Anda di halaman 1dari 7

Jurnal Keperawatan Indonesia, Volume 19 No.

2, Juli 2016, hal 71-77


pISSN 1410-4490, eISSN 2354-9203

AKTIVITAS FISIK MEMENGARUHI FUNGSI KOGNITIF LANSIA

Mersiliya Sauliyusta1*, Etty Rekawati2

1. Program Studi Sarjana Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, Kampus UI, Depok 16424, Indonesia
2. Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, Kampus UI, Depok 16424, Indonesia

*E-mail: mersi.liya@gmail.com

Abstrak

Penurunan fungsi kognitif merupakan keadaan normal yang dialami oleh lansia. Keadaan ini dapat dikurangi atau
dihambat dengan cara meningkatkan aktivitas fisik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara
tingkat aktivitas fisik dengan fungsi kognitif lansia. Desain penelitian ini adalah cross sectional dengan metode cluster
sampling dengan jumlah sampel sebanyak 104 responden lansia. Sampel penelitian ini rata-rata didominasi lansia
perempuan yang berusia 60-74 tahun, tidak lulus SD/tidak sekolah, masih berstatus menikah, dan memiliki penyakit
kronis. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan antara tingkat aktivitas fisik dengan fungsi kognitif lansia
(p=0,000; ɑ=0,05). Perawat diharapkan dapat mencegah penurunan fungsi kognitif dengan cara meningkatkan aktivitas
fisik lansia berupa latihan fisik. Selain itu, penelitian selanjutnya diharapkan dapat melakukan studi mengenai
intensitas, durasi, frekuensi, dan jenis latihan fisik yang paling baik untuk meningkatkan fungsi kognitif pada lansia.

Kata kunci: aktivitas fisik, fungsi kognitif, lansia

Abstract

Physical Activity Affecting Elderly Cognitive Function. Declining the cognitive function is a normal situation in which
elderly usually experienced. This condition might be decreased or inhibited by increasing the physical activities. The
purpose of this research was to identify the relation between physical activity with the cognitive function of the elderly.
Research design used cross sectional approach with cluster sampling method on 104 elderly people. This research
sample dominated by female elderly age 60-74 years old, not graduated from junior high school/not registered in
school, married status, and having chronic diseases. The result showed that there is relationship between level of
physical activity and the cognitive function of elderly (p=0,000; ɑ=0,05). Nurses are expected to prevent declining the
cognitive function through increasing physical activity in the form of physical exercise. Moreover, the next research is
expected to continue the study about the intensity, duration, frequency, and other kinds of physical exercise which are
good to increase the cognitive function for the elderly.

Keywords: cognitive function, elderly, physical activity

Pendahuluan Peningkatan jumlah lansia ini juga berdampak


pada peningkatan usia harapan hidupnya di
Jumlah lansia di Indonesia tiap tahunnya Indonesia. Berdasarkan laporan Perserikatan
mengalami peningkatan. Menurut Badan Pusat Bangsa Bangsa 2011, pada tahun 2000–2005
Statistik (2013) proyeksi jumlah lanjut usia usia harapan hidup mencapai 66,4 tahun
(>60 tahun) di Indonesia pada tahun 2014 (dengan persentase lansia tahun 2000 sebesar
diperkirakan mencapai 207.930.000 jiwa, dan 7,74 %). Angka ini akan meningkat pada tahun
pada tahun 2035 diperkiran mencapai 2045-2050 yang diperkirakan usia harapan
481.987.0000 juta jiwa. Peningkatan jumlah hidup menjadi 77,6 tahun (dengan persentase
lansia di Indonesia secara signifikan membuat populasi lansia pada tahun 2045 sebesar
Indonesia masuk dalam 5 besar negara yang 28,68%). Badan Pusat Statistik (BPS) juga
memiliki populasi lansia terbanyak di Dunia mengatakan terjadi peningkatan usia harapan
(World Health Organization, 2014). ................. hidup, dari 64,5 tahun (dengan persentase po-
72 Jurnal Keperawatan Indonesia, Vol. 19, No. 2, Juli 2016, hal 70-77

pulasi lansia sebesar 7,18%) pada tahun 2000 Factor (BDNF). Protein BDNF ini berperan
menjadi 69,43 pada tahun 2010 (dengan per- penting menjaga sel saraf tetap bugar dan
sentase populasi lansia sebesar 7,56%), dan sehat. Jika kadar BDNF rendah maka akan me-
pada tahun 2011 menjadi 69,65 tahun (dengan nyebabkan penyakit kepikunan.
persentase populasi lansia sebesar 7,58%)
(Pusat Data dan Informasi Kementerian Namun, sebagian besar lansia malah mengu-
Kesehatan RI, 2013). rangi aktivitas fisiknya karena mereka merasa
aktivitas fisik seperti olahraga tidak cocok
Meningkatnya proporsi lanjut usia, menim- dengan gaya hidup mereka, meskipun ada di-
bulkan beberapa masalah kesehatan pada lan- antara mereka sadar akan manfaatnya (Lee,
sia. Berdasarkan data dari Pusat Data dan Arthur, & Avis, 2008). Selain itu, lansia me-
Informasi Kementrian Kesehatan RI (2013), ngatakan bahwa dirinya sudah mengalami pe-
masalah kesehatan terbesar lansia adalah nurunan kesehatan, sehingga sudah tidak bisa
penyakit degeneratif. Diperkirakan pada tahun melakukan aktivitas fisik lagi (Baert, Gorus,
2050 sekitar 75% lansia penderita penyakit Mets, Geerts, & Bautmans, 2011). Berda-
degeneratif tidak dapat beraktivitas. Penyakit sarkan laporan dari Physical Activity Council
degeneratif pada lansia salah satunya adalah Report (2014) menyatakan bahwa penurunan
penurunan fungsi kognitif. Fungsi kognitif terbesar aktivitas fisik datang dari dewasa tua
merupakan proses mental dalam memperoleh berusia 55 tahun sampai seterusnya.
pengetahuan atau kemampuan serta kecer-
dasan, yang meliputi cara berpikir, daya ingat, Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh
pengertian, perencanaan, dan pelaksanaan Putri (2013) melaporkan bahwa aktivitas fisik
(Santoso & Ismail, 2009). lansia di Kelurahan Mekarwangi Kecamatan
Tanah Sareal Kota Bogor tergolong sedang.
Pada dasarnya, fungsi kognitif akan mengala- Hasil dari penelitian tersebut hanya merupakan
mi penurunan secara normal seiring dengan gambaran tingkat aktivitas fisik yang dilaku-
penambahan usia. Selain itu, ada faktor risiko kan di sana. Namun, belum dikaitkan dengan
yang dapat memengaruhi penurunan fungsi fungsi kognitif lansia. Maka dari itu, perlu di-
kognitif yaitu keturunan dari keluarga, tingkat lakukan penelitian lebih lanjut mengenai
pendidikan, cedera otak, racun, tidak melaku- hubungan antara tingkat aktivitas fisik dengan
kan aktivitas fisik, dan penyakit kronik seperti fungsi kognitif lansia lansia di Kelurahan
parkinson, jantung, stroke serta diabetes (The Mekarwangi Kecamatan Tanah Sareal Kota
U.S Departement of Health and Human Servi- Bogor.
ces, 2011). Sebenarnya, penurunan fungsi kog-
nitif dapat dihambat dengan melakukan tinda- Metode
kan preventif. Salah satu tindakan preventif
yang dapat dilakukan lansia yaitu dengan Penelitian ini merupakan penelitian jenis kuan-
memperbanyak aktivitas fisik (Blondell, titatif bersifat deskriptif korelatif. Peneliti
Hammersley-Mather, & Veerman, 2014). menggunakan pendekatan cross sectional dan
akan mempelajari hubungan antara faktor ri-
Aktivitas fisik diduga dapat menstimulasi per- siko (variabel independen) yaitu tingkat aktivi-
tumbuhan saraf yang kemungkinan dapat tas fisik dengan faktor efek (variabel depen-
menghambat penurunan fungsi kognitif pada den) yaitu fungsi kognitif lansia diambil secara
lansia (Muzamil, Afriwardi & Martini, 2014). bersamaan pada satu waktu. Setiap responden
Menurut Kirk-Sanchez & McGough (2013) hanya diukur satu kali dan pengukuran untuk
saat melakukan aktivitas fisik, otak akan disti- variabel responden hanya diukur pada saat
mulasi sehingga dapat meningkatkan protein penyebaran kuesioner (Notoatmodjo, 2010).
di otak yang disebut Brain Derived Neutrophic
Sauliyusta, et al., Aktivitas Fisik Memengaruhi Fungsi Kognitif Lansia 73

Sampel penelitian adalah 104 lansia di 14 RW Hasil


di Kelurahan Mekarwangi, Kecamatan Tanah
Sareal. Teknik pengambilan sampel yang digu- Fungsi Kognitif. Berdasarkan Tabel 1 dapat
nakan peneliti yaitu cluster sampling. Pada dilihat bahwa jumlah lansia yang memiliki
teknik ini, peneliti tidak mendaftar semua ang- fungsi kognitif normal, selisihnya tidak jauh
gota atau unit yang ada berada dalam suatu dengan lansia yang mengalami penurunan
populasi, melainkan cukup mendaftar banyak- fungsi kognitif. Namun, tetap nilai fungsi
nya kelompok yang ada di dalam populasi itu kognitif normal lebih tinggi yaitu sebesar
kemudian mengambil beberapa sampel 54,8% yang diukur menggunakan instrumen
berdasarkan kelompok-kelompok tersebut penelitian MMSE.
(Notoatmodjo, 2010).
Tabel 1. Fungsi Kognitif Responden
Langkah selanjutnya adalah menentukan
jumlah responden dari tiap RW yang dihitung Persentase
Kategori Fungsi Kognitif Jumlah
(%)
menggunakan rumus proporsi sebagai unit
Fungsi Kognitif Normal 57 54,8
yang mewakili sampel yang diteliti. Kriteria Penurunan Fungsi Kognitif 47 45,2
inklusi sampel penelitian yaitu lansia yang
berusia > 60 tahun, tinggal di Kelurahan
Mekarwangi, tidak memiliki gangguan psi-
kiatrik dan dapat berkomunikasi menggunakan Tingkat Aktivitas Fisik. Berdasarkan Tabel 2
bahasa Indonesia. dapat dilihat bahwa jumlah lansia yang me-
miliki tingkat aktivitas fisik tinggi dan rendah
Pengambilan data dilakukan dengan meng- berimbang yaitu sebanyak 50%. Jadi, tingkat
gunakan kuesioner sebagai instrumen peneli- aktivitas fisik di Kelurahan Mekarwangi
tian yang dibagikan kepada lansia. Kuesioner Kecamatan Tanah Sareal Kota Bogor hasilnya
yang digunakan terdiri dari 3 bagian. Kue- tidak ada yang mendominasi.
sioner 1 berisi tentang data demografi, bagian
2 berisi pertanyaan tentang aktivitas fisik dan Tabel 2. Tingkat Aktivitas Fisik Responden
bagian ke 3 mengenai fungsi kognitif lansia.
Instrumen aktivitas fisik menggunakan kue- Persentase
Kategori Aktivitas Fisik Jumlah
(%)
sioner A Physical Activity for the Elderly Tinggi 52 50
(Vorrips, 1991) dan Instrumen fungsi kognitif Rendah 52 50
menggunakan Mini Mental State Examination
(Folstein, Folstein, & McHugh, 1975 dalam
Wallace, 1999).
Hubungan Tingkat Aktivitas Fisik dengan
Data yang didapat kemudian diolah dan dipro- Fungsi Kognitif. Berdasarkan tabel 3 dapat
ses menggunakan sistem program komputer. dilihat bahwa terdapat sebanyak 40 (76,9 %)
Data dianalisis secara univariat dan bivariat responden dengan tingkat aktivitas fisik yang
dengan uji proporsi pada setiap variabel pene- tinggi memiliki fungsi kognitif yang normal.
litian, meliputi tingkat aktivitas fisik dan fung- Hasil uji statistik diperoleh nilai p=0,000 maka
si kognitif lansia. Peneliti menggunakan uji chi dapat disimpulkan ada perbedaan proporsi an-
square dengan kemaknaan p<0,05 untuk me- tara tingkat aktivitas fisik dengan fungsi kog-
ngetahui hubungan antara tingkat aktivitas nitif pada lansia (ada hubungan antara tingkat
fisik lansia dengan fungsi kognitif lansia. aktivitas fisik dengan fungsi kognitif).
74 Jurnal Keperawatan Indonesia, Vol. 19, No. 2, Juli 2016, hal 70-77

Tabel 3. Hubungan Tingkat Aktivitas Fisik dengan vitas fisik secara rutin dan berkala termasuk
Fungsi Kognitif Lansia berjalan kaki akan membuat fungsi kognitif
menjadi lebih baik. Hal ini karena aktivitas
Variabel Fungsi Kognitif Lansia fisik dapat mempertahankan aliran darah yang
Tingkat Normal Penurunan optimal dan mengantarkan nutrisi ke otak.
p
Aktivitas
Fisik
n % n % Apabila lansia tidak melakukan aktivitas fisik
Tinggi 40 76,9 12 23,1 secara rutin maka aliran darah ke otak menu-
0,00
Rendah 17 32,7 35 67,3 run, dan akan menyebabkan otak kekurangan
0
Total 57 54,8 47 45,2 oksigen. (Marhamah, 2008; Weuve, et al.,
2004).

Pembahasan Aktivitas fisik juga diduga menstimulasi


pertumbuhan saraf yang kemungkinan dapat
Hasil analisis hubungan antara tingkat akti- menghambat penurunan fungsi kognitif pada
vitas fisik dengan fungsi kognitif lansia diper- lansia (Muzamil, Afriwardi, & Martini, 2014).
oleh bahwa responden dengan tingkat aktivitas Menurut Kirk-Sanchez dan McGough (2013)
fisik yang tinggi memiliki fungsi kognitif yang saat melakukan aktivitas fisik, otak akan
normal. Hasil uji statistik diperoleh nilai distimulasi sehingga dapat meningkatkan pro-
p= 0,000 maka dapat disimpulkan ada hubu- tein di otak yang disebut Brain Derived
ngan antara tingkat aktivitas fisik dengan Neutrophic Factor (BDNF). Protein BDNF ini
fungsi kognitif. Penelitian lain yang mendu- berperan penting menjaga sel saraf tetap bugar
kung penelitian ini dilakukan Clouston, et al., dan sehat. Namun, apabila kadar BDNF ren-
(2013) yang menyatakan bahwa ada hubungan dah maka akan menyebabkan penyakit kepiku-
antara tingkat aktivitas fisik dengan fungsi nan (Antunes, et al., 2006).
kognitif pada lansia. Selain itu, Auyeung, et
al., (2008) menyatakan bahwa seseorang yang Menurut National Institute on Aging (2009),
kurang melakukan aktivitas fisik dan kekuatan aktivitas fisik merupakan kegiatan memin-
otot biasanya akan mengalami kerusakan fung- dahkan/menggerakkan badan seperti berkebun,
si kognitif. berjalan, dan menaiki tangga. Namun, aktivitas
fisik berbeda dengan latihan fisik. Latihan
Menurut Muzamil, Afriwardi, dan Martini fisik merupakan bagian dari aktivitas fisik
(2014), tingkat aktivitas fisik yang tinggi dan yang lebih terstruktur atau terjadwal seperti
rutin mempunyai hubungan dengan tingginya aerobik dan tai chi. Latihan fisik sebenarnya
skor fungsi kognitif. Namun, lansia yang me- lebih memengaruhi fungsi kognitif pada lansia.
miliki tingkat aktivitas rendah atau sedang Menurut Bherer, Erickson, dan Ambrose
berhubungan dengan penurunan fungsi kogni- (2013), latihan fisik seperti aerobik akan
tif, khususnya memori dan fungsi bahasa meningkatkan kemampuan kognitif lansia khu-
(Makizako, et al., 2014). Studi yang dilakukan susnya bagian kontrol eksekutif dan mening-
oleh Busse, et al., (2009) menunjukkan bahwa katkan volume hippocampus. Hippocampus
aktivitas fisik dapat meningkatkan fungsi ekse- merupakan sentral otak yang sangat penting
kutif, perhatian, kecepatan berpikir, kerja me- dalam menyimpan memori (Sankanparan,
mori serta memori jangka panjang/pendek. 2010).

Menurut Jones dan Rose (2005) dengan Aktivitas fisik memiliki empat dimensi utama
melakukan program aktivitas fisik jangka pen- yaitu jenis, frekuensi, durasi, dan intensitas
dek seperti latihan fisik dapat membawa per- fisik (Gibney, 2009). Menurut Kerr, et al.,
baikan yang berarti dalam kinerja fungsi kog- (2013) sebaiknya aktivitas fisik pada lansia
nitif lansia. Selain itu, dengan melakukan akti- dilakukan selama tiga kali seminggu dengan
Sauliyusta, et al., Aktivitas Fisik Memengaruhi Fungsi Kognitif Lansia 75

durasi 30 menit. Hal ini akan berdampak baik terjadi karena aktivitas fisik yang diukur
pada peningkatkan fungsi kognitif sebesar terlepas dari intensitas sehingga tidak me-
20% pada proses kontrol eksekutif seperti mengaruhi fungsi kognitif sehari-hari (Haley,
perencanaan, penjadwalan, memori, gangguan 2013). Studi lain yang dilakukan oleh Kerr, et
kontrol, dan kordinasi tugas kerja. al., (2013) mengatakan jika semua tingkat
intensitas aktivitas fisik digabungkan menjadi
Intensitas aktivitas fisik merupakan seberapa satu ukuran MET jam/hari, tidak ada hubu-
keras suatu aktivitas dilakukan. Biasanya ngan yang terlihat antara aktivitas fisik dengan
diklasifikasikan menjadi intensitas ringan, fungsi kognitif lansia. Selain itu, aktivitas
sedang, dan berat (Landefeld, et al., 2004). rumah tangga yang dilakukan oleh lansia
Namun, pada penelitian ini aktivitas fisik hanya sedikit memengaruhi fungsi kognitif.
dibagi menjadi dua bagian yaitu rendah dan
tinggi berdasarkan klasifikasi dari kuesioner Bherer, Erickson, dan Ambrose (2013) juga
aktivitas fisiknya. Hal ini juga dikarenakan menyatakan masih belum mengerti dampak
data hasil penelitian tidak normal sehingga aktivitas fisik terhadap tingkat penurunan
klasifikasinya menggunakan nilai median se- fungsi kognitif. Salah satu isu utama adalah
besar 5,84. Hasil dari penelitian ini menemu- apakah aktivitas fisik didefinisikan secara luas
kan bahwa lansia yang memiliki aktivitas fisik atau latihan terstruktur yang mengarah ke
rendah dan tinggi sebesar 50%. Itu artinya manfaat yang sama dalam mencegah penuru-
tidak ada yang mendominasi antara aktivitas nan kognitif. Maka dari itu, masih belum
fisik rendah dan aktivitas fisik tinggi. diketahui dimensi aktivitas fisik mana yang
paling memengaruhi fungsi kognitif pada
Namun demikian, penurunan fungsi kognitif lansia. Penelitian selanjutnya diperlukan untuk
memang tidak bisa dihindari karena bisa saja memahami intensitas, durasi, dan jenis latihan
terjadi akibat perubahan fisiologis struktur yang lebih baik untuk meningkatkan fungsi
otak yang terjadi secara normal seiring dengan kognitif pada lansia. Oleh karena itu, penu-
pertambahan usia (Miller, 2012). Hasil dari runan fungsi kognitif salah satunya dapat
penelitian ini mendapatkan data bahwa jumlah dicegah dengan melakukan aktivitas fisik
lansia yang memiliki fungsi kognitif normal khususnya latihan fisik. Aktivitas fisik yang
sedikit lebih banyak yaitu sebesar 54,8% baik dilakukan selama > 150 menit/minggu
karena lansia di Kelurahan Mekarwangi di- dapat berdampak pada peningkatan fungsi
dominasi oleh lansia muda. Penelitian lain kognitif (Makizako, et al., 2014). Beberapa
yang mendukung hasil penelitian ini adalah studi menyarankan lansia untuk mengadopsi
yang dilakukan oleh Wreksoatmodjo (2014), aktivitas fisik dan olahraga sebagai bagian dari
yang menjelaskan bahwa lansia yang memiliki gaya hidup mereka agar mengurangi dampak
fungsi kognitif normal juga lebih banyak yaitu negatif pada tubuh dan pikiran (Bherer,
sebesar 62,2%. Klasifikasi fungsi kognitif juga Erickson, & Ambrose, 2013).
dibagi menjadi dua bagian, yaitu fungsi kog-
nitif normal dan penurunan fungsi kognitif. Kesimpulan
klasifikasi menggunakan nilai median yaitu
24. Hasil penelitian ini tidak terdistribusi de- Hasil penelitian ini menunjukkan jumlah lan-
ngan normal karena data yang didapat tidak sia dengan fungsi kognitif yang normal lebih
bervariasi. banyak dibanding dengan lansia yang sudah
mengalami penurunan fungsi kognitif. Tingkat
Lain halnya dengan penelitian yang dilakukan aktivitas fisik lansia proporsinya sama yaitu
oleh Brown, et al., (2012), yang menyatakan 50%. Jadi, lansia yang memiliki tingkat akti-
bahwa aktivitas fisik tidak berhubungan de- vitas fisik tinggi dan rendah berimbang dan
ngan fungsi kognitif. Hasil dari penelitian ini tidak saling mendominasi satu sama lain.
76 Jurnal Keperawatan Indonesia, Vol. 19, No. 2, Juli 2016, hal 70-77

Namun demikian analisis bivariat menunjuk- /2013/657508.


kan bahwa ada hubungan bermakna antara
tingkat aktivitas fisik dengan fungsi kognitif Blondell, S.J., Hammersley-Mather, R., &
lansia. Veerman, J.L. (2014). Does physical activity
prevent cognitive decline and dementia?: A
systematic review and meta-analysis of
Hasil dari penelitian ini dapat dijadikan masu-
longitudinal studies. BMC Public Health,
kan bagi para tenaga kesehatan, khususnya 14(1), 1–12. doi: 10.1186/1471-2458-14-510.
perawat komunitas untuk mengoptimalkan pe-
ran perawat dalam memberikan layanan kepe- Brown, B., Peiffer, J., Sohrabi, H., Mondal., A., &
rawatan terkait upaya pencegahan penurunan Gupta, V.B. (2012). Intense physical activity is
fungsi kognitif dengan cara meningkatkan associated with cognitive performance in the
aktivitas fisik lansia berupa latihan fisik. Hal- elderly. Ecu Publications, 2012 (2), e191. doi:
hal yang bisa dilakukan oleh perawat komu- 10.1038/tp.2012.118.
nitas dengan cara mengetahui jenis-jenis akti-
vitas fisik yang bisa dilakukan oleh lansia se- Busse, A.L., Gil, G., Santarem, J.M., & Filho, W.J.
suai dengan kemampuannya untuk meminima- (2009). Phyical activity and cognition in the
elderly a review. Dementia Neuropsychologia,
lisir kejadian cedera atau hal-hal yang tidak 3 (3), 204–208.
diinginkan terjadi pada lansia (ER, TN, PN).
Clouston, S.A., Brewster, P., Kuh, D., Richards,
Referensi M, Cooper, R.,…., Hofer, S.M. (2013) The
dynamic relationship between physical
Antunes, H.K., Santos, R.F., Cassilhas, R., Santos, function and cognition in longitudinal aging
R.V., Bueno, O.F., & Mello, M,T. (2006). cohorts. Epidemiologic Reviews, 35 (1), 33–50.
Reviewing on physical exercise and the doi: 10.1093/epirev/mxs004.
cognitive function. Rev Bras Med Esporte, 12
(9), 97–103. doi: http://dx.doi.org/10.1590/S1 Gibney, et al. (2009). Public health nutrition (Alih
517-86922006000200011 Bahasa: Andry Hartono). Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC.
Auyeung, T.W., Kwok, T., Lee, J., Leung, P.C.,
Leung, J., & Woo, J. (2008). Functional Haley, C. (2013). Exploring the relationship
decline in cognitive impairment-the relation- between physical activity and everyday
ship between physical and cognitive function. cognitive function in older adults: Within and
Neuroepidemiology, 31, 167–173. doi: 10.1159 between person variability. South Florida:
/000154929. University of South Florida.

Badan Pusat Statistik. (2013). Proyeksi penduduk Jones, C.J & Rose, D.J. (2005). Physical activity
indonesia 2010–2035. Jakarta: Badan Pusat instruction of older adults. United States of
Statistik Indonesia. America: Human Kinetics.

Baert, V., Gorus, E., Mets, T., Geerts, C., & Kerr, J., Marshall, S.J., Patterson, R.E., Marinac,
Bautmans, I. (2011). Motivators and barriers C.R., Natrajan, L.,…, Crist, K. (2013).
for physical activity in older old: a systematic Objectively measured physical activity is
review. Ageing Research, 10. 464–476. doi: related to cognitive function in older adults.
10.1016/j.arr.2011.04.001 National Institutes of Health, 61 (11), 1–10.
doi: 10.1111/jgs.12524.
Bherer, L., Erickson, K.I., & Ambrose, T.L.
(2013). A review of the effects of physical Kirk-Sanchez, N.J., & McGough, E.L. (2013).
activity and exercise on cognitive and brain Physical exercise and cognitive performance in
functions in older adults. Hindawi Publishing the elderly: Current Perspectives. Dovepress,
Corporation. 2013 (1), 1–6. doi: 10.1155 9, 51–62.
Sauliyusta, et al., Aktivitas Fisik Memengaruhi Fungsi Kognitif Lansia 77

Landefeld, S.C, , et al. (2004). Current geriatric Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan
diagnosis&treatment. Singapore: The Mc RI. (2013). Gambaran kesehatan lanjut usia di
Graw-Hills Company. indonesia. Jakarta: Kementrian Kesehatan RI.

Lee, L.L., Arthur, A., & Avis, M. (2008). Using Putri, H.E. (2013). Gambaran tingkat aktivitas fisik
self-efficacy theory to develop interventions lansia di kelurahan mekarwangi kecamatan
that help older oepole overcome psychological tanah sareal kota bogor (Skripsi, Universitas
barriers to physical activity: a discussion Indonesia). Universitas Indonesia, Jakarta.
paper. International Journal of Nursing
Studies, 45, 1690–1699. doi: http://dx.doi.org/ Sankanparan, H. (2010). Otak tengah memang
10.1016/j.ijnurstu.2008.02.012 dahsyat. Jakarta: Transmedia Pustaka.

Makizako, H., Shimada, H., Doi, T., Park, H., Santoso, H., & Ismail, A. (2009). Memahami krisis
Tsutsumimoto, K.,…, Suzuki, T. (2014). lanjut usia. Jakarta: Gunung Mulia.
Moderate-intensity physical activity, cognition
and apoe genotype in older adults with mild The U.S Departement of Health and Human
cognitive impairment. Science Medical Services. (2011). Physical activity and health
Central, 1 (1), 1–5. older adults. Washington DC: Pennsylvania
Avenue.
Marhamah. (2008). Konsumsi gizi dan aktivitas
fisik usia lanjut di kota depok kaitannya Voorrips, L.E., Ravelli, A.C., Dongelmans, P.C.,
dengan stauts kesehatan dan kemampuan Deurenberberg, P., & Staveren, W.A. (1990).
kognitif (Skripsi, Universitas Terbuka). A physical activity questionnaire for the
Universitas Terbuka, Jakarta. elderly. Official Journal of the American
College of Sports Medicine, 23 (8), 974–979.
Miller, C.A. (2012). Nursing for wellness in older
adults (6th Ed.). Philadelphia: Lippincott Wallace, M. (1999). The mini mental state
Williams & Wilkins. examination. Hartford Institute for Geriatric
Nursing, (3). Diperoleh dari https://www.mo
Muzamil, M.S, Afriwadi, & Martini, R.D. (2014). unt sinai .on.ca/ care/psych/on-call-resources/
Hubungan antara aktivitas fisik dengan fungsi on-call-resources/mmse.pdf
kognitif pada usila di kelurahan jati kecamatan
padang timur. Jurnal Fakultas Kedokteran Weuve, J., Kang, J.H., Manson, J.E., Breteler,
Universitas Andalas, 3 (2), 202–205. M.M., Ware, J.H., & Grodstein, F. (2004).
Physical activity ,including walking, and
National Institute on Aging. (2009). Exercise & cognitive function in older women. JAMA, 292
physical activity. Georgia: National Institute of (12), 1454–1459.
Health.
World Health Organization. (2014). Regional
Notoatmodjo, S. (2010). Metodologi penelitian strategy for healthy ageing. India: WHO
kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta. Publications.

Physical Activity Council. (2014). 2014 Wreksoatmodjo, B.R. (2014). Beberapa kondisi
participation report. USA: Sports Marketing fisik dan penyakit yang merupakan faktor
Survey USA. risiko gangguan fungsi kognitif. CDK-212, 41
(1), 25–32.