Anda di halaman 1dari 3

GREEN ECONOMY (EKONOMI HIJAU)

I. Konsep Ekonomi Hijau


 Ekonomi hijau adalah ekonomi yang mampu meningkatkan kesejahteraan dan
keadilan sosial, menghilangkan dampak negatif pertumbuhan ekonomi terhadap
lingkungan dan kelangkaan sumber daya alam. Ekonomi hijau merupakan
kegiatan perekonomian yang rendah karbon, tidak mengandalkan bahan bakar
fosil, hemat sumber daya alam dan berkeadilan sosial. (UNEP; United Nations
Environment Programme atau Program Lingkungan PBB, th.2012)
 Konsep pembangunan berkelanjutan dibangun di atas kesadaran bahwa sistem
ekonomi berdampak pada sistem lingkungan melalui pemanfaatan SDA,
pembuangan limbah ke media lingkungan, dan lain-lain. Demikian sebaliknya,
sistem lingkungan akan mempengaruhi sistem ekonomi melalui berkurangnya daya
dukung lingkungan (David Pierce et al., 1989).
 Kegiatan pembangunan harus dapat mewariskan kesejahteraan pada generasi
mendatang berupa aset lingkungan dan sumberdaya alam minimal sarna dengan
yang kita terima dari generasi sebelumnya, plus ilmu pengetahuan, teknologi dan
man-made capital. (World Commission on Emvironment and Development, 1987)

II. Penerapan Ekonomi Hijau di Indonesia


Penerapan dan pelaksanaan ekonomi hijau secara terarah dan menyeluruh harus
ditunjang oleh kebijakan pemerintah untuk menjamin keberhasilan penerapannya,
seperti yang telah ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional
(RPJMN) periode 2010-2014 sebagai dasar pengembangan perekonomian Indonesia
yang berkelanjutan yang antara lain dilakukan melalui aplikasi green budgeting untuk
menata kelola keuangan anggaran pemerintah. Implementasi green budgeting antara
lain melalui penerapan green procurement pada kebijakan publik.
Konsep ekonomi hijau merupakan pengembangan dari suistainable
development, pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup. Bahkan
sejak tahun 1992 Indonesia mengeluarkan peraturan perundangan yang mendukung
pelaksanaan pembangunan berkelanjutan, diantaranya adalah UU No.23 tahun 1997
mengenai pengelolaan lingkungan hidup, UU baru tahun 1999 tentang kehutanan
menetapkan bahwa bila terjadi kebakaran dalam kawasan perkebunan tanggung jawab
ditimpakan pada pemegang konsesi hutan/perkebunan tersebut. Indonesia juga telah
mengeluarkan peraturan pemerintah yang melarang praktek pembakaran untuk
membuka lahan. Untuk mengatasi kebakaran hutan dan polusi asap lintas batas,
Indonesia memprioritaskan pencegahan.
Penerapan konsep ekonomi hijau pada peraturan perundang-undangan yang
mengatur perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup harus diterapkan pula pada
seluruh sektor yang terkait dengan bidang atau sektor pembangunan, lebih khusus lagi
pada kegiatan pembangunan yang menggunakan sumber daya alam sebagai bahan dasar
kegiatannya. Kegiatan pembangunan ekonomi yang berbasis sumber daya alam dan
lingkungan selain ditujukan untuk mendukung pembangunan dan pertumbuhan
ekonomi, juga dapat membawa dampak yang signifikan bagi peningkatan kesejahteraan
rakyat, dengan tetap mengedepankan upaya-upaya perlindungan dan pelestarian
lingkungan.
Indonesia berperan aktif pada United Nations Conference on Environment and
Development atau lebih dikenal sebagai KTT Bumi di Rio De Jeneiro, Brasil pada
tahun1997. Indonesia mengeluarkan Agenda 21 Nasional yang berisi rujukan untuk
memasukkan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan ke dalam perencanaan
pembangunan nasional. Indonesia juga menandatangani, meratifikasi, dan menyetujui
berbagai perjanjian lingkungan multilateral.
Indonesia mengeluarkan Deklarasi Tampak Siring pada rapat kerja di Bali tahun
2010 yang sarat dengan spirit pembangunan berkelanjutan. Deklarasi tersebut mendapat
banyak dukungan karena menggunakan pola pembangunan yang berpihak pada
pertumbuhan, pada rakyat, penyediaan tenaga kerja, dan pembangunan lingkungan.
Selaras dengan komitmen Indonesia untuk menrunkan emisi karbon 26% (berasal dari
14% sektor tata guna lahan dan kehutanan, 6% sektor energi, dan 6% sektor limbah)
sehingga Indonesia harus lebih serius menggarap ekonomi hijau.
Dalam rangka mengembangkan ekonomi hijau, BKF kini tengah
mengembangkan, mengevaluasi, dan menerapkan kebijakan fiskal dan instrumen
pendanaan. Ekonomi hijau merupakan suatu model pendekatan pembangunan ekonomi
yang tidak lagi mengandalkan pembangunan ekonomi berbasis eksploitasi sumber daya
alam dan lingkungan yang berlebihan. Dalam kaitannya dengan pengelolaan dan
pemanfaatan sumber daya alam, ekonomi hijau harus dapat merubah pola pemanfaatan
sumber daya alam yang eksploratif dan berjangka pendek ke pola pemanfaatan sumber
daya alam berkelanjutan (pilar ekonomi, pilar sosial, dan pilar ekologis), serta mampu
bertumpu pada daya dukung dan daya tampung lingkungan. Pengelolaan dan
pemanfaatan sumber daya alam pada ketiga pilar tersebut merupakan syarat penting
dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan, sebagaimana disepakati dalam KTT
Pembangunan Berkelanjutan di Johannesburg tahun 2002. Ketiga pilar tersebut harus
dijalankan secara terintegrasi dan saling memperkuat satu sama lain. Dalam kaitan
dengan implementasi, ekonomi hijau melengkapi ketiga pilar pembangunan
berkelanjutan di atas, bahkan ekonomi hijau menjadi motor penggerak pembangunan
berkelanjutan.
.Konsep ekonomi hijau harus menjadi paradigma dalam pengaturan dan
kebijakan pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam. Hal ini dikarenakan
pembangunan ekonomi nasional masih memanfaatkan sumber daya alam sebagai
sumber utama dalam rangka meningkatkan pendapatan negara melalui pajak, retribusi
ataupun bagi hasil atas pemanfaatan sumber daya alam seperti migas, tambang,
perkebunan, kehutanan, dan sebagainya. Agar hal tersebut dapat berlangsung tanpa
merusak dan menurunkan kualitas lingkungan dan sumber daya alam itu sendiri, maka
konsep ekonomi perlu diinternalisasikan ke dalam berbagai peraturan perundang-
undangan yang mengatur pengelolaan dan pemanfaatan berbagai sumber daya alam
yang ada baik itu ke dalam peraturan perundang-undangan di sektor pertambangan,
migas, kehutanan, perkebunan, kelautan, dan pesisir, maupun pertanahan.
Proses internalisasi konsep ekonomi hijau dalam pengaturan dan kebijakan pengelolaan
dan pemanfaatan sumber daya alam harus didasari oleh prinsip-prinsip pengelolaan
sumber daya alam yang terdapat dalam Ketetapan MPR No. IX/MPR/2001 tentang
Pembaruan Agraria dan Pengelolaan Sumber Daya Alam, yang berdasar pada 3 prinsip
utama, yaitu:
a. Prinsip demokratis, dalam dimensi kesetaraan antara pemerintah dengan rakyat,
pemberdayaan masyarakat dan pengembangan good governance dalam penguasaan
dan pemanfaatan sumber daya alam.
b. Prinsip keadilan, dalam dimensi filosofis baik keadilan intergenerasi maupun
keadilan antar generasi dalam upaya mengakses sumber daya agraria.
c. Prinsip keberlanjutan, dalam dimensi kelestarian fungsi dan manfaat yang berdaya
guna dan berhasil guna.
Ketiga prinsip utama tersebut selaras dengan pilar ekomomi, pilar sosial, dan pilar
ekologi dari pembangunan berkelanjutan. Pilar ekonomi dan sosial harus mengacu pada
prinsip demokrasi dan keadilan, sedangkan pilar ekologi tentunya harus mengacu pada
prinsip keberlanjutannya.