Anda di halaman 1dari 348

PROGRAM TELEVISI NON DRAMA MAGAZINE SHOW

XPLORENESIA Episode “Sumatera Barat”

Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat kelulusan Program Diploma III

Muhammad Miftah Farid 42150498 Produser

Andre Rinaldi 42150737 Pengarah Acara

Bustomi Arifin 42150215 Penulis Naskah

Alam Tuhid 42150685 Penata Kamera

Kevin Nuriana 42151039 Penata Suara

Teguh Iman Muttaqi 42150121 Penata Cahaya

Panji Bukhori 42150910 Penyuntin Gambar

Harris Fahmi Fauzan 42150544 Penata Artistik

JURUSAN PENYIARAN

Akademi Komunikasi Bina Sarana Informasi

Jakarta

2018
PERSETUJUAN PENGESAHAN TUGAS AKHIR

Tugas Akhir ini diajukan oleh :


Nama : MUHAMMAD MIFTAH FARID
NIM : 42150498
Program Studi : BROADCASTING
Jenjang : Diploma Tiga (D.III)
Judul Tugas Akhir : Program Televisi Non Drama Magazine Show
XPLORENESIA ( Explore Indonesia)

Nama : ANDRE RINALDI


NIM : 42150737
Program Studi : BROADCASTING
Jenjang : Diploma Tiga (D.III)
Judul Tugas Akhir : Program Televisi Non Drama Magazine Show
XPLORENESIA ( Explore Indonesia)

Nama : BUSTOMI ARIFIN


NIM : 42150215
Program Studi : BROADCASTING
Jenjang : Diploma Tiga (D.III)
Judul Tugas Akhir : Program Televisi Non Drama Magazine Show
XPLORENESIA ( Explore Indonesia)

Nama : ALAM TAUHID


NIM : 42150685
Program Studi : BROADCASTING
Jenjang : Diploma Tiga (D.III)
Judul Tugas Akhir : Program Televisi Non Drama Magazine Show
XPLORENESIA ( Explore Indonesia)

Nama : PANJI BUKHORI


NIM : 42150910
Program Studi : BROADCASTING
Jenjang : Diploma Tiga (D.III)
Judul Tugas Akhir : Program Televisi Non Drama Magazine Show
XPLORENESIA ( Explore Indonesia)
Nama : KEVIN NURIANA
NIM : 42151039
Program Studi : BROADCASTING
Jenjang : Diploma Tiga (D.III)
Judul Tugas Akhir : Program Televisi Non Drama Magazine Show
XPLORENESIA ( Explore Indonesia)

Nama : HARRIS FAHMI FAUZAN


NIM : 42150544
Program Studi : BROADCASTING
Jenjang : Diploma Tiga (D.III)
Judul Tugas Akhir : Program Televisi Non Drama Magazine Show
XPLORENESIA ( Explore Indonesia)

Nama : TEGUH IMAN MUTTAQIN


NIM : 42150121
Program Studi : BROADCASTING
Jenjang : Diploma Tiga (D.III)
Judul Tugas Akhir : Program Televisi Non Drama Magazine Show
XPLORENESIA ( Explore Indonesia)

Untuk Dipertahankan pada periode 1 – 2018 dihadapan penguji dan diterima sebagai
Bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh Diploma Ahli Madya (A.Md)
Pada program Diploma III Penyiaran di Akademi Komunikasi BSI Jakarta.

Jakarta, 23 Juli 2018

PEMBIMBING TUGAS AKHIR

Dosen Pembimbing : Gan Gan Giantika, S.Sos, MM

..................................

DEWAN PENGUJI

Penguji I : …………………………………………………………………

Penguji II : ………………………………………………………………….
T
LEMBAR KONSULTASI TUGAS AKHIR

AKADEMI KOMUNIKASI BSI JAKARTA


NIM : 42150498

Nama Lengkap : Muhammad Miftah Farid

Dosen Pembimbing : Gan Gan Giantika, S.Sos, MM

Judul Tugas Akhir : XPLORENESIA

Tanggal Paraf Dosen


No Pokok Bahasan
Bimbingan Pembimbing
1. 4 April 2018 Membahas Tentang Program Magazine
2. 18 April 2018 Pengajuan Konsep
3. 2 Mei 2018 ACC Konsep
4. 28 Mei 2018 Bimbingan karya dan Dispro
5. 4 Juni 2018 Bimbingan karya dan Dispro
6. 25 Juni 2018 Bimbingan karya dan Dispro
7. 28 Juni 2018 Bimbingan karya dan Dispro
8. 8 Juli 2018 Bimbingan karya dan Dispro
9. 13 Juli 2018 ACC Karya dan Tugas Akhir
Catatan untuk Dosen Pembimbing.

Bimbingan Tugas Akhir

 Dimulai pada tanggal : 4 April 2018


 Diakhiri pada tanggal : 13 juli 2018
 Jumlah pertemuan bimbingan : 9
Disetujui oleh,

Dosen Pembimbing

(Gan Gan Giantika, S.Sos, MM)

LEMBAR KONSULTASI TUGAS AKHIR


AKADEMI KOMUNIKASI BSI JAKARTA
NIM : 42150737

Nama Lengkap : Andre Rinaldi

Dosen Pembimbing : Gan Gan Giantika, S.Sos, MM

Judul Tugas Akhir : XPLORENESIA

Tanggal Paraf Dosen


No Pokok Bahasan
Bimbingan Pembimbing
10. 4 April 2018 Membahas Tentang Program Magazine
11. 18 April 2018 Pengajuan Konsep
12. 2 Mei 2018 ACC Konsep
13. 28 Mei 2018 Bimbingan karya dan Dispro
14. 4 Juni 2018 Bimbingan karya dan Dispro
15. 25 Juni 2018 Bimbingan karya dan Dispro
16. 28 Juni 2018 Bimbingan karya dan Dispro
17. 8 Juli 2018 Bimbingan karya dan Dispro
18. 13 Juli 2018 ACC Karya dan Tugas Akhir
Catatan untuk Dosen Pembimbing.

Bimbingan Tugas Akhir

 Dimulai pada tanggal : 4 April 2018


 Diakhiri pada tanggal : 13 juli 2018
 Jumlah pertemuan bimbingan : 9
Disetujui oleh,

Dosen Pembimbing

(Gan Gan Giantika, S.Sos, MM)

LEMBAR KONSULTASI TUGAS AKHIR

AKADEMI KOMUNIKASI BSI JAKARTA


NIM : 42150215

Nama Lengkap : Bustomi Arifin


Dosen Pembimbing : Gan Gan Giantika, S.Sos, MM

Judul Tugas Akhir : XPLORENESIA

Tanggal Paraf Dosen


No Pokok Bahasan
Bimbingan Pembimbing
19. 4 April 2018 Membahas Tentang Program Magazine
20. 18 April 2018 Pengajuan Konsep
21. 2 Mei 2018 ACC Konsep
22. 28 Mei 2018 Bimbingan karya dan Dispro
23. 4 Juni 2018 Bimbingan karya dan Dispro
24. 25 Juni 2018 Bimbingan karya dan Dispro
25. 28 Juni 2018 Bimbingan karya dan Dispro
26. 8 Juli 2018 Bimbingan karya dan Dispro
27. 13 Juli 2018 ACC Karya dan Tugas Akhir
Catatan untuk Dosen Pembimbing.

Bimbingan Tugas Akhir

 Dimulai pada tanggal : 4 April 2018


 Diakhiri pada tanggal : 13 juli 2018
 Jumlah pertemuan bimbingan : 9
Disetujui oleh,

Dosen Pembimbing

(Gan Gan Giantika, S.Sos, MM)

LEMBAR KONSULTASI TUGAS AKHIR

AKADEMI KOMUNIKASI BSI JAKARTA


NIM : 42150685

Nama Lengkap : Alam Tauhid

Dosen Pembimbing : Gan Gan Giantika, S.Sos, MM

Judul Tugas Akhir : XPLORENESIA

No Tanggal Pokok Bahasan Paraf Dosen


Bimbingan Pembimbing
28. 4 April 2018 Membahas Tentang Program Magazine
29. 18 April 2018 Pengajuan Konsep
30. 2 Mei 2018 ACC Konsep
31. 28 Mei 2018 Bimbingan karya dan Dispro
32. 4 Juni 2018 Bimbingan karya dan Dispro
33. 25 Juni 2018 Bimbingan karya dan Dispro
34. 28 Juni 2018 Bimbingan karya dan Dispro
35. 8 Juli 2018 Bimbingan karya dan Dispro
36. 13 Juli 2018 ACC Karya dan Tugas Akhir
Catatan untuk Dosen Pembimbing.

Bimbingan Tugas Akhir

 Dimulai pada tanggal : 4 April 2018


 Diakhiri pada tanggal : 13 juli 2018
 Jumlah pertemuan bimbingan : 9
Disetujui oleh,

Dosen Pembimbing

(Gan Gan Giantika, S.Sos, MM)

LEMBAR KONSULTASI TUGAS AKHIR

AKADEMI KOMUNIKASI BSI JAKARTA


NIM : 42151039

Nama Lengkap : Kevin Nuriana

Dosen Pembimbing : Gan Gan Giantika, S.Sos, MM

Judul Tugas Akhir : XPLORENESIA

Tanggal Paraf Dosen


No Pokok Bahasan
Bimbingan Pembimbing
37. 4 April 2018 Membahas Tentang Program Magazine
38. 18 April 2018 Pengajuan Konsep
39. 2 Mei 2018 ACC Konsep
40. 28 Mei 2018 Bimbingan karya dan Dispro
41. 4 Juni 2018 Bimbingan karya dan Dispro
42. 25 Juni 2018 Bimbingan karya dan Dispro
43. 28 Juni 2018 Bimbingan karya dan Dispro
44. 8 Juli 2018 Bimbingan karya dan Dispro
45. 13 Juli 2018 ACC Karya dan Tugas Akhir
Catatan untuk Dosen Pembimbing.

Bimbingan Tugas Akhir

 Dimulai pada tanggal : 4 April 2018


 Diakhiri pada tanggal : 13 juli 2018
 Jumlah pertemuan bimbingan : 9
Disetujui oleh,

Dosen Pembimbing

(Gan Gan Giantika, S.Sos, MM)

LEMBAR KONSULTASI TUGAS AKHIR

AKADEMI KOMUNIKASI BSI JAKARTA


NIM : 42150121

Nama Lengkap : Teguh Iman Muttaqin

Dosen Pembimbing : Gan Gan Giantika, S.Sos, MM

Judul Tugas Akhir : XPLORENESIA

Tanggal Paraf Dosen


No Pokok Bahasan
Bimbingan Pembimbing
46. 4 April 2018 Membahas Tentang Program Magazine
47. 18 April 2018 Pengajuan Konsep
48. 2 Mei 2018 ACC Konsep
49. 28 Mei 2018 Bimbingan karya dan Dispro
50. 4 Juni 2018 Bimbingan karya dan Dispro
51. 25 Juni 2018 Bimbingan karya dan Dispro
52. 28 Juni 2018 Bimbingan karya dan Dispro
53. 8 Juli 2018 Bimbingan karya dan Dispro
54. 13 Juli 2018 ACC Karya dan Tugas Akhir
Catatan untuk Dosen Pembimbing.

Bimbingan Tugas Akhir

 Dimulai pada tanggal : 4 April 2018


 Diakhiri pada tanggal : 13 juli 2018
 Jumlah pertemuan bimbingan : 9
Disetujui oleh,

Dosen Pembimbing

(Gan Gan Giantika, S.Sos, MM)

LEMBAR KONSULTASI TUGAS AKHIR

AKADEMI KOMUNIKASI BSI JAKARTA


NIM : 42150910

Nama Lengkap : Panji Bukhori

Dosen Pembimbing : Gan Gan Giantika, S.Sos, MM

Judul Tugas Akhir : XPLORENESIA

Tanggal Paraf Dosen


No Pokok Bahasan
Bimbingan Pembimbing
55. 4 April 2018 Membahas Tentang Program Magazine
56. 18 April 2018 Pengajuan Konsep
57. 2 Mei 2018 ACC Konsep
58. 28 Mei 2018 Bimbingan karya dan Dispro
59. 4 Juni 2018 Bimbingan karya dan Dispro
60. 25 Juni 2018 Bimbingan karya dan Dispro
61. 28 Juni 2018 Bimbingan karya dan Dispro
62. 8 Juli 2018 Bimbingan karya dan Dispro
63. 13 Juli 2018 ACC Karya dan Tugas Akhir
Catatan untuk Dosen Pembimbing.

Bimbingan Tugas Akhir


 Dimulai pada tanggal : 4 April 2018
 Diakhiri pada tanggal : 13 juli 2018
 Jumlah pertemuan bimbingan : 9
Disetujui oleh,

Dosen Pembimbing

(Gan Gan Giantika, S.Sos, MM)

LEMBAR KONSULTASI TUGAS AKHIR

AKADEMI KOMUNIKASI BSI JAKARTA


NIM : 42150544

Nama Lengkap : Haris Fahmi Fauzan

Dosen Pembimbing : Gan Gan Giantika, S.Sos, MM

Judul Tugas Akhir : XPLORENESIA

Tanggal Paraf Dosen


No Pokok Bahasan
Bimbingan Pembimbing
64. 4 April 2018 Membahas Tentang Program Magazine
65. 18 April 2018 Pengajuan Konsep
66. 2 Mei 2018 ACC Konsep
67. 28 Mei 2018 Bimbingan karya dan Dispro
68. 4 Juni 2018 Bimbingan karya dan Dispro
69. 25 Juni 2018 Bimbingan karya dan Dispro
70. 28 Juni 2018 Bimbingan karya dan Dispro
71. 8 Juli 2018 Bimbingan karya dan Dispro
72. 13 Juli 2018 ACC Karya dan Tugas Akhir
Catatan untuk Dosen Pembimbing.

Bimbingan Tugas Akhir

 Dimulai pada tanggal : 4 April 2018


 Diakhiri pada tanggal : 13 juli 2018
 Jumlah pertemuan bimbingan : 9
Disetujui oleh,
Dosen Pembimbing

(Gan Gan Giantika, S.Sos, MM)

KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan Puji dan Syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha

Esa yang telah melimpahkan rahmat dan karunia nya, sehingga penulis dapat

menyelesaikan tugas akhir juga desain produksi Non Drama sesuai dengan syarat

yang memenuhi Tugas Akhir. Adapun judul Tugas Akhir produksi televisi Non Drama

yang penulis ambil adalah XPLORENESIA.

Desain produksi ini berisi mengenai cara bagaimana membuat sebuah program non

drama serta perencanaannya mulai dari Pra Produksi, Produksi, hingga Pasca

Produksi dalam setiap job description. Juga mengenai hal apa saja yang perlu

diperhatikan dalam sebuah karya, seperti konsepnya, biaya, segmentasi, jadwal

shooting dan lain sebagainya.

Tujuan dalam pembuatan desain produksi tugas akhir inipun sebagai salah satu

syarat kelulusan program Diploma Tiga (D III) AKOM Bina Sarana Informatika dan

atas bantuan dari beberapa pihak akhirnya laporan tugas akhir yang berjudul

“Xplorenesia” dapat selesai dengan baik. Penulisan desain produksi ini diambil

berdasarkan beberapa sumber seperti tayangan televisi, observasi, maupun sumber

literatur lainnya, akan tetapi penulisan pun menyadari bahwa masih banyak

kekurangan dalam penulisan ini jika tanpa bimbingan dan dorongan semua pihak
yang bersedia membantu. Maka dari itu, izinkan penulis mengucapkan banyak terima

kasih kepada :

1. Direktur Akademi Komunikasi Bina Sarana Informatika


2. Ibu Anisti S.Sos, M.Si Ketua Program Studi Penyiaran Akom BSI
3. Ibu Gan Gan Giantika, S.Sos, MM. Selaku Dosen Pembimbing Tugas Akhir

yang sudah membantu dari proses awal hingga akhir sehingga dapat terselesaikan

dengan baik.
4. Sebuah terima kasih ditujukan kepada keluarga penulis, terutama kedua orang

tua, saudara-saudara yang telah sangat membantu dalam mendorong, menyarankan

penulis untuk menyelesaikan tugas akhir ini.


5. Semua tim yang membantu proses produksi

Teman-teman mahasiswa penyiaran kelas 42.6A.05 dan 42.6B.05 atas semua waktu

dan kesempatan dalam mendapatkan ilmu bersama Terima kasih untuk semua pihak

yang tidak dapat disebutkan namanya satu persatu, yang telah membantu secara

langsung maupun tidak langsung sehingga terselesainya penyusunan tugas akhir ini.

Semoga segala bantuan yang diberikan mendapat berkat yang terbaik dari Tuhan.

Dalam tugas akhir ini penulis menyadari masih banyak terdapat kekurangan. Untuk

itu saran dan kritik yang membangun, sangat diharapkan untuk kesempurnaan

penulisan selanjutnya.

Penulis berharap agar tugas akhir ini dapat bermanfaat dan digunakan sebagai bahan

referensi bacaan bagi sesama mahasiswa, masyarakat dan semua pihak yang ingin

mengetahui lebih lanjut pembahasan dalam tugas akhir ini.

Jakarta, 25 Juni 2018


Muhammad Miftah Farid
ABSTRAK

Muhammad Miftah Farid (42150498) Produser, Andre Rinaldi (42150737)


Sutradara, Bustomi Arifin (42150215) Penulis Naskah, Alam Tauhid (42150685)
Penata Kamera, Kevin Nuriana (42151039) Penata Suara, Teguh Iman Muttaqin
(42150121) Penata Cahaya, Panji Bukhori (42150910) Penyunting Gambar,
Harris Fahmi Fauzan (42150544) Penata Artistik, Xplorenesia Jakarta, Program
Nondrama Televisi Magazine Show.

Pada jaman teknologi sekarang ini yang sangat canggih masyarakat dipermudah
untuk mendapatkan informasi baik media cetak ataupun media elektronik. Dalam
suatu Produksi melakukan riset adalah hal yang paling penting dilakukan ketika
meciptakan konsep yang diinginkan. Dalam hal ini keberhasilan sebuah produksi
ditentukan oleh konsep yang sudah matang. Dengan kerjasama tim yang baik.
Program acara televisi magazine “Xplorenesia berisikan perjalanan, mengulik, dan
ekploitasi Tanah Nusantara. Program ini memberikan informasi tentang
keanekaragaman wisata Indonesia. Dari program ini penulis magazine show
mendapatkan hasil konsep yang sesuai dengan acara program magazine show dan
pelaksanaan tim yang baik.

Kata Kunci: Televisi, Magazine show


ABSTRACT

Muhammad Miftah Farid (42150498) Produser, Andre Rinaldi (42150737)


Sutradara, Bustomi Arifin (42150215) Penulis Naskah, Alam Tauhid (42150685)
Penata Kamera, Kevin Nuriana (42151039) Penata Suara, Teguh Iman Muttaqin
(42150121) Penata Cahaya, Panji Bukhori (42150910) Penyunting Gambar,
Harris Fahmi Fauzan (42150544) Penata Artistik, Xplorenesia Jakarta, Program
Nondrama Televisi Magazine Show.

In the current technology era of highly advanced society it easy to get information
either print media or electronic media. In a production of conducting research is the
most important thing to do when to creat desired concept. In this case determined by
the success of a production concept that has been cooked. With good teamwork.
Magazine television program "Xplorenesia" contains the traveling abduction and
exploitation of the land of the archipelago this program provides information about
the diversity of indonesian tourism. Of course, the writer of magazine show to get the
concept according to the event program and the implementation of the magazine
show good team.

Key Words: Television, Magazine Show


DAFTAR ISI

LEMBAR JUDUL TUGAS AKHIR................................................................................... I

LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN TUGAS AKHIR.............................................II

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI......................................... III

LEMBAR PERSETUJUAN DAN PENGESAHAN TUGAS AKHIR........................IV

LEMBAR KONSULTASI TUGAS AKHIR...................................................................IX

KATA PENGANTAR.................................................................................................. XVIV

ABSTRAK......................................................................................................................... XX

DAFTAR ISI................................................................................................................... XXI

DAFTAR TABEL.......................................................................................................... XXII

DAFTAR GAMBAR................................................................................................... XXIII

DAFTAR LAMPIRAN............................................................................................... XXIV

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Program................................................................................................ 1

1.2 Kegunaan Program........................................................................................................ 2

1.2.1 Kegunaan Khalayak...................................................................................... 3

1.2.2 Kegunaan Praktisi......................................................................................... 3

1.2.3 Kegunaan Akademis..................................................................................... 3

1.3 Referensi Audio Visual................................................................................................. 4

BAB II KAJIAN PROGRAM

2.1 Kategori Program........................................................................................................... 8


2.2 Format Program...................................................................................................... 9

2.3 Judul Program........................................................................................................ 10

2.4 Target Audience..................................................................................................... 11

2.5 Karateristik Produksi............................................................................................. 11

BAB III LAPORAN PRODUKSI

3.1 Proses Kerja Produser............................................................................................ 13

3.1.1 Pra Produksi............................................................................................ 13


3.1.2 Produksi.................................................................................................. 15
3.1.3 Pasca Produksi........................................................................................ 15
3.1.4 Peran Dan Tanggung Jawab Produser ................................................... 16
3.1.5 Proses Penciptaan Karya ........................................................................ 16
a. Konsep Kreatif ............................................................................... 16
b. Konsep Produksi.............................................................................. 16
c. Konsep Editing................................................................................ 16
3.1.6 Kendala Produksi Dan Solusinya .......................................................... 17
3.1.7 Lembar Kerja Produser .......................................................................... 18
3.1.7.1 Deskripsi Program...................................................................... 18

3.2 Proses Kerja Sutradara........................................................................................... 47

3.2.1 Pra Produksi............................................................................................ 48


3.2.2 Produksi.................................................................................................. 49
3.2.3 Pasca Produksi`....................................................................................... 50
3.2.4Peran Dan Tanggung Jawab Sutradara ................................................... 51
3.2.5 Proses Penciptaan Karya ....................................................................... 52
a. Konsep Kreatif.................................................................................. 52
b. Konsep Produksi............................................................................... 53
c. Konsep Editing................................................................................. 53
3.2.6 Kendala Produksi Dan Solusinya............................................................... 54

3.2.7 Lembar Kerja Sutradara.............................................................................. 56

3.3 Proses Kerja Penulis Naskah...................................................................................... 85

3.3.1 Pra Produksi................................................................................................. 85

3.3.2 Produksi........................................................................................................ 88

3.3.3 Pasca Produksi`............................................................................................ 89

3.3.4 Peran Dan Tanggung Jawab Penulis Naskah............................................ 90

3.3.5Proses Penciptaan Karya.............................................................................. 92

a. Konsep Kreatif...................................................................................... 92

b. Konsep Produksi................................................................................... 93

c. Konsep Editing...................................................................................... 93

3.3.6Kendala Produksi Dan Solusinya................................................................ 94

3.3.7 Lembar Kerja Penulis Penulis Naskah....................................................... 95

3.3.7.1 Sinopsis...................................................................................... 95

3.4 Proses Kerja Penata Kamera..................................................................................... 129


3.4.1 Pra Produksi............................................................................................... 131

3.4.2 Produksi...................................................................................................... 131

3.4.3 Pasca Produksi`.......................................................................................... 131

3.4.4 Peran Dan Tanggung Jawab Penata Kamera..........................................132

3.4.5 Proses Penciptaan Karya........................................................................... 133

a. Konsep Kreatif..................................................................................... 134

b.Konsep Produksi................................................................................136

c. Konsep Editing.................................................................................... 138

3.4.6 Kendala Produksi Dan Solusinya............................................................. 139

3.4.7 Lembar Kerja Penata Kamera................................................................... 139

3.5 Proses Kerja Penata Suara........................................................................................ 167

3.5.1 Pra Produksi............................................................................................... 168


3.5.2 Produksi...................................................................................................... 169

3.5.3 Pasca Produksi`.......................................................................................... 169

3.5.4 Peran Dan Tanggung Jawab Penata Suara............................................... 170

3.5.5 Proses Penciptaan Karya........................................................................... 170

a. Konsep Kreatif..................................................................................... 170

b. Konsep Produksi.................................................................................. 171

c. Konsep Editing.................................................................................... 171

3.5.6 Kendala Produksi Dan Solusinya............................................................. 171

3.5.7 Lembar Kerja Penulis Penata Suara......................................................... 173

3.6 Proses Kerja Penata Cahaya..................................................................................... 232

3.6.1 Pra Produksi.............................................................................................. 233

3.6.2 Produksi..................................................................................................... 234

3.6.3 Pasca Produksi`......................................................................................... 235

3.6.4 Peran Dan Tanggung Jawab Penata Cahaya..........................................235

3.6.5 Proses Penciptaan Karya.......................................................................... 235


a. Konsep Kreatif................................................................................... 235

b. Konsep Produksi
………………………………………………….235

c. Konsep Editing.................................................................................... 235

3.6.6 Kendala Produksi Dan Solusinya............................................................ 235

3.6.7 Lembar Kerja Penata Cahaya................................................................... 236

3.7 Proses Kerja Penyunting Gambar............................................................................ 240

3.7.1 Pra Produksi............................................................................................... 241

3.7.2 Produksi...................................................................................................... 241

3.7.3 Pasca Produksi`.......................................................................................... 242

3.7.4 Peran Dan Tanggung Jawab Penyunting Gambar..................................244

3.7.5 Proses Penciptaan Karya.......................................................................... 245


a. Konsep Kreatif................................................................................. 245

b. Konsep Produksi............................................................................... 245

c. Konsep Editing…………………………………………………..246

3.7.6 Kendala Produksi Dan Solusinya......................................................... 246

3.7.7 Lembar Kerja Penyunting Gambar....................................................... 256

3.8 Proses Kerja Penata Artistik.................................................................................. 297

3.8.1 Pra Produksi........................................................................................... 297

3.8.2 Produksi.................................................................................................. 300

38.3 Pasca Produksi........................................................................................ 302

3.8.4 Peran Dan Tanggung Jawab Penata Artistik....................................... 302

3.8.5 Proses Penciptaan Karya....................................................................... 303

a. Konsep Kreatif................................................................................. 303

b. Konsep Produksi............................................................................... 303

c. Konsep Editing................................................................................. 303

1
3.8.6 Kendala Produksi Dan Solusinya......................................................... 304

3.8.7 Lembar Kerja Penata Artistik................................................................ 305

3.8.7.1 Konsep Artistik........................................................................ 306

BAB IV PENUTUP.................................................................................................. 317

4.1 Kesmpulan............................................................................................................. 317

4.2 Saran...................................................................................................................... 317

DAFTAR PUSTAKA................................................................................................ 318

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Program

Televisi adalah media komunikasi bentuk visual yang berisikan berbagai

informasi, edukasi dan hiburan yang variatif yang masih ada sampai sekarang.

2
Berbagai program yang tayang di televisi khususnya di bidang informasi sudah

menjadi kebutuhan berbagai kalangan masyarakat. Dari melihat perkembangan

sekarang yang semakin maju televisi harus lebih menunjukkan kemajuan dalam

memberikan program-program yang inovatif melalui para tenaga kerja kreatifitas

yang tinggi. Maka para insan media berupaya mengemas program informasi

sedemikian rupa. Televisi juga merupakan wadah para pemasang iklan di Indonesia.

media televisi merupakan industri yang penuh akan modal, teknologi dan sumber

daya manusia.
Menurut Morissan (2008:12) Siaran televisi sesuai dengan sifatnya yang dapat
diikuti secara audio dan visual (suara dan gambar) secara bersamaan oleh semua
lapisan masyarakat, maka siaran televisi tidak dapat membuat kagum dan memukau
sebagian penontonnya, tetapi sebaliknya siaran televisi dapat membuat jengkel dan
rasa tidak puas bagi penontonnya. Suatu program mungkin disukai oleh kelompok
masyarakat terdidik. Namun program itu akan ditinggalkan kelompok masyarakat
lainnya.
Dari kutipan di atas penulis menyimpulkan bahwa sebuah program yang

disajikan tidak selalu menjadi daya tarik semua lapisan masyarakat. Oleh karena itu

media televisi berupaya untuk menyajikan informasi atau hiburan yang menarik

sesuai sasaran target audience-nya. dengan memberikan tayangan yang mendidik dan

tidak membosankan serta bervariatif yang mempunyai ciri khas tersendiri.


Kegunaan televisi pada saat ini merupakan sarana hiburan bagi masyarakat,

karena dengan adanya televisi masyarakat dapat terhibur dari tayangan-tayangan yang

disajikan oleh stasiun televisi. Peran televisi pada saat ini sangat berpengaruh untuk

masyarakat, seperti inspirasai gaya hidup yang dicontoh pada salah satu program.

Sebuah program sangat berpengaruh dalam memberikan dampak positif maupun

negatif, oleh karena itu para tenaga kerja pertelevisian masing-masing berlomba

untuk menyajikan tayangan yang bisa menghibur, mendidik dan menarik untuk

ditonton oleh masyarakat.

3
Dari berbagai program yang ditayangkan stasiun televisi. Ada yang menjadi

salah satu sumber informasi masyarakat. salah satunya adalah tayangan non drama

magazine show dengan berbagai informasi yang nyata. Salah satunya dapat

divisualisasikan dengan menarik program acara ini sampai sekarang menjadi

“creative center” yang dapat dinikmati masyarakat. maka dari itu penulis membuat

program magazine show agar mudah diterima oleh masyarakat.


Menurut Wibowo (2007:196) Program Magazine show dikenal di Indonesia sebagai
program majalah udara sebagaimana majalah cetak program magazine memiliki
jangka waktu terbit. Dalam program itu juga terdapat rubrik-rubrik tetap yang berisi
bahasan-bahasan program magazine. Bukan hanya menyoroti satu pokok, melainkan
membahas satu bidang kehidupan, seperti wanita, film, pendidikan dan hiburan
lainnya.

Dari kutipan di atas penulis ingin membuat program acara magazine show yang

menyajikan konten-konten sebagai hiburan dan informasi yang berisikan rubrik-

rubrik yang inovatif, variatif untuk menarik minat masyarakat. program yang akan

penulis buat berjudul “XPLORENESIA” penulis memilih judul tersebut karena di

dalamnya berisikan kegiatan menelusuri tempat-tempat wisata. Alasan memilih tema

traveling karena penulis ingin memberi inspirasi dan memperkenalkan tempat wisata

di Indonesia. selain itu penulis juga memberikan informasi seputar budaya dan

keanekaragaman tanah Nusantara. maka dari itu penulis memberikan judul

“XPLORENESIA” agar program ini dapat memberikan referensi destinasi wisata

kepada audience.

1.2 Kegunaan Program

Kegunaan program non drama yang berjudul “XPLORENESIA” penulis ingin

meemberikan program hiburan yang dapat memberikan pesan positif berupa karya

dalam bentul audio visual kepada audience. Penulis ingin menyajikan program yang

menghibur sekaligus informative dan membawa wawasan penonton.

4
Program “XPLORENESIA” diambil dari kata “explore” yang artinya jelajah

dan “nesia” diambil dari kata akhir Indonesia. jadi bisa disimpulkan

“XPLORENESIA” adalah program yang menjelajahi wisata Indonesia. pada

program ini penulis memberikan informasi yang berada di Sumatra Barat seputar

wisata dan tempat-tempat yang mempunyai nilai sejarah, budaya serta info wisata

yang masih jarang dikenal oleh masyarakat.

1.2.1 Kegunaan Khalayak

Melaui media masa dengan menggunakan sarana televisi yang bersifat audio

visual, penulis ingin menampilkan suatu program magazine show mengenai bidang

kegiatan outdoor dari berbagai sudut pandang dengan dikemas secara menarik untuk

ditonton oleh masyarakat.

1.2.2 Kegunaan Praktisi

Penulis membuat program telkevisi non drama magazine show ini untuk acuan

tugas akhir dan sebagai bahan referensi untuk menghasilkan konsep dan ide-ide yang

baru untuk dijadikan sebuah karya. Selain untuk bahan referensi, penulis ingin

memberikan pengetahuan mengenai program magazine show agar masyarakat lebih

mengerti dan mendalami dalam pembuatan program magazine show ini.

1.2.3 Kegunaan Akademis

Program televisi non drama magazine show yang berjudul “XPLORENESIA”

ini dibuat oleh penulis untuk Tugas Akhir dan merupakan syarat untuk Kelulusan

Program Diploma III Jurusan Penyiaran Akademi Komunikasi Bina Sarana

Informatika, Jakarta.

Referensi Audio Visual

5
Dalam pembuatan program televisi non drama magazine show

“XPLORENESIA” ini penulis terinspirasi dari beberapa program-program tele


visi non drama antara lain.
1. My Trip My Adventure
Program My Trip My Adventure adalah sebuah program yang ditayangkan di Trans

TV sejak bulan September 2013 (Dua Ribu Tiga Belas) dalam program ini

menggambarkan petualangaan dan explorasi keindahan dan alam Indonesia. Program

ini dipandu oleh beberapa host diantaranya Nadine Candrawinata, Dion Wiyoko,

Marshall Sastra. Di salah satu segmen dalam program ini menampilkan salah satu

rubrik wisata.alam Indonesia. Program ini menjadikan sebuah bahan referensi audio

visual karena, program ini akan dijadikan sebagai acuan mengenai teknis pengemasan

gambar yang akan dilakukan pada produksi.

2. Weekend List
Program weekend list ini merupakan program televisi yang berisi tentang acara yang

membahas event seru, pergi kemana, makan dimana, tips, referensi film, musik dan

semua yang perlu anda ketahui untuk menghabiskan akhir pekan yang

menyenangkan, program ini dipandu oleh dua orang host. Di salah satu segmen

program ini berisikan informsi seputar tempat wisata, program ini dijadikan acuan

mengenai teknik gambar yang akan dilakukan penyunting gambar di pasca produksi.

6
3. Halal Living
Halal Living adalah program yang tayang di Net Tv. Program ini dipandu oleh dua

host wanita yang berkonsep Islami. Disalah satu episode progam ini memuat rubrik

tempat wisata. Yang menjadi acuan adalah penggunaan drone dan areal shot dan

variasi shot lainnya dari sudut pandang menjadikan ajuan dalam pengambilan gambar

saat proses produksi.

7
BAB II

KAJIAN PROGRAM

2.1. Kategori Program

Televisi merupakan paduan antara audio siaran dan video gambar yang

bergerak, seiring perkembangan zaman, televisi menjadi salah satu hal yang sangat

penting untuk mendapatkan infomasi dalam dunia komunikasi, baik mancanegara

maupun dunia. Sebagai sarana informasi, televisi merupakan sarana yang paling

diminati, karena selain dapat menghasilkan gambar dan suara sekaligus juga dapat

menghadirkan informasi tentang suatu kejadian ditempat dan waktu yang bersamaan.

Segala jenis siaran yang diberikan oleh televisi ialah dapat memberikan tambahan

pengetahuan (informasi) kepada khalayak (audien) sehingga audien mendapatklan

informasi tambahan saat menyaksikan televisi

Televisi dimasukkan ke dalam golongan audio visual. Yaitu media yang

menyampaikan informasi melalui indera penglihatan dan pendengaran. Televisi

mempermudahkan masyarakat untuk menerima pesan yang disampaikan secara

8
mudah dan dapat dinikmati dimanapun. Televisi juga merupakan sarana hiburan bagi

masyarakat. karena melalui televisi berbagai tayangan yang disajikan dari stasiun

televisi akan diterima dengan mudah oleh masyarakat melalui indera penglihatan dan

pendengaran.

Menurut Morissan (2008:218) memaparkan bahwa: “Program informasi

adalah segala jenois siaran yang tujuannyan untuk memberikan tambahan

pengetahuan (informasi) pasa khalayak audience”.

Menurut Morissan (2008:217) memaparkan bahwa:

Televisi setiap harinya menyajikan berbagai jenis program yang jumlahnya sangat
banyak dan jenis nya sangat beragam. Pada dasarnya apa saja bisa dijadikan program
untuk ditayangkan di televisi selama program itu menarik dan disukai audien, dan
selama tidak bertentangan dengan kesusilaan, hukum dan peraturan yang berlaku.
Berdasarkan kutipan di atas penulis memilih hiburan program yang menyajikan

hiburan dan informasi kategori program magazine show “XPLORENESIA” dengan

tujuan selain memberikan informasi kepada audience melalui rubrik-rubrik yang

diberikan, program ini juga bisa membuat audience terhibur dengan berbagai shot

serta pembawaan yang ceria dari pembawa acaranya. Alasan memilih program

XPLORENESIA adalah, di program ini menyajikan destinasi wisata yang menarik

di tanaha air. Selain itu penulis juga memberikan informasi dan keanekaragaman

tanah nusantara dengan maksud menambahkan rasa cinta kepada tanah air. Di

XPLORENESIA ini penulis memilih tema traveling, alasannya karena tema ini

sangat banyak diminati para remaja dan dewasa untuk menjadikan referensi tujuan

wisata.

9
2.2 Format Program

Berbicara tentang media massa, maka sangat erat kaitannya tengan

telekomunikasi dan informasi. Karena melalui media massa masyarakat yang

membutuhkan informasi bisa mudah mendapakan baik dari media cetak dan

elektronik.

Menurut Suprapto (2009:17) “Komunikasi massa adalah proses penyampaian

informasi, ide, sikap ke banyak orang biasanya menggunakan mesin atau media yang

diklarifikasikan sebagai media massa seperti siaran radio, siaran televisi, majalah atau

film”.

Dari kutipan di atas dapat disimpulkan media massa sangat dibutuhkan

masyarakat untuk mendapatkan informasi serta menjadi sumber informasi yang

mudah diterima dengan cepat. Walaupun jarak satu masyarakat dengan masyarakat

lainnya bisa mendapatkan berita atau informasi melaui siaran media massa. Hal itulah

yang membuat media massa secara tidak langsung berperan penting kepada

kehidupan masyarakat.

Menurut Djamal (2011:167) menyimpulkan bahwa format acara televisi adalah


sebuah perkembangan kreativitas program televisi saat ini telah melahirkan berbagai
bentuk program yang beragam. Keunikan program televisi berjalan seiring dengan
trend gaya hidup masyarakat di sekitarnya yang saling mempengaruhi sehingga
munculah ide-ide yang menampilkan format baru pada program televisi agar
memudahkan, produser, sutradara dan penulis naskah menghasilkan karya yang
spektakuler.

Dari kutipan di atas dapat disimpulkan format acara adalah bagian terpenting

untuk mengembangkan kreativitas dalam membuat program yang menarik dan

inovatif mengikuti arus trend masyarakat. Dalam suatu program televisi harus dibuat

mengikuti apa yang diinginkan penonton. Format acara televisi harus memiliki

10
konsep acara yang sesuia dengan keinginan penulis dan menyesuaikan dengan target

audience itu sendiri. Penulis membuat frogram televisi sesuai kreatifitas dan imajinasi

yang mengutamakan hiburan dan informasi yang akurat.

Menurut Djamal dan Fachruddin (2011:157) ada beberapa format acara televisi

dibagi menjadi 3 bagian, yaitu:

1. Drama/fiksi (timeless dan imajinatif): Tragedi, aksi, komedi, cinta/romantisme,

legenda, horror. Drama adalah pertunjukkan yang menyajikan cara mengenai

kehidupan atau karakter seseorang atau beberapa orang yang diperankan oleh

pemain (artis) yang melibatkan konflik dan emosi.


2. Non drama (timeless dan factual): musik, magazine show, talkshow, repacking,

gameshow, kuis, talent show, Competition show. Non drama bisa disebut sebagai

Program yang mengedepankan informasi, dan pendidikan.


3. Berita/news (aktual dan faktual): Berita, current affairs program, sport, magazine

show, feature. Berita adalah sebuah format acara televisi yang di produksi bedasarkan

informasi dan fakta atas kejadian dan peristiwa yang berlangsung pada kehidupan

sehari-hari. Format ini memerlukan nilai-nilai faktual dan ackual yang disajikan

dengan ketepatan dan kecepatan waktu dimana dibutuhkjan sifat liputan yang

independent.

Dari pengertian di atas penulis menarik kesimpulan bahwa ada banyak sekali

format acara televisi yang harus dipahami pengertiannya agar tidak salah memilih

format acara. Berkaitan dengan konsep program yang penulis buat, penulis memilih

format acara non drama magazine show.

Program magazine show dikenal di Indonesia sebagai program majalah udara

sebagaimana majalah cetak, program magazine memiliki jangka waktu terbit.

11
Mingguan, bulanan tergantung dari kemauan produser. Dalam program itu juga

terdapat rubrik-rubrik tetap yang berisi bahasan-bahasan.

Menurut Purwokusumo dan Riswandi (2009:40) Magazine show adalah format acara
televisi yang mempunyai format menyerupai majalah (Media Cetak) yang di
dalamnya terdiri dari berbagai macam rubrik dan tema yang disajikan dalam reportase
actual dan timeless sesuai dengan minat dan tendensi dari target penontonnya.
Program magazine mirip dengan program feature, perbedaannya kalau program
feature satu pokok permasalahan disoroti dari aspek dan disajikan lewat berbagai
format sementara itu program magazine bukan hanya menyoroti satu pokok
permasalahan, melainkan membahas satu bidang kehidupan seperti wanita, film,
pendidikan dan musik yang ditampilkan dalam rubrik-rubrik tetap dan disajikan lewat
berbagai format.
Adapun jenis-jenis dari majalah udara menurut Purwokusumo dan Riswandi

(2009:40) yaitu:

1. Majalah Berita (News Magazine)

Program ini berisikan tentang peristiwa-peristiwa actual yang mempunyai nilai berita

dan ditunjukkan pada pendengar umum. Biasanya dibuat pada moment-moment

tertentu yang bersikap akrab atau monumental seperti Pemilu, Munas atau Muktanar

Partai Politik, seputar Idul Fitri, memperingati hari kemerdekaan dan sebagainya.

2. Majalah Masalah (Subject Magazine)

Materi informasi yang disajikan dalam majalah udara jenis ini bersifat tunggal,

misalnya khusus mengenai kesehatan, lingkungan, hukum, ekonomi, pendidikan,

musik, film teater dan sebagainya. Sasaan umum jenis masalah ini bisa umum bisa

khusus.

3. Majalah Pendengar Khusus (Special Audience Magazine)

Stressing atau titik pijat majalah udara adalah target audience-nya yaitu, misalnya

sekelompok anak-anak, remaja, dewasa, ibu-ibu, mahasiswa, petani, nelayan, buruh

industri dan sebagainya. Semua masalah kehidupan dapat dijadikan topik siaran untuk

12
target audience manapun, misalnya masalah kesehatan. Topik ini bisa dibuat dalam

bentuk majalah udara untuk anak-anak, remaja, orang dewasa, ibu-ibu dan

sebagainya. Dalam hal ini yang perlu diperhatikan adalah pendekatannya yang

berbeda pada target audience-nya.

4. Majalah Variasi (Variety Magazine)

Program ini menyajikan berbagai materi dengan berbagai kepentingan. Tidak hanya

menyajikan informasi aktual, nilai pendidikan, tetapi juga hiburan. Sasarannya adalah

pendengar umum dan tujuannya adalah menghibur.

Dari penjelasan di atas penulis menyimpulkan bahwa program kami termasuk

dalam Magazine subject, karena program kami menyajikan khusus mengenai

destinasi wisata yang memiliki berbagai rubrik serta dikemas secara menarik dalam

pembuatan program televisi non drama magazine show yang berjudul

XPLORENESIA. Penulis memilih format program magazine show agar dapat

memberikan informasi denagn gaya yang lebih santai agar lebih muda diterima

masyarakat.

Menurut Wibowo (2007:196) program magazine dikenal di Indonesia sebagai


program majalah udara. Program magazine bukan hanya menyoroti satu pokok
permasalahan, melainkan membahas satu bidang kehidupan, seperti wanita, film,
pendidikan dan musik yang ditampilkan dalam rubrik-rubrik tetap dan disajikan lewat
berbagai format.
Sesuai pendapat di atas magazine show merupakan tayangan yang tidak hanya

menayangkan atau fokus pada satu bahasan. Tetapi magazine show program yang

membahas satu bidang kehidupan yang dikemas melaui rubrik-rubrik dalam satu

format. Penulis kemudian mengambil format program magazine show agar bisa

13
memberikan informasi dengan gaya yang lebih santai supaya lebih mudah diterima

masyarakat. dalam format magazine show, penulis memilih tema traveling dan dibagi

dalam tiga segmen.

2.3 Judul Program

Dalam Tugas Akhir ini penulis memberikan judul program televisi non drama

magazine show yaitu “XPLORENESIA”. Nama tersebut di ambil dari singakatan

Explore dan Indonesia Jika diuraikan satu persatu: menurut Wibowo (2015 : 113)

Kamus Besar Bahasa Inggris (KBBI) kata explore memiliki arti menjelajahi, telusur.

Sedangkan “nesia” diambil dari kata Indonesia. bila digabungkan

“XPLORENESIA” mempunyai arti kegiatan menjelajahi Indonesia.

Penulis menyimpulkan bahwa, program XPLORENESIA mempunyai tujuan

untuk memberikan referensi destinasi tempat wisata yang yang penuh dengan

keindahan dan keanekaraman yang dikemas secara menarik, dengan dipandu host

yang ceria penulis dan tim sepakat pada episode ini “XPLORENESIA” akan

membahas tentang menelusuri keindahan alam, budaya, dan keunikan Indonesia.

2.4 Target Audience

Dalam membuat atau memproduksi suatu program kita harus mengetahui

beberapa hal yang penting sebelum ditayangkan di stasiun televisi. Salah satunya

adalah memiliki target audience yang jelas di program tersebut. Karena target

audience adalah yang menentukan pemasaran suatu program.

Menurut Morissan (2008:148) Segmentasi audiens adalah suatu konsep yang sangat
penting dalam mengembangkan bisnis penyiaran. Segmentasi diperlukan agar media
penyiaran dapat melayani audiens secara baik melakukan komunikasi yang lebih

14
persuasif dan yang terpenting adalah memuaskan kebutuhan dan keinginan audiens
yang dituju.
Dalam kutipan di atas dapat disimpulkan menentukan target audience dapat

dilihat dari umur, jenis kelamin, dan status ekonomi sendiri. Audience dibedakan

menurut usia anak-anak, remaja, dewasa dan orang tua.

Biro pusat statistik (BPS) dalam Morissan (2008:151) membagi audience atau

pasar berdasarkan usia yang dikelompokkan sebagai berikut : menurut Morissan

(2008:151) “ Dilihat dari jenis kelamin tidak semua program dapat dibedakan

menurut segmen ini. Program Drama dan komedi misalnya jarang dibedakan menurut

segmentasi audeince berdasarkan jenis kelamin (gender)”.

Program sering kali menggunakan segmentasi usia di atas dalam menjangkau

audience yang diinginkan sehingga kita mengetahui program untuk audience anak-

anak, remaja, dewasa dan orang tua. Target audience dilihat dari status ekonomi

sudah pasti mempengaruhi penayangan program. Selera atau kesukaan seseorang

memang sangat dipengaruhi kelas sosialnya termasuk selera dalam suatu program

yang ditontonnya maupun didengarnya dari media penyiaran. Pendapatan seseorang

akan menentukan di kelas sosial mana berada dan kedudukan seseorang dalam kelas

sosial akan mempengaruhi kemampuannya dalam menerima dlam mengkonsumsi

tayangan media.

Menurut Morissan (2008:170-174) target audience dibagi menjadi 3 (tiga)

antara lain:

Analisa target jenis kelamin

Untuk program televisi non drama magazine show “XPLORENESIA” ini

ditunjukkan kepada pria dan wanita, dengan skala presentase yang seimbang. Karena

15
walaupun yang menyukai kegiatan menjelajah suatu tempat umumnya laki-laki.

Namun sekarang juga para wanita yang memiliki kegemaran serupa. Program ini juga

diperuntukkan untuk para laki-laki dan wanita yang mempunyai jiwa traveling.

Memberikan referensi kepada mereka tempat-temapat mana saja yang layak untuk

dikunjungi.
Analisa target usia
Biasanya audience dibedakan menurut usia yaitu, anak-anak, remaja, dewasa dan

oran tua. Untuk program televisi non drama magazine show XPLORENESIA ini

target usia yang kami buat adalah remaja sampai dewasa berumur 15-35 tahun.

Analisa target pendapatan (Status Ekonomi Sosial)


Selera atau konsumsi sesorang sangat dipengaruhi oleh kelas sosial ditempatinya

termasuk selera terhadap program yang ditonton atau didengarnya dari media

penyiaran. Pendapatan seseorang akan menentukan di kalas sosial mana dia berada

dan kedudukan seseorang dalam kelas sosial akan mempengaruhi kemamapuannya

mengakses sumber-sumber daya dan kecenderungannya dalam mengkonsumsi media.

Menurut Morissan (2009174:175) Status ekonomi sosial dibagi menjadi enam

bagian yaitu:
Kelas atas-atas (A+)
Kela atas bagian bawah (A)
Kelas menengah atas (B+)
Kelas menengah bawah (B-)
Kelas bawah bagian atas (C+)
Kelas bagian bawah (C)
Berdasarkan uraian di atas program magazine show ini untuk jenis kelamin Pria

dan Wanita dengan usia 15 tahun sampai 35 tahun karena program acara ini berisikan

tentang kegiatan traveling. Untuk program televisi non drama magazine show

“XPLORENESIA” ini kami tentukan kepada penonton dengan status sosial B dan C

yaitu kelas menengah bawah sampai kelas atas bagian bawah. Alasannya untuk biaya

16
referensi tempat wisata yang penulis sajikan masih dikatagorikan terjangkau untuk

kalangan B dan C.
2.5. Karakteristik Produksi
Media televisi mempunyai kelebihan selain bisa didengar televisi juga bisa

dilihat (audio visual) dalam karakteristrik produksi ada dua metode siarannya, yaitu

secara live (langsung) dan tapping.


Menurut Djamal (2011:162) Pada saat mode siaran langsung (live) semua
operasional studio berjalan seperti pada mode rekaman, hanya saja proses latihan take
(rehearsal) tidak dilakukan seperti pada proses rekaman. Pada proses rekaman waktu
rehearsal dilakukan relatif agak lama agar pengisi acara dapat melakukan proses
rekaman dengan lancar, namun pada mode siaran langsung tidak tersedia cukup
waktu untuk hal itiu. Karena harus tepat waktu sesuai slot waktu yang disediakan
untuk acara live dari studio tersebut.

Menurut Rusman alatief (2015:152) Tapping merupakan kegiatan merekam


adegan dari naskah menjadi bentuk audio video. Materi hasil rekamannya akan
ditayangkan pada waktu yang berbeda dengan peristiwanya. Misalnya rekaman
dilakukan pada minggu lalu. Ditayangkan minggu ini atau rekaman dilakukan pada
pagi harinya akan disiarkan malam hari.

Dari kedua kutipan di atas, penulis memilih produksi secara tapping atau rekaman

(record) dikarenakan pengambilan gambar yang membutuhkan waktu tidak sediki

untuk melakukan shooting yang berpindah-pindah lokasi. Selain itu penulis juga

membutuhkan persiapan yang matang agar program dapat tayang maksimal terutam

di tahap penyuntingan gambar agar terlihat bagus dan menarik di mata audience.
Di dunia broadcasting penggunaan kamera sudah menjadi wajib digunakan.

Aspek pengambilan gambar dalam karya audio visual disebut dengan teknik kamera

dan dijalannkan oleh penata kamera. Demikian juga dalam proses pembuatan sebuah

program peran kamera sebagai unsur perekam tiap adegan sebagai bentuk visualisasi

cerita yang telah dirancang.


Pembahasan kali ini difokuskan pada bagaimana teknik acting dalam

menggambarkan cerita dari naskah bisa tervisualisasikan. Tentu saja dalam

17
menerapkan perekaman adegan shooting itu terdiri daribeberapa teknik baik melalui

teknik perekaman dengan single camera atau menggunakan multi camera.

Single camera adalah sistem dari tata cara produsi audio visual yang hanya

menggunakan satu kamera. Sedangkan multi camera adalah suatu proses produksi

dengan menggunakan dua camera atau lebih camera yang terhubung dalam satu

sistem yang terintegrasi.

Dengan ini penulis menyimpulkan program XPLORENESIA menggunakan

teknik multi camera kerena. Membutuhka teknik dari pengambilan gambar agar

maksimal.

BAB III

LAPORAN PRODUKSI

3.1 Proses Kerja Produser

Dalam sebuah produksi program televisi, tentunya seorang produser sangat

dibutuhkan didalamnya, secara garis besar produser adalah orang yang sangat

berpengaruh dan bertanggung jawab dalam proses penciptaan karya, dari mulai pra

produksi, produksi hingga pasca produksi, peran produser sangat diperlukan dalam

18
dunia broadcasting, bisa dibilang produser menjadi suatu magnet dalam kebersihan

suatu produksi. Pada pembuatan sebuah program televisi memerlukan beberapa

tahapan-tahapan yang harus dilakukan mulai dari pra produksi yaitu salah satunya

pemilihan kru untuk menentukan job description dari produser, penulis naskah,

pengarah acara, penata kamera, penata artistic, penata audio, penyunting gambar,

penata cahaya. Kemudia dari perundingan seluruh kru untuk membahas konsep dan

program apa yang akan di produksi, setelah itu produser membuat working schedule

untuk mendalami konsep dan teknis apa yang akan digunakan, tidak lupa untuk

menentukan shooting schedule untuk produksi program yang sudah ditentukan, pada

saat produksi yang dilakukan produser adalah mengamati semua kru bekerja dengan

baik yang sesuai dengan job description masing-masing, pada saat pasca produksi

melakukan rapat evaluasi bersama kru dan mengamati jalannya proses penyuntingan

gambar.

Menurut Latief dan utud (2017e:4) memaparkan bahwa: “Produser hanya sebuah
kata, tetapi dalam dunia broadcasting dan film kata produser mengandung makna
kuat, daya Tarik, dan pengaruhnya pada pengembangan karier dan nasib pekerja seni.
Bahkan produser menjadi megnet (magnet) bagi mereka yang ingin membangun
karier di dunia hiburan (entertainment).

Dalam hal ini produser merupakan daya Tarik, dalam ruang lingkup dan

pengembangan karier di suatu produski program televisi. Dengan adanya produser

maka suatu perencanaan program akan bisa dimulai dengan baik, begitu banyak hal

yang akan dikerjakan oleh seorang produser, dimana produser menjadi titik tumpu

19
untuk pembuatan program televisi. Produser sangat berpengaruh pada pekerja seni,

sebab produser bisa dikatakan sebagai seorang yang harus bisa menempatkan dirinya

sebagai pelaku seni dan juga sebagai suatu yang diharapkan oleh sebagian pekerja

seni.

Menurut Morissan (2008:314) memaparkan bahwa: “Produser adalah orang


yang bertanggung jawab mengubah ide/gagasan kedalam konsep yang praktis dan
dapat dijual”. Yang dimaksud dengan mengubah ide/gagasan adalah produser harus
mampu menerjemahkan keinginan dan pandangan modal (investor), klien, atasan, dan
juga audien melalui proses produksinya”.

Dalam hal ini produser harus dapat memilih apakah ide yang akan diberikan

oleh kru yang dapat menjual program yang berkualitas, Produser juga harus dapat

mengelola keuangan dalam suatu profuksi program. Dalam pembuatan suatu produksi

program televisi, dana tentunya sangat dibutuhkan dalam hal ini, dikarenakan banyak

sekali keperluan yang menggunakan dana tidak hanya dana ide atau gagasan tentunya

tidak luput dari perhatian. Dengan adanya ide maka dari situlah titik awal untuk

membuat suatu program televisi, dengan sebuah ide dan gagasan-gagasan yang

menarik program yang akan diproduksi tersebut untuk dapat dibuat menjadi suatu

program yang menarik sehingga penonton merasa terhibur dengan program yang

akan dibuat, produser juga harus mampu mengelola program dengan baik, termasuk

dalam hal penjadwalan, penjadwalan sangat penting sebab dengan dibuatnya

penjadwalan pembuatan program lebih teratur dan terarah.

Menurut Djamal dan Fachruddin (2011c:94) memaparkan bahwa: “Producer

adalah seseorang yang dipercayai oleh executive produser untuk melaksanakan

ide/gagasannya”

20
Dalam suatu produksi televisi, produser juga harus bisa dikatakan juga

seseorang yang mendapatkan kepercayaan lebih untuk dapat melaksanakan suatu ide

atau gagasan kedalam bentuk program yang nyata, menjadikan suatu ide menjadi

program yang nyata dan hidup dan dapat dinikmati oleh seluruh penonton program

tersebut. Mewujudkan suatu ide atau gagasan menjadi karya yang bagus tidaklah

mudah, dibutuhkan pengalaman, keberanian serta tekad yang tinggi untuk dapat

mewujudkan program yang baik.

Berdasarkan definisi diatas penulis menyimpulkan bahwa produser adalah

seseorang yang bertanggung jawab secara umum terhadap seluruh produksi acara

televisi. Produser memimpin seluruh tim produksi sesuai tujuan yang ditetapkan

bersama, baik dalam aspek kreativ maupun management produksi sesuai dengan

anggaran yang telah disepakati bersama tim, produser juga harus mampu memimpin,

mengenal karakter timnya dengan baik dan dapat menjadi penengah yang bijak ketika

terjadi suatu masalah didalam tim. Keberhasilan program dapat diwujudkan jika

dikelola baik oleh produser dan tim mulai dari pra sampai pasca produksi sehingga

terwujudlah program yang baik.

3.1.1 Pra Produksi

Pra produksi meruapakan salah satu dalam proses pembuatan program televisi,

hal ini dikarenakan dalam proses pra produksi semua kebutuhan produksi harus

disiapkan pada saat pra produksi, produser pun harus bisa menunjukan sikap dan

tanggung jawab yang baik, keberhasilan suatu program bisa juga ditentukan dari pra

produksi, dimana pra produksi merupakan hal yang sangat penting. Penulis sebagai

21
produser terus memantau perkembangan konsep serta naskah yang dibuat oleh

penulis naskah, apakah konsep tersebut bagus atau tidak untuk dijadikan sebuah

karya, penulis selalu berkordinasi kepada departemen lain untuk menanyakan alat dan

teknik apa yang akan digunakan pada saat produksi, sehingga hal ini dapat terus

terjalin dengan baik antara produser dan departemen yang lainnya. Dalam pra

produksi seluruh kru diwajibkaan untuk bekerja sama dengan baik, untuk

mempersiapkan secara matang sebelum produksi berlangsung, pada saat ini produser

bekerja dengan ekstra agar persiapan yang akan digunakan pada saat produksi

terpenuhi dengan baik.

Menurut Latief dan Utud (2017f:16) memaparkan bahwa: “Pada pra-produksi,


produser melalui pencarian, pengembangan dan perumusan konsep, produser non
drama dibantu kreativ (creative) atau penulis naskah, prosesnya, melalui sumbang
saran (brainstorming) yang dapat memakan waktu berhari-hari, tetapi juga dapat
hanya sekejap sudah menghasilkan ide terbaik”.

Dalam hal tersebut, tahapan ini produser harus bekerja sama dengan semua kru untuk

mempersiapkan kebutuhan yang akan digunakan dalam produksi

“XPLOERENESIA”, tugas penulis pada tahap pra produksi sebagai produser

adalah :

1. Menyusun Tim Produksi.

Sebelum ide cerita dipilih masing masing anggota kelompok menentukan

jobdesk yang sesuai keinginan dan kemampuan setiap anggota kelompok. Kemudian

dari hasil kesepakatan bersama dan posisi tim sebagai berikut:

22
a. Produser : Muhammad Miftah Farid
b. Pengarah Acara : Andre Rinaldi
c. Penulis Naskah : Bustomi Arifin
d. Penata Kamera : Alam Tauhid
e. Penata Artistik : Harris Fahmi Fauzan
f. Penata Audio : Kevin Nuriana
g. Penyunting Gambar : Panji Bukhori
h. Penata Cahaya : Teguh Iman Mutaqqin

2. Memimpin Rapat Produksi

Setelah semua anggota tim mendapat jobdesk, selanjutnya tim membahas dan

menentukan tema dan gagasan ide cerita sehingga didapatkan kematangan konsep,

dengan adanya rapat produksi ini setiap anggota akan mengetahui hal-hal yang perlu

disiapkan serta tanggung jawab masing-masing dalam produksi tersebut.

3. Menyusun Jadwal Produksi

Hal yang tidak boleh terlewatkan dalam sebuah produksi dalam sebuah

mangemen adalah menyusun schedule atau jadwal kerja, karena dengan adanya

penjadwal an dapat tercapainya efektifitas dan efesiensi produksi. Sehingga semua

pihak yang terkait dapat mempersiapkan semua yang dibutuhkan untuk produksi.

4. Menyusun Anggaran Biaya

23
Penyusun anggaran biaya sangat diperlukan agar tim dapat mengetahui biaya

yang akan diperlukan dalam proses pembuatan program “XPLORENESIA” tersebut.

Dan biaya-biaya tersebut akan dijabarkan dari mulai proses praproduksi, Produksi,

sampai pasca produksi, Karena dalam produksi ini semua anggaran dilakukan oleh

semua anggota kelompok.

5. Memilih Host

Dalam sebuah program magazine show diperlukan seorang host/pembawa

acara, pemilihan host di pilih oleh seorang pengarah acara namun seorang produser

juga memiliki andil yamng besar dalam pemilihan host, untuk mendapatkan talent

yang sesuai dengan yang dibutuhkan dalam program “XPLORENESIA” ini penulis

memilih talent yang sudah berpengalaman.

6. Membuat Surat Ikatan Kerja

Agar semua anggota kelompok memiliki kedisiplinan anggota kelompok

sepakat membuat surat ikatan kerja dengan host, surat ini bertujuan agar host yang

terlibat dalam program ini mematuhi semua perjanjian yang tercantum dalam surat

selama proses produksi berlangsung.

7. Memfasilitasi Seluruh Persiapan Produksi

24
Penulis sebagai produser mempunyai tugas utama dalam persiapan dan

manajemen yang menjadi tanggung jawab penulis, termasuk dalam memfasilitasi

seluruh persiapan produksi sampai pasca produksi

A. Kantor Produksi

Selama proses produksi dimulai dari pra, produksi, sampai pasca produksi kru

berkumpul di Jln. Kaliabang Tengah Bekasi Utara supaya segala sesuatu yang

berhubungan dengan proses produksi dimulai dari perencanaan teknis, dan semua

kebutuhan produksi dikumpulkan disana sehingga memudahkan pada saat produksi

dimulai sampai dengan selesai.

B. Peralatan Shooting

Peralatan Shooting yang digunbakan dalam produksi “Xplorenesia” ini

sebagian besar menyewa kepada salah satu jasa penyewaan alat, dan tim memilih

alat-alat yang digunakan sesuai dengan kebutuhan pengambilan audio visual pada

saat produksi.

C. Lokasi Shooting

Dalam pembuatan program, “XPLORENESIA “ lokasi yang digunakan

adalah di daerah Padang Sumatera Barat, dikarenakan penulis dan tim ingin

menelurusi tempat tempat yang ada di daerah Padang Sumatra Barat

Dengan demikian proses-proses yang dilakukan penulis sebagai produser wajib dijalankan sehingga
proses produksi nanti berjalan dengan lancar, karena pada saat pra produksi seorang produser harus
menyiapkan keperluan-keperluan untuk pengambilan gambar secara detail dan terperinci, pada tahap

25
pra produksi banyak tahap-tahap yang harus bekerja sama oleh departemen lain dan pihak-pihak yamg
terkait.

3.1.2 Produksi

Pada saat produksi program “XPLORENESIA” produser mengawasi jalannya

produksi sesuai dengan jadwal dan anggaran yang sudah di tetapkan, produser juga

harus mengelola anggaran seefisein mungkin, tegas dan mengatur pengeluaran, tetapi

tetap fleksibel dalam menyesuaikan dengan perkembangan kebutuhan shooting

sesuai dengan tuntutan lapangan.

Menurut Latief dan Utud (2017:248) memaparkan bahwa:

“Dalam proses produksi dapat dilakukan dengan metode Adlib dan blocking, kedua

metode ini digunakan dengan melihat karakter, format program atau melihat situasi

dan kondisi pelaksanan produksi”.

Hal yang harus diperhatikan oleh seorang produser pada saat produksi

berlangsung, yaitu:

a. Konsumsi
Konsumsi yang diberikan tepat pada waktunya dan diberikan sesua schedule

yang sudah disepakati bersama dan tidak mengganggu jalannya produksi.


b. Transportasi dan Akomodasi
Ketepatan waktu sangat diperhatikan dalam pembuatan program

“XPLORENESIA” demi menghindari keterlambatan akhirnya penulis bersama tim

untuk memilih naik pesawat pada saat berangkat ke padang kemudian memyewa

mobil pada saat dipadang sebagai transportasi talent, crew, equipment.


c. Memeriksa schedule

26
Pada saat produksi berjalan tugas produser juga memeriksa jadwal yang sudah

ada pada working schedule. Kemudian mengecek kembali apakah sesuai dengan yang

ditentukan atau keluar dari target yang ditentukan.


d. Briefing prduksi dan evaluasi kerja produksi
Tim kami selalu melakukan evaluasi setiap selesai pengambilan gambar, selain

itu untuk memahami cara kerja masing-masing wewenang dan batas kerjanya, cara ini

dilakukan agar thap-tahap produksi terlaksana sesaui dengan mekanisme dan

prosedur kerja yang diinginkan.


e. Mengontrol budgeting
Selama produksi berlangsung pengontrolan budget sangat penting karenia

setiap uang yang dikeluarkan sangat dipertanggung jawabkan.

Dari pernyataan diatas yang dilakukan oleh seorang produser pada proses

produksi atau shooting. Dimana produser memastikan jalannya produksi dengan

mengontrol kedalam aspek apapun yang berhubungan dengan produksi, jika ada yang

dibutuhkan dalam proses produksi maka produser yang bertanggung jawab, baik

keperluan teknik, keuangan, maupun konsumsi dan mengontrol produksi sesuai naskah

atau tidak hal yang harus diperhatikan. Selain mengontrol jalannya shooting hal yang

dapat dilakukan dengan produser adalah dapat berkordinasi dengan seluruh kru, seperti

alat-alat yang dibutuhkan untuk produksi, seperti kamera untuk pengambilan gambar,

audio, lighting dan lain sebaginya, serta yang tidak luput dari bagian artistic sesuai

dengan konsep atau tidak, hal ini dilakukan agar proses shooting dapat sesuai naskah

dan rancangan yang sudah buat.

3.1.3 Pasca Produksi

Pada tahap pasca produksi merupakan tahap terkahir dalam sebuah produksi.

Dimana pada tahap ini seluruh pengambilan gambar, audio, maupun hal-hal yang

27
dibutuhkan dalam proses produksi sudah selesai, pada tahap ini dilakukan proses

editing, segala sesuatu yang dilakukan pada saat pra produksi dan produksi akan

dievaluasi, evaluasi selama proses shooting hingga melakukan editing yang

membuang waktu tidak sebentar sebab harus teliti dalam melakukan editing pada

program ini.

Menurut Latief dan Utud (2017k:263)

“Pasca produksi (post-production) tahapan terakhir dari program siaran, pada

tahap ini rekaman materi shooting (master shooting) yang didapatkan dari lokasi

(venue) akan dilakukan proses editing”.

28
Tahap pasca produksi merupakan tahap terakhir dalam sebuah pembuatan

program , namun masih banyak hal yang harus dilakukan setelah produksi, kemudian

akan melakukan evaluasi dari semua tahapan-tahapan pembuatan program in.

Pada tahap ini penulis mengambil kesimpulan bahwa pasca produksi

merupakan hasil dari tahap pra produksi dan produksi yang akan segera disajikan

hasilnya kepada penonton, penulis akan mengevaluasi lagi program yang akan dibuat,

karena program “XPLORENESIA” menggunakan produksi taping, maka hasil

pengambilan gambar akan dipilih-pilih dahulu dalam proses editing.

Dan tahap ini, penulis sebagai produser bertugas mengontrol jalannya editing

agar konsepnya sesuai dengan desain produksi yang telah dibuat serta melihat naskah

dan voice over, setelah di lihat semua komponen-komponen dalam pembuatan

program ini penulis melakukan finishing editing setelah itu direview kembali apakah

programnya sudah layak untuk ditonton atau belum, penulis dan tim berharap

pprogram “XPLORENESIA” bisa menjadi tontonan yang baik untuk penonton.

29
3.1.4 Peran dan Tanggung Jawab Produser

Menjadi seorang produser bukan hanya memiliki banyak modal untuk

memproduksi suatu tanyangan tetapi menjadi seoran produsduser juga harus memiliki

sikap kepemimpinan dan tanggung jawab dari pra produksi, produksi, dan pasca

produksi.

Menurut Suprapto (2013:54) “peran dan tanggung jawab produser”, adalah :

1. Menciptakan atau mengembangkan ide untuk produksi acara televisi.


2. Membuat desain produksi.
3. Menentukan tim kreatif.
4. Menentukan satuan kerja produksi.
5. Bersama dengan pengarah acara menentukan dan memilih pengisi acara.
6. Menyusun anggaran biaya produksi.
7. Melakukan koordinasi promosi dan publikasi.
8. Melakukan evaluasi terrhadap acara yang di tangani.
Dari penjelasan di atas penulis sebagai produser menarik kesimpulan bahwa

banyak tanggung jawab yang dilakukan oleh seorang produser dari pra sampai pasca

produksi .
Selain itu dari beberapa poin yang sudah dijabarkan diatas mengenai peran dan

tanggung jawab produser. Penulis dapat menyimpulkan bahwa peran dan tanggung

jawab produser sangatlah berperan besar dan penting didalam pembuatan suatu

program dari pra hingga pasca produksi.

3.1.5 Proses Penciptaan Karya

Penulis Menjelaskan proses penciptaan karya terdiri dari:

A. Konsep Kreatif

Dalam pembuatan karya tugas akhir produksi studio televisi non drama ini

penulis meciptakan sebuah karya televisi yang bergenre non drama dalam format

30
acara magazine show. Penulis juga menyediakan tayangan yang menari di acara ini,

agar penonton tidak bosan menontonnya penulis memberikan tayangan yang menarik

disetiap segmennya. Penulis menayangkan empat segment yang menarik yang

dipandu oleh dua orang Host .

B. Konsep Produksi
selama jalannya proses produksi penulis mengontrol jalannya produksi dari

awal perizinan, kedatangan di tempat produksi, dan mmulai proses pengambilan

gambar , mengontrol jadwal yang sudah ditetapkan dan mengkoorfinasikan setiap hal

yang terjadi dilapangan dengan tim.

C. Konsep Teknis

Bersama pengarah acara dan penata kamera, penulis berdikusi mulai dari

pemilihan kamera, lampu dan alat pendukung lainnya yang digunakan, konsep teknis

keseluruhan penulis di antaranya menggunakan 2 buah kamera, 1 buah clip on , untuk

pencahayaan penulis menggunakan lampu LED, sedangkan untuk tata aartistik

penulis menyediakan yang perlu digunakan ditempat lokasi seperti kostum casual,

background putih dan lain lain.

31
3.1.6 Kendala Produksi dan Solusinya

1. Kendala pada saat produksi di Padang Sumatera Barat dikarenakan lokasi

shooting sebagian besar di outdoor sering terjadi ketidakrapihan pada audio, maka

solusinya penulis dan tim memutuskan untuk menggunakan alat yang lebih bagus

dan menunggu beberapa waktu pada saat lokasi sepi dan kondusif.

2. Kendala pada saat produksi kedua di studio di bagian belakang studio terdapat

kaca yang besar untuk menghindari pantulan cahaya pada saat pengambilan

gambar berlangsung , maka solusinya penulis dan tim memutuskan untuk

menggunkan background putih supaya tidak terjadi kebocoran gambar.

3. Kendala yang terakhir pada saat produksi sedikit keterlambatan waktu shooting

dari waktu yang ditentukan, karena estimasi waktu lokasi yang dituju tidak

sesusai dengan yang dijadwalkan perjalanan cukup jauh dan menyita waktu yang

cukup banyak, maka solusinya tim mencari jalan pintas untuk sampai ke lokasi

sesuai dengan schedule.

32
3.1.7 Lembar Kerja Produser

Konsep Program
Program non drama magazine show “XPORENESIA” merupakan program televisi

yang menayangkan tentang keindahan dan keunikan alam Indonesia, program dengan durasi

kurang lebih 24 menit ini dikemas semenarik mungkin menyesuaikan pasaran pada saat ini,

dengan maksud program ini akan diterima di hati dan mata penonton. Dengan konsep yang

mengangkat tentang keindahan dan keunikan alam Indonesia merupakan konsep yang

jarang dikalangan mahasiswa dikarenakan tempat yang penulis dan tim kunjungi tempat

yang jarang orang ketahui, maka dari itu penulis dan tim sepakat untuk mengangkat tema

tersebut pada program ini, penulis juga melihat begitu banyak peminat tentang program-

program yang berhubungan dengan keindangan dan keuinkan alam. Penulis berharap konsep

program yang dibuat dapat mewakili untuk penonton pecinta dan keunikan alam , dan

konsep ini menginspirasi penonton ketika melihat tayangan ini yang telah dibuat.

3.1.7.2 Shooting Schedule

33
Tabel III.1 SHOOTING SCHEDULE
AKADEMI KOMUNIKASI BINA SARANA
INFORMATIKA

Production Company: BSI Produser :Muhammad Miftah Farid


Judul : XPLORENESIA Pemgarah acara : Andre Rinaldi
Durasi : 24 Menit

Jumat, 17 Mei 2018

WAKTU
NO. HARI & WAKTU KEGIATAN
PELAKSANAAN
1. Jumat, 17 Mei 2018 13.30-14.00 Memeriksa Perlengkapan
Alat dan Berangkat

14.30-15.00 Tiba di Lokasi


15.00-15.30 Setting Alatan

15.30-16.00 Pengambilan Gambar


dan Stock Shoot
16.30-18.00 Selesai produksi

34
Production Company: BSI Produser : Muhammad Miftah Farid

Judul : XPLORENESIA Pengarah acara : Andre rinaldi


Durasi : 24 Menit

Sabtu, 18 Mei 2018

WAKTU
NO. HARI & WAKTU KEGIATAN
PELAKSANAAN
1. Sabtu, 18 Mei 2018 10.00-11.00 Memeriksa Perlengkapan
Alat dan Berangkat

11.00-11.30 Tiba di Lokasi


11.30-12.00 Setting Alat
12.00-12.30 Break Produksi

12.30-13.30 Pengambilan Gambar dan


Stock Shoot
13.30 Produksi Selesai

35
Production Company: BSI Produser : Muhammad Miftah Farid

Judul : XPLORENESIA Pengarah Acara : Andre Rinaldi


Durasi : 24 Menit

Minggu, 19 Mei 2018

NO. HARI & WAKTU WAKTU PELAKSANAAN KEGIATAN

1. Minggu, 19 Mei 2018 15.00-15.30 Memeriksa


Perlengkapan Alat dan
Berangkat

15.30-16.00 Tiba di Lokasi

16.00-16.30 Setting Alat

16.30-17.00 Pengambilan Gambar


dan Stock Shoot

17.00-17.30 Memeriksa Peralatan


dan Berangkat Lokasi
ke Dua

17.30-18.00 Tiba di Lokasi ke dua


Break Shooting

36
18.00-18.30 Setting Alat

18.30-19.00 Pengambilan Gambar


dan Stock Shoot

19.00 Produksi Selesai

Production Company: BSI Produser : Muhammad Miftah Farid

Judul : XPLORENESIA Pengarah acara : Andre rinaldi


Durasi : 24 Menit

Sabtu, 27 Juni 2018

NO. HARI & WAKTU WAKTU


KEGIATAN
1 PELAKSANAAN
Memeriksa
10.00-10.30 Perlengkapan
Alat dan Berangkat
10.30-11.00 Tiba di Lokasi
11.00-12.30 Setting Alat
Rabu, 27 Juni 2018
12.30-13.30 Break Produksi
13.00 – 17.30
Pengambilan
Gambar dan
Stock Shoot
17.30
Produksi Selesai

37
Tabel III.2 WORKING SCHEDULE
AKADEMI KOMUNIKASI BINA SARANA INFORMATIKA

Production Company : BSI Produser :MiftahFarid

Pengarah
Judul : XPLORENESIA Acara : Andre Rinaldi
Durasi : 24 Menit

Target Per Minggu


No
Tahap Aktifitas APRIL MEI JUNI

1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

1 Penemuan Ide

2 Pengembangan Gagasan

3 Membuat script

4 Menyewa Alat

5 Pra produksi Hunting Lokasi

38
7 Reading

8 Membuat Desain Produksi

9 Membuat Breakdown Budgeting

11 Shooting (LOT)

12 Dailly Production report

13 PRODUKSI
Evaluasi Produksi

Convert

Rought Cut
Paska Produksi

Spesial Effect

Ilustrasi Musik

Final Editing

39
Tabel III.3 BREAKDOWN UDGETING
AKADEMI KOMUNIKASI BINA SARANA INFORMATIKA

Production Company: BSI Produser :M Miftah Farid

Pengarah
Judul :Explorenesia Acara : Andre Rinaldi

Durasi :Menit

No Item Unit Rate Day Amount Notes

Pra Produksi

1 Print Desain Rp 150.000


Produksi
dan Naskah

Total Rp 150.000

Produksi Padang

2 Kamera 2 Rp 350.000 3 Rp 1.050.000

3 Clip on 1 Rp 75.000. 3 Rp 225.000

4 Boom mic 1 Rp 150.000 3 Rp 450.000

5 Lighting 2 Rp 75.000 3 Rp 225.000


LED
6
Transportasi 2 Rp 50.000 3 Rp 850.000
7
8 Konsumsi 9 Rp. 3 3 Rp 550.000

9 Fee Talent Rp 1.000.000 3 Rp 1.000.000


dan Host

Total : Rp 4.350.000
10

40
Produksi Jakarta
No Item Unit Rate Day Amount

1 Kamera 2 Rp 175.000 1 Rp 350.000

2 Boom Mic 1 Rp 150.000 1 Rp 150.000


3 Zoom H6N 1 Rp 150.000 1 Rp 150.000
4 Clip On 1 Rp 100.000 1 Rp 100.000
5 Lighting 1 Rp 150.000 1 Rp 150.000
LED
6 Lighting 1 Rp 150.000 1 Rp 150.000
Daylight
7 Slider 1 Rp 150.000 1 Rp 150.000
Kamera
8 TV LED 32” 1 RP 350.000 1 RP 350.000

9 Glidecam 1 Rp 100.000 1 Rp 100.000

10 Konsumsi 11 Rp 240.000 1 Rp 240.000

11 Lokasi 2 Rp 450.000 1 Rp 450.000

12 Honor Host 1 Rp 500.000 1 Rp 500.000


13 Lakban 1 Rp 10.000 1 Rp 10.000

14 Bakground 1 Rp 45.000 1 Rp 45.000


Bahan
15 Kabel Roll 1 Rp 45.000 1 Rp 45.000

16 Jus Properti 1 Rp 20.000 1 Rp 20.000

17 Transportasi 1 Rp 100.000 1 Rp 1000.000

18 Total : Rp 2.460.000
19 Produksi Padang : Rp 4.350.000

41
Pasca Produksi
Produksi Jakarta : Rp 2.460.000
Hardisk 1 - - - Milik
20 TotalProduksi : Rp 6.810.000 sendiri

Soft Cover 3 Rp 50.000 Rp 150.000

Hard Cover 1 Rp 100.000 Rp 100.000

DVD RW 2 Rp 6.500 x 2 Rp 13.000

Tempat 2 Rp 4.000 x 2 Rp 8.000


DVD

Poster 15 Rp 50.000 Rp 50.000

Cetak Cover 2 Rp 5.000 x 2 Rp 10.000

Total : Rp 331.000

TOTAL KESELURUHAN: Rp 7.576.000

Biaya Patungan Perorang Rp 947.000 x 8 = Rp 7.576.000

42
3.1.7.5 Call Sheet

Tabel III.4 CALL SHEET


AKADEMI KOMUNIKASI BINA SARANA INFORMATIKA

Production Company: BSI Produser :M Miftah Farid


Pengarah
Judul : XPLORENESIA Acara : Andre Rinaldi
Durasi : 24 Menit
Day: 17 Mei 2018 Location:
Berangkat : 13.30 Batu Angke Angke
Crew Call :13.00
Camera roll :15.30

Sabtu, 17 Mei 2018

Narasumber dan
No Segmen Description Setting Time Host
Budayawan
Setempat dan
1 2 Pengambilan DAY-EXT 15.30 Della
Gambar dan Stock
Shoot

Note : casual

43
Production Company: BSI Produser :M Miftah Farid
Pengarah
Judul : XPLORENESIA Acara : Andre Rinaldi
Durasi :24 Menit

Day: 18 Mei 2018 Location:


Berangkat : 10.00 Istana Pagaruyung
Crew Call : 09.30
Camera roll : 12.30

Sabtu, 18 Mei 2018


No Segmen Description Setting Time Narasumber dan Host

Budayawan Setempat dan


1 Pengambilan Gambar DAY-INT 12.30 Della
dan Stock Shoot

Notes: Casual

44
Production Company: BSI Produser : M Miftah Farid
Pengarah
Judul : XPLORENESIA Acara : Andre Rinaldi
Durasi : 24 Menit

Day: 19 mei 2018 Location:


Berangkat : 15.00 Jam Gadang
Crew Call :14.00
Camera roll :16.30

Minggu, 19 mei 2018

No Segmen Description Setting Time Host

1 2 Pengambilan DAY-INT 16.30 Della


gambar dan stock
Shoot

Notes :Casual

45
Production Company: BSI Produser :M Miftah Farid
Pengarah
Judul : XPLORENESIA Acara : Andre Rinaldi
Durasi : 24 Menit

Day:19 Mei 2018 Location:


Berangkat : 17.30 Janjang Seribu
Crew Call : 17.00
Camera roll :18.30

Minggu 19 Mei 2018

No Segmen Description Setting Time Host

Pengambilan
gambar dan stock
1 2 shoot DAY-EXT 18.30 Della

Notes: Casual

46
Production Company: BSI Produser : M Miftah Farid
Pengarah
Judul : XPLORENESIA Acara : Andre Rinaldi
Durasi : 24 Menit

Day:27 Juni 2018 Location:


Berangkat : 10.00 Warbox Condet
Crew Call : 09.30
Camera roll :13.00

Selasa, 27 Juni 2018

No Segmen Description Setting Time Host

1 1, 2, 3, 4 Warbox Condet DAY-INT 13.00 Maynanda

Notes: Casual

47
Tabel III.5 EQUIPMENT LIST ( CHEK LIST HARIAN )

AKADEMI KOMUNIKASI BINA SARANA INFORMATIKA

Production Company: BSI Producer : M Miftah Farid


Pengarah
Project Title : XPLORENESIA Acara : Andre Rinaldi
Hari dan tanggal : 17 Mei 2018

No Nama Seri Jumlah Keterangan ok / no

1 Kamera Sony Mc 2 Sewa Ok


2500 &
nx100

2 Memorycard V-Gen 2 Sewa Ok

3 Tripod Takara 1 Sewa Ok

4 Charger Sony 1 Sewa Ok

5 Batere Sony 1 Sewa Ok

6 Clip on 1 Sewa Ok

7 Lampu LED 1 Sewa Ok

8 Tascam 1 Sewa Ok

9 Boom Mic 1 Sewa Ok

48
Production Company: BSI Producer : M Miftah Farid
Project Title : Otomotif Referensi Pengarah Acara: Andre Rinaldi
Hari dan tanggal : 18 Mei 2018

No Nama Seri Jumlah Keterangan ok / no

1 Kamera Sony Mc 1 Sewa Ok


1500

2 Memorycard V-Gen 2 Sewa Ok

3 Tripod Takara 1 Sewa Ok

4 Charger Sony 1 Sewa Ok

5 Batere Sony 1 Sewa Ok

6 H1 1 Sewa Ok

7 Lampu LED 1 Sewa Ok

8 Clip On 1 Sewa Ok

7 Lampu LED 1 Sewa Ok

8 Tascam 1 Sewa Ok

9 Boom Mic 1 Sewa Ok

49
Production Company: BSI Producer : M Miftah Farid
Project Title : Otomotif Referensi Pengarah Acara: Andre Rinaldi
Hari dan tanggal : 19 Mei 2018

No Nama Seri Jumlah Keterangan ok / no

1 Kamera Sony Mc 1 Sewa Ok


2500 &
nx100

2 Memorycard V-Gen 2 Sewa Ok

3 Tripod Takara 1 Sewa Ok

4 Charger Sony 1 Sewa Ok

5 Batere Sony 1 Sewa Ok

6 H1 1 Sewa Ok

7 Lampu LED 1 Sewa Ok

8 Clip On 1 Sewa Ok

7 Lampu LED 1 Sewa Ok

8 Tascam 1 Sewa Ok

9 Boom Mic 1 Sewa Ok

50
Production Company: BSI Producer : M Miftah Farid
Project Title : Otomotif Referensi Pengarah Acara: Andre Rinaldi
Hari dan tanggal : 27 Juni 2018

No Nama Seri Jumlah Keterangan ok / no

1 Kamera Sony NEX 2 Sewa Ok


VG30

2 Memorycard V-Gen 2 Sewa Ok

3 Tripod Takara 1 Sewa Ok

4 Charger Sony 1 Sewa Ok

5 Batere Sony 1 Sewa Ok

Zoom
6 H6NSennheiser 1 Sewa Ok

7 Lampu LED 1 Sewa Ok

8 Clip On 1 Sewa Ok

7 Lampu LED 1 Sewa Ok

8 LED TV 32” 1 Sewa Ok

51
9 Boom Mic 1 Sewa Ok

3.1.7.7 Daily Production Report

Tabel III.6 DAILY PRODUCTION REPORT

AKADEMI KOMUNIKASI BINA SARANA INFORMATIKA

Production Company: BSI Producer : M Miftah Farid


Pengarah
Project Title : XPLORENESIA Acara : Andre Rinaldi
Hari dan tanggal : 17 Mei 2018
Keterangan Terjadwal Pelaksanaan

Call crew 13.00 13.00

Produksi 15.30 15.30

Evaluasi Meeting 18.30 18.30

Production Company: BSI Producer : M Miftah Farid


Pengarah
Project Title : XPLORENESIA Acara : Andre Rinaldi
Hari dan tanggal : 18 Mei 2018
Keterangan Terjadwal Pelaksanaan

Call crew 10.00 10.00

Produksi 12.30 12.30

Evaluasi Meeting 16.30 16.30

52
53
Production Company: BSI Producer : M Miftah Farid
Project Title : XPLORENESIA Director : Andre Rinaldi
Hari dan tanggal : 19 Mei 2018
Keterangan Terjadwal Pelaksanaan
Production Company: BSI Producer : M Miftah Farid
Project
Call crewTitle : Otomotif
14.00Referensi Director :14.30
Andre Rinaldi
Hari dan tanggal : 27 Juni 2018
Produksi 16.30 16.30

Produksi 18.30 18.30


Keterangan Terjadwal Pelaksanaan
Evaluasi Meeting 19.00 19.00
Call crew 10.00 11.00

Produksi 13.00 13.00

Evaluasi Meeting 18.30 18.30

3.2 Proses Kerja Pengarah Acara

Dalam produksi Magazine show XPLORENESIA penulis bertanggung jawab

sebagai Pengarah Acara. Pengarah Acara merupakan bagian yang paling atas dari

sebuah team work atau orang yang bertanggung jawab sebagai otak sejak pra

produksi hingga pasca produksi. Seorang Pengarah Acara juga harus bisa memimpin

timnya dari segala aspek. Mulai dari pra produksi, produksi hingga pasca produksi

Menurut Morissan (2008:8) “Sutradara adalah orang yang bertanggung jawab

menerjemahkan kata-kata tertulis (skrip) menjadi suara atau gambar tertentu.”

Dari kutipan di atas seorang Pengarah Acara juga harus bisa memahami

karakter host agar bisa menghasilkan karya yang luar biasa. Selain memahami

karakter host, Pengarah Acara juga harus bisa menyatukan pikiran terhadap semua

tim yang bekerja. Sedangkan menurut Habert Zettl dalam Naratama (2004:7)

“Sutradara adalah orang yang bertugas memberikan pengarahan kepada pemain atau

54
pengisi acara danb teknis operasional. Secara langsung bertanggung jawab

memindahkan secara efektif yang tertulis di dalam naskah ke dalam bentuk audio

visual.”

Pengarah Acara adalah orang yang berperan besar dalam suatu produksi

program televisi atau film. Sebagai pemimpin Pengarah Acara harus bisa menguasai

semua konten yang tertulis poada naskah dan menjadikan sebuah karya audio visual.

Menurut Naratama (2015:5) “Sutradra televisi adalah sebutan bagi seorang

yang mempunyai profesi menuyutradarai program acara televisi baik untuk drama

maupun nondrama, dalam produksi single atau multicmera.”

Pengarah Acara televisi adalah seorang yang harus mempunyai ide kreatif

dalammembuat suatu program acara baik itu drama maupun nondrama. Dalam ide

kreatif itu seorang Pengarah Acara harrus mampu mengolah suatu program acara

menjadi menarik untuk ditonton

Pengarah Acara Televisi adalah seseorang yang harus mempunyai ide

kreatif dalam membuat suatu program acara baik itu drama maupun nondrama.

Dalam ide kreatif itu, seorang pengarah acara harus mampu mengolah suatu program

acara menjadi menarik untuk ditonton oleh masyarakat. Tidak hanya mempunyai ide

kreatif, seorang pengarah acara harus memiliki wawasan yang luas dalam mengolah

sebuah karya dalam bentuk audio visual. Seorang pengarah acara televisi harus

kreatif dalam menciptakan suatu karya audio visual dari pra hingga pasca produksi.

Menurut Naratama (2013:16), ”Sutradara Televisi adalah seseorang yang


menyutradarai Program Acara Televisi yang terlibat dalam proses kreatif dari Pra
hingga Pascaproduksi, baik untuk Drama maupun Nondrama dengan lokasi di studio
(indoor) maupun alam (outdoor), dan menggunakan sistem produksi single dan/atau
multi-camera.”

55
Dari membuat konsep sampai dengan pengemasan karya audio visual

tersebut, seorang pengarah acara harus kreatif dan bertanggung jawab akan semua itu.

Pengarah Acara televisi juga harus mampu mengolah suatu program dengan baik

dimanapun tempatnya baik indoor maupun outdoor. Selain bertanggung jawab pada

suatu program dari pra hingga pasca produksi, seorang pengarah acara juga

mempunyai tanggung jawab untuk memberikan arahan kepada semua tim baik pada

saat pra maupun hingga pasca produksi agar menghasilkan suatu program yang

bagus. Memberikan arahan kepada semua tim yang bertugas merupakan suatu

komunikasi paling penting pada pembuatan suatu program, karena dengan

komunikasi yang berjalan dengan lancar suatu program dapat membuahkan hasil

yang maksimal dan menciptakan karya yang berkualitas.

3.2.1 Pra Produksi

Pada saat awal inilah, seorang pengarah acara harus menunjukan sikap dan

tanggung jawabnya, mulai dari memilih job description hingga mencari ide kreatif

Pra produksi merupakan awalan dari setiap produksi suatu karya, produksi karya

mampu berjalan dengan lancar dan sukses karena berangkat dari persiapan pra

produksi yang mantap.

Menurut Naratama (2013:262), “Pra Produksi adalah berbagai kegiatan

persiapan sebelum pelaksanaan produksi dimulai”.

Di balik suksesnya suatu program televisi pasti ada perencanaan untuk membuat

suksesnya program tersebut seperti menentukan konsep yang akan dibuat, membuat

naskah, dan mencari lokasi yang akan dipakai. Setelah konsep, naskah, dan lokasi

56
sudah disiapkan lalu penulis membuat director treatment yang akan berguna pada saat

produksi nanti untuk mempermudah pada pengambilan gambar agar berjalan dengan

lancar. Jika semua itu sudah dipersiapkan tugas pengarah acara lainnya adalah untuk

mencari host yang akan dipakai (casting host) yang bertujuan agar host yang

diinginkan sesuai dengan konsep yang sudah dibuat.

Penulis bekerja sama dengan tim untuk menentukan format acara apa yang akan

dibuat. Format acara yang penulis buat yaitu program televisi nondrama magazine

show yang berjudul XPLORENESIA Ynag berisikan seputar informasi dan hiburan.

Penulis harus bisa menuangkan ide kreatifnya untuk membuat program magazine

show yang menarik untuk ditonton. XPLORENESIA merupakan suatu program

televisi yang tiap minggunya menayangkan berbagai tema yang berbeda dan untuk

kali ini penulis menampilkan tema “Wisata”. Konsep sudah matang. Penulis

meminta Penulis Naskah untuk menuangkan idenya ke dalam naskah atau script. Dan

untuk tema kali ini penulis bersama tim memilih lokasi shooting yang berada di

Sumatra Barat tepatnya di Kota Padang

Lokasi juga berpengaruh pada suksesnya suatu program televisi karna lokasi

menentukan gambaran yang sesuai dengan konsep yang sudah dibuat. Pada pencarian

lokasi ini penulis berkoordinasi dengan penata kamera untuk menentukan teknik

pengambilan gambar yang akan dilakukan pada saat produksi nanti. Lokasi yang

diinginkan oleh penulis adalah sesuai dengan rubrik yang sudah dibuat. Lokasi yang

penulis pakai hampir semuanya memakai tempat di luar (outdoor) seperti tempat

wisata di Sumatra Barat dan (indoor) seperti di dalam Cafe.

Setelah konsep sudah ditentukan, naskah sudah dibuat, dan lokasi sudah

didapatkan, selanjutnya membuat director treatment yang berguna untuk

57
membayangkan gambar yang akan diambil pada produksi nanti oleh penata kamera.

Dalam tahap ini juga penulis melakukan pencarian host untuk membawakan program

ini sesuai dengan konsep yang sudah dibuat. Host yang penulis inginkan adalah host

yang memiliki wawasan yang luas, yang mengerti tentang tema yang akan dibawakan

yaitu Wisata di Sumatra Barat. Setelah melakukan casting host selanjutnya penulis

melakukan reading dengan host yang berguna agar host nantinya akan menguasai

naskah dan konsep yang sudah dibuat oleh penulis. Penulis juga mengarahkan tiap

masing-masing tim sesuai dengan jobdesk mereka dan selalu melakukan diskusi agar

terjalin suatu komunikasi yang lancar.

3.2.2 Produksi

Untuk tahap ini penulis sudah mempersiapkan segala sesuatunya seperti naskah

untuk host lokasi untuk menentukan wawancara narasumber dan host director

treatment untuk mempermudah pengambilan gambar serta mempersiapkan host untuk

membawakan acara. Tahap ini penulis melakukan briefing kepada tim yang bertujuan

untuk mengingatkan kembali tugas apa yang harus mereka lakukan. Penulis berhak

mengambil keputusan untuk merubah atau mengganti konsep pada saat produksi

tergantung situasi dan kondisi pada saat di lapangan.

Produksi ini penulis menggunakan naskah untuk host yang lebih mudah untuk

diingat oleh penonton dengan menggunakan kata-kata yang menjurus seputar dunia

wisata yang sesuai dengan tema program. Untuk lokasi pada saat produksi penulis

beserta tim memilih tempat yang bernuansa dengan tema program memakai beberapa

58
tempat di luar (outdoor) seperti salah satu nya Jam Gadang. Director treatment yang

penulis buat memakai konsep pengambilan gambar yang beralur atau bercerita

sehingga bertujuan untuk menarik penonton untuk menonton.

Menurut Latief dan Utud (2015: 152) “Produksi (production) adalah upaya

mengubah naskah menjadi bentuk audio video (AV). Produksi berupa pelaksanaan

perekaman gambar (taping) atau siaran langsung (live).”

Tidak semua rancangan yang telah di design di pra produksi dapat

terealisasikan secara sempurna di tahap produksi karena adanya beberapa kendala,

disini sutradara bisa menjadikan lebih baik lagi dari apa yang telah di rencanakan

sebelum. Namun, dalam memimpin sebuah tim produksi yang terdiri dari berbagai

macam latar belakang kru, kadang kala seseorang yang menjadi pengarah acara harus

bisa bersikap rendah hati dan menghargai orang-orang yang bekerjasama dengannya.

Sutradara tidak boleh memimpin tim dengan sikap arogan ataupun egois, karena

apapun yang terjadi nanti adalah hasil karya dibuat oleh team work. Pengarah Acara

disaat produksi harus berlapang dada menerima masukan dari anggota tim yang lain

sekiranya masukan itu bagus untuk karya yang dibuat, karena dibutuhkan konsentrasi

yang sangat kuat dan juga stamina serta kemampuan untuk menyelaraskan suasana

agar tidak mudah lelah, marah, ataupun kehilangan akal.

Di saat produksi pengarah acara terlebih dulu mengambil bagian penting dari

isi konten terutama dialog host yang telah diatur dalam director treatment. Sebelum

proses pengambilan gambar pengarah acara terlebih dahulu reading host, untuk tidak

terjadi banyaknya pengulangan pengambilan shot yang sama. Setelah daftar shot yang

ada di director treatment sudah diambil lalu pengarah acara memerintahkan penata

59
kamera untuk mengambil beberapa stock shot guna mengantisipasi kekurangan

gambar dan bisa mempermudah punyunting gambar dalam pemilihan shot. Tidak

jarang ide beberapa shot dan adegan yang bermunculan diluar perkiraan, terutama

untuk kebutuhan editing dan cara pengambilan gambar di beberapa tempat yang unik.

Proses pengambilan gambar sudah selesai lalu sutradara melihat kembali hasil

produksi agar mengetahui sudah sesuai yang di harapkan atau belum, pengarah acara

di saat melihat harus benar-benar teliti dan memastikan tidak ada yang terlewatkan

satu pun daftar shot yang ada di director treatment.

3.2.3 Paskah Produksi

Pasca produksi biasanya identik dengan mengedit, pada proses inilah kemasan

hasil akhir dari program ditentukan. Dengan bantuan kreatifitas dan profesionalisme

seorang penyunting gambar, pengarah acara merangkai shot dan suara yang telah di

rekam pada proses sebelumnya.

Menurut Naratama (2013:262), “Pasca produksi adalah proses penyelesaian

akhir dari produksi. Biasanya istilah ini digunakan pada proses editing”.

Ini merupakan tahap terakhir dalam pembuatan sebuah program acara dan

tahap ini penulis bekerjasama dengan penyunting gambar (editor), memilih hasil

pengambilan gambar yang dilakukan saat produksi untuk membuatnya menjadi

sebuah karya audio visual yang menarik untuk ditonton dan sesuai dengan konsep.

Tidak memilih gambar saja tapi penempatan audio, transisi gambar, dan voice over

juga harus dilakukan penulis didampingi oleh editor.

Dalam tahap terakhir ini penulis memakai konsep penyatuan gambar secara

beralur sehingga membuat karya audio visual menjadi menarik untuk ditonton.

60
Penulis memakai voice over agar penonton agar lebih gampang mengerti tema

program yang ditonton.

Setelah selesai melakukan pengeditan, penulis sebagai pengarah acara harus

melihat program dari awal hingga akhir ditemani pengarah acara dan seluruh tim agar

dapat mengevaluasi dan dapat diberikan solusi pada suatu gambar atau suara yang

kurang diminati atau menunggu dan uga keluar dari konten agar hasil sesuai dengan

keinginan awal.

3.2.4 Peran Dan Tanggung Jawab Pengarah Acara

Pengarah Acara memiliki tugas dan tanggung jawab yang besar. Dilapangan

seorang pengarah acara berperan sebagai manager, kreator, dan sekaligus inspirator

bagi anggota tim produksi dan para pemeran, peran yang sedemikian besar

mengharuskan pengarah acara memahami benar konsep program, memahami situasi

lingkungan maupun psikologis para pelibat produksi, dan juga harus memahami

bagaimana menalin hubungan yang baik dengan semua yang telibat produksi. Ibarat

tubuh manusia, pengarah acaraadalah otaknya, dan yang lain adalah seluruh anggota

badan. Otak memerlukan anggota badan untuk mewujudkan gagasan, badan

memerlukan otak untuk mengendalikan.

Peran seorang pengarah acara dalam pembuatan sebuah program acara ialah

menjadi pemimpin pada saat produksi. Pengarah Acara memiliki peran menjadi

seorang pemimpin yang bertanggung jawab memimpin suatu program acara dengan

baik mulai dari pra hingga pasca produksi, melakukan koordinasi dengan semua tim

produksi dengan cara mengarahkan tim produksi, penulis memiliki hak untuk

mengubah keadaan pada saat produksi jika tidak sesuai dengan konsep yang sudah

61
dibuat. Berperan sebagai pemimpin penulis mau tidak mau harus menerima segala

kritik dan saran yang diberikan oleh tim produksi.

Seorang pengarah acara juga memiliki tanggung jawab pada hasil dari karya

audio visual yang dibuat. Pengarah Acara juga harus mampu mengetahui apa yang

diinginkan oleh masyarakat untuk menampilkan suatu program acara yang diminati

maka dari itu pengarah acara selain sebagai pemimpin juga berperan menjadi seorang

pengamat. Kemampuan seorang Pengarah Acara diuji pada pembuatan suatu program

acara maka dari itu pengarah acara harus mampu menggarap dengan memakai single

camera ataupun multi camera dan pengarah acara juga harus siap berperan

sebagaipenasihat teknik produksi nanti. Tanggung jawab penulis adalah menjadikan

program yang dibuat menjadi suatu karya audio visual yang menarik untuk ditonton.

Dalam melaksanakan tanggung jawabnya seorang pengarah acara bekerja bersama

kru dan host. Diantaranya penata kamera, penata kostum, penata artistik dan lain

sebagainya. Selain itu pengarah acara uga turut terlibat dalam proses roduksi program

magazine show, mulai dai praproduksi, hingga pasca produksi. Pengarah acara

bertugas mengarahkan bakat teknis operasional, dengan demikian pengarah acara

adalah seorang yang berpengalaman dan seorang sesialis dalam tugasnya dan selalu

bertanggung jawabkan hasil karyanya, baik itu dari segi artistik, maupun segi teknik

produksinya kepada seluruh komponen yang terkait.

3.2.5 Proses Penciptaan Karya

Dalam magazine show “XPLORENESIA” ini penulis sebagai pengarah acara harus

sudah menguasai ide dan materi yang telah dibuat, agar terciptanya karya yang baik

dan variatif dari setiap rubrik yang telah dibuat berama tim, lalu mengaplikasikanya

kepada kedua host ketika reading dengan memberikan beberapa motivasi agar kedua

62
host mampu menguasai materi setiap destinasi yang ada. Lalu penulis berusaha

menguasai teknik pengambilan gambar, karena teknik pengambilan gambar

merupakan hal yang sangat penting dalam pembuatan sebuah karya.

A. Konsep Kreatif

Konsep kreatif merupakan suatu hal penting yang menciptakan

kesuksesansebuah progam televisi. Dalam produksi program televisi yang kami buat

setiap minggunya kami memberikan tema yang berbeda dan lebih kreatif seputar

dunia otomotif. Penulis ingin memberikan suatu informasi yang menarik untuk

ditonton dengan pengemasan gambar yang menarik juga. Untuk kali ini kami

menampilkan tema seputar wisata dengan rubrik yang berbeda di setiap segmentnya.

Diantaranya keaneka ragaman dan pengetahuan tempat budaya di tanah air. Setiap

rubrik tentang Wisata yang kami buat bertujuan agar dapat memberi pengetahuan

tentang wisata dan tempat bersejarah yang berada di Sumatra Barat.

Format program yang kami buat menampilkan suatu yang berbeda dari

program acara yang sudah ada ditelevisi. Ada beberapa referensi yang penulis ambil

dalam membuat konsep program ini, antara lain “My Trip My Adventure” TRANS

TV, “Hallal Living” NET TV, “Weekend List” NET TV. Penulis juga memakai voice

over yang berguna untuk membuat penonton yang menonton lebih gampang untuk

menangkap informasi yang penulis dan tim sampaikan. Program acara ini dipandu

oleh satu host yang memangmempunyai wawasan luas seputar wisata tanah air.

B. Konsep Produksi

Konsep ini sangatlah penting karena pada tahap ini konsep yang sudah dibuat

akan dijalankan pada saat produksi. Suatu konSep sangatlah berfungsi untuk menjadi

suatu patokan pada saat melakukan produksi, jadi pada saat melakukan produksi

63
berlangsung lancar. Dalam membuat suatu program penulis selalu bekerja sama

dengan tim pada saat pra produksi hingga pasca produksi. Pada konsep produksi ini

penulis mengarahkan kepada tim yang bertugas seperti penata kamera, penulis

mengarahkan untuk cara pengambilan gambar yang sudah dibuat dalam

directortreatment. Penulis juga mengarahkan host pada saat produksi sesuai dengan

konsepyang sudah dibuat.

Di studio penulis memulai shooing pada siang hari, lalu kami terlebih dahulu

mengambil opening program dan opening segment, sebelum memulai pengambilan

gambar, penata artistik terlebih dahulu diberi waktu 15 menit untuk menata tempat

yang sudah di rancang di pra produksi, di segment opening ini ruangan ruangan di set

dengan gaya mini bar dengan posisi host duduk di kursi. Selama proses pengambilan

gambar penulis meminta selain penata kamera untuk membantu penata artistik

menata ruangan lain untuk pengambilan gambar segment berikutnya dan ruangan di

design dengan peralatan sesuai dengan ide penata artistik. Pengambilan gambar tetap

menggunakan 2 (dua) kamera, kamera master mengambil full shot dan kamera dua

fokus ke host.

Lalu di Jam Gadang kota Bukit Tinggi Sumatra Barat, pengarah acara tidak langsung

memulai shoting dikarenakam harus ke kantor Dinas Pariwisata Sumatra Barat agar

dapat diberikanya ijin untuk pengambilan gambar di dalam hingga keatas Jam

Gadang. Setelah itu pengarah acara meminta agar penata gambar untuk tetap di lokasi

agar bisa mengambil establist lokasi dengan menggunakan drone untuk stok shot.

64
Selain itu Penulis sebagai Pengarah acara pun mempunyai beberapa planning

agar saat kondisi yang tidak diinginkan seperti hujan itu proses jalanya shooting akan

tetap berlangsung.

C. Konsep Teknis

Konsep teknis sangat berpengaruh dalam jalannya produksi, karna dalam masa

produksi perlengkapan sangatlah dibutuhkan. Dalam produksi program

“XPLORENESIA” ini pengarah acara menggunakan 2 (dua) kamera agar

mempermudah proses produksi baik dari segi statement maupun pengambilan

establish, lalu penulis memberikan motivasi yang besar kepada kedua host maupun

di indoor ataupun outdoor untuk menguasai materi yang sudah disuguhkan agar

terciptanya penguasaan materi dan lancarnya pembawaan dari kedua host tersebut.

Penulis dan camera person berdiskusi untuk menggunakan kamera SONY MC 2500

dan SONY HXR-NX100. Untuk pengambilan gambar dari atas atau topview

menggunakan drone, dan untuk distudio menggunakan dua kamera NEX-VG30.

Dari segi pencahayaan pengarah acara menggunakan dua LED Video Panel,

karena selain membtuhkan watt yang kecil jenis lampu ini juga bisa menggunakan

battery yang disediakan untuk cahaya yang dihasillan, lampu ini juga terdapat

pengaturan dinner dan pengaturan kelvin, untuk studio kami juga menggunakan

KINO FLO LIGHTING untuk menambah dimensi-dimensi cahaya.

Untuk suara pengarah acara hanya menggunakan ZOOM H4N dan Clip ON

Senheiser sebagai media perekaman suara, karena media perekam suara ini memiliki

standar kualitas yang bagus untuk produksi program televisi.

3.2.6 Kendala Produksi Dan Solusinya

65
Setiap program pasti memiliki kendala dalam produksinya begitu juga dengan

program yang penulis buat pun memiliki kendala. Kendala yang penulis dapati

selama berlangsungnya produksi, seperti:

1. Kendala pertama yang penulis dapati adalah lokasi. Lokasi yang penulis ambil lebih

banyak di luar (outdoor) yang memerlukan pencahayaan yang cukup. Pada saat

penulis mengambil adegaan host pada siang hari dan itu di luar (outdoor).

Pencayahayaan yang penulis pakai lighting satu buah dikarenakan cuma memakai

satu adegannya pun berbayang karena adanya cahaya matarahi. Solusinya, penulis

meminta kepada penata kamera untuk mengatur cahaya pada kamera dan penulis juga

meminta pada penyunting gambar pada saat editting untuk memperbaiki kualitas

warna pada frame

2. Kendala kedua yang penulis dapati adalah audio. Selama produksi berlangsung

penulis memakai outdoor dan tempatnya pun memiliki kebisingan yang cukup

lumayan. Penulis sulit menghindari suara bising tersebut pada setiap lokasi yang

penulis ambil. Penulis berkoordinasi dengan penata suara dalam mengambil audio

dan mengarahkan penata suara untuk mengatur level ketajaman suara pada alat

perekam yang dipakai. Untuk pada saat pengeditan, penulis meminta kepada penata

suara untuk memperkecil suara bisingnya dengan mengedit audio dan dibantu sama

penyunting gambar (editor).

3. Kendala ketiga yang penulis dapati adalah host. Pada saat produksi, penulis agak sulit

untuk mengarahkan host dalam mengimprovisasi naskah yang sudah dibuat

sebelumnya seperti cara bicara dan gerakan (gimmick). Solusinya, penulis

66
memberikan arahan lebih intens lagi kepada host sesuai dengan naskah yang sudah

dibua.

3.2.7 Lembar Kerja Pengarah Acara

3.2.7.1 Konsep Penyutradaraan

Dalam program ini, penulis sebagai pengarah acara memakai konsep dalam

menyutradarai program ini, yaitu:

1. Varian On Object
Penulis selaku pengarah acara membuat konsep pengambilan gambar lebih

kreati agar kesan gambar yang akan diambil lebih menarik untuk ditonton dengan

memberikan beberapa variasi shot gambar dalam pengambilan satu object.


2. Rubrikasi
Program Penulis setiap minggunya mengalami tem yang berubah-ubah dan

memiliki rubrik yang berbeda pada setiap segmennya agar khalayak dapat dengan

mudah memahami informadsi yang diberikan. Dalam program televisi yang penulis

dan ytim buat setiap minggunya memberikan tema yang berbeda dab lebih berkreatif

seputar tempat wisata. Untuk kali ini8 p3nulis menampilkan tema seputar wisata

Indonesia dengan rubrik yang berbeda setiap segmennya. Dianataranya pengetahuan

tentang keberadaan tempat-tempat wisata di Sumatra Barat. Tentang sejarah yang

belum diketahui.
3. Backsound

Penulis memakai konsep backsound berupa lagu yang bergaya beat. Setiap

segmen berbeda agar memberikan kesan menghidupkan gambar. Ditambah dengan

voice over yang mendukung untuk memberikan informasi yang lebih gampang

diingat oleh penonton.

4. Cutting on Beat

67
Penulis memakai konsep ini agar memberikan kesan beralur atau bercerita

antara gambar yang muncul dengan musik menyatu dan memberikan kesan yang

menarik untuk ditonton oleh penonton.

3.2.7.2 Casting List

Tabel III.5 Casting List

Akademi Komunikasi Bina Sarana Informatika

68
Production Company : PETA Production Produser : Miftah Farid

Project Title : XPLORENESIA Director : Andre R

Durasi : 30 Menit Script : Bustomi A

TOKO KARAKTER TALENT


H
NO
NAMA CALON CONTACT
DI PEMERA PERSON
NASKA SIFAT FISIK N
H

1 Maya Santai, ramah, Berkulit putih, Maya 08965577688


menenyenangkan, tinggi badan Nanda
pintar berekspresi 165 cm,
rambut
panjang. Good
looking

2 Della Periang, Kulit sawo Della 08544555567


komunikatif, matang, tinggi Valiancy
ekspresif, enerjik badan 160 cm, Shander
good looking.

3.2.7.3 Script Breakdown sheet

Tabel III.6 SCRIPT BREAKDOWN SHEET

69
Akademi Komunikasi Bina Sarana Informatika

Production Company : PETA Production Produser : Miftah Farid

Project Title : XPLORENESIA Director : Andre R

Durasi : 30 Menit Script : Bustomi A

NO SEG CAST WARD MAKE SET PROPE SPECIA NOTES


ME ROBE UP TIN RTY L
NT G EQUIPM
ENT

1 1 Maya Dress Lipstik, Hala Kursi. Clip On,


Nanda
putih, bedak, man meja Zoom

sepatu krim kafe H4n

skate, foundat

jam ion

tangan,

anting

anting

2 1 Maya Dress Lipstik, Dala Meja Spider.

Nanda putih, bedak, m bar, Steady

sepatu krim kafe kursi, Cam

skate, foundat lantai gelas

jam ion dua botol-

tangan, botol

70
anting minuma

anting n

3 1 Della Kaos Make Hala Tissue, Steady

Valian hitam, up man payung Cam

cy bleezer, Minima Jam

Shand celana lis Gada

er jeans ng

hitam,

sepatu

4 2 May Dress Lipstik, Dala Meja Steady

Nanda putih, bedak, m bar, Cam

sepatu krim kafe kursi,

skate, foundat lantai gelas

jam ion dua botol-

tangan, botol

anting minuma

anting n

5 2 Della Kaos Make Ruma Batu Spider.

Valian hitam, up h Angkek- Steady

cy bleezer, Minima Gada angkek Cam

Shand celana lis ng

er jeans Batu

hitam, Angk

sepatu ek-

71
angke

6 2 Della Kaos Make Jemb Payung Spider.

Valian hitam, up atan Steady

cy bleezer, Minima Janja Cam

Shand celana lis ng

er jeans Sarib

hitam, u

sepatu

7 3 Maya Dress Lipstik, Lanta Bantal, Spider.

Nanda putih, bedak, i tiga tenda, Steady

sepatu krim di kain Cam

skate, foundat kafe putih TV

jam ion led

tangan,

anting

anting

8 3 Della Kaos Make Istana Baju Spider.

Valian hitam, up Pagar adat Steady

cy bleezer, Minima uyun Cam

Shand celana lis g

er jeans

hitam,

72
sepatu

9 3 Maya Dress Lipstik, Ropft Kursi, Spider.

Nanda putih, bedak, op meja. Steady

sepatu krim Pot Cam

skate, foundat tanaman

jam ion

tangan,

anting

anting

3.2.7.4 Director Treatment

Tabel III.7 DIRECTOR TREATMENT

Akademi Komunikasi Bina Sarana Informatika

Production Company : PETA Production Produser : Miftah Farid

Project Title : XPLORENESIA Director : Andre R

Durasi : 30 Menit Script : Bustomi A

NO SHO VISUAL DIRECTION AUDIO REMA

T SHOT MOVE ANGLE RK

SIZE

SEGMENT 1

1 1 MEDIUM STILL EYE HOST DI HOST OPENI

73
LONG LEVEL HALAMAN HALO SOBAT NG

SHOT KAFE EXPLORE/ PROG

JUMPA LAGI RAM

BERSAMA PENG

SAYA MAYA ENLA

NANDA N

DALAM HOST

ACARA

XPLORENESIA/

LETS TO

EXPLORE

INDONESESIA

2 2 LONG STILL LOW HOST DI HOST OPENI

SHOT ANGLE HALAMAN NG


KALI INI MAYA
KAFE PROG
SEDANG
RAM
BAERADA DI
PENG
TEMPAT
ENLA
NONGKRONG
N
YANG ASYIK
HOST
DIBILANGAN

JAKARTA

TIMUR

TEPATNYA DI

74
CONDET

3 3 MEIUM HOST DI HOST OPENI

SHOT HALAMAN NG
SELAMA TIGA
KAFE PROG
PULUH MENIT
RAM
KE DEPAN
PENG
MAYA
ENLA
BAKALAN
N
MENGAJAK
HOST
SOBAT

EXPLORE

UNTUK

MENGELILING

I KOTA

PADANG

3 4 MEDIUM STLL EYE HOST DI HOST OPENI

SHOT LEVEL HALAMAN NG


YUK IKUTIN
KAFE PROG
MAYA
RAM

PENG

ENLA

HOST

4 5 CLOSE UP STILL EYE HOST HOST MENJ

75
LEVEL DUDUK DI WELL ELAS

KURSI TEMPATYANG KAN

AKAN TA SEGM

KUNJUNGI EN

ADALAH KOTA PERTA

PADANG/ MA

KOTA YANG

TERKENAL

DENGAN

MAKANAN

RENDANG INI

MEMANG

TERKENAL

BANYAK

TEMPAT-

TEMPAT

WISATA//

5 1 LONG STILL LOW CO-HOST CO-HOST MASU

SHOT ANGLE MENIKMATI K KE


IYA SOBAT
JASA SEGM
EXPLOR/
TUKANG EN
SAKING
FOTO DI PERTA
ASYIKNYA
HALAMAN MA
FOTO-FOTO
JAM

76
GADANG DELLA JADI

LPA NIH

MENYAPA

PEMIRSA//

6 2 MEDIUM STILL LOW CO-HOST SEKARANG EXPL

SHOT ANGLE MENIKMATI DELLA ORASI

JASA SEDANG JAM

TUKANG BERADA DI GADA

FOTO DI DAERAH JAM NG

HALAMAN GADANG NIH

JAM TEPATNYA DI

GADANG DAERAH

BUKITTINGGI

7 1 MEDIUM STILL EYE CO-HOST YA/ SOBAT DI

SHOT LEVEL MEMASUKI EXPLORE DALA

JAM BEGINILAH M JAM

GADANG KEADAAN DI GADA

DALAM JAM NG

GADANG/

MENARA INI

TERDAPAT

EMPAT

LANTAI/ YANG

SEKARANG

77
DELLA

SEDANG

ERADA DI

LANTAI

PERTAMA

YANG

MERUPAKAN

TEMPAT PARA

PETUGAS//

8 2 LONG STILL LOW CO-HOST AYO SOBAT EXPL

SHOT SNGLE MENAIKI IKUTIN DELLA ORASI

TANGGA MENAIKI JAM

JAM TANGGA INI// GADA

GADANG NG

9 3 MEDIUM STILL EYE LANTAI CO-HOST EXPL

SHOT LEVEL KETIGA ORASI


IYA SOBAT
JAM JAM
DELLA SUDAH
GADANG GADA
ADA DI
NG
LANTAI

KETIGA/ CAPE

JUGA YA

SOBAT/ DISINI

MERUPAKAN

78
TEMPAT DARI

MESIN-MESIN

JAM GADANG//

10 4 MEDIUM FOLL LOW PUNCAK CO –HOST EXPL

SHOT OW ANGLE MENARA ORASI


SEKARANG
JAM JAM
DELLA SUDAH
GADANG GADA
ADA DI
NG
PUNCAK DARI

JAM GADANG/

DARI SINI KITA

BISA LIHAT

SUASANA

KOTA YANG

ADA DI

BUKITTINGGI//

SEGMENT 2

11 1 MEDIUM STILL EYE HOST HOST PENG

SHOT LEVEL DUDUK DI ENAL


KALAU TADI
KURSI AN
KITA SUDAH
KAFE SEGM
DIAJAK KE
ENT
JAM GADANG
KE
SEKARANG
DUA
KITA AKAN KE

79
BATU

SANGKAR

DAN

NUKITINNGI

12 2 MEDIUM STILL EYE HOST DISANA ADA PENJE

SHOT LEVEL DUDUK DI BATU AJAIB LASA

KURSI YANG N

KAFE DINAMAKAN SEGM

BATU ENT

ANGKEK- KE

ANGKEK DAN DUA

JEMBATAN

JANJANG

SARIBU//

13 3 MEDIUM STILL LOW HOST PENGEN TAHU PENJE

SHOT ANGLE DUDUK DI KELANJUTANN LASA

KURSI YA/ YULU N

KAFE LETS TO SEGM

EXPLORE ENT

INDONESIA/// KE

DUA

14 1 LONG STILL EYE MENJELAS VO MENA

SHOT LEVEL KAN BATU MPILK


BATU
SANGKAR AN

80
SANGKAR RUMA

TERKENAL H

DENGAN GADA

PANORAMA NG

ALAM YANG

LUAR BIASA

15 2 LONG STILL EYE MENAMPIL VO EXPO

SHOT LEVEL KAN LRSI


DI RUMAH
RUMAH BATU
KETURUNAN
GADANG ANGK
DATUAK
EK-
BANDARO
ANGK
KAYO ADA
EK
BATU YANG

DISEBUT BATU

ANGKEK-

ANGKEK/

KONON

MEMILIKI

BERAT YANG

BERUBAH-

UBAH//

16 3 LONG STILL EYE AKSESORIS VO DALA

SHOT LEVEL RUMAH M


DI DALAM

81
GADANG RUMAH RUMA

GADANG H

BUKAN GADA

HANYA BATU NG

SAJA YANG

ADA / TETAPI

ALAT-ALAT

KERAJINAN

TANGAN JUGA

YANG DIJUAL//

17 4 MEDIUM STLL EYE CO-HOST CO-HOST BATU

LONG LEVEL SELESAI ANGK


OKE SOBAT
SHOT MENGANG EK-
KITA SUDAH
KAT BATU ANGK
SELESAI
ANGKEK- AK
DENGAN BTU
ANGKAK
ANGKEK-

ANGKEK. YUK

KITA EXPLORE

TEMPAT YANG

LAINNYA//

18 1 MEDIUM STILL LOW PEMANDAN VO EXPL

SHOT ANGLE GAN ORSI


JENJANG
JEMBATAN JANJA
SARIBU BISA

82
JANJANG DISEBUT NG

SARIBU KEMBARAN SARIB

DARI TEMBOK U

CINA//

19 1 MEDIUM STILL LOW CO-HOST CO-HOST EXPL

SHOT ANGLE MENYAPA ORASI


YA SOBAT/
PEMIRSA DI JANJA
DELLA
JANJANG NG
SEDANG
SARIBU SARIB
BERADA DI
U
JANJANG

SARIBU//

JEMBTAN INI

DINAMAKAN

JANJANG

SARIBU

BUKAN

BBERATI

MEMILIKI

ANAK TANGGA

YANG SERIBU

LOH//

20 1 LONG STILL EYE MENAMPIL VO EXPL

SHOT LEVEL KAN ORASI


SELAIN

83
JANJANG MEMILIKI JANJA

SARIBU JUMLAH ANAK NG

TANGGA YANG SARIB

BANYAK/ U

JANJANG

SARIBU

MEMILIKI

PANORAMA

YANG

MENKJUBKAN/

21 2 MEDIUM STILL LOW MENAMPIL VO EXPL

LONG LEANG KAN ORASI


BILA DILIHAT
SHOT JANJANG JANJA
DARI ATAS
SARIBU NG
JEMBATAN/
SARIB
KITA BISA
U
MELIHAT

HAMPARAN

LEMBAH NAN

HIJAU //

22 3 MEDIUM STILL LOW MENAMPIL BILA KITA EXPL

SHOT ANGLE KAN TERUS ORASI

JANJANG TELUSURI JANJA

SARIBU TEMBOK YANG NG

84
BERWARNA SARIB

ABU-ABU/ U

MEMBUAT

KITA TAK KAN

HERAN

DENGAN

DESTINASI INI

YANG

MENDAPAT

JULUKAN THE

GREAT WALL

OF KOTO

PADANG//

SEGMEN III

23 1 LONG STILL EYE HOST HOST MENJ

SHOT LEVEL DUDUK DI ELAS


BICARA
LANTAI KAN
WISATA TIDAK
TIGA SEGM
ADA
EN KE
HABISNYA
TIGA
BILA DIOTA

PADANG

24 2 MEDIUM STILL EYE HOST HOST MENJ

SHOT LEVEL DUDUK DI ELAS


MULAI DARI

85
LANTAI KULINER/ KAN

TIGA TRADISI/ SEGM

BAHKAN ENT

PESONA KE

ALAM/ TIGA

MEMAG

PANTAS

UNTUK

DIKULIK//

25 3 MEDIUM STILL EYE HOST HOST SEGM

SHOT LEVEL DUDUK DI EN KE


SEPERTI
LANTAI TIGA
REKAN MAYA/
TIGA
DELLA YANG

SEDANG

BERADA DI

KOTA

PADANG//

26 1 LONG FOLL LOW MENAMPIL VO SEGM

SHOT OW ANGLE KAN ENT


KOTA PADANG
ISTANA KE
TAKKAN
TIGA
PERNAH

KEHABISAN

PESONA

86
WISATANYA/

KOTA

MALINKUNDA

NG INI JUGA

MEMILIKI

BUDAYA YANG

UNIK

DIPELAJARI//

27 1 LONG STILL EYE CO-HOST CO-HOST MENJ

SHOT LEVEL MENYAPA ELSK


IYA SOBAT
PEMIRSA AN
DELLA
ISTAN
SEDANG
A
BERADA DI
PAGA
ISTANA
RUYU
PAGARUYUNG/
NG
YUK KITA

KULIK DI

DALAMNYA//

28 1 MEDIUM STILL LOW MENANPIL VO EXPL

SHOT ANGLE KAN ORASI


DI ISTANA INI
DALAM USTA
MENYEDIAKA
ISTANA NS
N BAJU ADAT/
PAGARUYU PAGA
BAGI SOBAT

87
NG EXPLORE RUYU

YANG MAU NG

MENCOBA

BAJUNYA

CUKUP

MEROGEH

KOCEK DUA

PULUH LIMA

RIBU RUPIAH//

29 1 MEDIUM STILL EYE CO=HOST YA SOBAT MENJ

SHOT LEVEL MENJELAS EXPLORE ELAS

KAN DISINI DI KAN

LANTAI LANTAI LANT

PERTAMA PERTAMA AI

TERDAPAT PERTA

BENDA-BENDA MA

PUSAKA// ISTAN

PAGA

RUYU

NG

30 1 CLOSE UP STILL EYE CO-HOST DI CO-HOST EXPL

EVEL LANTAI ORASI


IYA SOBAT/ DI
TIGA ISTAN

88
LANTAI TIGA A

INILAH PAGA

TEMPAT RUYU

PUSAKA RAJA- NG

RAJA//

31 1 CLOSE UP STILL EYE CLOSING ADA BANYAK CLOSI

LEVEL HOST CARA UNTUK NG

MENUNJUKKA

N RASA

NASIONALISM

E DALAM DIRI/

SALAH

SATUNYA

DENGAN

MEMAKAI

PRODUK-

PRODUK

INDONESIA/SA

YA MAYA

NANDA

MOHON

UNDUR DIRI//

89
3.3 Proses Kerja Penulis Naskah

Penulis Naskah adalah orang yang mempunyai kemampuan dalam menuangkan

ide ke dalam cerita. Biasanya ide yang didapat adalah hasil dari imaginasi dan

mengumpulkan dari berbagai informasi, melalui media maupun terjun langsung ke

lokasi. Seorang Penulis Naskah harus memiliki keahlian mengubah ide ke dalam

bentuk naskah, sehingga bisa menjadi bentuk tulisan yang menarik dan memiliki

makna bagi dirinya dan orang lain.

Penulis Naskah biasanya aktif dalam berkomunikasi serta berinteraksi guna

mendapatkan informasi untuk pembuatan ide dalam suatu karya. Setiap terjadinya

90
peristiwa bisa jadi memiliki hal yang menarik yang bisa dijadikan sebuah karya bagi

penulis. Seorang Penulis juga harus mampu mengusai ide dan konsep serta mampu

mengungkapkan fakta dan informasi yang dibutuhkan penulis secara lengkap.

Menurut Morrisan (2009:275) Penulis Naskah (scriptwriter) memiliki peran penting


khususnya pada tahap praproduksi. Seorang penulis skrip memberikan garis-garis
besar cerita dan dalam banyak hal menentukan struktur keseluruhan suatu produski.
Penulis naskah terlebih menulis ringkasan awal suatu proyek produksi yang disebut
dengan treatment yang menjadi dasar penulisan skrip. Suatu skrip memberikan
penjelasan mengenai lokasi, gerakan (action), dan dialog secara detail (adegan demi
adegan). Dalam hal ini skrip berfungsi sebagai cetak biru yang akan membantu
produksi yang sebenarnya.
Dari kutipan di atas penulis yang merupakan Penulis Naskah harus bisa

membuat ide yang menarik serta dapat dimengerti. Karena dari sebuah naskah itu bisa

dijadikan acuan dalam pembentukan jumlah tim, jenis peralatan serta unit manager

yang bertanggung jawab atas segala akomodasi tim selama pelaksanaan produksi dan

dari situlah bisa disusun jumlah anggaran yang dalam pelaksanaan produksi.

Menurut Biran (2006;5) Penulis naskah atau biasa yang disebut scriptwriter bertugas
menterjemahkan ide cerita ke dalam visual gambar atau skenario. Kemampuan
seorang yang memiliki bakat itu bisa dikembangkan menjadi optimal kalau dibantu
dengan penguasaan teori dan teknik penulisan skenario.
Dari kutipan di atas penulis sebagai Penulis naskah berusaha menulis skrip agar

bisa diinterpretasikan ke dalam gambar dengan menggunakan teknik dalam penulisan

naskah.

Menurut Latief dan Utud (2015:129) Karena masih dalam rangka persiapan siaran,
tugas kreatif tidak hanya melakukan riset dan survei, juga aktif berdiskusi
mendengarkan lagu-lagu, menonton televisi, VHS (waktu itu belum ada VCD, DVD),
membuat konsep program menuangkannya dalam bentuk naskah, rundown dan
menghubungi para talent dan performer.
Dari kutipan di atas penulis menyimpulkan bahwa acuan itu bisa dilakukan

secara bertahap mulai dari. Ide cerita , sinopsis, treatment dan naskah. Atau bisa.

Sebuah nasksh sangat penting dalam pembuatan sebuah karya, karena naskah

91
merupakan desain dalam penyampaian cerita atau gagasan untuk membuat suatu

karya.

Dalam proses produksi pembuatan progranm produksi nondrama (magazine)

“XPLORENESIA“ penulis yang bertanggung jawab sebagai Penulis Naskah

memang merupakan tujuan utama penulis untuk memasuki jurusan Boadcasting

karena niat penulis untuk menjadi Penulis Naskah yang kompenten dalam dunia

broadcast khususnya Penulis Naskah. Jadi Penulis Naskah bukanlah jabatan yang

kecil untuk diremehkan. Justru karena dengan adanya Penulislah program berupa

drama, nondrama seperti magazine show dapat terkonsep dengan rapih. Karena

Penulis Naskah adalah kunci mengalirnya sebuah cerita.

Dalam program magazine show ini, penulis memberikan informasi seputar

wisata dan keanekaragaman budaya tanah Indonesia, serta di setiap segmennya

pembawa acara terjun langsung dalam menikmati keanekaragaman tersebut

3.3.1 Pra Produksi

Pada tahap pra produksi merupakan tahap awal dalam penciptaan suatu karya.

Baik itu karya drama maupun non drama. Dalam tahap ini penulis bekerja sama

dengan Produser dan Pengarah Acara untuk menentukan tema. Dalam persipan awal

penulis hanya memiliki persiapan waktu yang sedikit dan diharuskan penulis sudah

memiliki ide atau konsep yang diberikan kepada Produser dan Pengarah Acara.

Namun tak jarang harus mengalami revisi dikarenakan permintaan maupun masukkan

dari Produser dan Pengarah acara.

92
Menurut Latief dan Utud (2015:73) “Ide adalah dasar utama dalam

memproduksi program siaran, khususnya program nondrama, tanpa adanya ide

tahapan perencanaan peroduksi berikutnya tidak dapat dilaksanakan.”

Sesuai kutipan di atas penulis yang menjadi Penulis Naskah berusaha

menceritakan ide atau konsep kepada Produser dan Pengarah acara. Melakukan bedah

naskah dan melakukan perbaikan atau tambahan bila ada ide dari Produser dan

Pengarah acara. Penulis juga mencari referensi yang nantinya akan dikembangkan

juga oleh seluruh tim hingga terbentuk sebuah ide yang akan digunakan penulis untuk

membuat naskah. Setelah ide terbentuk. Penulis dan seluruh tim kembali mencari ide

untuk nama program dan teman apa yang akan penulis jadikan tugas akhir. Setelah

menemukan ide nama program yaitu “XPLORENESIA”. Proses penulisan naskah

berlanjut dengan pengumpulan data, maka penulis dan seluruh tim melakukan riset

terlebih dahulu dan kemudian setelah mendapat cukup banyak informasi, penulis

mulai menyusun sinopsis, treatment dan naskah yang sesuai dengan format yang

diinginkan.

Mulanya penulis berpikir tidak diperlukan teknis dalam pembuatan naskah,

cukup dengan imajinasi kami semua bisa terlaksana tahap produksinya. Tapi penulis

salah, teknis penulisan naskah memang sangat dibutuhkan dalam penulisan tahap-

tahap pembuatan skenario yang benar

Dalam pra produksi, Penulis Naskah mencari referensi dalam membuat

konsep dari beberapa majalah, program-program yang tayang di televisi maupun di

Youtube. Saat pembuatan ide penulis dibantu oleh Pengarah acara dan tim yang lain

dalam mengembangkan ide. Setelah memperbanyak mencari referensi dari berbagai

93
sumber. Akhirnya penulis dan semua tim sepakat membuat sebuah program yang

bertemakan explorasi alam Indonesia.

3.3.2 Produksi

Pada tahap produksi Penulis Naskah tidak berhenti hanya sampai di kertas

saja. Penulis juga harus bersama dengan Pengarah acara dalam pengambilan gambar,

karena Penulis Naskah orang yang tahu betul akan cerita yang dibuat. Walaupun

Pengarah Acara menginginkan agar dialah yang menentukan adegan yang diambil

namun Pengarah Acara tetap membutuhkan penulis untuk memberi petunjuk yang

diberikan oleh Penulis Naskah agar dapat memberikan hasil yang lebih nyata.

Di dalam tahap produksi penulis sebagai Penulis Naskah ikut serta

membantu Penata Kamera dalam memvisualisaikan sebuah naskah hingga menjadi

sebuah tontonan yang menarik.

Menurut Arifin DKK (2017:1) Suatu naskah disunting agar tercipta komunikasi yang
efektif antara penulis naskah dan pembacanya. Tidak akan pernah ada seorang
pengarang pun yang mengingin-kan karangannya tidak dipahami orang lain. Ia pasti
akan beruasaha sekuat tenaga mengerahkan segala kemampuan-nya agar tulisannya
komunikatif.
Dari kutipan di atas penulis sebagai Penulis Naskah harus memahami teori

dalam teknis pembuatan naskah. Setelah memahami teknik-tekniknya Penulis

Naskah mengarahkan cerita yang sebelumnya sudah dibuat dan disetujui Dosen

Pembimbing untuk diproduksi sesuai naskah. Apabila dalam produksi terjadi kendala

maka Penulis Naskah berhak mengubah alur cerita agar masalah yang ada saat

produksi bisa diselesaikan dengan bijak dan sebaik mungkin.

Di samping itu Penulis Naskah dapat mengamati setiap gambar yang akan

diambil oleh Pengarah Acara. Memperhatikan tata cara pembawaan naskah oleh

94
pembawa acara serta improvisasai yang dilakukan oleh pembawa acara agar bisa

dicata dan direvisi oleh Penulis Naskah.

Pada saat produksi penulis naskah juga memperhatikan jalannya acara untuk

mencocokkan naskah yang dibuat pada saat pengambilan gambar. Penulis juga

melakukan hal-hal seperti melakukan briefing, riding bersama pembawa acara. Dan

meminta pembawa acara mengulang naskah yang dibaca sebeleum shooting.

3.3.3 Pasca Produksi

Pada saat pasca produksi penulis sebagai Penulis Naskah masih harus

melakukan tugasnya bersama Penyunting Gambar dan Pengarah Acara untuk melihat

tahapan penyuntingan gambar agar naskah yang dibuat tidak terlalu menyimpang jauh

dari konsep awal, serta mengecek rundown dan mengecek durasi VT (Video Type)

penulis membuat pengecekkan sesuai saran dan masukan dari Produser. Untuk

disunting naskah produksi yang di dalamnya telah mendapat arahan bagi Penata

kamera tentang teknik shooting dan objek shooting, sedangkan arahan bagi Narator

dalam mambacakan narasi adalah editan durasi untuk setiap scene (adegan) dan

sebagainya.

Dalam tahap penyuntingan naskah penulis menyesuaikan naskah yang

mengalami perubahan pada saat produksi. Pada saat penyuntingan naskah penulis

melihat video-video yang sudah disunting yang telah disesuaikan dengan naskah.

Pada tahap ini penulis membutuhkan ketelitian lebih agar program acara yang dibuat

layak untuk tayang. Penulis Naskah juga menyesuaikan apakah script VO (Voice

95
Over) harus sesuai dengan apa yang sudah divisualisasikan. Selain itu, rundown pun

harus dikoreksi kembali untuk durasi dan isi konten acara persegmen agar sesuai

dengan hasil video yang sudah disunting.

Dalam mendampingi Penyunting Gambar penulis melihat tahapan dalam

penyuntingan gambar untuk menyesuaikan dengan rundown yaang sudah penulis

sesuaikan. Penulis bersama Pengarah Acara menemani Penyunting Gambar dalam

memberikan pengarahan terhadap shot-shot yang telah ada dan juga menuntun agar

kerja Penyunting Gambar tidak berbeda dari naskah yang sudah penulis buat.

3.3.4 Peran Dan Tanggung Jawab Penulis Naskah

Peran penulis sebagai npenulis naskah dalam tim produksi yaitu, penulis

mulai mebuat ide, sinopsis, treatment, script dan rundown. Semua tahapan-tahapan

pembuatan konsep dilakukan pada saat pra produksi yang akan dibutuhkan pada saat

produksi dan pasca produksi. Selain itu penulis juga bertugas mencari nara sumber

dan ikut serta mengadakan casting untuk pembawa acara yang dibantu sepenuhnya

oleh Produser dan Sutradara. Pada saat produksi penulis naskah ikut mengarahkan

host dan mengarahkan Penata Kamera untuk memvisualisasikan tiap-tiap gambar dan

adegan sesuai naskah.

Menurut Djamal 2014:115) langkah pertama yang diambil adalah mengumpulkan


beberapa ide yang ada di antara anggota tim kreatif. Disitu, setiap orang
menyampaikan setiap gagasannya (brainstorming) dengan beberapa argumentasi
kemudian produser memilih diantara gagasan yang ada yang menurutnya paling
cocok. Dari satu ide yang dianggap cocok itiu, produser memperluas kerangka ide
dengan menuliskan segala sesuatu yang berkaitan denngan ide kasar tersebut
sehingga tercipta satu skenario kasar.

96
Dari kutipan di atas, setelah ide yang dipilih oleh Produser maka Penulis Naskah

mengembangkan ide-ide menjadi konsep yang nantinya menjadi sebuah program

yang menarik.

Peran dan tanggung jawab Penulis Naskah dalam tahap produksi yang dilakukan

oleh penulis sebagai Penulis Naskah ialah mengembangkan idei-ide pokok di tahap

produksi. Penulis harus membuat dasar acuan dalam bentuk naskah atas dasar ide

cerita sendiri atau dari kru yang lain. Bagi penulis dasar acuan itu bisa dilakukan

secara tahap mulai dari ide cerita, sinopsis (basic story) treatment dan naskah.

Penulis mengarahkan cerita yang sebelumnya telah dibuat dan disetujui oleh Dosen

Pembimbing untuk segera diproduksi dengan sesuai naskah, apablia dalam proses

produksi terdapat kendala dari berbagai faktor dan diharuskan merubah cerita pada

tahap akhir yaitu tahap pasca produksi, penulis sebagai Penulis Naskah tetap

mengawasi setiap proses suntingan gambar yang telah dilakukan oleh Pengarah Acara

dan Penyunting Gambar agar tidak akan ada cerita yang salah.

Menurut Soemarno (2008:570) tugas dan kewajiban penulis naskah adalah


menciptakan dan menulis dasar acuan dalam bentuk naskah (skenario) atas dasar ide
cerita sendiri atau dari pihak lain. Bekarja dari tahap pengembangan ide (develoment)
sampai jangka waktu terakhir (pra produksi membuat skenario dengan format yang
tekah ditentukan, menjadi narasumber bagi pelaksana produksi billa diperlukan).
Dari kutipan di atas, penulis menyimpulakan bahwa seorang penulis naskah

membuat acuan dari ide sendiri maupun ide dari kru yan lain lalu dikembangkan ide

tersebut hingga menjadi naskah yang akan digunakan sebagai patenan produksi

smapai pasca produksi.

3.3.5. Pross Penciptaan Karya

a. Konsep Kreatif

97
Konsep kreatif yang penulis dapatkan adalah melalui dari sebuah majalah. Dimulai

dari susuna isi konten serta informasi dari segala hal seperti lifestyle, kuliner, wisata

dan lain-lain. Setelah melakukan bimbingan kepada Dosen Pembimbing penulis

diarahkan untuk melihat program-program yang tayang di televisi maupun di

Youtube. Program yang menjadi inspirasi penulis dalam membuat program adalah My

Trip My Advebture, Weekend List, dan Halal Living. Dari ketiga program tersebut

penulis akhirnya dapat membayangkan program apa yang akan dibuat. Maka dari itu,

penulis menukan ide dan konsep cerita pada program nondrama magazine show yang

berisi tentang wisata tanah air. Program magazine show ini berada di Sumatra Barat.

Penulis dan semua tim sepakat untuk memberikan program yang memberikan

informasi seputar kota-kota wisata yang ada di Sumatra Barat mulai dari Jam Gadang,

Istana Pagaruyung dan jembatan Janjang Saribu. Akhirnya penulis dan tim sepoakat

memberikan nama program ini XPLORENESIA.

Dalam program XPLORENESIA ini penulis membagi program ini ke dalam

tiga segment. Dalam segmen pertama penulis memberikan informasi seputar Jam

Gadang yang berada di Bukittinggi Sumatra Barat. Segmen kedua penulis

memberikan dua rubrik yaitu Batu Angkek-ankek dan Janjang Saribu. Dan diakhiri

dengan segmen ketiga dengan mengulik Istana Pagaruyung yang berada di Batu

Sangkar Sumatra Barat.

b. Konsep Produksi

98
Konsep ini sangat penting karena pada tahap ini konsep yang sudah dibuat

akan dijalankan pada saat produksi, suatu konsep sangat penting sebagai patokan

dalam pengambilan gambar. Dalam membuat suatu program penulis selalu bekerja

sama dengan tim. Baik pada saat pra produksi sampai pasca produksi pada saat

progam XPLORENESIA sedang diproduksi penulis ikut serta dalam pengambilan

gambar. Karena adanya beberapa perubahan naskah dan adegan di setiap segmen.

Penulis juga selalu mendampingi Pengarah Acara dalam mengarahkan

pembawa acara dan ikut mengarahkan penata kamera untuk cara pengambilan

gambar yang sudah dibuat dalam director treatment. Penulis juga memberi masukan

kepada host dalam membawakan acara dan karakter yang sudah terkonsep. Penulis

juga mengarahkan pembawa acara agar tidak keluar jalur konsep yang penulis sudah

buat. Adakalanya penulis menemukan kesulitan dalam mervisi naskah dan dibantu

oleh Pengarah Acara. Di setiap segmen pembawa acara melakukan improvisasi dalam

berdialog, maka dari itu penulis langsung mengubah naskah.

c. Konsep Teknis

Dalm tahap ini penulis menggunakan buku-buku teori tentang cara penulisan

naskah dan juga mendapatkan inspirasi dari program yang ada di televisi dan di

Youtube. Dalam konsep ini penulis membuat naskah mengguanakan alat seperti

Laptop dengan menggunakan aplikasi Microsoft Word menggunakan Times New

Roman dan Courier New size 12 untuk mendukung kelancaran membuat naskah.

Untuk memperhitungkan durasi, penulis tuangkan ke dalam bentuk rundown agar

menghasilkan rekaman suara (Voice Over) yang baik, disini penulis menggunakan

clip on dan zoom H4N. Penulis juga bekerja sama dengan Pengarah Acara dan

99
Produser untuk mengetahui apa saja yang dibutuhkan oleh Penata Kamera dalam

pengambilan stockshot.

3.3.6. Kendala Produksi Dan Solusinya

Setiap di dalam satu tim, pasti ada saja kendala yang harus dihadapi oleh masing-

masing kru. Tidak terkecuali Penulis Naskah yang pada saat produksi mengalami

kendala sebagai berikut :

1. Pada saat mencari ide penulis mengalami kesulitan dalam menemukan ide yang

menarik. Solusinya adalah meminta para kru untuk mencari ide setelah mendapatkan

ide yang disepakati barulah penulis mengembangkan ide.


2. Saat tahap konsep pnulis mengalami kendala kesulitan untuk memasuki kontent yang

menarik. Solusinya dalah dengan mencari referensi melalui program yang tayang di

televisi dan Youtube.


3. Dalam pencarian nama program penulis mengalami kesulitan untuk mencari nama

yang cocok dengan program ini. Solusinya setelah mengadakan bimbingan pada

Dosen pembimbing penulis dibantu semua kru memberi nama program ini

XPLORENESIA.

3.3.7 Lembar Penulis Naskah

100
3.3.37.1 Konsep Penulis Naskah

Dalam konsep penulisan naskah penulis mengambil referensi dari berbagai

media mulai dari majalah sampai televisi dan Youtube. Tayangan yang menjadi acuan

program ini adalah My Trip My Adventure, Weekend List, dan Halal Living. Dalam

tahap penyusunan program ini penulis mulai menggabungkan beberapa ide inspirasi

didapat dari televisi dan Youtube. Hingga akhirnya penulis mendapatkan ide kreatif

yang menceritakan perjalanan explorasi yang berada di Sumatara Barat. Segmen

pertama program ini mengajak audience ke Bukitiingi untuk meng-explore Jam

Gadang. Di segmen kedua penulis mengajak audience ke Tanah Datar dan

Bukittinggi untuk melihat Batu Angkek-angkek dan Jembatan Janjang Saribu.

Sedangkan di segmen akhir penulis meliput Istana Pagaruyung yang berada di Batu

Sangkar Sumatra Barat.

3.3.7.2 Sinopsis

Menurut Djamal (2014:118 B) “ Syinopsis merupakan gambaran secara ringkas dan

tepat tentang tema atau pokok materi yang akan dikerjakan. Tujuan utama ialah

memudahkan pemesan (produser) menangkap konsep, kesesuaian gagasan dengan

tujuan yang ingin dicapai”.

Dari kutipan di atas penulis membuat sinopsis sebagai gambaran secara ringkas

untuk memudahkan para kru untuk memahami alur cerita dari awal sampai akhir.

XPLORENESIA adalah tayangan magazine show yang berdurasi 30 menit. Di

setiap episodenya program ini mengajak pemirsa untuk menelusri tempat-tempat

wisata tanah air dengan maksud menambahkan rasa cinta kepada tanah air.

101
Di episode kali ini XPLORENESIA meng-explore Kota Padang yang barada di

Sumatra Barat.

Program ini terdiri dari tiga segmen dengan dua orang pembawa acara di tempat

yang berbeda, satu host utama yang berada di studio dan co-host yang berada di Kota

Padang.

Di segmen pertama akan menampilkan Jam Gadang yang barada di Bukittinggi.

Jam yang disebut kembaran dari Jam Big Ben yang berada di Inggris ini akan dikulik

angka empat romawi yang berbeda pada umumnya.

Di segmen yang kedua pembawa acara mendatangi dua tempat, yakni Rumah

Gadang yang berada di Tanah Datar dan jembatan Janjang Saribu yang berada di

Bukittinggi. Di dalam Rumah Gadang ada Batu Angkek-angkek yang konon katanya

memiliki berat yang berubah-ubah.

Di segmen terakhir pembawa acara mendatangi Istana Baso atau yang disebut

Istana Pagaruyung. Pembawa acara menelusuri apa saja yang berada di Istana

tersebut. Sambil memakai baju adat pembawa acara mengulik apa saja yang ada di

dalamnya. Mulai dari lantai sataui sampai lantak empat.

3.3.7.3 Treatment

Menurut Djamal (2014:118:B) “Treatment merupakan uraian ringkas secara

deskriptif (bukan tematis), maka yang dikembangkan dari synopsis adalah bahasa

visual tentang suatu episode cerita atau ringkasan dari rangkaian suatu peristiwa.

102
Dari kutipan di atas penulis menyimpulakn bahwa treatment adalah kerangka atau

gambaran untuk membuat cerita agar tetap berurutan.

SEGMEN I
Id’s Program
Opening Host di Studio
Host di studio menyapa pemirsa dan memperkenalkan dirinya di halaman Cafe

Memperkenalkan Konten Episode


Host di studio menyapa pemirsa dan menjelaskan episode kali ini

Menayangkan Konten Sumatra Barat


Di segmen pertama ini co-host menyapa pemirsa di Sumatra Barat tepatnya di daerah

Bukittinggi menjelaskan tempat mana saja yang menjadi tujuan perjalanan hari ini.

Tempat pertama yang co-host kunjungi adalah Bukittinggi yang berada di Sumatra

Barat. Co-host akan meng-explore Jam Gadang. Sebelum mencari informasi Jam

Gadang Co-host menikmati jasa foto keliling yang berada di sekitar Jam Gadang.

Setelah itu Co-host mulai memasuki tiap lantai dari menara Jam Gadang dari lantai

satu sampai puncak menaranya.

Closing Segmen
Bumper Out
Comersial Break

SEGMEN II
Id’s Program
Opening Host
Host studio kembali membuka segmen kedua

Menayangkan Konten Segmen kedua


Co-host mengajak audience mengunjungi dua tempat, yaitu Rumah Gadang yang

baerada di Batu Sangkar dan Jembatan Janjang Saribu di Bukittinggi. Co-host yang

mengajak untuk mencari tahu tentang batu yang unik yang beratnya bisa berubah-

ubah batu tersebut bernama Batu Angkek-angkek.

103
Setelah selasai dengan Batu Angkek-angkek co-host menelusuri Jembatan yang

disebut Janjang Saribu.

Comersial Break
Bumper Out
SEGMEN III
Id’s Program
Opening Host
Host di studio kemabali menyapa pemirsa dan menjelaskan segmen ketiga

Konten berisikan segment tiga Istana Pagaruyung

Sebelum menyapa pemirsa Co-Host membeli tiket masuk, dan menyapa pemirsa tepat

di halaman istana, tak lupa untuk memakai pakaian adat yang disediakan. Setelah itu

mulai menelusuri isi dari Istana Pagaruyung.

Closing
Credit Title

SKENARIO

SEGMEN 1 : JAM GADANG

SCENE 1

EXT HALAMAN KAFE SIANG HARI

HOST SEDANG BERJALAN DAN MENYAPA PEMIRSA

1 HOST

“Hallo sobat EXplore....!!! jumpa lagi bersama saya Maya Nanda


dalam acara XPLORENESIA..!!! Lest to eksplore Indonesia!

104
Maya sekarang sdang berada di tempat nongkrong yang asyik yaitu
di Warbox Cafe yang berada di bilangan Jakarta Timur tepatnya di
daerah Condet.
Seperti biasa selama tiga puluh menit ke depan Maya bakalan
ngajak sobat explore buat ngelilingi Tanah Indonesia.

Yup Maya rasa sobat Explore udah nggak sabar kan? Yuk ikutin

Maya!”

HOST MEMASUKI KAFE DAN NAIK KE LANTAI DUA

2 HOST

“Well, di episode kali ini tempat yang akan kita kunjungi adalah
Kota Padang Sumatra Barat.

Kota yang khas dengan makanan Rendang ini memang sudah terkenal
memiliki banyak tempat-tempat wisata yang unik dan bersejarah.

Oke. Maya rasa sobat Explore udah nggak sabar mau lihat tempat
apa aja yang mau dieksplore!!.

Lets to Explore Indonesia!!!”

3 HOST (V0)

“Kota Padang adalah Kota terbesar yang ada di pesisir barat Pulau
Sumatra. Kota ini merupakan Ibu kota Provinsi Sumatra Barat
dengan luas 694,96 kilomenter.

Kata Padang dalam bahasa Minang berarti “Padang” yang bisa juga
mengartikan “Lapangan”.

Kota yang terkenal dengan cerita Siti Nurbaya ini mempunyai

pesona alam nan luar biasa.”

105
SCENE 3

EXT. HALAMAN JAM GADANG

CO HOST SEDANG MENIKMATI JASA FOTO KELILING DI HALAMAN JAM GADANG

4 CO-HOST

“Eh sobat Explore, Della sampai lupa saking asyiknya foto-foto


hehe.

Nih Della udah di Bukittinggi, tepatnya di area Jam Gadang.

Mau tahu apa aja yang ada di dalamnya? Yuk ikutin Della terus!”

5 HOST (VO)

“Bagi sobat Explore yang pernah ke Kota Bukittinggi, tentu tidak


asing lagi dengan yang namanya Jam Gadang.

Ya, jam Raksasa ini disebut-sebut kembaran dari Jam Big Ben yang
berada di Inggris.

Tinggi bangunan ini mencapai 26 meter.

Jam yang menjadi Ikon Bukittinggi ini dibangun pada tahun 1926
oleh arsitek Yazid dan Sutan Gigi Ameh.

Pada keempat sisi puncaknya terdapat empat buah jam dengan


diameter 80 centimeter, jam ini merupakan hadiah dari Ratu
Belanda kepada sekretaris kota pada saat itu.

Yang menjadi keunikkan dari jam ini adalah angka empat pada Jam

Gadang yang tidak mengikuti kaidah angka Romawi pada umumnya.

Banyak yang mengaitkan dengan hal-hal tahayul. Namun sampai saat

ini tidak ada rujukkan pasti mengenai hal itu.”

106
SCENE 3

INT. DALAM MENARA JAM GADANG

5 CO-HOST

Well begini nih suasana di dalam menara Jam Gadang.

Oh ya sobat, ruangan Jam Gadang ini memiliki empat tingkat,


tingkat pertama ruangan petugas, tingkat kedua tempat pemberat
jam atau bandul, tingkat ketiga tempat mesin. Dan tingkat ke
empatnya puncak dari menara ini. Kita bisa ke atas lewat tangga
ini nih.

THE END

SEGMENT 2 BATU ANGKEK-ANGKEK DAN JEMBATAN JANJANG SARIBU

SCENE 4

INT. DALAM KAFE

HOST MASIH DI LANTAI DUA DI KAFE DAN MEMESAN JUICE TOMAT

6 HOST

”Kalau tadi kita sudah diajak mengexplore Jam Gadang Sekarang


kita akan mengunjungi daerah Batu Sangkar dan Bukittinggi.

Tau nggak sobat? Di daerah Batu sangkar terdapat batu yang ajaib
namanya Batu Angkek-angkek.

Sedangkan di Bukittinggi ada jembatan yang disebut miniaturnya


tembok Cina.

107
Waduh tambah penasaran kan? Langsung aja yuk Lets to Explore

Indonesia!!!”

7 HOST (VO)

“Batu sangkar selama ini terkenal dengan panorama alam nan


mempesona. Selain itu terdapat juga ciri khas dari Negri Ranah
Minang ini. Yaitu Batu Angkek-angkek yang terdapat di sebuah
Rumah Gadang keturunan Datuak Bandaro Kayo di Nagarai Balai
Tabuh, Kabupaten Tanah Datar. Konon katanya Batu ini mempunyai
berat yang berubah-ubah.

Batu berbentuk cangkang Kura-kura ini berwarna Hitam dan


mempunyai lubang kecil di tengahnya. Di permukaannya yang
berwarna tembaga ada tulisan lafadz Allah dan Muhammad.

Batu Angkek-angkek yang mempunyai arti angkat-angkat ini


dipercaya

Masyarakat sekitar mempunyai kekuatan gaib yang mampu meramal

nasib seseorang, dengan cara mengangkat batu tersebut. Bila

seseorang yang berhasil mengangkat batunya maka niat dan

keinginannya bisa tercapai. Namun sebakliknya, bila seseorang

tidak berhasil mengangkatnya maka niat dan keingiannya tidak

akan terkabul.”

108
SCENE 5

INT. DALAM RUMAH GADANG

CO-HOST MENGANGKAT BATU ANGKEK-ANGKEK

8 CO-HOST

Di belaakang Della sudah ada rumah Gadang yang terdapat Batu


Angkek-angkek. Pastinya sobet Eksplore penasaran kan? Yuk ikutin
Della terus!

Menurut warga sekitar Tanah Datar barang siapa yang berhasil


mengangkat Batu Angek-angkek, niat dan keinginannya bakalan
terkabul.

Nggak ada salahnya Della coba ya, oh ya sobat sebelum mengangkat


Batu Angkek-angkeknya kita disarankan dalam keadaan berwudhu,
tadi Della sudah berwudhu sekarang yuk ikutin Della buat nyoba
ngangkat Batu Angkek-angkek. Bismillah

Yah... sobat Exlore Della nggak berhasil ngangkat Batu Angkek-


angkeknya berarti niat dan keinginan Della nggak bakalan
terwujud. Tapi benar tidaknya kita tetap harus percaya kepada
Tuhan YME ya sobat.

Nah setelah ini Della akan mengajak sobat Explore untuk


mengunjungi tempat asyik lainnya.

9 HOST (VO)

Kita kembali lagi ke Bukittinggi, kota ini banyak sekali


menawarkan tempat wisata bagi para pengunjung. tempat yang
direkomendasikan Xplorenesia adalah Janjang Saribu. Mungkin
beberapa orang masih bertanya tentang wisata ini. Faktanya,

109
memang masih belum banyak orang yang tahu dengan tempat wisata
ini. Yang paling unik adalah, kemiripan konsep yang dimiliki
kawasan wisata ini dengan Tembok besar yang ada di Cina.
Sekaligus wisata ini bisa dijadikan tempat pengganti mnikmati
Tembok Cina dengan biaya yang relative murah.

SCENE 6

EXT. AREA JEMBATAN

CO-HOST MEMNYAPA PEMIRSA DI JEMBATAN JANJANG SARIBU

10 CO-HOST

“Oke sobat Explore. Della sudah ada di Janjang Saribu. Jembatan


yang mempunyai banyak tangga. For Your Information meski meiliki
nama seribu, tapi jumlah tangganya tidak mencapai ribuan loh
sobat. Mau tahu lebih lanjut, yuk ikutin Della lagi!

11 HOST (VO)

Selain memiliki jumlah anak tangga yang banyak. Janjang Saribu


memiliki panorama yang menkjubkan. Bila dilihat dari atas
jembatan. Kita bisa melihat hamparan lembah nan hijau, daerah
Ngarai Sianok dan Gunung Singalang. Benar saja, bila kita terus
telusuri anak tangga dengan tembok yang berwarna abu-abu di sisi
kanan dan kiri membuat kita tak akan heran destinasi tempat ini
mendapat julukan The Great Wall Of Koto Padang.

THE END

SEGMENT 3 ISTANA BASO PAGARUYUNG

SCENE 7

INT. LANTAI TIGA KAFE

12 HOST

110
“Nah sobat Explore kalo bicara tempat wisata di Tanah Minang
tentu tidak ada habisnya. Mulai dari tradisi, tempat bersejarah
atau bahkan istana semuanya ada. Seperti yang akan dikulik rekan
Maya yaiu Della yang sudah ada di Batu sangkar. Di Batu sangkar
terdapat Istana yang megah yang menjadi tempat kunjungan baik
dalam maupun luar Negri. Mau tahu selengkapnya. Lest to Explore
Indonesia!!.

13 HOST (VO)

Kota Padang takkan pernah kehabisan pesona wisatanya. Selain


memiliki keunikkan di bidang alam dan kuliner, Kota Malinkundang
ini juga memiliki aneka ragam budaya yang menarik untuk
dipelajari. Terkait dengan ini salah satu wisata yang terkenal
dan banyak dikunjungi Wisatawan adalah istana Baso Pagaruyung

Sama seprti wisata pada umumnya Istana Pagaruyung ini mempunyai


harga tiket bila untuk memasukinya. Untuk harga tiket orang
dewasa dikenai biaya lima belas ribu, sedangkan harga orang
dewasa mancanegara seharga dua puluh lima ribu, Dan untuk anak-
anak dikenai harga sepuluh ribu rupiah dan untuk anak-anak
Mancanegara dikenai lima belas ribu rupiah

SCENE 8

CO-HOST MEMBELI TIKET DAN MENYAPA PEMIRSA

14 CO-HOST

Balik lagi bersama Dela, di belakang Della sudah ada Istana Baso
alias Istana Pagaruyung. Masih penasaran kan yuk kita kulik lagi.

sebelum kita kulik apa aja yang ada di dalam Istana. Nggak afdol
kalau kita belum nyobain memakai baju adat.

15 HOST (VO)

111
Di Istana ini juga menyediakan beraneka ragam baju adat. Bagi
sobat Explore yang ingin mencoba baju adatnya, sobat bisa merogoh
kocek seharga tiga puluh lima ribu sampai empat puluh ribu rupiah
tergantung jenis model pakaiannya.

SCENE 9

INT. DALAM ISTANA PAGARUYUNG

DENGAN MEMAKAI PAKAIAN ADAT CO-HOST MENELUSRI APA SAJ YANG ADA DI
DALAM ISTANA

16 CO-HOST

“Taraam... gimana sobat Eksplore? Della cantik kan hehehe..


sekarang yuk kita masuk!

Iya sobat, beginilah pemandangan yang ada di dalam Isana,

Istana inimempunyai tiga lantai, dan setiap lantainya ada ruangan


yang menyimpan banyak hal.

Di lantai pertama ada etalase-etalase yang menyimpan benda-benda


pusaka.

Di lantai kedua ada kamar yang disebut Anjuang Paranginan yaitu


kamar prerempuan Raja yang belum menikah

Di lantai ketiga tempatnya pusaka-pusaka yang disimpan dalam


kamar.”

CUT TO

SCENE 10

EXT. ROOFTOP KAFE

CLOSING ACARA YANG DISAMPAIKAN HOST

112
17 HOST

“Ada banyak cara untuk menunjukkan rasa Nasionalisme dalam diri


kita, yaitu dengan terus menggunakan produk buatan anak Negri dan
tentunya juga mengunjungi tempat-tempat yang ada di tanah Ibu
Pertiwi ini.
Iya sobat Explore tak terasa tiga puluh menit sudah kami menemani
sobat explore.

Sampai ketemu lagi di hari dan jam yang sama. Saya Maya Nanda
pamit undur diri. Lest to Explore Indonesia.”

THE END

113
3.3.7.4 Naskah Host

Tabel III.8 NASKAH HOST

Akademi Komunikasi Bina Sarana Informatika

Production Company : PETA Production Produser : Miftah Farid

Project Title : XPLORENESIA Director : Andre R

Durasi : 30 Menit Script : Bustomi A

NO SEGMENT VIDEO AUDIO DURASI REMARK

1 1 Host di “Hallo sobat


depan Eksplor....!!!
Cafe jumpa lagi
bersama Maya
Nanda dalam acara
XPLORENESIAA..!!!
Lest to eksplore
Indonesia!
Maya sekarang
sdang berada di
tempat nongkrong
yang asyik yaitu
di Warbox Cafe
yang berada di
bilangan Jakarta

114
Timur tepatnya di
daerah Condet.
Seperti biasa
selama tiga puluh
menit ke depan
Maya bakalan
ngajak sobat
eksplor buat
ngelilingi Tanah
Indonesia.

Yup Maya rasa


sobat Eksplore
udah nggak sabar
kan? Yuk ikutin
Maya!”

Cut to

2 1 Host “Well, di episode


masih di kali ini tempat
lantai yang akan kita
dua dan kunjungi adalah
disuguhi Kota Padang
kopi Sumatra Barat.
oleh bar
Kota yang khas
tender
dengan makanan
Rendang ini
memang sudah
terkenal memiliki
banyak tempat-
tempat wisata
yang unik dan

115
bersejarah.

Oke. Maya rasa


sobat Exlore udah
nggak sabar mau
lihat tempat apa
aja yang mau
diexplore!!.

Lets to Explore
Indonesia!!!”

Comersia Break

3 2 Host ”Kalau tadi kita


masih di sudah diajak
lantai mengeksplor Jam
dua dan Gadang Sekarang
disuguhi kita akan
kopi mengunjungi
oleh bar daerah Batu
tender Sangkar dan
Bukittinggi.

Tau nggak sobat?


Di daerah Batu
sangkar terdapat
batu yang ajaib
namanya Batu
Angkek-angkek.

Sedangkan di
Bukittinggi ada
jembatan yang
disebut

116
miniaturnya
tembok Cina.

Waduh tambah
penasaran kan?
Langsung aja yuk
Lets to Eksplore
Indonesia!!!”

Cut to

3 3 Host di “Nah sobat


lantai Eksplore kalo
tiga bicara tempat
wisata di Tanah
Minang tentu
tidak ada
habisnya. Mulai
dari tradisi,
tempat bersejarah
atau bahkan
istana semuanya
ada. Seperti yang
akan dikulik
rekan Maya yaiu
Della yang sudah
ada di Batu
sangkar. Di Batu
sangkar terdapat
Istana yang megah
yang menjadi
tempat kunjungan
baik dalam maupun
luar Negri. Mau

117
tahu
selengkapnya.
Lest to Eksplore
Indonesia!!.

Cut To

4 3 Host di “Ada banyak cara


lantai untuk menunjukkan
empat rasa Nasionalisme
dalam diri kita,
yaitu dengan
terus menggunakan
produk buatan
anak Negri dan
tentunya juga
mengunjungi
tempat-tempat
yang ada di tanah
Ibu
Pertiwi ini.
Iya sobat
Eksplore tak
terasa tiga puluh
menit sudah kami
menemani sobat
eksplore.

Sampai ketemu
lagi di hari dan
jam yang sama.
Saya Maya Nanda
pamit undur diri.
Lest to Ekplore

118
Indonesia.”

3.3.7.5 Naskah Voice Over

Tabel III.9 NASKAH VOICE OVER

Akademi Komunikasi Bina Sarana Informatika

Production Company : PETA Production Produser : Miftah Farid

Project Title : XPLORENESIA Director : Andre R

Durasi : 30 Menit Script : Bustomi A

NO VOICE OVER

1 SEGMEN I

(Kota Padang)

“Kota Padang adalah Kota terbesar yang ada di


pesisir barat Pulau Sumatra. Kota ini merupakan
Ibu kota Provinsi Sumatra Barat dengan luas
694,96 kilomenter.

Kata Padang dalam bahasa Minang berarti “Padang”


yang bisa juga mengartikan “Lapangan”.

Kota yang terkenal dengan cerita Siti Nurbaya


ini mempunyai pesona alam nan luar biasa.”

2 Jam Gadang

“Bagi sobat Eksplore yang pernah ke Kota


Bukittinggi, tentu tidak asing lagi dengan yang
namanya Jam Gadang.

119
Ya, jam Raksasa ini disebut-sebut kembaran dari
Jam Big Ben yang berada di Inggris.

Tinggi bangunan ini mencapai 26 meter.

Jam yang menjadi Ikon Bukittinggi ini dibangun


pada tahun 1926 oleh arsitek Yazid dan Sutan
Gigi Ameh.

Pada keempat sisi puncaknya terdapat empat buah


jam dengan diameter 80 centimeter, jam ini
merupakan hadiah dari Ratu Belanda kepada
sekretaris kota pada saat itu.

Yang menjadi keunikkan dari jam ini adalah angka


empat pada Jam Gadang yang tidak mengikuti
kaidah angka Romawi pada umumnya. Banyak yang
mengaitkan dengan hal-hal tahayul. Namun sampai
saat ini tidak ada rujukkan pasti mengenai hal
itu.”

3 Segment II

(Batu Angkek-angkek)

“Batu sangkar selama ini terkenal dengan


panorama alam nan mempesona. Selain itu terdapat
juga ciri khas dari Negri Ranah Minang ini.
Yaitu Batu Angkek-angkek yang terdapat di sebuah
Rumah Gadang keturunan Datuak Bandaro Kayo di
Nagarai Balai Tabuh, Kabupaten Tanah Datar.
Konon katanya Batu ini mempunyai berat yang
berubah-ubah.

Batu berbentuk cangkang Kura-kura ini berwarna


Hitam dan mempunyai lubang kecil di tengahnya.

120
Di permukaannya yang berwarna tembaga ada
tulisan lafadz Allah dan Muhammad.

Batu Angkek-angkek yang mempunyai arti angkat-


angkat ini dipercaya

Masyarakat sekitar mempunyai kekuatan gaib yang


mampu meramal nasib seseorang, dengan cara
mengangkat batu tersebut. Bila seseorang yang
berhasil mengangkat batunya maka niat dan
keinginannya bisa tercapai. Namun sebakliknya,
bila seseorang tidak berhasil mengangkatnya maka
niat dan keingiannya tidak akan terkabul.”

4 Dalam Rumah Batu Angkek-angkek

Selain Batu Angkek-angkek Rumah peninggalan


Datua Bandaro Kayo ini juga menyediakan alat-
alat kerajinan tangan yang dijual. Di setiap rak
yang berjajar rapi kita bisa melihat alat-alat
berupa tas, gantungan kunci, sepatu dan
aksesoris lainnya.

5 Segmen II

(Janjang Saribu)

Kita kembali lagi ke Bukittinggi, kota ini


banyak sekali menawarkan tempat wisata bagi para
pengunjung. tempat yang direkomendasikan
Xplorenesia adalah Janjang Saribu. Mungkin
beberapa orang masih bertanya tentang wisata
ini. Faktanya, memang masih belum banyak orang
yang tahu dengan tempat wisata ini. Yang paling
unik adalah, kemiripan konsep yang dimiliki
kawasan wisata ini dengan Tembok besar yang ada

121
di Cina. Sekaligus wisata ini bisa dijadikan
tempat pengganti mnikmati Tembok Cina dengan
biaya yang relative murah.

Cut TO

Selain memiliki jumlah anak tangga yang banyak.


Janjang Saribu memiliki panorama yang
menkjubkan. Bila dilihat dari atas jembatan.
Kita bisa melihat hamparan lembah nan hijau,
daerah Ngarai Sianok dan Gunung Singalang. Benar
saja, bila kita terus telusuri anak tangga
dengan tembok yang berwarna abu-abu di sisi
kanan dan kiri membuat kita tak akan heran
destinasi tempat ini mendapat julukan The Great
Wall Of Koto Padang.

Segment III

(Istana Pagaruyung)

Kota Padang takkan pernah kehabisan pesona


wisatanya. Selain memiliki keunikkan di bidang
alam dan kuliner, Kota Malinkundang ini juga
memiliki aneka ragam budaya yang menarik untuk
dipelajari. Terkaitdengan ini salah satu wisata
yang terkenal dan banyak dikunjungi Wisatawan
adalah isstana Baso

122
3.3.7.6 Rundown Program

Tabel III.10 Rundown Program

Akademi Komunikasi Bina Sarana Informatika

Production Company : PETA Production Produser : Miftah Farid

Project Title : XPLORENESIA Director : Andre R

Durasi : 30 Menit Script : Bustomi A

No Segmen Waktu/durasi Video Audio Subjek Keterangan

1 5” VTR VTR Colour bar

2 5” VTR VTR Logo bsi

3 5” VTR VTR Id program

123
4 5” VTR VTR Counting
leader

5 15” VTR VTR Bumper in

6 1’30” VTR LIVE Opening host


menjelaskan
segmen
pertama

7 1’00” VTR VO Menampilkan


jam gadang

8 30” VTR LIVE Co-host


menyapa di
jam gadang

9 20” VTR VO Menampilkan


I
isi dari jam
gadang

10 1’00” VTR LIVE Co-host


menjelaskan
dari tiap
ruang jam
Gadang

11 45” VTR LIVE Co-host ke


puncak jam
Gadang

5” VTR VTR Bumper Out

Total Durasi Segment I 5’58”

--Comersial Break--

12 5” VTR VTR Bumper in

124
13 VTR LIVE Host
menjelaskan
segmen
kedua

14 48” VO Menampilkan
Rumah
Gadang Batu
angkek-
angkek

15 1’42” VTR LIVE co-host


mengangkat
batu angkek-
angkek

16 38” VTR VO Menampilkan


jembatan
II
Janjang
saribu

17 15” VTR LIVE Co-host


menyapa
pemirsa di
jembatan
Janjang
saribu

18 VTR VO Menampilkan
jembatan
saribu

19 VTR VTR Bumper Out

Total Durasi Segmen II 6’52”

==Comersial Break--

125
20 5” VTR VTR Bumper ini

21 1’00” VTR LIVE Opening host


menjelaskan
segment ke
tiga

22 1’00” VTR VO Menampilkan


istana
pagaruyung

23 1’35”” VTR LIVE Co-host


menyapa di
istana
pagaruyung

24 2’05” VTR VO Menampilkan


lantai
pertama

25 2’05” VTR LIVE Co-host


menjelaskan
III lantai kedua

26 2’10” VTR LIVE Co-host


menjelaskan
lantai ke tiga

27 3” VTR VTR Bumper Out

28 55” VTR LIVE Closing host


studio

29 5” VTR VTR Credit title

30 5” VTR VTR Copyright

Total durasi segment III 12’08”

3.4 Proses Camera Person

126
Seorang camera person bisa disebut juga penata kamera mempunyai tugas dan

tanggung jawab untuk semua aspek teknik dalam pengambilan gambar berupa

pemotretan maupun merekam gambar. Penulis sebagai penata kamera dalam produksi

non drama XPLORENESIA mempunyai tanggung jawab besar atas keseluruhan

pengambilan gambar dan bekerja sama dengan rekan setim terlebih khusus kepada

pengarah acara agar tercapainya sebuah karya yang baik dan layak di nikmat oleh

masyarakat.

Selain bisa disebut sebagai penata kamera, camera person memiliki sebutan lain

seperti cameramen.

Menurut Kusumawati dkk (2017:68) “Kameraman adalah seseorang yang

bertugas merekam gambar dengan menggunakan perangkat keras kamera video yang

direkam melalui pita video, memory, hard disk atau media penyimpan lainnya sesuai

denganarahan pengarah acara atau pengarah acara”.

Menurut penulis tidak hanya bertugas dan bertanggung jawab dalam

pengambilan gambar yang ia rekam, seorang penata kamera juga harus paham dengan

ilmu dasar teknik kamera serta berkerja sama dengan pengarah acara dalam upaya

penerjemahan dari bahasa tulisan kebahasa visual. Sudut pengambilan gambar amat

menentukan dalam menentukan keberhasilan penyampaian pesan dalam program

yang telah dibuat.

127
Sedangkan menurut Rusman dan Yusiatie (2017:131) menyatakan bahwa

“cameramen adalah orang yang bertanggung jawab atas pengambilan gambar untuk

program televisi”.

Dalam produksi program televisi non drama magazine XPLORENESIA

penulis sebagai penata kamera mempunyai tugas yaitu merekam gambar yang

dibutuhkan dari awal hingga akhir shooting dan bekerja sama dengan pengarah acara

dalam menentukan sudut pengambilan gambar. Serta memperbanyak stock shoot

untuk mempermudah penyunting gambar memilih hasil gambar dalam proses

penyuntingan gambar.

Jadi penulis disini menarik kesimpulan bahwa penata kamera bertugas dan

bertanggung jawab dalam pengambilan gambar berdasarkan description yang telah

ditentukan dan mengoperasikan kamera untuk merekam gambar dalam film, video

maupun media lain sesuai perintah dari pengarah acara.

3.4.1 Pra Produksi

Segala hal dalam menciptakan suatu karya harus melalui tahap pra produksi,

yaitu kegiatan perencanaan yang cukup berperan penting dalam kelancaran proses

produksi. Dalam proses pra produksi ini, penulis bersama dengan tim melakukan

pencarian tema yang akan dibuat

Dalam tahap pra produksi penulis sebagai seorang penata kamera mempelajari

semua naskah yang telah dibuat dan disepakati bersama dengan pengarahan dari

pengarah acara untuk dapat memikirkan sebuah shot yang akan dibuat dalam program

non drama “ Xplorenesia”.

128
Sedangakan menurut Kusumawati dkk (2017:69) “Tahap pra produksi

merupakan tahap yang paling menentukan hasil gambar yang baik”.

Menurut kutipan diatas penulis mengartikan bahwa dalam tahap inilah tahap

yang paling penting. Semua hal, mulai dari ikut serta dalam pembuatan ide dan

gagasan dan mempelajari naskah yang akan di produksi serta menyiapkan kamera apa

saja yang diperlukan sesuai konsep yang diangakat dan mengilustrasikan naskah

kedalam bentuk gambar dan tata letak kamera kepada tim agar terciptanya hasil

gambar yang diinginkan.

Dalam proses pra poduksi produser mulai melakukan beberapa kegiatan untuk

mengumpulkan berbagai data yang diperlukan sebagai bahan pengembangan gagasan

yang lebih mendalam. Setelah produser, penulis naskah dan pengarah acara sudah

menentukan rencana apa yang akan di angkat.

Langakah selanjutnya penata kamera bersama produser, penulis naskah dan

pengarah acara, penata artistik, penata audio, penata cahaya serta penyunting gambar

yaitu melakukan casting host. Membuat anggarandan melakukan riset lokasi apa saja

yang dibutuhkan dalam naskah yang telah disepakati bersama, serta penulis sudah

mendapatkan instruksi dari pengarah acara kira-kira kebutuhan agambar apa saja

yang akan direkam dan angle apa saja yangdibutuhkan dalam program ini dalam

produksi televisi non drama magazine XPLORENESIA.

Setelah terciptanya kesepakatan diatas tim membuat surat perizinan lokasi dan

survey lokasi untuk bertemu narasumber dengan bersumber dari berbagai info dan

data yang didapatkan, serta berkonsultasi dengan dosen pembimbing Tugas Akhir.

129
Kami melakukan riset pertama kali ke daerah batu sangkar. Untuk bertemu beberapa

narasumber selaku seseorang yang menjaga dan melestarikan sejarah serta

berkunjung kebebrapa tempat wisata didaerah batu sangkar. Kami berserta tim

berkunjung ke Istana Baso Pagaruyung, Batu Angke-angke dan melanjutkanya

kebeberapa daerah lain di Sumatra Barat. Akhirnya tim memutuskan untuk

menganggkat tema wisata sejarah di Sumatra Barat dalam program non drama

XPLORENESIA. Serta menentukan kesepakatan trasnportasi dan waktu produksi

yang ditentukan agar terciptanya kelancaran dalam suatu proses produksi

Kesimpulan pada tahap ini penata kamera akan melakukan beberapa pekerjaan

yang bersifat teknis maupun non teknis seperti, mempersiapkan fasitas yang akan

mendukung jalannya proses produksi (pemilihan kamera, peralatan penunjang,

memilih lensa dll) membuat desain kreatif meliputi riset, merangkai storyboard dan

floorplan, membuat shot list, mempelajari naskah yang akan diproduksi, mepelajari

teknis produksi khususnya teknis kamera, diskusi dengan pengarah acara untuk

mencapai visi dan misi produksi yang sama.

3.4.2 Produksi

Ini adalah tahap paling penting bagi seorang penata kamera untuk mempelajari

naskah dan director treatment untuk menjadi acuan seorang penulis dan

mendiskusikan angle dan teknik pengambilan gambar kepada pengarah acara.

Menurut Kusumawati dkk (2017:75) “Segala perencanaan yang telah

dipersiapkan dalam tahap pra produksi, akan di realisasikan pada tahap produksi.

Seorang penata kamera akan memantau pengarah acara atau pengarah acara untuk

130
menerjemahkan bahasa tulisan kedalam bahasa visual. Setiap gambar yang dihasilkan

sangatlah penting terhadap pesan dan informasi apa yang akan disampaikan kepada

penonton”.

Teknis dan angle pengambilan gambar adalah kunci utama produksi, karena itu

pada sebuah karya program televisi non drama magazine XPLORENESIA kualitas

gambar dan suara yang disajikan kepada audien. Jadi penulis sebagai penata kamera

bisa disebut sebagai panjang tangan dari pengarah acara yang dipercaya untuk

mengambil gambar. Penulis menguasai dasar-dasar pengambilan gambar adalah

syarat untuk menjadi penata kameara, karena penulis harus memahami apa yang

harus dilakukan sesuai intruksi pengarah acara dan dapat bekerja sama dengan baik

kepada semua kru produksi.

Dalam program non drama televisi XPLORENESIA ini pengambilan gambar

diambil dengan menggunakan tripot, slider, handheld, dan flycam.

Dalam produksi non drama televisi ini pengambilan gambar 60% (enam puluh

persen) menggunakan handheld sedangkan 40% (empat puluh persen) menggunakan

tripot, flycam, dan actioncam. Penggunakan kamera ini pun disesuaikan dengan

kebutuhan pengambilan gambar outdoor dan indoor dikarenakan ini sangat praktis.

Adapun kamera bantu yaitu go pro hero 4 dan drone bugs tree. Akan tetapi

penulis sebagai penata kamera lebih banyak menggunakan handheld dikarenakan

penulis sebagai penata kamera ingin mengembangkan pengambilan gambar dan lebih

menyesuaikan dengan konsep acara non drama magazine XPLORENESIA yang

mengangkat wisata sejarah, namun tetap menjaga kualiatas gambar agar tidak

131
shaking, juga memperhatikan hal-hal yang bersifat teknis maupun non teknis untuk

menciptkan tontonan yang tidak membosankan dan monoton.

Ada beberapa istilah dalam pergerakan kamera untuk seorang penata kamera

menurut Kusumawati dkk (2017:99) menyatakan bahwa movement (pergerakan

kamera) pergerakan kamera (camera movement) sangat penting dilakukan oleh penata

kamera, yaitu:

1. Panning
Panning adalah teknik pengambilan gambar dengan cara membelokan

badan kemera secara horizontal tanpa merubah posisi kamera.


2. Tilting
Tilting adalah teknik pengambilan gambar dengan cara menggerakan badan

kamera secara vertical.


3. Tracking
Tracking adalah teknik yang dilakukan daengan caramendekatkan

kameradengan objek atau menjauhkan kamera dari objek.


4. Zooming
Zooming adalah teknik pergerakan lensa kamera yang dilakukan dengan

menggunakan tombol wide angle (W) dan tombol tele (T)


5. Arching
Arching adalah teknik pengambilan gambar dengan cara bergerak

mengelilingi objek, gerakan ini dapat dilakukan dengan setengah lingkaran

atau satu lingkaran penuh.

6. Crane
Crane adalah teknik pengambilan gambar dengan alat penyanggah yang

disebut crane, jimmy jip atau portal jip.


7. Crabbing
Crabbing adalah pergerakan kamera dengan cara bergerak kecamping ke

kanan atau ke kiri layaknya kepiting yang sedang berjalan.

132
Menurut penulis sebagai penata kamera, selain sebagai seorang yang

menggambil gambar dalam program non drama magazine show XPLORENESIA

harus mampu mengerti pergerakan kamera diatas, untuk sebuah patokan dalam

pengarahan yang dilakukan pengarah acara dalam proses produksi berlangsung.

Penulis sebagai penata kamera menggunakan teknit diatas agar tercipta gambar yang

dinamis dan enak dilihat oleh audience.

Kesimpulan dari beberapa tugas penting penata kamera pada tahap produksi

adalah mengoperasikan kamera dan merekam gambar pada saat produksi, bekerja

sama dengan pengarah acara pada saat proses pengambilan gambar agar sesuai

dengan nasakah, memberikan masukan kepada pengarah acara atau pengarah acara

untuk menghasilkan gambar yang terbaik, selalu menjaga kontinuitas gambar,

bertanggung jawab menjaga kamera selama proses produksi agar kamera tetap pada

kondisi normal dan siap digunakan, selalu bekerja sama dengan semua tim produksi

untuk mencapai hasil yang terbaik.

3.4.3 Paska Produksi

Setelah melewati tahap pra produksi dan produksi, tim segera melakukan tahap

pasca produksi. Dalam tahap paska produksi ini penulis sebagai penata kamera memberi

masukan kepada penyunting gambar mengenai stock gambar yang digunakan dalam

program non drama XPLORENESIA.

Menurut Kusumawati dkk (2017e:77) menyatakan bahwa:

dalam tahap pasca produksi tidak banyak hal yang dilakukan oleh penata kamera.
Penata kamera dalam tahap ini juga bertugas untuk menyusun camera report

133
untuk mempermudah pekerjaan penyunting gambar. Segala informasi yang telah
dilakukan dalam proses produksi dilaporkan lengkap dengan keterangan hasil
produksi.

Pada proses paska produksi ini penulis sebagai penata kamera masih

mempunyai tugas dan kewajiban dalam produksi dikarenakan masih harus bekerja

sama dengan penyunting gambar guna melengkapi program dengan stock shot yang

telah diambil kemudian akan di proses oleh penyunting gambar dan pengarah acara

sehingga di dapat sebuah program yang telah di sepakati bersama. Pada proses paska

produksi ini penulis juga harus mampu memberikan hasil akhir gambar kepada

penyunting gambar untuk melengkapi program dengan dengan stock shot yang diambil

dalam proses produksi sehingga penyunting gambar mampu menjelaskan secara visual

gambar yang akan di editnya.

Bisa disimpulkan bahwa tugas penata kamera di tahap pasca produksi adalah

melakukan pengecekan kembali peralatan kamera yang telah digunakan, membuat

laporan produksi kamera (camera report) untuk kebutuhan pasca produksi, memberikan

semua hasil gambar kepada penyunting gambar, melakukan perawatan kamera

(maintenance) agar kamera dapat digunakan pada produksi lainya

134
3.4.4 Peran dan Tanggung Jawab Camera Person

Penulis sebagai penata kamera mempunyai peran dan tanggung jawab tersendiri

seperti profersi lainya penata kamera adalah sebagai crew produksi televisi yang

mempunyai tanggung jawab yang spesifik.

Berbicara mengenai bagaimana pekerjaan suatu profesi, berarti akan membahas

tentang tugas dan tanggung jawab yang spesifik. Pada umunya seorang penata

kameara tidak bekerja sendiri (kecuali untuk hal tertentu), dan secara umum tugas dan

tanggung jawab penata kamera antara lain berdiskusi dengan produser serta pengarah

acara untuk rencana me pembahasan konsep produksi, mempelajari naskah yang

sudah dibuat, menginterpretasikan bagaimana supaya mendapat gambar yang baik,

memilih peralatan kamera serta penunjangnya, bekerja sama dengan pengarah acara

pada saat proses shooting, melakukan pengambilan gambar dengan baik dan

bertanggung jawab.

Jadi kesimpulan dari peran dan tanggung jawab seorang penata kamera sangat

penting berpengaruh dengan apa yang telah dihasilkan pada saat pra produksi,

produksi dan paska produksi. Penulis juga membantu suteradara dalam upaya

menerjemahkan bahasa tulisan kedalam bahasa visual melalui pemilihan angle,

komposisi dan pergerakan kamera serta pencahayaan.

Dalam produksi program TV non drama “Xplonesia” peran dan tanggung jawab

penulis sangat penting.

135
Dalam tahap pra produksi penulis sebagai penata kamera ikut serta menuangkan

ide-ide kreatif, gagasan dan mendiskusikan shot demi shot dengan pengarah acara

untuk pengambilan gambar saat produksi.

Dalam tahap produksi penulis sebagai penata kamera harus ada dalam produksi

berlangsung agar terciptanya proses produksi utnuk menghasilkan gambar yang sudah

ada dalam director treatment, serta bertanggung jawab penuh akan peralatan yang

digunakan dalam produksi maupun hasil gambar yang direkam.

Dalam tahap paska produksi penulis sebagi penata kamera ikut membantu

penyunting gambar memilih shot demi shot untuk kebutuhan penyuntingan gambar.

136
3.4.5 Proses Penciptaan Karya

Penulis dalam produksi non drama televisi yang berjudul XPLORENESIA,

bertugas menjadi penata kamera dalam produksi non drama ini dikarenakan penulis

sangat tertarik untuk menekuni profesi tersebut, hal ini merupakan tantangan bagi

penulis untuk menghasilkan sebuah karya non drama yang menarik untuk dlihat bagi

penonton non drama televisi yang kami buat. Penulis juga ingin menerapkan ilmu

yang sudah di berikan oleh dosen pengajar di kampus dan dengan referensi buku

mengenai ilmu kamera tentang cara pengambilan gambar yang baik. Meskipun ilmu

serta pengalaman sebagai penata kamera belum begitu banyak untuk bisa menjadi

penata kamera yang handal, tetapi penulis terus belajar dan berusaha banyak mencari

pengalaman agar bisa membuat karya yang baik dan penonton yang melihat akan

mengerti karya yang telah dihasilkan selain itu penulis juga sering menonton acara

TV non drama ditelevisi dengan memperhatikan type shot, angle kamera, gerakan

kamera, tata cahaya untuk dipelajari dan diterapkan dalam produksi acara non drama

ini.

137
A. Konsep Kreatif

Dalam program TV non drama magazine XPLORENESIA produser, pengarah

acara, penulis naskah dan crew lainya menentukan tujuan program yang akan dibuat

dan sumatra barat lah tujuan yang akan dikunjungi oleh XPLORENESIA.

Penulis sebagai penata kamera berperan penting juga dalam memberi konsep

kreatif, terutama dalam pengambilan gambar. Hal yang harus penata kamera lakukan

adalah memberi angle yang menarik untuk penonton agar penonton tidak merasa

jenuh, dan seorang penata kamera juga mempunyai rasa (sense of art) kreatifitas

dalam menciptakan dalam sebuah gambar dengan komposisi kita juga membangun

“mood“ suatu visual dan keseimbangan objek.

Pengambilan gambar XPLORENESIA terinspirasi dari acara program

Weekend List yang di produksi NET TV, karena program memiliki pengambilan

gambar yang unik, bagus dan kreatif.

B. Konsep Produksi

Bicara dengan konsep produksi penata kamera, konsep yang kami buat dalam

program non drama magazine XPLORENESIA penulis penekan kan kepada hal

yang bersifat wisata, sejarah dan informasi, edukasi. Segi pengambilan gambar,

teknis, angle, komposisi gambar, warna, pergerakan kamera, hingga pencahayaan

lighting, hal ini tentunya tak terlepas dari sebuah prosedur serta kerja sama tim dalam

penciptaan sebuah konsep yang dibuat dari sebuah naskah menjadi bentuk audio
visual serta layak dinikmati, karena tanpa adanya konsep sebuah karya akan terasa

hambar, tanpa makna.

Konsep produksi memiliki peranan penting dalam membawa kemana program

mengarah . Penata kamera sangat dituntut untuk memiliki kecakapan dalam hal

pengambilan gambar pada situasi sesulit apapun.

Sebagai penata kamera dalam proses produksi mempunyai tanggung jawab

menyiapkan alat-alat yang dibutuhkan saat produksi. Seperti kamera dan tripod,

konsep pada saat produksi sebagai penata kamera sudah seharusnya mengikuti

pengarah acara dalam pengambilan gambar yang pengarah acara inginkan, penata

kamera juga harus menyiapkan stock shot sebanyak mungkin agar mempermudah saat

pengeditan mengambil gambar sebagus mungkin untuk hasil memuaskan.

C. Konsep Teknis

1. Pemilihan Peralatan

Pemilihan bahan yang dibutuhkan dalam pembuatan produksi ini adalah 2

memory card dan untuk pemakaian kamera menggunakan Sony VG 30 dan kamera

Sony MC 2500, 2 memory card cannon

2. Persiapan Peralatan

Peralatan yang di butuhkan oleh penata kamera dalam produksi non drama “
a. kamera SONY baterai dan charger

b. memory card 2 Unit

c. kamera Sony VG 30 2 Unit

d. kamera MC 2500 2 Unit

e. kamera digital cannon(BTS) 2 Unit

f. Tripod 1 Unit

3. Teknik-Teknik Pengambilan Gambar

a. Diantara jenis pengambilan angle kamera adalah :

1. High angle

Pengambilan gambar dengan posisi kamera lebih tinggi dari objek yang di ambil

2. Low angle
Pengambilan gambar dengan posisi kamera lebih rendah dari objek yang di ambil

3. Normal angle( eye level )

Sudut pengambilan gambar yang menunjukkan posisi kamera sejajar dengan

ketinggian mata objek yang diambil.


4. Bird Eye

Teknik pengambilan gambar dengan posisi dari ketinggian objek,

memperlihakan lingkungan yang luas.

5. Frog Eye

Pengambilan gambar dengan ketinggian sesuai dengan dasar dudukan atau

lebih rendah dari kedudukan objek.

b. Diantara jenis pengambilan jenis-jenis shot adalah :

1. ECU (Extreme Close Up)

Pengambilan suatu gambar sebesar mungkin yang menampilkan bagian tertentu

dari tubuh manusia atau menampilkan detail objek.

2. BCU (Big Close Up)

Pengambilan gambar pada daerah kepala untuk menunjukan sifat-sifat yang

tercermin dari wajah seseorang atau bagian dari wajah.

3. CU (Close Up)

Pengambilan gambar dari dekat yang menonjolkan bagian kepala dan bahu,
atau pemandangan suatu objek gambar dari dekat.

4. MLS (Medium Long Shot)

Pengambilan gambar yang menampilkan lutut sampai keatas kepala

5. MS (Medium Shot)

Pengambilan gambar sebatas kepala hingga pinggang


6. LS (Long Shot)

Pengambilan gambar dari jarak yang cukup jauh hingga seluruh pemandangan

dapat ditampilkan semua didalam gambar atau memberi kesan kedalaman.

7. ELS (Extreme Long Shot)

Pengambilan gambar yang menampilkan objek keseluruhan tapi terlihat jauh.

8. FS (Full Shot)

Pengambilan gambar dari objek secara penuh dari kepala hingga kaki dengan

ruang gerak objek sempit.

9. GS (Group Shot)

Pengambilan gambar yang mengutamakan suatu kelompok orang sbgai objek

gambarnya.

10. ES (Establishing Shot)

Pengambilan gambar dengan menggunakan sudut pengambilan gambar yang

besar. Garis Imajiner.


3.4.6 Kendala Produksi dan Solusinya

a. Mencari lokasi shooting, dengan tidak sama sekali tau lokasi, solusinya

sebelum melakukan produksi mencari informasi melalui internet untuk

membantu dalam pencarian lokasi.

b. Penulis dalam menjalaankan produksi menggunakan konsep hand held maka

gambar banyak yang goyang atau shaking (goyang). Solusinya mengatur satu

kali nafas dalam mengambil shooting dan merapatakan tangan pada gengaman

kamera agar kamera tidak mudah goyang

c. Pada saat produksi penulis sebagai camera person mengikuti host berjalan dan

saat itu keadaan pencahayaan tidak merata. Solusinya saya bekerja sama

dengan penata cahaya untuk menggunakan lampu led portable agar mudah

dipindahkan dan dibaawa untuk ikut serta mengikuti host agar pencahayaan

tetap stabil mengarah ke host .


3.4.7 Lembar Camera Person

a. Konsep Camera Person

Penulis sebagai Camera person atau bisa disebut juga penata kamera pada

proses pra produksi, produksi, dan paska produksi tentunya mempunyai ide dan

konsep-konsep yang tentunya telah di laluinya dalam ketiga proses tersebut diatas.

Adapun tiap-tiap proses baik pra produksi, produksi, dan paska produksi telah

mempunyai kesulitan sendiri-sendiri akan tetapi penulis selaku penata kamera

tentunya telah mengkoordinasikan segala sesuatunya bersama tim sehingga proses

kesulitan tersebut dapat dilalui. Adapun hambatan-hambatan yang terjadi pada proses

pra produksi, produksi dan paska produksi diantaranya telah menjadikan penulis

sebuah pengalaman kerja yang nantinya akan dijadikan motivasi untuk proses kerja

selanjutnya.

Adapun penulis mnggunakan sebagai sumber ide, baik yang beasal dari proses

pribadi maupun dari pengalaman orang lain yang sekiranya dapat di terapkan dalam

proses produksi program ini. Penulis sebagai penata kamera akhirnya tahu benar

bahwa konsep dan ide serta pemikiran-pemikiran yang jernih mampu membuat proses

produksi menjadi lebih mudah yang tentunya dengan hasil yang memuaskan.
3.4.7.2 Camera Report

Tabel III. Camera Report

AKADEMI KOMUNIKASI BINA SARANA


INFORMATIKA

Production Company : BSI Produser : Muhammad Miftah Farid

VISUAL
Project Title : XPLORENESIA Sutradara : Andre Rinaldi
NO SEGMEN CAM VIDEO NOTES

Durasi :SHOT
24 Menit ANGLE
Penata MOVING
Kamera : Alam Tauhid

SIZE

Eye Host
1 1 1 MLS Angle Pen Right berjalan OK

Eye Host
2 1 1 MS Angle Pen Right berjalan OK

Eye Host
3 1 1 MS Angle Still opening 1-2 : C

3 : OK

Eye Host
4 1 1 MCU Angle Still opening 1-2 : C

3 : OK
1-
Host 2 :
5 1 1 MLS Eye Angle Follow berjalan C
3 :
OK

1-
Host 2 :
6 1 1 MLS Eye Angle Pen Left berjalan C
3 :
OK

Host
7 1 1 MS Eye Angle Still menjelaskan OK
Acara hari
ini

Pemandanga
8 1 1 XLS Bird Eye Track in n OK
Pinggir
Level pantai

Pemandanga
9 1 1 LS Frog Eye Crab Lift n OK
gunung

Pemandanga
10 1 1 XLS Bird Eye Crab n OK
Kota
level Right Padang
Track Jam
11 1 1 XLS Bird Eye Out Gadang OK
level

Jam
12 1 1 MS Eye Frog Still Gadang OK
13 1 1 MCU Eye angle Still Co Host OK

14 1 1 MLS Eye angle Low angle Co Host OK


Menyapa dan
Mengajak ke
Jam gadang

15 1 1 MCU Eye Angle Still Co Host 1:C


Berada di
Lantai 1 2:
OK

16 1 1 MS Eye Angle Still Co Host 1:C


Berada di
2:
Lantai 1
OK

17 1 1 LS Frog Eye Till up Co Host 1:C


Level Naik tangga
2:
OK

18 1 1 MCU Eye Angle Still Co Host 1:C


Berada di
Lantai 3 2:
OK

19 1 1 MS Eye Angle Still Co Host OK


Menjelaskan
Bagian Lt. 3
20 1 1 MS Eye Angle Still Co host OK
Berada di
Lantai 4

High
21 1 1 LS Angle Pen left Pemandangan OK
Dari atas
Jam gadang

22 1 1 LS Low Angle Zoom Out Co Host OK


Dia atas
Jam gadang

23 2 1 MS Eye Angle Still Host OK


Menjelaskan
Segmen 2

24 2 1 MCU Eye Angle Still Host OK


Menjelaskan
Segmen 2
25 2 1 MLS Eye Angle Pen left Co Host OK
sedang
berjalan ke
Tempat batu
angke -
angke

High
26 2 1 MS Angle Still Co Host OK
Mencoba
Mengangkat
Batu
Angke-angke

27 2 1 MCU Eye Angle Still Co Host OK


Mencoba
Mengangkat
Batu angke-
angke

28 2 1 LS Eye Angle Still/ Co Host OK


Menjelaskan
Batu
Angke-angke

29 2 1 MS Eye Angle Still Co Host OK


Menyapa
Di Janjang
Saribu

30 2 1 MS Eye Angle Still Co Host OK


Berada di
Puncak
janjang
saribu

31 2 1 XLS Low Angle Zoom Out Co Host OK


Berada di
Atas
jembatan

32 3 1 XLS Bird Eye Track in Panorama OK


Level Bukit tinggi

Panorama
33 3 1 XLS Eye Angle Pen Leftl bukit OK
Dan rumah
Gadang

34 3 1 XLS Bird Eye Track out Istana OK


Leve Pagaruyung

35 3 1 LS Eye angle Still Co Host OK


Membeli
Tiket

36 3 1 LS Eye Angle Still Co Host OK


Di depan
Istana
Pagaruyung
Eye
37 3 1 MCU Angle still Co Host OK
Di depan
Istana
Pagaruyung

Eye
38 3 1 MS Angle Still Co Host OK
menjelaskan
tentang baju
Adat
Yang di
pakai

Eye
39 3 1 MCU Angle Still Co Host OK
menjelaskan
tentang baju
Adat
Yang di
pakai
Host
40 3 1 MCU Eye angle Pen Left berjalan Ok
Ke arah
kamar
Raja

Host
41 3 1 MS Eye Angle Still menjelaskan Ok
Tentang
kamar

Raja

Eye Host
42 3 1 MCU Angle Pen Right berjalan Ok
Ke arah
Tempat
penyimpanan

Eye Host
43 3 1 MS Angle Still ditempat Ok
Penyimpanan
Raja

Low
44 3 1 XLS Angle Zoom Out Host berada Ok
Di jendela
Istana

Eye
45 3 1 MCU Angle Still Host memilih Ok
Baju di
distro
Host
46 3 1 MLS Low Angle Still berjalan Ok

47 3 1 MS High Angle Stiil Host opening Ok


Segmen 3
48 3 1 MS Low Angle Still Host opening Ok
Segmen 3

Host
49 3 1 MCU Eye level Still menjelaskan Ok
Segmen 3

50 3 1 MS Eye level Pen left Hos berjalan Ok

Host naik
51 3 1 LS Low Angle Till Up tangga Ok

52 3 1 MCU Eye Level Still Host closing Ok


Program

53 3 1 CU Eye level Still Host closing ok


Program
3.4.8 Floor Plan

a. Bagian depan dari Warbox.


Catatan :

1. Bagunan warbox
2. Host
3. Camera 1
4. Camera 2

b. Mini Bar Warbox.


Catatan :
1. Bartender
2. Host
3. Camera 1
4. Camera 2
5. meja
c. Mini Bar Warbox.
Catatan :

1. Host
2. bartender
3. Camera 1
4. Camera 2
5. meja
d. Private Room Warbox.
Catatan :

1. LCD
2. Tenda
3. Host
4. Camera 1
5. Camera 2
6. Bantal
e. Jam gadang.
Catatan :

1. Jam gadang
2. Camera 1
3. Camera 2
4. Host
f. .pintu masuk lantai 1 jam gadang.
Catatan :

1. Pintu
2. Host
3. Camera 1
4. Camera 4
g. Lantai 3 mesin jam gadang.
Catatan :

1. Mesin jam
2. Host
3. Camera 1
4. Camera 2
h. Lantai 4 lonceng jam gadang.
Catatan :

1. Host
2. Camera 1
3. Camera 2
i. Luar Istana Pagaruyung.
Catatan :

1. Istana
2. Host
3. Camera 1
4. Camera 2
j. Tempat ganti pakaian adat.
Catatan :

1. Tempat pakaian
2. Host
3. Camera 1
4. Camera 2
k. Lantai 2 istana.
Catatan :

1. Host
2. Camera 1
3. Camera 2
l. Tempat penyimpanan istana lantai 4.
Catatan :

1. Host
2. Camera 1
3. Camera 2
4. Lemari
m. Depan rumah batu angke-angke.
Catatan :

1. Host
2. Cammera 1
3. Camera 2
4. Rumah batu angke-angke
n. Tempat batu angke-angke.
Catatan :

1. Tirai
2. Host
3. Batu angke-angke
4. Camera 1
5. Camera 2
o. Janjang saribu bagian bawah.
Catatan :

1. Host
2. Camera 1
3. Camera 3
p. Bagian atas janjang saribu.
Catatan :

1. Host
2. Camera 1
3. Camera 2
4. Gunung
5. Tembok
3.5 Proses Kerja Penyunting Gambar

Peran seorang penyunting gambar ataupun editor adalah bagaimana

mengemas atau membungkus materi pengambilan gambar untuk kemudian di

susun kembali menjadi sebuah jalinan cerita dalam suatu penggarapan program

acara televisi dan harus bertanggung jawab penuh pada saat tahap pasca produksi.

Seorang penyunting gambar harus betul-betul mampu menata ulang

potongan-potongan gambar yang diambil oleh juru kamera. Proses penyuntingan

gambar dapat dilakukan jika shot (stok shot) dan unsur pendukung lainnya seperti

audio, sound effect, dan musik sudah mencukupi.

Menurut Soemarno (2008:143) “Editor adalah sineas profesional yang

bertanggung jawab mengkonstruksi cerita secara estetis dari shot – shot yang

dibuat berdasarkan skenario dan konsep penyutradaraan sehingga menjadi sebuah

cerita yang utuh”.

Penulis sebagai seorang penyunting gambar ataupun editor bertanggung

jawab menyusun gambar menjadi sebuah cerita secara estetis dari kumpulan

gambar yang di buat berdasarkan naskah dan konsep penyutradaraan sehingga

menjadi sebuah karya yang utuh.

Menurut Latief (2015-140) “Editor atau penyunting gambar adalah sebutan

bagi orang yang bertanggung jawab memotong gambar dan suara yang dihasilkan

dari tape”.
Penulis diwajibkan mampu menerjemahkan setiap pola visual sehingga

tercipta program yang sesuai dengan konsep yang diinginkan. Proses

penyuntingan gambar memang menduduki posisi penting dalam menghasilkan

karya film yang menarik dan tidak membosankan.

Menurut Djamal (2014:175) “Editing adalah pemilihan (adegan atau scene)

hasil pengambilan (shooting) dan penggabungannya dalam urutan yang logis

(sejalan dengan cerita atau skenario)”.

Dari kutipan diatas, penulis menyimpulkan bahwa seorang penyunting

gambar harus mengerti keinginan pengarah acara dalam penyatuan gambar yang

ingin penulis kerjakan nanti. Seorang penyunting gambar juga memiliki tanggung

jawab yang penuh pada tahap pasca produksi.

Seorang penyunting gambar harus mampu mengerti apa yang diinginkan

pengarah acara dalam penyatuan gambar yang ingin penulis kerjakan nanti.

Konsep penyuntingan gambar yang sudah dibuat oleh pengarah acara merupakan

acuan dalam penggabungan gambar. Kreatifitas merupakan kunci untuk

mendapatkan konsep penyuntingan gambar dengan baik. Penulis diwajibkan

mampu menerjemahkan setiap pola visual sehingga tercipta program yang sesuai

dengan konsep yang diinginkan.


3.5.1 Pra Produksi

Tahap pra produksi merupakan suatu tahap yang penting dalam pembuatan

suatu karya audio visual. Pada tahap ini dibuatnya pembentukan kru agar

terciptanya kerjasama yang maksimal, kesamaan pendapat karena itu merupakan

hal yang utama. Penulis bersama tim produksi melakukan pemilihan konsep yang

akan di jalankan.

Penulis naskah mengembangkan ide gagasan tersebut. Dari hasil

pengembangan naskah tersebut diajukan kepada dosen pembimbing. Setelah

disetujui naskah dibagikan ke tiap masing-masing teknik. Sekalipun penulis

melakukan proses penyuntingan gambar dilakukan pada tahap pasca produksi,

namun keperluan harus dirancang dan dipersiapkan semenjak tahap pra produksi

ini.

Menurut Soemarno (2008-144) “Tahap pra produksi editor berdiskusi

dengan departemen yang lain dalam script conference untuk menganalisa skenario

baik secara teknis, artistik dan dramatik”.

Dalam hal ini menurut kutipan di atas penulis dan penulis naskah

menggembangkan ide gagasan konsep yang sudah dibuat dalam bentuk naskah,

kemudian dari hasil pengembangan naskah tersebut diajukan kepada dosen

pembimbing. Setelah disetujui, naskah dibagikan ke masing-masing jobdesk.


Sekalipun penulis melakukan proses penyuntingan gambar dilakukan pada

tahap pasca produksi. Namun keperluan harus dirancang dan dipersiapkan

semenjak tahap pra produksi ini. Dalam tahap ini penyunting gambar tidak hanya

diam dan menunggu hasil gambar produksi, melainkan bersama-sama dengan kru

lainnya melakukan kegiatan pra produksi, salah satunya adalah melakukan riset.

Pada tahap ini seorang penyunting gambar harus menyiapkan beberapa audio

visual tambahan yang sebelumnya telah di sunting seperti ID Program, Opening

Billboard, dan Bumper In/Out.

Penulis merancang tahapan penyuntingan gambar untuk didiskusikan

dengan pengarah acara guna memberikan masukan terhadap suatu gaya

pengemasan karya yang akan dibuat nanti. Pada pra produksi ini juga, penulis

sudah harus mempersiapkan perangkat yang akan digunakan pada saat proses

penyuntingan gambar seperti hardware, software dan alat atau media apa saja

yang akan dipakai saat proses penyuntingan gambar nanti.

Dalam tahap pra produksi ini, penulis juga membantu produser dan penata

kamera membuat perancangan program atau direct treatment agar sesuai dengan

alur cerita yang diharapkan pada tahap produksinya. Dalam tahap ini penulis

membantu tim yang lain mengembangkan konsep dan ide dengan melakukan

brainstorming agar dalam setiap segmennya tidak monoton dan bagaimana para

audience bisa menerima pesan dengan baik.

Penulis mempersiapkan hal-hal yang berkaitan dengan penyuntingan

gambar, seperti menyiapkan software, mempersiapkan konsep penyuntingan


gambar yang akan digunakan. Penulis juga membantu pengarah acara dan penulis

naskah dalam mengembangkan direct treatment serta memperkirakan shot-shot

apa saja yang baik untuk nanti pada saat produksi berlangsung dan merencanakan

semua teknis-teknis untuk penyuntingan gambar.

3.5.2 Produksi

Dalam tahap produksi penulis sebagai penyunting gambar tidak memiliki

tugas khusus. Penulis pada tahap ini memberikan saran kepada pengarah acara

pada saat produksi bila dalam situasi diluar dari konsep yang sudah penulis

naskah buat sebelumnya.

Penulis juga berhak memberikan saran kepada pengarah acara pada saat

produksi bila dalam situasi yang diluar daripada konsep yang ada. Penulis pada

saat produksi juga harus membantu tim yang lain seperti mengambil behind the

scene pada saat produksi berlangsung.

Dalam tahap produksi penulis sebagai seorang penyunting gambar

membantu tim sebagai second campers untuk pengambilan gambar-gambar yang

ditunjuk oleh pengarah acara dilapangan, stock shoot dan juga membantu

blocking kamera untuk setiap segmennya. Setelah pengambilan gambar

berlangsung penulis berperan untuk memindahkan video yang telah diambil, akan

di back up ke laptop.
Seorang penyunting gambar dapat membantu mengawasi apapun selama

produksi berlangsung. Apapun yang dirasa membutuhkan bantuan pasti akan

penulis bantu dilapangan. Seperti penata cahaya yang kekurangan orang, jadi

harus menata cahaya seorang diri. Disini penulis membantu mengarahkan cahaya

yang diinginkan.

Menurut Soemarno (2008:144) “Dalam tahap ini seorang editor tidak

memiliki tugas dan kewajiban khusus, namun dalam proses produksi ini seorang

editor dapat membantu mengawasi pendistribusian materi untuk proses

penyuntingan gambar”.

Selain meninjau kembali hasil gambar yang telah di ambil oleh penata

kamera, penyunting gambar dan pengarah acara memastikan kembali apakah ada

scene yang terlewat pada saat pengambilan gambar atau tidak.

Karena program ini lebih menonjolkan informasi dan hiburan yang ada

dilokasi, jadi lebih mudah untuk membayangkan bagaimana proses penyuntingan

ini akan dibuat. Dalam program ini, pembawa acara terjun langsung dalam setiap

perjalanan dari satu lokasi ke lokasi lainnya.

3.5.3 Pasca Produksi

Penulis selaku seorang penyunting gambar harus menganalisa naskah

dengan melihat adegan yang tertulis dalam naskah dan mengungkapkan

penilaiannya pada pengarah acara. Seorang penyunting gambar juga harus

berdiskusi dengan departemen yang lain untuk menganalisa naskah, baik secara
teknis, artistik dan dramatik, serta seorang penyunting gambar bersama produser

dan pengarah acara akan menentukan proses pasca produksi yang akan digunakan

dalam penyuntingan gambar.

Pada tahap pasca produksi tentunya seorang penyunting gambar akan

melakukan kewajiban dan tugasnya, yaitu menyunting hasil gambar yang

dihasilkan oleh penata kamera dalam tahap produksi. Ada beberapa teknik

penyuntingan gambar yang penulis gunakan dalam tahap ini.

Pada saat pasca produksi, penulis harus sudah membuat catatan mengenai

kumpulan gambar-gambar dan suara yang akan dimasukan ke dalam hasil edit,

baik itu dapat dari stock shot serta program yang telah diambil gambarnya.

Setelah proses pemilihan gambar langkah selanjutnya yang akan dilakukan oleh

penulis adalah memperhatikan potongan-potongan gambar agar tidak terjadi

jumping dan saling berkesinambungan pada konsep yang sudah dibuat.

Pasca produksi penyunting gambar memiliki tiga langkah utama yaitu

editing offline, editing online, dan mixing. Dalam hal ini terdapat dua teknik

penyuntingan gambar, yaitu : Pertama, yang disebut penyuntingan gambar dengan

teknik analog atau linier. Kedua, penyuntingan gambar dengan teknik digital atau

non linier dengan komputer.

Penulis harus mampu membaca setiap pergerakan yang dilakukan talent

dan akan disesuaikan dengn konsep yang sudah disepakati. Penulis harus

mempunyai kreativitas tinggi karena penulis harus melakukan proses perekaman


sekaligus penyuntingan secara bersamaan sehingga konsep bisa langsung dibuat

sesuai kesepakatan. Langkah-langkah kerja yang penulis lakukan adalah sebagai

berikut:

A. Offline
Proses awal bagi seorang penyunting gambar, dimana penyunting

gambar akan mulai melakukan proses penyuntingan gambar dari data yang

masih bersifat kasar sampai proses fine cute (menyusun atau merapikan gambar).

Dalam tahap ini tidak ada capture karena pada saat produksi menggunkan kamera

yang memakai memory card, mempermudah untuk memulai tahap di meja

penyuntingan gambar.

Setelah shooting selesai, script boy/girl membuat logging, yatiu mencatat

kembali semua hasil shooting berdasarkan catatan shooting dan gambar. Di

dalam logging time code (nomor kode yang berupa digit frame, detik, menit, dan

jam dimunculkan dalam gambar) dan hasil pengambilan setiap shoot dicatat.

Kemudian berdasarkan catatan itu pengarah acara akan membuat editing kasar

yang disebut editing offline. Sesudah editing kasar ini jadi, reporter membuat

naskah yang dilengkapi dengan uraian narasi, timecode, dan bagaian-bagian yang

perlu diisi dengan ilustrasi musik.

B. Online

Pada tahap ini penyunting gambar sudah mulai merapihkan hasil offline,

memperbaiki kualitas video yang sudah diedit dan memberikan tambahan transisi

serta efek khusus yang dibutuhkan sesuai dengan konsep penyuntingan gambar.

Ditahap ini kerangka konsep yang sudah dibuat sudah terbentuk dari potongan

gambar yang sudah tersusun ditahap sebelumnya. Kemudian penyunting gambar


memberikan audio dalam penyajian gambar yang ada agar menjadi sempurna dan

indah.

C. Mixing
Narasi yang sudah direkam dan ilustrasi musik yang juga sudah direkam,

dimasukkan ke dalam pita hasil editing online sesuai dengan petunjuk atau

ketentuan yang tertulis dalam naskah editing. Keseimbangan antara sound effect,

suara asli, suara narasi dan musik harus dibuat sedemikian rupa sehingga tidak

saling mengganggu dan terdengar jelas. Sesudah proses mixing ini boleh

dikatakan bagian yang penting dalam post-production sudah selesai.

Berdasarkan naskah ediing, penyunting gambar mengedit

hasil shooting asli. Sambungan-sambungan setiap shoot dan adegan (scene) dibuat

tepat berdasarkan catatan time-code dalam naskah editing. Demikian

pula sound asli dimasukkan dengan level yang seimbang dan sempurna.

Setelah editing online ini siap, proses berlanjut dengan mixing. Sementara itu,

perbedaan antara teknik linear dan nonlinear adalah sebagai berikut;

1. Linier Penyuntingan Gambar

Proses penyuntingan gambar secara langsung dari kaset (pita) ke kaset

(Pita) dengan menggunakan media VTR ke VTR (Video Tape Recorder). Jadi

VTR yang satu untuk media playback (tempat kita memilah milah gambar) dan

VTR yang satunya lagi untuk media perekam hasil gambar yang kita pilah pilah

tadi.

2. Non Linier Penyuntingan Gambar


Proses penyuntingan gambar yang menggunakan media digital seperti

computer. Proses ini tidak langsung seperti Linier Editing, karena audio video

yang ada di kaset pita harus di transfer dulu ke Hardisk computer (proses transfer

ini biasa disebut Capture). Setelah tahap Capture baru kita bisa melakukan tahap

proses penyuntingan gambar.

Pada saat pasca produksi, penulis harus sudah mencatat kembali semua

hasil shooting berdasarkan catatan shooting dan gambar langkah selanjutnya yang

akan dilakukan oleh penulis adalah memperhatikan potongan-potongan gambar

agar tidak terjadi jumping dan memastikan hasil gambar saling berkesinambungan

pada konsep yang sudah dibuat.

Penyunting gambar harus mampu membaca setiap pergerakan yang

dilakukan talent dan akan disesuaikan dengan konsep yang sudah disepakati.

Penulis harus mempunyai kreatifitas tinggi karena penulis selaku penyunting

gambar harus melakukan proses perekaman sekaligus penyuntingan secara

bersamaan sehingga konsep bisa langsung dibuat sesuai kesepakatan.

3.6 Peran dan Tanggung Jawab Penyunting Gambar

Salah satu peran penulis yaitu bisa menentukan durasi dari suatu program,

menentukan titik pemotongan gambar, bisa menentukan jenis transisi yang sesuai

dan menciptakan kontinuitas yang baik. Seorang penyunting gambar sangat

berpengaruh atau berperan penting bagi proses produksi.


Adapun peran dan tanggung jawab seorang penyunting gambar erat

hubungannya pada proses pasca produksi antara lain, menjawab keinginan

pengarah acara dalam proses editting sehingga terciptalah continuitas program

yang menarik, tukar pikiran sangatlah penting dalam proses editting karna

berpengaruh mengenai shot-shot yang layak dimasukan mana dan yang tidak

mana.

Seorang edior haruslah sigap dalam kendala-kendala teknis yang ada

misalnya seperti software yang tiba-tiba error dengan sendirinya, komputer yang

tiba-tiba mati dengan sendirinya sehingga penyunting gambar terpaksa mengedit

ulang karna sebelumnya data tersebut belum di save.

Masalah itu kerap terjadi maka perlu dipersiapkan sebaik mungkin dan

memperhatikan spesifikasi komputer tersebut. Tanggung jawab penuh seorang

penyunting gambar itu adalah pada hasil akhir sebuah program yang sedang

dikerjakannya seperti penggabungan gambar, audio yang serasi, serta kontrasnya

sebuah gambar harus diperhitungkan secara matang oleh penyunting gambar.

3.7 Proses Penciptaan Karya

A. Konsep Kreatif

Penulis mendesain potongan-potongan gambar menjadi satu kesatuan

cerita sesuai dengan konsep yang ada dengan tujuan dapat dinikmati khalayak

dalam hal penyuntingan menggunakan teknik penyuntingan gambar continuity

yang bertujuan agar memberikan sebuah alur konsep yang jelas sesuai yang ada,
serta metode penyambungan cut to cut, dissolve, dip to black, dan lainnya agar

pergerakan dari gambar ke gambar dapat menyambung secara dinamis.

B. Konsep Produksi
Penulis sebagai penyunting gambar selain mempunyai konsep dan

pemikiran yang berbeda dengan penyunting gambar yang lain, juga mempunyai

strategi yang diciptakan demi jalannya sebuah program produksi yang sedang

dikerjakannya.

Penyunting gambar dan pengarah acara harus bisa bekerja sama agar

proses penyuntingan gambar bisa dihasilkan sesuai yang diharapkan. Strategi

yang dihasilkan oleh seorang penyunting gambar sebelumnya harus telah

dikoordinasikan terlebih dahulu kepada pengarah acara, karena pengarah acara

yang menentukan efek atau konten seperti apa yang pantas atau tidak pantas untuk

digunakan ke dalam karyanya.

C. Konsep Teknis

Penulis sebagai penyunting gambar harus mampu berkoordinasi dengan

pengarah acara yang kemudian dikonfirmasi kepada produser dalam hal pemilihan

alat-alat yang akan digunakan. Semua itu erat hubungannya demi kemudahan

sebuah produksi yang sedang dikerjakan. Penggunaan alat-alat berbasis teknologi

yang modern dan canggih sangat menunjang hasil kerja penyunting gambar.

Penulis sebagai penyunting gambar telah mempelajari dengan seksama

setiap penggunaan alat yang terbaru dan aplikasi tersebut dan hasilnya adalah
penulis mampu menciptakan dan mengembangkan setiap ide yang menjadi

pendukung program yang sedang dikerjakan.

3.8 Lembar Kerja Penyunting Gambar

3.8.1 Konsep Penyuntingan Gambar

Dalam pembuatan program magazine show yang berjudul

“XPLORENESIA” konsep penyuntingan gambar yang digunakan tidak terlalu

rumit. Tidak membutuhkan penyuntingan gambar yang terkesan berlebihan namun

tetap membuat penonton betah untuk menyaksikannya.

Ada beberapa konsep dari acara televisi yang sudah ada kemudian kami

aplikasikan ke program kami, tentunya kami membuat versi kami sendiri dengan

sentuhan yang berbeda namun tetap terlihat dinamis. Karna konsep tersebut juga

bisa terbilang baru di seluruh program di televisi yang ada selama ini. Contohnya

seperti split screen kami terapkan karna memang program kita menggunakan dual

cam.

Dalam teknik ini, seorang penyunting gambar harus memiliki tingkat

ketelitian yang tinggi. Agar transisi antar gambar tidak jumping, proses cut to cut

harus sangat diperhatikan. Sehingga gambar tersebut berkelanjutan dan tidak

terlihat aneh dan dapat dinikmati oleh audience.


3.8.2 Laporan Penyunting Gambar

Tabel I. LAPORAN PENYUNTINGAN GAMBAR

AKADEMI KOMUNIKASI BINA SARANA INFORMATIKA

Production Company : BSI Produser : Muhammad Miftah Farid

Judul Acara : XPLORENESIA Pengarah Acara : Andre Rinaldi

Durasi : 24 Menit Penyuntingan Gambar : Panji Bukhori

KETERANGAN
NO SCENE EXT/INT
VIDEO
VISUAL AUDIO SFX TRANSISI DURASI
EFFECT

1 1 EXT MLS - Still Host Natural / Cutting - 20dtk


Backsound

Hallo sobat
Xplore....!!!
jumpa lagi
bersama Maya
Nanda dalam
acara
XPLORENESI
AA..!!! Lest to
eksplore
Indonesia!
nanda sekarang
sedang berada
di tempat
nongkrong
yang asyik
yaitu di
Warbox Cafe
yang berada di
bilangan
Jakareta Timur
tepatnya di
daerah Condet.

Yuk ikutin
Nanda!”

Seperti biasa
selama tiga
puluh menit ke
depan Nanda
bakalan ngajak
sobat eksplor
buat ngelilingi
Tanah
Indonesia.

Yup Nanda rasa


sobat Eksplore
udah nggak
sabar kan?

2 2 INT MS - Still Host Natural / Cutting - 20dtk


Backsound

Well, di
episode kali ini
tempat yang
akan kita
kunjungi
adalah Kota
Padang
Sumatra Barat.

Kota yang khas


dengan
makanan
Rendang ini
memang sudah
terkenal
memiliki
banyak tempat-
tempat wisata
yang unik dan
bersejarah.

Oke. Nanda
rasa sobat
Eksplore udah
nggak sabar
mau lihat
tempat apa aja
yang mau
dieksplore!!.

Lets to
Eksplore
Indonesia!!!

3 3 EXT Stock Shoot VO Natural / Cutting - 25dtk


Backsound

Kota Padang
adalah Kota
terbesar yang
ada di pesisir
barat Pulau
Sumatera. Kota
ini merupakan
Ibu kota
Provinsi
Sumatra Barat
dengan luas
694,96
kilomenter.

Kata Padang
dalam bahasa
Minang berarti
“Padang” yang
bisa juga
mengartikan
“Lapangan”.

Kota yang
terkenal
dengan cerita
Siti Nurbaya
ini mempunyai
pesona alam
nan luar biasa.

4 3 EXT Stock Shoot VO Natural / Cutting - 30dtk


Backsound

Bagi sobat
Eksplore yang
pernah ke Kota
Bukittinggi,
tentu tidak
asing lagi
dengan yang
namanya Jam
Gadang.

Ya, jam
Raksasa ini
disebut-sebut
kembaran dari
Jam Big Ben
yang berada di
Inggris.

Tinggi
bangunan ini
mencapai 26
meter.

Jam yang
menjadi Ikon
Bukittinggi ini
dibangun pada
tahun 1926
oleh arsitek
Yazid dan
Sutan Gigi
Ameh.

Pada keempat
sisi puncaknya
terdapat empat
buah jam
dengan
diameter 80
centimeter, jam
ini merupakan
hadiah dari
Ratu Belanda
kepada
sekretaris kota
pada saat itu.

5 3 EXT MS – Still Co Host Natural / Cutting - 17dtk


Backsound

“Eh sobat
Eksplore, Della
sampai lupa
saking
asyiknya foto-
foto hehe.

Nih Della udah


di Bukittinggi,
tepatnya di
area Jam
Gadang.

Mau tahu apa


aja yang ada di
dalamnya? Yuk
ikutin Della
terus!”

6 3 EXT Stock Soot VO Natural / Cutting -


Backsound

Yang menjadi
keunikkan dari
jam ini adalah
angka empat
pada Jam
Gadang yang
tidak
mengikuti
kaidah angka
Romawi pada
umumnya.
Banyak yang
mengaitkan
dengan hal-hal
tahayul.
Namun sampai
saat ini tidak
ada rujukkan
pasti mengenai
hal itu.

7 4 INT MS – Still Co Host Natural / Cutting - 30dtk


Backsound

Well begini nih


suasana di
dalam menara
Jam Gadang.

Oh ya sobat,
ruangan Jam
Gadang ini
memiliki
empat tingkat,
tingkat
pertama
ruangan
petugas,
tingkat kedua
tempat
pemberat jam
atau bandul,
tingkat ketiga
tempat mesin.
Dan tingkat ke
empatnya
puncak dari
menara ini.
Kita bisa ke
atas lewat
tangga ini nih.

Tangganya
agak terjal ya
sobat.

8 5 INT MS – Still Co Host Natural / Cutting - 20dtk


Backsound

Gerakkan di
lantai tiga ini
nih sobat
terhubung ke
mesin lain
yang lebih
kecil di lantai
empat. Dan
mesin ini
diyakini Cuma
ada dua, yang
satunya disini
dan satunya
lagi di Jam
Bog Ben.
Mesin-
mesinnya juga
harus
dibersihkan
empat bulan
sekali.

Oke sekarang
kita naik lagi
ke puncak Jam
Gadang yuk!”.

9 6 INT MS – Still Co Host Natural / Cutting - 45dtk


Backsound

Yuhu... Della
sudah di
Puncaknya nih.
Dari sini kita
bisa lihat
pesona
Landscap dan
perkotaan.
Indah kan
sobat Xplore?!
Yap sobat
Xplore itu ada
lonceng dari
Jam
Gadangnya
yang terletak di
Menara.

Lonceng
jumbo ini
terlihat megah
sekaligus
eksotis ya
sobat!
Pemukul
jamya terbuat
dari palu besi
berkepala
beton.
Pemukulnya
digerakkan
sama seutas
tali baja
terhubung ke
mesin utama
yang ada di
lantai tiga.

Tuh lihat
sobat! Di
loncengnya
ada tulisan
B.Vortman-
Recklinghausa
n. Ini nama si
pembuatnya.

Balik lagi ke
misteri angka
empat pada
Jam ini. Ada
yang
mengatakan
awalnya si
pembuat jam
udah bener
nulis angka
empatnya
sesuai sama
angka
Romawi,
namun karena
alasan
keeimbangan
Visual Raja
tidak setuju.
Anyways
apapun
ceritanya Jam
Gadang adalah
salah satu
Cakra Budaya
yang harus kita
jaga..

10 6 EXT LS Co Host Natural / Cutting - 5dtk


Backsound

Xplorenesia,
lets to explore
indonesia!!

Commercial Break

11 7 INT MS – Still Host Natural / Cutting - 30dtk


Backsound

Kalau tadi kita


sudah diajak
mengeksplor
Jam Gadang
Sekarang kita
akan
mengunjungi
daerah Batu
Sangkar dan
Bukittinggi.

Tau nggak
sobat? Di
daerah Batu
sangkar
terdapat batu
yang ajaib
namanya Batu
Angkek-
angkek.

Sedangkan di
Bukittinggi ada
jembatan yang
disebut
miniaturnya
tembok Cina.

Waduh tambah
penasaran kan?
Langsung aja
yuk Lets to
Eksplore
Indonesia!!!
12 7 EXT Stock Shoot VO Natural / Cutting - 25dtk
Backsound

Batu sangkar
selama ini
terkenal
dengan
panorama alam
nan
mempesona.
Selain itu
terdapat juga
ciri khas dari
Negri Ranah
Minang ini.
Yaitu Batu
Angkek-
angkek yang
terdapat di
sebuah Rumah
Gadang
keturunan
Datuak
Bandaro Kayo
di Nagarai
Balai Tabuh,
Kabupaten
Tanah Datar.
Konon katanya
Batu ini
mempunyai
berat yang
berubah-ubah.

13 7 INT Stock Shoot VO Natural / Cutting - 15dtk


Backsound

Batu Angkek-
angkek yang
mempunyai
arti angkat-
angkat ini
dipercaya

Masyarakat
sekitar
mempunyai
kekuatan gaib
yang mampu
meramal nasib
seseorang,
dengan cara
mengangkat
batu tersebut.
Bila seseorang
yang berhasil
mengangkat
batunya maka
niat dan
keinginannya
bisa tercapai.

14 7 INT Stock Shoot VO Natural / Cutting - 10dtk


Backsound

Batu berbentuk
cangkang
Kura-kura ini
berwarna
Hitam dan
mempunyai
lubang kecil di
tengahnya. Di
permukaannya
yang berwarna
tembaga ada
tulisan lafadz
Allah dan
Muhammad.

15 7 INT Stock Shoot VO Natural / Cutting - 10dtk


Backsound

Selain Batu
Angkek-
angkek Rumah
peninggalan
Datua Bandaro
Kayo ini juga
menyediakan
alat-alat
kerajinan
tangan yang
dijual. Di
setiap rak yang
berjajar rapi
kita bisa
melihat alat-
alat berupa tas,
gantungan
kunci, sepatu
dan aksesoris
lainnya.

16 7 INT Still Co Host Natural / Cutting - 5dtk


Backsound

Sobat Xplore
penasaran kan
abis ini kita
kemana lagi,
yuk ikutin
terus

17 8 EXT Stock Shoot VO Natural / Cutting - 30dtk


Backsound

Kita kembali
lagi ke
Bukittinggi,
kota ini banyak
sekali
menawarkan
tempat wisata
bagi para
pengunjung.
Tempat yang
direkomendasi
kan
Xplorenesia
adalah Janjang
Saribu.
Mungkin
beberapa orang
masih bertanya
tentang wisata
ini. Faktanya,
memang masih
belum banyak
orang yang
tahu dengan
tempat wisata
ini. Yang
paling unik
adalah,
kemiripan
konsep yang
dimiliki
kawasan
wisata ini
dengan
Tembok besar
yang ada di
Cina.
Sekaligus
wisata ini bisa
dijadikan
tempat
pengganti
mnikmati
Tembok Cina
dengan biaya
yang relative
murah.
18 8 EXT MS-Sill Co Host Natural / Cutting - 15dtk
Backsound

“Oke sobat
Eksplore. Della
sudah ada di
Janjang Saribu.
Jembatan yang
mempunyai
banyak tangga.
For Your
Information
meski meiliki
nama seribu,
tapi jumlah
tangganya
tidak mencapai
ribuan loh
sobat. Mau
tahu lebih
lanjut lagi yuk

19 8 EXT Stock Shoot VO Natural / Cutting - 15dtk


Backsound

Selain
memiliki
jumlah anak
tangga yang
banyak.
Janjang Saribu
memiliki
panorama yang
menkjubkan.
Bila dilihat
dari atas
jembatan. Kita
bisa melihat
hamparan
lembah nan
hijau, daerah
Ngarai Sianok
dan Gunung
Singalang.

20 8 EXT MS-Still Co Host Natural / Cutting - 10dtk


Backsound

Wuuh, della
capek banget
nih sekarang
udah di
puncaknya nih.
Kalian harus
cobain kalo
main ke bukit
tinggi ya

21 8 EXT Stock Shoot VO Natural / Cutting - 20dtk


Backsound

Benar saja, bila


kita terus
telusuri anak
tangga dengan
tembok yang
berwarna abu-
abu di sisi
kanan dan kiri
membuat kita
tak akan heran
destinasi
tempat ini
mendapat
julukan The
Great Wall Of
Koto Padang
22 8 EXT LS Co Host Natural / Cutting - 5dtk
Backsound

Xplorenesia
lets to explore
indonesia!!

Commercial Break

23 9 INT MLS-Still Host Natural / Cutting - 20dtk


Backsound

Nah sobat
Eksplore kalo
bicara tempat
wisata di
Tanah Minang
tentu tidak ada
habisnya.
Mulai dari
tradisi, tempat
bersejarah atau
bahkan istana
semuanya ada.
Seperti yang
akan dikulik
rekan Nanda
yaiu Della
yang sudah ada
di Batu
sangkar. Di
Batu sangkar
terdapat Istana
yang megah
yang menjadi
tempat
kunjungan baik
dalam maupun
luar Negri.
Mau tahu
selengkapnya.
Lest to
Eksplore
Indonesia!!

24 9 EXT Stock Shoot VO Natural / Cutting - 30dtk


Backsound

Kota Padang
takkan pernah
kehabisan
pesona
wisatanya.
Selain
memiliki
keunikkan di
bidang alam
dan kuliner,
Kota Malin
kundang ini
juga memiliki
aneka ragam
budaya yang
menarik untuk
dipelajari.
Terkait dengan
ini salah satu
wisata yang
terkenal dan
banyak
dikunjungi
Wisatawan
adalah istana
Baso
Pagaruyung

25 9 EXT Stock Shoot VO Natural / Cutting - 20dtk


Backsound

Sama seperti
wisata pada
umumnya
Istana
Pagaruyung ini
mempunyai
harga tiket bila
untuk
memasukinya.
Untuk harga
tiket orang
dewasa dikenai
biaya lima
belas ribu,
sedangkan
harga orang
dewasa
mancanegara
seharga dua
puluh lima
ribu, Dan
untuk anak-
anak dikenai
harga sepuluh
ribu rupiah dan
untuk anak-
anak
Mancanegara
dikenai lima
belas ribu
rupiah

26 10 EXT MLS-Still Co Host Natural / Cutting - 12dtk


Backsound

“Balik lagi
bersama Della,
di belakang
Della sudah
ada Istana
Baso alias
Istana
Pagaruyung.
Tetap
penasaran kan
yuk kita kulik
lagi.

27 10 EXT MS-Still Co Host Natural / Cutting - 8dtk


Backsound

sebelum kita
kulik apa aja
yang ada di
dalam Istana.
Nggak afdol
kalau kita
belum nyobain
memakai baju
adat.

28 11 INT Stock Shoot VO Natural / Cutting - 15dtk


Backsound

Di Istana ini
juga
menyediakan
beraneka
ragam baju
adat. Bagi
sobat Eksplore
yang ingin
mencoba baju
adatnya, sobat
bisa merogoh
kocek seharga
tiga puluh lima
ribu sampai
empat puluh
ribu rupiah
tergantung
jenis model
pakaiannya.
29 11 INT MS-Still Co Host Natural / Cutting - 15dtk
Backsound

Ini baju yg
della pilih tadi,

Gimana?
Baguskan?

30 12 INT MS-Still Co Host Natural / Cutting - 15dtk


Backsound

Iya sobat,
beginilah
pemandangan
yang ada di
dalam Isana,

Istana ini
mempunyai
tiga lantai, dan
setiap
lantainya ada
ruangan yang
menyimpan
banyak hal.
31 13 INT MS-Still Co Host Natural / Cutting - 7dtk
Backsound

Di lantai kedua
ada kamar
yang disebut
Anjuang
Paranginan
yaitu kamar
perempuan
Raja yang
belum menikah

32 14 INT MS-Still Co Host Natural / Cutting - 8dtk


Backsound

Di lantai ketiga
ada etalase-
etalase yang
menyimpan
benda-benda
pusaka

33 14 EXT LS Co Host Natural / Cutting - 5dtk


Backsound

Xplorenesia
lets to explore
indonesia!!

34 15 EXT MS-Still Host Natural / Cutting - 30dtk


Backsound
Ada banyak
cara untuk
menunjukkan
rasa
Nasionalisme
dalam diri kita,
yaitu dengan
terus
menggunakan
produk buatan
anak Negri dan
tentunya juga
mengunjungi
tempat-tempat
yang ada di
tanah Ibu
Pertiwi ini.
Iya sobat
Eksplore tak
terasa tiga
puluh menit
sudah kami
menemani
sobat eksplore.

Sampai ketemu
lagi di hari dan
jam yang
sama. Saya
Maya Nanda
pamit undur
diri. Lest to
Ekplore
Indonesia.

3.8.3 Logging Picture

Tabel II. LOGGING PICTURE

AKADEMI KOMUNIKASI BINA SARANA INFORMATIKA

Production Company : BSI Produser : Muhammad Miftah Farid


Judul Acara : XPLORENESIA Pengarah Acara : Andre Rinaldi
Durasi : 24 Menit Penyuntingan Gambar : Panji Bukhori

No Logging Time Video Audio Remark

1 00:00:00:00-00:00:05:00 Bars And Tone Tone -

2 00:00:05:00-00:00:10:00 Logo BSI - -

3 00:00:10:00-00:00:15:00 ID Program - -

4 00:00:15:00-00:00:20:00 Universal Counting Leader Tone -

Segment 1

5 00:00:20:00-00:00:40:00 Bumper In Program Instrument -

6 00:00:40 :00-00:01:15:00 Host Dialog -

7 00:01:15:00-00:01:40:00 Establish Instrument -

8 00:01:40:00-00:02:05:00 Host Dialog -

9 00:02:05:00-00:03:03:00 Establish Voice Over -

10 00:03:03:00-00:03:32:00 Co Host Dialog -

11 00:03:32:00-00:03:50:00 Establish Voice Over -

12 00:03:50:00-00:04:10:00 Co Host Dialog -

13 00:04:10:00-00:04:43:00 Stock Shoot Instrument -

14 00:04:43:00-00:05:03:00 Co Host Dialog -


15 00:05:03:00-00:05:08:00 Establish Instrument -

16 00:05:08:00-00:05:20:00 Co Host Dialog -

17 00:05:20:00-00:05:42:00 Establish Instrument -

18 00:05:42:00-00:05:50:00 Co Host Dialog -

19 00:05:50:00-00:06:00:00 Bumper Out Program Instrument -

Commercial Break / Segment 2

20 00:06:00:00-00:06:07:00 Bumper In Program Instrument -

21 00:06:07:00-00:06:25:00 Establish Instrument -

22 00:06:25:00-00:06:52:00 Host Dialog -

23 00:06:52:00-00:08:15:00 Establish Voice Over -

24 00:08:15:00-00:08:25:00 Co Host Dialog -

25 00:08:25:00-00:09:00:00 Establish Voice Over -

26 00:09:00:00-00:09:20:00 Co Host Dialog -

27 00:09:20:00-00:09:47:00 Establish Voice Over -

28 00:09:47:00-00:10:15:00 Establish Instrument -

29 00:10:15:00-00:10:30:00 Co Host Dialog -


30 00:10:30:00-00:11:06:00 Establish Instrument -

31 00:11:06:00-00:11:18:00 Establish Voice Over -

32 00:11:18:00-00:11:30:00 Establish Instrument -

33 00:11:30:00-00:11:40:00 Co Host Dialog -

34 00:11:40:00-00:11:50:00 Bumper Out Program Instrument

Commercial Break/ Segment 3

35 00:11:50:00-00:11:57:00 Bumper In Program Instrument -

36 00:11:57:00-00:12:24:00 Establish Instrument -

37 00:12:24:00-00:12:50:00 Host Dialog -

38 00:12:50:00-00:13:45:00 Establish Voice Over -

39 00:13:45:00-00:14:12:00 Establish Instrument -

40 00:14:12:00-00:14:25:00 Co Host Dialog -

41 00:14:25:00-00:14:35:00 Establish Instrument -

42 00:14:35:00-00:14:47:00 Co Host Dialog -

43 00:14:47:00-00:14:58:00 Establish Instrument -

44 00:14:58:00-00:15:15:00 Establish Voice Over -

45 00:15:15:00-00:15:58:00 Establish Instrument -


46 00:15:58:00-00:16:06:00 Co Host Dialog -

47 00:16:06:00-00:16:22:00 Establish Instrument -

48 00:16:22:00-00:16:35:00 Co Host Dialog -

49 00:16:35:00-00:16:50:00 Establish Instrument -

50 00:16:50:00-00:17:02:00 Co Host Dialog -

51 00:17:02:00-00:17:15:00 Establish Instrument -

52 00:17:15:00-00:17:22:00 Co Host Dialog -

53 00:17:22:00-00:17:45:00 Establish Instrument -

54 00:17:45:00-00:18:07:00 Host Dialog -

55 00:18:07:00-00:19:17:00 Credit Title Instrument -

56 00:19:17:00-00:19:23:00 Copy Right Instrument -

57 00:19:23:00-00:22:19:00 CV Crew Instrument -

58 00:22:19:00-00:24:05:00 Behind The Scene Instrument -


3.8.4 Proses Pembuatan Program

1. Bars And Tone

2. Logo BSI
3. ID Program

4. Universal Counting Leader


5. Bumper Program

6. Isi Konten
7. Credit Title

8. Copyright
3.8.5 Spesifikasi Alat

Tabel III. SPESIFIKASI ALAT PENYUNTING GAMBAR

AKADEMI KOMUNIKASI BINA SARANA INFORMATIKA

A. HARDWARE

1. Processor : AMD A8-5550M APU / Radeon™ HD Graphics 2.10 GHz


2. RAM : DDR3 4.00 GB
3. Hardisk : HDD 500 GB
4. Motherboard : InsydeH20 Version CCB.03.73.1083CN12WW(1.01)
5. VGA : AMD Radeon HD 85550G + 8500 Dual Graphics
6. Soundcard : Conexant SmartAudio HD

B. ACCESSORIES

1. Mouse : Logitech Wireless Standard


2. Audio : Xiaomi Mi In Ear Pro

C. SOFTWARE
1. Video : Adobe Premiere Pro CC 2015
2. Audio/Sound : Adobe Audition CS6
3. Grafis : Corel Draw X7

3.6 Proses Kerja Penata Suara

Pengaturan suara dalam sebuah program ditentukan oleh seorang penata suara.

Penata suara adalah orang yang bertanggung jawab pada keseluruhan suara serta

kualitas suara pada sebuah program selama produksi berlangsung.


Penulis selaku penata suara dalam produksi ini yang bertugas sebagai

pengontrol suara. Maka dari itu seorang penata suara juga berperan penting dalam

bagusnya sebuah program melalui tangkapan suara. Menurut Karsito (2017:124)

“Penata suara tugasnya merekam mengontrol power vocal, artikulasi dan intonasi

suara pemain, menjaga suasana (atmosphere) efek suara dan noise yang terjadi di

sekitar lokasi shooting”

Dalam perekaman, seorang penata suara juga harus mengetahui istilah atau

karakteristik dasar seperti decibel (db), frequency, stereo, sensitivity, dan noise.

Decibel (db) adalah satuan unit untuk menunjukan keras lemahnya satuan suara ini

berguna untuk memonitor agar menghindari suara-suara yang tidak diinginkan.

Frequency adalah banyaknya getaran yang terjadi dalam jangka waktu tertentu. Stereo

adalah penempatan sinyal suara dalam dua kanal yaitu dalam jalur left dan right (L dan

R) yang terdengar pada speaker. Sensitivity adalah besar kecilnya energi listrik yang

dihasilkan oleh microphone. Noise adalah suara yang tidak kita inginkan yang

mengganggu dan membuat turun kualitas dari hasil audio.

Menurut Achlina dan Suwandi dalam Kusumawati dkk (2017,124) menyatakan

“Audio engineer/sound supervisor, audio operator adalah orang yang bertanggung

jawab soal teknik dan artistik tata suara, kontrol audio level, balance, serta kualitas

semua aspek penyuaraan baik pada saat rehearsal, live ataupun taping, maupun pada

saat pascaproduksi”

Penulis harus memiliki kemampuan dalam pengoperasian tiap alat yang akan

digunakan, agar penata suara dapat mengatasi masalah yang terjadi di tiap lokasi

shooting. Menurut Latief dan Utud (2015:132) mengemukakan bahwa “Penata Suara
adalah petugas yang mengoperasikan audio di studio maupun diluar studio.

Bertanggung jawab atas pelaksanaan seluruh pengoperasian peralatan audio, baik

sifatnya analog maupun digital yang digunakan di lokasi shooting.

Dalam program televisi dan film mengandung dua unsur yaitu audio dan

visual (suara dan gambar). Kedua komponen ini harus seimbang dan menjadi satu

kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, maka dari itu keberadaan seorang penata suara

sangat penting dalam keberhasilan suatu produksi non drama televisi disamping aspek

lainnya.

Pada program non drama televisi “XPLORENESIA”, penata suara

mempunyai kewajiban yaitu dalam tahap pra produksi, penulis selaku sebagai penata

suara harus merencanakan dan menyiapkan peralatan yang akan digunakan saat

shooting. Dalam tahap produksi penulis melakukan rapat dengan para kru untuk

mempersiapkan alat perekaman sebelum masuk ke tahap produksi. Kemudian

mempersiapkan peralatan dan bahan yang dibutuhkan untuk melakukan perekaman

suara sesuai dengan script dan scene yang sudah dibuat oleh penulis naskah dan

kemudian akan di produksi. Dalam tahap terakhir yaitu pasca produksi penulis sebagai

penata suara melakukan pemilihan komponen audio yang tepat dan selanjutnya

seorang penata suara bekerja sama dengan penyunting gambar dalam proses

penyuntingan gambar dalam hal penataan suara hasil produksi.

3.6.1 Pra Produksi


Pada tahap pra produksi, penulis sebagai penata suara berdiskusi kepada tim

untuk menentukan tema dan judul program yang akan kami buat menjadi karya non

drama televisi untuk tugas akhir. Setelah berdiskusi dengan tim untuk menyatukan ide-

ide. Akhirnya penulis sepakat dengan rekan tim untuk memberikan judul untuk karya

non drama magazine show yang kami beri judul “XPLORENESIA”. Format acara ini

kami tujukan untuk usia remaja dan dewasa. Maka penulis sebagai penata suara

membuat konsep semenarik mungkin. Dalam hal ini penulis harus memahami apa

yang harus kami produksi agar dapat menentukan alat dan keadaan lokasi saat

produksi berlangsung. Maka dari itu penulis merancang tata suara sehingga mampu

menghasilkan suasana yang ditentukan dalam scenario.

Tugas penata suara saat pra produksi, Menurut Kusumawati dkk (2017:127)

adalah :

a. Memahami dan mendalami naskah yang akan di produksi


b. Membuat perencanaan pengelompokan suara dan sound effect
c. Memilih backsound, theme song, dan scoring music yang tepat untuk naskah

yang akan di produksi


d. Mengadakan rapat koordinasi dengan crew yang lain (Produser, Pengarah

Acara, dan Penanggung jawab teknis)


e. Melakukan hunting lokasi untuk mendapatkan gambaran suasana
f. Mendata peralatan teknis audio

Penulis sebagai penata suara melakukan bedah naskah dan berdiskusi agar

dapat mengetahui kebutuhan suara dalam segmen saat produksi. Kemudian ikut serta

dalam kegiatan hunting lokasi, bertujuan untuk melihat perencanaan blocking audio,

dan atmosfir suasana lokasi untuk mengetahui gangguan apa saja yang menghalangi
saat produksi dengan maksud untuk mempermudah penata suara saat produksi

berlangsung.

Menurut Latief dan Utud (2015:132) “Pada persiapan produksi, seorang penata

suara menyiapkan, menempatkan, dan menginstalasi sistem audio”. Penata suara

menentukan konsep teknik perekaman suara di lapangan, lalu menentukan kebutuhan

peralatan apa yang akan digunakan, selanjutnya penulis membuat daftar peralatan, hal

ini dilakukan guna mendata secara keseluruhan alat-alat yang akan dipakai dan

meminimalisir kesalahan saat produksi. Setelah peralatan yang akan digunakan sudah

didapat, penulis memeriksa peralatan tersebut bertujuan untuk mengecek kondisi alat

dalam keadaan baik atau tidak, karena kualitas alat akan mempengaruhi hasil rekaman.

Maka dari itu penulis mempelajari alat-alat berikut dalam pengoperasiannya agar

mendapatkan hasil yang sempurna.

Penulis sebagai penata suara mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan

dengan suara untuk materi di proses produksi dan pasca nanti. Maka dari itu di tahap

pra produksi ini penulis sebagai penata suara memanfaatkan waktu untuk

mematangkan konsep dan segala persiapan ini kepada kru dan pengarah acara

kemudian berkonsultasi apakah konsep yang diutarakan oleh penulis sebagai penata

suara adalah konsep yang nantinya di tahap produksi akan menghasilkan suara

rekaman yang memuaskan .

3.6.2 Produksi
Dalam tahap produksi, seorang penata suara mempersiapkan kembali alat-alat

yang akan digunakan pada saat produksi. Adapun alat yang disediakan penulis saat

produksi adalah clip on, hand recorder, dan headphone. Dalam produksi ini penulis

menggunakan clip on Sennheiser G3 dan Hand Recorder Zoom H6N yang disiapkan

untuk mengambil dialog dan atmosfir. Untuk hand recorder digunakan untuk

merekam dan mengatur suara yang akan disalurkan melalui clip on dan penggunaan

headphone adalah untuk mendengarkan hasil suara. Penata suara juga berkoordinasi

dengan sutradara dan rekam tim. Penata suara juga harus memperhatikan suara yang

mengganggu hasil dialog ditiap segmen.

Menurut Kusumawati dkk (2017:129), Penata suara dalam tahap produksi

adalah :

a. Mempersiapkan peralatan dan bahan yang dibutuhkan untuk perekaman suara

dan sound effect sesuai dengan script dan scene yang akan diproduksi.
b. Mengoperasikan perlengkapan peralatan audio dengan baik dan benar agar

didapat hasil yang memuaskan


c. Melakukan komunikasi dan koordinasi dengan sutradara dan kru teknis yang

lain agar tidak terjadi kesalahpahaman.


d. Menguasai secara teknis setiap peralatan audio yang dipakai dan selalu bersiap

jika terjadi gangguan teknis.


e. Melakukan perekaman di lokasi (real sound)
f. Menyeleksi lokasi
g. Menghapus sound yang tidak diperlukan
h. Mengatur tinggi rendahnya level audio yang terekam

Dari pendapat diatas, penulis menyimpulkan bahwa seorang penata suara harus

memperhatikan detil hal-hal kecil yang dapat menyebabkan terganggunya saat proses

produksi berlangsung.
Menurut Latief dan Utud (2015:133) menyatakan bahwa “Selama pelaksanaan

produksi berlangsung, penata suara bertugas memonitor keseimbangan, keserasian,

harmonisasi level audio, dan memberikan isyarat-isyarat baik tidaknya audio kepada

kerabat kerja produksi, khususnya kepada sutradara”

Menurut pendapat diatas, sutradara yang dimaksud didalam program non

drama adalah pengarah acara, dan penulis menyimpulkan seorang penata suara harus

cerdas dalam memperhatikan suara apa yang mengganggu selain suara dialog host

agar sempurnanya dalam hasil penyuntingan gambar nanti di pasca produksi.

Menurut Latief dan Utud (2015:132) “Seorang penata suara harus mempunyai

pengetahuan tentang berbagai karakteristik jenis-jenis fasilitas audio khusunya pada

penggunaannya, misalnya berbagai jenis microphone”.

Penulis menyimpulkan bahwa penata suara harus mengetahui berbagai jenis

alat perekam audio, yang dimaksud oleh ahli diatas ada jenis microphone yang banyak

dipakai saat produksi siaran televisi adalah ribbon microphone, dynamic microphone,

condenser microphone.

Namun dalam produksi non drama yang akan kami produksi ini menggunakan

clip on, hand recorder dan headphone. Clip on yang berfungsi sebagai penangkap

suara digunakan untuk mengambil dialog host, untuk Hand recorder berfungsi untuk

media perekam serta mengatur suara yang dikirim dari clip on, dan headphone

berfungsi untuk memonitor hasil suara yang terekam. Saat shooting penata suara juga
berkoordinasi dengan pengarah acara dan kru untuk proses pengambilan suara guna

menghindari noise atau meminimalisir noise pada saat dialog dalam setiap shoot pada

saat produksi berlangsung.

Dalam berlangsungnya produksi penulis juga sebagai penata suara harus

mengatur tinggi rendahnya level audio guna untuk menghindari peak yang berdampak

pada kualitas audio, serta menjaga power vocal agar hasil suara yang terekam tetap

stabil. Penata suara juga harus menjaga peralatan yang berhubungan dengan

pengambilan suara. Kemudian memeriksa ulang alat-alat yang sudah terpakai apakah

kondisi fisiknya masih seperti awal atau tidak, kemudian merapihkan kembali setelah

shooting selesai dilakukan.

3.6.3 Pasca Produksi

Dalam tahap ini, penata suara bekerjasama dengan penyunting gambar untuk

mendengarkan suara yang masuk pada saat proses produksi berlangsung. Penata suara

juga membantu penyunting gambar untuk memasukan suara-suara dalam video yang

telah dipilih untuk proses penyuntingan gambar. Penata suara menentukan sound effect

dan backsound yang akan digunakan agar sesuai dengan rekaman suara yang

diinginkan. Setelah itu penata suara melakukan perekaman Voice Over (VO) guna

menyempurnakan hasil suntingan.

Menurut Kusumawati dkk (2017:129) tugas seorang penata suara saat di tahap

pasca produksi :

a. Mendampingi editor untuk memilih audio yang tepat


b. Membantu editor untuk memilih dan menempatkan pemisahan antara sound

effect dan sumber suara asli


c. Membantu editor untuk menempatkan backsound, theme song, dan scoring

music yang tepat


d. Mengevaluasi hasil perekaman suara

Dari pendapat diatas, maksud dari kata editor dalam program non drama

televisi ini adalah penyunting gambar. Penulis selaku penata suara menyimpulkan

bahwa penata suara di tahap pasca produksi juga berperan penting dalam

sempurnanya hasil suntingan gambar, penata suara juga harus menyaring beberapa

file audio yang tidak layak dimasukan kedalam tahap suntingan.

Penulis sebagai penata suara melakukan perekaman voice over (VO) sebagai

kebutuhan naskah program kami. Penata suara kemudian mendampingi penyunting

gambar dalam proses penyuntingan video dan membantu menempatkan komponen-

komponen suara diluar suara host diantaranya voice over (VO), backsound yang sesuai

dengan momen dan suasana tiap segmen. Penempatan suara pada gambar sangat

diperlukan agar informasi yang diberikan oleh gambar dapat sesuai dengan suara yang

digunakan.

Menurut Latief dan Utud (2015:133) “Seorang penata suara biasanya adalah

orang yang sudah mengikuti pendidikan atau pelatihan, namun banyak yang mahir

karena pengalaman menekuni bidang audio tersebut”.

Dari keterangan di atas, penulis menyimpulkan bahwa penata suara harus

mempunyai pengetahuan dasar. Namun di tahap ini istilah audio tahap penyuntingan

gambar seperti decibel (db), frequency, stereo, dan noise. Decibel (db) adalah satuan

unit untuk menunjukan keras lemahnya satuan suara ini berguna untuk memonitor agar
menghindari suara-suara yang tidak diinginkan. Frequency adalah banyaknya getaran

yang terjadi dalam jangka waktu tertentu. Stereo adalah penempatan sinyal suara

dalam dua kanal yaitu dalam jalur left dan right (L dan R) yang terdengar pada

speaker. Noise adalah suara yang tidak kita inginkan yang mengganggu dan membuat

turun kualitas dari hasil audio.

Penata suara juga menyunting suara hasil perekaman yang kurang baik, seperti

power vocal pembawa acara dan narasumber yang tidak stabil, jika mendapatkan suara

yang tidak stabi, penata suara menaikan volume pada suara tersebut agar dari setiap

segmen hasil suara yang ada di dalam video stabil dan rata. Penulis sebagai penata

suara memilih audio yang berkualitas baik, kemudian hasil dari pilihan tersebut

langsung diberikan kepada penyunting gambar untuk disunting menjadi satu dengan

gambar dan disesuaikan dalam setiap segmennya.

3.6.4 Peran dan Tanggung Jawab Penata Suara

Dalam pembuatan produksi non drama ini, penata suara mempunyai peran dan

tanggung jawab pada saat pra produksi, produksi, pasca produksi dan juga

bertanggung jawab terhadap kualitas audio baik secara teknis dan non teknis.

Menurut Kusumawati dkk (2017:126), seorang penata suara memiliki peran

dan tanggung jawab yang harus dilakukan :


a. Bertanggung jawab terhadap kualitas audio baik secara teknis maupun non

teknis.
b. Memahami instalasi jaringan distribusi audio secara teknis dan dapat mengatasi

apabila terjadi gangguan.


c. Mengetahui karakter mic dan peralatan audio yang lainnya dan mempersiapkan

peralatan audio sesuai dengan yang dibutuhkan.


d. Berkoordinasi dengan pengarah acara/produser dan rekan kerja yang lain

selama proses produksi program televisi berlangsung.


e. Mengoperasikan mixer audio dengan baik dan profesional

Penulis sebagai penata suara menyimpulkan kutipan diatas bahwa dalam pra

produksi, penata suara harus mempelajari konsep yang sudah dibuat agar dapat

mengetahui alat-alat yang akan digunakan, lalu mempersiapkan peralatan yang

berhubungan dengan suara. Memahami segala peralatan yang akan digunakan. Pada

saat produksi penulis sebagai penata suara bertanggung jawab menyiapkan peralatan

audio yang akan digunakan saat produksi. Penulis berusaha semaksimal mungkin agar

suara yang direkam hasilnya baik. Dapat mengoperasikan peralatan audio dengan

benar sehingga mampu meminimalisir suara-suara noise, serta dapat menguasai teknis

setiap peralatan agar mampu menghadapi gangguan atau kendala yang terjadi di

lapangan, serta menjaga tinggi rendahnya suara dalam perekaman agar mempermudah

pada saat proses penyuntingan gambar. Sedangkan untuk mendengarkan hasil rekaman

pada saat produksi dan membantu penyunting gambar untuk meletakan komponen-

komponen suara diantaranya voice over, backsound, sound effect yang sesuai dengan

momen disetiap segmen dan juga memilih file-file suara yang kualitasnya baik.

Penulis selaku penata suara harus paham dalam aspek yang berhubungan

dengan audio. Dalam program non drama televisi “XPLORENESIA” ini suara
memiliki peranan penting dalam segala hal yang berhubungan dengan suara,

informasi-informasi yang disampaikan oleh pembawa acara dan narasumber menjadi

kekuatan utama dalam program ini karena setiap informasi yang disampaikan saling

berhubungan dengan setiap segmen di program ini.

3.6.5 Proses Penciptaan Karya

Di dalam produksi ini merupakan sebuah Tugas Akhir (TA). Penulis

memegang jabatan sebagai penata suara. Dalam produksi yang berjudul

“XPLORENESIA” ini, segala hal yang berkaitan dengan suara merupakan tanggung

jawab penulis. Dalam sebuah program non drama televisi, suara memiliki peranan

penting yang dapat mendukung gambar yang ditampilkan dan menyampaikan

informasi yang tidak dapat disampaikan melalui gambar saja serta memperkuat

suasana. Oleh karena itu, keberadaan seorang penata suara sangat dibutuhkan dalam

sebuah produksi program non drama televisi.

Disini penulis akan mencoba dengan kemampuan yang penulis miliki, dengan

segala keterbatasan baik teknis maupun skill, penulis akan berusaha semaksimal

mungkin agar program non drama televisi ini menjadi sesuai dengan apa yang

diharapkan. Penulis sebagai penata suara dalam produksi non drama berjudul

“XPLORENESIA” ini berusaha agar suara yang dihasilkan mulai dari host,

narasumber beserta backsound yang diberikan dapat dinikmati dan diterima oleh

masyarakat.
Ide-ide yang didapat oleh penata suara dalam pembuatan program non drama

“XPLORENESIA” ini dari berbagai program-program televisi seperti My Trip My

Adventure, Halal Living, dan Weekend List. Penata suara menjadikan program ini

sebagai referensi untuk materi-materi yang akan digunakan ketika produksi serta untuk

mengembangkan ide-ide yang penulis miliki salurkan.

A. Konsep Kreatif

Konsep kreatif penata suara dalam membuat produksi non drama

“XPLORENESIA” adalah menentukan dan memilih backsound yang cocok serta

mengumpulkan sound effect sebagai suara tambahan guna memberi kekuatan dalam

setiap segmen. Penata suara harus sangat memperhatikan dalam pemilihan backsound

yang sesuai dan yang tidak asing lagi di telinga masyarakat. Sehingga penonton juga

akan menikmatnya dengan baik.

Suara natural juga akan sangat memperkuat dan mempertegas suasana serta

setting waktu dan tempat pada tiap segmen. Penulis sebagai penata suara

menggunakan perekaman suara secara langsung agar suara yang terekam dapat

mencerminkan suasana hati pembawa acara, sehingga suara yang terekam diperkuat

oleh gambar dan suasana pada saat shooting berlangsung. Penulis sebagai penata suara

memanfaatkan suara asli yang terekam guna memperkuat keaslian gambar dan adegan

dalam tiap segmen.

Penulis sebagai penata suara sangat detil memilih backsound yang sesuai di

tiap segmennya. Dalam proses penyuntingan gambar, penata suara bersama

penyunting gambar menyesuaikan gambar dengan menyeimbangkan suara dengan

memperhatikan kebutuhan gambar yang ditampilkan. Contoh konsep yang penata


suara buat dalam program “XPLORENESIA” ini saat adegan yang menyenangkan,

penata suara meletakan backsound yang sesuai dengan suasana, guna memperkuat

gambar yang terjadi, penulis sebagai penata suara juga bekerjasama dengan

penyunting gambar melakukan pergantian shot diikuti dengan tempo beat dari

backsound yang dipakai, bertujuan sebagai acuan penyuntingan gambar untuk

mencampurkan gambar sesuai dengan harmonisasi audio. Dalam proses penyuntingan

suara, penata suara sangar memperhatikan tinggi rendahnya volume agar enak

didengar oleh penonton.

B. Konsep Produksi

Konsep produksi penata suara dimulai dari rapat produksi untuk bedah naskah

setiap scene atau adegan agar penata suara dapat mengetahui apa yang direkam dan

mengetahui backsound yang sesuai. Penata suara ikut serta dalam hunting lokasi agar

dapat mengetahui sumber-sumber noise sehingga dapat diantisipasi gangguan pada

saat produksi, karena pada lokasi shooting program non drama “XPLORENESIA”

ini gangguan suara sangat banyak dikarenakan lokasi yang berada di daerah

perbukitan.

Penata suara memahami segala hal yang berhubungan dengan audio bertujuan

menghindari kesalahan dan kendala saat produksi. Setelah itu penata suara

menentukan konsep teknis perekaman suara dilapangan, kemudian penata suara

merencanakan untuk lalu menentukan kebutuhan alat-alat yang sesuai untuk

digunakan di lapangan. Saat shooting penata suara melakukan perekaman suara di

lapangan dengan peralatan yang telah disiapkan sebelumnya serta meminta bantuan
kru lain untuk membantu mengoperasikan alat karena penata suara menggunakan dua

media tangkap suara dalam perekaman. Pada saat perekaman suara yang ada didalam

adegan tetrdapat dua sumber suara sumber yaitu penbawa acara dan narasumber,

penulis sebagai penata suara menggunakan cara perekaman stereo atau sumber suara

terekam per channel nya masing-masing, agar pada saat proses penyuntingan gambar

penata suara dapat mengubah sumber suara satu per satu serta, tahap terakhir dalam

penataan suara yaitu menambahkan voice over (VO) di dalam hasil penyuntingan

gambar.

C. Konsep Teknis

Konsep teknis dalam penata suara menggunakan satu buah clip on wireless

Sennheiser type G3 yang dipasangkan untuk pengarah acara berfungsi sebagai audio

master, satu buah clip on wireless Sennheiser type G3 untuk narasumber, alat tersebut

sebagai penangkap suara semuanya dengan kualitas baik sehingga mendapat suara

yang di harapkan. Serta boom mic shotgun rode NTG-3 yang digunakan untuk mem-

backup suara. Untuk media perekaman penata suara menggunakan Hand Recorder

Zoom H6N dengan kualitas baik sehingga perekaman suara dapat meminimalisir dari

berbagai noise. Penata suara juga menggunakan headset agar dapat mendengar dialog

pembawa acara dengan baik sehingga bila terjadi noise atau dialog yang kurang jelas

bias dapat diketahui dengan jelas. Selain itu penata suara juga perlu memantau tinggi

rendahnya suara pada saat perekaman dengan melihat decibel (db) parameter yang

terletak di layer hand recorder.

Dalam konsep ini penata suara menggunakan dua media tangkap suara yaitu

clip on dan boom mic, sedangkan untuk media rekamnya menggunakan hand recorder
dan kamera yang bertujuan untuk mengantisipasi kendala saat produksi berlangsung.

Informasi-informasi suara sangat penting dalam program “XPLORENESIA” ini.

Penata suara berusaha semaksimal mungkin agar suara yang terekam dapat terdengar

jelas. Dalam hal ini penata suara harus dapat memecahkan masalah yang berhubungan

dengan suara.
3.5.6 Kendala Produksi dan Solusinya
Dalam produksi Non Drama Televisi ini, ada beberapa kendala-kendala baik itu

dari segi teknis maupun non teknis, seperti :

1. Plug dan socket clip on yang kondisinya kurang bagus sehingga clip on

terkadang muncul suara gesekan yang tidak enak didengar, dan solusinya

menambal plug clip on dengan karet sehingga tidak mudah goyang di bagian

socket clip on.

2. Suara angin yang terlalu kencang ketika produksi di Jam Gadang, karena lokasi

terletak di atas perbukitan, dan di area jalan menggunakan Zoom H6N

terkadang menyebabkan suara angin yang sangat kencang dan mengganggu

hasil dari rekaman. Solusinya penulis menutupi mic clip on dengan kain

sehingga menjadi penyaring, agar mengurangi suara angin yang ikut terekam

saat produksi berlangsung.

3. Suara bising ketika di Jam Gadang, saat itu sedang dilakukan pekerjaan proyek

yang membuat suara mesin kontraktor lebih kencang daripada suara pembawa

acara dan mengganggu proses perekaman. Solusinya penulis mengatur tingkat

sensitivity pada clip on dan gain pada hand recorder agar mendapat suara

yang cukup jelas, lalu pada tahap terakhir penulis menggunakan aplikasi

penyunting suara untuk meminimalisir suara noise dan menaikan gain audio

yang kurang tinggi.


3.5.7 Lembar Kerja Penata Suara

Konsep Penata Suara

Dalam karya tugas akhir, penulis beserta rekan tim membuat sebuah program

acara magazine show yang berjudul “XPLORENESIA” Penata suara berusaha

dengan semaksimal untuk dapat membuat Non Drama Televisi ini menjadi lebih

menarik dan sesuai dengan apa yang di inginkan Memberikan sebuah karya Drama

televisi dengan konsep audio yang baik.

Perekaman suara menggunakan cara mengarahkan sound yaitu perekaman suara

langsung pada saat shooting berlangsung sehingga suara yang terekam akan

mencerminkan mood host yang diperkuat oleh gambar dan suasana. Suara-suara

natural juga akan sangat memperkuat dan mempertegas suasana serta setting waktu

pada setiap segment. Perekaman suara akan dilakukan sebaik mungkin dan

diusahakan agar terhindar dari berbagai noise. Untuk perekaman penulis memakai

clip on, hand recorder, serta boom mic. Penulis memakai clip on karena suara

terfokus dan jelas terdengar saat dialog pembawa acara. Penulis memakai hand

recorder karena penulis ingin mengambil suara atmosfir di lingkungan lokasi

shooting dan untuk menyimpan data perekaman saat shooting.

Penulis memberikan audio dalam setiap segmen dengan backsound dan music

instrument yang berkonsep ceria dan masa kini, guna untuk membangun “emosi”
penonton agar terbawa suasana senang dan seolah sedang travelling di alam

Indonesia.

SPESIFIKASI AUDIO

1. Zoom H6N

Tipe Hand Recorder


Recording Media SD card: 16MB to 2GB

SDHC card: 4GB to 32GB

SDXC card: 64GB to 128GB

Input dan Output Slot 4 Slot

Slot Baterai 4 Slot Baterai (Ukuran AA)

Recording Format WAV (Sampling Frequency 44.1/48/96 kHz)

MP3 (Sampling Frequency 44.1 kHz)


Berat 77.8mm (W) x 152.8mm (D) x 47.8mm
H6:
(H), 280g
78.9mm (W) x 60.2mm (D) x 45.2mm
XYH-6:
(H), 130g

MSH- 58.0mm (W) x 67.6mm (D) x 42.1mm


6: (H), 85g

Display 2.0-inch full color LCD (320 x 240 pixels)

2. Sennheiser G3-100

Type Clip On

Slot Baterai Receiver : 2 Slot Baterai (Ukuran AA)

Transmitter : 2 Slot Baterai (Ukuran AA)

Antenna Receiver : Single Flexible Antenna (M3 Type)

Transmitter : M3 Type

Jarak Frekuensi A (516-558 MHz)

10 + 1 user bank, 12 presets per bank

Respon Frekuensi 40 Hz - 18 kHz

Tipe Mikrofon ME 2 Lavalier Microphone


3. Taffware BM-700

Type Microphone Condenser

Frequensi Respon 20Hz-20kHz

Impedance 150 Ohm

Sensitvitas -34db +- 2dB

Sound Pressure 16dB

Sound to Noise Ratio 78dB


Dimensions 150 x 46 x 46 mm

4. Sennheiser MKH-416

Type Boom Mic


Jarak Dinamis 117 dB

Respon Frekuensi 40 – 20.000 Hz

Maks. Input Sound 130 dB

Signal Noise Rasio 81 dB

Tegangan Listrik Phantom Power 48 v


3.5.7.1 Laporan Penata Suara

TABEL III. LAPORAN PENATA SUARA


AKADEMI KOMUNIKASI
BINA SARANA INFORMATIKA

Production Company : PETA Production Produser : Muhammad Miftah Farid

Project Title : “XPLORENESIA” Director : Andre Rinaldi

Durasi : 24 Menit Penata Suara : Kevin Nuriana

NO SEGMENT DUR. SCRIPT EQUIPMENT ATMOSPHERE VOLLEY MUSIC

1 1 34” Host : Clip On : Natural - Revara –

“Halo sobat Sennheiser Selamanya


xplore, jumpa G3-100
lagi dengan saya
Maya Mayananda Hand
di acara Recorder:
Xplorenesia,
Zoom H6N
let’s to explore
Indonesia.
Nah sekarang,
maya lagi berada
di tempat
nongkrong yang
asyik banget di
bilangan Jakarta
Selatan di
Warbox Cafe
yaitu tepatnya
di daerah
Condet, seperti
biasa selama 30
menit kedepan,
Maya bakal
nemenin sobat
xplore semuanya
untuk
mengelilingi
Indonesia. Nah
sobat xplore
pasti udah sabar
kan, yuk ikutin
Maya. “

2 1 22” - - - - Revara –

Selamanya

3 1 25” Host : Boom Mic : Natural Gelas, Revara –


Botol
“Well, tempat Sennheiser
yang akan kita MKH-416 Selamanya
kunjungi kali
ini adalah kota
Padang, Sumatera
Hand
Barat. Kota yang
Recorder :
khas dengan
makanan rendang Zoom H6N
ini juga
terkenal
memiliki banyak Clip On :
tempat wisata
yang unik dan Sennheiser
bersejarah. G3-100
Pasti sobat
xplore udah gak
sabar kan mau
liat tempat mana
aja yang akan
kita eksplor.
Let’s to explore
Indonesia.”

4 1 56” Voice Over: - Revara –

“Kota Padang - Selamanya


adalah Kota Microphone
terbesar yang Condenser :
ada di pesisir Taffware BM-
barat Pulau
Sumatra. Kota 700
ini merupakan
Ibu kota
Provinsi Sumatra
Barat dengan
luas 694,96
kilomenter.

Kata Padang
dalam bahasa
Minang berarti
“Padang” yang
bisa juga
mengartikan
“Lapangan”.

Kota yang
terkenal dengan
cerita Siti
Nurbaya ini
mempunyai pesona
alam nan luar
biasa.”

“Bagi sobat
Eksplore yang
pernah ke Kota
Bukittinggi,
tentu tidak
asing lagi
dengan yang
namanya Jam
Gadang.

Ya, jam Raksasa


ini disebut-
sebut kembaran
dari Jam Big Ben
yang berada di
Inggris.

Tinggi bangunan
ini mencapai 26
meter.

Jam yang menjadi


Ikon Bukittinggi
ini dibangun
pada tahun 1926
oleh arsitek
Yazid dan Sutan
Gigi Ameh.

Pada keempat
sisi puncaknya
terdapat empat
buah jam dengan
diameter 80
centimeter, jam
ini merupakan
hadiah dari Ratu
Belanda kepada
sekretaris kota
pada saat itu.”

5 1 33” Co-Host : Clip On : Natural - Revara –

“Hai sobat Sennheiser Selamanya


xplore, aduh G3-100
sangking
keasikan foto,
della jadi lupa
Hand
nih nyapa sobat
Recorder :
xplore semua,
nah sekarang
della lagi ada Zoom H6N
di Jam Gadang,
tepatnya di area
Bukit Tinggi.
Nah sobat xplore
mau tau kan
informasi apa
aja yang ada di
jam gadang ini,
Yuk ikutin della
terus.”

6 1 34 Voice Over : Microphone Natural - Revara –


Condenser :
“Yang menjadi Selamanya
keunikkan dari Taffware BM-
jam ini adalah 700
angka empat pada
Jam Gadang yang
tidak mengikuti
Clip On :
kaidah angka
Romawi pada Sennheiser
umumnya. Banyak G3-100
yang mengaitkan
dengan hal-hal
tahayul. Namun
Hand
sampai saat ini
Recorder :
tidak ada
rujukkan pasti Zoom H6N
mengenai hal
itu.”

Co-Host :

“Nah sobat,
beginilah
keadaan yang ada
di jam gadang,
ini baru lantai
pertama, dan
lantai pertama
ini merupakan
tempatnya
petugas berjaga
di jam gadang.
Sobat mau tau
kan apa yang ada
di lantai kedua,
ketiga, dan
keempat. Yuk
ikutin della
terus.”

7 1 52” Co-Host : Clip On : Revara –

“Well guys, Sennheiser Ruang


sekarang della G3-100
Sudah berada di
lantai ketiga
dari bangunan Hand
ini, huh capek Recorder :
banget untuk
naik ke atas Zoom H6N
ini, butuh
perjuangan, dan
di lantai ketiga
ini merupakan
tempat mesin
perputaran jam
ini. Nah masih
ada satu lantai
lagi loh guys,
mau tau apa
aja ? yuk ikutin
della terus.”

8 1 17” Co-Host : Clip On : Natural - Revara –


Ruang
“Nah sobar Sennheiser
xplore, sekarang G3-100
della berada di
lantai keempat Hand
dan merupakan Recorder :
lantai terakhir
Zoom H6N
dari Menara ini.
Di lantai
keempat ini kita
bisa melihat
seluruh
pemandangan kota
yang ada di
Bukit Tinggi”

9 1 30” Co-Host : Clip On : Natural - Revara –


Ruang
“Xplorenesia, Sennheiser
Let’s To Explore G3-100
Indonesia !”

Hand
Recorder :

Zoom H6N

10 2 44” Host : Clip On : Natural Botol Revara –


Ruang
“Kalau tadi kita Sennheiser
udah mengeskplor G3-100
jam gadang,
sekarang kita
akan mengunjungi
Hand
tempat yang di
Recorder :
Batu Sangkar,
Bukit Tinggi. Di Zoom H6N
Batu Sangkar
terdapat batu
ajaib, yang
Boom Mic :
Namanya batu
angkek-angkek, Sennheiser
sedangkan di MKH-416
Bukit Tinggi
terdapat
jembatan yang
disebut sebagai
miniaturnya
tembok cina.
Waduh, pasti
udah pada gak
penasaran kan,
langsung aja
yuk, Lets To
Explore
Indonesia..

11 2 1’ Voice Over : Microphone Natural - Revara


30” Condenser : -Selamany
“Batu sangkar
a
selama ini Taffware BM-
700
terkenal dengan
panorama alam x
nan mempesona. Clip On :
Selain itu
Sennheiser
terdapat juga G3-100
ciri khas dari
Negri Ranah
Minang ini. Hand
Recorder :
Yaitu Batu
Angkek-angkek Zoom H6N
yang terdapat di
sebuah Rumah
Boom Mic :
Gadang keturunan
Datuak Bandaro Sennheiser
MKH-416
Kayo di Nagarai
Balai Tabuh,
Kabupaten Tanah
Datar. Konon
katanya Batu ini
mempunyai berat
yang berubah-
ubah.

Batu berbentuk
cangkang Kura-
kura ini
berwarna Hitam
dan mempunyai
lubang kecil di
tengahnya. Di
permukaannya
yang berwarna
tembaga ada
tulisan lafadz
Allah dan
Muhammad.

Batu Angkek-
angkek yang
mempunyai arti
angkat-angkat
ini dipercaya
masyarakat
sekitar
mempunyai
kekuatan gaib
yang mampu
meramal nasib
seseorang,
dengan cara
mengangkat batu
tersebut. Bila
seseorang yang
berhasil
mengangkat
batunya maka
niat dan
keinginannya
bisa tercapai.
Namun
sebakliknya,
bila seseorang
tidak berhasil
mengangkatnya
maka niat dan
keingiannya
tidak akan
terkabul.”

Co-Host :

“Nah, sobat
xplore penasaran
kan habis dari
batu angkek-
angkek ini,
della mau kemana
lagi ? yuk
ikutin della
terus. “

12 2 55” Voice Over : Microphone Natural - Revara -


Condenser : Selamanya
Kita kembali
lagi ke Taffware BM-
700
Bukittinggi,
kota ini banyak x
sekali Clip On :
menawarkan
Sennheiser
tempat wisata G3-100
bagi para
pengunjung.
tempat yang Hand
Recorder :
direkomendasikan
Xplorenesia Zoom H6N

adalah Janjang
Saribu. Mungkin
Boom Mic :
beberapa orang
Sennheiser
masih bertanya
MKH-416
tentang wisata
ini. Faktanya,
memang masih
belum banyak
orang yang tahu
dengan tempat
wisata ini. Yang
paling unik
adalah,
kemiripan konsep
yang dimiliki
kawasan wisata
ini dengan
Tembok besar
yang ada di
Cina. Sekaligus
wisata ini bisa
dijadikan tempat
pengganti
mnikmati Tembok
Cina dengan
biaya yang
relative murah.
Host :

“Oke sobat
xplore, balik
lagi nih ke
bukit tinggi.
Kali ini della
lagi ada di
janjang saribu.
Tapi walaupun
Namanya janjang
saribu, jumlah
anak tangga ini
tidak mencapai
seribu, nah
sobat xplore mau
tau kan lebih
lanjut tentang
janjang ini, yuk
ikutin della
terus.”

12 2 2’ Voice Over : Microphone Natural - Revara -


13” “Selain memiliki Condenser : Selamanya
jumlah anak
Taffware BM-
tangga yang 700
banyak. Janjang
Saribu memiliki
Clip On :
panorama yang
menkjubkan. Bila Sennheiser
G3-100
dilihat dari
atas jembatan.
Kita bisa Hand
melihat hamparan Recorder :
lembah nan Zoom H6N
hijau, daerah
Ngarai Sianok
dan Gunung Boom Mic :

Singalang.” Sennheiser
MKH-416

Co-Host :

“ya sobat,
sekarang della
sudah sampai di
puncak janjang
saribu, ini tuh
capek banget
sobat, jadi
kalau kalian mau
pergi ke ngarai
sianok, kalian
wajib cobain
wisata janjang
saribu.”

Voice Over :

“Benar saja,
bila kita terus
telusuri anak
tangga dengan
tembok yang
berwarna abu-abu
di sisi kanan
dan kiri membuat
kita tak akan
heran destinasi
tempat ini
mendapat julukan
The Great Wall
Of Koto Padang.”

Co-Host :

“Xplorenesia,
Lets To Explore
Indonesia”

13 3 1’ Host : Clip On : Natural - Revara -


Selamanya
“ Bicara tentang Sennheiser
wisata yang ada G3-100
di tanah minang,
memang tidak ada
habisnya mulai
Hand
dari tradisi
Recorder :
tempat
bersejarah Zoom H6N
bahkan istana
semuanya ada.
Seperti yang
akan dikulik Boom Mic :
oleh della yang
ada di batu Sennheiser
sangkar, di batu MKH-416
sangkar terdapat
istana yang
megah yang
menjadi
kunjungan
wisatawan dalam
maupun luar
negeri. Mau tau
selengkapnya ?
lets to explore
Indonesia.”

14 3 1’ Voice Over : Microphone Natural - Revara –


57” Condenser : Ruang
“Kota Padang
takkan pernah Taffware BM-
700
kehabisan pesona
wisatanya.
Selain memiliki Clip On :
keunikkan di
Sennheiser
bidang alam dan G3-100
kuliner, Kota
Malinkundang ini
juga memiliki Hand
aneka ragam Recorder :
budaya yang
Zoom H6N
menarik untuk
dipelajari.
Terkaitdengan Boom Mic :
ini salah satu Sennheiser
wisata yang MKH-416
terkenal dan
banyak
dikunjungi
Wisatawan adalah
I stana Baso
Pagaruyung

Sama seprti
wisata pada
umumnya Istana
Pagaruyung ini
mempunyai harga
tiket bila untuk
memasukinya.
Untuk harga
tiket orang
dewasa dikenai
biaya lima
belas ribu,
sedangkan harga
orang dewasa
mancanegara
seharga dua
puluh lima ribu,
Dan untuk anak-
anak dikenai
harga sepuluh
ribu rupiah dan
untuk anak-anak
Mancanegara
dikenai lima
belas ribu
rupiah.”

Co-Host :

“Yak, sobat
xplore. Masih di
batu sangkar
nih, nah tepat
di belakang
della ada istana
baso atau istana
pagaruyung.
Sobat xplore
penasaran dong
gimana di
dalamnya ? yuk
kita kulik di
dalamnya, lets
to explore
Indonesia.”

15 3 1’ Co-Host : Microphone Natural - Revara –


36” Condenser : Ruang
“Ya sobat
xplore, Taffware BM-
berhubung 700
sekarang lagi
ada di istana
pagaruyung,
Clip On :
belum afdol
rasanya kalo Sennheiser
della belum G3-100
nyobain baju
adat dari istana
pagaruyung
Hand
tersebut. Nah
Recorder :
sekarang della
mau kedalam dulu Zoom H6N
ya mau ganti
bajunya, dadah.”
Boom Mic :

Voice Over : Sennheiser


MKH-416
“Di Istana ini
juga menyediakan
beraneka ragam
baju adat. Bagi
sobat Eksplore
yang ingin
mencoba baju
adatnya, sobat
bisa merogoh
kocek seharga
tiga puluh lima
ribu sampai
empat puluh ribu
rupiah
tergantung jenis
model
pakaiannya.”

Co- Host:

“Ya sobat
xplore, ini dia
baju adat yang
udah della pilih
tadi, gimana nih
menurut sobat
xplore, bagus
kan baju adatnya
?”

16 3 1’ Co-Host : Clip On : Natural - Revara -


16” Ruang
“Nah sobat Sennheiser
xplore, sekarang G3-100
della udah ada
di lantai kedua,
dilantai kedua
Hand
ini terdapat
Recorder :
sebuah kamar
yang bernama Zoom H6N
Anjuang
Pangarinan,
Anjuang
Pangarinan itu
teruntuk putri
raja yang belum
menikah.”

“Nah sobat
xplore sekarang
della berada di
lantai ketiga
dan lantai
ketiga ini
merupakan lantai
terakhir yang
ada di istana
pagaruyung, di
lantai ketiga
ini merupakan
tempat
penyimpanan
pusako nya sang
raja.”

“Xplorenesia,
Lets to Explore
Indonesia”

17 3 1’ Host : Clip On : Natural - x


52”
“Ada banyak cara Sennheiser
untuk menunjukan G3-100
rasa
nasionalisme
kita, salah
Hand
satunya adalah
Recorder :
dengan
menggunakan Zoom H6N
produk buatan
Indonesia. Dan
mengunjungi
Boom Mic :
tempat-tempat
yang ada di Sennheiser
tanah ibu MKH-416
pertiwi. Tak
terasa sobat
xplore sudah 30
menit saya
menemani kalian
semua, sampai
ketemu di hari
dan jam yang
sama, saya Maya
Mayananda mohon
pamit undur
diri. Lets to
Explore
Indonesia.”
3. 7 Proses Kerja Penata Cahaya
Dalam program acara magazine televisi “XPLORENESIA” ini, penulis di

percaya oleh tim sebagai Penata cahaya. sebagai Penata cahaya harus mampu

merekayasa suatu keadaan lokasi yang tadinya biasa menjadi luar biasa. Penulis juga

membayangkan sebuah konsep lighting yang sesuai dengan tema yang diusung yang

dapat menarik mata penonton.

Penata cahaya mempunyai tugas yaitu mengatur cahaya dengan menggunakan

peralatan pencahayaan agar kamera mampu melihat objek dengan jelas. di sini

Penulis menggunakan lighting untuk menambahkan cahaya di dalam setiap program

yang sedang berlangsung. Apakah lokasi kurang cahaya atau terlalu terang penulis

sebagai penata cahaya harus mampu dan mengatasi keadaan dengan mengatur

cahaya lampu yang digunakan.

Menurut Rusman dan yusiatie ( 2015:133) penata cahaya adalah petugas yang

mendesain dan menentukan pencahayaan produksi program di dalam studio maupun

di luar studio.

Dari kutipan di atas seorang penata cahaya haruslah mengetahui sumber-

sumber cahaya, dengan kualitas dan ukuran cahaya yang di hasilkan serta

mengetahui jenis-jenis lampu lighting serta fungsinya masing-masing dan juga harus

pandai menempatkan posisi lampu agar menghasilkan kualitas lampu yang baik.

Menurut kusumawati dkk (2017:37) “penata cahaya dapat disebut juga sebagai

lighting designer (director) adalah seorang yang mengatur dan menerapkan

kebutuhan desain pencahayaan ke dalam sebuah produksi lokasi”

Fungsi penata cahaya yaitu agar produksi non drama televisi ini mudah

dipahami oleh penonton dimana ada sebuah penerangan yang tadinya biasa menjadi
luar biasa. Unsur cahaya sangat penting, bila tidak ada cahaya disaat di dalam

ruangan maka proses produksi tidak akan berjalan.

3. 7. 1Pra Produksi

Pada tahap pra produksi ini penata cahaya dan tim yang lainnya mengadakan

diskusi bersama untuk melakukan pengembangan ide dan mencari nama program

untuk dijadikan karya non drama tugas akhir ini. Selain itu penulis bekerja sama

dengan pengarah acara dan camera person untuk mempelajari naskah di setiap

segmennya dan melakukan survey lokasi guna mengetahui tempat dan kondisi yang

memerlukan penerangan yang sesuai Penempatan lighting nantinya disebut blocking

lighting. Setelah disepakati oleh produser dan pengarah acara, penata cahaya tidak

hanya pasif menerima arahan baiknya memberikan masukkan juga ke pada produser

dan pengarah acara.

Menurut Karsito dalam Kusumawati (2017:37) “penata cahaya adalah orang

yang bertugas mengatur tata cahaya di lokasi shooting atas permintaan sinematografer

’’

Menjadi seorang penata cahaya harus mengetahui keadaan di lokasi oleh karena itu

pengarah acara dan penulis harus bisa menerapkan konsep program yang akan di

buat. dengan pengambilan gambar di lokasi yang tentu saja membutuhkan persiapan

tersendiri terutama dalam hal-hal teknis

Pengaturan pencahayaan dalam sebuah program acara di tentukan oleh

seorang penata cahaya. Penulis sebagai penata cahaya menggunakan lampu led agar

mudah dibawa dan berpindah-pindah. led merupakan jenis lampu spotlight dengan

intentas cahaya daylight. Penulis juga memakai kinaflo agar mampu menambahkan
cahaya yang cukup terang. dan penulis melakukan persiapan-persiapan yang akan di

lakukan agar pada saat produksi tidak terjadi kesalahan-kesalahan

3. 7. 2 Produksi

Di tahap produksi ini penata cahaya diarahkan oleh pengarah acara tentang

visual dan tata letak lighting. Seorang penata cahaya harus cepat membaca situasi

untuk melakukan strategi pengambilan cahaya yang sesuai dengan kondisi yang ada.

Bila adegan diambil dalm ruangan maka penulis mengatur penerangan agar adegan

yang dibawakan pembawa acara jelas terlihat.

Dalam program ini penulis dan tim menghabiskan tiga hari di kota Sumatra

Barat tepat nya di Batusangkar dan Bukittinggi dan satu hari di kota Jakarta.

Kebanyakan dari konsep program ini mengambil gambar di dalam ruangan sehingga

sangat membutuhkan pencahayaan yang cukup

Penggunaan lampu led sangat membantu untuk penerangan di lokasi dalam

Istana Pagaruyung, batu angkek-angkek, jam Gadang, dan studio dan dibantunya

lampu yang mudah dibawa – bawa tanpa diletakkan di tripod. Sedangkan di studio

penulis memakai kinoflo dan led

Penulis selalu bekerja sama dengan pengarah acara dan camera person.

Penggunaan tripod dalam penggunaan lampu sangat penting bagi penata cahaya.

Walaupun terkesan butuh tenaga, butuh tempat dan terkesan rumit. Penggunaan

tripod memberikan dampak yang besar pada kualitas cahaya. Agar dapat cahaya yang

statis dan stabil.

Dalam program non darama tugas akhir ini, penulis sudah bekerja dengan

maksimal, selalu menjaga alat yang dipakainya dan meletakkan lampu dengan benar
agar cahaya yang dihasilkan tetap stabil dan sesuai yang diinginkan. Penulis juga

selalu melihat kondisi lokasi pengambilan gambar pada saat peletakkan cahaya untuk

meminimalisir terjadinya noise cahaya yang ada di kamera. Mengingat pengambilan

gambar andai di luar ruangan dan di dalam ruangan.

Cahaya selalu berurusan dengan lampu. Ada sumber cahaya lain selain lampu

yaitu sinar Matahari. Menurut Kusmawati (2017:38) Dalam produksi penata cahaya

harus mempersiapkan segala hal saat shooting, yaitu :

1. Mempersiapkan peralatan yang dibutuhkan untuk berjalannya shooting


2. Menempatkan peralatan lighting dengan baik dan benar sesuai blocking lighting yang

dibuat sebelum produksi agar dapat hasil yang memuaskan.


3. Menjaga peralatan yang berhubungan dengan cahaya.
4. Bekerja sama dan melakukan komunikasi dengan sutradara dan kameramen dalam

penempatan lighting dan segi penataan cahaya.


5. Merapikan dan meletakkan kembali peralatan selesai shooting

Dari kutipan di atas seorang penata cahaya harus mempersiapkan seluruh

peralatan dengan baik dan mengoprasikan lighting secara maksimal dan selalu

berkomunikasi dengan pengarah acara dan camera person agar penempatan cahaya

sesuai dengan yang di inginkan.

Menurut Pratista dalam Kusumawati (2017:47) perancangan tata lampu dibagi

menjadi dua jenis yaitu High key lighting dan low key lighting

a. High key ligting


High key lighting merupakan suatu teknik tata cahaya yang menciptakan batas yang

tipis antara gelap dan terang.teknik ini lebih mengutamakan pada warna,bentuk dan

garis yang tegas pada tiap elemen mise-en scene efek bayangan yang di usahakan

seminimal mungkin
b. Low key lighting
Low key ligting merupakan teknik tata cahaya yang menciptakan batasan yang tegas

antara area gelap dan terang.teknik ini lebih mengutamakan unsur yang tegas

bayangan yang tegas dalam mise-en sceneI

Disini penulis harus tepat dalam penempatan lighting agar nantinya kamera

bisa menangkap gambar dengan cahaya yang sesuai ddengan yang di inginkan.

3. 7. 3 Pasca Produksi

Pasca produksi adalah tahap akhir dari proses pembuatan program ini pada

tahap ini tim yang bertugas melakukan evaluasi dari semua jobdesk mulai dari

pengarah acara, sutradara, penulis naskah, camera person, penata suara, penata

artistik, penata cahaya, kami berkumpul untuk melihat hasil produksi yang telah di

lakukan

Pada tahap pasca produksi dalam pembuatan acara non drama

XPLORENESIA di tahap ini penulis sebagai penata cahaya, mengecek ulang lagi

hasil shooting yang akan di siapkan ke meja penyunting gambar. pada saat ini penata

cahaya bekerja sama dengan pengarah acara, mendampingin penyunting gambar

untuk mengecek dan mengontrol pencahayaan agar dapat menghasilkan hasil yang

sesuai dengan yang di inginkan

Menurut Kusumawati dkk (2017:39) di pasca produksi penata cahaya juga

bertugas untuk

a. Mereview hasil gambar untuk melihat pena-taan cahaya yang telah diproduksi.
b. Menganalisa hasil akhir gambar, dan men-data kekurangan dari gambar yang telah

diambil
c. Mengevaluasi hasil akhir gambar
Dari kutipan diatas penulis harus mengevaluasi hasil akhir gambar yang telah

di buat saat produksi selesai,sebagai jobdesk penata cahaya dalam program nondrama

XPLORENESIA untuk tugas akhir ini,penulis harus menganalisa kembali hasil

gambar,dan mendata kekurangan dari gambar yang telah di ambil saat produksi.

Tak lupa penulis juga mengecek keutuhan alat saat selesai shooting karena

untuk kesediaan alatnya masih sewa jadi apabila ada kerusakan dan lain nya bisa di

cari solusinya

3. 7. 4 Peran dan Tanggung Jawab Penata Cahaya

Penata cahaya sebagai bagian dari kru produksi mempunyai tugas serta

tanggung jawab yang spesifik. adapun pernan yang dilakukan penulis adalah

melakukan riset lokasi dan berdiskusi dengan camera person. penulis sangat

bertanggung jawab atas masalah pencahayaaan.

Pada saat penata cahaya mencari tata letak yang terbaik dalam peletakan

cahayanya, penata cahaya di tuntut untuk bekerja secara professional pada saat

menentukan posisi cahaya yang pas dan tepat untuk mendapatkan warna dan

intensitas cahaya yang pas. seorang penata cahaya sudah menggambarkan tata letak

cahaya yang akan penulis letakan dan peralatan yang di butuhkan serta jenis alat-alat

pembantu yang akan di pakai saat produksi

Menurut Karsito dalam Kusumawati (2017:37) tugas dan kewajiban penata

cahaya sebuah produksi yaitu:

1. Mengetahui berbagai jenis lampu dan fungsi masing-masing lampu


2. Menterjemahkan tata cahaya sesuai dengan pencahayaan dan arah camera person
3. Membantu pengukuran yang tepat lighting ratio, exposure dan warna cahaya yang di

inginkan sinematografer
Disini penulis membuat blocking cahaya dan menyiapkan alat-alat yang di

butuhkan dalam produksi. Penulis memakai lampu kinoflo sebagai key dan fill serta

back nya dan penulis memakai lampu led yang sangat mudah dibawa kemana

saja.director treatment menjadi acuan untuk membuat blocking cahaya bagi

penulis.pada umumnya seorang penata cahaya tidak bekerja sendiri,dan secara umum

tugas serta tanggung jawab penata cahaya yaitu bertanggung jawab dengan hal-hal

yang mencakup pencahayaan.

Penulis harus melakukan persiapan dengan matang, melakukan uji coba

terhadap alat pencahayaan. disini penulis bertanggung jawab yang berhubungan

dengan lighting seperti , warna, intensitas cahaya, penerangan.

3. 7. 5 Proses Penciptaan Karya

Program televisi nondrama XPLORENESIA merupakan tugas akhir (TA)

yang menjadi syarat kelulusan dari kampus bina sarana informatika. dalam tugas

nondrama ini, penulis memegang jabatan sebagai penata cahaya. segala hal yang

berkaitan dengan pencahayaan adalah tanggung jawab penulis. penulis mencoba

dengan kemampuan yang penulis miliki dengan segala keterbatasan di lapangan baik

teknis maupun skill.

Penulis sudah berusaha semaksimal mungkin agar program nondrama televisi

ini tercipta sesuai dengan apa yang diinginkan tim produksi.penulis beserta tim

produksi menginginkan hasil yang terbaik dari karya yang di buat

A. Konsep Kreatif
Penulis sebagai penata cahaya bertugas menata cahaya dan seorang penata

cahaya harus punya gambaran yang sesuai dengan apa yang telah penulis naskah

buat. setelah penulis naskah membuat dan di setujui oleh produser dan pengarah acara
yang kemudian dipelajari dan dipahami oleh penulis.pada saat itu membayangkan

sebuah konsep lighting yang sesuai dengan tema yang di usung.


Di proses ini penulis membayangkan cahaya yang natural supaya dapat

memikat mata penonton,didalam pembuatan karya program televisi penata cahaya

harus bisa berusaha dengan maksimal untuk membuat program televisi ini menjadi

lebih menarik dan sesuai dengan apa yang di inginkan.sebelum produksi penulis

mencari referensi-referensi bagaimana peletakan lighting di dalam acara nondrama,


Penulis terus mempelajari konsep yang telah di buat agar nanti nya produksi

berjalan dengan baik ,sebagai penata cahaya penulis harus mengetahui sumber

sumber cahaya yang ada,dengan kualitas dan ukuran cahaya yang di hasilkan serta

mengetahui jenis jenis lighting yang cocok buat digunakan saat produksi
Sebelum produksi penulis juga langsung meninjau tempat yang akan di

gunakan buat produksi agar nantinya penulis bisa menempatkan posisi lighting agar

menghasilkan kualitas yang baik

B. Konsep Produksi

Pada prosess ini penulis menyiapkan peralatan cahaya yang di pakai untuk

Shooting. penulis fokus pada pencahayaan saat shooting berjalan. mulai dari

peletakan lighting sudut peletakan lighting sesuai dengan treatmen yang telah di

sepakati bersama pengarah acara


Dari treatmen tersebut penata cahaya bekerjasama dengan penata artistik untuk

keselarasan artistik dan dengan camera person untuk keselarasan gambar di lokasi,

sebelum produksi dimulai , penulis mengecek alat yang digunakan seperti mengecek

batrei lampu led dan juga kinoflo menyala atau tidak dan penulis juga mempersiapkan

segala hal yang bersangkutan dengan lighting seperti tripod dan meletakan lighting di

tempat yang di anggap kurang akan pencahayaan


Penulis juga menyiapkan batrai cadangan buat lighting led guna berjaga jaga

saat batrai lighting led telah habis.dan disini penulis bekerja sama dengan camera

person agar penempatan lighting sesuai dengan warna yang diinginkan penulis selalu

mengikuti arahan dari pengarah acara bila penempatan pencahayaan kurang tepat.
C. Konsep Teknis

Dalam program non drama XPLORENESIA ini penata cahaya harus memilih

secara tepat penggunaan alat yang harus di pakai agar tidak terjadi kesalahan dalam

masalah pencahayaan. Dalam program ini penulis untuk teknis dalam penata cahaya

sendiri penulis menggunakan led dan kinoflo alasan pemilihan led dan kinoflo karena

melihat dari sisi teknis nya led mudah di bawa kemana saja dan memilih kinoflo

karena penerangan nya yang sangat cukup baik

Sebagai penata cahaya harus mengatur pencahayaan yang di gunakan karena

cahaya sangat penting di dalam produksi sebuah program, pada program non drama

ini penata cahaya mempunyai peranan yang kuat di dalam mendukung unsur-unsur

yang dapat menghidupkan sebuah krakter program acara ini

3.7.6 kendala produksi dan solusi

Dalam produksi program non drama megazine XPLORENESIA ini penulis

mendapat beberapa kendala pada saat produksi berlangsung, di sisi kendala itu pasti

ada solusi. disini penulis mencari berbagai solusi agar shooting bisa berjalan dengan

lancar. ada beberapa kendala-kendala baik dari segi teknis maupun non teknis, seperti

:
1. sulit nya mencari soket listrik di tempat produksi akhirnya penulis menggunakan

lighting led portabel


2. lighting led portabel yang mengalami tidak berfungsi dengan benar saat terkena

guncanganan karena tempat batrai nya longgar, disini penulis mencari solusinya

dengan mengganjal tempat batrai tersebut menggunakan lakban

3.7.7 lembar kerja penata cahaya

3.7.7.1 konsep penata cahaya


Penulis mengembangkan konsep dengan pemikiran dan gambaran yang sesuai

dari naskah.penata cahaya menentukan penempatan lighting untuk setiap host dan

narasumber.penulis harus mampu melihat kondisi agar cahaya bisa sesuai dengan

yang di inginkan

3.7.7.2 laporan penata cahaya

TABEL III.18 LAPORAN PENATA CAHAYA

AKADEMI KOMUNIKASI BINA SARANA

INFORMATIKA

LIGHTING SHEET LIVE ON TAPE III PRODUCTION


Company:Peta production Production:Miftah farid
Acara : EXPLORENESIA Sutradara :Andre rinaldi
Durasi :24 menit Penata cahaya :Teguh iman

NO Segmen Keylight Fill light Back light Keterangan

1 1 LED - -

2 2 LED LED -

3 3 LED LED -

4 4 KINOFLO KINOFLO LED

3.7.6 Floor and Plan penata cahaya


Gambar I.jam gadang

Keterangan:

1.mesin jam

2.host

3.lighting

Gambar II.Batu angkek-angkek

Keterangan:

1.host

2.narasumber

3.lighting

4.lighting
5.tirai

Gambar III.rumah gadang

Keterangan :

1.tangga

2.pintu masuk

3.host

4.lighting

Gambar IV.studio
Keterangan :

1.host

2.bartender

3.meja

4.lighting

5.lighting

3.7.8. spesifikasi lampu

TABEL III SPESIFIKASI ALAT

AKADEMI KOMUNIKASI BINA SARANA INFORMATIKA

Gambar I

Voltage 5.5V-9V

Power 70W

Average life span (H) >50000

Cooling mode Natural venilation

Center luminous flux (LX) 800


Gambar II

Daya 160 W (4x40 W)

Suhu warna 3200K/56000 K

Lampu soket G13

Jumlah tabung 4x40 watt

Bohlam jenis F40/T12,600mm


3.8 Proses kerja Penata Artistik
Penata Artistik merupakan sesorang yang bertugas
menghidupkan suatu program dengan memberikan unsur seni atau
property dalam pembuatan program di suatu produksi. Penata Artistik
sesuatu hal yang penting dalam menciptakan suatu suasana dalam
sebuah acara produksi televisi baik drama maupun non drama. Penata
artistik ini juga dapat mendukung suasana dan karakter pemain dalam
layar dan termasuk juga sebagai daya tarik sebuah acara.
Selain itu Tata artistik juga berfungsi memberikan alat yang
berupa make up, properti dan lain-lain dalam pembuatan suatu
program. Salah satu unit kerja yang agar bisa menambah kesan seni
dalam suatu tiap adegan.
Menurut Kusumawati dkk (2017:138) Penata Artistik atau pengarah
artistik, disebut juga art designer atau art director adalah seseorang
yang bertugas menata, mendesain lokasi pengambilan gambar baik di
studio maupun di luar studio dengan karakteristik program yang akan
di produksi.seorang penata artistik adalah orang yang memiliki sense
of artistic, kreatif, inovatif dan cerdas.
Dalam kutipan di atas Penata Artistik adalah orang yang
menyiapkan alat-alat panggung bertanggung jawab atas merancang
keperluan properti, Sehingga bisa senada dengan warnanya dan
menyiapkan kostum-kostum untuk para pemain sesuai kebutuhan
produksi dan tentunya dengan konsep yang sudah disepakati.
Menurut Kusumawati dkk (2017:18) “Penata artistik atau Art director
adalah seorang designer,Art director harus bisa membuat design,
dengan Bahasa tulis yang bisa diterima. Naskah dipelajari kemudian
dibuat sketsa kemudian disempurnakan menjadi design”.
Dari kutipan di atas. Penata Artistik bertanggung jawab dalam
memimpin tim artistiknya untuk mengoptimalkan properti agar tepat
dengan naskah yang ada serta mengetahui berapa banyaknya biaya
untuk semua proertinya.
Menurut Kusumawati dkk (2017:16) Art director atau Penata artistik
menetapkan anggaran terkait dengan kebutuhan yang ada di dalam
naskah. Dari naskah kita dapat mengetahui seberapa besar dana yang
di habiskan untuk mewujudkan konsep visual. Unit production
manager, Produser dan Head accounting juga merupakan bagian
integral yang harus dilibatkan dalam proses ini.
Dari kutipan di atas, penulis menyimpulakan bahwa Penata
Artistik adalah merancang desain-desain sesuai naskah dan
menciptakan tatanan dan style. Serta menghadirkan karakter melalui
penciptaan lewat elemen artistik.
Penulis sebagai Penata Artistik bertanggung jawab dalam
menciptakan penataan yang baik termasuk urusan property, make up
dan set design. Oleh karena itu, sangat penting bagi penulis untuk
menciptakan pandangan yang luas serta menciptakan kreatifitas yang
lebih tinggi dan lebih jauh lagi. Penulis harus mengetahui secara
keseluruhan art dari program “XPLORENESIA” yang akan kami buat
sehingga menghasilkan konsep penata artistik yang menarik.
Dalam program televisi non drama magazine show
XPLORENESIA ini penulis dipercayakan oleh tim sebagai penata
artistik. Dalam hal ini penulis harus bisa bekerja sama dengan
pengarah acara untuk mewujudkan konsep yang sudah ada, karena
penulis harus bisa menterjemahkan naskah sesuai ide kreatif yang
diinginkan oleh pengarah acara. Tugas utama penata artistik adalah
membantu pengarah acara dan penulis naskah untuk menerapkan
konsep sesuai disepakati bersama.
3.8.1 Pra Produksi
Pada tahap pra produksi ini penulis sebagai penata artistik
membuat breakdown dan jadwal kerja khusus bidang tata artistik agar
dalam tahap produksi berjalan dengan lancar. Selain itu penata artistik
juga menyiapkan semua property tata artistik seseuai dengan
rancangan lembar kerja yang sudah dibuat.
Menurut Kusumawati dkk (2017:15) “Penata Artistik berfungsi
sebagai penunjang dalam mendukung suasana yang diinginkan
dalam suatu produksi acara”.
Dari kutipan di atas menyimpulkan bahwa penata artistik
melakukan rancangan dalam mendesain dan menerapkan sebuah
konsep kebutuhan produksi harus bisa berkolaborasi dengan tim.
Dalam tahap ini penulis dan semua kru berdiskusi dalam
membuat sebuah program. Dalam sebuah rapat semua kru
mengeluarkan pendapat serta bertukar pikiran ide yang menarik.
Tujuan kesepakatan agar tidak ada terjadinya kesalahan dalam
menentukan persepsi satu sama lain antara kru penulis bertugas
menyamakan konsep dengan yang diarahkan pengarah acara dari mulai
set dekorasi, kostum dan make up untuk pembawa acara dan alat-alat
yang akan digunakan saat produksi. Penulis juga harus menganalisa
naskah dan membahasnya dengan Pengarah Acara dan Camera Person
agar mencapai penafsiran untuk mewujudkan gagasan penulis naskah
dalam bentuk tata artistik yang nyata dan sudah disepakati bersama
kru.
Penulis juga melakukan pencarian referensi lokasi guna
mengetahui atau mencari informasi yang diperlukan tentang tempat,
suasana dan keadaan. Penulis juga mencari lokasi-lokasi yang sesuai
dengan gambaran naskah untuk nmencapai nilai artistik yang seolah-
olah nampak nyata dengan aslinya, mengenai kepemilikan lokasi
banyak sekali hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan survey
lokasi, seperti akomodasi, transportasi dan lain-lain.
Di tahap ini penulis harus mengecek seluruh persediaan barang-
barang artistik dan semua persiapannya sehingga berlangsungnya
program acara tersebut. Penulis juga harus membuat checklist benda-
benda untuk keebutuhan tiap segmen. Tak hanya property, hal yang
terkcil seperti make up, wardrobe bisa menjadi salah satu tanggung
jawab Penulis untuk menyiapkannya. Penulis juga harus memastikan
sebuah ruangan sesuai konsep untuk mendapatkan hasil yang
maksimal.
Sebelum produksi dimulai penulis membuat floorplane agar
lebih mudah mengetahui penempatan-penempatan peralatan property
yang baik. Setelah survey lokasi penulis merancang serta menggambar
lokasi-lokasi yang sudah ditentukan produser, Pengarah Acara dan
Camera Person. Hal ini berguna untuk memudahkan proses jalannya
produksi saat pengambilan gambar. Membuat set design juga sangat
membantu penata artistik mengenai tata letak property yang digunakan
sehingga selalu ada kesamaan artistik di setiap segmennya.
Penulis mencari tim atau divisi yang sesuai dengan keahlian
masing-masing yang berada di bawah tanggung jawab art director.
Untuk mengetahui semua set yang diperlukan untuk semua adegan
yang termasuk dalam sebuah Magazine. Jadi setiap tayangan, setiap
percakapan yang mengaitkan pada sebuah keadaan, maka art director
harus mulai membuat set list atau breakdown tata artistik apa saja yang
diperlukan.
Jika sudah mengetahui set apa saja yang dibutuhkan dalam
membuat sebuah program. Maka penata artistik sudah dapat membuat
cheklist benda-benda apa saja yang dibutuhkan. Tak hanya property
yang kecil sebagai pemanis dari sebuh ruangan, namun set panggung
misalnya atau apa saja yang membutuhkan bangunan, disini jika
merupakan produksi besar art director bisa bekerja sama dengan
bagian kontruksi.
Setelah merinci apa saja yang dibutuhkan, penulis juga perlu
merinci budget yang harus dikeluarkan, jika memang budget terbatas
maka dengan sendirinya penulis harus pintar-pintar membagi budget
sesuai kebutuhan. Semakin penulis pandai membuat set yang sesuai
dengan aslinya dengan budget yang standar, maka nama baik akan
diraih oleh si penulis.
Menurut Kusumawati dkk (2017:17) “art director adalah
seorang creator, art director harus kreatif dan imajinatif setelah
menerima materi acara mungkin berupa naskah. Harus dapat mencipta
dan mereka-reka kebutuhan artistik, nuansa serta filosofinya”.
Menurut Kusumawati dkk (2017:18) “Art Director adalah
seorang fasilitator, kerja produksi adalah kerja kolaborasi satu sama
lain saling berhubungan dan bekerja sama, sehingga sebagai seorang
art director harus dapat memfasilitasi kebutuhan dan divisi lain yang
masuk ke dalam susunan produksi”.
Dare kedua kutipn di atas, seorang penata aertistik harus bisa
menyediakan apa saja yang dibutuhkan kru dalam suatu program,
selain itu penata artistik harus bisa bekrja sama serta menyediakan
kebutuhan semua tim.
3.8.2 Produksi
Setelah tahapan-tahapan pra produksi di persiapkan secara
konsep yang matang, tahapan produksi pun dimulai. Tidak hanya pada
saat pra produksi akan tetapi seorang Penata Artistik terus mengikuti
proses shooting untuk mempersiapkan semua kebutuhan dan
mempersiapkan kostum yang akan dipakai saat produksi dan lokasi
yang ada kebanyakan setiap segmentnya di outdoor sehingga penulis
harus memperhatikan make up host dan penampilannya agar tidak
terlihat aneh saat di kamera.
Tahapan ini juga dibutuhkan kedisiplinan yang tinggi agar
semua proses produksi sesuai dengan apa yang di jadwalkan, untuk
mendapatkan hasil yang maksimal dengan konsep yang sudah dibuat
setiap kru diharuskan bekerja sama dalam tahapan produksi.
Menurut Kusumawati dkk (20017:18) “Penata artistik adalah seorang
perupa, artinya penata artistik bertanggung jawab terhadap design
creative dari materi tayangan berupa set design, set dekorasi, grafis
dan ID program sesuai dengan pendekatan artistik”.
Dalam kutipan diatas, penulis menyimpulkan bahwa tugas
seorang penata Artistik pada saat produksi adalah mengawasi dalam
pengambilan gambar agar set yang sudah di buat sesuai dengan yang
diharapkan dan bertanggung jawab atas hasil dan mutu tata artistic
baik dari segi teknik maupun estetika secara utuh.
Pada saat produksi penulis memakai lokasi outdoor, maka dari
itu penulis hanya menambahkan sedikit property. Penulis harus
membuat ruangan menjadi lebih hidup, disinilah penulis juga banyak
menambahkan beberapa property dan beberapa barang untuk hiasan
yang akan di pakai.
Untuk mengenai wardrobe penulis memerlukan ketelitian dalam
menentukan kostum yang akan di pakai oleh host. Penggunaan kostum
pada program ini penulis menyesuaikan dengan tema cerita dari
program itu sendiri, dimana program ini yang bertema tentang wisata
maka segala sesuatu yang ditampilkan dalam program ini sesuai
dengan konsep. Setelah itu kostum yang digunakan juga berkonsep
lebih santai agar cocok dengan konsep.
Menurut Kusumawati dkk (2017:23) “make up kerap diartikan melukis
dengan alat kosmetik. Make up juga dikatakan sebagai segala sesuatu
yang berhubungan dengan tata rias untuk pemain dalam melakukan
adegan sesuai tuntutan naskah dan peran cerita”.
Dalam kutipan diatas, penulis menyimpulkan bahwa make up
adalah kebutuhan yang sangat diperlukan untuk menunjang
penampilan dan karakter pemain. Make up juga berfungsi sebagai
penghias wajah agar tidak pucat.
Penata Artistik pada saat produksi adalah mengawasi dalam
pengambilan gambar agar make up yang sudah di buat sesuai dengan
yang diharapkan dan bertanggung jawab atas hasil dan mutu tata
artistik baik dari segi teknik maupun estetika secara utuh.
3.8.3 Pasca Produksi
Pada tahap ini penulis melakukan evaluasi proses kerja mulai
pra hingga pasca produksi untuk memperoleh tentang bagaimana
membuat susunan artistik yang baik dan rapih. Hal ini perlu
diperhatikan agar kesalahan saat produksi tidak terjadi kembali pada
saat yang akan datang.
Menurut Kusumawati dkk (2017:28) “Dalam penggarapan suatu
produksi program terdapat beberapa rangkaian proses, yaitu Pra
Produksi, Produksi, dan Pasca Produksi. Proses tahapan ini juga
merupakan refleksi dari suatu perencanaan yang matang untuk
mendapatkan hasil maksimal dan kualitas.
Dalam kutipan diatas, penulis menyimpulkan bahwa rangkaian
proses, yaitu pra produksi, produksi, dan pasca produksi adalah
kebutuhan yang sangat diperlukan untuk suatu perencanaan yang
matang untuk mendapatkan hasil maksimal.
Pada saat pasca produksi penulis melakukan tahap evaluasi dari
semua divisi yang terdapat dalam art dilihat dari kekurangan-
kekurangan pada saat pengambilan gambar kemudian juga
mengembalikan dan merapikan semua property dan peralatan art yang
lain.
Pada tahap ini, penulis sebagai Penata Artistik merapihkan
kembali segala seuatu yang telah di pakai pada saat produksi. Tahapan
ini juga menjadi akhir dari seluruh rencana kerja yang akan penulis
susun menjadi laporan kerja penata artistik.
Pada tahap ini, penulis juga melakukan evaluasi dari semua
divisi yang terdapat di dalam Art Departement, dilihat kekurangan-
kekurangan pada saat pengambilan gambar, kemudian juga
mengembalikan dan merapikan semua laporan mengenai budgeting
yang digunakan untuk membuat property yang diperlukan pada saat
produksi.
Evaluasi adalah hal yang perlu di perhatikan pada saat settingan
yang di hasilkan dari make up dan wardrobe sudah sesuai konsep. Hal
ini harus lebih diperhatikan agar kesalahan pada saat produksi tidak
terulang kembali.
3.8.4 Peran dan Tanggung Jawab Penata Artistik
Penata artistik bertanggung jawab mengoptimalkan dan
mengarahkan efisiensi seluruh divisi yang ada dalam departemen
artistik sesuai dengan jadwal produksi dan berhak untuk menentukan
atau menetapkan anggaran biaya yang telah di susun.
Menurut Kusumawati dkk (2017:14) Seorang Penata Artistik
atau Art director bertanggung jawab dalam menciptakan penataan
yang bik termasuk urusan property, kostum, make up, set disain dan
artistik untuk menciptakan pandangan yang luas, terus berpikir untuk
sesuatu yang baru dan secara konstan berusaha menciptakan kreativitas
yang lebih tinggi.
Dalam kutipan diatas, penulis menyimpulkan bahwa tanggung
jawab seorang penata artistik adalah menciptakan penataan yang baik
termasuk urusan property, kostum, make up,dan set desain. Bagi
seorang Penata Artistik sangatlah penting untuk menciptakan
pandangan luas, terus berfikir untuk sesuatu yang baru dan berusaha
menciptakan kreatifitas yang lebih tinggi.
Dalam menjalankan tugasnya secara teknis, penulis mempunyai
tanggung jawab penuh dalam hal mempersiapkan barang-barang yang
akan digunakan pada saat produksi.
Menurut Kusumawati dkk (2017:14) Penata Artistik merupakan
salah satu unit kerja pada stasiun penyiaran televisi atau Tim produksi
film yang berfungsi sebagai penunjang acara siaran tv atau produksi
film. Penata Artistik merupakan suatu hal yang penting dalam
menciptakan suasana dalam sebuah produksi acara drama tv, film
maupun non drama. Penata Artistik juga dapat mendukung suasana dan
karakter pemain dalam layar dan termasuk juga sebagai daya Tarik
sebuah acara.
Dalam kutipan diatas, penulis menyimpulkan bahwa penting
perang Penata Artistik dalam penunjang sebuah suasana dan karakter
pemain dalam layar dan termasuk juga sebagai daya Tarik sebuah
acara.
Pengarah Artistik harus membuat breakdown adegan sesuai
naskah untuk kepentingan departemen mereka masing-masing.
Pencatatan sebaiknya dilakukan pada setiap pertemuan dengan
Pengarah Acara, baik di rapat produksi, saat pergi ke lokasi maupun
catatan-catatan yang secara khusus di berikan oleh Pengarah Acara.
Menurut Kusumawati dkk (2017:15) Secara teknis Penata
Artistik atau Art director bertanggung jawab atas seluruh penyediaan
kebutuhan artistik mulai dari pra produksi sampai dengan pasca
produksi. Tata Artistik Televisi adalah bagian dari kru televisi, di
beberapa stasiun televisi, Tata Artistik masuk ke dalam Departemen
Artistik atau Art Departement. Di dalam departemen ini terbagi atas:
Unit Dekorasi, Unit properti, Unit Grafika, serta Unit Tata Rias dan
Busana. Namun di beberapa stasiun tv di Indonesia tidak selamanya
seperti ini, misalnya unit grafis di beberapa stasiun tv justru
bertanggung jawab pada post production manager.
Dari kutipan diatas, penulis menyimpulkan bahwa seorang
penata artistik berperan sebagai koordinator lapangan yang bertugas
melaksanakan eksekusi atas semua rancangan desain tata artistik atau
gambar kerja. Penulis juga harus konsisten dengan breakdown atau
jadwal kerja yang sudah dibuat, agar dapat bekerja dengan tepat waktu.
Selain itu, penulis juga harus menyiapkan elemen-elemen atau material
yang akan dipakai pada saat produksi.

3.8.5 Proses Penciptaan Karya

a. Konsep Kreatif
setelah penulis membaca naskah yang sudah dibuat oleh penulis
naskah, dan mendalami isi naskah tersebut dengan judul
“XPOLRENESIA” penulis tertarik dengan jalan cerita yang ada di
dalam naskah tersebut dari segi kreatif penulis sudah memastikan akan
membuat property dan set untuk memenuhi atau memperbaiki apa
yang sudah ada dari lokasi set yang sudah di tentukan sebelumnya.
Penulis harus bisa mengerti maksud dari isi naskah dan lokasi set apa
saja yang di inginkan oleh Pengarah Acara dan Penulis Naskah.
Penulis hanya menambahkan beberapa property pendukung
sebagai pelengkap saat berada di lokasi Jam Gadang yang berada di
Bukit Tinggi, Sumatra Barat. Tidak banyak property yang bisa penulis
tambahkan. Tujuan penulis adalah, agar tetap menjaga keaslian dari
lokasi tersebut. Penulis hanya butuh cetakan foto hasil dari kamera
tukang foto keliling yang berada di sekitar Jam Gadang.
Dengan konsep yang menginformasikan kepada penonton
konsep yang kita miliki adalah keutuhan dari ke unikan sebuah
bangunan yang berada di daerah Bukit Tinggi Sumatra Barat tersebut.
Oleh karena itu penulis tidak menambahkan sebuah property untuk
ruangan Jam Gadang.
Penulis yang telah memberikan style yang khas kepada host
“XPLORENESIA” dengan menggunakan konsep style Adventure,
yaitu celana jeansi hitam, flannel hijau, dan sepatu hitam. Agar host
lebih mudah dan nyaman untuk berjelajah wisata yang berada di
daerah Sumatra Barat. Sesuai dengan ini naskah yang sudah dibuat
oleh Penulis Naskah. Seorang Penata Artistik harus lebih teliti dalam
memilih jenis property dan atribut agar seusai dengan konsep yang
diinginkan oleh penulis untuk program acara magazine show
“XPLORENESIA”.
b. Konsep Produksi
Dalam tahap ini konsep produksi sangatlah dibutuhkan sebagai
penata artistik menyiapkan property hingga wardrobe yang cocok
untuk tema program acara yaitu wisata. Seperti pada lokasi di daerah
Sumatra Barat yaitu Jam Gadang, Batu angke-angke, dan Janjang
Saribu penulis menambahkan dan membuat berbagai macam property
pendukung diantaranya Baju adat, dan peralatan lainnya. Sedangkan
untuk wardrobe penulis menyesuaikan dengan tema yaitu kemeja hijau
dan celana hitam untuk kegiatan outdoor. pada lokasi berikutnya di
indoor yaitu di daerah Condet Jakarta Timur penulis membuat dan
menambahkan properti pendukung di antaranya, meja, tenda, kursi,
dan lain sebagainya. Sebagai penata artistik, penulis diwajibkan
membuat beberapa properti dan mengembangkan apa yang sudah ada
di set. Agar konsep artistik sesuai dengan naskah dan alur cerita
program magazine show “XPLORENESIA”. Ketika proses produksi
Penata Artistik harus lebih bisa cekatan dalam hal mempersiapkan
properti , set, kostum, dan make up apa yang akan digunakan pada
setiap scene agar tidak mengganggu proses berjalannya produksi.
Selain itu Penata Artistik juga harus melakukan penjagaan set yang
baik serta terencana dengan benar.
Agar tetap continuity disetiap scene nya dan tidak mengganggu
schedule yang sudah ditentukan sebelumnya. Penulis harus bisa
menjaga komunikasi antara penulis dan pemilik lokasi set agar tidak
adanya salah paham antara pihak penulis dan pengurus atau penjaga
lokasi set.
Pada konsep produksi, penulis memperhatikan jalannya setiap
scene per scene dan adegan per adegan. Pada saat produksi, penulis
mengatur set dan penempatan properti disetiap segmen agar sesuai
dengan konsep yang sudah dibuat.
c. Konsep Teknis
Dari segi konsep teknis, tentunya penulis bekordinasi dengan
Pengarah Acara yang bertujuan agar property yang dipergunakan
sesuai dengan konsep. Tentunya mempertimbangkan aspek-aspek
kualitas dan kelayakan Dengan demikian aspek-aspek tersebeut,
penulis beruasaha untuk menonjolkan dan memberi sesuatu yang yang
fresh dan natural. Adapun property yang digunakan dalam program
magazine show “XPLORENESIA” adalah property asli. Penulis
hanya menambahkan beberapa property pendukung sebagai pelengkap.
Saat berada di lokasi Jam Gadang, Batung angke-angke, dan Janjang
saribu (Sumatra Barat) tidak banyak properti yang penulis tambahkan.
Penulis bertujuan agar tetap menjaga keaslian dari ketiga lokasi
tersebut. Berbeda pada saat dilokasi Warbox, penulis diwajibkan untuk
membuat set ruangan layaknya studio, dikarenakan Warbox adalah
kafe sekaligus distro yang berada di daerah Jakarta bukan studio pada
aslinya. Penulis memutuskan untuk menjadikan ruangan kafe yang
berada di lantai dua dan tiga pada Warbox untuk di ubah menjadi set
ruangan studio dan membuat property untuk kelengkapan interior
studio.
Apabila semuanya sudah dipersiapkan secara matang, penulis
mulai melakukan kerjasama dengan Pengarah Acara dan Produser
untuk menyajikan Program ini agar penonton tertarik. Dalam hal ini
penulis tetap bertanggung jawab dan berperan penuh dalam
menentukan set ruangan, set property, set wardrobe, dan make up
dalam sebuah program. Penulis harus bisa menerapkan apa yang ada
pada naskah dan menyesuaikan dengan keinginan Produser dan
Pengarah Acara.
Dalam hal ini penulis meminta untuk bisa berkordinasi secara
langsung yaitu dengan di adakan rapat, penulis tidak hanya
mendatangkan seorang Produser dan juga Pengarah Acara akan tetapi
penulis juga meminta kepada Produser untuk mendatangkan langsung
kru lain nya seperti hal nya Camera Person, Penata Cahaya, dan juga
Penata Gambar.

3.8.6 Kendala dan Solusinya


1. Kendala waktu, ketika produksi sedang berlangsung bersamaan dengan
itu tukang kayu tidak jauh dari lokasi shooting juga sedang memotong
kayu menggunakan mesin yang suara nya membuat proses shooting
terganggu. Solusinya penulis meminta tolong kepada tukang kayu nya
untuk lima menit saja menghentikan aktivitas nya
2. Kendala set ruangan untuk set lokasi studio/Warbox kendalanya lupa
membawa meteran untuk mengukur dinding ruangan yang harus di
tutup agar tidak silau. Solusinya penulis mengukur dinding studio
dengan jengkal tangan
3. Penulis kesulitan membuat material yang akan dipakai pada saat
produksi. Solusinya, penulis mencari referensi melalui, Youtube,
menonton program-program yang ada di televisi dan mencari referensi
dengan membaca situs pada internet.
3.8.7 Lembar Kerja Penata Artistik
3.8.7.1 Konsep Penata Artistik
Disini penulis memakai konsep Wisata sesuai dengan naskah
yang dibuat oleh penulis naskah dan disetujui oleh produser. Didalam
konsep ini penulis hanya menambahkan property dari tempat yang
sudah ada. Tidak banyak property yang dibutuhkan , di batu angke-
angke penulis hanya membawa tisu dan juga wardrobe talent seperti
bedak, lipstik, dan lain-lain.
Sama seperti di batu angke-angke di Istana pagaruyung penulis
hanya membawa membawa wardrobe talent dan juga menyewa baju
adat yang berada di tempat wisata istana pagaruyung.
Di studio warbox penulis harus mengubah kafe menjadi seperti
studio, karena kebutuhan sebuah tayangan yang menjadikan program
magazine show yang mempunyai dua host yaitu host yang indoor
seperti hal nya studio dan host outdoor yang menjelajah sumatera
barat. Di segmen ini penulis benar-benar harus menyiapkan property
yang sesuai dengan karakter dari konsep Pengarah Acara. Jadi penulis
harus membuat property dan workshop sesuai dengan konsep. Penulis
harus menyiapkan kain putih untuk menutup jendela kaca yang
membuat silau jika tidak ditutup, harus menyiapkan meja dan juga
LCD untuk menampilkan logo judul program yaitu
“XPLORENESIA”,dan peralatan lainnya untuk membuat sebuah
ruangan seperti kafe. Tidak hanya itu penulis juga membawa seperti
gunting, solasi, tisu, tali dan lain-lain untuk keperluan mendesain
ruangan studio yang berada di condet Jakarta timur.
3.8.7.2 BREAKDOWN TATA ARTISTIK

TABEL BREAKDOWN TATA ARTISTIK

AKADEMI KOMUNIKASI BINA SARANA INFORMATIKA

Production Company : PETA Production Produser :Miftah Farid

Project Title : Xplorenesia Director : Andre Reinaldi

Durasi : 24 menit Art Director : Harris Fahmi

No Lokasi Set Segme Int/E Waktu Cast Wardrobe Property Make Up Keterangan
nt xt

1 Jam - 1 Int Siang Dela Jaket hijau, celana - Make-up Set dan
Gadang Panjang hitam, property
sepatu,gelang tidak di ubah
2 Batu 2 Int Siang Dela Jaket hijau, celana - Make-up Set dan
angke- Panjang hitam, property
-
angke sepatu,gelang tidak di ubah

3 Janjang - 2 Ext Sore Dela Jaket hijau, celana - Make-up Set dan
saribu Panjang hitam, property
sepatu,gelang tidak di ubah

4 Istana - 3 Int Siang Dela Jaket hijau, celana Baju adat Make-up Set dan
Baso Panjang hitam, property
Pagaruyu sepatu,gelang tidak di ubah
ng

5 Café Lantai Int Siang Maya Casual Meja,tenda,kai Make-up


Warbox 2 dan 3 n,gelas,kursi
3.8.7.3 Floor Plan

Production Company : PETA Production Produser :Miftah Farid

Project Title : Xplorenesia Director : Andre Reinaldi

Durasi : 30 menit Art Director : Harris Fahmi

No Lokasi :1

Lokasi :Jam Gadang

Scene :

Ket :

A. Jam Gadang
B. Parkiran 1
C. Parkiran 2
D. WC umum E. Pasar atas F. Halaman rekreasi

3.8.7.3 Floor Plan


Production Company : PETA Production Produser :Miftah Farid

Project Title : Xplorenesia Director : Andre Reinaldi

Durasi : 30 menit Art Director : Harris Fahmi

No Lokasi :2

Lokasi :Istana Pagaruyung

Scene :

Ket :

A. Istana Pagaruyung E. Pagar 1


B. Lumbung Padi F. Pagar 2
C. Lapangan D. Pintu masuk

BAB IV

PENUTUP
4.1 Kesimpulan

Dalam pembuatan sebuah karya dibutuhkan kerjasama yang disiplin dari


seluruh crew. Program magazine show adalah bentuk audio visual dari majalah yang
dimana isi konten dari sebuah program magazine show yang baik adalah tayangan
yang mampu memberikan informasi kepada khalayak yang di konsep semenarik
mungkin. Penulis merasa cukup puas dengan hasil yang telah dicapai dari proses pra
produksi hingga pasca produksi.

Persiapan konsep yang telah matang dan dengan adanya penulisan karya
Tugas Akhir ini, penulis menjadi lebih mengerti dan paham tentang penulisan yang
baik sehingga dapat menyelesaikan permasalahan yang terjadi dalam penyusunan
karya tugas akhir ini. Namun dalam pembuataan program televisi non drama
magazine show XPLORENESIA ini pasti ada kekurangan didalamnya, maka dari itu
penulis sadar dalam penulisan karya ilmiah tugas akhir jauh dari kata sempurna tetapi
disini penulis mencoba berusaha semaksimal mungkin. Sebuah kritik dan saran
penulis harapkan untuk menjadi lebih baik dalam menciptakan sebuah karya.

4.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA

Djamal, H. (2017). TV Progamming. Jakarta: Kencana.


Kamiso. (n.d.). Kamus Lengkap. Surabaya: Karya Agung Surabaya.
Kusumawati, Nina, H. dan Y. (2017). Produksi Program Televisi dan Film.
Yogyakarta: Graha Cendekia.
Latief, Rusman, dan Y. U. (2015). Siaran Televisi Non- Drama. Jakarta: Kencana.
Latief, Rusman, dan Y. U. (2017). Menjadi Produser Televisi. Jakarta: Prenanda
Media Group.
Nurudin. (2012). Dasar-Dasar Penulisan. Malang: UMM Perss.
Supriyadi. (2014). Broadcasting Televisi 2 Teori dan Praktik. Yogyakarta: Graha
Cendekia.
Djamal,Hidajanto, dan Fachrudin, Andi. 2011. Dasar-Dasar Penyiaran (Sejarah,
Organisasi, Operasional, dan Regulasi). Jakarta : Kencana Prenada Media Grup.

Morrisan, M.A 2008. Manajemen Media Penyiaran. Jakarta : Kencana Predana


Media Grup

Naratama. 2013. Menjadi Sutradara Televisi. Jakarta : Gramedia