Anda di halaman 1dari 3

PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk.

merupakan salah satu pabrik semen di


Indonesia dengan kapasitas 24,9 juta ton klinker/tahun. Semen yang diproduksi oleh
PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. yang berlokasi di Palimanan, Cirebon, Jawa
Barat dengan total kapasitas produksi sebesar 4,1 juta ton/tahun. Menurut data Asosiasi
Semen Indonesia (ASI), permintaan semen domestik di Indonesia meningkat 7,6% dari
tahun ke tahun, pada tahun 2017 menjadi 66,35 juta ton, sedangkan jumlah kapasitas
terpasang produksi semen hingga akhir tahun 2017 mencapai 107,4 juta ton. Bahkan,
dalam kurun waktu 10 tahun (2010-2017), permintaan semen domestik meningkat
hampir mencapai 63%. Pada 2010 tercatat, konsumsi semen domestik hanya sebesar
40,78 juta ton.
Berdasarkan banyaknya semen yang diproduksi, proses pembuatan semen
membutuhkan bahan bakar yang memiliki nilai kalor yang tinggi untuk membentuk
raw material menjadi clincker dengan temperatur mencapai 1400o C di dalam rotary
kiln yang sebagai “jantung” tempat pembakaran. PT Indocement Tunggal Prakarsa
Tbk. unit Cirebon menggunakan batu bara sebagai bahan bakar utama dalam
pembentukan clincker dengan mengonsumsi batu bara sebesar 1.200 ton/hari (Data
Central Control Room PT Indocement Tunggal Prkarsa Tbk.). Berdasarkan data
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), mencatat pemanfaatan batu
bara untuk kebutuhan dalam negeri mencapai 115 juta ton sepanjang tahun 2018.
Jumlah ini meningkat 18,55 persen dibandingkan realisasi tahun 2017 yang sebesar 97
juta ton. Selain itu juga, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. menggunakan bahan
bakar alternatif dari limbah industri lain maupun sampah yang diperoleh dari
masyarakat sekitar. Salah dua limbah yang digunakan adalah limbah kopi dari Torabika
dan sekam padi dari sisa penggilingan padi dengan mengonsumsi limbah kopi
sebanyak 10% dan 80% sekam padi dari total penggunaan bahan bakar alternatif
sebesar 46 ton/hari (Data Central Control Room PT Indocement Tunggal Prkarsa
Tbk.). Dengan adanya pemanfaatan bahan bakar alternatif mampu mengurangi
konsumsi batu bara yang dikategorikan sebagai bahan bakar fosil, sebagaimana bahan
bakar fosil memiliki sumber yang terbatas dan juga dapat menghasilkan emisi udara
yang berbahaya bagi lingkungan. Selama ini limbah perkebunan dan pertanian di
Indonesia belum dimanfaatkan secara optimal terutama limbah kopi dan sekam padi
yang masih sangat melimpah. Menurut data International Coffee Organization (ICO)
menunjukkan bahwa konsumsi kopi Indonesia pada periode 2000-2016 mengalami tren
kenaikan. Pada 2000, konsumsi kopi Indonesia baru mencapai 1,68 juta bags dengan
isi tiap bags 60 kg, namun pada 2016 telah mencapai 4,6 juta bags dengan isi tiap bags
60 kg, atau melonjak lebih dari 174 persen. Bahkan sejak 2011, konsumsi kopi selalu
mengalami pertumbuhan hingga tahun 2016. Selain itu, sebagai negara agraris,
produksi sekam padi di Indonesia mencapai 75.397.841 ton, sedangkan di Jawa Barat
mencapai 11.373.144 ton pada tahun 2015. Maka dari itu, semakin meningkatnya
produksi kopi dan banyaknya sekam padi yang dihasilkan dari kegiatan perkebunan
maupun pertanian sangat baik dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif pengganti
batu bara.
Mengingat bahwa limbah kopi dan sekam padi memiliki nilai kalor yang
tinggi dengan kandungan unsur karbon mencapai 40-43%, kandungan sulfur yang
rendah, serta kandungan air yang masih terbilang tinggi maka perlu dilakukan
pemanfaatan limbah tersebut pada pabrik-pabrik terutama di PT Indocement Tunggal
Prakarsa Tbk. dengan mengaplikasikannya dalam bentuk briket bio arang. Dari briket
yang menggunakan limbah tersebut dapat digunakan sebagai penunjang pengolahan
limbah kopi dan sekam padi dalam proses pembakaran, sehingga bahan bakar alternatif
yang telah dimodifikasi menjadi briket memiliki kualitas yang lebih baik dengan kadar
air rendah, nilai kalor yang tinggi, dan dapat menekan penggunaan batu bara juga dapat
mengurangi emisi udara yang dihasilkan dengan perlakuan pemanasan awal dan
pengepresan tinggi pada pembriketan tersebut.
Sementara itu, menurut penelitian yang pernah dilakukan oleh Wahyu
Kusuma, dkk (2013) tentang kajian eksperimental terhadap karakteristik pembakaran
briket limbah ampas kopi instan dan kulit kopi. Pada penelitian tersebut dilakukan
pengujian nilai kalor, kadar air, volatile matter, kadar abu, dan fixed carbon yang dibuat
dari komposisi limbah ampas kopi instan dan kulit kopi. Pada penelitian yang sudah
dilakukan dengan membuat briket komposisi perbandingan limbah ampas kopi instan
dan kulit kopi (1:4) menghasilkan nilai kalor tertinggi sebesar 4713 kal/gram dengan
kadar air terendah sebesar 10.76%. Penelitian lain dilakukan oleh Komala A, dkk
(2018) tentang analisa ukuran partikel briket campuran sekam padi dengan cangkang
kopi terhadap laju pembakaran dan emisi karbon monoksida (CO) yang menganalisa
ukuran partikel briket campuran sekam padi dengan cangkang kopi terhadap laju
pembakaran dan emisi udara. Hasil yang terbaik pada sampel briket B6 dengan
komposisi 50:50 dan ukuran partikel 40 mesh untuk pengujian laju pembakaran sebesar
0,0134 g/s dan untuk pengujian emisi karbon monoksida yang memiliki nilai emisi
terendah pada sampel briket B4 dengan komposisi 50:50 dan ukuran partikel 60 mesh
sebesar 601 ppm. Bersumber pada penelitian lain dengan melakukan pembuatan briket
berbagai variasi komposisi kulit kopi dan sebuk kayu memakai proses karbonisasi yang
dikerjakan oleh Lucky, dkk (2014), menghasilkan produk dengan nilai kalor terbaik
pada komposisi 30% kulit kopi sebesar 4923,9 Kkal/kg, hal ini disebabkan oleh
campuran serbuk kayu yang lebih banyak dengan nilai kalor yang lebih tinggi dari pada
kulit kopi. Pada komposisi 30% juga terkandung kadar air yang rendah sebesar 6,275%
dengan dipengaruhi oleh luas permukaan butiran serbuk kayu yang kecil dibandingkan
kopi sehingga tidak mudah mengikat air yang terdapat di udara.
Dengan demikian pembuatan biobriket limbah kopi menggunakan bahan
campuran lain yakni sekam padi diharapkan dapat meningkatkan nilai kalor dan juga
menurunkan nilai kadar air biobriket serta kandungan emisi udara rendah yang akan
mampu diterapkan pada proses pembakaran di berbagai industri terutama PT
Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. Biobriket ini juga dimanfaatkan untuk mengurangi
konsumsi energi, emisi udara, nilai ekonomis, serta kemudahan dalam hal
penyimpanan dan pendistribusian. Selain itu penelitian biobriket limbah kopi dan
sekam padi ini diharapkan dapat menghasilkan parameter kadar abu, volatile matter,
dan fixed carbon yang terbaik. Dalam proses pembuatan biobriket juga ditentukan
variasi komposisi, ukuran partikel, dan metode yang tepat terhadap kualitas mutu
biobriket, sehingga menciptakan produk biobriket yang memiliki heating value yang
tinggi dan inherent moisture serta gas emisi yang rendah.