Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER (PKPA)

FARMASI KOMUNITAS

Tugas Non Terstruktur


(Pemantauan Terapi Obat di Puskesmas Tumpang)

DISUSUN OLEH :
Dwi Fathiriyah Zikrina Ambar
NIM. 180070600111047

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2018
LEMBAR PEMANTAUAN TERAPI OBAT

DATA PASIEN
Nama Pasien : Ny. HS Alasan MRS Tanggal MRS/ KRS
Demam sejak tanggal 12 September 2018, pusing, mual dan
muntah, nyeri tekan pada leher kiri pada tanggal 16 September
Umur/BB : 58 tahun/ - 2018. 13/9/2018 – 17/9/2018
No RM : 17xxx Diagnosa Nama dokter : dr. Xxxx
Status : BPJS DM Tipe 2, Hipertensi, Cervical Syndrome, GEA Nama apoteker : xxxx
Alamat : Malangsuko Riwayat alergi Status : BPJS
-
Riwayat pengobatan
Amlodipin 1x 10 mg
Acarbose 2 x 100 mg
Glimepirid 1 x 2 mg
Riwayat penyakit
DM tipe 2, Hipertensi
DATA KLINIS

Tanggal
Parameter Nilai Normal Komentar
13 14 15 16 17
Suhu yang tinggi menunjukkan
bahwa pasien mengalami
demam yang merupakan
manifestasi dari adanya infeksi
0 pada pasien. Pada kondisi
Suhu ( C) 36,5-37,5 38 37,9 37,1 38,2 37,1
infeksi, tubuh akan merespon
dengan timbulnya respon
imunologi yang memicu
timbulnya demam akibat
peningkatan TNF-α dan IL-1.
Nadi (x/menit) 80-100 104 105 88 106 80 Adanya infeksi juga di dukung
oleh peningkatan nadi pasien
nadi 100x/menit dan nilai
respiratory rate (RR) pasien
yaitu 22 x/menit meskipun
peningkatan RR tidak terlalu
RR (x/menit) <20 24 25 20 21 20 tinggi (Kemenkes, 2011). Pada
kondisi infeksi tubuh mengalami
aktivasi stress hormon termasuk
renin-angiotensin-aldosteron,
norepinefrin, vasopresin akibat
pelepasan TNF-α dan IL-1.
Tek.darah 140/90 (JNC 140/100 110/80 150/90 100/60 100/60 Pasien memiliki riwayat
(mmHg) VIII untuk hipertensi dan DM sehingga
HT+DM) menurut JNC VIII pada hari
pertama masuk MRS tekanan
darah diastol masih sedikit diatas
normal, sedangkan pada hari ke-
3 MRS tekanan darah sistol
pasien diatas normal. Riwayat
hipertensi dan DM pasien
berhubungan secara tidak
langsung. Secara normal insulin
bekerja untuk modulasi
peningkata vascular smooth
muscle (VSM) respons
kontraktil pada faktor vasoaktif
dan karena adanya insulin
resistens menyebabkan
peningkatan reaktivitas vaskular,
penurunan aktivitas membran
Ca2+ATPase, peningkatan
jumlah Ca2+ selular, dan adanya
penurunan fungsi pada VSM
karena adanya efluks Ca2+.

Tanggal
Parameter Komentar
13 14 15 16 17
Suhu yang tinggi menunjukkan bahwa pasien
mengalami demam yang merupakan manifestasi dari
adanya infeksi pada pasien. Pada kondisi infeksi, tubuh
Demam + + - + -
akan merespon dengan timbulnya respon imunologi yang
memicu timbulnya demam akibat peningkatan TNF-α dan
IL-1.
Hiperglikemia dapat menyebabkan dehidrasi dan anaerobik
metabolisme. Hal ini dapat menyebabkan perubahan dalam
keseimbangan asam-basa (ketoasidosis diabetik) dan
Pusing + + + + -
beberapa fungsi metabolisme sehingga pusing menjadi
salah satu gejala klinis yang berhubungan dengan
perubahan metabolisme ini.
Mual + + + + -
Gangguan saluran cerna pada penderita diabetes disebabkan
karena kontrol glukosa darah yang tidak baik, serta
gangguan saraf otonom yang mengenai saluran pencernaan.
Penderita seperti ini bila dilakukan uji tertentu dapat
menunjukkan adanya keterlambatan pengosongan lambung,
keadaan seperti ini dinamai gastroparesis diabetika.
Gastroparesis diabetika merupakan komplikasi dari diabetes
mellitus yang kini semakin dikenal. Gastroparesis diabetika
adalah suatu kelainan motilitas lambung yang terjadi pada
penderita diabetes yang dapat dimanisfestasikan oleh
berbagai macam gejala serta dijumpainya kelainan pada uji
pengosongan lambung. Gastroparesis diabetika juga dapat
menyulitkan pengendalian gula darah. Orang yang memiliki
gastroparesis mengalami kerusakan pada sepanjang saraf
vagus mereka. Saraf vagus merupakan saraf kranial panjang
Muntah + + + - - yang membentang dari otak ke organ-organ di daerah,
termasuk organ-organ di saluran pencernaan. Sama seperti
penyakit neuropati diabetik, kerusakan saraf vagus
mengganggu fungsi saraf dan dalam hal ini pencernaan
terganggu karena dorongan yang dibutuhkan untuk
menyalurkan makanan diperlambat atau dihentikan.
Gastroparesis sulit untuk didiagnosis dan sering kali tidak
terdeteksi pada pasien. Oleh karena itu prevalensi
gastroparesis pada orang dengan diabetes berkisar luas,
yaitu antara 5%-65% (May, 1994).
Selain itu mual dan muntah dapat dikarenakan kondisi
Nyeri tekan pada leher kiri pasien dapat timbul akibat posisi
Nyeri tekan pada tidur pasien yang salah ataupun bantal yang digunakan
- - - + +
leher kiri pasien terlalu tinggi sehingga menimbulkan kelainan otot
dan saraf disekitar leher.

DATA LABORATORIUM

Data Normal 13/9/2018 Komentar


Leukosit 3 3 15500 Peningkatan leukosit pada pasien
4,3-10 x10 / mm
mengindikasikan adanya infeksi
karena adanya infeksi
menimbulkan respon imun yaitu
kenaikan leukosit.
GDA <200 mg/dL 264 mg/dL Kadar glukosa darah pasien masih
diatas normal

PROFIL TERAPI

Nama
Rute Dosis Indikasi 13 14 15 16 17
Obat
Paracetamol PO 3x500mg Antipiretik √ √ √ √
RL IVFD 20 tpm √ √ √ √ √
Antasida PO 3 dd 1 (500 mg) Mual, Muntah √ √ √
Acarbose PO 2 x 100 mg DM Tipe 2 √ √ √ √ √
Glimepirid PO 1 x 2 mg DM Tipe 2 √ √ √ √ √
Amlodipin PO 1 x 10 mg Hipertensi √ √ √ √ √
Diazepam PO 1 x 2 mg Antinyeri √
tekan pada
leher (Cervical
Syndrome)
Domperidon PO 3 x1 Mual √ √ √
Ranitidin IV 2 x 50 mg Mual, Muntah √
Ondansentron IV 1x 2 mg Mual Muntah √

SOAP

S O A P
Demam (13,14,16/09/2018)  Suhu : 38oC (13/09/2018) Paracetamol 1. Monitoring efektifitas
 Suhu : 37,9oC (14/09/2018)  I : menurunkan demam dan Kondisi klinis : demam dan
 Suhu : 38,2oC (16/09/2018) mengatasi nyeri ringan- suhu tubuh pasien
moderat MOA : menghambat 2. Monitoring efek samping
sintesis prostaglandin dalam potensial : ruam merah pada
jaringan tubuh dengan kulit dan mual.
menghambat 2 enzim
cyclooksygenase-1 dan
cyclooksygenase-2.
 Do : 325-1000 mg PO/4-6
jam prn
 ES : mual, rash, hepatotoksik.
 Pada tangal 15/9/2018 pasien
sudah tidak mengalami
demam tetapi pada tanggal
16/09/2018 pasien mengalami
demam kembali hal ini
dikarenakan pasien tidak
meminum obat yang telah
diberikan.

Mual dan Muntah  Mual terjadi pada tanggal 13-  Ranitidin Injeksi (15/09/18)  Sebaiknya untuk kondisi mual
16/09/2018 I : golongan obat H2 histamine muntah pasien ringan hingga
 Muntah terjadi pada tanggal blocker. untuk mengurangi jumlah sedang dapat digunakan
13-15/09/2018 asam lambung dalam perut. kombinasi ranitidin, antasida dan
Do : 100 mg- 150 mg domperidon karena mual muntah
ES: Sakit kepala (3%) pasien dapat diakibatkan karena
stress related mucosal disease
 Antasida (13-15/09/18) dan akibat gastropoesis diabetic
I : Mual, muntah pasien. yang dialami pasien.
Do : 500 mg-1500mg Ondansentron sebaiknya tidak
ES : Konstipasi (>10%) perlu digunakan dalam kasus
pasien ini.
 Domperidon (14-16/09/2018)  Monitoring efek samping yang
I : Mual. berpotensial terjadi seperti
Do : 10-20 mg setiap 4-8 jam. konstipasi, sakit kepala dan
Maks: 80 mg/hari. mulut kering.
ES : Sakit kepala, mulut kering
(>10%)

 Ondansentron Injeksi
(13/09/2018)
I : Mual. (Selektif 5-HT3
Antagonis)
Do :
Mual muntah karena kemoterapi :
0,15 mg/KgBB
Profilaksis mual muntah
kemoterapi : 4 mg
Radiasi : 8 mg
Cholestatik pruritis : 8mg
ES : sakit kepala (9-27%), lemas
(9-13%), konstipasi ( 6-11%)
Diabetes Mellitus Tipe 2  GDA pasien masih diatas Glimepirid :  Dosis dan cara penggunaan
normal 264 mg/dL I : Antidiabetik golongan acarbose yang diberikan
sulfonyurea yang mempengaruhi kurang jelas sehingga gula
stimulasi sekresi insulin dengan darah pasien masih diatas
meningkatkan sensitifitas insulin normal sehingga pengobatan
pada target perifer dan yang dihasilkan tidak
menurunkan output glukosa dari menununjukan hasil yang
liver. efektif. Acarbose digunakan 3
Do : 8 mg/24 jam kali sehari 1 tablet setelah
ESO : Hipoglikemi , pusing, sakit suapan makan yang pertama.
kepala (2%)  Monitoring efek samping
gejala hipoglikemi seperti
Acarbose : lemas, keringat dingin, pusing,
I : antidiabetik. Alpha Glucosidase berkunang kunang. Monitoring
Inhibitor. memperlambat proses ini sangat ketat karena resiko
pencernaan karbohidrat menjadi hipoglikemi meningkat ketika
senyawa gula yang lebih acarbose dikombinasikan
sederhana, sehingga membantu dengan golongan sulfonylurea
menurunkan kadar gula dalam yang memiliki resiko efek
darah setelah makan. samping hipoglikemi lebih
Do : 50-100 mg/ 8 jam besar.
ESO : diare (31%), nyeri pada
perut (19%).

Hipertensi  TD pasien diatas normal pada Amlodipin 10 mg Monitoring efek samping yaitu
tanggal 13/09/2018 yaitu I : Hipertensi (Calcium Channel edema perifer yang ditandai
140/100 mmHg dan pada Blocker). bengkak pada kaki ataupun tangan
tanggal 16/09/2018 yaitu Do :10 mg/24 jam. pasien.
150/90 mmHg. ES :edema perifer 2-15% Monitorin TD pasien setiap hari
dan apabila sudah tidak dirawat
disarankan untuk kontrol setiap
bulan.
Terapi cairan tubuh Menjaga homeostasis pasien RL Monitoring kadar elektrolit
pasien. Monitoring ketat perlu
dilakukan karena pasien memiliki
riwayat penyakit hipertensi.
Kelebihan elektrolit natrium dan
kalium dalam tubuh pasien dapat
mempengaruhi tekanan darah.
Tekanan darah diatas normal dan
DM tipe 2 pasien yang tidak
terkontrol dapat menyebabkan
progresifitas penyakit pada organ
ginjal. DM tipe 2 dan hipertensi
dapat mengakibatkan gangguan
fisiologi dari glomurolus ginjal.
Demam Suhu Tinggi Amoxicillin Monitoring perbaikan tanda-tanda
 Suhu : 38oC (13/09/2018) I : antibiotik yang digunakan untuk SIRS seperti Suhu, TD, Nadi
 Suhu : 37,9oC (14/09/2018) mengatasi infeksi yang dialami setiap hari dan Leukosit pasien
 Suhu : 38,2oC (16/09/2018) pasien setelah 3-5 hari penggunaan
Do umum yang digunakan : 250- antibiotik. Antibiotik amoxicillin
500 mg tiap 8 jam atau 500-875 mg dapat digunakan sebagai terapi
Nadi tinggi
2 kali sehari antibiotik empiris selama 3-5 hari
(13/09/2018) : 104x/menit
ES : ansietas, insomnia, mual, dengan monitoring perbaikan
(14/09/2018) : 105x/menit
muntah tanda SIRS.
(16/09/2018) : 106x/menit Do yang diberi : 3x500 mg IV
RR Tinggi
(13/09/2018) : 24x/menit
(14/09/2018) : 25x/menit
(16/09/2018) : 21x/menit

3 3
Leukosit tinggi :15500 x10 /mm
Pasien sudah menunjukkan
tanda-tanda SIRS sehingga terapi
antibiotik empiris dapat diberikan.

Cervical Syndrome Nyeri tekan pada leher kiri Diazepam Nyeri tekan pada leher pasien
I : nyeri tekan pada leher sebelah dapat diakibatkan karena posisi
kiri (Cervical Syndrome0 tidur pasien yang salah dan bantal
Do : Muscle spasme 2-10 mg/12 yang digunakan pasien terlalu
jam tinggi sehingga penggunaan
ESO : Ataksia (3%), hipotensi, diazepam sebaiknya tidak
sakit kepala diberikan karena potensi
munculnya efeksamping seperti
ataksia dan hipotensi pada pasien
semakin besar. Selain itu obat ini
merupakan obat prekusor
sehingga penggunaannya sangat
dibatasi. Untuk mengatasi nyeri
pasien dapat diberikan ibuprofen
dengan dosis 200-400 mg setiap 6
jam.

KONSELING

Farmakologi/Non Materi Konseling


Farmakologi
Terapi farmakologi  Memberi edukasi terkait nama obat, indikasi, dan cara penggunaan
 Memberi edukasi terkait jadwal minum obat dan cara minum obat untuk mencegah interaksi dan
resistensi antibiotik
 Memberi edukasi terkait pentingnya kepatuhan terhadap terapi untuk mencegah terjadinya
resistensi.
Non Farmakologi  Menjaga asupan makanan sebagai pendukung terkontrolnya kadar glukosa darah pasien
 Menjaga kebersihan lingkungan karena pada pasien yang terkena DM infeksi lebih mudah terjadi.
 Makanan harus diolah dengan benar
 Meningkatkan higiene perorangan
 Memperbanyak minum air putih
DAFTAR PUSTAKA

Chung, E. K., 1995, Penuntun Praktis Penyakit Kardiovarkular ( Quick Reference to


Cardiovaskular Diaseases) Edisi 3, diterjemahkan oleh Andrianto, P. 73-74, Jakarta,
EGC.
Departemen Kesehatan RI, 2005, Pharmaceutical Care untuk Penyakit Diabetes Mellitus,
Departemen Kesehatan, Direktorat Jenderal, Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan,
Jakarta.
Dipiro.JT., 2009, Pharmacoterapy Handbook 7th edition, Mc Graw Hill, New York.
Kemenkes. 2006. Pedoman Pengendalian Demam Tifoid. Keputusan Menteri Kesehatan RI
No. 364/MENKES/SK/V/2006 Nelwan R. Tata Laksana Terkini Demam Tifoid.
2012, CDK-192. Vol 39 (4).
Lacy, F.,C., Amstrong L.,L., Goldman,P.,M., Lance, L., L., 2008, Drug Information
Handbook, 17th Edition, Part I and Part 2, Lexi-Comp, USA.
Rovers, J. P. Currie, J. D. Hagol, H. P., Mc. Donough, R. P, Sobotka, J. L., 2003, A Practical
Guide to Pharmaceutical Care, 2nd edition 5, 19, American Pharmaceutical
Association, Washington DC.
Rovers, J. P. Currie, J. D. Hagol, H. P., Mc. Donough, R. P, Sobotka, J. L., 2003, A Practical
Guide to Pharmaceutical Care, 2nd edition 5, 19, American Pharmaceutical
Association, Washington DC.
LAMPIRAN

Lampiran 1. Lembar Pengumpul Data