Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PENDAHULUAN

A. DEFENISI

Batu ginjal adalah batu yang terbentuk di tubuli ginjal kemudian


berada di kaliks, infundibulum, pelvis ginjal dan bahkan bisa mengisi pelvis
serta seluruh kaliks ginjal dan merupakan batu saluran kemih yang paling
sering terjadi. (Purnomo, 2000)

Batu Ginjal merupakan keadaan tidak normal dalam ginjal, yang


mengandung komponen kristal dan matriks organik. (Suyono, 2001)

Batu ginjal adalah suatu penyakit dimana terjadi pembentukan batu


dalam kolises dan atau pelvis. Batu ginjal dapat terbentuk karena
pengendapan garam urat, oksalat atau kalsium.

B. ETIOLOGI

Dalam banyak hal penyebab terjadinya batu ginjal secara pasti belum
dapat diketahui. Pada banyak kasus ditemukan kemungkinan karena adanya
hiperparatirodisme yang dapat meyebabkan terjadinya hiperkalsiuria.
Kadang–kadang dapat pula disebabkan oleh infeksi bakteri yang menguraikan
ureum (seperti proteus, beberapa pseudoenonas, staphylococcosa albus dan
beberapa jenis coli) yang mengakibatkan pembentukan batu.

Penyebab terbentuknya batu saluran kemih diduga berhubungan


dengan gangguan aliran urine, gangguan metabolik, infeksi saluran kemih,
dehidrasi dan keadaan-keadaan lain yang masih belum terungkap (idiopatik).
Secara epidemiologis terdapat beberapa faktor yang mempermudah terjadinya
batu saluran kemih yang dibedakan sebagai faktor intrinsik dan faktor
ekstrinsik.

Faktor intrinsik, meliputi:

1. Herediter; diduga dapat diturunkan dari generasi ke generasi


2. Umur; paling sering didapatkan pada usia 30-50 tahun.
3. Jenis kelamin; jumlah pasien pria 3 kali lebih banyak
dibanding pasien wanita.

Faktor ekstrinsik, meliputi:


1. Geografi; pada beberapa daerah menunjukkan angka kejadian
yang lebih tinggi daripada daerah lain sehingga dikenal sebagai
daerah stone belt (sabuk batu)
2. Iklim dan temperatur.
3. Asupan air; kurangnya asupan air dan tingginya kadar mineral
kalsium dapat meningkatkan insiden batu saluran kemih.
4. Diet; diet tinggi purin, oksalat dan kalsium mempermudah
terjadinya batu saluran kemih.
5. Pekerjaan; penyakit ini sering dijumpai pada orang yang
pekerjaannya banyak duduk atau kurang aktivitas fisik
(sedentary life).

C. EPIDEMIOLOGI

Penyakit batu saluran kemih sudah dikenal sejak zaman Babilonia dan
zamanMesir kuno. Sebagai salah satu buktinya adalah diketemukan batu pada
kandung kemihseorang mumi yang diperkirakan sudah berumur sekitar 7000
tahun.Batu ginjal merupakan penyebab terbanyak kelainan di saluran kemih.
Di Negaramaju seperti Amerika Serikat, Eropa, Australia, batu saluran kemih
banyak dijumpai disaluran kemih bagian atas, sedang di Negara berkembang
seperti India, Thailand danIndonesia lebih banyak dijumpai batu kandung
kemih. Hal ini karena adanya pengaruhstatus gizi dan aktivitas pasien sehari-
hari.Secara Epidemiologis terdapat beberapa faktor yang mempermudah
terjadinyabatu saluran kemih pada seseorang. Faktor-faktor itu adalah
faktor intrinsik yaitu keadaanyang berasal dari tubuh seseorang dan
faktor ekstrinsik yaitu pengaruh yang berasal darilingkungan sekitarnya.Faktor
intrinsik itu antara lain adalah :
 Herediter (keturunan) : penyakit ini diduga diturunkan dari orang
tuanya.
 Umur : penyakit ini paling banyak didapatkan pada usia 30-50tahun.
 Jenis Kelamin : jumlah pasien laki-laki 4kali lebih banyak
dibandingkandengan pasien perempuan (4:1)

D. PATOFISIOLOGI

Mekanisme pembentukan batu ginjal atau saluran kemih tidak


diketahui secara pasti, akan tetapi beberapa buku menyebutkan proses
terjadinya batu dapat disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut :

a. Adanya presipitasi garam-garam yang larut dalam air seni, dimana


apabila air seni jenuh akan terjadi pengendapan.
b. Adanya inti ( nidus ). Misalnya ada infeksi kemudian terjadi tukak,
dimana tukak ini menjadi inti pembentukan batu, sebagai tempat
menempelnya partikel-partikel batu pada inti tersebut.
c. Perubahan pH atau adanya koloid lain di dalam air seni akan
menetralkan muatan dan meyebabkan terjadinya pengendapan.

Teori Terbentuknya Batu Saluran Kemih:


1. Teori nukleasi: Batu terbentuk di dalam urine karena adanya inti batu
atau sabuk batu (nukleus). Partikel-partikel yang berada dalam larutan
kelewat jenuh akan mengendap di dalam nukleus itu sehingga
akhirnya membentuk batu. Inti bantu dapat berupa kristal atau benda
asing saluran kemih.
2. Teori matriks: Matriks organik terdiri atas serum/protein urine
(albumin, globulin dan mukoprotein) sebagai kerangka tempat
mengendapnya kristal-kristal batu.
3. Penghambat kristalisasi: Urine orang normal mengandung zat
penghambat pembentuk kristal yakni magnesium, sitrat, pirofosfat,
mukoprotein dan beberapa peptida. Jika kadar salah satu atau
beberapa zat ini berkurang akan memudahkan terbentuknya batu
dalam saluran kemih.
Batu saluran kemih dapat menimbulkan penyulit berupa obstruksi
dan infeksi saluran kemih. Manifestasi obstruksi pada saluran kemih
bagian bawah adalah retensi urine atau keluhan miksi yang lain
sedangkan pada batu saluran kemih bagian atas dapat menyebabkan
hidroureter atau hidrinefrosis. Batu yang dibiarkan di dalam saluran
kemih dapat menimbulkan infeksi, abses ginjal, pionefrosis, urosepsis
dan kerusakan ginjal permanen (gagal ginjal).

E. KLASIFIKASI

Batu saluran kemih dapat dibagi berdasarkan lokasi terbentuknya,


menurut lokasi beradanya, menurut keadaan klinik, dan menurut susunan
kimianya.

1.Menurut tempat terbentuknya


a. Batu ginjal
b. Batu kandung kemih
2.Menurut lokasi keberadaannya :
a. Batu urin bagian atas (mulai ginjal sampai ureter distal)
b. Batu urin bagian bawah (Mulai kandung kemih sampai uretra)
3.Menurut Keadaan Klinik :
a. Batu urin metabolic aktif : bila timbul dalam satu tahun trakhir,
batu bertambah besar atau kencing batu.
b. Batu urin metabolic inaktif : bila tidak ada gejala seperti yang
aktif
c. Batu urin yang aktifitasnya diketahui (asimtomatik)
d. Batu urin yang perlu tindakan bedah (surgically active) bila
menyebabkanobstruksi, infeksi, kolik, hematuria.
4. Menurut susunan kimiawi
Berdasarkan susunan kimianya batu urin ada beberapa jenis
yaitu : batu kalsium okalat, batu kalsium fosfat, batu asam urat, batu
struvit (magnesiumammonium fosfat) dan batu sistin

a. Batu Kalsium Oksalat :


Merupakan jenis batu paling sering dijumpai; yaitu lebih
kurang 75 – 85% dari seluruh batu urin. Batu ini lebih umum
pada wanita, dan rata-rata terjadi pada usia decade ketiga.
Kadang-kadang batu ini dijumpai dalam bentuk murni atau juga
bisa dalam bentuk campuran, misalnya dengan batu kalsium
fosfat )biasanya hidroxy apatite).
Batu kalsium ini terdiri dari 2 tipe yaitu monohidrat dan
dihidrat. Batu kalsium dihidrat biasanya pecah dengan mudah
dengan lithotripsy (suatu teknik non invasive dengan
menggunakan gelombang kejut yang difokuskan pada batu
untuk menghancurkan batu menjadi fragmen-fragmen.)
sedangkan batu monohidrat adalah salah satu diantara jenis batu
yang sukar dijadikan fragmen-fragmen.
b. Batu Struvit :
Sekitar 10-15% dari total, terdiri dari magnesium
ammonium fosfat (batu struvit) dan kalsium fosfat. Batu ini
terjadi sekunder terhadap infeksi saluran kemih yang disebabkan
bakteri pemecah urea. Batu dapat tumbuh menjadi lebih besar
membentuk batu staghorn dan mengisi seluruh pelvis dan kaliks
ginjal (6,46) Batu dapat tumbuh menjadi lebih besar membentuk
batu staghorn dan mengisi seluruh pelvis dan kaliks ginjal.(6’46)
Batu ini bersifat radioopak dan mempunyai densitas yang
berbeda. Diurin kristal batu struit berbentuk prisma empat
persegi panjang. Dikatakan bahwa batu staghorn dan struit
mungkin berhubungan erat dengan destruksi yang cepat dari
ginjal’ hal ini mungkin karena proteus merupakan bakteri urease
yang poten.
c. Batu asam urat :
Lebih kurang 5-10% dari seluruh batu saluran kemih dan
batu ini tidak mengandung kalsium dalam bentuk mu rni
sehingga tak terlihat dengan sinar X (Radiolusen) tapi mungkin
bisa dilihat dengan USG atau dengan Intra Venous Pyelografy
(IVP). Batu asam urat ini biasanya berukuran kecil, tapi kadang-
kadang dapat cukup besar untuk membentuk batu staghorn, dan
biasanya relatif lebih mudah keluar karena rapuh dan sukar larut
dalam urin yang asam. Batu asam urat ini terjadi terutama pada
wanita. Separoh dari penderita batu asam urat menderita gout;
dan batu ini biasanya bersifat famili apakah dengan atau tanpa
gout. Dalam urin kristal asam urat berwarna merah orange.
Asam urat anhirat menghasilkan kristal-kristal kecil yang
terlihat amorphous dengan mikroskop cahaya. Dan kristal ini tak
bisa dibedakan dengan kristal apatit. Batu jenis dihidrat
cenderung membentuk kristal seperti tetesan air mata.
d). Batu Sistin : (1-2%)
Lebih kurang 1-2% dari seluruh BSDK, Batu ini jarang
dijumpai (tidak umum), berwarana kuning jeruk dan berkilau.
Sedang kristal sistin diurin tampak seperti plat segi enam, sangat
sukar larut dalam air. Bersifat Radioopak karena mengandung
sulfur.
e). Batu Xantin :
Amat jarang, bersifat herediter karena defisiensi xaintin
oksidase. Namun bisa bersifat sekunder karena pemberian
alupurinol yang berlebihan.
F. MANIFESTASI KLINIS

1. Obstruksi.
Peningkatan tekanan hidrostatik
2. Distensi pelvis ginjal.
3. Rasa panas dan terbakar di pinggang. Kolik
4. Peningkatan suhu (demam).
5. Hematuri.

Gejala gastrointestinal; mual, muntah, diare, Nyeri hebat


1. Batu pada pelvis renalis
a. Nyeri yang dalam, terus menerus pada area CVA
b. Pada wanita ke arah kandung kemih, pada laki-laki kearah testis
c. Hematuria, piuria
d. Kolik renal : nyeri tekan seluruh CVA, mual dan muntah
2. Batu yang terjebak pada ureter
a. Gelombang nyeri luar biasa, akut dan kolik menyebar ke paha dan
genetalia kolik ureteral
b. Merasa ingin berkemih keluar sedikit dan darah
3. Batu yang terjebak pada kandung kemih
a. Gejala iritasi
b. Infeksi traktus urinarius
c. Hematuria
d. Retensi urined.
e. Obstruksi

G. PENATALAKSANAAN

Batu yang sudah menimbulkan masalah pada saluran kemih harus


segera dikeluarkan agar tidak menimbulkan penyulit yang lebih berat. Indikasi
untuk melakukan tindakan pada batu saluran kemih adalah telah terjadinya
obstruksi, infeksi atau indikasi sosial. Batu dapat dikeluarkan melalui prosedur
medikamentosa, dipecahkan dengan ESWL, melalui tindakan endo-urologi,
bedah laparoskopi atau pembedahan terbuka.

a. ESWL/ LithotripsiAdalah prosedur non-invasif yang digunakan untuk


menghancurkan batu di khalik ginjal. Setelah batu tersebut pecah
menjadi bagian yang kecil seperti pasir sisa-sisa batu tersebut
dikeluarkan secara spontan.
b. Metode Endourologi Pengangkatan Batu
Ini merupakan gabungan antara radiology dan urologi untuk
mengangkat batu renal tanpa pembedahan mayor.
c. Nefrostomi Perkutan adalah pemasangan sebuah selang melalui kulit ke
dalam pelvis ginjal. Tindakan ini dilakukan untuk drainase eksternal
urin dari kateter yang tersumbat, menghancurkan batu ginjal,
melebarkan striktur.
d. Ureteruskopi mencakup visualisasi dan akses ureter dengan
memasukkan suatu alat Ureteroskop melalui sistoskop. Batu dapat
dihancurkan dengan menggunakan laser, lithotripsy elektrohidraulik,
atau ultrasound lalu diangkat.
Larutan Batu. Nefrostomi Perkutan dilakukan, dan cairan pengirigasi
yang hangat dialirkan secara terus-menerus ke batu. Cairan pengirigasi
memasuki duktus kolekdiktus ginjal melalui ureter atau selang
nefrostomi.
e. Pengangkatan Bedah
Nefrolitotomi. Insisi pada ginjal untuk mengangkat batu. Dilakukan
jika batu terletak di dalam ginjal.
f. Pielolitotomi. Dilakukan jika batu terletak di dalam piala ginjal.

Tindakan-tindakan khusus pada berbagai jenis batu yang berbentuk meliputi :


a. Batu Kalsium : Paratirodektomi untuk hiperparatiroidisme,
menghilangkan susu dan keju dari diit, kalium fosfat asam ( 3 – 6 gram
tiap hari) mengurangi kandungan kalsium di dalam urine, suatu dueretik
( misalnya 50 mg hidroklorotiazid 2 kali sehari) atau sari buah
cranberry ( 200ml, 4 kali sehari ) mengasamkan urin dan membuat
kalsium lebih mudah larut dalam urin.
b. Batu Oksalat diet rendah oksalat dan rendah kalsium fosfat ( 3 – 5 gram
kalium fosfat asam setiap hari), piridoksin ( 100 mg, 3 kali sehari).
c. Batu metabolic : sistin dan asam urat mengendap di dalam urin asam
(pH urine harus dianikan menjadi lebih besar dari 7,5 dengan
memberikan 4 – 8 ml asam nitrat 50%, 4 kali sehari) dan menyuruh
pasien untuk diet mineral basa, batasi purin dalam dit penderita batu
asam urat ( berikan pulka 300mg alopurinal ( zyloprin ) sekali atau dua
kali sehari). Pada penderita sistinura, diet rendah metionin dan
penisilamin ( 4 gram tiap hari ).
d. Penatalaksanaan yang harus dilakukan pada pasien dengan post praise
batu ginjal menurut Barbara C Long, 1985 meliputi : penempatan
pasien dalam ruang dengan ventilasi yang cukup, perhatikan terhadap
urine out put, pencegahan terhadap distensi dan pendarahan dan
perhatian terhadap lokasi pemasangan drainase dan perawatannya.

H. KOMPLIKASI

1. Sumbatan atau obstruksi akibat adanya pecahan batu.


2. Infeksi, akibat diseminasi partikel batu ginjal atau bakteri akibat obstruksi.
3. Kerusakan fungsi ginjal akibat sumbatan yang lama sebelum pengobatan
atau pengangkatan batu ginja
4. Obstruksi urine dapat terjadi di sebelah hulu dari batu dibagian mana saja
di saluran kemih. Obstruksi diatas kandung kemih dapat menyebabkan
hidroureter, yaitu ureter membengkak oleh urine. Hidoureter yang tidak
diatasi, atau obstruksi pada atau atas tempat ureter keluar dari ginjal dapat
menyebabkan hidronefrosis yaitu pembengkakan pelvis ginjal dan sistem
duktus pengumpul. Hidronefrosis dapat menyebabkan ginjal tidak dapat
memekatkan urine sehingga terjadi ketidakseimbangan elektrolit dan
cairan.
5. Obstruksi menyebabkan peningkatan tekanan hidrostatistik intersium dan
dapat menyebabkan penurunan GFR. Obstruksi yang tidak diatasi dapat
menyebabkan kolapsnya nefron dan kapiler sehingga terjadi iskemia
nefron karena suplai darah terganggu. Akhirnya dapat terjadi gagal ginjal
jika kedua ginjal terserang.
6. Setiap kali terjadi obstruksi aliran urine (stasis), kemungkinan infeksi
bakteri meningkat.
7. Dapat terbentuk kanker ginjal akibat peradangan dan cedera berulang
(Corwin, 2009).

I. PEMERIKSAAN PENUNJANG

a. Radiologi
Secara radiologi, batu dapat radiopak atau radiolusen. Sifat
radiopak ini berbeda untuk berbagai jenis batu sehingga dari sifat ini dapat
diduga batu dari jenis apa yang ditemukan. Radiolusen umumnya adalah
jenis batu asam urat murni.
Pada yang radiopak pemeriksaan dengan foto polos sudah cukup
untuk menduga adanya batu ginjal bila diambil foto dua arah. Pada
keadaan tertentu terkadang batu terletak di depan bayangan tulang,
sehingga dapat luput dari penglihatan. Oleh karena itu foto polos sering
perlu ditambah foto pielografi intravena (PIV/IVP). Pada batu radiolusen,
foto dengan bantuan kontras akan menyebabkan defek pengisian (filling
defect) di tempat batu berada. Yang menyulitkan adalah bila ginjal yang
mengandung batu tidak berfungsi lagi sehingga kontras ini tidak muncul.
Dalam hal ini perludilakukan pielografi retrograd.
Ultrasonografi (USG) dilakukan bila pasien tidak mungkin
menjalani pemeriksaan IVP, yaitu pada keadaan-keadaan; alergi terhadap
bahan kontras, faal ginjal yang menurun dan pada wanita yang sedang
hamil. Pemeriksaan USG dapat untuk melihat semua jenis batu, selain itu
dapat ditentukan ruang/ lumen saluran kemih. Pemeriksaan ini juga
dipakai unutk menentukan batu selama tindakan pembedahan untuk
mencegah tertinggalnya batu.
b. Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium diperlukan untuk mencari kelainan
kemih yang dapat menunjang adanya batu di saluran kemih, menentukan
fungsi ginjal, dan menentukan penyebab batu.

J. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

Asuhan keperawatan pada klien dengan Urolitiasis dilaksanakan melalui


pendekatan proses perawatan terdiri dari : pengkajian, diagnosa, perencanaan,
tindakan, dan evaluasi (Doengoes, 2000. Hal 686-694).

1. Pengkajian
Dasar data pengkajian pasien
a. Aktivitas/istirahat
Gejala : pekerjaan monoton, pekerjaan dimana pasien
terpajan pada lingkungan bersuhu tinggi. Keterbatasan
aktivitas/mobilisasi sehubungan dengan kondisi sebelumnya.
b. Sirkulasi
Tanda : peningkatan TD/nadi (nyeri, ansietas, gagal
ginjal). Kulit hangat dan kemerahan ; pucat.
c. Eliminasi
Gejala : riwayat adanya/ISK kronis ; obstruksi
sebelumnya (kalkulus). Penurunan haluaran urine, kandung
kemih penuh. Rasa terbakar, dorongan berkemih. Diare,
Tanda : oliguria, hematuria, piuria. Perubahan pola
berkemih.
d. Makanan/cairan
Gejala : mual/muntah, nyeri tekan abdomen. Diet tinggi
purin, kalsium oksalat, dan /atau fosfat. Ketidakcukupan
pemasukan cairan, tidak minum air dengan cukup.
Tanda : distensi abdominal ; penurunan/tak adanya bising
usus. Muntah.
e. Nyeri/kenyamanan
Gejala : episode akut nyeri berat, nyeri kolik. Lokasi
tergantung pada lokasi batu. Contoh pada panggul di region
sudut kostovertebral ; dapat menyebar ke punggung, abdomen,
dan turun kelipat paha/genetalia. Nyeri dangkal kostan
menunjukkan ada pelvis atau kalkulus ginjal.
Nyeri dapat digambarkan sebagai akut, hebat tidak hilang
dengan posisi atau tindakan lain.
Tanda : melindungi ;perilaku distraksi. Nyeri tekan pada
area pada palpasi.
f. Keamanan
Gejala : penggunaan alcohol, demam, menggigil.
g. Penyuluhan/pembelajaran
Gejala : riwayat kalkulus dalam keluarga, penyakit ginjal,
hipertensi, gout, ISK kronis riwayat penyakit usus halus, bedah
abdomen sebelumnya, hiperparatiroidisme. Penggunaan
antibiotic, antihipertensi, natrium bikarbonat, alupurinol,
fosfat, tiazid, pemasukan berlebihan kalsium atau vitamin.
Pertimbangan Rencana Pemulangan : DRG menunjukkan
rerata lama dirawat : 3,4 hari.
h. Pemeriksaan diagnostic
Urinalisa : warna kuning, coklat gelap, berdarah secara
umum menunjukkan SDM, SDP, Kristal,
Urine : (24 jam) kreatinin, asam urat, kalsium, fosfat,
oksalat, atau sistin mungkin meningkat.
Hitung darah lengkap : SDP mungkin meningkat
menunjukan infeksi/septicemia.

2. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri berhubungan dengan iritasi pada saluran kemih
2. Perubahan pola eliminasi: urine berhubungan dengan obstruksi
karena batu.
3. Risiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan
mual dan muntah
4. Ketidakefektifan management regiment terapeutik tentang
perawatan post operasi dan pencegahan berhubungan dengan
kurangnya pengetahuan/informasi
5. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan
kebutuhan belajar berhubungan dengan kurang terpajan/
kurang mengingat/salah intepretasi/informasi. Tidak mengenal
masalah/sumber masalah.
ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY F DENGAN DIAGNOSA MEDIS
BATU GINJAL

No. RM : 129684

Tanggal : 25, Mei, 2019

Tempat : Ruang perawatan

A. Pengkajian

I. DATA UMUM
1. Identitas Klien
Nama : Ny. F
Umur : 55 Tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Pekerjaan : IRT
Diagnosa medis : Batu Ginjal
Agama : Islam
Pendidikan : SMA
Alamat : Labbakang-pangkep
Tanggal MRS : 25, Mei, 2019

2. Penanggung Jawab
Nama : Tn. T
Umur : 58 Tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Pekerjaan : Wiraswasta
Agama : Islam
Pendidikan : SMA
Alamat : Labbakang-pangkep
Hubungan dengan klien : Suami
II. RIWAYAT KESEHATAN
1. Keluhan Utama
Nyeri pinggang kanan.
2. Alasan Masuk RS
Klien mengeluh nyeri pinggang kanan dan menjalar ke
perut sejak 4 bulan yang lalu. Nyeri dirasakan hilang timbul. Juga
mengeluh mual dan muntah sekitar 4-5 kali sehari sejak satu hari
sebelum masuk rumah sakit dan demam.
P : batu saluran kemih
Q : nyeri hilang timbul
R : pinggang kanan dan menjalar ke perut
S : skala nyeri 7
T : mendadak
3. Riwayat Penyakit Sekarang
Nyeri dirasakan bertambah berat dalam 2 hari ini dan tidak
menghilang dengan obat yang biasa dimakan, selanjutnya Ny. F
juga mengeluh mual dan muntah sekitar 4-5 kali sejak 1 hari yang
lalu dan demam.

III. RIWAYAT KESEHATAN MASA LALU


1. Riwayat Penyakit Dahulu
Ny. F mengaku 4 bulan yang lalu sering mengalami nyeri yang
sama, dan nyeri hialang setelah diberikan obat penghilang rasa
nyeri dari dokter
- Penyebab : klien mengatakan tidak mengetahui
penyebab penyakitnya
- Riwayat perawatan : klien mengatakan tidak pernah
dirawat sebelumnya
- Riwayat operasi : klien mengatakan tidak pernah
operasi
- Riwayat pengobatan : Obat penghilang rasa nyeri dari
dokter
2. Riwayat Alergi : klien mengatakan tidak mempunyai alergi
apapun

3. Riwayat Imunisasi : klien mengatakan tidak mengetahui tentang


imunisasinya

4. Lain-lain :-

IV. Riwayat Penyakit Keluarga

G1

55 58
G2

G3

Keterangan :

: Laki-laki

: laki-laki meninggal

: Perempuan

: Klien
G1 : Ayah klien sudah meninggal dan tidak ada riwayat penyakit yang pernah
di derita dan ibu klien masih hidup dan sehat begitupun dengan ayah
dan ibu dari suami klien

G2 : Klien adalah anak ke 2 dari 3 bersaudara. Dan suami klien adalah anak ke
2 dari 3 bersaudara

G3 : Klien memiliki 1 anak perempuan dan keadaannya sehat

V. RIWAYAT PSIKO-SOSIO-SPIRITUAL

1. Pola koping : klien mengatakan jika ada masalah selalu bercerita


kepada keluarganya

2. Harapan klien thd penyakitnya : klien berharap penyakitnya cepat


sembuh

3. Faktor Stressor : klien mengatakan tidak terlalu stress terhadap


penyakitnya

4. Konsep diri :klien mengatakan selama di rawat di RS tidak dapat


melakukan aktivitas dan klien

5. Pengetahuan klien ttg penyakitnya : klien mengatakan kurang


mengetahui tentang penyakitnya

6. Adaptasi : klien mengatakan mampu beradaptasi dengan


lingkungannya

7. Hubungan dengan anggota keluarga : klien mengatakan hubungan


dengan keluarganya baik

8. Hubungan dengan masyarakat : klien mengatkan hubungan dengan


masyarakat baik
9. Perhatian thd lawan bicara : klien mengatakan selalu
memperhatikan lawan bicaranya

10. Aktivitas sosial :klien mengatakan aktivitas sosialnya baik

11. Keadaan lingkungan : Klien mengatakan keadaan lingkungannya


bersih dan rapi

12. Kegiatan keagamaan / pola ibadah : klien mengatakan setiap hari


beribadah

13. Keyakinan ttg kesehatan : klien mengatakan ia yakin bahwa


penyakitnya dapat sembuh

VI. KEBUTUHAN DASAR / POLA KEBIASAAN SEHARI-HARI

1. Makan

Sebelum MRS : klien mengatakan semua makanan di sukai dan


tidak ada pantangan, makan 3x/hari, 1 porsi habis (nasi, lauk dan
sayur)

Saat di RS : klien mengatakan dianjurkan untuk diet TKTP


2100 Kcal + Protein 1 gr/kg/BB/hari (bebas dari sayur & kaldu).
Makan 3x/hari, porsi sedang atau ½ porsi sajian RS

2. Minum

Sebelum MRS : klien mengatakan minum 6-8 gelas perhari air


putih

Saat di RS :klien mengatakan minum dibatasi kurang 600


ml/hari.
3. Tidur

Sebelum MRS : klien mengatakan perasaan setelah bangun tidur


terasa segar bugar.

Saat di RS : klien mengatakan tidur dengan nyenyak.

4. Eliminasi fekal / BAB

Sebelum MRS : klien mengatakan BAB 1x/hari, warna kuning,


lembek dan bau khas

Saat di RS : 1x/hari, warna kuning, lembek dan bau khas

5. Eliminasi urine / BAK

Sebelum MRS : klien mengatakan BAK 4-8x/hari, warna kuning


dan bau khas

Saat di RS : Klien mengatakan tidak terpasang keteter, BAK


sedikit-sedikit, berwarna kuning

6. Aktifitas dan latihan

Sebelum MRS : klien mengatakan mandi, berpakaian, berdandan,


berpindah, merapikan tempat tidur di lakukan secara mandiri

Saat di RS : klien mengatakan mandi, berpakaian, berdandan,


mobilisasi, dan merapikan di bantu oleh keluarga dan klien
menggunakan kursi roda

7. Personal hygiene

Sebelum MRS : klien mengatakan mandi 2x/hari, gosok gigi


2x/hari, keramas 1x/3 hari, ganti baju dalam dan pakaian 2x/hari
secara mandiri
Saat di RS : klien mengatakan mandi 2x/hari, gosok gigi
2x/hari, keramas 1x/3 hari, ganti baju dalam dan pakaian 2x/hari
dengan dibantu sebagian oleh keluarga

VII. PEMERIKSAAN FISIK

1. Tanda-Tanda Vital
No. Pemeriksaan Hasil Normal Keterangan
1. TD 120/80 mmHg 120-80 / 80-90 Normal
mmHg
2. HR 80 x/mnt 60-100 x/mnt Normal
3. RR 20x/mnt 16 – 20 x/mnt Normal
4. Suhu 38,7O C 36,5 – 37,5 O C Tidak
Normal

Pemeriksaan Laboratorium
No. Pemeriksaan Hasil Normal Keterangan
1. Hb 14 gr/dl Pr : 12 – 15 g/dl Normal
Lk : 14 – 18 g/dl
2. Leukosit 10.000/mm3 Pr & Lk : 5.000 – Tidak
10.000/mm3 Normal
3. Ureum 24mg/dl Pr & Lk : 15 – 40 Normal
mg/dl

2. Head To Toe

o Kulit / integument
I : warna kulit sawo mentah, turgor kulit kering, tidak
terdapat luka
o Kepala & rambut
I : kulit kepala bersih, rambut hitam, distribusi rambut merata
P : tidak ada nyeri tekan dan luka
o Kuku
I : kuku klien tampak pendek dan bersih
o Mata / penglihatan
I : simetris kiri dan kanan, fungsi penglihatan baik
o Hidung / penghiduan
I : simetris kanan kiri, tidak ada secret
P : tidak ada nyeri tekan dan tidak teraba benjolan
o Telinga / pendengaran
I : simetris kiri dan kanan, telinga tampak bersih dan
pendengaran baik
P : tidak ada nyeri tekan
o Mulut dan gigi
I : Simetris, mukosa bibir kering
o Leher
I : Tidak ada edema
P : tidak ada nyeri tekan
o Dada
I : bentuk dada simetris, gerakan dada bebas terbatas
P : tidak terdapat benjolan dan nyeri tekan
P : resonan
A : normal
o Abdomen
I : perut klien membesar
P : terasa tegang akibat penumpukan cairan
P : normal
A : bising usus 15 kali
o Perineum & genetalia
I : tidak terdapat epispadia, hipospadia
o Extremitas atas
I : Terdapat edema, tampak pruritus, terpasang infus di
tangan kiri, CRT <2 detik, akral hangat kering merah
o Extremitas bawah
I : Terdapat edema, CR
T <2 detik, akral hangat kering merah

2. Klasifikasi Data
Data Subjektif
 Ny. F mengeluhan nyeri pinggang kanan. Nyeri hilang timbul dan
menjalar ke perut.
 Ny. F mengaku 4 bulan yang lalu sering mengalami nyeri yang
sama, dan nyeri hialang setelah diberikan obat penghilang rasa
nyeri dari dokter.
 Nyeri dirasakan bertambah berat dalam 2 hari ini dan tidak
menghilang dengan obat yang biasa dimakan
 Ny. F mengeluh mual dan muntah sekitar 4-5 kali sejak 1 hari
yang lalu
 Ny. F mengeluh demam

Data Objektif
 Kondisi umum= gelisah dan tampak meringis namun nyeri
nonkolik
 USG menunjukkan hidronefrosis dextra.

 BNO-PIV : tampak bayangan radio opak Lumbal III dektra,


 Terdapat hidronefrosis ren dektra grade II
 Suhu : 38,7 C
 Skala Nyeri 7
3. Diagnosa Keperawatan

1. Nyeri berhubungan dengan iskemi ditandai dengan Ny. F


mengeluhan nyeri pinggang kanan. Nyeri hilang timbul dan menjalar
ke perut. Ny. F mengaku 4 bulan yang lalu sering mengalami nyeri
yang sama, dan nyeri hialang setelah diberikan obat penghilang rasa
nyeri dari dokter. Nyeri dirasakan bertambah berat dalam 2 hari ini dan
tidak menghilang dengan obat yang biasa dimakan. Kondisi umum=
gelisah dan tampak meringis namun nyeri nonkolik.. Palpasi abdomen:
nyeri tekan kuadaran kanan atas (+), Perkusi abdomen: timpani pada
abdomen dan nyeri ketok CVA dexter (+)
2. Hipertermi berhubungan dengan infeksi ditandai dengan Ny. F
mengeluh demam, Suhu= 38,70C, Leukosit = 15.000/mm3,
3. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan obstruksi ditandai
dengan Ny. F mengeluh mual dan muntah sekitar 4-5 kali sejak 1 hari
yang lalu. Abdomen: inspeksi=flatuensi (+). Auskultasi : bising usus
menurun.Ny. F mengeluh air kencing keruh dan 0liguri (+) dg jumlah
sekitar 400ml/24 jam. USG menunjukkan hidronefrosis dextra. BNO-
PIV : tampak bayangan radio opak Lumbal III dektra, Terdapat
hidronefrosis ren dektra grade II, RR 28 x /i HR 102x/i suhu 38,7 C