Anda di halaman 1dari 12

SOP Penambangan Emas Aluvial

JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN


UNIVERSITAS NEGERI PADANG
PROSES PENAMBANGAN EMAS

A. Pertambangan Emas dan Proses Keterjadiannya

Emas merupakan elemen yang dikenal sebagai logam mulia dan komoditas yang sangat berharga
sepanjang sejarah manusia. Elemen ini memiliki nomor atom 79 dan nama kimia aurum atau Au. Emas termasuk
golongan native element, dengan sedikit kandungan perak, tembaga, atau besi. Warnanya kuning keemasan dengan
kekerasan 2,5-3 skala Mohs. Bentuk kristal isometric octahedron atau dodecahedron. Specific gravity 15,5-19,3
pada emas murni. Makin besar kandungan perak, makin berwarna keputih-putihan.

Emas terbentuk dari proses magmatisme atau pengkonsentrasian di permukaan. Beberapa endapan
terbentuk karena proses metasomatisme kontak dan larutan hidrotermal, sedangkan pengkonsentrasian secara
mekanis menghasilkan endapan letakan (placer). Genesa emas dikatagorikan menjadi dua yaitu endapan primer
dan endapan plaser. Emas terdapat di alam dalam dua tipe deposit, pertama sebagai urat (vein) dalam batuan beku,
kaya besi dan berasosiasi dengan urat kuarsa. Lainnya yaitu endapan atau placer deposit, dimana emas dari batuan
asal yang tererosi terangkut oleh aliran sungai dan terendapkan karena berat jenis yang tinggi. Emas native
terbentuk karena adanya kegiatan vulkanisme, bergerak berdasarkan adanya thermal atau adanya panas di dalam
bumi, tempat tembentukan emas primer, sedangkan sekudernya merupakan hasil transportasi dari endapan primer
umum disebut dengan emas endapan flaser, sedangkan asosiasi emas atau emas bersamaan hadir dengan mineral
silikat, perak, platina, pirit dan lainnya. Kenampakan fisik bijih emas hampir mirip dengan pirit, markasit, dan
kalkopirit dilihat dari warnanya, namun dapat dibedakan dari sifatnya yang lunak, berat jenis tinggi, dan ceratnya
yang keemasan. Emas berasosiasi dengan kuarsa, pirit, arsenopirit, dan perak.

Sifat fisik unsur ini sangat stabil, tidak korosif ataupun lapuk dan jarang bersenyawa dengan unsur kimia
lain. Konduktivitas elektrik dan termalnya sangat baik, malleable sehingga dapat dibentuk dan juga bersifat ductile.
Emas adalah logam yang paling tinggi densitasnya. Selain itu, emas sering ditemukan dalam penambangan bijih
perak dan tembaga. Penambangan emas dilakukan besar-besaran untuk memenuhi permintaan dunia, diantaranya
ditambang di Afsel, Autralia, USA, Meksiko, Brasil, Indonesia, dan negara lainnya. Penggunaan utama emas
adalah untuk bahan baku perhiasan dan benda-benda seni. Selain itu, karena konduktif, emas penting dalam
aplikasi elektronik. Kegunaan lain ada di bidang fotografi, pigment, dan pengobatan.

B. Perbedaan Emas dan Pirit

Pirit dengan rumus kimia FeS2, merupakan salah satu dari jenis mineral sulfida yang umum dijumpai di
alam, entah sebagai hasil sampingan suatu endapan hidrotermal ataupun sebagai mineral asesoris dalam beberapa
jenis batuan. Tidak ada penciri mineralisasi tertentu jika anda menjumpai pirit, apalagi sedikit. Secara deskriptif,
pirit ini mempunyai warna kuning keemasan dengan kilap logam. Jadi, kalau tidak biasa dengan mineral-mineral
logam, sering menganggapnya sebagai emas. Secara struktur kristal, baik pirit dan emas sama-sama kubis, namun
sifat dalamnya yang berbeda. Emas lebih mudah ditempa daripada pirit. Kalau dipukul, pirit akan hancur
berkeping-keping, sedangkan emas tidak mudah hancur karena lebih mudah ditempa (maleable).
Cara yang cukup mudah untuk membedakan emas dengan pirit adalah dengan melihat asahan polesnya di
bawah mikroskop. Biasanya di bawah mikroskop pantul, emas tampak berbentuk tak beraturan dibandingkan pirit
yang kadang bentuk kubisnya masih tampak. Meskipun sama-sama isotropik, tetapi kecemerlangan emas tidak
dapat ditandingi oleh pirit, begitu juga bentuknya. Emas terdapat di dalam pirit, sebagai yang dikenal dengan
istilah refractory gold. Emas ini ukurannya sangat kecil atau sering dikatakan sebagai invisible gold, karena
ukurannya <0.1 μm, tidak sanggup dideteksi dengan mikroskop elektron. Emas ini biasanya hadir bersama-sama
arsen (arsenian pyrite atau arsenopyrite). Dampak Negatif Kegiatan Pertambangan pada Lingkungan :

 Kegiatan penambangan apabila dilakukan di kawasan hutan dapat merusak ekosistem hutan. Apabila tidak
dikelola dengan baik, penambangan dapat menyebabkan kerusakan lingkungan secara keseluruhan dalam
bentuk pencemaran air, tanah dan udara.
 Pencemaran lingkungan adalah suatu keadaan yang terjadi karena perubahan kondisi tata lingkungan
(tanah, udara dan air) yang tidak menguntungkan (merusak dan merugikan kehidupan manusia, hewan dan
tumbuhan) yang disebabkan oleh kehadiran benda-benda asing (seperti sampah, limbah industri, minyak,
logam berbahaya, dsb.) sebagai akibat perbuatan manusia, sehingga mengakibatkan lingkungan tersebut
tidak berfungsi seperti semula (Susilo, 2003).

Cebakan emas aluvial di Indonesia terdapat terutama pada pulau-pulau besar seperti Sumatera,
Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Sebaran emas aluvial berada pada permukaan atau dekat permukaan, dengan
spesifik emas berupa warna dan kilap yang sangat menarik, sehingga keberadaan emas aluvial mudah dikenali, dan
umumnya mudah ditemukan dan diusahakan oleh masyarakat setempat.
Cebakan emas aluvial dicirikan oleh kondisi endapan sedimen bersifat lepas dengan kandungan logam
emas berupa butiran, dapat ditambang dan diolah dengan cara pemisahan emas secara fisik, menggunakan
peralatan sederhana. Optimalisasi pemanfaatan potensi emas alluvial dapat dilakukan dengan menyesuaikan
kelayakan sekala usaha yang tepat sesuai dengan dimensi cebakan. Cebakan dengan dimensi relatif kecil tidak bisa
menggunakan peralatan berat tetapi dapat dikembangkan untuk pertambangan sekala kecil atau pertambangan
rakyat menggunakan peralatan sederhana.
Penambangan dan pengolahan cebakan emas aluvial menggunakan peralatan sederhana dengan kapasitas
terbatas, berpotensi menyisakan bahan galian. Perolehan penambangan dan pengolahan yang kurang optimal
berpotensi menyisakan emas dan mineral ikutannya baik dalam bentuk cebakan insitu maupun tailing. Lebih jauh
lagi bahwa reklamasi lahan bekas tambang umumnya tidak dilakukan oleh pertambangan rakyat. Pengembangan
emas aluvial seharusnya melibatkan pelaku usaha pertambangan dengan skala yang disesuaikan dengan dimensi
sebaran cebakan, dan mengutamakan kepentingan masyarakat setempat, serta berwawasan lingkungan.
Pengembangan potensi cebakan emas aluvial dengan melibatkan pertambangan rakyat harus juga
mempertimbangkan aspek perlindungan lingkungan, dengan menghindari terjadinya degradasi lingkungan.

Berikut SOP penambangan emas aluvial:


1. Penambangan emas alluvial dengan cara penyemprotan harus didahului oleh pengupasan lapisan tanah penutup
sehingga dikemudian hari dapat digunakan kembali untuk reklamasi
2. Perlunya dilakukan pengaturan dan pembatasan terhadap jenis dan kapasitas peralatan yang digunakan, serta
jarak/kerapatan lokasi antar masing-masing kelompok penambang. Hal ini dilakukan untuk mencegah efek
peningkatan kekeruhan pada aliran sungai dan erosi yang dapat menyebabkan pendangkalan di daerah hilir
3. Penambangan emas alluvial dengan cara pendulangan (panning) harus dilakukan oleh penambang yang
memiliki izin kartu dulang dan di setiap wilayah pertambangan rakyat disertai dengan penugasan seorang
polisi untuk memeriksa kartu dulang masing-masing penambang.
Dulang, Lenggang, Batea, Horn. Alat untuk prospeksi tradisional yang digunakan untuk melimbang mineral berat
(berat jenis > 3,00) hasil rombakan batuan secara alamiah seperti emas, intan, kasiterit (SnO2), ilmenit (FeTiO3),
zircon (ZrSiO4), dan lain-lain.
Dulang berbentuk menyerupai wajan X dengan diameter bagian atas antara 40 - 50 cm, kedalaman antara 8 - 15
cm dan sisinya membentuk sudut antara 350 - 450 terhadap bidang datar. Batea adalah jenis lain dari dulang yang
bagian bawahnya datar atau kadang-kadang bercekungan kecil-kecil dengan diameter bagian atasnya 40 - 75 cm,
sedangkan ukuran lainnya sama dengan dulang. Dulang dan batea dapat terbuat dari kayu, logam, plastik tebal
(pvc) atau gelas fiber (fiberglass). (Prodjosoemarto, 2001)
Dulang merupakan alat pengolahan bahan galian tradisonal dengan mamanfaatkan berat jenis suatu material. Berat
jenis mineral yang dapat dilakukan proses ekstraksi menggunakan alat dulang harus lebih besar dari 3,00 gram.
Dalam proses pendulangan mineral berharga yang biasanya didulang adalah emas dan intan. Pendulangan adalah
salah satu metode gravity concentration yang paling sederhana dan juga paling murah serta sering dipakai oleh
para masyarakat karena hanya memerlukan alat dulang.

Gambar sketsa Dulang


Panning atau mendulang merupakan salah satu cara dalam pengambilan sampel dalam eksplorasi. Panning
memiliki keterbatasan dalam jumlah konsentrat yang dapat terambil sehingga metode panning tidak digunakan
dalam skala besar atau skala perusahaan.
Panning digunakan untuk mengetahui jumlah penyebaran mineral berharga yang tertransportasi oleh aliran
sungai dari batuan induknya. Peta aliran sungai sangatlah penting dalam menentukan tempat penyebaran mineral
berharga. Setiap lokasi aliran sungai akan diambil sampel dengan menggunakan panning. Apabila hasil yang
ditemukan terdapat adanya mineral berharga maka akan terus dilakukan penyelidikan menuju ke arah hulu sungai
untuk menemukan mineral induknya. Apabila hasil dari pengambilan sampel menggunakan panning mulai
berkurang mineral berharganya maka akan dihentikan proses pencariannya.
Secara prinsip, kegiatan dulang merupakan pemisahan konsentrat dari tailingnya, dimana material
konsentrat yang mempunyai berat jenis lebih besar akan tertahan di bagian dasar alat dulang, sedangkan yang lebih
ringan berat jenisnya dan dianggap sebagai tailing ikut larut bersama aliran air.
Macam-macam dulang yang diketahui adalah sebagai berikut :
1. Dulang Emas

Dulang emas adalah salah satu peralatan pertama yang digunakan dalam mendapatkan
emas dan adalah salah satu dari yang terakhir, bahkan di pekerjaan tambang komersil untuk
memeriksa nilai bijih yang sedang diproses. Dulang Emas digunakan di mana saja emas terjadi
kira-kira 75% dari semua negara-negara di dunia.

Mendulang emas pada pendulangan tradisional biasa dilakukan secara sendiri dan sering dilakukan
dipinggiran sungai
2. Dulang Batea
Dulang Batea adalah jenis lain dari dulang yang bagian bawahnya datar atau kadang-kadang bercekungan
kecil-kecil dengan dimeter bagian atasnya 40-75 cm, sedangkan ukuran lainnya sama dengan dulang. Dulang dan
batea dapat terbuat dari kayu, logam plastik tebal atau gelas fiber (fiberglass).
3. Dulang Plastic
Dulang yang paling efisien untuk pemula adalah yang dibentuk dari plastik. Itu lebih baik
dengan dulang baja dengan beberapa pertimbangan. pertama adalah karat yang bersifat
menghancurkan. yang kedua, didapat tekstur permukaan yang bagus untuk menahan emas agar
lebih baik. Ketiga, ini tentang adalah berat/beban suatu dulang baja, dan keempat warna dapat
dibuat dengan hitam permanen sedemikian sehingga lapisan emas yang paling kecil dapat dengan
mudah dilihat.

4. Dulang Cowhorns
Cowhorns juga digunakan untuk mendulang emas. Yang mempunyai celah panjang, dan
kemudian steamed sampai itu adalah cukup lembut untuk dikerjakan, horn berbentuk terbuka
dengan pinggan dangkal yang sesuai untuk mendulang. Di zaman dulu pinggan emas adalah satu-
satunya alat yang tersedia untuk penyelidik dan penambang kecil untuk memisahkan emas.
Yang mana pertimbangan diatas adalah cukup untuk menguasai dulang plastik. Tetapi
masih ada keuntungan lain. Yang dibuat dengan suatu proses injection mold, riffles dapat dengan
mudah dibentuk ke dalam suatu dulang plastik. Riffles ini dapat menjerat banyak emas dalam suatu
sluice box, dengan begitu akan mempercepat proses pendulangan. Pekerja yang sudah
berpengalaman sering mengacu pada ini sebab mereka mengijinkan pemula untuk mendulang
dengan hampir derajat tingkat efisiensi yang sama.
Berdasarkan keadaan contohnya, terdapat dua jenis preparasi pemisahan mineral butir :
a. Contoh Ruah (Bulk Samples)
Preparasinya meliputi pengeringan, penimbangan (pengukuran volume), pencucian,
pendulangan, pengeringan, pengayakan, pemagnetan, dan penimbangan masing-masing fraksi.
b. Konsentrat Dulang
Prinsip preparasinya adalah pemisahan mineral berdasarkan sifat kemagnetan (magnetic
separation).

Proses Pendulangan
Emas

4. Penambangan yang dilakukan harus mengikuti konsep pengelolaan lingkungan kawasan pertambangan dan
rencana pengembangan ke wilayah di sekitarnya seperti:
a. Perkiraan lubang tambang atau tunnel/adit yang harus dibuat
b. Penempatan lokasi pengolahan
c. Pembuangan limbah dan sistem pengangkutannya
5. Pencemaran terhadap dampak lingkungan yang harus diperhatikan adalah:
a. Timbunan waste terutama yang mengandung pirit harus ditimbun di tempat tertentu yang dijaga agar
tempat tersebut tidak dilintasi air limpasan pada waktu hujan turun, untuk hal tersebut perlu dibuat parit-
parit untuk menyalurkan air limpasan agar tidak melintasi timbunan waste.
b. Timbunan waste yang mengandung pirit perlu ditutup dengan lapisan tanah lempung dan batugamping
serta dipadatkan agar lapisan piritnya tidak berhubungan dengan udara.
c. Perlu dibuat kolam pengendap sebelum air limpasan hujan memasuki sungai.
6. Melakukan pembuatan kamar asam dengan kondisi suhu kamar yang digunakan untuk proses peleburan bijih
dengan campuran merkuri yang dimungkinkan untuk meminimalkan terhirupnya uap merkuri ke dalam saluran
pernafasan.

7. Para pekerja tambang harus melakukan aktifitas penambangan yang memperhatikan pola kerja dan dinamika
kerja yang disesuaikan dengan tingkat Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3). Para pekerja harus bekerja
menggunakan peralatan yang dianjurkan seperti: helmet, lampu penerangan, safety glasses (kaca mata), sepatu
boot, masker dan jika dimungkinkan mengisi kartu jadwal masuk lubang tambang dengan penggunaan jam
kerja 4 – 5 jam di dalam lubang tambang dan setelah itu bergantian (untuk tambang bawah tanah). Adanya
klinik kesehatan di lokasi penambangan diharapkan turut membantu dalam sosialisasi program K3.
8. Dalam operasionalnya pengelolaan lingkungan sebagai akibat dari kegiatan penambangan harus dikelola
dengan sebaik-baiknya karena akan menghasilkan limbah yaitu limbah penambangan dan limbah pengolahan.
Limbah penambangan pada sistem tambang terbuka berasal dari lapisan penutup (overburden) yang terdiri dari
batu-batu bongkahan, kerikil dan batuan yang lebih halus, sedangkan limbah penambangan pada system
tambang bawah tanah berasal dari batuan samping hasil penggalian lubang tambang. Limbah penambangan
berupa batu bongkahan tersebut, bila terdapat banyak mineral sulfide ditambah kehadiran udara dan curah
hujan yang cukup tinggi serta adanya bakteri alam tertentu seperti Thiobacillus Ferrooxidan akan berpotensi
untuk terbentuknya air asam tambang (acid mine drainage). Air asam tambang ini apabila memasuki aliran
permukaan akan merusak kehidupan tanaman dan mengubah kimia dan biologi tanah, dan apabila masuk ke
dalam badan air akan memobilisasi logam-logam dari tailing.
9. Menerapkan penambangan yang berwawasan lingkungan antara lain melakukan penambangan dengan cara
back filling yaitu mengembalikan kembali material sisa atau tailing yang ada ke lokasi lubang tambang yang
disemprot, hal tersebut menghindari terjadinya lahan terbuka yang luas, mengamankan atau memelihara tanah
yang mengandung humus untuk nantinya digunakan sebagai media tumbuh pada kegiatan revegetasi pasca
penambangan.

Prospek dalam Sistem Penambangan


Penilaian terhadap rencana penambangan tentunya didasarkan atas layak atau tidaknya endapan bahan
galian emas tersebut untuk diusahakan. Potensi bahan galian emas di daerah Desa Panikaban telah diketahui
oleh masyarakat setempat, dan penambangan emas telah dijadikan mata pencaharian dari sebagian penduduk
walaupun dengan hasil yang masih belum optimal. Secara ekonomis, Desa Mundam Sakti dan Desa Durian
Gadang merupakan daerah yang memungkinkan untuk dikembangkan sebagai kawasan tambang rakyat yang
diusahakan melalui model pertambangan skala kecil.
Secara geologi, prospeksi potensi sumberdaya (cadangan terkira) di wilayah Desa Mundam Sakti cukup
layak untuk ditambang skala kecil, dengan potensi pengembangan lokasi penambangan yang dapat
direncanakan ke daerah sekitarnya yaitu di bagian utara - timurlaut yang secara litologi maupun mineralisasi
emasnya cukup mempunyai prospek, dengan arah urat kuarsa N550E/ 600. Secara kelayakan investasi
pertambangan, hasil produksi dari kegiatan penambangan emas skala kecil ini dapat diperkirakan berdasarkan
jumlah cadangan yang ditaksir sebesar berapa ton per tahunnya (dengan asumsi nilai cadangan terukur telah
diketahui), dengan mempertimbangkan faktor harga

Penentuan aktivitas penambangan dilakukan dengan memperhatikan keramahan terhadap lingkungan


sekitarnya. Penerapan metoda teknik penambangan di wilayah Desa Panikaban dan sekitarnya tentunya
didasarkan atas data geologi dan bentuk endapan bahan galiannya. Faktor lain yang harus dipertimbangkan
adalah modal dan tenaga kerja yang dapat diserap.

Untuk tambang rakyat skala kecil biasanya dapat diterapkan sistem penambangan bawah tanah
(underground mining) dengan menggunakan metoda gali-timbun (cut and fill) (Gambar 9). Teknik penambangan
seperti ini dapat diterapkan di wilayah Desa Panikaban dan sekitarnya didasarkan pada bentuk endapan berupa
urat (vein) kuarsa yang relatif tegak ataupun sedikit miring; batuan sekeliling atau batuan sampingnya (wall rock)
relatif kurang kompak; nilai endapan tinggi; dapat diterapkan pada endapan bijih yang batasnya kurang jelas; dan
lubang bekas galian kemudian dapat diisi material lain yang berfungsi sebagai penyangga; selain tidak
memerlukan biaya yang besar juga dapat diprediksi terhadap kerusakan lahan atau lingkungan tambangnya. Pola
penambangan perlu direncanakan sedemikian rupa agar pengembangan usaha penambangan skala kecil yang
akan dilaksanakan oleh masyarakat dapat dilakukan secara efektif dan ekonomis sesuai kondisi yang ada. Untuk
itu perlu dipilihkan teknologi tepat guna yang sesuai dengan kondisi dilapangan.

Pengelolaan Lingkungan Tambang


Dalam kegiatan pengelolaan lingkungan tambang rakyat dan pengembangan wilayah dilakukan dengan
maksud untuk meningkatkan intensitas keterlibatan masyarakat di wilayah penambangan dan daerah sekitarnya
yaitu melalui sistem Pertambangan Emas Skala Kecil. Dengan meningkatnya intensitas keterlibatan masyarakat,
maka kondisi ekonomi dan kesejahteraan masyarakat diharapkan akan meningkat pula dan selanjutnya akan
meningkatkan PAD daerah setempat (Selinawati&Rafiah Siti, 1996).

Di samping peningkatan kondisi ekonomi, peningkatan kesehatan dan keselamatan kerja (K3) perlu
mendapat prioritas utama dalam pengelolaan usaha pertambangan yang akan dikembangkan. Dengan mengacu
pada konsep pembangunan berkelanjutan, maka pola pengelolaan dan pengusahaan tambang yang akan
dikembangkan pada pertambangan skala kecil harus betul-betul memperhatikan aspek lingkungan yaitu dengan
menjalankan pengelolaan penambangan yang ramah lingkungan.

Konsep pengelolaan lingkungan kawasan pertambangan dan rencana pengembangan ke wilayah di


sekitarnya perlu direncanakan berdasarkan pada data pola penambangan yang akan dilaksanakan, seperti
perkiraan lubang tambang/ titik serta adit/ tunnel yang harus dibuat, penempatan lokasi pengolahan, pembuangan
limbah serta sistem pengangkutannya.

Pengelolaan lingkungan kawasan pertambangan ini juga didasarkan pada pemanfaatan ruang yang
dibutuhkan untuk kegiatan penambangan, kebutuhan prasarana dan sarana, serta pengembangan kegiatan
penambangan dan dampaknya terhadap kawasan yang ada di sekitarnya. Pengelolaan seperti tersebut di atas juga
dibutuhkan untuk menghindari kemungkinan terjadinya permasalahan di kemudian hari seperti: masalah status
kepemilikan lahan, konflik penggunaan lahan, dan penyesuaiannya dengan rencana tata ruang wilayah sekitarnya
yang telah ditetapkan oleh pemerintah daerah.

Pengamatan sepintas, pengelolaan lingkungan penambangan pada wilayah Desa Panikaban dan sekitarnya
terlihat masih belum dilakukan secara baik. Terlihat pada saat pengupasan/ penggalian tanah penutup tanah
humus (top soil) tidak mengalami pemisahan terlebih dahulu, selain material tanah/ batuan hasil penggalian yang
tidak mengandung bijih (waste) ditimbun di atas permukaan tanah dengan tidak memperhatikan masalah
pencemaran terhadap badan air di sekitarnya terutama bila terkena air limpasan pada waktu hujan. Air limpasan
mengalir melintasi timbunan waste yang mengandung berpotensi untuk menjadi air asam tambang.

Hal-hal yang perlu dilakukan dalam penanggulangan terhadap dampak yang terjadi dalam pengelolaan
lingkungan tambang, adalah sebagai berikut ini.

1) Timbunan waste terutama yang mengandung pirit harus ditimbun di tempat tertentu yang dijaga
agar tempat tersebut tidak dilintasi air limpasan pada waktu hujan turun, untuk hal tersebut perlu
dibuat parit-parit untuk menyalurkan air limpasan agar tidak melintasi timbunan waste.
2) Timbunan waste yang mengandung pirit perlu ditutup dengan lapisan tanah lempung dan
batugamping serta dipadatkan agar lapisan piritnya tidak berhubungan dengan udara.
3) Perlu dibuat kolam pengendap sebelum air limpasan hujan memasuki sungai.

Penggunaan Teknologi Tepat Guna


Untuk meningkatkan usaha penambangan yang telah dilakukan masyarakat, baik secara kualitatif maupun
secara kuantitatif, perlu dilakukan penyempurnaan teknologi pertambangan dengan penggunaan teknologi tepat
guna, termasuk proses pengolahan, sehingga produksi dapat ditingkatkan dan dapat memenuhi persyaratan ramah
lingkungan.

Secara umum, teknik pengolahan bahan galian emas yang disarankan untuk digunakan adalah proses
amalgamasi dengan campuran air raksa (merkuri atau air perak) seperti yang gunakan masyarakat saat ini. Proses
ini dilakukan melalui beberapa tahapan pengolahan, sehingga nantinya faktor keamanan dan ramah terhadap
lingkungan di sekitarnya, dapat diusahakan semaksimal mungkin. Limbah (tailing) pengolahan harus diupayakan
agar tidak melewati nilai ambang batas yang ditentukan.

Kegiatan aktivitas penambangan tentunya memerlukan pola kerja dan dinamika kerja yang disesuaikan
dengan tingkat kesehatan dan keselamatan kerja (K3). Para pekerja tambang biasanya memiliki tingkat resiko kerja
yang cukup tinggi, sehingga perlu diperhatikan sekali faktor-faktor keselamatan terhadap pekerja tambangnya.

Para pekerja tambang diharapkan dapat memperhatikan prosedur pekerjaan dengan menggunakan
peralatan yang dianjurkan seperti: helmet, lampu penerangan, safety glasses (kaca mata), sepatu boot, masker dan
jika dimungkinkan mengisi kartu jadwal masuk lubang tambang dengan penggunaan jam kerja 4 – 5 jam di dalam
lubang tambang dan setelah itu bergantian. Adanya klinik kesehatan di lokasi penambangan diharapkan turut
membantu dalam sosialisasi program K3. Pembuatan kamar asam dengan kondisi suhu kamar digunakan untuk
proses peleburan bijih dengan campuran merkuri yang dimungkinkan untuk meminimalkan terhirupnya uap
merkuri ke dalam saluran pernafasan.
Industri pertambangan merupakan industri yang penuh kontroversi. Di satu sisi industri pertambangan
mempunyai potensi besar untuk menciptakan kemanfaatan bagi masyarakat dan dapat menciptakan perubahan
sosial dan ekonomi. Akan tetapi di sisi lain industri pertambangan juga menimbulkan masalah perusakan
lingkungan, mulai dari masalah penimbunan (over burden) yang memerlukan batuan dalam kapasitas besar, proses
crushing dan grinding yang akan menghasilkan fine material dan lumpur.

Dalam operasionalnya, kegiatan penambangan akan menghasilkan limbah yaitu limbah penambangan dan
limbah pengolahan. Limbah penambangan pada sistem tambang terbuka berasal dari lapisan penutup (overburden)
yang terdiri dari batu-batu bongkahan, kerikil dan batuan yang lebih halus, sedangkan limbah penambangan pada
sistem tambang bawah tanah berasal dari batuan samping hasil penggalian lubang tambang.

Limbah penambangan berupa batu bongkahan tersebut, bila terdapat banyak mineral sulfida ditambah
kehadiran udara dan curah hujan yang cukup tinggi serta adanya bakteri alam tertentu seperti Thiobacillus
Ferrooxidan akan berpotensi untuk terbentuknya air asam tambang (acid mine drainage). Air asam tambang ini
apabila memasuki aliran permukaan akan merusak kehidupan tanaman dan mengubah kimia dan biologi tanah,
dan apabila masuk ke dalam badan air akan memobilisasi logam-logam dari tailing.

Komponen yang paling mendapat sorotan dari kegiatan pengolahan emas adalah merkuri, di mana merkuri
digunakan sebagai pengikat konsentrat emas. Merkuri tergolong logam berat yang berpotensi sebagai limbah B3
(Bahan Berbahaya dan Beracun) apabila dilepas ke lingkungan.

Belum adanya legalitas dari badan terkait dan pemberi modal yang cukup, maka pertambangan yang
dilakukan oleh masyarakat menjadi tidak terkoordinir dan sistem pengolahan hasil tambang dilakukan dengan
konvensional. Hal tersebut selain tidak memaksimalkan hasil tambang juga merusak lingkungan akibat
pengolahan yang konvensional dan sistem pengolahan limbah buangan yang tidak memadai.

Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 18 tahun 1999 jo Peraturan Pemerintah
Republik Indonesia No. 85 tahun 1999 tentang Pengolahan Limbah Berbahaya dan Beracun, limbah
penambangan tailing adalah termasuk limbah berbahaya (hazardous waste) sehingga diperlukan suatu proses
lebih lanjut yang ditujukan untuk :
1) Mengurangi sifat toksik, misalnya dengan pengkapsulan/ solidifikasi.
2) Menghindari kontak dengan manusia, misal landfill, land treatment.
3) Menjadi bahan produk yang bermanfaat, misalnya diolah menjadi bahan bangunan.
Dengan pengelolaan dan penataan kawasan pertambangan rakyat skala kecil yang direncanakan, maka
kegiatan pembinaan mengenai penanganan limbah serta mengurangi pencemaran lingkungan termasuk kegiatan
pengawasannya, akan dapat dilakukan secara lebih intensif oleh instansi terkait, khususnya di tingkat kabupaten.

Prinsip pemutaran gelundungan (tromol) dengan menggunakan motor diesel dan kincir air tidak berbeda,
hanya saja dengan menggunakan motor diesel, gelundung dapat ditempatkan pada lokasi yang diinginkan, selain
itu apabila musim kemarau, gelundung masih dapat dijalankan terus.