Anda di halaman 1dari 5

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. merupakan salah satu pabrik semen
di Indonesia dengan kapasitas 24,6 juta ton klinker/tahun. Salah satu jenis
semen yang diproduksi oleh PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. yang
berlokasi di Palimanan, Cirebon, Jawa Barat dengan total kapasitas produksi
sebesar 24,6 juta ton/tahun yaitu Portland Composite Cement (PCC), Portland
Pozzolan Cement (PPC), dan Ordinary Pozzolan Cement (OPC). Pada proses
pembuatan semen membutuhkan panas pembakaran untuk proses pembentukan
klinker dengan temperature yang mencapai 14000C pada rotary kiln. PT.
Indocement Tunggal Prakarsa. Tbk unit Cirebon menggunakan batu bara
sebagai bahan bakar utama. Selain itu juga menggunakan bahan bakar alternatif
yang didapatkan dari pabrik lain maupun dari sampah. Salah satu limbah yang
dikirim adalah ampas kopi dan sekam padi. Ampas kopi dan sekam padi
merupakan limbah yang pemanfaatannya belum optimal. Masyarakat perdesaan
umumnya memanfaatkan ampas kopi dan sekam padi hanya sebagai pupuk,
padahal ampas kopi dan sekam padi dapat dijadikan sebagai bahan bakar
alternatif.

Data International Coffee Organization (ICO) menunjukkan bahwa


konsumsi kopi Indonesia pada periode 2000-2016 mengalami tren kenaikan.
Pada 2000, konsumsi kopi Indonesia baru mencapai 1,68 juta bags dengan isi
tiap bags 60 kg, namun pada 2016 telah mencapai 4,6 juta bags dengan isi 60
kg tiap, atau melonjak lebih dari 174 persen. Bahkan sejak 2011, konsumsi kopi
selalu mengalami pertumbuhan hingga 2016. Selain itu sebagai negara agraris,
produksi sekam padi di Indonesia mencapai 75.397.841 ton sedangkan di Jawa
Barat mencapai 11.373.144 ton pada tahun 2015. Semakin meningkatnya
produksi kopi dan banyaknya sekam padi yang dihasilkan dari kegiatan
pertanian ternyata dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif yang
dapat menggantikan batu bara karena batu bara dapat menghasilkan emisi yang
cukup tinggi (berapa nilai emisi yang dihasilkan baru bara). Selain itu adanya
bahan bakar alternatif ampas kopi dan sekam dapat menambah nilai ekonomis
sekaligus dapat menurunkan emisi yang dihasilkan pada proses pembakaran,
sehingga aman bagi lingkungan
Pada PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk unit Cirebon mendapatkan
supply ampas kopi sebagai bahan bakar alternatif sebanyak (X ton) namun
permasalahan yang terjadi adalah tingginya kadar air yang ada pada kopi
menjadikan kalor pembakaran menjadi lebih rendah, jika kalor pembakaran
rendah maka proses pembakaran menjadi kurang efisien sehingga
membutuhkan pemanasan untuk mengurangi kadar air pada kopi. Oleh karena
itu penggunaan ampas kopi dan sekam padi perlu dilakukan penangan lebih
lanjut untuk menghasilkan efisiensi yang baik sekaligus untuk menurunkan
kadar emisi dan menambah nilai ekonomis.

1.3 Ruang Lingkup Masalah

Blast furnace slag adalah hasil samping dari proses industri peleburan bijih
logam dan masih mengandung material penting untuk pembuatan semen seperti
silika dan alumina. Sedangkan fly ash adalah hasil samping dari pembakaran batu
bara di Pembangkit Listrik Tenga Uap (PLTU) namun juga dapat ditemukan
pada proses pembakaran di rotary kiln yang memanfaatkan batu bara.
Kandungan kimia paling dominan pada fly ash adalah silika sebesar 72,2% dan
pada blast furnace slag kalium oksida sebesar 45,2% Setelah mengetahui
kandungan blast furnace slag dan fly ash maka dapat ditentukan kelayakan
tidaknya blast furnace slag dan fly ash digunakan sebagai bahan aditif untuk
pembuatan semen dengan membandingkan hasilnya terhadap SNI. Penelitian ini
akan dilakukan simulasi penambahan blast furnace slag dan fly ash dengan
jumlah tertentu dalam pembuatan semen PPC untuk dapat diaplikasikan di PT.
Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. Produk Semen PPC hasil percobaan akan
diuji secara kimia untuk mengetahui kandungan senyawa pada sampel dan diuji
secara fisika untuk mengetahui nilai setting time dan nilai kuat tekan mortar dari
semen PPC percobaan. Kemudian, hasilnya dibandingkan standar dari PT.
Indocement Tunggal Prakarsa Tbk dan SNI 15-0302-2004.

1.4 Batasan Masalah

1.2.1 Kondisi tetap


Kapasitas percobaan setiap variabel = 3 kg

Jenis clinker, gypsum,fly ash, diambi dari satu tempat dan blast furnace slag diambil dari
tempat yang berbeda

Jumlah gypsum sebanyak 3,5 %massa

Tingkat kehalusan campuran clinker,fly ash, gypsum (325 mesh)

Tingkat kehalusan blast furnace slag (…)

Ukuran cetakan mortar (5 cm x 5 cm)

Penggilingan bahan baku dilakukan pada suhu ruang (25˚C)

Semen PPC (Portland Pozzolan Cement) sebagai kualitas pembanding produk

1.2.2 Variabel bebas


Jumlah penambahan fly ash ( 10 %massa, 15 %massa, 20 %massa) dan
blastfurnace slag (.....)
Waktu uji kuat tekan (standar uji semen PPC 1, 3, 7, 28 hari)

1.5 Rumusan Masalah

Berdasarkan pada ruang lingkup permasalahan di atas, maka penelitian ini fokus
dalam permasalahan sebagai berikut:
1. Bagaimana pengaruh penambahan fly ash dan blast furnace slag terhadap
nilai setting time dan kuat tekan mortar semen PPC yang dihasilkan?
2. Berapakah penambahan fly ash dan blast furnace slag untuk menghasilkan
settling time dan kuat tekan terbaik?
1.6 Tujuan
Dari kajian di atas, penelitian tentang penggunaan fly ash dan blast furnace slag
bertujuan :
1. Dapat mengetahui pengaruh penambahan fly ash dan blast furnace slag
terhadap nilai setting time dan kuat tekan mortar semen PPC yang dihasilkan
2. Dapat mengetahui penambahan fly ash dan blast furnace slag untuk
menghasilkan settling time dan kuat tekan terbaik?
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Tentang Semen
2.2 Sifat-Sifat Semen dan Jenisnya
2.2.1 Sifat Fisika
2.2.2 Sifat Kimia
2.2.3 Jenis-Jenis Semen
2.2.3.1 Portland Composite Cement
2.2.3.2 Unit finish mill
2.2.3.3 Bahan Aditif
2.3