Anda di halaman 1dari 19

-28-

LAMPIRAN I : PERATURAN GUBERNUR SULAWESI SELATAN


TENTANG : BAKU MUTU DAN KRITERIA KERUSAKAN LINGKUNGAN HIDUP
NOMOR :
TANGGAL :

A. KRITERIA MUTU AIR BERDASARKAN KELAS AIR

Kelas
Parameter Satuan Keterangan
I II III IV
FISIKA
Temperatur °C Deviasi 3 deviasi 3 deviasi 3 deviasi 5 Deviasi temperatur dari
keadaan alamiahnya
Residu Terlarut mg/L 800 1000 1000 2000
(TDS)
Residu mg/L 50 50 400 400 Bagi pengolahan air
Tersuspensi minum secara kon-
(TSS) vensional, residu ter-
suspensi ≤ 5000 mg/L
KIMIA ANORGANIK
pH 6 – 8,5 6 - 8,5 6 – 8,5 5 – 8,5 Apabila secara alamiah
diluar rentang tersebut,
maka ditentukan berda-
sarkan kondisi alamiah
BOD mg/L 2 3 6 12
COD mg/L 10 25 50 100
DO mg/L 6 4 3 0 Angka batas minimum
Total fosfat sbg P mg/L 0,2 0,2 1 5
Nitrat mg/L 10 10 20 20
NO3 sebagai N
NH3 – N mg/L 0,5 (-) (-) (-) Bagi perikanan, kan-
dungan amonia bebas
untuk ikan yang peka ≤
0,02 mg/L sebagai NH3
Arsen (As) mg/L 0,05 1 1 1
Kobalt (Co) mg/L 0,2 0,2 0,2 0,2
Barium (Ba) mg/L 1 (-) (-) (-)
Boron (Br) mg/L 1 1 1 1
Selenium (Se) mg/L 0,01 0,05 0,05 0,05
Kadmium (Cd) mg/L 0,01 0,01 0,01 0,01
Khrom (VI) Cr+6 mg/L 0,05 0,05 0,05 0,1
Tembaga (Cu) mg/L 0,02 0,02 0,02 0,2 Bagi pengolahan air
minum secara konven-
sional, Cu ≤1 mg/L
Besi (Fe) mg/L 0,3 (-) (-) (-) Bagi pengolahan air
minum secara konven-
sional, Fe ≤ 5 mg/L
Timbal (Pb) mg/L 0,03 0,03 0,03 0,1 Bagi pengolahan air
minum secara konven-
sional, Pb ≤ 0,1 mg/L
-29-

Lanjutan A :

Kelas
Parameter Satuan Keterangan
I II III IV
Mangan (Mn) mg/L 0,1 (-) (-) (-)
Air Raksa (Hg) mg/L 0,001 0,002 0,002 0,005
Seng (Zn) mg/L 0,05 0,05 0,05 2,0 Bagi pengolahan air
minum secara konven-
sional, residu ter-
suspensi Zn ≤ 5 mg/L
Nitrit mg/L 0,06 0,06 0,06 (-) Bagi pengolahan air
NO2 sebagai N minum secara konven-
sional, NO2-N ≤ 1mg/L
Sulfat mg/L 400 (-) (-) (-)
Khlorin bebas mg/L 0,03 0,03 0,03 (-) Bagi ABAM tidak di-
persyaratkan
Khlorida mg/L 600 (-) (-) (-)
Belerang sebagai mg/L 0,002 0,002 0,002 (-) Bagi pengolahan air
H2S minum secara konven-
sional, S sebagai H2S <
0,1 mg/L
Sianida (CN) mg/L 0,02 0,02 0,02 (-)
Flourida mg/L 0,5 1,5 1,5 (-)
MIKROBIOLOGI
- Fecal coliform Jml/100 100 1000 2000 2000 Bagi pengolahan air
ml minum secara konven-
- Total coliform Jml/100 1000 5000 10000 10000 sional, fecal coliform ≤
ml 2000 jml/100 mL dan
Total coliform ≤ 10000
jml/100 mL
RADIOAKTIVITAS
- Gross – A Bq/L 0,1 0,1 0,1 0,1
- Gross – B Bq/L 1 1 1 1
KIMIA ORGANIK
Minyak & Lemak g/L 600 800 1000 (-)
Detergen sebagai g/L 100 150 200 (-)
MBAS
Senyawa Fenol g/L 1 1 1 (-)
sbg fenol
BHC g/L 210 210 210 (-)
Aldrin/Dieldrin g/L 17 (-) (-) (-)
Chlordane g/L 3 (-) (-) (-)
DDT g/L 2 2 2 2
Heptachlor dan g/L 15 (-) (-) (-)
Heptachlor
epoxide
Endrin g/L 1 3 4 (-)
Lindane g/L 56 (-) (-) (-)
Toxaphan g/L 5 (-) (-) (-)
Keterangan :
mg = milligram
g = mikrogram
ml = milliliter
L = Liter
Bq = bequerel
MBAS = Methylene Blue Active Substance
ABAM = Air Baku untuk Air Minum
-30-

Logam berat merupakan logam terlarut


Nilai di atas merupakan batas maksimum, kecuali untuk pH dan DO
Nilai DO merupakan batas minimum
Tanda ≤ adalah lebih kecil atau sama dengan
Tanda < adalah lebih kecil
Tanda (-) adalah tidak dipersyaratkan

B. METODE PENENTUAN STATUS MUTU AIR

1. METODE STORET
Metoda STORET merupakan salah satu metoda untuk menentukan status mutu air yang umum
digunakan. Dengan metoda STORET ini dapat diketahui parameter-parameter yang telah
memenuhi atau melampaui baku mutu air.

Secara prinsip metoda STORET adalah membandingkan antara data kualitas air dengan baku mutu
air yang disesuaikan dengan peruntukannya guna menentukan status mutu air.

Cara untuk menentukan status mutu air adalah dengan menggunakan system nilai dari “US-EPA
(Environmental Protection Agency)” dengan mengklasifikasikan mutu air dalam empat kelas, yaitu
:
(1) Kelas A : baik sekali, skor = 0  memenuhi baku mutu
(2) Kelas B : baik, skor = -1 s/d -10  cemar ringan
(3) Kelas C : sedang, skor = -11 s/d -30  cemar sedang
(4) Kelas D : buruk, skor < -31  cemar berat

PROSEDUR PENGGUNAAN:
Penentuan status mutu air dengan menggunakan metoda STORET dilakukan dengan langkah-
langkah sebagai berikut:
 Lakukan pengumpulan data kualitas air dan debit air secara periodik sehingga membentuk data
dari waktu ke waktu (time series data).
 Bandingkan data hasil pengukuran dari masing-masing parameter air dengan nilai baku mutu
yang sesuai dengan kelas air.
 Jika hasil pengukuran memenuhi nilai baku mutu air (hasil pengukuran < baku mutu) maka
diberi skor 0.
 Jika hasil pengukuran tidak memenuhi nilai baku mutu air (hasil pengukuran > baku
mutu), maka diberi skor :

Tabel Penentuan sistem nilai untuk menentukan status mutu air


Parameter
Jumlah contoh1) Nilai
Fisika Kimia Biologi
< 10 Maksimum -1 -2 -3
Minimum -1 -2 -3
Rata-rata -3 -6 -9

> 10 Maksimum -2 -4 -6
Minimum -2 -4 -6
Rata-rata -6 -12 -18
1)
Catatan : jumlah parameter yang digunakan untuk penentuan status mutu air.

 Jumlah negatif dari seluruh parameter dihitung dan hasil penjumlahan tersebut menjadi nilai
skor untuk menetapkan status mutunya.
-31-

CONTOH PERHITUNGAN:
Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada contoh berikut ini. Pada tabel berikut merupakan contoh
penerapan penentuan kualitas air menurut metoda STORET yang dilakukan oleh BLHD Provinsi
Sulawesi Selatan. Data diambil dari hasil pengujian di Sungai Tallo yaitu pada stasiun 1 yang berada
pada segmen A.
Sesuai dengan Peraturan Gubernur Nomor : 33 Tahun 2006 tentang Penetapan Kelas Air Sungai
Tallo dan Sungai Jeneberang, untuk aliran Sungai Tallo pada Segmen A ditetapkan
peruntukannya adalah untuk air kelas III, dengan demikian yang dijadikan sebagai dasar penilaian
setiap parameter uji adalah Baku Mutu Air Kelas III. Pada tabel ini tidak diberikan data lengkap
hasil analisa di sungai Tallo, tetapi hanya diberikan nilai maksimum, minimum, dan rata-rata dari
data-data hasil pengujian.
Cara pemberian skor untuk tiap parameter adalah sebagai berikut (contoh, untuk Hg):
 Karena jumlah parameter yang dijadikan dasar perhitungan skor stroret tidak lebih dari sepuluh,
maka indeks yang digunakan adalah indeks pada baris pertama pada tabel Penentuan sistem nilai
untuk menentukan status mutu air di atas.
 Hg merupakan parameter kimia, maka gunakan skor untuk parameter kimia pada kolom 4 tabel
Penentuan sistem nilai untuk menentukan status mutu air di atas.
 Kadar Hg yang diharapkan untuk air Kelas III adalah 0.002 mg/L.
 Kadar Hg maksimum hasil pengukuran adalah 0.0296 mg/L, ini berarti kadar Hg melebihi baku
mutunya. Maka skor untuk nilai maksimum adalah -2.
 Kadar Hg minirnurn hasil pengukuran adalah 0.0006 mg/L, ini berarti kadar Hg sesuai dengan
baku mutunya. Maka skornya adalah 0.
 Kadar Hg rata-rata hasil pengukuran adalah 0.0082 mg/L, ini berarti rnelebihi baku mutunya.
Maka skornya adalah -6 (parameter Kimia).
 Jumlahkan skor untuk nilai maksimum, minimum, dan rata-rata. Untuk contoh ini skor Hg
adalah -8.
 Lakukan hal yang sama untuk setiap parameter, apabila tidak ada baku mutunya untuk
parameter tertentu, maka tidak perlu dilakukan perhitungan.
 Jumlahkan skor dari setiap paremeter, nilai penjumlahan inilah yang menunjukkan status mutu
air. Pada contoh ini skor total adalah -38, ini berarti sungai Tallo pada stasiun 1 walaupun hanya
tiga paremeter yang tidak memenuhi baku mutu tetapi status mutu airnya digolongkan kedalam
mutu air yang buruk atau cemar berat untuk peruntukan Kelas III.
-32-

Tabel Status Mutu Kualitas Air Menurut Sistem Nilai STORET di Stasiun 1 (segmen A) Sungai Tallo
(peruntukan Kelas III)
Baku
No. Parameter Satuan Hasil Pengukuran Skor
Mutu
Maksimum Minimum Rata-rata
FISIKA
1 TDS mg/L 1000 289 179,4 224,2 0
0
2 Suhu air C normal + 3 1 3 2 0
3 DHL mhos/cm - 82,6 72 76,3 -
4 Kecerahan m - 0,46 035 0,41 -
KIMIA
5 Hg mg/L 0,002 0,0296 0,0006 0,0082 -8
6 As mg/L 1 0,0014 tt 0,0004 0
7 Cd mg/L 0,01 tt tt tt 0

Baku
No. Parameter Satuan Hasil Pengukuran Skor
Mutu
MIKROBIOLOGI
8 Coliform tinja Jml/100 ml 2000 15x106 2.5x106 7.125x106 -15
9 Total caliform Jml/100 ml 10000 15x106 2.5x106 7.125x106 -15
Jumlah Skor -38

2. METODA INDEKS PENCEMARAN

Sumitomo dan Nemerow (1970), Universitas Texas, A.S., mengusulkan suatu indeks yang
berkaitan dengan senyawa pencemar yang bermakna untuk suatu peruntukan. Indeks ini
dinyatakan sebagai Indeks Pencemaran (Pollution Index) yang digunakan untuk menentukan
tingkat pencemaran relatif terhadap parameter kualitas air yang diizinkan (Nemerow, 1974).
Indeks ini memiliki konsep yang berlainan dengan Indeks Kualitas Air (Water Quality Index).
Indeks Pencemaran (IP) ditentukan untuk suatu peruntukan, kemudian dapat dikembangkan
untuk beberapa peruntukan bagi seluruh bagian badan air atau sebagian dari suatu sungai.
Pengelolaan kualitas air atas dasar Indeks Pencemaran (IP) ini dapat member masukan pada
pengambil keputusan agar dapat menilai kualitas badan air untuk suatu peruntukan serta
melakukan tindakan untuk memperbaiki kualitas jika terjadi penurunan kualitas akibat
kehadiran senyawa pencemar.
IP mencakup berbagai kelompok parameter kualitas yang independent dan bermakna.

DEFENISI
Jika Lij menyatakan konsentrasi parameter kualitas air yang dicantumkan dalam Baku
Peruntukan Air (j), dan Ci menyatakan konsentrasi parameter kualitas air (i) yang diperoleh dari
hasil analisis cuplikan air pada suatu lokasi pengambilan cuplikan dari suatu alur sungai, maka
PIj adalah Indeks Pencemaran bagi peruntukan (j) yang merupakan fungsi dari Ci/Lij.
PIj = (C1/L1j, C2/L2j,…,Ci/Lij)
Tiap nilai Ci/Lij menunjukkan pencemaran relatif yang diakibatkan oleh parameter kualitas air.
Nisbah ini tidak mempunyai satuan. Nilai Ci/Lij = 1,0 adalah nilai yang kritik, karena nilai ini
diharapkan untuk dipenuhi bagi suatu Baku Mutu Peruntukan Air. Jika C i/Lij >1,0 untuk suatu
parameter, maka konsentrasi parameter ini harus dikurangi atau disisihkan, kalau badan air
digunakan untuk peruntukan (j). Jika parameter ini adalah parameter yang bermakna bagi
peruntukan, maka pengolahan mutlak harus dilakukan bagi air itu.
Pada model IP digunakan berbagai parameter kualitas air, maka pada penggunaannya
dibutuhkan nilai rata-rata dari keseluruhan nilai Ci/Lij sebagai tolok-ukur pencemaran, tetapi
nilai ini tidak akan bermakna jika salah satu nilai Ci/Lij bernilai lebih besar dari 1. Jadi indeks ini
harus mencakup nilai Ci/Lij yang maksimum
PIj = _ {(Ci/Lij)R,(Ci/Lij)M}
-33-

Dengan (Ci/Lij)R : nilai ,Ci/Lij rata-rata


(Ci/Lij)M : nilai ,Ci/Lij maksimum
Jika (Ci/Lij)R merupakan ordinat dan (Ci/Lij)M merupakan absis maka PIj merupakan titik potong
dari (Ci/Lij)R dan (Ci/Lij)M dalam bidang yang dibatasi oleh kedua sumbu tersebut.

Gambar Pernyataan Indeks untuk suatu Peruntukan (j)

Perairan akan semakin tercemar untuk suatu peruntukan (j) jika nilai (C i/Lij)R dan atau (Ci/Lij)M
adalah lebih besar dari 1,0. Jika nilai maksimum Ci/Lij dan atau nilai rata-rata Ci/Lij makin besar,
maka tingkat pencemaran suatu badan air akan makin besar pula. Jadi panjang garis dari titik
asal hingga titik Pij diusulkan sebagai faktor yang memiliki makna untuk menyatakan tingkat
pencemaran.

Dimana m = faktor penyeimbang

Keadaan kritik digunakan untuk menghitung nilai m


PIj = 1,0 jika nilai maksimum Ci/Lij = 1,0 dan nilai rata-rata Ci/Lij = 1,0 maka

Maka persamaan sebelumnya akan menjadi:

Metoda ini dapat langsung menghubungkan tingkat ketercemaran dengan dapat atau tidaknya
sungai dipakai untuk penggunaan tertentu dan dengan nilai parameter-parameter tertentu.

Evaluasi terhadap nilai PI adalah :


0 ≤ PIj ≤ 1,0  memenuhi baku mutu (kondisi baik)
1,0 < PIj ≤ 5,0  cemar ringan
5,0 < PIj ≤ 10  cemar sedang
PIj > 10  cemar berat

PROSEDURE PENGGUNAAN
Jika Lij menyatakan konsentrasi parameter kualitas air yang dicantumkan dalam Baku Mutu
suatu Peruntukan Air (j), dan Ci menyatakan konsentrasi parameter kualitas air (i) yang
diperoleh dari hasil analisis cuplikan air pada suatu lokasi pengambilan cuplikan dari suatu alur
-34-

sungai, maka PIj adalah Indeks Pencemaran bagi peruntukan (j) yang merupakan fungsi dari
Ci/Lij.
Harga Pij ini dapat ditentukan dengan cara :
1. Pilih parameter-parameter yang jika harga parameter rendah maka kualitas air akan
membaik.
2. Pilih konsentrasi parameter baku mutu yang tidak memiliki rentang.
3. Hitung harga Ci/Lij untuk tiap parameter pada setiap lokasi pengambilan cuplikan.
4.a. Jika nilai konsentrasi parameter yang menurun menyatakan tingkat pencemaran meningkat,
misal DO. Tentukan nilai teoritik atau nilai maksimum Cim (misal untuk DO, maka Cim
merupakan nilai DO jenuh). Dalam kasus ini nilai Ci/Lij hasil pengukuran digantikan oleh
nilai Ci/Lij hasil perhitungan, yaitu :

4.b. Jika nilai baku Lij memiliki rentang


- untuk Ci < Lij rata-rata
-35-

- untuk Ci > Lij rata-rata

4.c. Keraguan timbul jika dua nilai (Ci/Lij) berdekatan dengan nilai acuan 1,0, misal C1/L1j = 0,9
dan C2/L2j = 1,1 atau perbedaan yang sangat besar, misal C3/L3j = 5,0 dan C4/L4j = 10,0.
Dalam contoh ini tingkat kerusakan badan air sulit ditentukan. Cara untuk mengatasi
kesulitan ini adalah :
(1) Penggunaan nilai (Ci/Lij)hasil pengukuran kalau nilai ini lebih kecil dari 1,0.
(2) Penggunaan nilai (Ci/Lij)baru jika nilai (Ci/Lij)hasil pengukuran > 1,0.
(Ci/Lij)baru = 1,0 + P.log(Ci/Lij)hasil pengukuran
P adalah konstanta dan nilainya ditentukan dengan bebas dan disesuaikan dengan hasil
pengamatan lingkungan dan atau persyaratan yang dikehendaki untuk suatu peruntukan
(biasanya digunakan nilai 5).
5. Tentukan nilai rata-rata dan nilai maksimum dari keseluruhan Ci/Lij ((Ci/Lij)R dan (Ci/Lij)M).
6. Tentukan harga PIj

CONTOH PERHITUNGAN
Pada contoh berikut ini diberikan data untuk suatu sampel sungai yang akan ditentukan indeks
pencemarannya (IP). Hasil pengukuran sampel diberikan pada kolom 2 (C i) dan baku mutu
perairan tersebut diberikan pada kolom 3 (LiX). Pada contoh perhitungan hanya digunakan 6
parameter saja. Contoh yang diberikan berikut ini hanya bertujuan agar pemakai metoda Indeks
Pencemaran dapat memahami cara menghitung harga PIj.

Tabel Contoh penentuan IP untuk baku mutu X

• Contoh perhitungan TSS :


C1/L1X = 100 / 50 = 2
C1/L1X > 1
Maka gunakan persamaan (Ci/Lij)baru
(C1/L1X)baru = 1,0 + 5 log 2 = 2,5
Catatan : Ci/Lij baru dihitung karena nilai Ci/Lij yang berjauhan untuk Ci/Lij < 1 digunakan
Ci/Lij hasil pengukuran, tetapi bila Ci/Lij > 1 perlu dicari Ci/Lij baru.
• Contoh perhitungan DO :
DO merupakan parameter yang jika harga parameter rendah maka kualitas akan menurun.
Maka sebelum menghitung C2/L2X harus dicari terlebih dahulu harga C2 baru.
DOmaks = 7 pada temperatur 250C

C2 baru = (7 – 2)/(7-6) = (5/3)


C2/L2X = (5/3) / 6 = 0,28
• Contoh perhitungan pH :
Karena harga baku mutu pH memiliki rentang, maka penetuan C3/L3X dilakukan dengan cara :
L3X rata-rata = (6 + 9)/2 = 7,5 C3 > L3X rata-rata
C3/L3X = (8 – 7,5)/ (9 - 8) = 0,5
-36-

• Tentukan nilai (Ci/LiX)R = 2,58 (nilai rata-rata dari kolom 5)


• Tentukan nilai (Ci/LiX)M = 5,2 (nilai maksimum dari kolom 5)
• Dengan menggunakan persamaan pada langkah no 5 (lihat prosedur 3.2), maka dapat
ditentukan nilai PIX = 4,10.
Apabila kemudian data air sungai yang sama ingin dibandingkan terhadap baku mutu yang
berbeda, misalnya Y (kelas II), maka perhitungannya menjadi sebagai berikut:

Tabel Contoh Penentuan IP untuk Baku Mutu Y

Parameter rCi LiY Ci/LIy Ci/LiY baru

TSS 100 400 0,25 0,25


DO 2 1 2 0,83
PH 8 6-9 0,5 0,5
BOD 8 10 0,8 0,8
Se 0,07 0,08 0,88 0,88

Dari Tabel di atas, maka dapat ditentukan nilai-nilai berikut:


(Ci/LiY)R = 0,625
(Ci/LiY)M = 0,88
PIY = 0,76

Jika dibandingkan antara contoh pada 2 Tabel di atas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa air
sungai yang diukur memenuhi baku mutu Y dan tidak memenuhi baku mutu X. Jadi bila nilai PI
lebih kecil dari 1,0, maka sampel air tersebut memenuhi baku mutu termaksud, sedangkan bila
lebih besar dari 1,0 sampel dinyatakan tidak memenuhi baku mutu.

C. BAKU MUTU AIR LAUT DAN SEDIMEN LAUT

1. BAKU MUTU AIR LAUT UNTUK PERAIRAN PELABUHAN

No. Parameter Satuan Baku Mutu


I. FISIKA
1. Kecerahan a m >3
2. Kebauan -. tidak berbau
3. Padatan tersuspensi total b mg/l
mg/l
mg/L 80
..
4. Sampah . nihil 1(4)
°C
°C
5. Suhu c °C Alami 3(c)
6. Lapisan minyak 5 --- nihil 1(5)
II. KIMIA ..
1. pHd %o.. 6,5-8,5 (d)
%o
%o
2. Salinitas* %o
mg/l
%o
mg/l . alami 3(e)
mg/l
mg/l
3. Ammonia total (NH3-N) mg/l
mg/l
mg/L 0,3
mg/l
mg/l
4. Sulfida (H2S) mg/l
mg/l
mg/L 0,03
mg/l
mg/l
mg/l
mg/l
mg/l
5. Hidrokarbon total mg/L
mg/l 1
mg/l
mg/l
6. Senyawa Fenol total mg/l
mg/L
M9/l
mg/l
M9/l
mg/l 0,002
mg/l
M9/l
mg/l
7. PCB (poliklor bifenil) M9/l
mg/l
mg/l MBAS
MBAS
M9/l 0,01
8. Surfaktan (deterjen) mg/l MBAS
M9/l
mg/l MBAS
mg/l 1
mg/l
mg/lmg/l
MBAS
MBAS
mg/l
mg/lmg/l
MBAS
µ9/I
9. Minyak dan Lernak µ9/I
mg/l
mg/l
µ9/I 5
mg/l
µ9/I
10. TBT (tri butil tin) 5 µ9/I
µ9/I 0,01
µ9/I
mg/l
III. LOGAM TERLARUT mg/l
mg/l
mg/l
mg/l
11. Raksa (Hg) mg/l
mg/l 0,003
mg/l
mg/!
mg/!
mg/l
mg/l
mg/!
mg/l
12. Kadmium (Cd) mg/!
mg/l
mg/l
mg/! 0,01
mg/l
mg/!
mg/l
13. Tembaga (Cu) mg/l
mg/l 0,05
mg/l
mg/l
mg/l
mg/l
mg/l
mg/l
MPN/100ml
MPN/100ml
MPN/100ml
MPN/100ml
MPN/100ml
MPN/100ml
-37-

14. Timbal (Pb) 0,05


15. Seng (Zn) 0,1
IV. BIOLOGI
1. Coliform (total) 1000 (f)

Keterangan :
1) Nihil adalah tidak terdeteksi dengan batas deteksi alat yang digunakan (sesuai dengan metode yang
digunakan)
2) Metode analisa mengacu pada metode analisa untuk air laut yang telah ada, baik internasional maupun
nasional.
3) Alami adalah kondisi normal suatu lingkungan, bervariasi setiap saat (siang, malam dan musim)
4) Pengamatan oleh manusia (visual)
5) Pengamatan oleh manusia (visual). Lapisan minyak yang diacu adalah lapisan tipis (thin layer) dengan
ketebalan 0,01mm
6) TBT adalah zat antifouling yang biasanya terdapat pada cat kapal
a. Diperbolehkan terjadi perubahan sampai dengan <10% kedalaman euphotic
b. Diperbolehkan terjadi perubahan sampai dengan <10% konsentrasi rata-rata musiman
c. Diperbolehkan terjadi perubahan sampai dengan <2 °C dari suhu alami
d. Diperbolehkan terjadi perubahan sampai dengan <0,2 satuan ph
e. Diperbolehkan terjadi perubahan sampai dengan <5% salinitas rata-rata musiman
f. Diperbolehkan terjadi perubahan sampai dengan <10% konsentrasi rata-rata musiman

2. BAKU MUTU AIR LAUT UNTUK WISATA BAHARI

No. Parameter Satuan Baku Mutu


I. FISIKA
1 Warna Pt.Co 30
2 Bau - Tidak Berbau
3 Kecerahan a m >6
4 Kekeruhan a NTU 5
5 Padatan tersuspensi total b mg/L 20
6 Suhu c o
C alami 3(c)
7 Sampah - nihil 1(4)
8 Lapisan minyak 5 - nihil 1(5)
II. KIMIA
1 pHd - 7 – 8.5 (c)
2 Salinitase %o alami 3(e)
3 Oksigen Terlarut (DO) mg/L >5
4 BOD5 mg/L 10
5 Amoniak bebas (NH3-N) mg/L nihil
6 Fosfat (PCVP) mg/L 0,015
7 'Nitrat (NO3-N) mg/L 0,008
8 Sulfida (H2S) mg/L nihil
9 Senyawa Fenol mg/L nihil
10 PAH (Poliaromatik mg/L 0,003
hidrokarbon)
11 PCS (polikhlor bifenil) mg/L MBAS nihil
12 Surfaktan (detergen) mg/L 0,001
13 Minyak & lemak µg/L 1
13 Pestisida nihil 1(e)
III. LOGAM TERLARUT
1 Raksa (Hg) mg/L 0,002
2 Kromium heksavalen (Cr(VI)) mg/L 0.002
3 Arsen (As) mg/L 0025
4 Cadmium (Cd) mg/L 0.002
5 Tembaga (Cu) mg/L 0.050
6 Timbal (Pb) mg/L 0,005
7 Seng (Zn) mg/L 0,095
8 Nikel (Ni) mg/L 0,075
-38-

IV. BIOLOGI MPN/100ml 200 g


1 E-Coliform(feecal)g MPN/100ml 1000 g
2 Coliform (total)g
V. RADIO NUKLIDA Bq/L 4
1 Komposisi yang tidak
diketahui

Keterangan :
 Nihil adalah tidak terdeteksi dengan batas deteksi alat yang digunakan (sesuai dengan metode
yang digunakan)
 Metode analisa mengacu pada metode analisa untuk air laut yang telah ada, baik internasional
maupun nasional.
 Alami adalah kondisi normal suatu lingkungan, beivariasi setiap saat (siang, malam dan musim)
 Pengamatan oleh manusia (visual).

 Pengamatan oleh manusia (visual). Lapisan minyak yang diacu adalah lapisan tipis (thin layer)
dengan ketebalan 0,01mm
 Diperbolehkan terjadi perubahan sampai dengan <10% kedalaman, euphotic
 Diperbolehkan terjadi perubahan sampai dengan <10% konsentrasi rata2 musiman
 Diperbolehkan terjadi perubahan sampai dengan <2 °C dari suhu alami
 Diperbolehkan terjadi perubahan sampai dengan <0.2 satuan pH
 Diperbolehkan terjadi perubahan sampai dengan <5% salinitas rata-rata musiman. Berbagai jenis
pestisida seperti: DOT, Endrin. Endosulfan dan Heptachlor
 Diperbolehkan terjadi perubahan sampai dengan <10% konsentrasi rata-rata musiman

3. BAKU MUTU AIR LAUT UNTUK BIOTA LAUT

No. Parameter Satuan Baku Mutu

FISIKA
1. Kecerahana m coral: >5
mangrove: -
lamun: >3
2. Kebauan alami3
3. Kekeruhana NTU <5
4. Padatan tersuspensi totalb mg/L coral: 20
mangrove: 80
lamun: 20
5. Sampah - nihil 1(4)
6. Suhuc o
C alami 3(c)
7. Lapisan minyak 5 coral: 28-30 (c)
mangrove: 28-32 (c)
lamun: 28-30(c)

KIMIA
1. pHd %O 7-8,5(d)
2. Salinitase Alami 3(e)
mg/L coral: 33-34(e)
mg/L mangrove: s/d 34 (e)
mg/L lamun: 33-34 (e)
3. Oksigen terlarut (DO) mg/L >5
4. BOD5 mg/L 20
5. Amonia total (NH3-N) mg/L 0,3
6. Fosfat (PO4-P) mg/L 0.015
7. Nitrat (NO3-N) mg/L 0,008
8. Sianida (CN) mg/L 0,5
9. Sulfida (H2S) HQ/L 0,01
10. PAH (Poliaromatik mg/L MBAS 0,003
hidrokarbon)
-39-

11. Senyawa Fenol total mg/L 0,002


12. PCB total (poliklor bifenil) µg/L 0.01
13. Surfaktan (deterjen) µg/L 1
14 Minyak & lemak mg/L 1
15. Pestisida TBT (tributil tin)7 mg/L 0,01
16. 0,01

No. Parameter Satuan Baku Mutu

LOGAM TERLARUT
1. Raksa (Hg) mg/L 0,001
2. Kromium heksavalen (Cr(VI)) mg/L 0,005
3. Arsen (As) mg/L 0,012
4. Kadmium (Cd) mg/L 0,001
5. Tembaga (Cu) mg/L 0,008
6. Timbal (Pb) mg/L 0,008
7. Seng (Zn) mg/L 0,05
8. Nlkel (Ni) mg/L 0,05

BIOLOGI
1 Coliform (total)g MPN/100ml 1000(g)
2 Patogen. sel/100ml nihil
3 Plankton sel/100ml tidak bloom6
RADIO NUKLIDA
1 Komposisi yang tidak diketahui Bq/L 4

Catatan:
1) Nihil adalah tidak terdeteksi dengan batas deteksi alat yang digunakan (sesuai dengan metode
yang digunakan)
2) Metode analisa mengacu pada metode analisa untuk air laut yang telah ada. baik internasional
maupun nasional.
3) Alami adalah kondisi normal suatu lingkungan, bervariasi setiap saat (siang, malam dan
musim).
4) Pengamatan oleh manusia (visual).
5) Pengamatan oleh manusia (visual). Lapisan minyak yang diacu adalah lapisan tipis (thin layer)
dengan ketebalan 0,01mm.
6) Tidak bloom adalah tidak terjadi pertumbuhan yang berlebihan yang dapat menyebabkan
eutrofikasi. Pertumbuhan plankton yang berlebihan dipengaruhi oleh nutrien, cahaya, suhu,
kecepatan arus, dan kestabilan plankton itu sendiri.
7) TBT adalah zat antifouling yang biasanya terdapat pada cat kapal
a. Diperbolehkan terjadi perubahan sampai dengan <1.0% kedalaman euphotic
b. Diperbolehkan terjadi perubahan sampai dengan <10% konsentrasi rata2 musiman
c. Diperbolehkan terjadi perubahan sampai dengan <2 °C dari suhu alami
d. Diperbolehkan terjadi perubahan sampai dengan <0,2 satuan pH
e. Diperbolehkan terjadi perubahan sampai dengan <5% salinitas rata-rata musiman
f. Berbagai jenis pestisida seperti: DOT, Endrin, Endosulfan dan Heptachlor
g. Diperbolehkan terjadi perubahan sampai dengan <10% konsentrasi rata-rata musiman
-40-

4. BAKU MUTU SEDIMEN LAUT

Konsentrasi
Parameter Kimia Maksimum Zat Metode Analisa
(mg/kg berat kering)
Spektrofotometri Serapan Atom Uap
Arsen (As) 58,00
Hidrida (Hydride Vapour AAS)
Kadmium (Cd) 6,20 Spektrofotometri Serapan Atom (AAS)
Krom (Cr) Total 160 Spektrofotometri Serapan Atom (AAS)
Timbal (Pb) 36,80 Spektrofotometri Serapan Atom (AAS)
Spektrofotometri Serapan Atom– Uap
Merkuri (Hg) 0,30
Dingin (Cold Vapour AAS)
Tembaga (Cu) 108,20 Spektrofotometri Serapan Atom (AAS)
Seng (Zn) 271 Spektrofotometri Serapan Atom (AAS)
Ekstraksi Soklet–Kromatografi Cair
PAH (Benzo[a]pyrene) 0,76
Kinerja Tinggi
PCB (Aroclor 1254) 0,71 Ekstraksi Soklet–Kromatografi Gas

D. PERSYARATAN KUALITAS AIR MINUM

1. Bakteriologis

Parameter Satuan Kadar Maksimum Keterangan


yang diperbolehkan
a. Air Minum
E.Coli atau fecal coli Jumlah per 0
100 ml sample
b. Air yang masuk system distribusi
E.Coli atau fecal coli Jumlah per 0
100 ml sample
Total Bakteri Coliform Jumlah per 0
100 ml sample
c. Air pada system distribusi
E.Coli atau fecal coli Jumlah per 0
100 ml sample
Total Bakteri Jumlah per 0
Coliform 100 ml sample
-41-

2. Kimia
a. Bahan-bahan Inorganik ( yang memiliki pengaruh langsung pada kesehatan)

Parameter Satuan Kadar Maksimum Keterangan


yang diperbolehkan
Antimony (mg/liter) 0.005
Air Raksa (mg/liter) 0.001
Arsenic (mg/liter) 0.01
Barium (mg/liter) 0.7
Baron (B) (mg/liter) 0.3
Qadmium (Cd) (mg/liter) 0.003
Kromium (CrAg) (mg/liter) 0.05
Tembaga (Cu) (mg/liter) 2
Sianida (CN) (mg/liter) 0.07
Fluoride (F) (mg/liter) 1.5
Timbal (Pb) (mg/liter) 0.01
Molyddenum (mg/liter) 0.07
Nikel (Ni) (mg/liter) 0.02
Nitrat (sebagai NO3) (mg/liter) 50
Nitrit (sebagai NO2) (mg/liter) 3
Selenium (mg/liter) 0.01

b. Bahan-bahan Inorganik (yang kemungkinan dapat menimbulkan keluhan pada


konsumen)

Parameter Satuan Kadar Maksimum Keterangan


yang diperbolehkan
Amonia (NH3) mg/l 1.5
Aluminium mg/l 0.2
Klorida (Cl) mg/l 250
Tembaga mg/l 1
Kesadahan mg/l 500
Hidrogen Sulfida mg/l 0.05
Besi (Fe) mg/l 0.3
Mangan (Mn) mg/l 0.1
pH - 6.5 – 8.5
Sodium mg/l 200
Sulfat (SO4) mg/l 250
Total padatan terlarut mg/l 1000
Seng (Zn) mg/l 3
-42-

c. Bahan-bahan organik (yang memiliki pengaruh langsung pada kesehatan)

Parameter Satuan Kadar Maksimum Keterangan


yang diperbolehkan
Chlorinated alkanes :
Carbon tetrachloride (µg/liter) 2
Dichloromethane (µg/liter) 20
1,2-dichloroethane (µg/liter) 30
1,1,1 trichloroethane (µg/liter) 2000
Chlorinated ethenes vinyl
chloride (µg/liter) 5
1,1-dichloroethene (µg/liter) 30
1,2-dichloroethene (µg/liter) 50
Trichloroethene (µg/liter) 70
Tetrachloroethene (µg/liter) 40
Aromatic hydrocarbons
Benzene (µg/liter) 10
Toluene (µg/liter) 700
Xylenes (µg/liter) 500
Benzo[a]pyrene (µg/liter) 0.7
Chlorinated benzenes :
Monochlorobenzenes (µg/liter) 300
1,2-dichlorobenzenes (µg/liter) 1000
1,4-dichlorobenzenes (µg/liter) 300
Trichlorobenzenes (µg/liter) 20
Lain-lain :
di(2-ethylhexyl) adipate (µg/liter) 80
di(2ethylhexyl)phthalate (µg/liter) 8
Acrylamide (µg/liter) 0.5
Epichlorohydrin (µg/liter) 0.4
Hexachlorobutadiene (µg/liter) 0.6
Edtic acid (EDTA) (µg/liter) 200
Tributyltin oxide (µg/liter) 2

d. Bahan-bahan organik (yang kemungkinan dapat menimbulkan keluhan pada konsumen)

Parameter Satuan Kadar Maksimum Keterangan


yang diperbolehkan
Toluene (µg/liter) 24-170
Xylene (µg/liter) 20-1800
Ethybenzene (µg/liter) 2-200
Styrene (µg/liter) 4-2600
Monochlorobenzene (µg/liter) 10-120
1,2-dichlorobenzene (µg/liter) 1-10
1,4- dichlorobenzene (µg/liter) 0.3-30
Trichrolobenzenez (total) (µg/liter) 5-50
Desinfektan dan hasil
sampingannya :
Chlorine (µg/liter) 600-1000
2-chlorophenol (µg/liter) 0.1-10
2,4-dischlorophenol (µg/liter) 0.3-40
2,4,6-trichlorophenol (µg/liter) 2-300
-43-

3. Pestisida

Parameter Satuan Kadar Maksimum Keterangan


yang diperbolehkan
Alachlor (µg/liter) 20
Aldicarb (µg/liter) 10
Aldrin/dieldrin (µg/liter) 0.03
Atrazine (µg/liter) 2
Bentazone (µg/liter) 30
Carbofuran (µg/liter) 5
Chlordane (µg/liter) 0.2
Chlorotoluren (µg/liter) 30
DDT
1,2-dibromo (µg/liter) 2
3-chloropropane (µg/liter) 1
2,4-D (µg/liter) 30
1,2-dichloropropane (µg/liter) 20
1,3-dichloropropane (µg/liter) 20
Heptachlor and
Heptachlor epoxide (µg/liter) 0.03
Hexachlorobenzene (µg/liter) 1
Isoproturon (µg/liter) 9
Lindane (µg/liter) 2
MCPa (µg/liter) 2
Methoxychlor (µg/liter) 20
Metolachlor (µg/liter) 10

Lanjutan 3 :

Parameter Satuan Kadar Maksimum Keterangan


yang diperbolehkan
Molinate (µg/liter) 6
Pendimethalin (µg/liter) 20
Pentachlorophenol (µg/liter) 9
Permethrin (µg/liter) 20
Propanil (µg/liter) 20
Pyridate (µg/liter) 100
Simazine (µg/liter) 2
Trifluralin (µg/liter) 20
Chlorophenoxy
herbicides
Selain 2,4-D & MCPA :
2,3-DB (µg/liter) 90
Dischlorprop (µg/liter) 100
Fenoprop (µg/liter) 9
Mecoprop (µg/liter) 10
2,4,5-T (µg/liter) 9
-44-

4. Desinfektan dan Hasil Sampingannya

Parameter Satuan Kadar Maksimum Keterangan


yang diperbolehkan
Monochloramine (µg/liter) 3
Chlorine (µg/liter) 5
Bromate (µg/liter) 25
Chlorite (µg/liter) 200
Chlorophenol :
2,4,6-trichlorophenol (µg/liter) 200
Formaldehyde (µg/liter) 900
Trihalomethanes :
Bromoform (µg/liter) 100
Dibromochloromethane (µg/liter) 100
Bromodichloromethane (µg/liter) 60
Chloroform (µg/liter) 200
Chlorinated acetic acida
Dichloroacetic acid (µg/liter) 50
Trichloroacetic acid (µg/liter) 100
Chloral hydrate :
(trichloroacetaldehyde) (µg/liter) 10
Halogenated
acetonitriles :
Dichloroacetonitrile (µg/liter) 90
Dibromooacetonitrile (µg/liter) 100
Tribromooacetonitrile (µg/liter) 1
Cyanogen Chloride (µg/liter) 70
(sebagai CN)

5. Radioaktivitas

Parameter Satuan Kadar Maksimum Keterangan


yang diperbolehkan
Cross alpha activity (Bq/Liter) 0.1
Cross beta activity (Bq/Liter) 1

6. Fisik

Parameter Satuan Kadar Maksimum Keterangan


yang diperbolehkan
Parameter fisik
Warna TCU 15
Rasa dan Bau - - Tidak berbau
o
Temperatur C Suhu Udara ± 3oC dan berasa
Kekeruhan NTU 5
-45-

E. PERSYARATAN KUALITAS AIR PEMANDIAN UMUM

Kadar yang
No Parameter Satuan diperbolehkan Keterangan
Min Maks
A. FISIKA
1 Bau - - - Tidak berbau
Piringan sesuai garis
tangan 150 mm pada
2 Kejernihan - - -
kedalaman 1,25 m
tampak jelas
Tidak berbau minyak
3 Minyak - - - dan tidak tampak
lapisan film minyak
4 Warna TCU - 100
B. KIMIAWI
1 Detergen mg/L - 1,0
2 BOD mg/L - 5,0
3 Oksigen terlarut (O2) mg/L
4 pH - 6,5 8,5
C. MIKROBIOLOGI
Jumlah
1 Koliform total per - 200
100ml
D. RADIO AKTIVITAS
Aktivitas Alpha (Gross
1 Bg/L - 0,1
Alpha Activity)
Aktivitas Beta (Gross
2 Bg/L - 1,0
Beta Activity)
-46-

F. PERSYARATAN KUALITAS AIR KOLAM RENANG

Kadar yang
No Parameter Satuan diperbolehkan keterangan
Min Maks
A. FISIKA
Bebas dari bau yang
1 Bau - - -
mengganggu
Bebas dari benda
2 Benda terapung - - -
terapung
Piringan sesuai yang
diletakan pada dasar
kolam yang terdalam
3 Kejernihan - - -
dapat dilihat dengan
jelas dari tepi kolam
pada jarak lurus 7 m
B. KIMIAWI
1 Alumunium mg/L - 0,2
2 Kesadahan (Ca SO3) mg/L 50 500
Dalam waktu 4 jam
3 Oksigen terlarut (O2) mg/L - 0,1
pada suhu udara
4 pH - 6,5 8,5
5 Sisa Chlor mg/L 0,2 0,5
6 Tembaga sebagai (Cu) mg/L - 1,5
C. MIKROBIOLOGI
Jumlah
1 Koliform total per - 0
100ml
Jumlah
2 Jumlah kuman kilon - 200
/1ml
Catatan : Sumber air kolam renang adalah air baku air minum yang memenuhi persyaratan sesuai
peraturan ini.

GUBERNUR SULAWESI SELATAN,

Dr. H. SYAHRUL YASIN LIMPO, SH, MSi, MH