Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH

KONSEP BIAYA

Diajukan untuk Memenuhi Tugas pada Mata Kuliah Teori Akuntansi

dengan Dosen Pengampu Rahayu Anggraeni, SE, M.Si, AK

Disusun oleh :

1. Arviyanti Nawangsari, A.Md S1 Akuntansi 1821102


2. Siti Fadilah S1 Akuntansi 172015

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Muhammadiyah Cilacap

Tahun Akademik 2018/2019

KONSEP BIAYA
 Pengertian Konsep Biaya

Secara umum,dapat dikatakan bahwa cost yang telah dikorbankan dalam rangka

menciptakan pendapatan disebut dengan biaya. FASB (1980) mendefinisiakan biaya sebagai

berikut :

“Biaya adalah aliran keluar (outflows) atau pemakaian aktiva atau timbulnya hutang (atau

kombinasi keduanya) selama satu periode yang berasal dari pemjualan atau produksi barang

atau penyerahan jasa atau pelaksanaan kegiatan yang lain yang merupakan kegitan utama

suatu entitas.

IAI (IASC) mendefinisi biaya dalam Standar Akuntansi Keuangan (2002) sebagai berikut:

“Beban adalah penurunan manfaat ekonomi selama satu perioda akuntansi dalam

bentuk arus keluar atau terjadinya kewajiban yang mengakibatkan penurunan ekuitas yang

tidak menyangkut pembagian kepada penanam modal.”

Karakteristik Biaya

Biaya mempunyai dua karakteristik utama yaitu :

1. Aliran keluar atau penurunan asset


2. Akibat kegiatan yang membentuk operasi utama yang menerus

Selain dua karakteristik utama di atas, terdapat karakteristik lain yang bersifat sebagai

konsekuensi, pendukung, atau penjelas. Karakteristik utama dan pendukung dibahas berikut

ini:

 Penurunan Aset
Untuk dapat mengatakan bahwa biaya timbul, harus terjadi transaksi atau kejadian yang

menurun asset atau menimbulkan aliran keluar asset atau sumber ekonomik. Asset dalam hal

ini harus diartikan sebagai semua asset perusahaan sebagai satu kesatuan (bukan hanya asset

tertentu misalnya sediaan bahan baku).


 Operasi Utama yang Menerus

Tidak semua penurunan atau konsumsi asset membentuk biaya. Agar menjadi biaya

konsumsi tersebut harus berkaitan dengan kegiatan utama atau sentral kesatuan usaha. Yang
dimaksud dengan kegiatan utama adalah kegiatan penciptaan pendapatan (laba) yang

direpresentasi dalam kegiatan memproduksi / mengirim barang atau menyerahkan/

melaksanakan jasa.

 Kenaikan Kewajiban

Semua badan autoritatif mendefinisi biaya tidak hanya dari sudut penurunan asset tetapi

juga dari kenaikan kewajiban. Alasannya adalah agar makna biaya cukup luas untuk

mencukupi pula pos-pos yang timbul dalam penyesuaian akhir tahun. Sebagai contoh adalah

tarif pengiriman barang oleh perusahaan ekspedisi yang belum dibayar perusahaan. Jasa

pengiriman telah dikonsumsi dan menimbulkan pendapatan sehingga biaya harus timbul

diikuti dengan kenaikan kewajiban.

 Penurunan Ekuitas
Definisi APB dan IAI secara eksplisit menyebutkan bahwa penurunan asset akhirnya akan

mengubah ekuitas (can change owners’equity) atau menurunkan ekuitas (result in decrases in

equity). Pendefinisian ini sebenarnya menegaskan bahwa akuntansi menganut konsep

kesatuan usaha sehingga ekuitas secara konseptual adalah utang perusahaan kepada pemilik.

 Aliran Fisis atau Moneter

Biaya timbul dari penyerahan/produksi barang atau dari pelaksanaan jasa memberi isyarat

bahwa FASB memaknai biaya sebagai kejadian fisis. Bila asset diganti dengan barang dan

jasa (seperti yang disarankan Kam), aliran tersebut jelas menunjukkan aliran fisis. Secara

semantic, biaya seharusnya didefinisi sebagai perubahan atau penurunan nilai sehingga

timbulnya biaya harus merupakan kejadian moneter.

 Rugi

Seperti halnya untung, argument yang diajukan untuk menjawab perlu atau tidaknya biaya

dibedakan dengan rugi. FASB memfokuskan pengertian biaya hanya untuk penurunan asset
yang berkaitan dengan operasi utama atau sentral. Sebagai lawan makna untung, kata-kata

kunci yang melekat pada pengertian rugi adalah:

1) Penurunan ekuitas (asset bersih).


2) Transaksi peripheral atau incidental.
3) Selain apa yang didefinisikan sebagai biaya atau selain distribusi ke pemilik.
Empat sumber rugi yang diidentifikasi FASB adalah (SFAC No. 6, prg. 85):
a. Periferal dan incidental: misalnya penjualan investasi dalam surat-surat berharga,

penjualan asset tetap, pelunasan utang obligasi sebelum jatug tempo.


b. Transfer nontimbal-balik (nonreciprocal transfers) dengan pihak lain: misalnya pencurian

dan pembayaran ganti rugidari kekalahan dalam tuntutan perkara hokum.


c. Penahanan aset (holding assets); misalnya penurunan harga sekuritas inevstasi, penurunan

nilai – tukar valuta asing, dan penurunan harga karena penahan sediaan (holding losses).
d. Factor lingkungan: misalnya ganti rugi asuransi musibah alam yang lebih rendah dari kos

asset yang rusak. Contoh lain adalah lenyapnya manfaat asset yang tidak diasuransi akibat

kebakaran.

 Pengakuan Biaya

Pengakuan menyangkut masalah criteria pengakuan yaitu apa yang harus dipenuhi agar

penurunan nilai asset yang memenuhi definisi biaya atau rugi dapat diakui dan masalah saat

pengakuan yaitu peristiwa atau kejadian apa yang menandai bahwa criteria pengakuan telah

dipenuhi. Biaya dan rugi tidak mengalami masalah pembentukan dan realisasi. Oleh karena

itu, criteria pengakuan tidak dibedakan dengan kaidah pengakuan sehingga masalah

pengakuan biaya (rugi) adalah kapan penurunan nilai asset dapat dikatakan telah terjadi atau

kapan biaya (rugi) tealh timbul sehingga jumlah rupiah biaya (rugi) dapat diakui.

 Kriteria Pengakuan

Biaya atau rugi pada umumnya diakui bilamana salah satu dari dua criteria berikut

terpenuhi (SFAC No. 5,prg. 85) :

a. Konsumsi manfaat

Biaya atau rugi diakui bilamana manfaat ekonomik yang dikuasai suatu entitas telah

dimanfaatkan atau dikonsumsi dalam pengiriman atau pembuatan barang, penyerahan atau
pelaksanaan jasa, atau kegiatan lain yang merepresentasi operasi utama atu sentral entitas

tersebut.

b. Lenyapnya atau berkurangnya manfaat masa datang

Biaya atau rugi diakui bilamana asset yang telah diakui sebelumnya diperkirakan telah

berkurang manfaat ekonomiknya atau tidak lagi mempunyai manfaat ekonomik.

FASB memberikan pedoman umum saat pengakuan seperti dibawah ini.

 Kaidah Pengakuan APB


Kaidah pengakuan di atas sebenarnya dilandasi oleh basis asosiasi yang oleh APB disebut

sebagai prinsip pengakuan biaya pervasive atau luas (pervasive expense recognition

principles). Hal ini dinyatakan oleh APB sebagai berikut (APB Statement No. 4, prg.157-

160):
a. Mengasosiasi sebab dan akibat (associating cause and effect). Beberapa kos diakui

sebagai biaya atas dasar asosiasi langsung dengan pendapatan tertentu


b. Alokasi sistematik dan rasional (systematic and rational allocation). Bila tidak ada cara

langsung untuk mengasosiasi sebab dan akibat, beberapa kos diasosiasi dengan periode

sebagai biaya atas dasar usaha (attempt) untuk mengalokasi kos secara systematic dan

rasional ke beberapa perioda yang diperkirakan menikmati manfaat.


c. Pengakuan segera (immediate recognition). Beberapa kos diasosiasi dengan perida

berjalan sebagai biaya karena:


1) Kos yang terjadi dalam perioda berjalan tidak memberi manfaat masa datang yang cukup

nyata (discernible).
2) Kos yang dicatat sebagai asset dalam perioda-perioda sebelumnya tidak lagi mempunyai

manfaat ekonomik yang cukup nyata.


3) Mengalokasiberbagai kos baik atas dasar asosiasi dengan pendapatan atau atas dasar

perioda akuntansi dipandang tidak mempunyai manfaat yang berarti.


 Pengukuran Biaya
Biaya dapat diukur didasarkan pada:

1. Cost historis
Cost historis merupakan jumlah kas atau setaranya yang dikorbankan untuk memperoleh

aktiva. Pengukuran biaya atas cost historis, dapat digunakan untuk jenis aktiva seperti :

gedung, peralatan dan sebagainya.

2. Cost pengganti / cost masukan terkini (replacement cost / curent input cost)

Cost masukan menunjukkan jumlah rupiah harga pertukaran yang harus dikorbankan

sekarang oleh suatu entitas untuk memperoleh aktiva yang sejenis dalam kondisi yang sama

contohnya, penilaian untuk persediaan.

3. Setara kas (cash equivalent)

Setara kas adalah jumlah rupiah kas yang dapat direalisir dengan cara menjual setiap jenis

aktiva di pasar bebas dalam kondisi perusahaan normal. Nilai ini biasanya didasarkan pada

catatan harga pasar barang bebas yang sejenis dalam kondisi yang sama. Pos aktiva berwujud

biasanya menggunakan dasar penilaian ini.

 Hubungan Cost dan Biaya


Beberapa sumber mendefinisi biaya dalam kaitannya dengan pengertian kos karena

memang biaya tidak dapat dipisahkan dengan kos. Akan tetapi, kos tidak selalu dapat disebut

biaya karena kos dapat juga merepresentasi asset. Dengan kos sebagai pengukur, kriteria

konsumsi manfaat dan kelenyapan manfaat dapat dinyatakan dalam bentuk keterbatasan

kos (cost expiration). Kriteria konsumsi lebih berkaitan dengan pengakuan biaya sehingga

kriteria ini oleh paton dan Littlen (1970) disebut kehabisan kos penciptaan

pendapatan (revenue producing cost expiration) sedangkan kriteria kelenyapan lebih

berkaiatan dengan rugi sehingga krtiteria ini dapat disebut keterhabisan kos non penciptaan

pendapatan (not revenue produsing cost expiration).

 Proses dan Konsep Penandingan


Dua tahap kritis perlakuan kos adalah pengakuan (aliran masuk sebagai asset) dan

pembebanan (aliran keluar sebagai biaya). Proses penandingan adalah proses penentuan laba

dengan dengan cara mengukur atau menakar dahulu pendapatan untuk suatu perioda dan

barulah kemudian menentukan biaya yang berkaitan dengan pendapatan tersebut. Konsep

atau prinsip penandingan adalah dasar pemikiran untuk menghubungkan pendapatan dan

biaya sehingga laba yang dihasilkan bermakna. Prinsip penandingan menjadi suatu kebutuhan

dalam akuntansi karena alasan berikut:

1. Pengakuan pendapatan tidak langsung dikaitkan dengan pengakuan biaya karena teknik

pembukuan tidak memungkinkan hal tersebut.


2. Transaksi terjadinya pendapatan pada umumnya tidak berkaitan langsung dengan transaksi

terjadinya biaya.
 Kelayakan Ekonomi

Penandingan yang tepat harus didasarkan pada kelayakan ekonomik dan bukan fisis.

Memang penandingan menuntut identifikasi konsumsi manfaat asset atau jasa secara fisis

tetapi nilai asset atau jasa yang dikonsumsi juga harus ditentukan secara tepat dengan

memperhatikan kondisi yang melingkupinya. Oleh karena itu, dasar penandingan yang paling

utama adalah kelayakan ekonomik (economic reasonanbleness) bukannya dasar aliran fisis

semata-mata.

 Menandingkan Bukan Mengkompensasi

Aliran pendapatan dan kos berbeda dan keduanya mencerminkan dua factor yang berbeda

(upaya dan hasil) sehingga tipa factor harus ditunjukkan secara utuh sesuai dengan fungsinya.

Pos yang satu tidak selayaknya dikompensasi dengan pos yang lain.

 Basis Asosiasi

Dalam rangka menghubungkan biaya dan biaya, perlu dipertimbangkan basis asosiasi

yang menggambarkan penandingan yang secara ekonomik layak. Berbagai basis asosiasi

diantaranya sebagai berikut.


 Asosiasi Sebab dan Akibat

Konsep upaya dan capaian menyatakan bahwa biaya merupakan upaya dalam rangka

mendapatkan capaian berupa pendapatan. Ini berati ada hubungan sebab-akibat antara biaya

dan pendapatan. Oleh Karena itu, basis penandinagn yang paling masuk akal adalah sebab-

akibat walaupun basis ini lebih merupakan asumsi daripada kenyataan karena dalam banyak

hal sulit untuk dibuktikan secara menyakinkan bahwa biaya menyebabkan pendapatan

Paton dan Littleton (1970) menyatakan dasar ini adalah yang paling ideal karena paling

merepresentasi konsep upaya dan hasil. Namun penandingan langsung menghadapi beberapa

masalah teknis diantaranya :

 Identifikasi Cost Produk

Karena produk terjual merupakan takaran penandingan, kos produk akan dipecah menjadi

dua komponen yaitu kos produk yang telah terjual dan kos produk yang belum terjualdan

masih menjadi asset perusahaan. Kos yang melekat pada produk terjual akan langsung

dibebenkan sebagai biaya. Kos sediaan baru dibebankan sebagai biaya kalau produk telah

terjual.

 Produk Usang atau Musiman

Masalah lain yang berkaitan dengan penandingan atas dasar sebab akibat adalah adanya

produk musiman yang tidak laku dijual. Persoalannya adalah apakah kos produk musiman

yang tidak terjual merupakan sebab (sebagai biaya) atau bukan (sebagai rugi) . Sediaan akhir

yang tidak terjual sebenarnya merupakan upaya (biaya) atau sebab untuk mendatangkan

penjualan yang dicapai musim tertentu. Jadi tidak selayaknyalah kos sediaan yang tidak

terjual diperlakukan sebagai rugi.

 Barang Rusak

Kelayakan ekonomik menuntut pertimbangan dengan memperhatikan kondisi yang

melingkupi suatu masalah. Bila kerusakan produk merupakan hal yang normal atau bahkan
merupakan prasyarat untuk menghasilkan barang dengan kualitas baik, kos barang yang rusak

dapat dianggap sebagai upaya menghasilkan pendapatan. Sebaliknya, kalau kerusakan atau

cacatnya produk merupakan hal yang tidak biasa terjadi (karena kelalaian atau musibah)

maka jumlah rupiah tersebut dapat diperlakukan sebagai rugi.

 Identifikasi Kos Nonproduk

Dalam kaitannya dengan penandingan sebab-akibat ,kos nonproduksi tidak harus ditunda

pembebanannya untuk dikeitkan dengan pendapatan masa datang kalau tidak ada kepastian

tentang pendapatan masa datang yang dapat dikaitkan dengan kos nonproduksi. Ini berarti

asosiasi produk diganti dengan asosiasi perioda.

 Biaya Antisipasian

Biaya antisipasian (anticipated expenses) adalah biaya yang dianggap menyebabkan

timbulnya pendapatan tetapi baru terjadi seteleh pendapatan diakui. Sebagai contoh adalah

kos yang berkaitan dengan kegiatan purna-jual seperti jaminan penjualan, jaminan reparasi

gratis, dan pengumpulan piutang. Bila penandingan sebab-akibat dipertahankan , kos

semacam itu harus diantisipasi dan diakui pada periode terjadinya penjualan meskipun kos

belum terjadi.

 Alokasi Sistematik dan Rasional

Alokasi sistematik dan rasional merupakan proses penandingan dengan perioda sebagai

penakar pendapatan dan biaya. Proses ini sering disebut penandingan perioda. Dalam

pengakuan biaya, diasumsi bahwa yang menerima manfaat dari potensi jasa adalah perioda

bukan produk. Keberatan terhadap penandingan ini adalah bahwa proses alokasi

menimbulkan banyak metoda alokasi. Sebenarnya , adanya berbagai metoda alokasi

menunjukkan bahwa akuntansi berusaha untuk menyelaraskan pola penyerapan kos yang

kira-kira mendekati pola pemanfaatan potensi jasa sehingga konsep penandingan yang tepat
dapat dicapai. Depresiasi asset tetap merupakan contoh masalah ini. Alasan lain yang

mendukung dasar penandingan ini adalah:

1. Banyak jenis biaya perioda yang berkaitan secara tidak langsung dengan pendapatan

perioda berjalan sehingga tidaklah terlalu menyimpang dari asosiasi sebab-akibat

meskipun kos potensi jasa diakui dan dilaporkan sebagai biaya pada saat potensi jasa

tersebut dikonsumsi.
2. Dalam banyak hal, memang sulit untuk mencari kaitan langsung antara biaya-biaya

tertentu dengan pendapatan. Meskipun demikian, kalau biaya-biaya tersebut memang

diperlukan untuk operasi perusahaan secara keseluruhan maka meretia harus dibebankan

pada periode berjalan.


3. Bila biaya tidak dapat diasosiasi dengan cukup pasti dengan pendapatan masa datang atau

manfaat ekonomik tidak dapat dikaitkan dengan perioda-perioda masa datang.


4. Kalau kegiatan atau kejadian sifatnya normal dan berulang serta jumlahnya relatif konstan,

pembebanan langsung tidak mempengaruhi laba secara material meskipun hal tersebut

tidak menggambarkan penandingan yang sempurna atau bahkan salah tanding.


5. Alokasi sistemik dan rasional memmeng merupakan kebutuhan.

 Kriteria Penangguhan

Cost non operasi yang berulang terjadinya cukup beralasan untuk langsung dibebankan

daripada ditunda atau disediakan untuk mencapai tepat-tanding.

Alokasi Cost Bergabung atau Bersama

Alokasi cost bergabung atau bersama bersifat internal dalam suatu perioda sehingga

hasilnya tidak mempengaruhi kos operasi total untuk perioda tersebut meskipun dasar alokasi

agak arbitrer. Alokasi semacam ini hendaknya tidak diterapkan untuk alokasi kos faktor jasa

antarperioda. Hendriksen menyatakan bahwa alokasi secara arbitrer antarperioda akan lebih

menyesatkan hasilnya daripada tidak dilakukan alokasi karena alokasi memberi kesan adanya

ketepatan yang dalam kondisi tertentu mungkin tidak dapat dipenuhi.

 Alokasi Bukan Sarana Pemerataan Laba


Fungsi akuntansi adalah untuk mengungkapkan kondisi perusahaan dengan jelas bukan

malahan menutupinya dengan pemerataan laba. Kemajuan dan reputasi suatu perusahaan

harus ditunjukkan dengan kinerja yang sebenarnya bukan semata-mata dengan permainan

angka. Untuk mengatasi fluktuasi laba tahunan, cara terbaik adalah menerbitkan serangkaian

statemen laba-rugi tahunan seperti apa adanya bukan serangakaian statemen laba yang

diratakan.

 Pendekatan Nonalokasi

Pendapat yang cukup kontroversal dan eksterm dikemukakan oleh Thomas (1987) tentang

alokasi dalam akuntansi. Thomas menyatakan bahwa alokasi hanya dapat dipertahankan bila

tiga karakteristik berikut dipenuhi:

1. Ketertambahan
2. Ketakraguan
3. Keterpertahankan
 Pembebanan Arbiter.

Suatu kos biasanya akan langsung dibebankan dalam perioda terjadinya (immediate rec-

ognition). Ini berarti bahwa kos ditandingkan dengan pendapatan secara arbitrer. Konsep

yang melandasi pembebanan semacam ini semata-mata adalah

kepraktisan(expediency). Memang pada umumnya pengakuan segera kos sebagai biaya atau

rugi dilakukan karena manfaat masa datang tidak terukur atau tidak cukup pasti. Contoh yang

paling jelas adalah pengakuan segera selisih kurs utang valuta asing akibat kenaikan nilai

tukar mata uang asing atau pengakuan segera kos riset dan pengembangan. Walaupun

demikian, kalau terdapat alasan yang kuat atau karena kebijakan khusus akibat kejadian luar

biasa, dapat saja selisih kurs tersebut dikapitalisasi meskipun manfaat ekonomik masa datang

tidak ada lagi atau sulit dihubungkan dengan perioda masa datang.

Penandingan arbitrer tidak selalu berkaitan dengan pengakuan rugi. Kos suatu potensi jasa

akan segera diakui sebagai biaya atau rugi kalau terbukti bahwa manfaat ekonomiknya

menjadi lenyap atau berkurang (loss or lack of future benefits).


 Penandingan dan Penyajian Pos-Pos Biaya

Penakar yang ideal udalah unit produk karena pendapatan diciptakan dengan menyerahkan

produk (direpresentasi oleh kos produk). Oleh karena itu, idealnya tiap unit menyerap semua

jenis kos operasi (produksi, penjualan, administrasi, dan pengumpulan piutang). Dengan

perioda sebagai penakar, kos objek atau kegiatan sebagai pengukur biaya yang dimasukkan

ke dalam penakar tidak harus jelas dan tegas berkaitan dengan pendapatan yang masuk dalam

penakar (perioda) tersebut. Di bawah ini meringkas konsep penandingan dan implikasi

terhadap klasifikasi biaya sebagai pengurang pendapatan.

Masalah pembebanan kos dan basis asosiasi di atas berlaku untuk semua jenis potensi jasa.

Masalah khusus terjadi dalam hal sediaan dan aset tetap, khususnya fasilitas fisis yaitu

gedung/prabrik dan perlengkapan (plant and equipments). Uraian berikut membahas masalah

teoretis yang menyangkut pos-pos tersebut.

 Sediaan

Secara umum masalah teoretis sediaan berkaitan dengan pengukuran kos barang terjual

dalam rangka penandingan dengan pendapatan dan masalah penilaian. Proses pengukuran

dan penilian pada umumnya dilakukan pada akhir periode. Dengan demikian masalah

pengukuran dan penilaian sediaan pada akhirnya periode dapat dinyatakan sebagai berikut:

1. Penentuan besarnya kos barang terjual untuk ditandingkan dengan penjualan sehingga

dapat ditentukan besarnya laba perusahaan. Penentuan ini melibatkan berbagai metoda

asosiasi sebagai dasar pemecahan kos produksi menjadi kos yang melekat pada sediaan

dan ang melekat pada barang terjual.


2. Penentuan nilai sediaan sebagai unsur aset lancar perusahaan. Penentuan nilai sediaan

sangat penting untuk menilai likuiditas operasi perusahaan.


 Metoda Asosiasi

Metoda asosiasi menjadi basis untuk menentukan unit fisik terjual dan kos yang melekat

dengan jumlah rupiah penjualan. Dengan demikian metoda asosiasi dapat pula diartikan
sebagai asumsi aliran kos dalam mengikuti aliran fisis barang. Metoda asosiasi atau asumsi

aliran kos yang telah dikenal adalah :

1. Identifikasi khusus (specific identification)


2. Masuk pertama keluar pertama/MPKP (first-in, first-out/FIFO).
3. Rata-rata berbobot (weighted average).
4. Sediaan normal/minimal (normal stock).
5. Masuk terakhir keluar pertama/MTKP (last-in, first-out/LIFO).
Dasar pemilihan metoda sangat tergantung pada tujuan atau kondisi yang dihadapi

perusahaan. Tujuan utama pemilihan metoda biasanya adalah mengasosiasi biaya dan

pendapatan untuk menentukan laba yang tepat. Tujuan lain adalah menentukan nilai sediaan

untuk dicantumkan dalam neraca.


 Identifikasi Khusus

Metoda ini adalah yang paling ideal. Bila sistem akuntansi memungkinkan, metoda ini

sangat dianjurkan penerapannya. Untuk jenis barang mahal dan perputarannya rendah,

metoda ini sangat cocok sekali untuk tujuan pengendalian di samping tujuan penandingan

yang tepat. Namun demikian, metoda ini mengandung beberapa kelemahan antara lain:

a. Jarang sekali pendapatan khusus ditandingkan dengan kos khusus karena pendapatan

perusahaan merupakan hasil dari seluruh upaya perusahaan sebagai kesatuan.


b. Untuk jenis barang yang homogen dan harganya relatif murah, metoda ini menjadi terlalu

mahal dan tidak sepadan dengan nilai tambahan informasi yang diperoleh.
c. Kalau fluktuasi harga sangat mencolok, metoda ini dapat digunakan sebagai alat

manipulasi laba atau earnings management.


 Masuk Pertama Keluar Pertama (MPKP)

Metoda ini berasumsi bahwa faktor cost mengalir melalui perusahaan secara berurutan

seperti antrean; tidak ada saling mendahului. Dalam banyak kasus, aliran fisis faktor jasa

yang sesungguhnya memang harus mengalir seperti ini terutama kalau bahan, barang, atau

produk harus segera digunakan karena meretia merupakan jenis yang mudah rusak atau usang

karena waktu. Metoda ini sangat logis dalam merefleksi asosiasi sebab-akibat karena sangat

sederhana dan jelas untuk memecah cost ke dalam dua komponen (sediaan dan barang

terjual) atas dasar cost yang benar-benar melekat dalam kedua komponen tersebut.
Jadi, kalau penandingan secara tepat biaya dan pendapatan menjadi tujuan, metoda ini paling

didukung atas dasar argumen berikut:

a. Metoda ini mendekati metoda identifikasi khusus yang menjadi standar pemecahan cost.

Metoda ini sistematik dan konsisten dengan aliran fisis yang sesungguhnya sehingga

penandingan yang ideal dipenuhi.


b. Untung atau rugi karena fluktuasi harga dengan sendirinya terrealisasi dan diakui

bersamaan dengan terjualnya barang walaupun tidak disajikan secara terpisah dan melekat

dalam angka laba.


c. Penyajian sediaan akhir dalam neraca akan menggambarkan cost yang mendekati cost

sekarang atau cost pengganti, Tentu saja hal ini tergantung pada fluktuasi cost setelah

pembelian atau produksi terakhir. Bila fluktuasi harga yang sangat tajam, metoda ini tidak

dapat memisahkan untung atau rugi fluktuasi harga sebagaimana disebut dalam butir b.
 Rata-rata Berbobot

Metoda ini menganggap bahwa dalam proses produksi terjadi peleburan faktor produksi

yang sama selama satu perioda menjadi satu massa yang homogenus. artinya, bahan baku

tertentu yang dibeli berkali-kali atau produk yang dihasilkan dari beberapa angkatan produk

dalam suatu perioda dianggap sebagai satu kesatuan (massa). Barulah kemudian massa

tersebut dipecah menjadi dua bagian yaitu sediaan barang dan barang terjual. Sebagai

konsekuensi, tiap sediaan yang ada pada saat tertentu akan selalu mengandung proporsi

tertentu tiap pembelian yang pernah terjadi. Dengan demikian, metoda rata-rata akan menjadi

logis, obyektif, atau valid. Walaupun demikian, metoda ini tidak sejalan dengan aliran fisik

yang sesungguhnya. Dalam kenyataannya, separti bahan baku yang dikonsumsi pada saat

tertentu jarang sekali terdiri atas semua bahan baku yang diperoleh dari berbagai pembelian

secara proporsional. Jadi kalau pemakaian bahan baku untuk produksi mengikuti pola ini

maka akan terjadi bahwa separtai barang yang berasal dari pembelian tertentu tidak akan

pernah habis.
 Sediaan Normal

Metoda ini sering disebut dengan metoda sediaan permanen (iron-stock method). Dengan

metoda ini dianggap perusahaan melakukan investasi permanen dalam sediaan. Tujuannya

adalah penandingan pendapatan sekarang dengan cost sekarang sekaligus meniadakan

kebutuhan pelaporan untung atau rugi menahan sediaan atau fluktuasi harga. Metoda ini

menyajikan sediaan di neraca dengan harga satuan yang cukup pasti. Biasanya harga satuan

yang ditentukan untuk sediaan minimal cukup rendah. Karena pendapatan sekarang

ditandingkan dengan cost sekarang, laba yang diperoleh tidak mengandung untung atau rugi

akibat menahan sediaan.

 Masuk Terakhir Keluar Pertama (MTKP)

Metoda ini berasumsi bahwa sediaan merupakan aset tetap yang tidak berkaitan dengan

aliran cost. Dengan demikian, begitu sejumlah sediaan tertentu telah tertimbun maka aliran

faktor cost berikutnya dianggap hanya melewati timbunan tersebut dan langsung melekat

pada penjualan (sebagai cost barang terjual). Metoda ini akan menghasilkan laba operasi

yang bebas dari untung atau rugi akibat fluktuasi harga. Asumsi metoda ini adalah bahwa

perusahaan perlu mempertahankan investasi dalam sediaan selama umur perusahaan tersebut.

Keuntungan metoda ini adalah investasi permanen (disebut LIFO layer) dapat dijaga dan

pekerjaan administrasi pencatatan barang dapat dikurangi. Walaupun cukup menawan secara

teoretis, metoda ini sama sekali tidak dapat menuhi tujuan pelaporan keuangan umum.

 Implikasi Motoda Asosiasi Terhadap Laba

Dalam bidang-bidang usaha tertentu yang voluma penjualan dan harga bahan

bakunyaberfluktuasi cukup besar antarperioda, metoda MTKP mendapat dukungan yang kuat

sebagai salah satu cara untuk menstabilkan laba periodik sampai tingkat tertentu. Dalam

suatu sistem perpajakan yang sangat menekankan perhitungan labaperiodik, praktik

penstabilan laba tersebut menjadi konsekuensi logis yang akhirnya banyak dianut. Namun
demikian, laba yang distabilisasi hendak-tidak dilaporkan sebagai laba sebenarnya untuk

tahun tertentu. Sebagaimana telah dibahas sebelumnya, pemecahan yang terbaik untuk

mengatasi fluktuasi harga adalah melengkapi (to supplement) statemen tahunan dengan

beberapa laporan kumulatif dan rata-rata bukan mengembangkan metoda untuk

menghilangkan fluktuasi tahunan yang memang benar-benar atau nyata-nyata terjadi.

 Fasilitas Fisis

Dalam hal fasilitas fisik, kos yang terjadi pada saat pemerolehan pada umumnya diakui

sebagai aset dan baru kemudian kos tersebut diakui sebagai biaya sesuai dengan pola

penyerapan manfaat yang direpresentasi dengan kos.

 Karakteristik dan Tujuan Pelaporan

Semua aset mempunyai karakteristik umum yaitu merupakan potensi jasa yang dapat

dimanfaatkan oleh perusahaan dalam kegiatan operasinya, Fasilitas fisis mempunyai

karakteristik sebagai berikut:

a. Berwujud fisis dan dikuasai oleh perusahaan untuk mengolah dan memperlancar kegiatan

operasi perusahaan. Oleh karena itu, yang digolongkan dalam kelompok ini adalah aset

yang berkaitan dengan operasi.


b. Pada umumnya berumur panjang walaupun terbatas sehingga perlu penggantian.
c. Bernilai bagi perusahaan lantaran kekuasaan atau hak perusahaan untuk menggunakannya

bukan lantaran hak miliknya.


d. Pada umumnya merupakan aset nonmoneter dan manfaat yang dapat diberikan berupa

potensi jasa (service potentials) bukan daya beli atau ketertukarannya(exchangeablility).

Tujuan pelaporan dan pengukuran fasilitas fisis ini adalah untuk menentukan penggunaan

jasa dalam suatu perioda yang diperkirakan telah menghasilkan pendapatan. Tujuan yang lain

adalah memberi informasi kepada pemakai laporan tentang kualtitas fisis dan kapasitas atau

daya (potensi jasa) yang masih melekat pada aset fisis tersebut.

 Basis Pembebanan
Fasilitas fisis memberi kontribusi jasa ke operasi berupa kapasitas atau daya (misalnya

dalam bentuk daya giling untuk mesin giling). Oleh karena itu, kos daya atau kapasitas

fasilitas fisis tersebut jelas harus diserap menjadi bagian kos produksi dan akhirnya menjadi

beban pendapatan.

Masalah unik yang berkaitan dengan penyerapan manfaat fasilitas fisis adalah penentuan

kapasitas taksiran dalam kondisi tertentu dan pola penyerapan manfaat sampai dapat

dikatakan bahwa manfaat tersebut habis. Berbeda dengan sediaan, masalah timbul karena

pada umumnya kapasitas akan habis dalam jangka panjang dan penyerapan manfaat tidak

dapat diobservasi secara langsung atas dasar kelenyapan secara fisis. Di lain pihak, sediaan

dikonsumsi dalam bentuk unit fisis sehingga kos yang terserap dapat dihubungkan secara

objektif dengan konsumsi fisis tersebut.

Walaupun konsumsi manfaat disertai dengan keausan fisis (deterioration), tidak ada proses

konsumsi secara fisis terhadap fasilitas fisis bersangkutan. Jadi, pembebanan kos fasilitas

fisis untuk suatu perioda tidak dapat ditentukan atas dasar pengukuran fisis yang objektif

tetapi lebih merupakan suatu hasil pertimbangan (judgment) atas dasar taksiran faktor-faktor

penentu (yaitu umur ekonomik, kapasitas ekonomik, dan nilai residual) yang sering tidak

dapat diuji validitasnya secara objektif.

 Penyajian Biaya

Penyajian biaya tidak dapat dilepaskan dari penyajian pendapatan dan sarana untuk itu

adalah statemen laba-rugi. Penyajian elemen pendapatan, untung, biaya, dan rugi bergantung

pada konsep tentang apa saja yang membentuk laba.

KESIMPULAN
Biaya mempunyai dua karakteristik utama yaitu aliran atau penurunan aset atau

kenaikan kewajiban dan berkaitan dengan operasi utama yang menerus. Rugi dibedakan

dengan biaya karena timbul dari sumber yang secara tidak langsung berkaitan dengan operasi

utama perusahaan. Rugi berasal dari transaksi, kegiatan, atau sumber berupa kegiatan

periferal, transfer non timbal-balik, penahanan aset, atau faktor lingkungan. Kriteria

pengakuan biaya adalah pemanfaatan dan kelenyapan. Biaya diakui bilamana manfaat

ekonomik telah dikonsumsi dalam rangka penyerahan barang atau jasa untuk mendatangkan

pendapatan atau bilamana manfaat ekonomik masa datang telah lenyap.

Biaya diukur dengan kos yang sebelumnya melekat pada aset. Biaya dapat dipandang sebagai

bagian kos yang telah terhabiskan dalam rangka menciptakan pendapatan. Bagian kos yang

terhabiskan dapat dihubungkan dengan pendapatan atas dasar hubungan sebab-akibat, alokasi

sistematik dan rasional, atau pengakuan segera. Basis asosiasi atas dasar sebab-akibat atau

penandingan langsung atas dasar produk merupakan basis yang paling ideal. Akan tetapi,

alasan kepraktisan danketaktersediaankanan (univentoriability) beberapa faktor kos

(administrative dan pemasaran) menjadikan akuntansi beralih ke penandingan tak langsung

atau penandingan perioda. Dengan kata lain, takaran penandingan bukan lagi produk

melainkan perioda.