Anda di halaman 1dari 6

V.

ACTUATING DAN LEADERSHIP

Dalam manajemen setelah proses perencanaan, pengorganisasian dan penempatan staf kepada bagian dan tugas-tugas tertentu dilakukan, maka tidak secara otomatis bahwa orang-orang akan bekerja sesuai rencana untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Agar orang-orang dalam suatu organisasi dapat bekerja dan menjalankan tugas dengan baik mereka harus digerakkan, didorong, dimotivasi, diarahkan, diberi perintah dengan cara dan metoda yang baik. Dalam proses inilah yang disebut actuating.

manajemen

dipandang sebagai sebuah seni yang sangat tergantung kepada kemampuan seseorang sebagai pemimpin untuk mempengaruhi bawahannya. Lebih lanjut kemampuan seseorang untuk mempengaruhi bawahannya ini disebut Leadership.

Dalam

proses

actuating

termasuk

kedalam

behavioral

science

dimana

5.1. Pengertian Leadership

Katz dan Kahn (1978) mendefinisikan leadership sebagai sebuah pengaruh yang melebihi dari sekedar pengarahan rutin dan mekanistis yang biasa dalam suatu organisasi. Dalam definisi ini ditegaskan bahwa leadership merupakan kemampuan seseorang untuk mempengaruhi orang lain/ bawahan agar tunduk dan mau menuruti apa yang diinginkannya. Pearce dkk. (1989), bahwa definisi dari leadership adalah suatu proses mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam suatu organisasi. Orang yang mempunyai kemampuan dan otoritas tersebut adalah leader (pemimpin). Sedangkan menurut Kartini, Kepemimpinan adalah masalah relasi dan pengaruh antara pemimpin dan yang dipimpin, kepemimpinan tersebut muncul dan berkembang sebagai hasil interaksi otomatis antara pemimpin dan para individu yang dipimpin.

Kemampuan seorang/ pemimpin untuk mempengaruhi orang lain dapat bersumber dari kekuatan 1) Legitimasi, yaitu atribut seseorang yang menduduki jabatan atau posisi tertentu secara formal. 2) Kharisma, karakteristik yang melekat pada sesorang karena kepribadian dan konsistennya dalam berucap dan bertindak, dan 3) Perilaku (behavior) yang dapat dipelajari dan dikembangkan berdasarkan kemampuan, gaya dan melihat situasi kerja yang dihadapi oleh seorang pemimpin. Pada konsepsi leadership dalam katagori perilaku inilah sebenarnya yang perlu kita pelajari lebih mendalam dan akan sangat bermanfaat dalam mengembangkan kemampuan dari perilaku seseorang untuk menjadi pemimpin yang efektif sesuai dengan posisi dan peran kita sekarang.

1
1

5.2.

Efektivitas Kepemimpinan Efektifitas kepemimpinan dapat diukur dari seberapa jauh pengaruh yang

ditimbulkan pada bawahan atau pada pengikutnya. Ada tiga indikator yang dapat dijadikan sebagai ukuran efektivitas kepemimpinan, yaitu:

Komitmen, adalah derajat pengaruh yang paling efektif dimana bawahan akan

mengerjakan dan melaksanakan tugas atau perintah dengan rasa tulus dan sepenuh hati. Dalam pandangan teori MC Gregor kondisi seperti ini cocok dalam teori Y. Contohnya, jika seorang mahasiswa datang ke tempat kuliah dengan penuh kesadaran untuk menuntut ilmu bukan karena takut di absen, ini adalah kondisi yang ideal yang diharapkan oleh para dosen yang dalam hal ini memerankan sebagai pemimpin di kelas. 2) Kepatuhan, adalah pengaruh yang timbul dari bawahan yang akan melaksanakan perintah karena takut akan hukuman atau sanksi jika tidak melaksanakan tugas. Kondisi ini termasuk dalam teori x dari MC Gregor. Hal yang kedua ini dalam teori MC Gegor adalah kecenderungan umum dari manusia untuk malas, santai dan bekerja kalau diawasi atau cenderung untuk diarahkan. 3) Penolakan adalah bentuk kegagalan dari kepemimpinan dimana bawahan berani menolak perintah atau tidak melaksanakan tugas yang diberikan oleh pemimpin.

1)

Efektivitas kepemimpinan dengan indikasi komitmen, kepatuhan dan penolakan ini erat kaitannya dengan efektivitas dari pencapaian tujuan organisasi. Pemimpin yang mampu menciptakan komitmen dan atau setidaknya kepatuhan diharapkan mampu pula untuk memotivasi dan menggerakkan bawahan dalam mencapai tujuan dengan prestasi tinggi.

Dalam suatu organisasi, derajat efektivitas dari kepemimpinan akan dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti:

1)

Gaya Kepemimpinan

2)

Gaya kepemimpinan adalah cara yang digunakan oleh pemimpin di dalam mempengaruhi pengikutnya. Fiedler merumuskan dua gaya kepemimpinan yaitu Órientasi Manusia dan Orientasi Tugas. Sedangkan para pakar lain menyebutkan empat gaya kepemimpinan yaitu Direktif, Partisipatif, Suportif, dan Orientasi Hasil. Situasi Kerja

3)

Situasi kerja baik yang dihadapi pemimpin maupun para bawahan juga menentukan keberhasilan pemimpin. Yang termasuk dalam variabel ini antara lain struktur tugas jelas/ tidak jelas, hubungan antara pemimpin dan yang dipimpin baik/ kurang baik serta posisi kekuasaan pemimpin kuat/ lemah. Jumlah dan Kualitas Bawahan Jumlah bawahan dalam istilah organisasi sering disebut sebagai rentang kendali. Secara sederhana dapat dikatakan semakin banyak bawahan yang harus dipimpin semakin sulit untuk mempengaruhinya. Sedangkan kualitas

2
2

4)

bawahan dapat meliputi kemampuan, motivasi, kematangan dan harapan bawahan pada pemimpin. Faktor Negatif Insentif berupa finansil dan non finansil dianggap faktor penting dalam merangsang bawahan untuk bekerja keras dengan motivasi yang tinggi. Hal ini sangat realistis dan relevan dengan teori hirarki tingkat kebutuhan yang dikemukakan oleh Maslow yaitu kebutuhan dalam fisiologis, rasa aman, sosial, kebanggaan dan aktualisasi diri.

5.3. Kepemimpinan di Koperasi Koperasi adalah organisasi swadaya (self help organisasi) yang dibentuk atas dasar solidaritas, gotong royong dengan azas kekeluargaan dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan bagi para anggotanya. Dalam menjalankan organisasi dan perusahaan koperasi anggota mendelegasikan kepada Pengurus (Board of

of

Director) untuk menjalankan fungsi eksekutif dan Supervisor) menjalankan fungsi pengawasan.

Pengawas

(Board

Dalam manajemen koperasi, kepemimpinan koperasi dapat digolongkan ke dalam:

1) Top manajemen (manajemen puncak) dalam hal ini pengurus sebagai eksekutif yang akan menjalankan organisasi koperasi dan pengawas yang akan mengawasi pengurus dalam melaksanakan kebijakan yang telah diputuskan dalam rapat anggota. 2) Midle management (manajemen menengah) adalah manajer yang diangkat oleh pengurus atas persetujuan anggota untuk melaksanakan dan menjalankan perusahaan koperasi. 3) Lower Management (manajemen tingkat bawah) adalah para kepala unit yang menjadi bawahan manajer untuk menjalankan fungsi-fungsi yang lebih operasional dan teknis.

Dalam tulisan ini yang dimaksud dengan kepemimpinan koperasi mengasah kepada top dan midle management. Efektivitas kepemimpinan koperasi dapat diukur dari seberapa jauh pengurus dan manajer mampu mengarahkan bawahannya untuk dapat memberikan pelayanan yang terbaik (service exelent) kepada para anggotanya yang dikenal mempunyai identitas ganda sebagai pemilik dan pelanggan.

Berikut ini secara garis besar akan diuraikan tugas dan peran pengurus dan manajer koperasi yang akan memperjelas peran kepemimpinannya.

3
3
 

Manajer

   

Pengurus

 

Perbedaan Fungsional

 

Perencanaan bersifat rutin dan terbatas pada bidang tugasnya

Perencanaan yang berwawasan luas dan menjangkau jauh ke depan

Mengatur penempatan staf untuk mengisi lowongan di dalam struktur organisasi

Menemukan

dan

mengembangkan

talenta

profesional

dalam

rangka

membangun institusi

Menugaskan apa yang harus dikerjakan bawahan

Menjelaskan apa yang perlu dicapai

Mengendalikan pekerja agar mereka mengerjakan apa yang ditugaskan sesuai peraturan yang berlaku

Memberi kebebasan pada pengikut untuk mencari cara yang terbaik untuk mencapai tujuan secara bertanggung jawab.

 

Perbedaan Perilaku Manajerial

 

Bekerja dalam batas-batas ruang lingkup tanggungjawabnya dan memenuhi peraturan dan ketentuan yang berlaku

Lebih tertarik untuk memenuhi kebutuhan perusahaan yang lebih besar dan merealisasikan tanggung jawab sosial

Lebih tertarik untuk mengerjakan tugas dengan baik sesuai dengan cara-cara yang sudah ditetapkan

Memutasikan perhatian pada pelaksanaan tugas yang benar, memilih apa yang perlu dikerjakan dan mengapa hal itu perlu dilakukan

 

Perbedaan Minat

 

Perhatian

lebih

banyak

ke

dalam

Berminat pada penggalangan dukungan dari para konstituen dan mendapatkan sumber daya.

(internal)

Lebih tertarik pada hal-hal teknikal dari kegiatan bisnis

Lebih tertarik pada aspek-aspek sosio politikal dan psikologikal

Menjual produk dan jasa yang kongkrit

Menjual gagasan, pemikiran dan perasaan, dan emosi yang dikaitkan dengan tindakan yang kongkrit.

Menghindarkan konflik

 

Konflik adalah hal yang wajar.

Pemecahan persoalan jangka panjang dengan tindakan yang berencana

Membangun

konsensus

tentang

visi

masa

depan

dan

tindakan

kongkrit

 

untuk mewujudkannya.

4
4
 

Manajer

 

Pengurus

 

Perbedaan Dalam Membangun Pengaruh

Memiliki bawahan

 

Memiliki pengikut

Besar kekuasaan ditentukan oleh posisinya dalam perusahaan

Kekuasaan terbentuk dari visi pemimpin dan kemampuannya untuk untuk mengkomunikasikan visi itu kepada pengikutnya.

Mencari stabilitas, kepastian, dan kemampuan untuk mengontrol

Mencari fleksibilitas dan perubahan

Perubahan perlu dihindarkan, dikelola atau dikendalikan

Perubahan

dianggap

biasa

dan

perlu

dimanfaatkan

Kegagalan perlu dihindarkan dan dicegah dengan sekuat tenaga

Kegagalan adalah konsekuensi logikal dari usaha menjajaki wilayah yang tidak diketahui dan dapat menjadi pengalaman yang berharga

 

Perbedaan Dalam Pola Pikir

Analitikal dan konvergen

 

Intuitif dan divergen

Mengambil

keputusan

dan

Memberi pengarahan dan kebebasan kepada para pengikut untuk mengambil keputusan dan memecahkan persoalan mereka sendiri secara bertanggung jawab

memecahkan persoalan bagi mereka

Menekankan hal-hal yang rasional dan konkrit

Menekankan hal-hal yang kurang konkrit seperti visi, wawasan, tata nilai dan motivasi

Berpikir dan

bertindak

untuk jangka

Berpikir

dan

bertindak

untuk

jangka

pendek

panjang

Menerima dan mematuhi secara ketat struktur organisasi, kebijakan, prosedur, dan metodologi yang berlaku.

Selalu

mencari

cara-cara

yang

lebih

baik.

Dilihat dari ruang lingkup tugasnya, pemimpin di koperasi berfungsi mengembangkan perusahaan koperasi sebagai lembaga ekonomi, dan disisi lain pemimpin koperasi juga bertugas menunjang usaha para anggota secara efisien melalui peningkatan pelayanan koperasi, sesuai dengan tujuan-tujuan yang telah diputuskan dan ditetapkan oleh kelompok-kelompok anggota koperasi. Dalam hal ini pemimpin koperasi mempunyai peran ganda yaitu terhadap perusahaan koperasi dan mendorong ekonomi anggotanya tumbuh dan berkembang secara efisien. Sesuai dengan peran dan tugasnya, pemimpin koperasi haruslah mengetahui potensi dirinya, situasi kerja dan karakteristik organisasi koperasi yang dihadapi. Menurut Ordway Tead terdapat 10 ciri yang harus ada pada diri seorang pemimpin:

5
5

1)

Energi jasmaniah dan mental

2)

Kesadaran akan tujuan dan arah,

3)

Antusiasme (semanagat, kegairahan, kegembiraan yang besar)

4)

Keramahan dan kecintaan

5)

Integritas

6)

Penguasaan teknis

7)

Ketegasan dalam mengambil keputusan

8)

Kecerdasan

9)

Keterampilan mengajar, dan

10) Kepercayaan diri yang baik

Dapat ditambahkan beberapa ciri yang berbeda menurut G.R.Terry, yaitu:

11) Stabilitas emosi 12) Keterampilan berkomunikasi

Menurut Stogdill, yaitu:

13) Partisipatif.

-------

Pustaka:

1. Steers, at all (1985) Managing Efective Organization, and Introduction. Kent Publishing Company, A Division of Wadsworth, Inc. Boston, Massachusets

2. Dearce II, at all (1989), Management. Mc.Graw-Hill International Editions, Management series.

6
6