Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Dalam masyarakat ada komunikasi atau saling hubungan antar anggota.

Untuk keperluan itu dipergunakan suatu wahana yang dinamakan bahasa. Dengan

demikian setiap masyarakat dipastikan memiliki dan menggunakan alat

komunikasi sosial tersebut. Tidak ada masyarakat tanpa bahasa, dan tidak ada

pula bahasa tanpa masyarakat (Soeparno, 2002:5).

Kemampuan berbicara dengan santun memberikan penilaian positif bagi

penuturnya. Kesantunan berbahasa tercermin dalam tatacara berkomunikasi lewat

tanda verbal atau tatacara berbahasa. Tatacara berbahasa sangat penting

diperhatikan para peserta komunikasi (komunikator dan komunikan) demi

kelancaran komunikasi. Dengan mengetahui tatacara berbahasa diharapkan

penutur lebih bisa memahami pesan yang disampaikan dalam komunikasi.

Teori kesantunan berbahasa yang digunakan di Indonesia saat ini

adalah teori kesantunan berbahasa yang berdasarkan sosial budaya Barat sehingga

teori itu tidak sepenuhnya cocok dengan bahasa Indonesia. Setakat ini, belum ada

deskripsi dan penjelasan yang memadai tentang sopan santun bahasa Indonesia

dalam tindak tutur bertanya dan menjawab yang berdasar pada sosial budaya

Indonesia, khususnya sosial budaya Minangkabau.


B. Perumusan Masalah

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Kajian Teori

Masalah penelitian ini berada di bawah bidang ilmu pragmatik, yaitu


cabang linguistik yang membahas penggunaan bahasa (bentuk-bentuk bahasa)
untuk fungsi komunikasi. Teori pragmatik yang terutama dikaji dalam penelitian
ini adalah teori kesantunan berbahasa, tindak tutur , strategi bertutur, dan sosial
budaya Minangkabau.
1. Kesantunan Berbahasa

Konsep teori kesantunan Leech (1983) menempatkan hubungan sosial


sebagi salah satu tujuan tindak tutur. Dia menganggap kesantunan berbahasa
adalah usaha meminimalkan atau meniadakan jatuhnya muka (citra) diri pelaku
tutur saat bertindak tutur. Peminimalan jatuhnya ‘muka’ pelaku tutur dapat
dilakukan dengan mematuhi prinsip kesantunan berbahasa yang terdiri atas
maksim-maksim. (Leech, 1983: 81--139), dan (Cruse (2000:366– 367)
Teori kesantunan berbahasa menurut Leech telah memberikan pedoman-
pedoman untuk berperilaku santun berbahasa secara konkrit, yaitu dengan
mempraktikkan maksim-maksim kesantunan. Hal yang belum mendapatkan
penjelasan yang memadai adalah pada konteks situasi tutur bagaimana dan dalam
konteks budaya mana penggunaan sebuah maksim kesantunan dalam sebuah
tindak tutur bernilai santun dan sebaliknya. Penelitian yang akan dilakukan ini
adalah salah satu upaya untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan itu dengan
objek penggunaan bahasa Indonesia di kalangan anggota etnis Minangkabau di
Sumatera Barat.

Menurut Brown dan Levinson (1987: 64--232), kesantunan berbahasa


berkaitan dengan konsep ‘muka’ (face). ‘Muka’ mengacu kepada citra diri
atau harga diri seseorang. ‘Muka’ dikelompokkan menjadi dua, yaitu muka
positif dan muka negatif. Muka positif mengacu kepada keinginan seseorang
agar dirinya, apa yang dimilikinya, dan apa yang diyakininya dianggap baik oleh
orang lain. Muka negatif mengacu kepada keinginan seseorang agar dirinya
dibiarkan bebas melakukan apa saja yang disenanginya atau dirinya
dibebaskan dari berbagai kewajiban.

Konsep teori Kesantunan Berbahasa Brown dan Levinson terlalu berorientasi


pada budaya Barat yang terlalu mengagungkan ‘muka’ sebagi wujud otonomi diri
yang sangat tinggi. Konsep teori Kesantunan Berbahasa Brown dan Levinson
tidak sepenuhnya cocok untuk menjelaskan perilaku berbahasa Indonesia
Masyarakat Minangkabau yang berbudaya Timur. Nilai-nilai budaya timur
menjunjung tinggi hubungan sosial dan tidak menetapkan otonomi diri yang
berlebihan seperti budaya Barat. Penelitian yang akan dilakukan ini berupaya
untuk menemukan prinsip-prinsip kesantuanan berbahasa Indonesia yang berdasar
pada sosial buadaya Indonesia, khususnya sosial budaya Minangkabau.

Di samping itu, ada dua teori kesantunan berbahasa yang berasal dari nilai-
nilai budaya Timur, yaitu dari nilai-nilai budaya Cina dan Jepang yang perlu
dikaji. Teori kesantunan berbahasa menurut Eelen dan Trosborg. Trosborg (1995:
29) menjelaskan bahwa di kalangan masyarakat yang hubungan anggota
kelompok dan struktur peran merupakan sentral, nosi muka memberikan cara
pengekpresian kesantunan dengan lebih memperhatikan konvensi sosial (seperti
honorifik) daripada strategi interaktif, misalnya bahasa Jepang.

Teori kesantunan berbahasa yang diungkapkan oleh Eelen dan Trosborg


sudah memperhatikan karakteristik budaya Timur. Namun demikian, teori
kesantunan berbahasa itu berdasar pada budaya Cina dan Jepang. Budaya
Indonesia memang tergolong dalam kelompok budaya Timur. Namun demikian,
nilai-nilai budaya Indonesia, khususnya budaya Minangkabau adalah tidak
sepenuhnya sama dengan budaya Cina dan Jepang. Oleh karena itu, diperlukan
penelitian untuk mendeskripsikan dan menjelaskan kesantunan berbahasa
Indonesia yang berdasar budaya Indonesia, khususnya budaya Minangkabau.

2. Tindak Tutur

Teori tindak tutur yang menjadi acuan teoretis di dalam penelitian ini

adalah teori tindak tutur yang dikemukakan oleh Austin (1962) dan Searle (1969).

Baik Austin maupun Searle mempunyai pendapat yang sarna bahwa kegiatan

mengucapkan kata-kata atau kegiatan bertutur adalah sebuah tindakan, yaitu


tindak bertuhu atau tindak tutur (speech act). Austin (1962) mengelompokkan

tindak tutur rnenjadi tiga, yaitu lokusioner, ilokusioner, dan perlokusioner.

a. Tindak lokusioner adalah tindak mengucapkan kata-kata atau mengucapkan

tuturan dengan makna tuturan itu persis sama dengan bunyi tuturan atau

makna yang sesuai dengan kaidah tata bahasa.

b. Tindak ilokusioner adalah tindak tutur yang penutur menumpangkan maksud

tertentu di dalarn tuturan itu di balik makna harfiah tuturan itu.

c. Tindak pedokusioner adalah adalah tindak tutur yang menimbulkan efek

tertentu pada pihak petutur, misalnya takut, benci, kesal, gembira, dan lain-

lain.

Searle (1976) mengkritik pengelompokkan tindak tutur yang dilakukan

oleh Austin di atas. Searle menilai bahwa konsep tindak tutur ilokusioner dan

perlokuisioner adalah kabur. Menurut pandangan Austin, yang menimbulkan efek

tertentu adalah tindak tutur perlokusioner. Sebaliknya, Searle berpendapat bahwa

baik tindak ilokusioner maupun perlokusioner sama-sama menimbulkan dampak

tertentu pada petutur. Sebagai reaksi atas pengelompokan tindak tutur menurut

Austin itu, Searle mengelompokkan tindak tutur menjadi lima jenis, yaitu: (1)

representatif, (2) direktif, (3) ekspresif, (4) komisif, dan (5) deklarasi.

a. Tindak tutur representatif adalah tindak tutur yang mengikat penuturnya atas

kebenaran yang dituturkannya.

b. Tindak tutur direktif adalah tindak tutur yang dilakukan oleh penutur agar

petutur melakukan tindakan yang disebutkan di dalam tuturan itu.


c. Tindak tutur ekspresif adalah tindak tutur yang dilakukan dengan maksud

untuk menilai atau mengevaluasi hal yang disebutkan di dalam tuturannya itu.

d. Tindak tutur kornisif adalah tindak turn yang mengtkat penuturnya untuk

melaksanakan yang disebutkan di dalam tuturannya.

e. Tindak tutur deklarasi adalah tindak tutur yang dilakukan dengan maksud

menciptakan keadaan yang baru

Seperti halnya Searle, Leech juga mengkritisi tindak tutur yang

disampaikan Austin. Dia mempersoalkan penggunaan kata kerja tindak tutur

Austin yang cenderung hanya melihat kata kerja dalam bahasa Inggris

berhubungan satu lawan satu dengan kategori tindak tutur. Leech mengatakan

bahwa dalam klasifikasi Austin ke dalam verdikatif, eksersitif, komisif, behabit,

dan ekspositif mengandung kesalahan kata kerja ilokusi (Lihat Leech, 1983:176).

Menurut Leech, situasi berbeda menuntut adanya jenis-jenis kata kerja berbeda

dan derajat sopan santun yang berbeda juga. Pada tingkat yang paling umum

fungsi ilokusi dapat dibagi menjadi empat jenis, sesuai dengan hubungan fungsi-

fungsi tersebut dengan tujuan-tujuan sosial berupa pemeliharaan perilaku yang

sopan dan terhormat.

Klasifikasi fungsi ilokusi Leech adalah sebagai berikut.

1. Kompetitif (Competitif), tujuan ilokusi bersaing dengan tujuan sosial,

misalnya: memerintah, meminta, menuntut, mengemis.

2. Menyenangkan (convivial), tujuan ilokusi sejalan dengan tujuan sosial,

misalnya: menawarkan/mengajak/mengundang, menyapa, mengucapkan terima

kasih, mengucapkan selamat.


3. Bekerja sama (collaborative), tujuan ilokusi tidak menghiraukan tujuan sosial,

misalnya: menyatakan,melapor,mengumumkan, dan mengajarkan.

4. Bertentangan (conflictive), tujuan ilokusi bertentangan dengan tujuan sosial,

misalnya:mengancam, menuduh, menyumpahi, dan memarahi.

Di antara keempat jenis ilokusi ini yang melibatkan sopan santun ialah

jenis pertama (kompetitif) dan jenis kedua (menyenangkan). Pada ilokusi yang

berfungsi kompetitif, sopan santun mempunyai sifat negatif dan tujuannya ialah

mengurangi ketidakharmonisan yang tersirat dalam kompetisi apa yang ingin

dicapai oleh penutur dan apa yang yang dituntut oleh sopan santun. Yang disebut

tujuan-tujuan kompetitif ialah tujuan-tujuan yang pada dasarnya tidak bertata

krama (discourteous), misalnya meminta pinjaman uang dengan nada memaksa.

Di sini, tata krama dibedakan dengan sopan santun. Tata krama mengacu kepada

tujuan, sedangkan sopan santun mengacu kepada perilaku linguistik atau perilaku

lainnya untuk mencapai tujuan itu. Oleh karena itu, prinsip sopan santun

dibutuhkan untuk memperlembut sifat tidak sopan yang secara intrinsik

terkandung dalam tujuan itu.

Sebaliknya, jenis fungsi ilokusi yang kedua, yaitu fungsi menyenangkan,

pada dasarnya bertata krama. Pada posisi ini, sopan santun lebih positif bentuknya

dan bertujuan untuk mencari kesempatan beramah tamah. Jadi, dalam sopan

santun yang positif, berarti menaati prinsip sopan santun, misalnya bahwa apabila

ada kesempatan mengucapkan selamat ulang tahun, kita harus melakukannya.

Jenis fungsi yang ketiga, yaitu fungsi ilokusi bekerja sama, tidak melibatkan

sopan santun karena pada fungsi ini sopan santun tidak relevan. Sebagian besar
wacana tulisan masuk dalam kategorim ini.

Dalam jenis fungsi ilokusi yang keempat, yaitu fungsi bertentangan, unsur

sopan santun tidak ada sama sekali karena fungsi ini bertujuan untuk

menimbulkan kemarahan. Mengancam atau menyumpahi orang misalnya, tidak

mungkin dilakukan dengan sopan, kecuali penutur menggunakan eufemisme

(penghalus). Agaknya dalam proses sosialisasi, si anak belajar menggantikan

komunikasi yang konfliktif dengan jenis komunikasi lain, khususnya dengan jenis

kompetitif. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa dalam situasi yang normal,

pengaruh linguistik yang konfliktif cenderung bersifat marginal dan tidak

memegang peranan yang penting.

Untuk itu, dalam membicarakan perilaku linguistik yang sopan dan tidak

sopan, perhatian akan dipusatkan khusus pada ilokusi kompetitif dan ilokusi

menyenangkan, dan pada kategori-kategori sopan santun yang negatif dan positif

pada ilokusi-ilokusi tersebut.

Klasifikasi yang dibuat Leech berdasarkan fungsi, sedangkan yang dibuat

Searle berdasarkan pada berbagai kriteria. Menurut Leech, klasifikasi Searle juga

terdapat pengaruh sopan santun.

1. Strategi Bertutur

Brown dan Levinson (1987) merumuskan lima strategi bertutur utama

yang dapat dipergunakan di dalam situasi tutur yang berbeda-beda. Lima strategi

bertutur utama itu adalah (1) bertutur terus terang tanpa basa-basi, (2) bertutur

dengan basa-basi kesantunan positif, (3) bertutur dengan basa-basi kesantunan

negatit (4) bertutur samar-samar, dan (5) diarn atau strategi bertutur di dalam hati.
Strategi bertutur (2), (3) dan (4) masing-masing mempunyai substrategi

yang diuraikan satu per satu berikut ini.

a. Strategi bertutur terus terang dengan basa-basi kesantunan positif dirinci

menjadi 15 substrategi. Lima belas substrategi yang dimaksud adalah (1)

memperhatikan minat, keinginan, atau kebutuhan petutur, (2) melebih-

lebihkan rasa simpati kepada petutur, (3) mengintensi &an perhatian kepada

petutur, (4) menggunakan penanda identitas kelompok yang sama, (5) mencari

kesepakatan, (6) menghindari ketidaksetujuan, (7) menegaskan kesamaan

latar, (8) berguray (9) menyatakan bahwa pengetahuan dan perhatian penutur

adalah sama dengan pengetahuan dan perhatian petutur, (10) menawarkan atau

berjanji, (11) menjadikan optirnis, (12) melibatkan petutur dalam kegiatan

yang dilakukan oleh penutur, (13) memberikan alasan, (14) saling membantu,

(15) memberikan hadiah kepada petutur.

b. Strategi bertutur terus terang dengan basa-basi kesantunan negatif terdiri atas

10 strategi. Sepuluh strategi yang dimaksud adalah (1) menyatakan tuturan

tidak langsung secara konvensional, (2) menggunakan pagar, (3) menyatakan

kepesirnisan, (4) rneminimalkan beban atau paksaan kepada orang lain, (5)

memberikan penghormatan, (6) rneminta maaf, (7) menggunakan bentuk

impersonal (dihindari menggunaan kata ganti saya dan kamu), (8) menyatakan

tindak tutur sebagai ketentuan urnurn, (9) menjadikan rumusan tuturan dalam

bentuk nomina, (10) menyatakan penutur berhutang budi kepada petutur.

c. Strategi bertutur samar-samar dirinci menjadi 15 substrategi. Lima belas

substrategi yang dimaksud adalah (1) menggunakan isyarat, (2) memberikan


petunjuk-petunjuk asosiasi, (3) mempraanggapkan, (4) menyatakan diri

sendiri yang dari kenyataan yang sebenarnya (merendah), (5) meninggikan

petutur lebih dari kenyataan yang sebenarnya (menyanjung), (6) menggunakan

tautologi, (7) menggunakan kontradiksi, (8) menjadikan ironi, (9)

menggunakan metafora, (10) menggunakan pertanyaan retoris, (11)

menjadikan pesan ambigu, (12) menjadikan pesan kabur, (13)

mengeneralisasikan secara berlebihan, (14) mengalihkan petutur, dan (15)

menjadikan tuturan tidak lengkap atau elipsis.

Selain strategi menurut Brown dan Lavinso, Searle (dalam Gunarwan,

1994: 50) mengemukakan dua strategi tindak tutur, yaitu tindak tutur langsung

dan tidak langsung.

a. Tindak Tutur Langsung

Makin tembus pandang atau transparan atau semakin jelas maksud sebuah

ujaran makin langsunglah ujaran itu.

b. Tindak Tutur Tidak Langsung

Makin tidak transparan atau semakin tidak jelas maksud sebuah ujaran makin

tidak langsunglah ujaran itu.

2. Konteks Situasi Tutur

Halliday & Hasan (1994) mengatakan hafiah konteks berarti “something

accompanying text”, yaitu sesuatu yang inheren dan hadir bersama teks, sehingga

dapat diartikan konteks sebagai situasi atau latar terjadinya suatu komunikasi.

Halliday & Hasan (1994) mengatakan yang dimaksud dengan konteks situasi

adalah lingkungan langsung tempat teks itu benar-benar berfungsi. Atau dengan
kata lain, kontek situasi adalah keseluruhan lingkungan, baik lingkungan tutur

(verbal) maupun lingkungan tempat teks itu diproduksi (diucapkan atau ditulis).

Dalam pandangan Halliday (1994: 16), konteks situasi terdiri dari medan

wacana, pelibat wacana, dan modus/sarana wacana.

a. Medan wacana merujuk pada aktivitas sosial yang sedang terjadi atau apa

yang sesungguhnya disibukkan oleh para pelibat.

b. Pelibat wacana merujuk pada orang-orang yang mengambil bagian, sifat para

pelibat, kedudukan dan peran mereka, jenis-jenis hubungan peranan apa yang

terdapat di antara para pelibat.

c. Sarana wacana merujuk pada bagian bahasa yang sedang dimainkan dalam

situasi, termasuk saluran yang dipilih, apakah lisan atau tulisan.

Menurut Dell Hymes (dalam Brown & Yule, 1983: 38-39) bahwa suatu

peristiwa tutur harus memenuhi delapan komponen, yang disingkat menjadi

SPEAKING, yakni sebagai berikut.

a. S = Setting and Scene

Setting berkenaan dengan waktu dan tempat tutur berlangsung, sedangkan

scene mengacu para situasi tempat dan waktu atau situasi psikologis

pembicaraan.

b. P = Participants

Participants adalah pihak-pihak yang terlibat dalam pertuturan, bisa

pembicara dan pendengar, penyapa dan pesapa, atau pengirim dan penerima

(pesan).

c. E = Ends
Ends menunjuk pada maksud dan tujuan pertuturan

d. A = Act Sequences

Act Sequences mengacu pada bentuk ujaran dan isi ujaran.

e. K = Key

Key, mengacu pada nada, cara, dan semangat di mana suatu pesan

disampaikan; dengan senang hati, dengan serius, dengan singkat, dengan

sombong, dengan mengejek, dan sebagainya.

f. I = Instrumentalities

Instrumentalities mengacu pada jalur bahasa yang digunakan, seperti jalur

lisan, tertulis, melalui telegraf atau telepon.

g. N = Norms of Interaction and Interpretation

Norms of Interaction and Interpretation mengacu pada norma atau aturan

dalam berinteraksi.

h. G = Genres

Genre mengacu pada jenis bentuk penyampaian, seperti narasi, puisi, pepatah,

doa dan sebagainya.

3. Teori Kesantunan Berbahasa

Teori kesantunan berbahasa yang digunakan di dalam penelitian ini

mengacu kepada konsep kesantunan berbahasa yang diungkapkan oleh Brown dan

Levinson (1987) dan Leech (1983). Brown dan Levinson (1987) menjelaskan

bahwa kesantunan berbahasa atau sopan santun behahasa itu mengacu pada

konsep muka (face). Muka adalah mengacu kepada citra diri atau harga diri. Muka

atau harga diri dapat jatuh atau rusak karena tindakan sendiri atau tindakan orang
lain. Oleh karena itu, muka atau harga diri perlu dijaga agar tidak jatuh. Yang

perlu menjaga muka atau harga din adalah diri sendiri dan orang lain Salah salah

yang dapat menjatuhkan muka adalah tindak tutur. Karena tindak tutur berpotensi

menjatuhkan muka, tindak tutur atau tuturan perlu dilengkapi dengan peranti

pelindung muka atau pelindung citra diri, yaitu kesantunan berbahasa.

Masih menurut (Brown dan Levinson, 1987), muka atau citra diri dapat

dikelompokkan menjadi dua, yaitu muka positif dart muka negatif. Muka positif

berhubungan dengan kehendak seseorang untuk dinilai baik atau positif.

Sebaliknya, muka negatif adalah berhubungan dengan kehendak diri seseorang

untuk dibiarkan bebas melakukan apa yang disenanginya. Karena ada dua muka,

alat pelindung muka yang berupa keantunan berbahasa pun ada dua, yaitu

kesantunan positif dan kesantunan negatif. Kesantunan positif dilakukan dengan

jalan memendekkan jarak sosial antara penutur dm petutur (ingrroupness).

Kesantunan negatif dilakukan dengan jalan meninggikan petutur sehingga

terbentuk jarak sosial (distancing).

Menurut Brown dan Levinson (Ibid), sebelum berbicara, orang lebih

dahulu menglutung tingkat keterancaman muka pelaku tutur di dalam situasi tutur

tertentu. Tingkat keterancarnan muka pelaku tutur dihitung berdasarkan perbedaan

kekuasaan (+K) (power) antara penutur dm petutur dm hubungan solodarirtas (kS)

(solidarity) antara penutur dan petutur. Situasi tutur yang tingkat keterancaman

muka tinggi adalah situasi tutur yang petutur lebih tinggi (+K) daripada penutur

dan tingkat solidaritas petutur rendah (-S). Sebaliknya, situasi tutur yang tingkat

keterancaman muka rendah adalah situasi tutur yang kekuasaan petutur lebih
rendah (-K) daripada kekuasaan penutur dan solidaritas antara petutur dan penutur

tinggi (+S) .

Leech (1983) menjelaskan bahwa tingkat kesantunan berbahasa dapat

diukur berdasarkan skala pragrnatik, yang mencakupi skala ketidaklangsungan,

skala untung rugi, dm skala keopsionalan. Berdasarkan skala ketidaklangsungan,

tuturan yang semakin tidak langsung adalah cenderung lebih santun dan begitu

juga sebaliknya. Berdasarkan skala, untung rugi, semakin tinggi petutur

diuntungkan, tuturan itu semakin tinggi nilai kesantunannya dan begitu juga

sebaliknya. Berdasarkan skala keopsionalan, tuturan yang yang semakin banyak

memberikan altematif pilihan kepada petutur adalah tuturan yang semakin tinggi

nilai kesantunannya dan begitu juga sebaliknya.

4. Tindak Tutur Direktif

Tindak tutur direktif adalah tindakan tutur yang dilakukan penuturnya

dengan maksud agar sipendengar melakukan tindakan yang disebut di dalam

ujaran itu. Tindak tutur direktif kadang disebut juga impositif. Misalnya

menyuruh, memohon, menuntut, melaporkan, menunjukkan, dan menyebutkan

(Searle dalam Dardjowidjojo, 1994:48).

5. Tindak Tutur Repesentatif

Tindak tutur repesentatif adalah tindak tutur yang mengikat penuturnya

kepda kebenaran atas apa yang dikatakannya. Tindak tutur repesentatif juga

sering disebut asertif. Misalnya menyatakan, melaporkan, menunjukkan, dan

menyebutkan (Searle dalam Dardjowidjojo, 1994:48).

B. Penelitian yang Relevan


C. Kerangka Konseptual
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan

metode deskriptif. Bogdan dan Taylor (dalam Basrowi dan Suwandi, 2008:1)

mengatakan bahwa penelitian kualitatif adalah salah satu prosedur penelitian yang

menganasis data deskriptif berupa ucapan atau tulisan dan perilaku orang-orang

yang diamati. Menurut Moleong (2010:6), penelitian kualitatif adalah penelitian

yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh

subjek penelitian, misalnya perilaku, persepsi, motivasi, secara holistik dan

dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks

khususnya yang alami dan dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah.

Rofi’udin (2003: 22) mengatakan penelitian kualitatif merupakan penelitian yang

didasarkan pada data yang berupa kata-kata dalam mendeskripsikan objek-objek

yang diteliti.

Mardalis (2009:26) menjelaskan bahwa penelitian deskriptif bertujuan

untuk mendeskripsikan apa-apa yang saat itu berlaku. Di dalamnya terdapat

upaya-upaya mendeskripsikan, mencatat, analisis dan interprestasikan kondisi-

kondisi yang sekarang ini terjadi atau ada. Ibnu, dkk (2003:46) mengatakan

penelitian deskriptif bertujuan untuk mendeskripsikan (memaparkan) peristiwa

yang terjadi pada masa kini.


Referensi
Austin, J.1. 1962. How to Do Thing With Word. New York: Oxford University
Press.

Brown, Penelope dan Levinson, Stephen. 1978. "Universal in Language Usage:


Politeness Phen~mena~D~a.l am Esther N. Goody (Ed) Question and
Politeness: Strategies in Social Interaction. New York: Cambridge
University. Halaman 56-324.

Brown, Gillian dan Yule, George. (1984). Discaourse Analysis. Cambridge:


Cambridge University Press.

Chaer, Abdul. 2010. Kesantunan Berbahasa. Jakarta: Rineka Cipta.

Halliday, M.A.K; Ruqaiya Hasan. (1994). Bahasa Konteks dan Teks: Aspek-aspek
Bahasa dalam Pandangan Semiotik Sosial. (Terjemahan Asruddin Barori
Tou). Yogyakarta: UGM Press. (Buku asli tahun terbit 1985).

Leech, Geofiey. 1983. Priciples of Pragmatics. London and New York: Longman
Publishing.

Searle, John R 1969. Speech Acts: An Essay in Tlze Plzilosophy of Language.


Cambridge: Cambridge University Press.