Anda di halaman 1dari 41

MAKALAH

KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH I


ASUHAN KEPERAWATAN ASMA BRONCHIAL

DOSEN PEMBIMBING :
Ns. MELTI SURIYA, M.Kep

Disusun Oleh
Anggota Kelompok II :

1. Andri ( 1710105042 )
2. Dede Arjuna Ali ( 1710105046 )
3. Febria Dena Putri ( 1710105049 )
4. Gita Reviliani ( 1710105050 )
5. Liza Anggraini ( 1710105053 )
6. Putri Larassati ( 1710105059 )
7. Ratih Indah Permata Sari ( 1710105062 )
8. Riri Arika Putri ( 1710105065 )
9. Ronaldo ( 1710105067 )
10.Sri Rahmi Amerisa ( 1710105071 )
11. Winda Rahmat Armanda ( 1710105075 )

Kelas: III B

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


STIKES ALIFAH PADANG
2018
KATA PENGANTAR
Pertama-tama marilah kita panjatkan puji dan syukur kehadirat tuhan yang
Maha Esa karena berkat rahmat dan hidayahnya kami dapat menyusun makalah yang
membahas tentang “Asuhan Keperawatan Asma Bronchial”. Dengan selesainya
penyusunan makalah ini berkat bantuan dari berbagai pihak oleh karena itu, pada
kesempatan ini kami sampaikan terimakasih kepada yang terhormat Ibu Dosen Ns.
Melti Suriya, M.Kep
Secara khusus kami menyampaikan terima kasih kepada keluarga tercinta
yang telah memberikan dorongan dan bantuan serta pengertian yang besar
kepada kami, baik selama mengikuti perkuliahan maupun dalam menyelesaikan
makalah ini.
Kami menyadari bahwa ini masih jauh dari sempurna, untuk itu kritik dan
saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan dan sebagai umpan balik yang
positif demi perbaikan dimana mendatang. Harapan kami, semoga makalah ini
bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan khususnya di bidang keperawatan.
Akhir kata, kami mengucapkan terima kasih dan kami berharap agar makalah
ini bermanfaat bagi semua pihak yang membutuhkan.

Padang, November 2018

Penyusun

DATAR ISI

ii
KATA PENGANTAR ........................................................................................ii
.............................................................................................................................
DAFTAR ISI.....................................................................................................iii
.............................................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang........................................................................1
..................................................................................................
B. Tujuan Penulisan.....................................................................2
..................................................................................................
BAB II TINJAUAN TEORITIS
A. Konsep Dasar Penyakit...........................................................3
..................................................................................................
1. Anatomi Fisiologi..............................................................3

2. Pengertian .........................................................................7

3. Etiologi .............................................................................7

4. Patofisiologi......................................................................8

5. Maniestasi Klinis...............................................................9

6. Pathway............................................................................13
7. Komplikasi.......................................................................14
B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan......................................15
BAB III TINJAUAN KASUS
A. Pengkajian..............................................................................20
B. Diagnosa Keperawatan ...........................................................
C. Perencanaan .............................................................................
D. Pelaksanaan..............................................................................
E. Evaluasi ...................................................................................
F. Catatan Keperawatan...............................................................

iii
BAB IV PEMBAHASAN...................................................................................
A. Pengkajian................................................................................
B. Diagnosa Keperawatan ...........................................................
C. Perencanaan .............................................................................
D. Pelaksanaan..............................................................................
E. Evaluasi ...................................................................................
F. Catatan Keperawatan...............................................................
BAB V PENUTUP......................................................................................
A. Kesimpulan..............................................................................
B. Saran.........................................................................................

DAFTAR PUSTAKA

iv
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penyakit Asma Bronkial dapat menyerang semua golongan usia, baik
laki-laki maupun perempuan, dewasa maupun anak-anak. Dari waktu ke
waktu baik di negara maju maupun negara berkembang prevalensi asma
meningkat. Asma merupakan sepuluh besar penyebab kesakitan dan kematian
di Indonesia, hal ini tergambar dari data studi survey kesehatan rumah tangga
(SKRT) di berbagai provinsi di Indonesia.
SKRT pada tahun 1986 menunjukkan bahwa Asma menduduki peringkat
ke-5 dari 10 (sepuluh) penyebab kematian ke-4 di Indonesia atau sebesar
5,6%. Pada tahun 1995 prevalensi asma di seluruh Indonesia sebesar 13 %.
Menurut Staf Departemen Paru divisi asma dan PPOK Rumah Sakit
Persahabatan dan Budhi Antariksa, hingga kini diperkirakan sekitar 5% dari
total penduduk Indonesia atau sekitar 11 juta juga menderita asma (Republika
27 Maret 2007).
Asma dapat timbul pada berbagai usia, gejalanya bervariasi dari ringan
sampai berat dan dapat dikontrol dengan berbagai cara. Gejala asma dapat
ditimbulkan oleh berbagai rangsangan antara lain infeksi, alergi, obat-obatan,
polusi udara, bahan kimia, beban kerja atau latihan fisik, bau-bauan yang
merangsang dan emosi.
Prevalensi asma di seluruh dunia adalah sebsar 80% pada anak dan 3-5%
pada dewasa, dan dalam 10 tahun terakhir ini meningkat sebesar 50%. Selain
di Indonesia prevalensi asama di Jepang dilaporkan meningkat 3 kali
disbanding di tahun 1960 yaitu dari 1,2 % menjadi 3,14 %.
Penyebab pada asma sampai saat ini belum diketahuii namun dari hasil
penelitian terdahulu menjelaskan bahwa saluran nafas penderita asma
mempunyai sifat yang sangat khas yaitu sangat peka terhadap rangsangan.
Pada serangan asma terapi yang paling tepat adalah menggunakan terapi
nebulizer merupakan pilihan tarbaik pada kasus-kasus yang berhubungan
dengan inflamasi terutama pada penderita asma, merubah obat-obat

5
bronkodilator dari bentuk cair kebentuk partikel aerosol sangat bermanfaat
apabila dihirup atau dikumpulkan dalam organ paru, efek dari terapi nebulizer
untuk mengembalikan kondisi spasme broncus. Terapi nebulizer dengan obat-
obat bronkodilator lebih efektif, karena langsung dihirup masuk paru-paru.
Tujuan dari terapi nebulizer dengan obat-obat bronkodilator antara lain
mengurangi sesak nafas, rileksasi dari spasme bronkhiale, mengencerkan
dahak, melancarkan saluran pernafasan dan melembabkan saluran pernafasan.

B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Penulis dapat menerapkan asuhan keperawatan pada klien dengan asma
bronchial
2. Tujuan Khusus
a. Mampu melakukan pengkajian pada pasien dengan asma bronchial.
b. Mampu menentukan masalah atau diagnosa keperawatan pada pasien
dengan asma bronchial.
c. Mampu merencanakan tindakan keperawatan pada pasien dengan asma
bronchial.
d. Mampu melaksanakan tindakan keperawatan pada pasien dengan asma
bronchial.
e. Mampu melakukan evaluasi keperawatan pada pasien dengan asma
bronchial.
f. Mampu mendokumentasikan asuhan keperawatan secara baik dan
benar.

6
BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A. Konsep Dasar Penyakit Asma Bronchial


1. Anatomi Fiosiologi Paru

Sistem pernafasan terdiri dari saluran pernafasan (rongga hidung, rongga


mulut, foring, laring, trachea, bronkus, bronkiolus dan alveoli
Laring membagi saluran pernafasan menjadi 2 bagian :
a. Saluran pernafasan atas
b. Saluran pernafasan bawah
Rongga Hidung
Rongga hidung terdiri atas
a. Vestibulum yang dilapisi oleh sel submukosa sebagai pelindung

7
b. Dalam rongga hidung terdapat rambut yang berperan sebagai pelapis
udara
c. Struktur konka berfungsi sebagai proteksi terhadap udara luar.
d. Sel sillia berperan untuk melemparkan benda asing keluar saluran
dalam usaha membersihkan jalan nafas
Fungsi Rongga Hidung
a. Sebagai bagian dari sistem respirasi
b. Sebagai fungsi dari preventif, dilaksanakan oleh bulu hidung, sebagai
penyaring debu dan sillia sebagai pembersih jalan nafas
c. Sebagai funngsi pelicin atau pelumas yang dilaksanakan oleh
submukosa dan sel qoblet
d. Sebagai fungsi pemanas dan pendingin udara yang dilaksanakan oleh
vaskularisasi rongga hidung
Rongga mulut
Peranan rongga mulut dalam pernafasan adalah hanya waktu
bersuara atau tersumbatnya rongga hidung
Faring
Merupakan bagian belakang dari rongga hidung dan rongga
mulut,terdiri dari nasofaring, orofaring, laringofaring, berperan sebagai
pemisah jalan udara dan makanan
Laring
Fungsi utama laring adalah sebagai alat suara dan di dalam saluran
pernafasan berfungsi sebagai jalan udara.
Trakea
Trakea merupakan suatu cincin tulang rawan yang tidak lengkap
(berbentuk C). Panjang trakea kira-kira 10 cm yang terdiri dari 16-20
cincin tulang rawan.
Bronkus
Bronkus merupakan struktur yang terdapat di dalam mediastinum,
yang merupakan percabangan dari erakea dan membentuk bronkus utama
kanan dan kiri. Panjang cabang bronkus utama ± 5 cm, diameternya 11-19
cm dan luas penampangnya 3,2 cm2.

8
Sudut tajam yang dibentuk oleh percabangan trakea disebut Karina.
Bronkus utama mempunyai 3 cabang yaitu bronkus lobaris superior,
medialis dan inferior.
Sedangkan bronkus utama kiri mempunyai 2 cabang yaitu bronkus
lobaris, superior dan inferior. Diameter dari bronkus lobaris adalah 4,5-
11,5 mm dengan luas penampang ± 2,7 cm2.
Bronkus lobaris bercabang menjadi bronkus segmentalis, dimana
paru kanan mempunyai 10 segmen dan paru kiri mempunyai 3 segmen.

Bronchiolus Duktus Alveolaris dan Alveolus


Bronkus segmental bercabang-cabang menjadi bronkiolus, kemudian
terbagi lagi duktus-duktus Alveolaris.
Duktus Alveolaris merupakan tangkai dari alveolus dan bersama-sama
dengan bronkiolus resopiratorius, merupakan bagian dari suatu unit
fungsional paru, dimana pertukaran gas.
Paru
Terbagi menjadi paru kanan dan paru kiri. Setiap paru dilindungi
oleh selaput yang disebut pleura, yaitu pleura viseralis, yang melapisi
rongga dada sebelah dalam.
Pembuluh darah pada paru:
a. Sirkulasi pulmonal berasal dari ventrikel kanan yang tebal 1/3 dari
tebal ventrikel kiri.
b. Selain aliran melalui arteri pulmonal ada darah yang langsung ke paru
yaitu dari aorta melalui arteri pulmonalis yang kaya akan O2.
c. Arteri pulmonalis membawa darah yang sedikit mengandung udara
dari vertikel kanan ke paru.
Pernafasan (Respirasi)
Adalah peristiwa menghirup udara dari luar yang mengandung O 2
(oksigen) dan mengeluarkan CO2 (karbondioksida) sebagai sisa dari
oksidasi keluar dari tubuh.
Fungsi Saluran Pernafasan :

9
a. Sebagai saluran, yaitu yang dilakukan oleh hidung, faring, laring,
trakea, bronkus, bronkeolus.
b. Sebagai alat difusi/pertukaran gas, dilakukan oleh bronkolus,
respiratorius, duktus alveolaris, dan alveolus.
c. Sebagai saringan untuk partikel yang lebih dari 10 mikron,
dilaksanakan oleh bulu hidung, mukosa hidung dan faring.
d. Melembabkan, dilakukan oleh mukus dan pembuluh darah pada
mukosa hidung dan faring.
e. Menyesuaikan suhu udara pernafasan dengan suhu tubuh.
Proses pernafasan terdiri dari 4 tahap yaitu :
a. Ventilasi
Peristiwa masuknya dan keluarnya udara ke dalam paru (inspirasi dan
ekspirasi). Prosesnya dipengaruhi oleh : kondisi saluran pernafasan,
kondisi otot-otot pernafasan dan rangka thorak, volume dan kapasitas
paru dan fungsi pusat pernafasan, serta saraf spiral yang
mempersyarafi otot-otot pernafasan.
b. Difusi
Pertukaran oksigen dan karbondioksida yaitu, perpindahan oksigen
dari alveoli ke dalam darah dan karbondioksida dari darah ke alveoli.
Prosesnya dipengaruhi oleh suhu tubuh, perbedaan tekanan atau
konsentrasi oksigen dan karbondioksida antara alveoli dan darah,
ketebalan membran respirasi.
c. Perfusi
Peristiwa distribusi darah di dalam paru
d. Tranfortasi Gas
Proses distribusi oksigen ke seluruh jaringan
Proses tranportasi dipengaruhi oleh kondisi pompa jantung dan
vaskuler (sistem kardiovaskuler), kosentrasi hemogtobin.

10
2. Pengertian
Asma Bronkial adalah penyakit jalan nafas obstruksi intermiten
reversibel dimana trakea dan bronchi berespon dalam secara hiperaktif
terhadap stimuli tertentu.
Asma Bronkial adalah suatu penyakit yang ditandai dengan
meningkatnya respon dari bronkus terhadap berbagai rangsangan.
(Soeparman, 1999)

3. Etiologi
Asma terdiri dari 2 jenis (alergi terhadap alergen) yaitu :
1. Asma Intrinsik (non alergi) atau idiopatik
Asma ini tidak berhubungan dengan alergen spesifik. Faktor-faktor seperti
common cold : infeksi traktus respiratorius, latihan emosi dan polutan
lingkungan dapat menyebabkan serangan.
Beberapa agen farmakologis seperti aspirin dan agen inflamasi non steroid
lain, pewarna rambut, antagonis adrenergik, dan agen sulfit juga mungkin
menjadi faktor serangan. Asma ini biasanya lebih berat dapat berkembang
menjadi bronkitis klinis/empisema.
2. Asma Ekstrinsik (alergi)
Disebabkan oleh alergen-alergen yang dikenal (ex : serbuk sari, binatang,
makanan, jamur). Kebanyakan alergen tredapat di udara dan musiman.
Klien ini biasanya mempunyai riwayat keluarga yang alergi dan riwayat
masa lalu eksema/rinitis alergi.
Pemajanan/berinteraksi dengan alergen mencetuskan serangan asma.
3. Asma Gabungan
Asma gabungan adalah bentuk yang paling umum, asma ini mempunyai
karakteristik dari idiopatik/non alergi.
(Mansjoer, 2000)
4. Patofisiologi
Alergen yang masuk kedalam tubuh merangsang sel plasma
menghasilkan Ig E yang selanjutnya menempel pada reseptor dinding sel
mast. Sel mast ini disebut sel mast tensensitisasi.

11
Bila alergen serupa masuk kedalam tubuh, alergen tersebut akan
menempel pada sel mast tensensitisasi yang kemudian mengalami degranulasi
dan mengeluarkan sejumlah mediator seperti histeman, kukotrien, serta faktor
penyakit trombosit mencetuskan bronkokonstriksi, edema mukosa dan respon
imun kemudian menghasilkan keadaan hiperresponsik jalan nafas
berkelanjutan dengan penyumbatan jalan nafas.
Afekkosis semental atas subsegmental dapat terjadi memperburuk
ketidakseimbangan vantilasi dan perfusi, hipoventilasi alveolar yang lebih
banyak dan hiperkapnea dapat terjadi mendadak. Hiperkapnea menawarkan
asam karbonat yang berdisosiasi menjadi ion hidrogen dan ion bikarbonat
menimbulkan asidosis respiratorik. Vasokontriksi pulmonal dapat menciderai
alveolar, mengurangi produksi surfaktan yang normalnya menstabilkan
alveoli. Dengan demikian proses ini dapat memperburuk kecenderungan ke
arah atelektasis.
(Brunner & Suddarth, 2000)

5. Manifestasi Klinis
Gejala yang timbul biasanya berhubungan dengan berat derajat aktivitas
bronkus. Obstruksi jalan nafas dapat reversibel secara spontan maupun dengan
pengobatan. Gejala-gejala asma antara lain :
- Bising mengi (wheezing) yang terdengar/tanpa stetoskop.
- Batuk produktif sering pada malam hari.
- Nafas/dada seperti tertekan.
Gejalanya dapat bersifat paroksimal, yaitu pada siang hari dan
memburuk pada malam hari.
Asma bronkial yang berlangsung lama megakibatkan empisema dan
perubahan torak yaitu membusung kedepan dan memanjang pada foto rontgen
torak, fertilies diafragma letaknya lebih rendah disertai debaran jantung yang
menyempit. Bila sekret banyak dan menyempit, salah satu bronkus dapat
tersumbat sehingga dapat terjadi afelektasis pada bronkus, pada lobus
mediastinum tertarik ke arah eflekfasia, bila berlangsung lama dapat
menyebabkan bronkietasis dan disertai infeksi akan menjadi

12
bronkopneumonia pada stastus asmatikus dan bila tidak ditolong dengan
semestinya akan menyebabkan kematian, gagal jantung dan gagal nafas.
(Brunner & Sudaarth, 2000)

6. Pathway

Infeksi Merokok Polusi Alergen Genetik

Masuk saluran pernapasan



Iritasi mukosa saluran
pernapasan

Reaksi inflamasi

Hipertropi dan hiperplasia
mukosa bronkus

Metaplasia sel globet Produksi sputum
↓ meningkat
Penyempitan saluran ↓
pernapasan Batuk
↓ ↓
Jalan nafas tidak efektif
↓ Potensial tidak
Penurunan Obstruksi efektifnya jalan
ventilasi ↓ nafas
↓ Penularan udara ke alveoli
Supply O2 ↓
Vasokontriksi pembuluh Gangguan
menurun pertukaran gas
↓ darah paru-paru
Kelemahan ↓
↓ Supply oksigen berkurang
Intoleran ↓
aktivitas Sesak nafas

Kebutuhan tidur tidak
efektif

Gangguan istirahat
tidur

(Brunner & Suddarth, 2002)

13
7. Komplikasi
Berbagai komplikasi menurut Arief Mansjoer (2000: 477) yang mungkin
timbul adalah :
1. Pneumo thoraks
Pneumothoraks adalah keadaan adanya udara di dalam rongga
pleura yang dicurigai bila terdapat benturan atau tusukan dada.
Keadaan ini dapat menyebabkan kolaps paru yang lebih lanjut lagi
dapat menyebabkan kegagalan nafas.Kerja pernapasan meningkat,
kebutuhan O2 meningkat. Orang asma tidak sanggup memenuhi
kebutuhan O2 yang sangat tinggi yang dibutuhkan untuk bernapas
melawan spasme bronkhiolus, pembengkakan bronkhiolus, dan m ukus
yang kental.
2. Status Asmatikus
Status asmatikus adalah suatu serangan asma yang sangat berat,
berlangsung dalam beberapa jam smapai beberapa hari yang tidak
memberikan perbaikan pada pengobatan yang lazim dan dapat
mengakibatkan kematian.
Factor penyebab :
- Infeksi saluran nafas
- Pencetus serangan ( allergen, obat- obatan, infeksi)
- Kontraksi otot polos
- Edema mukosa
- Hipersekresi
3. Emfisema kronik
Adanya pengisian udara berlebih dengan obstruksi terjadi akibat
dari obstruksi sebagian yang mengenai suatu bronkus atau bronkiolus
dimana pengeluaran udara dari dalam alveolus menjadi lebih sukar
dari pada pemasukannya.
4. Ateleltaksis
Atelektasis adalah pengkerutan sebagian atau seluruh paru-paru akibat
penyumbatan saluran udara ( bronkus maupun bronkiolus ) atau akibat
pernafasan yang sangat dangkal.
6. Aspergilosis
Aspergilosis merupakan penyakit pernafasan yang disebabkan oleh
jamur dan tersifat oleh adanya gangguan pernafasan yang berat.
Penyakit ini juga dapat menimbulkan lesi pada berbagai organ lainnya,
misalnya pada otak dan mata. Istilah Aspergilosis dipakai untuk

14
menunjukkan adanya infeksi Aspergillus sp.Aspergilosis
Bronkopulmoner Alergika (ABPA) adalah suatu reaksi alergi terhadap
jamur yang disebut aspergillus, yang menyebabkan peradangan pada
saluran pernafasan dan kantong udara.
7. Gagal nafas

8. Bronchitis
Bronkhitis adalah kondisi di mana lapisan bagian dalam di paru-paru
yang kecil mengalami bengkak dan terjadi peningkatan produksi
dahak. Akibatnya penderita merasa perlu batuk berulang-ulang dalam
upaya mengeluarkan lendir yang berlebihan.

B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan


1. Pengkajian keperawanan, terdiri dari :
a. Riwayat Kesehatan terdiri dari :
1) Data Biografi
Nama, umur, jenis kelamin, agama, pendidikan, pekerjaan, bangsa,
bahasa yang digunakan, alamat, sumber biaya.
2) Riwayat penyakit sekarang
Keluhan utama, kapan mulai sakit, faktor pencetus, terjadinya tiba-
tiba atau berangsur-angsur, pengobatan yang telah diberikan, efek
obat yang telah diberikan.
3) Riwayat kesehatan yang lalu.
a) Hal-hal yang dapat menjadi pemicu serangan asma, baik fisik
maupun psikologisseperti : alergaen inhalasi, infeksi saluran
nafas bagian atas, obat dan makanan, aktivitas olahraga (joging
aerobik), kerja keras dan riwayat asma saat beraktivitas, cemas
dan panik.
b) Pengalaman yang dirawat, keluhan yang sering dialami,
pengalaman yang lalu tentang episode asma.
c) Riwayat alergi, makanan berpantang, kebiasaan berobat, dan
obat yang biasa diminum atau digunakan.

15
4) Pengalaman dirawat, keluhan yang sering dialami, pengalaman
yang lalu tentang episode asma.
5) Riwayat kesehatan lingkungan.
6) Riwayat psikososial : suasana hati, karakteristik, perkembangan
mental, kepekaan lingkungan, sosialisasi, gaya hidup, pola koping
perspsi klien tentang penyakitnya, pengetahuan klien dan keluarga
tentang penyakit asma,faktor pencetus asma, penatalaksanaan
medis dan keperawatan serta lain-lain.
7) Kebiasaan sehari-hari : pola nutrisi (makan dan minum), pola
istirahat, pola aktivitas, pola eliminasi dan pola komunikasi.
8) Kebutuhan dan aktivitas spiritual.
b. Pemeriksaan Fisik
1) Penampilan Umum
Klien tampak kelelahan bingung, gelisah, dan pucat.
2) Status Neurologi
Penurunan tingkat kesadaran pada klien asma, terjadi karena ketidak
seimbangan, asam basa.
3) Status respirasi
a) Inspeksi
Klien tampak sesak, dyspnea, hiperventilasi, peningkatan kerja,
nafas ditandai dengan : penggunaan otot bantu pernafasan, retraksi
otot-otot intercostal, otot substernal, dan supraclavicula, respirasi
rate : lebih dari 24 kali permenit.
b) Auskultasi
Bunyi nafas melemah, ada wheezing pada saat ekspirasi, ada
ronchi
c) Palpasi
Taktil fremitus meningkat / menurun atau tetap.
d) Perkusi
Resonan meningkat / melemah.
4) Status Cardiovaskuler
a) Nadi

16
Tachikardia, adanya arytmia, distensi vena jugularis.
b) Tekanan Darah
Awalnya meningkat, namun karena terjadi hiperinflasi maka
tekanan intra ehorak meningkat, tekanan darah menurun.
c) Adanya pulsus paradoks (penurunan tekanan darah). Sistolik ± 10
mmhg atau lebih pada waktu inspirasi.
d) Pengisian kapiler : awlnya normal dan lebih dari 3 detik bila
serangan makin memburuk.
5) Sistem Gastro Intestinal
Mulut dan membran mukosa kering, adanya mual, muntah karena
alergi terhadap makanan.
c. Pemeriksaan Penunjang
1) Laboratorium
Peningkatan serum I q E, test alergi (+)
2) Rontgen Thorak
Hyperventilasi
3) Analisa Gas Darah
a) Pada serangan asma
awal : ph meningkat, Pa Co2 menurun, Pa O2 menurun,
chyperventilasi, hipokarbia
b) Serangan progresif
(progresive attack)
Ph normal, pa co2 normal, pa o2 menurun (penurunan ventilasi
alveolar)
c) Prolog attack status
asmatikus :
Ph menurun, Pa Co2 meningkat, Pa O2 menurun, (hypercarbia
ventilasi tidak adekuat, hipoventilasi, respirastory)

2. Diagnosa keperawatan yang mungkin timbul


a. Tidak efeknya bersihan jalan nafas berhubungan dengan peningkatan
produksi sputum

17
b. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan supply
oksigen
c. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan intake
yang tidak adekuat
d. Keterbasan aktifitas berhubungan dengan kelemahan fisik
e. Kurangnya pengetahuan tentang proses-proses penyakitnya
berhubungan dengan kurang informasi
3. Fokus Intervensi
1) Bersihan jalan nafas tidak efektif b/d peningkatan produksi sputum,
bronkospasme.
Tujuan : bersihan jalan nafas efektif
Intervensi : - Auskultasi bunyi nafas, catat adanya bunyi nafas
- Monitor frekuensi pernapasan
- Berikan posisi yang nyaman (semifowler)
- Ajarkan tehnik pernapasan diafragma
- Ajarkan cara batuk efektif
- Bentu klien dalam pemberian nebulizer, inhalusi sesuai
indikasi.
- Kolaborasi dalam pemberian bronkodilator.
(Doenges, 2000)
2) Gangguan pertukaran gas (fase ekspirasi yang memanjang) b/d
obstruksi jalan nafas oleh sekret, spasme bronkus, kerusakan alveoli.
Tujuan : pertukaran gas menjadi lancar
Intervensi : - Kaji frekuensi dan kedalaman nafas
- Dorong pengeluaran sputum
- Auskultasi bunyi nafas
- Awasi tingkat kesadaran
- Beri therapy O2
(Doengers, 2000)
3) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d dyspnea,
kelemahan, anorexia, mual/muntah.
Tujuan : kebutuhan nutrisi terpenuhi

18
Intervensi : - Kaji intake dan output makanan
- Anjurkan makan dalam porsi kecil tapi sering
- Auskultasi peristaltik usus
- Kolaborasi dengan tim gizi dalam pemberian diit
(Doenges, 2000)
4) Intoleran aktivitas b/d keletihan, hipoxemia
Tujuan : pasien dapat berkativitas secara mandiri
Intervensi : - Dorong klien melakukan aktivitas secara mandiri
- Pantau nadi dan RR setelah beraktivitas
- Bantu latihan rentang gerak secara bertahap
(Doenges, 2000)
5) Ansietas b/d kurangnya pengetahuan tentang penyakit, perawatan
pengobatan.
Tujuan : cemas hilang
Intervensi : - Kaji pengetahuan klien tentang penyakitnya
- Jelaskan proses penyakit
- Tekankan pentingnya oral hygiene
- Diskusikan pentingnya menghindari orang yang terkena
infeksi pernapasan
- Diskusikan untuk menghindari faktor pencetus.
(Carpenito, 2001)

BAB III
TINJAUAN KASUS

19
A. Pengkajian
Pengkajian ini dilakukan pada tanggal 17 Januari 2008 pukul 09.00
WIB di ruang Sindoro RSU Pandan Arang Boyolali dengan cara
allowanamnesa dan autoanamnesa.
1. Identitas Klien
Nama : Tn. S
Umur : 69 tahun
Alamat : Klego RT 08 RW 02 Klego
Agama : Islam
Pendidikan : SD
Pekerjaan : Wiraswasta
Tanggal Masuk : 05 Januari 2008
No. Register : 168345
Dx. Masuk : Asma Bronkial
2. Identitas Penanggung Jawab
Nama : Ny. Rubinem
Umur : 65 tahun
Alamat : Klego RT 08 RW 02 Klego
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Agama : Islam
Hub. Dengan Klien : Istri

B. Riwayat Kesehatan
1. Keluhan Utama
Pasien mengatakan sesak nafas.
2. Riwayat Kesehatan Sekarang
Tanggal 05 Januari 2008 pasien merasakan sesak nafas dan batuk. Pasien
kemudian memeriksakan diri ke dokter umum RSU Pandan Arang dan
oleh dokter yang memeriksa menganjurkan untuk rawat inap untuk
perawatan lebih lanjut, dengan keluhan sesak nafas, batuk berdahak tetapi
tidak disertai lendir darah. Pada saat dilakukan pengkajian pasien

20
mengeluh sesak nafas, batuk berdahak, terpasang O2 2 liter/menit. Pasien
terlihat lemah, wajah pucat, respirasi 32 x/menit.
3. Riwayat Kesehatan Dahulu
Sebelumnya pasien pernah opname di RSU Pandan Arang Boyolali
sebanyak 13 kali, pertama kali pada tanggal/bulan Maret 1994 dan terakhir
pada bulan April 2006 dengan keluhan dan penyakit yang sama yaitu
asma.
4. Riwayat Kesehatan Keluarga
Dalam keluarga pasien tidak ada yang mempunyai riwayat penyakit seperti
yang diderita pasien, tidak ada yang mempunyai riwayat menular/
keturunan.

C. Pengkajian dan Fungsional Menurut V Handerson


1. Pola Bernafas
Sebelum sakit : pasien tidak mengalami gangguan pola nafas, frekuensi
nafas normal.
Selama sakit : pasien mengalami sesak nafas, frekuensi nafas 32 x/menit,
pernapasan irreguler, ekspirasi dan ispirasi cepat dan
dangkal, terdengar adanya ronchi.
2. Pola Nutrisi dan Metabolisme
Sebelum sakit : pasien makan 3x/hari, habis satu porsi dengan komposisi
nasi, sayur dan lauk, kadang-kadang disertai buah dan
makanan tambahan. Pasien minum ± 6-8 gelas/hari @
200cc.
Selama sakit : pasien makan 3x/hari, habis ½ porsi, dengan komposisi
bubur, sayur dan lauk serta buah yang disediakan di RS.
Minum 4-5 gelas/hari @ 200cc, selain itu pasien mendapat
tambahan nutrisi dari cairan infus D5% 20 tpm.

3. Pola Eliminasi

21
Sebelum dan selama sakit pasien tidak mengalami gangguan pola
eliminasi. Pasien BAB 1x/hari waktu tidak tentu dengan konsistensi
lembek, bau khas, BAK 3-4/menit @ 150 cc warna kuning, bau khas
amoniak.
4. Pola Keseimbangan dan Gerak
Sebelum sakit : pasien tidak mengalami gangguan dalam bergerak, pasien
mampu melakukan ADL tanpa bantuan dan mobilisasi
sendiri.
Selama sakit : aktivitas pasien sedikit terganggu karena merasakan sesak
nafas, ADL dibantu keluarga, mobilisasi mandiri tapi
dibatasi.
5. Pola Istirahat Tidur
Sebelum sakit : pasien tidak mengalami gangguan tidur, tidur 8-10
jam/hari, terdiri dari tidur siang dan tidur malam, pasien
dapat tidur dengan tenang dan nyenyak.
Selama sakit : pasien mengalami gangguan pola istirahat dan tidur
karena sesak nafas, pasien tidur 4-5 jam/hari dan
waktunya tidak tentu, kadang-kadang pasien terbangun
dari tidurnya karena sesak nafas.
6. Pola Mempertahankan Suhu Tubuh
Sebelum dan selama sakit pasien menyesuaikan diri dengan lingkungan,
bila cuaca dingin pasien menggunakan baju dan jaket serta selimut tebal.
Jika cuaca panas/suhu naik pasien menggunakan pakaian yang tipis dan
menyerap keringat.
7. Pola Kebutuhan Personal Hygiene
Sebelum sakit : pasien mandi 2x/hari (pagi dan sore), gosok gigi saat
mandi dan sesudah makan, keramas 2x/hari.
Selama sakit : pasien disibin 2x/hari oleh keluarganya, gosok gigi 2x/hari
dengan dibantu oleh keluarga dan selama di rumah sakit
pasien belum pernah keramas. Terkadang ketika sesak
nafas hilang sementara waktu pasien mandi dan gosok gigi

22
sendir tanpa bantuan keluarga, dengan alasan tidak mau
merepotkan.
8. Pola Komunikasi
Sebelum sakit : pasien dapat berkomunikasi dengan baik, komunikasi
lancar dan mduah dimengerti, menggunakan bahasa Jawa.
Selama sakit : komunikasi pasien dengan orang lain sedikit terganggu,
pasien jarang berkomunikasi, pasien lebih banyak diam
karena merasa sesak. Tetapi ketika perawat dan dokter
bertanya pasien berusaha semampunya dan berusaha
untuk menjawab pertanyaan dikarenakan juga pasien
seorang yang ingin mengungkapkan tentang keluhan-
keluhan yang dirasakan dan penyakitnya.
9. Kebutuhan Spiritual
Sebelum sakit : pasien adalah seorang muslim dan taat menjalankan
ibadah shalat 5 waktu dan terkadang juga sering mengikuti
pengajian-pengajian yang diadakan di Masjid
didaerahnya.
Selama sakit : pasien mendapatkan gangguan dalam menjalankan ibadah
shalat 5 waktu, sehingga shalat 5 waktu dikerjakan
semampunya ditempat tidur dan pasien selalu berdo’a
untuk kesembuhannya.
10. Kebutuhan Berpakaian
Sebelum sakit : pasien dalam berpakaian rapi, ganti pakaian 2x/hari
setelah mandi dan pasien senang memakai kaos lengan
pendek dan celana panjang.
Selama sakit : pasien memakai pakaian kaos lengan pendek dan sarung,
berganti pakaian 1x/hari dengan bantuan keluarga.
11. Kebutuhan Rasa Aman dan Nyaman
Pasien merasa aman bila ditunggui oleh keluarganya, dan pasien merasa
nyaman tidur ditempat yang bersih dna mengenakan pakaian yang bersih
tetapi pasien merasa kurang nyaman karena merasa sesak nafas.

23
12. Kebutuhan Bekerja
Sebelum sakit : pasien adalah mantan pegawai PU di desa Klego dan
untuk keseharian pasien diisi dengan membersihkan
pekarangan rumah, dikarenakan pasien sudah lama
pensiun dari pekerjaannya.
Selama sakit : pasien hanya terbaring di Rumah Sakit dan untuk
beraktivitas butuh bantuan keluarga, sehingga pasien
selalu meminta keluarganya dan anak-anaknya untuk rajin
bekerja.
13. Kebutuhan Rekreasi
Sebelum sakit : pasien jarang pergi rekreasi dengan keluarga, bila ada
waktu luang pasien hanya membaca koran, nonton TV,
memandang pekarangan rumah dan berkumpul bersama
keluarga adalah kebahagiaan tersendiri bagi pasien.
Selama sakit : pasien tidak dapat melakukan kebiasaannya karena hanya
bisa berbaring di tempat tidur.
14. Kebutuhan Belajar
Pasien sesekali bertanya kepada perawat tentang penyakitnya, komplikasi,
tanda maupun gejalanya.

D. Pemeriksaan Fisik
1. Keadaan Umum
a. Penampilan : lemah dan terlihat sulit dalam bernafas
b. Kesadaran : composmentis
2. Tanda-tanda Vital
TD : 130/80 mmHg
N : 80 x/menit
S : 367 oC
RR : 32 x/menit
3. Tinggi Badan : 170 cm
Berat Badan : 63 kg

24
4. Kepala
a. Bentuk kepala : mesochepal, antara muka dan tengkorak simetris.
b. Rambut : warna hitam keputihan, lurus, persebaran merata,
bersih, tidak ada ketombe, tidak mudah rontok.
c. Mata : simetris, seklera tidak ikterik, konjungtiva tidak
anemis, pupil isokor, penglihatan baik, tanpa
menggunakan alat bantu penglihatan.
d. Hidung : bersih, septum simetris, tidak ada pembesaran polip,
tidak terjadi perdarahan, hidung terpasang nasal
kanul.
e. Telinga : bersih, tidak ada penumpukan serumen, fungsi
pendengaran baik, tidak menggunakan alat bantu
pendengaran.
f. Mulut : bersih, tidak ada stomatitis, tidak ada caries gigi,
mukosa bibir lembab, lidah bersih, tidak ada
perdarahan.
g. Leher : tidak terjadi pembesaran kelenjar tyroid, tidak ada
nyeri telan.
5. Dada
a. Paru-paru
I : simetris, ada tarikan intercosta, ekspirasi dan inspirasi cepat dan
dangkal.
Pa : retraksi traktil fremitus teraba sama
Pe : sonor
A : terdengar adanya wheezing
b. Jantung
I : dada simetris, ictus cordis tampak
Pa : ictus cordis teraba di intercosta 5
Pe : redup
A : S1 dan S2 reguler (lup-dup)
6. Abdomen
I : bersih, datar, tidak ada luka bekas insisi, dan tidak ada penonjolan

25
A : peristaltik usus 20 x/menit
Pa : tidak ada nyeri tekan, tidak ada pembesaran hepar
Pe : tympani
7. Genetalia
Bersih, tidak terpasang kateter.
8. Anus
Bersih, tidak terdapat hemorroid
9. Ekstermitas
a. Superior : lengkap, tidak ada oedem/cacat, tidak ada luka, rentang
gerak (+), pada tangan kiri terpasang infus D5% 20
tetes/menit, bersih.
b. Inferior : lengkap, tidak ada luka, oedem/cacat, rentang gerak (+),
bersih.
10. Kuku dan Kulit
Warna kulit sawo matang, turgor kulit baik, tidak ada lesi, warna dasar
kuku merah muda, sudut antara kuku dan dasar kuku ibu, dasar kuku
kokoh, sirkulasi dan pengisian kapiler baik, kapilary refill kurang dari 2
detik.

E. Data Penunjang
1. Pemeriksaan Laboratorium
Laporan hasil pemeriksaan laboratorium pada tanggal 06 Januari 2008
Parameter Hasil Satuan Normal Ket
HB 13,2 g/dl P.12-16/L:13-18
Leukosit 6.400 / 4.000-11.000
LED 35/50 /mm 0-20
Hitung jenis sel
- Eosinofil 0 % 1-3
- Basofil 0 % 0-1
- Batang 0 % 2-6
- Segmen 75 % 30-70
- Limfosit 22 % 20-40
- Monosit 4 % 2-8

26
Hematokrit 39 % 37-48
PP - g/dl 6,0-8,0
Trombosit 276 130-140
Eritrosit 4,14 4,5-55
MCV 93,5 Fl 80-100
MCH 31,9 Pg 27-32
MCHC 34,1 g/dl 32-36

Urinalisa Hasil Satuan Normal Ket


Warna Kuning - Kuning.md-kuning
Kekeruhan Jernih - Jernih
Leukosit Neg Sel/ul Neg
Nitrit Neg - Neg
Uroblinogen Neg - Normal
Protein Neg - Neg
PH 5,5 - 4,6-8,5
Blood/Eri Neg Sel/ul Neg
Keton Neg - 1,003-1,030
Bilirubin Neg - Neg
Glukosa Neg - Neg
SG/BJ 1.015 - Neg
SEDIMEN
- Epithel 1+ Sel/LPB 1+ (< 4)
- Leukosit 1+ Sel/LPB 1+ (< 4)
- Eritrosit 1+ Sel/LPB 1+ (< 4)
- Silinder Neg Sel/LPK Neg
- Kristal Neg Sel/LPK Neg
- Lain-lain Neg - -

2. Therapy
a. O2 2 liter/menit

27
b. Infus Dextrose 5% 20 tetes/menit
c. Syrup OBH 3 x 1 sendok makan
d. Syrup Dexanta 4 z 1 sendok makan
e. Methylprednisolon 3 x 1
f. Vilapon 3 x 1 tablet
g. Sopralan 2 x 1 tablet

F. Dokumentasi Keperawatan
Analisa Data
Nama klien : Tn. S No. Reg : 168345
Ruang : Sindoro Dx.Medis : Asma Bronkial
Hari/Tgl/ Kemungkinan Masalah
No Data Fokus Ttd
Jam Penyebab Keperawatan
1 Minggu DS : Bronkospasme Gangguan
06-01-08 Pasien mengatakan sesak nafas pertukaran
09.00 DO : gas
WIB a. Pasien tampak susah
bernafas
b. Terpasang O2 2 liter/emnit
c. Terdengar wheezing
d. Terlihat retraksi intercosta
e. Ekspirasi dan inspirasi cepat
dan dangkal
f. RR 32 x/menit
2 Minggu DS : Peningkatan Bersihan jalan
06-01-08 Pasien mengatakan batuk dan sekret nafas tidak
09.00 mengeluarkan sekret. efektif
WIB DO :
a. Pasien batuk disertai lendir
b. Pasien mengeluarkan sekret
berwarna putih.
3 Minggu DS : Intake Pemenuhan
06-01-08 Pasien mengatakan nafsu makanan kebutuhan
09.00 makan menurun. kurang nutrisi kurang

28
WIB DO : dari
a. Makan habis ½ porsi kebutuhan
b. Badan lemas tubuh.
c. BB turun 1 kg
BB sebelum sakit : 63 kg
BB selama sakit : 62 kg
d. Terpasang infus D5% 20 tpm
4 Minggu DS : Sesak nafas Gangguan
06-01-08 Pasien mengatakan susah tidur pola istirahat
09.00 karena sesak nafas tidur.
WIB DO :
a. Kantung mata membesar
b. Pasien tidur 4-5 jam/hari
c. Mata sayu, kemerahan
d. Wajah pucat

Daftar Masalah
Nama klien : Tn. S No. Reg : 168345
Ruang : Sindoro Dx.Medis : Asma Bronkial
Hari/Tgl Tgl. Tgl.
Diagnosa Keperawatan Ttd
/Jam Ditemukan Teratasi
Minggu Gangguan pertukaran gas b/d bronkospasme 06-01-08
06-01-08 ditandai dengan :
09.00 a. Pasien tampak susah bernafas
WIB b. Terpasang O2 2 liter/menit
c. Terdengar bunyi ronchi
d. Terlihat retraksi interkosta
e. Ekspirasi dan inspirasi cepat dan dangkal
f. RR : 32 x/menit
Minggu Bersihan jalan nafas tidak efektif b/d 06-01-08
06-01-08 peningkatan preduksi sekret ditandai dengan:
09.00 a. Batuk disertai pengeluaran sekret
WIB b. Pasien mengeluarkan sekret berwarna putih.
Minggu Pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari 06-10-08

29
06-01-08 kebutuhan tubuh b/d intake makanan kurang
09.00 dan ditandai dengan :
WIB a. Makan habis ½ porsi
b. BB turun 1 kg
c. Pasien tampak lemas
d. Terpasang infus D5% 20 tpm
Minggu Gangguan pola istirahat tidur b/d sesak nafas 06-01-08
06-01-08 ditandai dengan :
09.00 a. Kantong mata membesar
WIB b. Mata sayu, kemerahan
c. Wajah pucat
d. Tidur 4-5 jam/hari

Rencana Tindakan Keperawatan


Nama klien : Tn. S No. Reg : 168345
Ruang : Sindoro Dx.Medis : Asma Bronkial
Hari/Tgl/ No
Tujuan Rencana Keperawatan Ttd
Jam DP
Minggu I Tidak terjadi gangguan a. Beri posisi yang nyaman
06-01-08 pertukaran gas setelah (semifowler)
10.00 dilakukan tindakan b. Monitor TTV (frek nafas)
WIB keperawatan selama 2x24 c. Anjarkan teknik nafas dalam
jam dengan KH : d. Monitor pemberian therapy O2
a. Pasien tidak sesak nafas e. Kolaborasi dengan tim medis
b.Tidak ada bunyi wheezing lain dalam pemberian obat
c. Tidak ada tarikan intercosta oral
d.Tidak terpasang O2
e. Ekspirasi dan ispirasi
reguler
f. RR kembali normal
24x/menit
Minggu II Bersihan jalan nafas efektif a. Ajarkan pasien teknik batuk
06-10-08 setelah dilakukan tidakan efektif
10.00 keperawatan selama 2x24 b. Auskultasi (monitor) bunyi

30
WIB jam dengan KH : nafas.
a. Pasien tidak batuk dan c. Dorong latihan nafas dalam
mengeluarkan sekret. d. Pantau irama dan kedalaman
b.Pengeluaran sekret (-) pernapasan
e. Anjurkan untuk banyak
minum air hangat.
Minggu III Kebutuhan nutrisi terpenuhi a. Beri makan sedikit tapi sering
06-01-08 setelah dilakukan tindakan b. Sajikan makanan selagi hangat
10.00 keperawatan selama 2x24 c. Beri informasi tentang
WIB jam dengan KH : pentingnya nutrisi bagi tubuh.
a. Makan habis 1 porsi d. Monitor input makanan
b.Badan tidak lemas e. Kolaborasi dengan tim gizi
c. BB kembali normal 65 kg dalam pemberian diit makan
Minggu IV Istirahat tidur terpenuhi a. Kaji kebiasaan tidur pasien
06-01-08 setelah dilakukan tindakan (kualitas tidur)
10.00 keperawatan dengan kriteria b. Ciptakan suasana tenang
WIB hasil : dengan membatasi pengunjung
a. Kantung mata tidak ada c. Ajarkan teknik relaksasi
b.Pasien tidur 7-8 jam/hari sebelum tidur
c. Mata tidak merah d. Kurangi kebisingan
d.Pasien tampak segar e. Kolaborasi dengan tim medis
lain dalam pemberian obat
tidur.

Prioritas Masalah
Nama klien : Tn. S No. Reg : 168345
Ruang : Sindoro Dx.Medis : Asma Bronkial
1. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan bronkospasme
2. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan
produksi sekret
3. Pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan intake makanan kurang
4. Gangguan pola istitahat tidur berhubungan dengan sesak nafas.

31
Catatan Keperawatan
Nama klien : Tn. S No. Reg : 168345
Ruang : Sindoro Dx.Medis : Asma Bronkial
Hari/Tgl/ No
Implementasi Respon Pasien Ttd
Jam DP
Minggu I - Mengatur posisi semifowler
06-01-08 - Mengukur suhu dan TD - S : 365 oC, T : 130/90 mmHg
11.00 - Menghitung nadi dan RR - N : 80x/menit, RR : 28x/menit
11.30 - Mengajarkan teknik nafas - Pasien mau menirukan
12.00 dalam
- Memonitor terapi O2 - O2 masuk 2 liter/menit
- Memberikan therapy obat - Obat mask tanpa reaksi alergi
oral
 Methylprednisolon 3 x 1
 Soprolan 2x1 tablet
 Vilapon 3x1 tablet
 Dexanta 4x1 sendok
makan
 OBH combi 3x1 sendok
makan
Minggu II - Mengajarkan batuk efektif - Pasien mau berlatih batuk
06-10-08 - Mengauskultasi bunyi nafas efektif
11.10 - Membantu latihan nafas - Pasien bernapas dengan
11.20 abdomen abdomen
11.25 - Memonitor frek pernapasan - Frekuensi cepat dan dangkal
- Menganjurkan minum - Pasien minum air hangat
hangat
Minggu III - Memberikan makan sedikit - Pasien mau makan
06-01-08 tapi sering
12.30 - Menyajikan makanan selagi - Pasien senang dengan
11.30 hangat makanan hangat
- Memberi informasi tentang - Pasien mendengarkan
pentingnya nutrisi bagi

32
tubuh
Minggu IV - Memberikan suasana aman - Pasien dapat beristirahat
06-01-08 dan nyaman
11.15 - Membatasi jumlah - Pasien sedikit tenang
pengunjung
- Mengajarkan untuk tarik - Pasien tampak lebih rileks
nafas dalam dan panjag
sebelum tidur
- Kaji kebiasaan, jumlah dan - Pasien seblum tidur berdo’a
kualitas tubuh

Catatan Perkembangan
Nama klien : Tn. S No. Reg : 168345
Ruang : Sindoro Dx.Medis : Asma Bronkial
Hari/Tgl/ No
Evaluasi Ttd
Jam DP
Senin I S : Pasien mengatakan masih sedikit sesak
07-01-08 O : - RR 26x/menit
13.45 - Terpasang O2 2 liter/menit
WIB - Tidak terdengar wheezing
A : Masalah teratasi sebagian
P : Lanjutkan intervensi
- Monitor frekuensi pernapasan
- Monitor pemberian O2
- Beri obat bronkodilator
Senin II S : Pasien mengatakan batuk masih mengeluarkan dahak sedikit
07-01-08 O : - Pasien masih batuk
13.45 - Pasien mengeluarkan dahak
A : Masalah belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi
I : - Anjurkan minum hangat
- Auskultasi bunyi nafas
Anjurkan batuk efektif
-
Senin III S : Pasien mengatakan nafsu makan sedikit meningkat

33
07-01-08 O : - Pasien makan habis 1 porsi
13.45 - Terpasang infus D5% 20 tpm
- BB : 62,2 kg
A : Masalah teratasi sebagian
P : - Lanjutkan intervensi
- Sajikan makanan selagi hangat
- Beri makanan sedikit tapi sering
Senin IV S : Pasien mengatakan tidak bisa tidur
07-01-08 O : - Pasien tampak mengantuk
13.45 - Wajah pucat
A : Masalah belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi
I : - Ciptakan suasana yang tenang
- Batasi jumlah pengunjung

BAB IV
PEMBAHASAN

Pada bab ini penulis akan membandingkan beberapa kesenjangan antara


tinjauan teoritis asma bronchial yang penulis temukan pada Tn. S selama dinas di
Ruang Anggrek Bawah, RSUP Persahabatan Jakarta, dan juga akan dibahas
tentang faktor penghambat serta faktor pendukung dari setiap tahap proses
keperawatan.

A. Pengkajian
Seperti yang telah diuraikan pada bab sebelumnya penulis melaksanakan
asuhan keperawatan. Dengan menerapkan proses keperawatan dimana
pengkajian dilaksanakan pada hari pertama pengambilan kasus. Untuk
mendapatkan data yang menunjang baik secara objektif maupun subyektif,

34
penulis melakukan wawancara dengan klien dan keluarga, pemeriksaan fisik,
mempelajari catatan keperawatan, catatan medis dan hasil pemeriksaan
penunjang pada saat dilakukan pengkajian penulis menemukan adanya
kesenjangan atau perbedaan antara tinjauan teori dengankasus yang ada. Pada
pengkajian klien dengan asma bronchial yang penulis temukan yaitu
kesemasan, keterbatasan fisik, dan resiko terjadinya infeksi. Sedangkan
menurut teori yang dilaksanakan tidak jauh berbeda dengan manifestasi klinis.
Kesenjangan/perbedaan ini dikarenakan menurut manifestasi kliis pada kasus
adalah klien tampak gelisah dan lemas dengan penyakit yang dideritanya dan
klien juga tampak lemas juga terpasang infus di lengan kanan.

B. Diagnosa Keperawatan
Secara umum diagnosa yang timbul pada kasus asma bronchial yanng
ditemukan adalah bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan
peningkatan mukus; gangguan pertukaran gas berhubungan dengan kurangnya
suplai O2 pada tubuh; resiko tinggi pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat; cemas
berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakitnya; kurang
pengetahuan berhubungan dengan kurangnya terpaparnya informasi mengenai
penyakitnya; mobilisasi aktivitas berhubungan dengan kekuatan fisik dan
pemasangan alat invasif dan resiko tinggi infeksi berhubungan dengan
terpasang alat invasif. Sedangkan diagnosa yang timbul pada Tn. S produksi
sputum, pola nafas tidak efektif berhubungan dengan brokokonstruksi;
kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan intake yang tidak adekuat;
keterbatasan aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik; kurangnya
pengetahuan tentang proses-proses penyakitnya berhubungan dengan
informasi.
Pada kasus Tn.S ada juga diagnosa yang tidak ditemukan pada konsep
teoritis yaitu; cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang
penyakitnya; imobilisasi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik dan
pemasangan alat invasif. Sedangkan diagnosa yang ditemukan pada konsep
dan kasus Tn.S adalah tidak efektifnya bersihan jalan nafas berhubungan

35
dengan peningkatan mukus; gangguan pertukaran gas berhubngan dengan
kurangnya suplai O2 pada tubuh; Resiko tinggi pemenuhan kebutuhan nutrisi
kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat;
kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurang terpaparnya informasi
mengenai penyakitnya.

C. Intervensi Keperawatan
Pada perencanaan tindakan keperawatan pada Tn. S menggunakan
prioritas masalah dengan mempertimbangkan dasar-dasar kebutuhan manusia.
Dalam menetapkan rencana asuhan keperawatan yang sudah dilakukan penulis
yaitu; membantu/mengkaji pola nafas klien, mengukur tanda-tanda vital,
mempertahankan nutiris yang adekuat, menjelaskan prosedur yang akan
dilakukan, kolaborasi dalam pembenaran obat-obatan, membantu klien dalam
memenuhi kebutuhan sehari-hari; nutrisi melibatkan keluarga dalam
pelaksanaan intervensi menggunakan teknik aseptik dan antiseptik, ganti
balutan infus/vemplon, memberikan pendidikan kesehatan asma bronchial,
pemeriksaan laboratorium dan penunjang. Penulis berusaha agar perencanaan
ini dapat mencapai tujuan asuhan keperawatan yang dibuat sesuai dengan
prioritas masalah dan dapat mengatasi diagnosa keperawatan yang ditetapkan.

D. Implementasi
Dalam tahap implementasi, penulis bekerjasama dengankeluarga klien,
perawat ruangan dan tim kesehatan...sesuai prioritas masalah dan kondisi
klien.
1. Intervensi yang dilakukan pada diagnosa bersihan jalan
nafas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan mukus adalah
mengukur TTV, melakukan auskultasi bunyi nafas, memberikan minum
hangat, melakukan kolaborasi dengan dokter untuk pemberian O2 dan
theraphy, memberikan inhalasi dan PFR, ambrotol syr 3 x CI.
2. Pada diagnosa gangguan pertukaran gas berhubungan
dengan kurangnya suplai O2 pada tubuh adalah melakukan auskultasi

36
bunyi nafas, memberikan theraphy/injeksi dan oral, memberikan inhalasi
dan PFR
3. Pada diagnosa resiko tinggi pemenuhan kebutuhan
nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang
tidak adekuat adalah memberikan makan klien, menimbang berat badan
klien.
4. Pada diagnosa cemas berhubungan dengan kurangnya
pengetahuan tentang penyakitnya adalah mendengarkan keluhan klien,
membiarkan klien mengungkapkan perasannya, memberikan informasi
tentang asma, faktor-faktor yang dapat menimbulkan serangan asma dan
cara pencegahannya.
5. Pada diagnosa kurang pengetahuan berhubungan dengan
kurang terpaparnya informasi adalah mendengarkan keluhan klien
membiarkan klien mengungakpkan perasaannya, memberikan informasi
tentang asma, faktor-faktor yang dapat menimbulkan serangan asma dan
cara pencegahannya
6. Pada diagnosa imobilisasi aktivitas berhubungan dengan
kelemahan fisik dan pemasangan alat invasif adalah mengukur TTV,
memberikan makan, membantu klien mandi.
7. Pada diagnosa keperawatan resiko tinggi infeksi
berhubungan dengan terpasang alat invasif adalah mengukur tanda-tanda
vital, mengobservasi cairan infus, mengganti balutan infus.

E. Evaluasi
Dalam melaksanakan evaluasi proses dan evaluasi hasil pada klien
dilaksanakan pada saat sebelum dan sesudah melaksanakan tindakan.
Keperawatan mengenai reaksi klien dan evaluasi hasil berdasarkan tujuan
yang ditetapkan pada evaluasi ini penulis melakukan penilaian asuhan yang
diberikan dari tanggal 25 – 27 Oktober 2007.
Keberhasilan tindakan keperawatan dilakukan secara subjektif melalui
ungkapan klien dan secara objektif melalui pengamatan dan pengukuran dari

37
tujuh diagnosa ada satu diagnosa tidak terjadi, tiga diagnosa teratasi dan tiga
diagnosa teratasi sebagian.

BAB V
PENUTUP

B. Kesimpulan
Setelah penulis memberikan asuhan keperawatan langsung pada Tn. S di
Ruang Anggrek Bawah RSUP Persahabatan pada tanggal 25 September – 27
September 2007, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Dalam melakanakan asuhan keperawatan penulis
menggunakan pendekatan proses keperawatan yaitu mulai dari pengkajian
sampai evaluasi. Data-data tersebut digunakan untuk menyusun diagnosa
keperawatan.

38
2. Dalam menentukan diagnosa keperawatan penulis
berfokus pada data-data sebagai hasil pengkajian berdasarkan masalah
aktual, masalah risiko tinggi yang penulisannya berdasarkan prioritas
kebutuhan dasar manusia menurut Maslow.
3. Dengan melaksanakan asuhan keperawatan secara
komprehensif maka seluruh permasalahan yagn dihadapi klien dapat
teratasi.
4. Ternyata pada klien asma penyembuhannya sangat
berpengaruh pada sikap perawat yang empati danmenerapkan komunikasi
theraphy, di samping pemberian obat-obatan.
5. Dengan adanya seminar ini, para perawat dapat
mengambil manfaat yaitu menambah pengetahuan tentang proses asuhan
keperawatan klien asma.

C. Saran
Ruang Perawat
1. Untuk Klien
Diharapkan setelah diberikan pendidikan kesehatan, klien dapat mengerti
dan memahami pengertian perawatan dan pencegahan asma sehingga
dapat terhidnar dari serangan asma.

2. Untuk Perawat

39
Hendaknya para perawat di RSUP Persahabatan dapat lebih meningkatkan
kinerja dengan mengacu kepada standar operasional prosedur yang
ditetapkan oleh rumah sakit. Serta perawat juga hendaknya setiap klien
yang baru masuk rumah sakit segera diberikan pendidikan kesehatan
tentang penyakit yang diderita agar klien dan keluarga tidak cemas
terhadap penyakitnya dan menambah pengetahuan.

DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth. 2002. Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 8 Vol 2. EGC.
Jakarta.
Carpenito, Lynda Juall. 2001. Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. EGC : Jakarta.
Doenges, E Marilyn. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. EGC :
Jakarta.

40
Mansjoer, Arief. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi III Jilid 2. Media
Aesculopius : Jakarta.
Soeparman. 1999. Ilmu Penyakit Dalam. Edisi III. FKUI : Jakarta.

41