Anda di halaman 1dari 21

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pengelihatan merupakan indera yang penting untuk kelangsungan hidup
manusia. Kesehatan indera pengelihtan wajib dijaga karena mata merupakan jalur
utam penyerapan informasi (Wahyu,2007). Bedasarkan data WHO (2014) katarak
menjadi penyebab utama angka kebutaan di seluruh dunia yakni mencapai 51%.
Katarak sebagian besar terjadi akibat proses penuaan dan umumnya dialami oleh
seseorang yang mengalami usia lanjut yakni pada usia di atas 60 tahun
(Riyanto,2008). Katarak adalah opasitas pada lensa kristalina mata yang normalnya
jernih (Smeltzer, Suzanne, 2002). Apabila lensa mata kehilangan sifat beningnya
maupun kejernihannya maka pengelihatan klien dapat berkabut atau tidak dapat
melihat sama sekali sehingga mengakibatkan kebutaaan.
Menurut WHO (2014) angka kebutaan yang terjadi paling banyak akibat
katarak terbesar dilamai oleh negara-negara di Mediterania Timur (8,5) per juta
populasi, negara di Afrika (7,3) per juta populasi dan Asia Tenggara (6,9) per juta
populasi. Penduduk Indonesia memiliki kecenderungan mengalami katarak 15
tahun lebih cepat dibanding penduduk di daerah subtropis karena paparan sinar UV
yang relatif tinggi (INFODATIN,2014). Hasil RISKESDAS pada tahun 2013
ditemukan bahwa prevalensi katarak di Provinsi Jawa timur mencapai 1,6%
(INFODATIN,2014).
Menurut Mansjoer (2000) Katarak dapat disebabkan oleh berabagai faktor
baik faktor penuaan, paparan sinar UV pada lensa, genetik, kelainan sitemik atau
metabolik seperti diabetes mellitus, penggunaan obat tertentu seperti steroid dalam
jangka waktu yang lama, serta trauma mata baik yang terkena benda tajam maupun
tumpul. Beberapa faktor tersebut dapat membuat lensa mata kehilangan sifat atau
kejernihannya, sehingga menjadi keruh atau berkabut. Pembentukan katarak
ditandai dengan adanya sembab lensa, perubahan protein, terganggunya
keseimbangan normal pada serabut-serabut lensa sehingga lensa mengalami
1
kekeruhan atau berkabut (Ilyas,2010). Akibatnya, pengelihatan seseorang menjadi
berkurang atau bahkan dapat mengalami kebutaan. Hal tersebut tentu dapat
menggangu seseorang dalam pemenuhan aktivitas sehari-hari.
Operasi adalah satu-satunya cara yang digunakan untuk menyembuhkan
katarak. Terdapat empat macam teknik operasi yang digunakan pada katarak yaitu
operasi Extracapsular Catarak Extraction (ECCE), Intracapsular Catarak
Extraction (ICCE), Small Incision Cataract Surgery (SICS), dan Fakoelmisifiaksi.
Untuk mengatasi adanya komplikasi seperti infeksi setelah operasi, kegagalan
mekanis, dan kegagalan fungsional selama operasi maka diperlukan pemantauan
kelancaran operasi baik sebelum, saat dan sesudah operasi. Maka dari itu, penulis
akan melakukan pemberian asuhan keperawatan perioperatif pada klien katarak di
Instalasi Bedah Sentral Elektif RSD dr. Soebandi Jember dengan memakai metode
pembedahan Extracapsular Catarak Extraction (ECCE).
1.2 Rumuasan Masalah
Rumusan masalah pada penulisan laporan ini, sebagai berikut :
Bagaimana pemberian asuhan keperawatan pada klien katarak di IBS RSD dr.
Soebandi Jember?
1.3 Tujuan
Tujuan dari penulisan laporan ini, sebagai berikut:
1.3.1 Tujuan Umum :
Tujuannya adalah untuk mengetahui pemberian asuhan keperawatan pada klien
katarak.
1.3.2 Tujuan Khusus :
1. Mengetahui penatalaksanaan pada penderita katarak.
2. Mengetahui asuhan keperawatan pada klien katarak meliputi pre-operatif,
intra-operatif, dan post-operatif.
1.4 Manfaat
Berdasarkan tujuan laporan, maka manfaat penulisan laporan ini:
1. Bagi Perawat
Dapat mengaplikasikan pemberian asuhan keperawatan pada klien katarak.
2. Bagi Instansi Pendidikan dan Rumah Sakit
Dapat mengetahui pemberian asuhan keperawatan dan penerapan ilmu
keperawatan terhadap klien dengan katarak.
3. Bagi Penulisan

2
Dapat memberikan pengetahuan bagaimana pelaksanaan pemberian asuhan
keperawatan pada klien dengan katarak

BAB 2

TINJAUAN TEORI

2.1 Anatomi Mata


Mata adalah organ penglihatan yang mendeteksi cahaya. Sesuatu yang dilakukan
mata dan paling sederhana tak lain hanya mengetahui apakah lingkungan sekitarnya
adalah terang atau gelap. Mata yang lebih kompleks dipergunakan untuk memberikan
pengertian visual (Tamsuri,2010).

3
1. Bagian Luar Mata

Gambar 1. Bagian Luar Mata


a. Alis mata
b. Kelopak Mata
c. Kelenjar air mata
d. Bulu mata

2. Bagian dalam mata


Bagian-bagian pada organ mata bekerjasama mengantarkan cahaya dari sumbernya
menuju ke otak untuk dapat dicerna oleh sistem saraf manusia. Bagian-bagian tersebut
adalah:

a. Kornea
1. Merupakan bagian terluar dari bola mata yang menerima cahaya dari sumber
cahaya. Jaringan bening, avaskular, membentuk 1/6 bagian depan bola mata,
dengan diameter 11 mme. Merupakan kelanjutan sklera. Pertemuan kornea
sklera : limbus. Pemberian nutrisinya melalui aquous humour & air mata.
Kornea memiliki susuanan berupa 5 lapisan yakni: epitel, membran Bowman,
stroma, membrana Descemet, & endothelium (James,2006).

Gambar 2. Bagian dalam Mata


b. Sklera

4
Sklera merupakan jaringan ikat dengan serat yang kuat; berwarna putih buram (tidak
tembus cahaya), kecuali di bagian depan bersifat transparan, disebut kornea
(James,2006).

c. Konjungtiva
Konjungtiva adalah membrana mukosa (selaput lendir) yang melapisi kelopak dan
melipat ke bola mata untuk melapisi bagian depan bola mata sampai limbus.
Konjungtiva ada 2, yaitu konjungtiva palpebra (melapisi kelopak) dan konjungtiva
bulbar (menutupi bagian depan bola mata). Fungsi konjungtiva adalah proteksi pada
sklera dan memberi pelumasan pada bola mata. Konjungtiva mengandung banyak
pembuluh darah (Tamsuri,2010).

d. Kornea

Kornea merupakan struktur trasnparan yang menterupai kubah, merupakan


pembungkus dari iris, pupil, bilik anterior serta membantu memfoukskan cahaya.
e. Pupil dan iris
Dari kornea, cahaya akan diteruskan ke pupil. Pupil menentukan kuantitas cahaya
yang masuk ke bagian mata yang lebih dalam. Pupil mata akan melebar jika kondisi
ruangan yang gelap, dan akan menyempit jika kondisi ruangan terang. Lebar pupil
dipengaruhi oleh iris di sekelilingnya. Iris berfungsi sebagai diafragma (Vaughan,2005).
Iris inilah terlihat sebagai bagian yang berwarna pada mata.

Gambar 3. Pupil

5
Menurut Vaughan (2005) Iris adalah membrana sirkuler yg berwarna, terletak di
belakang kornea, tepat di depan lensa. Pada bagian pusatnya terdapat lubang yg disebut
pupil. Iris membagi ruangan yg berisi humor akuos antara kornea & lensa menjadi 2,
yaitu kamera anterior & kamera posterior. Iris terdiri dari jaringan halus yang
mengandung sel-sel pigmen, otot polos, pembuluh darah & saraf. Warna iris tergantung
pada susunan pigmen iris. Otot pada iris adalah otot polos yang tersusun sirkuler &
radier. Otot sirkuler bila kontraksi akan mengecilkan pupil, dirangsang oleh cahaya
sehingga melindungi retina terhadap cahaya yang sangat kuat. Otot radier dari tepi
pupil, bila kontraksi menyebabkan dilatasi pupil. Bila cahaya lemah, otot radier akan
kontraksi, sehingga pupil dilatasi untuk memasukkan cahaya lebih banyak. Fungsi dari
iris yaitu mengatur jumlah cahaya yang masuk ke mata.

f. Badan Siliar
Berfungsi unauk menghubungkan koroid dengan iris. Tersusun dalam lipatan-lipatan
yang berjalan radier ke dalam, meyusun prosesus siliaris yang mengelilingi tepi lensa.
Prosesus ini banyak mengandung pembuluh darah & saraf. Badan siliar menghasilkan
akuos humour (James,2006).

Gambar 4. Badan siliar


g. Koroid
Koroid adalah membran berwarna coklat, yang melapisi permukaan dalam sklera.
Mengandung banyak pembuluh darah & sel-sel pigmen yg memberi warna gelap.
Koroid berfungsi untuk memberi nutrisi ke retina & badan kaca, & mencegah refleksi
internal cahaya (Vaughan,2005).

h. Aquous humour dan Viterus humor

6
Tekanan mata dipengaruhi tekanan badan kaca pada posterior mata & aquous humor yg
mengisi kamera anterior (bilik depan) (James, 2006). Aquous humor merupakan cairan
encer dan jernih yang mengalir di antara lensa dan kornea (mengisi segmen anterior
bola mata) serta merupakan sumber makanan bagi lensa dan korne yang dihasilkan oleh
processus ciliaris. Sedangan vitreou humor adalah gel transparan yang terdapat di
belakang lensa dan di depan retina (mengisi segmen posterior mata)

i. Lensa mata
Lensa mata berbentuk bikonveks, avaskular, tembus pandang dengan dimater 9mm dan
tebal 5mm. Lensa mata menerima cahaya dari pupil dan meneruskannya pada retina.
Fungsi lensa mata adalah mengatur fokus cahaya, sehingga cahaya jatuh tepat pada
bintik kuning retina. Untuk melihat objek yang jauh (cahaya datang dari jauh), lensa
mata akan menipis. Sedangkan untuk melihat objek yang dekat (cahaya datang dari
dekat), lensa mata akan menebal (Tamsuri,2010). Ke deapan berhubungan dengan
cairan bilik mata ke belakang berhubungan dengan badan kaca. Digantung oleh zunula
zinii (ligamentum suspensorium lentis) yang menghubungkan dengan korpus siliaris.
Lensa diliputi kapsula lentis yang semipermeabel nuntuk memperoleh air dan elektrolit
yang masuk. Di sebelah depan terdapat sel epitel subkapsular. Nukleus lensa lebih keras
daripada korteksnya.

Gambar 5. Lensa mata


j. Retina

7
Retina adalah bagian mata yang paling peka terhadap cahaya, khususnya bagian retina
yang disebut bintik kuning. Setelah retina, cahaya diteruskan ke saraf optic
(Tamsuri,2010).

k. Saraf optik
Gambar
Saraf yang memasuki sel tali dan kerucut 6. Retina
dalam retina, untuk menuju ke otak. Saraf
optikus menghubungkan retina dengan cara membelah jalurnya. Sebagian serat saraf
menyilang ke sisi yang berlawanan pada kiasma optikus (suatu daerah yang berada tepat
di bawah otak bagian depan). Kemudian sebelum sampai ke otak bagian belakang,
berkas saraf tersebut akan bergabung kembali (Vaughan, 2005).

2.2 Tinjauan Teori Katarak


2.2. 1 Definisi
Menurut Mansjoer (2008), katarak adalah setiap keadaan kekeruhan pada lensa
yang dapat terjadi akibat hidrasi (panambahan cairan) lensa, denaturasi protein lensa,
atau akibat kedua-duanya. Biasanya mengenai kedua mata dan berjalan progresif.
Menurut Ilyas (2009) katarak berasal dari bahasa Yunani, Katarrhakies yang berarti air
terjun. Katarak adalah opasitas pada lensa kristalina mata yang normalnya jernih
(Smeltzer, Suzanne, 2002).
Opasifikasi lensa mata (katarak) merupakan penyebab tersering kebutaan yang
dapat diobati di seluruh dunia. Sebagian besar katarak timbul pada usia tua sebagai akibat
pajanan kumulatif terhadap pengaruh lingkungan dan pengaruh lainnya seperti merokok,
radiasi UV, dan peningkatan kadar gula darah. Terkadang inilah yang disebut katarak yang
terkait dengan usia. Sejumlah kecil berhubungan dengan penyakit mata atau penyakit
sistemik spesifik dan memliki mekanisme fisikokimiawi yang jelas. Beberapa diantaranya
bersifat kengenital dan dapat diturunkan (James, 2006).
Katarak merupakan keadaan dimana terjadi kekeruhan pada serabut atau bahan
lensa di dalam kapsul lensa. Umumnya terjadi akibat proses penuaan yang terjadi pada
8
orang yang berusia lebih dari 65 tahun. Penyebab kekeruhan lensa bisa disebabkan oleh
gangguan perkembangan dan metabolisme dasar lensa atau akibat sekunder dari tindakan
pembedahan lensa, penggunaan kortikosteroid jangka panjang, dan penyakit lokal atau
umum (Vaughan dalam Mansjoer & Sari, 2009).

2.2.2 Klasifikasi
Klasifikasi katarak menurut Vaughan (2005) terbagi atas:
a. Katarak terkait usia (katarak senilis)
Katarak senilis adalah jenis katarak yang paling sering dijumpai dan terjadi pada
usia diatas 55 tahun (Depkes RI, 2005). Pada usia lanjut banyak terjadi perubahan pada
lensa mata, antara lain peningkatan massa dan ketebalan lensa serta penurunan
daya akomodasi. Hal tersebut yang mengakibatkan semakin tingginya kejadian katarak
pada usia lanjut. Satu-satunya gejala adalah distorsi penglihatan dan penglihatan yang
semakin kabur.
b. Katarak anak-anak
Katarak anak- anak dibagi menjadi dua kelompok, yaitu:
1. Katarak kongenital, yang terdapat sejak lahir atau segera sesudahnya.
Banyak katarak kongenital yang tidak diketahui penyebabnya walaupun
mungkin terdapat faktor genetik, yang lain disebabkan oleh penyakit infeksi atau
metabolik, atau berkaitan dengan berbagai sindrom.
2. Katarak didapat, yang timbul belakangan dan biasanya terkait dengan sebab-
sebab spesifik. Katarak didapat terutama disebabkan oleh trauma, baik tumpul
maupun tembus. Penyebab lain adalah uveitis, infeksi mata didapat, diabetes dan
obat.
c. Katarak Taumatik
Katarak traumatik paling sering disebabkan oleh cedera benda asing di lensa atau
trauma tumpul terhadap bola mata. Lensa menjadi putih segera setelah masuknya
benda asing karena lubang pada kapsul lensa menyebabkan humor aqueus dan
kadang-kadang korpus vitreum masuk kedalam struktur lensa.

9
d. Katarak komplikata
Katarak komplikata adalah katarak sekunder akibat penyakit intraokular pada
fisiologi lensa. Katarak biasanya berawal didaerah sub kapsul posterior dan
akhirnya mengenai seluruh struktur lensa. Penyakit-penyakit intraokular yang
sering berkaitan dengan pembentukan katarak adalah uveitis kronik atau rekuren,
glaukoma, retinitis pigmentosa dan pelepasan retina.
e. Katarak akibat penyakit sistemik
Katarak bilateral dapat terjadi karena gangguan-gangguan sistemik berikut: diabetes
mellitus, hipoparatiroidisme, distrofi miotonik, dermatitis atropik, galaktosemia, dan
syndrome Lowe, Werner atau Down.
f. Katarak toksik
Katarak toksik jarang terjadi. Banyak kasus pada tahun 1930-an sebagai
akibat penelanan dinitrofenol (suatu obat yang digunakan untuk menekan nafsu
makan). Kortikosteroid yang diberikan dalam waktu lama, baik secara sistemik
maupun dalam bentuk tetes dapat menyebabkan kekeruhan lensa.
g. Katarak ikutan
Katarak ikutan menunjukkan kekeruhan kapsul posterior akibat katarak traumatik
yang terserap sebagian atau setelah terjadinya ekstraksi katarak ekstrakapsular.

Klasifikasi katarak berdasarkan tingkat perkembangan katarak (Djing, 2006):


a. Katarak insipien, yaitu lensa yang kekeruhannya ringan;
b. Katarak imatur, yaitu lensa yang kekeruhannya sebagian dan masih memiliki bagian
yang jernih;
c. Katarak matur, yaitu seluruh lensa sudah keruh;
d. Katarak hipermatur, yaitu ada bagian permukaan lensa yang sudah merembes
melalui kapsul lensa dan bisa menyebabkan peradangan pada struktur mata yang
lainnya.

2.2.3 Etiologi

10
Menurut Mansjoer (2008) (yanof, et all, 2004), penyebab terjadinya katarak
bermacam-macam, yaitu sebagai berikut:

a. Usia lanjut
Katarak umumnya terjadi pada usia lanjut (katarak senil). Dengan bertambahnya
usia lensa akan mengalami proses menua, di mana dalam keadaan ini akan menjadi
katarak.
b. Kongenital
Katarak dapat terjadi secara kongenital akibat infeksi virus di masa pertumbuhan
janin
c. Genetic
Pengaruh genetik dikatakan berhubungan dengan proses degenerasi yang timbul
pada lensa.

d. Diabetes mellitus
Diabetes mellitus dapat mempengaruhi kejernihan lensa, indeks refraksi, dan
amplitudo akomodatif. Dengan meningkatnya kadar gula darah, maka meningkat
pula kadar glukosa dalam aquous humor. Oleh karena glukosa dari akuos masuk ke
dalam lensa dengan cara difusi, maka kadar glukosa dalam lensa juga meningkat.
Sebagian glukosa tersebut dirubah oleh enzim aldose reduktase menjadi sorbitol,
yang tidak dimetabolisme tapi tetap berada dalam lensa.
e. Merokok
Merokok dan mengunyah tembakau dapat menginduksi stress oksidatif dan
dihubungkan dengan penurunan kadar antioksidan, askorbat dan karetenoid.
Merokok menyebabkan penumpukan molekul berpigmen 3 hydroxykhynurine dan
chromophores, yang menyebabkan terjadinya penguningan warna lensa. Sianat
dalam rokok juga menyebabkan terjadinya karbamilasi dan denaturasi protein.
f. Konsumsi alcohol

11
Peminum alkohol kronis mempunyai risiko tinggi terkena berbagai penyakit mata,
termasuk katarak. Dalam banyak penelitian alkohol berperan dalam terjadinya
katarak. Alkohol secara langsung bekerja pada protein lensa dan secara tidak
langsung dengan cara mempengaruhi penyerapan nutrisi penting pada lensa.

2.2.4 Tanda dan gejala


Menurut James (2006), tanda dari katarak salah satunya yaitu tajam penglihatan
berkurang. Pada beberapa pasien, tajam penglihatan yang diukur diruangan gelap
mungkin tanpak memuaskan, sementara bila tes tersebut dilakukan dalam keadaan terang
maka tajam penglihatan akan menurun sebagai akibat dari rasa silau dan hilangnya
kontras.
Gejala yang juga menyertai menurut James (2006) yaitu suatu opasitas pada lensa
mata, seperti:
a. Menyebabkan hilangnya penglihatan tanpa rasa nyeri;
b. Menyebabkan rasa silau;
c. Dapat mengubah kelainan refraksi.
Anies (2006) juga mengemukakan bahwa tanda dan gejala yang dapat
ditemukan pada penderita katarak adalah sebagai berikut (Anies, 2006):
a. Penglihatan menjadi tidak jernih;
b. Penurunan tajam penglihatan;
c. Saat malam hari penglihatan akan menjadi silau ketika terkena sinar;
b. Penglihatan seperti terhalang tabir asap, dimana tabir asap ini semakin
lama dirasakan semakin tebal;
c. Pada katarak yang terus berkembang, penderita akan merasakan bahwa
penglihatannya seperti berasap, berkabut, bahkan matahari seakan terlihat di balik
kabut tebal.

2.2.5 Patofisiologi
Lensa menghantarkan, menyaring serta memfokuskan cahaya pada retina. Lensa
memiliki indeks refraksi yang tinggi dan transparan karena terdiri dari protein α,β,γ. Sel

12
lensa pada dasarnya berbentuk epitel. Sebuah lapisan sel kuboid ditemukan di
permukaan anterior lensa dibawah kapsul. Mereka ternukleasi, aktif membelah dan
meemerankan sejumlah peran penting dalam aktivitas metabolik sel.sedangan sel kubid
zona equator lensa terdiferensiasi dan memanjang hinggaserat sel lensa, dan mereka
kehilangan nuklei dan organel intraseluler mereka seperti mitokondria, akibatnya
kebanyakan lensa terdiri dari serat lensa yang matang yang memiliki kemampuan
rendah untuk melakukan fungsi metabolik seperti sintesis protein dan produksi energi.
Serat-serat lensa terdorong pada inferior lensa serta tertekan seperti serat baru yang
terendap. Ketika umur serat lensa bertambah maka perubahan biokimia, fisiologi dan
strukur dapat terjadi (Duker., et all, 2004).
Pada lansia, seiring dengan bertambahnya usia, terjadi penurunan fungsi fisiologis
mekanisme transport aktif lensa, sehingga mengakibatkan rasio NA+ dan K+
berkebalikan. Ketidakseimbangan antara jumlah NA+ dan K+ membuat hidrasi serat
lensa menurun, sehingga membuat ketebalan dan berat lensa meningkat, serta daya
akomodasi lensa menurun. Selain itu bertambahnya usia mengakibatkan jumlah paparan
lensa terhadap sinar UV meningkat. Hal tersebut mengakibatkan reaksi reduksi oksidatif
yang dapat mengurangi kandungan asam amino yang penting dalam metabolisme lensa.
Akibatnya terjadi pengurangan sintesis protein dalam serat lensa. Kedua mekanisme
tersebut mengakibatkan denaturasi protein lensa yang mengakibatkan opasifikasi pada
serat lensa kortikal (Duke., et all, 2004).
Pada katarak akibat trauma akan terjadi perubahan fisik dan kimia dalam lensa.
Perubahan pada serabut halus multipel atau biasa disebut zunula yang memanjang
dari badan silier ke sekitar daerah diluar lensa, misalnya dapat menyebabkan
penglihatan mengalami distorsi, sedangkan perubahan kimia dalam protein lensa dapat
menyebabkan koagulasi, sehingga menghambat jalannya cahaya ke retina sehingga
pandangan seperti terhambat oleh kabut (Ilyas, 2007).
Pada peyakit sistemik seperti diabetes meliitus, kataarak dapat terjadi akibat
hiperglikemia yang menyebabkan glukosa terdifusi pada lensa dan dirubah menjadi
sorbitol dan kemudian terakumulasi menjadi serat tensa, air yang masuk ke lensa pada
13
tekanan osmotik yang tidak seimbang mengaibatkan serat lensa tertekan kemudian
ruptur (Duke., et all, 2004).
Sedagkan pada katarak kongenital maupun juvenil penyebabnya dapat berupa hereditas
(autosomal dominan atau resesif) atau berhubunganndengan gangguan sistemik seperti
galaktosemia, rubela. Pada katarak kongenitas penyebab terbanayk biasanya ditemukan
akibat faktor ingeksi maternalseperti penyakit rubela (Duke., et all, 2004). Katarak
bersifat konginetal dan harus diidentifikasi lebih awal karena bila tidak terdiagnosa
dapat menyebabkan ambliopia dan kehilangan penglihatan permanen (Smeltzer, 2000
dalam Siswoyo 2013).

2.2.6 Pemeriksaan Penunjang


Pemeriksaan yang dilakukan pada pasien katarak adalah pemeriksaan sinar celah
(slitlamp), funduskopi pada kedua mata bila mungkin, dan tonometer selain daripada
pemeriksaan prabedah yang diperlukan lainnya seperti adanya infeksi pada kelopak
mata, konjungtiva, karena dapat penyulit yang berat berupa panoftalmitis pascabedah
dan fisik umum (Ilyas, 2009).
Pada katarak sebaiknya dilakukan pemeriksaan tajam penglihatan sebelum
dilakukan pembedahan untuk melihat apakah kekeruhan sebanding dengan turunnya
tajam penglihatan yang tidak sesuai, sehingga mungkin penglihatan yang turun akibat
kelainan pada retina dan bila dilakukan pembedahan memberikan hasil tajam
penglihatan yang tidak memuaskan (Ilyas, 2009).

2.2.7 Komplikasi
Komplikasi pascaoperasi katarak menurut James (2006) antara lain:
a. Hilangnya Vitreous
Jika kapsul posterior mengalami kerusakan selama operasi maka gel vitreous dapat
masuk ke dalam bilik anterior yang merupakan risiko terjadinya glaukoma atau traksi
pada retina. Keadaan ini membutuhkan pengangkatan dengan satu instrumen yang
mengaspirasi dan mengeksisi gel. Pemasangan lensa intraokuler sesegera mungkin tidak

14
bisa dilakukan pada kondisi ini.
b. Prolaps iris
Iris dapat mengalami protrusi melalui insisi bedah pada periode pascaoperasi dini.
Terlihat sebagai daerah berwarna gelap pada lokasi insisi. Pupil akan mengalami distorsi.
Keadaan ini membutuhkan perbaikan segera dengan pembedahan.
c. Endoftalmitis
Komplikasi infektif ekstraksi katarak yang serius namun jarang terjadi (kurang dari
0,3%). Pasien datang dengan: mata merah yang terasa nyeri, penurunan tajam
penglihatan, pngumpulan sel darah putih di bilik anterior.
Pasien membutuhkan penilaian mata segera, pengambilan sampel akueous dan
vitreous untuk analisis mikrobiologi, dan terapi dengan antibiotik intravitreal, topikal dan
sistemik.
d. Astigmatisme Pascaoperasi
Diperlukan pengangkatan jahitan kornea untuk mengurangi astigmatisme kornea.
Ini dilakukan sebelum melakukan pengukuran kacamata baru namun setelah luka insisi
sembuh dan tetes mata steroid dihentikan. Kelengkungan kornea yang berlebih dapat
terjadi pada garis jahitan bila terlalu erat.
e. Edema Makular Sistoid
Makula menjadi edema setelah pembedahan, terutama bila disertai hilangnya
vitreous. Dapat sembuh seiring berjalannya waktu, namun juga dapat menyebabkan
penurunan tajam penglihatan yang berat.
f. Ablasio Retina
Teknik-teknik modern dalam ekstraksi katarak dihubungkan dengan rendahnya
tingkat komplikasi ini. Tingkat kompliakasi ini bertambah apabila terjadi hilangnya
vitreous.
g. Opasifikasi Kapsul Posterior
Pada sekitar 20 % pasien katarak, kejernihan kapsul posterior berkurang pada
beberapa bulan setelah pembedahan ketika sel epitel residu bermigrasi mealalui
permukaannya. Penglihatan menjadi kabur dan mungkin didapatkan rasa silau. Dapat
15
dibuat lubang kecil pada kapsul dengan menggunakan laser sebagai prosedur klinis rawat
jalan.
Jika jahitan nilon halus tidak diangkat setelah pembedahan maka jahitan dapat lepas
dalam beberapa bulan atau tahun setelah pembedahan dan mengakibatkan iritasi atau
infeksi. Gejala hilang dengan pengangkatan jahitan.

2.2.8 Penatalaksanaan
Berbagai usaha telah banyak dilakukan untuk memperlambat terjadinya katarak,
tatalaksana masih tetap dengan pembedahan. Tidak perlu menunggu katarak menjadi
matang. Dilakukan tes untuk menentukan apakah katarak menyebabkan gejala visual
sehingga mengakibatkan penurunan kualitas hidup. Pasien mungkin mengalami kesulitan
dalam mengenali wajah, membaca, atau mengemudi. Beberapa pasien sangat terganggu
oleh rasa silau. Pasien diberikan informasi mengenai semua penyakit mata yang dapat
terjadi bersamaan sehingga bisa mempengaruhi hasil pembedahan katarak (James, 2006).
Mansjoer (2008) juga mengatakan bahwa tidak terdapat pengobatan untuk
katarak, meskipun ada yaitu dengan teknik pembedahan. Pembedahan dapat dilakukan
bila tajam penglihatan sudah menurun sedemikian rupa sehingga mengganggu
pekerjaan sehari-hari atau bila telah menimbulkan penyulit seperti glaukoma dan
uveitis. Katarak hanya dapat diatasi melalui prosedur operasi. Akan tetapi jika gejala
katarak tidak mengganggu, tindakan operasi tidak diperlukan. Kadang kala cukup
dengan mengganti kacamata. Sejauh ini tidak ada obat-obatan yang dapat menjernihkan
lensa yang keruh. Namun, aldose reductase inhibitor, diketahui dapat menghambat
konversi glukosa menjadi sorbitol, sudah memperlihatkan hasil yang menjanjikan
dalam pencegahan katarak gula pada hewan. Obat anti katarak lainnya sedang diteliti
termasuk diantaranya agen yang menurunkan kadar sorbitol, aspirin, agen glutathione-
raising, dan antioksidan vitamin C dan E (Khalilullah, 2010).
Operasi katarak terdiri dari pengangkatan sebagian besar lensa dan penggantian
lensa dengan implan plastik. Saat ini pembedahan semakin banyak dilakukan dengan
anestesi lokal daripada anestesi umum. Anestesi lokal diinfiltrasikan di sekitar bola mata
dan kelopak mata atau diberika secara topikal. Jika keadaan pasien memungkinkan,
16
pasien dapat dirawat sebagai kasus perawatan sehari dan tidak memerlukan perawatan
rumah sakit (James, 2006).

Ada beberapa jenis operasi yang dapat dilakukan, yaitu sebagai berikut:
a. Intracapsular Cataract Extraction (ICCE)
Ekstraksi katarak intrakapsular (IKEK) atau Intracapsular Cataract Extraction
(ICCE) merupakan pengangkatan lensa dari mata secara keseluruhan, termasuk
kapsul lensa dikeluarkan secara utuh. Dapat dilakukan pada zonula zinn telah rapuh
atau telah terjadi degenerasi serta mudah diputus. Untuk keperluan ini
dipergunakan cara cryo (alat pendingin) atau pinset lensa yang ditempelkan pada
lensa kemudian ditarik keluar perlahan-lahan. Hanya digunakan pada katarak matur
atau luksasio lentis. Ekstraksi katarak intrakapsular ini tidak boleh dilakukan atau
memiliki kontraindikasi pada pasien berusia kurang dari 40 tahun yang masih
mempunyai ligamentum kialoidea kapsuler. Penyulit yang terjadi pada pembedahan
ini adalah astigmatisma, glaucoma uveitis, endophtalmitis, dan perdarahan. Cara ini
sudah banyak ditinggalkan karena banyaknya komplikasi termasuk vitreus prolaps,
disamping pasien masih harus memakai kacamata afakia yang tebal (Lumenta,
2006).
b. Extracapsular Catarak Extraction (ECCE)
Ekstraksi katarak ekstrakapsular (EKEK) atau Extracapsular Catarak Extraction
(ECCE) merupakan tindakan pembedahan pada lensa katarak, dimana dilakukan
pengeluaran isi lensa dengan memecah atau merobek kapsul lensa anterior sehingga
masa lensa atau korteks lensa dapat keluar melalui robekan tersebut. Teknik ini
bisa dilakukan pada semua stadium katarak kecuali pada luksasio lentis. Indikasi
opersi ECCE ini sering dilakkan pada hard nuclei cataract dan pada katarak bayi.
Pembedahan ini memungkinkan diberi lensa tanam (IOL) untuk pemulihan visus.
Kelebihan dari prosedur ii antara lain angka kejadiab ablasio retna serta kompilkais
vitreous di BMD lebh jarang dibanding ICCE. Komplikasi lebih jarang timbul
durante operasi dibanding IKEK (Lumenta, 2006).

17
c. Small Incision Cataract Surgery (SICS)
Small Incision Cataract Surgery merupakan upaya untuk mengeluarkan nukleus
lensa dengan panjang sayatan sekitar 5-6 mm, dengan inovasi peralatan yang lebih
sederhana, seperti anterior chamber maintainer (ACM), irigating vectis, nucleus
cracer, dan lain-lain (Soekardi & Hutauruk, 2004).
d. Fakoemulsifikasi
Fakoemulsifikasi merupakan likuifikasi lensa menggunakam probe ultrasonografi
yang dimasukkan melalui insisi yang lebih kecil di kornea atau sklera anterior.
Biasanya tidak dibutuhkan penjahitan. Sekarang metode ini merupakan metode
pilihan di negara barat (James, 2006).

2.2.9 Pendidikan Kesehatan pada pasien Katarak


a. Pencegahan Katarak
1) Mengkonsumsi buah-buahan yang mengandung vitamin C, sayuran hijau, kacang-
kacangan, susu, hati, vitamin E.
2) Mengontrol gula darah, penderita diabetes melitus.
3) Tidak merokok dan menghindari asap rokok.
4) Tidak mengkonsumsi obat kortikosteroid jangka panjang.
5) Mencegah trauma langsung terhadap mata.
6) Kurangi paparan langsung sinar UV.
7) Deteksi dini katarak ke Dokter Spesialis Mata

b. Hal yang boleh dilakukan setelah operasi katarak


1) Memakai dan meneteskan obat seperti yang dianjurkan oleh dokter
2) Melakukan pekerjaan ringan
3) Bila memakai sepatu jangan membungkuk, tapi mengangkat kaki ke atas
c. Hal yang boleh dilakukan setelah operasi katarak
1) Jangan menggosok mata
2) Jangan membungkuk terlalu dalam
18
3) Jangan menggendong barang-barang berat atau melakukan pekerjaan berat
4) Jangan membaca yang berlebihan dari biasanya
5) Jangan mengedan terlalu keras saat buang air besar
6) Jangan berbaring ke sisi mata yang baru dilakukan pembedahan atau operasi.

2.3 Asuhan Keperawatan Perioperatif Katarak


2.3.1 Pengkajian
a. Identitas Pasien: nama, umur, jenis kelamin, agama, pendidikan, alamat, pekerjaan,
status perkawinan.
Katarak biasanya lebih banyak pada orang yang berusia lanjut. Pekerjaan yang
sering terpapar sinar ultraviolet akan lebih berisiko mengalami katarak.
b. Riwayat kesehatan: diagnosa medis, keluhan utama, riwayat penyakit sekarang,
riwayat kesehatan terdahulu terdiri dari penyakit yang pernah dialami, alergi,
imunisasi, kebiasaan/pola hidup, obat-obatan yang digunakan, riwayat penyakit
keluarga.
Keluhan utama yang dirasakan yaitu penurunan ketajaman penglihatan dan silau.
c. Riwayat penyakit saat ini
d. Riwayat penyakit dahulu
e. Riwayat penyakit keluarga
Biasanya terdapat keluarga yang lain yang juga mengalami katarak.
f. Genogram
g. Pengkajian Keperawatan:
1) Persepsi kesehatan & pemeliharaan kesehatan
Persepsi kesehatan dan pemeliharaan kesehatan berbeda pada setiap pasien.
2) Pola nutrisi/metabolik
Tidak ada gangguan terkait pola nutrisi dan metabolic pasien.
3) Pola eliminasi
Tidak ada gangguan pada pola eliminasi pasien.
4) Pola aktivitas & latihan
Perubahan aktivitas biasanya/ hobi sehubungan dengan gangguan penglihatan.
5) Pola tidur & istirahat
Tidak ada gangguan pola tidur dan istirahat yang disebabkan oleh katarak.
6) Pola kognitif & perceptual
Gangguan penglihatan (kabur/tak jelas), sinar terang menyebabkan silau dengan
kehilangan bertahap, kesulitan memfokuskan kerja dengan dekat/ merasa di
ruang gelap.
7) Pola persepsi diri
19
Pasien berisiko mengalami harga diri rendah karena kondisi yang dialaminya.
8) Pola seksualitas & reproduksi
Tidak ada gangguan pada pola seksualitas dan reproduksi yang diakibatkan oleh
katarak.
9) Pola peran & hubungan
Pola peran dan hubungan pasien akan terganggu karena adanya gangguan pada
penglihatannya.
10) Pola manajemen & koping stress
Pasien dapat mengalami stress karena pasien tidaka dapat melihat secara jelas
seperti sebelumnya.
11) Sistem nilai dan keyakinan
System nilai dan keyakinan seseorang akan berbeda satu sama lain.
h. Pemeriksaan fisik
1) Keadaan umum, tanda vital
2) Pengkajian Fisik (inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi): kepala, mata, telinga,
hidung, mulut, leher, dada, abdomen, urogenital, ekstremitas, kulit dan kuku, dan
keadaan lokal.
Pada inspeksi mata akan tampak pengembunan seperti mutiara keabuan pada
pupil sehingga retina tak akan tampak dengan oftalmoskop (Smeltzer, 2002).
Katarak terlihat tampak hitam terhadap refleks fundus ketika mata diperiksa
dengan oftalmoskop direk. Pemeriksaan slit lamp memungkinkan pemeriksaan
katarak secara rinci dan identifikasi lokasi opasitas dengan tepat. Katarak terkait
usia biasanya terletak didaerah nukleus, korteks, atau subkapsular. Katarak
terinduksi steroid umumnya
terletak di subkapsular posterior. Tampilan lain yang menandakan penyebab
okular katarak dapat ditemukan, antara lain deposisi pigmen pada lensa
menunjukkan inflamasi sebelumnya atau kerusakan iris menandakan trauma
mata sebelumnya.

2.3.2 Diagnosa Keperawatan


Diagnosa keperawatan yang dapat muncul pada pasien yang mengalami katarak adalah:
a. Ansietas berhubungan dengan stressor: lingkungan dan tindakan operasi
b. Risiko cidera berhubungan dengan disfungsi sensori: penurunan ketajaman
pengelihatan
c. Nyeri akut berhubungan agen injury fisik: tindakan operasi
d. Resiko beinfeksi berhubungan dengan prosedur invasif
20
e. Resiko hipotermia berhubungan dengan temperatur suhu lingkungan
f. Resiko cidera korna berhubungan dengan terpaparnya bola mata, reflek berkedip <
5 kali per menit
g. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya paparan informasi mengenai
katarak dan penanganannya.

21