Anda di halaman 1dari 25

Analisis SWOT Usaha Mikro Kecil dan Menengah

Makalah Entrepreneurship

Disusun oleh :

Elisa Febriani Panjaitan (2016102939)

PROGRAM STUDI MANAGEMENT


FAKULTAS EKONOMI BISNIS
KALBIS INSTITUTE
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas rahmat-
Nya, maka kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah mata kuliah
Entrepreneurship mengenai “Analisis SWOT Usaha Mikro Kecil dan Menengah
(UMKM)”.

Penyusunan makalah ini merupakan salah satu tugas untuk mata kuliah
Entrepreneurship . Dalam Penulisan makalah ini, penulis merasa masih banyak
kekurangan, baik dalam materi maupun cara penulisan. Untuk itu kritik dan saran
dari semua pihak sangat penulis harapkan demi menyempurnakan isi makalah ini.

Penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tidak terhingga kepada


pihak-pihak yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung atas sumber
sumber materi sebagai bahan referensi yang membantu dalam penyusunan
makalah ini.

Jakarta ,08 Maret 2019

i
DAFTAR ISI

Kata pengantar ................................................................................................... i


Daftar Isi ............................................................................................................. ii

BAB I : PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang.....................................................................................1


1.2 Rumusan Masalah................................................................................3
1.3 Tujuan..................................................................................................3

BAB II : PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Usaha Kecil dan Menengah...............................................4


2.2 Kriteria Usaha Kecil dan Menengah...................................................5
2.3 Ciri-ciri dari Usaha Kecil dan Menengah. .........................................6
2.3.1 Ciri-ciri Usaha Kecil..............................................................6
2.3.2 Ciri-ciri Usaha Menengah......................................................7

2.4 Faktor-faktor yang mempengaruhi Usaha Kecil dan Menengah


dalam menjalankan usahanya..................................................................7
2.4.1 Faktor Internal.......................................................................7
2.4.2 Faktor Eksternal....................................................................9
2.4.3 Faktor Pendukung.................................................................10
2.4.4 Faktor Penghambat...............................................................10

2.5 Pengertian SWOT..............................................................................10


2.6 Analisis SWOT pada Usaha Sablon Medan......................................13

BAB III : PENGEMBANGAN DAN INOVASI


3.1 Bentuk pengembangan organisasi Sablon Medan............................16

ii
3.1.1 Arah Pengembangan...........................................................16
3.1.2 Bentuk Pengembangan.......................................................16
3.1.3 Bidang yang dikembangkan...............................................16
3.1.4 Teknik Pengembangan dan Inovasi....................................17

BAB IV : PENUTUP

4.1 Kesimpulan......................................................................................19

4.2 Saran................................................................................................19

DAFTAR PUSTAKA........................................................................................21

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UKM) mempunyai peran yang strategis
dalam pembangunan ekonomi nasional, oleh karena selain berperan dalam
pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja juga berperan dalam
pendistribusian hasil-hasil pembangunan. Dalam krisis ekonomi yang terjadi di
negara kita sejak beberapa waktu yang lalu, dimana banyak usaha berskala besar
yang mengalami stagnasi bahkan berhenti aktifitasnya, sektor Usaha Kecil dan
Menengah (UKM) terbukti lebih tangguh dalam menghadapi krisis tersebut.
Mengingat pengalaman yang telah dihadapi oleh Indonesia selama krisis, kiranya
tidak berlebihan apabila pengembangan sektor swasta difokuskan pada UKM,
terlebih lagi unit usaha ini seringkali terabaikan hanya karena hasil produksinya
dalam skala kecil dan belum mampu bersaing dengan unit usaha lainnya

Pengembangan UKM perlu mendapatkan perhatian yang besar baik dari


pemerintah maupun masyarakat agar dapat berkembang lebih kompetitif bersama
pelaku ekonomi lainnya. Kebijakan pemerintah ke depan perlu diupayakan lebih
kondusif bagi tumbuh dan berkembangnya UKM. Pemerintah perlu meningkatkan
perannya dalam memberdayakan UKM disamping mengembangkan kemitraan
usaha yang saling menguntungkan antara pengusaha besar dengan pengusaha kecil,
dan meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusianya.

Menempatkan usaha mikro kecil dan menengah sebagai sasaran utama


pembangunan harus dilandasi komitmen dan koordinasi yang baik antara
pemerintah, pembisnis dan lembaga non bisnis serta masyarakat setempat.

1
Pengembangan usaha mikro kecil dan menengah keseluruhan dengan cara
memberi dukungan positif dan nyata terhadap pengembangan sumber daya
manusia (pelatihan kewirausahaan), teknologi, informasi, akses pendanaan serta
pemasaran, Perluasan pasar ekspor, merupakan indikator keberhasilan membangun
iklim usaha yang berbasis kerakyatan.

Dalam rangka menjalankan peran sebagai suatu entitas usaha yang melihat
peluang besar dengan potensi yang dimiliki serta meningkatkan daya saing industri
kecil dan menengah, maka langkah strategis yang dapat dilaksanakan adalah
bagaimana menjadikan industri tersebut menjadi industri kecil modern. Salah satu
karakteristik menonjol dari industri modern adalah penerapan fungsi-fungsi
manajemen dalam setiap kegiatan perusahaan dengan sungguh-sungguh. Fungsi
manajemen ini dapat terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, pengendalian,
perbaikan ataupun fungsi-fungsi manajemen lain berdasarkan kebutuhan nyata di
lapangan. Dengan demikian industri kecil akan senantiasa siap bersaing dengan
siapapun.

Penulis mengambil salah cantoh Usaha Kecil Menengah yaitu Usaha


Sablon Medan, adalah sebuah usaha kecil yang bergerak di bidang produksi sablon
baju terutama kaos. Usaha ini memiliki potensi untuk berkembang lebih besar
karena sifatnya yang menghususkan pada industri kreatif. Potensi itu perlu di
nyatakan dalam sebuah bentuk pengembangan organisasi untuk merealisasikan
kesempatan dan pertumbuhan yang positif .Sablon Medan adalah UKM yang
bergerak dalam industri kreatif dan inovatif yang menghasilkan produk Kaos dan
juga jasa penjualan dan memberi pelatihan paket usaha garmen , menjual peralatan
dan bahan sablon, menciptakan produk garmen yang dijual massal, menerima
pesanan Custom (Bay order), memberi kesempatan kepada re-seller kaos.Penulis
mendapatkan informasi mengenai Usaha Kecil Menengah yang bergerak di bidang
produksi sablon baju dari sebuah media sosial yaitu internet,dimana penulis sangat
tertarik dengan usaha sablon baju tersebut sehingga membuat penulis tertarik untuk
membuat analisis SWOT Usaha Sablon Medan.

2
UKM ini sudah mendapat income sebanyak 3.4 Milyar /Tahun dengan
jumlah pekerja sebanyak 21 orang yang didalamnya sudah memuat banyak usaha
yang diantaranya :

1. Sablon Kaos
2. Menjual peralatan Sablon
3. Training menyablon Kaos

1.2 Rumusan Masalah


1. Apakah yang dimaksud dengan Usaha Kecil dan Menengah?
2. Apa saja kriteria Usaha Kecil dan Menengah?
3. Apa saja ciri-ciri dari Usaha Kecil dan Menengah?
4. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi Usaha Kecil dan Menengah
dalam menjalankan usahanya?
5. Apa yang dimaksud dengan SWOT?
6. Bagaimana analisis SWOT pada Usaha Sablon Medan?
7. Bagaiman bentuk pengembangan organisasi Sablon Medan?

1.3 Tujuan Penelitian


1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan Usaha Kecil dan Menengah
2. Untuk mengetahui apa saja kriteria Usaha Kecil dan Menengah
3. Untuk mengetahui apa saja ciri-ciri dari Usaha Kecil dan Menengah
4. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi Usaha Kecil dan
Menengah dalam menjalankan usahanya
5. Untuk mengetahui Apa yang dimaksud dengan SWOT
6. Untuk mengetahui bagaimana analisis SWOT pada Usaha Sablon Medan
7. Untuk mengetahui bentuk pengembangan organisasi Sablon Medan

3
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Usaha Kecil dan Menengah

Usaha Mikro Berdasarkan Undang Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang


UMKM (Usaha Menengah Kecil dan Mikro) adalah usaha produktif milik orang
perorangan dan / atau badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria Usaha
Mikro sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) Pengertian Usaha Kecil Menengah


berdasarkan kuantitas tenaga kerja. Usaha kecil merupakan entitas usaha yang
memiliki jumlah tenaga kerja 5 sampai dengan 19 orang, sedangkan usaha
menengah merupakan entitias usaha yang memiliki tenaga kerja 20 sampai dengan
99 orang.

Usaha Kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang
dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak
perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi
bagian baik langsung maupun tidak langsung dari usaha menengah atau usaha besar
yang memenuhi kriteria Usaha Kecil sebagaimana dimaksud dalam Undang-
Undang ini.

Usaha Menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang
dilakukan oleh orang perseorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak
perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian
baik langsung maupun tidak langsung dengan Usaha Kecil atau usaha besar dengan
jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan sebagaimana diatur dalam
Undang-Undang ini.

4
Usaha mikro merupakan kegiatan usaha yang dapat memperluas lapangan
pekerjaan serta memberikan pelayanan ekonomi secara luas kepada masyarakat dan
dapat berperan dalam proses pemerataan dan peningkatan pendapatan masyarakat,
mendorong pertumbuhan ekonomi, serta berperan mewujudkan stabilitas nasional.

Selain itu, usaha mikro adalah salah satu pilar utama ekonomi nasional yang
medapatkan kesempatan utama, dukungan, perlindungan serta pengembangan yang
secara luas sebagai wujud pihak yang tegas kepada kelompok usaha ekonomi
rakyat, tanpa harus mengabaikan peranan usaha besar dan badan usaha milik
pemerintah. Menurut Departemen Tenaga Kerja (Depnaker) usaha mikro adalah
usaha yang memiliki kurang dari 5 orang tenaga kerja.

Dengan berbagai perbedaan pengertian mengenai usaha kecil menurut


berbagai pihak maka dapat ditarik kesimpulan bahwa usaha kecil adalah usaha yang
dijalankan oleh sejumlah orang, warga negara indonesia dengan jumlah kekayaan
bersih maksimal 200 juta dan penghasilan tahunan maksimal 1 milliar rupiah.

2.2 Kriteria Usaha Kecil dan Menengah


Kriteria usaha kecil menurut UU No.9 tahun 1995 adalah sebagai berikut:
1. Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp. 200.000.000,- (Dua Ratus Juta
Rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha
2. Memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp. 1.000.000.000,- (Satu
Milyar Rupiah)
3. Milik Warga Negara Indonesia
4. Berdiri sendiri, bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan
yang tidak dimiliki, dikuasai, atau berafiliasi baik langsung maupun tidak
langsung dengan Usaha Menengah atau Usaha Besar
5. Berbentuk usaha orang perseorangan , badan usaha yang tidak berbadan
hukum, atau badan usaha yang berbadan hukum, termasuk koperasi.

5
Adapun kretiria UMKM berdasarkan tingkat usaha, jumlah aset dan omzet
penjualannya yaitu :
1. Usaha Mikro memiliki asset maks 50 juta dan omzet maks. 300 juta.
2. Usaha Kecil memiliki asset >50 juta-500 juta dengan omzet >300 juta-2,5
milyar.
3. Usaha Menengah >500 juta-10 milyar dengan omzet >2,5 milyar- 50 milyar.

2.3 Ciri-ciri dari Usaha Kecil dan Menengah

2.3.1 Ciri-ciri Usaha Kecil

1. Jenis barang/komoditi yang diusahakan umumnya sudah tetap tidak


gampang berubah;
2. Lokasi/tempat usaha umumnya sudah menetap tidak berpindah-
pindah;
3. Pada umumnya sudah melakukan administrasi keuangan walau
masih sederhana, keuangan perusahaan sudah mulai dipisahkan
dengan keuangan keluarga, sudah membuat neraca usaha;
4. Sudah memiliki izin usaha dan persyaratan legalitas lainnya
termasuk NPWP;
5. Sumberdaya manusia (pengusaha) memiliki pengalaman dalam
berwira usaha;
6. Sebagian sudah akses ke perbankan dalam hal keperluan modal;
7. Sebagian besar belum dapat membuat manajemen usaha dengan
baik seperti business planning.

6
2.3.2 Ciri-ciri Usaha Menengah

1. Pada umumnya telah memiliki manajemen dan organisasi yang lebih


baik, lebih teratur bahkan lebih modern, dengan pembagian tugas
yang jelas antara lain, bagian keuangan, bagian pemasaran dan
bagian produksi;
2. Telah melakukan manajemen keuangan dengan menerapkan sistem
akuntansi dengan teratur, sehingga memudahkan untuk auditing dan
penilaian atau pemeriksaan termasuk oleh perbankan;
3. Telah melakukan aturan atau pengelolaan dan organisasi
perburuhan, telah ada Jamsostek, pemeliharaan kesehatan dll;
4. Sudah memiliki segala persyaratan legalitas antara lain izin
tetangga, izin usaha, izin tempat, NPWP, upaya pengelolaan
lingkungan dll
5. Sudah akses kepada sumber-sumber pendanaan perbankan;
6. Pada umumnya telah memiliki sumber daya manusia yang terlatih
dan terdidik.

2.4 Faktor-faktor yang mempengaruhi Usaha Kecil dan Menengah dalam


menjalankan usahanya

2.4.1 Faktor Internal

1. Unsur Kekuatan Organisasi


a. Produk utama yang dibanggakan yaitu Kaos dan semua pakaian
berbahan kaos.
b. Memiliki tenaga yang terampil di sektor industri mikro textil
(konveksi– sablon – Trainer - pemasaran –keuangan).
c. Dilengkapi peralatan indutri garmen sederhana yang sudah
menghasilkan kapasitas produksi 10.000 kaos per bulan.
d. Memiliki kurang lebih 20 karyawan yang terampil dan kreatif.

7
e. Sudah mengerjakan usaha ini dalam kurun 2 tahun sudah
mencapai omzet 2 Milyar Rupiah dapat dijadikan sebagai model
usaha yang bertahan dan menginspirasi pelaku bisnis pemula.
f. Memiliki kemampuan untuk mengolah sisa bahan kaos menjadi
produk kreatif dan inovatif.
g. Kualitas produksi lebih baik dari hasil produksi usaha sejenis.

2. Unsur Kekuatan Organisasi


a. Modal usaha masih modal perorangan.
b. Dukungan alat dan mesin yang digunakan masih sederhana.
c. Pemasok untuk bahan kaos bermutu masih berada di Pulau Jawa,
menyebabkan pengiriman bahan kain dan beberapa peralatan
sablon yang belum bisa di sediakan sendiri masih mengandalkan
luar pulau.
d. Pemula Usaha yang tidak siap belajar untuk menjahit kaos dan
sablon manual karena dianggap sulit.
e. Lingkungan yang tidak kondusif dengan konsep usaha ini karena
sudah terbiasa mengerjakan orderan kaos ke Bandung atau
Jakarta.
f. Industri Kreatif di sektor desain grafis, fashion bukanlah
kreatifitas yang mudah untuk dikembangkan di Sumatera Utara.
Karena sudah terbiasa dengan kualitas yang biasa-biasa.
g. Kurangnya pembinaan dari pemerintah untuk membesarkan unit
usaha mikro di sektor ini.
h. Penentuan harga yang belum stabil.
i. Masih sulit menemukan SDM yang memiliki kemampuan desing
kaos yang kreatif.

8
2.4.2 Faktor Eksternal

1. Unsur Ancaman Organisasi


a. Ketergantungan yang tinggi terhadap impor bahan baku, bahan
penolong, bahan setengah jadi dan komponen-komponen lain.
b. Keterkaitan antara sektor industri hulu dengan industri hilir
dengan sektor ekonomi lainnya yang masih lemah.
c. Lebih dari 70% usaha sejenis berada di Pulau jawa.
d. Masih rendahnya kesadaran masyarakat untuk berupaya
memandang bahwa industri ini bukanlah industri yang sukar dan
mahal.
e. Rendahnya daya beli masyarakat.
f. Rendahnya apreasiasi terhadap karya daerah.
g. Kebijakan atau peraturan pemerintah daerah terhadap
pengembangan unit usaha.
h. Produk cina yang mungkin jauh lebih murah.

2 Unsur Peluang dalam Organisasi


a. Melihat peluang bahwa pasar produksi Kaos bermutu di Medan
(Sumatera utara) tidak sebanyak dan sebesar yang ada di Bandung,
Jakarta, Yogyakarta.
b. Potensi produk industri kecil menengah ditengah mayoritas
masyarakat Indonesia yang kecil dan menengah.
c. Kemungkinan dapat dijadikan menjadi produk unggulan daerah.
d. Desain yang ada dapat diterima masyarakat yang lebih luas
e. Perkembangan industri kreatif di daerah masih sedikit.
f. Adanya Program bantuan modal dari investor dan pemerintah.

9
2.4.3 Faktor Pendukung

Ada beberapa hal yang menjadi faktor pendukung dalam pengembangan


UKM ini yaitu:

1. Sudah memiliki SDM yang bagus


2. Kualitas hasil produksi yang dapat dikatakan setara dengan kualitas
Ekspor
3. Adanya Training khusus yang memungkinkan pengembangan SDM
yang lebih pesat

2.4.4 Faktor Penghambat

Hal-hal yang dapat dikatakan sebagai penghambat dalam pengembangan


organisasi ini adalah sbb:

1. Besarnya biaya pengiriman bahan baku dan produk


2. Tidak adanya suplier Lokal
3. Produk impor harganya jauh lebih murah
4. Rendahnya apresiasi masyarakat terhadap produk local
5. Jenis industri yang bergerak di bidang kreatif lebih sulit dikembangkan
karena harus memiliki kreativitas khusus.

2.5 Pengertian SWOT

SWOT merupakan singkatan dari Strenght (kekuatan),Weakness


(kelemahan), Opportunity (peluang), Threat (ancaman ),Strenght adalah kekuatan
yang dimiliki sebuah usaha. Kekuatan yang dimaksud adalah suatu kelebihan yang
dimiliki suatu usaha dalam mengelolah usaha tersebut. Antara lain kekuatan dalam
mengelolah (input SDA, SDM, modal, dan manajemen ) untuk menghasilkan !utput
yang bagus serta dapat bersaing.

10
Weakness adalah kelemahan-kelemahan yang dimiliki suatu usaha.Dalam
hal ini setiap usaha harus mampu meminimalkan dampak kelemahan yang mereka
miliki terhadap kinerjanya. Mereka juga harus mampu menindaklanjuti kelemahan
yang mereka miliki agar dapat menemukan solusi dan strategi yang jitu untuk
menembus pasar"

Opportunity adalah peluang suatu usaha untuk meningkatkan daya saing


serta untuk menciptakan inovasi-inovasi baru dalam pemenuhan kebutuhan berupa
produk-produk yang berkualitas di pasaran. Peluang ini juga digunakan untuk
memperluas jaringan pemasaran produk yang mereka hasilkan

Threat adalah ancaman bagi suatu usaha baik itu dari luar maupun dari
dalam. Ancaman yang datang dari dalam dapat berupa faktor intern keluarga si
pemilik. Ancaman yang datang dari luar dapat berupa persaingan yang semakin
ketat dari sesama usaha

Menurut Keller (2009), analisis SWOT (strength, weakness, opportunity,threat)


adalah evaluasi keseluruhan dari kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman.

1. Strength (Kekuatan)
Merupakan kekuatan yang dimiliki oleh perusahaan dibandingkan dengan
perusahaan lainnya.
2. Weakness (Kelemahan)
Masalah-masalah yang dihadapi oleh perusahaan dibandingkan dengan
perusahaan lain, sehingga ini menjadi kelemahan bagi perusahaan.
3. Opportunity (Peluang)
Merupakan suatu kesempatan dimana perusahaan dapat melakukan operasi
dalam menghadapi tantangan dan untuk menjadikan kesempatan itu
menjadi sebuah keuntungan.

11
4. Threat (Ancaman)
Merupakan suatu bahaya yang biasanya terjadi karena perkembangan yang
kurang menguntungkan, dimana akan memberikan dampak seperti
pengurangan laba dan penjualan jika tidak dilakukan tindakan untuk
bertahan.

Lebih lanjut menurut Keller (2009), manfaat dari analisis SWOT adalah
meningkatkan pengetahuan dan pemahaman organisasi sehingga mampu
menganalisis apa yang menjadi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman dalam
organisasi untuk mendapatkan strategi yang tepat dengan menggunakan kekuatan
dan peluang yang ada untuk mengatasi segala ancaman dan mengurangi kelemahan
yang ada sehingga organisasi dapat bertahan dan mampu untuk berkembang.

Menurut Riadi (2013), analisis SWOT memiliki fungsi untuk mendapatkan


informasi dari analisis situasi dan memisahkannya dalam pokok persoalan internal
(kekuatan dan kelemahan) dan pokok persoalan eksternal (peluang dan ancaman).
Analisis SWOT tersebut akan menjelaskan apakah informasi tersebut memiliki
sesuatu yang akan membantu perusahaan mencapai tujuannya atau memberikan
indikasi bahwa terdapat rintangan yang harus dihadapi atau diminimalkan untuk
memenuhi pemasukan yang diinginkan. Lebih lanjut menurut Riadi (2013),
analisis SWOT dapat digunakan dengan berbagai cara untuk meningkatkan analisis
dalam usaha penetapan strategi. Umumnya yang sering digunakan adalah sebagai
kerangka atau panduan sistematis dalam diskusi untuk membahas kondisi alternatif
dasar yang mungkin menjadi pertimbangan perusahaan.

Dari pengertian diatas ,penulis menyimpulkan bahwa SWOT merupakan


instrument analisis yang efektif yang akan meminimalkan kelemahan dan ancaman.
Bila diterapkan secara akurat, asumsi sederhana ini mempunyai dampak yang besar
atas rancangan suatu strategi yang berhasil.

12
2.6 Analisis SWOT pada Usaha Sablon Medan

1. Strength (Kekuatan) yang dimiliki perusahaan :


a. Produk utama yang dibanggakan yaitu Kaos dan semua pakaian
berbahan kaos.
b. Memiliki tenaga yang terampil di sektor industri mikro textil
(konveksi– sablon – Trainer - pemasaran –keuangan).
c. Dilengkapi peralatan indutri garmen sederhana yang sudah
menghasilkan kapasitas produksi 10.000 kaos per bulan.
d. Memiliki kurang lebih 20 karyawan yang terampil dan kreatif.
e. Sudah mengerjakan usaha ini dalam kurun 2 tahun sudah mencapai
omzet 2 Milyar Rupiah dapat dijadikan sebagai model usaha yang
bertahan dan menginspirasi pelaku bisnis pemula.
f. Memiliki kemampuan untuk mengolah sisa bahan kaos menjadi
produk kreatif dan inovatif.
g. Kualitas produksi lebih baik dari hasil produksi usaha sejenis.
2. Weakness (Kelemahan) yang dimiliki Perusahaan :
a. Modal usaha masih modal perorangan.
b. Dukungan alat dan mesin yang digunakan masih sederhana.

13
c. Pemasok untuk bahan kaos bermutu masih berada di Pulau Jawa,
menyebabkan pengiriman bahan kain dan beberapa peralatan sablon
yang belum bisa di sediakan sendiri masih mengandalkan luar pulau.
d. Pemula Usaha yang tidak siap belajar untuk menjahit kaos dan
sablon manual karena dianggap sulit.
e. Lingkungan yang tidak kondusif dengan konsep usaha ini karena
sudah terbiasa mengerjakan orderan kaos ke Bandung atau Jakarta.
f. Industri Kreatif di sektor desain grafis, fashion bukanlah kreatifitas
yang mudah untuk dikembangkan di Sumatera Utara. Karena sudah
terbiasa dengan kualitas yang biasa-biasa.
g. Kurangnya pembinaan dari pemerintah untuk membesarkan unit
usaha mikro di sektor ini.
h. Penentuan harga yang belum stabil.
i. Masih sulit menemukan SDM yang memiliki kemampuan desing
kaos yang kreatif.
3. Oportunity (Peluang) yang dimiliki perusahaan :
a. Melihat peluang bahwa pasar produksi Kaos bermutu di Medan
(Sumatera utara) tidak sebanyak dan sebesar yang ada di Bandung,
Jakarta, Yogyakarta.
b. Potensi produk industri kecil menengah ditengah mayoritas
masyarakat Indonesia yang kecil dan menengah.
c. Kemungkinan dapat dijadikan menjadi produk unggulan daerah.
d. Desain yang ada dapat diterima masyarakat yang lebih luas
e. Perkembangan industri kreatif di daerah masih sedikit.
f. Adanya Program bantuan modal dari investor dan pemerintah.
4. Threats (Ancaman) yang dihadapi perusahaan :
a. Ketergantungan yang tinggi terhadap impor bahan baku, bahan penolong,
bahan setengah jadi dan komponen-komponen lain.
b. Keterkaitan antara sektor industri hulu dengan industri hilir dengan sektor
ekonomi lainnya yang masih lemah.

14
c. Lebih dari 70% usaha sejenis berada di Pulau jawa.
d. Masih rendahnya kesadaran masyarakat untuk berupaya memandang
bahwa industri ini bukanlah industri yang sukar dan mahal.
e. Rendahnya daya beli masyarakat.
f. Rendahnya apreasiasi terhadap karya daerah.
g. Kebijakan atau peraturan pemerintah daerah terhadap pengembangan unit
usaha.
h. Produk cina yang mungkin jauh lebih murah.

15
BAB III
PENGEMBANGAN DAN INOVASI

3.1 Bentuk pengembangan organisasi Sablon Medan

3.1.1 Arah Pengembangan


1. Jangka Pendek
a. Peningkatan jumlah unit usaha
b. Peningkatan SDM
c. Meningkatkan kreatif dan inovatif

2. Jangka Panjang

a. Dengan adanya kesadaran dari pihak konsumen bahwa usaha


ini merupakan sebuah usaha yang berasal dari daerah sendiri
, maka di perlukan orang-orang yang memiliki komitmen
sehingga bisa di bentuk komunitas yang banyak yang
bertujuan untuk membantu pengembangan usaha ini .
b. Dengan melakukan berbagai macam hal yang membantu
dalam usaha ini pengembangan usaha ini yang dimana akan
mendirikan sebuah pabrik .

3.1.2 Bentuk Pengembangan

a. Melaksanakan pelatihan /kursus Training skill


b. Membuat workshop di luar kota agar usaha ini memiliki
perkembangan dan koneksi yang besar

3.1.3 Bidang yang dikembangkan

a. Usaha
b. Tenaga kerja
c. Koneksi

16
3.1.4 Teknik Pengembangan dan Inovasi

a. Meningkatkan kapasitas produksi dengan menjadi penyalur produk textil


khususnya bahan kaos dan bahan sablon di Medan.
b. Meraih petensi pasar produksi kaos yang masih berkisar 90% dari potensi
pasar yang ada.
c. Menciptakan lapangan atau kesempatan kerja kepada pelaku usaha dengan
memberikan pelatihan usaha mikro.
d. Mendorong pemerintah agar memajukan jenis usaha ini agar lebih merata
sehingga produksi kaos sudah dapat mengandalkan daerah sendiri.
e. Mendorong pemerintah agar mengedepankan Usaha kecil dan menengah
dalam pengadaan pembuatan produksi kaos.
f. Melakukan promosi-promosi ke instansi/ kawasan industri/ perusahaan/
masyarakat umum agar pembuatan produksi kaos dilakukan di daerah
sendiri.
g. Menjadi mitra dengan usaha-usaha sejenis yang sudah lama tetapi belum
berproduksi dengan baik agar sama-sama mengedepankan kualitas
produksi yag bermutu sama bahkan lebih baik dari produksi di Pulau jawa.
h. Menjaga kualitas produk dengan proses dengan proses dengan menjamin
ketersediaan dan kualitas bahan baku.
i. Meningkatkan daya saing perusahaan dengan dengan memanfaatkan
kreativitas produk untuk menjadi produk kreatif.
j. Menciptakan sistem manajemen kerja yang profesional, sistem keuangan
yang baik untuk kemudahan perolehan modal dari lembaga keuangan.
k. Menciptakan tenaga ahli dan profesional untuk dapat menjadi tenaga
pengajar/ instruktur atau pengusaha baru di sektor yang sama, agar menjadi
minta dalam membangun industri kreatif di Medan.
l. Menciptakan sistem teknologi informasi yang baik demi kemudahan dari
sisi informasi kepada masyarakat sehingga lebih mudah untuk mendapat
edukasi dari program atau tujuan perusahaan.

17
i. Memberikan pelatihan yang bertujuan untuk membekali keahlian kepada
UKM dibidang sablon digital printing, melatih kreativitas dan inovasi
baru seputar bisnis sablon agar dapat bersaing sehat sehingga dapat
memperluas usaha para peserta workshop."
j. Edukasi mengenai ide-ide alternatif yang kreatif dan inovatif untuk
membantu pengembangan bisnis Usaha Kecil Menengah (UKM).
k. Melakukan promosi melalui internet agar semua kalangan bisa melihat
usaha sablon baju medan.

18
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Dari pembahasan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa Cetak sablon


merupakan proses stensil untuk memindahkan suatu citra ke atas berbagai jenis
media atau bahan cetak seperti : kertas, kayu, metal, kaca, kain, plastik, kulit, dan
lain-lain. Untuk mereproduksi atau menghasilkan kembali gambar maupun hasil
dari suatu rancangan desain. Rencana Pengembangan Organisasi Usaha Sablon
Medan ini adalah untuk meningkatkan kinerja dan hasil dari produktivitas UKM
CV. Sablon Medan dengan pendapatan yang cukup besar dengan kurun wakru 2
tahun mencapai omzet 2 Milyar Rupiah dan dapat dijadikan sebagai model usaha
yang bertahan dan menginspirasi pelaku bisnis pemula.Usaha sablon baju ini
memliki tujuan yaitu menjadi UKM modern yang memiliki daya saing yang tinggi
terutama dalam bidang industri kreatif dengan mendapatkan income yang lebih dari
3.4 Milyar / tahun dan bisa menjadikan jenis usaha ini menjadi lebih besar.

Analisis SWOT adalah identifikasi berbagai faktor secara sistematis guna


merumuskan strategi perusahaan,dimana analisis SWOT ini didasarkan pada logika
yang dapat memaksimalkan kekuatan dan peluang,namun secara bersamaan dapat
meminimalkan kelemahan dan ancaman. Proses pengambilan keputusan strategis
selalu berkaitan dengan pengembangan misi, tujuan, strategi, dan kebijakan
perusahaan. Dengan demikian perencana strategi harus menganalisa faktor faktor
strategis perusahaan dalam kondisi saat ini.Dengan menggunakan analisis swot
pada usaha sablon dapat mempermudah dalam mencapai tujuan dari CV.Sablon
Medan dan terus melakukan pengembangan serta inovasi sehingga tidak tersaingi
oleh pesaing – pesaing lain .

4.1 Saran

Dengan kajian SWOT ini diharapkan dapat memberikan gambaran tahap-


tahap perumusan tujuan di mulai dari visi dan misi yang menghasilkan nilai-nilai.
Visi dan misi dan nilai-nilai tersebut secara bersamaan dianalisis dengan
mempetimbangkan faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi, baik lingkungan
internal yaitu lingkungan eksternal.

19
Selain itu menurut penulis sebaiknya alat dan mesin yang digunakan dalam
memproduksi sablon harus digantikan dengan mesin yang canggih karena menurut
penulis alat yang digunakan dalam memproduksi baju sablon masih
sederahana,sehingga akan mempengaruhi hasil dari jumah sablon tersebut dan akan
mempengaruhi pendapatan CV.Sablon Medan

20
DAFTAR PUSTAKA

https://www.academia.edu/5029694/Contoh_Makalah_Analisis_SWOT

https://www.google.com/url?sa=i&source=images&cd=&cad=rja&uact=8&v
ed=0ahUKEwi1spuiu-
_gAhWm_XMBHV3NDqEQMwgoKAAwAA&url=https%3A%2F%2Fdilok
asi.com%2FSumatera-Utara%2FPlaces%2FSablon-Kaos-Distro-Medan-
744381&psig=AOvVaw2cfFZc4ZxYU-
rmN2x5NEQT&ust=1552028612851686&ictx=3&uact=3

http://eprints.ums.ac.id/31177/2/04._BAB_I.pdf

http://repo.iain-tulungagung.ac.id/3463/2/BAB-II-TONI.pdf

https://library.binus.ac.id/eColls/eThesisdoc/Bab2/2014-2-00072-
SI%20Bab2001.pdf

21