

3). Melakukan rujukan

4). Bimbingan dan penyuluhan. ( Pedoman Kerja Puskesmas, 1992 :6)

e. Evaluasi

Penilaian adalah tahap yang menentukan apakah tujuan tercapai (out put ) dan
penilaian selalu berkaitan dengan tujuan.Evaluasi juga dapat meliputi penilaian input
dan porses.

Evaluasi sebagai suatu proses yang dipusatkan pada beberapa dimensi ;

1). Bila evaluasi dipusatkan pada tujuan kita memperhatikan hasil dari tindakan
keperawatan.

2). Bila evaluasi digunakan pada ketepatgunaan (effisiensi ),maka dimensinya dapat
dikaitkaan dengan biaya.,waktu,tenaga dan bahan.

3). Kecocokan (Apprioriatenes ) dari tindakan keperawatan adalah kesanggupan dari


tindakan keperawatan untuk mengatasi masalah.

4). Kecukupan (Adecuacy) dari tindakan keperawatan (Family Healt Care , 1989 : 97
BAB IV

PENUTUP

4.1Kesimpulan
Hipertensi adalah suatu keadaan dimana terjadi peningkatan tekanan darah
yang abnormal dengan diastol > 90 mmHg dan sistol > 140 mmHg yang dipengaruhi
olehbanyakfaktorrisiko.
Hipertensi dibagi menjadi dua golongan besar, yaitu hipertensi primer (essensial)
danhipertensisekunder.
Hipertensi primer merupakan penyebab kematian terbesar dengan presentase
90% dibandingkan dengan hipertensi sekunder dengan presentase 10% karena
penyebab dari langsung (etiologi) dari hipertensi primer tidak diketahui dan penderita
yang mengalami hipertensi primer tidak mengalami gejala (asimtomatik).

4.2Saran

Untuk menurunkan resiko hipertensi, pasien yang menderita hipertensi


hendaknya melakukan terapi medis maupun non-medis secara kontinyu, melakukan
pola gaya hidup sehat seperti olahraga teratur, diet teratur sesuai dengan kebutuhan
danlain-lain.
DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Lynda Juall. 2000. Diagnosa Keperawatan Jilid 6. Jakarta : EGC


Doenges, ME., Moorhouse, MF., Geissler, AC. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan
Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta :
EGC
Guyton, AC. & Hall, JE. 1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta :
BAB IV

PENGKAJIAN

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA DENGAN SALAH SATU ANGGOTA


KELUARGA MENDERITA HIPERTENSI DI LINGKUNGAN MT. TANGGI
KELURAHAN SAKRA TIMUR

A. PENGKAJIAN (tanggal :__1 JUNI 2019________________________)


I. Data Umum
1. Kepala Keluarga KK : Ny.N
2. Umur : 69 Tahun
3. Suku / bangsa : Sasak / WNI
4. Alamat dan Telepon : Sakra
5. Pekerjaan KK : Buruh Tani
6. Pendidikan KK : SD
7. Komposisi Keluarga :_
No Nam Jk Hub dg Umur Pend BCG polio DPT hepat Cam
a keluarg itis pak
a
1. Ny.N P Istri 69 th SD

2. Ny.S P Anak 40 th SMP

3. Ny.H P Anak 36 th SD
No. Nama Hubungan Jenis Kelamin Usia Pendidikan Agama
1. Ny.N KK P 69 th SD Islam
2. Ny.S Anak Kandung P 40 th SMP Islam
3. Ny.H Anak kandung P 36 th SD Islam

B. Genogram

Keterangan:

: laki-laki
: perempuan

: meninggal

: klien

: Garis perkawinan

: garis keturunan

: tinggal dalam satu rumah

6. Tipe keluarga : Keluarga inti

7. Suku Bangsa : Sasak indonesia

8. Agama : Islam

9. Status sosial ekonomi keluarga

Penghasilan keluarga Ny.N ± Rp 500.000 per bulan. Dana keluarga digunakan


untuk kebutuhan dasar (makan, minum, pakaian).

10. Aktifitas rekreasi keluarga

Anggota keluarga Ny.N yaitu istri, tidak mempunyai aktivitas rekreasi kecuali
hanya nonton Televisi.

ll. Riwayat Tahap Perkembangan Keluarga

1. Tahap perkembangan keluarga saat ini

Tahap perkembangan keluarga Ny.N adalah keluarga dengan usia lanjut usia.

2. Tugas perkembangan keluarga yang belum terpenuhi


Tugas perkembangan dalam keluarga Ny.N yang belum terpenuhi adalah
perawatan pada usia lanjut dalam keluarga dengan penyakit kronis pada
Ny.N yaitu Hipertensi.

3. Riwayat kesehatan keluarga inti

Riwayat kesehatan keluarga :

a. Keluarga Ny.N tidak mempunyai riwayat penyakit keturunan.

b. Ny.N menderita penyakit hipertensi.

Dalam keluarga Ny.N biasanya menggunakan sumber pelayanan


kesehatan keluarga yaitu puskesmas.

4. Riwayat kesehatan keluarga sebelumnya

Keluarga Ny. N tidak ada yang menderita penyakit keturunan, bawaan


maupun menular.

lll. Lingkungan

1. Karakteristik rumah

Tipe rumah semi permanen dengan lantai dari tanah.

Denah rumah

a. Janis bangunan : semi permanen

b. Status rumah : rumah pribadi

c. Atap rumah : genteng


d. Ventilasi : cukup.

e. Cahaya : cukup

f. Penerangan : cukup

g. Lantai : tanah

h. Saluran limbah : dibuang kebelakang rumah.

i. Jamban : jenis kloset angsatrin

2. Karakteristik tetangga dan komunitasnya

Interaksi tetangga dengan keluarga Ny.N cukup harmonis, dibuktikan Ny.N rajin
kadang mengikuti Posyandu Lansia.

3. Mobilitas geografis keluarga (Lama keluarga tinggal didusun atau pindahan)

Keluarga Ny.N dalam aktivitas sehari-hari menggunakan fasilitas sepeda motor


dan sudah lama tinggal dirumah sekarang

4. Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat

Keluarga Ny.N tidak mempunyai waktu tertentu untuk mengadakan pertemuan


khusus dalam keluarga, mereka cukup melakukan komunikasi setiap hari dengan
anggota keluarga. Sedangkan interaksi dengan tetangga cukup baik dengan
sering ngobrol dengan tetangga.

5. Sistem pendukung keluarga

Anggota keluarga Ny.N termasuk dalam kategori kurang sehat karena Ny.N
menderita hipertensi sedangkan. Fasilitas kesehatan yang dapat digunakan
keluarga adalah Puskesmas.

1V. Struktur Keluarga

1. Struktur peran (formal dan informal)


Formal

Ny. N, sebagai Ibu, kepala keluarga dan pencari nafkah.

Ny. S, sebagai anak bekerja di pasar penjual buah

Nn. M, sebagai Cucu sekolah

2. Nilai dan norma keluarga

Keluarga menghormati dan menjalankan norma agama dalam menjalani kehidupan


berumah tangga dan bermasyarakat

3. Pola komunikasi keluarga

Komunikasi yang biasa digunakan sehari-hari adalah bahasa sasak. Hubungan


komunikasi antar anggota keluarga cukup baik.

4. Struktur kekuatan keluarga

Anggota keluarga satu dengan yang lain saling membantu dan mendukung

Ny. N jarang melakukan kontrol terhadap tekanan darahnya karena kurang


mempunyai biaya dan tidak tahu kalau mempunyai penyakit darah tinggi.

V. Fungsi Keluarga

1. Fungsi afektif

Setiap anggota keluarga saling menyayangi dan menghormati

2. Fungsi sosialisasi

Setiap keluarga saling menjaga hubungan sosial yang baik dengan warga sekitar
dengan mengikuti kegiatan dalam masyarakat.

3. Fungsi pemenuhan (perawatan/pemeliharaan) kesehatan

a. Mengenal masalah kesehatan


Keluarga Ny.N sudah mengetahui kalau Ny. N menderita penyakit Hipertensi / darah
tinggi.

b. Mengambil keputusaan mengenai tindakan kesehatan

Keluarga Ny.N kurang cepat dalam mengambil keputusan untuk tindakan kesehatan
karena sangat tergantung pada kondisi keuangan.

c. Kemampuan merawat anggota keluarga yang sakit

Keluarga Ny.N belum tahu cara merawat penyakit Hipertensi / darah tinggi terutama
untuk masalah diet, kurang teratur dalam berobat dan tidak teratur kontrol tekanan
darah.

d. kemampuan keluarga memelihara /memodifikasi lingkungan rumah yang kuat

Keluarga Ny.N belum mampu memelihara/memodifikasi lingkungan rumah yang


sehat terutama untuk ventilasi kurang dan lantai masih dari tanah, karena terbentur
masalah biaya.

e. kemampuan mengugunakan fasilitas pelayanan kesehatan

Keluarga Ny.N jarang menggunakan fasiltas kesehatan karena terkendala biaya.

4. Fungsi reproduksi

Ny.N mempunyai 6 (enam) orang anak, semuanya sudah berkeluarga dan


mempunyai rumah sendiri sedangkan anak yang ketiga yaitu Ny.S dan anaknya
keempat Ny.H satu rumah dengan Ny.N dan Ny. N Sudah menopouse dan janda.

5. Fungsi ekonomi

Kebutuhan ekonomi dicukupi lewat penghasilan Ny.N kadang – kadang dibantu oleh
anaknya Ny.S.

V1. Stress dan koping keluarga

1. Stressor jangka pendek


Ny.N tidak mempunyai pekerjaan tetap.

2. Stressor jangka panjang

Ny. N selalu mengatakan bahwa anaknya yang sudah tinggal sendiri-sendiri


jarang memberikan uang bulanan.

3. Kemampuan keluarga berespon terhadap stressor

Keluarga Ny.N cukup tenang dalam menghadapi permasalahan keluarga.

4. Strategi koping yang digunakan

Apabila menghadapi masalah yang berat Ny.N menghibur diri dengan menonton
televisi.

VII. Pemeriksaan kesehatan tiap individu anggota keluarga (menggunakan tabel)

Ny. N

1.Vital sign :

TD : 180/100 mmHg

Nadi : 88 x/menit

Suhu : 36 o C

RR : 18 x/menit

2.Kepala

a. Rambut : rambut bersih.

b. Mata : Visus 5/5, tidak ada kelainan, sclera putih.

c. Telinga : Telinga bersih, pendengaran cukup baik, tidak ada penyakit.

d. Hidung : Hidung bersih, penciuman masih normal.


e. Mulut : Mulut bersih, gigi ada beberapa yang tanggal.

3.Leher

Tidak ada pembesaran kelenjar gondok, bentuk leher normal.

4.Dada

a. Paru :

Inspeksi : simetris, tidak ada retraksi, tidak ada luka

Palpasi : tidak ada nyeri tekan

Perkusi : suara sonor

Auskultasi : tidak terdengar suara wheezing

b. Jantung :

Inspeksi : tidak ada kelainan.

Palpasi : tidak ada nyeri tekan

Perkusi : suara sonor

Auskultasi : Suara DJ tunggal, tidak ada suara tambahan.

5. Abdomen :

Inspeksi : tidak ada kelainan.

Palpasi : tidak ada nyeri tekan

Perkusi : suara sonor

Auskultasi : peristaltik normal

6. Ekstremitas :
a. Atas

1) Kanan : Kadang – kadang terasa nyeri dan keju linu pada tangan kanan

2) Kiri : Kadang – kadang terasa nyeri dan keju linu pada tangan kiri

b. Bawah

1) Kanan : Kadang – kadang terasa nyeri dan keju linu pada kaki kanan

2) Kiri : Kadang – kadang terasa nyeri dan keju linu pada kaki kiri.

7. Genetalia : Tidak terkaji

Pemeriksaan Penunjang

Tekanan darah : 180/100 mmHg

Klien mengatakan tidak tahu kalau menderita penyakit Hipertensi / darah tinggi.

Klien jarang kontrol tekanan darah.

Kadang – kadang klien merasa pusing.

Ny. N mengatakan badan terasa nyeri dan leher/tengkuk kadang – kadang kaku.

Terapi

Ny. N mendapat obat oral :

Captopril 12,5 mg (2 x 1 tab / hari), Kalk tab (2 x1 tab / hari), Vit B1 (2 x1 tab / hari),
Antalgin tab (3 x 1 tab / hari)

VIII. Harapan keluarga

Keluarga Ny.N mengharapkan bisa mencukupi kebutuhan sehari – hari termasuk


untuk kebutuhan berobat Ny.N dan untuk memperbaiki rumah.
B.DIAGNOSA KEPERAWATAN KELUARGA

I. Analisa data sintesis data

NO Data Masalah Penyebab


1 DS : Gangguan rasa nyaman Ketidak mampuan
nyeri kepala keluarga merawat
Klien mengatakan sering
anggota keluarga
pusing
yang sakit

Klien mengatakan
tengkuk/leher sakit

DO :

TD : 180/100 mmHg

Riwayat hipertensi

Jarang kontrol di
puskesmas
2 DS: Resiko terjadi komplikasi Ketidak mampuan
penyakit hipertensi (CVA) keluarga mengenal
Ny. N mengatakan bahwa
masalah kesehatan
tidak tahu kalau menderita
pada anggota
darah tinggi
keluarga yang sakit

Ny. N mengatakan tidak


pernah pantangan makan.

DO:

TD : 180/100 mmHg.

Jarang kontrol ke
Puskesmas.

Keluarga Ny.S tidak tahu


tentang Diet pada
hipertensi.
A. Skoring

1. Resiko terjadi komplikasi penyakit hipertensi pada Ny. N b.d Ketidakmampuan


keluarga mengenal masalah kesehatan anggota keluarga yang sakit.

No Kriteria Penghitungan Skor Pembenaran


1 Sifat masalah Penyaki Hipertensi
merupakan penyakit
Skala : Ancaman kesehatan
x1 menahun yang sulit
sembuh total.
2 Kemungkinan masalah Komplikasi pada Hipertensi
dapat diubah bisa disebabkan dari
1 berbagai faktor apalagi bila
Skala : Sebagian x2
klien tidak disiplin dalam
perawatan kesehatannya.
3 Potensial masalah untuk Sumber-sumber dan
dicegah tindakan untuk mencegah
1 meningkatnya tekanan
Skala : Tinggi x1
darah bisa terjangkau oleh
keluarga Ny.S
4 Menonjolnya masalah Masalah belum muncul
sehingga masalah tidak
Skala : Masalah tidak 0
x1 dianggap serius oleh Ny. S
dirasakan
dan keluarganya

Total
2

2. Gangguan rasa nyaman nyeri kepala b d Ketidak mampuan keluarga merawat


anggota keluarga yang sakit.

No Kriteria Penghitungan Skor Pembenaran


1 Sifat masalah Sakit kepala (rasa pusing)
1
x1 sering dirasakan oleh
Skala : Actual klien.
2 Kemungkinan masalah Sumber dan tindakan
dapat diubah untuk mengurangi sakit
2
x2 kepala tersedia.
Skala : Mudah
3 Potensial masalah untuk Dengan diet yang baik dan
dicegah minum obat secara teratur
x1 tekanan darah bisa
Skala : Sedang
dikendalikan.
4 Menonjolnya masalah Klien merasa tidak nyaman
bila sakit kepalanya
Skala : Ada masalah x1
kambuh.

Total
3

B. Prioritas Masalah

1. Gangguan rasa nyaman nyeri kepala b d Ketidak mampuan keluarga merawat


anggota keluarga yang sakit.

2. Resiko terjadi komplikasi pada Ny. N b.d Ketidakmampuan keluarga mengenal


masalah kesehatan anggota keluarga yang sakit.

PERENCANAAN ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA DENGAN HIPERTENSI

Diagnosa Tujuan Ktriteria evaluasi


N
keperawatan Kriteri Rencana
o Umum Khusus Standar
keluarga a
1. Gangguan rasa Setelah Setelah Verba Keluarga 1. Observas
nyaman nyeri dilakukan dilakukan l dan dan klien i tanda –
kepala b tindakan kunjungan non bisa tanda nyeri
d Ketidak keperawata 2x verba mengetahui 2. Gali
mampuan n, klien diharapkan l dan pengetahu
keluarga tidak keluarga memahami an
merawat mengalami dapat : tentang keluarga
anggota nyeri/sakit tanda-tanda mengenai
menjelaska
keluarga yang kepala hipertensi, tanda –
n tanda-
sakit. cara tanda
tanda
mengurangi hipertensi
Dimanifestasik hipertensi.
rasa sakit
an dengan: 3. Jelaskan
pada
Keluarga
mengenai
kepala, bisa
DS : bisa
cara
menyebutk
menyebutk
menguran
Klien an salah
an cara
gi rasa
mengatakan satu obat
mengurangi
sakit/nyeri
sering pusing sakit
rasa sakit
kepala.
kepala.
pada
Klien
kepala. 4. Jelaskan
mengatakan Klien
tentang
tengkuk/leher minum obat
Keluarga
jenis obat
kaku dan sakit anti
bisa
yang aman
hipertensi
menyebutk
Klien untuk
dan anti
an salah
mengatakan diminum.
nyeri
satu obat
tidak tahu
(captopril
sakit 5. Jelaskan
penyebab dari
dan
kepala. aturan
rasa pusing
antalgin)
minum
dan kaku pada
Klien mau
obat yang
leher
minum obat
benar.
DO :
6. Beri
TD : 160/90 kesempata
mmHg n kepada
keluarga
Riwayat
hipertensi untuk
bertanya
Jarang kontrol
rutin di
puskesmas

Keluarga tidak
tahu penyebab
sakit kepala
pada klien
2 Resiko terjadi Setelah Setelah Verba Keluarga 1. Observa
komplikasi dilakukan dilakukan l mengetahui si adanya
(CVA) b.d tindakan kunjungan dan resiko
ketidak keperawata 2x memahami komplikasi
mampuan n, resiko diharapkan tentang pada
keluarga terjadinya keluarga hipertensi, hipertensi
mengenal komplikasi dapat : tanda &
2. Gali
masalah pada klien gejala
menjelaska pengetahu
kesehatan, bisa hipertensi,
n arti an
dimanifestasika dikurangi. faktor
hipertensi, keluarga
n dengan : penyebab,
tanda & mengenai
pencegaha
DS : gejala hipertensi
n dan
hepertensi,
komplikasi
Ny. N 3. Jelaskan
faktor
hipertensi
mengatakan mengenai
penyebab,
bahwa tidak pengertian
pencegaha
tahu kalau , tanda &
n dan
menderita gejala,
resiko
darah tinggi penyebab,
terjadinya
pencegaha
komplikasi
Ny. N
n dan
akibat dari
mengatakan
akibat
hipertensi
tidak pernah
komplikasi.
pantangan
makan. 4. Anjurkan
pada klien
DO:
untuk
sering
TD : 180/100
berobat ke
mmHg.
Puskesma
Jarang kontrol s.
ke Puskesmas.
5. Beri
Keluarga Ny.N kesempata
tidak tahu n kepada
tentang Diet keluarga
pada untuk
hipertensi. bertanya
IMPLEMENTASI

N Diagnosa Tujuan
Tanggal Implementasi Evaluasi
o keperawatan khusus
1. Gangguan rasa Setelah 1. Mengobserva 05 juni 2019
nyaman nyeri dilakukan si tanda – tanda
05/06/201
S:
kepala b kunjungan nyeri
9
d Ketidak 2x
Ny.
2. Menggali
mampuan diharapkan
N mengatakan
pengetahuan
keluarga keluarga
mengerti dan
keluarga
merawat dapat :
tahu kalau
mengenai
anggota
menderita
menjelaskan hipertensi
keluarga yang
penyakit
arti
sakit,
3. Menjelaskan hipertensi.
hipertensi,
dimanifestasika
mengenai
tanda &
n dengan : Ny.N bersedia
penyebab dari
gejala
minum obat
rasa pusing dan
DS : hepertensi,
pereda sakit
sakit kepala
faktor
kepala.
Klien serta rasa kaku
penyebab,
mengatakan pada
pencegahan O:
sering pusing tengkuk/leher
dan
TD : 180/100
komplikasi
Klien 4. Memberikan
mmHg
hipertensi
mengatakan kesempatan
tengkuk/leher kepada Ny. N minum
kaku dan sakit keluarga untuk antalgin tab.
bertanya
Klien Ny. N dapat
mengatakan menjelaskan
tidak tahu kembali
penyebab dari tentang
rasa pusing dan penyebab dan
kaku pada leher pencegahan
dari sakit
DO : kepala.

TD : 160/90 A:
mmHg
Masalah
Riwayat teratasi
hipertensi
P:
Jarang kontrol
Intervensi
rutin di
dihentikan
puskesmas

Keluarga tidak
tahu penyebab
sakit kepala
pada klien.
2 Resiko terjadi Setelah 08/06/201 1. Mengobserva 08 Juni 2019
komplikasi b.d dilakukan 9 si adanya
S:
ketidakmampua kunjungan resiko
n keluarga 2x komplikasi pada
Ny.
mengenal diharapkan hipertensi
N mengataka
masalah. keluarga
n mengerti
2. Menggali
dapat :
dan tahu kalau
Dimanifestasika pengetahuan
menderita
n dengan: menjelaskan keluarga
penyakit
tanda-tanda mengenai
DS : hipertensi
hipertensi. hipertensi

Ny. N Ny. N
Keluarga 3. Menjelaskan
mengatakan bersedia untuk
bisa mengenai
bahwa tidak kontrol rutin di
menyebutka pengertian,
tahu kalau Puskesmas
n cara tanda & gejala,
menderita darah
mengurangi penyebab,
Ny. N
tinggi
rasa sakit pencegahan
bersedia diet
dan akibat
Ny. N
mengatakan pada kepala. komplikasi rendah garam.
tidak pernah hipertensi
Keluarga Ny. N
pantangan
bisa 4. Memberikan bersedia
makan.
menyebutka kesempatan minum obat
DO: n salah satu kepada
O:
obat sakit keluarga untuk
TD : 180/100
kepala. bertanya
TD : 170/90
mmHg.
mmHg
Klien mau
Jarang kontrol
minum obat
Ny. N minum
ke Puskesmas.
Captopril tab.
Keluarga Ny.N
Ny. N dapat
tidak tahu
menjelaskan
tentang Diet
kembali
pada hipertensi.
tentang
penyebab dan
pencegahan
dari hipertensi

A:

Masalah
teratasi
sebagian

P:

Intervensi
dihentikan