Anda di halaman 1dari 5

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. merupakan salah satu pabrik semen di
Indonesia dengan kapasitas 24,6 juta ton klinker/tahun. Salah satu jenis semen yang
diproduksi oleh PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. yang berlokasi di Palimanan,
Cirebon, Jawa Barat dengan total kapasitas produksi sebesar x juta ton/tahun yaitu
Portland Composite Cement (PCC), Portland Pozzolan Cement (PPC), dan Ordinary
Pozzolan Cement (OPC). Dilihat dari pentingnya semen sebagai bahan baku utama
dalam pembangunan infrastrukur berupa jalan, jembatan, bendungan, rumah, sekolah,
gedung perkantoran, dan lainnya mengalami peningkatan produksi dan konsumsi
semen terutama jenis Portland Composite Cement (PPC) di Indonesia. Menurut data
Asosiasi Semen Indonesia (ASI), permintaan semen domestik di Indonesia meningkat
7,6% dari tahun ke tahun, pada tahun 2017 menjadi 66,35 juta ton, sedangkan jumlah
kapasitas terpasang produksi semen hingga akhir tahun 2017 mencapai 107,4 juta ton.
Bahkan, dalam kurun waktu 10 tahun (2010-2017), permintaan semen domestik
meningkat hampir mencapai 63%. Pada 2010 tercatat, konsumsi semen domestik hanya
sebesar 40,78 juta ton.
Berdasarkan banyaknya semen yang diproduksi, proses pembuatan semen
membutuhkan bahan bakar yang memiliki nilai kalor yang tinggi untuk membentuk
raw material menjadi clincker dengan temperatur mencapai 1400o C di dalam rotary
kiln. PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. unit Cirebon menggunakan batubara
sebagai bahan bakar utama dalam pembentukan clincker, selain itu juga, menggunakan
bahan bakar alternatif dari limbah industri lain maupun sampah yang diperoleh dari
masyarakat sekitar. Salah dua limbah yang digunakan adalah limbah ampas kopi dari
Torabika dan sekam padi dari sisa penggilingan padi. Berdasarkan data Kementerian
Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), mencatat pemanfaatan batu bara untuk
kebutuhan dalam negeri mencapai 115 juta ton sepanjang tahun 2018. Jumlah ini
meningkat 18,55 persen dibandingkan realisasi tahun 2017 yang sebesar 97 juta ton.
Dengan adanya pemanfaatan bahan bakar alternatif diharapkan dapat mengurangi
konsumsi batubara yang dikategorikan sebagai bahan bakar fosil, sebagaimana bahan
bakar fosil memiliki sumber yang terbatas dan juga dapat menghasilkan emisi udara
yang berbahaya bagi lingkungan. Tentunya penggunaan bahan alternatif seperti limbah
ampas kopi dan sekam padi selain dapat menekan penggunaan batubara juga dapat
mengurangi emisi udara yang dihasilkan.
Selama ini limbah perkebunan dan pertanian di Indonesia belum dimanfaatkan
secara optimal terutama limbah kopi dan sekam padi yang masih sangat melimpah.
Menurut data International Coffee Organization (ICO) menunjukkan bahwa konsumsi
kopi Indonesia pada periode 2000-2016 mengalami tren kenaikan. Pada 2000,
konsumsi kopi Indonesia baru mencapai 1,68 juta bags dengan isi tiap bags 60 kg,
namun pada 2016 telah mencapai 4,6 juta bags dengan isi tiap bags 60 kg, atau
melonjak lebih dari 174 persen. Bahkan sejak 2011, konsumsi kopi selalu mengalami
pertumbuhan hingga tahun 2016. Selain itu, sebagai negara agraris, produksi sekam
padi di Indonesia mencapai 75.397.841 ton, sedangkan di Jawa Barat mencapai
11.373.144 ton pada tahun 2015. Semakin meningkatnya produksi kopi dan banyaknya
sekam padi yang dihasilkan dari kegiatan perkebunan maupun pertanian sangat baik
dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif pengganti batubara.
Mengingat bahwa limbah kopi dan sekam padi memiliki nilai kalor yang tinggi
dengan kandungan unsur karbon mencapai 40-43%, kandungan sulfur yang rendah,
serta kandungan air yang masih terbilang tinggi maka perlu dilakukan pemanfaatan
limbah tersebut pada pabrik-pabrik terutama di PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk.
dengan mengaplikasikannya sebagai briket bioarang. Dari briket yang menggunakan
limbah tersebut dapat digunakan sebagai penunjang pengolahan limbah kopi dan
sekam padi dalam proses pembakaran, sehingga bahan bakar alternatif yang telah
dimodifikasi menjadi briket memiliki kualitas yang baik sebagai pengganti batubara.
Sementara itu, menurut penelitian yang pernah dilakukan oleh Wahyu Kusuma,
dkk (2013) tentang kajian eksperimental terhadap karakteristik pembakaran briket
limbah ampas kopi instan dan kulit kopi. Pada penelitian tersebut dilakukan pengujian
nilai kalor, kadar air, volatile matter, kadar abu, dan fixed carbon yang dibuat dari
komposisi limbah ampas kopi instan dan kulit kopi. Pada penelitian tersebut secara
umum disebutkan karakteristik biobriket yang optimal adalah briket A1K4 dengan
perbandingan prosentasi 1:4 yang digunakan antara kopi instan dan kulit kopi karena
komposisi tersebut menghasilkan nilai kalor tertinggi sebesar 4713 kal/gram dengan
kadar air terendah sebesar 10.76% dan kandungan fixed carbon tertinggi sebesar
6,89%. Hal ini disebabkan oleh semakin banyak ampas kopi instan maka akan
meningkatkan kadar air sehingga menurunkan nilai kalor briket, sedangkan setiap
penambahan kulit kopi menyebabkan semakin banyak massa sisa pembakaran atau abu
yang terbentuk. Nilai volatile matter dan fixed carbon merupakan parameter dalam
menstabilkan nyala dan percepatan pembakaran serta penghasil utama panas pada
proses pembakaran. Penelitian lain dilakukan oleh Komala A Affandi (2018) tentang
analisa ukuran partikel briket campuran sekam padi dengan cangkang kopi terhadap
laju pembakaran dan emisi karbon monoksida (CO) yang menganalisa ukuran partikel
briket campuran sekam padi dengan cangkang kopi terhadap laju pembakaran dan
emisi udara. Hasil yang terbaik pada briket dengan komposisi 50:50 untuk pengujian
laju pembakaran sampel briket B6 dengan ukuran partikel 40 mesh sebesar 0,0134 g/s
dan untuk pengujian emisi karbon monoksida yang memiliki nilai emisi terendah pada
sampel briket B4 dengan komposisi 50:50 dan ukuran partikel 60 mesh sebesar 601
ppm.
Dengan demikian pembuatan biobriket limbah ampas kopi menggunakan bahan
campuran lain yakni sekam padi diharapkan dapat meningkatkan nilai kalor dan juga
menurunkan nilai kadar air biobriket yang akan mampu diterapkan pada proses
pembakaran diberbagai industri terutama PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk.
Biobriket ini juga dimanfaatkan untuk mengurangi konsumsi energi, emisi udara, nilai
ekonomis, serta kemudahan dalam hal penyimpanan dan pendistribusian. Selain itu
penelitian biobriket limbah ampas kopi dan sekam padi diharapkan dapat menghasilkan
kadar abu, volatile matter, dan fixed carbon yang optimal. Dalam proses pembuatan
biobriket menentukan variasi komposisi, ukuran partikel, dan metode yang tepat
terhadap kualitas fisik dan kimia biobriket, sehingga menciptakan produk biobriket
yang memiliki heating value yang tinggi.
1.2. Ruang Lingkup Masalah

Bahan bakar alternatif dari limbah kopi dan sekam padi mempunyai kandungan
karbon yang diperkirakan berpotensi sebagai bahan bakar pada proses pembakaran
material. Perlu adanya observasi mengenai seberapa besar komponen penyusunnya
untuk dapat ditentukan kelayakan bahan bakar alternatif yang digunakan sebagai
pengganti batubara dengan membandingkan hasil yang diperoleh terhadap SNI
(Standar Nasional Indonesia). Penelitian ini menyimulasikan berbagai komposisi
penambahan antara limbah kopi dan sekam padi serta bahan perekat yang digunakan
untuk membuat produk biobriket yang nantinya dapat diterapkan dipelbagai pabrik
terutama PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. Produk biobriket campuran limbah
kopi dan sekam padi hasil percobaan akan diuji secara eksperimental untuk mengetahui
mutu sampel biobriket percobaan. Setelah mengetahui hasil yang diperoleh akan
dikomparasikan dengan mengadopsi standar baku dalam pembuatan biobriket yaitu
SNI 4931:2010 ; SNI No. 1/6235/2000 ; dan Permen ESDM No.47 2006.

1.3. Batasan Masalah


Berdaraskan ruang lingkup di atas, penelitian dilakukan dalam skala
laboratorium dengan batasan masalah sebagai berikut:
1.3.1. Kondisi tetap
Kapasitas percobaan setiap variabel = 2 kg
Jenis limbah kopi, sekam padi, tepung tapioka diambil dari satu tempat
Jumlah perekat sebanyak 10% massa
Tingkat kehalusan campuran limbah kopi dan sekam padi (40 mesh)
Ukuran cetakan biobriket (D= 5cm , t=2cm)
Penggilingan bahan baku dilakukan pada suhu ruang (27oC)
Batubara sebagai kualitas pembanding produk
1.3.2. Variabel bebas
Perbandingan komposisi limbah kopi dan sekam padi ( 70:30 ; 50:50 ; 30:70)
Proses karbonasi ( 500oC) dan tanpa proses karbonasi
1.4. Rumusan Masalah
Berlandaskan pada ruang lingkup permasalahan di atas, maka inti dari penelitian
ini mencakup permasalahan sebagai berikut:
1.) Bagaimana pengaruh penambahan limbah kopi dan sekam padi terhadap nilai
kalor dan emisi udara biobriket yang dihasilkan?
2.) Berapa komposisi optimal penambahan limbah kopi dan sekam padi yang
memberikan mutu briobriket terbaik?

1.5. Tujuan Penelitian


Berdasarkan kajian di atas, penelitian tentang penggunaan bahan bakar alternatif
bertujuan:
1.) Dapat menentukan pengaruh penggunaan limbah kopi dan sekam padi
terhadap nilai kalor dan emisi udara biobriket yang dihasilkan.
2.) Dapat menentukan penambahan komposisi limbah kopi dan sekam padi yang
memberikan mutu biobriket terbaik.